Anda di halaman 1dari 57

Assalamualaikum Wr. Wb.

Materi Kuliah Etika &


Hukum Kesehatan
Masyarakat

STIKES HANG TUAH


PEKANBARU
2014-2015

Etika & Hukum Kesehatan


Masyarakat
Oleh : Parlindungan, SH., MH.
0812 6812 3180
Blog : www.parlinriau.blogspot.com
www.maentertain.blogspot.com
E-mail: parlindunganriau@gmail.com

Pengertian Etika
Ilmu yang membahas
perbuatan baik dan
perbuatan buruk manusia
sejauh yang dapat
dipahami oleh pikiran
manusia.

Parlindungan, SH.,
MH

Tujuan Mempelajari
Etika
Untuk mendapatkan konsep yang
sama mengenai penilaian baik dan
buruk bagi semua manusia dalam
ruang dan waktu tertentu.

Parlindungan, SH.,
MH

Pengertian
Baik?
Sesuatu hal dikatakan baik bila ia
mendatangkan rahmat, dan
memberikan perasaan senang,
atau bahagia. Sesuatu dikatakan
baik bila ia dihargai secara positif.

Parlindungan, SH.,
MH

Pengertian Buruk
Segala yang tercela. Perbuatan
buruk berarti perbuatan yang
bertentangan dengan normanorma masyarakat yang berlaku.

Parlindungan, SH.,
MH

Cara Penilaian Baik dan


Buruk
Menurut Ajaran Agama, Adat Kebiasaan,
Kebahagiaan, Bisikan Hati (Intuisi), Evolusi,
Utilitarisme, Paham Eudaemonisme, Aliran
Pragmatisme, Aliran Positivisme, Aliran
Naturalisme, Aliran Vitalisme, Aliran
Idealisme, Aliran Eksistensialisme, Aliran
Marxisme, Aliran Komunisme.

Parlindungan, SH.,
MH

Kriteria perbuatan baik atau buruk yang akan diuraikan di


bawah ini sebatas berbagai aliran atau faham yang
pernah dan terus berkembang sampai saat ini. Khusus
penilaian perbuatan baik dan buruk menurut agama, adat
kebiasaan, dan kebudayaan tidak akan dibahas di sini.

Parlindungan, SH.,

1. Faham Kebahagiaan
(Hedonisme)
Tingkah laku atau perbuatan yang
melahirkan kebahagiaan dan
kenikmatan/kelezatan.

2. Bisikan Hati (Intuisi)


Bisikan hati adalah, kekuatan batin
yang dapat mengidentifikasi apakah
sesuatu perbuatan itu baik atau
buruk tanpa terlebih dahulu melihat
akibat yang ditimbulkan perbuatan
itu.
Parlindungan, SH.,

Parlindungan, SH.,
MH

3. Evolusi
Paham ini berpendapat, bahwa
segala sesuatu yang ada di
alam ini selalu (secara
berangsur-angsur) mengalami
perubahan, yaitu berkembang
menuju ke arah kesempurnaan.

Parlindungan, SH.,
MH

4. Paham
Eudaemonisme
Prinsip pokok faham ini adalah kebahagiaan bagi
diri sendiri dan kebahagiaan bagi orang lain.
Menurut Aristoteles, untuk mencapai
eudaemonia ini diperlukan 4 hal :
(1) kesehatan, kebebasan, kemerdekaan,
kekayaan &
kekuasaan;
(2) kemauan;
(3) perbuatan baik; dan
(4) pengetahuan batiniah.
Parlindungan, SH.,
MH

5. Aliran Pragmatisme
Aliran ini menititkberatkan pada hal-hal
yang berguna dari diri sendiri baik yang
bersifat moral maupun material. Yang
menjadi titik beratnya adalah pengalaman,
oleh karena itu penganut faham ini tidak
mengenal istilah kebenaran sebab
kebenaran bersifat abstrak dan tidak akan
diperoleh dalam dunia empiris.

Parlindungan, SH.,
MH

6. Aliran Naturalisme
Yang menjadi ukuran baik atau buruk
adalah: apakah sesuai dengan keadaan
alam, apabila alami maka itu dikatakan
baik, sedangkan apabila tidak alami
dipandang buruk. Jean Jack Rousseau
mengemukakan, bahwa kemajuan,
pengetahuan dan kebudayaan adalah
menjadi perusak alam semesta.

Parlindungan, SH.,
MH

7. Aliran Vitalisme
Faham vitalisme yang menjadi ukuran baik dan
buruk itu bukan alam tetapi vitae atau hidup
(yang sangat diperlukan untuk hidup). Aliran ini
terdiri dari dua kelompok yaitu (1) vitalisme
pessimistis (negative vitalistis) dan (2) vitalisme
optimistime. Kelompok pertama terkenal
dengan ungkapan homo homini lupus artinya
manusia adalah serigala bagi manusia yang
lain. Sedangkan menurut aliran kedua perang
adalah halal, sebab orang yang berperang
itulah (yang menang) yang akan memegang
kekuasaan.

Parlindungan, SH.,
MH

8. Aliran Gessingnungsethik
Diprakarsai oleh Albert Schweitzer, seorang
ahli Teolog, Musik, Medik, Filsuf, dan Etika.
Yang terpenting menurut aliran ini adalah
penghormatan akan kehidupan, yaitu
sedapat mungkin setiap makhluk harus
saling menolong dan berlaku baik. Ukuran
kebaikannya adalah pemelihataan akan
kehidupan, dan yang buruk adalah setiap
usaha yang berakibat kebinasaan dan
menghalangi-halangi hidup.

Parlindungan, SH.,
MH

9. Aliran
Idealisme
Sangat mementingkan eksistensi akal
pikiran manusia sebab pikiran manusialah
yang menjadi sumber ide. Ungkapan
terkenal dari aliran ini adalah segala yang
ada hanyalah yang tiada sebab yang ada
itu hanyalah gambaran/perwujudan dari
alam pikiran (bersifat tiruan). Sebaik
apapun tiruan tidak akan seindah aslinya
(yaitu ide). Jadi yang baik itu hanya apa
yang ada di dalam ide.
Parlindungan, SH.,
MH

10. Aliran Eksistensialisme


Bahwa eksistensi di atas dunia selalu terkait
pada keputusan individu. Artinya, andaikan
individu tidak mengambil suatu keputusan,
maka pastilah tidak ada yang terjadi.
Individu sangat menentukan terhadap
sesuatu yang baik, terutama sekali bagi
kepentingan dirinya. Ungkapan dari aliran ini
adalah Truth is subjectivity atau kebenaran
terletak pada pribadinya disebutlah baik,
dan sebaliknya apabila keputusan itu tidak
baik bagi pribadinya maka itulah yang buruk.
Parlindungan, SH.,
MH

11. Aliran
Marxisme
Berdasarkan Dialectical Materialsme yaitu
segala sesuatu yang ada dikuasai oleh
keadaan material dan keadaan material pun
juga harus mengikuti jalan dialektikal itu.
Aliran ini memegang motto Segala sesuatu
jalan dapatlah dibenarkan, asalkan jalan
dapat ditempuh untuk mencapai sesuatu
tujuan. Jadi apapun dapat dipandang baik
asalkan dapat menyampaikan/menghantar
kepada tujuan.

Parlindungan, SH.,
MH

PENGERTIAN
PROFESI?
Belum ada kata sepakat mengenai
pengertian profesi karena tidak ada
standar pekerjaan/tugas yang
bagaimanakah yang bisa dikatakan
sebagai profesi. Ada yang
mengatakan, bahwa profesi adalah
jabatan seseorang walau profesi
tersebut tidak bersifat komersial.

Parlindungan, SH.,
MH

Secara tradisional ada 4 profesi yang


sudah dikenal :

1.
2.
3.
4.

Kedokteran;
Hukum;
Pendidikan; dan
Ustad/Kependetaan.

Parlindungan, SH.,
MH

Ciri-ciri profesionalisme:
1. Punya ketrampilan yang tinggi dalam
suatu bidang serta kemahiran dalam
menggunakan
peralatan
tertentu
yang diperlukan dalam pelaksanaan
tugas yang bersangkutan.
2.

Punya ilmu dan pengalaman serta


kecerdasan dalam menganalisis suatu
masalah dan peka di dalam membaca
situasi cepat dan tepat serta cermat
dalam mengambil keputusan terbaik
atas dasar kepekaan.

Parlindungan, SH.,
MH

3.

Punya sikap berorientasi


depan
punya
4. ke
Punya
sikapsehingga
mandiri berdasarkan
kemampuan
mengantisipasi
keyakinan
akan kemampuan
pribadi
serta terbukalingkungan
menyimak
perkembangan
dan
menghargai
pendapat
yang
terbentang
di orang
lain, namun cermat dalam memilih
hadapannya.
yang terbaik bagi diri dan
perkembangan pribadinya.

Parlindungan, SH.,
MH

CIRI KHAS
PROFESI
Menurut Artikel dalam International
Encyclopedia of education, ada 10 ciri khas
suatu profesi, yaitu:
1. Suatu bidang pekerjaan yang terorganisir dari jenis
intelektual yang terus berkembang dan diperluas;
2. Suatu teknik intelektual;
3. Penerapan praktis dari teknik intelektual pada urusan
praktis;

Parlindungan, SH.,
MH

4. Suatu periode panjang untuk pelatihan


dan
sertifikasi;
5. Beberapa standar dan pernyataan
tentang etika
7.
Asosiasi
anggota
profesi yang menjadi
yang dari
dapat
diselenggarakan;
suatu
kelompok yang
erat
dengan kualitas
6. Kemampuan
untuk
kepemimpinan
pada
komunikasi yang tinggi antar anggotanya;
profesi
8.
Pengakuan sebagai profesi;
sendiri;
9.
Perhatian yang profesional terhadap
penggunaan yang bertanggung jawab dari
pekerjaan profesi;
10. Hubungan yang erat dengan profesi lain.
Parlindungan, SH.,
MH

TUJUAN KODE ETIKA


PROFESI
Prinsip-prinsip umum yang
dirumuskan dalam suatu profesi
akan berbeda satu dengan yang
lainnya. Hal ini disebabkan
perbedaan adat, kebiasaan,
kebudayaan, dan peranan tenaga
ahli profesi yang didefinisikan
dalam suatu negara tidak sama.

Parlindungan, SH.,
MH

Adapun yang menjadi tujuan pokok dari


rumusan etika yang dituangkan dalam kode
etikStandar-standar
(code of conduct)
profesi adalah:
1.
etika menjelaskan
dan
2.

menetapkan tanggung jawab terhadap klien,


institusi, dan masyarakat pada umumnya;
Standar-standar etika membantu tenaga ahli
profesi dalam menentukan apa yang harus
mereka perbuat kalau mereka menghadapi
dilema-dilema etika dalam pekerjaan;

Parlindungan, SH.,
MH

3. Standar-standar etika
mencerminkan/membayangkan pengharapan
moral-moral dari komunitas, dengan demikian
standar-standar etika menjamin bahwa para
4. Standar-standar etika merupakan dasar untuk
anggota profesi akan menaati kitab UU etika
menjaga kelakuan dan integritas atau kejujuran
(kode etik) profesi dalam pelayanannya;
dari tenaga ahli profesi;

Parlindungan, SH.,
MH

5. Perlu diketahui bahwa kode etik


profesi adalah tidak sama dengan
hukum (atau undang-undang).
Seorang ahli profesi yang
melanggar kode etik profesi akan
menerima sangsi atau denda dari
induk organisasi profesinya;

6. Standar-standar etika
membiarkan profesi menjaga
reputasi atau nama dan fungsifungsi profesi dalam masyarakat
melawan kelakuan-kelakuan
yang
Parlindungan, SH.,
jahat dari anggota-anggota
MH

Etika bisa diartikan juga sebagai,


yang berhubungan dengan
pertimbangan keputusan, benar
atau tidaknya suatu perbuatan
karena tidak ada undangundang/peraturan yang
menegaskan hal yang harus
dilakukan. Etika berbagai profesi
digariskan dalam kode etik yang
bersumber dari martabat dan hak
manusia (yang memiliki sikap
menerima) dan kepercayaan dari
profesi. Profesi menyusun kode etik
berdasarkan penghormatan atas
nilai dan situasi individu yang
dilayani.

Parlindungan, SH.,
MH

Kode etik disusun dan disahkan


oleh organisasi atau wadah yang
membina profesi tertentu baik
secara nasional maupun
internasional. Kode etik
menerapkan konsep etis karena
profesi bertanggung jawab pada
manusia dan menghargai
kepercayaan serta nilai individu.
Kata seperti etika, hak asasi,
Parlindungan, SH.,
tanggung jawab, mudah MH

CONTOH KASUS
DIDISKUSIKAN?
Baca soal:
Benarkah dipandang dari segi etis, hak
azasi dan tanggungjawab, bila profesional
kesehatan menghentikan upaya
penyelamatan hidup pada pasien yang
mengidap penyakit yang pasti
membawa kematian?

Parlindungan, SH.,
MH

JAWABANNYA?
Faktor teknologi yang meningkat, ilmu
pengetahuan yang berkembang (pemakaian
mesin dan teknik memperpanjang usia,
pencangkokan organ manusia, pengetahuan
biologi dan genetika, penelitian yang
menggunakan subjek manusia) ini memerlukan
pertimbangan yang menyangkut nilai, hak-hak
azasi dan tanggung jawab profesi. Organisasi
profesi diharapkan mampu memelihara dan
menghargai, mengamalkan, mengembangkan
nilai tersebut melalui kode etik yang disusunnya.

Parlindungan, SH.,
MH

FENOMENA TENAGA KESEHATAN


Kadang-kadang perawat dihadapkan
pada situasi yang memerlukan
keputusan untuk mengambil tindakan.
Perawat memberi asuhan kepada klien,
keluarga dan masyarakat, menerima
tanggungjawab untuk membuat keadaan
lingkungan fisik, sosial dan spiritual yang
memungkinkan untuk penyembuhan dan
menekankan pencegahan penyakit serta
meningkatkan kesehatan dengan
penyuluhan kesehatan.
Parlindungan, SH.,
MH

Pelayanan kepada umat manusia merupakan


fungsi utama perawat dan dasar adanya
profesi keperawatan. Kebutuhan pelayanan
keperawatan adalah universal. Pelayanan
profesional berdasarkan kebutuhan manusia
karena itu tidak membedakan kebangsaan,
warna kulit, politik, status sosial dan lain-lain.
Keperawatan
adalah
pelayanan
vital
terhadap
manusia
yang
menggunakan
manusia juga, yaitu perawat.

Pelayanan ini berdasarkan kepercayaan, bahwa perawat


akan berbuat hal yang benar, hal yang diperlukan, dan
hal yang mnguntungkan pasien dan kesehatannya. Oleh
karena manusia dalam interaksi bertingkah laku
berbeda-beda, maka diperlukan pedoman untuk
mengarahkan bagaimana harus bertindak.

Parlindungan, SH.,
MH

PENGERTIAN HUKUM SECARA UMUM


Hukum adalah keseluruhan norma yang oleh
penguasa masyarakat yang berwenang
menetapkan hukum, dinyatakan atau dianggap
sebagai peraturan yang mengikat bagi sebagian
atau seluruh anggota masyarakat tertentu,
dengan tujuan untuk mengadakan suatu tata
yang dikehendaki oleh penguasa tersebut.

Parlindungan, SH.,
MH

PENGERTIAN
MENURUT Dr. O. NOTOHAMIDJOJO, SH
Hukum adalah kompleks peraturan yang tertulis dan tidak
HUKUM
tertulis, yang biasanya bersifat memaksa terhadap kelakuan
manusia di dalam masyarakat, yang berlaku dalam berjenis
lingkungan hidup dan masyarakat negara (serta antar negara)
dengan tujuan mewujudkan keadilan, tata serta damai.
MENURUT H.M.N. PURWOSUTJIPTO, SH
Hukum adalah keseluruhan Norma, yang oleh penguasa
negara atau penguasa masyarakat yang berwenang
menetapkan hukum, dinyatakan atau dianggap sebagai
peraturan yang mengikat bagi sebagian atau seluruh anggota
masyarakat, dengan tujuan untuk mengadakan suatu tata
yang dikehendaki oleh penguasa tersebut.

Parlindungan, SH.,
MH

PENGERTIAN
SECARA UMUM

HUKUM

Hukum adalah keseluruhan norma


yang oleh penguasa masyarakat
yang berwenang menetapkan
hukum, dinyatakan atau dianggap
sebagai peraturan yang mengikat
bagi sebagian atau seluruh anggota
masyarakat tertentu, dengan tujuan
untuk mengadakan suatu tata yang
dikehendaki oleh penguasa
tersebut.
Parlindungan, SH.,
MH

PENGERTIAN HUKUM YANG


DIBERIKAN
OLEH
MASYARAKAT
1. Hukum
sebagai Ilmu Pengetahuan;
2. Hukum sebagai
3. Hukum sebagai
4. Hukum sebagai
5. Hukum sebagai
6. Hukum sebagai
Penguasa;
7. Hukum sebagai
Pemerintahan;
8. Hukum sebagai

Disiplin;
Kaedah;
Tata Hukum;
Petugas (Hukum);
Keputusan
Proses
Jalinan Nilai-nilai.

Parlindungan, SH.,
MH

Sumber
Hukum:
Sumber hukum dalam
arti materiil;
Sumber hukum dalam
arti formil.

Parlindungan, SH.,
MH

Sumber hukum dalam arti


material yaitu:
Faktor-faktor yang turut serta menentukan isi hukum.
Faktor-faktor kemasyarakatan yang mempegaruhi
pembentukan hukum yaitu:
1.
Stuktural ekonomi dan kebutuhan-kebutuhan
masyarakat antara lain: kekayaan alam, susunan
geologi, perkembangan-perkembangan perusahaan dan
pembagian kerja;
2. Kebiasaan yang telah membaku dalam masyarakat
yang telah berkembang dan pada tingkat tertentu
ditaati sebagai aturan tinglkah laku yang tetap;
3.

Hukum yang berlaku;

4.

Tata hukum negara-negara lain;

5.

Keyakinan tentang agama dan kesusilaan;

6.

Kesadaran hukum.

Parlindungan, SH.,
MH

Sumber hukum dalam arti formal,


yaitu :
Sumber hukum yang bersangkut paut
dengan masalah prosedur atau cara
pembentukanya, terdiri dari:

Sumber hukum dalam arti formal yang


tertulis

1. Undang-undang :
a. UU dalam arti material: keputusan penguasa
yang dilihat dari segi isinya mempunyai
kekuatan mengikat umum mis. UU
Kesehatan, UU Terorisme.
b. UU dalam arti formal : keputusan penguasa
yang diberi nama UU disebabkan bentuk
yang menjadikannya UU, mis UU APBN.

Parlindungan, SH.,
MH

2. Hukum Traktat

Traktat adalah perjanjian yang dibuat


antara negara yang dituangkan dalam
bentuk tertentu

3. Putusan Hakim (yurisprudensi)


Istilah yurisprudensi berasal dari kata
Jurisprudentia (Bahasa Latin), yang
berarti pengetahuan hukum (Rechts
geleerheid). Kata yurisprudensi sebagai
istilah teknis Indonesia, sama artinya
dengan kata Jurisprudentia (Bahasa
Belanda) dan Jurisprudence dalam
bahasa Perancis yaitu, Peradilan tetap
atau hukum peradilan. Parlindungan, SH.,
MH

4. Doktrin

Menurut Sudikno Mertokusumo: Pendapat para


sarjana hukum yang merupakan doktrin
adalah sumber hukum. Ilmu hukum itu sebagai
sumber hukum tapi bukan hukum karena tidak
langsung mempunyai kekuatan mengikat
sebagaimana undang-undang. Ilmu hukum
baru mengikat dan mempunyai kekuatan
hukum bila dijadikan pertimbangan hukum
dalam putusan pengadilan. Disamping itu juga
dikenal adagium dimana orang tidak boleh
menyimpangi
daricommunis
opinion
doctorum (pendapat umum para sarjana).
Parlindungan, SH.,
MH

5. Perjanjian
Apeldoorn:
Yurisprudensi, doktrin dan perjanjian
merupakan faktor-faktor yang membantu
pembentukan hukum.
Sedangkan Lemaire:
Yurisprudensi, ilmu hukum (doktrin) dan
kesadaran hukum sebagai
determinan/bilangan nyata pembentukan
hukum.

Parlindungan, SH.,
MH

Sumber hukum dalam arti formal


yang tidak tertulis Prof. Soepomo
berpendapat, Hukum adat adalah
synonim dengan hukum tidak
tertulis dan hukum tidak tertulis
berarti hukum yang tidak dibentuk
oleh sebuah badan legislatif yaitu
hukum yang hidup sebagai
konvensi di badanbadan hukum
negara (DPR, DPRD, dsb), hukum
yang timbul karena putusanputusan hakim dan hukum
kebiasaan yang hidup dalam
masyarakat.
Parlindungan, SH.,
MH

Mengenai Hukum Kesehatan?


Hukum
Kesehatan
meliputi
semua
ketentuan hukum yang langsung maupun
tidak
langsung
berhubungan
dengan
pemeliharaan kesehatan dan penerapan
dari hukum perdata, hukum pidana dan
hukum administrasi yang berkaitan dengan
hubungan tersebut.
Menurut Fred Ameln dalam bukunya Kapita
Selekta
Hukum
Kedokteran,
Hukum
kesehatan
bersumber
dari
pedoman
internasional,
hukum
kebiasaan
dan
yurisprudensi
yang
berkaitan
dengan
pemeliharaan kesehatan, hukum otonom,
ilmu dan literatur.

Parlindungan, SH.,
MH

Hukum kesehatan menurut Anggaran


Dasar Perhimpunan Hukum Kesehatan
Indonesia
(PERHUKI), adalah semua ketentuan
hukum yang berhubungan langsung
dengan pemeliharaan/pelayanan
kesehatan dan penerapannya.
Hal ini menyangkut hak dan kewajiban
baik dari perorangan dan segenap
lapisan masyarakat
sebagai penerima pelayanan kesehatan
maupun dari pihak penyelenggara
pelayanan
kesehatan dalam segala aspeknya,
organisasi, sarana, pedoman standar
pelayanan medik, ilmu pengetahuan
kesehatan dan hukumParlindungan,
serta
SH.,
MH

Hukum Kedokteran merupakan bagian dari Hukum


Kesehatan,
yaitu yang menyangkut asuhan/pelayanan
kedokteran (medical
care/service). Hukum kesehatan merupakan bidang
hukum yang masih muda. Perkembangannya dimulai
pada waktu World Congress on Medical Law di Belgia
pada tahun 1967.
Perkembangan selanjutnya melalui World Congress
of The Association for Medical Law yang diadakan
secara periodik hingga saat ini. Di Indonesia
perkembangan Hukum Kesehatan dimulai dari
terbentuknya Kelompok Studi untuk Hukum
Kedokteran FK-UI/R.S.Ciptomangunkusumo di Jakarta
pada tahun 1982.
Perhimpunan untuk Hukum Kedokteran
Indonesia SH.,
Parlindungan,
(PERHUKI), terbentuk di Jakarta pada
MH tahun 1983 dan

Contoh Peraturan Perundang-undangan Hukum


Kesehatan menurut hirarki atau menurut
peraturan yang lebih tinggi dan terlebih dahulu
diterbitkan :
1. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan;
2. Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran;
3. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang
Tenaga Kesehatan;
4. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
1239/Menkes/SK/XI/2001 tentang registrasi dan Praktik
Perawat .

Parlindungan, SH.,
MH

UU Kesehatan Nomor 36/2009 disahkan pada


tanggal 13 Oktober 2009 dan mulai berlaku secara
resmi pada tanggal 30 Oktober 2009. Dengan
demikian, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992
tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3495)
dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Parlindungan, SH.,
MH

Inilah hasil dari perjuangan yang


memakan waktu lebih kurang delapan
tahun; sebuah usaha panjang guna
mengamandemen Undang-undang Nomor
23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (UUK)
yang sudah tidak sesuai dengan kebutuhan
masyarakat saat ini.

Parlindungan, SH.,
MH

Apakah hasil dari amandemen tersebut telah sesuai


harapan? Jika membandingkan UUK 23/1992 dengan
UUK 36/2009, UUK 36/2009 memang lebih progresif.
Mengapa?
Banyak kalangan menilai, UUK 36/2009 telah
mengakomodir dan memasukkan isu :
(1) Paradigma sehat, yaitu pendekatan peningkatan
pelayanan kesehatan masyarakat;
(2) Pengakuan terhadap isu-isu kesehatan reproduksi, di
Bagian ke Enam Pasal 71 sampai Pasal 77;
(3) Aborsi yang diperluas untuk korban perkosaan,
yakni dibolehkannya aborsi dan dilakukan oleh
tenaga ahli dan berbasis konseling (Pasal 75 ayat 2
dan 3);
(4) pembiayaan kesehatan yakni 5 % APBN, 10 % APBD
di luar gaji (Pasal 171) sehingga persoalan kesehatan
menjadi tanggung jawab bersama antara
pemerintah pusat dan pemerintahParlindungan,
daerah;
SH.,

MH

(5) dukungan pemberian ASI eksklusif, di


mana pemerintah dan masyarakat harus
mendukung hal ini dengan menyediakan
fasilitas dan kebutuhan pendukung (Pasal
128), bahkan jika tidak maka ada ketentuan
pidana penjara dan denda bagi pelanggaran
pelaksanaan sumber daya kesehatan dan
upaya kesehatan (Pasal 200);
(6) Kesehatan remaja dan lanjut usia; serta
(7) Hak mendapatkan informasi dan perlindungan
kesehatan (Bab XIV). Diakomodirnya isu kesehatan
reproduksi, aborsi yang diperluas, serta hak mendapatkan
informasi dan perlindungan kesehatan merupakan bagian
penting diterimanya perspektif perempuan dalam UUK ini.

Parlindungan, SH.,
MH

Tentang Aborsi?
Anggota Komisi IX DPR RI (2014), Zuber Safawi
menyatakan keberatan dan mendesak Peraturan
Pemerintah (PP) Nomor 61 Tahun 2014 tentang
Kesehatan Reproduksi ditarik untuk kemudian direvisi.
Hal tersebut merujuk pada Pasal 75 UU No. 36 tahun
2009 tentang Kesehatan. Peraturan turunan harusnya
mempertajam serta merinci mengenai kriteria tentang
indikasi kedaruratan medis dan korban perkosaan yang
bagaimana yang boleh diaborsi, misalnya kondisi
kesehatan ibu, umur janin calon bayi, dan sebagainya.

Aturan pengecualian bagi tindakan aborsi ini penting


untuk dikaji ulang secara seksama dan hati-hati,
karena bagaimanapun tindakan itu termasuk ke dalam
penghilangan nyawa manusia secara sengaja. DPR
mendesak agar PP tersebut ditarik untuk kemudian
direvisi. itu juga berpeluang bagi induknya (UU
36/2009) untuk dilakukan uji materiilParlindungan,
ke MK.
SH.,

MH

Mari kita diskusi dari pasal


ke pasal
UU No. 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan !

Parlindungan, SH.,
MH

INGAT!!!!
Pasal 58 Ayat (1) menyebutkan, Setiap
orang berhak menuntut ganti rugi
terhadap seseorang, tenaga kesehatan,
dan/atau penyelenggara kesehatan yang
menimbulkan kerugian akibat
kesalahan atau kelalaian dalam
pelayanan kesehatan yang diterimanya.
Parlindungan, SH.,
MH