Anda di halaman 1dari 28

BAB III

LANDASAN TEORI

3.1

TINJAUAN UMUM
Proyek konstruksi merupakan suatu rangkaian kegiatan dengan urutan

pekerjaan sistematis yang bertujuan untuk mewujudkan bangunan infrastruktur


(gedung, jalan, bendungan, dll) dalam batasan biaya, mutu, dan waktu yang telah
disepakati sesuai kontrak kerja.
Rangkaian kegiatan dalam proyek konstruksi diawali dengan lahirnya suatu
gagasan yang muncul dari adanya permintaan atau kebutuhan akan infrastruktur
yang diharapkan yang kemudian dilanjutkan dengan penelitian terhadap
kemungkinan terwujudnya gagasan tersebut (studi kelayakan). Ketika gagasan
tersebut memenuhi kelayakan dalam rangka mewujudkannya, maka proses
selanjutnya adalah tahap desain, yang meliputi desain persiapan (preliminary
design), desain pengembangan (development design), dan terakhir adalah desain
akhir (final design) yang akan menjadi patokan dalam pengerjaan di lapangan.
Dalam proses pembangunan (construction) suatu proyek dibutuhkan metodemetode kerja khusus yang harus digunakan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut
sesuai dengan kontrak baik biaya, mutu dan waktu. Pengendalian proyek konstruksi
yang sistematis harus direncanakan dengan matang dan teliti agar dapat
menghasilkan waktu penyelesaian dan biaya yang paling efisien (Soeharto, 1997).
Keberhasilan atau kegagalan dari pelaksanaan suatu proyek konstruksi
seringkali disebabkan oleh kurang terencananya kegiatan proyek serta
pengendalian yang kurang efektif, sehingga kegiatan proyek tidak efisien. Hal ini
akan mengakibatkan keterlambatan, menurunnya kualitas pekerjaan, dan
membengkaknya biaya pelaksanaan. Dalam kaitannya dengan biaya dan waktu
proyek, pelaksana lapangan (kontraktor dan pengawas lapangan) harus bisa efisien
dan bijaksana dalam penggunaan waktu dalam setiap aktivitas atau

10

11
kegiatannya,

sehingga

biaya

dapat

diminimalkan

dari

rencana

awal.

Perencanaan kegiatan-kegiatan proyek merupakan masalah yang sangat


penting karena merupakan dasar untuk pelaksanaan pekerjaan agar dapat selesai
dengan biaya dan waktu yang paling optimal. Pada tahap perencanaan proyek,
diperlukan adanya estimasi durasi waktu pelaksanaan proyek tersebut. Realita di
lapangan menunjukkan bahwa penyelesaian suatu proyek konstruksi sangatlah
bervariasi karena sangat tergantung pada kondisi lapangan saat itu yang bisa saja
terdapat hal yang diluar perkiaraan, sehingga waktu penyelesaian riil di lapangan
banyak yang meleset dari dari rencana awal. Selain ketepatan perkiraan waktu,
penegasan hubungan antar kegiatan suatu proyek juga sangat berpengaruh dalam
perencanaan pelaksanaan antar kegiatan yang saling terkait. Dalam mengestimasi
waktu dan biaya proyek maka diperlukan adanya optimalisasi yang bertujuan untuk
mengoptimalkan sumber daya yang ada namun tetap mendapatkan hasil yang
optimal.
3.2

PROYEK
Proyek merupakan suatu tugas yang perlu dirumuskan untuk mencapai

sasaran yang dinyatakan secara konkret serta harus diselesaikan dalam suatu
periode tertentu dengan menggunakan tenaga manusia dan alat-alat yang terbatas
sehingga dbutuhkan pengelolaan dan kerja sama yang berbeda dari yang biasanya
digunakan (Karaini, 2011). Sedangkan menurut Cleland dan King (1988) proyek
merupakan gabungan dari berbagai sumber daya yang dihimpun dalam organisasi
sementara untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Ciri-ciri pokok proyek diantaranya adalah sebagai berikut :
a.

memiliki tujuan yang khusus, produk akhir, atau hasil kerja akhir;

b.

jumlah biaya, sasaran jadwal serta kriteria mutu dalam proses mencapai
tujuan di atas telah ditentukan;

c.

bersifat sementara, dalam arti umumnya dibatasi oleh selesainya tugas. Titik
awal dan akhir ditentukan denga jelas;

d.

nonrutin, tidak berulang-ulang. Jenis dan intensitas kegiatan berubah


sepanjang proyek berlangsung.

12
Selain proyek dikenal juga program yang mempunyai sifat sama dengan
proyek. Perbedaannya terletak pada kurun waktu pelaksanaannya dan besarnya
sumber daya yang dibutuhkan. Program memiliki skala yang lebih besar
dibandingkan dengan proyek. Umumnya, program dapat dipecah menjadi lebih
dari satu proyek, atau suatu program merupakan kumpulan dari bermacam-macam
proyek. Berikut ini adalah beberapa perbedaan lain antara proyek dengan program
ditunjukkan pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1 Perbedaan Proyek dengan Program
No
a.
b.
c.
d.
e.

f.

Proyek
Bersifat dinamis
Berlangsung dalam kurun waktu
terbatas
Intensitas kegiatan berbeda-beda
Kegiatan harus selesai sesuai dana
dan waktu tertentu
Menyangkut kegiatan yang
beragam dan perlu klarifikasi
tenaga kerja yang bermacammacam
Guna memperoleh hasil yang
efektif perlu diatur jalur
komunikasi dan tanggung jawab
baik vertikal maupun horizontal

Program
Bersifat rutin
Berlangsung kontinu/jangka panjang
Intensitas kegiatan relatif sama
Batasan tidak setajam proyek, hanya
diatur dalam anggaran tahunan
Tidak terlalu banyak macam-macam
kegiatan

Penekanannya pada jalur vertikal

Sumber : Karaini (2011)


Soeharto (1997) juga menyatakan bahwa proyek dapat dikelompokkan
menjadi :
a.

Proyek Engineering-Konstruksi
Terdiri dari pengkajian kelayakan, desain engineering, pengadaan dan
konstruksi.

b.

Proyek Engineering-Manufaktur
Dimaksudkan untuk membuat produk baru, meliputi pengembangan produk,
manufaktur, perakitan, uji coba fungsi dan operasi produk yang dihasilkan.

c.

Proyek Penelitian dan Pengembangan


Bertujuan untuk melakukan penelitian dan pengembangan dalam rangka
menghasilkan produk tertentu.

13
d.

Proyek Pelayanan Manajemen


Proyek pelayanan manajemen tidak memberikan hasil dalam bentuk fisik,
tetapi laporan akhir, misalnya merancang sistem informasi manajemen.

e.

Proyek Kapital
Proyek kapital merupakan proyek yang berhubungan dengan penggunaan
dana kapital untuk investasi.
Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa proyek konstruksi adalah suatu

usaha untuk mendirikan sebuah bangunan dengan biaya, mutu, jangka waktu
tertentu dan sumber daya yang terbatas.
3.2.1 Sasaran Proyek
Pada poin diatas sudah disebutkan bahwa proyek mempunyai sasaran yang
jelas, misalnya rumah tinggal, jembatan atau gedung perkantoran. Didalam proses
mencapai tujuan tersebut telah ditentukan batasan yaitu besaran biaya (anggaran)
yang dialokasikan, jadwal, serta mutu yang harus dipenuhi. Ketiga batasan itu biasa
disebut sebagai tiga kendala (triple constrain) yang saling berhubungan seperti
yang diperlihatkan pada Gambar 3.1.

BIAYA

MUTU

WAKTU
Gambar 3.1 Hubungan Biaya, Mutu dan Waktu
(Sumber : Karaini, 2011)
Ketiga hal tersebut merupakan parameter penting bagi penyelenggara proyek
yang sering diasosiasikan sebagai sasaran proyek yang mempunyai sifat saling
tarik-menarik. Artinya, semakin kompleks dan unik suatu bangunan, maka
umumnya harus diikuti dengan menaikkan mutu, yang selanjutnya berakibat pada
naiknya anggaran biaya. Sebaliknya jika ingin menekan biaya, maka harus
berkompromi dengan mutu atau jadwal.

14
3.2.2 Tahapan Proyek Konstruksi
Tahapan proyek konstruksi terdiri dari :
1.

Tahap perencanaan
a. Gagasan dan ide.
b. Studi kelayakan : Aspek yang ditinjau dalam studi kelayakan adalah teknis,
ekonomi, lingkungan, dan lain-lain.

2.

Tahap perancangan
a. Tahap prarancangan : Mencakup kriteria desain, skematik desain, estimasi
biaya konseptual.
b. Tahap pengembangan rancangan : Merupakan pengembangan dari tahap
pra rancangan dan estimasi lebih terperinci.
c. Tahap desain akhir : Hasil gambar detail, spesifikasi, daftar volume, RAB,
syarat-syarat administrasi dan peraturan-peraturan umum.

3.

Tahap pengadaan/pelelangan
a. Pengadaan jasa konstruksi.
b. Pengadaan material dan peralatan.

4.

Tahap pelaksanaan
a. Merupakan hasil perancangan, dengan SPK dan kontrak.
b. Perlu manajemen proyek.

3.3

MANAJEMEN PROYEK KONSTRUKSI


Menurut Kerzner (1982) manajemen proyek adalah merencanakan,

menyusun organisasi, memimpin dan mengendalikan sumber daya perusahaan


untuk mencapai sasaran jangka pendek yang telah ditentukan. Dari pengertian
tersebut dapat kita simpulkan bahwa manajemen proyek konstruksi adalah suatu
usaha merencanakan, mengorganisasi, mengarahkan, mengkoordinasi dan
mengawasi kegiatan dalam proyek konstruksi sedemikian rupa sehingga sesuai
dengan jadwal waktu dan anggaran yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu konsep
manajemen proyek konstruksi meliputi :
a.

Proyek merupakan suatu kegiatan yang sifatnya sementara dengan tujuan dan
memanfaatkan sumber daya tertentu.

15
b.

Manajemen proyek adalah proses pencapaian tujuan proyek dalam suatu


wadah tertentu.

c.

Manajemen proyek meliputi langkah-langkah perencanaan, pelaksanaan,


pengawasan dan penyelesaian proyek.

d.

Kendala atau hambatan proyek adalah biaya, spesifikasi kerja (mutu), dan
waktu.
Beberapa alasan kenapa dalam sebuah pembangunan proyek konstruksi harus

ada manajemen proyek yang baik diantaranya sebagai berikut :


a.

Tingkat kesulitan dalam tugas-tugas yang diperintahkan meningkat.

b.

Cepatnya

c.

Biaya meningkat, umur dan nilai ekonomis alat/barang yang selalu menurun

perkembangan

teknik

baik

teori

maupun

praktik.

seiring bertambahnya umur.


d.

Resiko dan biaya proyek di masa mendatang dapat berubah diluar perkiraan.
Adapun fungsi dari manajemen proyek konstruksi itu sendiri adalah sebagai

berikut :
a.

Sebagai quality control sehingga dapat menjaga kesesuaian antara


perencanaan dan pelaksanaan.

b.

Mengantisipasi terjadinya perubahan kondisi di lapangan yang tidak pasti


serta mengatasi kendala terjadinya keterbatasan waktu pelaksanaan.

c.

Memantau prestasi dan kemajuan proyek yang telah dicapai. Hal itu
dilakukan dengan opname (laporan) harian, mingguan dan bulanan.

d.

Hasil evaluasi dapat dijadikan tindakan dalam pengambilan keputusan


terhadap masalah-masalah yang terjadi di lapangan.

e.

Fungsi manajerial dari manajemen merupakan sebuah sistem informasi yang


baik yang dapat digunakan untuk menganalisis performa dilapangan.

3.4

BIAYA PROYEK
Biaya merupakan uang yang dikeluarkan untuk (menghasilkan, mendirikan,

membuat, dsb) sesuatu. Sedangkan biaya proyek adalah sejumlah biaya atau modal
yang diperlukan untuk melakukan seluruh kegiatan dari awal pembangunan proyek
sampai selesai, dan siap untuk dioperasikan (Soeharto, 1997).

16
Perkiraan biaya merupakan unsur penting dalam pengelolaaan biaya proyek
secara keseluruhan. Perkiraan biaya memiliki fungsi yang cukup luas, yaitu
merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material, tenaga kerja,
ataupun waktu. Tahap pertama adalah tahap konseptual yang dipergunakan untuk
mengetahui berapa besar biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek
tersebut.
Meskipun hasil output biaya proyek ini mempunyai fungsi yang sama yaitu
untuk menyelesaikan proyek sesuai rencana awal, tapi maksud dan tujuannya bisa
saja berbeda tergantung dari sudut pandangnya. Misalanya saja bagi pemilik
proyek, besarnya biaya proyek yang dikeluarkan menunjukkan jumlah perkiraan
biaya yang dijadikan sebagai patokan untuk menentukan kelayakan berinvestasi.
Sedangkan bagi kontraktor, besarnya keuntungan finansial yang diperoleh
tergantung seberapa jauh ketelitian dan kecakapan seseorang (estimator) dalam
menentukan perkiraan biaya. Tapi pengertian biaya proyek ini tentu akan berbeda
lagi bagi konsultan yang menjadikan perkiraan biaya yang ditawarkan oleh
kontraktor kepada pemilik untuk dilakukan pengkajian ulang agar mendapatkan
biaya

terbaik

yang

realistis

sesuai

mutu

yang

telah

disepakati.

Biaya proyek dikelompokkan menjadi biaya langsung (direct cost) dan biaya
tidak langsung (indirect cost).
1.

Biaya Langsung (Direct Cost)


Biaya langsung adalah biaya untuk segala sesuatu yang akan menjadi
komponen permanen hasil akhir proyek yang berupa fisik proyek itu sendiri.
Biaya langsung terdiri dari :
a. Biaya material
Biaya material diperoleh dengan menerapkan harga satuan yang berlaku
pada saat itu. Harga material merupakan harga lokal di mana
proyek itu dikerjakan, karena biasanya material yang dipakai pada sebuah
proyek konstruksi merupakan material lokal agar menekan biaya
pengangkutan ke lokasi proyek.
b. Biaya tenaga kerja
Estimasi komponen tenaga kerja merupakan aspek paling sulit dari
keseluruhan analisis biaya konstruksi. Faktor yang paling sulit adalah

17
mengukur dan menetapkan tingkat produktivitas tenaga kerja. Untuk
mendapatkan nilai koefisien produktivitas tenaga kerja tidak cukup hanya
berdasarkan pada ketelitian dan kecermatan dalam mencatat pekerjaan
yang dihasilkan terhadap waktu yang dibutuhkan, akan tetapi juga
diperlukan pula pengalaman kerja dan pemahaman matang tentang
perilaku kehidupan tenaga kerja.
c. Biaya peralatan
Biaya peralatan terdiri dari pembelian atau penyewaan, mobilisasi dan
demobilisasi,

dan

pengoperasian

peralatan

sebagai

pendukung

kerja pada saat proyek konstruksi tersebut berlangsung. Biaya yang mahal
menjadikan kita harus cermat dalam memilih dan menggunakan peralatan
sesuai kebutuhan kita di lapangan. Selain itu juga perlu beberapa aspek
yang

perlu

diperhatikan

mendatangkan

alat

di

ketika
lapangan,

kita

ingin

yaitu

menggunakan

kapasitas,

atau

kemampuan,

produktivitas, umur alat dan spesifikasi teknis lainnya.


d. Biaya pembebasan lahan
e. Biaya penyiapan lahan
2.

Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost)


Biaya tidak langsung adalah biaya pengeluaran untuk manajemen, supervisi
dan jasa pengadaan bagian proyek yang tidak akan menjadi produk permanen,
tetapi

diperlukan

dalam

rangka

proses

pembangunan

proyek.

Biaya tidak langsung pada pelaksanaan proyek terdiri dari (Soeharto, 1997) :
a. Gaji tetap dan tunjangan bagi manajemen, tenaga engineering, dll.
b. Biaya

untuk

kendaraan

dan

peralatan

konstruksi

seperti

biaya

pemeliharaan, pembelian bahan bakar, minyak pelumas dan suku cadang.


c. Pembangunan fasilitas sementara, seperti kantor, barak pekeja, wc/kamar
mandi, mushola, dll.
d. Pengeluaran umum yang meliputi berbagai macam keperluan yang dapat
dimasukkan ke dalam butir lain sebagai pendukung kelancaran proyek.
e. Fee bagi pegawai dan manajemen proyek.

18
f. Overhead yang meliputi biaya operasional perusahaan terlepas dari ada
atau tidaknya kontrak yang sedang dijalani, seperti biaya pemasaran,
advertensi (iklan), telepon, komputer, printer, dll.
g. Pajak, pungutan, sumbangan, biaya izin dan asuransi.
3.

Hubungan Antara Biaya dan Waktu


Salah satu cara untuk mengetahui hubungan antara biaya dengan waktu

pelaksanaan adalah dengan menggambarkannya pada sebuah grafik. Berdasarkan


pembagian komponen biaya di atas, maka terdapat dua buah grafik, yaitu grafik
waktu-biaya langsung dan waktu-biaya tidak langsung. Selanjutnya dari kedua
buah grafik tersebut dapat digambarkan sebuah grafik yang menunjukkan antara
waktu dengan biaya total pelaksanaan suatu proyek.
Besarnya biaya langsung untuk pelaksanaan suatu proyek berdasarkan pada
jumlah tenaga kerja yang dapat bekerja secara efisien serta jumlah peralatan yang
dapat digunakan dengan produktivitas maksimum. Dengan dibuatnya jaringan
kerja, dapat ditentukan jalur kritis proyek tersebut untuk selanjutnya diperoleh
waktu pelaksanaan total proyek.
Sedangkan besarnya biaya tidak langsung pada pelaksanaan suatu proyek
bergantung pada lamanya waktu pelaksanaan proyek tersebut. Semakin lama waktu
pelaksanaan pekerjaan proyek, maka jumlah biaya tidak langsungnya pun juga
semakin besar. Penambahan biaya tidak langsung proyek biasanya ditetapkan
sebagai fungsi langsung dari pelaksanaan proyek, berupa jumlah tetap yang harus
dikeluarkan untuk setiap satuan waktu pelaksanaan.
Grafik hubungan antara waktu dengan biaya langsung merupakan garis non
linier yang menggambarkan perbandingan terbalik antara keduanya, sehingga
dengan mempersingkat waktu pelaksanaan proyek maka biaya langsung yang
dibutuhkan juga semakin membesar. Sedangkan untuk hubungan antara waktu
dengan biaya tidak langsung merupakan garis linier yang merupakan perbandingan
lurus, dimana bila kita mempercepat waktu pelaksanaan proyek maka biaya tidak
langsungnya pun akan menurun (Adianto dkk, 2006). Grafik hubungan waktu
dengan biaya langsung, biaya tidak langsung dan biaya total berturut-turut dapat
dilihat pada Gambar 3.2, Gambar 3.3 dan Gambar 3.4 berikut.

19

Gambar 3.2 Grafik Hubungan Waktu dengan Biaya Langsung


(Sumber : Soeharto, 1997)

Gambar 3.3 Grafik Hubungan Waktu dengan Biaya Tidak Langsung


(Sumber : Soeharto, 1997)

Gambar 3.4 Grafik Hubungan Waktu dengan Biaya Total


(Sumber : Soeharto, 1997)

20
3.5

PENJADWALAN PROYEK
Penjadwalan adalah pembagian waktu berdasarkan rencana pengaturan

urutan kerja atau rencana kegiatan dengan pembagian waktu pelaksanaan yang
terperinci. Penjadwalan proyek merupakan bagian yang paling penting dari sebuah
perencanaan proyek, yaitu untuk menentukan kapan sebuah proyek dilaksanakan
berdasarkan urutan tertentu dari awal sampai akhir hingga diketahui durasi yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek tersebut. Dengan adanya penjadwalan
proyek, maka kita dapat mengetahui urutan pekerjaan serta rencana pengendalian
pelaksanaan proyek secara keseluruhan.
Metode penjadwalan proyek sangat beragam, namun yang sering dipakai di
lapangan adalah diagram batang beserta kurva S (bar chart) dan jaringan kerja
(network diagram). Metode penjadwalan dibuat untuk mencapai efektifitas dan
efesiensi yang tinggi dari sumber daya yang digunakan selama masa pelaksanaan
proyek konstruksi. Komponen yang digunakan untuk perencanaan waktu
produktivitas dan biaya adalah tenaga kerja , material, dan peralatan.
Sumber daya tersebut harus direncanakan seefisien mungkin, agar diperoleh
biaya pelaksanaan yang minimum tapi kualitasnya tetap terpenuhi. Berikut ini
adalah beberapa manfaat dari penjadwalan dan perencanaan proyek :
a. Mengorganisir kegiatan-kegiatan yang terkait dalam proyek.
b. Memperkirakan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan.
c. Menentukan pembagian, waktu dan cara pelaksanaan tugas.
d. Mengalokasikan tanggung jawab pelaksana proyek.
e. Mempermudah dalam pengontrolan dan pengendalian kemajuan atau
keterlambatan proyek.
f. Mengantisipasi kondisi yang tidak diharapkan dalam perubahan rencana
yang mungkin terjadi selama proyek berlangsung.
Penjadwalan dan perencanaan proyek memiliki dua fungsi utama, yaitu :
a. Fungsi pengorganisasian (tahap permulaan)
Pada tahap awal sebelum proyek dimulai, penjadwalan dan perencanaan
proyek dibutuhkan dalam pembentukan organisasi proyek serta pembagian
tugas kerja.

21
b. Fungsi pengendalian (tahap pelaksanaan)
Pada tahap pelaksanaan ini penjadwalan dan perencanaan berperan penting
dalam pengalokasian ulang sumber daya yang dipakai, untuk mengambil
keputusan lebih lanjut ataupun mengubah keputusan yang telah dibuat bila
selama proyek berlangsung terjadi kondisi yang tidak diharapkan.
Walaupun unsur utama dalam penjadwalan dan perencanaan adalah sebuah
peramalan kondisi di masa mendatang, tentu hal ini harus diperhatikan dan
dilakukan dengan cermat dengan mempelajari pola-pola yang sudah ada atau
berdasarkan pengalaman kerja yang dapat dipertanggungjawabkan. Berikut ini
adalah beberapa hal yang harus diperhaitkan dalam membuat penjadwalan dan
perencanaan yang efektif :
a. Secara teknis dapat dipertanggungjawabkan.
b. Disusun berdasarkan perkiraan yang akurat, dimana perkiraan waktu,
sumber daya, dan biayanya berdasarkan pada proyek-proyek sebelumnya.
c. Dapat menampilkan kegiatan pokok yang kritis.
d. Fleksibel terhadap perubahan-perubahan.
e. Dapat dipakai sebagai alat pengukur hasil yang dicapai dan pengendalian
proyek.
Dalam proyek konstruksi ada tiga hal yang menjadi penentu keberhasilan
proyek, yaitu biaya , mutu dan waktu. Tapi pengalaman yang ada di lapangan
menunjukkan masih banyaknya kesalahan penjadwalan dan perencanaan yang
berakibat pada membengkaknya biaya ataupun durasi pekerjaan proyek.
Perencanaan biaya dan waktu harus berdasarkan ketersediaan sumber daya dan
material yang selanjutnya dituliskan dalam bentuk gambar, diagram, atau petunjuk
lain sehingga bisa dikomunikasikan kepada semua pihak yang terlibat dalam proyek
tersebut dan dapat berfungsi sebagai pedoman pelaksanaan dan pengendalian.
3.5.1 Diagram Batang (Bar Chart) dan Kurva S
Bar chart atau diagram batang/balok adalah diagram alur pelaksanaan
pekerjaan yang dibuat untuk menentukan waktu penyelesaian pekerjaan yang
dibutuhkan. Metode ini diperkenalkan oleh H. L. Gant pada tahun 1917.

22
Diagram batang disusun dengan tujuan mengidentifikasi unsur waktu dan urutan
dalam merencanakan suatu kegiatan yang terdiri dari waktu mulai dan berakhirnya.
Sedangkan kurva S adalah grafik yang menunjukkan kemajuan persentase
pada sebuah proyek dalam satuan waktu tertentu, baik dari sisi perencanaannya
maupun relaisasinya. Kurva S merupakan pengembangan dan penggabungan dari
diagram batang dengan Hannum Curve yang dilengkapi bobot tiap pekerjaan yang
dinyatakan dalam %. Untuk menentukan bobot tiap pekerjaan maka harus dihitung
dahulu volume dan biaya pekerjaannya sehingga didapatkan biaya total proyek.
Selanjutnya agar ukuran yang digunakan setiap pekerjaan dalam menghitung bobot
sama, maka satuan tiap pekerjaan dinyatakan dalam satuan uang. Disebut sebagai
kurva S karena kurva yang terbentuk menyerupai huruf S yang menunjukkan
kegiatan di awal dan akhir proyek berlangsung.
Pada umumnya dalam sebuah proyek konstruksi, kontraktor diharuskan untuk
menyerahkan jadwal induk rencana (master schedule) kepada owner yang
memperlihatkan tanggal rencana dimulai dan berakhirnya proyek tersebut.
Biasanya master schedule tersebut berupa perpaduan diagram batang dan kurva S
karena merupakan rencana kerja paling sederhana sehingga mudah dipahami
bahkan oleh orang umum sekalipun.
Dalam rencana kerja ini berturut-turut dari bagian paling kiri merupakan item
pekerjaan, selanjutnya adalah bobot pekerjaan yang merupakan besar persentase
antara anggaran per item pekerjaan terhadap anggaran total proyek, dan terakhir
pada bagian paling kanan adalah balok-balok horisontal yang menunjukkan awal,
akhir dan durasi pekerjaan. Sedangkan pada bagian bawah terdapat persentase
rencana dan juga persentase realisasi untuk tiap satuan waktu dan persentase
kumulatif dari rencana tersebut. Kurva realisasi merupakan hasil nyata di lapangan
yang berfungsi sebagai pembanding terhadap kurva rencana dimana jika hasil
realisasi berada diatas kurva rencana maka proyek mengalami prestasi, sedangkan
bila berada dibawah kurva rencana berarti proyek mengalami keterlambatan. Kurva
S ini sangat efektif untuk mengevaluasi dan mengendalikan waktu dan biaya proyek
karena dapat menampilkan secara visual adanya penyimpangan yang mungkin
terjadi sehingga selalu dipakai dalam di lapangan.

23
Kelebihan dari teknik penjadwalan ini adalah mudah dibuat dan dipahami tapi
tetap efektif untuk pengontrolan dan pengendalian terhadap pelaksanaan yang ada
ataupun yang mengalami penyimpangan. Adapun kekurangannya adalah sebagai
berikut :
a. Tidak dapat menunjukkan hubungan ketergatungan antar pekerjaan secara
spesifik, sehingga sulit untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari
keterlambatan atau penyimpangan terhadap jadwal keseluruhan proyek.
b. Sulit untuk dilakukan pembaharuan (updating) karena umumnya harus
membuat bagan baru.
c. Untuk proyek-proyek besar dan kompleks penggunaan teknik ini akan
megalami kesulitan dalam penyusunan dan penyajian data secara
sistematis.
Berikut ini adalah contoh dari teknik penjadwalan barchart dan kurva S dapat
dilihat pada Gambar 3.5 :

Gambar 3.5 Time Schedule dengan Metode Bar Chart dan Kurva S
(Sumber : harispradipta.blogspot.com)

24
3.5.2 Diagram Jaringan Kerja (Network Diagram)
Diagram jaringan kerja (network diagram) adalah suatu rencana kerja yang
disusun berdasarkan urutan-urutan kegiatan dari semua kegiatan sehingga
keterkaitan antar pekerjaan satu dengan yang lainnya bisa terlihat dengan jelas.
Metode penjadwalan ini sering digunakan pada proyek-proyek besar dengan
kompleksitas yang tinggi sehingga tidak cukup hanya dilakukan penjadwalan
dengan metode bar chart dan kurva S. Metode network diagram merupakan
penyempurnaan dari metode bar chart karena mempunyai kelebihan dapat
mengetahui hubungan antar pekerjaan, pekerjaan kritis dan mampu membuat
perkiraan jadwal yang paling ekonomis. Ada beberapa macam network diagram
yang sering dipakai dalam penjadwalan dan perencanaan proyek konstruksi yaitu :
1.

CPM (Critical Path Method)


CPM adalah teknik penjadwalan yang terdiri dari lintasan kritis dan lintasan

non kritis pada rangkaian item pekerjaannya. Jalur/lintasan kritis merupakan jalur
yang terdiri dari kegiatan-kegiatan yang apabila terlambat maka akan
mengakibatkan keterlambatan penyelesaian proyek secara keseluruhan.
Berikut ini adalah beberapa aturan dalam penyusunan CPM :
a. Sebelum aktifitas dimulai maka seluruh aktifitas pendahulunya harus
sudah selesai.
b. Anak panah berfungsi untuk menyatakan hubungan ketergantungan antar
aktifitas.
c. Anak panah/arrow () menyatakan sebuah kegiatan/aktifitas dengan
durasi pekerjaan tertentu. Hal ini karena CPM termasuk dalam klasifikasi
AOA (Activity On Arrow).
d. Lingkaran/node (O) menyatakan suatu kejadian/peristiwa/event.
e. Anak panah putus-putus (--->) menyatakan kegiatan semu/dummy yaitu
kegiatan yang tidak mempunyai durasi dan tidak membutuhkan sumber
daya.

25
Arah perhitungan dalam CPM ada 2 yaitu :
a. Perhitungan Maju (EET/Earliest Event Time)
Perhitungan paling dini dari terjadinya setiap aktifitas pada lintasan proyek
sehingga menunjukkan seberapa cepat aktifitas tersebut dapat dimulai.
b. Perhitungan Mundur (LET/Latest Event Time)
Perhitungan waktu paling lambat dari setiap aktifitas tanpa mempengaruhi
waktu proyek secara keseluruhan.
Gambar 3.6 dibawah ini menjelaskan contoh perhitungan pada metode CPM.
Keterangan:

= Nomor peristiwa

EET = Waktu kegiatan paling awal


LET = Waktu kegiatan paling akhir

5
50

0
B=5

A = Kegiatan
B = Durasi

Gambar 3.6 Perhitungan Durasi pada Metode CPM


(Sumber : Prabowo, 2013)
2.

PERT (Programme Evaluation and Review Technique)


Tujuan PERT menurut (Heizer & Render, 2005) adalah untuk membagi seluruh

proyek ke dalam kejadian dan aktifitas. Suatu kejadian menandai mulai atau
selesainya tugas atau aktifitas tertentu. Sama dengan metode CPM, PERT juga
termasuk klasifikasi AOA (Activity On Arrow). Pada awalnya metode ini dibuat
untuk mengevaluasi rencana-rencana dan jadwal yang dibuat, tetapi dalam
perkembangannya tidak hanya terbatas pada hal tersebut, karena PERT juga dapat
digunakan sebagai metode penjadwalan dan perencanaan baru.
Metode ini menawarkan beberapa cara dalam menentukan estimasi waktu
penyelesaian proyek yang kadang sering mengalami ketidakpastian karena faktorfaktor tertentu. Adapun estimasi waktu yang ditawarkan tersebut adalah sebagai
berikut :

26
a. Waktu optimis/Optimistic time (a)
Adalah waktu tersingkat untuk menyelesaikan kegiatan bila sesuatunya
berjalan mulus sesuai rencana. Waktu ini diperkirakan hanya terjadi satu
kali dalam seratus kali kegiatan yang sama/berulang-ulang.
b. Waktu pesimis/Pessimistic time (b)
Adalah waktu paling lama untuk menyelesaikan kegiatan bila sesuatunya
berjalan tidak sesuai rencana. Waktu ini juga diperkirakan hanya terjadi
satu kali dalam seratus kali kegiatan yang sama/berulang-ulang.
c. Waktu paling mungkin/Most likely time (m)
Adalah waktu yang paling sering terjadi dibandingkan dengan yang lain
bila kegiatan dilakukan berulang-ulang dengan kondisi yang hampir sama.
Setelah menentukan angka-angka tersebut langkah selanjutnya adalah
merumuskan hubungan ketiga angka tersebut menjadi satu angka yang disebut te
atau kurun waktu yang paling diharapkan (expected duration time) menjadi sebuah
persamaan.
Te =

a + 4m + b

(3.1)

Keterangan : Te

= Waktu yang diharapkan

= Waktu optimis

= Waktu pesimis

= Durasi paling mungkin

Dalam menentukan nilai te dipakai asumsi kemungkinan terjadinya waktu optimis


dan waktu pesimis adalah sama besar, sedangkan waktu paling sering adalah empat
kali lebih besar dari keduanya.
3.

PDM (Precedence Diagram Method)


PDM merupakan jaringan kerja dengan klasifikasi AON (Activity On Node)

dimana kegiatan dituliskan dalam node yang biasanya berbentuk segi empat, dan
anak panah berfungsi sebagai petunjuk dari kegiatan-kegiatan yang bersangkutan.
Dengan demikian kegiatan dummy yang merupakan tanda penting untuk
menunjukkan hubungan ketergantungan antar kegiatan dalam metode CPM dan

27
PERT, di metode PDM ini tidak berlaku.
Aturan dasar pada klasifikasi AOA adalah bahwa kegiatan boleh dimulai ketika
kegiatan pendahulunya (predecessor) selesai, maka untuk proyek dengan kegiatan
yang saling tumpang tindih dan berulang-ulang akan memerlukan garis dummy
yang banyak sekali sehingga tidak praktis dan kompleks.
Kegiatan peristiwa pada PDM dituliskan dalam node yang berbentuk kotak,
sehingga harus dicantumkan nama aktifitas dan durasinya dimana setiap node
mempunyai dua peristiwa yaitu peristiwa awal dan akhir. Ruangan dalam node
dibagi menjadi bagian kecil yang berisi keterangan dari kegiatan tersebut, yaitu
kurun waktu (D), float, identitas kegiatan, mulai dan selesainya kegiatan ES
(Earliest Start), EF (Earliest Finish), LS (Latest Start), LF (Latest Finish)
sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 3.7.

Gambar 3.7 Pembagian Ruangan pada Node PDM


(Sumber : Prabowo, 2013)
Pada metode PDM ini dikenal ada empat macam pembatasan (constrain) yang
menunjukkan hubungan antar kegiatan. Selain itu pada garis konstrain juga perlu
diberikan penjelasan mengenai waktu mendahului (lead), waktu tundaan (lag) dan
waktu tenggang/keterlambatan yang diperbolehkan (float). Berikut ini adalah
keempat konstrain dalam PDM tersebut :
a. Finish to Start (FS)
Adalah hubungan yang menunjukkan bahwa mulainya aktifitas berikutnya
tergantung pada selesainya aktifitas sebelumnya.
b. Start to Start (SS)
Adalah hubungan yang menunjukkan bahwa mulainya aktifitas berikutnya
tergantung pada mulainya aktifitas sebelumnya.

28
c. Finish to Finish (FF)
Adalah hubungan yang menunjukkan bahwa selesainya aktifitas
berikutnya tergantung pada selesainya aktifitas sebelumnya.
d. Start to Finish (SF)
Adalah hubungan yang menunjukkan bahwa selesainya aktifitas
berikutnya tergantung pada mulainya aktifitas sebelumnya.
Dengan adanya parameter yang bertambah banyak, maka perhitungan untuk
mengidentifikasi kegiatan atau jalur kritis akan menjadi kompleks sehingga harus
lebih cermat dalam menghitungnya. Seperti halnya pada metode CPM, PDM juga
mempunyai dua cara perhitungan yaitu :
a. Perhitungan maju ke muka (Forward pass computation)
Adalah perhitungan untuk mendapatkan waktu mulai dan selesai tercepat
(ES dan EF). Apabila terdapat lebih dari satu kegiatan yang bergabung
maka diambil nilai ES/EF terbesar dengan anggapan bahwa waktu awal
adalah 0.
- Hubungan FS
EFi = ESi +Di

(3.2)

ESj = EFi + FSij

(3.3)

ESj = Di + FSij

(3.4)

EFj = ESj +Dj

(3.5)

Gambar 3.8 Konstrain Finish to Start


(Sumber : Prabowo, 2013)
- Hubungan SS
ESj = ESi + SSij

(3.6)

EFj = ESj + Dj

(3.7)

29

Gambar 3.9 Konstrain Start to Start


(Sumber : Prabowo, 2013)
- Hubungan SF
EFj = ESi + SFij

(3.8)

ESj = EFj Dj

(3.9)

Gambar 3.10 Konstrain Start to Finish


(Sumber : Prabowo, 2013)
- Hubungan FF
EFj = EFi + FFij

(3.10)

ESj = EFj Dj

(3.11)

Gambar 3.11 Konstrain Finish to Finish


(Sumber : Prabowo, 2013)
b. Perhitungan mundur ke belakang (Backward pass computation)
Adalah perhitungan untuk mendapatkan waktu mulai dan selesai paling
lambat (LS, LF dan float). Apabila terdapat lebih dari satu kegiatan yang
bergabung maka diambil nilai LS/LF terkecil.
- Hubungan FS
LFi = LSj FSij

(3.12)

LSi = LFi Di

(3.13)

30

- Hubungan SS
LSi = LSj - SSij

(3.14)

LFi = LSi + Di

(3.15)

- Hubungan SF
LFi = LFj - FFij

(3.16)

LSi = LFi Di

(3.17)

- Hubungan FF
LSi = LFj - SFij

(3.18)

LFi = LSi + Di

(3.19)

Selanjutnya hubungan di antara empat konstrain tersebut dipilih nilai yang terbesar:
a. Perhitungan maju ke muka
Contoh : mencari ESj
ESj = ESi + SSij atau
ESi + SFij atau
EFi + FSij atau

ESj dipilih nilai terbesar

EFi + FFij Dj
b. Perhitungan maju ke muka
Contoh : mencari LSi
LSi = LSj - SSij atau
LSj FSij - Di atau
LFj FFij - Di atau

LSi dipilih nilai terkecil

LFj - SFij
Sedangkan float yang dipakai pada metode PDM ada 2 macam yaitu :
a. Total Float (TF)
Adalah tenggang total atau keterlambatan yang diperkenankan untuk
aktifitas tanpa mengakibatkan keterlambatan pada penyelesaian proyek.
Contoh : TFi = ( LFi ESi Di ) / ( LSi ESi )
b. Free Float (FF)
Adalah keterlambatan yang diperkenankan untuk suatu aktifitas tanpa

31
mengakibatkan keterlambatan untuk memulai aktifitas selanjutnya.
Contoh : FFi = ESj EFi FSij
3.6

PENGENDALIAN PROYEK
Pengendalian proyek adalah suatu usaha sistematis dalam memantau,

mengkaji, dan mengadakan koreksi terhadap adanya kemungkinan penyimpangan


pelaksanaan untuk kembali sesuai standar perencanaan.
Dalam rangka pengendalian dan pengawasan di lapangan atau sering juga
disebut monitoring, diperlukan suatu media atau alat yang mampu merangkum
informasi-informasi secara tepat dan cepat. Beberapa media yang bisa dipakai
adalah kurva S, diagram jaringan kerja, spesifikasi teknis, gambar, dll. Media
komunikasi tersebut bermanfaat untuk memastikan kemajuan proyek, masalah
yang terjadi, serta keputusan dan tindakan yang perlu diambil.
Pengendalian proyek dapat dikelompokkan menjadi tiga komponen yaitu :
1.

Pengendalian Mutu
Pengendalian ini berfungsi dalam mengendalikan jalannya pelaksanaan
proyek agar dapat mencapai mutu sesuai syarat yang tertera dalam kontrak
kerja. Beberapa alat yang bisa dijadikan sebagai pengendali mutu adalah :
a. Spesifikasi teknis (pabrikan; RKS).
b. Metode palaksanaan (pabrikan; RKS).
c. Gambar kerja.
d. Hasil tes bahan dari laboratorium.
e. Peraturan pemerintah.
f. Peraturan dalam RKS.

2.

Pengendalian Waktu
Pengendalian waktu ini merupakan suatu proses pengendalian terhadap
kegiatan yang saling berkaitan yang menuju sasaran tertentu dengan waktu
yang terbatas. Hal utama yang harus diperhatikan adalah bahwa kita harus
benar-benar mengetahui urutan tiap pekerjaan agar proyek tersebut bisa
terlaksana sesuai rancangan awal. Pada umumnya alat yang digunakan dalam
pengendalian waktu adalah time schedule beserta kurva S atau diagram

32
jaringan kerja (CPM, PDM atau PERT). Dengan adanya pengendalian waktu
ini maka dapat diketahui hal-hal sebagai berikut :
a. Setiap saat dapat diketahui kegiatan-kegiatan apa saja yang harus
dilaksanakan, berapa dana yang harus disediakan, berapa jumlah tenaga
kerja serta jenis keahliannya, jenis-jenis mesin dan peralatan yang
dibutuhkan.
b. Apakah dapat dilakukan perataan penggunaan tenaga kerja, peralatan dan
biaya.
c. Kegiatan apa saja yang harus diawasi secara intensif agar proyek dapat
selesai tepat waktu.
d. Kegiatan apa saja yang harus dipercepat, ketika proyek ingin diselesaikan
lebih cepat dari rencana awal dan berapa besar biaya yang dibutuhkan,
demikian pula kalau proyek ingin diperpanjang waktunya.
e. Dapat mengetahui waktu yang diizinkan pada suatu kegiatan tertentu
untuk terlambat atau tertunda tanpa memperlambat selesainya proyek
secara keseluruhan.
3.

Pengendalian Biaya
Pengendalian biaya dimaksudkan dalam mengontrol agar biaya proyek tidak
melebihi dari anggaran yang sudah direncanakan. Hal-hal yang harus
diperhatikan adalah sebagai berikut :
a. Mengetahui jenis kontrak yang akan dilaksanakan (lumpsum/unit price).
b. Mengetahui batasan persentase pekerjaan tambahan yang diizinkan sesuai
yang tercantum dalam kontrak (misal 10% dari nilai kontrak).
c. Mengetahui cara perhitungan pembobotan masing-masing item pekerjaan.
d. Mengetahui cara mengukur/menghitung volume pekerjaan yang telah
dilaksanakan di lapangan dibandingkan dengan biaya pelaksanaan yang
telah dikeluarkan (misal melalui kurva S).
e. Cash flow proyek (laporan keuangan yang menggambarkan arus kas
masuk dan keluar selama proyek berjalan).

33
3.7

PERCEPATAN DURASI PROYEK


Ada kalanya dalam sebuah proyek dibutuhkan langkah untuk mempercepat

durasi pelaksanaan kegiatan untuk mencapai prestasi yang diharapkan, baik


digunakan untuk mengejar keterlambatan prestasi kerja ataupun sengaja ingin
membuat durasi pekerjaan selesai lebih awal dari rencana yang sudah ada.
Prabowo (2013) mengatakan bahwa dalam suatu pelaksanaan proyek,
kontraktor dapat memutuskan untuk melakukan percepatan waktu apabila memiliki
alasan alasan khusus antara lain :
a).

Pelaksanaan proyek sudah tidak sesuai dengan jadwal perencanaan semula,


sehingga dilakukan percepatan waktu untuk menghindari denda.

b).

Adanya permintaan dari pemilik proyek untuk menyelesaikan proyek tersebut


sebelum jadwal perencanaan semula agar investasi untuk proyek tersebut
dapat segera kembali.

c).

Kontraktor juga menangani proyek lain, sedangkan sumber daya yang


tersedia (tenaga kerja dan peralatan) terbatas, sehingga kontraktor harus
memikirkan

kemungkinan untuk mempercepat proyek yang sedang

berjalan tersebut dibandingkan dengan menyediakan sumber daya untuk


proyek yang lalu.
Langkah pertama yang dapat dilakukan untuk mempersingkat waktu
pelaksanaan proyek adalah dengan menyempurnakan hubungan atau logika
ketergantungan antara satu kegiatan dengan kegiatan yang lainnya. Apabila langkah
ini belum berhasil, maka biasanya langkah yang diambil adalah dengan
mempercepat waktu kegiatan-kegiatan yang bersifat kritis. Ada beberapa alternatif
yang dapat digunakan dalam mempercepat durasi proyek seperti menambah tenaga
kerja, mengadakan lembur, menambah/mengganti alat bantu yang lebih produktif,
atau juga dengan mengganti metode pelaksanaan yang ada.
Langkah alternatif apapun yang diambil untuk melakukan percepatan akan
mengakibatkan perubahan biaya, baik biaya total, biaya langsung dan juga biaya
tidak langsung dari proyek itu sendiri. Perubahan biaya yang terjadi bervariasi, bisa
saja mengalami kenaikan biaya, bisa saja biayanya tetap tanpa ada perubahan, atau
bahkan biaya mengalami penurunan setelah dilakukan percepatan.

34
Pada penelitian ini penulis mengambil alternatif percepatan dengan
mengadakan kerja lembur untuk mencapai durasi percepatan yang diinginkan.
Salah satu alasannya adalah sudah tidak memungkinkannya area kerja untuk
ditambahkan tenaga baru untuk mengejar prestasi yang diharapkan.
Kerja lembur ini sebenarnya mempunyai beberapa kelemahan, diantaranya
adalah menurunnya produktivitas kerja yang disebabkan faktor kelelahan,
kurangnya

pencahayaan,

menurunnya

konsentrasi

dan

penglihatan,

dll

sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3.12. Meskipun terdapat beberapa


kekurangan tersebut, pada kenyataannya alternatif ini sering dipilih karena cukup
representatif untuk mencapai prestasi kerja yang diinginkan.
Perhitungan durasi percepatan (lembur) dapat ditentukan dengan mengikuti
persamaan atau fungsi berikut ini :
Dc =


+(0 )

(3.20)

keterangan :
Dc

= Durasi crash

Dn

= Durasi normal

= Jam kerja normal per-hari

ho

= Jam kerja lembur per-hari

= Efektifitas lembur; dengan ketentuan jika ho adalah 1 jam, 2 jam, 3 jam,


4 jam maka nilai e berturut-turut adalah 0.9; 0.8; 0.7; 0.6

Gambar 3.12 Indikasi Menurunnya Produktivitas karena Kerja Lembur


(Sumber : Soeharto, 1997)

35
Sedangkan untuk penentuan upah kerja lembur menyesuaikan Kepmenakertrans
no.102/MEN/VI/2004 sebagai berikut :
a. Untuk jam kerja lembur pertama harus dibayar upah sebesar 1,5 (satu setengah)
kali upah sejam;
b. Untuk setiap jam kerja lembur berikutnya harus dibayar upah sebesar 2 (dua)
kali upah sejam.
Sehingga dari uraian tersebut dapat disimpulkan rumus sebagai berikut :
Biaya lembur Per-Hari = (jam kerja lembur pertama x 1,5 x upah satu jam normal)
+ (jam kerja lembur berikutnya x 2 x upah satu jam normal)

(3.21)

Analisis dan perhitungan yang digunakan untuk mengetahui perubahan durasi


terhadap biaya proyek dalam penelitian ini adalah dengan metode time-cost trade
off. Metode ini biasa digunakan untuk menganalisis seberapa jauh jadwal atau
durasi pekerjaan dapat dipercepat secara ekonomis. Percepatan hanya dilakukan
pada kegiatan-kegiatan kritis yang masih memungkinkan untuk dilakukan
percepatan sehingga menghasilkan durasi baru yang lebih singkat. Hal ini
dikarenakan durasi pekerjaan normal yang pendek tidak akan menghasilkan
perubahan durasi yang signifikan walaupun sudah dilakukan percepatan, sehingga
kalau tetap diaplikasikan maka justru kenaikan biaya langsung akan lebih besar
dibandingkan biaya tidak langsungnya.
Konsep yang digunakan dalam metode ini adalah dengan menentukan biaya
dan waktu proyek pada kondisi optimum dengan melakukan percepatan pada
kegiatan-kegiatan kritis yang masih memungkinkan. Metode ini bertujuan untuk
mempersingkat waktu penyelesaian proyek sehingga didapatkan jadwal proyek
yang optimal yaitu jadwal dengan durasi dan biaya total proyek minimum.
Adianto dkk. (2006) menguraikan bahwa untuk membuat perencanaan atau
percepatan waktu dan biaya pelaksanaan suatu proyek perlu dilakukan langkah
langkah sistematis seperti mempelajari spesifikasi pekerjaan, menguraikan
pekerjaan, mempelajari hubungan antar kegiatan, membuat jaringan kerja,
membuat analisis waktu dan biaya tiap pekerjaan, membuat tabel biaya waktu dan

36
biaya pelaksanaan, melakukan proses optimasi waktu dan biaya, dan yang terakhir
baru dapat diketahui waktu dan biaya optimum proyek.
Spesifikasi pekerjaan dapat diperoleh dari data-data awal dalam sebuah
pelaksanaan suatu proyek. Data-data tersebut dapat berupa jangka waktu
pelaksanaan, metode pelaksanaan yang akan dipakai, dan lain sebagainya yang
digunakan sebagai acuan dalam membuat perencanaan waktu dan biaya
pelaksanaan proyek tersebut.
Selanjutnya adalah menguraikan pekerjaan menjadi sejumlah kegiatan yang
relevan untuk dianalisis dan menentukan hubungan ketergantungan antar kegiatan.
Pada tahap ini ditentukan hubungan masing-masing kegiatan/pekerjaan. Biasanya
hubungan yang sering dipakai adalah hubungan yang bersifat seri, atau secara
logika kegiatan tersebut hanya dapat dilakukan apabila kegiatan sebelumnya selesai
dikerjakan.
Selanjutnya adalah membuat diagram kerja untuk kegiatan tersebut, dimana
hasil dari langkah-langkah sebelumnya berupa kegiatan-kegiatan yang harus
dilakukan beserta logika ketergantungannya. Setelah diagram selesai dibuat, maka
dapat dilihat model waktu pelaksanaan untuk masing-masing kegiatan.
Selanjutnya adalah membuat analisis waktu dan biaya (biaya langsung dan
biaya tidak langsung) untuk masing-masing kegiatan. Setelah analisis tersebut
selesai maka langkah berikutnya adalah menysusun waktu dan biaya hasil dalam
sebuah tabel. Dari hasil tabulasi tersebut proses optimasi waktu dan biaya dapat
dilakukan. Hasil dari optimasi ini adalah biaya total terendah untuk tiap-tiap waktu
pelaksanaan proyek yang dilakukan.
Berikut ini adalah definisi yang dipakai dalam proses perhitungan
akselerasi/percepatan durasi proyek ditunjukkan pada Persamaan 3.22 dan Gambar
3.13 :
a. Normal Duration (Dn) : durasi yang diperluakan untuk melakukan kegiatan
dalam keadaan normal.
b. Normal Cost (Cn) : biaya langsung yang diperlukan untuk menyelesaikan
kegiatan dengan durasi normal.

37
c. Crash Duration (Dc) : waktu tercepat untuk menyelesaikan suatu kegiatan
dalam proyek dengan melihat teknis yang ada.
d. Crash Cost (Cc) : biaya langsung yang diperlukan untuk menyelesaikan
kegiatan dengan durasi tercepat.
e. Cost Slope (Ri) : biaya langsung per-satuan waktu yang diperlukan untuk
mempercepat waktu pelaksanaan.
Sehingga dapat dituliskan dalam persamaan sebagai berikut :

Ri =

(3.22)

Gambar 3.13 Hubungan Waktu-Biaya Normal dan Biaya dipersingkat


(Sumber : Soeharto, 1997)
Sedangkan titik optimum untuk biaya dan durasi pelaksanaan proyek dapat dilihat
pada grafik dibawah ini :

Biaya Optimum

Durasi/waktu Optimum

Gambar 3.14 Hubungan Biaya dan Pelaksanaan Proyek


(Sumber : Adianto, 2006)