Anda di halaman 1dari 6

I.

PENDAHULUAN

Apotek adalah suatu tempat tertentu yang digunakan untuk melakukan pekerjaan
kefarmasian berupa penyaluran perbekalan farmasi kepada masyarakat dan tempat
dilakukannya praktik kefarmasian oleh apoteker. Apotek sebagai salah satu sarana
kesehatan, dalam pelayanannya apotek harus mengutamakan kepentingan masyarakat,
yaitu menyediakan, menyimpan, dan menyerahkan perbekalan farmasi yang bermutu baik.
(Anonim,2004).
Apotek sebagai tempat pelayanan kesehatan dan tempat praktik profesi apoteker
perlu menyediakan perbekalan yang diperlukan masyarakat. Manajemen obat di apotek
merupakan salah satu unsur penting dalam fungsi manajerial apotek secara keseluruhan,
karena ketidakefisiensian memberikan dampak negatif terhadap apotek baik secara medis
maupun ekonomis. Tujuan manajemen obat di apotek adalah agar obat yang diperlukan
tersedia setiap saat dibutuhkan, dalam jumlah yang cukup, mutu yang terjamin dan harga
yang terjangkau untuk mendukung pelayanan yang bermutu.(Boedagenta,2012)
Kemampuan untuk mengelola perbekalan farmasi seperti obat dan alkes, mulai dari
proses seleksi, perencanaan, pengadaan, penyimpanan hingga pelayanan terhadap pasien
harus dimiliki oleh apoteker yang berpraktik di apotek . Selain itu, pengelolaan sumber daya
manusia, sarana dan prasarana serta administrasi di apotek harus mampu dikelola dengan
baik oleh seorang apoteker di apotek. Karena itu apoteker harus menjalankan kerja
kefarmasiaanya sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Pada saat ini orientasi paradigma pelayanan kefarmasian telah bergeser dari
pelayanan obat (drug oriented) menjadi pelayanan pasien (patient oriented) dengan
mengacu kepada pharmaceutical care. Kegiatan pelayanan yang tadinya hanya berfokus
pada pengelolaan obat sebagai komoditi berubah menjadi pelayanan yang komprehensif
dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.(Anonim,2004)
Sebagai konsekuensi dari perubahan orientasi tersebut, maka apoteker dituntut
untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan serta perilaku untuk dapat melakukan
interaksi langsung dengan pasien. Bentuk interaksi tersebut antara lain memberikan
informasi dan edukasi kepada pasien maupun keluarga pasien, memonitor penggunaan
obat, mengevaluasi penggunaan obat pasien, dan dapat mendokumentasikan dengan baik
tentang kondisi serta pengobatan pasien, sehingga tercapai tujuan yang diinginkan yaitu
meningkatkan status kesehatan pasien serta meminimalisir terjadinya medication error
selama proses pelayanan.

II.PEMBAHASAN
Pengelolaan apotek merupakan segala upaya dan kegiatan yang dilakukan
seseorang apoteker dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pelayan apotek.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.922/Menkes/Per/X/1993 pasal 10 dan 11
pengelolaan apotek meliputi:
a. Pembuatan, pengolahan, peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran,
penyimpanan, dan penjualan obat atau bahan obat.
b. Pengadaan, penyimpanan, penyaluran, dan penyerahan perbekalan farmasi lainya.
c. Pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi, yang meliputi informasi obat dan
pelayanan perbekalan farmasi lainya yang diberikan kepada dokter, tenaga
kesehatan lainnya, maupun masyarakat. Serta, pengamatan dan pelaporan informasi
mengenai khasiat, keamanan, bahaya, serta mutu obat dan perbekalan farmasi
lainnya.
Pengelolaan apotek juga melibatkan fungsi-fungsi manajemen lainnya. Pengelolaan
suatu apotek dapat berjalan dengan baik, bila empat aktivitas dalam manajemen diterapkan,
yaitu perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan.
a. Perencanaan (planning) dibuat agar organisasi dapat mengarahkan dana dan
sumber daya yang ada, serta mempunyai komitmen untuk mencapai suatu tujuan.
Perencanaan dapat digunakan sebagai alat untuk memonitor semua kegiatanyang
terjadi dalam sebuah organisasi agar tidak terjadi penyimpangan.
b. Pengorganisasian (organizing) merupakan sekelompok orang yang bekerja sama
dengan berbagai aktivitas untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan
bersama. Proses pengorganisasian meliputi pengelompokan aktivitas yang sama
dan seimbang dengan pendidikan setiap karyawan; penentuan tugas masing-masing
kelompok; pemilihan orang yang tepat dalam setiap bidang yang disesuaikan dengan
pendidikan, sifat, dan pengalamannya.
c. Penggerakan (actuating) adalah kemampuan dalam memberikan dorongan atau
motivasi kepada bawahan, sehingga mereka bekerja dengan baik demi tercapainya
tujuan organisasi.
d. Pengawasan (controling) merupakan pengendalian dari semua kegiatan; apakah
telah berjalan sebagaimana mestinya. Penilaian dilakukan dengan membandingkan
antara hasil dengan rencana, kemudian dilakukan koreksi atau usaha perbaikan,
terhadap rencana-rencana berikutnya. Pengawasan dilakukan oleh pimpinan
bertujuan untuk menciptakan atau melaksanakan efisiensi dan penghematan biaya
agar tidak terjadi pemborosan.
Manajemen obat di apotek merupakan salah satu unsur penting dalam fungsi
manajerial apotek secara keseluruhan. Manajemen obat merupakan serangkaian kegiatan
kompleks yang mempunyai empat fungsi dasar yang siklusnya saling terkait, seleksi dan
perencanaan, pengadaan, distribusi, serta penggunaan.(Quick, 2004)
Kegiatan pelayanan kefarmasian yang semula hanya berfokus pada pengelolaan
obat sebagai komoditi, kini berubah menjadi pelayanan komprehensif, yang bertujuan untuk
meningkatkan kualitas hidup pasien. Karena itu, apoteker harus menjalankan kerja
kefarmasiannya sesuai standar yang telah ditetapkan. Sebagai upaya agar para apoteker
dapat melaksanakan pelayanan kefarmasian dengan baik, maka disusun standar pelayanan
kefarmasian di apotek yang tertuang dalam keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
1027/Menkes/SK/IX/2004, diantaranya adalah sebagai berikut ;

A. Pengelolaan Sumber Daya


Sumber daya merupakan sebuah potensi yang dimiliki oleh suatu materi atau
unsur dalam kehidupan, sumber daya yang penting dalam apotek adalah
sebagai berikut.
1. Sumber Daya Manusia
Dalam pengelolaan apotek, seorang apoteker harus mempunyai
kemampuan-kemampuan berikut :
a. Menyediakan dan memberikan pelayanan yang baik
b. Mengambil keputusan yang tepat
c. Mampu berkomunikasi antar profesi
d. Menempatkan diri sebagai pimpinan dalam situasi
multidisipliner.
e. Mampu mengelola Sumber Daya Manusia secara efektif
f. Selalu belajar sepanjang karier
g. Membantu memberikan pendidikan
h. Memberikan peluang untuk meningkatkan pengetahuan.
2. Sarana dan Prasarana
Apoteker berperan dalam mengelola sarana dan prasarana di apotek.
Selain itu, seorang apoteker juga harus menjamin bahwa:
a.
b.
c.
d.

Apotek berlokasi di daerah yang mudah dikenali masyarakat


Di halaman apotek terdapat papan petunjuk jelas
Apotek harus dapat dengan mudah diakses oleh masyarakat
Pelayanan produ kefarmasian diberikan pada tempat yang
terpisah dari aktivitas pelayanan dan penjualan produk lain
e. Masyarakat menerima akses langsung dari apoteker untuk
memperoleh informasi dan konseling
f. Lingkungan apotek selalu dalam keadaan bersih
g. Apoteker harus memiliki beberapa hal berikut; ruang tunggu,
tempat konseling, ruang racik, tempat pencucian alat,
perabotan apotek harus tertata rapi.
3. Sediaan Farmasi dan Perbekalan Kesehatan lainnya.
Pengelolaan persediaan farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya dilakukan
sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku, yaitu perencanaan,
pengadaan, penyimpanan, dan pelayanan. Sementara itu, pengeluaran obat
menggunakan sistem FIFO dan FEFO.
4. Administrasi
Dalam menjalankan pelayanan kefarmasian di apotek, seorang apoteker
perlu melakukan kegiatan administrasi berikut:
a. Admiistrasi umum, yang meliputi pencatatan, pengarsipan, pelaporan
narkotika, psikotropika, dan dokumentasi sesuai dengan ketantuan
yang berlaku.
b. Administrasi pelayanan, yang meliputi pengarsipan catatan
pengobatan pasien, dan pengarsipan hasil monitoring penggunaan
obat.
B. Pengelolaan pelayanan
Apoteker adalah praktisi kesehatan yang merupakan bagian dari sistem
rujukan profesional. Karena mudah didatangi (aksesibilitas), apoteker sering kali
merupakan titik kontak pertama antara seorang penderita dan sistem pelayanan

kesehatan. Apoteker mempunyai perhatian utama pada salah satu aspek proses
pelayanan kesehatan, yaitu penggunaan obat.(Siregar,2003)
Pelayanan menjadi hal yang sangat penting untuk dikelola dan ditingkatkan
kinerjanya, karena berhubungan dengan kepuasan masyarakat dan berimbas
pada keuntungan profit bagi apotek sendiri. Berikut pengelolaan pelayanan yang
sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan.
1. Pelayanan Resep
a. Skrining Resep
Skrining resep yang dilakukan apoteker meliputi persyaratan
administratif, kesesuaian farmasetis, serta pertimbangan klinis.
b. Penyiapan Obat
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyiapan obat meliputi;
peracikan harus sesuai prosedur, pengetiketan harus jelas dan dapat
dibaca, kemasan obat rapi dan cocok sehingga terjaga kualitasnya,
penyerahan obat oleh apoteker yang disertai informasi dan konseling
obat kepada pasien dengan bahasa yang jelas dan mudah di
mengerti, serta monitoring penggunaan obat.
2. Pelayanan Obat Wajib Apotek
OWA merupakan obat keras yang dapat diberikan apoteker kepada pasien.
Tujuan OWA adalah memperluas keterjangkauan obat untuk masyarakat.
Apoteker boleh menyerahkan obat keras, namun dengan syarat sebagai
berikut.
a. Apoteker wajib melakukan pencatatan yang benar mengenai
data pasien
b. Apoteker wajib memenuhi ketentuan jenis dan jumlah yang boleh
diberikan kepada pasien.
c. Apoteker wajib memberikan informasi obat secara benar, yang
mencakup indikasi, kontraindikasi, cara pemakaian, efek
samping obat yang mungkin timbul.
3. Pelayanan Obat Generik
Obat generik adalah obat yang mengandung zat aktif sesuai nama
generiknya.
4. Pelayanan Informasi Obat dan Konseling
Apoteker wajib memberikan informasi berkaitan dengan penggunaan obat
yang diserahkan kepada pasien, penggunaan obat yang tepat, aman dan
rasional. Apoteker harus memberikan informasi yang bernar, jelas, dan
mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana dan terkini. Serta harus
memberikan konseling mengenai sediaan farmasi, pengobatan, dan
perbekalan kesehatan lainnya, sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup
pasien.
5. Promosi dan Edukasi
Dalam rangka pemberdayaan masyarakat, apoteker harus memberikan
edukasi apabila masyarakat ingin mengobati diri sendiri untuk penyakit
ringan. Apoteker juga harus berpartisipasi aktif dalam promosi kesehatan,
ikut membantu diseminasi informasi, seperti penyebaran leaflet, poster,
penyuluhan dan lain-lain.
6. Pelayanan Residensial (Home Care)

Sebagai care giver, seorang apoteker diharapkan dapat melakukan


pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan ke rumah, dan harus
membuat catatan pengobatan pasien (medical record).
C. Evaluasi Mutu Pelayanan
Evaluasi merupakan proses pengukuran tentang efek strategis yang
digunakan dalam upaya mencapai tujuan perusahaan
Indikator yang digunakan dalam evaluasi mutu pelayanan adalah
sebagai berikut:
1. Tingkat kepuasan konsumen, yang dilakukan dengan survei
berupa angket atau wawancara langsung.
2. Dimensi waktu, di mana lama pelayanan diukur dengan waktu
(yang telah ditetapkan)
3. Prosedur tetap (protap), yang digunakan untuk menjamin mutu
pelayanan sesuai standar yang telah ditetapkan.

III.KESIMPULAN
1. Apotek merupakan tempat melaksanakan praktek profesi apoteker mulai
dari seleksi, perancanaan, pengadaan, penyimpanan, hingga pelayanan
sediaan farmasi dan alat-alat kesehatan kepada masyarakat.
2. Apoteker dalam menjalankan praktek profesi di apotek harus mengacu pada
Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek yang telah ditetapkan.
3. Apoteker yang berpraktek di apotek harus memiliki kemampuan
pengelolaan apotek, yang meliputi pengelolaan sumberdaya, pengelolaan
pelayanan dan evaluasi mutu.

IV.DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2004, Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1027/Menkes/SK/IX/2004


tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, Direktorat Jenderal
Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan RI, Jakarta
Bogadenta, Aryo. 2012, Manajemen Pengelolaan Apotek, D-Medika, Yogyakarta

Quick, J. D.,et al., 2004, Managing Drug Supply, The Selection, Procurement,
Distribution, and use of Pharmaceutical, 2nd edition, Management Science
For Health, Kunarin Press ,USA
Siregar,Charles, 2003, Farmasi Rumah Sakit Teori dan Penerapan, Penerbit Buku
Kedokteran ECG, Jakarta

Anda mungkin juga menyukai