Anda di halaman 1dari 2

Edukasi Keuangan, OJK Cetak

Buku Pelajaran SMP dan SMA


"Ada ratusan ribu buku yang kami cetak menggunakan dana CSR."

VIVA.co.id - Otoritas
Jasa Keuangan (OJK)
blusukan ke-24 kota di
seluruh Indonesia,
sebagai salah satu
upaya memberantas
buta keuangan.
Hasil survei literasi
keuangan nasional di
2013 menghasilkan
data, hanya 28 persen
pelajar, atau mahasiswa
yang memiliki tingkat
literasi keuangan. OJK pun membuat buku pelajaran untuk pelajar sekolah
menengah atas (SMA) yang bisa didapat di lingkungan internal sekolah.
"Ada ratusan ribu buku yang kami cetak menggunakan dana CSR (corporate
social responsibility, atau tanggung jawab sosial perusahaan) sejumlah
perusahaan. Tetapi, itu belum memenuhi semua kebutuhan pelajar, OJK tak bisa
sendiri," kata Agus Sugiarto, Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan
OJK, Rabu 4 Februari 2015.
Buku yang hak ciptanya dimiliki oleh OJK itu, menurutnya, belum bisa dijual
secara umum di sejumlah toko buku. Sebab, hingga saat ini belum ada penerbit
yang menawarkan kerja sama untuk mencetak buku tersebut secara umum dan
dikomersilkan di luar lingkungan sekolah.
"Kalau ada penerbit yang mau mencetak, ya silahkan, tetapi hak cipta tetap milik
OJK. Buku juga boleh dikomersilkan asal menggunakan harga pokok, untungnya
tak boleh banyaklah. Harga pokoknya berapa," katanya, tanpa menyebut
nominal harga buku tersebut.
Tak hanya buku SMA, OJK akan meluncurkan buku pelajaran untuk sekolah
menengah pertama (SMP) dalam waktu dekat. Dengan buku tersebut, OJK
berharap mampu meningkatkan literasi tentang jasa keuangan dan lembaga
keuangan di antara pelajar.
"Agar pelajar tak takut dengan lembaga keuangan, cinta produk keuangan dan
menata keuangan mereka sejak dini," kata Agus, di sela kegiatan Regulator
Mengajar di aula bersama SMAN 1, 3, dan 4 di Kota Malang.
Widya Hapsari, salah satu siswa kelas 10 SMA N 3 Kota Malang, mengatakan

pelajaran tentang OJK telah diterima oleh pelajar SMA di kelas 10 semester II.
Menurutnya, pelajaran tentang OJK ada di mata pelajaran ekonomi.
"Ada bab bank dan lembaga non bank. Kami belajar tentang tugas dan fungsi
OJK bahwa lembaga keuangan itu ternyata punya pengawas yang independen,"
kata Widya. (asp)