Anda di halaman 1dari 28

EKSISTENSI TRANSPORTASI SUNGAI (KETEK)

SEBAGAI SARANA ALTERNATIF


DI KOTA JAMBI

A. Latar Belakang Masalah


Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri atas beribu pulau
sepanjang garis khatulistiwa yang menempati peringkat keempat dari 10 negara
berpopulasi terbesar di dunia.1 Tanpa sarana transportasi yang memadai maka
akan sulit untuk menghubungkan seluruh daerah di kepulauan ini. Transportasi
merupakan salah satu sektor kegiatan yang sangat penting karena berkaitan
dengan kebutuhan setiap orang. Kebutuhan ini misalnya kebutuhan untuk
mencapai lokasi kerja, lokasi sekolah, mengunjungi tempat hiburan atau
pelayanan, dan bahkan untuk bepergian ke luar kota. Transportasi tidak hanya
mengangkut orang, tetapi juga untuk memindahkan barang dari satu tempat ke
tempat lain.2
Perkembangan transportasi memungkinkan berbagai kegiatan dapat
diangkut melalui darat, udara ataupun laut dengan jenis angkut yang beragam.
Namun yang perlu diingat, bahwa sebagai fasilitas pendukung kegiatan
kehidupan, maka perkembangan transportasi harus diperhitungkan dengan tepat
dan secermat mungkin agar dapat mendukung tujuan pembangunan secara
umum dari satu dearah.3 Transportasi sungai di Indonesia pada umumnya
digunakan untuk melayani mobilitas barang dan penumpang, baik di sepanjang
aliran sungai maupun penyeberangan sungai.4 Sistem perairan sungai yang
dapat dilayari harus memenuhi persyaratan teknis, yakni: kedalaman,
kelandaian, dan kecepatan arus tertentu, sehingga aman dan mudah dilayari.
Angkutan sungai sangat menonjol di Kalimantan, Sumatera dan Papua. Di
Kalimantan, angkutan sungai banyak digunakan untuk kebutuhan angkutan

Lihat CIA World Factbook Tahun 2013 (ilmupengetahuanumum.com/10-negaradengan-jumlah-penduduk-populasi-terbanyak-di-dunia/).


2
Rizki Permata Sari, Pergeseran Pergerakan Angkutan Sungai di Sungai Martapura
Kota Banjarmasin, Tesis, (Semarang, Undip, 2008), hal. 1.
3
Fidel Miro, Perencanaan Transportasi, (Jakarta: Erlangga, 2005), hal. 2.
4
Rizki Permata Sari, Pergeseran Pergerakan Angkutan Sungai, hal. 54.

lokal dan perkotaan, terutama di wilayah yang belum tersedia prasarana


transportasi jalan.5
Berkaitan dengan penjelasan tersebut, Jambi merupakan salah satu daerah
yang memiliki sungai terpanjang di pulau Sumatera yaitu Sungai Batang Hari.
Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Hari merupakan DAS terbesar kedua di
Indonesia, mencakup luas areal tangkapan (catchment area) 4.9 juta Ha.
Sekitar 76 % DAS Batang Hari berada pada provinsi Jambi, sisanya berada
pada provinsi Sumatera Barat.6 Sungai Batang Hari berasal dari Pegunungan
Bukit Barisan dari 2 lokasi sebagai awalnya sungai yaitu Danau Kerinci
(Jambi) dari arah selatan menuju ke utara-timur menjadi Sungai Batang
Tembesi dan Danau Kembar dari arah utara (Sumbar) menuju selatan-timur
yang menjadi Sungai Batanghari Hulu. Kedua sungai tersebut bertemu di Kota
Muara Tembesi dan selanjutnya mengalir ke timur menuju ke timur bernama
Sungai Batanghari melewati Kota Jambi menuju laut di Selat Berhala.7
Keberadaan Sungai Batang Hari di Provinsi Jambi memberikan ruang
lingkup yang luas terhadap perkembangan transportasi sungai di Kota Jambi.
Salah satu jenis transportasi sungai yang berkembang di Kota Jambi yang
sesuai dengan adat dan tradisi daerahnya adalah transportasi sungai ketek.
Transportasi sungai ketek merupakan sarana transportasi sungai utama masa
lalu dan hingga saat ini masih dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat di Kota
Jambi khususnya di Seberang Kota Jambi.
Pada tahun 1986-an, Pemerintah Provinsi Jambi berhasil membangun
jembatan Batang Hari I (Aurduri) di ujung barat Kota Jambi. Tujuan
pembangunan jembatan ini adalah untuk memperlancar arus transportasi antar
kota dan antar provinsi yang harapannya dapat berdampak positif pada
perkembangan ekonomi daerah. Tetapi pembangunan jembatan ini berdampak
negatif pada penggunaan transportasi sungai karena mereka beralih pada
transportasi darat. Pada tahun 2010, pemerintah kembali berhasil membangun
jembatan yang kedua yaitu Jembatan Batang Hari II yang berada di ujung timur
Kota

Jambi.
5

Jembatan

ini

bertujuan

melancarkan

transportasi

hasil

A. Taufik Mulyana, Transportasi Air. (Banjarmasin: Fakultas Teknik Universitas


Lambung M angkurat, 2005), hal. 5.
6
Lihat (http://id.wikipedia.org/wiki/Batang_Hari).
7
Lihat(http://www.pu.go.id/satminkal/dit_sda/profil%20balai/bws/profilebws
%20sumatera%20VI.pdf).

perekonomian sebagai akses untuk mendukung ekspor-impor daerah menuju


pasar global, melayani arus lalu lintas timur sumatera dan mempercepat
pengembangan wilayah pedalaman pantai timur Provinsi Jambi dan sekitarnya.
Pembangunan ini lagi-lagi memberikan dampak negatif pada transportasi.
Tahun 2013, Pemerintah kembali membangun jembatan yang ketiga yaitu
Jembatan Gantung yang dibangun oleh Pemerintah Daerah khusus untuk para
pejalan kaki sebagai peningkatan mutu pariwisata Provinsi Jambi. Jembatan ini
terletak di antara kawasan Tanggo Rajo (Ancol) Kecamatan Pasar dengan
Kecamatan Pelayangan tepatnya di Kelurahan Arab Melayu Seberang Kota
Jambi yang saat ini masih dalam tahap proses pembangunan. Dikhawatirkan,
dengan adanya Pembangunan Jembatan Gantung ini akan kembali mengancam
keberadaan transportasi sungai ketek di Kota Jambi, karena letaknya yang tepat
berada di tengah-tengah kawasan sungai penyeberangan ketek.
Kehadiran transportasi sungai ketek di Kota Jambi sangat penting. Karena
ketek merupakan satu-satunya jenis transportasi angkutan sungai yang
berfungsi sebagai sarana transportasi penyeberangan di DAS Batang Hari dari
seberang kota menuju kota Jambi atau dari kota menuju Seberang Kota Jambi.
Karena itu, dengan perkembangan alat transportasi yang modern dan canggih
serta kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah berupa pembangunan
jembatan, dengan sendirinya akan mengancam keberadaan ketek sebagai
transportasi sungai yang memiliki nilai dan muatan lokal. Hal ini
dikhawatirkan akan mematikan jalur transportasi sungai di DAS Batang Hari
Kota Jambi.
Berangkat dari permasalah ini, penulis merasa tertarik untuk melakukan
sebuah kajian tentang keberadaan transportasi sungai ketek di Kota Jambi
terkait dengan kelangsungan masa depan ketek tersebut sebagai ikon
transportasi sungai di DAS Batang Hari. Maka dalam penelitian ini, peneliti
akan mencoba melihat bagaimana eksistensi transportasi sungai ketek di Kota
Jambi, dengan spesifikasi judul penelitian: Eksistensi Transportasi Sungai
(Ketek) sebagai Sarana Alternatif di Kota Jambi.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan dalam penelitian
ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana eksistensi transportasi sungai ketek di Kota Jambi?


2. Bagaimana fungsi transportasi sungai ketek di Kota Jambi?
3. Bagaimana persepsi masyarakat terhadap eksistensi transportasi sungai
ketek di Kota Jambi?
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mendeskripsikan bagaimana eksistensi transportasi Sungai ketek di Kota
Jambi.
2. Mendeskripsikan bagaimana fungsi transportasi Sungai ketek di Kota
Jambi.
3. Mendeskripsikan bagaimana persepsi masyarakat terhadap eksistensi
transportasi sungai ketek di Kota Jambi.
Adapun kegunaan dari penelitian ini sebagai berikut:
1. Diharapkan agar transportasi sungai ketek di kota Jambi mendapatkan
perhatian dan kebijakan dari pemerintah kota maupun provinsi Jambi
sehingga kelangsungan transportasi sungai ketek

tersebut lebih

menjanjikan ke depannya.
2. Diharapkan agar transportasi sungai ketek di kota Jambi dikenal lebih luas
oleh masyarakat dalam kota maupun luar kota dan menjadi ikon kota
Jambi, sehingga bisa dikembangkan menjadi transportasi sungai pariwisata
di DAS (Daerah Aliran Sungai) Batang Hari.
D. Landasan Teori
1. Tansportasi
Sebelum penjelasan tentang trasportasi penting dipahami maksud
kesistensi. Secara bahasa, istilah eksistensi diartikan sebagai keberadaan
atau adanya.8 Keberadaan atau adanya di sini dalam konteks merujuk
kepada ada atau tidak adanya pengaruh dari keberadaan sesuatu tersebut
terhadap sesuatu yang lain (benda/orang). Di samping itu, ada juga yang
mengatakan bahwa eksistensi adalah adanya kehidupan.9
Transportasi berasal dari Bahasa Latin yaitu transportare, dimana
trans berarti seberang atau sebelah lain, dan portare berarti mengangkut

8
Budiono M. A., Kamus Ilmiah Populer Internasional, (Surabaya: Karya Harapan,
2005), hal. 141.
9
Tim Reality, Kamus Praktis Bahasa Indonesia: Edisi Terbaru, (Penerbit: Reality
Publisher, 2008), hal. 156.

atau membawa.10 Transportasi diartikan sebagai usaha memindahkan,


menggerakkan, mengangkut atau mengalihkan obyek dari satu tempat ke
tempat lain, sehingga obyek tersebut menjadi lebih bermanfaat atau
berguna untuk tujuan tertentu. 11 Alat pendukung yang dipakai untuk
melakukan kegiatan tersebut bervariasi tergantung dari bentuk obyek yang
akan dipindahkan, jarak antara suatu tempat ketempat lain dan maksud
obyek yang akan dipindahkan tersebut.12
Secara konteks, transportasi mengandung makna/arti yang tidak
jauh berbeda dengan makna/arti daripada angkutan, hanya saja
terkadang antara tansportasi dan angkutan sering ditemukan dalam
susunan kalimat-kalimat dengan kedudukan dan fungsi yang berbeda.
Namun, secara makna memiliki maksud yang sama. Secara etimologi
angkutan berasal dari kata angkut yang berarti mengangkat atau
membawa, memuat dan membawa atau mengirim. 13 Mengangkut berarti
mengangkat dan membawa, memuat atau mengirim. Pengangkutan berarti
pengangkatan atau pembawaan barang atau orang, pemuatan dan
pengiriman barang atau orang yang diangkut. Dengan demikian, angkutan
dapat berarti suatu proses atau gerakan dari satu tempat ke tempat yang
lain.14
Dalam

peranannya,

tansportasi

mampu

menciptakan

dan

meningkatkan aksebilitas (degree of accessibility) potensi-potensi sumber


daya alam yang awalnya tidak termanfaatkan menjadi terjangkau dan
dapat diolah. Kemajuan transportasi juga akan membawa pada
peningkatan mobilitas manusia, dimana semakin tinggi mobilitas akan
semakin

tinggi

pula

tingkat

produktivitas.

Dengan

peningkatan

produktivitas tersebut, maka akan membawa dampak pada kemajuan

10

Adib Kamaludin, Ekonomi Transportasi (Cetakan Pertama), (Jakarta: Ghalia


Indonesia, 1987), hal. 9.
11
Fidel Miro, Perencanaan Transportasi, hal. 4.
12
Rizki Permata Sari, Pergeseran Pergerakan Angkutan Sungai di Sungai Martapura
Kota Banjarmasin, hal. 34.
13
Muhammad Abdulkadir, Hukum Pengangkatan, Darat, Laut dan Udara, (Bandung:
Citra Aditya Bhakti, 1994), hal. 19.
14
Martono Eka Budi Tjahjono, Transportasi di Perairan Berdasarkan Undang-undang
Nomor 17 Tahun 2008, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hal. 5-6.

perekonomian.15 Dalam aspek sosial budaya, transportasi menyebabkan


terjadinya penyebaran penduduk.16 Dan membuka peluang interaksi satu
sama lain untuk saling mengenal dan menghormati budaya masingmasing.17

Hal

demikian,

berarti

dapat

menciptakan

kehidupan

bermasyarakat yang beranekaragam dan dituntut untuk saling bertoleransi


satu sama lain. Konsep transportasi didasarkan pada adanya perjalanan
(trip) antara tempat asal (origin) dan tujuan (destination). Dalam suatu
perjalanan, ada perjalanan yang merupakan pergerakan yang diawali dari
rumah (home based trip) dan ada juga perjalanan yang asal maupun
tujuannya adalah bukan rumah (non-home based trip).18
2. Transportasi dan Kebudayaan
C. Kluckhohn dalam karangannya berjudul Universal Categories Of
Culture (1953) dengan mengambil intisari dari berbagai kerangka yang
ada mengenai unsur-unsur kebudayaan universal. Unsur-unsur kebudayaan
yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia berjumlah tujuh buah,
yang dapat disebut sebagai isi pokok dari setiap kebudayaan. 19 Secara
fungsional, ketujuh unsur kebudayaan itu memiliki fungsi sebagaimana
yang telah dijelaskan di dalam karangan buku Malinowski tentang teori
fungsionalisme yang berjudul A Scientific Theory of Culture and Other
Essays (1944). Dalam buku itu Malinowski mengembangkan teori tentang
fungsi unsur-unsur kebudayaan yang sangat Komplex. Tetapi inti dari teori
itu adalah pendirian bahwa segala aktivitas kebudayaan itu sebenarnya
bermaksud memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah kebutuhan naluri
makhluk manusia yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya.20
Menurut Malinowski berbagai unsur kebudayaan yang ada dalam
suatu masyarakat gunanya untuk memuaskan sejumlah hasrat naluri
manusia. Karena itu unsur kesenian, misalnya, berfungsi untuk
15

Nur Nasution, Manajemen Transportasi (Edisi Kedua), (Jakarta: Ghalia Indonesia,


2004), hal. 14.
16
Abbas Salim, Manajemen Transportasi, (Jakarta: Raja Grafindo, 2002), hal. 11.
17
Nur Nasution, Manajemen Transportasi, hal. 17.
18
Ofyar Tamin, Perencanaan dan Permodelan Transportasi, (Bandung: Intitut
Teknologi Bandung, 1997), hal. 94.
19
Lihat Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi 1, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), hal.
80.
20
Ibid., hal. 171.

memuaskan hasrat naluri manusia akan keindahan; unsur system


pengetahuan, berfungsi memuaskan hasrat untuk tahu.21 Begitu juga
dengan unsur system mata pencaharian hidup, berfungsi untuk
memuaskan hasrat naluri manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jika
berkiblat pada pandangan Vansina, yang mengatakan bahwa Seorang
peneliti budaya perlu memaknai kebudayaan sebagai proses dan
produk. Kebudayaan sebagai proses perlu dicermati terjadinya transmisi
pesan budaya dari waktu ke waktu. Sedangkan kebudayaan sebagai produk
merupakan warisan generasi masa lalu ke generasi sekarang.22
Sebagai produk manusia, kebudayaan adalah ekspresi eksistensi
manusia sebagai makhluk historis. Sebagai ekspresi eksistensi manusia,
kebudayaan pun berwujud sesuai dengan corak dasar keberadaan manusia.
Menurut koentjaraningrat, kebudayaan paling tidak mempunyai tiga
wujud, yakni wujud ideal, system social, dan kebudayaan fisik. 23
Transportasi sungai (ketek) yang ada di seberang kota jambi merupakan
salah satu bentuk wujud kebudayaan yang ketiga sebagai objek fisik hasil
karya manusia masa lalu. Walaupun bentuk dari transportasi sungai ketek
tersebut telah mengalami perkembangan, Namun secara penampilannya
ketek masih bisa mempertahankan identitas dirinya sebagai transportasi
tradisional, dikatakan tradisional karena ketek tersebut masih terbuat dari
bahan kayu dan diolah serta dibentuk secara manual tradisional oleh
manusia.
3. Transportasi, Kearifan Lokal dan Modernisasi
Dalam pengertian kebahasaan, kearifan lokal berarti kearifan
setempat (local wisdom) yang dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan
lokal yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai yang tertanam dan
diikuti oleh warga masyarakatnya. Dalam konsep antropologi, kearifan
lokal dikenal pula sebagai pengetahuan setempat (indigenous or local
21

Ibid., hal. 88.


Suwardi Endraswara, Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan: Ideologi,
Epistimologi, dan Aplikasi, (Yogyakarta: Pustaka Widyatama, 2006), hal. 223.
23
Rafael Raga Maran, Manusia & Kebudayaan dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar,
(Jakarta: Rineka Cipta, 2007), hal. 47.
22

knowledge), atau kecerdasan setempat (local genius), yang menjadi dasar


identitas kebudayaan (cultural identity).24 Kearifan lokal menurut I Ketut
Gobyah adalah kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu
daerah. Dengan kata lain, kearifan lokal merupakan produk budaya masa
lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan sebagai pegangan hidup
bagi masyarakatnya.25 Apabila produk budaya ini berusaha untuk
dipertahankan secara terus menerus dari waktu ke waktu, dengan
sendirinya akan menjadi sebuah tradisi sekaligus identitas budaya bagi
masyarakat tersebut. Tradisi berarti traditum, segala sesuatu yang
ditransmisikan, diwariskan oleh masa lalu ke masa sekarang, berupa polapola atau citra (image) dari tingkah laku termasuk di dalamnya
kepercayaan, aturan, anjuran dan larangan untuk menjalankan kembali
pola-pola tingkah laku yang terus menerus mengalami perubahan. Dalam
prakteknya, tradisi berwujud pada suatu aktivitas yang dilakukan secara
terus menerus dan berulang sebagai upaya peneguhan pola-pola tingkah
laku yang bersandar pada norma-norma bagi tindakan-tindakan di masa
depan.26
Berkaitan dengan hal tersebut, transportasi sungai ketek adalah salah
satu produk budaya masa lalu yang sudah lama berkembang dan
mentradisi dalam aktivitas masyarakat seberang di Kota Jambi. Tradisi ini
telah dilakukan secara terus-menerus serta turun-temurun dari waktu ke
waktu sebagai sarana penyeberangan sungai di DAS Batang Hari Kota
Jambi. Hal ini menggambarkan bahwa transportasi sungai ketek di Kota
Jambi merupakan salah satu bagian dari hasil kearifan lokal masyarakat
setempat (masyarakat seberang). Kearifan lokal merupakan perwujudan
dari daya tahan dan daya tumbuh yang dimanifestasikan melalui
pandangan hidup, pengetahuan, dan pelbagai strategi kehidupan yang
berupa aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal untuk menjawab
berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya, sekaligus
24

Tim Penyusun, Kearifan Lokal di Tengah Modernisasi, (Jakarta: Kementerian


Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, 2011), hal. ix.
25
Baca Sartini, Menggali Kearifan Lokal, Jurnal Filsafat, Agustus 2004, Jilid 37, Nomor
2, hal. 112.
26
Tim Penyusun, Kearifan Lokal di Tengah Modernisasi, hal. viii-ix.

memelihara kebudayaannya.27 Untuk itu, kehadiran transportasi ketek di


Kota Jambi sebagai hasil kearifan lokal masyarakat seberang

yang

tertanam nilai budaya di dalamnya adalah merupakan pengejawantahan


dari budaya masa lalu untuk menjawab salah satu persoalan vital
masyarakat seberang dalam pemenuhan kebutuhan hidup mereka seharihari, yaitu dalam hal penyeberangan sungai Batang Hari yang hingga saat
ini masih menjadi dinamika sosial modernisasi.
Dinamika sosial modernisasi tersebut, dapat dibuktikan dengan
berbagai pengaruh yang disebabkan oleh arus modernisasi itu sendiri,
sehingga menimbulkan perubahan sosial di Kota Jambi secara eksplisit.
Kita bisa menyaksikan bahwa modernisasi di Kota Jambi telah
memberikan pengaruh yang besar terhadap eksistensi transportasi sungai
ketek di Kota Jambi. Pengaruh tersebut dapat diinterpretasi dari 2 mata
sisi yang berlawanan, yaitu pengaruh positif dan negatif.
Salah satu pengaruh positif dari modernisasi terkait dengan
perkembangan transportasi sungai di Kota Jambi adalah terjadinya
transformasi transportasi sungai yang dahulunya hanya berupa perahu
dayung yang masih menggunakan tenaga manusia dan sekarang telah
menjadi perahu bermesin yang oleh pemilik budayanya (masyarakat
seberang) dikenal dengan istilah ketek. Hal ini sesuai dengan pendapat
Prof. Koentjaraningrat yang mengatakan bahwa modernisasi tidak lain
adalah Usaha untuk hidup sesuai dengan zaman dan konstelasi dunia
sekarang. Ungkapan tersebut mensyaratkan bahwa modernisasi tidak
akan datang dan terjadi begitu saja, melainkan harus diusahakan,
diupayakan.28 Jadi, jelas lah bahwa transportasi sungai ketek merupakan
salah satu bukti real dari akselerasi modernisasi di Kota Jambi yang
secara langsung penerapannya diusahakan sekaligus diupayakan oleh
masyarakat lokal itu sendiri yang diperoleh berdasarkan hasil interpretasi
dari pengetahuan, pengalaman dan kondisi alam di sekitarnya melalui
proses belajar.
27

Ibid., hal. ix.


Baca Nursid Sumaatmadja, Manusia dalam Konteks Sosial, Budaya dan Lingkungan
Hidup, (Bandung: Alfabeta, 2010), hal. 67.
28

Efek globalisasi/modernisasi yang menyebabkan globalophobia ini


sedikitnya telah menjejal transportasi sungai ketek di Kota jambi. Hal ini
disebabkan karena tidak adanya pengendalian secara serius dan holistik
terhadap efek modernisasi itu sendiri, sehingga akan memberikan
pengaruh yang negatif terhadap perkembangan transportasi sungai ketek
dewasa ini. Hal ini dapat dibuktikan dengan berbagai ancaman yang
datang silih berganti dari ulah modernisasi yang sedang terjadi di Kota
Jambi saat ini, baik berupa perkembangan transportasi darat yang
cenderung modern dan canggih maupun pembangunan-pembangunan
jembatan oleh pemerintah daerah Provinsi Jambi. Dalam hal ini, perlu kita
pikirkan bersama-sama tentang bagaimana kearifan lokal transportasi
sungai ketek di Kota Jambi ini agar tetap dapat hidup dan berkembang
tetapi tidak ketinggalan zaman. Bagaimana kearifan lokal dapat mengikuti
arus perkembangan global sekaligus tetap dapat mempertahankan
identitas lokal, akan menyebabkan ia akan hidup terus dan mengalami
penguatan. Kearifan lokal sudah semestinya dapat berkolaborasi dengan
aneka perkembangan budaya yang melanda dan untuk tidak larut dan
hilang dari identitasnya sendiri.29
E. Metode Penelitian
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan emik dengan perspektif
kualitatif. Pendekatan emik adalah pengkategorian fenomena budaya
menurut warga setempat (pemilik budaya).30 Penelitian kualitatif adalah
penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang
dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi,
tindakan, dll., secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk
kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan
dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.31 Metode alamiah yang
dimaksud adalah metode-metode yang biasanya dimanfaatkan oleh
29

Lihat Sartini, Menggali Kearifan Lokal, hal. 117.


Baca Suwardi Endraswara, Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan, hal. 55.
31
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2013), hal. 6.
30

penelitian kualitatif seperti wawancara, pengamatan dan pemanfaatan


dokumen. Penelitian ini juga menggunakan paradigma fenomenologi
dengan jenis penelitian etnografi baru ala James P. Spradley, sebuah
landasan berpikir yang berusaha untuk memahami budaya lewat
pandangan pemiliki budaya atau pelakunya. 32 Berbeda dari etnografi
modern yang dipelopori Radcliffe-Brown dan Malinowski yang
memusatkan perhatiannya pada organisasi internal suatu masyarakat dan
membanding-bandingkan sistem sosial dalam rangka untuk mendapatkan
kaidah-kaidah umum tentang masyarakat, maka etnografi baru ini
memusatkan usahanya untuk menemukan bagaimana berbagai masyarakat
mengorganisasikan budaya mereka dalam pikiran mereka dan Kemudian
menggunakan budaya tersebut dalam kehidupan.33
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Pelayangan Kota Jambi.
Kecamatan ini adalah salah satu kecamatan yang terletak di Seberang
Kota Jambi yang cukup banyak ditemukan transportasi sungai ketek.
Hampir setiap kelurahan di kecamatan ini memiliki transportasi sungai
ketek, mulai dari Kelurahan Tengah, Jelmu, Mudung Laut, Arab Melayu,
Tahtul Yaman hingga Tanjung Johor. Berdasarkan hasil observasi awal
bahwa kecamatan ini adalah tempat awal mulanya berkembang
transportasi sungai ketek. Sehingga dipilihlah kecamatan ini sebagai lokasi
penelitian.
Penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan model
snowball sampling. Model snowball sampling adalah strategi yang dinilai
tepat, karena menentukan jumlah dan sampel tidak semata-mata oleh
peneliti. Peneliti bekerjasama dengan informan, menentukan sampel
berikutnya yang dianggap penting.34 Teknik Penyampelan seperti ini
Menurut Frey ibarat bola salju yang menggelinding saja dalam
menentukan subjek penelitian. Maksudnya, peneliti mencari relawan di
lapangan, yaitu orang-orang yang mampu diajak berbicara dan dari
mereka data akan diperoleh. Dari mereka pula akan ada penambahan
32

Suwardi Endraswara, Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan, hal. 65.


James P. Spradley, Metode Etnografi, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006), hal. xii.
34
Suwardi Endraswara, Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan, hal. 115.
33

sampel dan atau subjek, atas rekomendasinya itu, peneliti segera


meneruskan ke subjek yang lain. Jumlah sampel tidak ada batas minimal
atau maksimal, yang penting telah memadai dan mencapai data jenuh,
yaitu tidak ditemukan informasi baru lagi dari subjek penelitian. 35
Informan yang akan dijadikan sebagai sasaran dalam penelitian ini adalah
tukang ketek dan penumpang ketek itu sendiri.
Data primer yaitu data yang dikumpulkan, diolah dan disajikan oleh
peneliti dari sumber pertama/utama.36 Menurut Lofland dan Lofland
bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan
tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lainlain.37 Kata-kata dan tindakan yang dimaksud adalah kata-kata dan
tindakan orang-orang yang diamati atau diwawancari yang dicatat melalui
catatan tertulis atau perekaman video/audio tapes, pengambilan foto atau
film.38 Data primer tersebut merupakan data utama dari hasil pengamatan,
wawancara dan dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti berkenaan
dengan eksistensi, fungsi dan persepsi masyarakat terhadap transportasi
sungai ketek yang ada di Kota Jambi.
Data sekunder yaitu data yang dikumpulkan, diolah dan disajikan
oleh pihak lain, yang biasanya dalam bentuk publikasi atau jurnal 39,
dokumen (sumber tertulis), foto, data statistik. Data sekunder tersebut
merupakan data tambahan yang diperoleh dalam bentuk tertulis yang
berkenaan dengan sejarah, letak geografis, demografis, dan kehidupan
sosial budaya (keagamaan, pendidikan, adat-istiadat, dan ekonomi)
masyarakat Kota Jambi. Data sekunder seperti dokumen yang dimaksud
tersebut berupa buku-buku ilmiah, tesis, skripsi, jurnal ilmiah, hasil
penelitian lapangan dan lain sebagainya yang bisa diperoleh dari
perpustakaan, atau di tempat-tempat asrsip lainnya seperti Kantor Dinas
Lembaga Adat Kota, Kantor Dinas BPCB (Badan Penelitian Cagar
35

Ibid., hal. 116.


Tim Penyusun Buku Pedoman Skripsi, Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Adab dan
Humaniora, (Jambi: IAIN STS Jambi, 2012), hal. 31.
37
Lihat Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, hal. 157.
38
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, hal. 157.
39
Tim Penyusun Buku Pedoman Skripsi, Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Adab dan
Humaniora, hal. 31.
36

Budaya) Provinsi, kantor Camat dan Lurah Seberang Kota Jambi, atau
bisa juga diperoleh dari hasil searching di internet, buku-buku pribadi,
pinjaman, dan lain-lain. Bahkan sampai dokumen-dokumen pribadi subjek
penelitian jika ada.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan
observasi/pengamatan, wawancara dan dokumentasi. Setelah data-data
diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi terkumpulkan,
maka tahap berikutnya adalah menganalisis data. Analisis Data adalah
upaya

yang

dilakukan

dengan

jalan

bekerja

dengan

data,

mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat


dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan
apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang
dapat diceritakan kepada orang lain.40 Adapaun teknik analisis data dalam
penelitian:41 analisis domain, analisis taksonomi, analisis taksonomi, dan
analisis, serta analisis tema.

F. Pembahasan
1. Eksisensi Transportasi Sungai Ketek Kota Jambi
Secara historis, sebelum adanya Ketek masyarakat seberang pada
waktu itu masih menggunakan perahu tradisional. Perahu tersebut dijalani
oleh tenaga manusia dengan bantuan alat kecil yang terbuat dari kayu atau
istilah lainnya yang sering disebut dengan pengayuh. Perahu ini memiliki
panjang 5 meter dengan ukuran 1,5 meter. Bentuk perahu dayung ini
memiliki bagian depan yang tidak jauh berbeda dengan bagian
belakangnya.

Tujuan

perahu

tersebut

adalah

untuk

mengangkut

penumpang yang hendak melintasi sungai Batanghari.


Diceritakan bahwa jauh sebelum tahun 70-an. Sekitar tahun 60an,
perahu tradisional tersebut difungsikan oleh para pendatang yang berasal
dari daerah Jawa bagian Timur. Mereka berjumlah kurang lebih sekitar 4540
41

Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, hal. 248.


Ibid., hal. 149.

50 orang. Awalnya mereka hanya terdiri dari beberapa orang saja, namun
dengan kemajuan yang dirasakan, sehingga mereka mengundang orangorang dari Jawa bagian Timur itu untuk datang ke daerah Seberang Kota
Jambi.42 Selain perahu tradisional, juga ada transportasi sungai lainnya
yang berkembang yaitu kapal tempek. Kapal tempek adalah sebuah perahu
yang bentuknya agak lebih besar daripada bentuk Ketek. Perbedaan yang
sangat menonjol dari kapal tempek itu sendiri adalah dia memiliki atap
dan menggunakan mesin dengan daya kekuatan 25 PK. Namun, karena
kapal tempek tersebut banyak biaya minyaknya.43 Maka, kapal tempek pun
tidak dimanfaatkan lagi oleh masyarakat setempat. Sehingga proses
disfungsisasi pun terjadi pada kapal tempek yang mengakibatkan
hilangnya kapal tempek dengan sendirinya.
Berdasarkan informasi yang didapatkan dari BPS Kota Jambi
Kecamatan Pelayangan dalam Angka 2013 bahwa jumlah transportasi
sungai ketek adalah sebanyak 150 buah. Masing-masing terdiri dari 24
buah di Kelurahan Tengah, 8 buah di Kelurahan Jelmu, 28 buah di
Kelurahan Mudung Laut, 69 buah di Kelurahan Arab Melayu, 12 buah di
Kelurahan Tahtul Yaman dan 9 Buah di Kelurahan Tanjung Johor.
Transportasi sungai ketek di Kecamatan Pelayangan Kota Jambi pada
tahun 2014 adalah sebanyak 139 Buah. Masing-masing terdiri dari 11 buah
di Kelurahan Tengah, 11 buah di Kelurahan Jelmu, 9 di Kelurahan
Mudung Laut, 100 buah di Kelurahan Arab Melayu, 8 buah di Kelurahan
Tanjung Johor dan tidak ditemukan lagi keberadaan ketek di Kelurahan
Tahtul Yaman.
Penurunan jumlah ketek ini disebabkan karena penghasilan sebagai
tukang ketek itu sudah berkurang,44 sehingga beberapa tukang ketek
mengurungkan niatnya untuk melanjutkan profesinya. Sehingga akhirnya
ketek-ketek yang ada dijual oleh beberapa tukang ketek ke berbagai tempat
di Seberang Kota Jambi dan beberapa tukang ketek tersebut mencari
42
Wawancara dengan Bapak Abdurrahman, salah seorang tukang ketek di Kelurahan
Arab Melayu. (Senin 17 Maret 2014).
43
Wawancara dengan Bapak Abduk Kadir, salah seorang tukang ketek di Kelurahan
Tengah. (Kamis, 22 November 2013).
44
Wawancara dengan Bapak Ilyas. (Selasa, 15 April 2014).

profesi lain yang lebih menguntungkan. Dan hilangnya kapal tempek tidak
membuat perahu tradisional sebelumnya kalah saing. Justru dengan
bentuknya yang kecil dan ringan, sehingga membuat perahu itu
berkembang lebih cepat. Di samping juga menarik perhatian masyarakat
seberang, perahu tradisional ini juga dimanfaatkan oleh masyarakat Pulau
Pandan sebagai alat transportasi untuk menangkap ikan.
Seiring berjalannya waktu, perkembangan teknologi memberikan
kemajuan dalam segala bidang. Salah satu bentuk wujud dari
perkembangan itu adalah kemajuan mesin dalam bidang transportasi. Hal
yang demikian memberikan nilai yang solutif terhadap para penambang
perahu waktu itu. Di samping kemudahan pekerjaan mereka juga
memberikan

efisiensi

waktu

yang

produktif

terhadap

proses

penyeberangan.
Mulai tahun 70-an,45 perahu tradisional ini berkembang menjadi
perahu mesin. Perahu mesin ini awalnya digunakan oleh masyarakat Pulau
Pandan yang letaknya di bagian selatan Sungai Batang Hari. Tujuannya
adalah sebagai sarana untuk mencari ikan. Sebagian besar masyarakat
yang ada di Pulau Pandan itu adalah masyarakat yang berasal dari
Palembang.
Macam-macam transportasi sungai di Kota Jambi:
a. Perahu Kecik. Perahu Kecik merupakan transportasi sungai pertama
yang digunakan oleh masyarakat Seberang Kota Jambi. Perahu Kecik
ini sering juga disebut oleh masyarakat setempat dengan istilah perahu
jalur kecik.46 Perahu kecik ini dikembangkan oleh orang-orang
pendatang yang berasal dari Jawa Timur di Kelurahan Arab Melayu.47
b. Perahu Jukung. Perahu Jukung adalah perahu yang terbuat dari kayu
yang utuh, dalam arti kata tidak disambung-sambung dari sebatang
pohon kayu yang besar. Perahu Jukung merupakan salah satu perahu
yang juga berkembang di Seberang Kota Jambi setelah perahu kecik.
Perahu ini digunakan oleh masyarakat seberang sebagai angkutan
45

Wawancara dengan Bapak Abdurrahman. (Senin, 17 Maret 2014).


Wawancara dengan Bapak Nurdin Khalidi, salah satu tukang ketek yang paling dituai
di kelurahan Arab Melayu. (Senin, 14 April 2014).
47
Wawancara dengan Bapak Jamil, salah seorang tukang ketek di Kelurahan Tengah.
(Senin, 31 Maret 2014).
46

sungai untuk membawa orang yang hendak menuju ke Pasar Kota


Jambi.
c. Perahu Mesin. Perahu mesin adalah perahu dayung yang menggunakan
mesin. Perahu mesin ini dikembangkan oleh orang-orang Palembang
yang tinggalnya di daerah Pulau Pandan dan terletak di bagian Selatan
Sungai Batanghari. Pada masanya, perahu mesin ini oleh orang
Palembang digunakan sebagai alat untuk mencari ikan di bagian hilir
Sungai Batanghari.48 Perahu mesin inilah yang menjadi cikal bakal
munculnya ketek.
d. Kapal Tempek. Kapal tempek atau sering juga dibilang oleh masyarakat
setempat sebagai PMP.49 Kapal tempek dikenal sudah cukup lama oleh
masyarakat setempat, perkembangan kapal tempek sudah ada sebelum
berkembangnya Ketek. Kapal tempek memiliki ukuran yang lebih besar
dari ketek dan memiliki atap. Kapal tempek memiliki kapasitas muatan
penumpang sekitar 20 orang.50 dikatakan kapal tempek karena kapal ini
menggunakan mesin tempek atau mesin cangkuk/mesin 40.51
e. Ketek. Ketek adalah salah satu transportasi sungai yang berkembang di
Kota Jambi. Ada 3 jenis Ketek yang dikategorikan berdasarkan jenis
mesinnya, yaitu mesin robin, TS (turbine ship) dan dompeng.52

Gambar: 1. Bentuk Struktur Perahu Mesin di Pulau Pandan. (2014).

Gambar: 2. Macam-macam Transportasi Sungai di Kota Jambi. (2104).


48

Wawancara dengan Bapak Abdurrahman. (Senin 17 Maret 2014).


Wawancara dengan bapak Abdul Kadir. (Kamis, 22 November 2013).
50
Hasil wawancara dengan Bapak Jamil. Senin, 31 Maret 2014).
51
Wawancara dengan Bapak Nurdin Khalidi. (Senin, 14 April 2014).
52
Pengkategorian ketek ini dilakukan berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak
Nurdin Khalidi di Kelurahan Arab Melayu dan Ilyas di Kelurahan Tanjung Johor.
49

2. Fungsi Transportasi Sungai Kota Jambi


a. Ketek sebagai Sarana Mata Pencaharian Hidup

Pada masa lalu sekitar tahun 80-an, ketek menjadi solusi bagi
sebagian masyarakat Seberang Kota Jambi, karena transportasi ini
dianggap sebagai salah satu peluang untuk mencari nafkah keluarga.
Dengan uang sebesar 175 ribu, masyarakat setempat sudah bisa
memiliki transportasi ketek. Ketika itu, harga minyak hanya senilai 35
rupiah dan ongkos Ketek baru 25 rupiah.53 Sekarang, transportasi
sungai ketek sudah mencapai 3 Juta/satuannya, belum dengan
mesinnya.54 Namun, transportasi ketek masih menjadi salah satu
alternatif sebagai alat teknologi untuk memenuhi kebutuhan hidup
keluarga di Kecamatan Pelayangan Seberang Kota Jambi. Sehingga
sebagian dari masyarakat seberang tetap menggantungkan hidup
mereka dengan transportasi ini. Karena mereka menganggap bahwa
Ketek adalah salah satu usaha yang cukup menguntungkan untuk
memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
b. Ketek sebagai Sarana Transportasi Penyeberangan Sungai

Transportasi sungai ketek adalah salah satu hasil dari kebudayaan


masa

lalu

masyarakat

seberang

sebagai

sarana

transportasi

penyeberangan Sungai Batang Hari untuk mengangkut penumpang


dari Seberang Kota menuju Kota Jambi atau dari Kota menuju
Seberang Kota Jambi. Tujuan utama transportasi ini adalah untuk
mengantar orang-orang dahulu yang hendak pergi ke pasar dengan
keperluan yang bermacam-macam. Ada yang ke pasar dengan
keperluan untuk membeli kebutuhan rumah tangga. Ada juga ke pasar
dengan tujuan berjualan. Ada juga untuk membeli sayur-sayuran di
Pasar Angso Duo.55 Hal ini seperti yang terjadi di Kelurahan Tengah,
53

Wawancara dengan Bapak Ilyas. (Selasa, 15 April 2014).


Wawancara dengan Bapak Bujang, salah seorang tukang pembuat ketek di Kelurahan
Mudung Laut. (Selasa, 25 Maret 2014).
55
Pasar Angso duo adalah pasar tradisional terbesar di Provinsi Jambi. Di pasar ini
terdapat aneka ragam barang dagangan mulai dari sayu-mayur, lauk-pauk, pakaian, perabot
rumah tangga dan masih banyak lagi. Pasar tradisional ini telah menjadi sandaran hidup lebih
dari 5.000 pedagang dan punya sejarah panjang sebagai pasar yang berpindah-pindah dari
satu tempat ke tempat lain (Nomaden). Di ambil dari http://ronalsaputra.blogspot.com. (Akses
Minggu, 20 April 2014 Pukul 09.41 WIB).
54

Jelmu, Mudung Laut dan Arab Melayu, hingga sekarang pun masih
banyak ditemui penumpang yang menggunakan ketek sebagai
transportasi penyeberangan sungai ke Pasar Angso Duo dan termasuk
Ramayana/WTC. Di samping itu, dulu transportasi ini juga digunakan
untuk mengantar anak-anak sekolahan yang hendak belajar di
Seberang Kota Jambi maupun yang dari Seberang belajar ke Kota
Jambi56 serta para pemuda yang hendak pergi menonton bioskop.57
Transportasi ini juga digunakan untuk mengantar para pekerja pabrikpabrik dari arah Kumpeh Kab. Muaro Jambi menyebrang sungai
menuju Kelurahan Tanjung Johor. Ketika itu, terdapat beberapa pabrik
di kawasan seberang Kota Jambi, yang terdiri dari 2 pabrik getah dan 1
pabrik kayu. Dua pabrik getah itu adalah Pabrik Remco dan dan Jambi
Waras yang secara geografis letaknya masih termasuk dalam bagian
Kelurahan Tanjung Johor. Sekarang, pabrik-pabrik itu masih berfungsi
dengan baik.
Berbeda dengan sekarang ketek hanya sebagai sarana alternatif
penyeberangan Sungai Batang Hari. Karena, di samping penggunaan
transportasi sungai, saat ini masyarakat juga telah bisa menggunakan
jalur transportasi darat dalam melakukan proses penyeberangan Sungai
Batang Hari. Namun, perlu digaris bawahi bahwa sebagian besar
masyarakat Seberang Kota Jambi saat ini masih tetap menggunakan
jalur transportasi sungai ketek dalam penyeberangan sungai menuju
Pasar Kota Jambi terutama ke Pasar Angso Duo dan Ramayana/WTC.

56

Wawancara dengan Bapak Ilyas. (Selasa, 15 April 2014).


Wawancara dengan Bapak Senang, salah seorang tukang ketek di Kelurahan Tengah.
(Selasa, 11 Maret 2014).
57

Gambar: 3. Kondisi Transportasi Sungai Ketek di Kelurahan Mudung


Laut, Jelmu dan Tengah. (2014).
c. Ketek sebagai Sarana Lomba dan Rekreasi

1. Ketek sebagai Sarana Lomba. Di samping ketek sebagai sarana


mata pencaharian dan penyeberangan sungai ditemui bahwa ketek
juga merupakan sebagai sarana lomba dalam pelaksanaan
peringatan HUT RI 17 Agustus dan HUT Provinsi Jambi di Sungai
Batanghari. Lomba yang dilakukan di area Sungai Batanghari ini
biasanya adalah lomba perahu yang melibatkan peserta dari seluruh
kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Jambi. Dalam rangka
untuk memeriahkan pelaksanaan lomba perahu ini, sehingga ada
sebagian dari masyarakat seberang yang tidak segan-segan untuk
mencatar ketek. Peran ketek di sini adalah sebagai sarana untuk
mereka yang ingin menonton lomba tersebut dari jarak dekat dan
juga sebagai sarana pendukung dalam mengikuti proses kegiatan
lomba tersebut agar terasa lebih berkesan. Biasanya banyak dari
kalangan pemuda yang berantusias untuk mencatar ketek tersebut.
Dalam setahun, pelaksanaan lomba perahu ini dilakukan oleh
pemerintah daerah sebanyak 3 kali dalam setahun, di samping
peringatan HUT RI dan Provinsi Jambi juga dalam rangka
peringatan HUT Kota Jambi. Pelaksanaan lomba perahu ini
biasanya dilaksanakan pada siang hari dan dimulai sekitar pukul
14.00 WIB dan diakhiri pada pukul 17.00 WIB.
2. Ketek sebagai Sarana Rekreasi. Selain sebagai sarana lomba
ditemui bahwa ketek juga merupakan sarana rekreasi yang
digunakan oleh wisatawan dalam kota. Biasanya, wisatawan yang
menggunakan ketek wisata ini adalah wisatawan yang berkunjung
dan berwisata di Taman Tanggo Rajo (Ancol) Kec. Pasar Kota
Jambi. Tanggo Rajo (Ancol) merupakan kawasan yang sering
dikunjungi sebagai

tempat

rekreasi keluarga untuk dapat

menikmati panorama Sungai Batanghari, memancing, ketek wisata


dan jajanan di sepanjang jalan raya di pinggir Sungai. Tanggo Rajo
berada diKawasan Rumah Dinas Gubernur Jambi, Jl. Sultan Taha,

Kecamatan Pasar Kota Jambi, melalui dari Tanggo Rajo inilah tiap
tahun Gubernur melambaikan bendera start dalam event tahunan
Lomba Perahu Tradisional, dalam rangka HUT RI 17 Agustus.
Bagi wisatawan yang sedang berwisata di Taman Tanggo Rajo
(Ancol) Pasar Kota Jambi ini akan menemui 2 pelabuhan ketek
yang difungsikan sebagai sarana untuk rekreasi. 2 pelabuhan
tersebut ialah pelabuhan yang ada di pangkalan ketek wisata AncolPelayangan dan pangkalan ketek wisata Tanjung Johor dan Tahtul
Yaman. Selain itu, ada sebuah informasi yang mengatakan bahwa
ternyata transportasi sungai ketek ini juga pernah menjadi ketek
wisata bagi waisatawan yang hendak berkunjung ke Kawasan
Candi Muaro Jambi dengan keliling menyusuri DAS Batang Hari.58
3. Persepsi Masyarakat tentang Eksistensi Sungai Ketek Kota Jambi
a. Ketek sebagai Roda Perekonomian

Kita ketahui bahwa transportasi sungai ketek merupakan sarana


penyeberangan sungai yang sudah lama berkembang mulai tahun 70an,
dimana perkembangan alat transportasi canggih dan modern belum
begitu dirasakan oleh sebagian besar masyarakat Seberang Kota Jambi
dan kebijakan-kebijakan pemerintah berupa jembatan belum ada pada
waktu itu. Sehingga keberadaan transportasi sungai ketek benar-benar
dibutuhkan oleh masyarakat kota Jambi khususnya masyarakat di
Seberang Kota Jambi sebagai alat untuk penyeberangan sungai Batang
Hari, terutama bagi pedagang sayur di Seberang Kota Jambi yang
hampir setiap harinya menggunakan jasa transportasi ketek untuk
tujuan ke Pasar Angso Duo. Keberadaan transportasi sungai ketek di
Sungai Batang Hari Kota Jambi merupakan urat nadi dalam kehidupan
masyarakat Seberang Kota Jambi. Hal ini dikarenakan transportasi
sungai ketek telah memberikan manfaat yang besar dalam membantu
masyarakat seberang untuk melakukan penyeberangan di DAS Batang
Hari menuju Pasar Kota Jambi. Salah satu alasan yang bisa dijadikan
sebagai bukti lapangan adalah karena ketek memberikan kemudahan
58

Wawancara dengan Bapak Ilyas. (Selasa, 15 April 2014).

dalam penyeberangan sungai dan menjadi sarana alternatif untuk


memenuhi kebutuhan hidup serta tujuan penumpang ke Pasar.
Hal ini tidak sebanding dengan pengguna transportasi darat yang
melalui jembatan, karena membutuhkan waktu perjalanan yang jauh
dan cukup lama untuk menuju Pasar Angso Duo. Penggunaan
transportasi darat harus menuju jembatan Aurduri terlebih dahulu,
kemudian baru menuju Pasar Angso Duo.
b. Ketek sebagai Tradisi Masyarakat Lokal

Keberadaan transportasi sungai ketek sudah tidak asing lagi bagi


masyarakat kota Jambi khususnya masyarakat di Seberang Kota Jambi.
Penyeberangan melalui Sungai Batang Hari untuk tujuan ke Pasar
sudah menjadi kebiasaan atau tradisi yang sudah mendarah daging
bagi masyarakat seberang. Sehingga masyarakat seberang akan tetap
selalu menggunakan ketek untuk penyeberangan sungai ke Pasar.
Tradisi itu kian berlanjut dan masih dibudayakan oleh masyarakat
seberang hingga saat ini. Salah satu faktor yang menyebabkannya
adalah kepraktisan yang dimiliki oleh transportasi sungai ketek
tersebut. Dengan kepraktisannya tersebut masyarakat seberang lebih
tertolong dalam melakukan penyeberangan sehingga bisa sampai ke
tempat tujuan dengan waktu yang cepat dan singkat.
Begitu pentingnya transportasi sungai ketek dalam memudahkan
masyarakat seberang untuk melakukan penyeberangan Sungai Batang
Hari, sehingga mereka beranggapan bahwa transportasi sungai ketek
itu adalah sebuah tradisi yang sudah mendarah daging dan akan selalu
menggunakannya sebagai sarana penyeberangan sungai alternatif yang
memiliki nilai praktis.
G. Kesimpulan dan Saran
1.

Dari pembahasan di atas, penelitian ini dapat disimpulkan:


Eksistensi transportasi sungai ketek di Kota Jambi secara umum saat ini
berada pada tingkat keprihatinan. Transportasi sungai ketek mengalami
penurunan dari segi jumlah, pada tahun 2013 berjumlah 150 berkurang
menjadi 139 buah di tahun 2014. Selain itu, tidak adanya sistem

pelaksanaan

yang

diterapkan

terkait

dengan

penempatan

parkir/berlabuhnya ketek sehingga keberadaan ketek tidak dapat


terorganisir dengan baik. Banyak ditemukan ketek yang berlabuh dimanamana. Fungsi pelabuhan yang ada di Seberang Kota Jambi telah
mengalami disfungsi, yang dulu tertanam nilai budaya di dalamnya dan
saat ini hanya digunakan sebagai batas untuk berlabuh dan mangkalnya
2.

ketek.
Eksistensi transportasi sungai ketek

di Kota Jambi secara fungsi

merupakan sarana alternatif yang interes karena memiliki disjeksi dalam


fungsi (fungsi rangkap), yakni selain sebagai sarana penyeberangan
sungai, transportasi sungai ketek juga merupakan sarana mata
3.

pencaharian, sarana lomba dan rekreasi.


Eksistensi transportasi sungai ketek di Kota Jambi secara persepsi
masyarakat setempat/pemilik budaya bahwa transportasi sungai ketek
adalah sebagai urat nadi yang tidak bisa terlepas dari kehidupan mereka
khususnya para pedagang sayur yang hendak membeli kebutuhan
dagangan sayurnya di Pasar Angso Duo dan sebagai sebuah tradisi yang
sudah mendarah daging, sehingga keberadaan transportasi sungai ketek
sulit untuk dihilangkan.
Rekomendasi yang dihasilkan dari penelitian ini adalah:

1.

Kepada pihak pemerintah Provinsi maupun Kota Jambi untuk memberikan


perhatian khusus terhadap perkembangan transportasi sungai ketek kedepannya
dengan menjadikan ketek sebagai icon kota Jambi atau sebagai transportasi
wisata di DAS Batang Hari.

2.

Kepada masyarakat Kota Jambi khususnya masyarakat Seberang Kota


Jambi agar selalu membudayakan transportasi sungai ketek sebagai sarana
penyeberangan sungai di DAS Batang Hari dan menjadikan keberadaan
transportasi

sungai

ketek

sebagai

simbol

mereka

memberitahu kepada masyarakat umum secara luas.

dengan

cara

EKSISTENSI TRANSPORTASI SUNGAI (KETEK)


SEBAGAI SARANA ALTERNATIF
DI KOTA JAMBI

Diajukan Dalam Rangka Karya Tulis Ilmiah yang Diselenggarakan oleh


Balitbangsa Provinsi Jambi Tahun 2014

Oleh:
MUHAMMAD ABDUL HANIF
NIM. AS.101055

FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI


SULTHAN THAHA SAIFUDDIN
JAMBI
2014
LEMBAR PENGESAHAN

Karya Tulis Ilmiah ini yang berjudul Eksistensi Transortasi Sungai (Ketek)
sebagai Sarana Transportasi Alternatif di Kota Jambi ditulis oleh Muhammad
Abdul Hanif NIM. AS. 101055 telah diperiksa oleh pembimbing yang ditunjuk
oleh pihak Fakultas Adab dan Humaniora IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.
Dosen Pembimbing I,

Drs. Sayuti, M.Pd.I


NIP. 19590902 199003 2 001

Pembimbing II,

Mailinar, S.Sos., M.Ud


NIP. 19770505 200501 2 007

Mengesahkan,
Dekan Fakultas Adab dan Humaniora
IAIN STS Jambi

Dr. Armida, M.Pd.I


NIP. 19621223 199003 2 001

DAFTAR PUSTAKA

Rizki Permata Sari. Pergeseran Pergerakan Angkutan Sungai di Sungai


Martapura Kota Banjarmasin, Tesis. Semarang, Undip, 2008.
Fidel Miro. Perencanaan Transportasi. Jakarta: Erlangga, 2005.
A. Taufik Mulyana. Transportasi Air. Banjarmasin: Fakultas Teknik Universitas
Lambung M angkurat, 2005.
Abbas Salim. Manajemen Transportasi. Jakarta: Raja Grafindo, 2002.
Adib Kamaludin. Ekonomi Transportasi (Cetakan Pertama). Jakarta: Ghalia
Indonesia, 1987.
Budiono M. A. Kamus Ilmiah Populer Internasional. Surabaya: Karya Harapan,
2005.
CIA World Factbook Tahun 2013 (ilmupengetahuanumum.com/10-negaradengan-jumlah-penduduk-populasi-terbanyak-di-dunia/).
James P. Spradley. Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006.
Koentjaraningrat. Pengantar Antropologi 1. Jakarta: Rineka Cipta, 1996.
Lexy J. Moleong. Metode Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi. Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2013.
Muhammad Abdulkadir. Hukum Pengangkatan, Darat, Laut dan Udara.
Bandung: Citra Aditya Bhakti, 1994.
Martono Eka Budi Tjahjono. Transportasi di Perairan Berdasarkan Undangundang Nomor 17 Tahun 2008. Jakarta: Rajawali Pers, 2011.
Nur Nasution. Manajemen Transportasi (Edisi Kedua). Jakarta: Ghalia Indonesia,
2004.
Nursid Sumaatmadja. Manusia dalam Konteks Sosial, Budaya dan Lingkungan
Hidup. Bandung: Alfabeta, 2010.

Ofyar Tamin. Perencanaan dan Permodelan Transportasi. Bandung: Intitut


Teknologi Bandung, 1997.
Rafael Raga Maran. Manusia dan Kebudayaan dalam Perspektif Ilmu Budaya
Dasar. Jakarta: Rineka Cipta, 2007.
Sartini. Menggali Kearifan Lokal, Jurnal Filsafat, Agustus 2004, Jilid 37, Nomor
2.
Suwardi Endraswara. Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan: Ideologi,
Epistimologi, dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Widyatama, 2006.
Tim Penyusun. Kearifan Lokal di Tengah Modernisasi. Jakarta: Kementerian
Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, 2011.
Tim Reality. Kamus Praktis Bahasa Indonesia: Edisi Terbaru. Penerbit: Reality
Publisher, 2008.
Tim Penyusun Buku Pedoman Skripsi. Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Adab
dan Humaniora. Jambi: IAIN STS Jambi, 2012.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Batang_Hari).
(http://www.pu.go.id/satminkal/dit_sda/profil%20balai/bws/profilebws%20sumatera
%20VI.pdf).

Al-Quran dan Terjemahnya. 2013. Bandung: Sinar Baru Algensindo.


Abdul Kadir, Muhammad. 1994. Hukum Pengangkatan, Darat, Laut dan Udara.
Bandung: Citra Aditya Bhakti.
Bondan Seno Prasetyadi, dkk. 2005. Transportasi Sungai dan Masyarakat Melayu
Jambi. ISSN:18582559. Depok: Jurnal Universitas Gunadarma.
Eka Budi Tjahjono, Martono. 2011. Transportasi di Perairan Berdasarkan
Undang-undang Nomor 17 Tahun 2008. Jakarta: Rajawali Pers.
Endraswara, Suwardi. 2006. Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan:
Ideologi, Epistimologi, dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Gibson J.L., J.M Ivancevich dan J. H. Donnely. 1997. Organisasi Perilaku
Struktur Proses. Jakarta: Erlangga.
Kamaludin, Adib. 1987. Ekonomi Transportasi (Cetakan Pertama). Jakarta:
Ghalia Indonesia.
Koentjaraningrat. 1996. Pengantar Antropologi 1. Jakarta: Rineka Cipta.
Koentjaraningrat. 2009. Sejarah Teori Antropologi 1. Jakarta: UI Press.
Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah Edisi Kedua. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Lisbijanto, H. 2013. Kapal Pinisi. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Lauer, Robert H. 1977. Perspektif tentang Perubahan Sosial. Jakarta: Bina
Aksara.
Maryono, Agus dan Danang Parikesit. 2003. Transportasi Sungai Mulai
Ditinggalkan. Kompas, 01 Mei.
Miro, Fidel. 2005. Perencanaan Transportasi. Jakarta: Erlangga.
Moleong, Lexy J. 2013. Metode Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi. Bandung:
Remaja Rosdakarya.

Mulyana, A. Taufik. 2005. Transportasi Air. Banjarmasin: Fakultas Teknik


Universitas Lambung Mangkurat.
Munawar, Ahmad. 2005. Dasar-dasar Teknik Transportasi. Yogyakarta: Beta
Offset.
Nasution, M. Nur. 2004. Manajemen Transportasi (Edisi Kedua). Jakarta: Ghalia
Indonesia.
P. Spradley, James. 2006. Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Raga Maran, Rafael. 2007. Manusia & Kebudayaan dalam Perspektif Ilmu
Budaya Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.
Sari, Rizki Permata. 2008. Tesis: Pergeseran Pergerakan Angkutan Sungai di
Sungai Martapura Kota Banjarmasin. Semarang: Undip.
Salim, H.A. Abbas. 2002. Manajemen Transportasi. Jakarta: Raja Grafindo.
Sartini. Agustus 2004. Menggali Kearifan Lokal. Jurnal Filsafat, Jilid 37,
Nomor 2.
Sumaatmadja, Nursid. 2010. Manusia dalam Konteks Sosial, Budaya dan
Lingkungan Hidup. Bandung: Alfabeta.
Setiadi, Elly M, dkk. 2012. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar: Edisi Kedua. Jakarta:
Kencana.
Tim Penyusun Buku Pedoman Skripsi. 2011. Pedoman Penulisan Skripsi
Fakultas Adab-Sastra dan Kebudayaan Islam. Jambi: IAIN Sulthan Thaha
Saifuddin Jambi.
Tim Penyusun. 2011. Kearifan Lokal di Tengah Modernisasi. Jakarta:
Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.
Yosephine H. K, Djarot Sadharto W. 2013. Kajian Penggunaan Moda
Transportasi Sungai Di Kota Jambi. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.