Anda di halaman 1dari 33

PRESENTASI KASUS

Suspect Neoplasma Ovarium

Pembimbing :
dr. Toto Imam S, SpOG, K.Onk
Disusun oleh :
Mutiara Insan Sangaji, S.Ked
(Universitas Pelita Harapan - 07120090082)

KEPANITERAAN KLINIK OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT SOEBROTO
UNIVERSITAS PELITA HARAPAN
6 JANUARI 2014 15 MARET 2014

DAFTAR ISI

Status Pasien 3
Identitas .. 3
Data Dasar 3
Pemeriksaan Fisik 5
Pemeriksaan Penunjang . 8
Penatalaksanaan .. 11
Prognosis .... 11
Follow up ..

11

Laporan Pembedahan ....

19

Konsul ... 20
Ringkasan . 21
Pengkajian 21
Tinjauan Pustaka . 23
Daftar Pustaka . 33

STATUS PASIEN

I.

IDENTITAS
Nama

: Ny. Ratna ningsih

Jenis kelamin

: Perempuan

Tangal Lahir

: 10 April 1961

Umur

: 53 tahun

Alamat

: Jl. Celepuk II jati makmur RT 002/012, Pondok gede, Bekasi

Suku Bangsa

: Jawa

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Tidak bekerja

Status

: Janda

MRS

: 16 Januari 2014

No. RM

: 42 95 79

II. DATA DASAR


ANAMNESIS
Autoanamnesis Tanggal 16 Januari 2014
Keluhan Utama

: Sesak sejak 1 hari SMRS

Keluhan Tambahan

Perut membuncit, teraba masa di perut, nyeri perut, merasa cepat kenyang,
gangguan pencernan (sulit BAB), nafsu makan menurun, penurunan berat
badan lebih dari 5kg.
Riwayat Penyakit Sekarang :
3 bulan yang lalu pasien mengeluhkan merasa sakit di perut kanan atas
kemudian terdapat benjolan keras diatas vagina yang berbentuk lonjong.
Kemudian pasien pergi ke dokter umum dan dirujuk untuk melakukan USG di
RS Ana Jati Asih kemudian didiagnosis dengan tumor kemudian dirujuk lagi
ke RSCM dan dilakukan CT-Scan hasilnya positif tumor. Kemudian pasien
ingin melakukan operasi di RSUD Bekasi namun tidak jadi karena pasien
merasa takut. kemudian 2 minggu setelahnya pasien melakukan pengobatan
alternatif namun tidak kunjung membaik. 2 bulan yang lalu pasien merasa

perutnya menjadi keram, membesar dan sangat sakit kemudian pasien kembali
lagi ke RSCM. 1 hari SMRS pasien mengeluhkan sesak dan memeriksakan
dirinya ke RSPAD. Saat ini pasien merasa sesak. Keluhan disertai dengan
perut membuncit, teraba masa di perut, nyeri perut, merasa cepat kenyang,
gangguan pencernan (sulit BAB), nafsu makan menurun, penurunan berat
badan lebih dari 5kg. Pasien menyangkal adanya gangguan saluran kemih dan
perdarahan dari vagina.
Riwayat Menstruasi
Menarche

: 17 tahun

Siklus

: teratur, 32 hari

Lama

: 4-5 hari

Banyak

: ganti pembalut 4 5 x/hari

Dismenorrhea : tidak ada


HPHT

: sudah menopause sejak 4 tahun yang lalu

Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu


No.

Tanggal Partus

Umur Hamil

Jenis Partus

Penolong

Anak

BBL

5 Okt 1983

Aterm

Partus Spontan

Bidan

Perempuan

3800

2 Sept 1987

Aterm

Partus Spontan

Bidan

Laki-Laki

3900

23 Feb 1991

Aterm

Partus Spontan

Bidan

Laki-Laki

4000

Riwayat pemakaian alat kontrasepsi


Memakai spiral setelah 40 hari melahirkan anak yang pertama selama 4 tahun
sekali.
Riwayat Pernikahan
Pernikahan pertama, sejak berumur 21 tahun, dan sudah bercerai sejak 11
tahun yang lalu (2002)
Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien menyangkal adanya :


o Hipertensi (-)
o Diabetes Melitus (-)
o Penyakit Jantung (-)
o Alergi (-)
o Asma (-)
o Hepatitis (-)

Riwayat Penyakit Keluarga


Pasien menyangkal pada keluarganya adanya :


o Kanker (-)
o Hipertensi (-)
o Diabetes Melitus (-)
o Penyakit Jantung (-)
o Alergi (-)
o Asma (-)
o Hepatitis (-)

III. PEMERIKSAAN FISIK


TANGGAL 16 JANUARI 2014
STATUS GENERALIS
Keadaan Umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: compos mentis

Keadaan Gizi

: Normoweight
TB : 158 cm BB : 55 Kg
IMT : 22

Tanda vital

: TD : 110/60 mmHg
Nadi : 80x/menit
Suhu : 37.0 0 0C
RR : 26 x/menit

Kulit
Jaringan parut

: Tidak ada

Suhu raba

: Afebris

Keringat

: Umum

Lapisan lemak

: Merata

Pigmentasi

: Tidak ada

Pembuluh darah

: Tidak tampak

Lembab/kering

: Kering

Turgor

: Cukup

Ikterus

: Tidak ada

Edema

: Tidak ada

Kepala
Ukuran

: Normochepal
5

Ekspresi wajah

: Wajar

Rambut

: Distribusi merata

Simetri muka

: Simetris

Pembuluh darah temporal : Teraba pulsasi


Mata
Pupil

: Isokor

Lensa

: Jernih

Konjungtiva

: Anemis +/+

Sklera

: ikterik -/-

Gerakan mata

: Normal

Lapangan penglihatan : Normal


Tekanan bola mata

: Normal

Telinga
Tuli

: -/-

Lubang

: +/+, lapang

Serumen

: +/+

Cairan

: -/-

Selaput pendengaran

: Utuh

Penyumbatan

: -/-

Perdarahan

: -/-

Hidung
Bentuk

: normal,

Deviasi

: tidak ada septum deviasi,

Sekret

: -/-.

Mulut
Bibir

: Mukosa bibir basah, sianosis (-) , stomatitis (-)

Langit-langit

: Tidak ada kelainan

Gigi geligi

: Caries (-)

Faring

: Tidak hiperemis

Lidah

: Deviasi (-), Atropi (-)

Tonsil

: T1-T1 tenang

Bau pernapasan

: Tidak ada bau

Trismus

: Tidak ada

Leher

Tekanan vena Jugularis (JVP) : 5-2 cm


Kelenjar tiroid

: Tidak tampak membesar

Kelenjar Limfe

: Tidak tampak pembesaran

Thoraks
Paru-Paru
Depan
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

Belakang

Kiri

Simetris saat statis dan dinamis

Simetris saat statis dan dinamis

Kanan

Simetris saat statis dan dinamis

Simetris saat statis dan dinamis

Kiri

Fremitus taktil simetris

Fremitus taktil simetris

Kanan

Fremitus taktil simetris

Fremitus taktil simetris

Kiri

Sonor

Sonor

Kanan

Sonor

Sonor

Kiri

Vesikuler, Rh (+), Wh (-)

Vesikuler, Rh (+), Wh (-)

Kanan

Vesikuler, Rh (+), Wh (-)

Vesikuler, Rh (+), Wh (-)

Jantung
Inspeksi : Tidak tampak ictus cordis
Palpasi : Iktus cordis tidak teraba
Perkusi: Batas kanan

: Sela iga V linea sternalis dextra.

Batas kiri

: Sela iga V, 2 cm lateral linea midklavikula


Sinistra

Batas atas

: Sela iga II linea sternalis sinistra

Auskultasi : BJ I dan II reguler, Gallop (-), Murmur (-)


Abdomen
Inspeksi

Cembung membesar hingga prosesus xyphoideus dan


pusat

Palpasi

Membesar

Hati

Sulit dinilai

Limpa

Sulit dinilai

Ginjal

Sulit dinilai

Lain- lain

Massa (+)

Perkusi

Shifting dullness (+),

Auskultasi

Sulit dinilai

Ekstremitas

Dinding perut

Lengan

Kanan

Kiri

Otot (Tonus dan massa) :

Normotonus/-

Normotonus/-

Sendi

Nyeri (-)

Nyeri (-)

Gerakan

Bebas

Bebas

Kekuatan

5|5|5|5

5|5|5|5

Lain-lain

eritema palmaris (-)

eritema palmaris (-)

Sianois (-)

Sianosis (-)

CRT < 2``

CRT < 2``

Kanan

Kiri

Tungkai dan kaki


Luka

Tidak Ada

Tidak ada

Varises

Tidak Ada

Tidak Ada

Otot (Tonus dan Massa) :

Normotonus

Normotonus

Sendi

Nyeri (-)

Nyeri (-)

Gerakan

Bebas

Bebas

Kekuatan

5|5|5|5

5|5|5|5

Edema

ada

ada

Lain-lain

Sianosis (-)

Sianosis (-)

CRT < 2``

CRT < 2``

STATUS GINEKOLOGI
Abdomen
Inspeksi

: Perut cembung membesar hingga proxilam xyphoideus

Palpasi

: Sulit dinilai, nyeri tekan (+)

Perkusi

: Shifting dullnes (+)

Auskultasi

: Bising usus sulit dinilai

Genitalia
Inspeksi

: Vulva dan uretra tenang

Pemeriksaan dlm : Vagina tenang, portion kenyal dan permukaan licin,


tidak ada nyeri goyang porsio, ostium uterus eksterna
tertutup, parametrium kaku, teraba masa di adneksa kiri
dengan ukuran yang sulit dinilai
IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan

17/1/2014

20/1/2014

24/1/2014

26/1/2014

30/1/2014

Nilai Rujukan

8.7

8.9

9.8

10.2

9.9

13-18 g/dl

Darah rutin
Hemoglobin

Hematokrit

26

26

30

31

30

37-47 %

Eritrosit

3.2

3.2

3.6

3.7

3.6

4,3-6,0 juta/L

Leukosit

9500

11400

14100

10000

12200

4800-10800/L

572000

526000

569000

679000

752000

150.000400.000/L

MCV

81

81

83

84

83

80-96 fl

MCH

27

28

27

28

27

27-32 pg

MCHC

34

34

33

33

33

32-36 g/dl

Trombosit

PT
Kontrol

10.7

Detik

Pasien

11.3

9.8-12.6

Kontrol

30.1

Detik

Pasien

27.4

27-39

APTT

Koagulasi
D-Dimer

280

0-300 ng/mL

Fibrinogen

551

136-384 mg/dL

3.5 5 g/dl

Kimia Klinik
Albumin

3.7

3.2

3.7

Amilase

111

Lipase

37

0-160 u/L-

Ureum

68

136

112

70

63

20 -50 mg/dL

Kreatinin

4.3

3.1

2.1

1.1

0.5 1.5 mg/dL

Natrium

131

139

139

134

Kalium

5.3

5.6

4.7

3.5 5.3 mEq/L

Klorida

96

97

100

97

85-105 mEq/L

GDS

134

<140 mg/dl

pH

7.299

7.365

7.37-7.45

pCO2

30.6

31.0

33-44 mmHg

pO2

84.1

82.3

71-104 mmHg

<100 u/L 3.5


g/dl

135 - 145
mEq/L

Analisa Gas Darah

Bikarbonat (HCO3)

15.2

17.9

22-29 mmol/L

Kelebihan Basa (BE)

-9.6

-5.7

Saturasi O2

92.8

95.9

94-98 %

Imunologi (17/1/2014)
Tumor Marker CA-125 = 4.950 (nilai normal <35)
USG Ginekologi (16/1/2014)

Susp. Neoplasma ovarium

Hidronefrosis ginjal kanan

10

CT SCAN Abdomen

Massa kistik dengan komponen padat di adneksa kiri, kemungkinan berasal


dari ovarium kiri

Efusi pleura bilateral

Ascites masif rongga abdomen pelvis hingga cavum douglas

Limfadenopati paraorta dan parailiaka kiri

Foto Thoraks PA

Efusi pleura bilateral

Jantung dalam batas normal

V. DIAGNOSIS
Suspect Neoplasma Ovarium

VI. PENATALAKSANAAN

Aminofluid : RL (1000:500)

Transfusi PRC (target Hb > 10 g/dl)

O2 2 liter/menit

Pungsi asites

Lap VC

VII. PROGNOSIS
Quo ad Vitam

: dubia

Quo ad fuctionam

: dubia

Quo ad Sanactionam : dubia


VIII. FOLOW UP
A. Jumat, 17 Januari 2014

11

Pasien merasa sesak, perut terasa keras, perdarahan tidak ada

Keadaan umum: Tampak sakit sedang


Kesadaran

: compos mentis

TD

: 120/80 mmHg

Nafas : 25x/min

Nadi

: 90x/min

Suhu : 36.7C

Status Generalis: konjungtiva anemis +/+, edema tungkai kanan kiri


Abdomen: Perut membuncit, masa abdomen antara prosesus
xyphoideus dan pusat
Status Genikologi: pada inspeksi, vulva dan vagina tampak tenang
A

Suspect Neoplasma Ovarium


Asites
Efusi Pleura
Anemia Normokrom Normositik

R/ Diagnosis :
CA-125, PT/APTT, AGD, Konsul Paru
R/ Tatalaksana :
Aminofluid : RL (1000:500)
Transfusi PRC (target Hb > 10 g/dl)
O2 2 liter/menit
Pungsi asites
Lap VC
Protein 1,2 gr/kg/hr

B. Sabtu, 18 Januari 2014


S

Pasien masih merasa sesah

Keadaan umum: Tampak sakit sedang


Kesadaran

: compos mentis

TD

: 110/90 mmHg

Nafas : 26x/min

Nadi

: 90x/min

Suhu : 36.7C

Status Generalis: konjungtiva anemis +/+, edema tungkai kanan kiri


Abdomen: Perut membuncit, masa abdomen antara prosesus
xyphoideus dan pusat
Status Genikologi: pada inspeksi, vulva dan vagina tampak tenang

12

Suspect Neoplasma Ovarium


Asites
Efusi Pleura
Anemia Normokrom Normositik

R/ Diagnosis :
CA-125, PT/APTT, AGD, Konsul Paru
R/ Tatalaksana :
Aminofluid : RL (1000:500)
O2 2 liter/menit
Pungsi asites
Lap VC
Protein 1,2 gr/kg/hr

C. Minggu, 19 Januari 2014


S

Mual dan muntah, nyeri perut

Keadaan umum: Tampak sakit sedang


Kesadaran

: compos mentis

TD

: 120/90 mmHg

Nafas : 26x/min

Nadi

: 90x/min

Suhu : 36.7C

Status Generalis: konjungtiva anemis +/+, edema tungkai kanan kiri


Abdomen: Perut membuncit, masa abdomen antara prosesus
xyphoideus dan pusat
Status Genikologi: pada inspeksi, vulva dan vagina tampak tenang
A

Suspect Neoplasma Ovarium


Asites
Efusi Pleura
Anemia Normokrom Normositik

R/ Diagnosis :
CA-125, PT/APTT, AGD, Konsul Paru
R/ Tatalaksana :
Aminofluid : RL (1000:500)
Omeprazole 2 x 40 mg IV
Ondansentron IV

13

Profenid 3x1 supp


Pungsi asites
Lap VC
Protein 1,2 gr/kg/hr
D. Senin, 20 Januari 2014
S

Sesak, mual (+),

Keadaan umum: Tampak sakit sedang


Kesadaran

: compos mentis

TD

: 110/90 mmHg

Nafas : 26x/min

Nadi

: 90x/min

Suhu : 36.7C

Status Generalis: konjungtiva anemis +/+, edema tungkai kanan kiri


Abdomen: Perut membuncit, masa abdomen antara prosesus
xyphoideus dan pusat
Status Genikologi: pada inspeksi, vulva dan vagina tampak tenang
CA 125 : 4950
A

Suspect Neoplasma Ovarium


Asites
Efusi Pleura
Anemia Normokrom Normositik

R/ Diagnosis :
PT/APTT, AGD, elektrolit, albumin, Konsul Paru, Konsul IPD,
Konsul Kardio, Konsul Urologi, Konsul Digestif
R/ Tatalaksana :
Aminofluid : RL (1000:500)
Ondansentron 3x1 IV
Ranitidin 3x1 IV
Pungsi asites
Lap VC
Protein 1,2 gr/kg/hr

E. Selasa, 21 Januari 2014


S

Sesak, mual (+),

14

Keadaan umum: Tampak sakit sedang


Kesadaran

: compos mentis

TD

: 120/90 mmHg

Nafas : 26x/min

Nadi

: 87x/min

Suhu : 36.7C

Status Generalis: konjungtiva anemis +/+, edema tungkai kanan kiri


Abdomen: Perut membuncit, masa abdomen antara prosesus
xyphoideus dan pusat
Status Genikologi: pada inspeksi, vulva dan vagina tampak tenang
CA 125 : 4950
A

Suspect Neoplasma Ovarium


Asites
Efusi Pleura
Anemia Normokrom Normositik

R/ Diagnosis :
Konsul Paru, Konsul IPD, Konsul Kardio, Konsul Urologi,
Konsul Digestif
R/ Tatalaksana :
Aminofluid : kaEN : D10% (1:1:1)
Ondansentron 3x1 IV
Ranitidin 3x1 IV
Pungsi asites
Lap VC
Protein 1,2 gr/kg/hr

F. Rabu, 22 Januari 2014


S

Sesak (+)

Keadaan umum: Tampak sakit sedang


Kesadaran

: compos mentis

TD

: 110/90 mmHg

Nafas : 26x/min

Nadi

: 88x/min

Suhu : 36.7C

Status Generalis: konjungtiva anemis +/+, edema tungkai kanan kiri


Abdomen: Perut membuncit, masa abdomen antara prosesus
xyphoideus dan pusat

15

Status Genikologi: pada inspeksi, vulva dan vagina tampak tenang


CA 125 : 4950
A

Suspect Neoplasma Ovarium


Asites
Efusi Pleura
Anemia Normokrom Normositik

R/ Diagnosis :
Konsul Paru, Konsul IPD, Konsul Kardio, Konsul Urologi,
Konsul Digestif
R/ Tatalaksana :
Aminofluid : kaEN : D10% (1:1:1)
Ondansentron 3x1 IV
Ranitidin 3x1 IV
Pungsi asites
Lap VC
Protein 1,2 gr/kg/hr

G. Kamis, 23 Januari 2014


S

Sesak berkurang setaelah pungsi

Keadaan umum: Tampak sakit sedang


Kesadaran

: compos mentis

TD

: 110/90 mmHg

Nafas : 26x/min

Nadi

: 88x/min

Suhu : 36.7C

Status Generalis: konjungtiva anemis +/+, edema tungkai kanan kiri


Abdomen: Perut membuncit, masa abdomen antara prosesus
xyphoideus dan pusat
Status Genikologi: pada inspeksi, vulva dan vagina tampak tenang
CA 125 : 4950
A

Suspect Neoplasma Ovarium


Asites
Efusi Pleura
Anemia Normokrom Normositik

16

R/ Diagnosis :
Konsul Paru, Konsul IPD, Konsul Kardio, Konsul Urologi,
Konsul Digestif
R/ Tatalaksana :
Aminofluid : kaEN : D10% (1:1:1)
Lap VC

H. Jumat, 24 Januari 2014


S

Sesak berkurang setaelah pungsi

Keadaan umum: Tampak sakit sedang


Kesadaran

: compos mentis

TD

: 110/90 mmHg

Nafas : 26x/min

Nadi

: 88x/min

Suhu : 36.7C

Status Generalis: konjungtiva anemis +/+, edema tungkai kanan kiri


Abdomen: Perut membuncit, masa abdomen antara prosesus
xyphoideus dan pusat
Status Genikologi: pada inspeksi, vulva dan vagina tampak tenang
CA 125 : 4950
A

Suspect Neoplasma Ovarium


Asites
Efusi Pleura
Anemia Normokrom Normositik

R/ Diagnosis :
Konsul Paru, Konsul IPD, Konsul Kardio, Konsul Urologi,
Konsul Digestif
R/ Tatalaksana :
Aminofluid : kaEN : D10% (1:1:1)
Lap VC

I. Sabtu, 25 Januari 2014


S

Sesak berkurang setaelah pungsi

17

Keadaan umum: Tampak sakit sedang


Kesadaran

: compos mentis

TD

: 110/80 mmHg

Nafas : 26x/min

Nadi

: 90x/min

Suhu : 36.7C

Status Generalis: konjungtiva anemis +/+,


Abdomen: Perut membuncit, masa abdomen antara prosesus
xyphoideus dan pusat
Status Genikologi: pada inspeksi, vulva dan vagina tampak tenang
CA 125 : 4950
A

Suspect Neoplasma Ovarium


Asites
Efusi Pleura
Anemia Normokrom Normositik

R/ Diagnosis :
Konsul Paru, Konsul IPD, Konsul Kardio, Konsul Urologi,
Konsul Digestif
R/ Tatalaksana :
Aminofluid : kaEN : D10% (1:1:1)
Lap VC

J. Minggu, 26 Januari 2014


S

Sesak berkurang setaelah pungsi

Keadaan umum: Tampak sakit sedang


Kesadaran

: compos mentis

TD

: 110/90 mmHg

Nafas : 26x/min

Nadi

: 88x/min

Suhu : 36.7C

Status Generalis: konjungtiva anemis +/+, edema tungkai kanan kiri


Abdomen: Perut membuncit, masa abdomen antara prosesus
xyphoideus dan pusat
Status Genikologi: pada inspeksi, vulva dan vagina tampak tenang
CA 125 : 4950
A

Suspect Neoplasma Ovarium


Asites

18

Efusi Pleura
Anemia Normokrom Normositik
P

R/ Diagnosis :
Konsul Paru, Konsul IPD, Konsul Kardio, Konsul Urologi,
Konsul Digestif
R/ Tatalaksana :
Aminofluid : kaEN : D10% (1:1:1)
Lap VC

IX. LAPORAN PEMBEDAHAN


Nama pasien

Usia

Tgl Pembedahan

Ny. Ratnaningsih

53 tahun

24/01/2014

Ahli bedah

Asisten bedah

Diagnosis pre-laparoskopi

dr. Nugroho, spU

dr. Andre

Hidronefrosis bilateral e.c


NOK

Tindakan Pembedahan :Sitoskopi Insersi UK S + DJ Stent D


Diagnosa Pasca bedah : Hidronefrosis bilateral e.c NOK
Laporan Pembedahan :
1. Pasien posisi litotomi dalam anestesi spinal. Diberi septis dan antiseptis
2. Sitoskopi tampak massa mendesak dinding posterior buli. Muara kedua ureter
teridentifikasi
3. Insersi guide wire ke ureter kiri, naik hingga Pcs S, insersi DJ stent 4 5 F, tidak Urs
tampak stenosis di muara ureter D. pasang UK no. 4 hingga Pcs S
4. Identifikasi muara ureter D, insersi guide wire dengan c-arm, pasang DJ stent no. 4 5
F konfirmasi C-arm posisi DJ stent baik
5. Pasang folley cateter no. 18 balon 15 cc
6. Operasi selesai

Nama pasien

Usia

Tgl Pembedahan

Ny. Ratnaningsih

53 tahun

29/01/2014

Ahli bedah

Asisten bedah

Diagnosis pre-laparoskopi

19

dr. Pande, spU

dr. Andre

Hidronefrosis bilateral e.c


NOK, DJ stent kanan + UK
kiri

Tindakan Pembedahan :Sitoskopi Insersi UK S + DJ Stent D


Diagnosa Pasca bedah : Hidronefrosis bilateral e.c NOK, DJ stent kanan + UK
Laporan Pembedahan :
1. Pasien posisi litotomi dalam Cylocath gel intrauretra
2. Inspeksi tampak UK melorat. Disemprot kontras tampak kontras tidak naik ke ginjal
3. Sitoskopi tampang ujung UK sudah keluar dari muara uretra
4. Dicoba untuk memasukkan UK melalui muara uretra kiri namun pasien kesakitan
5. Diputuskan untuk hentikan tindakan
6. Dipasang folley cateter 16 fr balon 15 cc
7. Tindakan selesai

X. KONSUL
A. Pulmonologi

Kesan : NOK dengan efusi pleura bilateral, curiga mestastasis paru

Saran :
o Di bagian pulmonology tidak ada tindakan, efusi pleura
bilateral minimal
o CT Scan toraks + kotras

B. Kardiologi

Kesan : EKG dalam batas normal, Cardio stabil

C. Urologi

Nyeri pinggang (-), saat ini dengan NOK dan hidronefrosis mild
bilateral, CVA -/-, nyeri tekan -/-, nyeri ketok -/-

Kesan : hidronefrosis bilateral mild e.c obstruktif uropathy e.c NOK

Saran :
o Pro injeksi DJ stent bilateral 1 hari sebelum tindakan di
bidang tersebut

D. Bedah Vaskuler

20

Pasien dengan masalah NOK dengan asites dengan keluhan bengkak


kedua tungkai kurang lebih sejak 3 bulan SMRS. Dengan lab DDimer 2800

Kesan : suspek DVT

Anjuran :
o Periksa USG Doppler
o Heparinisasi 5000 unit / hari (Cek PT/APTT dlm 24 jam)
o Elastic bandage pada kedua tungkai
o Evaluasi kembali

XI. RINGKASAN
Pasien perempuan, 53 tahun, datang ke RSPAD dengan keluhan sesak sejak 1
hari SMRS. Keluhan disertai dengan perut membuncit, teraba masa di perut,
nyeri perut, merasa cepat kenyang, gangguan pencernan (sulit BAB), nafsu
makan menurun, penurunan berat badan lebih dari 5kg. Pasien sebelumnya
sudah pernah diperiksa ke RS lain dan dicurigai tumor kandung telur. Riwayat
menstruasi sudah menopause sejak 4 tahun yang lalu. Pada pemeriksaan fisik
ditemukan keadaan umum tampak sakit sedang, dengan pernafasan 26x/menit,
kepala, kulit, telinga hidung tenggorokan, jantung dalam batas normal.
Konjungtiva anemis +/+, Paru-paru terdapat rhonki dextra dan sinistra, abdomen
cembung membesar hingga prosesus xyphoideus dan pusat, shifting dullness
(+), auskultasi sulit dinilai, pada extremitas inferior dextra dan sinistra terdapat
edema. Status ginekologi parametrium kaku dan teraba masa di adneksa kiri
dengan ukuran yang sulit dinilai. Dari pemeriksaan penunjang didapatkan
penurunan Hb, Ht, eritro, albumin, pH, pCO2, HCO3 dan kenaikan trombosit,
amylase, ureum, kreatinin, CA-125. USG ginekologi didapatkan susp.
Neoplasma ovarium dengan hidronefrosis ginjal kanan.

XII. PENGKAJIAN

Diagnosis : Susp. Neoplasma Ovarium

Atas Dasar :

Anamnesis :

21

Perut membuncit, teraba massa di perut, nyeri perut, sesak, gangguan


buang air besar, nafsu makan menurun, penurunan berat badan lebih
dari 5 kg.

Pemeriksaan fisik :
Perut membuncit hingga prosesus xyphoideus dan pusat, pada
pemeriksaan dalam parametrium kaku dan teraba masa di adneksa
kiri dengan ukuran yang sulit dinilai

Rencana diagnosis
o Cek DPL, PT/APTT, Koagulasi, albumin, ureum, kreatinin,
elektrolit, GDS, analisa gas darah,
o Cek Ca-125
o USG Ginekologi
o CT SCAN
o Foto thoraks
o Konsul paru, jantung, urologi, bedah vaskuler

Rencana tatalaksana
o Aminofluid : RL (1000:500)
o Transfusi PRC
o O2 2 liter/menit
o Pungsi asites
o Laparatomi vc

22

TINJAUAN PUSTAKA

Kanker ovarium merupakan penyebab kematian tertinggi dari kanker


alat genitalia pada perempuan. Di USA sekitar 22.220 kasus baru di diagnosis
setiap tahun, dan sekitar 16.210 kematian terjadi setiap tahun akibat penyakit
ini. Kanker ovarium 6% dari seluruh kanker pada perempuan dan penyakit ini
timbul 1 orang pada setiap 68 perempuan.1 Kanker ovarium memliki urutan
ke-7 dari jenis kanker yang menyebabkan kematian pada wanita di dunia ini. 2
Di Indonesia, kanker ovarium menduduki urutan ke enam terbanyak dari
keganasan pada wanita setelah karsinoma serviks uteri, payudara, kolorektal,
kulit, dan limfoma.2

I.

Faktor Risiko3,
Sampai saat ini penyebab dari kanker ovarium masih belum diketahui
dengan jelas. Namun ada beberapa faktor risiko untuk terkena kanker
ovarium, antara lain sebagai berikut :

Faktor Lingkungan
Insidensi dari kanker ovarium tinggi pada Negara-negara industri.
Penyakit ini tidak ada hubungannya dengan obesitas, minum alcohol,
merokok, maupun, minum kopi. Juga tidak ada kaitannya dengan
penggunaan bedak talcum ataupun intake lemak yang berlebihan

Faktor Reproduksi
Makin meningkat siklus haid berovulasi ada hubungannya dengan
meningkatnya risiko timbulnya kanker ovarium. Hal ini dikaitkan dengan
pertumbuhan aktif permukaan ovarium setelah ovulasi. Induksi siklus
ovulasi mempergunakan klomifen sitrat meningkatkan risiko 2 sampai 3
kali. Kondisi yang menyebabkan turunnya siklus ovulasi menurunkan
risiko kanker seperti pada pemakaian pil Keluarga Berencana menurunkan
risiko sampai 50%, bila pil dipergunakan 5 tahun atau lebih; multiparitas,
dan riwayat pemerian air susu ibu termasuk menurunkan risiko kanker
ovarium

23

Faktor Genetik
5%-10% penyakit ini karena faktor heriditer (ditemukan di keluarga
sekurang-kurangnya dua keturunan dengan kanker ovarium). Ada 3 jenis
kanker ovarium yang diturunkan yakni :
o Kanker ovarium site specific familial
o Sindrom kanker payudara-ovarium, yang disebabkan oleh mutasi
dari gen BRCA 1 dan berisiko sepanjang hidup (lifetime) sampai
85% timbul kanker payudara dan risiko sepanjang hidup sampai
50% timbulnya kanker ovarium pada kelompok tertentu. Walaupun
mastektomi profilaksis kemungkinan menurunkan risiko, tetapi
persentasi kepastian belum diketahui. Ooforektomia profilaksis
mengurangi risiko sampai 2%.
o Sindroma kanker Lynch type II, dimana beberapa anggota keluarga
dapat timbul berbagai jenis kanker, termasuk kanker kolorektal
nonpoliposis, endometrium, dan ovarium.

II.

Patofisiologi
Penyebab karsinoma ovarium secara tepat belum diketahui. Terdapat
teori chronic uninterrupted ovulation yang berhubungan dengan resiko
terjadinya karsinoma ovarium. Pada saat terjadi ovulasi, akan terjadi
kerusakan pada epitel ovarium dan mengaktifkan mekanisme perbaikan
selular (cellular repair mechanism). Proses perbaikan ini memerlukan waktu
tertentu. Proses ovulasi dan kerusakan epitel yang terjadi berkali-kali atau
berulang untuk waktu yang lama tanpa interupsi, terutama jika sebelum
penyembuhan sempurna tercapai (waktu istirahat sel yang tidak adekuat), akan
memberikan peluang untuk terjadinya delesi gen somatik serta mutasi selama
proses perbaikan sel sehingga dapat terjadi transformasi sel menjadi sel-sel
neoplastic. Nuliparitas, menarke awal dan menopause lambat merupakan
beberapa fator yang dapat meningkatka resiko terjadinya karsinoma ovarium.
Sedangkan penggunaan kontrasepsi oral, menyusui, multiparitas, dan choric
anovulation merupakan faktor yang dapat mengurangi resiko terjadinya
karsinoma ovarium dengan menginterupsi atau mensupresi terjadinya ovulasi.9

24

III.

Gejala, Tanda, dan Diagnosis

Anamnesis2,4,5,6
Kanker ovarium pada stadium dini tidak memberikan keluhan. Keluhan
yang timbul akan berhubungan dengan peningkatan massa tumor,
penyebaran permukaan seorasa dari kolon dan asites. Rasa tidak nyaman
dan rasa penuh diperut, serta cepat merasa kenyang sering berhubungan
dengan kanker ovarium. Gejala lain yang timbul adalah perut membuncit,
mudah lelah, nafas pendek akibat efusi pleura dan asites yang masif,
konstipasi, dyspareunia,

Pemeriksaan fisik ginekologi2


Dengan melakukan pemeriksaan bimanual akan membantu dalam
memperkirakan ukuran, lokasi, konsistensi, dan mobilitas dari massa
tumor. Pada pemeriksaan rektovaginal untuk mengevaluasi permukaan
bagian posterior, ligamentum sakrouterina, parametrium, kavum douglas,
dan rectum. Adanya nodul di payudara perlu mendapat perhatian karena
sering ovarium merupakan tempat metastasis dari kanker payudara.
Hasil yang sering didapatkan pada tumor ovarium adalah masa pada
rongga pelvis. Tidak ada petunjuk pasti pada pemeriksaan fisik yang
mampu membedakan tumor adneksa adalah jinak atau ganas, namun
secara umum dapat dianut bahwa tumor jinak cenderung kistik dengan
permukaan licin, unilateral, dan mudah digerakkan. Sedangkan tumor
ganas akan memberikan gambaran massa yang padat, noduler, terfiksasi
dan sering bilateral. Massa yang besar yang memenuhi rongga abdomen
dan pelvis lebih mencerminkan tumor jinak atau keganasan derajat rendah.
Adanya asites dan nodul pada cul-de-sac merupakan petunjuk keganasan.

Pemeriksaan penunjang
Pada pasien dengan kanker ovarium herediter, pengukuran CA-125,
pemeriksaan pelviss, ultrasonografi transvaginal dapat dilakukan setiap 6
bulan

sekali.

Pada

kelompok

yang

berisiko

tinggi

tersebut

direkomendasikan ooferektomia profilaksis pada usia 35 tahun setelah


memiliki cukup anak.3

25

Ultrasonografi

merupakan

pemeriksaan

penunjang

utama

dalam

menegakkan diagnosis suatu timor adneksa ganas atau jinak. Pada


keganasan akan memberikan gambaran dengan septa internal, padat,
berpapil, dan dapat ditemukan adanya asites. Walaupun ada pemeriksaan
yang lebih canggih seperti CT scan, MRI, dan positron tomografi akan
memberikan gambaran yang lebih mengesankan, namun pad apenelitian
tidak menunjukan tingkat sensitifitas dan spesifitsitas yang lebih baik dari
pemeriksaan ultrasonografi7,8
Untuk jenis kanker ovarium jenis epitel penanda tumornya adalah CA-125.
Sedangkan untuk tumor sel germinal adalah LDH, hCG, AFP, hPL (human
placental lactogen), PLAP (plasental-like alkaline phosphatase). tumor
stroma sex cord, inhibin.3
Pemeriksaan darah tepi, tes fungsi hati, tes fungsi ginjal, serta biokimia
darah lainnya perlu dilakukan. Pemeriksaan radiologic berupa foto thoraks
untuk mengevaluasi metastasis paru, efusi pleura serta pemeriksaan CTscan abdomen pelvis. Bila ada kelahun simtomatik, perlu dilakukan
pielogafi intravena dan atau barium enema untuk evaluasi kandung kemih
dan perluasan ke usus.

IV.

Stadium3
Stadium surgical pada kanker ovarium (FIGO 1988)
Tumor terbatas pada ovarium

IA, tumor terbatas pada satu ovarium, kapsul utuh, tidak ada tumor pada
permukaan luar, tidak terdapat sel kanker pada cairan asites atau pada
bilasan peritoneum

IB, tumor terbatas pada kedua ovarium, kapsul utuh, tidak ada tumor pada
permukaan luar, tidak terdapat sel kanker pada cairan asites atau pada
bilasan peritoneum

IC, tumor terbatas pada satu atau dua ovarium dengan satu dari tandatanda sebagai berikut : kapsul pecah, tumor pada permukaan luar kapsul,
sel kanker positif pada cairan asites atau bilasan peritoneum

26

Tumor mengenai satu atau dua ovarium dengan perluasan ke pelvis

IIA, perluasan dan atau implant ke uterus dan atau tuba falopii. Tidak
ad sel kanker di cairan asites atau bilasan peritoneum

IIB, perluasan ke organ pelvis lainnya. Tidak ada sel kanker di cairan
asites atau bilasan peritoneum

IIC, tumor pada stadium IIA/IIB dengan sel kanker positif pada cairan
asites atau bilasan peritoneum

Tumor mengenai satu atau dua ovarium dengan metastasis ke peritoneum


yang dipastikan secara mikroskopik di luar pelvis dan atau metastasis ke
kelenjar getah bening regional.

IIIA, metastasis mikroskopik di luar pelvis

27

IIIB, metastasis peritoneum makroskopik di luar pelvis dengan


diameter terbesar 2cm atau kurang

IIIC, metastasis peritoneum di luar pelvis dengan diameter terbesar


lebih dari 2cm dan atau metastasis ke kelenjar getah bening
regional

IV, metastasis jauh di luar rongga peritoneum. Bila terdapat effusi


pleura, maka cairan pleura mengandung sel kanker positif.
Termasuk metastasi pada parenkim hati.

28

V.

Histopatologi3
Jenis epitel (65% dari kanker ovarium) terdiri dari serosum (20%50%), musinosum (15%-25%), yang dapat tumbuh sangat besar (permagna),
endometrioid (5% dan kira-kira 10% bersamaan dengan endometriosis), sel
jernih (5%, prognosis buruk) dan Brenner (2%-3%, sebagian besar jinak).
Kira-kira 15% dari kanker jenis epitel menunjukkan potensi keganasan
rendah.
Tumor sel germinal (25% dari semua kanker ovarium) dan yang
tersering disgerminoma, diikuti tumor campuran sel germinal. Tipe lainnya
adalah teratoma imatur, koriokarsinoma, tumor sinus endodermal, dan
karsinoma embrional.
Tumor stroma sex cord (5% dari semua kanker ovarium). Yang
tersering adalah tumor sel granulosa. Tipe lainnya tumor sel Sertoli-Leydig.
Jenis lainnya: sarcoma, tumor metastasis.

VI.

Pengobatan3
Tindakan pembedahan ada dua tujuan yakni pengobatan dan
penentuan stadium surgical. Terapi pembedahan termasuk histerektomi,
salpingo-ooforektomi, omentektomi, pemeriksaan asites, bilasan peritoneum,
dan mengupayakan debulking optimal (kurang dari 1 cm tumor residu),
limfadenektomi (pengambilan sampel untuk pemeriksaan histopatologi) pada
stadium awal. Stadium IA sampai stadium IB derajat 1 dan 2, atau semua
stadium pada jenis tumor potensial rendah pada ovarium. Kemudian dilakukan
observasi dan pengamatan lanjut pada pemeriksaan CA-125.
Pasien dengan stadium IA derajat 1 dan 2 jenis epitel mempunyai
kesintasan hidup 5 tahun sebesar 95% dengan atau pemberian kemoterapi.
Beberapa klinikus akan memberikan kemoterapi pada kanker ovarium derajat
2 stadium IA dan IB derajat 3, stadium II sampai 4: kemoterapi : paclitaxel
(taxol) dengan carboplatin atau cisplatin
Setelah selesai pengobatan dengan kemoterapi ada 3 pilihan yang
diterapkan pada pasien : observasi, teruksan pengobatan, bila tumor regresi
tapi belum hilang seluruhnya dan terapi konsolidasi dengan kemoterapi lain.

29

Biasanya diberikan hexamethylmelamine secara terus menerus untuk menekan


agar tidak timbul residif.
Pembedahan
Laparatomi potong beku dilakukan atas indikasi kecurigaan keganasan.
Hasil potong beku menjadi pertimbangan untuk tindakan selanjutnya selama
operasi berlangsung. Pada usia muda, potong beku masih diperlukan untuk
pertmbangan konservasi fertilitas. Dari hasil potong beku ada beberapa
kemungkinan hasil :

Tumor ovarium jinak (benign)

Tumor ovarium borderline

Tumor ovarium ganas (maligna)

Keganasan ovarium belum dapat dipastikan, untuk kepastian


diagnosis menunggu hasil pemeriksaan paraffin.

Jika hasil potong beku adalah borderline (diperlakukan seperti tumor ganas
ovarium) hasil potong beku tumor ovarium ganas, maka tindakan selanjutnya
adalah :
1. Surgical Staging pada stadium awal
a. Complete surgical staging
Sitology bilasan peritoneal, histerektomi, salpingo-ooferektomi
bilateral, limfadenektomi pelvik dan para-aorta, omentektomi,
appendektomi,

biopsy-biopsy

peritoneum

(parakolika,

subdiafragma, prevesikal, kavul douglasi, dan pada perlekatan


dari lesi yang dicurigai)
b. Conservative surgical staging (fungsi reproduksi)
Konservatif

tindakan

salpingoofarektomi

unilateral,

omentektomi, limfadenektomi ipsilateral, sitology, biopsy,


appedndektomi
2. Debulking atau sitoreduksi pada stadium lanjut
Terapi Adjuvant Kemoterapi
Kemoterapi pada kanker ovarium dengan menggunakan platinum
(cysplatin dosis 50-100 mg/m2 atau carboplatin AUC 5-6).

Tumor ovarium epithelial dapat dikombinasi dengan

30

o CAP : Cyclophosphamide Adriamycin Platinum


o CP : Cyclophosphamide Platinum
o AP : Adryamycin dan Platinum
o EP : Epirubicyn dan Platinum
o Docetaxel 75 mg/m2 dan Platinum
o Paclitaxel 175 mg/m2 dan Platinum

Tumor ovarium non-epitel


o BEP (Bleomycin Etoposide Platinum)

Kemoterapi Neoadjuvant
Kemoterapi neoadjuvant adalah pemberian kemoterapi sebelum
pembedahan primer. Indikasi :

Kanker stadium lanjut (diduga stadium IIIC dan IV)

Operasi primer diperkirakan sukar mencapai pembedahan


debulking yang optimal

Kondisi pasien diprediksi berisiko tinggi untuk pembedahan


misalnya ada efusi pleura, asites masif, diduga perlekatan
sangat berat, maka dapat dipertimbangkan untuk pemberian
kemoterapi neoadjuvant

VII.

Kanker Ovarium Residif3


Pasien yang diduga dengan residif kanker ovarium bila ada gejala
gangguan gastrointestinal , obstruksi parsialis, atau diketahui ada massa baru
dari pemeriksaa CT-Scan. Evaluasi dilakukan dengan melakukan pemeriksaan
daerah abdomen, adanya effuse pleura. Pengobatan untuk kanker ovarium
residif dengan cara operasi (debulking) sangat tidak efektif terutama bila
tumor resisten terhadap kemoterapi. Bila residifnya lebih dari 6 bulan setelah
selesai kemoterapi berbasis platinum, dapat dipertimbangkan pemberian ulang
kemoterapi berbasis platinum. Akan tetapi bila residifnya kurang dari 6 bulan
setelah kemoterapi berbasis platinum, dipertimbangkan kemoterapi topotecan
dan doxorubicin, ifosfamid, cyclophosphamide, atau paclitaxel per minggu.

31

VIII. Kanker Ovarium Sel Germinal3


Kanker ini banyak dijumpai pada usia muda sehingga preservasi
fertilitas perlu dipertimbangkan. Tindakan pembedahan pada jenis tumor sel
germinal berupa laparatomi eksploratif, bilasan perinoteum, salpingoooferektomia unilateral, omentektomi, biopsy kelenjar getah benin pelvis dan
para-aorta, biopsy multiple dara daerah peritoneum. Standar pengobatan pada
sel germinal adalah pembedahan dan dilanjutkan dengan kemoterapi
bleomycin, etoposid dan platinum (BEP) untuk semua stadium

IX.

Faktor Prognosis3
Faktor yang memperbaiki prognosis termasuk derajat diferensiasi yang
redah, stadium awal, tumor ganas potensi rendah, debulking optimal, dan usia
muda. Semetara faktor yang memperburuk prognosis termasuk karsinoma sel
jernih, jenis serosum, stadium lanjut, asites, debulking yang tidak optimal,
derajat deferensiasi yang tinggi atau buruk, dan usia tua. Adapun kesintasan
hidup 5 tahun kanker ovarium jenis epitel pada stadium I 74%, stadium II
58%, stadium III 30%, stadium IV 19%.

32

DAFTAR PUSTAKA

1. Copeland LJ. Epithelial ovarian cancer in Disaia PJ, Creasman WT (eds).


Clinical gynecologic oncology 7th ed. Mosby Elsevier 2007 : 314-15.
2. Djuana A, Rauf S, Manuaba IBGF. Pengenalan dini kanker ovarium. Makalah
ilmiah PIT XII POGI Palembang, 2001
3.

Prawiharjo, Sarwono. Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka Sarwomo


Prawihardjo. Jakarta, 2011.

4. Nuranna L. Kanker ovarium. Sub Bagian Onkologi Obstetri Ginekologi FK


UI. Jakarta, 1992
5. Disaia PJ, Creasman WT. Clinical gynecology oncology.3rd edition. St. Louis
Washingtong DC: Mosby Company, 1998:417
6. Johnston S. Gynecology cancer: ovarian carcinoma. Course of UICC. Jakarta:
FKUI, 1992:1-19
7. Zanetta G, Rota S, Lissoni A, Meni A, Brencatelli G, Buda A. Ultrasound,
physical examination, and CA 125 measurment for detection of recurrence
after concervative surgery fo early borderline ovarian tumors. Geynecol
Oncol, 2001;81:61-66 17.
8. Beecham JB, Rubin P. Tumors of the female reproduction organs. In: Rubin P.
Clinical Oncology a multidisplinary approch. 6th edition. New York:
American Cancer Society Inc, 1983;1286-93
9. Stephen

A.

Cannistra,

M.D.

screening

for

ovarian

cancer.

http://www.nejm.or/doi.full/10.1056/NEJMcp0901926

33