Anda di halaman 1dari 3

RESUME

EMULGEL
Emulgel merupakan suatu sediaan gabungan antara emulsi dan
gel. Bagian emulsi dapat membawa obat-obat yang bersifat hidrofobik
di mana obat-obat hidrofobik ini memiliki masalah pada kelarutannya.
Disinilah emulgel hadir sebagai suatu sediaan topikal yang dapat
menutupi kelemahan dari kelarutan (rendah) suatu obat. Bagian gel itu
sendiri dapat menguntungkan karena dapat menambah estetika,
mudah dibersihkan dan memiliki efek menyejukkan, sehingga sangat
cocok untuk digunakan untuk aplikasi topikal atau luar yaitu di kulit.
Emulgel memiliki keuntungan yaitu tiksotropik, tidak berminyak
dan

mudah

dibersihkan,

mudah

penyebarannya,

lembut,

tidak

meleleh, dan memberikan sensasi nyaman pada penggunanya.


Bagian emulsi pada emulgel terdiri dari fase minyak dan fase air,
haslnya dapat menjadi emulsi minyak dalam air atau air dalam minyak
(tergantung formulasi) lalu dicampurkan dengan basis gel dan
menjadilah emulgel. Contoh-contoh obat yang diformulasi dalam
bentuk emulgel adalah:

Ketokonazol

Piroksikam

Itrakonazol

Chlorphenisin

Na. Diklofenak

Ket: obat-obat ini memiliki masalah pada kelarutannya yaitu bersifat


hidrofobik atau lipofilik namun memiliki permeabilitas yang tinggi
sehingga masuk dalam BCS kelas 2
Bahan-bahan penyusun emulgel
1. Vesikel atau pembawa
Jenis-jenis vesikel
a. Berbahan cair, contoh: air, alkohol, dsb.

b. Berbahan minyak, utuk emulsi dengan aplikasi eksternal,


mineral oil baik tunggal maupun dikombinasi dengan parafin
padat atau cair, dapat digunakan sebagai vesikel untuk obat
dan untuk oklusif dan karakteristiknya.
2. Emulsifier
Contoh: PEG 40 stearat, Span 80, tween 80, asam stearat dan
natrium stearat.
3. Gelling agents
Biasa digunakan untuk meningkatkan konsistensi dari sediaan dan
juga dapat digunakan sebagai agen penebal (thickening agent).
Contohnya: karbopol-934, karbopol-940, HPMC dan Na. CMC.
4. Peningkat penetrasi (Enhancers)
Dalam rangka membantu obat untuk diabsorpsi. Contoh: Clove oil
dan mentol.
Evaluasi sediaan emulgel menurut review artikel oleh Vikas
Singla, et. al. 2012: 493-495 berjumlah 10 jennis evaluasi. Penggunaan
parameter evaluasi ini bergantung pada tujuan penelitian yang
dilakukan.
1.

Pemeriksaan fisik, bertujuan untuk melihat karakteristik emulgel


dari

segi

warna,

homogenitas,

konsistensi

dan

pH

dengan

menggunakan pH meter di mana nilai pH dikukur dari 1% larutan.


2.

Pemeriksaan

viskositas

bertujuan

untuk

melihat

viskositas

sediaan emulgel yang dibuat dan dibandingkan dengan marketed


produk. Viskositas diukur dengan menggunakan alat viskometer.
3.

Koefisien penyebaran atau spreading coefficient bertujuan untuk


mengukur daya sebar dari emulgel, di mana daya sebar berguna
untuk menentuan luas terapeutik dari sediaan emulgel yang dibuat.
Adapun cara penentuannya yaitu diletakkan emulgel (sekitar 2 g) di
atas objek glass. Emulgel ini kemudian ditekan diantara dua objek
glass yang salah satunya dilengkapi dengan pengait. Beban 20 g
ditempatkan pada bagian atas dua objek glass selama 5 menit
untuk menghilangkan udara dan untuk menyeragamkan lapisan

dari emulgel. Emulgel berlebihan yang ada ditepian dihapus.


Diletakkan beban seberat 80 g di atasnya. Dicatat waktu (dalam
detik) yang dibutuhkan oleh objek glass untuk berpindah sejauh 7,5
cm. Semakin pendek interval waktu menunjukkan spreadibility
yang lebih baik.
4.

Studi Extrudability bertujuan untuk mengetahui gaya yang


dibutuhkan untuk mengeluarkan emulgel dari tabung alumunium.
Metode ini diaplikasikan untuk penentuan shear rate dari emulgel.
Evaluasi

extrudability formulasi emulgel yang didasarkan pada

persentase emulgel yang dikeluarkan dari tabung aluminium.


Dicatat berapa gram emulgel yang dikeluarkan setidaknya 0,5 cm
dalam 10 detik. Lebih besar angka extrudability menandakan
bahwa nilai extrudability lebih baik. Pengukuran

extrudability

masing-masing formulasi dilakukan secara triplo kemudian dirataratakan. Extrudability

dihitung

dengan

menggunakan

rumus

sebagai berikut:
Extrudability = Berat emulgel yang keluar dari tabung (dalam g) /
Area (dalam cm2)
5.

Sweelinng indeks atau indeks pengembangan bertujuan untuk

mengukur pengembangan gel.


6.
Penentuan kadar obat, dapat menggunakan instrumen baik
HPLC, Spektrofotometer UV-Vis, dll. Dan kemudian dihitung %
perolehan kembali..
7.
Uji iritasi kulit. Emulgel yang dibuat tidak boleh mengiritasi kuli
karena penggunaanya yang topikal sehingga uji ini dilakukan.
Karena jika terbukti menyebabkan iritasi berarti sediaan yang
dibuat tidak memenuhi persyaratan
8.
Uji ex vivo
9.
Uji in vitro dengan menggunakan sel difusi frans.