Anda di halaman 1dari 13

ASMA BRONKIAL

Disusun oleh :
Kelompok 3

PENGERTIAN
Definisi asma yang saat ini banyak dipakai di
indonesia yaitu Asma adalah penyakit paru dengan
karakteristik :
Obtruksi saluran nafas yang bersifat reversible baik
secara
spontan maunpun secara farmakologis.
Inflamasi saluran pernafasan bersifat kronis
peningkatan respon saluran nafas terhadap
berbagai
rangsangan.

EPIDEMIOLOGI
Insiden

terjadinya asma dipengaruhi oleh berbagai faktor,


antara lain : jenis kelamin, umur pasien, status atopi,
faktor keturunan, serta faktor lingkungan. Pada negara
maju seperti Amerika dan Inggris insiden terjadinya asma
adalah 5 % dari populasi, ini merupakan jumlah yang
cukup banyak.

Perbandingan

antara anak perempuan dan anak laki-laki


1,5 : 1, tetapi menjelang dewasa perbandingan ini sama
dan pada fase menopause perbandingan antara perempuan
dan laki-laki relatif tidak jauh berbeda saat anak.
Prevalensi terjadinya asma lebih banyak pada anak kecil
dari pada orang dewasa.

PATOGENESIS
Patogenesis dan etiologi dari asma masih
belum banyak diketahui dengan pasti
tetapi beberapa literatur mencoba
menawarkan hipotesis yang mungkin
dapat menjelaskan terjadinya asma.
Dasar hipotesis yang berkembang saat ini
adalah mekanisme inflamasi dan
mekanisme respon saluran pernafasan
yang berlebihan.

PATOFISIOLOGI
Obstruksi saluran nafas pada asma merupakan kombinasi
dari spasme otot bronkus, sumbat mukosa, edema dan
inflamasi dinding bronkus. Obstruksi bertambah berat
selama periode ekspirasi karena secara fisiologis saluran
nafas pada fase tersebut. Sehingga udara pada distal
terperangkap dan tak dapat di ekspirasikan, kemudian
terjadi peningkatan volume residu, kapasaitas residu
fungsional dan penderita akan bernafas dengan volume
yang tinggi mendekati kapasitas paru total. Keadaan ini
kita sebut dengan hiperinflasi yang bertujuan agar saluran
nafas tetap terbuka dan pertukaran gas dapat terjadi,
hiperinflasi memerlukan bantuan otot bantu pernafasan.

KLASIFIKASI
Asma

mempunyai karakteristik yang berbeda antara satu


dan yang lain. Karakteristik ini tergantung pada etiologi dari
asma itu sendiri. Dahulu asma dibagi dalam 2 hal besar
yaitu asma alergenik atau asma intrinsik dan asma non
alergenik atau non alergi. Asma yang bersifat alergenik
pada umumnya dijumpai pada anak-anak mekanisme yang
menjelaskan adalah reaksi immunologi berupa
hipersensitivitas terhadap alergen, sedangkan non alergenik
umumnya terjadi pada orang dewasa. Saat ini kedua
klasifikasi tidak lagi dipakai karena pada beberapa pasien
dapat datang berobat dengan ke-2 jenis asma sehingga
perlu ada klasifikasi yang lebih spesific untuk menjelaskan
tentang asma.

Kesepakatan para ahli membagi kedalam 6 kategori


berdasarkan etiologi dari asma itu sendiri yaitu :
Asma ekstrinsik atopic
Asma ekstrinsik non atopik
Asma kriptogenik
Asma karena kegiatan jasmani
Asma yang berkaitan dengan penyakit bronko pulmonary
dan lain lain.
Sedangkan berdasarkan tingkat kegawatan asma terbagi
dalam :
Asma ringan
Asma sedang
Asma berat
Asma pada kehamilan

GEJALA KLINIK
Gambaran asma secara klasik adalah episodik batuk,
mengi dan sesak nafas. Pada periode awal gejala
sering tidak jelas seperti rasa berat di dada, dan pada
asma tipe alergenik sering disertai bersin-bersin dan
pilek. Walaupun awalnya batuk tanpa sekret dalam
perjalanannya terjadi sekret yang berwarna mukoid
sampai dengan purulen. Pada sebagian penderita
gejala klinis hanya batuk tanpa disertai mengi atau
dikenal dengan cough variant asthma bila hal ini
muncul maka konfirmasi dengan pemeriksaan
spirometri dan lakukan bronkodilator tes atau uji
provokasi bronkus dengan metakolin.

pada setiap waktu tergantung pada ada tidaknya faktor pencetus.


Faktor pencetus pada asma antara lain :
Infeksi virus pada saluran pernafasan atas.
Paparan alergen tertentu
Paparan terhadap bahan iritan seperti asap rokok, dan minyak
wangi.
Kegiatan jasmani seperti lari yang melelahkan
Emosional
Obat-obatan tertentu seperti aspirin, beta bloker, dan anti inlamasi
non steroid
Lingkungan kerja
Polusi udara
Pengawet makanan seperti sulfit.
Lainnya seperti kehamilan dan sinusitis.
Hal yang membedakan antara asma dan penyakit paru lainnya
adalah pada saat serangan asma dapat hilang dengan ataupun
tanpa obat-obatan.

PEMERIKSAAN FISIK
Perhatian pertama adalah pada keadaan
umum pasien, pasien dengan kondisi yang
sangat berat akan duduk tegak. Selain itu
pada pemeriksaan fisik didapatkan ;
penggunaan otot-otot bantu pernafasan
Frekuensi nafas > 30 kali per menit
Takikardia > 120 x/menit
Pulsus Parokdoksus >12 mmHg
wheezing ekspiratoar

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Spirometri

Cara yang sederhana adalah uji bronkodilator nebulizer


golongan adrenerjek beta. Uji ini dilakukan menggunakan
spirometri sebelum dan sesudah penggunaan
bronkhodilator, bila didapatkan peningkatan VEP1 atau
KVP lebih dari 20% maka didiagnosis sebagai asma,
tetapi bila tidak memenuhi kriteria ini diagnosis asma
belum tentu gugur memerlukan tes konfirmasi yang lain.
Pemeriksaan menggunakan spirometri selain
menegakkan diagnosis juga dapat menilai derajat
obstruksi yang ada dan efek pengobatan yang telah
dilakukan.

Uji

provokasi bronkhus
Tes ini jarang dilakukan di indonesia. Tes ini untuk
memprovokasi bronkus agar efek asma bisa dibaca, tes ini
menggunakan histamin, metakolin, kegiatan jasmani, udara
dingin, larutan garam hipertonik. Bila terjadi penurunan VEP1
sebesar 20% maka dianggap bermakna. Uji jasmani dilakukan
dengan meminta penderita berlari cepat selama 6 menit
sehingga mencapai denyut jantung 80 sd 90 % kemudian
dievaluasi. Jika terjadi penurunan arus puncak ekspirasi minimal
10% maka dapat dinyatakan positip.
Pemeriksaan sputum
Sputum eosinofil merupakan ciri dari asma, menggunakan kristal
Charcot-leyden, dan spiral Curschmann.

TERIMA KASIH