Anda di halaman 1dari 5

Minyak Serai Wangi mencoba menjajah Dunia

Buat sobat-sobat semua bagi yang suka berbisnis Minyak Serai


Wangi atauTAtsiri, silakahkan kunjungi kami di blog ini atau
langsung ke kami melewati no hp : 081363325405.
Minyak Serai Wangi atau Atsiri merupakan suatu minyak yang
sudah tak asing lagi bagi daerah Thailand, kenapa tidak pemasok
paling kuat sekarang ini untuk Minyak Serai Wangi adalah negara
tersebut terutama Minyak Serai Wangi dan Minyak Nilam.
UntukSumatera Barat pemasok utama untuk Minyak Serai Wangi adalah Kota Sawahlunto Sumatera
Barat Indonesia tepatnya Desa Balai Batu Sandaran, sedangkan untuk Minyak Nilam berada pada
Kabupaten Pasaman Sumatera Barat Indonesia, untuk daerah ini sudah menyeluruh masyarakatnya
bertani Nilam.
I.

KONDISI UMUM DAERAH :

Desa Balai Batu Sandaran dengan luas 1.295 Hektar berada pada ketinggian 650 meter DPL dengan
Topografi Perbukitan serta kemiringan lahan diatas 30 Derajat
Adapun tingkat kesuburan tanah tergolong sedang dan ada juga lahan kritis dengan kondisi
sebahagian tanah terbatas.
II.
1.

PROFIL
Lahan

- Tahun 2003 : 1 Hektar Kebun Demplot dengan sistim tanam tumpang sari 5.500 Rumpun Serai
Wangi dan 700 Batang Ylang-ylang ( Kenanga Unggul ) pada lahan yang tergolong Kritis
- Tahun 2004

: 20 Hektar kebun Skala Operasional

- Tahun 2006

: 53,5 Hektar kebun Pengembangan

Sehingga luas kebun : 74.5 hektar.


2.

Produksi

Dengan 1 Unit alat suling Volume 5.000 liter, kapasitas 1 Ton Daun Serai sekali suling untuk
menampung Daun 30 Hektar Kebun.
Produksi 12 16 Kg Minyak perhari Penyulingan.
Harga minyak Serai Wangi Rp.85.000,- / Kg
Faktor pendukung

-Motifasi dan partsipasi masyarakat yang cukup tinggi


- Tersedianya lahan yang memadai
- Adanya dukungan pemuka masyarakat dan lembaga Desa
- Ditunjang Pembinaan Pemko Sawahlunto melalui Dinas Pertanian
dan Kehutanan.
- Bimbingan Tekhnologi Puslitbangbun KP. Laing Solok

III.

PERKEMBANGAN KEGIATAN USAHA


Usaha Atsiri yang merupakan salah satu Alternative usaha ekonomi masyarakat yang

berwawasan Konservasi, yang dirasa cocok dengan potensi daerah khususnya di Kota Sawahlunto,
dengan binaan Pemerintah Kota Sawahlunto yang bekerja sama dengan Pusat Penelitian
Pengembangan Perkebunan ( Puslitbangbun ), telah dikembangkan tanaman Atsiri berupa Serai
Wangi dan Ylang-ylang, sejak tahun 2003 sampai sekarang, berupa kegiatan sebagai berikut
a.

Kebun Demplot 1 Hektar.

Dilaksanakan pada tahun 2003 yang bertujuan untuk penelitian berupa penanaman Serai Wangi
sebanyak 5.500 batang dan Ylang-ylang 700 batang.
Adapun kesimpulan / hasil penelitian adalah
-

Pertumbuhan tanaman umur 3 bulan dengan anakan 40 50 batang / Rumpun tergolong cukup
tinggi dan Ylang-ylang juga cukup baik

Setelah umur 6 bulan Serai Wangi di panen dan di suling di Solok kemudian dilakukan uji Labor di
Puslitbangbun Bogor hasilnya yaitu :

No
1
2

3
4

Analisa
Kegiatan
Produksi Minyak
Kandungan :
- Citronelal
- Graniol
Hasil Daun Umur 6 Bulan
Hasil Daun umur 1 Tahun

Lahan
Demplot
9,2 Kg / Ton

Standar Nasional
Indonesia ( SNI )
7 8 Kg / Ton

47,9 %
95,5 %
0,5 Kg
1,5 Kg

35 %
80 %

Ket

b. Kebun Skala Operasional 20 Hektar


Berdasarkan hasil penelitian lahan Demplot tersebut, dengan kesimpulan cukup baik untuk
dilanjutkan, maka dibangun lahan baru dengan lahan 20 Hektar.
Adapun waktu pelaksanaannya sebagai berikut
No
1
2
3
4
5
6

Kegiatan
Penyiapan lahan
Penanaman Serai dan Ylang-ylang
Penyiangan dan pembuatan pondok Kerja
Pembuatan bangunan penyulingan
Pemasangan Alat Suling
Panen dan penyulingan

:
Waktu pelaksanaan
September 2004
Nopember 2004
Februari 2005

Ket

10 Agustus 2005
12 September 2005
20 September 2005

Dengan Bimbingan dari Dinas terkait dan Balitro KP. Laing Solok serta dengan semangat dan
kerja keras dari masyarakat, sehingga kegiatan tersebut diatas telah terlaksana menurut
sebagaimana mestinya, dengan melibatkan tanaga kerja laki-laki dan perempuan.
Sampai dengan tanggal 30 september 2005 berjumlah
2.884 HOK ( Harian Orang Kerja ) :

- Bantuan pemerintah Kota = 874


- Swadaya masyarakat

= 2.010 Hok

Hok

Usaha dan kerja keras masyarakat tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya Pembinaan dan
Bantuan dari Pemerintah Kota Sawahlunto berupa

Bantuan Biaya tenaga kerja sekitar 30 %

Bibit Serai Wangi dan Ylang-ylang

Pupuk Buatan

Alat Suling Volume 5.000 Liter dan Bangunan Penyulingan

Pembinaan tekhnis atas kerjasama dengan Balitro KP. Laing Solok

c. Hasil Penyulingan
Setelah terpasang alat suling kapasitas 1 ton, dengan pelaksanaan penyulingan selama ini,
maka kesimpulan hasil yang diperoleh

adalah

1 kali penyulingan membutuhkan waktu : 5 jam, + bongkar muat 2 jam

1 ton daun Serai menghasilkan minyak rata-rata : 8 Kg

Panen daun Serai Rata-rata = 1,5 Kg

Tenaga kerja panen 1 ton daun Serai : 4 HOK

Tenaga kerja untuk penyulingan : 2 HOK / Ton

Bahan bakar kayu dan daun Serai bekas sulingan : 1 M3 / Ton = Rp.50.000,-

Harga penjualan Minyak Serai Wangi berkisar antara Rp. 80.000

Rp. 95.000,-

Berfluktuasi sesuai dengan perkembangan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar, saat ini harga pasar Rp.
85.000,- / Kg
Analisa usaha minimal untuk 1 ton daun Serai

1 ton daun Serai = 8 Kg minyak, harga @. Rp. 85.000,- .=Rp.680.000,-

Biaya operasional :

Tenaga kerja panen 4 HOK x RP. 40.000,Tenaga kerja penyulingan 2 HOK x Rp. 40.000,Bahan bakar kayu 1 M3 x Rp. 75.000,Tenaga kerja penyiangan tanaman 4 HOK

= Rp. 160.000,= Rp. 80.000,= Rp. 75.000,= Rp. 160.000,-

Biaya umum, Prossesing, Packing =Rp. 30.000,-..= Rp. 505.000,-

Sisa hasil usaha= Rp. 175.000,Analisa usaha 1 hektar Serai Wangi umur 1 tahun

1 Hektar Serai Wangi = 5.500 rumpun x 1,5 kg daun = 8,25 ton daun Serai

8,25 Ton daun x 8 Kg minyak = 66 Kg Minyak Serai


66 Kg Minyak serai x Rp. 85.000,- .= Rp. 5.610.000,-

Biaya operasional

Biaya panen 8,25 ton daun x 4 HOk x Rp. 40.000,-

: Rp.1.320.000,-

Biaya penyulingan 8,25 ton x 2 HOK x Rp. 40.000,-

: Rp.660.000,-

Bahan bakar kayu 1 M3 x 8,25 Ton x Rp. 75.000,-

: Rp.618.750,-

Penyiangan 1 hektar = 33 HOK x Rp.40.000,-

: Rp.1.320.000,-

Biaya umum,Prosesing,Packing dan Pemasaran

: Rp. 247.500,-

Jumlah = Rp.4.166.250,-

Sisa hasil usaha ..= Rp.1.443.750,-

Penyerapan tenaga kerja = 80 HOK

Panen Serai tiap 3 bulan, Rata-rata SHU per bulan = Rp.481.250,-

d. Kebun Pengembangan 53,5 Hektar


Usaha Atsiri dengan tanaman Serai Wangi dan Ylang-ylang yang telah dirintis oleh masyarakat
dengan telah menghasilkan minyak Serai Wangi, hal ini telah diapresiasi positif oleh masyarakat yang
menimbulkan Motifasi untuk turut serta secara aktif dalam pengembangan usaha budidaya Serai
Wangi.
Pemerintah Kota Sawahlunto, melalui Dinas Pertanianan dan Kehutanan mencurahkan perhatian
yang besar untuk Pengembangan usaha ini berupa Program dengan rincian sebagai berikut
-

Bantuan Bibit Serai wangi dan ylang-ylang

Penunjang biaya persiapan lahan 30 %

Pupuk Buatan

Pembinaan dan Penyuluhan tekhnis dengan Balitro Kp. Laing Solok.

Sistim kebun pengembangan adalah dilahan masing-masing anggota dengan luas minimal 0,5
hektar, anggota berjumlah 54 orang, sehingga luas kebun pengembangan 53,5 hektar.
e. Pemasaran.
Dengan kondisi saat ini dimana Produksi Minyak kita belum memadai, Pemasaran kita lakukan
dengan menyediakan Stok Minyak, kemudian dijual kepada pembeli yang menawar dengan harga
tertingi, rata-rata 120 150 Kg / bulan, juga melayani pembeli perorangan dengan kemasan perbotol
isi 120 Ml Rp. 20.000,- / Botol
Agar supaya kita jangan dipermainkan atau diperalat oleh pedagang, sehingga pemberdayaan petani
harus diwujudkan, dimana petani berada diposisi tawar yang sejajar dengan Eksportir / Pedagang.
Demukian juga Standar mutu dan kualitas adalah yang harus tetap terjaga mulai dari Budidaya,
Prosesing dan Packing.
Dalam hal ini dibutuhkan persamaan persepsi dan keterpaduan antara petani/masyarakat dan
Pemerintah Kota dalam menghadapi pasar.
IV.
a.

KENDALA YANG DIHADAPI


Jarak kebun pengembangan yang berpencar di lahan masyarakat mengakibatkan kesulitan

transportasi hasil panen dan menambah biaya produksi.


b.

1 ( Satu ) Unit alat suling yang ada belum bisa mengolah hasil kebun Serai yang ada, hanya bisa

mengolah hasil panen 30 Ha.


c.
-

Bahan bakar kayu sangat berpengaruh kepada hasil Produksi yaitu


Tingkat Kekeringan kayu

Kesulitan pengambilan kayu api memperbesar biaya Produksi

Penebangan kayu terus menerus untuk bahan bakar penyulingan akan berdampak Negative

kepada lingkungan hutan di Desa.


d.

Kelompok masih kesulitan modal operasional dalam perawatan alat dan menstok minyak pada

saat harga turun.


e.

45 Hektar lahan yang siap panen daun Serai Wangi belum adanya alat suling.
KEBUTUHAN UNTUK PENGEMBANGAN USAHA

1. Pengadaan alat suling kapasitas 5.000 liter atau 1 ton daun sekali suling yang bahan bakarnya
bukan dari kayu api, melainkan dengan Batu Bara atau Gas LPG.
2. Bantuan modal Operasional dengan bunga Ringan
3. Pembinaan untuk peningkatan manajemen pengelolaan usaha.

Pada dasarnya masyarakat Sawahlunto memang berkeinginan kuat untuk menjadikan Kota
Sawahlunto sebagai Daerah Sentra Produksi Minyak Atsiri di Sumatera Barat, yang merupakan
salah satu usaha ekonomi kerakyatan dalam upaya menanggulangi Kemiskinan, dengan harapan
sekaligus juga sebagai PRODUK UNGGULAN dan KEBANGGAAN DAERAH.
Tidak hanya memproduksi Minyak Serai Wangi tetapi juga Minyak Ylang-Ylang, Nilam, Kayu putih
dan lain-lain.
Keinginan kami ini sudah mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Sawahlunto, namun
dukungan baik dari Pemerintah Propinsi, pemerintah Pusat dan swasta, sangat kami harapkan.