Anda di halaman 1dari 7

Lokakarya School Community Tahun 2014

PENDEKATAN SAINTIFIK DALAM


MATEMATIKA

A. Pengantar
Sebelum membicarakan mengenai pendekatan ilmiah, perlu dipahami lagi mengenai metode ilmiah.
Pada umumnya sesorang selalu ingin memperoleh pengetahuan. Pengetahuan dapat merupakan
pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak ilmiah. Suatu pengetahuan ilmiah hanya dapat diperoleh
dari metode ilmiah. Metode ilmiah pada dasarnya memandang fenomena khusus (unik) dengan
kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan pada simpulan. Dengan demikian diperlukan
adanya penalaran dalam rangka pencarian (penemuan). Untuk dapat disebut ilmiah, metode
pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi,
empiris, dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. Karena itu, metode ilmiah
umumnya memuat rangkaian kegiatan koleksi data atau fakta melalui observasi dan ekperimen,
kemudian memformulasi dan menguji hipotesis. Sebenarnya apa yang kita bicarakan dengan metode
ilmiah merujuk pada: (1) adanya fakta, (2) sifat bebas prasangka, (3) sifat objektif, dan (4) adanya
analisa. Dengan metode ilmiah seperti ini diharapkan kita akan mempunya sifat
1)
2)
3)
4)
5)

Kecintaan pada kebenaran yang objektif


Tidak gampang percaya pada hal-hal yang tidak rasional (takhayul)
Ingin tahu
Tidak mudah membuat prasangka
Selalu optimis

Selanjutnya secara sederhana pendekatan ilmiah merupakan suatu cara atau mekanisme untuk
mendapatkan pengetahuan dengan prosedur yang didasarkan pada suatu metode ilmiah. Ada juga
yang mengartikan pendekatan ilmiah sebagai mekanisme untuk memperoleh pengetahuan yang
didasarkan pada struktur logis. Pendekatan ilmiah ini memerlukan langkah-langkah pokok
1)
2)
3)
4)
5)

mengamati;
menanya;
mengumpulkan informasi;
mengasosiasi; dan
mengkomunikasikan.

Mengingat karakter keilmuan dari setiap materi pelajaran tidak sama maka khusus untuk
matematika langkah dalam pendekatan ilmiah sedikit berbeda dari langkah di atas. Sehingga khusus
untuk matematika langkah-langkahnya sebagai berikut:
1)
2)
3)
4)
5)

Mengamati (mengamati fakta matematika)


Menanya (berfikir divergen)
Mengumpulkan informasi (mencoba, mengaitkan teorema)
Mengasosiasi (memperluas konsep, membuktikan)
Mengkomunikasikan (menyimpulkan, mengaitkan dengan konsep lain)

Langkah-langkah di atas boleh dikatakan sebagai pengejaran terhadap pengetahuan ilmiah yang diatur
oleh pertimbangan-pertimbangan logis dalam matematika. Karena yang dikehendaki adalah jawaban
mengenai fakta-fakta (matematika) maka pendekatan dengan langkah-langkah tersebut dikatakan sangat
erat dengan metode ilmiah. Ada juga refensi yang menyatakan bahwa metode ilmiah adalah wujud dari
pendekatan ilmiah.

B. Pendekatan ilmiah dalam matematika


Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa karakter keilmuan dari setiap materi pelajaran
tidak sama maka khusus untuk matematika langkah dalam pendekatan ilmiah sedikit berbeda yaitu:
1)
2)
3)
4)
5)

Mengamati (mengamati fakta matematika)


Menanya (berfikir divergen)
Mengumpulkan informasi (mencoba, mengaitkan teorema)
Mengasosiasi (memperluas konsep, membuktikan)
Mengkomunikasikan (menyimpulkan dan mengaitkan dengan konsep lain)

Secara sederhana langkah-langkat tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut


1) Mengamati
Yang dimaksud mengamati disini adalah mengamati fakta matematika yang dibagi menjadi dua
pengertian.
a. Pengamatan nyata fenomena alam atau lingkungan.
Pengamatan seperti ini cocok untuk
pemahaman konsep yang akan diturunkan
dari suatu proses induktif. Untuk siswa SD
atau sekolah menengah pada kelas rendah
dapat digunakan induktif murni, yaitu
dengan pengamatan langsung diperoleh
kesimpulan. Namun untuk sekolah
menengah pada kelas tinggi perlu
disambut atau dibuktikan dengan
pemahaman melalui proses deduktif.
Fenomena alam akan menghasilkan suatu
fakta yang dituangkan dalam bahasa matematika. Secara mudah dapat dipahami seperti halnya
matematika kontekstual. Misalkan kita mengamati air mancur, jejak lintasan air mancur terkait
dengan konsep fungsi kuadrat.
b. Pengamatan objek matematika
Pengamatan objek matematika sangat cocok untuk siswa yang mulai menerima kebenaran logis,
sehingga mereka tidak mempermasalahkan suatu rangkaian kebenaran sebelumnya yang
didapatkan dari penalaran yang benar, walaupun objeknya tidak nyata (tidak kongkret).
Pengamatan seperti ini lebih tepat dikatakan sebagai pengumpulan dan pemahaman kebenaran
matematika. Fakta yang didapatkan dapat berupa definisi, aksioma, postulat, mungkin juga
teorema, sifat, grafik dan lain sebagainya. Misalnya, siswa diminta menggambar fungsi kuadrat
( )
dengan nilai
dan tertentu. Selanjutnya nilai
diubah dalam
berbagai nilai sedangkan b dan c tetap. Maka (nantinya) akan terlihat bahwa mempengaruhi
runcingnya titik puncak parabola yang terbentuk. Contoh lain misalnya dalam geometri datar,
siswa memahami kebenaran postulat setiap dua titik pasti hanya dapat dibuat tepat satu garis
yang melaluinya (gambar kiri). Artinya jika ada garis yang lain, garis itu pastilah garis yang tadi
juga. Jadi jika digambarkan (diamati), tidak mungkin terjadi gambar seperti di bawah
(kanan).

2) Menanya
Kecenderungan yang ada sekarang adalah siswa gagal menyelesaikan suatu masalah matematika
jika konteksnya diubah sedikit saja. Ini terjadi karena siswa cenderung menghafal algoritma atau
prosedur tertentu. Tidak terbangun suatu pemikiran yang divergen. Pemikiran yang divergen ini
dapat dibangkitkan dari suatu pertanyaan. Untuk menggalinya dapat dilakukan dengan
memanfaatkan solusi sementara yang mereka hasilkan selanjutnya dibangkitkan alternatifalternatif yang mungkin dari solusi itu agar timbul peretanyaan baru. Dalam hal ini guru tidak
boleh memberi tahu, guru hanya memberikan pertanyaan pancingan, sampai siswa sendiri yang
menyelesaikan dan mencari alternatif yang lain. Misalkan dalam grafik fungsi kuadrat ( )
, bagaimana untuk negatif, untuk bernilai positif besar, untuk bernilai positif
kecil dan sebagainya. Contoh lain, bagaimana menentukan nilai sinus untuk dimana
, sedangkan definisi (fakta) awal

Pertanyaan seperti di atas memerlukan adanya solusi (jawaban). Dalam matematika


permasalahan seperti ini dapat dijawab dengan mengaitkan teorema lain atau pendefinisian baru
terutama dengan mengumpulkan berbagai informasi (berbagai konsep) dalam matematika.
Sebagai catatan, pada siswa sekolah dasar kebenaran empirik masih dominan dibanding
kebenaran logis. Oleh karena itu informasi matematika yang dikumpulkan tentu sangat berbeda
dengan siswan pada sekolah menengah.
3) Mengumpulkan informasi
Sejatinya mengumpulkan informasi dalam matematika tidak terbatas pada hasil pengumpulan fakta
nyata (konkret) dari pengamatan maupun hasil percobaan, namun dapat pula dipahami sebagai
pengumpulan kebenaran matematis. Penuangannya bisa saja berupa teorema, sifat atau konsep yang
berhubungan dengan konsep yang dibahas. Informasi yang diperoleh ini selanjutnya diobservasi jika
perlu dicoba untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan yang akan digunakan sebagai dasar
asosiasi.
4) Mengasosiasi (memperluas konsep, membuktikan)
Disini asosiasi (associating) dapat dimaknakan sebagai penalaran dan dapat juga bermakna
sebagai akibat (reasoning). Ada dua cara menalar, yaitu penalaran induktif dan penalaran

deduktif. Penalaran induktif merupakan cara menalar


dengan menarik simpulan dari fenomena khusus untuk halhal yang bersifat umum. Kegiatan menalar secara induktif
lebih banyak berpijak pada observasi inderawi atau
pengalaman empirik. Misalkan menemukan volum kerucut
dengan takaran.
Dari hasil ini disimpulkan volum kerucut adalah sepertiga
volum tabung. Sebaliknya, penalaran deduktif merupakan
cara menalar dengan menarik simpulan dari pernyataanpernyataan atau fenomena yang bersifat umum menuju
pada hal yang bersifat khusus. Cara kerja menalar secara deduktif adalah menerapkan hal-hal
yang umum terlebih dahulu untuk kemudian dihubungkan ke dalam bagian-bagiannya yang
khusus. Penalaran yang paling dikenal dalam matematika terkait penarikan kesimpiulan adalah
modus ponen, modus tolen dan silogisme. Sedangkan pada contoh sebelumnya yaitu
menentukan nilai sinus sudut di kuadran II maka dengan kejadian seperti ini perlu adanya
pengertian atau definisi baru sebagai perluasan (memikirkan perlunya hal baru). Demikian pula
untuk sudut siku-siku ( ) dan sudut lurus (
). Perlu diingat juga bahwa penalaran diartikan
juga sebagai penyerupaan atau analogi atau dalam bahasa sosial asosiasi
Terkait dengan contoh diatas dapat digambarkan sebagai berikut
Bila pendefinisian sinus suatu sudut hanya didasarkan pada pengertian
awal, maka kita tidak akan dapat menentukan nilai sinus sudut tersebut.
Oleh karena itu perlu adanya pengetahuan baru yang diperoleh dari
pengumplan informasi-informasi matematika. Khusus terkait dengan
konsep sinus sudut ini, (pada akhirnya) definisi sinus suatu sudut tidak
sebatas pada perbandingan panjang sisi segitiga siku-siku seperti pada
definisi awal, tetapi terkait dengan posisi kordinat. Dari sini sesungguhnya
kita telah melakukan asosiasi yaitu konsep diperluas akibat adanya pengumpulan informasi.
5) Mengkomunikasikan (menyimpulkan dan mengaitkan dengan konsep lain)
Pengertian mengkomunikasikan disini dapat diartikan secara sempit yaitu menunjukkan atau
membuktikan ddan dituangkan dalam bahasa tulis dan bahasa lisan (presentasi). Sebagai cotoh
nilai sinus sebagai perluasan ternyata merupakan perbandingan ordinat dengan panjang jari-jari.
Untuk sudut di kuadran I, nilai ordinat (komponen-y) positif dan panjang jari-jari positif. Demikian
pula untuk sudut di kuadran II, nilai ordinat (komponen-y) positif dan panjang jari-jari positif.

Dari pengertian awal


,
sedangkan dengan perluasan

Jadi disini terlihat bahwa


Selanjutnya ditunjukkan untuk besar sudut yang lain. Pada akhirnya dengan langakah ini kita
dapat menunjukkan bahwa jika besar sudut berada di kuadran II (

) maka dipenuhi

(
). Namun contoh seperti ini bukan merupakan pembuktian dalam matematika,
hanya sekedar contoh tahapan/langkah dalam pendekatan ilmiah. Adapun tahapan yang lebih
(

spesifik dalam matematika yaitu membuktikan berlakunya

) untuk (

) masih memerlukan pengerjaan lanjutan. Secatra luas, menyimpulkan dapat diartikan sebagai
pengaitan dengan materi lain. Persisnya adalah mengaitkan konsep dalam matematika itu sendiri
(matematika vertikal) dan mengaitkan konsep yang diperoleh dengan dunia nyata (matematika
horizontal).
Sebagai contoh:
(i).

Dengan diperolehnya hubungan


(
) maka siswa memahami kaitan
antara sudut dan sudut
yaitu mempunyai nilai sinus yang sama.
Misalnya dalam pengerjaan dimunculkan hasil berikut:

Selanjutnya diharapkan siswa dapat menyimpulkan bahwa sudut yang demikian adalah
sudut yang berelasi. Tepatnya, berelasi melalui hubungan nilai sinus yang sama.
Simpulan ini kemudian dikaitkan dengan pengertian matematka lain misalnya
dan sebagainya.
Contohnya hubungan

(ii).

Disamping itu hasil yang diperoleh oleh siswa


digunakan untuk aplikasi dalam dunia nyata maupun
dikaitkan dengan pengetahuan lain (fisika, geografi
dll). Sebagai contoh siswa ingin mengetahui tinggi
suatu pohon. Dengan menerapkan prinsip
perbandingan pada tangen maka dapat ditentukan
tinggi pohon secara tidak langsung.
Contoh lain, siswa mengaitkan fungsi trigonometri
dengan gerak ayunan dalam fisika

Ada juga literasi yang memaknai tahapan menyimpulkan sebagai tindakan membentuk
jejaring (networking) secara fisik yaitu bekerjasama atau berkolaborasi antar siswa.
C. Penutup
Langkah-langkah dalam pendekatan ilmiah seperti dijelaskan di atas tentu saja harus dijiwai oleh
perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong,
kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi
atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial
dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
Disamping itu pemahaman, penerapan dan analisis dari pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural, dan metakognitif terkait bidang kajian matematika dapat digunakan untuk
memecahkan masalah.
Referensi:
[1]

Shelly Frei, (2008), Teaching Mathematics Today, Huntington Beach, CA 92649-1030: Shell
Education

[2]

Sudarwan, Prof., (2013), Pendekatan-pendekatan Ilmiah dalam Pembelajaran, Makalah pada


Workshop Kurikulum, Jakarta

[3]

http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/24488/title/The-Scientific-Approach/:
diakses 16 Februari 2013

[4]

http://ariasusman.wordpress.com/2009/07/06/pendekatan-ilmiah/ : diakses 16 Februari 2013