Anda di halaman 1dari 12

PENERAPAN INDUSTRI BERSIH

PADA INDUSTRI GULA


A. PENDAHULUAN
Industri gula selain dapat memberikan manfaat dan keuntungan yang besar
bagi manusia juga dapat memberikan dampak yang buruk bagi lingkungan.
Manfaat dari segi ekonomi yang diberikan adalah karena gula merupakan salah
satu komoditi strategis dalam perekonomian Indonesia. Industri gula juga
merupakan salah satu sumber pendapatan utama bagi 900 ribu petani dengan
jumlah tenaga kerja yang terlibat mencapai lebih dari 1,3 juta orang. Selain itu
gula merupakan salah satu keperluan pokok masyarakat Indonesia dan sumber
kalori yang relatif dapat dijangkau harganya bagi kebanyakan masyarakat
Indonesia. Karena merupakan keperluan pokok, maka dinamika harga gula akan
mempunyai pengaruh langsung terhadap perkembangan laju inflasi di Indonesia
(Sukria dan Krisnan, 2009).
Selain memberikan dampak positif industri gula juga dapat
memberikan pengaruh negatif bagi lingkungan hal ini berkaitan dengan
hasil limbah yang dihasilkan dari indusri gula tersebut mulai dari limbah
padat, limbah cair sampai ke emisi udara yang dihasilkan cukup besar.
Limbah ini jika tidak diolah dengan tepat maka akan menyebabkan industri
gula menghadapi tantangan berupa pencemaran lingkungan akibat dari
limbah yang dihasilkannya.
Tujuan mengatasi hal ini diperlukan suatu metode yang tepat guna yaitu
dengan cara menerapkan konsep produksi bersih. Produksi bersih ini memberikan
beberapa pilihan yang dapat dilakukan untuk dapat mereduksi limbah yang
dihasilkan. Pilihan-pilihan tersebut dapat berupa pengubahan bahan, pengubahan
teknologi, good operating practice/good house keeping, pengubahan produk,
reuse, dan recycling. Peningkatan efisiensi proses produk, daur ulang, dan pola
konsumsi yang berkaitan dengan penggunaan energi dan bahan merupakan kunci
pertama dalam operasional konsep produksi bersih ini.

Penerapan Produksi Bersih Pada Industri Gula| 1

Praktek operasi yang baik atau lebih dikenal dengan istilah good
operating practices atau good house keeping adalah pilihan lain dari sources
reduction. Good house keeping melibatkan unsur-unsur:

Pengawasan terhadap prosedur-prosedur operasi


Loss prevention
Praktek manejemen
Segregasi limbah
Perbaikan penanganan material
Penjadwalan produk
Tujuan dari good house keeping adalah untuk mengoperasikan

peralatan dan sistem produksi secara optimal. Hal ini adalah tugas paling
mendasar dari manajemen. Sebagai contoh, pengoperasian secara tepat dan
pemeliharaan secara berkala dari peralatan dapat mengurangi, secara substantif,
kebocoran dan pemborosan material. Peningkatan good house keeping umumnya
dapat menurunkan jumlah limbah antara 20 30 % dengan biaya yang lebih
rendah.
Good house keeping memerlukan perhatian secara detail dan pemantauan
secara konstan terhadap aliran bahan baku dan dampaknya. Pendekatan ini
membuat perusahaan dapat mengetahui secara tepat jumlah dan jenis limbah yang
dihasilkan pada setiap tahapan proses produksi.
B. PEMBAHASAN
B.1. Bahan Baku Produksi Gula
Industri gula pada saat ini merupakan salah satu komoditas strategis dalam
perekonomian Indonesia. Bahan baku utama yang dipakai oleh industri gula di
Indonesia adalah dari tebu yang memiliki taksonomi sebagai berikut:
Kerajaan

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Liliopsida

Ordo

: Poales

Famili

: Poaceae

Genus

: Saccharum L.

Penerapan Produksi Bersih Pada Industri Gula| 2

Spesies

: Saccharum offcianarum L. (Wikipedia, 2010)

Berdasarkan data dari Departemen Pertanian (2010) luas areal perkebunan


tebu pada tahun 2009 sekitar 443.382 ha dengan rincian status kepemilikan
1. 255,313 ha perkebunan rakyat,
2. 80.069 ha perkebunan pemerintah, dan
3. 108.450 ha perkebunan swasta.
Untuk tahun 2009 produksi 2.849.769 ton dengan rincian
1. 1.546.511 ton dihasilkan dari perkebunan rakyat,
2. 410.948 ton dihasilkan dari perkebunan pemerintah, dan
3. 892.310 ton dihasilkan dari perkebunan swasta.
Untuk tahun 2010 diperkirakan luas area perkebunan tebu sekitar 446.150 ha
dengan rincian status kepemilikan
1. 256.710 ha perkebunan rakyat,
2. 80.959 ha perkebunan pemerintah, dan
3. 108.481 ha perkebunan swasta.
Untuk perkiraan produksi sekitar 2.861.103 ton dengan rincian
1. 1.553.915 ton dihasilkan dari perkebunan rakyat,
2. 412.611 ton dihasilkan dari perkebunan pemerintah, dan
3. 894.577 ton dihasilkan dari perkebunan swasta.
Menurut perkiraan dari Departemen Pertanian luas areal dan produksi dari
perkebunan tebu sendiri akan terus meningkat karena jumlah permintaan akan
gula yang juga semakin meningkat. Hal ini disebabkan karena gula merupakan
salah satu keperluan pokok masyarakat dan sumber kalori yang bisa didapat
dengan harga yang terjangkau bagi kebanyakan masyarakat Indonesia.
Daerah penyebaran utama perkebunan tebu berada di Jawa Timur
(43,29%), Jawa Tengah (10,07%), Jawa Barat (5,87%), dan Lampung (25,71%).
Selain itu perkebunan tebu juga terdapat di daerah Aceh, Sumatera Utara,
Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Yogyakarta, Kalimantan Barat, NTB, Sulawesi
Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Papua (Goenadi, dkk., 2005).
B.2. Proses Produksi Gula
Proses produksi gula putih terdiri dari penggilingan (ekstraksi), pemurnian
(purifikasi), penguapan (evaporasi), kristalisas, dan sentrifugasi. Pada proses
produksi gula putih pertama-tama batang tebu dpotong-potong kemudian di press
untuk mengeluarkan niranya. Nira kemudian dimurnikan dan disaring, lalu air

Penerapan Produksi Bersih Pada Industri Gula| 3

diuapkan (evaporasi) untuk memekatkan nira. Setelah nira menjadi kental


kemudian dikristalkan (dimasak). Gula yang terbentuk selanjutnya akan
dipisahkan dengan sentrifuge. Proses pembuatan gula secara sederhana dapat
dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Skema Umum Proses Produksi Gula


B.3. Identifikasi Limbah dan Alternatif Produksi Bersih
Selain menghasilkan gula sebagai produk utamanya, tanaman tebu juga
menghasilkan beberapa produk turunan yang masih dapat dimanfaatkan. Produk
turunan ini terdiri dari dua kelompok yaitu limbah perkebunan dan limbah industri
gula. Limbah perkebunan berupa pucuk tebu (cane tops), daduk (seresah daun
tebu), sedangkan limbah industri gula berupa bagase (ampas), molasses (tetes),
dan blothong (filter cake). Limbah-limbah ini dapat dimanfaatkan dalam banyak
hal dan sebagian besarnya dapat dimanfaatkan sebagai campuran pakan ternak
dan bahan baku untuk pembuatan kompos.
Penerapan Produksi Bersih Pada Industri Gula| 4

Hasil panen perkebunan tebu yang akan menjadi gula hanya sekitar 11%,
sedangkan untuk yang lainnya tidak lagi diperlukan dalam alur proses pembuatan
gula (89%). Jika jumlah hasil panen tahun 2009 sebesar 2.849.769 ton maka yang
akan menjadi gula hanya 313.474,59 ton dan yang menjadi limbah sebesar
2.536.294,41 ton, perhitungan ini berdasarkan data produksi tebu dari Departemen
Pertanian (2010). Dapat dibayangkan bila limbah sebesar 2.536.294,41 ton
dibuang begitu saja ke lingkungan secara langsung tanpa pengolahan atau usaha
untuk meminimalisasinya akan sangat berdampak buruk bagi lingkungan.

Gambar 2. Skema Produk Turunan dari Tebu


Proses produksi gula hampir seluruh proses berkontribusi terhadap
dihasilkannya limbah dengan jumlah serta karakteristik yang berbeda. Secara
garis besar, jenis, dan sumber hasil samping / limbah industri gula menurut
Indrasti dan Fauzi (2009) adalah sebagai berikut:
Limbah cair: air pendingin, air kondensat, air bekas pencucian evaporator,
air penangkap abu boiler.
Limbah padat: bagase, molasses, abu, blothong.
Limbah gas: emisi boiler dan emisi genset.
1. Proses Penebangan Tebu
Identifikasi Limbah
Pada proses penebangan tebu dihasilkan limbah berupa pucuk tebu,
daun tua/kering (daduk), tebu yang tercecer, debu, dan gas buang
kendaraan.

Penerapan Produksi Bersih Pada Industri Gula| 5

Alternatif Produksi Bersih


Limbah berupa pucuk tebu dapat dimanfaatkan sebagai campuran
pakan ternak atau bahan baku kompos. Limbah berupa daun tua/kering
dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar boiler ataupun sebagai bahan
baku dalam proses pembuatan kompos yang nantinya akan dipergunakan
sebagai pupuk pada perkebunan tebu. Limbah tebu yang tercecer dapat
diminimalisasi dengan menerapkan good house keeping dengan cara
mengadakan training bagi para pekerja. Selain itu limbah tebu yang
tercecer juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar di pabrik.
Limbah gas buang kendaraan dapat diminimalisasi dengan cara
melakukan perawatan mesin secara berkala, sehingga gas buang yang
dihasilkan dapat lebih bersih. Limbah berupa debu dapat diminimalisasi
dengan cara melakukan penyemprotan dengan menggunakan air terutama
di tempat yang sering dilakukan aktivitas.
2. Proses Penggilingan (Ekstraksi)
Identifikasi Limbah
Proses penggilingan bertujuan untuk mengekstraksi kandungan
sukrosa dalam tebu sebanyak mungkin. Proses ini menghasilkan limbah
berupa air bekas pencucian lantai, bagase (ampas), bocoran nila/oli, dan
padatan berupa partikel halus.
Alternatif Produksi Bersih
Air bekas pencucian lantai dapat diminimalisasi dengan cara
melakukan pembersihan kering. Hal ini akan dapat meminimalisasi air
bekas pencucian yang akan diolah di Instalasi Pengolahan Air Limbah
(IPAL). Bagase umumnya dipakai sebagai campuran pakan ternak tapi
juga dapat digunakan sebagai bahan bakar boiler dan bahan baku pembuat
kompos. Bocoran nila/oli/minyak padatan berupa partikel halus dapat
diminimalisasi dengan menerapkan Good House Keeping.
3. Proses Pemurnian (Purifikasi)
Identifikasi Limbah
Proses purifikasi bertujuan untuk memisahkan kotoran-kotoran
seperti partikel-partikel kasar (pasir dan ampas yang masih terbawa dalam
nira mentah), partikel-partikel non koloid seperti non suspended sugar dan

Penerapan Produksi Bersih Pada Industri Gula| 6

partikel terlarut (misalnya desinfektan yang ikut terbawa dari stasiun


penggilingan) dalam nira mentah sebanyak mungkin dengan cara yang
efektif dan efisien. Pada proses ini dihasilkan limbah berupa blothong, air
pendingin pompa, dan sisa gas (SO2, CO, CO2, dan NO).
Alternatif Produksi Bersih
Limbah berupa blothong dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak,
bahan bakar alternatif rumah tangga, dan sebagai bahan baku dalam proses
pembuatan kompos. Air pendingin pompa dapat dikumpulkan dan
digunakan kembali (reuse). Limbah sisa gas dapat diminimalisasi dengan
cara mengeringkan ampas tebu (bagase) yang digunakan sebagai bahan
bakar boiler.
4. Proses Penguapan (Evaporasi)
Identifikasi Limbah
Proses penguapan bertujuan untuk menguapkan kandungan air
yang terdapat pada nira jernih (nira encer) dari stasiun pemurnian,
sehingga menghasilkan nira kental. Proses ini menghasilkan limbah
berupa air kondensat, air skrapan, larutan soda bekas, air bekas pencucian
evaporator, dan air jatuhan kondensor.
Alternatif Produksi Bersih
Air kondensat dapat dimanfaatkan kembali sebagai air umpan
boiler dan air imbibisi. Air skrapan, larutan soda bekas, air bekas
pencucian evaporator, dan air jatuhan kondensor akan diolah di IPAL.
5. Proses Kristalisasi
Identifikasi Limbah
Kristalisasi bertujuan untuk mengkristalkan nira kental, sehingga
didapatkan Kristal gula sesuai dengan yang diinginkan. Proses ini
menghasilkan

limbah

berupa

kondensat,

bocoran

larutan

gula

(stroop/klare), dan bocoran masakan dari palung pendingin.


Alternatif Produksi Bersih
Limbah berupa kondensat dapat dimanfaatkan kembali (reuse) sebagai air
umpan boiler dan air imbibisi. Bocoran larutan gula (stroop/klare) dan

Penerapan Produksi Bersih Pada Industri Gula| 7

bocoran masakan dari palung pendingin dapat diminimalisasi dengan


menerapkan Good House Keeping.
6. Proses Sentrifugasi
Identifikasi Limbah
Proses sentrifugasi bertujuan untuk memisahkan kristal gula
dengan larutannya. Pada proses ini dihasilkan limbah berupa molases.
Alternatif Produksi Bersih
Limbah ini dapat digunakan sebagai campuran pakan ternak atau
sebagai media produk bernilai tinggi seperti Monosodium Glutamat
(MSG), alkohol, spirtus, dan asam organik.
7. Boiler
Identifikasi Limbah
Proses pembakaran di boiler menghasilkan limbah berupa abu sisa
pembakaran ampas dan gas cerobong boiler.
Alternatif Produksi Bersih
Limbah berupa abu sisa pembakaran ampas dapat dimanfaatkan sebagai
campuran blothong/pucuk tebu/bagase/daduk untuk pupuk organik dan
juga sebagai bahan urug. Limbah gas asap cerobong dapat diminimalisasi
dengan membuat cerobong yang tingginya > 4 meter dan melengkapi
cerobong dengan alat dust collector.
Dalam produksi bersih peningkatan efisiensi dapat berupa house keeping
yang baik (Good House Keeping), seperti mencegah tumpahan atau kebocoran
serta manajemen bahan yang lebih sempurna. Selain itu ada kalanya teknologi
proses yang dipakai perlu dikaji ulang, sehingga tercapai efisiensi bahan dan
energi dalam proses produksi. Efisiensi produksi dapat ditingkatkan melalui
penerapan prinsip-prinsip reuse dan recycling dalam daur ulang produk. Air yang
telah dipakai dalam unit proses tertentu masih dapat dimanfaatkan kembali dalam
unit proses yang lainnya. Mengingat air maupun peralatan pengolahan limbah
semakin mahal, maka ar buangan yang dipakai ulang akan memakan biaya yang
jauh lebih murah jika dibandingkan dengan mengolah limbah cair lalu dibuang ke
sungai (Erningpraja, 2001).

Penerapan Produksi Bersih Pada Industri Gula| 8

Tanaman tebu dan industri gula menghasilkan berbagai jenis hasil


samping, dan berbagai jenis bahan yang bernilai ekonomi tinggi dapat dihasilkan
dari tebu, seperti alkohol, spirtus, ethyl asetat, asam glutamate, MSG, L-Lysine,
dan lain-lain.
B.4. Model Integrasi Tebu dengan Ternak Ruminansia
Sumber daya bahan pakan di sekitar perkebunan tebu dan industri gula
memiliki potensi yang cukup besar melalui penerapan sistem integrasi tebu
ternak ruminansia khususnya sapi. Dengan optimalisasi lahan, limbah dari
perkebunan tebu dan industri gula memiliki potensi dalam menghasilkan bahan
baku untuk diolah menjadi pakan lengkap (complete feed). Dengan demikian bila
potensi ini dapat dioptimalkan maka persoalan kekurangan pakan ternak
ruminansia dapat diminimalisasi (Retnani, dkk., 2009)
Selain bermanfaat sebagai pakan ternak, pemanfaatan limbah perkebunan
tebu dan industri gula juga dapat mengurangi resiko dari usaha perkebunan mono
culture. Pola integrasi perkebunan tebu dengan ternak ruminansia ini juga dapat
diimanfaatkan sebagai penghasil pupuk organik untuk mensubstitusi pupuk
konvensional yang harganya cenderung semakin tinggi. Manfaat terakhir dari pola
integrasi ini adalah pihak perkebunan dapat memanfaatkan tenaga dari ternak
untuk kegiatan-kegiatan tertentu misalnya transportasi (Wahyono dan Hardianto,
2004).
.
B.5. Gambar

Penerapan Produksi Bersih Pada Industri Gula| 9

Gambar 3. Tanaman Tebu (Statistik Produksi, 2010)

Gambar 4. Bagase (Apry Shinsetsu, 2010)

Penerapan Produksi Bersih Pada Industri Gula| 10

Gambar 5. Molases (International Molasses Corporation, 2010)


KESIMPULAN
1. Industri gula selain dapat memberikan manfaat dan keuntungan yang besar
bagi manusia juga dapat memberikan dampak yang buruk bagi
lingkungan.
2. Penerapan produksi bersih dapat memberikan beberapa pilihan yang dapat
dilakukan untuk dapat mereduksi jumlah limbah yang dihasilkan. Pilihanpilihan tersebut dapat berupa pengubahan bahan, pengubahan teknologi,
good operating practice/good house keeping, pengubahan produk, reuse,
dan recycling.
3. Penerapan pola penerapan model integrasi antara tebu dengan ternak
ruminansia khususnya sapi dapat lebih memaksimalkan potensi yang
berasal dari perkebunan tebu dan industri gula.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pertanian. 2010. Luas Areal dan Produksi Perkebunan Seluruh
Indonesia
Menurut
Pengusahaan.
http://www.ditjenbun.deptan.go.id/cigraph/index.php/viewstat/komoditi
utama/9-Tebu (diakses pada tanggal 06 November 2010).
Erningpraja, L. 2001. Rancang Bangun Model Produksi Bersih Kebun Kelapa
Sawit. Studi Kasus di Kebun Kelapa Sawit Kertajaya, Banten dan Kebun

Penerapan Produksi Bersih Pada Industri Gula| 11

Kelapa Sawit Bah Jambi, Sumatera Utara. Disertasi. Program Pasca Srajana
IPB, Bogor.
Goenadi, D. H. dan L. P. Santi. 2006. Aplikasi Bioaktivator SuperDec dalam
Pengomposan Limbah Padat Organik Tebu. Bul. Agron. 34: 173 180.
Goenadi, D. H., Wayan R. S., Nahdodin, Husni Malian. 2005. Prospek dan Arah
Pengembangan Agribisnis Tebu. Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian. Departemen Pertanian.
Indrasti, N. S. dan A. M. Fauzi. 2009. Produksi Bersih. Bogor : IPB Press.
International
Molasses
Corporation.
2010.
Molasses
Product.
http://www.internationalmolasses.com/ (diakses pada tanggal 08 Desember
2010).
Muhtarudin., Y. Widodo., dan A. Husni. 2008. Optimalisasi Pemanfaatan
Limbah Industri Gula Melalui Pengolahan dan Suplementasi Asam
Amino Pembatas untuk Meningkatkan Prouktivitas Ternak
Ruminansia. Laporan Penelitian. Fakultas Pertanian UNILA.
Lampung.
Retnani, Y., W. Widiarti, I. Amiroh, L. Herawati dan K. B. Satoto. 2009. Daya
Simpan dan Palatabilitas Wafer Ransum Komplit Pucuk dan Ampas Tebu
untuk Sapi Pedet. Media Peternakan 2: 130 136.
Shinsetsu, Apry. 2010. Pembuatan Pulp dan Kertas Dari Ampas Tebu Dengan
Proses Acetosolv. http://aprysilverfox.blogspot.com/2010/08/makalahpembuatan-pulp-dan-kertas-dari.html (diakses pada tanggal 08
Desember 2010).
Statistik
Produksi.
2010.
Tanaman
Tebu.
http://produksipemalang.wordpress.com/2010/09/03/1148/tanamantebu/ (diakses pada tanggal 08 Desember 2010).
Sukria, H. A. dan R. Krisnan. 2009. Sumber dan Ketersediaan Bahan Baku Pakan
di Indonesia. Bogor : IPB Press.
Usada, W., Isyuniarto, Suryadi dan A. Purwadi. 2007. Proses Ozonisasi pada
Limbah Cair Industri Gula. J. Kimia Indonesia 2: 1 5.
Wahyono, D. E. dan R. Hardianto. 2004. Pemanfaatan Sumber Daya Pakan Lokal
untuk Pengembangan Usaha Sapi Potong. Lokakarya Nasional Sapi Potong
2004.
Wikipedia. 2010. Tebu. http://id.wikipedia.org/wiki/Tebu (diakses pada tanggal
08 Desember 2010).

Penerapan Produksi Bersih Pada Industri Gula| 12