Anda di halaman 1dari 35

1

REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN STUDI MEDIKOLEGAL

PELANGGARAN HUKUM, ETIKA, DAN DISIPLIN DALAM PROFESI


KEDOKTERAN

Ditujukan untuk memenuhi syarat menempuh ujian kepaniteraan di bagian ilmu


kedokteran forensik dan studi medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Dipenogoro
Semarang
Disusun oleh :
Patrick Austan

2012-061-050

Felisia

2012-061-051

Nataria Monica

2012-061-053

Kevin tandiawan

2012-061-055

Karina Giovanni Sutikno

2013-061-108

Talita Clarissa Sinatra

2013-061-109
Dosen Penguji :

Dr. Gatot Suharto, SH, Sp.F, M.kes


Residen Pembimbing :
Dr. Biyanti

KEPANITERAAN KLINIK
DEPPT KEDOKTERAN FORENSIK DAN STUDI MEDIKOLEGAL

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPENOGOROBAB I


PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini semakin banyak pelanggaran yang terjadi dalam profesi kedokteran.
Pelanggaran secara umum menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan
sebagai perbuatan melanggar atau perihal saling melanggar. Bentuk pelanggaran ini
dapat berupa pelanggaran dalam norma etik, disiplin dan hukum. Namun
pelanggaran ini sulit dipilah-pilah apakah pelanggaran hukum atau pelanggaran etika

atau bahkan hanya pelanggaran disiplin.


Etika memiliki pengertian yang berbeda dengan hukum. Dimana kedua hal
tersebut bertujuan untuk kebaikan hidup pribadi. Hukum bertujuan untuk
mendamaikan hidup bersama. Sedangkan etika muncul dalam bentuk kode etik atau
sebagai code of profesion conduct yang bersifat etika terapan.
Di dalam praktek kedokteran kedua aspek tersebut, aspek etik dan aspek hukum
memiliki suatu cakupan yang sangat luas, dan seringkali tumpang-tindih pada suatu
isu-isu tertentu, seperti dalam hal informed consent, wajib simpan rahasia
kedokteran, profesionalisme, dan lainnya.
Bahkan di dalam praktek kedokteran, aspek etik seringkali tidak dapat
dipisahkan dari aspek hukumnya, oleh karena banyaknya norma etik yang telah
diangkat menjadi norma hukum, atau sebaliknya norma hukum yang mengandung
nilai-nilai etika.
Keadaan menjadi semakin sulit sejak para ahli hukum menganggap bahwa
standar prosedur dan standar pelayanan medis dianggap sebagai domain hukum,
padahal selama ini profesi menganggap bahwa memenuhi standar profesi adalah
bagian dari sikap etis dan sikap profesional. Dengan demikian pelanggaran standar
profesi dapat dinilai sebagai pelanggaran etik dan juga sekaligus pelanggaran
hukum.
Oleh karena itu referat ini dibuat untuk dapat memahami dasar aturan dan
penerapan etika hukum disiplin dalam profesi kedokteran.

1.2. Perumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang yang telah dijabarkan di atas, maka penulis ingin
mengangkat suatu masalah, yaitu:
1. Apakah terdapat pelanggaran baik dari segi etika, disiplin,dan hukum pada
profesi kedokteran?
1.3. Tujuan Penulisan
1.3.1. Tujuan umum
1. Mengetahui adanya pelanggaran etika, disiplin, dan hukum dalam profesi
kedokteran
1.3.2. Tujuan khusus
1.Mengetahui dasar aturan dari segi etika, disiplin, dan hukum dalam profesi kedokteran.
1.4. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Bidang akademik atau ilmiah
Menambah pengetahuan akademis mengenai pentingnya mengetahui etika,
disiplin, dan hukum dalam profesi kedokteran.
2. Bagi masyarakat
Memberi informasi kepada masyarakat mengenai adanya etika, disiplin, dan
hukum dalam profesi kedokteran.
3. Bagi penulis
Sebagai sarana pengembangan minat dan bakat serta meningkatkan
kemampuan dalam membuat tulisan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pelanggaran dalam bidang profesi kedokteran


Pelanggaran dalam bidang profesi kedokteran dapat berupa pelanggaran etika
disiplin maupun hukum. Ketiga hal ini tidak dapat dispisahkan satu sama lain. Berikut
ilustrasi mengenai cakupan antara ketiga aspek tersebut dalam profesi kedokteran.
ATURAN PENERAPAN
KEILMUAN KEDOKTERAN

DISIPLIN
ATURAN
PENERAPAN
ETIKA
KEDOKTERAN(KO
DEKI)

ATURAN HUKUM
KEDOKTERAN

ETIKA HUKUM

Bagan 1. Ilustrasi Aspek Etika, Disiplin, dan Hukum Dalam Profesi Kedokteran
2.1.1 Pelanggaran Etik Profesi Kedokteran
Etika kedokteran diatur dalam KODEKI (Kode Etik Kedokteran Indonesia).
KODEKI berisi 21 pasal yang mengatur mengenai profesi kedokteran, yaitu

KEWAJIBAN UMUM

Pasal 1

Setiap dokter wajib menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dan
atau janji dokter.

Pasal 2

Seorang dokter wajib

selalu melakukan pengambilan keputusan profesional

secara independen, dan mempertahankan perilaku professional dalam ukuran yang


tertinggi.

Pasal 3

Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi


oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi.

Pasal 4

Seorang dokter wajib menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri .

Pasal 5

Tiap perbuatan atau nasihat dokter yang mungkin melemahkan daya tahan psikis
maupun

fisik, wajib memperoleh persetujuan pasien/keluarganya dan hanya

diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien tersebut.

Pasal 6

Setiap dokter wajib senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan atau menerapkan


setiap penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya dan
terhadap hal-hal yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat.

Pasal 7

Seorang dokter wajib hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah
diperiksa sendiri kebenarannya.
5

Pasal 8

Seorang dokter wajib, dalam

setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan

secara kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa
kasih sayang (compassion) dan penghormatan atas martabat manusia.

Pasal 9

Seorang dokter wajib bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan
sejawatnya, dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya pada saat menangani
pasien dia ketahui memiliki kekurangan dalam karakter atau kompetensi, atau yang
melakukan penipuan atau penggelapan.

Pasal 10

Seorang dokter wajib menghormati hak-hak- pasien, teman sejawatnya, dan tenaga
kesehatan lainnya, serta wajib menjaga kepercayaan pasien.

Pasal 11

Setiap dokter wajib senantiasa mengingat kewajiban dirinya

melindungi hidup

makhluk insani.

Pasal 12

Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter wajib memperhatikan keseluruhan


aspek pelayanan kesehatan (promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif), baik fisik
maupun psiko-sosial-kultural pasiennya serta berusaha menjadi pendidik dan
pengabdi sejati masyarakat.

Pasal 13

Setiap dokter dalam bekerjasama dengan para pejabat lintas sektoral di bidang
kesehatan, bidang lainnya dan masyarakat, wajib saling menghormati.

KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP PASIEN

Pasal 14

Seorang dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan seluruh keilmuan
dan ketrampilannya untuk kepentingan pasien, yang ketika ia tidak mampu
melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan, atas persetujuan pasien/keluarganya,
ia wajib merujuk pasien kepada dokter yang mempunyai keahlian untuk itu.

Pasal 15

Setiap dokter wajib memberikan kesempatan pasiennya agar senantiasa dapat


berinteraksi dengan keluarga dan penasihatnya, termasuk dalam beribadat dan atau
penyelesaian masalah pribadi lainnya.

Pasal 16

Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang
pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.

Pasal 17

Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu wujud tugas
perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu
memberikannya.
KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP TEMAN SEJAWAT

Pasal 18

Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin


diperlakukan.

Pasal 19

Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman sejawat, kecuali dengan
persetujuan keduanya atau berdasarkan prosedur yang etis.
KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP DIRI SENDIRI

Pasal 20

Setiap dokter wajib selalu memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan
baik.

Pasal 21

Setiap dokter wajib senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan


teknologi kedokteran/ kesehatan.
Norma etik adalah norma yang apabila dilanggar hanya akan membawa akibat sanksi
moral bagi pelanggarnya. Suatu pelanggaran etik profesi dapat dikenakan sanksi disiplin
profesi dari bentuk peringatan hingga ke bentuk yang lebih berat, yaitu kewajiban
menjalani pendidikan atau pelatihan tertentu (bila akibat kurang kompeten), pencabutan
haknya berpraktik profesi. Sanksi tersebut diberikan oleh MKEK setelah dalam rapat
atau sidangnya dibuktikan bahwa dokter tersebut melanggar etik (profesi) kedokteran.
Dalam hal seorang dokter diduga melakukan pelanggaran etika kedokteran (tanpa
melanggar norma hukum), maka ia akan dipanggil dan disidang oleh Majelis
Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI untuk dimintai pertanggung-jawaban (etik
dan disiplin profesi) nya. Persidangan MKEK bertujuan untuk mempertahankan
akuntabilitas, profesionalisme dan keluhuran profesi.
Persidangan MKEK bersifat inkuisitorial khas profesi, yaitu Majelis (ketua dan anggota)
bersikap aktif melakukan pemeriksaan, tanpa adanya badan atau perorangan sebagai
penuntut. Persidangan MKEK secara formal tidak menggunakan sistem pembuktian
sebagaimana lazimnya di dalam hukum acara pidana ataupun perdata, namun demikian
tetap berupaya melakukan pembuktian mendekati ketentuan-ketentuan pembuktian yang
lazim.
Dalam melakukan pemeriksaannya, Majelis berwenang memperoleh :
8

1. Keterangan, baik lisan maupun tertulis (affidavit), langsung dari pihak-pihak


terkait (pengadu, teradu, pihak lain yang terkait) dan peer-group / para ahli di
bidangnya yang dibutuhkan
2. Dokumen yang terkait, seperti bukti kompetensi dalam bentuk berbagai ijasah/
brevet dan pengalaman, bukti keanggotaan profesi, bukti kewenangan berupa
Surat Ijin Praktek Tenaga Medis, Perijinan rumah sakit tempat kejadian, bukti
hubungan dokter dengan rumah sakit, hospital bylaws, SOP dan SPM setempat,
rekam medis, dan surat-surat lain yang berkaitan dengan kasusnya.
Putusan MKEK tidak ditujukan untuk kepentingan peradilan sehingga tidak dapat
dipergunakan sebagai bukti di pengadilan, kecuali atas perintah pengadilan dalam
bentuk permintaan keterangan ahli. Salah seorang anggota MKEK dapat memberikan
kesaksian ahli di pemeriksaan penyidik, kejaksaan ataupun di persidangan, menjelaskan
tentang jalannya persidangan dan putusan MKEK. Sekali lagi, hakim pengadilan tidak
terikat untuk sepaham dengan putusan MKEK. Eksekusi Putusan MKEK Wilayah
dilaksanakan oleh Pengurus IDI Wilayah dan/atau Pengurus Cabang Perhimpunan
Profesi yang bersangkutan. Khusus untuk SIP, eksekusinya diserahkan kepada Dinas
Kesehatan setempat. Apabila eksekusi telah dijalankan maka dokter teradu menerima
keterangan telah menjalankan keputusan.
2.1.2

Disiplin Kedokteran
Disiplin Kedokteran adalah aturan-aturan dan atau ketentuan penerapan

keilmuan dalam pelaksanaan pelayanan yang harus diikuti oleh dokter dan dokter
gigiUndang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Pasal 55 ayat
(1)).Penegakan Disiplin adalah penegakan aturan-aturan dan/atau ketentuan penerapan
keilmuan dalam pelaksanaan pelayanan yang harus diikuti oleh dokter dan dokter gigi
(Bab II Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia nomor 17/KKI/KEP/VIII/2006 tentang
Pedoman Penegakan Disiplin Profesi Kedokteran).
Bentuk pelanggaran disiplin kedokteran, menurut Keputusan KonsilKedokteran
Indonesia nomor 17/KKI/KEP/VIII/2006 tentang Pedoman PenegakanDisiplin Profesi
Kedokteran :
9

1. Melakukan praktik kedokteran dengan tidak kompeten.


2. Tidak merujuk pasien kepada dokter atau dokter

gigi

lain

yang

memilikikompetensi sesuai.
3. Mendelegasikan pekerjaan kepada tenaga kesehatan tertentu yang tidak memiliki
kompetensi untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.
4. Menyediakan dokter atau dokter gigi pengganti sementara yang tidak memiliki
kompetensi dan kewenangan yang sesuai, atau tidak melakukan pemberitahuan
perihal penggantian tersebut.
5. Menjalankan praktik kedokteran dalam kondisi tingkat kesehatan fisik ataupun
mental sedemikian rupa sehingga tidak kompeten dan dapatmembahayakan
pasien.
6. Dalam penatalaksanaan pasien, melakukan yang seharusnya tidak dilakukanatau
tidak melakukan yang seharusnya dilakukan, sesuai dengan tanggung jawab
profesionalnya, tanpa alasan pembenar atau pemaaf yang sah, sehinggadapat
membahayakan pasien.
7. .Melakukan pemeriksaan atau pengobatan berlebihan yang tidak sesuaidengan
kebutuhan pasien.
8. Tidak memberikan penjelasan yang jujur, etis dan memadaikepada pasien atau
keluarganya dalam melakukan praktik kedokteran.
9. Melakukan tindakan medik tanpa memperoleh persetujuan dari pasien
ataukeluarga dekat atau wali atau pengampunya.
10. Dengan sengaja, tidak membuat atau menyimpan rekam medik,sebagaimana
diatur dalam peraturan perundangundangan atau etika profesi.
11. Melakukan perbuatan yang bertujuan untuk menghentikan kehamilan yangtidak
sesuai dengan ketentuan, sebagaimana diatur dalam peraturan perundangundangan dan etika profesi.
12. Melakukan perbuatan yang dapat mengakhiri kehidupan pasien atas permintaan
sendiri dan atau keluarganya .
13. Menjalankan praktik kedokteran

dengan

menerapkan

pengetahuan

atauketerampilan atau teknologi yang belum diterima atau di luar tata cara
praktik kedokteran yang layak.
14. Melakukan penelitian dalam praktik kedokteran dengan menggunakanmanusia
sebagai subjek penelitian, tanpa memperoleh persetujuan etik (ethical
clearance)dari lembaga yang diakui pemerintah.

10

15. Tidak melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, padahaltidak


membahayakan dirinya, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bertugasdan
mampu melakukannya.
16. Menolak atau menghentikan tindakan pengobatan terhadap pasien tanpaalasan
yang layak dan sah sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan
atau etika profesi.
17. Membuka rahasia kedokteran, sebagaimana diatur dalam peraturan perundangundangan atau etika profesi.
18. Membuat keterangan medik yang tidak didasarkan kepada hasil pemeriksaan
yang diketahuinya secara benar dan patut.
19. Turut serta dalam perbuatan yang termasuk tindakan penyiksaan (torture)atau
eksekusi hukuman mati.
20. Meresepkan atau memberikan obat golongan narkotika, psikotropika dan
zatadiktif lainnya (NAPZA) yang tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan dan etika profesi.
21. Melakukan pelecehan seksual,

tindakan

intimidasi

atau

tindakan

kekerasanterhadap pasien, di tempat praktik.


22. Menggunakan gelar akademik atau sebutan profesi yang bukan haknya.
23. Menerima imbalan sebagai hasil dari merujuk atau meminta pemeriksaanatau
memberikan resep obat/alat kesehatan.
24. Mengiklankan kemampuan/pelayanan atau kelebihan kemampuan/ pelayanan
yang dimiliki, baik lisan ataupun tulisan, yang tidak benar ataumenyesatkan.
25. Ketergantungan pada narkotika, psikotropika, alkohol serta zat adiktif lainnya.
26. Berpraktik dengan menggunakan Surat Tanda Registrasi (STR) atau SuratIjin
Praktik (SIP) dan/atau sertifikat kompetensi yang tidak sah.
27. .Ketidakjujuran dalam menentukan jasa medik.
28. Tidak memberikan informasi, dokumen dan alat bukti lainnya yangdiperlukan
MKDKI untuk pemeriksaan atas pengaduan dugaan pelanggarandisiplin.

Pengertian Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia(MKDKI)


Menurut Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia nomor15/KKI/PER/VIII/2006
Tentang Organisasi dan Tata Kerja MajelisKehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia
dan MajelisKehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia di Tingkat Provinsi, Majelis
Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (Indonesian Medical Disciplinary Board),
11

yang selanjutnya disebut MKDKI,adalah lembaga yang berwenang untuk menentukan


ada tidaknya kesalahan yang dilakukan dokter dan dokter gigi dalam penerapandisiplin
ilmu kedokteran dan kedokteran gigi, dan menetapkan sanksi.
MKDKI merupakan lembaga otonom dari Konsil Kedokteran Indonesia. Hal
tersebut diatur dalam pasal 55 Undang-Undang Republik Indonesia nomor 29tahun 2004
tentang Praktik Kedokteran. Majelis Kehormatan Disiplin KedokteranIndonesia
bertanggung jawab kepada Konsil Kedokteran Indonesia.Menurut pasal 57 UndangUndang Republik Indonesia nomor 29 tahun2004 tentang Praktik Kedokteran, Majelis
Kehormatan Disiplin KedokteranIndonesia berkedudukan di ibu kota negara Republik
Indonesia.
Kehormatan Disiplin Kedokteran di tingkat provinsi dapat dibentuk oleh Konsil
Kedokteran

Indonesia

atas

usul

Majelis

Kehormatan

Disiplin

Kedokteran

Indonesia.Pimpinan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia terdiri atas


seorangketua,

seorang

wakil

ketua,

dan

seorang

sekretaris.

Keanggotaan

MajelisKehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia terdiri atas 3 (tiga) orang dokter dan
3(tiga) orang dokter gigi dari organisasi profesi masing-masing, seorang dokter
danseorang dokter gigi mewakili asosiasi rumah sakit, dan 3 (tiga) orang sarjanahukum.
Berdasarkan pasal 60 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 tahun 2004
tentang Praktik Kedokteran, anggota Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia
ditetapkan oleh Menteri atas usul organisasi profesi. Majelis Kehormatan Disiplin
Kedokteran Indonesia (MKDI) dan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) dibentuk oleh
Departemen Kesehatan. Rencana pembentukan MKDI dan KKI dilakukan melalui
pembahasan bersama organisasi profesi, asosiasi, institusi pendidikan kedokteran.
Dokter yang sudah menjalankan praktik tidak akan terlepas dari kemungkinan
pelanggaran/kelalaian medik. Untuk itu diperlukan proses pendisiplinan dokter praktik.
Proses pendisiplinan menganut kaidah-kaidah "hukum" disiplin profesikedokteran.
Hukuman maksimal dari proses penegakan disiplin adalah pencabutan registrasi dokter
yang melanggar/lalai.
Tugas dan Kewenangan Majelis Kehormatan Disiplin KedokteranIndonesia (MKDKI)

12

Menurut pasal 64 Undang-Undang nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik


Kedokteran, majelis ini dibentuk untuk menegakkan disiplin dokter dan dokter
gigidalam

penyelenggaraan

praktik

kedokteran.

Penegakan

disiplin

yang

dimaksudadalah penegakan aturan-aturan dan/atau penerapan keilmuan dalam


pelaksanaan pelayanan yang harus diikuti oleh dokter dan dokter gigi.Tugas MKDKI
adalah menerima pengaduan, memeriksa, dan memutuskankasus pelanggaran disiplin
dokter dan dokter gigi yang diajukan oleh masyarakatserta menyusun pedoman dan tata
cara penanganan kasus pelanggaran disiplindokter atau dokter gigi. Majelis Kehormatan
Disiplin Kedokteran Indonesia dalammenjalankan tugasnya bersifat independen, tidak
terpengaruh oleh siapapun ataulembaga lainnya (pasal 55 Undang-Undang nomor 29
tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran).Dengan suatu mekanisme kerja, MKDKI akan
menentukan apakah suatu permasalahan merupakan pelanggaran etika atau pelanggaran
disiplin. Pelanggaranetika penyelesaiannya akan dilakukan oleh organisasi profesi,
sedangkan untuk pelanggaran disiplin akan dilakukan pemberian sanksi oleh MKDKI.
Sanksi disiplinyang diberikan terhadap pelanggaran disiplin kedokteran menurut pasal
69 Undang-Undang nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, dapat
berupapemberian peringatan tertulis; rekomendasi pencabutan surat tanda registrasi atau
surat izin praktik, dan;.kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi
pendidikankedokteran atau kedokteran gigi.
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat
(1)Peraturan

Konsil

Kedokteran

Indonesia

nomor

15/KKI/PER/VIII/2006

TentangOrganisasi dan Tata Kerja Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia


danMajelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia di Tingkat Provinsi, MKDKI
mempunyai wewenang:
1. menerima pengaduan pelanggaran disiplin dokter dan dokter gigi;
2. menetapkan jenis pengaduan pelanggaran disiplin atau pelanggaran etikaatau
3.
4.
5.
6.

bukan keduanya;
memeriksa pengaduan pelanggaran disiplin dokter dan dokter gigi;
memutuskan ada tidaknya pelanggaran disiplin dokter dan dokter gigi;
menentukan sanksi terhadap pelanggaran disiplin dokter dan dokter gigi;
melaksanakan keputusan MKDKI

13

7. menyusun tata cara penanganan kasus pelanggaran disiplin dokter dandokter


gigi;
8. menyusun buku pedoman MKDKI dan MKDKI-P;
9. membina, mengkoordinasikan dan mengawasi pelaksanaan tugas MKDKI-P;
10. membuat dan memberikan pertimbangan usulan pembentukan MKDKIPkepadaKonsil Kedokteran Indonesia
11. mengadakan sosialisasi, penyuluhan, dan diseminasi tentang MKDKI
danMKDKI-P,
12. mencatat dan

mendokumentasikan

pengaduan,

proses

pemeriksaan,

dankeputusan MKDKI. dalam menjalankan fungsi, tugas, dan wewenangnya,


MKDKIharus

memperhatikan

peraturan

perundang-undangan

di

bidangkesehatan serta peraturan perundang-undangan lain yang terkaitdan


yang berlaku.
Pengaduan Pelanggaran Disiplin Kedokteran kepada Majelis Kehormatan Disiplin
Kedokteran Indonesia (MKDKI)
Menurut pasal 66 Undang-Undang nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran, setiap orang yang mengetahui atau kepentingannya dirugikan atastindakan
dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran dapat mengadukan secara
tertulis kepada Ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia. Pengaduan
sekurang-kurangnya harus memuat :
1. identitas pengaduan pasien
2. nama dan alamat tempat praktik dokter atau dokter gigi dan waktu
3.
4.
5.
6.

tindakandilakukan
waktu tindakan dilakukan
alasan pengaduan
alat bukti bila ada
pernyataan tentang kebenaran pengaduan.
Menurut pasal 2 ayat (2) Peraturan Konsil Kedokteran Indonesianomor

16/KKI/PER/VIII/2006 tentang Tata Cara Penanganan Kasus Dugaan Pelanggaran


Disiplin Dokter dan Dokter Gigi, apabila orang yangmengetahui atau kepentingannya
dirugikan atas tindakan dokter atau dokter gigi tersebut tidak mampu mengadukan
secara tertulis, dapat mengadukan secara lisan kepada MKDKI atau MKDKI-Provinsi.

14

Majelis Pemeriksa Awal


Menurut

pasal

nomor16/KKI/PER/VIII/2006

Peraturan
tentang

Tata

Konsil
Cara

Kedokteran

Penanganan

Kasus

Indonesia
Dugaan

Pelanggaran Disiplin Dokter dan Dokter Gigi,


MKDKI atau MKDKI-Pmelakukan pemeriksaan awal atas pengaduan yang
diterima. Untuk melakukan pemeriksaan awal tersebut, Ketua MKDKI menetapkan
Majelis Pemeriksa Awal.Majelis Pemeriksa Awal pada MKDKI terdiri dari 3 (tiga) orang
yang diangkat dariAnggota MKDKI.Majelis Pemeriksa Awal dapat melakukan
investigasi untuk melengkapi berkas dalam pemeriksaan awal. Majelis Pemeriksa Awal
melakukan pemeriksaanawal antara lain keabsahan aduan, keabsahan alat bukti,
menetapkan pelanggaranetik atau disiplin atau menolak pengaduan karena tidak
memenuhi syarat pengaduan atau tidak termasuk dalam wewenang MKDKI dan
melengkapi seluruh alat bukti.Bilamana dari hasil pemeriksaan awal ditemukan bahwa
pengaduan yang diajukan adalah pelanggaran etik maka MKDKI melanjutkan
pengaduan tersebut kepada organisasi profesi. Namun bilamana pada pemeriksaan awal
ditemukan bahwa pengaduan tersebut adalah dugaan pelanggaran disiplin maka
ditetapkan Majelis Pemeriksa Disiplin oleh Ketua MKDKI. Setiap keputusan Majelis
Pemeriksa Awal dalam kurun waktu 14 hari kerja harus disampaikan kepada Ketua
MKDKI.9

15

Bagan 2. Alur Tata Cara Penanganan Dugaan Pelanggaran Disiplin Kedokteran /


Kedokteran Gigi (Tahap Pemeriksaan Awal)
Menurut

pasal

Peraturan

Konsil

Kedokteran

Indonesia

nomor

16/KKI/PER/VIII/2006 tentang Tata Cara Penanganan Kasus Dugaan Pelanggaran


Disiplin Dokter dan Dokter Gigi, Selambat-lambatnya dalam jangka waktu 14 hari kerja
sesudah hasil pemeriksa awal diterima, MKDKI segera membentuk Majelis Pemeriksa
Disiplin untuk MKDKI dan 28 hari untuk MKDKI-Provinsi. Majelis Pemeriksa Disiplin
tersebut ditetapkan dalam Keputusan Ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran
Indonesia. Majelis Pemeriksa Disiplin dipilih dari anggota MKDKI dan/atau MKDKI-P
yang salah satunya harus ahli hukum yang bukan tenaga medis.Pemeriksaan dokter atau
dokter gigi yang diadukan dilakukan dalam bentuk Sidang Majelis Pemeriksa Disiplin.
Sidang Majelis Pemeriksa Disiplin dipimpin oleh Ketua Majelis Pemeriksa Disiplin dan
didampingi oleh anggota Majelis Pemeriksa Disiplin dan seorang panitera yang
ditetapkan oleh Ketua MKDKI. Sidang Majelis Pemeriksa Disiplin dihadiri oleh dokter
atau dokter gigi yang diadukan, dan dapat didampingi oleh pendamping. Sidang Majelis
Pemeriksa Disiplin dilakukan secara tertutup. Keputusan sidang Majelis Pemeriksa
16

Disiplin adalah merupakan keputusan MKDKI atau keputusan MKDKI-P yang mengikat
Konsil Kedokteran Indonesia,dokter atau dokter gigi yang diadukan, pengadu,
Departemen Kesehatan, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota serta institusi terkait.
Keputusan tersebut dapat berupa :
1. tidak terbukti bersalah melakukan pelanggaran disiplin kedokteran
2. terbukti bersalah melakukan pelanggaran disiplin kedokteran dan pemberian
sanksi disiplin.
3. Pengaduan yang telah diputuskan pada MKDKI atau MKDKI-P tidak
dapatdiadukan kembali.
Sanksi disiplin sebagaimana pernyataan diatas dapat berupa :
1. pemberian peringatan tertulis;
2. rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi atau Surat Izin Praktik dan/atau
kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan
kedokteran atau kedokteran gigi.
Rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi atau Surat Izin Praktik yang dimaksud
dapat berupa:
1. rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi atau Surat Izin Praktik
sementara selama-lamanya 1 (satu) tahun, atau
2. rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi atau Surat Izin Praktik tetapatau
selamanya;
Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan
kedokteran atau kedokteran gigi yang dimaksud dapat berupa : a. pendidikan formal;
atau b. pelatihan dalam pengetahuan dan atau ketrampilan, magang di institusi
pendidikan atau sarana pelayanan kesehatan jejaringnya atau sarana pelayanan kesehatan
yang ditunjuk, sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan dan paling lama 1(satu) tahun.

17

Bagan 3. Alur Tata Cara Penanganan Dugaan Pelanggaran Disiplin


Kedokteran/Kedokteran Gigi (Tahap Pemeriksaan Disiplin)
2.1.3

Hukum
Kedudukan dokter dewasa ini tetap dihormati sebagai ilmuwan yang

pengetahuannya diperlukan untuk menyembuhkan penyakit namun meningkatnya


kesadaran hukum masyarakat juga menuntut mendapat pelyanan sesuai dengan
kehendaknya. Dengan demikian profesi kedokteran memerlukan kepastian hukum yang
mengatur pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh dokter dalam menjalankan
profesinya sehingga jelas mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak diperbolehkan.
Dalam melakukan profesinya, seorang dokter mempunyai hak dan kewajiban.
Dengan adanya berbagai tanggung jawab yang dibebankan terhadap dokter sehubungan
dengan profesinya agar dapat melakukan profesi medis dengan tenang perlu ada batasan
apa yang dilarang dan apa yang diperbolehkan dan sanksi mengenai pelanggaran.
Dalam pekerjaan sehari-hari sebagai dokter kita sering menjumpai kasus-kasus
yang apabila tidak berhati-hati, dengan tanpa disadari telah melanggar hukum. Pada
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tercantum sanksi terhadap dokter yang
18

menyimpang dari profesinya. Dokter sebagai bagian dari komunitas (publik)


sehingga berlaku kepadanya hukum publik dan hukum khusus profesi
kedokteran.
a. Leg Generalis:
KUH Pidana, antara lain:
Pasal 242 KUHP tentang sumpah palsu dan keterangan palsu
(1) Barang siapa dalam keadaan di mana undang-undang menentukan
supaya memberi keterangan di atas sumpah atau mengadakan akibat
hukum kepada keterangan yang demikian, dengan sengaja memberi
keterangan palsu di atas sumpah, baik dengan lisan atau tulisan, secara
pribadi maupun oleh kuasanya yang khusus ditunjuk untuk itu, diancam
dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
(2) Jika keterangan palsu di atas sumpah diberikan dalam perkara pidana
dan merugikan terdakwa atau tersangka, yang bersalah diancam dengan
pidana penjara paling lama sembilan tahun.
(3) Disamakan dengan sumpah adalah janji atau penguatan diharuskan
menurut aturan- aturan umum atau yang menjadi pengganti sumpah.
(4) Pidana pencabutan hak berdasarkan pasal 35 No. 1 - 4 dapat
dijatuhkan.
Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan
(1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun
delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus
rupiah,
(2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam
dengan pidana penjara paling lama lima tahun.
(3) Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama
tujuh tahun.
(4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan.
(5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.
Pasal 359 KUHP yaitu karena kesalahannya menyebabkan orang mati

19

Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang


lain mati, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau
pidana kurungan paling lama satu tahun
Pasal 360 KUHP yaitu karena kesalahannya menyebabkan orang luka
berat
(1) Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang
lain mendapat luka-luka berat, diancam dengan pidana penjara paling
lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun.
(2) Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebahkan orang
lain luka-luka sedemikian rupa sehingga timhul penyakit atau halangan
menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian selama waktu tertentu,
diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana
kurungan paling lama enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat
ribu lima ratus rupiah
Pasal 361 KUHP yaitu karena kesalahannya dalam melakukan suatu
jabatan atau pekerjaannya sehingga menyebabkan mati atau luka berat
akan dihukum lebih berat
Jika kejahatan yang diterangkan dalam bab ini dilakukan dalam
menjalankan suatu jabatan atau pencarian, maka pidana ditambah dengan
sepertiga dan yang bersalah dapat dicahut haknya untuk menjalankan
pencarian

dalam

mana

dilakukan

kejahatan

dan

hakim

dapat

memerintahkan supaya putusannya diumumkan.


Pasal 322 KUHP tentang pelanggaran rahasia kedokteran
(1) Barang siapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib
disimpannya karena jabatan atau pencariannya, baik yang sekarang
maupun yang dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama
sembilan bulan atau pidana denda paling banyak sembilan ribu rupiah.
(2) Jika kejahatan dilakukan terhadap seorang tertentu, maka perbuatan
itu hanya dapat dituntut atas pengaduan orang itu.
Pasal-pasal tentang abortus provocatus (pasal 346, 347, 348 KUHP)
Pasal 346 KUHP:

20

Seorang

wanita

yang

sengaja

menggugurkan

atau

mematikan

kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan


pidana penjara paling lama empat tahun.
Pasal 347 KUHP:
(1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan
kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana
penjara paling lama dua belas tahun.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut diancam
dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
Pasal 348 KUHP:
(1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan
kandungan seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan
pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam
dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun
Pasal 344 KUHP tentang euthanasia
Barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu
sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati, diancam dengan
pidana penjara paling lama dua belas tahun.
KUH Perdata, antara lain:
Wan prestasi, jika hubungan yuridis dokter-pasien adalah membawa
hasil (resulaatverbintenis) dengan memakai Pasal 1239 KUH Perdata:
Tiap perikatan untuk berbuat sesuatu, atau untuk tidak berbuat sesuatu,
wajib diselesaikan dengan memberikan penggantian biaya, kerugian dan
bunga, bila debitur tidak memenuhi kewajibannya.
Perbuatan melawan hukum, jika hubungan yuridis dokter-pasien
adalah perjanjian memasang tekad (inspanningsverbintenissen) atau
perjanjian terapeutik dengan memakai Pasal 1365 KUH Perdata:
Tiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian kepada
orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena
kesalahannya untuk menggantikan kerugian tersebut.
Melalaikan pekerjaan sebagai penanggung jawab. Artinya, dokter
bertanggung jawab atas kesalahn yang dibuat bawahannya (perawat,
21

paramedis) yang secara langsung diawasinya dalam melaksanakan


perintah atau petunjuk dokter. Pasal yang digunakan adalah Pasal 1367
KUH Perdata.
Seseorang tidak hanya bertanggung jawab, atas kerugian yang disebabkan
perbuatannya sendiri, melainkan juga atas kerugian yang disebabkan
perbuatan-perbuatan orang-orang yang menjadi tanggungannya atau
disebabkan barang-barang yang berada di bawah pengawasannya.
b. Leg Spesialis:
UU No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, antara lain:
Pasal 75 mengenai praktik tanpa Surat Tanda Registrasi (STR).
(1) Setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik
kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 29 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3
(tiga) tahun atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta
rupiah).
(2) Setiap dokter atau dokter gigi warga negara asing yang dengan
sengaja melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat tanda
registrasi sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda
paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
(3) Setiap dokter atau dokter gigi warga negara asing yang dengan
sengaja melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat tanda
registrasi bersyarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda
paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
Pasal 76 mengenai praktik tanpa Surat Izin Praktik (SIP).
Setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik
kedokteran tanpa memiliki surat izin praktik sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 36 dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun
atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
Pasal 77 mengenai penggunaan gelar seolah-olah dokter atau dokter gigi
yang memiliki STR.
22

Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan identitas berupa gelar


atau bentuk lain yang menimbulkan kesan bagi masyarakat seolah-olah
yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi yang telah memiliki
surat tanda registrasi dokter atau surat tanda registrasi dokter gigi
dan/atau surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 ayat (1)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda
paling banyak Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).
Pasal 79 dimana tidak memasang papan praktik, tidak membuat rekam
medik, tidak sesuai standar profesi.
Dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda
paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah), setiap dokter
atau dokter gigi yang :
a. dengan sengaja tidak memasang papan nama sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 41 ayat (1);
b. dengan sengaja tidak membuat rekam medis sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 46 ayat (1); atau
c. dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 51 huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, atau
huruf e.
Pasal 80 yaitu mempekerjakan dokter atau dokter gigi tanpa STR dan
SIP.
(1) Setiap orang yang dengan sengaja mempekerjakan dokter atau dokter
gigi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42, dipidana dengan pidana
penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda paling banyak
Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
(2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan oleh korporasi, maka pidana yang dijatuhkan adalah pidana
denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah sepertiga atau
dijatuhi hukuman tambahan berupa pencabutan izin.
UU no. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
Pasal 190
(1) Pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan dan/atau tenaga kesehatan
yang melakukan praktik atau pekerjaan pada fasilitas pelayanan
23

kesehatan yang dengan sengaja tidak memberikan pertolongan pertama


terhadap pasien yang dalam keadaan gawat darurat sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2) atau Pasal 85 ayat (2) dipidana dengan
pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak
Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
(2) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
mengakibatkan terjadinya kecacatan atau kematian, pimpinan fasilitas
pelayanan kesehatan dan/atau tenaga kesehatan tersebut dipidana dengan
pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Pasal 191
Setiap orang yang tanpa izin melakukan praktik pelayanan kesehatan
tradisional yang menggunakan alat dan teknologi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 60 ayat (1) sehingga mengakibatkan kerugian harta benda,
luka berat atau kematian dipidana dengan pidana penjara paling lama 1
(satu) tahun dan denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta
rupiah).
Pasal 192
Setiap orang yang dengan sengaja memperjualbelikan organ atau jaringan
tubuh dengan dalih apa pun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 ayat
(3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan
denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Pasal 193
Setiap orang yang dengan sengaja melakukan bedah plastik dan
rekonstruksi untuk tujuan mengubah identitas seseorang sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 69 diancam dengan pidana penjara paling lama 10
(sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu
miliar rupiah)
Pasal 194
Setiap orang yang dengan sengaja melakukan aborsi tidak sesuai dengan
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dipidana
dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling
banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Pasal 195
24

Setiap orang yang dengan sengaja memperjualbelikan darah dengan dalih


apapun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 Ayat (3) dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Pasal 196
Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan
sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memenuhi standar
dan/atau persyaratan keamanan, khasiat atau kemanfaatan, dan mutu
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 ayat (2) dan ayat (3) dipidana
dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling
banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Pasal 197
Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan
sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana
penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak
Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).
UU no. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit:
Pasal 37
(1) Setiap tindakan kedokteran yang dilakukan di Rumah Sakit harus
mendapat persetujuan pasien atau keluarganya.
(2) Ketentuan mengenai persetujuan tindakan kedokteran sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 38
(1) Setiap Rumah Sakit harus menyimpan rahasia kedokteran.
(2) Rahasia kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat
dibuka

untuk

kepentingan

kesehatan

pasien,

untuk

pemenuhan

permintaan aparat penegak hukum dalam rangka penegakan hukum, atas


persetujuan pasien sendiri, atau berdasarkan ketentuan peraturan
perundangundangan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai rahasia kedokteran diatur dengan
Peraturan Menteri.
Pasal 62

25

Setiap orang yang dengan sengaja menyelenggarakan Rumah Sakit tidak


memiliki izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) dipidana
dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling
banyak Rp. 5.000.000.000,00- (lima milyar rupiah).
Pasal 63
(1) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62
dilakukan oleh korporasi, selain pidana penjara dan denda terhadap
pengurusnya, pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa
pidana denda dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana denda
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62.
(2) Selain pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1), korporasi
dapat dijatuhi pidana tambahan berupa:
a. pencabutan izin usaha; dan/atau
b. pencabutan status badan hukum.

2.2

Contoh kasus yang berhubungan dengan pelanggaran etik, disiplin, dan hukum

2.2.1 Kasus Malpraktik dalam bidang Orthopedy


Seorang pasien menjalani suatu pembedahan di sebuah kamar operasi.
Sebagaimana layaknya, sebelum pembedahan dilakukan anastesi terlebih dahulu.
Pembiusan dilakukan oleh dokter anastesi, sedangkan operasi dipimpin oleh dokter
ahli bedah tulang (orthopedy).
Operasi berjalan lancar. Namun, tiba-tiba sang pasien mengalami kesulitan
bernafas. Bahkan setelah operasi selesai dilakukan, pasien tetap mengalami
gangguan pernapasan hingga tak sadarkan diri. Akibatnya, ia harus dirawat terus
menerus di perawatan intensif dengan bantuan mesin pernapasan (ventilator).
Tentu kejadian ini sangat mengherankan. Pasalnya, sebelum dilakukan operasi,
pasien dalam keadaan baik, kecuali masalah tulangnnya.

26

Usut punya usut, ternyata kedapatan bahwa ada kekeliruan dalam pemasangan gas
anastesi (N2O) yang dipasang pada mesin anastesi. Harusnya gas N2O, ternyata
yang diberikan gas CO2. Padahal gas CO2 dipakai untuk operasi katarak.
Pemberian CO2 pada pasien tentu mengakibatkan tertekannya pusat-pusat
pernapasan sehingga proses oksigenasi menjadi sangat terganggu, pasien jadi tidak
sadar dan akhirnya meninggal. Ini sebuah fakta penyimpangan sederhana namun
berakibat fatal.
Dengan kata lain ada sebuah kegagalan dalam proses penetapan gas anastesi. Dan
ternyata, di rumah sakit tersebut tidak ada standar-standar pengamanan pemakaian
gas yang dipasang di mesin anastesi. Padahal seharusnya ada standar, siapa yang
harus memasang, bagaimana caranya, bagaimana monitoringnya, dan lain
sebagainya. Idealnya dan sudah menjadi keharusan bahwa perlu ada sebuah
standar yang tertulis (misalnya warna tabung gas yang berbeda), jelas, dengan
formulir yang memuat berbagai prosedur tiap kali harus ditandai dan
ditandatangani. Seandainya prosedur ini ada, tentu tidak akan ada, atau kecil
kemungkinan terjadi kekeliruan. Dan kalaupun terjadi akan cepat diketahui siapa
yang bertanggung jawab.
Tinjauan Kasus
Ditinjau dari Sudut Pandang Hukum
a.

Tinjauan Malpraktik Pidana dan Sanksi Hukumnya

Kasus tersebut merupakan bentuk malpraktik pidana sebab telah melanggar


beberapa aturan dalam KUHP untuk kelalaian yang berlaku bagi setiap orang, yang
diatur dalam Pasal 359, 360, dan 361 KUHP
Dalam

Kitab-Undang-undang

Hukum

Pidana

(KUHP)

kelalaian

yang

mengakibatkan celaka atau bahkan hilangnya nyawa orang lain. Pasal 359,
misalnya menyebutkan, Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan matinya
orang lain, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan
paling lama satu tahun.
27

Sedangkan kelalaian yang mengakibatkan terancamnya keselamatan jiwa


seseorang dapat diancam dengan sanksi pidana sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 360 Kitab-Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP):
(1) Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain mendapat lukaluka berat, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan
paling lama satu tahun.
(2) Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka
sedemikian rupa sehingga timbul penyakit atau halangan menjalankan pekerjaan
jabatan atau pencaharian selama waktu tertentu, diancam dengan pidana penjara
paling lama sembilan bulan atau kurungan paling lama enam bulan atau denda
paling tinggi tiga ratus rupiah.
Pemberatan sanksi pidana juga dapat diberikan terhadap dokter yang terbukti
melakukan malpraktik, sebagaimana Pasal 361 Kitab-Undang-Undang Hukum
Pidana (KUHP), Jika kejahatan yang diterangkan dalam bab ini dilakukan dalam
menjalankan suatu jabatan atau pencarian, maka pidana ditambah dengan sepertiga
dan yang bersalah dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana
dilakukan kejahatan dan hakim dapat memerintahkan supaya putusannya
diumumkan. Namun, apabila kelalaian dokter tersebut terbukti merupakan
malpraktik yang mengakibatkan terancamnya keselamatan jiwa dan atau hilangnya
nyawa orang lain maka pencabutan hak menjalankan pencaharian (pencabutan izin
praktik) dapat dilakukan.
Jika perbuatan malpraktik yang dilakukan dokter terbukti dilakukan dengan unsur
kesengajaan (dolus) dan ataupun kelalaian (culpa) seperti dalam kasus malpraktek
dalam bidang orthopedy tersebut, maka adalah hal yang sangat pantas jika dokter
yang bersangkutan dikenakan sanksi pidana karena dengan unsur kesengajaan
ataupun

kelalaian

telah

melakukan

perbuatan

melawan

hukum

yaitu

menghilangkan nyawa seseorang. Perbuatan tersebut telah nyata-nyata mencoreng


kehormatan dokter sebagai suatu profesi yang mulia.

28

Pekerjaan profesi bagi setiap kalangan terutama dokter tampaknya harus sangat
berhati-hati untuk mengambil tindakan dan keputusan dalam menjalankan tugastugasnya karena sebagaimana yang telah diuraikan di atas. Tuduhan malpraktik
bukan hanya ditujukan terhadap tindakan kesengajaan (dolus) saja.Tetapi juga
akibat kelalaian (culpa) dalam menggunakan keahlian, sehingga mengakibatkan
kerugian, mencelakakan, atau bahkan hilangnya nyawa orang lain. Selanjutnya,
jika kelalaian dokter tersebut terbukti merupakan tindakan medik yang tidak
memenuhi SOP yang lazim dipakai, melanggar Undang-undang No. 23 Tahun
1992 tentang Kesehatan, maka dokter tersebut dapat terjerat tuduhan malpraktik
dengan sanksi pidana.
b.

Tinjauan Malpraktik Perdata dan sanksi Hukumnya

Kasus di atas juga dapat dikategorikan sebagai malpraktik perdata ketika Seorang
dokter orthopedy yang telah terbukti melakukan kelalaian sehingga pasiennya
menderita luka atau mati. Tindakan malpraktik tersebut juga dapat berimplikasi
pada gugatan perdata oleh seseorang (pasien) terhadap dokter yang dengan sengaja
(dolus) telah menimbulkan kerugian kepada pihak korban, sehingga mewajibkan
pihak yang menimbulkan kerugian (dokter) untuk mengganti kerugian yang
dialami kepada korban, sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1365 Kitab-UndangUndang Hukum Perdata (KUHPerdata), Tiap perbuatan melanggar hukum, yang
membawa kerugian pada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya
menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.
Seorang dokter yang telah terbukti melakukan kelalaian sehingga pasiennya
menderita luka atau mati, dapat digugat secara perdata berdasarkan Pasal 1366 atau
1370 KUH Perdata
Pasal 1366 KUH Perdata
Kerugian yang diakibatkan oleh kelalaian (culpa) diatur oleh Pasal 1366 yang
berbunyi: Setiap orang bertanggung jawab tidak saja atas kerugian yang
disebabkan karena perbuatannya, tetapi juga atas kerugian yang disebabkan karena
kelalaian atau kurang hati-hatinya.
29

Pasal 1370 KUH Perdata


Dalam hal pembunuhan (menyebabkan matinya orang lain) dengan sengaja atau
kurang hati-hati seseorang, maka suami dan istri yang ditinggalkan, anak atau
orang tua yang biasanya mendapat nafkah dari pekerjaan korban, mempunyai hak
untuk menuntut suatu ganti rugi, yang harus dinilai menurut kedudukannya dan
kekayaan kedua belah pihak serta menurut keadaan.
Undang-undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan :
Menurut Pasal Undang-undang tersebut diatas :
Ayat (1)
Setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan
tenaga kesehatan
Ayat (2)
Ganti rugi yang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
Penjelasan
Ayat (1)
Pemberian hak atas ganti rugi merupakan suatu upaya untuk memberi
perlindungan bagi setiap orang atas suatu akibat yang timbul, baik fisik maupun
nonfisik karena kesalahan atau kelalaian tenaga kesehatan. Perlindungan ini
sangat penting karena akibat kesalahan atau kelalaian itu mungkin dapat
menyebabkan kematian atau menimbulkan cacat dan permanen
Yang dimaksud dengan kerugian fisik adalah hilangnya atau tidak berfungsinya
seluruh atau sebagian organ tubuh, sedangkan kerugian nonfisik berkaitan
dengan martabat seseorang
Ayat (2)
30

Cukup jelas
c.

Tinjauan Malpraktik Etik dan Sanksinya

Etika punya arti yang berbeda-beda jika dilihat dari sudut pandang pengguna
yang berbeda dari istilah itu. Bagi ahli falsafah, etika adalah ilmu atau kajian
formal tentang moralitas. Moralitas adalah hal-hal yang menyangkut moral, dan
moral adalah sitem tentang motifasi, perilaku dan perbuatan manusia yang
dianggap baik atau buruk. Franz Magnis Suseno menyebut etika sebagai ilmu
yang mencari orientasi bagi usaha manusia untuk menjawab pertanyaan yang
amat fundamental: bagaimana saya harus hidup dan bertindak?. Bagi seorang
sosiolog, etika adalah adat, kebiasaan dan perilaku orang-orang dari lingkungan
budaya tertentu. Bagi praktisi professional termasuk dokter dan tenaga kesehatan
lainnya, etika berarti kewajiban dan tanggungjawab memenuhi harapan profesi
dan masyarakat, serta bertindak dengan cara-cara yang professional, etika adalah
salah satu kaidah yang menjaga terjadinya interaksi antara pemberi dan penerima
jasa profesi secara wajar, jujur, adil, professional dan terhormat.
Selain melanggar UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, ditinjau dari Sudut
Pandang Etika (Kode Etik Kedokteran Indonesia /KODEKI), tindakan tersebut
juga dapat menjadi bentuk malpraktik etik karena dokter tersebut tidak
melaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi tertinggi.
Dalam KODEKI pasal 2 dijelaskan bahwa; seorang dokter harus senantiasa
berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi tertinggi.
Jelasnya bahwa seorang dokter dalam melakukan kegiatan kedokterannya
seebagai seorang proesional harus sesuai dengan ilmu kedokteran mutakhir,
hukum dan agama. KODEKI pasal 7d juga menjelaskan bahwa setiap dokter
hrus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup insani. Artinya
dalam setiap tindakan dokter harus betujuan untuk memelihara kesehatan dan
kebahagiaan manusia.
Peran pengawasan terhadap pelanggaran kode etik (KODEKI) sangatlah perlu
ditingkatkan untuk menghindari terjadinya pelanggaran-pelanggaran yang
31

mungkin sering terjadi yang dilakukan oleh setiap kalangan profesi-profesi


lainnya seperti halnya advokat/pengacara, notaris, akuntan, dll. Pengawasan
biasanya dilakukan oleh lembaga yang berwenang untuk memeriksa dan
memutus sanksi terhadap kasus tersebut seperti Majelis Kode Etik. Dalam hal ini
Majelis Kode Etik Kedokteran (MKEK). Jika ternyata terbukti melanggar kode
etik maka dokter yang bersangkutan akan dikenakan sanksi sebagaimana yang
diatur dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia. Karena itu seperti kasus yang
ditampilkan maka juga harus dikenakan sanksi sebagaimana yang diatur dalam
kode etik.
Namun, jika kesalahan tersebut ternyata tidak sekedar pelanggaran kode etik
tetapi juga dapat dikategorikan malpraktik maka MKEK tidak diberikan
kewenangan oleh undang-undang untuk memeriksa dan memutus kasus tersebut.
Lembaga yang berwenang memeriksa dan memutus kasus pelanggaran hukum
hanyalah lembaga yudikatif. Dalam hal ini lembaga peradilan. Jika ternyata
terbukti melanggar hukum maka dokter yang bersangkutan dapat dimintakan
pertanggungjawabannya. Baik secara pidana maupun perdata. Sudah saatnya
pihak berwenang mengambil sikap proaktif dalam menyikapi fenomena
maraknya gugatan malpraktik. Dengan demikian kepastian hukum dan keadilan
dapat tercipta bagi masyarakat umum dan komunitas profesi. Dengan adanya
kepastian hukum dan keadilan pada penyelesaian kasus malpraktik ini maka
diharapkan agar para dokter tidak lagi menghindar dari tanggung jawab hukum
profesinya.
2.2.2

Contoh Kasus Pelanggaran Disiplin Kedokteran


Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) mencabut Surat
Tanda Registrasi (STR) dr Theddeus Octavianus Hari Prasetyono Sp.BP selama
empat bulan karena yang bersangkutan dinilai melakukan pelanggaran disiplin
kedokteran yang berakibat fatal terhadap pasien. Keputusan MKDKI mengenai
pelanggaran disiplin kedokteran dalam tindakan operasi sedot lemak yang
dilakukan Theddeus Octavianus Hari Prasetyono terhadap Dr dr Atie W
Soekandar SpFK, dibacakan dalam sidang majelis yang diketuai dr Suyaka
Suganda SpOG dikantor MKDKI Jakarta (birokonsultan.wordpress.com, 2009).
32

Dengan keputusan pencabutan STR tersebut, maka Theddeus OctavianusHari


Prasetyono tidak bisa menjalankan praktik kedokteran selama empat bulan,sejak
keputusan dibacakan. MKDKI menilai dokter spesialis itu melanggar
disiplinkedokteran, karena tidak menjalankan mekanisme rujukan atas pasien
yangmenjalankan operasi sedot lemak yang kedua kali.Operasi sedot lemak
kedua kalirisikonya sangat tinggi, maka dokter yang melakukan tindakan
tersebut seharusnyamerujuk pasien ke kelompok ahli.Tapi dalam kasus ini dokter
tersebutmelakukannya sendiri, tidak merujuk pada kelompok ahli dan akhirnya
pasienmeninggal dunia.Hasil putusan KDKI menegaskan bahwa tindakan yang
dilakukanoleh dokter spesialis tersebut hanya merupakan pelanggaran disiplin
kedokteran dan bukan pelanggaran hukum (birokonsultan.wordpress.com, 2009).

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Pelanggaran etik, disiplin, dan hukum saling bersinggungan. Pelanggaran etik
dan disiplin tidak serta merta membuka kemungkinan adanya pelanggaran hukum,
namun pelanggaran hukum dapat membuka kemungkinan adanya pelanggaran etik dan
disiplin. Norma Etik seharusnya menjadi norma tertinggi yang dipatuhi oleh dokter.

3.2. Saran
Seiring dengan berjalannya pengetahuan dan berkembangnya teknologi yang
ada,,masyarakat kini menjadi lebih kritis terhadap tindakan dokter. Hal ini menyebabkan
profesi kedokteran sekarang ini juga terkait dengan masalah etik, disiplin, serta hukum.
33

Sebagai seorang dokter, berlaku juga kepadanya norma publik, sehingga dokter
selayaknya mengetahui norma-norma publik yang tentunya juga terkait dengan
profesinya. Diharapkan dokter mengerti mengenai masalah pelanggaran etik, disiplin
serta hukum profesi kedokteran yang berlaku di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)


Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004
Notoatmodjo, soekidjo. 2010. Etika Hukum Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
34

7. Indriyanti Dewi, Alexandra. 2008. Etika dan Hukum Kesehatan. Yogyakarta:


Pustaka Book Publisher.
8. Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia. KODE ETIK KEDOKTERAN
INDONESIA. 2012.
9. Konsil Kedokteran Indonesia. 2006. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor
15/KKI/PER/VIII/2006 Tentang Tata Cara Penanganan KasusDugaan Pelanggaran
Disiplin Dokter dan Dokter Gigi olehMajelis Kehormatan Disiplin Kedokteran
Indonesia dan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia di Tingkat
Provinsi.http://www.inamc.or.id/download/Buku%20MKDKI.pdf
10. Biro Konsultan Hukum. 2009. Tidak Disiplin, Izin Praktik Dokter Bedah Dicabut.
http://birokonsultan.wordpress.com/2009/06/10/tidak-disiplin-izin-praktik-dokterbedah-dicabut/DPR RI. 2004.
11. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004Tentang Praktik

Kedokteran. http://www.scribd.com/doc/16401665/uu praktikkedokteran

35