Anda di halaman 1dari 10

ANALISA SINTESA TINDAKAN KEPERAWATAN

PEMASANGAN INFUS
DI INSTALASI GAWAT DARURAT RSUD BANYUMAS

Oleh:
Rizka Rahmaharyanti, S.Kep
G4D014001

KEMENTERIAN RISET DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEPERAWATAN
POGRAM PROFESI NERS
PURWOKERTO
2015
PROSEDUR TINDAKAN PEMASANGAN INFUS
A. Anatomi Fisiologi Jaringan Kulit Dan Sistem Vena
1. Anatomi Kulit
Kulit adalah suatu organ pembungkus seluruh permukaan luar tubuh,
merupakan organ terberat dan terbesar dari tubuh.Seluruh kulit bertnya 16% berat
tubuh, pada orang dewasa sekitar 2,7-3,6 kg dan luasnya sekitar 1,5-1,9 meter persegi.

Tebalnya kulit bervariasi mulai 0,5-6 mm tergantung dari letak, umur dan jenis
kelamin.Kulit tipis terletak pada kelopak mata, penis, labium minus dan kulit bagian
medial bagian atas.Sedangkan kulit tebal terdapat pada telapak tangan, telapak kaki,
pungung, bahu, dan bokong. Secara embiologis kulit berasal dari dua lapisan yang
berbeda, lapisan luar adalah epidermis yang merupakan lapisan epitel berasal dari
ectoderm sedangkan lapisan dalam yang berasal dari mesoderm adalah dermis dan
korium yang merupakan suatu lapisan jaringan ikat.
a. Epidermis
Adalah lapisan luar kulit yang tipis. Terdiri dari epitel berlapis gepeng bertanduk,
mengandung sel melanosit,l angerhans dan merkel. Tebal epidermis berbeda-beda
pada berbagai tempat di tubuh, paling tebal pada telapak tangan dan
kaki.Ketebalan epidermis hanya sekitar 5% dari seluruh ketebalan kulit. Terjadi
regenerasi setiap 4-6 minggu. Epidermis terdiri atas lima lapisan (lapisan yang
paling atas sampai yang terdalam) :
1) Stratum Korneum, terdiri dari sel keratinosit yang bisa mengelupas dan
berganti.
2) Stratum Lusidum, berupa garis translusen, biasanya terdapat pada kulit
tebal telapak tangan dan kaki, tidak tampak pada kulit tipis.
3) Stratum Granulosum, ditandai oleh 3-5 lapis sel polygonal gepeng yang
intinya di tengah sitoplasma terdiri oleh granula basofilik kasar yang
dinamakan granula keratohialin yang mengandung protein kaya akan
histidin, terdapat pada sel langerhans.
4) Stratum Spinosum, terdapat berkas-berkas filament yang dinamakan
tonofibril dan memegang peranan penting untuk mempertahankan kohesi
sel dan melindungi terhadap efek abrasi. Epidermis pada tempat yang terus
mengalami gesekan dan tekanan mempunyai stratum spinosium dengan
lebih banyak tonofibril. Stratum basale dan stratum spinosium disebut
5)

sebagai lapisan Malphigi, terdapat sel langerhans.


Stratum Basale (Stratum Germinativum), terdapat aktivitas mitosis yang
hebat dan bertanggung jawab dalam pembaharuan

sel epidermis secara konstan. Epidermis diperbaharui setiap 28 hari untuk


migrasi kepermukaan, hal ini tergantung letak, usia dan factor lain.
Merupakan satu lapis sel yang mengandung melanosit. Fungsi epidermis :
Proteksi barier, organisasi sel, sintesis vitamin D dan sitokin, pembelahan

dan mobilisasi sel, pigmentasi (melanosit) dan pengenalan allergen (sel


langerhans).
b. Dermis
Dermis merupakan bagian yang paling penting di kulit yang sering dianggap
sebagai True Skin. Terdiri atas jaringan ikat yang menyokong epidermis dan
menghubungkannya dengan jaringan subcutis. Tebalnya bervariasi, yang paling
tebal pada telapak kaki sekitar 3 mm. Dermis terdiri dari dua lapisan :
1) Lapisan papiler; tipis mengandung jaringan ikat jarang.
2) Lapisan reticuler; tebal terdiri dari jaringan ikat padat.
Serabut-serabut

kolagen

menebal

dan

sintesa

kolagen

berkurang

dengan

bertambahnya usia. Serabut elastin jumlahnya terus meningkat dan menebal, kandungan
elastin kulit manusia meningkat kira-kira lima kali dari fetus sampai dewasa. Pada usia lanjut
kolagen sering bersilangan dalam jumlah besar dan serabut elastin berkurang menyebabkan
kulit terjadi kehilangan kelemasannya dan tampak banyak keriput. Dermis mempunyai
banyak pembuluh darah, dermis juga mengandung beberapa derivat epidermis yaitu folikel
rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. Kualitas kulit tergantung banyak tidaknya
derivat epidermis
di dalam dermis.
c. Subcutis
Merupakan lapisan di bawah dermis atau hypodermis yang terdiri dari lapisan
lemak. Lapisan ini terdapat jaringan ikat yang menghubungkan kulit

secara

longgar dengan jaringan dibawahnya. Jumlah dan ukurannya berbeda-beda


menurut daerah di tubuh dan keadaan nutrisi individu. Adapun fungsinnya untuk
menunjang suplay darah ke dermis untuk regenerasi. Fungsi subcutis : melekat
kestructur dasar, isolasi panas, cadangan kalori, control bentuk tubuh dan
mechanical absorber.
2. Fisiologi Kulit
Kulit merupakan organ yang berfungsi sangat penting bagi tubuh diantaranya adalah
memungkinkan bertahan dalam berbagai kondisi lingkungan sebagai barier infeksi,
mengontrol suhu tubuh (termoregulasi), sensasi, eksresi dan metabolisme. Fungsi
proteksi kulit adalah melindungi dari kehilangan cairan dan elektrolit,

trauma

mekanik, ultraviolet dan sebagai barier dari invasi mikroorganisme pathogen. Sensasi
telah diketahui merupakan salah satu fungsi kulit dalam merangsang raba karena
banyaknya ujung saraf seperti pada daerah bibir, putting, dan ujung jari. Kulit berperan
pada pengaturan suhu dan keseimbangan cairan dan elektrolit, termoregulasi di kontrol
oleh hypothalamus.

Temperatur perifer mengalami proses keseimbangan melalui keringat, insessible loss


dari kulit, paru-paru dan mucosa bukal. Temperatur kulit dengan dilatasi atau
konstriksi pembuluh darah kulit, bila temperature meningkat terjadi vasodilatasi
pembuluh darah, kemudian tubuh akan mengurangi temperature dengan melepas panas
dari kulit dengan cara mengirim sinyal kimia yang dapat meningkatkan aliran darah di
kulit. Pada temperature menurun, pembuluh darah kulit akan vasokonstriksi yang
kemudian akan mempertahankan panas.

3. Lokasi yang Penting pada Vena


Sistem vena dapat dibagi menjadi dua tipe yaitu, vena permukaan (superficial) dan
vena dalam. Vena permukaan merupakan tempat yang paling baik untuk pemasangan
terapi intravena, terletak pada jaringan penghubung bebas di bawah kulit. Lokasi ini
memberikan kemudahan pergerakan bagi vena-vena tersebut, meskipun demikian
beberapa metode untuk menahan pergerakan vena-vena tersebut. Pemasangan terapi
intravena dapat menyebabkan kerusakan pada sel endothelium dari vena sehingga
menyebabkan flebitis.
4. Lokasi Vena-Vena yang digunakan untuk Pemasangan Terapi Intravena
Vena-vena superficial pada lengan dimulai dari anastomosis vena di lengan dan
pergelangan tangan yang kemudian mengalir menuju vena dalam yaitu, vena sevalika,
vena basilica, vena media cubiti, vena metacarpal. Vena dalam yang menyertai
ekstremitas atas seperti vena aksilaris, vena brakialis, vena radialis, dan vena ulnaris.
Sedangkan vena superficial pada tungkai yaitu, vena safena mayor, vena median

marginal, vena fleksus dorsalis. Vena dalam yang menyertai ekstermitas bawah seperti
vena femoralis, vena poplitea.

B. Jenis Cairan Infus


1. Cairan hipotonik: osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ion
Na+ lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut dalam serum, dan menurunkan
osmolaritas serum. Maka cairan ditarik dari dalam pembuluh darah keluar ke
jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas
tinggi), sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. Digunakan pada keadaan sel
mengalami dehidrasi, misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi
diuretik, juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis
diabetik.
Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba cairan dari
dalam pembuluh darah ke sel, menyebabkan kolaps kardiovaskular dan peningkatan
tekanan intrakranial (dalam otak) pada beberapa orang. Contohnya adalah NaCl 45%
dan Dekstrosa 2,5%.
2. Cairan Isotonik: osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian
cair dari komponen darah), sehingga terus berada di dalam pembuluh darah.
Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh,

sehingga tekanan darah terus menurun). Memiliki risiko terjadinya overload


(kelebihan cairan), khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi.
Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL), dan normal saline/larutan garam
fisiologis (NaCl 0,9%).
3. Cairan hipertonik: osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga
menarik cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah.
Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urin, dan mengurangi
edema (bengkak). Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. Misalnya
Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate, Dextrose 5%
+NaCl 0,9%, produk darah (darah), dan albumin.
Pembagian cairan lain adalah berdasarkan kelompoknya :
1. Kristaloid: bersifat isotonik, maka efektif dalam mengisi sejumlah volume cairan
(volume expanders) ke dalam pembuluh darah dalam waktu yang singkat, dan
berguna pada pasien yang memerlukan cairan segera. Misalnya Ringer-Laktat dan
garam fisiologis.
2. Koloid: ukuran molekulnya (biasanya protein) cukup besar sehingga tidak akan
keluar dari membran kapiler, dan tetap berada dalam pembuluh darah, maka
sifatnya hipertonik, dan dapat menarik cairan dari luar pembuluh darah.).
C. Teknik Pemasangan Infus
1. Pengertian
Fungsi vena adalah sebuah teknik yang digunakan untuk memungsi vena
secara transkutan dengan menggunakan stilet tajam yang kaku,dilakukan dengan
teknik steril seperti angiocateter atau dengan jarum yang di sambungkan pada spuit.
Tujuan umum fungsi vena adalah memulai dan mempertahankan terapi cairan IV (Eni
Kusyati, 2006:267).
Infus adalah memasukkan cairan dalam jumlah tertentu melalui vena penderita
secara terus- menerus dalam jangka waktu tertentu.
2. Tujuan Pemasangan Infus
a. Mencukupi kebutuhan cairan kedalam tubuh pada penderita yang mengalami
kekurangan cairan.
b. Memberi zat makanan pada penderita yang tidak dapat atau tidak boleh
makan/minum melalui oral.
c. Untuk memberikan pengobatan yang terus-menerus.
d. Memulai dan mempertahankan terapi cairan intravena.
3. Kriteria Pemilihan Pembuluh Darah Vena
a. Gunakan cabang vena distal (vena bagian proksimal yang berukuran lebih
besar akan bermanfaat untuk keadaan darurat).
b. Hindari daerah penonjolan tulang.

c. Hindarkan pemasangan selang intravena di pergelangan tangan klien, di


daerah
d. yang mengalami peradangan, diruang antecubital, di ekstremitas yang
sensasinya menurun, atau ditangan yang dominan.
e. Pilihan vena :
1) Vena metacarpal (memudahkan pergerakan tangan)
2) Vena sevalika atau basilica
3) Vena fossa antecubital, mediana basilica atau sevalika untuk pemasangan
infuse yang singkat saja.
f. Pada klien dewasa, vena yang terdapat pada ekstermitas begian bawah hanya
digunakan sebagai pilihan terakhir (Nurachmah, 2000:18).
4. Cara Mencari Vena
a. Apabila memungkinkan, letakkan ektremitas pada posisi dependen (dalam
keadaan di topang sesuatu).
b. Pasang turniket 10-12 cm diatas tempat insersi. Turniket harus menghambat
aliran vena, bukan aliran arteri, periksa denyut distal.
c. Pilih vena yang berdilatasi dengan baik. Metode untuk membuat vena berdilatasi
adalah dengan memukul-mukul vena dari arah proksimal ke distal, atau meminta
pasien mengepalkan dan membuka tangan, atau dengan melakukan ketukan
ringan diatas vena, atau dengan memberi kompres hangat. (Perry & Potter,
2005:1652).
5. Prosedur Pemasangan Infus
Menurut Eni Kusyati (2006:268), prosedur pemasangan terapi intravena adalah
sebagai berikut :
a. Persiapan Alat
1) Jarum atau cateter untuk fungsi vena yang sesuai
2) Untuk infuse cairan IV :
3) Perangkat pemberian IV (pilihan bergantung pada tipe larutan dan
kecepatan pemberian : bayi dan anak kecil memerlukan slang microdrip
dengan tetesan 60 tetes /menit.
4) Filter 0,22 mm (jika diperlukan sesuatu kebijakan institusi atau jika bahan
berpartikel akan diberikan)
5) Tambahan slang (digunakan jika diperlukan jalur IV lebih panjang)
6) Untuk Heparin lock
7) Stiker IV
8) Loop IV atau slang pendek (jika perlu)
9) Spuit
10) Tourniquet
11) Sarung tangan disposibel
12) Kassa ukuran 2x2 cm dan kemicetyn salp, lalu tutup dengan balutan
transparan
13) Plester yang telah dipotong dan siap digunakan
14) Pengalas untuk diletakkan dibawah lengan pasien

15) Tiang infuse


16) Pakaian khusus dengan kancing dilapisan bahu (mempermudah pelepasan
selang IV) jika tersedia.
b. Prosedur Pelaksanaan :
1) Cuci tangan
2) Atur peralatan disamping tempat tidur pasien
3) Buka kemasan steril dengan menggunakan teknik aseptic
4) Untuk pemberian cairan IV:
5) Periksa larutan, menggunakan 5 benar pemberian obat.Pastikan aditif
yang diresepkan seperti kalium dan vitamin telah ditambahkan. Periksa
larutan terhadap warna,kejernihan,dan tanggal kadaluarsa.
6) Jika memggunakan IV dalam botol, lepaskan logam dan lempeng karet
dan logam dibawah penutup. Untuk kantong larutan IV plastic, lepaskan
plastic diatas port slang IV.
7) Buka set infuse, dan pertahankan sterilisasi pada kedua ujung.
8) Pasang klem rol 2-4 (1-2 inci) dibawah bilik drip dan pindahkan klem rol
pada posisi off.
9) Tusuk set infuse kedalam kantong atau botol cairan :
10) Lepaskan penutup pelindung kantong IV tanpa menyentuh lubangnya
11) Lepaskan penutup pelindung dari jarum penusuk dan tusuk penusuk ke
penyumbat dengan antiseptic sebelum menusukan jarum penusuk
12) Isi slang infus : Tekan bilik drip dan lepaskan, biarkan terisi - penuh.
13) Lepaskan pelindung jarukm dan klem rol untuk memungkinkan cairan
memenuhi bilik drip memulai slang ke adaptor jarum.kembalikan klem rol
keposisi off setelah slang terisi.
14) Pastikan slang bebas dari udara dan gelembung udara.
15) Lepaskan pelindung jarum, Untuk heparin lock.
16) Pilih jarum IV yang tepat atau Over the Needle Catheter
17) Pilih tempat distal vena yang digunakan.
18) Jika terdapat banyak rambut pada tempat penusukan bersihkan terlebih
dahulu.
19) Jika mungkin, letakkan extremitas pada posisi dependent.
20) Letakkan tourniquet 10-12 cm (5-6 inci) diatas tempat penusuk. Torniquet
harus menyumbat aliran vena, bukan arteri. Periksa adanya nadi distal.
21) Kenakan sarung tangan diposible, pelindung mata dan masker dapat
digunakan untuk mencegah darah terkena pada membrane mucosa
perawat.
22) Letakkan ujung adaptor jarum, perangkat infuse dekat dengan kassa steril
atau handuk.
23) Pilih vena yang berdilatasi tinggi

24) Bersihkan tempat insersi dengan gerakan sirkuler yang kuat menggunakan
larutan alcohol, hindari menyentuh tempat yang telah dibersihkan, biarkan
tempat tersebut mengering selama 30 detik.
25) Lakukan fungsi vena. Tahan vena dengan meletakkan ibu jari diatas vena
dan dengan meregangkan kulit berlawanan arah dengan arah penusukan 57,5 cm ke arah distal tempat penusukan. Jarum kupu-kupu pegang jarum
pada sudut 20-30 dengan bevel ke arah atas sedikit kearah distal terhadap
tempat actual fungsi vena.
26) Perhatikan keluarnya darah melalui slang jarum kupu-kupu atau bilik
fleshback (over the needle catheter) ONC, yang menandakan jarum telah
memasuki vena. Turunkan jarum sampai hampir menyentuh kulit. Dorong
jarum kupu-kupu sampai hubungan menempel dengan tempat fungsi vena.
Dorong catheter ONC 0,06 cm ke dalam vena, lalu lepaskan stiletnya.
Dorong cateter kedalavena sampai hubungan menempel dengan tempat
fungsi vena. Jangan pernah memasukkan kembali stilet setalah
melepaskannya.
27) Tahan catheter dengan satu tangan, lepaskan tourniquet dan lepas stilet
dari ONC. Jangan menutup kembali stilet. Dengan cepat hubungkan
adaptor jarum dari perangkat pemberian heparin lock ke hubungan ONC
atau slang kupu-kupu. Jangan pernah menyentuh tempat masuk adaptor
jarum.
28) Lepaskan klem rol untuk memulai infuse pada kecepatan untuk
mempertahankan potensi aliran IV (tidak diperlukan pada heparin lock).
29) Amankan catheter atau jarum IV (prosedur dapat berbeda, sesuai kebijakan
institusi)
30) Untuk pemberian IV, atur kecepatan aliran sampai tetesan yang tepat per
menit.
31) Tuliskan waktu dan tanggal pemasangan aliran serta ukuran jarum pada
balutan.
32) Lepaskan sarung tangan, rapihkan alat dan cuci tangan
33) Dokumentasikan dan kaji respon pasien.

DAFTAR PUSTAKA
Price, A & Wilson, L.M. (2006). Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit (Vol 2).
Jakarta: EGC.

Smeltzer, S.C., & Bare, B.G. (2002). Buku ajar keperawatan medical bedah (8 ed)(Vol 2).
Jakarta: EGC.