Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Gangguan

sistem

pencernaan

mencakup

sejumlah

besar

penyakit

yang

menyebabkan penderita mencari pertolongan medis. Walaupun gangguan system


pencernaan tidak secara langsung menyebabkan kematian. Salah satu gangguan system
pencernaan pada bagian hati. Hati merupakan kelenjar terbesar dalam tubuh yang
berperan dalam hamper setiap fungsi metabolik tubuh,dan terutama bertanggung jawab
atas lebih dari 500 aktifitas berbeda.Salah satu contoh gangguan system pencernaan
yang menyerang hati adalah hepatitis.
Hepatitis merupakan salah satu penyakit infeksi pada sistem pencernaan yang
sangat penting. Penyakit ini menyerang organ hepar dapat menyebabkan peradangan
jaringan hepar. Hepatitis biasanya terjadi karena virus, terutama salah dari ke lima virus
hepatitis yaitu A, B, C, D dan E hepatitis juga bisa terjadi karena infeksi virus hepatitis
lainnya seperti mononukleosis infeksiosa, demam kuning dan infeksi sitomegalovirus.
Hepatitis virus akut merupakan urutan pertama dari berbagai penyakit hati di
seluruh dunia. Penyakit tersebut ataupun gejala sisanya bertanggung jawab atas 1-2 juta
kematia setiap tahunnya. Banyak episode hepatitis dengan klinis anikterik, tidak nyata
atau subklinis. Secara global virus hepatitis merupakan penyebab utama viremia yang
persisten.di Indonesia berdasarkan data yang berasal dari rumah sakit, hepatitis A masih
merupakan bagian terbesar dari kasus-kasus hepatitis akut yang dirawat yaitu berkisar
39,8-68,3%. Peningkatan prevalensi anti HAV yang berhubungan dengan umur mulai
terjadi dan lebih nyata didaerah dengan kondisi kesehatan di bawah standar. Lebih dari
75% anak dari berbagai benua Asia, Afrika, India, menunjukan sudah memiliki antibodi
anti-HAV pada usia 5 tahun. Sebagian besar infeksi HAV didapat pada awal kehidupa,
kebanyakan asimtomatik atau sekurangnya anikterik.
Tingkat prevalensi hepatitis B di Indonesia sangat bervariasi berkisar dari 2,5% di
Banjarmasin sampai 25,61% di Kupang, sehingga termasuk dalam kelompok negara
dengan endemisitas sedang sampai tinggi. Di negara-negara Asia diperkirakan bahwa
penyebaran perintal dari ibu pengidap hepatitis merupakan jawaban atas prevalensi
infeksi virus hepatitis B yang tinggi. Hampir semua bayi yang dilahirkan dari ibu
1

dengan HBeAg positif akan terkena infeksi pada bulan kedua dan ketiga kehidupannya.
Adanya HBeAg pada ibu sangat berperan penting untuk penularan. Walaupun ibu
mengandung HBeAg positif namun jika HBeAg dalam darah negatif, maka daya
tularnya menjadi rendah. Data di Indonesia telah dilaporkan oleh Suparyatmo, pada
tahun 1993, bahwa dari hasil pemantauan pada 66 ibu hamil pengidap hepatitis B, bayi
yang mendapat penularan secara vertikal adalah sebanyak 22 bayi ( 45,9 % ).
Prevalensi anti-HCV pada donor darah di beberapa tempat di Indonesia
menunjukan angka diantara 0,5%- 3,35 % . Sedangkan prevalensi anti HCV pada
hepatitis virus akut menunjukan bahwa hepatitis C (15,5%-46,4%) menempati urutan
kedua setelah hepatitis A akut (39,8%-68,3%) sedangkan urutan ketiga ditempati oleh
hepatitis B (6,4%-25,9%). Untuk hepatitis D, walaupun infeksi hepatitis ini

erat

hubungannya dengan infeksi hepatitis B, di Asia Tenggara dan China hepatitis D tidak
biasa dijumpai pada daerah dimana prevalensi HBsAg sangat tinggi. Laporan dari
Indonesia pada tahun 1982 mendapatkan hasil 2,7% (2 orang) anti HDV positif dari 73
karier hepatitis B dari donor darah. Pada tahun 1985, Suwignoyo dkk melaporkan, di
Mataram, pada pemeriksaan terhadap 90 karier hepatitis B, terdapat satu anti HDV
positif (1,1%).
Hepatitis E (HEV) diindonesia pertama kali dilporkan terjadi di Sintang Kalimantan
Barat yang diduga terjadi akibat pencemaran sungai yang digunakan untuk aktifitas
sehari-hari. Didapatkan HEV positif sebanyak 28/82 (34,1%). Letupan kedua terjadi
pada tahun 1991, hasil pemeriksaan menunjukan HEV positif 78/92 orang (84,7%).
Didaerah lain juga ditemukan HEV seperti dikabupaten Bawen, Jawa Timur. Pada saat
terjadi letupan tahun 1992 ditemukan 2 kasus HEV dari 34 sampel darah. Dari dirumeh
sakit dijakarta ditemukan 4 kasus dari 83 sampel.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa

diharapkan

mampu

memahami

dan

melaksanakan

asuhan

keperawatan pada klien dengan hepatitis.


2. Tujuan Khusus
Mahasiswa diharapkan mampu :

Memahami pengertian hepatitis dan penyebabnya

Memahami patofisiologi dan penatalaksanaan medis dan keperawatan pada


hepatitis.

Melaksanakan pengkajian keadaan kesehatan pada klien dengan hepatitis.

Membuat rencana asuhan keperawatan pada klien dengan hepatitis


berdasarkan hasil pengkajian

C. Metode Penulisan
Dalam penyusunan makalah ini penyusun menggunakan metode studi kepustakaan
D. Sistematika Penulisan
BAB I

: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan penulisan
C. Metode Penulisan
D. Sistematika Penulisan

BAB II : TINJAUAN TEORITIS


A. Konsep dasar hepatitis
-

Pengertian
Etiologi
Patofisiologi
Manifestasi klinik
Komplikasi
Penatalaksanaan
Pemeriksaan diagnostic

B. Konsep dasar asuhan keperawatan pada klien dengan hepatitis


-

Pengkajian
Diagnose keperewatan
Perencanaan

BAB III : PENUTUP


A. Kesimpulan
B. Saran
Daftar Pustaka

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A.

Konsep Dasar Hepatitis


1.

Pengertian

Hepatitis adalah implamasi akut hepar, yang dapat disebabkan oleh bakteri
atau cedera toksik, tetapi hepatitis virus paling sering terlihat. (Alter El al, 1990).
Hepatitis adalah infeksi sistemik oleh virus disertai nekrosis dan inflamasi
pada sel-sel hati yang menghasilkan kumpulan perubahan klinis, biokimia serta
selular yang khas. (Brunner &Suddart, 2002, hal.1169)
Hepatitis adalah inflamsi dan cidera pada hepar. Ini adalah reaksi hepar
terhadap berbagai kondisi, terutama virus, obat-obatan dan alkohol. ( Monica
Ester, 2002, hal. 93 ).
Hepatitis adalah infeksi sistemik yang dominan yang menyerang hati.
Hampir semua kasus hepatitis disebabkan oleh 5 jenis virus yaitu, virus hepatitis
A (HAV), virus hepatitis B (HBV), virus hepatitis C (HCV), hepatitis D (HDV),
dan virus hepatiis E (HEV). (Aru W. Sudoyo, 2007, hal. 427).
Dari definisi di atas dapat di simpulkan bahwa hepatitis adalah peradangan
pada salah satu organ sistem pencernaan yaitu hati yang mengakibatkan
perubahan pada saluran pencernaan dalam penerimaan makanan dari luar tubuh
dan tidak dapat melakukan penyerapan secara sempurna dalam tubuh yang di
sebabkan dalam virus Hepatitis A,B,C,D, dan E

2.

Jenis-jenis Hepatitis
2.1 Hepatitis A
a. Pengertian
Hepatitis A, yang dahulu dinamakan hepatitis infeksiosa, adalah
penyakit yang disebabkan oleh virus RNA dari famili enterovirus.
b. Etiologi
Hepatitis A Virus (HAV). HAV ditemukan dalam feses dari penderita
hepatitis A. Melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh
HAV. Terutama menyebar melalui tinja. Penyebaran ini terjadi akibat
buruknya tingkat kebersihan. Di negara-negara berkembang sering
terjadi wabah yang penyebarannya terjadi melalui air dan makanan.
c. Masa Inkubasi
Hepatits A diperkirakan berkisar dari 1-7 minggu dengan rata-rata 30
hari. Perjalanan penyakit dapat berlangsung lama, dari 4-8 minggu.
5

Umumnya hepatitis A berlangsung lebih lama dan lebih berat pada


penderita yang berusia diatas 40 tahun. Virus hepatitis A hanya terdapat
dalam waktu singkat di dalam serum. Pada saat timbul ikterus,
kemungkinan pasien sudah tidak infeksius lagi.
d. Cara penularan
Cara penularan penyakit ini adalah melalui jalur fekal-oral, terutama
lewat konsumsi makanan atau minuman yang tercemar virus tersebut.
Virus hepatitis A ditemukan dalam tinja pasien yang terinfeksi sebelum
gejalanya muncul dan selama beberapa hari pertama menderita sakit.
Secara khas seorang pasien dewasa muda akan terjangkit infeksi
disekolah dan membawanya kerumah dimana kebiasaan sanitasi yang
kurang sehat menyebarkannya ke seluruh anggota keluarga. Hepatitis A
lebih prevalen di negara-negara berkembang atau pada populasi yang
tinggalnya berdesakan dengan sanitasin yang buruk. Penjaja makanan
yang terinfeksi dapat menyebarkan penyakit tersebut, dan masyarakat
dapat terjangkit melalui konsumsi air atau ikan dari sungai yang tercemar
limbah. Wabah hepatitis A dapat terjadi pada pusat-pusat kesehatan dan
panti akibat kurangnya kebersihan perorangan. Kadang-kadang penyakit
ini ditularkan melalui transfusi darah.
e. Manifestasi Klinis
Banyak pasien tidak tampak ikteri (tidak memperlihatkan gejala ikterius)
dan tanpa gejala. Ketika gejalanya muncul, bentuknya berupa infeksi
saluran napas atas yang ringan seperti flu dengan panas yang tidak terlalu
tinggi. Anoreksia merupakan gejala dini dan biasanya berat. Gejala ini
diperkirakan akibat pelepasan toksin oleh hati yang rusak atau akibat
kegagalan sel hati yang rusak tersebut untuk melakukan detoksifikasi
produk yang abnormal. Belakangan dapat timbul ikterus dan urin yang
berwarna gelap. Gejala dispepsia dapat terjadi dalam berbagai derajat
yang ditandai oleh rasa nyeri epigastrium, mual, nyeri ulu hati, dan
flatuensi. Pasien biasanya menolak rokok, bau asap rokok, atau baubauan lain yang keras.
Semua gejala ini cenderung menghilang segera setelah gejala ikterus
mencapai puncaknya. Mungkin 10 hari sesudah kemunculan awal. Hati
dan limpa sering mengalami pembesaran moderat selama beberapa hari

setelah awitan penyakit;bila tidak ada, ada beberapa tanda fisik yang
harus dicari selain gejala ikterus.
Meskipun gejala hepatitis A pada anak-anak mungkin sangat ringan,
namun pada pasien dewasa penyakit ini cenderung lebih bersifat
simptomatik dengan gejala yang lebih berat dan perjalanan penyakit
yang lebih lama.
f. Prognosis
Penderita hepatitis A biasanya akan pulih kembali; hepatitis A jarang
berlanjut menjadi nekrosis hati yang akut atau hepatitis fulminan dan
berakhir dengan sirosis hati atau kematian. Hepatitis A akan
menimbulkan imunitas terhadap penyakit itu sendiri;namun demikian,
orang yang kebal terhadap hepatitits A dapat terjangkit bentuk hepatitis
yang lain. Angka mortalitas hepatitis A adalah kurang-lebih 0,5%. Status
karier tidak terdapat, dan juga tidak ditemukan hepatitis kronis yang
berkaitan dengan hepatitis A.
g. Penatalaksanaan
- Penatalaksanaan Medis
Perasaan sehat yang dialami pasien disamping hasil-hasil
pemerikasaan laboratorium umumnya merupakan pedoman yang
tepat untuk menentukan diperlukannya tirah baring dan
pembatasan aktivitas fisik. Ambulasi bertahap namun progresif
akan mempercepat pemulihan bila pasien beristirahat sesudah
melakukan aktivitas dan tidak turut serta dalam aktivitas yang
menimbulkan kelelahan.
- Penatalaksanaan Keperawatan
Tirah baring selama stadium akut dan diet yang akseptable serta
bergizi

merupakan

bagian

dari

pengobatan

dan

asuhan

keperawatan. Selama periode anoreksia, pasien harus makan


sedikit-sedikit tapi sering dan jika diperlukan, disertai dengan
infus glukosa. Karena pasien yang sering menolak makan
kreativitas dan bujukan yang persisten namun dilakukan dengan
halus mungkin diperlukan untuk menghadapi penurunan berat
badan dan kesembuhan yang lambat. Namun demikian, banyak
pasien telah pulih selera makannya bahkan sebelum fase ikterik

sehingga tidak perlu diingatkan untuk mempertahankan diet yang


baik.

2.2 Hepatitis B
a. Pengertian
Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh "Virus
Hepatitis B" (VHB), suatu anggota famili Hepadnavirus yang dapat
menyebabkan peradangan hati akut atau menahun yang pada sebagian
kecil kasus dapat berlanjut menjadi sirosi hati atau kanker hati.
b. Etiologi
Hepatitis B Virus (HBV). Penularannya tidak semudah virus hepatitis A.
Virus hepatitis B ditularkan melalui darah atau produk darah. Penularan
biasanya terjadi diantara para pemakai obat yang menggunakan jarum
suntik bersama-sama, atau diantara mitra seksual (baik heteroseksual
maupun pria homoseksual).
Ibu hamil yang terinfeksi oleh hepatitis B bisa menularkan virus kepada
bayi selama proses persalinan.
Transfusi darah dan pasien hemodialisis. Penularan melalui suntikan
yang digunakan bergantian oleh pencandu obat-obatan terlarang
merupakan penyebab terbesar. Anak dari ibu penderita hepatitis B.
c. Masa Inkubasi
Hepatitis B memiliki masa inkubasi yang panjang. Virus hepatitis B
mengadakan replikasi dalam hati dan tetap berada dalam serum selama
periode yang relative lama sehingga memungkinkan penularan virus
tersebut. Dengan demikian, individu yang beresiko untuk terkena
hepatitis B adalah para dokter bedah, pekerja labolatorium klinik, dokter
gigi, perawat

dan terapis respiratorik. Staf dan pasien dalam unit

hemodialisis serta omkologi dan laki- laki biseksual serta homoseksual


yang aktif dalam hubungan seksual dan para pemakai obat- obat IV juga
beresiko tinggi.
d. Cara Penularan
Berbeda dengan hepatitis A yang terutama ditularkan lewat jalur fekaloral, hepatitis B terutama ditularkan melalui darah ( jalur perkutan dan
permukosa). Virus tersebut pernah ditularkan dalam darah , saliva,

semen, serta sekret vagina, dan dapat ditularkan lewat membran mukosa
serta luka pada kulit.

e. Manifestasi Klinis
Secara klinis, penyakit ini sangat menyerupai hepatitis A. Namun, masa
inkubasinya jauh lebih lama (yaitu, antara 1 dan 6 bulan ). Angka
mortalitasnya cukup besar berkisar dari 1% hingga 10%.
Gejala dan tanda- tanda hepatitis B dapat samar dan bervariasi. Panas
dan gejala

pada pernafasan

jarang

dijumpai;

sebagian pasien

mengeluhkan artralgia dan ruam. Pasien hepatitis B dapat mengulami


penurunan selera makan, dispepsia, nyeri abdomen, pegal- pegal yang
menyeluruh, tidak enak badan dan lemah. Gejala ikerus dapat terlihat dan
kadang- kadang tidak tampak. Pabuila terjadi ikterus, gejala ini akan
disertai dengan tinja yang berwarna cerah dan urin yang berwarna gelap.
Hati penderita hepatitis B mungkin terasa nyeri ketika ditekan dan
membesar hingga panjangnya mencapai 12 hingga 14 cm. Limpa
membesar dan pada sebagian kecil pasien dapat diraba; kelenjar limfe
servikal posterior juga dapat membesar.
f. Prognosis
Mortalitas hepatitis B pernah dilaporkan sampai setinggi 10 %. Sepuluh
persen penderita hepatitis B lainnya akan berkembang menjadi status
karieratau mengalami hepatitis kronis. Hepatitis B tetap menjadi
penyebab utama sirosis dan hepatosefuler di seluruh dunia.
g. Masa pemulihan
Bisa berlangsung lama dan pemulihan gejala yang lengkap kadangkadang membeutuhkan waktu 3 atau 4 bulan atau lebih lama lagi. Selama
stadium pemulihan ini, pengembalian aktifitas fisik yang berangsurangsur diperbolehkan dan harus dianjurkan sesudah gejala ikterus
menghilang.
h. Penatalaksanaan
- Penatalaksanaan Medis
Uji coba klinik dengan inerferon menunjukkan dengan terapi dini
dengan penyuntikan interferon setiap hari akan menyembuhkan
penyakit hepatitis B pada lebih dari sepertiga pasien dan

menghilangkan

antigen

permukaan

hepatitis

yang

menunjukkan status karier) pada 10% pasien. Meskipun hasilhasil ini menimbulkan harapan yang besar, interferon ernyata
tidak efektif

pada sejumlah pasien, harus diberikan dengan

penyuntikan setiap hari dan memiliki efek samping yang


signifikan, termasuk intoksikasi hati. Karena itu, preparat
interferon hanya boleh diberikan pada kondisi yang terkendali
dengan cermat.
Upaya kuratif untuk mengendalikan gejala dispepsia dan malaise
umum mencakupa penggunaan antasid, beladona serta preparat
antiemetik. Meskipun demikian, semua obat ini harus dihindari
jika terdapat muntah. Apabila muntah tetap terjadi, pasien harus
dirawat dirumah sakit dan mendapat terapi cairan. Mengingat
cara penularannya, pasien tersebut harus dievaluasi untuk
mendeteksi penyakit lain yang ditularkan lewat darah.
Imunisasi aktif :
Vaksin hepatitis B. imunisasi aktif dianjurkan bagi individu
yang berisiko tinggi untuk terkena hepatitis B( misalnya,
petugas kesehatan, pasien hemodialisis) vaksin hepatitis B
rekombinan-ragi

Recombivax

HB)

digunakan

untuk

imunisasi aktif. Proteksi yag dihasilakan oleh vaksin hepatitis


B dapat berlangsung 5 hingga 7 tahun; pemeriksaan kadar antiHBs dianjurkan dilakukan setiap tahun untuk menentukan
apakah diperluakan imunisasi ulang atau booster.
Vaksin hepatitis B yang dibuat dari plasma manusia yang
menderita

infeksi

kronis

HBV

hanya

kadang-kadang

digunakan pada pasien yang menderita defisiensi kekebalan


atau yang alergi terhadap vaksin rekombinan-ragi.
Kedua bentuk vaksin hepatitis B tersebut diberikan tiga kali:
pemberian kedua dan ketiga dilakukan 1 dan 6 bulan setelah
pemberian pertama. Pemberian ketiga sangat penting untuk
menghasilkan imunitas yang lama.Untuk orang dewasa,
vaksinasi hepatitis B harus diberikan pada otot deltoideus

10

karena pemberian pada daerah gluteus dapat menghasilkan


respons suboptimal.
Imunitas pasif : Imun Globulin Hepatitis B, Preparat
imunoglobulin hepatitis B( HBIG; Hepatitis B immune globulin)
memberikan imunitas pasif terhadap hepatitis B, dan indikasi
pemberian preparat ini adalah orang-orang yang telah terpajan
HBV

tetapi belum pernah menderita hepatitis B dan belum

pernah mendapatkan vaksin hepatitis B.


Indkasi khusus untuk vaksinasi pasca-pajanan dengan HBIG
mencakup: (1) pajanan atau kontak yang tidak disengaja
dengan darah HBsAg positif melalui jalur transmukosa
( terkena darah di membran mukosa) atau perkutan ( tertusuk
jarum suntik yang tercemar darah), (2) hubungan seksual
dengan individu yang positif HBsAg, dan (3) pajanan
perinatal.
HBIG, yang memberikan imunitas pasif, di buat dari plasma
yang diseleksi dengan titer anti-HBs yang tinggi.Sekali lagi,
tidak terdapat ditularkan melalui HBIG. Imunisasi segera
dengan

HBIG,

yaitu

dalam

waktu

beberapa

jam

hinggabeberapa hari setelah terpajan hepatitis B, aka


meningkatkan kemungkinan proteksi.
Imunisasi aktif maupun pasif direkomendasikan untuk individu
yang terpajan hepatitis B lewat hubungan seksual atau lewat
jalur transmukosa atau perkuatan.Jika HBIG dan vaksinasi
hepatitis B diberikan secara bersamaan, lokasi penyuntikan dan
-

spuit untuk pemberiannya harus terpisah.


Penatalaksanaan Keperawatan
Tirah baring (bed rest) biasanya direkomendasikan tanpa
memperhitungkan bentuk terpai yang lain sampai gejala hepatitis
sudah mereda. Selanjutnya, aktifitas pasien harus dibatasi sampai
gejala pembesaran hati dan kenaikan kadar biliribun serta enzimenzim hati dalam serum sudah kembali normal.
Nutrisi yang adekuat harus dipertahankan; asupan protein
dibatasi bila kemampuan hati untuk memetabolisasi produk-

11

sampingan proetin terganggu sebagaimana diperlihatkan oleh


gejalanya.
Pertimbangan

psikososial

harus

dikenali

oleh

perawat,

khususnya akibat pengisolasian dan pemisahan pasien dari


keluarga serta sahabat mereka selama stadium akut dan infektif.
Perencanaan khusus diperlukan untuk meminimalkan perubahan
dalam persepsi sensorik. Keluarga perlu diikutsertakan dalam
perencanaan untuk mengurangi rasa takut dan cemas dalam diri
pasien tentang penularan penyakit tersebut.
Pendidikan Pasien , karena masa pemulihan yang lama, pasien
beserta

keluarganya

harus

dipersiapkan

untuk

perawatan

dirumah. Tersediannya kesempatan untuk cukup beristirahat dan


mendapatkan nutrisi yang baik harus sudah dapat dipastikan
sebelum pasien dipulangkan. Anggota keluarga dan sahabat yang
memiliki hubungan erat dengan pasien harus mendapatkan
informasi tentang resiko terjangkit hepatitis B dan bagi mereka
harus diupayakan untuk mendapatkan vaksinhepatitis B atau
preparat imun globulin hepatitis B. individu yang beresiko harus
waspada terhadap tanda-tanda dini hepatitis B dan mengetahui
cara-cara untukmengurangi resiko tersebut.
Pertimbangan Perawatan di Rumah.. Kunjungan tindaklanjutoleh perawat kunjungan rumah diperlukan untuk mengkaji
kemajuan pasien dan menjawab pertanyaan anggota keluarga
tentang penularan penyakit hepatitis B. kunjungan rumah juga
memungkinan dilakukannya evaluasi terhadap pemahaman
pasien serta keluarganya mengenai pentingnya istirahat dan
nutrisi yang adekuat. Karena adanya risiko penularan melalui
hubungan seksual, penggu penggunaan strategi untuk mencegah
pertukaran cairan tubuh perlu dianjurkan: strategi ini mencakup
penggunaan kondom dan pantang senggama.
2.3 Hepatitis C
a. Pengertian
Penyakit Hepatitis C adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus
Hepatitis C (HCV= Hepatitis C virus). Virus Hepatitis C masuk ke sel

12

hati, menggunakan mesin genetik dalam sel untuk menduplikasi virus


Hepatitis C, kemudian menginfeksi banyak sel lainnya.
b. Etiologi
Hepatitis C virus (HCV). Ditularkan melalui hubungan intim. Kontak
dengan darah yang terinfeksi HCV. menyebabkan minimal 80% kasus
hepatitis akibat transfusi darah. Virus ini paling sering ditularkan melalui
pemakai obat yang menggunakan jarum bersama-sama. Jarang terjadi
penularan melalui hubungan seksual.
c. Masa Inkubasi
Masa inkubasi hepatitis C bervariasi dan dapat berkisar dari 15 hingga
160 hari.Perjalanan klinis hepatitis C yang akut serupa dengan hepatitis
B; gejala hepatitis C biasanya ringan.Meskipun demikian, status karier
yang kronis sering terjadi dan terdapat peningkatan risiko untuk
menderita penyakit hati yang kronis sesudah hepatitis C, termasuk sirosis
atau kanker hati.
d. Cara Penularan
Penularan Hepatitis C biasanya melalui kontak langsung dengan darah
atau produknya dan jarum atau alat tajam lainnya yang terkontaminasi.
Dalam kegiatan sehari-hari banyak resiko terinfeksi Hepatitis C seperti
berdarah karena terpotong atau mimisan, atau darah menstruasi.
Perlengkapan pribadi yang terkena kontak oleh penderita dapat
menularkan virus Hepatitis C (seperti sikat gigi, alat cukur atau alat
manicure). Resiko terinfeksi Hepatitis C melalui hubungan seksual lebih
tinggi pada orang yang mempunyai lebih dari satu pasangan.
Penularan Hepatitis C jarang terjadi dari ibu yang terinfeksi Hepatitis C
ke bayi yang baru lahir atau anggota keluarga lainnya. Walaupun
demikian, jika sang ibu juga penderita HIV positif, resiko menularkan
Hepatitis C sangat lebih memungkinkan. Menyusui tidak menularkan
Hepatitis C.
Jika anda penderita Hepatitis C, anda tidak dapat menularkan Hepatitis C
ke orang lain melalui pelukan, jabat tangan, bersin, batuk, berbagi alat
makan dan minum, kontak biasa, atau kontak lainnya yang tidak terpapar
oleh darah. Seorang yang terinfeksi Hepatitis C dapat menularkan ke
orang lain 2 minggu setelah terinfeksi pada dirinya.
e. Manifestasi Klinis

13

Gejala Hepatitis C menunjukkan serupa dengan tanda-tanda flu. Ini


termasuk merasa letih, merasa sakit perut, tidak berselera makan, sakit
pada sendi dan otot, air kencing berwarna kuning tua, mata dan kulit
berwarna kuning.
f. Penatalaksanaan
- Penatalaksanaan Medis
Terapi interferon dosis rendah untuk jangka-waktu yang lama
terbukti efektif dalam sejumlah uji coba pendahuluan pada
beberapa penderita hepatitis C; walaupun begitu, respons tersebut
hanya bersifat sementara.Kombinasi preparat interferon dengan
ribavirin.Suatu analog nukleosida, kini tengah diuji untuk
menentukan apakah terdapat manfaat yang lebih lama (Fried &
Hoofnagle. 1995).
Pemeriksaan skrining hepatitis c pada darah yang akan digunakan
untuk transfusi telah mengurangi jumlah kasus hepatitis yang
-

berkaitan dengan transfusi.


Penatalaksanaan Keperawatan
Memberikan penjelasan kepada pasien tentang faktor-faktor
penyebab seperti :
Menghindari NAPZA
Tidak menggunakan jarum tindik, sikat gigi, jarum tato, dan
alat cukur yang sama dan bergantian.
Berperlaku seks yang aman dan sehat.

2.4 Hepatitis D
a. Pengertian
Adalah penyakit hepatitis yang disebabkan oleh virus yang dikenal
dengan sebutan Delta yaitu virus cacat yang perkembangannya dibantu
oleh virus Hepatitis B.
b. Etiologi
Hepatitis D Virus (HDV). Melalui hubungan intim dengan penderita dan
pada homoseksual. Menggunakan jarum dan obat-obatan secara
bersamaan. Bayi dari wanita penderita hepatitis D. hanya terjadi sebagi
rekan-infeksi dari virus hepatitis B dan virus ini menyebabkan infeksi
hepatitis

menjadi

lebih

berat.

Yang memiliki resiko tinggi terhadap virus ini adalah para pecandu obat.
c. Masa Inkubasi
Masa inkubasi hepatitis D bervariasi antara 21 dan 140 hari.
14

d. Cara Penularan
Hubungan seksual dengan penderita hepatitis B dianggap sebagai suatu
cara penularan hepatitis B dan D yang penting.
e. Manifestasi Klinis
Biasanya muncul secara tiba-tiba gejala seperti flu, demam, penyakit
kuning, urin berwarna hitam dan feses berwarna hitam kemerahan.
Pembengkakan pada hati. Gejala hepatitis D serupa dengan gejala
hepatitis B, kecuali pasiennya lebih cenderung untulk menderita hepatitis
fulminan dan berlanjut menjadi hepatitis aktif yang kronis serta sirosis
hati.
f. Penatalaksanaan
- Penatalaksanaan Medis
Terapi hepatitis D serupa dengan terapi pada bentuk hepatitis lain,
meskipun penggunaan interferon yang merupakan obat khusus
bagi hepatitis D masih diselidiki.
- Penatalaksanaan Keperawatan
Tirah baring (bed rest) biasanya direkomendasikan tanpa
memperhitungkan bentuk terpai yang lain sampai gejala hepatitis
sudah mereda. Selanjutnya, aktifitas pasien harus dibatasi sampai
gejala pembesaran hati dan kenaikan kadar biliribun serta enzimenzim hati dalam serum sudah kembali normal.
2.5 Hepatitis E
a. Pengertian
Adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus jenis hepatitis E
(VHE).Jenis hepatitis E ditemukan pada tahun 1980-an.
b. Etiologi
Hepatitis E virus (HEV). Ditemukan di feses orang atau hewan pengidap
hepatitis E. Makanan dan minuman yang terkontaminasi HEV. Kadang
menyebabkan wabah yang menyerupai hepatitis A, yang hanya terjadi di
negara-negara terbelakang.
c. Manifestasi Klinis
Biasanya muncul tiba-tiba. Umumnya tidak ada gejala pada anak-anak.
Orang dewasa mungkin mengalami gejala seperti flu dengan sakit perut,
penyakit kuning, urin berwarna hitam dan mual.

3.

Komplikasi
15

Tidak semua penderita hepatitis virus akan mengalami perjalanan


penyakit yang lengkap. Sejumlah kecil pasien (kurang dari 1%) memperlihatkan
kemunduran klinis yang cepat setelah awitan ikterus akibat hepatitis fulminan
dan nekrosis hati masif. Hepatitis fulminan ditandai dengan gejala dan tanda
gagal hati akut-penciutan hati, kadar bilirubin serum meningkat cepat,
pemanjangan waktu protombin yang sangat nyata, dan koma hepatikum.
Prognosis adalah kematian pada 60 hingga 80% pasien ini. Kematian dapat
terjadi dalam beberapa hari pada sebagian kasus dan yang lalin dapat bertahan
selama beberapa minggu bila kerusakan tidak begitu parah. HBV merupakan
penyebab 50% kasus hepatitis fulminan, dan sering disertai oleh infeksi HDV.
Agen delta (HDV) dapat menyebabkan hepatitis bila terdapat dalam tubuh
dengan HBeAg. Hepatitis fulminan jarang menjadi komplikasi HCV dan kadang
disertai oleh HAV.
Komplikasi tersering hepatitis virus adalah perjalanan klinis yang lebih
lama hingga berkisar dari 2 hingga 8 bulan. Keadaan ini dikenal sebagai
hepatitis kronis persisten, dan terjadi pada 5 hingga 10% pasien. Walaupun
pemulihan terlambat, penderita hepatitis kronis persisten hamper selalu sembuh.
Sekitar 5 hingga 10% pasien hepatitis virus mengalami kekambuhan
setelah sembuh dari serangan awal. Hal ini biasanya berkaitan dengan individu
berada dalam risiko tinggi (missal, penyalahgunaan zat, dan penderita karier).
Kekambuhan ikterus biasanya tidak terlalu nyata, dan uji fungsi hati tidak
memperlihatkan kelainan dalam derajat yang sama seperti pada serangan awal.
Tirah baring biasanya akan segera diikuti kesembuhan.
Setelah hepatitis virus akut, sejulah kecil pasien akan mengalami
hepatitis agresif atau kronis aktif bila terjadi kerusakan hati seperti digerogoti
(piece meal) dan terjadi sirosis. Kondisi ini dibedakan dari hepatits kronis
persisten melalui pemeriksaan biopsi hati. Terapi kortikosteroid dapat
memperlambat perluasan cedera hati, namun prognosisnya tetap buruk.
Kematian biasanya terjadi dalam 5 tahun pada lebih dari separuh pasien-pasien
ini akibat gagal hati atau komplikasi sirosis. Hepatitis kronis aktif dapat
berkembang pada hamper 50% penderita HCV; sedangkan proporsi pada

16

penderita HBV jauh lebih kecil (sekitar 1 sampai 3%) yang mengalami
komplikasi ini setelah pengobatan berhasil dilakukan. Sebaliknya, hepatitis
kronis tidak timbul sebagai komplikasi HAV atau HEV. Tidak semua kasus
hepatitis kronis aktif terjadi setelah hepatitis virus akut. Obat-obatan dapat turut
berperan dalam patogenesis klainan ini termasuk alfa-metildopa (Aldomet),
isoniazid,sulfonamide, dan aspirin.
Yang terakhir, komplikasi lanjut hepatitis yang cukup bermakna adalah
berkembangnya karsinoma hepatoselular primer. Kendati jarang di Amerika
Serikat, kanker hati primer cukup sering terjadi di Negara-negara berkembang.
Dua faktor penyebab utama yang terkait dalam patogenesis adalah: infeksi HBV
kronis dan sirosis terkait. Baru-baru ini, sirosis terkait-HCV dan infeksi HCV
kronis telah dikaitkan pula dengan kanker hati primer.

17

4. Patofisiologi Hepatitis
Virus Hepatitis
Masuk tubuh manusia
Menginfeksi secara fekal-oral atau cairan tubuh
Peradangan pada sel-sel
Parenkim hati

Permeabilitas kapiler
meningkat
Pemindahan cairan
Intrasel ke ekstrasel

Metabolisme karbohidrat,
protein, lemak terganggu
Nutrisi sel berkurang

Pembengkakan hepar
(hepatomegali)
Sensasi penuh pada
perut kanan atas

Penurunan fungsi hati


Aliran empedu
terganggu

Kerusakan jaringan
hepar
pelepasan zat proteolitik

Garam empedu
Energi yang dihasilkan
Asites
Menekan diagfragma
Complience paru berkurang

berkurang
Kelemahan

Kerusakan
mobilitas fisik

mernurun

Merangsang ujung saraf

Gangguan

Ditransmisikan ke korteks

Mual anoreksia

Gangguan
kebutuhan
nutrisi

pencernaan lemak
Konstipasi

cerebri melalui thalamus

Nyeri
abdomen

Inefektif pola
nafas

17

B.

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Hepatitis


a.

Pengkajian
1.

Anamnesa
a) Identitas pasien
Yang meliputi, Nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, agama, pekerjaan,
alamat, tanggal masuk rumah sakit, tanggal pemeriksaan, diagnosa medis.
b) Identitas penanggung jawab
Yang meliputi nama, umur, pendidikan, pekerjaan, alamat, dan hubungan
dengan klien.
c) Keluhan utama
Biasanya klien mengeluh adanya demam, lemah, nyeri diatas perut kanan
atas, dan anoreksia.
d) Riwayat kesehatan
- Riwayat kesehatan sekarang
Berisi latar belakang penyakit, mulai dirasakan oleh pasien, berkembang
dan tindakan yang dilakukan dalam mengatasi penyakitnya.
- Riwayat kesehatan dahulu
Kaji dan tanyakan apakah klien pernah mengalami penyakit tersebut atau
penyakit yang bersangkutan dengan penyakit sekarang.
- Riwayat kesehatan keluarga
Berkaitan erat dengan penyakit keturunan, riwayat penyakit menular
khususnya berkaitan dengan penyakit pencernaan.

2.

Pemeriksaan Fisik
a) Keadaan umum
b) Vital sign, meliputi
- Tekanan darah

: dibawah 120/80 mmHg

- Nadi

: Bradikardia

- Suhu

: klien mengalami demam

18

- Respirasi

: dipsneu

c) Pemeriksaan sistem tubuh


Sistem pencernaan : - Terjadi pembengkakan pada
abdomen,
- Nyeri tekan pada abdomen kuadran kanan atas
- Berat badan turun
- Anoreksia
Sistem pernafasan

: - dipsneu
- Cyanosis

Sistem kardiovaskuler : - terdapat Bradikardia pada hiperbilirubin berat


Sistem neurologi

: - Peningkatan suhu tubuh (demam)


- Kelemahan pada anggota gerak

Sistem intergumen

: Terdapat ikterik pada sclera, kulit dan


Membrane mukosa.

Sistem musculoskeletal : Kelemahan otot dan tonus otot buruk


Sistem eliminasi

: - urine berwarna gelap (kecoklatan)

d) Pola aktivitas sehari-hari berhubungan dengan :


- Aspek biologi
- Aspek psiko
- Aspek sosio

3.

: Keletihan, kelemahan, anoreksia, penurunan berat


badan.
: Perilaku berhati-hati, gelisah.
: Ketidakmampuan aktif dalam sosial.

Pemeriksaan diagnosis
19

Tes Fungsi Hati : abnormal (4-10 kali dari normal). Catatan : merupakan

b.

batasan nilai untuk membedakan hepatitis virus dari non virus.


Leukopenia : trombositopenia mungkin ada (splenogali)
Diferensial darah lengkap : leukositosis
Feses : warna tanah liat, penurunan fungsi hati
Albumin serum : menurun
Urinalisa : peninggian kadar bilirubin;protein; hematuria dapat terjadi.

Diagnosa Keperawatan
1.) Inefektif pola napas berhubungan dengan asites
2.) Gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan anoreksia
3.) Nyeri abdomen berhubungan dengan peradangan pada sel hati
4.) Kerusakan mobilitas fisik berhubungan kelemahan

c.

Perencanaan (intervensi)
Diagnosa 1 :
Inefektif pola napas berhubungan dengan asites
Tujuan

: mempertahankan pola napas efektif

Kriteria hasil : - Tanda-tanda vital normal


- Menurunnya tingkat pernapasan dypsneu
- RR normal
- Tidak ada cyanosis
Intervensi

Rasional

Mandiri
-

Kaji frekuensi nafas klien

Berguna
dalam evaluasi derajat distress
pernafasan.

Atur

posisi -

Posisi fowler
memungkinkan

ekspansi

paru
20

klien semi fowler

sehingga mengurangi sesak nafas.


-

untuk

melakukan

dalam

dapat mencegah atelektasis pada

Anjurkan
klien

Nafas
paru

nafas

dalam.
-

Kolaborasi
-

Berikan

Pemberian
oksigen

O2

tambahan

menurunkan kerja pernafasan.

sesuai indikasi
-

Untuk
mengeluarkan

Lakukan
parasentesis

dapat

cairan

dalam

abdomen sehingga penekanan pada


diafragma

berkurang

dan

complience paru kembali normal.

Diagnosa 2 :
Gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan anoreksia
Tujuan

: Memenuhi dan mempertahankan kebutuhan nutrisi yang


adekuat

Kriteria hasil : - Nafsu makan meningkat


- Berat badan meningkat

21

Intervensi
Mandiri
- Timbang berat badan tiap hari.

Rasional
- Memberikan informasi tentang
kebutuhan diet atau keefektifan
terapi.

- Anjurkan makan pada posisi


- Menurunkan rasa penuh pada

duduk tegak.

abdomen dan dapat meningkatkan


- Berikan lingkungan yang nyaman
waktu makan (bersih, rapi).
- Hidangkan makanan porsi kecil
tapi sering dalam keadaan hangat
dan variasikan.

pemasukan.
- Nafsu makan dirangsang pada
waktu rileks dan menyenangkan
.
- Mencegah terjadinya mual dan
menambah selera makan klien.

- Berikan kebersihan oral.

- Mulut yang bersih dapat


meningkatkan rasa makanan.

Kolaborasi
- Berikan obat sesuai indikasi

- Dapat menurunkan mual dan


meningkatkan tolerasi pada

(antiemetic).

makanan.
- Konsultasikan dengan ahli diet /

- Berguna dalam membuat program

gizi, dukung tim nutrisi untuk

diet untuk memenuhi kebutuhan

memberikan diet sesuai

individu.

kebutuhan.

Diagnosa 3 :
Nyeri abdomen berhubungan dengan peradangan pada sel hati
Tujuan

: Nyeri dapat terkontrol atau hilang

Kriteria hasil : - Klien tampak nyaman

22

- Klien tidak mengeluh nyeri lagi

Intervensi

Rasional

Mandiri
- Observasi tingkat nyeri, lokasi
nyeri, frekuensi dan tindakan
penghilang yang digunakan.
- Berikan pilihan tindakan nyaman :
dorong teknik relaksasi, distraksi
aktifitas hiburan

- Informasi memberikan data dasar


untuk mengevakluasi kebutuhan
keefektifan intervensi.
- Meningkatkan
memampukan

pasien

dan
untuk

memfokuskan perhatian : dapat


meningkatkan koping
- Dapat

Kolaborasi

relaksasi

membantu

mengurangi

nyeri

- Pemberian obat analgetik

Diagnosa 4 :
Kerusakan mobilitas fisisk berhubungan dengan kelemahan
Tujuan

: Mengembalikan kemampuan pasien dalam beraktivitas

Kriteria hasil : Klien dapat beraktivitas kembali dengan normal

Intervensi

Rasionalisasi

- Memfasilitasi aktivitas yang tidak - Dapat membantu pasien dalam


dapat pasien lakukan.
- Memberi motivasi

memenuhi kebutuhannya.
- Motivasi akan memberi dorongan
pasien untuk dapat melakukan

- Lakukan latihan gerakan pada


pasien

aktivitas kembali.
- Mengembalikan kemampuan gerak
pasien.

23

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari definisi di atas dapat di simpulkan bahwa hepatitis adalah peradangan
pada salah satu organ sistem pencernaan yaitu hati yang mengakibatkan
perubahan pada saluran pencernaan dalam penerimaan makanan dari luar tubuh
dan tidak dapat melakukan penyerapan secara sempurna dalam tubuh yang di
sebabkan dalam virus Hepatitis A,B,C,D, dan E.

24

Dari semua jenis hepatitis tanda dan gejala yang ditimbulkan hampir
sama. Penatalaksanaan medis untuk hepatritis ini ada tiga, yaitu: farmakoterapi
adalah pemberian antemic untuk mengontrol muntah dan mual vitamin K
parenteral dapat diberikan pada klien dengan masa protombin memanjang. Diet
adalah dianjurkan diet seimbang tinggi karbohidrat dan rendah lemak. Makanan
harus diberikan dalam porsi kecil diberikan 4-5 kali. Semua minuman alkohol
sangat dilarang jika pasien mual, tidak nafsu makan atau muntah-muntah
sebaiknya diberi infus. Dan aktifitas pada periode akut dan keadaan lemah
dianjurkan cukup istirahat.

B. Saran
Sebagai perawat kita seharusnya dapat cepat tanggap dan kompeten serta
dapat berfikir kritis dalam menentukan dan menangani masalah-masalah yang di
timbul dari kolitis ulseratif. Sehingga perawat dapat mencapai hasil yang
maksimal dalam membuat asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan
kolitis ulseratif.

DAFTAR PUSTAKA

Price A. Sylvia. 2001. Patofisiologi buku ke-2. Jakarta : EGC.


Engram Barbara. 2001. Rencana asuhan keperawatan. Jakarta : EGC
Suddarth & Barbara. 1996. Keperawatan medical bedah. Jakata : EGC
Sudoyo, Aru W., dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : departemen Ilmu
penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Indonesia.
Ester, Monica. 2002. Keperawatan Medikal-Bedah Pendekatan Sistem Gastrointestinal.
Jakarta :EGC.

25