Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Pasar adalah tempat dilakukannya kegiatan jual beli berbagai
macam barang dan jasa untuk memperoleh berbagai macam
kebutuhan sehari-hari (Afiyah,N., 2006). Para pedagang berjualan
secara bergantian sepanjang hari, ada yang berjualan mulai dari pagi
hari hingga malam hari ada pula yang berjualan mulai dari malam
hingga pagi hari.
Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh penulis melalui
wawancara dengan beberapa pedagang di Pasar Pondok Gede,
selama mereka berdagang, mereka melakukan beberapa kebiasaan
seperti mengkonsumsi minuman berenergi, minum kopi, dan merokok.
Selain itu mereka juga kurang minum air putih dan terlalu lama duduk.
Kebiasaan tersebut apabila dilakukan setiap hari dapat berdampak
buruk bagi kesehatan mereka. Menurut Gondosari,A.H. (2010), sakit
ginjal dapat disebabkan karena kurang minum air dan terlalu banyak
duduk, dan karena terlalu banyak minum obat. Sebaiknya bila minum
obat, minum air juga harus banyak. Setiap orang dianjurkan minum 8
gelas setiap hari atau kira-kira 1 liter air.
1

Kebiasaan para pedagang yang jarang minum air putih serta


terlalu banyak duduk juga merupakan salah satu penyebab terjadinya
gagal ginjal. Terlalu banyak duduk dapat menyebabkan kalsium dalam
tulang akan dilepas ke darah selanjutnya terjadi hiperkalsemia yang
akan memicu terjadinya batu saluran kemih karena akan terjadinya
kristal dalam saluran kemih (Menon,M.; Resnick; Martin I., 2002:32303292).
Selain itu, para pedagang tersebut juga melakukan kebiasaan
merokok. Nikotin dalam rokok adalah salah satu zat beracun yang
bersifat adiktif (menimbulkan ketergantungan) yang berperan besar
dalam menimbulkan gangguan kesehatan salah satunya penyempitan
pembuluh koroner. Apabila sumbatan terjadi di pembuluh darah ginjal
memudahkan terjadinya hipertensi dan gagal ginjal (Suharjo,J.B.;
Cahyono,B., 2012:109).
Penyakit gagal ginjal dapat akut atau kronik. Hilangnya fungsi
ginjal normal pada kedua gagal ginjal tersebut mengakibatkan
ketidakmampuan

tubuh

mempertahankan

homeostasis

cairan,

elektrolit, dan asam basa (Brooker,C., 2008:141). Gagal ginjal akut


(GGA) terjadi bila fungsi ginjal berkurang sampai ke tingkat dimana
homeostasis

cairan

tubuh

tidak

dapat

dipertahankan

lagi

(Behrman,R.E; Kilegma,R.M; Arvin,A.M, 2000:1846) sedangkan Gagal


ginjal Kronik (GGK) penderita hanya dapat berusaha menghambat laju

tingkat kegagalan fungsi ginjal tersebut agar tidak menjadi Gagal Ginjal
Terminal (GGT), suatu kondisi dimana ginjal sudah tidak berfungsi lagi
(Alam,S.; Hadibroto,I., 2007:23).
Pemeriksaan penunjang untuk mengetahui keadaan ginjal
adalah pemeriksaan kreatinin darah. Kreatinin berasal dari metabolisme
otot

yang

dipengaruhi

secara

minimal

oleh

beberapa

faktor

(keseimbangan nitrogen, keadaan hidrasi) selain fungsi glomelurus.


Perubahan fungsi ginjal dapat dimonitor dengan kadar kreatinin serum
(Behrman,R.E; Kilegma,R.M; Arvin,A.M, 2000:1807). Jika 50% atau
lebih nefron rusak, kadar kreatinin meningkat. Kreatinin serum secara
khusus berguna dalam mengevaluasi fungsi glomelurus (Kee,J.L.,
1997:168).
Populasi penyakit gagal ginjal di Indonesia dari tahun ke tahun
kian meningkat. Roesli,R.A., seorang ahli penyakit dalam dari
Departemen

Ilmu

Penyakit

Dalam

RS.

Cipto

Mangunkusumo

mengatakan, berdasarkan data yang dirilis PT. Askes pada tahun 2010
jumlah pasien gagal ginjal ialah 17.507 orang. Kemudian meningkat
sekitar lima ribu lebih pada tahun 2011 sebesar 23.261 pasien. Pada
tahun 2011 ke 2012 terjadi peningkatan yakni 24.141 pasien. Data
Riskesdas

tahun

2013

dari

722.329

orang

(>15

tahun),

populasi penyakit gagal ginjal kronis berdasarkan diagnosis dokter di


Indonesia sebesar 0,2 persen. Sedangkan prevalensi penderita batu

ginjal sebesar 0,6 persen. Selain itu prevalensi penyakit gagal ginjal
kronis dan penyakit batu ginjal lebih tinggi pada laki-laki dibanding
perempuan. Dan berdasarkan wawancara prevalensi penyakit gagal
ginjal kronis dan batu ginjal meningkat, seiring dengan bertambahnya
umur tertinggi pada kelompok umur 35-44 tahun (0,3%) pada penyakit
ginjal kronis, dan kelompok umur 55-64 tahun (1,3%) pada penyakit
batu ginjal (depkes.go.id, 17/05/2014).
Penelitian sebelumnya yang

telah dilakukan oleh Masitoh,S.,

(2011) pada supir angkot KR, dari 25 responden yang diperiksa kadar
kreatinin darahnya, terdapat 4 orang (16%) dengan kadar kreatinin
darah melebihi nilai rujukan. Dari keempat orang tersebut, semuanya
kurang mengkonsumsi air putih (< 2000mL) dan mengkonsumsi
minuman suplemen penambah energi > 5 tahun.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk
melakukan penelitian tentang gambaran kadar kreatinin darah pada
pedagang di malam hari di Pasar Pondok Gede Bekasi.

B. Identifikasi masalah
1. Nikotin dalam rokok

berperan

besar

dalam

menimbulkan

gangguan kesehatan salah satunya penyempitan pembuluh


koroner. Apabila sumbatan terjadi di pembuluh darah ginjal
memudahkan terjadinya gagal ginjal.

2. Terlalu banyak duduk dapat menyebabkan kalsium dalam tulang


akan dilepas ke darah selanjutnya terjadi hiperkalsemia yang akan
memicu terjadinya batu saluran kemih.
3. Populasi penyakit gagal ginjal di Indonesia dari tahun ke tahun
kian meningkat.
4. Belum ada penelitian tentang gambaran kadar kreatinin darah
pada pedagang di malam hari.
C. Pembatasan masalah
Pada penelitian ini penulis membatasi masalah pada gambaran
kadar kreatinin darah pada pedagang di malam hari di Pasar Pondok
Gede Bekasi.
D. Perumusan masalah
Bagaimana gambaran kadar kreatinin darah pada pedagang di
malam hari di Pasar Pondok Gede Bekasi ?
E. Tujuan penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar
kreatinin darah pada pedagang di malam hari di Pasar Pondok Gede
Bekasi.
F. Manfaat penelitian
1. Memberikan informasi kepada para pedagang yang berjualan di
malam hari akan risiko penyakit yang dapat diterima dari pola
kebiasaan mereka mengkonsumsi minuman berenergi, merokok,
kurang minum, dan terlalu lama duduk.
2. Data dapat dimanfaatkan oleh organisasi mahasiswa untuk
melakukan

penyuluhan

di

beberapa

pasar

yang

pedagang yang bekerja di malam hari.


3. Sebagai sumber informasi untuk penelitian selanjutnya.

terdapat