Anda di halaman 1dari 13

METODE PEMBELAJARAN PADA PROGRAM PENDIDIKAN NERS

Kurikulum Perguruan Tinggi


Berdasarkan kompetensi
Mengandung tujuan belajar yang relevan dan secara Hirarki (berjenjang) meliputi
domain: Kognitif, Afektif, dan Psikomotor
Dilaksanakan dengan metoda spesifik (Andragogy)
Kepmendiknas No. 232/U/2000
(Pedoman penyusunan kurikulum pendidikan tinggi dan penilaian hasil belajar mahasiswa)
PS. 5 Beban dan Masa Studi
Ayat 1. Beban studi sarjana 144 SKS - 160 SKS
dengan lama studi 8 14 semester
PS. 7 Kurikulum Inti dan Institusi
Ayat 1,2,3,4
PS. 8
Ayat 1. Kurikulum Inti program sarjana terdiri atas
Kelompok MPK, MKK, MKB, MPB, MBB
Ayat 2. Kurikulum Inti program sarjana berkisar
antara 40% - 80% dari jumlah SKS program Sarjana
Kompetensi
Tingkat Kemampuan (menurut Millers Pyramid):

1.

Mengetahui dan Menjelaskan


[pengetahuan teoritis mengenai ketrampilan ini (baik konsep, teori, prinsip maupun

indikasi, cara melakukan, komplikasi, dan sebagainya].


2.

Pernah Melihat atau pernah mendemonstrasikan

[memiliki pengetahuan teoritis mengenai ketrampilan dan pernah melihat demonstrasinya).


3.

Pernah melakukan atau pernah menerapkan di bawah supervisi


[memiliki pengetahuan teoritis mengenai ketrampilan dan pernah menerapkan
ketrampilan ini beberapa kali di bawah supervisi).

4.

Mampu melakukan secara mandiri


[memiliki pengetahuan teoritis mengenai ketrampilan ini dan memiliki
pengalaman untuk menggunakan dan menerapkan ketrampilan ini secara mandiri).

Jenis-jenis pembelajaran dalam SCL


1. Co-operative learning
2. Collaborative learning
3. Competitive learning
4. Small group discussion
5. Peer teaching
6. Interactive instructional technology
7. Autonomous learning
8. Project based learning
9. Case based learning

10 . Problem based learning

Small Group Discussion


Mahasiswa bertukar informasi dan pendapat
Mahasiswa menjadi aktif, suport, mengekspresikan dan memodifikasi asumsi, konklusi
dan opini nya
SGD sangat membantu mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis,
komunikasi, berinteraksi dan ketrampilan sosial
Dibentuk kelompok kecil
Dosen memantau dan menstimulasi bilamana diperlukan
Mengarahkan kalau diskusi melenceng
Melihat group progress , jangan sampai ada yang mendominasi
Meminta setiap kelompok membuat summary hasil diskusi

Peer Teaching and Learning


a. Dosen menjadi tutor bila dibutuhkan
b. Menugaskan mahasiswa untuk menjadi tutor bagi mahasiswa lainnya
c. Mahasiswa belajar bersama dan saling mengajar
d. Dosen bekerja bersama mahasiswa dan kemudian melimpahkan tugas kepada mahasiswa
e. Reciprocal teaching
f. Dosen menjadi tutor bila dibutuhkan

g. Menugaskan mahasiswa untuk menjadi tutor bagi mahasiswa lainnya


h. Mahasiswa belajar bersama dan saling mengajar
Interactive instructional technology
Computer assisted instruction :

Instruction delivered by a computer including tutorial, simulation,


practice

Assess a learners level of knowledge

Provide remediation

Supports the development of higher- level thinking

Cooperative Learning
1. Students learning from and with each other
2. Mahasiswa belajar bersama untuk mencapai suatu tujuan belajar tertentu
3. Dosen share authority dengan mahasiswa
4. Mahasiswa bertanggung jawab terhadap pembalajarannya
5. Hubungan dosen- mahasiswa : collaborator
6. Kelas di bagi menjadi kelompok kecil
7. Kelompok melakukan kompetisi dengan kelompok yang lain
8. Anggota kelompok berganti setiap pertemuan

drill and

9. Komposisi kelompok : dengan level kemampuan yang berbeda

KEMAMPUAN YANG DIPEROLEH MAHASISWA

No

MODEL
BELAJAR
Small Group
Discussion

YANG DILAKUKAN MAHASISWA

Simulasi

APA

YANG

BISA

DIPEROLEH

MAHASISWA
membentuk kelompok (5-10)
memilih bahan diskusi
mepresentasikan
paper
dan
mendiskusikan di kelas

KEMAMPUAN

mempelajari
suatu

dan

peran

menjalankan

yang

ditugaskan

kepadanya.
atau
mempraktekan/mencoba

komunikasi
kerjasama
sintesa hasil,
saling menghargai
inisiatif, leadership.

apresiasi
anlogi/ imajinasi
empati
kreativitas
pengalaman, trampil

berbagai model (komputer) yang


telah disiapkan.
3

Discovery
Learning

mencari,

mengumpulkan,

dan

menyusun informasi yang ada


untuk

mendeskripsikan

suatu

pengetahuan.
4

Self-Directed
Learning

merencanakan kegiatan belajar,


melaksanakan,

dan

menilai

pengalaman belajarnya sendiri.

Cooperative
Learning

Membahas

dan menyimpulkan

masalah/ tugas yang diberikan


dosen secara berkelompok.

kreatif
inovasi
analisis
inisiatif
menyenangkan

kemandirian
kreatif
bertanggung jawab
percaya diri
ketekunan

teamwork
toleransi
kepemimpinan
komunikasi

Collaborative

Bekerja

sama

dengan

anggota

kelompoknya dalam mengerjakan

Learning

tugas
Membuat rancangan proses dan
bentuk

penilaian

berdasarkan

konsensus kelompoknya sendiri.


7

Contextual

Membahas konsep (teori) kaitannya

Instruction

dengan situasi nyata


Melakukan studi lapang/ terjun di
dunia nyata untuk mempelajari

penghargaan
apresiasi

pendapat/toleansi
networking
share vision
group decision making
time management

sintesis
analisis
responsif
apresiasi
pengalaman

ketaat asas-an
tanggung jawab
inovasi, kreatif
komunikasi
aktualisasi

prioritas
mengambil keputusan
berfikir kritis
selektif
tanggung jawab

kesesuaian teori.
8

Project

Based

Learning

Mengerjakan

tugas

berupa

proyek) yang telah dirancang secara


sistematis.
Menunjukan

kinerja

dan

mempertanggung jawabkan hasil


kerjanya di forum.
9

Problem Based
Learning

Belajar dengan menggali/ mencari


informasi

(inquiry)

serta

memanfaatkan informasi tersebut


untuk

memecahkan

faktual/

yang

dosen .

METODE EVALUASI

masalah

dirancang

oleh

A.

Pengertian

Evaluasi adalah tindakan intelektual untk melengkapi proses keperawatan yang menandakan
seberapa jauh diagnosa keperawatan,rencana tindakan,dan pelaksanaannya sudah berhasil di
capai.Melalui evaluasi memungkinkan perawatan untuk memonitor kealpaan yang terjadi
selama tahap pengkajian,analisa,perencanaan dan pelaksanaan tindakan (Ignatavicius &
Bayne,1994).
Menurut Griffith & (Christensen (1986) evaluasi sebagai sesuatu yang di rencanakan,dan
perbandingan yang sistimatik pada status kesehatan Klien.Dengan mengukur perkembangan
Klien dalam mencapai suatu tujuan,maka perawat bisa menentukan efektifitas tindakan
keperawatan.Meskipun evaluasi di letakkan pada akhir proses keperawatan,evaluasi merupakan
bagian

integral

pada

setiap

tahap

proses

keperawatan.

Pengumpulan data perlu direvisi untuk enentukan apakah informasi yang telah di kumpulkan
sudah mencukupi dan apakah perilaku yang di observasi sudah sesuai.Diagnosa juga perlu di
evaluasi dalam hal keakuratan dan kelengkapannya.
Tujuan dan intervensi di evaluasi adalah untuk menentukan apakah tujuan tersebut,dapat di
capai secara efektif.

B. Tujuan Evaluasi.
Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien dalam mencapai tujuan.Hal ini bisa di
laksanakan dengan mengadakan hubungan dengan klien berdasarkan respon klien terhadap
tindakan keperawatan yang di berikan sehingga perawat dapat mengambil keputusan :
1) Mengakhiri rencana tindakan keperawatan ( Klien telah mencapai tujuan yang di tetapkan )
2) Memodifikasi rencana tindakan keperawatan ( Klien mengalami kesulitan untuk mencapai
tujuan)
3) Meneruska rencana tindakan keperawatan (Klien memerlukan waktu yang lebih lama untuk
mencapai tujuan )

C. Proses Evaluasi
Proses evaluasi terdiri dari dua tahap :
1. Mengukur Pencapaian tujuan Klien

Perawat menggunakan ketrampilan pengkajian untuk mendapatkan data yang akan di


gunakan dalam evaluasi.Faktor yang di evaluasi mengenai status kesehatan klien,yang terdiri
dari bebrapa komponen,meliputi: KAPP ( Kognitif,Afektif,Psikomotor,Perubahan fungsi dan
gejala yang spesifik).
a. Kognitif ( pengetahuan )
Tujuan mengidentifikasi pengetahuan yang spesifik yang di perlukan setelah klien di
ajarkan tentang teknik-teknik tertentu.Lingkup evaluasi pada kognitif meliputi
pengetahuan

klien

terhadap

penyakitnya,mengontrol

gejala-

gejalanya,pengobatan,diet,aktifitas,persediaan ala-alat,resiko komplikasi,gejala yang


harus dilaporkan,pencegahan,pengukuran dll.Evaluasi kognitif di peroleh melalui
interview atau tes tertulis.
b. Affektif ( status emosional )
Affektif klien cenderung ke penilaian yang subyektif dan sangat sukar di evaluasi.Hasil
penilaian emosi di tulis dalam bentuk perilaku yang akan memberikan suatu indikasi
terhadap status emosi klien.hasil tersebut meliputi tukar menukar perasaan tentang
sesuatu ,cemas yang berkurang ada kemauan berkomunikasi dan seterusnya.
c. Psikomotor
Psikomotor biasanya lebih mudah di evaluasi di bandingkan yang lainnya jika perilaku
yang dapat di observasi sudah di identifikasikan pada tujuan (kriteria hasil ).Hal ini
biasanya di lakukan melalui observasi secara langsung.Dengan melihat apa yang telah di
lakukan Klien sesuai dengan yang di harapkan adalah suatu cara yang terbaik untuk
mengevaluasi psikomotor Klien.
d. Perubahan fungsi tubuh dan gejala.
Evaluasi pada komponen perubahan fungsi tubuh mencakup beberapa aspek status
kesehatan klien yang bisa di observasi.Untuk mengevaluasi perubahan fungsi tubuh maka
perawat memfokuskan pada bagaimana fungsi kesehatan klien berubah setelah di lakukan
tindakan keperawatan.Evaluasi pada gejala yang spesifik di gunakan untuk menentukan
penurunan atau penigkatan gejala yang mempengaruhi status kesehatan Klien.Evaluasi

tersebut bisa di lakukan bisa di lakukan dengan cara observasi secara langsung,interview
dan pemeriksaan fisik.

2. Penentuan Keputusan Pada Tahap Evaluasi.


Setelah data terkumpul tentang status keadaan klien,maka perawat membandingkan data
dengan outcomes.tahap berikutnya adalah membuat keputusan tentang pencapaian Klien
terhadap outcomes.Ada 3 kemungkinan keputusan pada tahap ini :
a. Klien telah mencapai hasil yang di tentukan dalam tujuan.Pada keadaan ini perawat akan
mengkaji masalah klien lebih lanjut atau mengevaluasi outcomes yang lain.
b. Klien masih dalam proses mencapai hasil yang telah di tentukan.Perawat mengetahui
keadaan klien pada tahap perubahan kearah pemecahan masalah.Penambahan
waktu,resources,dan intervensi mungkin di perlukan sebelum tujuan tercapai.
c. Klien tidak dapat mencapai hasil yang telah di tentukan.Pada situasi ini,perawata harus
mencoba untuk mengidentifikasi alasan mengapa keadaan atau masalah ini timbul.

D. Komponen Evaluasi
Ada 2 (dua ) komponen untuk mengevaluasi kualitas tindakan keperawatan,yaitu :
1) Proses.(formatif)
Fokus tipe evaluasi ini adalah aktifitas dari proses keperawatan dan hasil kualitas pelayanan
tindakan keperawatan.Evaluasi proses harus di lakukan segera setelah perencanaan keperawatan
di laksanakan untuk membantu keefektifitasan terhadap tindakan.Evaluasi formatif terus
menerus di laksanakan sampai tujuan yang telah di tentukan tercapai.Metode pengumpulan data
dalam evaluasi formatif terdiri dari analisa rencana tindakan keperawatan, open-chart audit,
pertemuan kelompok, interview, dan observasi dengan klien, dan menggunakan form evaluasi.
Sistem penulisan pada tahap evaluasi ini bisa menggunakan sitem SOAP atau model
dokumentasi lainnya.
2) Hasil (sumatif)
Fokus evaluasi hasil adalah perubahan perilaku atau status kesehatan klien pada akhir tindakan
perawatan klien. Tipe evaluasi ini dilaksanakan pada akhir tindakan keperawatan secara
paripurna. Sumatif evaluasi adalah obyektif, fleksibel, dan efisien. Adapun metode
penatalaksanaan evaluasi sumatif terdiri dari closed-chart audit, interview akhir pelayanan,

pertemuan akhir pelayanan, dan pertanyaan kepada klien dan keluarga. Meskipun informasi
pada tahap ini tidak secara langsung berpengaruh terhadap klien yang dievaluasi, sumatif
evaluasi bisa menjadi suatu metode dalam memonitor kualitas dan evisiensi tindakan yang telah
diberikan.
Komponen evaluasi dapat di bagi menjadi 5 komponen menurut (Pinnell & Meneses,1986)
1.
2.
3.
4.
5.

Menentukan kriteria, standar dan pertanyaan evaluasi.


Mengumpulkan data mengenai keadaan klien terbaru.
Menganalisa dan membandingkan data terhadap kriteria dan standart
Merangkum hasil dan membuat kesimpulan
Melaksanakan tindakan yang sesuai berdasarkan kesimpulan.

1) Menentukan kriteria, standar dan pertanyaan evaluasi.


a. Kriteria.
Kriteria digunakan sebagai pedoman observasi untuk mengumpulkan data dan sebagai
penentuan kesahihan data yang terkumpul. Semua kriteria yang di gunakan pada tahap evaluasi
di tulis sebagai kriteria hasil. Outcomes menandakan hasil akhir tindakan keperawatan.
Sedangkan standar keperawatan digunakan lebih luas sebagai dasar untuk evaluasi praktek
keperawatan secara luas.
Outcome criteria. Kriteria hasil didefenisikan sebagai standar untuk menjelaskan respon atau
hasil dari rencana tindakan keperawatan. Hasil tersebut akan menjelaskan bagaimana keadaan
klien ,setelah tindakan dilaksanakan. Kriteria akan dinyatakan dalam istilah behaviour
(perilaku) sebagaimana disebutkan dalam bab terdahulu, supaya dapat diobservasi atau diukur
dan kemudian dijelaskan dalam istilah yang mudah dipahami. Idealnya, setiap hasil dapat
dimengerti oleh setiap orang yang terlibat dalam evaluasi.
b. Standar Praktek
Standar pelayanan keperawatan dapat digunakan untuk mengevaluasi praktek keperawatan
secara luas. Suatu standar menyatakan apa yang harus dilaksanakan sebagai suatu model untuk
kualitas pelayanan. Standar harus berdasarkan hasil penelitian, konsep teori, dan dapat di terima
oleh praktek klinik keperawatan saat sekarang. Standar harus secara cermat disusun dan di uji

untuk menetukan kesesuain dalam penggunaannya. Contoh pemakain standar dapat dilihat pada
standar praktek keperawatan yang disusun oleh ANA.
c. Evaluative question
Untuk menentukan suatu kriteria dan standart, perlu digunakan pertanyaan evaluative sebagai
dasar mengevaluasi kualitas pelayanan dan respon klien terhadap tindakan.

Pengkajian : apakah pengkajian dapat dilaksanakan kepada klien?


Diagnosa : apakah diagnosa disusun bersama dengan klien?
Perencanaan : apakah tujuan diidentifikasi dalam perencanaan?
Pelaksanaan : apakah klien diberitahu terhadap tindakan yang diberikan?
Evaluasi : apakah modivikasi tindakan keperawatan diperlukan?

2) Evaluasi dan Penilaian Mutu Pelayanan Keperawatan Komunitas


Mutu layanan kesehata dapa diukur melalui 3 cara:
a. Pengukuran mutu prospektif
Merupakan pengukuran terhadap mutu layanan kesehatan yang dilakukan sebelum
layanan kesehatan diselenggarakan. Oleh karena itu pengukurannya akan ditujukan
terhadap struktur atau input layanan kesehatan dengan asumsi bahwa layanan kesehatan
harus memiliki sumber daya tertentu agar dapa menghasilakan suatu layanan kesehatan
yang bermutu. Bagian bagiannya sebagai berikut:
1. Pendidikan Profesi Kesehatan
Ditujukan agar menghasilkan profesi layanan kesehatan yang mempunyai
pengetahuan, ketrampilan dan perilaku yang dapat mendukung layanan kesehatan
yang bermutu.
2. Perizinan
Merupakan salah satu mekanisme untuk menjamin mutu layanan kesehatan. Surat
ijin kerja (SIK) dan surat ijin praktek (SIP) yang diberikan kepada perawat
merupakan suatu pengakuan bahwa seorang perawat telah memenuhi syarat untuk
melakukan praktek profesi keperawatan (NERS).
3. Standardisasi
Dengan menetapkan standardisasi, seperti standardisasi peralatan, tenaga, gedung,
sistem, organisasi, anggaran dll. Setiap fasilitas layanan kesehatan yang memiliki

standar yang

sama dapat menyelenggarakan layanan kesehatan yang sama

mutunya.
4. Sertifikasi
Merupakan selanjutnya dari perizinan. Pengakuan sebagai ners yang
adalah contoh setifikasi. Di indonesia, perizinan
departemen kesehatan atau dinas
persatuan perawat nasional

kesehatan

tergistrasi

seperti itu dilakukan oleh


dengan

rekomendasi

dari

Indonesia (PPNI).

5.

Akreditasi
Merupakan pengakuan bahwa suatu institusi layanan kesehatan seperti RS telah
memenuhi beberapa standar layanan kesehatan tertentu. Pengukuran mutu prospektif
berfokus pada penilaian, sumber daya, bukan pada kinerja penyelenggaraan layanan

kesehatan.
b. Pengukuran Mutu Retrospektif
Merupakan pengukuran terhadap mutu layanan kesehatan yang dilakukan setelah
penyelenggaraan layanan kesehatan selesai dilaksanakan. Pengukuran ini biasanya
merupakan gabungan dari beberapa kegiatan seperti penilaian catatan keperawatan (nursing
record), wawancara, pembuatan kuesioner, dan penyelenggaraan pertemuan.
c. Pengukuran Mutu Konkuren
Merupakan pengukuran terhadap mutu layanan kesehatan yang dilakukan selama
layanan kesehatan dilangsungkan atau diselenggarakan. Pengukuran ini dilakukan
melalui pengamatan langsung dan kadang- kadang perlu dilengkapi dengan peninjauan
pada catatan keperawatan serta melakukan wawancara dan mengadakan pertemuan
dengan klien, keluarga, atau petugas kesehatan.

E. Standar Evaluasi Praktik Keperawatan Menurut ANA (2004)


Perawat kesehatan komunitas melakukan evaluasi status kesehatan komunitas. Adapun kriteria
pengukuran bagi perawat kesehatan komunitas adalah sebagai berikut
1. Mengkordinasikan secara sistematis, berkelanjutan, dan evaluasi berdasarkan kriteria
hasil pelayanan dalam komunitas dan pemangku kepentingan lain.

2. Mengumpulkan data secara sistematis, menerapkan epidemiologi dan metode ilmiah


untuk menentukan efektivitas intervensi keperawatan kesehatan komunitas dalam
kebijakan, program, dan pelayanan.
3. Berpartisipasi dalam proses dan evaluasi hasil dengan aktivitas pemantauan (monitoring)
program dan pelayanan.
4. Mengaplikasikan pengkajian data yang berkelanjutan untuk merevisi rencana, intervensi,
dan aktivitas yang sesuai.
5. Mendokumentasikan hasil dari evaluasi termasuk perubahan atau rekomendasi untuk
meningkatkan efektivitas intervensi.
6. Menyampaikan evaluasi proses dan hasil yang dihasilkan kepada komunitas dan

pemangku kepentingan lain berdasarkan hukum dan peraturan negara