Anda di halaman 1dari 6

PENGORGANISASIAN MASYARAKAT

LATAR BELAKANG
Berdasarkan data statistik yang dikeluarkan sebuah organisasi pemerhati
pariwisata dunia, diketahui bahwa pada tahun 2005 kegiatan industri pariwisata
dunia telah menghasilkan keuntungan ekonomi sebesar US$ 6 triliun, dan
menciptakan lapangan kerja yang terkait langsung dengan kegiatan pariwisata
bagi 76 juta orang, padahal pada tahun 1960 kontribusi pariwisata terhadap
perekonomian dunia baru mencapai US$ 7 milyar, atau selama 45 tahun terjadi
peningkatan rata-rata $ 19 milyar/tahun (www.worldwach.go.id). Selain itu,
mobilitas wisatawan internasional juga secara rata-rata memperlihatkan laju
pertumbuhan yang cukup tinggi. Pada tahun 1960 tingkat kunjungan hanya
sebesar 70 juta kunjungan, dan pada tahun 2000 telah mencapai angka 668 juta
kunjungan, atau dalam kurun waktu 40 tahun telah terjadi peningkatan lebih dari
100 kali lipat

(Database Pariwisata

Indonesia 2001). Data tersebut

memperlihatkan bahwa eksistensi kepariwisataan telah menjadi bagian dari


aktivitas pembangunan dan perekonomian di sebagian besar negara di dunia,
baik di negara maju maupun negara berkembang.
Oleh

karena

itulah

tidak

mengherankan

apabila

pemerintah

sangat

berkepentingan dengan kemajuan pembangunan pariwisata nasional dan


berusaha mendorong pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat untuk
terlibat dan mengembangkan industri pariwisata. Political will dan optimisme ini
mendorong banyak pemerintah daerah untuk membangun dan menciptakan
berbagai ragam aktivitas pariwisata, dan berusaha membangun sekuat tenaga
potensi serta aset-aset pariwisatanya, apalagi dengan contoh sukses yang
dialami daerah Bali yang sejak awal menjadi barometer kemajuan pembangunan
pariwisata.
Apabila kita lihat di lapangan, ternyata tidak semua daerah yang telah ditetapkan
menjadi daerah tujuan wisata (DTW) utama di Indonesia ini mengalami sukses
yang sama, dan oleh karenanya, laju perkembangan berbagai daerah tujuan
wisata tersebut juga tidak merata. Berbagai kendala dan permasalahan
pembangunan pariwisata menahan laju perkembangan pembangunan parwisata
daerah, mulai dari infrastruktur yang tidak memadai, pengelolaan lingkungan
yang tidak sesuai, penguasaan teknologi yang tidak memadai, kemampuan

Pengorganisasian Masyarakat - 1

sumber daya manusia, sampai dengan permasalahan-permasalahan sosial dan


budaya.
Dari sisi kebijakan, upaya pemerintah untuk meletakkan arah pembangunan
kepariwisataan nasional sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1969 melalui
ditetapkannya KEPPRES Nomor 30 Tahun 1969 yang mengatur tentang
Pengembangan Kepariwisataan Nasional, dan INPRES Nomor 9 Tahun 1969
tentang Pedoman Dalam Melaksanakan Kebijaksanaan Pemerintah Dalam
Membina

Pengembangan

Kepariwisataan

Nasional.

Selain

itu,

untuk

memantapkan pelaksanaan pembangunan kepariwisataan nasional, secara


tegas

pemerintah

menetapkan

undang-undang

yang

khusus

mengatur

pembangunan kepariwisataan nasional yakni Undang-Undang Nomor 9 Tahun


1990 tentang Kepariwisataan. Dalam undang-undang ini dinyatakan bahwa
pemerintah mengharapkan kontribusi yang berarti bagi perekonomian negara
melalui pembangunan dan pengelolaan sektor kepariwisataan.
Tambahan pula, untuk lebih mengoperasionalkan berbagai kebijakan yang sudah
ada tersebut dan sebagai pedoman dalam melaksanakan pembangunan
kepariwisataan nasional, pemerintah menyusun Rencana Induk Pengembangan
Pariwisata Nasional (RIPPNAS). Langkah strategis dan antisipatif ini dilakukan
pemerintah dalam upaya mengantisipasi berbagai pengaruh negative dari
pembangunan pariwisata dan mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan
pembangunan kepariwisataan yang semakin berat, sebagaimana terurai dalam
visi dan misi Kepariwisataan Nasional tahun 2005 yang tercantum dalam
RIPPNAS, yakni:
a.
b.
c.
d.
e.

Peningkatan perolehan devisa dan pendapatan.


Peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Keberpihakan pada pengusaha menengah ke bawah serta rakyat.
Kemitraan antara negara, koperasi, dan pengusaha swasta.
Peningkatan kontribusi pelaku ekonomi menengah ke bawah kepada produk
domestik bruto melalui peningkatan produktivitas dan akses mereka.
f. Kemandirian dan keadilan.
g. Pariwisata yang menjamin keserasian hubungan manusia dengan Tuhannya.
Akan tetapi, karena kompleksnya permasalahan pembangunan kepariwisataan,
sebagaimana yang diungkapkan Chris Cooper (1993) bahwa Tourism is a
multidimensional, multifaceted activity, which touches many lives and many
different economy activities menyebabkan segala upaya yang telah dilakukan
pemerintah, baik oleh pemerintah nasional maupun pemerintah-pemerintah

Pengorganisasian Masyarakat - 2

daerah, dalam implementasinya tetap mengalami berbagai kendala. Berbagai


kasus yang menunjukkan kompleksnya permasalahan pembangunan pariwisata
dengan mudah dapat diidentifikasi dari berbagai temuan lapangan.
Sebagai contoh, sebelum terjadinya bencana tsunami, di kawasan wisata
Pangandaran yang menjadi DTW primadona Jawa Barat, kegiatan perdagangan
semakin tidak teratur dan tidak tertib. Pada musim ramai kunjungan (peak
season) kios-kios tenda didirikan di sepanjang jalan pantai dan pedagang yang
mempergunakan gerobak berjualan di dalam lokasi pantai. Kondisi di atas
mengakibatkan visibilitas serta ruang gerak wisatawan di pantai menjadi
terganggu. Di sepanjang Pantai Barat, mulai dari Cagar Alam Pananjung sampai
ke pertigaan Jalan Bulak Laut berderet berbagai jenis pedagang makananminuman, penyewaan sepeda dan motor, tukang tatto tidak permanen, tukang
kepang rambut, dan cinderamata. Mereka berjualan dengan menggunakan kioskios

atau

tenda-tenda

dan

menutupi

sebagian

badan

jalan

sehingga

menyebabkan pemandangan ke arah pantai menjadi tertutup. Begitu pula


dengan jumlah perahu wisata yang terus bertambah dan ditambatkan di
sepanjang pantai, termasuk di area Cagar Alam Pananjung, sehingga
memperkecil ruang gerak wisatawan dalam beraktivitas di pantai.
Di kawasan wisata lainnya, misalnya kawasan wisata belanja Cihampelas,
pengunjung yang ingin berwisata ke daerah ini harus rela mengalami kemacetan
lalu lintas yang sudah rutin terjadi ketika musim liburan sekolah atau di saat
week-end. Ketika sudah berada di kawasan inipun, wisatawan yang pada
umumnya ingin berbelanja di tempat yang menjadi pusat penjualan jeans ini,
harus rela berdesak-desakan dengan sesamanya di bantaran jalan yang tidak
memiliki trotoar, yang di sepanjang jalannya dipenuhi para pedagang kaki lima
dan pedagang asong lainnya.
Ilustrasi mengenai berbagai kerumitan dan kesemrawutan implementasi
pembangunan kepariwisataan tersebut dengan mudah dapat ditambah dengan
berbagai contoh yang terjadi di berbagai daerah tujuan wisata lainnya di
Indonesia. Di sisi lain, kita dapat menyaksikan bahwa situasi tersebut sangat
jarang ditemui di objek wisata-objek wisata yang terdapat di Provinsi Bali. Di
pantai Kuta yang menjadi pantai yang paling banyak dikunjungi wisatawan, baik
wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara, para wisatawan dengan
tenang dapat bermain air, berenang, atau sekedar duduk-duduk menikmati

Pengorganisasian Masyarakat - 3

keindahan pantai tersebut, khususnya menikmati matahari tenggelam (sun set)


sambil dipijat oleh para pemijat lokal atau meminta jasa kepang rambut. Para
pedagang asong yang menjajakan barang dagangan, tukang tatto temporer,
tujang pijat, tukang kepang, dan lain-lain pedagang sektor informal, dengan
mudah dapat dijumpai di sekitar pantai, namun keberadaan mereka tidak
mengganggu kenyamanan orang berwisata.
Kondisi yang sama akan ditemui di Art Center Kuta, pantai Sanur, Pasar
Sukowati, kawasan Ubud, Tanah Lot, dan berbagai daerah lain di Bali, sehingga
hal tersebut menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang sangat mendasar:
mengapa kepariwisataan di Bali begitu tertata dan teroganisasikan dengan baik?
Bagaimana proses dan mekanisme yang terjadi sehingga kepariwisataan Bali
sampai pada kondisi tersebut? Apakah pola yang telah terbentuk di Bali dapat
diadopsi daerah lain?

PENGORGANISASIAN MASYARAKAT
Dari berbagai literatur diketahui bahwa pengorganisasian merujuk pada suatu
rangkaian tindakan tertentu yang dilakukan paling tidak oleh dua orang untuk
mencapai tujuan-tujuan tertentu yang telah disepakati. Ketika dua orang atau
lebih bersepakat untuk bersama-sama melakukan suatu kegiatan tertentu
dengan misalnya menyisihkan uang untuk membiayai kegiatan tersebut,
membagi tugas dan pekerjaan, menyusun struktur organisasi atau kepanitiaan
yang dianggap dapat menjadi wahana bagi pencapaian tujuan yang diinginkan
bersama, dan sebagainya, maka sebetulnya mereka itu sedang melakukan
pengorganisasian. Yang dilakukan kedua orang tersebut merupakan sebuah
proses, yaitu berbagai rangkaian kegiatan yang dilakukan, untuk mencapai
tujuan yang dikehendaki.
Proses yang dilakukan dapat bersifat sederhana, tidak rumit, hanya mencakup
beberapa jenis kegiatan tertentu, dengan jumlah orang yang terlibat sangat
terbatas, akan tetapi dapat pula bersifat kompleks, sangat rumit tidak hanya
karena melibatkan jumlah orang yang sangat banyak, juga membutuhkan
pembagian kerja yang sangat terinci dan terspesialisasi sehingga membutuhkan
departementalisasi yang spesifik, dan oleh karena itu memerlukan pengaturanpengaturan yang ketat, tidak saja pada tiap-tiap departemen yang yang dibentuk

Pengorganisasian Masyarakat - 4

tetapi juga pengaturan antar departemen. Oleh karena itulah pengorganisasian


sebenarnya berada pada suatu kontinuum/spektrum yang luas; dari yang
sederhana ke kompleks.
Karena luasnya spektrum konsep pengorganisasian, maka pada gilirannya
rentang penjelasan konsep ini pun menjadi meluas juga; mulai dari yang
penjelasannya hanya memerlukan beberapa kata, seperti yang dinyatakan
Parachini and Covington (2001:12): Organizing is people working together to get
things done, sampai dengan yang memerlukan penjelasan panjang lebar.
Perbedaan-perbedaan tersebut sebetulnya ditimbulkan karena perbedaan sudut
pandang dari para pemerhatinya. Beberapa pakar pengorganisasin seperti
Alinsky, tokoh yang dianggap sebagai pelopor pengorganisasian masyarakat
modern, sangat menekankan perlunya social ties dan share common
perspectives di antara para anggota organisasi sebagai prasyarat terbentuknya
kerjasama yang baik sehingga dia mendefinisikannya sebagai "a group of people
with diverse characteristics who are linked by social ties, share common
perspectives, and engage in joint action (Parachini and Covington, 2001:37);
pakar lain seperti Thielle, Pholnac and Christie yang mengkaji pengorganisasian
masyarakat dalam pembangunan pariwisata bahari di Philipina menyatakan
pengorganisasian sebagai community organizing is a process of community
group formation, leadership development and education that is used throughout
the

Philippines

to

engage

communities

in

social

change

processes.

Pengorganisasian juga sering disebut sebagai a values-based process by


which people most often low- and moderate-income people previously absent
from decision-making tables are brought together in organizations to jointly act
in the interest of their communities and the common good (Parachini and
Covington, 2001:12).
Namun, dari berbagai cara pandang mengenai pengorganisasian tersebut, dapat
disimpulkan bahwa pada intinya pengorganisasian itu merupakan ....a process;
it has not, in and of itself, been an outcome. Organizing cannot, in and of itself,
produce improvements in health status variables or indicators - but it has laid the
foundation for a service delivery system which continues to hold the promise for
desired changes and improvements (Anne Daugherty, project director Jackson
County Department of Health & Human Services-Oregon, USA). Dengan
demikian, karena merupakan suatu fondasi bagi sistem pelayanan yang

Pengorganisasian Masyarakat - 5

dilakukan,

maka

pengorganisasian

akan

menentukan

keberhasilan

dan

perbaikan-perbaikan atau pembangunan yang diinginkan.


Pendapat Alinsky dan para pakar tersebut di atas, karena mensyaratkan
tersedianya social ties, shared common perspective, atau pemilikan bersama
(common

good)

pada

kelompok-kelompok

masyarakat,

sedikit

banyak

menjelaskan mengapa pengembangan masyarakat atau pengorganisasian


masyarakat yang dilakukan di berbagai daerah di Indonesia relatif jarang yang
berhasil.
Dua kata kunci yang menjadi prasyarat keberhasilan pengorganisasian
masyarakat yang sudah dikemukakan Alinsky melalui kiprahnya pada tahun
1930-an, yaitu social ties dan share common perspectives, tampaknya sering
luput diperhatikan, atau mungkin dianggap tidak memiliki peran dalam
pengorganisasian masyarakat. Padahal, melalui studi-studi yang lebih mutakhir
sekarang dipahami bahwa respon dan proses adaptasi masyarakat pada suatu
kebijakan pembangunan atau pun inovasi lainnya bergantung pada basis
masyarakat yang disebut modal social (social capital).
Menurut Ostram: Social Capital is shared knowledge, understanding norms,
rules, and expectation about pattern of interaction that groups of individuals bring
to recurrent activity. Selanjutnya Coleman menyebutkan bahwa: Social Capital
is defined by its function. It is not a single entity but a variety of different entities,
with two elements in common; They all consist of some aspect of social
structures and they facilitate certain actions of actors-whether persons or
corporate actors- within the structure. Dan bahwa: Social Capital is ... comes
about through changes in the relations among persons that facilitate action.

Pengorganisasian Masyarakat - 6