Anda di halaman 1dari 6

STERELISASI AIR DAN AERASI

Oleh : MUAMAR ABDAN


SEKOLAH USAHA PERIKANAN MENENGAH NEGERI LADONG N.A.D

Sterelisasi air merupakan proses pengaplikasian suatu bahan tertentu ke dalam


media pemeliharaan yang bertujuan untuk mensterilkan air dari organisme carrier
dan ikan serta hewan berdarah merah.
I.
Bahan untuk sterelisasi air
Sterelisasi air menggunakan kaporit dengan dosis 30 ppm.
Sterelisasi air menggunakan pestisida (diazinon, dusban, sumithion, pengasus,
dll) dengan dosis 0,3-0,5 ppm.
Penggunaan kaporit/ pestisida bertujuan untuk membunuh organisme carrier
(udang-udangan/crustacea) di dalam petak pemeliharaan yang di khawatirkan
sebagai inang pembawa penyakit.
Aplikasi kaporit/ pestisida dapat dilakukan dengan cara di larutkan dengan air
secukupnya dalam suatu wadah kemudian kaporit/ pestisida tersebut di tebar
secara merata ke seluruh permukaan air kolam.
Sterelisasi air menggunakan saponin dengan dosis 15-30 ppm.
Penggunaan saponin bertujuan untuk membunuh ikan-ikan serta seluruh
hewan berdarah merah yang terdapat di petak pemeliharaan udang sebelum
penebaran benur.
Penggunaan saponin dapat di lakukan dengan cara: saponin di rendam
terlebih dahulu selama 10-12 jam, kemudian air rendaman saponin tersebut di
tebar secara merata keseluruh permukaan air kolam.
Setelah 3-6 jam penebaran saponin, ikan-ikan yang mati akan timbul ke
permukaan air. Kemudian ikan-ikan yang mati tersebut harus di buang dari
petak pemeliharaan agar tidak terjadi pembusukan.
II.

Sistim aerasi

Aerator pada petak pemeliharaan berfungsi sebagai:


Penyuplai oksigen terlarut dalam air
Menghilangkan stratifikasi dalam air
Membantu oksidasi gas-gas beracun
Terdapat tiga cara dasar dalam penggunaan aerator di dalam budidaya:
Aerasi darurat (emergency) apabila konsentrasi oksigen terlarut sangat
rendah.
Aerasi pada malam hari untuk memantapkan konsentrasi oksigen terlarut.
Aerasi yang di lakukan secara terus menerus.
Dalam keadaan dimana kebutuhan oksigen meningkat secara besar-besaran
karena kejadian tertentu seperti misalnya cuaca mendung selama berhari-hari atau
kematian phytoplanton secara masal, penggunaan sirkulasi kemungkinan tidak
cukup memadai untuk mempertahankan kadar oksigen terlarut yang cukup pada
malam hari. Aerator dapat meningkatkan kecepatan difusi melebihi apa yang dapat

di capai dengan penggunaan sirkulasi, yaitu dengan menambah luas permukaan air
yang bersentuhan dengan udara.

Ada banyak macam aerator yang dapat di gunakan, di antaranya:


Kincir ganda (long arm) terdiri dari rangkaian kipas, pipa galpanis dan
pelampung yang di gerakkan dengan mesin diesel.
Kincir tunggal, yang di gerakkan secara elektrik dengan menggunakan
dinamo satu pk.
Menggunakan pompa diesel sebagai aerasi alternatif dengan cara di
pancarkan ke dalam petak pemeliharaan.
Dengan menggunakan blower (sistim aerasi dasar).
Menggunakan aerasi aero two. Biasanya di pergunakan pada petak
pemeliharaan yang mempunyai kedalaman lebih dari 1,2 meter.

SISTIM KONTAMINASI DAN BIOSECURITY


I.

II.

Faktor-faktor kontaminasi
Kontaminasi yang di sebabkan oleh manusia, yaitu terjadinya
kontaminasi air yang belum steril (air saluran masuk/buang) dengan air
pada petak pemeliharaan yang telah steril, akibat kelalaian manusia/
pekerja tersebut.
Kontaminasi yang di sebabkan oleh hewan, yaitu masuknya hewanhewan dari luar areal pemeliharaan ke dalam petak pemeliharaan yang
telah di sterilkan sehingga terjadi kontaminasi air.
Pentingnya menjaga kontaminasi
Penjagaan kontaminasi pada petak pemeliharaan sangat penting dilakukan
agar tidak terjadi penularan/ penyebaran penyakit.
Penjagaan kontaminasi bisa di lakukan dengan cara:
Mengupayakan seoptimal mungkin pematang tidak terjadi kebocoran
pada saat di lakukan pemeliharaan.
Menutup pintu air serapat mungkin sehingga tidak terjadi kebocoran di
masa pemeliharaan.
Memagari seluruh areal petak pemeliharaan untuk menghindari
masuknya hewan-hewan dari luar
Menempatkan air kaporit pada setiap petak pemeliharaan yang berguna
untuk mencuci tangan dan kaki sebagai media sterelisasi pada saat
akan berpindah dari kolam yang satu ke kolam lainnya.

III.Reservoir/ tandon
Reservoir adalah suatu petak penampungan air dimana juga berfungsi
sebagai tempat sterelisasi air sebelum di pergunakan pada petak pemeliharaan,
petak reservoir juga berfungsi sebagai petak biofilter. Petak biofilter adalah
petak untuk menampung volume air dari saluran pemasukan yang kemudian

akan terproses secara biologis oleh berbagai jenis ikan, rumput laut atau
kekerangan. Volume petakan berkisar 20-50% dari petak pemeliharaan.
Pemberian biofilter pada petak reservoir yang perlu di perhatikan adalah
jenis dan fungsi yang di butuhkan untuk mengendalikan kondisi lingkungan
yang optimal pada budidaya udang, terutama sifat biofilter yang dapat
meminimalkan bahan organik dan racun-racun lainnya serta mempunyai nilai
ekonomis tinggi. Sampai pada saat ini jenis biofilter yang sering di gunakan
adalah jenis ikan bandeng, rumput laut, kerang hijau dan ikan nila. Setiap jenis
biofilter mempunyai kelebihan masing-masing, sehingga perlu disesuaikan
dengan kebutuhan biologi dan nilai ekonomisnya dalam penebaran ke petak
reservoir.
PEMBENTUKAN WARNA AIR
I.

Teknik Pengisian Air

Pengisian air secara gravitasi, yaitu pengisian air yang


mengandalkan pasang surut. Teknik pengisisn air secara gravitasi ini
dilakukan melalui pintu air yang di beri saringan halus berukuran mata 1
mm, saringan halus tersebut di pasang di bagian depan pintu air.

Pengisian air secara mekanik, yaitu pengisian air yang


mengandalkan pompa, baik pompa listrik maupun pompa yang di
gerakkan dengan mesin. Untuk menghindari masuknya hama carrier pada
petak pemeliharaan maka pada ujung pompa perlu di berikan saringan
kondom/ saringan plankton yang berukuran mess 90.

II. Fermentasi
Fermentasi merupakan suatu metode peragian beberapa bahan yang digunakan
untuk membantu percepatan penumbuhan plankton pada petak pemeliharaan.
Bahan-bahan yang di perlukan dalam pembuatan fermentasi :
Dedak
10 kg/ha
Bungkil kacang kedelai 5 kg/ha
Ragi tape
5 gr/kg bahan
Adapun langkah-langkah dalam pembuatan fermentasi adalah sebagai berikut:
Campurkan dedak dan bungkil kacang kedelai dalam suatu wadah.
Berikan air secukupnya, lalu aduk hingga menjadi suatu adonan.
Adonan tersebut di masak sampai mendidih kemudian di diamkan hingga
dingin.
Campurkan ragi yang telah dihaluskan ke dalam adonan, aduk sampai
merata.
Tutup adonan dan biarkan proses peragian berlangsung selama tiga hari.
Setelah tiga hari, adonan siap untuk di tebar pada petak pemeliharaan.
Aplikasi fermentasi di lakukan dua kali dalam satu minggu. Pemberian fermentasi
ini dilakukan sampai terbentuknya warna air yang di inginkan.
III.

Pemupukan
Pemupukan merupakan suatu kegiatan pembentukan penumbuhan plankton
dalam air sebagai media tempat hidup yang di pelihara. Agar proses dalam
pembentukan plankton dapat berjalan dengan baik, selain dengan aplikasi

fermentasi di lakukan juga pemupukan ke dalam air. Perangsangan pertumbuhan


plankton ini dapat di lakukan dengan pemberian pupuk anorganik seperti Urea dan
TSP dengan dosis 1 : 2.
Cara pemberian pupuk dapat dengan di tebar langsung atau dengan sistim di
gantung. Kepadatan plankton dapat di tandai dari tingkat kecerahan perairan.
Tingkat kecerahan perairan yang di harapkan sebelum penebaran benur adalah
lebih kurang 30 cm.
Jenis-jenis warna air yang sering kita temukan di lapangan :
Warna merah kecoklatan
Warna air ini di dominasi oleh 3 jenis golongan algae merah, yaitu
Chaetoceros, Nitzghia dan Skeletonema. Algae ini biasanya hidup pada air yang
bersuhu rendah. Baik bagi, udang namun sangat susah di jaga kestabilannya
karena mempunyai siklus hidup yang singkat serta membutuhkan kondisi yang
khusus untuk pertumbuhannya.
Warna hijau muda
Warna ini di sebabkan oleh algae hijau seperti Chlorella, Carteria dan
Dunaliella. Kita dapat membuat warna ini lebih mudah di bandingkan warna
merah kecoklatan , namun untuk pertumbuhan udang kurang begitu baik. Warna
kulit udang akan hijau cerah.
Warna hijau tua
Warna ini di sebabkan oleh algae biru (blue green algae) seperti
Oscilatoria, Microcoleus, Phormidium dan Spirulina. Algae ini dapat tumbuh
cepat (Blooming) pada suhu air yang agak tinggi dan banyak yang mengandung
bahan organik yang tinggi. Warna ini menunjukkan kualitas air yang kurang baik
namun masih bisa untuk dipergunakan. Karena tingginya kandungan bahan
organik dalam air, maka kemungkinan udang terkena penyakit labih tinggi
sehingga kita harus lebih berhati-hati dalam menghadapi warna air hijau tua ini.
Warna kuning
Warna air kuning ini ditimbulkan oleh algae kuning keemasan seperti
Chlamydomonas dan Hymenomonus. Ketika bahan organik didekomposisikan
oleh bakteri, PH air akan turun dan warna air menjadi kuing. Karena ukuran algae
ini sangat kecil, udang tidak mampu menangkapnya. Warna ini kurang baik dalam
budidaya udang.

Warna keruh
Warna keruh ini diakibatkan oleh Zooplankton atau partikel tanah liat dan
bahan organik. Kalau terlihat adanya bintik-bintik putih di air, hal ini disebabkan
oleh nauplius dari Rotifera dan Copepoda. Zooplankton jenis ini merupakan
makanan alami yang paling baik untuk benur, namun udang besar tidak dapat
memanfaatkannya. Nauplius ini dapat pula mengganggu udang dalam bersaing
memperoleh ruang dan oksigen. Warna keruh juga disebabkan oleh partikel tanah
liat, partikel liat dapat mengikat beberapa jenis mineral, bahan organik, plankton

dan algae yang terdapat dalam air. Hal ini menjadikan udang hidup tenang didasar
tambak dan konsumsi makanannya lebih tinggi namun bila kandungan partikel
liatnya berlebihan akan mengganggu indra penglihatan dan indera perasa sehingga
udang mengalami kesukaran dalam mencari makanan.
IV. Probiotik
Probiotik merupakan bakteri menguntungkan yang dalam pengaplikasiannya
bertujuan untuk :
Mengurangi dominasi bakteri patogen (vibrio sp).
Mengatasi pencemaran akibat akumulasi bahan organik berlebihan di dasar
kolam yang dapat menurunkan kwalitas air pada petak pemeliharaan.
Probiotik terdiri dari bakteri Bacillus sp dan Rodobacter sp.
Bakteri probiotik (Bacillus sp dan Rodobacter sp) dapat di kultur dengan cara :
Masukkan bibit probiotik sesuai dosis ke dalam air masak yang telah di
dinginkan.
Beri subtrat makanan berupa silase (gula tebu) dengan dosis 1 kg/20 liter
air.
Aerasi selama 24 jam.
Setelah 24 jam probiotik siap untuk di tebar pada petak pemeliharaan.
Dalam mengkultur probiotik ini di katakan berhasil dengan baik apabila aromanya
seperti fermentasi dan mengandung bakteri dengan kepadatan >1 milyar sel/ ml.

Sumber : Balai Budidaya Air Payau Ujong Bate, 2010 (Faisal, S.St.Pi)