Anda di halaman 1dari 30

1 MODUL SISMIOP DAN SIG

A. Pendahuluan
I. Deskripsi Singkat Materi Secara umum modul ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu
bagian yang membahas tentang sistem informasi dalam organisasi, bagian yang
memuat materi tentang Sistem Manjemen Informasi Objek Pajak (SISMIOP) dan
bagian yang memuat materi tentang Sistem Informasi Geografis (SIG) Pajak Bumi
dan Bangunan (PBB). Bagian pertama (sistem informasi dalam oragnisasi)
membahas mengenai peranan sistem informasi dalam organisasi, komponen sistem
informasi dalam konteks organisasi, sistem informasi, sistem basis data (definisi,
tujuan dan jenis data), dan teknologi informasi (hardware dan software
pembentuknya dan pertimbangan pemilihan perangkat lunak pembangun program
aplikasi). Bagian kedua membahas tentang SISMIOP mulai dari pemahaman tentang
definisi dan lingkup SISMIOP, komponen pendukung aplikasi SISMIOP (hardware dan
software, system basis data, arsitektur SISMIOP, pemakai) dan proses bisnis PBB
dalam aplikasi SISMIOP (proses bisnis pendataan, penilaian, penetapan, penagihan,
pembayaran/penerimaan, keberatan dan pengurangan serta pelayanan) dan juga
membahas apliaksi pendukung SISMIOP dan kebijakan keamanan informasi
teknologi SISMIOP. Bagian ketiga membahas tentang SIG dan SIG PBB mulai dari
definisi, subsistem dan komponen SIG, defines dan lingkup SIG PBB, komponen
pembetuk SIG PBB dan proses bisnis dalam SIG PBB. II. Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mempelajari modul ini diharapkan peserta memahami dan mengerti
tentang: 1. Peranan sistem informasi dalam organisasi; 2. Komponen sistem
informasi dalam konteks organisasi, mulai dari lingkungan organisasi, organisasi,
proses bisnis organisasi, sistem informasi, sistem basis data dan teknologi
informasi; 3. Alasan digunakannya sistem informasi dalam organisasi; 4. Tujuan dari
diterapkan/dibangunnya SISMIOP dalam pengelolaan basis data Pajak Bumi dan
Bangunan; 5. Komponen penyusun SIMIOPdan arsitektur SISMIOP; 6. Mengenal
menu-menu aplikasi SISMIOP dalam menangani proses bisnis Pajak Bumi dan
Bangunan; 7. Definisi dasar Sistem Informasi Geografis (SIG); 8. Komponen dan
subsistem penyusun SIG; 9. SIG PBB; 10. Komponen penyusun SIG PBB; 11. Proses
bisnis dalam SIG PBB. 2 B. Kegiatan Belajar Sistem Informasi Dalam Organisasi I.
Tujuan Pembelajaran Dengan mempelajari tentang system informasi dalam
organisasi diharapkan peserta dapat mengenal dan memahami hal-hal sebagai
berikut: 1. Peranan sistem informasi dalam organisasi. 2. Komponen sistem
informasi dalam konteks organisasi, mulai dari lingkungan organisasi, organisasi,
proses bisnis organisasi, sistem informasi, sistem basis data dan teknologi
informasi. 3. Alasan digunakannya sistem informasi dalam organisasi II. Sistem
Informasi Dalam Konteks Organisasi Pemanfaatan ATM yaitu kependekan dari
Anjungan Tunai Mandiri yang merupakan suatu terjemahan dari akronim aslinya
yaitu Automatic Teller Machine telah menjadi suatu bagian dari kehidupan seharihari bagi kita semua. Penarikan uang tunai dan transfer uang baik untuk
pembayaran tagihan ataupun maksud lainnya telah menjadi suatu yang sangat

biasa dan tidak ada keraguan lagi walaupun sebagai bukti transaksi hanyalah
secarik kertas tanpa tanda-tangan dan stempel. Tanda-tangan dan stempel selama
ini telah menjadi simbol keabsahan suatu dokumen dan dasar pengakuan atas
informasi yang dikandungnya yang kadangkala mengalahkan kebenaran dari
informasi itu sendiri. Kehidupan sosial kita cenderung menuntut adanya bukti formal
dibandingkan dengan kepercayaan terhadap informasi yang dapat diakses tanpa
menghasilkan bukti formal Hal semacam ini telah didobrak dalam tradisi
penggunaan ATM. Hal tersebut diatas merupakan salah-satu contoh dari
keberhasilan pemanfaatan sistem informasi dalam dunia perbankan. ATM yang lahir
hanya 30 tahun yang lalu dan pertama kali sukses diimplemantasikan oleh City
Bank di Amerika Serikat dengan membangun jaringan sekitar 500 ATM di daerah
New York dengan biaya sekitar $250 milyar. City Bank dengan slogannya the City
never sleeps telah dapat melipatkan tiga kali nasabahnya dalam kurun waktu 10
tahun dan pangsa pasar nasabahnya dari 4,5 menjadi 13 % berkat sistem informasi
ini. Istilah sistem informasi telah menjadi suatu yang populer dan menjanjikan
bahkan bagi kita semua. Tidak hanya kalangan bisnis swasta yang bersaing dalam
merebut pangsa pasar juga kalangan organisasi yang tidak berorientasi kepada
keuntungan. Direktorat Jenderal Pajak tidak ketinggalan dalam menerapkan sistem
informasi untuk meningkatkan kinerja organisasi dalam menunjang tiga pilar
perpajakan yaitu pelayanan, penyuluhan dan penagihan. Hal ini diwujudkan dengan
dibangunnya beberapa sistem informasi untuk 3 mencapai maksud tersebut diatas
diantaranya Sistem Informasi Perpajakan (SIP), Sistem Informasi Manajemen Objek
Pajak (SISMIOP) khusus dalam pengelolaan PBB, serta sistem-sistem lainnya.
Namun demikian pengertian dari sistem informasi itu sendiri mungkin tidak semua
orang dapat memahami sepenuhnya. Hal ini dengan adanya anggapan bahwa
sistem informasi tersebut hanyalah suatu aplikasi komputer dan sesuatu yang
berbau komputer. Sehingga pemanfatannya hanya dianggap sebagai suatu
komponen pendukung yang dapat saja tidak digunakan walaupun sudah tersedia
karena terpisah dengan aktivitas kegiatan dalam pengelolaan organisasi. Sistem
informasi yang sebenarnya melekat erat dengan aktivitas kegiatan atau proses
bisnis suatu organisasi sehingga tidak dapat dipisah antar komponennya untuk
mencapai tujuan organisasi. Hal ini sebagaimana digambarkan dalam Gambar di
bawah. Terlihat bahwa batas antara Sistem Informasi dan Proses Bisnis dibuat tipis
karena keduanya bersatu sebagai bagian dari suatu komponen organisasi. Sistem
Informasi dalam Kontek Organisasi Dalam memposisikan sistem informasi dalam
kedudukannya dari suatu organisasi. Sistem informasi tidak sama dengan sistem
basis data dan teknologi informasi tetapi menggunakan sistem basis data dan
teknologi informasidalam pengelolaan basis data untuk menghasilkan informasi.
Sistem informasi melekat erat dengan aktifitas kegiatan suatu organisasi untuk
mencapai kinerja organisasi yang efisien dan efektif. Dengan demikian sistem
informasi dalam kegiatan sehari-hari dapat terlihat sebagai aktifitas kegiatan itu
sendiri karena terkandung didalamnya. Lingkungan Organisasi Organisasi Aktivitas /
Bisnis Process Sistem Informasi Sistem Basis Data Teknologi Informasi4 Pemanfatan
sistem informasi dalam suatu organisasi didasari berbagi pertimbangan yang

tujuannya adalah untuk meningkatkan pencapaian tujuan organisasi itu sendiri. City
Bank pada tahun 1970-an telah menginverstasikan biaya $250 milyar untuk
membangun jaringan ATM untuk tujuan kompetitif meningkatkan daya saing
terhadap bank-bank lain. City Bank mengambil resiko menjadi pemimpin dalam
pemanfaatan sistem informasi untuk memenangkan persaingan bisnis dan berhasil.
Saat ini setiap bank menginvestasikan untuk jaringam ATM bukan untuk tujuan
kompetitif lagi, tetapi telah menjadi biaya yang harus dikelurakan karena ATM telah
menjadi standar kebutuhan bagi nasabah mereka. Bilamana mereka tidak bisa
memberikan fasilitas ini maka mereka akan tersingkir dari percaturan bisnis
perbankan. 1. Lingkungan Organisasi/Perusahaan Lingkungan organisasi adalah
organisasi itu sendiri dan segala sesuatu yang mempengaruhinya seperti organisasi
sejenis sehingga menjadi pesaing dalam dunia bisnis, supplier, customer, peraturan
dan kebijaksanaan terkait dan kondisi sosial ekonomi setempat. Bagi Kantor
Pelayanan PBB yang menjadi lingkungannya adalah Kantor Wilayah DJP, Kantor
Pusat DJP, Wajib Pajak, Peraturan perundangan perpajakan dan kondisi sosial
ekonomi setempat. 2. Organisasi/Perusahaan Organisasi/Perusahaan adalah
sekumpulan bisnis proses atau aktivitas kegiatan yang saling berkaitan dan berkerja
bersama-sama untuk menghasilkan suatu produk atau pelayanan dalam suatu
lingkungan tertentu. Menyambung contoh-contoh sebelumnya, maka sebagai
organisasi dari kegiatan pendataan adalah Kantor Pelayanan PBB yang memiliki
kegiatan utama (proses bisnis) selain pendataan yaitu penilaian, penetapan,
penagihan, penerimaan dan pelayanan berupa proses keberatan dan pengurangan.
3. Bisnis Process Proses bisnis atau aktivitas kegiatan organisasi merupakan suatu
aktivitas yang melibatkan orang, informasi dan sumber daya lainnya untuk
mencapai tujuan organisasi. Aktivitas pendataan dalam suatu Kantor Pelayanan PBB
dapat berupa pengisian data objek pajak berupa pengukuran bidang tanah dalam
hal data belum tersedia, penelitian komponen bangunan yang digunakan, data dari
wajib pajak dan data lainnya yang diperlukan untuk administrasi PBB. Semua itu
dituangkan dalam SPOP (Surat Pemberitahuan Objek Pajak) baik oleh wajib pajak
sendiri ataupun oleh petugas dengan persetujuan wajib pajak. Data tersebut
akhirnya direkam kedalam komputer dipilah secara otomatis dengan program
aplikasi yang akhirnya membentuk suatu basisdata. Terlihat bahwa tidak semua
aktivitas 5 pendataan menggunakan teknologi informasi, hanya desain data pada
SPOP dan pengkolekasian data pada komputer yang sebenarnya bagian dari sistem
informasi. 4. Sistem Informasi Informasi: data yang telah diproses menjadi bentuk
yang memiliki arti bagi penerima dan dapat berupa fakta, suatu nilai yang
bermanfaat. Jadi ada suatu proses transformasi data menjadi suatu informasi ==
input - proses output. Data merupakan raw material untuk suatu informasi.
Perbedaan informasi dan data sangat relatif tergantung pada nilai gunanya bagi
manajemen yang memerlukan. Suatu informasi bagi level manajemen tertentu bisa
menjadi data bagi manajemen level di atasnya, atau sebaliknya. Definisi Sistem
Informasi: Suatu sistem terintegrasi yang mampu menyediakan informasi yang
bermanfaat bagi penggunanya. Atau, Sebuah sistem terintegrasi atau sistem
manusia-mesin, untuk menyediakan informasi untuk mendukung operasi,

manajemen dalam suatu organisasi. Sistem ini memanfaatkan perangkat keras dan
perangkat lunak komputer, prosedur manual, model manajemen dan basis data.
Dari definisi di atas terdapat beberapa kata kunci : a. Berbasis komputer dan Sistem
Manusia/Mesin - Berbasis komputer: perancang harus memahami pengetahuan
komputer dan pemrosesan informasi - Sistem manusia mesin: ada interaksi antara
manusia sebagai pengelola dan mesin sebagai alat untuk memroses informasi. Ada
proses manual yang harus dilakukan manusia dan ada proses yang terotomasi oleh
mesin. Oleh karena itu diperlukan suatu prosedur/manual sistem. b. Sistem basis
data terintegrasi Adanya penggunaan basis data secara bersama-sama (sharing)
dalam sebuah data base manajemen sistem. c. Mendukung Operasi Informasi yang
diolah dan di hasilkan digunakan untuk mendukung operasi organisasi. Semuanya
mengacu pada sebuah sistem informasi berbasis komputer yang dirancang untuk
mendukung operasi, manajemen dan fungsi pengambilan keputusan suatu
organisasi.6 5. Sistem Basis Data Sistem Basis Data didefiniskan sebagai sistem
yang terdiri atas kumpulan file (tabel) yang saling berhubungan (dalam sebuah
basis data di sebuah sistem computer) dan sekumpulan program (DBMS) yang
memungkinkan beberapa pemakai dan/atau program lain untuk mengakses dan
memanipulasi file-file (tabel-tabel) tersebut. Sistem basis data menjembatani
hubungan antara manusia dengan mesin dalam pengelolaan, manipulasi, seleksi
data untuk menghasilkan informasi Machine Human Hardware Programs Data
Procedures People Instructions Actors Tujuan dari sistem basis data adalah agar
dalam proses pemanfaatan, pemanggilan, pemilihan data dapat dilakukan dengan
cepat dan mudah dan lebih lanjut tujuan dari pemanfaatan sistem basis data adalah
sebagai berikut: a. Kecepatan dan kemudahan Pemanfaatan basis data
memungkinkan kita untuk dapat menyimpan data atau melakukan
perubahan/manipulasi terhadap data atau menampilkan kembali data tersebut
dengan lebih cepat dan mudah. b. Efisiensi ruang penyimpanan Karena keterkaitan
yang erat antar kelompok data dalam sebuah basis data, maka redundansi
(pengulangan) data pasti akan selalu ada. Banyaknya redundansi ini tentu akan
memperbesar ruang penyimpanan. Basis data yang baik akan meminimalkan
terjadinya redundansi data sehingga dapat memperkecil ruang penyimpanan data.
Selain itu Basis Data tidak membutuhkan ketersediaan ruang penyimpanan
dibandingkan dengan sistem pengarsipan data secara konvensional menggunakan
lemari atau rak-rak penyimpanan. c. Keakuratan Pemanfaatan pengkodean atau
pembentukan relasi antar data bersama dengan penerapan aturan/batasan
(constraint) tipe data, domain data, keunikan data dan Bridge7 sebagainya secara
ketat, sangat berguna untuk menekan ketidakakuratan pemasukan/penyimpanan
data. d. Kelengkapan Lengkap/tidaknya data yang kita kelola dalam sebuah basis
data bersifat relatif (baik terhadap kebutuhan pemakai maupun terhadap waktu).
Bila seorang pemakai sudah menganggap bahwa data ynag dipelihara sudah
lengkap, maka pemakai lainnya belum tentu berpendapat sama atau yang sekarang
sudah dianggap lengkap, mungkin di masa mendatang belum tentu. Dalam sebuah
basis data, disamping data kita juga harus menyimpan struktur. Untuk
mengakomodasi kebutuhan kelengkapan data yang semakin berkembang, maka

kita tidak hanya dapat menambah record-record data, tetapi juga dapat melakukan
perubahan struktur dalam basis data, baik dalam penambahan objek baru (tabel)
atau penambahan field-field baru pada suatu tabel. e. Keamanan Dengan basis data
kita dapat menentukan siapa (pemakai) yang boleh menggunakan basis data
beserta objek-objek didalamnya dan menentupan jenis operasi basis data apa saja
yang bisa dilakukan. f. Kebersamaan pemakaian Basis data yang dikelola oleh
sistem multi user dapat memenuhi pemakaian oleh banyak pemakai, tetapi tetap
dapat menjaga/menghindari terhadap munculnya persoalan baru seperti
inkonsistensi data atau kondisi deadlock. Jenis Data Jenis data yang digunakan
dalam pembentukan basis data biasanya dikelompokkan menjadi dua jenis data
sebagai berikut a. Data Atribut b. Data Spasial8 a. Data Atribut Data atribut
(deskriptis), yaitu data yang terdapat pada ruang atau tempat. Atribut menjelaskan
suatu informasi. Data atribut diperoleh dari statistik, sensus, catatan lapangan dan
tabular (data yang disimpan dalam bentuk tabel) lainnya. Data atribut dapat
beruapa data kuantitatif dan kualitatif. b. Data Spasial Data spasial adalah data
yang memiliki referensi ruang kebumian (georeference) dimana berbagai data
atribut terletak dalam berbagai unit spasial. Sekarang ini data spasial menjadi
media penting untuk perencanaan pembangunan dan pengelolaan sumber daya
alam yang berkelanjutan pada cakupan wilayah continental, nasional, regional
maupun lokal. Pemanfaatan data spasial semakin meningkat setelah adanya
teknologi pemetaan digital dan pemanfaatannya pada Sistem Informasi Geografis
(SIG). Terdapat dua model dalam data spasial, yaitu model data raster dan model
data vektor. Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda, selain itu dalam
pemanfaatannya tergantung dari masukan data dan hasil akhir yang akan
dihasilkan. Model data tersebut merupakan representasi dari obyek-obyek geografi
yang terekam sehingga dapat dikenali dan diproses oleh komputer. 6. Teknologi
Informasi Teknologi informasi terdiri dari hardware dan software yang
memungkinkan terciptanya suatu sistem informasi, yang menjembatani hubungan
antara manusia dengan mesin. Dengan demikian, ketika kita berbicara jenis
komputer baik PC, Mini ataupun Mainframe serta perangkat keras pendukungnya
seperti jaringan, modem, media back-up data dan lainnya, maka kita masih ada
dalam kontek teknologi infromasi untuk hardware. Sedang ketika membahas
database dengan salah satu metoda desain seperti RDBMS menggunakan Oracle
dengan operating system Unix, atau Windows dan bahasa pemerograman seperti
Visual Basic, Cobol, Delphi dan banyak lagi, semua itu tetap masih dalam kontek
teknologi informasi dalam bidang software. Hardware Perangkat keras yang
biasanya terdapat dalam sebuah sistem informasi adalah sebagai berikut:
Komputer (satu untuk sistem stand-alone atau lebih dari satu untuk sistem
jaringan). Memori sekunder yang on-line (harddisk) Memori sekunder yang offline (Tape atau Removable disk) untuk keperluan backup data. Media/perangkat
komunikasi (untuk sistem jaringan)9 Software Perangkat lunak yang digunakan
dalam sistem informasi terdiri dari tiga bagian yaitu: a. Sistem Operasi (operating
system) Secara sederhana, Sistem Operasi merupakan program yang

mengaktifkan/memfungsikan sistem komputer, mengendalikan seluruh sumber


daya (resources) dalam komputer dan melakukan operasi-operasi dasar dalam
komputer (input/output, pengelolaan file, dll). Sejumlah sistem operasi yang banyak
digunakan seperti MS-DOS, Microsoft Windows XP, Micorosoft Windows Vista,
Microsoft Windows 7 (untuk komputer stand alone atau untuk komputer client
dalam jaringan) atau Novel-Netware, MS-Windows NT, UNIX, LINUX dan Sun-Solaris
(untuk komputer server dalam sistem jaringan). Program pengelola basis data
hanya dapat aktif(running) jika sistem operasi yang dikehendakinya telah aktif. b.
Sistem pengelola basis data (Database Management System/DBMS) Pengelolaan
basis data secara fisik tidak dilakukan oleh pemakai secara langsung, tetapi
ditangani oleh sebuah perangkat lunak (sistem) yang khusus/spesifik. Perangkat
lunak inilah yang akan menentukan bagaimana data diorganisasikan, disimpan,
diubah dan diambil kembali serta juga menerapkan mekanisme pengamanan data,
pemakaian data secara bersama, pemaksaan keakuratan/konsistensi data dan
sebagainya. Perangkat lunak yang termasuk DBMS seperti dBase, FoxBase, RBase,
MS Access dan Borland Paradox ( untuk kelas sederhana) atau Borland Interbase,
MS SQL Server, CA-Open Ingres, Oracle, Informix dan Sybase (untuk kelas
kompleks/berat). Kebutuhan akan pemilihan DBMS yang tepat untuk
pengembangan sistem basis data tergantung dari program aplikasi yang dibuat.
DBMS kelas sederhana lebih digunakan digunakan untuk sistem yang stand-alone
(pemakaian sendiri/sistem basis data pada satu komputer) yang beban/kapasitas
basis datanya lebih ringan. Untuk DBMS yang kelas kompleks/berat lebih tepat
digunakan untuk sistem multi user dan beban/kapasitas basis datanya lebih besar c.
Perangkat lunak pembangun program aplikasi (Development Tool) Development
tools digunakan oleh programmer aplikasi untuk merancang program aplikasi untuk
mewadahi seluruh proses bisnis yang dilakukan oleh sebuah organisasi, sehingga
pengguna sistem informasi dapat melakukan pengolaan, manipulasi, seleksi data
untk memperoleh informasi yang dibutuhkan.10 Ada banyak sekali perangkat lunak
yang dapat digunakan untuk membangun program aplikasi basis data, tetapi
beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan perangkat lunak
pembangun program aplikasi basis data, yaitu: Kecocokan antara DBMS dan
development tools Perangkat lunak pembangun aplikasi (development tools) yang
dipilih harus dapat menjamin tersedianya fasilitas atau perintah-perintah yang
dapat digunakan untuk berinteraksi dengan DBMS secara penuh. Sebuah DBMS
pengelola basis data yang kita miliki belum tentu dapat berinteraksi dengan semua
development tools atau ada hanya ada sebagian saja memanfaatkan kemampuan
DBMS yang sebenarnya tersedia. Jika kita menggunakan MS SQL server sebagai
DBMS maka development tools yang paling cocok adalah MS Visual Basic, jika kita
menggunakan Borland Interbase maka yang paling cocok untuk development tools
adalah Borland Delphi, dan jika kita menggunakan Oracle sebagai DBMS, maka kita
dapat menggunakan development tools apa saja, walaupun tetap yang paling cocok
adalah Oracle Development. Dukungan development tools terhadap arsitektur
sistem Tidak semua development tools cocok atau dapat digunakan pada arsitektur
sistem yang kita pilih. Memang untuk sistem stand alone, kita dapat menggunakan

development tools manapun. Tetapi tidak semuanya dapat memberi dukungan pada
sistem client server. Untuk itu, memang tidak ada jalan bagi kita selain mempelajari
lebih jauh dokumentasi dari masing-masingn development tools untuk mengetahui
secara tepat tentang dukungannya terhadap arsitektur sistem yang kita terapkan.
Independensi development tools dan DBMS (mengakomodasi open system) Kriteria
ini terasa berlawanan dengan kriteria pertama, tetapi yang ingin ditekankan adalah
antisipasi kita dalam menghadapi sebuah sistem yang memiliki sejumlah DBMS.
Idealnya, hanya ada satu macam DBMS yang kita pilih untuk mengelola berbagai
macam basis data yang kita miliki, tetapi mungkin kenyataanya tidak demikian,
sehingga development tools yang kita pilih untuk membangun program aplikasi
seharusnya bisa cocok untuk semua DBMS. Kemudahan pengembangan dan migrasi
program aplikasi Teknologi informasi senantiasa berubah, DBMS juga selalu
diperbaharui. Maka untuk menghadapi berbagai kemungkinan perkembangan itu,
kita juga seharusnya menggunakan development tools yang memberi dukungan
yang baik untuk pengembangan di masa yang akan datang. Bahkan untuk
melakukan konversi (migrasi) dari/antar format aplikasi misalnya dari form base ke
web base.11 III. Alasan Digunakannya Sistem Informasi Dalam Organisasi Berbagai
alasan digunakan organisasi dalam pemanfaatan sistem informasi, semua itu pada
hakekatnya adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas yang pada
akhirnya meningkatkan kinerja organisasi. Secara umum dapat di uraikan dalam
beberapa kelompok sebagaimana dibawah ini. - Mendayagunakan SDM Penggunaan
sistem informasi untuk mendayagunakan SDM dilakukan dengan menyediakan
informasi yang cepat dan akurat. Selain itu sistem informasi dapat memfasilitasi
SDM yang ada dengan perangkat pengolahan data yang akan memudahkan
pelaksanaan tugas. - Mendukung tugas manajemen Sistem infromasi dapat
digunakan untuk mengolah data sehingga dapat ditampilkan untuk membantu
manajemen dalam mengambil keputusan. - Mengeliminasi pemborosan
Mengeliminasi pemborosan dapat dijabarkan dalam beberapa hal seperti
mengeliminasi penggunaan waktu yang tidak produktif, menghindari pemborosan
pemakaian kertas, menghilangkan tahap pekerjaan yang tidak diperlukan dan
keterlambatan dan lain-lain. - Menstruktur ulang pekerjaan Sistem informasi
memungkinkan penyelesaian pekerjaan terjadi dimana saja dan kapan saja
pekerjaan itu harus dikerjakan. - Mengotomastisasi pekerjaan Otomastisasi
pekerjaan dimungkinkan untuk pekerjaan yang berulang dan terstruktur jelas.
Penggunaan teknologi lebih meningkatkan untuk hal-hal seperti itu akan
memberikan kualitas hasil kerja yang lebih memuaskan. - Mengintegrasikan lintas
batas fungsi dan organisasi Dengan sistem informasi memungkinkan komunikasi
antara organisasi yang berbeda tanpa perlu kunjungan fisik. Suplier dan Customer
dapat berinteraksi sebatas bisnis mereka dengan menggunakan teknologi
telekomunikasi yang tersedia. IV. Rangkuman 1. Sistem informasi dalam konteks
organisasi terdiridari komponen lingkungan organisasi, organisasi, aktifitas/proses
bisnis, sistem informasi, sistem basis data dan teknologi informasi.12 2. Sistem
informasi merupakan sebuah sistem terintegrasi atau sistem manusia-mesin, untuk
menyediakan informasi untuk mendukung operasi, manajemen dalam suatu

organisasi. Sistem ini memanfaatkan perangkat keras dan perangkat lunak


komputer, prosedur manual, model manajemen dan basis data. 3. Sistem basis data
adalah sistem yang terdiri atas kumpulan file (tabel) yang saling berhubungan
(dalam sebuah basis data di sebuah sistem computer) dan sekumpulan program
(DBMS) yang memungkinkan beberapa pemakai dan/atau program lain untuk
mengakses dan memanipulasi file-file (tabel-tabel) tersebut. 4. Sistem basis data
menjembatani hubungan antara manusia dengan mesin dalam pengelolaan,
manipulasi, seleksi data untuk menghasilkan informasi 5. Tujuan dari pembentukan
sistem basis data adalah kecepatan dan kemudahan proses data, efisiensi ruang
penyimpanan, keakuratan data, kelengkapan data, keamanan data dan
kebersamaan pemakaian. 6. Jenis data terdiri dari data atribut dan data spasial. 7.
Teknologi informasi terdiri dari perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak
(software) pembentuk sistem informasi. 8. Software sistem informasi terdiri dari
sistem operasi, sistem pengelola basis data (database management system/DBMS)
dan perangkat lunak pembangun program aplikasi (development tool). 9. Pemilihan
development tool didasarkan pada aspek kecocokan antara DBMS dan development
tool, dukungan development tool terhadap arsitektur system, independensi DBMS
dan development tool dan kemudahan pengembangan dan migrasi program
aplikasi. 10. Secara umum alasan penggunaan sistem informasi dalam organisasi
adalah mendayagunakan SDM, mendukung tugas manajemen, mengeliminasi
pemborosan, menstruktur ulang pekerjaan, mengotomatisasi pekerjaan dan
mengintegrasikan lintas batas fungsi dan organisasi. 13 C. Kegiatan Belajar Sistem
Manajemen Informasi Objek Pajak (SISMIOP) I. Tujauan Pembelajaran Dengan
mempelajari tentang Sistem Manajemen Informasi Objek Pajak diharapkan peserta
dapat mengenal dan memahami hal-hal sebagai berikut: 1. Tujuan dari
diterapkan/dibangunnya SISMIOP dalam pengelolaan basis data Pajak Bumi dan
Bangunan; 2. Komponen penyusun SIMIOP; dan 3. Mengenal arsitektur SISMIOP; 4.
Mengenal menu-menu aplikasi SISMIOP dalam menangani proses bisnis Pajak Bumi
dan Bangunan. II. Definisi dasar SISMIOP Pemanfaatan teknologi informasi dalam
pengelolaan PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) cukup dominan. Hal ini didorong oleh
kebutuhan akan pengadministrasian objek PBB yang sangat besar. Diseluruh
Indonesia saat ini terdapat sekitar 85 juta Objek Pajak (OP) dan sekitar 60% dari OP
tersebut memiliki data bangunan. Dengan demikian secara rata-rata setiap Kantor
Pelayanan PBB harus mengelola 500.000 Objek Pajak. Penggunaan Database
Management System telah menjadi hal yang tidak bisa dihindarkan dan telah
diimplementasikan dalam suatu sistem yang disebut dengan Sistem Manajemen
Informasi Objek Pajak (SISMIOP). SISMIOP merupakan suatu sistem informasi yang
terpadu yang dimaksudkan untuk mendukung penyediaan informasi yang
berhubungan dengan seluruh fungsi di dalam administrasi pada semua tingkat
organisasi pengelola PBB. SISMIOP diperuntukkan bagi kegiatan operasional dan
manajemen, pengambilan keputusan, evaluasi kerja, dan analisis kebijaksanaan
melalui aplikasi komputer yang khusus dirancang untuk kebutuhan tersebut.
SISMIOP dibangun dengan menggunakan pendekatan sistem, yaitu permasalahan
yang dihadapi ditinjau secara komperehensif dan terpadu sehingga tujuan yang

akan dicapai merupakan solusi global yang memperhatikan interaksi di antara


komponen-komponen organisasi dan juga komponen eksternal. Era sebelum
diterapkannya suatu sistem informasi (sekitar pertengahan 1980-an dan
sebelumnya) pengelolaan administrasi PBB sangat membutuhkan jumlah SDM yang
besar dan metode kerja yang kurang efektif terutama dalam penentuan nilai objek
pajak. Penambahan SDM sangat diperlukan terutama pada saat akan diterbitkannya
Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT) sehingga pada bulan-bulan tertentu
direkrut tenaga musiman. Adapun metoda penilaian objek pajak untuk
mendapatkan Nilai Jual Objek Pajak 14 (NJOP) digunakan metoda pembobotan yang
cukup sederhana sehingga nilai yang didapat kurang akurat dan hanya berlaku
untuk satu tahun pajak. Pemutakhiran NJOP akibat perkembangan wilayah yang
mengakibatkan pertumbuhan nilai ekonomi dari objek PBB yaitu tanah dan
bangunan tidak dapat diikuti karena penentuan nilai harus dilakukan satu persatu
untuk setiap objek pajak. Pola pengelolaan PBB seperti itu sangat memboroskan
tenaga, waktu dan biaya. SISMIOP merupakan sistem yang terintegrasi untuk
mengolah informasi data objek dan subjek pajak dengan bantuan komputer, sejak
pengumpulan data (dengan pendaftaran,pendataan dan penilaian), pemberian
identitas (Nomor Objek Pajak), pemrosesan, pemeliharaan, sampai dengan
pencetakan hasil keluaran berupa SPPT, STTS dan DHKP serta Pelayanan Satu
Tempat (PST). Aplikasi SISMIOP merupakan suatu aplikasi yang mengintegrasikan
seluruh proses bisnis pengelolaan administrasi PBB yang meliputi kegiatan-kegiatan
sebagai berikut: 1. Kegiatan Pendataan Hasil kegiatan pendataan ditampung dalam
suatu modul untuk merekam dan memutakhirkan seluruh produk pendataan atas
PBB yang telah dituangkan dalam SPOP dan Lampiran SPOP. Modul ini membentuk
suatu basisdata PBB yang menjadi jantung administrasi PBB. Pemanfatan Database
Management Systems memungkinkan data dipakai ulang dan dimanipulasi sesuai
tujuan organisasi. 2. Kegiatan Penilaian Kegiatan penilaian untuk kebutuhan
penetapan PBB dilakukan secara otomatis dilakukan pada modul penilaian dengan
memanfaatkan basisdata yang sudah ada dipadukan dengan perekaman data pasar
atas tanah dan daftar harga komponen bangunan dan upah pekerja. Pemutakhiran
nilai Objek Pajak dalam penentuan NJOP dapat dilakukan secara masal dan serentak
untuk seluruh Objek disesuaikan dengan dinamika pertumbuhan perekonomian
tanpa perlu penilaian ulang satu-persatu objek pajak. Sub sistem penilaian ini
berfungsi sebagaimana suatu Expert Systems sederhana yang dapat menilai
individu bangunan sesuai dengan karakteristiknya disesuikan dengan
perkembangan harga bahan dan pekerja bangunan serta tetap mempertimbangkan
penyusutan berdasarkan umur pakai dengan pemodelan tertentu. 3. Kegiatan
Penagihan Kegiatan penagihan diawali dengan otomatisasi pencetakan SPPT yang
dibantu dengan sarana highspeed printer. Hal ini merupakan untuk mengeliminir
pemborosan waktu dan tenaga serta meningkatkan akurasi data. Tahap pekerjaan
selanjutnya dalam kegiatan penagihan dilakukan secara manual dengan cara
penyampaian SPPT kepada Wajib Pajak.15 4. Kegiatan Penerimaan Kegiatan
pemantauan hasil penerimaan PBB telah diotomatisasikan dengan perekaman struk
STTS sebagai bukti pembayaran. Perekaman STTS tersebut telah ditingkatkan

efektifitas prosesnya dengan menggunakan teknologi barcode sehingga proses


tersebut cukup dengan scanning. Modul ini dapat menyajikan daftar tunggakan bagi
Wajib Pajak yang belum melaksanakan kewajibannya. Sub sistem ini meningkatkan
efektifitas penagihan dengan adanya daftar wajib pajak yang masih menunggak
yang dapat diklasifikasikan dengan keriteria tertentu seperti kategori berdasarkan
nilai pajak terutang (buku 1,2,3,4 dan 5), kategori wilayah dan lain-lain. 5. Kegiatan
Pelayanan Kegiatan pelayanan kepada wajib pajak difasilitasi dengan pencetakan
laporan ataupun surat-surat keputusan yang diotomatisasikan. Hal ini dapat
menyingkat waktu selain mengurangi terjadinya kesalahan akibat faktor-faktor
manusia. Selain itu informasi yang ada dalam database dapat diakses oleh wajib
pajak dengan pemanfaatan terminal di setiap Kantor Pelayanan PBB yang terletak di
Pelayanan Satu Tempat (PST). Dengan demikian jelas bahwa pemanfaatan sistem
informasi di lingkungan PBB bukan hanya sebagai pendukung administrasi akan
tetapi sudah menjadi strategis. Sehingga gangguan terhadap kelancaran sistem
informasi baik gangguan pada teknologi informasi yang digunakan seperti server,
jaringan, terminal atau printer ataupun SDM pendukungnya akan melumpuhkan
sebagian besar roda administrasi PBB. Sistem informasi PBB sudah berwujud
menjadi satu dengan manajemen PBB itu sendiri diseluruh aspek kegiatan
utamanya. III. Komponen SISMIOP SISMIOP merupakan sistem kompleks yang
terintegrasi dengan lingkungan sistem komputer lain di tingkat fungsional dan
jaringan. Sistem aplikasi SISMIOP terdiri dari beberapa komponen yang saling
terkait dan berhubungan satu dengan yang lain sebagai berikut: 3.1. Teknologi
Informasi Perangkat Keras (Hardware) Sistem aplikasi SISMIOP dibangun dengan
menggunakan perangkat keras dengan spesifikasi sebagai berikut: a. Processor Intel
P III 500 ; b. RAM 256 MB; c. VGA Card 32 MB; d. Hardisk minimal 10 Giga.16
Perangkat lunak 1. Sistem Operasi (Operating System) Oprating system yang
digunakan dalam menjalankan program aplikasi ini adalah standar Operating Sistem
Windows 2000/2003, 2. Sistem Pengelola Basis Data (Database Management
System/DBMS) Aplikasi SISMIOP menggunakan sistem data base DBMS yaitu Oracle
10g. Oracle menjadi pilihan utama untuk SISMIOP dengan pertimbangan: - Oracle
merupakan software database yang dipakai secara luas dan sudah dikenal handal. Oracle sangat cocok dengan berbagai macam development tools yang digunakan
oleh DJP dalam pengembangan program aplikasi, misalnya VBisual basic dan
Mapbasic. - Oracle dapat menampung basis data PBB yang berkapasitas besar. Software database Oracle merupakan software database yang menjadi standar
untuk Departemen Keuangan yang menjadi induk bagi DJP. 3. Development Tool
Program aplikasi SISMIOP dikembangkan dengan menggunakan perangkat lunak
Developer 6i dengan bahasa pemrograman adalah PL/SQL.. 3.2. Sistem Basis Data
Basis data yang digunakan oleh SISMIOP adalah basis data atribut hasil dari
kegiatan pendaftaran, pendataan dan penilaian objek pajak, dengan entitas-entitas
(tabel) antara lain sebagai berikut: 1. Tabel Objek Pajak (OP) Tabel ini dibagi menjadi
dua tabel bumi dan bangunan. Untuk tabel bumi memiliki atribut-atribut seperti
NOP, Luas, Kode ZNT, Jenis Tanah, sedangkan untuk tabel bangunan memiliki atribut
seperti NOP bangunan, jenis penggunaan bangunan (JPB), tahun dibangun, tahun

direnovasi, kondisi, konstruksi, komponen material, fasilitas, NJOP bangunan 2. Tabel


Letak Objek Pajak tabel ini memiliki atribut-atribut seperti, nama jalan, blok, kavling,
RT, RW 3. Tabel Subjek Pajak atribut untuk tabel ini antara lain, NOP, nama subjek
pajak, alamat objek pajak, pekerjaan, status subjek pajak. 4. Tabel Zona Nilai Tanah
(ZNT)17 atribut untuk tabel ini antara lain, kode kelurahan, kode ZNT, tahun pajak,
nilai indikasi rata-rata (NIR). 5. Tabel Daftar Biaya Komponen Bangunan (DBKB) 6.
Tabel Pembayaran atribut untuk tabel ini antara lain, NOP, PBB terhutang, PBB
dibayar, PBB belum dibayar, tahun pajak, tanggal bayar. 7. Tabel Penagihan atribut
untuk tabel ini antara lain, jenis tagihan, tahun pajak, tanggal terbit, pajak
terhutang, denda, tanggal jatuh tempo Keseluruhan tabel saling berhubungan dan
relasi antar tabel dihubungkan dengan NOP. Sehingga NOP selain berfungsi sebagai
identitas bidang objek pajak, juga merupakan identitas penghubung antar tabel
dalam sistem aplikasi SISMIOP. Lebih lanjut basis data SISMIOP dijelaskan dengan
gambar sebagai berikut: 3.2.1. Arsitektur Sistem Basis Data SISMIOP Arsitektur
sistem basis data SISMIOP menggunakan arsitektur 2-Tiers dimaksudkan dengan
mengembangkan sistem secara modular dengan memisahkan komponen database
dan aplikasi. Sehingga spesifikasi server SISMIOP dapat mengalami down-sizing,
yaitu Wajib Pajak Entry Data Fiskus18 spesifikasi lebih rendah sehingga harga lebih
murah dengan teknik distribusi beban kerja. Database server dan aplikasi server
dapat menggunakan fisik server satu unit, dua unit ataupun lebih dari dua. Hal ini
lebih fleksibel untuk disesuaikan dengan beban kerja KPP Pratama sesuai dengan
jumlah objek pajaknya. Aplikasi Server berfungsi mengintegrasikan aplikasi SISMIOP
dengan aplikasi pendukung lainnya seperti SIG, PIT, POS, BPHTB dan P3. Sedang
database server hanya berfungsi memelihara basisdata. Arsitektur SISMIOP dapat
digambar sebagai berikut: 3.3. Pemakai Pemakai SISMIOP adalah seluruh pegawai di
setiap KPP Pratama dengan aturan pemakaian aplikasi sebagai berikut: Setiap
Pegawai/User mendapatkan satu user account beserta password masing masing
dari seorang Administrator (OC/Operator Console). User diberikan kewenangan
masuk kedalam Aplikasi SISMIOP dan membuka menu Aplikasi SISMIOP sesuai
dengan kewenangan masing-masing pegawai.19 Kewenangan akses kedalam
basis data SISMIOP dibedakan menjadi dua, yaitu user aktif (dapat merubah isi basis
data sesuai dengan kewenangannya) dan user pasif (tidak dapat merubah isi basis
data, hanya bias melihat saja). Pendaftaran dan penghapusan user account
dilakukan oleh Administrator (OC) IV. Proses Bisnis Pajak Bumi dan Bangunan dalam
SISMIOP Seluruh aktivitas yang terjadi pada pengadministrasian data pengelolaan
Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), oleh SISMIOP ditampilkan dan disajikan dalam
menu-menu aplikasinya, sehingga seluruh pemakai aplikasi SISMIOP dapat dengan
mudah untuk melakukan operasi basis data, Pencarian data, Pengubahan data,
Penghapusan data, Pengurutan data, Penggabungan data, Pengelompokan data dan
sebagainya untuk kepentingan pengelolaan PBB. 4.1. Pendataan Proses bisnis
pendataan merupakan suatu aktivitas yang melibatkan orang, informasi dan
sumber daya lainnya untuk memperoleh data objek dan subjek pajak, serta data
lainnya di lapangan berkaitan dengan penetapan besarnya Pajak Bumi dan
Bangunan. Pendataan dilaksanakan oleh Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan

Bangunan dilakukan sekurangkurangnya untuk satu wilayah administrasi


desa/kelurahan dengan menggunakan/memilih salah satu dari 4 (empat) alternatif
sebagai berikut : Penyampaian dan pemantauan pengembalian SPOP, hanya dapat
dilaksanakan pada daerah/wilayah yang pada umumnya belum / tidak mempunyai
peta, merupakan daerah terpencil, atau mempunyai potensi PBB relatif kecil.
Identifikasi objek pajak, dilaksanakan pada daerah / wilayah yang sudah
mempunyai peta garis / peta foto yang dapat menentukan posisi relatif objek pajak
tetapi tidak mempunyai data administrasi pembukuan PBB dan merupakan hasil
pendataan lengkap tiga tahun terakhir. Verifikasi data objek pajak, dilaksanakan
pada daerah / wilayah yang sudah mempunyai peta garis / peta foto dan sudah
mempunyai data administrasi pembukuan PBB dan merupakan hasil pendataan
lengkap tiga tahun terakhir. Pengukuran bidang objek pajak, dilaksanakan pada
daerah / wilayah yang hanya mempunyai sket peta desa / kelurahan dan / atau peta
garis / peta foto tetapi belum dapat digunakan untuk menentukan posisi relatif
objek pajak. 4.1.1. Proses bisnis pendataan dalam SISMIOP Hasil kegiatan
pendataan dituangkan dalam SPOP (Surat Pemberitahuan Objek Pajak) dan
lampirannya (LSPOP) baik oleh wajib pajak sendiri ataupun oleh petugas dengan
persetujuan wajib pajak. Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap SPOP dan 20
LSPOP kemudian direkam kedalam computer oleh operator data entry. SISMIOP juga
menyediakan menu cetak laporan hasil kegiatan pendataan. Proses bisnis
pendataan, oleh SISMIOP ditampilkan dan disajikan dalam menu-menu aplikasinya
sebagai berikut: 1. Entry data Menu ini digunakan untuk memasukkan data yang
ada pada Surat Pemberitahuan Objek Pajak dan lampirannya (SPOP dan LSPOP)
hasil dari kegiatan pendataan ke dalam basis data SISMIOP. SPOP berisi informasi
berkaitan dengan data objek pajak (alamat objek pajak, luas objek pajak, jenis
penggunaan tanah) dan data subjek pajak (nama subjek pajak, alamat objek pajak,
NPWP, staus kepemilikan objek pajak, pekerjaan). Sedangkan LSPOP berisi informasi
mengenai data-data bangunan (luas, bangunan, jumlah lantai, tahun dibangun,
tahun direnovasi, kondisi bangunan, komponen material, komponen utama dan
komponen fasilitas bangunan). Menu entry data terdiri dari dua kelompok proses
yaitu perekaman SPOP dan perekaman LSPOP. Perekaman SPOP terdiri dari proses:
a. Perekaman data objek pajak b. Pemutakhiran data objek pajak c. Penghapusan
data objek pajak d. Penghapusan status objek pajak bersama Tampilan form
perekaman SPOP dapat dilihat pada gambar dibawah ini.21 Perekaman LSPOP
terdiri dari proses a. Perekaman data bangunan b. Pemutakhiran data bangunan c.
Penghapusan data bangunan d. Penilaian bangunan secara individu Tampilan form
perekaman LSPOP dapat dilihat pada gambar dibawah ini. Selain pengisian formulir
pendataan SPOP dan LSPOP, data-data lainnya yang didapatkan dari hasil kegiatan
lapangan, seperti transaksi jual beli dimasukkan ke dalam formulir perkeman data
transaksi jual beli. Tampilan form perekaman transaksi jual beli dapat dilihat pada
gambar dibawah ini.22 2. Laporan Hasil Pendataan Menu ini merupakan fasilitas
untuk mencetak data objek pajak (OP) berdasarkan SPOP dan LSPOP dan data lain
yang telah direkam ke dalam basis data SISMIOP. Menu ini juga digunakan untuk

memverifikasi kebenaran data yang telah direkam. Laporan yang dapat dicetak
meliputi: a. Data OP Rinci Laporan menampilkan data OP secara Rinci sesuai
dengan data SPOP dan LSPOP . Laporan ini dapat dicetak sampai per NOP. b.
Laporan Data OP Ringkas. Laporan ini menampilkan data OP secara Ringkas
meliputi : Nama WP, alat objek dan Subjek, Luas Tanah, Luas Bangunan, NJOP
Tanah, NJOP Bangunan dan Totol NJOP. Laporan ini dapat dicetak sampai dengan per
NOP. c. Laporan DHR (Daftar Hasil Rekaman) yang dapat dicetak berdasarkan
urutan NOP, nomor formulir, nama subjek pajak, selain itu DHR dapat dicetak per
Kabupaten/kota, kecamatan dan kelurahan, serta dapat dicetak untuk menampilkan
data OP yang telah dinilai individu per kabupaten/kota, per kecamatan dan per
kelurahan. d. Laporan Perubahan Data OP e. Laporan Daftar OP Bersama f. Laporan
Sejarah OP g. Laporan Peta Perubahan Kode Wilayah OP K ANWIL : 04 - DJP JAKARTA
SELATAN K PP P r a t a m a : 21 - K EBAYORAN B ARU SATU P ROP INSI : 31 - DKI JAK
ART A K OTA/ KAB . : 71 - JAK ART A SELAT AN = = = = = = = = = = = = = = = = =
=====================================
=====================================
=====================================
=====================================
===================================
NOP NO. FORMULIR BNG ALAMAT OB JEK PAJAK RT/ RW NAMA WAJIB PAJAK LUAS
BUMI Z NT NI LAI BU MI ( x Rp 10 00 ) NO. K TP NPWP STA. WP PEK. WP P ERSIL NIP
PET UGAS NI P OPERATOR - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - NO. FORMULIR NO. BNG JE NI S
BNG LU AS BNG JML LNT T HN B GN THN REN DAYA LI ST RI KONDISI UMUM JENI S
KONSTR JENIS AT AP JE NI S DINDING JENIS LANT AI JENIS LANGIT AC WINDOW AC
SPLI T A C CENT RAL LU AS K OLAM RENANG F INISH K OL.RNG NI LAI BANGUNAN ( x
Rp 10 00 ) NILAI I NDIVIDU NIP PET UGAS NI P OPERATOR = = = = = = = = = = = =
=====================================
=====================================
=====================================
=====================================
=====================================
= = = 0 0 1- 0 00 X.0 199 2 .0 0 56 .15 7 00 1 JL. GUNAWARMAN 07 / 0 0 4 MUALIM
P RXXXX 5 20 M 2 A A 4 ,7 5 6,90 0 3 1710 50 0 0 9XXXXXXXX 0 17 XXXXXXXXX 1PML 3 - P UR 12 0 1XXXXX 0 6 05 XXXXX 195 3 .2 120 00 1 RMH 50 0 M 2 2 19 7 8
22 0 0 BAI K BETON GT .BET BATA K ERAMIKT RIP EK 0 0 T D. ADA 0 0 8 9 5 ,8 28 0 0
6 00 XXXXX 0 6 05 XXXXX 0 0 1- 0 00 X.0 199 9 .0 0 56 .15 5 00 1 JL.
GUNAWARMAN 07 / 0 0 4 MUALIM P RXXXX 5 20 M 2 A A 3,75 6 ,9 0 0 3 1710 50 0 0
9XXXXXXXX 0 17 XXXXXXXXX 1- PML 4 - BDN 12 0 1XXXXX 0 6 05 XXXXX 195 3 .2
121 00 1 RMH 50 0 M 2 2 19 9 9 22 0 0 S. BAI K BETON GT .BET BATA MARMER AK
UISTI K 0 2 T D. ADA 0 0 1,2 9 5 ,8 28 0 0 6 00 XXXXX 0 6 05 XXXXX 0 0 1- 0 00 X.0
199 9 .0 0 56 .15 9 00 1 JL. GUNAWARMAN 07 / 0 0 4 MUALIM P RXXXX 4 00 M 2 A A

3,25 6 ,9 0 0 3 1710 50 0 0 9XXXXXXXX 0 17 XXXXXXXXX 1- PML 5 - LNY 12 0


1XXXXX 0 6 05 XXXXX 195 3 .2 125 00 1 RMH 4 5 0 M 2 2 19 7 8 19 9 2 22 0 0 BAI
K BETON GT .BET BATA K ERAMIKT RIP EK 0 0 T D. ADA 0 0 6 9 5 ,5 60 0 0 6 00
XXXXX 0 6 05 XXXXX 0 0 1- 0 00 X.0 199 7 .0 0 56 .18 7 00 1 JL. GUNAWARMAN 07 /
0 0 4 MUALIM P RXXXX 2 50 M 2 A A 4 ,4 5 6 ,9 0 0 3 1710 50 0 0 9XXXXXXXX 0 17
XXXXXXXXX 1- PML 5 - LNY 12 0 1XXXXX 0 6 05 XXXXX 195 3 .2 126 00 1 RMH 85 0
M 2 2 19 8 9 22 0 0 BAI K BETON GT .BET BATA K ERAMIKT RIP EK 0 0 T D. ADA 0 0 7
9 5 ,8 28 0 0 6 00 XXXXX 0 6 05 XXXXX 0 0 1- 0 00 X.0 199 7 .0 0 56 .19 7 00 1 JL.
GUNAWARMAN 07 / 0 0 4 MUALIM P RXXXX 3 00 M 2 A A 3,75 5 ,0 0 0 3 1710 50 0 0
9XXXXXXXX 0 17 XXXXXXXXX 1- PML 3 - P UR 12 0 1XXXXX 0 6 05 XXXXX 195 3 .2
127 00 1 RMH 25 0 M 2 2 20 0 2 22 0 0 BAI K BETON GT .BET BATA K ERAMIKT RIP
EK 0 0 T D. ADA 0 0 8 4 5 ,8 28 0 0 6 00 XXXXX 0 6 05 XXXXX 0 0 1- 0 0XX.0 199 7 .
0 0 56 .15 2 00 1 JL. GUNAWARMAN 07 / 0 0 4 MUALIM P RXXXX 6 00 M 2 A A 5,75
6 ,9 0 0 3 1710 50 0 0 9XXXXXXXX 0 17 XXXXXXXXX 1- PML 5 - LNY 12 0 1XXXXX 0
6 05 XXXXX 195 3 .2 129 00 1 RMH 4 2 5 M 2 2 20 0 1 33 0 0 S. BAI K BETON GT
.BET BATA MARMER GYB SUM 0 2 T D. ADA 0 0 2 ,8 9 5 ,8 28 0 0 6 00 XXXXX 0 6 05
XXXXX 0 0 1- 0 0XX.0 199 7 .0 0 56 .15 3 00 1 JL. GUNAWARMAN 07 / 0 0 4 MUALIM
P RXXXX 2 00 M 2 A A 1,2 56 ,90 0 3 1710 50 0 0 9XXXXXXXX 0 17 XXXXXXXXX 1PML 3 - P UR 12 0 1XXXXX 0 6 05 XXXXX 195 3 .2 130 00 1 RMH 15 6 M 2 2 19 7 8
22 0 0 SEDANG BETON GT .BET BATA K ERAMIKT RIP EK 0 0 T D. ADA 0 0 5 6 2 ,0 00
0 0 6 00 XXXXX 0 6 05 XXXXX LAPORAN HASIL SURVEY LAP ANGAN OLEH P ETUGAS
DAF TAR HASIL REK AMAN DATA T ANAH DAN B ANGU NAN URUT NOMOR OBJEK
PAJAK ( Sem u a Ob j ek T er d af t a r )23 h. Rekapitulasi Peta Desa / Kelurahan i.
Laporan Daftar NOP Belum Digunakan Laporan ini menampilkan Nomor Objek Pajak
yang tidak boleh digunakan kembali, yaitu NOP Objek Pajak tetapi objek pajaknya
sudah dihapus j. Daftar Formulir Transaksi k. Datar OP Ringkas Pelengkap Peta Blok
Menampilkan Data-data OP yang terdapat dalam satu blok tertentu, data-data
tersebut meliputi NOP, nama WP, Alamat Objek Pajak, Alamat Subjek Pajak, ZNT,
Luas Bumi dan Bangunan, data-data tersebut disusun per blok per kelurahan. l.
Laporan Daftar Relasi NOP KTP / NOPPEN Menampilkan data-data hubungan antara
identitas subjek pajak dengan identitas objek pajak yang menggambarkan satu
wajib pajak memiliki satu atau beberapa abjek pajak, data yang ditampilkan :
Nomor KTP Nama dan alamat WP NOP dan alamat OP yang dimiliki NJOP dan
NJOPTKP masing-masing NOP m. Rekap Objek Pajak Menampilkan data rekapitulasi
objek pajak per Kelurahan, dan di himpun per kecamatan data tersebut meliputi :
Kode dan Nama Kelurahan Jumlah Objek Tanah dan Objek Bangunan Luas Tanah
dan Luas Bangunan NJOP Bumi dan NJOP Bangunan Jumlah SPPT / th Pajak PBB
Terhutang / PBB yang harus di bayar Jumlah SPPT yang sudah lunas dan belum
lunas Jumlah SPPT yang telah jatuh tempo Pembayaran SPPT dan tunggakan
SPPT n. Daftar OP yang dapat dikelompokkan per JPB, kelas, desa/kelurahan, group
ketetapan24 4.2. Penilaian dan Penetapan 4.2.1. Penilaian Penilaian adalah Kegiatan
Direktorat Jenderal Pajak untuk menentukan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang akan
dijadikan dasar pengenaan pajak, dengan menggunakan pendekatan data pasar,

pendekatan biaya, dan pendekatan kapitalisasi pendapatan. 4.2.2. Proses bisnis


penilaian dalam SISMIOP Hasil kegiatan pendaftaran dan pendataan dituangkan
dalam SPOP dan LSPOP, data-data yang terdapat pada SPOP dan LSPOP digunakan
dalam proses penilaian untuk menentukan besarnya nilai bumi dan bangunan.
Proses bisnis penilaian, oleh SISMIOP ditampilkan dan disajikan dalam menu-menu
aplikasinya sebagai berikut: 1. Pembuatan ZNT Hasil dari kegiatan analisis ZNT/NIR
dituangkan dalam formulir pemutakhiran ZNT (berisi kode ZNT dan NIRnya) yang
dibuat per kelurahan dan per tahun dan selanjutnya direkam ke dalam basis data
SISMIOP melalui menu perekaman. Tampilan formulir perekaman ZNT/NIR 2.
Pembuatan Daftar Biaya Komponen Bangunan (DBKB) Hasil kegiatan pengumpulan
harga resources material dan upah pekerja direkam kedalam basis data SISMIOP
melalui menu perekaman harga bahan dan upah dan selanjutnya dilakukan
penghitungan tabel DBKB (komponen utama, komponen material dan komponen
fasilitas). Tampilan formulir perekaman DBKB fasilitas.25 3. Penilaian massal
Penilaian missal adalah proses penilaian yang dilakukan secara massal dengan
bantuan Komputer dengan satuan per Kelurahan/per Kecamatan/ per Dati II, atau
seluruh secara bersama-sama. Proses ini akan mengupdate nilai tanah dan
bangunan. Hal-hal yang harus dilakukan sebelum proses penilaian massal. a.
Update Data Harga Bahan dan Upah serta hitung DBKB Standar dan Material b.
Update Data Fasilitas c. Update DBKB Non Standard d. Update NIR. Setiap ada
perubahan Data-data tersebut (ad) harus dilakukan penilaian ulang. Menu ini
digunakan untuk : memproses Penilaian Massal. Penetapan NJOPTKP Massal.26 4.
Mencetak laporan penilaian Pencetakan laporan penilaian adalah merupakan proses
yang digunakan untuk mencetak laporan hasil penilaian pada satu kelurahan.
Laporan yang dapat dicetak pada proses ini terdiri atas : 1. Daftar OP dengan nilai
individu, yaitu laporan yang menampilkan daftar objek pajak yang memiliki nilai
individu untuk wilayah kelurahan tertentu. 2. Rincian perhitungan penilaian, yaitu
laporan yang menampilkan daftar ringkas objek pajak. Data ini ditampilkan
berdasarkan SPOP/LSPOP yang telah diinput. 3. Laporan Transaksi Jual Beli, yaitu
laporan yang berisi informasi suatu transaksi yang terjadi di pasar. Data ditampilkan
per kelurahan dengan nilai tanah dan nilai bangunan yang terjadi di pasar. 4. Surat
Keputusan Kepala Kantor Wilayah DJP tentang klasifikasi dan besarnya NJOP sebagai
dasar pengenaan PBB di wilayah Kantor Wilayah DJP setempat 4.2.3. Penetapan
Penetapan merupakan proses kegiatan penatausahaan penetapan PBB yang
meliputi perhitungan besarnya Pajak Bumi dan Bangunan yang terhutang dan
penatausahaannya dalam rangka penerbitan SPPT, SKP dan STP serta
penyampaiannya kepada Wajib Pajak. Dasar penetapan pajak terhutang adalah nilai
jual tertentu atas bangunan yang tidak dihitung. 4.2.4. Proses bisnis penetapan
dalam SISMIOP Proses penetapan bertujuan untuk menentukan besarnya PBB
terhutang, hasil akhir proses ini adalah SPPT, SKP dan STP. Proses penetapan dalam
SISMIOP dapat dilakukan secara massal ataupun terseleksi. Dalam SISMIOP juga
disajikan menu berkaitan dengan proses penetapan antara lain informasi rinci SPPT,
informasi rinci SKP, Informasi mengenai daftar PBB yang lebih/kurang bayar dan
proses penundaan tanggal jatuh tempo PBB. menu- menu aplikasi SISMIOP sebagai

berikut: 1. Penetapan dan pencetakan massal Penetapan Massal digunakan untuk


menetapkan Nilai pajak bumi dan bangunan, perhitungan massal objek pajak dan
untuk mendapatkan nilai pajak bumi yang harus dibayarkan. Dalam hal ini
pengisian tanggal terbit dan tanggal jatuh tempo untuk semua nop yang terdapat
pada satu kelurahan adalah sama. Hasil dari penetapan massal ini kemudian dapat
dilakukan pencetakan massal per kelurahan. Dalam hal ini yang dicetak adalah
SPPT, STTS dan DHKP secara massal. Memonitor setiap perubahan SPPT / STTS /
DHKP untuk tiap kelurahan dalam satu periode tertentu dengan objek pajak
berbeda. Tapi mempunyai tanggal terbit dan tanggal 27 jatuh tempo yang sama.
Pencetakan SPPT / STTS / DHKP dilakukan secara massal yang ditentukan oleh
Direktorat Jenderal Pajak, untuk menetapkan besarnya pembayaran pajak terhutang
yang dibuat per Desa / Kelurahan. Dan dijadikan sebagai bukti atas pembayaran
Pajak Bumi dan Bangunan Terhutang. Pada proses penetapan dan pencetakan
massal terdapat dua proses yang berjalan yaitu Proses Penetapan Massal dan Cetak
Massal. Cetak Masal adalah proses yang digunakan untuk mencetak SPPT / STTS /
DHKP secara massal dengan mengambil data yang sudah ada di database. Tampilan
SPPT dan DHKP Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT)28 Daftar Himpunan
Ketetapan Pajak (DHKP) 2. Penetapan dan pencetakan terseleksi. Menetapkan
setiap perubahan SPPT / STTS per blok atau per NOP, untuk tiap kelurahan dalam
satu periode tertentu dengan objek pajak berbeda. Tapi mempunyai tanggal terbit
dan tanggal jatuh tempo yang sama. Pencetakan SPPT / STTS dilakukan secara
terseleksi yang ditentukan oleh KPPBB untuk menetapkan besarnya pembayaran
pajak terhutang yang dibuat per Blok / NOP. Dan dijadikan sebagai bukti atas
pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan Terhutang. Pada dasarnya Penetapan dan
Pencetakan Terseleksi hampir sama dengan proses Penetapan dan Pencetakan
massal, hanya bedanya pada penetapan dan pencetakan terseleksi dapat dilakukan
per blok atau per nop. Penetapan Terseleksi digunakan untuk menetapkan Nilai
pajak bumi dan bangunan, perhitungan objek pajak dan untuk mendapatkan nilai
pajak bumi yang harus dibayarkan. Hasil dari penetapan terseleksi ini kemudian
dapat dilakukan pencetakan per Blok atau per NOP. Dalam hal ini yang dicetak
adalah SPPT dan STTS secara terseleksi. H a l a m a n 2 d a r i 4 TEMP AT P EMB
AYARAN : B ANK XXXX P ROPI NSI : 3 1 - DK I JAK ARTA KECAMATAN : 0 5 0 - K
EBAYORAN BARU DATI II : 7 1 - JAKARTA SELATAN KELU RAH AN : 0 0 9 - RAWA B
ARAT = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
=====================================
=====================================
=====================================
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = N OMOR NOP
NOMOR N AMA WAJIB P AJAK ALAMAT OBJEK P AJAK P AJAK TERH U TAN G P ERU B AH
AN TANGGAL INDU K WAJIB PAJAK P AJAK B AYAR = = = = = = = = = = = = = = =
=====================================
=====================================
=====================================
=====================================

= = = = = = = = = = = = = 1 0 0 1. 0 0 XX- 0 ALEXANDER M D XX JL. GU


NAWARMAN XX 5 ,19 8 ,0 5 0 JL. JERU K P U RU T XX 2 0 0 1. 0 0 XX- 0 JL. GU
NAWARMAN XX 6 ,18 7 ,0 2 0 JL. JERU K P U RU T XX 3 0 0 1. 0 0 XX- 0 JL. CIP AYU
NG XX/ XX 3 5 8 ,0 4 0 JL. CIP AYU NG XX/ XX 4 0 0 1. 0 0 XX- 0 JL. CIP AYU NG XX/
XX 12 3 ,4 5 0 JL. CIP AYU NG XX/ XX 5 0 0 1. 0 0 XX- 0 JL. CIP AYU NG XX/ XX 2 5 6 ,
8 7 5 JL. CIP AYU NG XX/ XX 6 0 0 1. 0 0 XX- 0 JL. CIP AYU NG XX/ XX 12 5 ,8 8 5 JL.
SU KARWAN GI XX 7 0 0 1. 0 0 XX- 0 JL. CIP AYU NG XX/ XX 3 5 6 ,0 5 0 JL. JERU K P U
RU T XX 8 0 0 1. 0 0 XX- 0 JL. CIP AYU NG XX/ XX 8 5 0 ,2 2 5 JL. JERU K P U RU T XX
9 0 0 1. 0 XXX- 0 JL. CIP AYU NG XX/ XX 7 5 5 ,2 6 5 JL. JERU K P U RU T XX 10 0 0 1.
0 XXX- 0 JL. GU NAWARMAN XX 5 ,6 3 2 ,0 5 0 JL. JERU K P U RU T XX DAFTAR H I MP
U NAN KETETAP AN PAJAK & PEMBAYARAN B U KU 1,2 ,3 ,4 ,5 TAH U N 2 0 XX29 3.
Informasi rinci SPPT Menampilkan informasi data secara rinci dari SPPT atas satu
nop tertentu dan ditampilkan pada layar. 4. Informasi rinci SKP Menampilkan semua
data secara rinci dari SKP terhadap SPOP atas satu nop tertentu dan ditampilkan di
layar. 30 5. Daftar PBB lebih atau kurang bayar Untuk mengetahui Informasi selisih
Pembayaran dari Wajib Pajak yang datanya bisa diurut berdasarkan NOP, Letak
Objek Pajak, Nama Wajib Pajak, Tahun Pajak, dan PBB yang harus dibayar. 6.
Penundaan tanggal jatuh tempo Proses ini digunakan untuk menginput persetujuan
penundaan Tanggal Jatuh Tempo atas SPPT atau SKP SPOP berdasarkan pengajuan
permohonan dari wajib pajak untuk satu tahun pajak tertentu. 31 4.3. Penagihan
Penagihan adalah kegiatan penagihan pajak yang dilakukan oleh DJP, terhadap
pajak yang belum dibayarkan setelah lewat jatuh tempo. 4.3.1. Proses bisnis
penagihan dalam SISMIOP Kegiatan penagihan dimulai dengan pencetakan daftar
tunggakan PBB untuk selanjutnya diterbitkan surat himbauan kepada wajib pajak
yang ada pada daftar tunggakan. Proses bisnis penagihan, oleh SISMIOP ditampilkan
dan disajikan dalam menu-menu aplikasinya sebagai berikut: 1. Mencetak daftar
tunggakan Adalah merupakan proses yang digunakan untuk mencetak daftar
tunggakan pembayaran PBB. Tampilan form Daftar Tunggakan :32 2. Pengeluaran
himbauan Adalah proses yang digunakan untuk mencetak daftar pengeluaran
himbauan serta mencetak surat himbauan.. Tampilan form cetak himbauan : 4.4.
Penerimaan/Pembayaran Pembayaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh wajib
pajak untuk melunasi besarnya pajak yang terhutang sebelum jatuh tempo melalui
bank tempat pembayaran. Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dapat
dilakukan secara langsung atau secara kolektif, yaitu : 1. Wajib pajak melakukan
pembayaran langsung Pajak Bumi dan Bangunan terhutang ke Tempat Pembayaran
yang ditunjuk sebagaimana tercantum dalam SPPT / SKP / STP. Pembayaran dengan
menggunakan Cek Bank / Giro Bilyet Bank baru dianggap sah apabila telah
dilakukan kliring. Setelah melakukan pembayaran Wajib Pajak akan menerima Surat
Tanda Terima Setoran (STTS) sebagai bukti telah melunasi pembayaran Pajak Bumi
dan Bangunan. 2. Wajib Pajak melakukan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan
melalui Petugas Pemungut. Dikarenakan tempat tinggal wajib pajak jauh atau sulit
sarana dan prasarananya dari Tempat Pembayaran yang ditunjuk. Petugas
Pemungut akan membayarkan setoran dari wajib pajak ke Bank / Kantor Pos dan
Giro (KPG) Tempat Pembayaran. Wajib pajak akan menerima Tanda Terima

Sementara (TTS) dari petugas pemungut sebagai bukti penerimaan sementara. Dan
menerima STTS sebagai bukti pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan yang sah dari
tempat pembayaran melalui petugas pemungut sebagai pengganti TTS.33 4.4.1.
Proses bisnis penerimaan/pembayaran dalam SISMIOP Dalam SISMIOP proses bisnis
penerimaan/pembayaran dilakukan dengan merekam/mencatat STTS kedalam
aplikasi SISMIOP. Menu-menu aplikasi SISMIOP adalah sebagai berikut: 1. Pencatatan
pembayaran secara tunggal Adalah proses yang digunakan untuk merekam
pembayaran berdasarkan Surat Tanda Terima Setoran (STTS) dengan cara: a. Proses
Manual dengan memasukkan atau mengentrykan secara manual Tanggal Bayar,
NOP, Tahun Pajak, Angka Kontrol dan Besarnya PBB yang dibayarkan untuk
merekam pembayaran berdasarkan STTS yang diterima. b. Proses Barcode.
Tampilan Form Pencatatan Pembayaran Tunggal dapat dilihat pada gambar dibawah
ini : 2. Pencatatan massal Adalah proses yang digunakan untuk input besarnya nilai
pembayaran dalam satu kelurahan didasarkan atas pencapaian total hutang pajak
yang telah dilunasi untuk satu kelurahan Tampilan Form Pencatatan Massal dapat
dilihat pada gambar dibawah ini:34 4.5. Keberatan dan Pengurangan 4.5.1.
Keberatan Terhadap Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT) dan Surat
Ketetapan Pajak,(SKP) wajib pajak dapat mengajukan keberatan. Keberatan dapat
diajukan terhadap besarnya pajak yang terhutang, luas bumi, luas bangunan,
besarnya NJOP bumi dan NJOP bangunan yang ada pada SPPT dan SKP. 4.5.2. Proses
bisnis keberatan dalam SISMIOP Proses bisnis keberatan dimulai dari wajib pajak
mengajukan permohonan keberatan melalui pelayanan satu tempat (PST),
kemudian oleh PST permohonan tersebut dikirim ke bagian terkait untuk diteliti
(kantor dan lapangan) untuk kemudian diterbitkan Surat Keputusan atas Keberatan
PBB. Proses bisnis keberatan, oleh SISMIOP ditampilkan dan disajikan dalam menumenu aplikasinya sebagai berikut: 1. Input Surat Keputusan Atas Keberatan PBB
Adalah Proses yang digunakan untuk : 1. Perekaman parameter isian SK Keberatan.
2. Pemutakhiran parameter isian SK Keberatan. Tampilan Form Input SK atas
Keberatan PBB :35 2. Mencetak SK Keberatan Mencetak SK Keberatan adalah Proses
untuk mencetak SK Keberatan atas permohonan Keberatan Penunjukan Wajib Pajak
atau Keberatan atas Pajak Terhutang berdasarkan nomor pelayanan dan NOP
tertentu. Tampilan pencetakan SK Keberatan adalah sebagai berikut: 3. Laporan
Daftar Himpunan Keputusan Keberatan Adalah Proses yang digunakan untuk : 1.
Pencetakan Laporan Daftar Himpunan Keputusan Keberatan PBB. 2. Melihat data
Laporan Himpunan Keputusan Keberatan PBB. Tampilan Form Laporan Daftar
Himpunan Keputusan Keberatan PBB dapat dilihat pada gambar dibawah ini :36
4.5.3. Pengurangan Permohonan Pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan dapat
diajukan oleh wajib pajak terhadap SPPT atau SKP karena hal-hal sebagai berikut:
(a) Karena kondisi tertentu objek pajak yang ada hubungannya dengan subjek pajak
dan / atau karena sebab sebab tertentu lainnya; (a) Karena objek kena pajak
terkena bencana alam atau sebab lain yang luar biasa. Pengurangan atas Pajak
Bumi dan Bangunan diberikan atas pajak terhutang yang tercantum dalam SPPT
dan / atau SKP. Jenis Pengurangan adalah sebagai berikut:: Pengurangan SPPT

merupakan pengajuan pengurangan terhadap SPPT. Pengurangan Denda


Administrasi merupakan pengajuan pengurangan pembayaran terhadap Denda
Administrasi. Pengurangan SKP SPOP merupakan pengajuan pengurangan
terhadap pengurangan SKP karena belum mengembalikan SPOP. Pengurangan SKP
KB merupakan pengajuan pengurangan terhadap pengurangan SKP terhadap SKP
KB. 4.5.4. Proses bisnis pengurangan dalam SISMIOP Proses bisnis pengurangan
dimulai dari wajib pajak mengajukan permohonan pengurangan melalui pelayanan
satu tempat (PST), kemudian oleh PST permohonan tersebut dikirim ke bagian
terkait untuk diteliti (kantor dan lapangan) untuk kemudian diterbitkan Surat
Keputusan atas pengurangan PBB. Proses bisnis pengurangan, oleh SISMIOP
ditampilkan dan disajikan dalam menu-menu aplikasinya sebagai berikut: 1. Input
Data Pengurangan Adalah proses yang digunakan untuk : a. Perekaman
Pengurangan Permanen. b. Pemutakhiran Pengurangan Permanen. c. Perekaman
Pengurangan PST / sebelum SPPT. d. Pemutakhiran Pengurangan PST / sebelum
SPPT. e. Perekaman Pengurangan Pengenaan JPB. f. Pemutakhiran Pengurangan
Pengenaan JPB. g. Perekaman Pengurangan Denda Administrasi. h. Pemutakhiran
Pengurangan Denda Administrasi. Tampilan Form Input Data Pengurangan. Seperti
pada tampilan dibawah ini :37 Tampilan Form Jenis Pengurangan, seperti pada
tampilan di bawah ini 2. Form Input Data Pengurangan Permanen. Pengurangan
Permanen merupakan Pengurangan yang diberikan kepada Wajib Pajak secara tetap
pada jangka waktu tertentu. Tampilan Form Input Data Pengurangan dapat dilihat
pada gambar dibawah ini :38 3. Form Input Data Pengurangan PST / Sebelum SPPT.
Pada Input data pengurangan ini terdapat dua proses yang terjadi yaitu : a. Input
Data Pengurangan PST merupakan pengurangan yang diajukan setelah Cetak
Massal oleh Individu atau Kolektif sesuai dengan parameter Status Permohonan dan
Persentase Pengurangan disetujui. Tampilan Form Input Data Pengurangan PST
dapat dilihat pada gambar dibawah ini : Input Data Pengurangan sebelum SPPT
merupakan pengajuan pengurangan oleh b. Input Data Pengurangan sebelum SPPT
adalah pengurangan yang diajukan oleh Wajib Pajak secara perorangan / kolektif
(Legion Veteran) sebelum proses Cetak Massal sesuai dengan parameter Status
Permohonan dan Persentase Pengurangan disetujui. Tampilan Form Input Data
Pengurangan Sebelum SPPT dapat dilihat pada gambar dibawah ini:39 4. Form Input
Data Pengurangan Pengenaan JPB. Input Data Pengurangan Pengenaan JPB
merupakan Pengajuan Pengurangan terhadap JPB tertentu yaitu Rumah Sakit dan
Universitas. Tampilan Form Input Data Pengurangan Pengenaan JPB dapat dilihat
pada gambar dibawah ini : 5. Form Input Data Pengurangan Atas Denda
Administrasi. Input Data Pengurangan atas Denda Administrasi merupakan
pengajuan Pengurangan pembayaran terhadap denda administrasi atas
permohonan Wajib Pajak. Tampilan Form Input Data Pengurangan Atas Denda
Administrasi dapat dilihat pada gambar dibawah ini: 6. Cetak SK Pengurangan
Adalah proses yang digunakan untuk pencetakan SK Pengurangan. Tampilan Form
Cetak SK Pengurangan sebelum SPPT dapat dilihat pada gambar dibawah ini :40 7.
Buku Penjagaan Penyelesaian Permohonan Pengurangan Adalah proses yang

digunakan untuk pencetakan buku penjagaan penyelesaian permohonan


pengurangan. Tampilan Form Buku Penjagaan Penyelesaian Permohonan
Pengurangan dapat dilihat pada gambar dibawah ini : 4.6. Pelayanan Pelayanan
Satu Tempat juga merupakan kegiatan pelayanan terhadap semua jenis layanan
yang berhubungan dengan permasalahan Pajak Bumi dan Bangunan. Untuk
Pelayanan Satu tempat terdapat 13 jenis pelayanan, yaitu : a. Pendaftaran data
baru objek pajak adalah pendaftaran objek pajak baru, baik dilakukan oleh wajib
pajak sendiri maupun dikarenakan pendataan ulang oleh petugas Pendataan. b.
Mutasi Objek / Subjek pajak adalah pendaftaran ulang objek pajak dikarenakan
adanya perubahan yang disebabkan oleh perubahan luas baik tanah maupun
bangunan, perubahan spesifikasi tanah maupun bangunan serta adanya mutasi
objek pajak. c. Pembetulan SPPT/SKP adalah pendaftaran permohonan pembetulan
sppt/skp karena salah nama, salah alamat, salah hitung, dan salah zona nilai tanah.
d. Pembatalan SPPT/SKP adalah pendaftaran permohonan pembatalan sppt/skp. e.
Salinan SPPT/SKP adalah pendaftaran permohonan wajib pajak atas salinan
SPPT/SKP. f. Keberatan penunjukan WP adalah Pendaftaran permohonan atas
kesalahan penunjuk Wajib pajak.41 g. Keberatan atas pajak terhutang adalah
pendaftaran permohonan keberatan atas pajak terhutang. Keberatan atas pajak
terhutang terjadi karena kesalahan menghitung luas bumi atau/dan bangunan h.
Pengurangan Atas Besarnya Pajak Terhutang adalah pendaftaran permohonan
pengurangan pajak terhutang oleh wajib pajak. Permohonan tersebut terjadi akibat
bencana alam/hama tanaman/hal-hal lain yang luar biasa dan berfungsi massa. i. R
e s t i t u s i adalah pendaftaran permohonan pengenbalian kelebihan pajak yang
dikeluarkan/dibayar oleh wajib pajak. j. Kompensasi adalah pendaftaran
permohanan pengembalian kelebihan pajak yang dikeluarkan/dibayar oleh wajib
pajak. Kelebihan pajak tersebut tidak dikembalikan, tapi ditransfer ke pembayaran
ak NOP lain. k. Pengurangan denda administrasi adalah pendaftaran permohonan
pengurangan denda terjadi akibat ketidak mampuan wajib pajak. l. Penentuan
kembali Tanggal Jatuh Tempo adalah pendaftaran permohonan penentuan kembali
tanggal jatuh tempo. m. Pembatalan Tanggal Jatuh Tempo. 4.6.1. Proses bisnis
pelayanan dalam SISMIOP Proses bisnis pelayanan dimulai dari penerimaan berkas
permohonan dari wajib pajak, mencatat dan merekam berkas permohonan,
mencetak tanda terima permohonan, mendistribusikan kepada seksi terkait dengan
permohonan wajib pajak dan menerima hasil keluaran dari seksi terkait untuk
disampaikan kepada wajib pajak. Proses bisnis pelayanan, oleh SISMIOP ditampilkan
dan disajikan dalam menu-menu aplikasinya sebagai berikut: 1. Input data
pelayanan Proses Input Data Pelayanan terdiri dari dua kelompok proses yaitu Data
Pelayanan Non Kolektif dan Data Pelayanan Kolektif. Data Pelayanan Non Kolektif /
Kolektif terdiri dari Proses : a. Perekaman data permohonan pelayanan WajibPajak
secara perorangan / Kolektif. b. Pemutakhiran data pendaftaran pelayanan
WajibPajak secara perorangan / Kolektif. c. Pendataan data permohonan pelayanan
WajibPajak secara perorangan / Kolektif. Tampilan Form Input Data Pelayanan,
seperti gambar di bawah ini42 Tampilan Form Status Pelayanan Tampilan Form Jenis

Pelayanan 2. Pencetakan tanda terima permohonan pelayan Cetak Tanda Terima ini
adalah merupakan proses yang berfungsi untuk mencetak tanda terima
perseorangan yang diserahkan ke pemohon sebagai tanda bukti telah mengajukan
permohonan sebagai salah satu kegiatan pelayanan terhadap semua jenis layanan
yang berhubungan dengan permasalahan pajak bumi dan bangunan.43 Tampilan
Form Pencetakan Tanda Terima Output pencetakan tanda terima permohonan
pelayanan 3. Input kirim berkas pelayanan Proses distribusi berkas permohonan
pelayanan antar seksi yang satu dengan seksi lainnya. Berkas permohonan yang
ditampilkan adalah berkas yang statusnya ada di seksi Operator yang Log in ke
Aplikasi Sismiop. Misalnya si A dari seksi PST maka data data berkas yang
ditampilkan adalah seluruh berkas yang ada di PST yang belum dipindahkan ke
seksi lainnya. Proses Input Kirim Berkas terdiri dari : 1. Perekaman data berkas
Permohonan pelayanan yang akan dikirim ke seksi lain. 2. Pemutakhiran data
berkas permohonan pelayanan yang akan dikirim ke seksi lain. 3. Pencetakan
blanko berkas permohonan pelayanan yang akan dikirim ke seksi lain. Tampilan
Form Kirim Berkas Pelayanan44 Output Kirim Berkas Pelayanan 4. Monitoring berkas
pelayanan Proses untuk mengetahui / memonitor posisi berkas pelayanan terakhir
ada pada seksi apa, berdasarkan nomor pelayanan tertentu. Tampilan Form
Monitoring Berkas Pelayanan45 5. Monitoring berkas permohonan yang
belum/sudah selesai Proses untuk memonitoring / mengetahui posisi Berkas
Pelayanan yang selesai diproses atau yang sedang diproses, berdasarkan nomor
pelayanan tertentu. Tampilan Form Monitoring Berkas Permohonan Yang
Belum/Sudah Selesai 6. Cetak file keluaran Proses ini digunakan untuk mencetak
spool keluaran data yang dihasilkan dari kegiatan input data SPPT, STTS, DHKP,
Keberatan, Pembetulan Keberatan, Pengurangan, Pengurangan Kolektif, Lampiran
SK Kolektif, Pembetulan, Lampiran SK Pembetulan, Pembatalan, Lampiran SK
Pembatalan, SKKPP, SPMKP serta Pembatalan SPMKP. Tampilan Form Cetak
Keluaran46 Output Cetak Keluaran V. Aplikasi Pendukung SISMIOP 5.1. Layanan
Pembayaran PBB Melalui Fasilitas Payment Online System Payment online system
merupakan sistem pembayaran elektronis yang memberikan kemudahan kepada
wajib pajak dalam melakukan pembayaran PBB, karena dapat dilakukan kapan saja
dan tidak perlu mendatangi bank tempat pembayaran. Wajib pajak dapat
menggunakan fasilitas pembayaran melalui chanel SMS Bankking, ATM, Phone
Bankking, Teller dan Internet Bankking. Bank yang sudah bekerja sama dalam
layanan payment online system ini adalah BCA, BNI, Bank Mandiri, Bank Bumi
Putera, Bank Bukopin, BPD Jatim, Bank DKI, Bank Nusantara Parahiyangan Secara
umum pembayaran PBB melalui fasilitas perbankan elektronik memiliki kelebihan
sebagai berikut: 1. dari sisi pelayanan kepada Wajib Pajak: a. waktu pelayanan
pembayaran lebih lama, yaitu selama 24 jam penuh termasuk pada hari libur;47 b.
dapat dibayarkan melalui ATM di seluruh Indonesia yang jumlahnya cukup banyak;
c. Wajib Pajak dapat membayar PBB lebih nyaman dan fleksibel sejalan dengan
aktivitas Wajib Pajak, dan lain-lain; d. struk ATM diakui sebagai bukti pembayaran
yang sah dan sebagai pengganti STTS. 2. dari sisi adminitrasi: a. komunikasi data
pembayaran menggunakan jaringan real time on line, sehingga dapat menyajikan

data pembayaran secara cepat dan akurat; b. proses rekonsiliasi pembayaran


dilakukan secara cepat dan terpusat, yaitu secara harian; c. pelaporan dilakukan
melalui sistem, baik pelaporan dari pihak Bank ke DJP maupun dari DJP ke KPP; 5.2.
Layanan Informasi PBB melalui telepon bebas pulsa (Toll Free Number) dan faksimili,
serta SMS melalui handphone Layanan informasi PBB ini merupakan salah satu
sistem aplikasi pendukung SISMIOP yang berfungsi untuk memberikan kemudahan
pelayanan kepada Wajib Pajak terutama yang berkaitan dengan informasi atas
Obyek Pajak yang dimiliki Wajib pajak yang bersangkutan melalui telepon bebas
pulsa (Toll Free Number) dan faksimili, serta SMS melalui handphone. Informasi yang
dapat disajikan melalui layanan ini antara lain informasi jumlah ketetapan PBB
terhutang, status pembayaran, informasi obyek PBB seperti luas tanah, luas
bangunan, kelas tanah dan bangunan dan informasi lainnya. Dalam hal wajib pajak
belum mendapatkan SPPT maka wajib pajak tersebut dapat menggunakan mesin
fax untuk menadapatkan salinan SPPT dan membayarnya ke Bank terdekat.
Layanan pengaduan / complain PBB melalui telepon bebas pulsa secara langsung
(agen/operator call center). SERVER VOICE & SMS CENTRE SERVER SISMIOP
JARINGAN TELEPON48 Layanan ini dibangun untuk meningkatkan akses wajib pajak
atau masyarakat terhadap jasa-jasa layanan publik pemerintah, meningkatkan
akses wajib pajak atau masyarakat ke sumber-sumber informasi yang dimiliki
pemerintah menangani keluhan masyarakat, dan juga persamaan kualitas layanan
yang bisa dinikmati oleh seluruh warga negara. Tampilan Computer Agent Call
Center49 VI. Kebijakan Keamanan Informasi Teknologi ( IT Security Policy) SISMIOP
6.1 Keamanan Informasi Teknologi Keamanan dapat didefinisikan sebagai "keadaan
yang bebas dari risiko yang tidak dapat diterima". Risiko ini menyangkut kerugian
yang dapat kita kategorikan sebagai berikut: a. Kerahasiaan informasi, berkaitan
dengan kerahasiaan wajib pajak b. Integritas data, berkaitan dengan keakuratan
data karena akan berpengaruh pada besarnya pajak yang akan ditetapkan. c. Aset,
yang harus di lindungi meliputi peralatan komputer, peralatan komunikasi, listrik,
perlengkapan media data storage, program komputer dan dokumentasinya,
informasi, d. Efisiensi dan tepat guna, memastikan bahwa sumberdaya teknologi
informasi digunakan untuk tujuan yang dimaksud. e. Ketersediaan sistem (system
availability), berkaitan dengan fungsionaltas penuh sistem dan komponennya.
Penyebab potensial dari kerugian tersebut dikenal dengan istilah ancaman".
Ancaman ini dapat berasal dari manusia atau non-manusia, alam, kecelakaan atau
ketidak sengajaan. Dalam kenyataannya tidak ada suatu sistem komputer yang
memiliki sistem keamanan sempurna. Akan tetapi, setidaknya kita mempunyai
suatu mekanisme tersendiri untuk mencegah ataupun mengurangi kemungkinankemungkinan gangguan terhadap keamanan sistem serta penangananya ketika
terjadi suatu gangguan terhadap keamanan suatu sistem komputer. 6.2 Alasan
Perlunya Kebijakan Keamanan Informasi Teknologi SISMIOP mengelolah informasi
yang menyangkut data objek dan subjek PBB. Informasi tersebut termasuk dalam
kategori rahasia wajib pajak sebagai mana diamanatkan dalam undang-undang.
Komponen hardware dan software merupakan aset yang diadakan dengan investasi
yang cukup besar yang harus dilindungi dan dijaga. Penggunaan informasi dan aset

yang tidak benar akan mengakibatkan pelanggaran hukum dan kerugian negara.
Dengan memperhatikan dua hal tersebut sehingga dipandang perlu untuk membuat
kebijakan pengamanan informasi teknologi dalam implementasi SISMIOP. 6.3
Kebijakan Keamanan Informasi Teknologi ( IT Security Policy) SISMIOP Kebijakan
pengamanan SISMIOP bersifat sederhana dan umum. Setiap pengguna sistem dapat
mengerti dan mengikuti kebijaksanaan yang telah ditetapkan. Isi dari kebijaksanaan
itu sendiri berupa tingkatan keamanan yang dapat melindungi data-data 50 penting
yang tersimpan dalam sistem dan aset yang diperlukan untuk menjalankan sistem
SISMIOP. Ada tiga hal dalam mekanisme pengamanan (proteksi): a. Identifikasi user
(autentikasi), bertujuan untuk mengetahui siapa yang sedang melakukan sesuatu di
dalam sistem. Sebagai contoh, kita bisa mengetahui bahwa user A sedang
menjalankan menu apa dalam aplikasi SISMIOP. b. Penentuan autorisasi, sistem
harus dapat mengetahui siapa user yang sedang aktif dan apa saja yang boleh ia
lakukan. c. Pemakaian akses, harus dipastikan bahwa tidak terjadi penerobosan
akses di dalam sistem. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam
menentukan kebijaksanaan pengamanan adalah: siapa sajakah yang memiliki akses
ke sistem, siapa sajakah yang diizinkan untuk menginstall program ke dalam
sistem, siapa sajakah memiliki data-data tertentu, perbaikan terhadap kerusakan
yang mungkin terjadi, dan penggunaan yang wajar dari sistem. 6.3.1 Keamaanan
Perangkat Lunak Kebijakan ini megatur bahwa perangkat lunak apa saja yang
digunakan. Pengaturan ini meliputi perangkat lunak operating system dan service
pack-nya, Oracle RDBMS, Aplikasi SISMOP sesui dengan rilisnya dan software
antivirus. Instalasi pada server SISMIOP hanya bisa dilakukan oleh Operator Console
Kantor Pelayanan Pajak atau petugas Layanan Sistim dari Kantor Pusat DJP Aplikasi
SISMIOP selalu dikembangkan mengikuti perubahan dan penyempurnan proses
bisnis sehingga akan selalu ada versioning. Kantor Pelayanan harus memastikan
bahwa aplikasi yang digunakan merupakan versi yang terakhir. Hal ini untuk
menjaga integritas data dan konsistensi data dan prosedur dengan aturan yang
berlaku. Keseragaman versi SISMIOP ini akan memudahkan dalam pemeliharaan
dan penanganan masalah oleh petugas di Kantor Pusat DJP. 6.3.2 Keamaanan
Jaringan Jaringan komputer merupakan resource yang dapat di bagi dan dapat
digunakan oleh banyak aplikasi dengan tujuan yang berbeda. Data yang di
transmisikan antar aplikasi- aplikasi merupakan data rahasia sehingga informasi
tersebut tidak dapat dibaca oleh pihak yang tidak mempunyai otoritas. Keamanan
jaringan ini meliputi pengaturan IP adres, penggunaan router, ketersediaan jaringan
komunikasi antara KPP dan Kantor Pusat DJP.51 6.3.3 Keamaanan Operasional
Keamanan operasional (operations security) adalah tindakan apa pun yang
menjadikan sistem ( jaringan,komputer,lingkungan ) dapat beroperasi dengan
aman, terkendali, dan terlindung. Suatu sistem dinyatakan operasional apabila
sistem telah dinyatakan berfungsi dan dapat dijalankan dengan durasi yang
berkesinambungan, yaitu dari hari ke hari, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Untuk
menjamin sistem selalu operasioanl diperlukan diperlukan manajemen administratif
(administrative management) atau penugasan individu untuk mengelola fungsifungsi keamanan sistem. Beberapa hal yang terkait adalah : a. Pemisahan Tugas

(Separation of Duties). Menugaskan hal-hal yang menyangkut keamanan kepada


beberapa orang saja. Misalnya, yang berhak menginstall program ke dalam system
komputer hanya admin, user tidak diberi hak tersebut. b. Hak Akses Minimum
(Least Privilege). Setiap orang hanya diberikan hak akses minimum yang
dibutuhkan dalam pelaksanaan tugas mereka c. Keingin-tahuan (Need to Know).
Yang dimaksud dengan need to know adalah pengetahuan akan informasi yang
dibutuhkan dalam melakukan suatu pekerjaan. Kategori utama dari kontrol
keamanan operasional antara lain: a. Kendali Pencegahan (Preventative Control).
Untuk mencegah error dan intruder memasuki sistem. Misal, kontrol pencegahan
untuk mencegah virus memasuki sistem adalah dengan menginstall antivirus. b.
Kontrol Pendeteksian (Detective Control). Untuk mendeteksi error yang memasuki
sistem. Misal, mencari virus yang berhasil memasuki sistem. c. Kontrol Perbaikan
(Corrective/Recovery Control). Membantu mengembalikan data yang hilang melalui
prosedur recovery data. Misal, memperbaiki data yang terkena virus. 6.3.4 Business
Continuity Plan (BCP) dan Disaster Recovery Plan (DRP) BCP atau Business
Continuity Plan adalah rencana bisnis yang berkesinambungan, sedangkan DRP
atau Disaster Recovery Plan adalah rencana pemulihan dari kemungkinan
kerusakan-kerusakan yang terjadi. DRP yang menjelaskan hal apa saja yang
dilakukan akibat dari bencana, kemana operasional akan dipindah ?, siapa yang
bertanggung jawab untuk pemulihan operasional ini ?. Rencana untuk pemulihan
dari kerusakan, baik yang disebabkan oleh alam maupun manusia, tidak hanya
berdampak pada kemampuan proses komputer KPP, tetapi juga akan berdampak
pada pelayanan wajib pajak. Konsep dasar pemulihan dari kemungkinan 52
kerusakan-kerusakan yang terjadi yaitu harus dapat diterapkan pada semua KPP.
Beberapa hal yang terkait dengan BCP dan DRP adalah : a. penanganan back up
dan recovery, menyangkut periode backup media yang digunakan penyimpanan
media backup. b. pembangunan Disaster Recovery Center (DRC), di lokasi yang
aman dan terpisah digunakan hanya jika terjadi bencana, akan mengurangi
efektifitas biaya dari masalah, dan akan menjadi kekuatan untuk menduplikat biaya
di lokasi, sumberdaya, link komunikasi dan lainnya. VII. Rangkuman 1. SISMIOP
merupakan suatu sistem informasi yang terpadu yang dimaksudkan untuk
mendukung penyediaan informasi yang berhubungan dengan seluruh fungsi di
dalam administrasi pada semua tingkat organisasi pengelola PBB. 2. Proses bisnis
PBB yang ada didalam SISMIOP meliput proses bisnis pendataan, penilaian dan
penetapan, penagihan, penerimaan/pembayaran, keberatan dan pengurangan,
serta pelayanan. 3. Komponen SISMIOP meliputi perangkat keras (hardware)
menggunakan server dengan prosesor intel base, sistem operasi Windows NT
Server, basis data, RDBMS oracle 10g, program aplikasi oracle developer dan
pemakai yang secara umum dibedakan menjadi pemakai aktif dan pemakai pasif. 4.
SISMIOP menggunkan arsitektur 2-tier, karena setiap interaksi antara pemakai dan
basis data ditangani oleh dua lapisan fungsi, yaitu workstation-client dan server. 5.
Aplikasi pendukung SISMIOP merupakan aplikasi yang dibangun untuk memberikan
kemudahan layanan kepada wajib pajak. Aplikasi pendukung SISMIOP meliputi
Layanan Pembayaran PBB Melalui Fasilitas Payment Online System dan Layanan

Informasi PBB melalui telepon bebas pulsa (Toll Free Number) dan faksimili, serta
SMS melalui handphone. 6. Keamanan informasi teknologi adalah keadaan informasi
dalam teknologi informasi yang meminimalkan resiko dalam hal kerahasiaan
informasi, integritas data, keamanan asset, efisiensi dan efektifitas penggunaan
data. 7. Tiga hal yang perlu dilakukan dalam mekanisme kebijakan keamanan
informasi teknologi SISMIOP yaitu identifikasi user, penentuan autorisasi user dan
pemakaian akses. 8. Hal yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan kebijakan
pengamanan adalah keamanan perangkat lunak, keamanan jaringan, keamanan
operasional dan business continuity plan serta disaster recovery plan.53 D. Kegiatan
Belajar Sistem Informasi Geografis I. Tujuan Pembelajaran Dengan mempelajari
tentang Sistem Informasi Geografis PBB diharapkan peserta dapat mengenal dan
memahami hal-hal sebagai berikut: 1. Definisi dasar Sistem Informasi Geografis
(SIG); 2. Komponen penyusun SIG; 3. SIG PBB; 4. Komponen penyusun SIG PBB; 5.
Proses bisnis dalam SIG PBB. II. Sistem Informasi Geografis Sistem Informasi
Georafis atau Georaphic Information Sistem (GIS) merupakan suatu sistem
informasi yang berbasis komputer, dirancang untuk bekerja dengan menggunakan
data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan). Sistem ini
mengcapture, mengecek, mengintegrasikan, memanipulasi, menganalisa, dan
menampilkan data yang secara spasial mereferensikan kepada kondisi bumi.
Teknologi SIG mengintegrasikan operasi-operasi umum database, seperti query dan
analisa statistik, dengan kemampuan visualisasi dan analisa yang unik yang dimiliki
oleh pemetaan. Kemampuan inilah yang membedakan SIG dengan Sistem Informasi
lainya yang membuatnya menjadi berguna berbagai kalangan untuk menjelaskan
kejadian, merencanakan strategi, dan memprediksi apa yang terjadi. Sistem
Informasi Geografis telah berkembang di beberapa benua terutama Benua Amerika,
BenuaEropa, Benua Australia, dan Benua Asia. Seperti di Negara-negara yang lain,
di Indonesia pengembangan SIG dimulai di lingkungan pemerintahan dan militer.
Perkembangan SIG menjadi pesat semenjak di ditunjang oleh sumberdaya yang
bergerak di lingkungan akademis (kampus). 2.1. Definisi SIG Definisi SIG sangatlah
beragam, karena memang defenisi SIG selalu berkembang, bertambah dan sangat
bervariasi, dibawah ini adalah beberapa definisi SIG. a. Kang-Tsung Chang (2002),
mendefinisikan SIG sebagai : is an a computer system for capturing, storing,
querying, analyzing, and displaying geographic data. b. Arronoff (1989),
mendefinisiskan SIG sebagai suatu sitem berbasis komputer yang memiliki
kemampuan dalam menangani data bereferensi geografi yaitu pemasukan data,
manajemen data (penyimpanan dan pemanggilan kembali),manipulasi dan analisis
data, serta keluaran sebagai hasil akhir (output). Hasil akhir (output) dapat
dijadikan 54 acuan dalam pengambilan keputusan pada masalah yang berhubungan
dengan geografi Arronoff (1989). c. Menurut Gistut (1994), SIG adalah sistem yang
dapat mendukung pengambilan keputusan spasial dan mampu mengintegrasikan
deskripsi-deskripsi lokasi dengan karakteristik-karakteristik fenomena yang
ditemukan di lokasi tersebut. SIG yang lengkap mencakup metodologi dan teknologi
yang diperlukan yaitu data spasial perangkat keras, perangkat lunak dan struktur
organisasi Gistut (1994) d. (Burrough,1986) mendefinisikan SIG adalah sistem

berbasis komputer yang digunakan untuk memasukan, menyimpan, mengelola,


menganalisis dan mengaktifkan kembali data yang mempunyai referensi keruangan
untuk berbagai tujuan yang berkaitan dengan pemetaan dan perencanaan. Dari
defenisi-definisi tersebut diatas dapat diambil kesimpulan bahwa SIG terdiri atas
beberapa subsistem yaitu: data input, data output, data management , data
manipulasi dan analysis (Prahasta, 2005). Lebih lanjut, SIG itu sendiri terdiri dari
beberapa komponen pendukung sebagai berikut: a. Perangkat keras Perangkat
keras yang sering digunakan adalah Digitizer, scanner,Central Procesing Unit (CPU),
mouse , printer, plotter b. Perangkat lunak (Arc View, Idrisi, ARC/INFO,ILWIS, MapInfo
dan lain lain) c. Data dan informasi geografi Data dan informasi yang diperlukan
baik secara tidak langsung dengan cara meng import-nya dari perangkat-perangkat
lunak SIG yang lain maupun secara langsung 55 dengan cara menjitasi data spasial
dari peta dan memasukan data atributnya dari table- tabel dan laporan dengan
menggunakan keyboard d. Pengguna (user), Teknologi GIS tidaklah bermanfaat
tanpa manusia yang mengelola sistem dan membangun perencanaan yang dapat
diaplikasikan sesuai kondisi nyata Suatu proyek SIG akan berhasil jika di manage
dengan baik dan dikerjakan oleh orang-orang yang memiliki keakhlian yang tepat
pada semua tingkatan. 2.2. SIG PBB Pajak Bumi dan Bangunan mempunyai
karakteristik yang unik didalam pengelolaan data. Data PBB terdiri dari data
atributik atau informasi mengenai tanah dan bangunan serta wajib pajak, dan data
spasial berbasiskan bidang tanah. Data atribut diperoleh berdasarkan data yang
disampaikan oleh Wajib Pajak dalam Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP). Basis
data spasial diperoleh baik dari pemetaan secara terestris dalam bentuk peta blok
manual (analog) yang selanjutnya dikonversikan dalam bentuk digital melalui
proses scanning, dalam bentuk citra satelit maupun peta-peta yang dibuat dengan
menggunakan GPS maupun Total Station. Perkembangan aplikasi berbasiskan data
grafis atau spasial dilingkungan DJP diawali dengan adanya aplikasi Sistem
Informasi Geografis PBB (SIG PBB). Sekarang ini jumlah objek Pajak Bumi dan
Bangunan yang dikelola oleh DJP ada sekitar 100 juta objek. Objek tersebut dikelola
baik secara atribut maupun spasial dalam bentuk peta-peta yang berbasis pada
bidang tanah (parcel based). 56 Aplikasi SIG PBB pada dasarnya merupakan petapeta yang memerankan fungsi sebagai alat komunikasi dengan menggambarkan
beberapa informasi melalui keterpaduan (link) antara basis data spasial dan basis
data atribut. SIG PBB merupakan aplikasi pendukung SISMIOP yang berbasiskan
data atribut SISMIOP dan data peta digital PBB serta data dari instansi lain dalam
rangka pembentukan bank data nasional. Dengan adanya data 32 instansi yang ada
di dalam Negara ini, aplikasi Smartmap diharapkan dapat digali informasi sebanyak
mungkin tentang wajib pajak dan obyek pajak. Sistem basis data yang dibangun ini
merupakan pengembangan yang tidak dapat dipisahkan dari sistem SISMIOP dan
SIGPBB terdahulu yang berbasis pada peta digital PBB. Aplikasi SIG PBB tidak dapat
dipisahkan dengan aplikasi i-SISMIOP, karena menggunakan basis data atributik
yang sama dan untuk perekaman data atributik yang diperlukan oleh Smartmap,
harus melalui menu yang ada di i-SISMIOP. III. Komponen SIG PBB SIG PBB
merupakan sistem kompleks yang terintegrasi dengan lingkungan sistem komputer

lain di tingkat fungsional dan jaringan. Sistem aplikasi SIG PBB terdiri dari beberapa
komponen sistem yang saling terkait dan berhubungan satu dengan yang lain
sebagai berikut: 3.1. Perangkat Keras (Hardware) Aplikasi SIG PBB agar dapat
berjalan dengan baik, minimal harus menggunakan komputer dengan spesifikasi
berikut : a. Processor Intel P III 500 ; b. RAM 256 MB; c. VGA Card 32 MB; d. Mouse;
e. Hardisk minimal 10 Giga; 3.2. Sistem Operasi (Operating System) Oprating
system yang digunakan dalam menjalankan program aplikasi ini adalah sebagai
berikut: a. Operating System yang digunakan minimal Windows 98 SE b. Mapinfo
7.0 , c. Microsoft Office.57 Perangkat lunak Mapinfo 7.0 diperlukan untuk mengelola
peta digital yang diperlukan di dalam aplikasi. Sedangkan Microsoft Office
digunakan untuk memudahkan mengakses basisdata seting aplikasi. 3.3. Basis Data
Aplikasi SIG PBB p dibangun dengan maenggunakan/menggabungkan basis data
atribut (merupakan hasil proses query dari basis data atribut dalam sistem aplikasi
SISMIOP) dengan basis data spasial (peta digital PBB) dengan NOP sebagai identitas
penghubung untuk merelasikan kedua basis data tersebut. Basis data spasial yang
digunakan dalam sistem aplikasi SmartMap memiliki entitas- entitas (disebut
dengan layer) dan diberi nama file sebagai berikut: No Nama Layer Atribut Nama
File Contoh (misal) 1 Bidang NOP Luas kode wilayah desa/kelurahan yang
bersangkutan (10 digit) 3175050005 2 Bangunan NOP kode wilayah desa/kelurahan
yang bersangkutan (10 digit) + bg 3175050005bg 3 Jalan Nama Jalan Lebar Jalan
kode wilayah desa/kelurahan yang bersangkutan (10 digit) + jl 3175050005jl 4
Sungai Nama Sungai Lebar Sungai kode wilayah desa/kelurahan yang bersangkutan
(10 digit) + sg 3175050005sg 5 Text Kode Text kode wilayah desa/kelurahan yang
bersangkutan (10 digit) + tx 3175050005tx 6 Simbol Kode Simbol kode wilayah
desa/kelurahan yang bersangkutan (10 digit) + si 3175050005si 7 Batas Blok
Kode Blok kode wilayah desa/kelurahan yang bersangkutan (10 digit) + bl
3175050005bl 8 Batas Desa/Kelurahan Kode Kelurahan Nama Kelurahan Kode
wilayah kecamatan yang bersangkutan (7 digit) 3175050 9 Batas Kecamatan Kode
Kecamatan Nama Kecamatan kode wilayah kabupaten yang bersangkutan (4 digit)
3175 10 Batas Kota/Kabupaten Kode Kab/Kota Nama Kab/Kota kode wilayah propinsi
yang bersangkutan (2 digit) 31 Sedangkan basis data atribut yang digunakan dalam
sistem aplikasi SmartMap adalah merupakan hasil query dari sistem aplikasi
SISMIOP, basis data tersebut memiliki entitas-entitas dengan nama file sebagai
berikut:58 No Entitas Atribut Nama File Contoh (misal) 1 Objek Pajak dan Wajib
Pajak NOP Alamat OP Luas Bumi Kode ZNT Nama WP Alamat WP Pekerjaan NPWP
NJOP Bumi kode wilayah desa/kelurahan yang bersangkutan (10 digit) + a
3175050005a 2 Bangunan NOP Kode JPB Luas Bangunan Spesifikasi Bangunan kode
wilayah desa/kelurahan yang bersangkutan (10 digit) + b 3175050005b 3
Pembayaran NOP PBB dibayar PBB telah dibayar Tahun Kode Kelas Tanah Kode Kelas
Bangunan kode wilayah desa/kelurahan yang bersangkutan (10 digit) + c
3175050005c 4 Zona Nilai Tanah Kode Kelurahan Tahun Kode ZNT Nilai Indikasi
Rata- rata kode wilayah desa/kelurahan yang bersangkutan (10 digit) + d
3175050005d 5 SPPT NOP PBB yg harus dibayar Tahun Pajak NJKP Tanggal jatuh
tempo NJOP Bumi NJOP Bangunan NJOP total kode wilayah desa/kelurahan yang

bersangkutan (10 digit) + e 3175050005te 3.4. Sistem Pengelola Basis Data


(Database Management System/DBMS) Perangkat lunak DBMS yang digunakan
untuk menghubungkan aplikasi SIG PBB dengan basis data SISMIOP adalah Oracle
Client. 3.5. Pemakai Pemakai SIG PBB adalah seluruh pegawai di setiap KPP Pratama
dengan aturan pemakaian aplikasi sebagai berikut: Setiap Pegawai/User
mendapatkan satu user account beserta password masing masing dari seorang
Administrator (OC/Operator Console). User diberikan kewenangan masuk kedalam
Aplikasi SIG PBB dan membuka menu Aplikasi SISMIOP sesuai dengan kewenangan
masing-masing pegawai.59 Kewenangan akses kedalam basis data SIG PBB
dibedakan menjadi dua, yaitu user aktif (dapat merubah isi basis data sesuai
dengan kewenangannya) dan user pasif (tidak dapat merubah isi basis data, hanya
bias melihat saja). Pendaftaran dan penghapusan user account dilakukan oleh
Administrator (OC) 3.6. Program Aplikasi Program aplikasi SmartMap dikembangkan
dengan menggunakan perangkat lunak MS Visual Basic.Net. IV. Proses Bisnis SIG
PBB Proses bisnis dalam SIG PBB terdiri dari kegiatan yang digambarkan sebagai
berikut: 1. Data Input Proses bisnis ini bertugas untuk mengumpulkan data atribut
dan
data
spasial
dari
berbagai
sumber,
juga
mengkonversi
atau
mentransformasikan format data ke dalam format yang digunakan oleh SIG. Basis
data yang digunakan dalam SIG PBB adalah basis data atribut dan basis data
spasial. Basis data atribut diperoleh dari kegiatan pendaftaran, pendataan dan
penilaian objek pajak yang dituangkan dalam formulir SPOP dan LSPOP. Sedangkan,
basis data spasial diperoleh dari hasil pengukuran dan pemetaan objek pajak
melalui kegiatan pengukuran terestris di lapangan, pemetaan dengan
menggunakan citra satelit ataupun pemetaan dengan menggunakan Global
Positioning System (GPS). hasil dari kegiatan pengukuran dan pemetaan tersebut
dituangkan dalam peta PBB dan diolah lebih lanjut ke dalam bentuk peta digital.
Kedua data tersebut, atribut dan spasial, merupakan inputan untuk SIG PBB yang
dihubungkan/direlasikan dengan Nomor Objek Pajak (NOP) 60 pada aplikasi SIG
PBB. Proses pembentukan basis data SIG PBB dijelaskan pada gambar di bawah. 2.
Data Management Management basis data SIG PBB dilakukan melalui pemeliharaan
basis data SISMIOP maupun peta digital PBB. Pemeliharaan basis data SISMIOP
dilakukan melalui kegiatan pemeliharaan aktif dan pasif, Sedangkan pemeliharaan
basis data spasial SIG PBB dilakukan pada aplikasi melalui proses penggabungan
dan pemecahan bidang objek pajak.61 3. Data Manipulation dan analysis Manipulasi
dan analisis data yang dapat dilakukan dalam SIG PBB antara lain sebagai berikut:
a. Cari letak objek pajak Menu ini digunakan untuk melakukan pencarian objek
pajak berdasarkan NOP, nama atau alamat objek pajak Tampilan Menu Cari Objek
Pajak b. Geocoding data Proses geocoding adalah proses validasi data SISMIOP
(data atribut) terhadap data SIG (data spasial), sehingga untuk objek pajak yang
tidak ada petanya tidak bisa dilakukan proses tertentu di SISMIOP seperti
melakukan pencetakan SPPT dan beberapa proses lainnya. Tampilan Menu
Geocoding62 c. Pembentukan peta tematik Peta tematik menampilkan peta
berdasarkan tema tertentu. Peta tematik yang bisa ditampilkan pada aplikasi ini
antara lain : Jenis Tanah. Menampilkan peta jenis penggunaan tanah seperti :

Tanah + Bangunan, Kavling Siap Bangun, Tanah Kosong dan Fasilitas Umum. Menu
ini diakses dari menu Tematik => Informasi Tanah =>Jenis Tanah. Kelas Tanah.
Menampilkan peta kelas tanah berdasarkan tahun pajak tertentu. Menu ini diakses
dari menu Tematik => Informasi Tanah => Kelas Tanah. Peta Tematik Kelas Tanah,
dari peta tersebut dapat diinformasikan untuk Kelurahan Kebon Sirih, beberapa
kelas tanah, dengan kelas tanah tertinggi B50 dan kelas terendah A01 dan jumlah
Objek Pajak (OP) untuk kelas tersebut. Peta Tematik Berdasarkan Kelas Tanah Jenis
Penggunaan Bangunan. Menampilkan peta Jenis Penggunaan Bangunan (JPB). Menu
ini diakses dari menu Tematik => Informasi Bangunan =>Jenis Penggunaan
Bangunan. Kelas Bangunan. Menampilkan peta kelas bangunan berdasarkan tahun
pajak tertentu. Menu ini diakses dari menu Tematik => Informasi Bangunan =>
Kelas Bangunan. Zona Nilai Tanah. Menampilkan peta Zona Nilai Tanah
berdasarkan tahun pajak tertentu. Menu ini diakses dari menu Tematik => Zona
Nilai Tanah. Ketetapan per Buku. Menampilkan peta ketetapan per buku
berdasarkan tahun pajak tertentu. Menu ini diakses dari menu Tematik =>
Ketetapan Per Buku. Peta Tematik Ketetapan Per Buku, untuk Kelurahan Kebonsirih,
dilihat dari sebaran bukunya, 63 ternyata yang paling banyak adalah buku I dengan
1124 Obyek pajak. Namun dilihat dari keluasan bidang tanahnya, untuk kelurahan
tersebut yang paling banyak adalah ketetapan buku V yang meskipun obyeknya
hanya 182 obyek, tetapi menguasai hampir seluruh wilayah kelurahan tersebut.
Peta Tematik Berdasarkan Ketetapan Per Buku Nilai Individu. Menampilkan peta
bidang objek pajak yang dilakukan penilaian secara individu dan yang tidak
dilakukan penilaian individu (penilaian standar). Menu ini diakses dari menu Tematik
=> Nilai Individu. NPWP. Menampilkan peta bidang objek pajak yang memiliki
NPWP dan tidak memiliki NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak). Menu ini diakses dari
menu Tematik => NPWP. Peta Tematik NPWP, merupakan peta tematik yang
memberikan informasi bidang- bidang tanah yang pemiliknya sudah memiliki NPWP
dan yang belum. Untuk analisa terhadap bidang yang belum ada NPWP, kita bisa
melihat informasi rincinya melalui tombol atau tombol informasi rinci objek pajak.
Kita bisa mempelajari data yang ada didalamnya informasi rinci tersebut, untuk
selanjutnya kita dapat melakukan studi apakah bidang yang belum mempunyai
NPWP itu layak atau tidak apabila diberikan NPWP Status Pembayaran.
Menampilkan peta yang berisi informasi bidang-bidang yang telah dilunasi PBBnya
dan yang belum lunas. Menu ini diakses dari menu Tematik => Status
Pembayaran.64 Peta Tematik Berdasarkan Status Pembayaran 4. Data Output
Proses bisnis ini menampilkan atau menghasilkan keluaran seluruh atau sebagian
basis data baik dalam bentuk softcopy maupun dalam bentuk hardcopy. Output
yang dihasilkan oleh SIG PBB antara lain adalah a. Peta blok, peta kelurahan dan
peta ZNT Peta Blok65 Peta Desa/Kelurahan Peta ZNT66 b. Informasi rinci objek pajak
c. Informasi rinci bangunan d. Informasi asset pribadi wajib pajakV. Rangkuman 1.
Sistem Informasi Georafis atau Georaphic Information Sistem (GIS) merupakan
sistem berbasis komputer yang memiliki kemampuan dalam menangani data
bereferensi geografi yaitu pemasukan data, manajemen data (penyimpanan dan

pemanggilan kembali),manipulasi dan analisis data, serta keluaran sebagai hasil


akhir (output). Hasil akhir (output) dapat dijadikan acuan dalam pengambilan
keputusan pada masalah yang berhubungan dengan geografi. 2. Subsistem SIG
yaitu, data input, data output, data management , data manipulasi dan analysis. 3.
SIG PBB merupakan aplikasi pendukung SISMIOP yang berbasiskan data atribut
SISMIOP dan data peta digital PBB. 4. SIG PBB terdiri dari beberapa komponen
sistem yang saling terkait, meliputi: perangkat keras (hardware), sistem operasi
(operating system), basis data, sistem pengelola basis data (Database Management
System), pemakai dan program aplikasi. 5. Proses bisnis SIG PBB terdiri dari proses
input data, management data, manipulation dan analysis data serta output data. 6.
Input data terdiri dari input data atribut (data SISMIOP hasil dari kegiatan
pendaftaran, pendataan dan penilaian) dan input data spasial (dati peta digital PBB
hasil dari kegiatan pengukuran dan pemetaan). 7. Management data SIG PBB
dilakukan melalui kegiatan pemeliharaan basis data SISMIOP (pemeliharaan aktif
dan pasif) untuk data atributnya dan melalui menu penggabungan dan pemecahan
bidang objek pajak pada aplikasi SIG PBB untuk data spasialnya. 8. Manipulation
dan analysis data dalam SIG PBB antara lain terdapat pada menu cari bidang objek
pajak, geocoding data dan pembentukan peta tematik data. 9. Output yang dapat
dihasilkan oleh SIG PBB antara lain peta blok, peta kelurahan, peta ZNT, informasi
rinci objek pajak, informasi rinci bangunan dan informasi rinci set pribadi wajib
pajak.