Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS JURNAL

PEMBERIAN TERAPI MUSIK KLASIK TERHADAP


REFLEK HISAP DAN BERAT BADAN BAYI PREMATUR
DI RUANG PERINATOLOGI RSUD BANYUMAS
STASE KEPERAWATAN ANAK

OLEH:
KELOMPOK 2
Rizka Rahmaharyanti, S.Kep
Bagus Indiyanto Prasetyo, S.Kep
Austinia Putri, S.Kep
Sabar Ria Lestari, S.Kep
Aldi Maswihardo, S.Kep

G4D014001
G4D014007
G4D014014
G4D014029

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM PROFESI NERS
PURWOKERTO
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Bayi prematur adalah bayi yang lahir dengan usia gestasi kurang dari dan
sama dengan 37 minggu dengan berat badan lahi r rendah yai tu kurang dari 2500
gram (Surasmi, 2003). Menurut World Health Organization (WHO), 13 juta
bayi lahir prematur di dunia, sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu. Di

Indonesia di perkirakan setiap tahun terlahir sekitar 350.000 bayi prematur atau
berat badan lahir rendah. Tingginya kelahiran bayi prematur tersebut karena saat
ini 30 juta perempuan usia subur yang kondisinya kurang energi

kronik dan

sekitar 80% ibu hamil mengalami anemia defisiensi gizi . Tingginya yang kurang
gizi mengakibatkan pertumbuhan janin terganggu sehingga beresiko lahir dengan
berat badan di bawah 2500 gram (Manuaba, 2003). Jumlah angka kematian bayi
karena prematur yang dilaporkan di
mencapai

2,66% dari

Jateng, 2009).
Berdasarkan

rekam

Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2009

angka kematian bayi (AKB) sebesar 19,65% (Dinkes


medik

RSUD Banyumas

untuk

wilayah

Kabupaten

Banyumas sendiri dari 3 bulan pertama tahun 2012 telah tercatat 100 bayi yang
terlahir prematur dengan

berat badan di

bawah 2500 gram. Bayi

prematur

membutuhkan dukungan nutrisi yang khusus oleh karena derajat imaturi tas
biokimianya yang tinggi,

laju pertumbuhannya yang cepat dan dapat terj adi

insiden komplikasi medik yang lebih besar (Muchtar, 2004). Selain itu, beberapa
masalah metabolik dan pencernaan yang juga bisa terjadi

pada bayi prematur

seperti hernia inguinalis, hipokalsemia, rakhitis, nekrosis enterocolitis, dan hipoglikemia


(Velo, 2011). Menurut Sudarwanto (2012) perawatan bayi prematur memerlukan
pengalaman, ketrampilan, pengetahuan dan kesabaran yang cukup tinggi , dan
sering memerlukan perawatan tim dari

beberapa disiplin ilmu spesialis anak.

Perawatan

adalah:

bayi

prematur di antaranya

inkubator,

ventilator

mekanik,

pemberian obat pematangan paru, pemberian cairan dan nutrisi, pemantauan ketat
pertumbuhan dan perkembangan bayi, kebutuhan psikososial, dan terapi musik.
Penggunaan

musik

sebagai

media

terapi

di

rumah sakit, juga

mengalami

perkembangan yang cukup signifikan pada tahun-tahun terakhir ini.


B. TUJUAN
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat keberhasilan pemberian
terapi musik klasik terhadap peningkatan berat badan pada bayi prematur (BBLR).

BAB II
RESUME JURNAL
PEMBERIAN TERAPI MUSIK KLASIK TERHADAP
REFLEK HISAP DAN BERAT BADAN BAYI PREMATUR
A. LATAR BELAKANG
Bayi prematur adalah bayi yang dilahirkan dengan usia kehamilan kurang dari 37
minggu. Bayi lahir prematur mempunyai tanda-tanda anatomis yakni berat badan lahir
rendah (BBLR) dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram, kurus, poor feeding. Di
Indonesia BBLR masih menjadi masalah utama dengan angka IMR 34% dan angka
kejadian 29%. BBLR menjadi masalah utama dikarenakan kejadian tersebut menjadi
penyumbang kematian pada masa perinatal. Selain BBLR, bayi lahir prematur beresiko
mengalami gangguan pendengaran, penglihatan, dan masalah pertumbuhan serta
perkembangan.
Bayi baru lahir memiliki berbagai reflek yang membantu melindungi diri dari
rangsangan atau rasa sakit yang berlebihan. Bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 34
minggu memiliki reflek hisap dan menelan yang masih imatur yang mengakibatkan tidak

sempurna nya koordinasi reflek hisap dan menelan, hal ini beresiko bayi mengalami
aspirasi dan makanan diberikan lewat sonde lambung dan intravena.
Musik klasik seperti Mozart memiliki keunggulan, kemurnian dan kesederhanaan
bunyi-bunyi yang dimunculkan. Irama, melodi dan frekuensi musik yang dimiliki Mozart
dapat merangsang dan memberi daya pada daerah kreatif manusia yang terdapat di otak.
Penelitian Natalia (2000) tentang pengaruh musik gamelan terhadap emosi bayi baru lahir
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan berat badan dan pola tidur yang bermakna antara
kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Penelitian Arlina Budi A (2009)
menunjukkan pemberian terapi musik klasik pada senam bayi mempengaruhi
kemampuan motorik kasar pada bayi.
B. METODE
Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Ngudi Waluyo Wlingi dari bulan Nopember
2011 sampai dengan bulan Desember 2011.
Populasi sasaran adalah pasien bayi prematur yang sedang di rawat di RS Ngudi
Waluyo Wlingi. Desain penelitian yang digunakan yakni eksperimen semu (quasy
experiment) dengan non randomized pretest-posttest control group designdan jumlah
sampel pada penelitian ini yakni 15 orang bayi prematur pada kelompok kontrol dan 15
orang bayi prematur pada kelompok perlakuan yang diambil dengan teknik purposive
sampling.
Teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumenter untuk mendapatkan data
umum, jumlah nutrisi peroral dan parenteral serta mengobservasi pada pemeriksaan
reflek hisap dan penimbangan berat badan bayi.
Pengujian hipotesis pada penelitian menggunakan teknik analisis data non parametrik
yaitu dengan Test U-Mann Whitney dengan a=0,05.
C. RESPONDEN
Responden penelitian ini 30 pasien bayi prematur. 15 pasien bayi prematur masuk
kedalam kelompok kontrol dan 15 pasien bayi prematur lain masuk kedalam kelompok
perlakuan.
D. ANALISIS STATISTIK
Berdasarkan kriteria sampel penelitian yang telah ditetapkan maka usia kehamilan
bayi homogen yang menjadi subjek penelitian adalah 34-36 minggu. Berat badan

responden pada kelompok homogen sebelum pemberian terapi musik antara 1280-2200
gram, sedangkan pada kelompok perlakuan 1300-2250 gram. Analisis data yang
dilakukan pada berat badan responden sebelum pemberian terapi musik pada kelompok
homogen dan perlakuan tidak ada perbedaan dengan nilai p=0,402, hal ini menunjukkan
bahwa berat badan kedua kelompok tersebut homogenitas. Analisis yang dilakukan
terhadap reflek hisap responden pada kelompok homogen adalah 40% sangat lemah, 53%
lemah dan 7% kuat, sedangkan reflek hisap pada kelompok perlakuan 20% sangat lemah,
60% lemah dan 20% kuat. Berdasarkan analisa data maka berat reflek hisap responden
sebelum pemberian terapi musik pada kelompok homogen dan kelompok perlakuan tidak
ada perbedaan dengan nilai p=0,079, hal ini menunjukkan bahwa reflek hisap kedua
kelompok tersebut homogen.
Berat badan bayi prematur pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan yang
mendapat terapi musik klasik didapatkan data berat badan bayi prematur yang meningkat
53%, tetap 26,5%, menurun 20,5% dengan rata-rata peningkatan berat badan pada
kelompok kontrol adalah 28 gram. Sedangkan pada kelompok perlakuan dapat dilihat
bahwa setelah pemberian terapi musik klasik didapatkan data berat badan bayi prematur
yang meningkat 93%, tetap 7%, dan tidak ada responden yang mengalami penurunan
berat.
Pemberian musik klasik pada kelompok kontrol didapatkan data reflek hisap bayi
prematur yang termasuk dalam kategori kuat 20%, lemah 60% dan sangat lemah 20%.
Sedangkan pada kelompok perlakuan didapatkan data reflek bayi prematur yang
termasuk dalam kategori kuat 33%, lemah 67% dan tidak ada responden yang
mempunyai reflek hisap sangat lemah.
E. HASIL
Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan pada pemberian
terapi musik klasik terhadap peningkatan berat badan bayi prematur. Namun tidak
didapatkan pengaruh yang signifikan antara terapi musik dengan reflek hisap.
Peningkatan berat badan dimungkinkan karena terapi musik klasik dapat memberikan
perasaan tenang kepada bayi sehingga bayi lebih banyak tidur. Apabila bayi lebih banyak
tidur akan dapat mengurangi pengeluaran energi sehingga dapat mempertahankan
kestabilan berat badan. Terapi musik tidak berpengaruh terhadap reflek hisap dapat
disebabkan oleh beberapa faktor yaitu belum ada instrumen penilaian reflek hisap pada
bayi yang baku sehingga belum dapat menilai reflek hisap secara objektif dan tepat,

faktor kedua waktu pemberian terapi musik kemungkinan frekuensi bunyi kurang sesuai
dengan kondisi masing-masing bayi.
F. KETERBATASAN PENELITIAN
Pertama, belum terdapat instrumen penilaian reflek hisap bayi yang baku sehingga
belum dapat menilai reflek hisap secara objektif dan tepat. Kedua, waktu pemberian
terapi musik frekuensi bunyi kurang sesuai terhadap kondisi masing-masing bayi.
G. KESIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan berat badan antara bayi prematur
yang mendapat terapi musik dengan bayi prematur yang tidak mendapat terapi musik
sehingga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan berat badan bayi
prematur, namun tidak ada beda atau pengaruh pemberian terapi musik terhadap kekuatan
reflek hisap pada bayi prematur.

BAB III
PEMBAHASAN
A. BAYI PREMATUR
Bayi prematur adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan kurang atau sama dengan
37 minggu, tanpa memperhatikan berat badan lahir (Wong, 2004). Pada umumnya bayi
yang dilahirkan prematur secara anatomi mempunya tanda-tanda berat badan lahir rendah
(BBLR) dengan berat badan kurang dari 2500 gram, kurus, poor feeding (Nelson, 1988
dan Sacharin, 1996).
Reflek hisap baik pada bayi baru lahir dengan usia kehamilan 37-42 minggu (Nanny,
2010). Pada bayi prematur masalah yang terjadi ialah tidak memadainya koordinasi antara
reflek hisap dan menelan, yang mengakibatkan bayi prematur beresiko mengalami
aspirasi dan kurangnya asupan nutrisi yang akan berdampak pada berat badan bayi
prematur. Seringnya prematuritas yang disertai dengan BBLR membuat pentingnya
penanganan atau manajemen BBLR untuk mengatasi masalah utama yang muncul yakni
kurangnya nutrisi pada bayi prematur. Penambahan berat badan hingga batas normal (>
2500 gram) dengan peningkatan reflek hisap pada kasus ini merupakan tujuan utama yang
hendak dicapai.

B. EFEK MUSIK KLASIK (MOZART)


Terapi musik adalah usaha meningkatkan kualitas fisik dan mental dengan rangsangan
suara yang terdiri dari melodi, ritme, harmoni, timbre, bentuk dan gaya yang diorganisir
sedemikian rupa hingga tercipta musik yang bermanfaat untuk kesehatan fisik dan mental
(Eka, 2011). Christandy Andrean menyatakan bahwa musik memiliki tiga bagian penting
yaitu beat, ritme dan harmoni. Beat mempengaruhi tubuh, ritme mempengaruhi jiwa
sedangkan harmoni mempengaruhi roh.
Campbell (2001) dalam bukunya efek Mozart proses mendengarkan musik
merupakan suatu bentuk komunikasi afektif dan memberikan pengalaman emosional.
Emosi merupakan suatu pengalaman subyektif yang terdapat pada setiap manusia. Untuk
dapat merasakan dan menghayati serta mengevaluasi makna dari interaksi dan
lingkungan, ternyata dapat dirangsang dan dioptimalkan perkembangannya melalui musik
sejak masa dini.
Terapi musik klasik dapat memberikan perasaan tenang kepada bayi sehingga bayi
lebih banyak tidur. Apabila bayi lebih banyak tidur akan dapat mengurangi pengeluaran
energi sehingga dapat mempertahankan kestabilan berat badan. Hal ini didukung oleh
penelitian yang dilakukan oleh Aizid tahun 2011. Hasil penelitiannya menunjukkan musik
dapat menimbulkan reaksi psikologis yang dapat mengubah suasana hati dan kondisi
emosi, sehingga musik bermanfaat sebagai relaksasi yang dapat menghilangkan stress,
mengatasi kecemasan, memperbaiki mood, dan menumbuhkan kesadaran spiritual.
Demikian juga sesuai dengan hasil penelitian Lai et al (2006) bahwa pemebrian stimulasi
musik klasik dapat menambah ketenangan pada bayi yang dirawat di NICU. Terapi musik
juga dapat membantu pertumbuhan yang lebih baik pada bayi prematur dimana lagu yang
tenang diberikan selama kurang lebih 40 menit sehari, dalam hari keempat pemeriksaan
bayi prematur, didapatkan kenaikan berat badan , detak jantung lebih kuat, meningkatkan
saturasi oksigen dan memperpendek hari rawat inap dibanding dengan yang tidak
diberikan terapi musik( Marwick, 2000).
Menurut Hardywinoto (2002), reflek bayi menggambarkan fungsi sistem persarafan,
musik dapat meningkatkan intelegensi karena rangsangan ritmis mampu meningkatkan
fungsi kerja otak manusia, membuat saraf otak bekerja, menciptakan rasa nyaman dan
tenang. Musik yang diterima pendengaran mempengaruhi sistem limbik (hipotalamus)
yang berfungsi memberi efek pada emosional dan perilaku, maka pemberian terapi musik

dapat mempengaruhi metabolisme dan kemampuan fisiologis otak pada reflek termasuk
reflek hisap bayi.
C. IMPLIKASI KEPERAWATAN
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada jurnal di atas maka hal yang perlu
mendapatkan perhatian lebih pada bayi premature dengan BBLR dalam pengontrolan
berat badannya adalah:
1. Kemampuan personal perawat sangat dibutuhkan dalam melakukan pengkajian secara
komperhensif pada orang tua pasien (bayi) yang lahir prematur dengan BBLR .
2. Pengetahuan perawat tentang metode atau terapi yang dapat digunakan untuk
mengatasi masalah nutrisi pada BBLR disamping pemenuhan nutrisi dengan ASI atau
susu formula yang menjadi hal wajib dalam manajemen nutrisi.
3. Penerapan isi jurnal dalam pemberian asuhan keperawatan yaitu dapat mencegah
terjadinya penurunan berat badan pada bayi terutama pada minggu pertama kelahiran
dan mencegah permasalahan yang dapat timbul akibat penurunan berat badan. Adanya
berat badan yang sesuai dengan usia bayi akan dapat mendukung perkembangan bayi
untuk masa selanjutnya.
D. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN JURNAL
1. Kelebihan
a. Jurnal ini membahas tentang terapi musik klasik (Mozart) sebagai salah satu terapi
yang dapat digunakan untuk meningkatkan berat badan pada bayi prematur
dengan BBLR.
b. Penelitian ini merupakan pendukung dari penelitian sebelumnya tentang manfaat
terapi musik.
2. Kekurangan
a. Pada jurnal ini belum ditemukannya instrumen penilaian yang baku untuk reflek
hisap pada bayi, sehingga peneliti belum bisa melakukan penilaian secara objektif
dan tepat.
b. Waktu pemberian terapi dan frekuensi bunyi yang mungkin kurang sesuai dengan
kondisi masing-masing bayi juga mempengaruhi hasil penelitian tentang tidak
adanya pengaruh terapi musik terhadap kekuatan reflek hisap bayi.

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pemberian terapi musik klasik (Mozart) terbukti memberikan pengaruh terhadap
peningkatan berat badan pada bayi prematur, namun tidak memberikan hasil yang signifikan
pada peningkatan kekuatan reflek hisap.
B. SARAN
Pada penelitian selanjutnya, diharapkan tersedianya instrumen penilaian atau
penelitian pendahuluan yang membuat instrumen penilaian reflek hisap pada bayi untuk
melakukan penilaian reflek hisap secara objektif dan benar-benar terukur. Waktu pemberian
terapi dan frekuensi bunyi musik dapat disesuaikan dengan kondisi bayi, atau bisa dilakukan
pengkondisian bayi sebelum dilakukan pemberian terapi secara serempak pada satu waktu.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell., Don. (1997). Efek Mozart. Jakarta : Gramedia


Lai, H. L. & Good, M. (2002) An overview of music therapy. The Journal of Nursing, 49 (2),
80-84.
Marwick, C. (2000). Music therapists chime in with data on medical results. Journal of the
American Medical Association, 283 (6), 731-733.
Nanny, V. L. & Dewi. (2010). Asuhan bayi dan anak balita. Jakarta : Salemba Medika
Wahyuningsri, & Eka, N. L. (2014). Pemberian terapi musik klasik terhadap refleks hisap dan
berat badan bayi prematur. Jurnal Keperawatan , V (1), 108-113.