Anda di halaman 1dari 7

DESKRIPSI SECARA MORFOLOGI IKAN GABUS (Channa striata)

BESERTA KETINGGIAN TEMPAT SAMPEL DI DAERAH KOTA


MALANG
PAPER
untuk memenuhi tugas mata kuliah Genetika I
yang dibimbing oleh Prof. Dr. A. Duran Corebima, M.Pd.

Kelompok 14
Offering B
Anggota:
Didik Dwi Prastyo
130341624788
Imroatun Hasana
130341614818

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Januari 2015

A. Deskripsi Morfologi Ikan Gabus (Channa striata)


1. Gambaran Secara Morfologi Ikan Gabus (C. striata)
Ikan gabus (C. striata) tergolong ikan air tawar yang bersifat
Karnivora dengan ciri-ciri fisik memiliki bentuk tubuh hampir bulat,
panjang dan semakin ke belakang berbentuk compressed (Mulyadi at al.,
2011). Tubuh bilateral simetris dengan badan memanjang dan subsilendris,
kepala pipih, mulut berukuran lebar dan mengarah keatas. Vomer dan
palatine tidak mempunyai deretan gigi-gigi kecil dan sederet gigi
berbentuk taring yang tajam. Bibir tipis, hanya bibir rahang atas yang
berlipatan, bibir halus tidak bergerigi (Putra, 2009: 4-5). Bagian punggung
cembung, perut rata dan kepala pipih seperti ular (head snake) (Mulyadi at
al., 2011).
Warna tubuh pada bagian punggung hijau kehitaman dan bagian
perut berwarna krem atau putih. Sirip ikan gabus tidak memiliki jari-jari
yang keras, mempunyai sirip punggung dan sirip anal yang panjang dan
lebar, sirip ekor berbentuk setengah lingkaran, sirip dada lebar dengan
ujung membulat (rounded). Ikan gabus dapat mencapai panjang 90 110
cm (Mulyadi at al., 2011). Putra (2009: 4-5), menambahkan bahwa sirip
punggung terletak dibelakang kepala bagian anterior badan, permulaan
sirip punggung di depan sirip perut dan sirip punggung terpisah dengan
sirip ekor. Posisi dasar sirip dada vertikal, sirip dada terletak dibawah
gurat sisi persis dibelakang tutup insang dan sirip dada lebih pendek dari
bagian kepala dibelakang mata. Posisi sirip perut subabdominal, sirip ekor
berbentuk bundar (rounded) dan gurat sisi lengkap sempurna, hampir
menyerupai garis lurus mulai dari sudut atas operkulum sampai ke
pertengahan pangkal sirip ekor. Pada sisik ke 17 gurat sisi mulai menurun
dan mendatar kembali pada sisik ke 21 sampai kepertengahan pangkal
sirip ekor. Lebar kepala lebih dari tinggi badan. Bentuk sisik stenoid,
jumlah sisik didepan sirip punggung berjumlah 7 baris sisik, jumlah sisik
pipih 11 baris sisik, jumlah sisik disekeliling badan 33 baris sisik, jumlah
sisik di batang ekor 22 baris sisik, jumlah sisik di atas garis rusuk 7,5 baris
sisik, jumlah sisik dibawah garis rusuk 12,5 baris sisik.

Gambar 1.1 Morfologi Ikan Gabus (C. striata) (Mulyadi at al., 2011).
2. Habitat Ikan Gabus (C. striata)
Ikan gabus banyak ditemukan di sungai-sungai dan rawa.
Kadang-kadang

terdapat

di

air

payau

berkadar

garam

rendah

(Brotowijoyo, 1995). Ikan ini hidup di muara-muara sungai, danau dan


dapat pula hidup di air kotor dengan kadar oksigen rendah, bahkan tahan
terhadap kekeringan. Ikan gabus merupakan hasil perikanan darat dengan
daerah penangkapan di perairan umum di wilayah Indonesia, diantaranya :
Jawa, Sumatra, Sulawesi, Bali, Lombok, Singkep, Flores, Ambon, dan
Maluku dengan nama yang berbeda (Mulyadi at al., 2011).
3. Klasifikasi Ikan Gabus (C. striata)
Menurut Starnes (1996), taksonomi ikan gabus adalah sebagai
berikut.
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Actinopterygii

Ordo

: Perciformes

Famili

: Channidae

Genus

: Channa

Spesies

: Channa striata

Gambar 1.2 Ikan Gabus (C. striata)


B. Karakteristik Wilayah Pengambilan Sampel
1. Desa Ngawonggo
Ngawonggo adalah sebuah desa di Kecamatan Tajinan, Kabupaten
Malang, Provinsi Jawa Timur. Jarak dari desa ke Kecamatan Tajinan
adalah 4 km dan 20 km dari dari ibukota Kabupaten Malang. Desa
Ngawonggo terletak pada posisi 80343.95 S dan 1123931.76 E
dengan ketinggian 621 mdpl. Berdasarkan Daftar Isian Data Dasar Profile
Desa tahun 2009, Luas desa mencapai 247.923 Ha, peruntukan
permukiman 33.809 Ha, pertanian sawah 150.3 Ha, Ladang 97.6 Ha,
Bangunan 10310 Ha, Rekreasi dan Olahraga 0.950 Ha dan pemakaman
0.500 Ha. Hasil tanaman palawija sebanyak 75 ton/tahun, tanaman padi
sebanyak 4,8 ton/tahun dan tebu 37,5 ton/tahun. Hasil peternakan berupa
kerbau, sapi, kambing, ayam, itik entok dan angsa
2. Kecamatan Kepanjen
Kecamatan Kepanjen menjadi ibu kota Kabupaten Malang, hal
tersebut berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18 Tahun 2008.
Untuk mendapat gambaran tentang Kecamatan Kepanjen lebih rinci akan
saya deskripsikan lebih lanjut. Kondisi geografis dan administrasi
Kecamatan Kepanjen dapat dideskripsikan secara singkat sebagai berikut.
Kecamatan Kepanjen merupakan salah satu wilayah Kabupaten Malang
yang terletak di sebelah selatan dengan jarak 18 KM dari Kota Malang.
Kecamatan Kepanjen memiliki luas 44,68 Km yang terletak pada titik
koordinat 1121710,9 1125700 Bujur Timur dan

55,11

82634,45 Lintang Selatan. Batas-batas wilayah Kecamatan Kepanjen


sebagai berikut: di sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Pakisaji, di
sebelah

Timur

berbatasan

dengan

Kecamatan

Gondanglegi

dan

Bululawang, di sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Pagak, dan


di sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Kromengan dan Ngajum.
Kepanjen terleetak di ketinggian rata rata 350 m dpl dan diapit oeh 3
gunung yaitu Kawi, Semeru dan pegunungan selatan. Kepanjen terdiri dari
14 Desa dan 4 Kelurahan.
Kota Batu
Kota Batu merupakan salah satu kota yang baru terbentuk pada
tahun 2001 sebagai pemekaran dari Kabupaten Malang yaitu dengan dasar
hukum UU No. 11/2001 tertanggal 21 Juni 2001. Secara astronomis Kota
Batu terletak pada posisi 1121710,90 1225711 Bujur Timur dan
74455,11 82635,45 Lintang Selatan. Batas adminstratif wilayah
Batu Sebelah Utara: Kecamatan Prigen, Kabupaten Mojokerto dan
Kabupaten Pasuruan. Sebelah Timur : Kecamatan Karang Ploso dan
Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Sebelah Selatan : Kecamatan Dau dan
Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar. Sebelah Barat
: Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Kota Batu yang terletak 800 meter
di atas permukaan air laut ini dikarunia keindahan alam yang memikat.
Wilayah Kota Batu dibedakan menjadi enam kategori ketinggian yaitu
mulai dari 600-3000 meter dari permukaan laut. Dari enam kategori
tersebut wilayah yang paling luas berada pada ketinggian 1000-1500 meter
dari permukaan laut yaitu seluas 6.493,64 ha. Kemiringan lahan (slope) di
Kota Batu berdasarkan data dari peta kontur Bakosurtunal tahun 2001
diketahui bahwa sebagian besar wilayah Kota Batu mempunyai
kemiringan sebesar 25-40 % dan kemiringan >40 %.
Gunung-gunung di sekitar Kota Batu adalah Gunung Panderman
(2010 m), Gunung Welirang (3156 m), Gunung Arjuno (3339 m) dan
masih banyak lagi lainnya. Keadaan topografi Kota Batu memiliki dua
karasteristik yang berbeda. Karakteristik pertama yaitu bagian sebelah
utara dan barat yang merupakan daerah ketinggian yang bergelombang dan
berbukit. Kedua, yaitu daerah timur dan selatan merupakan daerah yang

relatif datar meskipun berada pada ketinggian 800 3000 m dari


permukaan laut.
Dengan kondisi topografi pegunungan dan perbukitan tersebut
menjadikan kota Batu terkenal sebagai daerah dingin. Kota Batu memiliki
suhu minimum 18-24 C dan suhu maksimum 28-32 C dengan
kelembaban udara sekitar 75 98 % dan curah hujan rata-rata 875 3000
mm per tahun. Temperatur rata-rata Kota Batu 21,5 C, dengan temperatur
tertinggi 27,2 C dan terendah 14,9 C. Rata-rata kelembaban nisbi udara
86 % dan kecepatan angin 10,73 km/jam. Curah hujan tertinggi di
Kecamatan Bumiaji sebesar 2471 mm dan hari hujan mencapai 134 hari.
Karena keadaan tersebut, Kota Batu sangat cocok untuk pengembangan
berbagai komoditi tanaman sub tropis pada tanaman holtikultura dan
ternak.
Dilihat dari keadaan geografi-nya, Kota Batu dapat dibagi menjadi
4 jenis tanah. Pertama jenis tanah Andosol, berupa lahan tanah yang paling
subur meliputi Kecamatan Batu seluas 1.831,04 ha, Kecamatan Junrejo
seluas 1.526,19 ha dan Kecamatan Bumiaji seluas 2.873,89 ha. Kedua
jenis Kambisol, berupa jenis tanah yang cukup subur meliputi Kecamatan
Batu seluas 889,31 ha, Kecamatan Junrejo 741,25 ha dan Kecamatan
Bumiaji 1395,81 ha. Ketiga tanah alluvial, berupa tanah yang kurang
subur dan mengandung kapur meliputi Kecamatan Batu seluas 239,86 ha,
Kecamatan Junrejo 199,93 ha dan Kecamatan Bumiaji 376,48 ha. Dan
yang terakhir jenis tanah Latosol meliputi Kecamatan Batu seluas 260,34
ha, Kecamatan Junrejo 217,00 ha dan Kecamatan Bumiaji 408,61 ha.
Tanahnya berupa tanah mekanis yang banyak mengandung mineral yang
berasal dari ledakan gunung berapi, sifat tanah semacam ini mempunyai
tingkat kesuburan yang tinggi.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2013. Geografi Kota Batu. (Online).
(http://ngalam.web.id/read/1158/geografi-kota-batu/ diakses 29 Januari
2015)
Brotowijoyo, M.D. 1995. Pengantar Lingkungan dan Budidaya Air. Yogyakarta:
Liberty.
Mulyadi, A.F., Masud E., dan Jaya M.M. 2011. Modul Teknologi Pengolahan
Ikan Gabus. (Online),
(http://maharajay.lecture.ub.ac.id/files/2013/06/Modul-Abdimas-IkanGabus-2011.pdf, diakses tanggal 22 Januari 2015).
Putra, R.M. 2009. Pola Lingkaran Pertumbuhan Otolith Ikan Gabus (Channa
striata) di Perairan Sungai Siak Provinsi Riau. Jurnal Berkala
Perikanan Terubuk. 37 (2): 1-11. (Online),
(http://download.portalgaruda.org/article.php?
article=31746&val=2275.pdf, diakses tanggal 22 Januari 2015).