Anda di halaman 1dari 546

PEDOMAN

PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
TAHUN AKADEMIK 2014/2015

UNIVERSITAS PADJADJARAN

Kata Pengantar
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
(FKUP) memiliki visi untuk menjadi institusi kedokteran
yang menempatkan keunggulan penelitian
dan
pendidikan demi kemaslahatan masyarakat guna
mendorong daya saing bangsa (Research and
education Excellency for Society to Promote nation
Competitiveness - RESPeCt). Untuk mencapai visi ini
maka prinsip pendidikan yang memegang teguh
SPICES (Student centered, Problem based, Integrated, Community, Early
clinical exposure/elective, and Systematic) yang telah diterapkan pada seluruh
program studi sejak tahun 2004, diperkuat lebih lanjut. Proses pembelajaran
dilakukan melalui integrasi penelitian dan pengabdian kepada masyarakat ke
dalam pendidikan dengan memperkuat keterlibatan dosen dan mahasiswa pada
tridharma perguruan tinggi yang berorientasi keunggulan.
Buku Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Tahun Akademik
2014/2015 merupakan penyempurnaan dari Buku Pedoman Penyelenggaraan
Pendidikan Tahun Akademik 2013/2014, sehingga sesuai dengan kebutuhan dan
perkembangan yang terjadi. Buku Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Tahun
Akademik 2014/2015 diterbitkan untuk memberikan gambaran lebih jelas kepada
pimpinan, mahasiswa, dosen dan masyarakat mengenai pelaksanaan pendidikan
di FKUP. Pedoman pendidikan pada seluruh program studi disusun secara
terintegrasi di dalam buku ini.
Buku ini memuat peraturan akademik yang harus dijadikan rujukan oleh
staf pengajar, mahasiswa dan tenaga administrasi akademik untuk memperlancar
penyelenggaraan Proses Belajar Mengajar di seluruh program studi FKUP. Hal
ini merupakan salah satu upaya memberikan penjaminan mutu kepada
masyarakat luas terhadap kualitas akademik FKUP.
Oleh karenanya, kami menyampaikan penghargaan kepada semua
pihak yang telah membantu dan memberikan masukan dalam proses
penyusunan Buku Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Fakultas Kedokteran
Universitas Padjadjaran Tahun Akademik 2014/2015 ini. Kami berharap pedoman
ini dapat memenuhi fungsinya dengan baik.
Bandung, 12 Juni 2014
Dekan,

Prof.Dr.med Tri Hanggono Achmad, dr.


NIP 196209221989021001

DAFTAR ISI
Hal.
i

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

ii

KEPUTUSAN DEKAN

PIMPINAN FAKULTAS

viii

BAB I
SEJARAH FAKULTAS, VISI, MISI, TUJUAN PENDIDIKAN DAN
KOMPETENSI LULUSAN
1. Sejarah
2. Visi dan Misi Fakultas
A. Visi
B. Misi
C. Tujuan
3. Tujuan Pendidikan
3.1.
Program Studi Diploma 4 Kebidanan
3.2.
Program Pendidikan Dokter
3.2.1. Program Studi Kedokteran
3.2.2. Program Studi Profesi Dokter
3.3.
Program Pendidikan Dokter Spesialis
3.3.1. Anestesiologi dan Terapi Intensif
3.3.2. Ilmu Bedah
3.3.3. Ilmu Bedah Saraf
3.3.4. Orthopaedi dan Traumatologi
3.3.5. Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal
3.3.6. Ilmu Kedokteran Jiwa
3.3.7. Ilmu Kesehatan Anak
3.3.8. Ilmu Penyakit Dalam
3.3.9. Ilmu Kesehatan Mata
3.3.10. Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
3.3.11. Ilmu Penyakit Saraf
3.3.12. Ilmu Kesehatan THT, Kepala dan Leher
3.3.13. Obstetri dan Ginekologi
3.3.14. Patologi Anatomi
3.3.15. Patologi Klinik
3.3.16. Radiologi
3.3.17. Ilmu Kedokteran Nuklir
3.3.18. Ilmu Bedah Anak
3.3.19. Urologi

ii

1
3
3
4
4
5
6
7
8
9
10
11
11
12
13
14
14
16
16
17
18
19
19
20
21
22

4.

3.3.20. Kardiologi dan Kedokteran Vaskular


3.3.21. Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi
3.4.
Program Pendidikan Pascasarjana
3.4.1. Program Studi Magister Ilmu Kedokteran Dasar
3.4.2. Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat
3.4.3. Program Studi Magister Kebidanan
3.4.4. Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran
Kompetensi Lulusan Program Studi
4.1.
Program Studi Diploma 4 Kebidanan
4.2.
Program Studi Kedokteran
4.3.
Program Studi Profesi Dokter
4.4.
Program Pendidikan Dokter Spesialis
4.5.
Program Studi Magister Ilmu Kedokteran Dasar
4.6.
Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat
4.7.
Program Studi Magister Kebidanan
4.8.
Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran

BAB II
PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN PROGRAM STUDI
1. Program Studi Diploma 4 Kebidanan
2. Program Pendidikan Dokter
2.1. Program Studi Kedokteran
2.2. Program Studi Profesi Dokter
3. Program Pendidikan Dokter Spesialis
3.1. Anestesiologi dan Terapi Intensif
3.2. Ilmu Bedah
3.3. Ilmu Bedah Saraf
3.4. Orthopaedi dan Traumatologi
3.5. Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal
3.6. Ilmu Kedokteran Jiwa
3.7. Ilmu Kesehatan Anak
3.8. Ilmu Penyakit Dalam
3.9. Ilmu Kesehatan Mata
3.10. Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
3.11. Ilmu Penyakit Saraf
3.12. Ilmu Kesehatan THT, Kepala dan Leher
3.13. Obstetri dan Ginekologi
3.14. Patologi Anatomi
3.15. Patologi Klinik
3.16. Radiologi
3.17. Ilmu Kedokteran Nuklir

iii

23
23
25
26
26
26
27
28
29
30
32
33
33
33

34
48
60
70
72
86
88
93
96
98
118
123
132
140
142
154
221
239
279
296

3.18. Ilmu Bedah Anak


3.19. Urologi
3.20. Kardiologi dan Kedokteran Vaskular
3.21. Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi
4. Program Pendidikan Pascasarjana
4.1. Program Studi Magister Ilmu Kedokteran Dasar
4.2. Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat
4.3. Program Studi Magister Kebidanan
4.4. Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran
BAB III
SARANA DAN PRASARANA
1. Fasilitas Bangunan
1.1. Kampus Jatinangor
1.2. Kampus Eijkman
2. Perpustakaan
3. Teaching Hospital
4. Sistem Informasi
5. Sarana Penelitian
6. Asrama Mahasiswa
7. Fasilitas Kegiatan Mahasiswa
BAB IV
PENELITIAN DAN KERJASAMA
BAB V
PRESTASI FAKULTAS

iv

310
316
327
335
381
430
462
480

506
507
508
508
510
512
512
513
514
520

KEPUTUSAN DEKAN FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS PADJADJARAN
NOMOR 1445/UN6.C/PP/2014
TENTANG

PEDOMAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN
TAHUN AKADEMIK 2014/20145
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
DEKAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN,
Menimbang

a. bahwa dalam usaha memantapkan pelaksanaan sistem pendidikan di Fakultas


Kedokteran Universitas Padjadjaran, dipandang perlu adanya pedoman yang
telah disesuaikan dengan proses pembelajaran untuk setiap jenjang program
pendidikan pada setiap tahun akademik baru;
b. bahwa untuk penyempurnaan terhadap Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Tahun Akademik 2013/2014, telah
disusun Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran Tahun Akademik 2014/2015;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf
b, maka perlu diterbitkan Keputusan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran;

Mengingat

1. UndangUndang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem


Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor
78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2004 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 4389);
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan
Tinggi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 158,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 5336);
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan
Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 132,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5434);
5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 1957 tentang
Pendirian Universitas Padjadjaran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1957 Nomor 91, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1422);
6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor
41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4496);
7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 jo Nomor 66
Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 112, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5157);
8. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 46
Tahun 2013 tentang Organisasi dan Tata Kerja Universitas Padjadjaran (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 595);
9. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor
0436/O/1992 tentang Statuta Universitas Padjadjaran;

10. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 260/KMK.05/2008


tentang Penetapan Universitas Padjadjaran pada Departemen Pendidikan
Nasional sebagai Instansi Pemerintah yang Menerapkan Pengelolaan Keuangan
Badan Layanan Umum;
11. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 232/U/2000
tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian
Hasil;
12. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 045/U/2002
Tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi;
13. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor
116/MPN.A4/KP/2011 tentang Pengangkatan Rektor Universitas Padjadjaran
Periode 2011-2015;
14. Keputusan Rektor Universitas Padjadjaran Nomor 1734/J06/Kep/KP/2005
tanggal 17 Oktober 2005 tentang Pemberian Kuasa Penandatanganan Surat
Keputusan Rektor Universitas Padjadjaran;
15. Keputusan Rektor Universitas Padjadjaran Nomor 438/H6.1/Kep/HK/2009
tanggal 18 Februari 2009 tentang Integrasi Pengelolaan Pendidikan Pascasarjana
dari Program Pascasarjana ke Fakultas di Lingkungan Universitas Padjadjaran
Tahun Akademik 2009/2010;
16. Keputusan Rektor Universitas Padjadjaran Nomor 4678/UN6.RKT/KP/2013
tentang Pengangkatan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran;
17. Peraturan Rektor Universitas Padjadjaran Nomor 1263/UN6.RKT/PP/2013
tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pendidikan Universitas Padjadjaran
Tahun Akademik 2013/2014;

MEMUTUSKAN :
Menetapkan
KESATU

:
:

KEDUA

Pedoman sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini merupakan


pedoman dan petunjuk pelaksanaan proses belajar mengajar berdasarkan sistem
kredit semester serta merupakan acuan kerja bagi seluruh jajaran sivitas akademika
di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran dan semua jenjang
program, baik program pendidikan akademik, pendidikan spesialis, pendidikan
profesional maupun pendidikan vokasi di lingkungan Fakultas Kedokteran
Universitas Padjadjaran tahun akademik 2014/2015;

KETIGA

Semua Mahasiswa, Tenaga Pendidik Tetap, Tenaga Pendidik Tidak Tetap dan
Tenaga Penunjang wajib melaksanakan dan memperhatikan ketentuan-ketentuan
yang tercantum dalam Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Fakultas Kedokteran
Universitas Padjadjaran Tahun Akademik 2014/2015;

KEEMPAT

Dengan berlakunya Keputusan ini, segala ketentuan yang bertentangan dan tidak
sesuai dengan ketentuan-ketentuan di dalam Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Tahun Akademik 2013/2014
dinyatakan tidak berlaku;

KELIMA

Hal-hal yang belum diatur dalam ketentuan ini akan diatur secara tersendiri;

KEENAM

Keputusan ini berlaku terhitung mulai tanggal ditetapkan;

KEPUTUSAN DEKAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


PADJADJARAN
TENTANG
PEDOMAN
PENYELENGGARAAN
PENDIDIKAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN
TAHUN AKADEMIK 2014/2015;

KETUJUH

Jika dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam keputusan ini, akan diadakan
perbaikan atau perubahan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di Bandung
Pada tanggal 12 Juni 2014
DEKAN FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN,

TRI HANGGONO ACHMAD


NIP 19620922 198902 1 001
Tembusan disampaikan kepada Yth.
1. Rektor Universitas Padjadjaran;
2. Para Wakil Rektor di lingkungan Universitas Padjadjaran;
3. Para Kepala Biro di lingkungan Universitas Padjadjaran;
4. Para Wakil Dekan di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran;
5. Sekretaris Senat Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran;
6. Para Kepala Departemen di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran;
7. Para Ketua Program Studi di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran;
8. Kepala Bagian Tata Usaha Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran;
9. Para Kepala Subbagian di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran;

PIMPINAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN

Dekan
Prof.Dr.med. Tri Hanggono Achmad, dr.
NIP 196209221989021001

viii

Wakil Dekan
Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama
Prof.Dr. Dany Hilmanto, dr., SpA(K)
NIP 196302201987111001

Wakil Dekan
Wakil Dekan Bidang Perencanaan, Sumber Daya, dan Tata Kelola
Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, dr.,SpM., M.Kes., Ph.D
NIP 197007272000031007

ix

Staf Khusus Pimpinan


1.

Staf Khusus Bidang Pembelajaran


Sari Puspa Dewi, dr., MHPE

2.

Staf Khusus Bidang Kemahasiswaan


Fathurachman, dr., SpOT., M.Kes., FICS

3.

Staf Khusus Bidang Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat


Dwi Agustian, dr., MPH, Ph.D.

4.

Staf Khusus Bidang Kerjasama


Yudi Mulyana Hidayat, dr., SpOG(K)

5.

Staf Khusus Bidang Perencanaan dan Sistem Informasi


Bony Wiem Lestari, dr., M.Sc.

6.

Staf Khusus Bidang Sumber Daya Manusia


Dr. Dewi Marhaeni Diah Herawati, drg., M.Si.

7.

Staf Khusus Bidang Organisasi dan Tata Kelola


Sharon Gondodiputro, dr., MARS, MH

8.

Staf Khusus Bidang Koordinasi dan Pengembangan Program


Irvan Afriandi, dr, MPH, Dr.PH

Pimpinan Departemen
1

Anatomi dan Biologi Sel


Ketua
: Arifin Sunggono, dr., PAK, M.Kes.

Biokimia dan Biologi Molekuler


Ketua
: Prof. Ramdan Panigoro, dr., M.Sc., Ph.D

Epidemiologi dan Biostatistika


Ketua
: Dwi Agustian, dr., MPH, Ph.D.

Farmakologi dan Terapi


Ketua
: Rovina, dr.,Sp.PD., Ph.D

Ilmu Faal
Ketua

Dr. Vita Murniati Tarawan, dr., Sp.OG, SH, M.Kes, AIFO

Mikrobiologi dan Parasitologi


Ketua
: Imam Megantara, dr., Sp.MK.,Sp.TKT-KL, M.Kes.

Ilmu Gizi Medik


Ketua
: Dr. Gaga Irawan Nugraha, dr., Sp.GK, M.Gizi.

Ilmu Kesehatan Masyarakat


Ketua
: Dr. Elsa Pudji Setiawati, dr., M.M.

Patologi Anatomi
Ketua
: Dr. Bethy Suryawathy Hernowo, dr., Sp.PA(K)., Ph.D

10

Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin


Ketua
: Dr. Oki Suwarsa, dr., M.Kes., Sp.KK(K)

11

Ilmu Kedokteran Nuklir dan Pencitraan Molekuler


Ketua
: Trias Nugrahadi, dr., Sp.KN

12

Kedokteran Forensik dan Medikolegal


Ketua
: Dr. Yoni Fuadah Syukriani, dr., Sp.F., M.Si., DFM

13

Anestesiologi dan Terapi Intensif


Ketua
: Ruli Herman Sitanggang, dr., Sp.An-KIC, KAP, M.Kes

14

Ilmu Bedah
Ketua

Dr. Dimyati Achmad, dr., Sp.B(K)Onk

xi

15

Ilmu Bedah Syaraf


Ketua
: Dr. M. Zafrullah Arifin, dr., Sp.BS.

16

Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan


Ketua
: Dr. Wiryaman Permadi, dr.,Sp.OG(K)

17

Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi


Ketua
: Sunaryo B. Sastradimaja, dr., Sp.KFR

18

Ilmu Kedokteran Jiwa


Ketua
: Arifah Nur Istiqomah.,dr.,Sp.KJ.

19

Ilmu Kesehatan Anak


Ketua
: Dr. Djatnika Setiabudi, dr., Sp.A(K), MCTM

20

Ilmu Kesehatan Mata


Ketua
: Dr. Andika Prahasta, dr., Sp.M(K), M.Kes

21

Ilmu Kesehatan THT-KL


Ketua
: Dr.Ratna Anggraeni S. Poerwana, dr., Sp.THT-KL,
M.Kes.

22

Ilmu Penyakit Dalam


Ketua
: Rachmat Gunadi Wachyudi, dr.,Sp.PD-KR

23

Ilmu Kesehatan Gigi dan Mulut


Ketua
: Etty Sofia M.A, drg.,Sp.KGA.

24

Patologi Klinik
Ketua
:

Prof. Dr. Ida Parwati ,dr.,Sp.PK(K), Ph.D.

25

Ilmu Penyakit Saraf


Ketua
: Siti Aminah, dr.,Sp.S(K)., M.Si., med.

26

Kardiologi & Kedokteran Vaskular


Ketua
: Toni Mustahsani Aprami, dr., Sp.PD., Sp.JP

27

Orthopaedi dan Traumatologi


Ketua
: Dicky Mulyadi, dr., Sp.OT(K)., FICS

28

Radiologi
Ketua

Prof.Dr. Ristaniah D. Rose Effendi, dr.,Sp.Rad.(K),


M.Kes.

xii

Pimpinan Program Studi


1

Program Studi Diploma Kebidanan


Ketua
: Dr. R. Tina Dewi Judistiani, dr., SpOG

Program Studi Kedokteran


Ketua
: Dr. Achadiyani, dr., M.Kes.

Program Studi Profesi Dokter


Ketua
: Dr. Susi Susanah, dr., Sp.A(K)
Koordinator Pascasarjana
Prof.Dr. Johannes C. Mose, dr., Sp.OG(K)

Program Studi Magister Kebidanan


Ketua
: Dr. Farid,dr., Sp.OG(K), Ir., M.Kes.,MH.Kes.

Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat


Ketua
: Dr. Ardini S. Raksanagara, dr., MPH

Program Studi Magister Ilmu Kedokteran Dasar


Ketua
: Herry Herman, dr., Sp.OT.,Ph.D

Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran


Ketua
: Prof.Dr. Budi Setiabudiawan, dr., Sp.A(K), M.Kes.
Koordinantor TKP-PPDS-1
Dr. Dwi Prasetyo, dr., Sp.A(K), M.Kes.

Program Studi Ilmu Penyakit Dalam


Ketua
: Dr. Ria Bandiara, dr., Sp.PD-KGH

Program Studi Ilmu Kesehatan Anak


Ketua
: Dr. Dedi Rachmadi Sjambas, dr., Sp.A(K), M.Kes.

10

Program Studi Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan


Ketua
: Dr. Budi Handono, dr., Sp.OG(K), M.H.Kes.

11

Program Studi Ilmu Bedah


Ketua
: Dr. Kiki Lukman, dr., SpB-KBD, M.Sc.

12

Program Studi Urologi


Ketua
: Dr. Bambang Sasongko Noegroho, dr., Sp.B., Sp.U

xiii

13

Program Studi Ilmu Bedah Anak


Ketua
: Dikki Drajat Kusmayadi, dr.,Sp.B., Sp.BA

14

Program Studi Orthopaedi dan Traumatologi


Ketua
: Dr. Hermawan Nagar Rasyid, dr., SpOT(K)., MT(BME),
Ph.D., FICS

15

Program Studi Ilmu Bedah Saraf


Ketua
: Dr. Achmad Adam, dr., SpBS, M.Sc.

16

Program Studi Ilmu Penyakit Saraf


Ketua
: Ahmad Rizal, dr.,Sp.S(K), Ph.D.

17

Program Studi Ilmu Kedokteran Jiwa


Ketua
: Dr. Veranita Pandia, dr., Sp.KJ(K)., M.Kes.

18

Program Studi Ilmu Kesehatan THT-KL


Ketua
: Wijana, dr., Sp.THT-KL

19

Program Studi Ilmu Kesehatan Mata


Ketua
: Dr. Feti Karfiati, dr., Sp.M(K)., M.Kes.

20

Program Studi Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin


Ketua
: Dr. Reti Hindritiani, dr., Sp.KK(K)

21

Program Studi Patologi Klinik


Ketua
: Agnes Rengga Indrati, dr., Sp.PK., M.Kes.

22

Program Studi Patologi Anatomi


Ketua
: Sri Suryanti, dr., Sp.PA(K), MS.

23

Program Studi Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal


Ketua
: Noorman Herryadi, dr., Sp.F., SH

24

Program Studi Radiologi


Ketua
: Atta Kuntara, dr., Sp.Rad(K)

25

Program Studi Ilmu Kedokteran Nuklir dan Pencitraan Molekuler


Ketua
: Achmad Hussein S. Kartamihardja, dr., Sp.KN,
M.H.Kes.

26

Program Studi Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi


Ketua
: Vitriana, dr., Sp.KFR

xiv

27

Program Studi Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler


Ketua
: Dr. Augustine Purnomowati, dr., Sp.PD, Sp.JP(K)

28

Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif


Ketua
: Dr.Ike Sri Redjeki, dr., Sp.An-KIC, KMN, M.Kes.

Kepala Pusat Studi


1

Pusat Studi TB dan HIV


Bachti Alisjahbanadr., Sp.PD-KPTI., Ph.D

Pusat Studi Infeksi Klinik


Prof. Cissy Rachiana S. Prawira, dr., Sp.AK., Ph.D

Pusat Studi Onkologi


Prof. Herman Susanto, dr., Sp.OG(K)

Pusat Studi Genetik


Prof. Dr. D. Sjarief Hidajat Effendi, dr., Sp.A(K)

Pusat Studi Community Health and Wellness


Prof. Dr. Rully M. A. Roesli, dr., Sp.PD-KGH

Pusat Studi Neuromuscular


Prof. Dr. Tatang Bisri, dr., SpAn-KNA, KAO

Pusat Studi Kesehatan Reproduksi


Prof. Dr. Sofie R. Krisnadi, dr., Sp.OG(K)

Pusat Studi Imunologi


Prof. Dr. Sudigdo Adi, dr., Sp.KK(K)

Pusat Studi Teknologi Kesehatan


Prof. Dr. Firman F. Wirakusumah, dr., Sp.OG(K), Ph.D

10

Pusat Studi Sistem Kesehatan


Prof. Dr. Nanan Sekarwana, dr., Sp.A(K), MARS

11

Pusat Studi Herbalmolecular


Prof. Dr. M. Nurhalim Shahib, dr

xv

Kepala Laboratorium dan Ketua Unit


1

Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Kedokteran (Medical


Education Research and Development Unit/MERDU)
Prof. Dr. Endang Sutedja, dr., Sp.KK(K)

Laboratorium Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan (P2KB)


Dr. Feti Karfiati Memed, dr., Sp.M(K), M.Kes.

Laboratorium Biomedik Lanjut


Herry Herman, dr., Ph.D

Laboratorium Bioetika dan Humaniora


Insi Farisa Desy Arya, dr., M.Si.

Laboratorium Konseling dan Bimbingan Karakter Mahasiswa


Januarsih Iwan A. Rachman, dr., MS.

Laboratorium Evaluasi Akademik


Yuni Susanti Pratiwi, dr., AIFO, M.Kes.

Unit Publikasi Ilmiah dan Hak Kekayaan Intelektual


Prof. Dr. Budi Setiabudiawan, dr., Sp.A(K), M.Kes.

Unit Penjaminan Mutu


Dr. Meita Dhamayanti, dr., Sp.A(K), M.Kes.

xvi

Pimpinan Administratif
1

Kepala Bagian Tata Usaha


Slamet Suprapto, S.Sos., M.Si.

Kepala Sub Bagian Pembelajaran dan Kemahasiswaan


Aay Supriatna, S.Sos.

Kepala Sub Bagian Keuangan dan Sarana Prasarana


Novi Damayanti, SE., M.Ak.

Kepala Sub Bagian Kepegawaian dan Tata Kelola


Cicah Aisyah, S.Pd.

Kepala Sub Bagian Data dan Pelaporan


Asep Sutiadi, S.Sos., M.Si.

xvii

BAB I
SEJARAH FAKULTAS, VISI, MISI,
TUJUAN PENDIDIKAN DAN KOMPETENSI LULUSAN

BAB I
SEJARAH FAKULTAS, VISI, MISI,
TUJUAN PENDIDIKAN DAN KOMPETENSI LULUSAN
A. Sejarah Fakultas
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran didirikan atas 2 falsafah utama,
yakni kemaslahatan bagi masyarakat dan kebersamaan dalam kesejawatan.
Gagasan untuk mendirikan Fakultas Kedokteran pertama kali datang dari
menteri kesehatan dr. Lie Kiat Teng pada Kongres IDI di Surabaya tahun
1953. Pada saat itu banyak dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia yang ditahan di FKUI untuk memenuhi kebutuhan staf pengajar di
FKUI. Keputusan untuk mendirikan fakultas kedokteran kemudian dijatuhkan
ke Bandung. Villa Isola (Bumi Siliwangi) direncanakan dijadikan kampus,
namun tidak berhasil. Untunglah pada saat itu, RSUP Rancabadak sedang
mendirikan gedung-gedung baru bagi bagian Penyakit Dalam, Kesehatan
Anak, ruang laboratorium, dan ruang kuliah. Sehingga membuka harapan
untuk mendirikan Fakultas Kedokteran di Bandung. Seiring dengan berdirinya
Universitas Padjadjaran (Peraturan Pemerintah No. 37/1957), maka berdiri
pulalah Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran bersama tiga fakultas
lainnya, yaitu Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, dan FKIP.
Dalam proses pendirian Fakultas Kedokteran Unpad, peran para pemangku
kepentingan di Jawa Barat sangatlah besar dan sumbangsihnya dibingkai
dalam semangat kebersamaan yang kuat. Dalam catatan sejarah, RSUP
Ranca Badak saat itu menyerahkan bangunan-bangunan di sisi Jalan
Pasirkaliki kepada Fakultas Kedokteran untuk dipergunakan. Suatu ruangan
berdinding bilik bekas gudang RSUP pun digunakan sebagai ruang praktikum
Anatomi. Dalam perkembangan selanjutnya, Laboratorium Pre-Klinik lainnya
dibangun di Jalan Dago dan mulai digunakan sejak Januari 1958. Ruangan
kuliah dan praktikum anatomi dan histologi di Jalan Pasirkaliki selanjutnya
dibangun dan mulai dimanfaatkan pada pertengahan 1961. Demikian pula
sejak awal para tenaga medis di RSUP Ranca Badak dan pegawai di
Inspektorat Kesehatan Jawa Barat bertindak sebagai tenaga pendidik di
Fakultas Kedokteran Unpad bersama-sama tenaga pendidik lainnya yang
diangkat oleh Kementerian Pendidikan. Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran didirikan atas 2 falsafah utama, yakni kemaslahatan bagi
masyarakat dan kebersamaan dalam kesejawatan.

2
Pada tahun 1995 kampus Fakultas Kedokteran Unpad untuk
penyelenggaraan pendidikan sarjana kedokteran berpindah ke Jatinangor
sejalan dengan pengembangan kampus Unpad lainnya Perkembangan di
bidang pendidikan kedokteran memiliki momentum pada tahun 2001 dengan
pendirian Kelas Pengantar Berbahasa Inggris yang menerima banyak
mahasiswa asing terutama Malaysia. Sejak tahun 2006 telah dibuka program
studi pendidikan dokter Twinning Program dengan Faculty Perubatan
University Kebangsaan Malaysia sebagai wujud pengakuan Internasional.
Program Pendidikan Dokter Spesialis adalah program pascasarjana
kedokteran yang merupakan fase lanjutan dari program pendidikan dokter
umum, di dalam pendidikan tersebut peserta didik memperoleh pembelajaran
di bawah supervisi agar dapat meningkatkan kompetensi sehingga dapat
melaksanakan praktek kedokteran dalam bidang spesialistis tertentu
secara mandiri dengan baik ( World Federation of Medical education / WFME,
Postgraduate Medical Education,2003 ).
Pendidikan Dokter Spesialis di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
diselenggarakan mulai tahun 1980 berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan
Republik Indonesia nomor: 076/II/1980. Tim Koordinasi
Pendidikan Dokter Spesialis I (TKP PPDS-I) dibentuk pada tanggal 1
Desember 1980 berdasarkan Surat Keputusan Rektor Universitas
Padjadjaran nomor : 137/Kep./UNPAD/1980.
Dalam menyelenggarakan program pendidikan dokter spesialis, setiap
program studi telah memiliki kurikulum dan berbagai ketentuan yang sesuai
baik dengan Kolegium terkait maupun dengan Institusi Pendidikan Fakultas
Kedokteran Universitas Padjadjaran. Lebih jauh lagi, setiap Program Studi
berusaha untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan agar dapat
memenuhi berbagai ketentuan yang dipersyaratkan oleh berbagai badan
regional atau internasional seperti World Federation of Medical Education .
Jumlah program studi dalam Program Pendidikan Dokter Spesialis-I ( PPDS-I
), yang pada mulanya berjumlah 6 program studi telah berkembang dengan
pesat seiring dengan penambahan tenaga sumberdaya manusia dan sarana
serta prasarana baik yang dimiliki oleh Rumah Sakit Pendidikan maupun oleh
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran.
Pada saat ini Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran telah memiliki 21
Program Studi pendidikan dokter spesialis.
Sementara itu, sebagai bagian dari pengembangan ilmu Kesehatan, maka
Fakultas Kedokteran membuka program studi Ilmu Keperawatan pada tahun

3
1994 yang selanjutnya berkembang menjadi Fakultas Ilmu Keperawatan sejak
tahun 2005.
Sampai saat ini Fakultas Kedokteran mengelola berbagai program studi,
mulai dari program diploma sampai program doktor; antara lain :

Program Pendidikan Diploma Kebidanan


a) Program Studi Diploma 3 Kebidanan
b) Program Studi Diploma 4 Kebidanan

Program Pendidikan Dokter


a) Program Studi Sarjana Kedokteran
b) Program Pendidikan Dokter Twinning Program
c) Program Studi Profesi Dokter (PSPD)

Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis


Program Pascasarjana
a) Program Studi Magister
- Magister Ilmu Kedokteran Dasar
- Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat
- Magister Kebidanan
b) Program Studi Doktor

B. VISI, MISI DAN TUJUAN FAKULTAS


Visi
Menjadi institusi yang menempatkan keunggulan penelitian dan pendidikan
untuk kemaslahatan masyarakat guna mendorong daya saing bangsa
(Research
and
education
Excellence
for
Society
to Promote nation Competitiveness - RESPeCt)
Misi
a. Menyelenggarakan penelitian dan pendidikan yang terintegrasi serta
berorientasi pada keunggulan
b. Menjamin produk penelitian dan pendidikan unggul untuk kemaslahatan
masyarakat
c. Meningkatkan kolaborasi dan sinergi potensi bangsa
d. Mendorong hasil penelitian dan pendidikan yang mendukung daya saing
bangsa

4
Tujuan
a. Menyelenggarakan sistem pendidikan kedokteran yang terintegrasi
dengan pengelolaan yang efisien dan efektif.
b. Menghasilkan dokter dan tenaga kesehatan yang kompeten,
beretika, berkualitas dan profesional yang mampu bersaing di tingkat
nasional maupun internasional.
c. Mendorong dan memonitor penyelenggaraan penelitian yang
dilakukan setiapDept. agar relevan dengan pendidikan
d. Menyelenggarakan pendidikan berkualitas dengan pendekatan
penelitian multi-disiplin yang berorientasi HAKI
e. Mempersiapkan infrastruktur yang relevan guna menunjang
pelaksanaan riset yang berkualitas.
f. Menyebarluaskan ilmukedokteran dan teknologi terkini ke komunitas
yang ada.
g. Menyebarluaskan hasil penelitian serta perkembangan teknologi
medis kepada masyarakat yang memungkinkan penyediaan layanan
kesehatan yang berkualitas berdasarkan praktik baik pelayanan
kesehatan

C. TUJUAN PENDIDIKAN PROGRAM STUDI


1. Program Pendidikan Diploma
1.1. Program Studi D4 Kebidanan
Tujuan Pendidikan
1. Tujuan Umum Program Studi Diploma 4 Kebidanan FKUP
Mewujudkan pendidikan bidan yang berkualitas dan inovatif untuk
menghasilkan sumber daya manusia yang bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa dan menghasilkan lulusan yang memiliki pengetahuan
dasar ilmiah, keterampilan dan profesionalisme dalam layanan
kebidanan yang tinggi, berjiwa entrepreneur, berdaya saing tinggi,
berbudi luhur dan mengembangkan potensi belajar mandiri sepanjang
hayat untuk kelangsungan profesinya meliputi integritas, rasa tanggung
jawab, dapat dipercaya, serta mengutamakan kemaslahatan bagi
masyarakat.
2. Tujuan Khusus
Tujuan program pendidikan Diploma 4 Kebidanan adalah menghasilkan
lulusan tenaga kesehatan profesional Kebidanan yang mampu untuk:
1) Mengembangkan diri sebagai bidan profesional yang bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki jiwa Pancasila dan

2)

3)
4)
5)

6)
7)

berpartisipasi dalam kebijakan yang diterapkan pemerintah untuk


perbaikan sistem kesehatan nasional.
Melaksanakan asuhan kebidanan secara profesional pada wanita
dalam siklus kehidupannya (remaja, pra perkawinan, ibu hamil,
persalinan, nifas, menopause dan masa antara, asuhan neonatus,
bayi dan anak balita) di semua tatanan pelayanan kesehatan
Melakukan integrasi antara teori dan konsep dengan keadaan klinis
sehari-hari sejalan dengan pengalaman pembelajaran, klinis, dan
penelitian.
Mengembangkan sikap profesional dalam praktik kebidanan,
komunikasi interpersonal dan konseling serta menjalin kerjasama
dalam tim kesehatan
Memberikan dan mengembangkan pelayanan kebidanan dengan
mempertimbangkan kultur dan budaya setempat, melakukan upaya
promosi dan prevensi kesehatan reproduksi melalui pendidikan
kesehatan, pemberdayaan wanita, keluarga serta masyarakat
Melakukan advokasi dan pemberdayaan pada masyarakat dalam
meningkatkan upaya peningkatan derajat kesehatan ibu dan anak di
lingkungan keluarga, dan kelompok masyarakat.
Menggunakan kemampuan penelitian dan pendekatan ilimah untuk
membantu mengembangkan ilmu kebidanan dengan pendekatan
belajar sepanjang hayat demi kemaslahatan masyarakat.

2. Program Pendidikan Dokter


2.1 Program Studi Kedokteran
Tujuan Pendidikan
a. Tujuan Umum
Mewujudkan pendidikan sarjana kedokteran yang berkualitas untuk
menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan dasar
ilmiah, keterampilan klinik, dan profesionalisme yang baik dalam konteks
permasalahan kesehatan, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
menjunjung tinggi nilai moral, etika kedokteran dan humanisme, serta
mampu untuk mengembangkan diri melalui proses pembelajaran
sepanjang hayat, dengan menyelenggarakan pendidikan sarjana
kedokteran yang mandiri dan memiliki tata kelola yang baik dan
bertanggung jawab (Good Governance).
b. Tujuan Khusus
a. Memiliki dasar ilmiah dalam pengelolaan masalah kesehatan
individu, keluarga dan masyarakat yang sering ditemui secara
menyeluruh, holistik dan berkelanjutan dalam tatanan pelayanan
kesehatan primer (to have a scientific background in managing

b.

c.
d.
e.

f.

g.

professionally common health problems at individual, family and


community level in a comprehensive, holistic, and continuous manner
within the primary health care (PHC) settings)
Menerapkan prinsip-prinsip dasar ilmu biomedis, klinis, perilaku serta
epidemiologi dalam pembahasan masalah kesehatan (to apply basic
biomedical, clinical, behavioral sciences and epidemiology in dealing
with health problems.
Memiliki keterampilan pemeriksaan klinis dasar yang akan dilakukan di
berbagai sarana pelayanan kesehatan primer (to perform essential
basic clinical skills at the primary health care settings)
Menerapkan nilai moral, etika kedokteran dan humanisme dalam
melaksanakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat (to be
ethical, moral & religious professional in community health service)
Mengetahui dan mempraktekkan aspek komunikasi yang efektif
dengan penderita, keluarga, masyarakat dan tenaga profesi
kesehatan lainnya (to know the principles of and perform an effective
communication with patient, family, community, and other health
professionals)
Meningkatkan kemampuan lulusan dalam mengakses, menelaah
secara kritis, dan mengelola informasi kedokteran dan kesehatan
dalam rangka memelihara kemampuan belajar sepanjang hayat (to
access, critically appraise and manage medical and health information
to maintain his/her lifelong learning capacity including to have
capability in pursuing further academic or professional education).
Melakukan
penelitian
kedokteran
/
kesehatan(to
conduct
medical/health research) .

2.1 Program Studi Profesi Dokter (PSPD)


Tujuan Pendidikan
a. Tujuan Umum
1. Memberikan pengalaman kemandirian kepada dokter muda untuk
dapat mengidentifikasi, menganalisis, dan menyelesaikan masalah
kesehatan pasien secara menyeluruh dengan pendekatan
kedokteran keluarga.
2. Menyelenggarakan program pembelajaran yang sistematik dengan
memberikan kesempatan kepada dokter muda untuk menerapkan
pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang telah dipelajari
selama ini.
3. Menyelenggarakan pendidikan yang mendorong berkembangnya
minat dan kemampuan pendidikan seumur hidup.

7
b. Tujuan Khusus
1. Mengingat kembali, mengerti dan menerapkan pengetahuan
kedokteran dan kesehatan di sarana pelayanan kesehatan primer
dan rumah sakit (knowledge-based objective)
2. Melakukan prosedur-prosedur bidang kedokteran dan kesehatan
di sarana pelayanan kesehatan primer dan rumah sakit (skill-based
objective).
3. Berperilaku yang sesuai dengan etika profesi dan moral yang
berlaku secara umum maupun khusus yang berlaku di masyarakat
(attitude based objective)

4.

Program Pendidikan Dokter Spesialis


Tujuan Pendidikan
Secara garis besar pendidikan dokter spesialis memiliki tujuan umum dalam
mendidik peserta PPDS, diharapkan setiap lulusan PPDS memiliki
kompetensi akademik dan profesi, yang mampu menjalankan praktek
kedokteran di bidang spesialisasinya, baik secara mandiri maupun dalam
tim, dalam upaya memenuhi kebutuhan yang diamanatkan dalam sistim
pemeliharaan kesehatan. Secara rinci, tujuan pendidikan umum dan khusus
dari setiap program studi dapat dilihat dalam Panduan Penyelenggaraan
Pendidikan Dokter Spesialis dari setiap program studi.

4.1 Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif


Tujuan Pendidikan
Sadar akan tanggung jawab sebagai warga negara Indonesia yang
mengabdi dalam bidang pelayanan kesehatan, serta mengerti dan
merasakan tuntutan masyarakat dan program pemerintah untuk
meningkatkan taraf kesehatan masyarakat, maka seorang dokter spesialis
anestesiologi wajib memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Mempunyai kemampuan untuk melakukan komunikasi dengan baik
dengan para sejawat dokter dan anggota tim kesehatan yang lain
serta anggota masyarakat.
2. Mempunyai kemampuan untuk mengelola kegiatan pelayanan
anestesiologi sebagai anggota tim pelayanan kesehatan di dalam
maupun di luar rumah sakit.
3. Mempunyai cukup pengetahuan dan keterampilan untuk:
3.1 Mengelola tindakan untuk menghilangkan rasa nyeri, takut dan
cemas pada pembedahan, persalinan dan tindakan medik lain,
baik sebelum, selama, maupun sesudahnya.

8
3.2 Mengawasi dan menunjang fungsi vital penderita yang
mengalami stres pembedahan dan pemberian anestesi.
3.3 Mengelola penderita yang tidak sadar apapun sebabnya.
3.4 Mengelola penderita yang mengidap masalah nyeri (management
of pain problem), apapun penyebabnya, termasuk nyeri kronik
dan paliatif.
3.5 Mengelola masalah resusitasi jantung paru otak.
3.6 Mengelola masalah gangguan napas dan pernapasan buatan
jangka panjang (respiratory care).
3.7 Mengelola
berbagai
gangguan
cairan,
elektrolit,
dan
metabolisme.
4. Mempunyai kemampuan untuk mengelola kedokteran gawat darurat
(critical care medicine) yang meliputi :
4.1 Resusitasi.
4.2 Pengelolaan pasien gawat (emergency care) untuk keadaan yang
mengancam kehidupan.
4.3 Pengelolaan terapi intensif (intensive care therapy).
5. Mempunyai kemampuan untuk mengembangkan pengetahuan dan
keterampilan sebagai dokter spesialis anestesiologi sesuai dengan
tuntutan masyarakat dan kemampuan ilmu pengetahuan

4.2

Program Studi Ilmu Bedah


Tujuan Umum Pendidikan
Lulusan program studi dokter spesialis bedah umum Fakultas Kedokteran
Universitas Padjadjaran Bandung memiliki kualitas tinggi dan kompetitif pada
tingkat nasional maupun internasional yaitu mampu memberikan pelayanan
bedah umum dengan tingkat kompetensi tinggi dan berpedoman pada
prinsip-prinsip praktek bedah yang baik (good surgical practices), sehingga
memberikan kemaslahatan bagi masyarakat.
Tujuan Khusus
Setelah menyelesaikan PPDS-1 Bedah Umum, para peserta didik akan
mampu:
1. menjelaskan dasar-dasar epidemiologi, etiologi, patogenesis, patologi,
patofisiologi dan pengelolaan penyakit-penyakit bedah emergensi dan
non emergensi sebagaimana ditetapkan oleh kurikulum Kolegium
Bedah Indonesia.
2. mendiagnosis dan melakukan terapi penyakit bedah emergensi dan
non emergensi yang banyak ditemukan di pusat pelayanan kesehatan
tingkat 2.
3. melaksanakan berbagai prosedur pembedahan yang telah ditetapkan
oleh Kolegium Ilmu Bedah Indonesia beserta penanggulangan
komplikasinya.

9
4.

5.

bersikap dan berprilaku profesional di dalam melaksanakan pelayanan


bedah yang meliputi aspek kejujuran, tanggung jawab, rasa belas
kasih (compassionate), altruisme, moral dan etika, kesejawatan
(kolegialisme), ketrampilan berkomunikasi, berorganisasi dan
manajemen, kemampuan pegembangan diri di dalam kemajuan ilmu
dan teknologi bedah, serta kemampuan mendidik.
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi bedah melalui
penelitian-penelitian klinik bedah.

4.3 Program Studi Ilmu Bedah Saraf


Tujuan Pendidikan
Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Bedah Saraf di Fakultas
Kedokteran Universitas Padjadjaran, secara umum memiliki 2 tujuan utama
yang harus dicapai yaitu tujuan institusional dan tujuan profesional.
Tujuan Institusional
Lulusan PPDS Bedah Saraf Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran mampu menguasai dan menerapkan ilmu bedah saraf, baik
secara perorangan/tim dan atau melalui kerjasama sesuai dengan tuntutan
masyarakat maupun perkembangan ilmu, serta mampu mengaktualisasikan
diri sebagai seorang ahli bedah saraf yang profesional dan berakhlak tinggi.
Tujuan Profesional
Lulusan PPDS Bedah Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
harus:
1. Mengetahui dan Memahami Pengetahuan Teori Mengenai:
1) Neuro Anatomi
2) Neuro Patologi
3) Neuro Fisiologi
4) Neuro Biologi (Biologi Molekuler)
5) Neuro Umum, termasuk di antaranya:
1) Psiko-patologi
2) Riwayat penyakit saraf konservatif dan bedah saraf
3) Statistik Medik
2. Mengetahui dan Memahami Pengetahuan Dasar Mengenai:
1)
Pengobatan Sinar
2)
Metodik Biokimia
3)
Neurooptalmologi
4)
Neurootologi
5)
Neuroorthopedi
6)
Terapi Psikis dan Rehabilitasi
3. Mengetahui dan Memahami:
1)
Pengobatan Konservatif
2)
Indikasi Operasi Bedah Saraf

10
3)
4)

Dasar-dasar Anestesi
Pengetahuan Penanganan Pra dan Pascaoperasi

4. Mampu Melakukan:
1)
Penarikan kesimpulan pemeriksaan Neurologi
2)
Penarikan kesimpulan singkat pada pemeriksaan Psikopatologi
3)
Pemeriksaan dengan Funduskopi
4)
Diagnostik pungsi lumbal, subosipital, dan diagnostik likuor
5)
Elektro-diagnostik saraf perifer
6)
Ekoensefalografi
7)
Diagnostik:
a) Rontgen pada tengkorak dan tulang belakang
b) Mielografi
c) Angiografi
d) Computer Tomografi Scan (CT-Scan)
e) Magnetic Resonance Imaging (MRI)

4.4 Program Studi Orthopaedi dan Traumatologi


Tujuan Pendidikan
Sadar akan tanggung jawab sebagai warga negara Indonesia yang
mengabdi dalam bidang pelayanan kesehatan serta mengerti dan
merasakan tuntutan masyarakat dan program pemerintah untuk
meningkatkan taraf kesehatan rakyat, maka seorang dokter Spesialis
Orthopaedi Indonesia wajib memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Tujuan Umum
1. Mempunyai rasa tanggung jawab dalam pengamalan ilmu kesehatan
sistem muskuloskeletal sesuai dengan kebijakan pemerintah.
2. Mempunyai pengetahuan yang luas dalam bidangnya serta mempunyai
keterampilan dan sikap yang baik sehingga sanggup memahami dan
memecahkan masalah kesehatan sistem muskuloskeletal secara ilmiah
dan dapat mengamalkan ilmu kesehatan sistem muskuloskeletal kepada
masyarakat yang sesuai dengan bidang keahliannya secara optimal.
3. Mampu menentukan, merencanakan dan melaksanakan pendidikan,
penelitian secara mandiri dan mengembangkan ilmu ke tingkat akademik
yang lebih tinggi.
4. Mampu mengembangkan sikap pribadi sesuai dengan etik ilmu dan etik
profesi.

Tujuan Khusus
Menjunjung tinggi Kode Etik Kedokteran Indonesia.

11
1. Mempunyai kemampuan dan keterampilan untuk mengatasi masalah
orthopaedi & traumatologi darurat dan tidak darurat.
2. Mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sebagai dokter
spesialis orthopaedi & traumatologi sesuai tuntutan masyarakat dan
kemajuan ilmu pengetahuan.
3. Mampu mengembangkan pelayanan bidang orthopaedi & traumatologi
lingkungannya.
4. Mengerjakan bidang orthopaedi & traumatologi sebagai profesinya.
5. Mempunyai pengetahuan yang cukup tentang rehabilitasi cacat tubuh
(tuna daksa) dan mampu melaksanakan rehabilitasi preventif.
6. Mampu mengembangkan pengalaman belajarnya dengan memilih
sumber-sumber belajar yang sehat yang dapat menjurus ketingkat
akademik tertinggi.
4.5 Program Studi Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal
Tujuan Pendidikan
1. Menghasilkan ahli ilmu kedokteran forensik yang memiliki pengetahuan
dan keterampilan yang cukup dalam mengelola kasus-kasus ilmu
kedokteran forensik.
2. Mampu memberikan kesaksian sebagai saksi ahli ilmu kedokteran
forensik untuk pengadilan.
3. Memiliki pendirian teguh dalam memberikan pendapatnya sebagai ahli
ilmu kedokteran forensik dan berpegang teguh pada ketentuan per
undang-undangan yang berlaku.
4. Mampu mengembangkan ilmu kedokteran forensik secara mandiri melalui
penelitian, pendidikan, dan pelayanan kepada masyarakat.
5. Mampu mengembangkan Ilmu Kedokteran Forensik khususnya Forensik
Klinik, Medikolegal, Patologi Forensik, Toksikologi Forensik, dan DNA
Forensik.

4.6 Program Studi Ilmu Kedokteran Jiwa


Tujuan Umum
Tujuan umum Program Pendidikan Dokter Spesialis I Program Studi Ilmu
Kedokteran Jiwa (Psikiatri) setelah melalui proses belajar dengan suatu
kurikulum baku adalah menghasilkan lulusan yang:
1. Mempunyai rasa tanggung jawab dalam pengamalan ilmu kedokteran
sesuai dengan kebijakan pemerintah berdasarkan Pancasila.
2. Mempunyai pengetahuan yang luas dalam bidangnya serta mempunyai
keterampilan dan sikap yang baik sehingga sanggup memahami dan
memecahkan problem kesehatan secara ilmiah dan dapat
mengamalkan ilmu kesehatan kepada masyarakat yang sesuai dengan
bidang keahliannya secara optimal.

12
3.
4.

Mampu menentukan, merencanakan, dan melaksanakan pendidikan


dan penelitian secara mandiri dan mengembangkan ilmu ke tingkat
akademi yang lebih tinggi.
Mampu mengembangkan sikap pribadi sesuai dengan etik ilmu dan etik
profesi.

Tujuan Khusus
Tujuan khusus Program Pendidikan Dokter Spesialis I Program Studi Ilmu
Kedokteran Jiwa (Psikiatri) adalah menghasilkan dokter spesialis ilmu
kedokteran jiwa (Psikiater) berstandar internasional yang mempunyai
kemampuan sebagai berikut:
1. Mengenal, merumuskan, menyusun prioritas dan menanggulangi
masalah kesehatan jiwa secara kritis-analitis, rasional-ilmiah, dan
bertanggung jawab.
2. Melakukan pemeriksaan, menegakkan diagnosis, menyusun strategi
perencanaan/penatalaksanaan terapi, perawatan, rehabilitasi dan
promosi/prevensi, serta melaksanakan sistim rujukan secara profesional
dalam bidang psikiatri.
3. Melaksanakan integrasi Konsultasi-Liaison kedokteran jiwa dengan
bidang-bidang spesialistik ilmu kedokteran dan non-kedokteran lainnya
secara profesional.
4. Mampu memberdayakan sistim kesehatan jiwa masyarakat.
5. Menunjukkan sifat dan sikap pribadi yang serasi untuk profesi psikiatri
sesuai dengan kode etik kedokteran pada umumnya dan kode etik
profesi psikiatri pada khususnya.
6. Meningkatkan dan mengembangkan diri dalam bidang pelayanan dan
pengetahuan di bidang kedokteran umumnya dan psikiatri khususnya,
dengan berpedoman pada pembelajaran seumur hidup
4.7 Program Studi Ilmu Kesehatan Anak
Tujuan Umum
Pendidikan dokter spesialis anak merupakan bagian dari pendidikan dokter
spesialis yang bertugas
menghasilkan Dokter Spesialis Anak yang
mempunyai:
1. Kompetensi profesional sebagai seorang dokter spesialis yang mampu
memberikan pelayanan kesehatan anak secara paripurna dalam tingkat
spesialistik bertaraf internasional sesuai dengan keadaan dan
kebutuhan masyarakat.
2. Kompetensi akademik sebagai seorang dokter spesialis yang mampu
menyerap, meneliti, mengembangkan, dan menyebarkan ilmu
kesehatan, khususnya ilmu kesehatan anak, sesuai dengan kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tujuan Khusus
Pada akhir pendidikan melalui kurikulum yang terpadu seorang dokter

13
spesialis anak diharapkan:
1. Mampu menerapkan prinsip-prinsip dan metode berpikir ilmiah dalam
memecahkan masalah kesehatan anak.
2. Mampu mengenal, merumuskan pendekatan penyelesaian, dan
menyusun prioritas masalah kesehatan anak dengan cara penalaran
ilmiah, melalui perencanaan, implementasi, dan evaluasi terhadap
upaya preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif.
3. Menguasai
pengetahuan
dan
keterampilan
serta
mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam memberikan
pelayanan kesehatan anak.
4. Mampu menangani setiap kasus pediatrik dengan kemampuan
profesional yang tinggi melalui pola pendekatan kedokteran berbasik
bukti (evidence-based medicine).
5. Mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas penelitian dasar, klinis, dan
lapangan serta mempunyai motivasi mengembangkan pengalaman
belajarnya sehingga dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi.
6. Mampu mengorganisasikan pelayanan kesehatan anak, sehingga
menjadi pemuka dalam pengembangan pelayanan kesehatan anak
dengan profesionalisme yang tinggi.
7. Mampu berpartisipasi dalam pendidikan kesehatan umumnya, dan ilmu
kesehatan anak khususnya.
8. Mampu mengembangkan kinerja profesionalnya dalam spektrum yang
lebih jelas dengan mengaitkan bidang ilmu atau profesi yang serupa.
9. Bersifat terbuka, tanggap terhadap perubahan dan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi, ataupun masalah yang dihadapi
masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan ilmu kesehatam anak.
10. Terampil memberikan pelayanan kesehatan anak serta mampu
melakukan komunikasi interpersonal, sehingga anak dapat tumbuh dan
berkembang optimal secara fisik, mental dan sosial melalui upaya
pencegahan, pengobatan, peningkatan kesehatan dan rehabilitasi.
11. Mampu meningkatkan pelayanan profesi melalui penelitian dan
pengembangan.
12. Mampu berpartisipasi dalam pengembangan bidang ilmu kesehatan
anak.
13. Mempunyai rasa tanggung jawab dalam melakukan profesi kedokteran
dalam suatu sistem pelayanan sesuai dengan Sistem Kesehatan
Nasional dan berpegang teguh pada Etika Kedokteran Indonesia.
4.8

Program Studi Ilmu Penyakit Dalam


Tujuan Umum
Tujuan program pendidikan Spesialisasi Ilmu Penyakit Dalam adalah
menghasilkan dokter spesialis penyakit dalam yang :
1. Mandiri, bermartabat, berakhlak dan profesional

14
2. Menguasai dasar-dasar pengetahuan (ilmiah) dan keterampilan dengan
wawasan holistik sehingga mampu merumuskan dan menyelesaikan
permasalahan kesehatan bidang Ilmu Penyakit Dalam
3. Mampu memberikan pelayanan kesehatan bidang Ilmu Penyakit Dalam
yang prima
4. Mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
merupakan keahliannya.
5. Mampu menghasilkan penelitian yang dapat memberikan kontribusi
ilmiah dan diaplikasikan sesuai perkembangan kesehatan terkini
6. Membantu penyelenggaraan pendidikan ilmu kesehatan secara aktif
dalam berbagai jenjang.
7. Mampu mengorganisir dan terlibat langsung dalam ruang lingkup Ilmu
Penyakit Dalam.
8. Mampu bekerja baik dalam satu tim
4.9 Program Studi Ilmu Kesehatan Mata
Tujuan Umum
Menghasilkan lulusan dokter spesialis mata yang memiliki kompetensi
secara akademik dan profesi di bidang kesehatan mata sehingga mampu
menjalankan tugasnya baik secara mandiri maupun dalam kelompok
sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan pemeliharaan kesehatan.
Tujuan Khusus
Memiliki pengetahuan, ketrampilan sikap dan dedikasi dalam melaksanakan
pelayanan kesehatan mata untuk menurunkan angka kebutaan.
1. Mengidentifikasi permasalahan kesehatan mata dan menyusun
kegiatan/program penanggulangannya secara berkesinambungan dan
berkelanjutan
2. Menerapkan teknologi terkini berbasis bukti dalam penanggulangan
permasalahan kesehatan mata
3. Melakukan pengembangan ilmu dalam kaitan long life learning sebagai
upaya untuk terus menerus mengembangkan diri
4. Berperan aktif dalam kepemimpinan kesehatan dalam lingkungan
pekerjaan.

4.10 Program Studi Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin


Tujuan Umum
Menghasilkan dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (SpKK) yang memiliki
keunggulan dalam bidang pendidikan dan penelitian untuk kemaslahatan
masyarakat, dengan penguatan tata pamong program studi (prodi).

15
Tujuan Khusus
1. Menghasilkan dokter SpKK yang memiliki kompetensi dalam bidang IK
Kulit dan Kelamin yang:
a. Mempunyai pengetahuan yang mendalam mengenai kesehatan kulit
dan kelamin, terutama dari aspek ilmu dasar dan keterampilan, untuk
melaksanakan kegiatan promosi, prevensi, kurasi, dan rehabilitasi di
bidang kesehatan kulit dan kelamin.
b. Dapat mengenal, merumuskan pendekatan penyelesaian, dan
menyusun prioritas masalah kesehatan kulit dan kelamin, dengan
cara penalaran ilmiah, melalui perencanaan, implementasi, dan
evaluasi terhadap upaya promotif, preventif, kuratif, serta rehabilitatif.
c. Dapat menerapkan prinsip dan metode berpikir ilmiah dalam
menerapkan IK Kulit dan Kelamin.
d. Dapat menangani kasus kulit dan kelamin dengan kemampuan
profesional yang tinggi, melalui pendekatan evidence based
medicine (EBM) dan mampu mengikuti perkembangan terkini dalam
bidang IK Kulit dan Kelamin.
e. Dapat bekerjasama dengan profesi lain demi kepentingan pasien
dan ilmu pengetahuan.
f. Memahami biologi molekular dasar, farmakologi, dan epidemiologi
klinis, sehingga dapat mengaplikasikannya pada pengetahuan klinis.
g. Memahami metodologi penelitian dan pengujian statistik, serta
teknologi informasi guna menunjang proses dan hasil penelitian.
h. Dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas penelitian dasar, klinis,
dan lapangan, yang dapat bersaing di tingkat nasional dan
internasional.
i. Mempunyai motivasi mengembangkan pengalaman belajar sehingga
untuk mencapai tingkat akademis lebih tinggi.
j. Memiliki perilaku profesional mencakup penghayatan etik
kedokteran, moral, dan hukum kedokteran.
k. Mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap permasalahan kesehatan
di masyarakat dan menerapkan ilmunya untuk kemaslahatan
masyarakat.
2. Menjadi Program Studi yang:
a. Memiliki sistem tata pamong yang baik
b. Memiliki pola kepemimpinan yang efektif dalam aspek kepemimpinan
operasional, organisasi, dan publik.
c. Memiliki
sistem
pengelolaan
dengan
perencanaan,
pengorganisasian, penstafan, pengarahan, dan pengawasan yang
terstruktur.
d. Melaksanakan penjaminan mutu secara berkala
e. Mampu meningkatkan kolaborasi dan sinergi dalam bidang IK Kulit
dan Kelamin.
f. Menghasilkan produk pendidikan dan penelitian untuk kemaslahatan
masyarakat.

16

4.11 Program Studi Ilmu Penyakit Saraf


Tujuan Pendiikan
Tujuan Umum
Pendidikan dokter spesialis saraf adalah bagian dari pendidikan dokter
spesialis yang bertujuan menghasilkan dokter spesialis saraf yang
mempunyai rasa tanggung jawab dalam pengamalan ilmu kesehatan
sesuai kebijakan pemerintah, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,
mampu mengembangkan sikap pribadi yang menjunjung tinggi Kode Etik
Kedokteran di Indonesia dan Sumpah Dokter Indonesia, serta memiliki
daya saing profesional di tingkat regional maupun internasional.
Tujuan Khusus
1. Menguasai pengetahuan dan kemampuan untuk menanggulangi
masalah kedaruratan neurologik, terutama yang umum terdapat di
Indonesia.
2. Mampu mengenali dan merumuskan serta menyusun prioritas,
masalah-masalah di bidang ilmu penyakit saraf, yang didapati di
lingkungannya baik di masa sekarang maupun di masa yang akan
datang dan mengambil tindakan-tindakan yang sesuai untuk
mengatasi masalah tersebut.
3. Mampu melaksanakan penelitian serta menyusunnya dalam suatu
publikasi ilmiah dan mampu mengembangkan hasil penelitian
sehingga dapat menjurus ke tingkat akademik yang tertinggi.
4. Memahami sistem pendidikan dan mampu mendidik tenaga medik,
paramedik, dan nonmedik dalam ilmu penyakit saraf.
5. Mampu bekerja sama dengan disiplin lain ilmu kedokteran dan di luar
ilmu kedokteran untuk mencapai tujuan-tujuannya.

4.12. Program Studi Ilmu Kesehatan Telinga, Tenggorok, Bedah Kepala


dan Leher.
Tujuan Pendidikan
Setelah melalui proses belajar dengan menyelesaikan suatu kurikulum
yang telah ditentukan menghasilkan lulusan yang mampu :
1. Melakukan teknik-teknik pemeriksaan diagnostik penyakit-penyakit
THT-KL Bedah Kepala Leher dan mampu mengintepretasikan
hasilnya.
2. Mendiagnosis penyakit dan kelainan THT-KL yang sering dijumpai dan
mampu mengelola selanjutnya.

17
3. Mendiagnosis penyakit dan kelainan THT-KL yang memerlukan
tindakan segera, mampu memberikan pertolongan pertama, dan
mengelola selanjutnya.
4. Mendiagnosisi/menginteprestasi penyakit dan kelainan THT-KL yang
jarang dijumpai, mampu memberikan pertolongan sementara dan
merujuk selanjutnya.
5. Mengidentifikasi secara efektif penyakit dan kelainan THT-KL yang
akibat-akibatnya dapat menyangkut segi-segi sosial dan psikologik,
mampu mengusahakan rehabilitasi selanjutnya.
6. Merencanakan/melaksanakan
dan
mengevaluasi
program
penyaringan dan penjaringan dengan tujuan seleksi dini untuk
mencegah, membatasi, dan rehabilitasi penyakit-penyakit THT-KL
yang banyak dijumpai di masyarakat.
7. Mengembangkan sikap pribadi yang perlu untuk kehidupan profesional
sesuai dengan kode etik ilmu dan etik profesi Kedokteran di Indonesia.
8. Mengembangkan pengalaman belajarnya dengan memilih sumbersumber belajar yang tepat menjurus ke tingkat profesi dan akademik
yang lebih tinggi.
9. Memahami struktur organisasi pelayanan kesehatan dari suatu
Departemen Ilmu Penyakit THT-KL diharapkan dalam suatu Rumah
Sakit/Fakultas Kedokteran, mampu membangun serta mengelola
selanjutnya.
10. Menentukan, merencanakan, serta melaksanakan pendidikan dan
penelitian secara mandiri dan mengembangkan ilmunya ketingkat
profesional atau akademik yang lebih tinggi
11. Menunjukkan wawasan yang luas dalam bidangnya serta keterampilan
dan sikap ilmiah yang baik, sehingga mampu memahami dan
memecahkan masalah Kedokteran/Kedokteran THT-KL secara ilmiah
dan dapat mengamalkan kepada masyarakat sesuai dengan bidang
keahliannya secara optimal.
12. Menunjukan rasa tanggung jawab dalam pengalaman Ilmu
Kedokteran/Kedokteran THT-KL sesuai dengan kebijakan pemerintah,
Sistem Kesehatan Nasional, dan Pancasila.
4.13

Program Studi Obstetri dan Ginekologi


Tujuan Pendidikan
Tujuan Pendidikan Obstetri Ginekologi adalah mendidik dan melatih
seorang dokter menjadi Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi yang
mempunyai Keterampilan Klinik, Kemampuan Akademik dan Kualitas
Profesional. Keahlian klinik merupakan kemampuan penerapan clinical
process yang
mencakup profisiensi pengetahuan dan keterampilan
klinik.

18
Kemampuan akademik merupakan kemampuan untuk belajar mandiri,
melakukan penelitian, mengajarkan apa yang dikuasainya dan dapat
melakukan komunikasi secara efektif
Kualitas profesional meliputi tanggung jawab manajemen, pengkajian dan
pengembangan praktik dapat bekerja sama secara baik, bersikap dan
melaksanakan etika, kesungguhan dalam dalam memberikan apa yang
terbaik bagi pasien dan advokasi kesehatan.
Tujuan Khusus
Tujuan khusus pendidikan dokter spesialis dalam Program Studi Obstetri
dan Ginekologi ialah agar setelah menyelesaikan program pendidikan
tersebut, peserta mempunyai kemampuan sebagai berikut:
a. Mampu mengelola unit pelayanan obstetri ginekologi sesuai standar.
b. Menunjukkan sifat dan sikap pribadi yang memadai dalam
menjalankan profesi obstetri dan ginekologi sesuai dengan kode etik
kedokteran Indonesia.
c. Mampu berperan aktif dalam program peningkatan pelayanan
obstetri dan ginekologi di masyarakat.
d. Membantu mengembangkan ilmu obstetri dan ginekologi dengan ikut
serta
dalam
pendidikan
dan
penelitian,
dengan
menggunakan/memanfaatkan kepustakaan dan fasilitas yang
tersedia.
e. Mampu menangani masalah Obstetri-Ginekologi klinik secara
komprehensif.

4.14 Program Studi Patologi Anatomi


Tujuan Pendidikan
1. Mampu menguasai perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dalam
bidang Patologi Anatomi dengan cara menguasai dan memahami
teori-teori yang mutakhir, pendekatan, metode, dan kaidah-kaidah
ilmiah disertai penerapannya.
2. Mampu memecahkan permasalahan di bidang Patologi Anatomi
melalui kegiatan penelitian dan pengembangan berdasarkan kaidah
ilmiah dengan standar internasional.
3. Mampu mengembangkan ilmu Patologi Anatomi untuk pelayanan yang
berkualitas kepada masyarakat.

19
4.15 Program Studi Patologi Klinik
Tujuan Pendidikan
Tujuan Umum
Pada akhir pendidikan diharapkan peserta didik memiliki kemampuan
menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan menentukan sikap dalam
memberikan pelayanan kesehatan di bidang patologi klinik sesuai dengan
keadaan dan kebutuhan masyarakat, serta dapat bekerja sama dalam tim
dengan dokter klinisi dan melakukan penelitian sesuai dengan
perkembangan IPTEK.
Tujuan Khusus
Pada akhir pendidikan diharapkan peserta didik mampu:
1. Memimpin, menatalaksana laboratorium klinik dengan terampil sesuai
dengan kompetensi laboratorium yang diatur oleh Sistem Kesehatan
Nasional (SKN) minimal untuk rumah sakit tipe C.
2. Menjamin mutu hasil pemeriksaan laboratorium sahih dan handal
dengan melaksanakan pemantapan kualitas.
3. Memberikan pelayanan konsultasi dan penyuluhan dalam bidang
Patologi Klinik kepada masyarakat, paramedik, calon dokter, dan
dokter umum.
4. Bekerja sama dalam tim dengan dokter spesialis dari disiplin lain
sebagai konsultan atau narasumber yang mampu melakukan analisis
dan interpretasi hasil untuk menegakkan atau menyingkirkan
diagnosis, menilai prognosis, melakukan tindak lanjut serta memantau
respon terapi penderita.
5. Membuka diri untuk mengembangkan wawasan dengan mengikuti
perkembangan ilmu mutahir dan kemajuan teknologi laboratorium
canggih serta komunikasi modern.
6. Melakukan penelitian mandiri maupun bersama sesuai dengan
perkembangan IPTEK.
7. Menjungjung tinggi erika kedokteran dan etika kedokteran dan etik
profesi Dokter Spesialis Patologi Klinik

4.16 Program Studi Radiologi


Tujuan Pendidikan
Tujuan Umum
Tujuan umum pendidikan spesialis radiologi ialah: setelah melalui proses
belajar dengan suatu kurikulum menghasilkan lulusan yang:
1. Mempunyai tanggung jawab dalam pengalaman bidang radiologi
sesuai dengan kebijakan Pemerintah yang berdasarkan Pancasila.

20
2.
3.
4.
5.

Mempunyai pengetahuan yang luas dalam bidang radiologi serta


mempunyai keterampilan dan sikap perilaku yang baik sehingga dapat
mengamalkan ilmu radiologi yang diakui oleh masyarakat.
Mampu menentukan, merencanakan, melaksanakan pelayanan dan
penelitian secara mandiri.
Selalu mampu belajar dan mengembangkan ilmu radiologi ke tingkat
yang lebih tinggi.
Mempunyai sikap pribadi yang konsisten dengan kode etik kedokteran
pada umumnya dank ode etik profesi radiologi pada khususnya.

Tujuan Khusus
1. Menguasai radiologi meliputi bidang-bidang imejing diagnostik dan
Radioterapi.
2. Menguasai dan terampil dalam menerapkan ilmu radiologi klinik
sesuai dengan program yang telah direncanakan dalam pendidikan.
3. Mampu mempergunakan dan mengelola tenaga dan semua peralatan
radiologi.
4. Mempunyai kemampuan mengembangkan dirinya dalam bidang
radiologi Klinik selama hidup.
5. Sanggup bekerja sama dengan sesame spesialis radiologi dan
spesialis lainnya.
6. Bersikap ilmiah dan mempunyai pengetahuan dasar-dasar statistik
dan metodologi penelitian.
7. Sanggup menyebarluaskan pengetahuannya kepada spesialis
radiologi, calon spesialis radiologi, mahasiswa, dan masyarakat
umumnya.
8. Menjunjung tinggi kode etik kedokteran Indonesia pada umumnya dan
kode etik radiologi pada khususnya.
9. Proteksi radiasi: Mengerti bahaya radiasi serta mampu mencegah
efek samping radiasi.

4.17

Program Studi Ilmu Kedokteran Nuklir


Tujuan Umum
Program pendidikan dokter spesialis kedokteran nuklir merupakan bagian
dari program studi dokter spesialis yang bertugas untuk mendidik dokter
spesialis kedokteran nuklir yang;
1. Menguasai Ilmu Kedokteran Nuklir pada umumnya serta, terampil dan
mampu menegakkan diagnosis dan mengobati penyakit dengan
menggunakan teknik kedokteran nuklir.
2. Mampu berperan aktif dan bekerjasama dengan sejawat lain dalam
pengelolaan penyakit baik di rumah sakit atau di masyarakat.
3. Dapat mengembangkan sikap pribadi sesuai dengan etika ilmu dan
profesi.

21
Tujuan Khusus
1. Memiliki rasa tanggung jawab dalam pengamalan kesehatan,
khususnya ilmu kedokteran nuklir, sesuai dengan kebijakan
pemerintah berdasarkan Pancasila.
2. Memiliki pengetahuan yang luas dalam bidang ilmu kedokteran nuklir,
serta memiliki keterampilan dan sikap yang baik sehingga sanggup
memahami dan memecahkan masalah kesehatan secara ilmiah dan
dapat mengamalkan ilmu kesehatan kepada masyarakat yang sesuai
dengan bidang keahliannya secara optimal.
3. Mampu menentukan, merencanakan dan melaksanakan pendidikan
dan penelitian secara mandiri dan mengembangkan ilmu kedokteran
nuklir ke tingkat akademik yang lebih tinggi.
4. Mampu mengembangkan sikap pribadi sesuai dengan etik ilmu dan
etik profesi.
4.18 Program Studi Ilmu Bedah Anak
Tujuan Pendidikan
Tujuan Umum
Menghasikan Dokter Spesialis Bedah Anak yang bermoral dan beretika,
memiliki keterampilan bedah yang baik, profesional, serta memiliki rasa
tanggung jawab dan pengabdian yang tinggi.
Tujuan Khusus
Menghasilkan dokter spesialis bedah anak yang :
1. Mampu mengelola masalah masalah bedah anak yang sering
ditemui secara menyeluruh, holistik dan berkelanjutan.
2. Mempunyai kompetensi keterampilan pembedahan, baik pembedahan
konvensional maupun bedah invasif minimal pada anak.
3. Mampu melakukan komunikasi yang efektif dengan penderita,
keluarga, masyarakat dan tenaga profesi kesehatan lainnya.
4. Mampu bertindak sebagai tenaga profesional yang berpegang teguh
pada nilai nilai etik, moral dan agama.
5. Mampu mengakses dan menelaah serta mengelola informasi
kedokteran secara kritis untuk memelihara kemampuan belajar
sepanjang hayat.
6. Mampu melakukan penelitian kedokteran di bidang bedah anak
sebagai upaya meningkatkan profesionalisme.

22
4.19

Program Studi Urologi


Tujuan Pendidikan
Tujuan Umum
Lulusan pendidikan Program Studi Pendidikan Profesi Dokter Spesialis-1
Urologi (PDSp-1) di Indonesia diharapkan dapat mempunyai kemampuan
profesional yang tinggi, menjadi seorang ilmuan yang tangguh yang
berkepribadian luhur, menjunjung tinggi etika kedokteran, beriman dan
bertakwa. Dan dalam menghadapi era globalisasi mendatang mampu
bersaing dan menjadi tuan rumah di negara sendiri dan mampu bekerja
dimana saja di dunia dengan membawa nama baik almamater dan
menjunjung tinggi bangsa dan negaranya.
Tujuan Khusus
Sadar akan tanggung jawab sebagai warga negara Indonesia, yang
mengabdi dalam bidang pelayanan kesehatan, serta mengerti dan
merasakan tuntutan masyarakat dan program pemerintah untuk
meningkatkan taraf kesehatan rakyat, maka seorang Spesialis Urologi
Indonesia wajib memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta
menjunjung tinggi Kode Etik Kedokteran Indonesia dalam
melaksanakan tugas profesi.
b. Mempunyai pengetahuan dan ketrampilan untuk mengatasi masalah
Urologi darurat dan tidak darurat (elektif), terutama yang umum
terdapat di Indonesia.
c. Mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sebagai
Spesialis Urologi sesuai dengan tuntutan masyarakat dan kemajuan
Ilmu Pengetahuan.
d. Mampu mengembangkan pelayanan urologi di lingkungan bekerja.
e. Mengerjakan kasus-kasus urologi sebagai profesinya secara
professional.
f. Mampu mengembangkan pengalaman belajarnya dengan memilih
sumber-sumber belajar yang sehat yang dapat menjurus ke tingkat
akademik tertinggi.
Setelah mengikuti Program Studi Pendidikan Profesi Dokter Spesialis-1
Urologi diharapkan mempunyai :
1. Menguasai biomolekuler dasar, farmakologi klinik dan epidemiologi
klinik sehingga memperluas wawasan pengenalan aplikasi pada
pengetahuan klinik.
2. Menguasai metodologi penelitian dan pengujian statistik serta mampu
mengoperasikan komputer untuk menguji hasil penelitian.
3. Mempunyai pengetahuan yang lebih mendalam mengenai penyakit
terutama dari aspek ilmu-ilmu dasar untuk melaksanakan kegiatan

23
promosi, prevensi, kurasi, rehabilitasi dan kegawatan di bidang
Urologi.
4. Memiliki pengetahuan dasar untuk melakukan analisis penyakit secara
klinis, komunitas dan mempunyai keterampilan mengobati penderita
sehingga menjadi lebih baik.
5. Berpartisipasi aktif untuk mengembangkan pengetahuan dan
mempunyai keterampilan dalam penerapan ilmu pada penderita yang
memerlukan pertolongan.
6. Dapat bekerjasama dengan profesi lain demi kepentingan penderita
dan pengetahuan.
7. Mampu menerapkan prinsip-prinsip dan metode berfikir ilmiah dalam
menerapkan ilmu urologi.
8. Mampu mengenal, merumuskan pendekatan penyelesaian dan
menyusun prioritas masalah urologi dengan cara penalaran ilmiah,
melalui perencanaan, implementasi dan evaluasi terhadap upaya
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.
9. Mampu menangani kasus urologi dengan kemampuan professional
yang tinggi melalui pendekatan EBM (Evidence Based Medicine).
10. Mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas penelitian dasar, klinis
dan lapangan serta mempunyai motivasi mengembangkan
pengalaman belajar sehingga dapat mencapai tingkat akademis yang
lebih tinggi.
11. Bersifat terbuka, tanggap terhadap perubahan dan kemajuan ilmu dan
teknologi atau masalah yang dihadapi masyarakat.

4.20

Program Studi Kardiologi dan Kedokteran Vaskular


Tujuan Pendidikan
Pada akhir masa pendidikan, peserta program studi:
1. Memiliki kemampuan akademik profesional sesuai dengan standar
regional maupun internasional.
2. Menjunjung tinggi etika kedokteran Indonesia.
3. Mampu memberikan pelayanan kardiovaskular yang berkualitas
khususnya untuk memenuhi kebutuhan di Indonesia.
4. Mampu menentukan, merencanakan, dan melaksanakan penelitian
secara mandiri.

4.21

Program Studi Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi


Tujuan Pendidikan
Tujuan Umum

24
Pendidikan Dokter Spesialis IKFR ialah bagian dari pendidikan dokter
spesialis yang akan menghasilkan Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Fisik
dan Rehabilitasi (Sp-KFR) yang mempunyai:
a. Kompetensi profesional sebagai seorang dokter spesialis yang mampu
memberikan pelayanan kesehatan Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi
secara paripurna untuk kemaslahatan masyarakat guna mendorong
daya saing bangsa.
b. Kompetensi akademik sebagai seorang yang mampu menyerap,
meneliti, mengembangkan dan menyebar- luaskan ilmu kesehatan
khususnya Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi sesuai dengan
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan berkolaborasi dan
bersinergi dengan berbagai potensi bangsa.
Tujuan Khusus
Pada akhir pendidikan melalui suatu kurikulum terpadu seorang spesialis
Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi diharapkan :
1. Menjunjung tinggi Kode Etik Kedokteran Indonesia dan Sumpah
Dokter Indonesia.
2. Menerapkan falsafah Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi dalam
konteks rehabilitasi secara menyeluruh dan sejalan dengan sistem
kesehatan nasional.
3. Memiliki sikap, pengetahuan dan keterampilan untuk menanggulangi
masalah-masalah kedokteran fisik dan rehabilitasi, terutama yang
umum terdapat di masyarakat.
4. Mampu mengenal, merumuskan dan menyusun prioritas masalahmasalah rehabilitasi, yang terdapat di lingkungannya baik dimasa
sekarang maupun yang akan datang dan melakukan tindakan-tindakan
yang sesuai untuk memecahkan masalah tersebut dengan
merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi program-program
yang bersifat preventif, kuratif, rehabilitatif berdasarkan keadaan
daerah, aspek-aspek sosial budaya serta sumber daya dan dana yang
tersedia.
5. Mampu mengelola Departemen Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi
sesuai standar pelayanan medik, etika profesi dan etika keilmuan.
6. Mampu melakukan penelitian dan mempublikasikannya.
7. Mampu meningkatkan dan mengembangkan diri melalui pengalaman
belajar dengan berkolaborasi dan bersinergi dengan berbagai potensi
bangsa.
8. Memahami sistim pendidikan dan mampu mendidik tenaga medik,
paramedik dan nonmedik dalam bidang Ilmu Kedokteran Fisik dan
Rehabilitasi.

25
5.

Program Pendidikan Pascasarjana


Program Pendidikan Pascasarjana Fakultas Kedokteran terdiri dari
Program Magister dan Program Doktor

5.1

Program Magister
Program Magister yang dikelola di bawah lingkungan Fakultas Kedokteran
Universitas Padjadjaran bertujuan untuk memberikan pengalaman studi
menuju ke arah keahlian akademik. Program Magister menyediakan
berbagai Program Studi. Di Fakultas Kedokteran Unpad telah tersedia 3
(tiga) Program Studi yang telah memperoleh Izin Penyelenggaraan dari
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan Nasional,
yaitu : 1) Program Studi Ilmu Kedokteran Dasar, 2) Program Studi Ilmu
Kesehatan Masyarakat, dan 3) Program Studi Kebidanan.
Tujuan Pendidikan
Program Magister Fakultas Kedokteran Unpad didirikan dengan tujuan
untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kualifikasi sebagai berikut:
1. Mampu menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
dalam bidang kesehatan dengan cara menguasai dan memahami
teori-teori yang mutakhir, serta pendekatan, metode, kaidah-kaidah
ilmiah dan penerapannya.
2. Mampu memecahkan permasalahan di bidang keahliannya melalui
kegiatan penelitian dan pengembangan berdasarkan kaidah ilmiah.
3. Mampu mengembangkan kinerja profesionalnya yang ditunjukkan
dengan ketajaman analisis permasalahan, dan kepaduan pemecahan
masalah.
5.1.1

Program Studi Magister Ilmu Kedokteran Dasar

Tujuan Pendidikan
Tujuan utama Program Studi Magister Ilmu Kedokteran Dasar :

1. Menghasilkan Magister sebagai cendekiawan yang profesional


dan memahami berbagai aspek biologi molekuler sebagai
landasan
ilmu
kedokteran
dasar
untuk
mengatasi
permasalahan kesehatan nasional dan global.
2. Menghasilkan Magister yang mampu beradaptasi dengan
kemajuan IPTEK dan mampu menjawab permasalahan
kesehatan baik nasional maupun global.
3. Menghasilkan Magister yang mampu melaksanakan Research
and Development (R&D), sehingga dapat meningkatkan
perolehan HKI nasional.
4. Menghasilkan Magister yang inovatif dan tetap berpegang
teguh pada etika dan moral.

26

5.1.2 Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat


Tujuan Pendidikan
Menghasilkan tenaga ahli yang berkualitas, berdedikasi tinggi dan
memiliki komitmen untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
5.1.3 Program Studi Magister Kebidanan
Tujuan Pendidikan
Tujuan utama Program Studi
Magister Ilmu Kebidanan adalah
pengembangan tenaga bidan yang mampu melaksanakan upaya
pelayanan kebidanan yang berkualitas tinggi untuk mewujudkan
paradigma sehat yang:
1. Mampu mendidik bidan menjadi sumber daya manusia yang
berkualitas sesuai dengan kebutuhan masyarakat
2. Mampu menjalankan kebijakan pendayagunaan karier bidan yang
terpola selaras dengan wewenangnya
3. Mampu melakukan kolaborasi dengan Masyarakat terinstitusi
(stakeholder) dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
bidan guna memecahkan masalah kesehatan ibu dan anak di
Indonesia
4. Mampu melakukan pengintegrasian sumber-sumber daya manusia
dan perangkat keras untuk pengelolaan suatu unit kerja atau aktivitas
yang berkaitan dengan pelayanan, pendidikan, dan penelitian
5. Mampu secara langsung melakukan analisis ilmu kebidanan yang
dikembangkan dari kasus-kasus khusus sebagai bagian dari
konsentrasi program
6. Memiliki kemampuan khusus dalam bidang manajerial klinik kebidanan
secara mandiri
7. Mampu melakukan penelitian dalam bidang kebidanan dengan
menggunakan metode ilmiah yang tepat dan teruji
5.2

Program Pendidikan Doktor


Tujuan Pendidikan
Untuk mencapai Visi dan Misi tersebut, maka Pendidikan Program Doktor
mempunyai tujuan yaitu:
a. Menghasilkan lulusan Doktor yang memiliki kemampuan menguasai
aspek biomolekular dalam aplikasi ilmu kedokteran/kesehatan modern
b. Mengembangkan konsep baru di bidang ilmu kedokteran melalui
penelitian unggulan tingkat lanjut secara mandiri, multisipliner, dan
terintegrasi profesional

27

D. KOMPETENSI LULUSAN PROGRAM STUDI


Setelah lulus dari program studi, mahasiswa diharapkan memiliki pengetahuan
dan ketrampilan sesuai dengan kompetensi yang ditetapkan program studinya :
1. Program Studi D4 Kebidanan
Pendidikan Program Studi D4 Kebidanan menghasilkan lulusan yang mampu
memiliki kompetensi berikut :
D.1. Kompetensi Utama Lulusan
a. Care Provider
Menjadi Bidan yang memiliki kemampuan memberikan asuhan kebidanan
secara efektif, efisien, aman dan holistik dengan memperhatikan aspek
budaya terhadap wanita dalam daur siklus kehidupannya pada kondisi
normal, dapat melakukan deteksi dini pada keadaan patologi, dalam
melakukan penanganan awal kasus kegawatdaruratan serta kolaborasi dan
rujukan berdasarkan standar praktik kebidanan dan kode etik profesi.
a. Community Leader
Menjadi Bidan yang mempunyai kemampuan untuk dapat menjalin
kerjasama dengan profesi lain, baik secara tim maupun lintas sektor serta
dapat memberdayakan masyarakat dalam upaya peningkatan kesehatan
ibu dan anak dengan menggunakan prinsip partnership sesuai dengan
kewenangan dan lingkup praktik bidan.
a. Communicator
Menjadi Bidan yang memiliki kemampuan berkomunikasi secara efektif
dengan perempuan, keluarga, masyarakat, sejawat dan profesi lain dan
efisien baik secara lisan maupun tulisan atau melalui media elektronik
dengan mengutamakan kepentingan pasien dan keilmuan dalam upaya
peningkatan derajat kesehatan ibu dan anak.
b. Decision Maker
Menjadi Bidan yang mempunyai kemampuan dalam mengambil keputusan
klinik dalam asuhan kebidanan kepada individu, keluarga dan masyarakat
secara mandiri maupun melalui kemitraan yang bermartabat.
a. Manager
Menjadi bidan yang mempunyai kemampuan mengelola pelayanan
kebidanan dalam tugas secara mandiri, kolaborasi (team), selain itu memiliki
kemampuan dalam melakukan penjaminan mutu dalam layanan kebidanan.
D.2. Kompetensi Pendukung
Applied Researcher
a) Menjadi bidan yang memiliki kemampuan dalam melakukan investigasi,
berupa penelitian terapan dalam bidang kesehatan baik secara mandiri
maupun kelompok yang bertujuan untuk memberikan solusi atas berbagai
permasalahan di bidang kebidanan secara praktis untuk kemaslahatan
masyarakat dengan pendekatan kemandirian belajar sepanjang hayat.

28
2. Program Pendidikan Sarjana Kedokteran
2.1

Program Studi Sarjana Kedokteran


Kompetensi
Kompetensi Utama Lulusan
Memiliki pengetahuan dasar ilmiah, keterampilan klinik dasar, dan
profesionalisme yang baik dalam konteks permasalahan kesehatan,
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi nilai moral,
etika kedokteran dan humanisme, serta mampu untuk mengembangkan
diri melalui proses pembelajaran sepanjang hayat.
Kompetensi Pendukung Lulusan
1. Memiliki dasar ilmiah dalam pengelolaan masalah kesehatan individu,
keluarga dan masyarakat yang sering ditemui secara menyeluruh,
holistik dan berkelanjutan dalam tatanan pelayanan kesehatan primer.
2. Menerapkan prinsip-prinsip dasar ilmu biomedis, klinis, serta
epidemiologi dalam pembahasan masalah kesehatan.
3. Membekali keterampilan pemeriksaan klinis dasar yang akan
dilakukan di berbagai sarana pelayanan kesehatan primer.
4. Menerapkan nilai moral, etika kedokteran dan humanisme dalam
melaksanakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
5. Mengetahui dan mempraktikkan aspek komunikasi yang efektif
dengan penderita, keluarga, masyarakat dan tenaga profesi
kesehatan lainnya.
6. Meningkatkan kemampuan lulusan dalam mengakses, menelaah
secara kritis, dan mengelola informasi kedokteran dan kesehatan
dalam rangka memelihara kemampuan belajar sepanjang hayat.
7. Melakukan penelitian kedokteran / kesehatan.
Kompetensi Lainnya/Pilihan Lulusan
a) Motivation
Memiliki motivasi untuk mengembangkan ilmu kedokteran dan
melanjutkan program pendidikan baik akademik maupun
pendidikan profesi dokter (Having motivation to develop medical
sciences and pursue further academic or professional education).
b) Attitude
Memiliki sikap untuk meningkatkan dan mengembangkan diri di
bidang akademik maupun profesi dokter yang sesuai dengan etika
profesi, prinsip moralitas dan norma agama (Having attitude
towards personal improvement and development academically and
in medical profession according to medical ethics, morality and
religious value) .
c)
Skills

29

d)

e)

3.

Memiliki keterampilan dalam komunikasi dan klinis dasar yang


dapat dipraktikkan di berbagai sarana pelayanan kesehatan primer
(Having a proficient communication and clinical skills to be
implemented in various primary health care settings).
Ability
Memiliki kemampuan untuk mengelola permasalahan kesehatan
pada individu, keluarga dan masyarakat sesuai dasar ilmiah yang
mutakhir, serta mengakses, menelaah secara kritis dan mengelola
informasi kedokteran dan kesehatan dalam rangka memelihara
kemampuan belajar sepanjang hayat (Having ability to apply
scientific background in managing health problem in individual,
familty and community settings and possess ability in accessing,
critically appraise and manage medical and health information to
maintain life long learning)
Knowledge
Memiliki pengetahuan dalam bidang biomedis, klinis, perilaku dan
epidemiologi secara terintegrasi dalam konteks pelayanan
kesehatan yang paripurna (promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif)
(Having sufficient and solid integrated knowledge in biomedical
sciences, clinical, behavioral and epidemiology within the context of
comprehensive health services (promotive, preventive, curative and
rehabilitative).

Program Studi Profesi Dokter (PSPD)

Untuk menghasilkan lulusan dokter yang memiliki kompetensi mumpuni sehingga


kelak dapat memberikan pelayanan kesehatan optimal, maka kompetensi yang
harus dikuasai oleh setiap dokter, meliputi:
1. Profesionalitas yang luhur
2. Mawas diri dan pengembangan diri
3. Komunikasi efektif
4. Pengelolaan informasi
5. Landasan ilmiah ilmu kedokteran
6. Keterampilan klinis
7. Pengelolaan masalah kesehatan
Kurikulum dan metode yang dirancang selain untuk mencapai tujuan
pendidikan, juga untuk memberikan kompetensi bagi lulusan PSPD dalam hal:
a) Mengelola masalah-masalah kesehatan individu, keluarga, dan masyarakat
yang sering ditemui secara menyeluruh, holistik, dan berkelanjutan dalam
tatanan pelayanan kesehatan primer (to manage professionally common
health problems at individual, family and community level in a comprehensive,
holistic, and continuous manner within the primary health care (PHC)
settings).
b) Menerapkan prinsip-prinsip dasar ilmu biomedik, klinik, dan perilaku, serta
epidemiologi dalam praktik profesi kedokteran (to apply principles of basic

30

c)
d)
e)
f)

g)
h)

biomedical, clinical, behavioral sciences, and epidemiology in the practice of


medical profession).
Melakukan pemeriksaan klinik dasar di berbagai sarana pelayanan kesehatan
primer (to perform basic clinical skills proficiently at the primary health care
settings).
Melakukan komunikasi yang efektif dengan pasien, keluarga, masyarakat,
dan tenaga profesi kesehatan lainnya (to communicate effectively with patient,
family, community, and other health professionals).
Menjadi tenaga profesional yang berpegang pada nilai-nilai etik, moral, dan
agama (to be ethical, moral, and religious professional).
Mengakses, menelaah secara kritis, dan mengelola informasi kedokteran dan
kesehatan dalam rangka memelihara kemampuan belajar sepanjang hayat (to
access, critically appraise, and manage medical and health information to
maintain his/her lifelong learning concern and capacity).
Melakukan penelitian kedokteran/kesehatan untuk meningkatkan kemampuan
tugas profesionalnya (to conduct medical/health research to improve his/her
professional task).
Menjadi tenaga profesional yang berkembang secara mandiri, yang sadar diri,
serta mampu memelihara diri dan mengembangkan profesinya (to be selfaware, self-care, and self-developed professional).

4. Program Pendidikan Dokter Spesialis


Kompetensi
Kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap dokter spesialis untuk
menjalankan tugas profesi sebagai dokter spesialis, adalah :
a) Motivation
Memiliki motivasi untuk melaksanakan tugas profesi dokter spesialis
yang profesional, berbudi luhur, dan bermoral yang mampu berkompetisi
secara nasional dan regional.
b) Attitude
Kewajiban Umum:
1. Menjunjung tinggi, menghayati, dan mengamalkan Sumpah
Dokter.
2. Melakukan profesinya menurut ukuran yang tertinggi
3. Tidak boleh dipengaruhi pertimbangan keuntungan pribadi.
4. Tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan etik.
5. Berhati-hati dalam mengumumkan / menerapkan setiap
penemuan
teknik/pengobatan
baru
yang
belum
diuji
kebenarannya.
6. Memberi keterangan/pendapat yang dapat dibuktikan
kebenarannya.
7. Mengutamakan kepentingan masyarakat..

31
8. Dalam bekerja sama dengan pejabat di bidang kesehatan/bidang
lain/masyarakat harus ada rasa saling pengertian.

c)

d)

Kewajiban Dokter Terhadap Penderita:


1. Mengingat akan kewajibannya melindungi hidup makhluk insani.
2. Tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan
keterampilannya untuk kepentingan penderita.
3. Memberi kesempatan kepada penderita untuk senantiasa dapat
berhubungan dengan keluarga dan penasihatnya.
4. Wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang
seorang penderita.
5. Wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas
kemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain
bersedia/mampu memberikannya.

Kewajiban Dokter terhadap Teman Sejawat:


1. Memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin
diperlakukan.
2. Tidak boleh mengambil alih penderita dari teman sejawat tanpa
persetujuannya.

Kewajiban Dokter terhadap Diri Sendiri:


1. Memelihara kesehatannya supaya dapat bekerja dengan baik.
2. Senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan setia
kepada cita-citanya yang luhur.
Skills
1. Kompetensi Klinik (Clinical Competency)
Menguasai berbagai kemampuan prosedur diagnostik, protokol
terapi, ramalan prognostik yang berdasarkan bukti nyata (evidenced
based), pembekalan kemampuan IQ (Intelligence Quotient).
2. Kompetensi Etik (Ethical Competency)
Pembekalan peningkatan EQ (Emotional Quotient), Merupakan seni
yang tergantung dari cara bagaimana kemampuan klinik yang sudah
dikuasai disampaikan kepada yang membutuhkan secara etis
dengan niat yang baik, ucapan yang ramah, sopan, dan gerakan fisik
yang menyenangkan.
3. Kompetensi Manajerial (Managerial Competency)
3.1. Sikap bertanggung jawab dalam melakukan tugas:
a. Menjaga kelengkapan, keabsahan, keamanan rekam medis
yang
mencakup data
klinis, laboratorium, pencitraan,
hasil konsultasi, dan informed consent
b. Kemampuan mengelola unit pelayanan; Poliklinik, ruang
rawat jalan, dll.
Ability

32
1.

e)

5.

Menunjukkan rasa tanggung jawab dalam pengamalan ilmu


Kedokteran dan Kesehatan sesuai dengan kebijakan Pemerintah,
Sistem Kesehatan Nasional, dan Pancasila.
2. Menunjukkan wawasan yang luas dalam bidangnya sert
keterampilan dan sikap ilmiah yang baik, sehingga mampu
memahami dan memecahkan masalah kedokteran secara ilmiah
dan dapat mengamalkan ilmu kedokteran Dan kesehatan kepada
masyarakat sesuai dengan bidang keahliannya secara optimal.
3. Menentukan, merencanakan, serta melaksanakan pendidikan dan
penelitian secara mandiri dan mengembangkan ilmunya ke tingkat
profesional atau akademik yang lebih tinggi.
4. Mengembangkan sikap pribadi sesuai dengan etik ilmu dan etik
profesi.
Knowledge
Memiliki pengetahuan dalam bidang biomedis, klinis, perilaku dan
epidemiologi secara terintegrasi dalam konteks pelayanan kesehatan
spesialistis yang paripurna (promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif).

Program Pascasarjana

5.1. Program Magister (S2)


a. Mampu menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
dalam bidang kesehatan dengan cara menguasai dan memahami
teori-teori yang mutakhir, serta pendekatan, metode, kaidah-kaidah
ilmiah dan penerapannya.
b. Mampu memecahkan permasalahan di bidang keahliannya melalui
kegiatan penelitian dan pengembangan berdasarkan kaidah ilmiah.
c. Mampu mengembangkan kinerja profesionalnya yang ditunjukkan
dengan ketajaman analisis permasalahan, dan kepaduan
pemecahan masalah.
5.1.1. Program Studi Magister Ilmu Kedokteran Dasar
a. Menghasilkan Magister sebagai cendekiawan yang profesional dan
memahami berbagai aspek biologi molekuler sebagai landasan ilmu
kedokteran dasar untuk mengatasi permasalahan kesehatan
nasional dan global.
b. Menghasilkan Magister yang mampu beradaptasi dengan kemajuan
IPTEK dan mampu menjawab permasalahan kesehatan baik
nasional maupun global.
c. Menghasilkan Magister yang mampu melaksanakan Research and
Development (R&D), sehingga dapat meningkatkan perolehan HKI
nasional.
d. Menghasilkan Magister yang inovatif dan tetap berpegang teguh
pada etika dan moral.

33

5.1.2 Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat

Melakukan penelitian dan mengembangkan bidang Ilmu Kesehatan


Masyarakat dalam spektrum yang luas serta mampu menghubungkan
dengan ilmu lainnya yang relevan.

Merumuskan pendekatan konseptual untuk memecahkan masalah


kesehatan masyarakat dengan cara penalaran ilmiah.

Melakukan kerjasama dengan ahli lain dalam merumuskan pendekatan


multidisiplin untuk memecahkan masalah di bidang ilmunya.

Menunjukkan sikap terbuka, tanggap terhadap perubahan dan kemajuan


ilmu, teknologi dan atau seni tertentu, serta masalah yang dihadapi
masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan bidang kesehatan
masyarakat.

Menunjukkan kesediaan dan kemampuan untuk mengembangkan diri


dan wawasan sebagai ilmuwan.
5.1.3 Program Studi Magister Kebidanan

Mampu mendidik bidan menjadi sumber daya manusia yang berkualitas


sesuai dengan kebutuhan masyarakat

Mampu menjalankan kebijakan pendayagunaan karier bidan yang


terpola selaras dengan wewenangnya

Mampu melakukan kolaborasi dengan masyarakat terinstitusi


(stakeholder) dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
bidan guna memecahkan masalah kesehatan ibu dan anak di Indonesia

Mampu melakukan pengintegrasian sumber-sumber daya manusia dan


perangkat keras untuk pengelolaan suatu unit kerja atau aktivitas yang
berkaitan dengan pelayanan, pendidikan, dan penelitian

Mampu secara langsung melakukan analisis ilmu kebidanan yang


dikembangkan dari kasus-kasus khusus sebagai bagian dari konsentrasi
program

Memiliki kemampuan khusus dalam bidang manajerial klinik kebidanan


secara mandiri

Mampu melakukan penelitian dalam bidang kebidanan dengan


menggunakan metode ilmiah yang tepat dan teruji.
5.2. Program Studi Doktor (S3)

Menghasilkan lulusan Doktor yang memiliki kemampuan menguasai


aspek biomolekular dalam aplikasi ilmu kedokteran/kesehatan modern

Mengembangkan konsep baru di bidang ilmu kedokteran melalui


penelitian unggulan tingkat lanjut secara mandiri, multisipliner, dan
terintegrasi profesional

BAB II

PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI

34

BAB II
PROGRAM STUDI
1. Program Pendidikan Diploma
Program Studi D4 Kebidanan
1.1 Struktur Mata Kuliah
Semester

Mata kuliah

SKS

Humanities
Basic communication skill (BCS)

5
2

Introduction of Midwifery Profession (IMP)

Basic Sciences of Midwifery Skill I (MBS I)

10

II (dua)

Basic Sciences of Midwifery Skill II (MBS II)


Antenatal Care (ANC)

10
11

III (Tiga)

Intranatal Care (INC)


Newborn & Child Care (NBCC)

12
8

Postnatal Care (PNC)


Reproductive Healthand Family Planning (RHFP)

6
9

Midwifery Care Practice 1

Maternal and Neonatal Patology Care (MNPC)


Management, Leadership and Enterpreneurship (MLE)

9
4

The Community Care and enhancing the midwife as an


educator (TCE)

Applied Research
Midwifery Care Practice 2

6
6

Midwifery Final Report (MFR)

Midwifery Care Practice 3

Internship 1
Clinical and Laboratory Skill

8
4

Internship 2

Jumlah SKS

149

I (satu)

IV (Empat)

V (Lima)

VI (Enam)

VII (Tujuh)
VIII
(Delapan)

1.2 Deskripsi Mata Kuliah


1.1.1. Basic Sciences for Midwifery Skill I (BSMS I)
Mata kuliah ini membangun pemahaman mahasiswa mengenai ilmu-ilmu dasar terkait keterampilan bidan
yang meliputi struktur organisasi dan fungsi tubuh manusia, konsep kebutuhan dasar manusia, konsep
sehat dan sakit, kewaspadaan universal, enzim dan koenzim, farmakokinetik dan farmakodinamik.
Membangun keterampilan mahasiswa agar dapat melakukan pencegahan infeksi, pemeriksaan tanda-tanda
vital, pemeriksaan fisik per sistem, handling equipment, teknik dasar penjahitan, perawatan luka operasi,
dan teknik pemberian obat.
2.2.2. Basic Sciences for Midwifery Skill II (BSMS II)
Mata kuliah ini membangun pemahaman mahasiswa mengenai prinsip pemenuhan kebutuhan dasar
manusia meliputi cairan dan elektrolit, nutrisi, rasa nyaman, istirahat dan tidur, ambulasi dan mobilisasi,
kebutuhan psikologis (konsep stres dan adaptasi, kebutuhan siklus hidup wanita pada area psikologisnya,
kehilangan dan kematian), serta pemahaman mengenai struktur dan fungsi organ reproduksi wanita, jenis
pemeriksaan laboratorium dan diagnostik. Membangun keterampilan mahasiswa agar dapat melakukan
pemenuhan kebutuhan dasar manusia pada klien yang membutuhkan bantuan, melakukan pertolongan
pertama pada kecelakaan (P3K) dan bantuan hidup dasar.

35

1) Humanities
Mata kuliah ini membangun kemampuan mahasiswa untuk memahami, menghayati dan mengamalkan
nilai-nilai Pancasila, kaidah agama, dan prinsip etika moral dalam memberikan pelayanan kebidanan.
Membangun pemahaman mengenai sosial budaya masyarakat di Indonesia yang majemuk dan
kompleks, serta pengaruh sosial budaya dalam pelayanan kebidanan dan cara pendekatan sosial
budaya dalam praktik kebidanan di masyarakat. Membangun keterampilan menggunakan bahasa
Indonesia yang baik dan benar dalam berkomunikasi lisan maupun tulisan.
2) Basic Communication Skill (BCS)
Mata kuliah ini membangun pemahaman mahasiswa mengenai konsep dasar komunikasi, prinsip-prinsip
hubungan antar manusia, komunikasi efektif, komunikasi interpersonal dan konseling, strategi
pengambilan keputusan klien. Mahasiswa membangun kemampuan keterampilan inti dalam komunikasi
interpersonal, konseling dalam pelayanan kebidanan.
3) Introduction of Midwifery Profession (IMP)
Mata kuliah ini membangun kemampuan mahasiswa untuk memahami konsep profesi bidan yang
meliputi definisi dan filosofi bidan, sejarah perkembangan pelayanan dan pendidikan kebidanan,
paradigma dan ruang lingkup asuhan kebidanan, peran fungsi bidan, standar profesi bidan, teori dan
model konseptual asuhan kebidanan, manajemen kebidanan, pengembangan karir profesi bidan,
konsep etika dan kode etik bidan, peraturan dan perundang-undangan yang melandasi praktik
kebidanan, refleksi praktik, dan pemasaran sosial jasa asuhan kebidanan.
4) Antenatal Care
Mata kuliah ini membangun pemahaman mahasiswa mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi
kehamilan, proses adaptasi fisiologi dan psikologis serta sosial dalam kehamilan, kebutuhan dasar ibu
hamil, tujuan kunjungan antenatal. Membangun keterampilan mahasiswa untuk memberikan asuhan
pada ibu hamil normal yang berkualitas sesuai tahap perkembangannya, deteksi dini komplikasi pada
setiap trimester kehamilan, komunikasi pada setiap kunjungan ibu hamil dan pendokumentasian asuhan
kehamilan.
5) Intranatal Care
Mata kuliah ini membangun pemahaman mahasiswa mengenai fisiologi persalinan, penilaian holistik
faktor risiko, fisik dan penunjang lainnya pada wanita bersalin, melakukan diagnosis 'ibu bersalin'.
Membangun keterampilan mahasiswa dalam memberikan dukungan dan asuhan pada ibu dalam kala
1, 2, 3 dan 4 persalinan, juga pada neonatus serta melakukan dokumentasi asuhan persalinan.
6) Postnatal Care
Mata kuliah ini membangun pemahaman mahasiswa untuk
memahami faktor-faktor yang
mempengaruhi masa nifas dan menyusui, perubahan fisiologi dan psikologi masa nifas dan menyusui,
kebutuhan dasar masa nifas dan menyusui, konsep dasar asuhan masa nifas dan menyusui, penyulit
dan komplikasi masa nifas dan menyusui. Membangun kemampuan mahasiswa untuk memberikan
asuhan pada ibu masa nifas dan menyusui serta pendokumentasian asuhan masa nifas.
7) Newborn & Child Care (NBCC)
Mata kuliah ini membangun kemampuan mahasiswa dalam memahami konsep bayi baru lahir,
neonatus, bayi dan balita normal, imunisasi, manajemen bayi muda dan manajemen terpadu balita sakit,
neonatus dengan jejas persalinan, neonatus dengan kelainan bawaan dan risiko tinggi, kekerasan
terhadap anak. Membangun kemampuan keterampilan asuhan pada bayi baru lahir, neonatus, bayi dan
balita serta pendokumentasian asuhan.
8) Reproductive Health and Family Planning (RHFP)
Mata kuliah ini membangun kemampuan mahasiswa dalam memahami konsep kesehatan reproduksi,
gender dalam kesehatan reproduksi perempuan, isu-isu kesehatan perempuan, masalah kesehatan
reproduksi yang sering terjadi pada siklus reproduksi perempuan, deteksi dini gangguan kesehatan
reproduksi, konsep pelayanan Keluarga Berencana (KB), etika profesi, peran & fungsi bidan dalam
melakukan asuhan kesehatan reproduksi & KB, hukum kesehatan pada pelayanan kesehatan
reproduksi & KB. Membangun keterampilan dalam asuhan kebidanan, promosi kesehatan, komunikasi
& konseling dalam bidang kesehatan reproduksi & KB.
9) Maternal and Neonatal Patology Care (MNPC)
Mata kuliah ini membangun kemampuan pada mahasiswa untuk memiliki pengetahuan dan

36

keterampilan pada aspek patofisiologi obstetri dan neonatal, tanda dan gejala, deteksi dini, penanganan
awal kegawatdaruratan, penatalaksanaan komplikasi maternal neonatal, aplikasi prinsip pencegahan
infeksi, melakukan komunikasi efektif, melakukan konseling, memberikan asuhan kebidanan sesuai
kewenangan melalui pendekatan manajemen kebidanan dengan memperhatikan aspek bio-spikososial
dan kultural, serta pengelolaan kasus rujukan secara komprehensif.
10) Applied Research
Mata kuliah ini membangun pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam mengidentifikasi,
menganalisis dan menyusun langkah pemecahan masalah kesehatan wanita, bayi, balita, anak dan
remaja. Lingkup masalah dapat dimulai dari level individu hingga sistem kesehatan. Mahasiswa
mendapatkan kesempatan yang besar untuk dapat mengaplikasikan berbagai metode penelitian,
melakukan kajian berdasarkan bidang ilmu yang relevan dengan masalah yang diangkat. Dalam mata
kuliah ini dibangun pemahaman kajian statistik kesehatan sederhana yang sesuai konteks penelitian.
Keterampilan pendukung untuk melakukan pencarian dan pemahaman literatur mutakhir merupakan
komponen penting dalam mata kuliah ini.
11) Management, Leadership and Enterpreneurship
Mata kuliah ini membangun kemampuan pada mahasiswa agar memiliki pengetahuan dan pemahaman
konsep pada pelayanan kebidanan atau kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan
konsep kepemimpinan, kewirausahaan, manajemen dalam pengelolaan sumber daya mulai dari
merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, melaporkan dan mengembangkan serta program
menjaga mutu di pelayanan kebidanan atau kegaitan pemberdayan masyarakat secara mandiri maupun
dalam tim, bersikap profesional, kreatif, inovatif, mampu melakukan komunikasi efektif dan advokasi
dengan tujuan meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak.
12) The Community Care and enhancing the midwife as an educator (TCE)
Mata kuliah ini membangun kemampuan pada mahasiswa untuk berperilaku profesional, beretika,
bermoral, tanggap terhadap nilai sosial budaya, berkomunikasi efektif, melakukan advokasi, kreatif,
inovatif sehingga dapat memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif sesuai kewenangan dan
membantu masyarakat di komunitas melalui upaya promotif, preventif, serta pemberdayaan masyarakat
dalam menyelesaikan masalah kesehatan berdasarkan hasil kegiatan pendataan serta analisis masalah
kesehatan di komunitas.
13) Midwifery Care Practice 1-2-3
Mata kuliah ini membangun kemampuan pada mahasiswa untuk memberikan asuhan kebidanan
komprehensif dalam mengelola kasus berbasis bukti sesuai kewenangan, secara mandiri, kolaborasi
dalam tim, dengan menerapkan prinsip-prinsip pencegahan infeksi, komunikasi ekfektif, konseling dan
promosi kesehatan pada ibu hamil, bersalin, nifas, bayi baru lahir normal, dan balita sehat yang didasari
sikap profesional, berkomunikasi efektif, melalui pendekatan manajemen kebidanan dengan
memperhatikan bio-psikososial kultural.
14) Midwifery Final Report
Mata kuliah ini membangun kemampuan pada mahasiswa untuk dapat membuat laporan yang disusun
secara sistematik menurut kaidah penulisan karya ilmiah mulai dari penulisan abstrak, latar belakang,
pendahuluan sampai penarikan kesimpulan saran hingga penulisan daftar pustaka.
15) Clinical and Laboratory Skill
Mata kuliah ini membangun kemampuan mahasiswa untuk memiliki keterampilan klinik yang bersifat
prosedural maupun interpretasinya. Pemahaman yang dibangun termasuk dalam merencanakan,
memilih, hingga melaksanakan sendiri metode pemeriksaan klinik dan laboratorik sederhana dan
melakukan intrepretasi hasil pemeriksaan tersebut. Dalam mendukung kemampuan berpikir kritis dalam
pengambilan keputusan klinik,
mahasiswa mempelajari konsep-konsep dasar manfaat berbagai
pemeriksaan penunjang tingkat lanjut antara lain NST, USG, EKG dan CTG, IVA Tes dan Pap Smear.
16) Internship I
Mata kuliah ini membangun kemampuan kepada mahasiswa untuk memberikan pelayanan kebidanan
secara komprehensif dan mandiri, bersikap profesional, tanggap terhadap sosial budaya setempat,
berkomunikasi efektif, melakukan advokasi, kreatif, inovatif dalam membangun pemberdayaan keluarga
melalui pendekatan konsep ilmu perilaku, ilmu kesehatan masyarakat, manajemen pelayanan
kebidanan, untuk membantu pemecahan masalah kesehatan keluarga (bayi, balita, anak, remaja,
wanita dewasa dan ibu), meningkatkan upaya promosi dan pencegahan penyakit untuk meningkatkan
derajat kesehatan keluarga.

37

17) Internship II
Mata kuliah ini membangun kemampuan mahasiswa dalam meningkatkan pemberdayaan masyarakat
yang didukung sikap profesional, kreatif dan inovatif, serta tanggap terhadap masalah sosial budaya
setempat. Didukung kemampuan komunikasi efektif mahasiswa dapat
melakukan advokasi,
mengorganisasi upaya
pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan konsep ilmu perilaku, ilmu
kesehatan masyarakat, manajemen pelayanan kebidanan. Pemberdayaan masyarakat merupakan salah
satu kunci keberhasilan memutus masalah kesehatan di komunitas sehingga titik berat difokuskan pada
upaya promosi kesehatan dan pencegahan masalah kesehatan, melakukan kajian pemanfaatan sistem
kesehatan di tingkat primer untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
2.3. Metode Pembelajaran
1) Mini Lecture
Kegiatan ini adalah tatap muka interaktif dengan para pakar untuk memfasilitasi proses pembelajaran
mandiri mahasiswa. Kegiatan ini bersifat terstruktur dan terjadual, yang dilaksanakan berdasarkan
kebutuhan mahasiswa. Pada kegiatan ini dosen dapat memberikan tugas individu atau tugas
kelompok.
2) Tutorial
Tutorial adalah kegiatan tatap muka berkelompok 8-12 mahasiswa dengan seorang tutor. Alokasi waktu
yang tersedia adalah 150 menit setiap pertemuan. Pendekatan belajar berawal dari 'masalah' yakni
dengan metode problem based learning. Pada umumnya kegiatan tutorial mahasiswa diberikan tugas
individu atau tugas kelompok yang harus dibahas bersama.
3) Praktikum laboratorium
Kegiatan praktikum terdiri dari praktikum laboratorium yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman
teori, membangun keterampilan prosedur dan interpretasi pemeriksaan penunjang sederhana tertentu
atau keterampilan penunjang lainnya. Kegiatan ini dilaksanakan di ruang laboratorium kebidanan,
anatomi, biomedik dan komputer. Kegiatan praktikum keterampilan klinik bertujuan meningkatkan
keterampilan melakukan prosedur klinik, yang dilaksanakan mulai dari penggunaan model manusia di
laboratorium keterampilan klinik dan dibina secara berkesinambungan hingga masa praktik lapangan.
Kegiatan praktik laboratorium dan keterempilan klinik dilaksanakan
dalam kelompok kecil (8-12
mahasiswa) dengan pembimbing seorang dosen.
4) Seminar
Dilaksanakan pada mata kuliah tertentu dengan mengundang narasumber yang ahli dibidangnya
dengan tujuan untuk mendukung kompetensi mahasiswa. Seminar juga termasuk mahasiswa dalam
memperesentasikan hasil karya tulis.
5) Praktik Lapangan
Pada waktu tertentu mahasiswa diwajibkan untuk mengikuti praktik lapangan di beberapa lokasi
misalnya Rumah Sakit, Puskesmas, Pos bersalin desa , Posyandu, klinik atau lokasi bidan praktik
mandiri. Pengalaman ini berguna untuk menambah pengetahuan dan pengalaman dari dunia kerja
sebenarnya yang akan dihadapi lulusan. Praktik lapangan membuka kesempatan bagi mahsiswa untuk
secara aktif mempelajari berbagai macam kasus untuk meningkatkan kompetensi masing-masing.
6) Karya Tulis Ilmiah
Karya tulis ilmiah merupakan kesempatan yang sangat baik bagi mahasiswa untuk menunjukkan
kompetensinya dalam penelitian terapan. Sebelum penelitian tersebut dilaksanakan maka mahasiswa
membuat usulan penelitian melalui proses konsultasi dengan dua orang pembimbing. Topik penelitian
bersifat terbuka dan diminati mahasiswa, namun tetap berada dalam bidang yang sesuai dengan
wewenang bidan dan menunjang pencapaian standar kompetensi bidan Indonesia. Mahasiswa sangat
dianjurkan untuk memilih topik penelitian yang ada dalam pohon penelitian dosen, namun prosedur
usulan penelitian tegap dilaksanakan untuk mengukur pengetahuan yang dimiliki mahasiswa terkait topik
tersebut.
2.3. Proses pendidikan yang terintegrasi dengan pengabdian masyarakat dan penelitian
Sesuai dengan tujuan dan target pencapaian kompetensi lulusan Prodi D4 Kebidanan FK Unpad, maka
proses pendidikan bidan diintegrasikan dengan pengabdian masyarakat di wilayah Kampus Jatinangor. Aspek
pengabdian masyarakat merupakan fokus utama sesuai tujuan program pendidikan agar masyarakat dapat
memperoleh maslahat yang setinggi tingginya dari keberadaan institusi pendidikan, sehingga masyarakat
menjadi subyek kegiatan yang perlu dilayani secara optimal oleh sivitas akademika.
Kegiatan pengabdian masyarakat merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi peserta kegiatan
praktik lapangan agar mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu dan keterampilannya langsung pada subyek target
pelayanan. Jenis kegiatan praktik lapangan sangat bervariasi dalam ragam dan tingkat kesulitannya, sehingga
pengaturan alokasi mahasiswa dilakukan sesuai dengan tahapan pendidikannya. Seluruh mahasiswa yang
turut serta dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini harus sudah dinyatakan lulus dalam ujian praktik
laboratorium sesuai tahap pendidikannya, demikian pula jenis kegiatan yang boleh dilakukan mahasiswa tersebut

38

dalam pengabdian masyarakat akan disesuaikan.


Kegiatan pengabdian masyarakat ini juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melakukan
identifikasi masalah kesehatan di wilayah Jatinangor, mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan minat
meneliti untuk mencari pemecahan masalah yang langsung dapat dirasakan manfaatnya untuk masyarakat
setempat maupun untuk pengembangan ilmu kebidanan.
Dalam kegiatan pengadian masyarakat dan penelitian ini mahasiswa tetap bekerja di bawah bimbingan
dosen atau instruktur klinik. Pada pelaksanaan kegiatan tersebut Prodi D4 Kebidanan FK Unpad bekerjasama
dengan Prodi Sarjana Kedokteran, Fakultas Kedokteran Gigi Unpad, Program Pasca Sarjana Kedokteran
Unpad, Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Puskesmas Jatinangor termasuk para staf kesehatannya yang
berada serta anggota masyarakat di wilayah Kecamatan Jatinangor. Sangat terbuka untuk pengembangan
kegiatan ini bersama Fakultas lain maupun institusi lain. Dalam setiap tahun ajaran dibuka kesempatan untuk
memperoleh hibah penelitian maupun pengabdian masyarakat yang bersumber dari Kementrian Pendidikan
Nasional, Universitas dan Fakultas maupun instansi swasta hingga badan/organisasi luar negeri.

2.4. Evaluasi Hasil Belajar


Ujian
1) Jenis Ujian :
a.
Formatif: Merupakan evaluasi diri yang dilaksanakan secara berkala selama berlangsungnya
program dan dapat diperhitungkan dalam penentuan nilai akhir menurut proporsi yang ditetapkan
program studi. Secara teratur setiap tahun program studi melaksanakan progress test yang
merupakan ujian formatif internal program studi.
b. Sumatif: merupakan ujian penentuan nilai akhir yang dilaksanakan pada periode ujian yang telah
ditentukan.
Bentuk ujian sumatif adalah sebagai berikut:
1. Ujian teori tertulis dengan soal pilihan ganda berbasis kasus (SPGBK)
2. Ujian tertulis uraian (UTU)
3. Ujian keterampilan klinik (UKK)
4. Ujian lisan analisis kasus (ULAK)
c.
Berdasarkan dinamika proses pendidikan kebidanan, maka pada ujian mata kuliah maupun
semester dapat dipilih satu, dua atau lebih kombinasi dari bentuk ujian sebagai berikut :
1. Ujian teori,
bisa dalam bentuk SPGBK atau UTU , atau kombinasi kedua bentuk soal
tersebut.
2. Ujian lisan berupa ULAK atau dikenal dengan Students Objective Oral Case Analysis (SOOCA)
yaitu ujian
kasus yang harus dianalisis mahasiswa untuk menilai pemahaman ilmu,
kemampuan berpikir kritis dan kemampuan mengaplikasikan pemahaman mahasiswa dalam
mengelola masalah dalam kasus.
3. Ujian keterampilan klinik UKK dapat dilakukan melalui uji keterampilan klinik objektif terstruktur
(UKOS) atau dikenal dengan
Objective Structured Clinical Examination (OSCE), yakni ujian
keterampilan prosedur klinik dan atau interpretasinya di tingkat praktik laboratorik. Pada tingkat
praktik lapangan ujian dilaksanakan dalam bentuk ujian keterampilan klinik mini (UKMINI) dan
ujian kepuasan pengguna (UKP). UKMINI merupakan modifikasi mini clinical examination
(mini C-ex), sedangkan UKP merupakan modifikasi 360 degree clinical evaluation.
2)

Waktu Pelaksanaan.
Ujian teori mengikuti pola sebagai berikut
a. Ujian Tengah Semester (UTS)
Merupakan ujian yang dilaksanakan pada tengah semester/ blok mata kuliah sesuai dengan
jadual yang ditentukan, berupa SPGBK dan atau UTU.
b. Ujian Akhir Semester (UAS)
Merupakan ujian yang dilaksanakan pada akhir semester/ blok mata kuliah sesuai dengan jadual
yang ditentukan, berupa SPGBK dan atau UTU, ditambah dengan ULAK.
c. Ujian perbaikan
Merupakan ujian untuk memperbaiki nilai akhir bagi mahasiswa yang memenuhi ketentuan tertentu
dan dilaksanakan pada waktu yang ditentukan.
Mahasiswa diberi kesempatan mengikuti ujian perbaikan dengan ketentuan sebagai berikut:
a.
Bagi mahasiswa yang mendapat nilai D atau E bersifat wajib
b. Bagi mahasiswa yang sudah mendapat nilai B+, B atau C diperbolehkan mengikuti ujian

39

c.

d.

perbaikan, dengan catatan:


1. Jumlah nilai B+, B dan/atau C yang akan diperbaiki tidak boleh melebihi 4 mata ajar, diluar
mata ajar yang mendapat nilai D dan E.
2. Apabila mendaftar untuk ujian perbaikan nilai, akan tetapi pada waktunya tidak hadir tanpa
alasan yang sah, maka nilainya menjadi E.
3. Bagi mahasiswa yang mengikuti ujian perbaikan maka nilai SPGBK dan UTU terbaik yang
akan diambil, sedangkan nilai paling tinggi pada ujian perbaikan ULAK adalah C (56).
4. Ujian perbaikan harus mendapat persetujuan dari dosen wali.
Untuk perbaikan ujian tulis SPGBK dan UTU dilaksakanakan pada tiap akhir
semester
setelah nilai akhir diumumkan sebelum memasuki semester genap dan sebelum judicium,
kesempatan perbaikan diberikan 1 (satu) kali.
Untuk perbaikan nilai ULAK dilakukan maksimal satu minggu setelah setelah pelaksanaan
ULAK, dan hanya ada satu kesempatan ujian perbaikan ULAK . Nilai ujian perbaikan ULAK
diambil nilai terbaik, dengan ketentuan nilai maksimum C (56).

Ujian susulan dilaksanakan sesegera mungkin untuk mengganti ujian yang ditinggalkan karena sakit atau alasan
lainnya yang sah, yang dibuktikan dengan dukungan dokumen yang sah dan lolos verifikasi prodi.
Ujian susulan paling lambat dilaksanakan pada masa libur antar semester di akhir semester ganjil, sedangkan di akhir
semester genap dilaksanakan paling lambat 7 hari sebelum yudisium semester genap.
Jika hingga batas akhir masa pendaftaran yudisium, mahasiswa yang bersangkutan belum menyelesaikan ujian, maka
pada mata kuliah tersebut dapat dinyatakan gagal.
Ujian keterampilan klinik (UKK)
UKK pada tahap laboratorik diselesaikan pada blok mata kuliah yang bersangkutan, dan tidak selalu mengikuti jadwal
UTS dan UAS. Bentuk ujian adalah UKOS.
Ujian perbaikan UKOS dilaksanakan maksimal dua minggu setelah ujian pertama, dengan tujuan memberikan
kesempatan bagi mahasiswa yang belum lulus untuk berlatih mandiri keterampilan yang dibutuhkan dalam blok
tersebut, mengingat kelulusan ini menjadi syarat untuk dapat mengikuti kegiatan praktik lapangan.
UKK pada tahap praktik lapangan dapat dilakukan sesegera mungkin jika mahasiswa merasa siap dan kompeten
dalam jenis keterampilan yang ditargetkan, sesuai prinsip kurikulum berbasis kompetensi.
Persyaratan jumlah kasus untuk setiap keterampilan klinik yang ditargetkan harus tetap dipenuhi sebelum atau
sesudah ujian, dan dalam kesempatan mana pun selama praktik lapangan yang sesuai.
Bentuk ujian UKK tahap praktik adalah nilai UKMINI atau UKK atau gabungan dari keduanya, yang disesuaikan
dengan kondisi di lapangan.
Ujian ulangan dan ujian susulan dapat dilakukan dalam masa praktik lapangan yang sama, atau pada saat praktik
lapangan berikutnya , jika kondisi lapangan sesuai. Jika hingga akhir masa satu periode praktik lapangan seorang
mahasiswa belum lulus UKK, maka mahasiswa tersebut harus melapor pada koordinator praktik klinik dan preceptor
(mentor) kelompok nya di awal praktik lapangan berikutnya.
PERINGATAN:
Kelulusan UKK berpengaruh pada kelulusan tingkat paket pendidikan yang diambil mahasiswa. Jika pada yudisium
di akhir semester genap tidak memenuhi syarat kenaikan tingkat, maka mahasiswa ybs harus mengulang seluruh
paket pendidikan tersebut di tahun berikutnya.
Kelulusan ujian teori, ujian praktik dan pencapaian target praktik minimal , menjadi persyaratan untuk mendaftar
sebagai peserta ujian kompetensi bidan Indonesia (UKBI), dengan mengikuti ketentuan lain yang berlaku pada saat
pendaftaran peserta UKBI.
Ketentuan ini dapat berubah (dengan terbukanya kemungkinan penambahan syarat ujian tertentu yang dikeluarkan
pihak panitia UKBI, dan diluar wewenang pimpinan Prodi).
Uji Kompetensi Bidan Indonesia (UKBI)
Sesuai ketentuan yang berlaku, mahasiswa kebidanan dapat dinyatakan lulus dalam pendidikan Program Studi
Diploma 4 Kebidanan FK Unpad, apabila yang bersangkutan lulus mengikuti kegiatan Uji Kompetensi Bidan
Indonesia, berdasarkan surat keterangan dari Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia sebagai pemangku otoritas
UKBI tahun 2014-2015.
Bentuk ujian yang dilaksanakan akan sangat tergantung pada ketentuan yang dikeluarkan oleh badan otoritas
UKBI tersebut.
CARA PENILAIAN:
Bobot, Nilai Akhir, Huruf Mutu dan Angka Mutu
Bobot tiap macam penilaian yang digunakan tergantung pada bobot soal/tugas yang diberikan Dosen Pengampu
Mata Kuliah.
Selain itu sistem penilaian menggunakan penilaian acuan patokan (Criterion Reference):

40

Skor*

Huruf mutu

Angka Mutu

90 NA 100

3,60 AM 4

80 NA 90

A-

3,20 AM < 3,60

75 NA 80

B+

3,00 AM < 3,20

68 NA 75

2,72 AM < 3,00

56 NA 68

C+

2,24 AM < 2,72

a.
b.

45 NA 56

1,80 AM < 2,24

NA 45

AM < 1,80

90 NA 100

3,60 AM 4

Nilai Kelulusan
Nilai kelulusan setiap mata ajar minimal C.
Pengumuman Hasil Ujian
Hasil ujian diumumkan kepada mahasiswa selambat-lambatnya 14 (empatbelas) hari setelah
pelaksanaan ujian.

Evaluasi Keberhasilan Mahasiswa.


Keberhasilan mahasiswa akan dievaluasi melalui kegiatan yudisium untuk memutuskan apakah seorang
mahasiswa dapat meneruskan ke paket program tahun selanjutnya atau harus mengulang paket program tahun
tersebut atau harus menghentikan studi (dropout).
Yudisium merupakan bagian penting dari kegiatan akademik yang wajib dihadiri oleh seluruh mahasiswa. Bagi
mahasiswa yang tidak menghadiri yudisium tanpa alasan yang sah, nilainya baru akan diumumkan awal semester
berikutnya.
Mahasiswa dapat meneruskan ke tingkat yang lebih lanjut, apabila:
a. Memiliki IPK sekurang-kurangnya 2.00
b. Tidak terdapat huruf mutu E
c. Huruf mutu D tidak melebihi (<) 20% dari beban studi

1.1.1.

Untuk lulus Program Studi D4 Kebidanan (Sarjana Saint Terapan/SST):


a. Lulus semua program/mata kuliah dan tidak ada nilai E
b. Memiliki IPK sekurang-kurangnya 2.00 atau 2,50 atau 2.75
1.1.2. Pedoman Ujian.
Persyaratan Mengikuti Ujian.
Mahasiswa dapat mengikuti ujian bila telah memenuhi syarat administrasi yang telah ditetapkan oleh Universitas
sehingga terdaftar sebagai mahasiswa Unpad.
Mahasiswa mendapat kesempatan satu kali ujian awal dan satu kali ujian perbaikan
bila telah memenuhi
ketentuan mengikuti kegiatan belajar mengajar sebagai berikut:
a. Ujian UKOS, tingkat kehadiran pada praktik keterempilan klinik 100 %.
a. Ujian UTU,SPGBK dan ULAK : tingkat kehadiran pada perkuliahan dan tutorial masing-masing minimal 80%,
dan 100% untuk praktikjm laboratorik.
b. Perhitungan alasan ketidak hadiran yang diterima adalah jika mahasiswa dapat menunjukkan bukti surat
keterangan sakit dari dokter dan lolos verifikasi , atau surat izin dari Pimpinan Fakultas/Ketua Prodi untuk
ketidakhadiran pada kegiatan akademik yang ditinggalkan.
Bagi mahasiswa yang tidak memenuhi butir persyaratan di atas dinyatakan tidak berhak mendapatkan dua
kesempatan ujian (non eligible), melainkan satu kali saja ujian, dan dianggap sebagai ujian remedial.
Pada pelaksanaannya ujian tetap dijalankan pada waktu ujian pertama yang telah ditetapkan, mengingat
pelaksanaan ujian perbaikan sangat tergantung pada ada tidaknya mahasiswa yang membutuhkan ujian
perbaikan tersebut.
Tata Tertib
2.6.1 Tata tertib Umum
1) Berlaku sopan terhadap pengajar, sejawat, petugas dan pasien di lingkungan Fakultas Kedokteran
Universitas Padjadjaran/Instansi Kesehatan/tempat kegiatan belajar mengajar
2) Mematuhi peraturan tata tertib umum Universitas Padjadjaran
3) Tidak diperkenankan membuang sampah sembarangan, harus selalu menjaga kebersihan dan keindahan

41

kampus
Tidak diperkenankan merokok di lingkungan kampus, asrama, rumah sakit dan di setiap kegiatan
kemahasiswaan.
5) Tidak diperkenankan membawa dan meminum minuman keras
6) Tidak diperkenankan membawa dan menggunakan obat-obatan psikotropika/narkoba
7) Tidak diperkenankan membawa senjata api, senjata tajam, petasan, dan bahan mudah meledak.
8) Tidak diperkenankan merusak, mencorat-coret dan mengurangi untuk kepentingan pribadi fasilitas belajar
mengajar dan inventaris di kampus/tempat kegiatan belajar mengajar
9) Menggunakan pakaian sesuai dengan aturan
10) Saat meninggalkan ruangan kelas, diharuskan :

4)

Mematikan lampu dan AC


Membersihkan papan tulis dan ruangan
Merapikan kursi dan ruangan
Mengembalikan kertas-kertas dan buku pada tempatnya
2.6.2 Tata Tertib Pakaian Mahasiswa
1) Seragam
a. Pengertian
Pakaian seragam adalah pakaian yang dikenakan mahasiswa dalam kegiatan perkuliahan, praktik di
laboratorium, rumah sakit maupun komunitas, ujian praktik, sidang karya tulis dan kegiatan resmi
akademik.
b. Tujuan Penggunaan
Tujuan penggunaan pakaian seragam adalah menumbuhkan kedisiplinan, rasa persatuan dan
kesatuan, saling menghargai dan tidak ada perbedaan sosial antar mahasiswa Program Studi
Diploma Kebidanan tanpa menghalangi proses pembelajaran.
c. Ketentuan Seragam Mahasiswa
1) Proses Pembelajaran di Kelas (Kampus); menggunakan pakaian bebas sopan, rapih dan bersih.
Tidak diperkenanan menggunakan kaos dan denim. Tidak transparan dan tidak ketat. Jika
menggunakan rok panjang rok 10 cm di bawah lutut. Jika menggunakan celana panjang, panjang
celana sebatas tumit kaki. Panjang baju minimal 10 cm di bawah pinggang, tidak bermodel leher
rendah, berlengan minimal lengan atas. Apabila memakai baju muslimah wajib sesuai syariah
yang berlaku (tidak menggunakan cadar). Menggunakan name tag selama berada di lingkungan
kampus. Rambut rapih, jika melebihi bahu harus diikat. Tidak menggunakan perhiasan yang
berlebihan. Menggunakan sepatu formal tertutup, tinggi hak tidak melebihi 5 cm. Kuku tidak boleh
panjang dan diwarnai. Rambut rapih. Tidak menggunakan perhiasan yang berlebihan.
Menggunakan sepatu tertutup.
2) Proses Pembelajaran di Laboratorium (kampus);
1) Lab activity :
Menggunakan baju bebas, rapih dan bersih. Menggunakan jas lab lengan panjang dan panjang
selutut jika kegiatan lab activity menggunakan reagen atau bahan-bahan kimia. Jas lab selalu
dikancingkan dan dipakai hanya di lingkungan Laboratorium FK Unpad. Memakai tanda
pengenal yang telah ditentukan. Menggunakan sepatu resmi tertutup.
1) Skills Lab :
Menggunakan seragam Putih sesuai dengan model yang telah ditentukan, bersih dan rapih,
disertai tanda pengenal (sesuai dengan tingkat yang telah dilalui mahasiswa), menggunakan
harnet bagi mahasiswa yang tidak menggunakan kerudung, bagi mahasiswa yang menggunakan
kerudung diwajibkan menggunakan kerudung berwarna putih dengan polet pita biru diatas sesuai
dengan model yang telah ditentukan.
3) Proses Pembelajaran di Klinik (lahan praktik);
Menggunakan seragam Putih sesuai dengan model yang telah ditentukan bersih dan rapih,
disertai tanda pengenal (sesuai dengan tingkat yang telah dilalui mahasiswa), menggunakan
harnet dan kap putih dengan polet biru yang telah ditentukan bagi mahasiswa yang tidak
menggunakan kerudung, bagi mahasiswa yang menggunakan kerudung diwajibkan berkerudung
putih dengan polet pita biru diatas sesuai model yang telah ditentukan, dan menggunakan sepatu
putih tertutup sesuai yang telah ditentukan.
Saat dinas malam menggunakan seragam Pink (baju OK) dan kerudung putih polet pita biru, bagi
yang tidak berkerudung menggunakan kap putih dengan polet biru.
4) Proses Pembelajaran di komunitas; menggunakan seragam Putih Biru sesuai dengan model
yang telah di tentukan bersih dan rapih, disertai tanda pengenal (sesuai dengan tingkat yang
telah dilalui mahasiswa), menggunakan harnet bagi mahasiswa yang tidak menggunakan

42

kerudung, bagi mahasiswa yang menggunakan kerudung di wajibkan menggunakan kerudung


putih dengan polet pita biru diatas sesuai dengan model yang telah ditentukan, dan
menggunakan sepatu hitam tertutup sesuai dengan yang telah ditentukan.
5) Kegiatan seminar atau kegiatan formal lainnya mahasiswa wajib menggunakan jas almamater,
menggunakan seragam biru putih atau berpakaian bebas sopan dan rapi (tergantung dari jenis
kegiatan), menggunakan sepatu tertutup, tidak memakai asesoris atau perhiasan yang
berlebihan.
1.1.1. Tata tertib Mahasiswa pada Perkuliahan
(1) Yang dimaksud dengan perkuliahan di sini adalah tutorial, mini lecture, skill lab, lab activity.
(2) Mahasiswa diwajibkan menggunakan pakaian seragam lengkap beserta atribut, rapi dan bersih
dengan sepatu berwarna hitam tertutup. Untuk kegiatan laboratorium diwajibkan menggunakan
jas lab.
(3) Mahasiswa diwajibkan hadir 15 menit sebelum perkuliahan berlangsung. Jika ada mahasiswa
yang terlambat masuk pada jam perkuliahan berlangsung diwajibkan lapor pada bagian
pendidikan.
(4) Bagi mahasiswa yang terlambat maka tidak diperkenankan untuk mengikuti perkuliahan, kecuali
dengan alasan yang jelas dan dapat diterima oleh dosen yang hadir pada saat kegiatan tersebut.
(5) Mahasiswa yang karena keterlambatannya tidak diperkenankan mengikuti kegiatan belajar
mengajar oleh dosen yang bersangkutan maka dianggap tidak hadir.
(6) Mahasiswa harus mematuhi aturan berpakaian yang memenuhi etika berpakaian mahasiswa.
(7) Setiap mengikuti kegiatan belajar mengajar, mahasiswa harus mengisi daftar hadirmahasiswa
dan dosen.
(8) Selama perkuliahan berlangsung dilarang keluar masuk kelas tanpa izin dosen yang
bersangkutan.
(9) Selama saat perkuliahan berlangsung mahasiswa dilarang mengaktifkan telpon seluler atau alat
komunikasi elektronik lainnya.
(10) Tidak diperbolehkan makan atau minum pada saat perkuliahan berlangsung.
(11) Mahasiswa harus mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum mengikuti kegiatan belajar
mengajar dan melaksanakan setiap tugas yang diberikan yang terkait dengan kegiatan belajar
mengajar yang diikuti. Mahasiswa diwajibkan menjaga suasana kondusif dan mampu bekerja
sama satu dengan yang lainnya pada saat tutorial berlangsung.
serta berkomunikasi dengan baik dan saling menghargai sesama teman.
(12) Mahasiswa diwajibkan membawa dan menggunakan buku sumber (Text Books) dan berperan
aktif dalam kegiatan tutorial, sedangkan untuk kegiatan laboratorium wajib membawa
modul/manual.
(13) Mahasiswa yang tidak hadir karena alasan yang dapat dibenarkan, seperti: sakit, terkena
musibah, mendapat tugas dari fakultas atau universitas, atau alasan lain yang dapat
dipertanggungjawabkan yang telah diajukan dan mendapat persetujuan sebelumnya, dapat
meninggalkan kegiatan pendidikan setelah menyampaikan keterangan tertulis dari pihak
berwenang (dokter atau pimpinan Fakultas). Surat keterangan sakit dari dokter harus diserahkan
ke SBP paling lambat 2 (dua) hari kerja setelah ketidakhadiran, sedangkan untuk surat
keterangan dari pimpinan Fakultas paling lambat 1 (satu hari) kerja sebelum ketidak hadiran.
(14) Kegiatan pendidikan yang ditinggalkan dengan alasan yang sah ini dapat digantikan dengan
mengikuti kegiatan susulan yang sama atau kegiatan lainnya seperti pemberian tugas
berdasarkan kebijakan dosen terkait. Khusus untuk kegiatan skills lab, mahasiswa harus
mendapat kesempatan untuk dilatih pada waktu yang telah disepakati segera setelah mahasiswa
tersebut hadir kembali.
Batas minimal kehadiran untuk perkuliahan adalah 80%, kecuali laboratirium adalah 100%.
Ketidakhadiran sebanyak 20% harus didasari oleh alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
2.6.4 Tata tertib mahasiswa pada saat Praktik Klinik atau Praktik Komunitas
a.
Mahasiswa hadir sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh pihak akademik atau pihak lahan praktik
b. Hadir 15 menit sebelum jadwal yang ditentukan, jika mahasiswa hadir terlambat lebih 15 menit maka
mahasiswa dianggap tidak praktik.
c.
Jumlah kehadiran praktik adalah 100%, apabila mahasiswa tidak dapat hadir dikarenakan sakit,
mahasiswa wajib mengganti sebanyak waktu yang ditinggalkan setelah mendapatkan ijin dari
preseptor atau koordinator praktik.
d. Mahasiswa yang tidak hadir karena alasan yang dapat dibenarkan, seperti: sakit, terkena musibah,
mendapat tugas dari fakultas atau universitas, atau alasan lain yang dapat dipertanggungjawabkan
yang telah diajukan dan mendapat persetujuan sebelumnya. Surat keterangan sakit dari dokter harus
diserahkan ke SBP dan instruktur klinik paling lambat 2 (dua) hari kerja setelah ketidakhadiran dengan
sebelumnya mahasiswa memberitahukan ketidakhadirannya pada preseptor dan instruktur lapangan.
e.
Mahasiswa tidak diperkenankan untuk menukar jadwal dinas yang telah ditentukan tanpa ijin dari

43

f.
g.
h.
i.
j.
k.

preseptor atau instruktur lapangan, jika hal tersebut dilakukan maka pada hari tersebut mahasiswa
dianggap tidak dinas.
Mematuhi peraturan yang telah ditentukan oleh pendidikan dan lahan praktik
Mahasiswa mengisi daftar hadir saat datang dan pulang
Setiap asuhan kebidanan yang dilakukan harus didokumentasikan dalam bentuk SOAP
Mahasiswa yang merusakkan/menghilangkan alat yang dipakai untuk praktik karena kelalaiannya,
diwajibkan untuk mengganti alat tersebut sesuai dengan aslinya.
Membina hubungan baik dengan keluarga besar, pimpinan dan karyawan di lingkungan rumah sakit
serta mahasiswa lain di lahan praktik.
Apabila terjadi pelanggaran terhadap tata tertib yang berlaku akan diberikan sanksi oleh pihak
akademik sesuai dengan berat ringannya pelanggaran.

1.1.1. Tata tertib Mahasiswa pada saat Ujian


a.
Setiap mahasiswa diwajibkan menggunakan seragam perkuliahan seragam putih biru beserta papan
nama (name tag) dan aktribut lengkap.
b. Mahasiswa diwajibkan membawa Kartu Tanda Mahasiswa yang masih berlaku.
c.
Mahasiswa diwajibkan menggunakan sepatu tertutup berwarna hitam.
d. Seluruh mahasiswa wajib hadir 15 menit sebelum ujian dilaksanakan, dan tidak diperkenankan
memasuki ruang ujian sebelum ujian dimulai.
e.
Peserta ujian tidak diperkenankan untuk mengaktifkan alat komunikasi (handphone) dan
menggunakannya selama ujian berlangsung.
f.
Peserta ujian diharapkan membawa perlengkapan alat tulis yang cukup.
g. Bagi mahasiswa yang terlambat datang tidak akan diberikan tambahan waktu pengerjaan soal ujian.
h. Seluruh mahasiswa wajib mengisi daftar hadir yang akan diedarkan oleh pengawas ujian. Bagi
mahasiswa yang tidak bisa hadir wajib melapor kepada koordinator ujian.
i.
Seluruh mahasiswa wajib memeriksa kelengkapan soal yang dibagikan dan segera melapor kepada
pengawas apabila mendapatkan soal yang tidak lengkap.
j.
Seluruh mahasiswa wajib mencantumkan nomor soal pada lembar jawaban masing-masing (kecuali
untuk lembar jawaban komputer).
k. Seluruh mahasiswa wajib menjaga ketertiban selama pelaksanaan ujian dan dilarang keras untuk
bekerja sama maupun membuka catatan / diktat.
l.
Bagi mahasiswa yang melakukan pelanggaran terhadap butir k diatas, maka kepadanya akan
dikenakan sanksi.
m. Adapun sangsi yang dimaksudkan pada butir l diatas akan ditentukan oleh dosen mata kuliah yang
bersangkutan setelah sebelumnya disampaikan identitas mahasiswa yang melakukan pelanggaran
tersebut.
n. Selama ujian berlangsung mahasiswa diperkenankan ijin keluar ruang ujian setelah melapor kepada
pengawas.
o. Bagi mahasiswa yang telah selesai mengerjakan soal dipersilahkan untuk meninggalkan ruang ujian
dan menyimpan lembar soal berikut lembar jawaban di meja masing-masing.
p. Seluruh mahasiswa wajib menghentikan pengerjaan soal apabila waktu yang disediakan telah habis.
q. Khusus untuk ujian OSCE :
1) Seluruh mahasiswa diperkenankan memasuki ruang ujian setelah mendapatkan perintah (Suara Bel).
2) Seluruh mahasiswa diberi waktu untuk membaca soal terlebih dahulu dalam waktu maksimal 2 menit.
3) Seluruh mahasiswa diberi waktu mengerjakan tindakan sesuai dengan perintah soal dalam waktu maksimal
10 menit.
4) Seluruh mahasiswa akan diberikan waktu istirahat yang sama dalam waktu 10 menit.
5) Seluruh mahasiswa wajib menjaga ketertiban selama pelaksanaan ujian dan dilarang keras untuk bekerja
sama maupun membuka catatan / diktat, atau berkomunikasi dengan mahasiswa lainnya.
6) Bagi mahasiswa yang melakukan pelanggaran terhadap butir 12diatas, maka kepadanya akan dikenakan
sanksi.
7) Adapun sangsi yang dimaksudkan pada butir 13 diatas akan ditentukan oleh dosen mata kuliah yang
bersangkutan setelah sebelumnya disampaikan identitas mahasiswa yang melakukan pelanggaran tersebut.
8) Selama ujian berlangsung mahasiswa tidak diperkenankan ijin keluar ruang ujian.
9) Seluruh mahasiswa wajib menghentikan semua tindakan kegiatan ujian praktek apabila waktu yang
disediakan telah habis dan segera pindah ke station selanjutnya.
10) Jumlah station telah disosialisasikan pada seluruh mahasiswa yang akan melakukan ujian praktik, dan
pernah melakukan simulasi sebelumnya.
11) Jumlah station ditentukan berdasarkan kompetensi Bidan.
Khusus untuk ujian SOOCA
1) Seluruh mahasiswa diperkenankan memasuki ruang stetril 10 menit sebelum pelaksanaan ujian.
2) Mahasiswa yang memasuki ruang ujian sesuai dengan jadwal
3) Sesuai dengan urutan jadwal ujian mahasiswa diberi waktu untuk membaca, menganalsis dan
membuat mind maping sesuai dengan kasus yang diberikan dalam waktu 15 menit di ruang

44

4)

5)
6)

7)
8)

9)

analasis
Sesuai dengan urutan jadwal ujian mahasiswa setelah selesai pada ruang analsis, memasuki
ruang presentasi dan tanya jawab, mahasiswa mempresentasikan hasil mind maping yang dibuat
dan akan diberikan pertanyaan oleh penguji.
Penguji berjumlah 2 orang.
Seluruh mahasiswa wajib menjaga ketertiban selama pelaksanaan ujian dan dilarang keras untuk
bekerja sama maupun membuka catatan / diktat, atau berkomunikasi dengan mahasiswa
lainnya.
Bagi mahasiswa yang melakukan pelanggaran terhadap butir 6diatas, maka kepadanya akan
dikenakan sanksi.
Adapun sangsi yang dimaksudkan pada butir 7 diatas akan ditentukan oleh dosen mata kuliah
yang bersangkutan setelah sebelumnya disampaikan identitas mahasiswa yang melakukan
pelanggaran tersebut.
Selama ujian berlangsung mahasiswa tidak diperkenankan ijin keluar ruang ujian.

Khusus untuk Ujian Akhir Program (UAP)


1) Pelaksanaan UAP pada akhir semester 8
2) Seluruh mahasiswa wajib mengikuti UAP
3) Bentuk UAP adalah OSCE dan SOOCA
4) Seluruh mahasiswa wajib menjaga ketertiban selama pelaksanaan ujian dan dilarang keras untuk
bekerja sama maupun membuka catatan / diktat ketika uji wawasan berlangsung.
5) Seluruh mahasiswa wajib mengetahui materi uji pada OSCE dan SOOCA
6) Mahasiswa dapat mengikuti UAP jika seluruh kompetensi pada semester 7 dan 8 telah terpenuhi, tidak
memiliki nilai D, dan nilai sikap yang baik yang dinilai oleh dosen pembimbing dan dosen wali
7) Jadwal UAP akan diumumkan 1 minggu sebelum pelaksanaan ujian
8) Bagi mahasiswa yang melakukan pelanggaran terhadap butir 4 diatas, maka kepadanya akan
dikenakan sanksi.
9) Adapun sangsi yang dimaksudkan pada butir 8 diatas akan ditentukan oleh dosen penguji
bersangkutan setelah sebelumnya disampaikan identitas mahasiswa yang melakukan pelanggaran
tersebut.
10) Selama ujian berlangsung mahasiswa tidak diperkenankan ijin keluar ruang ujian.
1.2. Sidang Karya Tulis Ilmiah
a.
Mahasiswa sudah mendaftarkan diri ke Bagian Pendidikan Program Kebidanan dan menyerahkan KTI
yang telah disetujui pembimbing sebanyak 4 eksemplar satu minggu sebelum ujian sidang
dilaksanakan.
b. Sudah hadir ditempat sidang 15 menit sebelum waktu ujian
c.
Berpakaian seragam kebidanan berwarna putih biru.
d. Memasuki ruang sidang setelah dipersilahkan oleh panitia sidangdan duduk pada tempat yang telah
disediakan dengan membawa naskah KTI , alat tulis dan media yang diperlukan (Laptop &LCD).
e.
Sidang ujian dibuka oleh ketua sidang dan mahasiswa dipersilahkan untuk mempresentasikan KTI
dengan ringkas, singkat, jelas dan padat dalam waktu 10 menit.
f.
Sistematika yang dipresentasikan secara berurutan adalah Judul KTI, Latar Belakang Penelitian,
Tujuan Penelitian, Kerangka Pemikiran, Metodologi Penelitian, Hasil dan Pembahasan, Simpulan
dan Saran.
g. Diskusi diawali dengan para penguji masing-masingselama 10 menit, dilanjutkan dengan para
pembimbing dalam waktu masing-masingselama 5 menit.
h. Selama diskusi mahasiswa harus menjawab dengan jelas dan tuntas menggunakan bahasa Indonesia
yang baik dan benar serta mencatat hasil diskusi dan rekomendasi.
i.
Sidang ujian ditutup oleh ketua sidang dan mahasiswa dipersilahkan untuk meninggalkan ruangan serta
menerima lembar perbaikan dari penguji dan pembimbing.
j.
Perbaikan harus diselesaikan selambat-lambatnya dalam waktu 1 (minggu) minggu sejak tanggal ujian
sidang dan telah ditandatangani oleh pembimbing dan ketua program studi pada lembar pengesahan.
1.1. Sistem Pengajuan Undur Diri dari Program Studi D4 Kebidanan
Bagi mahasiswa yang ingin mengundurkan diri dari Program Studi D4Kebidanan FK Universitas Padjadjaran ke
Prodi di Perguruan Tinggi lain berlaku ketentuan sebagai berikut:
a.
Surat permohonan Pengunduran Diri dari mahasiswa ybs. Yang disetujui oleh Orang Tua/Wali,
diketahui oleh Dosen Wali/TPBK dan Pimpinan Program Studi
b. Surat permohonan Pengunduran Diri atas nama mahasiswa dari Pimpinan Fakultas Asal (Dekan)
kepada Pimpinan Universitas (Rektor/PR 1).
c.
Surat Keputusan Pengunduran Diri mahasiswa dari Pimpinan Universitas (Rektor/PR 1).
d. Transkrip Akademik mahasiswa ybs selama studi di Universitas Padjadjaran yang ditandatangani oleh
Pimpinan Fakultas (Dekan / PD 1)

45

1.2. Sanksi Akademik


Sanksi akademik dapat berupa peringatan akademik, skorsing, dan pemutusan studi
a. Sanksi akademik
a. Jika jumlah kehadiran mahasiswa pada perkuliahan < 80% maka mahasiswa tersebut tidak
diizinkan untuk mendapatkan remedial ujian MCQ dan ujian SOOCA.
b. Jika jumlah kehadiran pada perkuliahan laboratorium < 100% maka mahasiswa tidak diizinkan
untuk mengikuti ujian remedial OSCE.
c.
Jika jumlah kehadiran praktik klinik atau praktik komunitas < 100% tanpa alasan yang dapat
dipertanggungjawabkan maka mahasiswa dinyatakan tidak lulus pada praktik tersebut.
b. Peringatan Akademik
Peringatan akademik berdasar Edaran No.21148/UN6.PR1/PP/2012 diberikan kepada :
1. Mahasiswa Program Diploma yang pada akhir semester dua dan semester-semester sesudahnya
memiliki IPK 2,00 dan atau jumlah sks kurang dari 50% dari total SKS yang seharusnya ditempuh.
2. Mahasiswa yang melalaikan kewajiban administratif selama 2 semester secara berturut-turut
(registrasi dan KRS).
3. Peringatan akademik dikeluarkan oleh Kepala Program Studi dengan tembusan ke Dekan atas
dasar kelalaian/kesengajaan dari tindakan yang dilakukan oleh mahasiswa
c.
Skorsing
Skorsing berarti pemberhentian sementara kegiatan akademik atas pelanggaran yang dilakukan oleh
mahasiswa. Skorsing ditetapkan oleh Dekan.
Skorsing dikenakan pada mahasiswa yang terbukti melakukan pelanggaran :
1) Etika moral
a) Mencuri, perkelahian, pengeroyokan, pengrusakan, penganiayaan.
b) Berjudi,minum minuman keras (Miras).
c) Melakukan aktivitas yang tidak etis/melanggar norma sosial dan agama (berpelukan, berciuman,
pornoaksi, dan sejenisnya).
d) Perselingkuhan.
e) Pornografi.
f) Menyebarluaskan gambar, foto, dan video porno.
g) Pemalsuan
2) Etika profesi (malpraktik, mencuri obat dan benda lain milik pasien).
3) Melakukan pelanggaran etika akademik, misalnya: plagiat makalah, laporan dan tugas akhir, dan
pemalsuan tanda tangan
4) Lama skorsing: ditentukan oleh pimpinan (Dekan Fakultas, Senat Fakultas, Kaprodi)
d. Pemutusan Studi
a) Pada akhir semester kedua memiliki ;
1) Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dibawah 2,00 dan/atau ;
2) Tabungan kredit (jumlah mata kuliah yang memiliki huruf mutu D keatas) tidak mencapai 24
SKS.
b) Pada semester ketiga memiliki ;
1) Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dibawah 2,00 dan/atau ;
2) Tabungan kredit (jumlah mata kuliah yang memiliki huruf mutu D keatas) tidak mencapai 36
SKS.
c) Melebihi batas studi kumulatif yang ditetapkan.
1.3. Satuan Penilaian Kegiatan Kemahasiswaan
Dalam proses pencapaian kualitas sumber daya manusia, terutama dalam bidang perguruan tinggi, sangat
dibutuhkan kerja sinergis antara bidang akademik dan kemahasiswaan, antara keduanya harus saling
berkolaborasi dan tidak dipandang sebagai sesuatu yang saling kontra produktif. Kegiatan akademik dan
kemahasiswaan seharusnya dapat saling mendukung student body mahasiswa dalam mencapai eksistensinya
sebagai bagian dari masyarakat. Untuk mengawal mahasiswa dalam pencapaian tujuan tersebut, maka
dipandang perlu adanya suatu acuan yang dapat digunakan mahasiswa sebagai pedoman dalam melakukan
kegiatan kemahasiswaan.
Tuntunan abad 21, dimana mahasiswa di tuntut harus punya kemampuan (Way of thinking) berpikir
kreatif, kritis,memecahkan masalah, mengambil keputusan dan pembelajaran sepanjang hayat (Way Of
Working) kemampuan berkomunikasi dan berkolaborasi (Tool For Working) penguasaan ICT dan melek
informasi dan (Skill For Living In The World) memiliki tanggung jawab pribadi dan sosial. 7 soft skill yang
penting untuk dikembangkan oleh mahasiswa adalah communication skills, Thinking skill and problem solving
skills, Team work force, Long life learning and information management, Entepreneur skills, Ethic/moral/and
profesionalism and Leadership skill.
Program Diploma Kebidanan FK Unpad di dalam upayanya memfasilitasi kegiatan-kegiatan

46

kemahasiswaan yang diwadahi secara internal dan eksternal memotivasi dan mendukung mahasiswa untuk
belajar berorganisasi, merencanakan dan melaksanakan kegiatan. Mahasiswa diharapkan berpartisipasi aktif
dalam berbagai kegiatan dan lomba-lomba yang bersifat keilmuwan, olahraga, seni budaya, kemasyarakatan
baik di dalam dan luar negeri. Lembaga Kemahasiswaan (LK), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan semua
bentuk kepanitiaan merupakan sarana bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan, mengekspresikan diri dan
berprestasi melalui kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan bakat, minat, kemampuan serta keterampilan yang
ingin dicapai. Melalui kegiatan kemahasiswaan, para mahasiswa dilatih dalam pengembangan soft skill yang
sangat dibutuhkan di dunia kerja kelak.
Untuk mendorong dan memotivasi mahasiswa berproses dalam kegiatan, maka segala bentuk kegiatan
ekstrakurikuler akan diberikan penghargaan dalam bentuk sistem poin kegiatan kemahasiswaan yang diberi
nama Satuan Penilaian Kegiatan Kemahasiswaan (SPKK).
a. Tujuan SPKK
1. Meningkatkan soft skill, kecerdasan dan keterampilan mahasiswa
2. Meningkatkan partisipasi dan prestasi mahasiswa dalam bidang penalaran, bakat minat, seni budaya dan
olahraga.
3. Memperkuat kepribadian dan karakter mahasiswa
4. Meningkatkan semangat kepedulian dan kebangsaan
b. Sasaran Kegiatan SPKK
1. Bentuk kegiatan ekstrakurikuler mahasiswa harus benar-benar mencerminkan visi misi Program Diploma
Kebidanan FK Unpad.
2. Kegiatan ekstra kurikuler merupakan salah satu esensi usaha tanpa pamrih dalam menyelenggarakan dan
meningkatkan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
3. Seluruh kegiatan kemahasiswaan harus dapat dinikmati secara merata oleh seluruh mahasiswa Program
Diploma Kebidanan FK Unpad dan harus dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin bagi pencapaian
tujuan Pendidikan Tinggi khususnya di Fakultas Kedokteran Unpad.
c. Fungsi SPKK
1. Sebagai alat pencatatan dan penilaian keaktifan mahasiswa selama masa perkuliahan yang dapat di
cetak dalam bentuk transkip SPKK untuk berbagai keperluan mahasiswa dan alumni.
2. Sebagai alat salah satu prasyarata untuk mengikuti acara wisuda
3. Sebagai salah satu syarat mendapatkan predikat wisudawati aktif berprestasi.
d. Ketentuan Pemberian Bobot Pada Kegiatan Ekstrakurikuler
Mahasiswa mendapatkan poin SPKK bila :
a. Terlibat dalam kepengurusan Lembaga Kemahasiswaan baik di dalam maupun di luar kampus sesuai
dengan persetujuan Ketua Program Studi.
a. Terlibat
dalam
kepanitiaan
kegiatan
kemahasiswaan
dalam
lingkungan
Program
Prodi/Fakultas/Universitas tingkat regional/ nasional/internasional.
b. Berpartisipasi sebagai peserta dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan di dalam lingkungan
Prodi/Fakultas/Universitas tingkat regional/ nasional/internasional.
c.
Berpartisipasi sebagai peserta maupun pembicara dalam kegiatan-kegiatan (seminar, lomba,
pameran, atau lainnya) yang diadakan di dalam dan diluar kampus Program Diploma Kebidanan FK
unpad baik sebagai utusan Prodi/Fakultas/Universitas tingkat regional/ nasional/internasional. maupun
atas inisiatif sendiri (dengan menunjukan sertifikat/piagam sebagai bukti keikutsertaan).
d. Terlibat dalam kegiatan-kegiatan antar mahasiswa sebagai utusan atau mewakili Program Diploma
Kebidanan FK unpad dibuktikan dengan surat tugas untuk kegiatan tersebut.
e.
Terlibat
dalam
kegiatan
PKM
(Program
Kreativitas
Mahasiswa)
baik
tingkat
Fakultas/Universitas/Nasional.
e.

Kategori SPKK Kegiatan Mahasiswa


1. Pembinaan awal kemahasiswaan
Merupakan kegiatan yang diadakan untuk mahasisawa baru pada awal masuk perkuliahan
(tahun pertama). Beberapa kegiatan pembinaan kemahasiwaan yang diselenggarakan oleh
Universitas/Fakultas/Prodi baik berupa kegiatan OPPEK, MABIM dan kegiatan pembinaan
lainnya. Hal ini diartikan bahwa semua peserta kegiatan-kegiatan diatas mendapatkan SPKK
kategori pembinaan awal kemahasiswaan.
2. Organisasi dan kepemimpinan
Merupakan kegiatan yang terkait dengan kepengurusan Lembaga Kemahasiswaan dan
kepanitiaan dimana diharapkan mahasiswa mengalami proses pembelajaran di bidang organisasi
dan kepemimpinan baik tingkat Universitas/Fakultas/Prodi. Hal ini diartikan bahwa semua peserta
kegiatan-kegiatan diatas mendapatkan SPKK kategori organisasi dan kepemimpinan.
3. Penalaran

47

f.

Merupakan kegiatan yang terkait dengan penalaran dan / atau keilmuwan. Hal ini ditetapkan
melingkupi kegiatan-kegiatan temu ilmiah/ seminar/ pelatihan/ Workshop/ simposium/ kongres/
konferensi/ Lomba penalaran/ Penelitian dan penulisan karya tulis. Hal ini diartikan bahwa semua
peserta kegiatan-kegiatan diatas mendapatkan SPKK kategori Penalaran.
4. Bakat minat
Merupakan kegiatan terkait dengan seni budaya, olah raga dan bakat minat lainnya. Hal ini
diartikan bahwa semua peserta UKM/Club dan kegiatan lepasa bakat minat lainnya mendapatkan
SPKK kategori Bakat-Minat.
5. Pengabdian masyarakat
Merupakan kegiatan yang terkait dengan pengabdian masyarakat, dilakukan oleh Lembaga
Kemahasiswaan Prodi/Fakultas/Universitas
Ketentuan SPKK
a. SPKK Minimal
Jumlah poin SPKK yang harus dicapai oleh setiap mahasiswa adalah 45 poin, dengan
pembagian :

b.

c.

g.

Pembinaan awal kemahasiswaan


Organisasi dan Kepemimpinan
Penalaran
Bakat Minat
Pengabdian Masyarakat
Penghargaan Predikat mahasiswa Aktif Berprestasi
Memiliki IPK > 3.00
Memiliki SPKK minimal 80 poin, dengan ketentuan :
Pembinaan awal kemahasiswaan
Organisasi dan kepemimpinan
Penalaran
Bakat Minat
Pengabdian Masyarakat
Memiliki surat keterangan yang menyatakan bahwa mahasiswa yang bersangkutan telah memenuhi
persyaratan minimal penilaian/SPKK yang diperoleh/diterbitkan oleh Ketua Program Diploma
Kebidanan FK Unpad.
Ketentuan dalam pemberian poin
Ketentuan lebih jelas dalam pemberian poin diatur dalam petunjuk teknis SPKK Prodi D4 Kebidanan
FK.Unpad. Aturan pemberian poin tersebut telah mengacu pada aturan universitas.
Reward
Bagi mahasiswa aktif dalam kegiatan kemahasiswaan, pada akhir studi akan diberikan surat
rekomendasi untuk mencari pekerjaan yang akan di tanda tangani oleh Ketua Program Studi.

48

2. Program Pendidikan Dokter


Program Studi Kedokteran
Program Studi Kedokteran adalah Program Strata Satu (S1). Program Strata S1 (Sarjana) Kedokteran di FK Unpad
adalah jenjang pendidikan akademik yang mempunyai beban studi kumulatif sebesar 144 sks termasuk KKNM PMD.
Masa studi kumulatif antara 7 sampai 14 semester.
Beban Studi dinyatakan dalam jumlah sks yang harus dikumpulkan oleh mahasiswa dalam satu semester. Beban
Studi mahasiswa setiap semester adalah beban yang harus diambil berdasarkan pedoman penentuan beban studi
mahasiswa persemester yang telah ditentukan oleh Program Studi.
1.1 Metoda Pembelajaran
1. Perkuliahan
Perkuliahan ini berupa kuliah interaktif, berlangsung selama 50 menit, yang merupakan kuliah pakar untuk
memfasilitasi proses pembelajaran mandiri mahasiswa. Kegiatan ini bersifat terstruktur dan terjadwal, serta
dapat ditambah berdasarkan kebutuhan mahasiswa.
2. Tutorial
Tutorial dilaksanakan selama 150 menit setiap pertemuan, dengan menggunakan pendekatan problem-based
learning (PBL) yang terintegrasi pada kelompok kecil mahasiswa (8 15 orang).
3. Praktikum
Kegiatan praktikum terdiri dari praktikum laboratorium biomedis, praktikum keterampilan klinis (clinical skill)
dan untuk mata ajar Community Reserach Program (CRP) dilakukan praktikum komputer.
Praktikum di laboratorium biomedis bertujuan untuk meningkatkan pemahaman teori yang diperoleh saat
perkuliahan/tutorial sedangkan praktikum keterampilan klinis dan praktikum komputer bertujuan untuk
meningkatkan keterampilan pada bidang tersebut.
4. Seminar
Seminar dilaksanakan pada mata kuliah BHP, CRP dan PHOP termasuk Seminar Usulan Penelitian untuk
skripsi.
5. Tugas
Pada beberapa mata kuliah mahasiswa diwajibkan untuk membuat intisari buku teks dan melakukan telaah
kritis atas jurnal ilmiah, serta menyusun rencana dan laporan kegiatan, atau tugas mandiri lainnya.
6. Kerja lapangan
Merupakan salah satu metode yang digunakan untuk kegiatan ekstramural, Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan
kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Kegiatan ini dapat dilaksanakan di sarana pelayanan
kesehatan, industri ataupun di masyarakat.
7. Penelitian akhir (skripsi/minor thesis)
Merupakan program wajib dengan topik pilihan (elective project) sesuai minat mahasiswa yang dilakukan
secara perorangan atau berkelompok yang dilaksanakan pada semester tujuh. Pada program ini mahasiswa
diharuskan menulis karya tulis skripsi/minor thesis sebagai hasil penelitiannya (dapat berupa penelitian
laboratorik, klinik atau lapangan). Hasil penelitian ini wajib dipublikasikan ke dalam jurnal ilmiah.
1.2 Evaluasi Hasil Belajar
1.2.1 Ujian dan Cara penilaian
1)

Ujian

a.

Jenis Ujian:
Formatif: merupakan evaluasi diri yang dilaksanakan secara berkala selama berlangsungnya program dan
tidak diperhitungkan dalam penentuan nilai akhir.
Secara teratur setiap tahun program studi melaksanakan Progress test yang merupakan ujian formatif internal
program studi. Ujian ini wajib diikuti oleh semua mahasiswa.
Secara teratur program studi melaksanakan tes formatif untuk mengevaluasi kemampuan mahasiswa pada
pertengahan semester/sistem.
Sumatif: merupakan ujian penentuan nilai akhir yang dilaksanakan pada periode ujian yang telah ditentukan.
Bentuk ujian sumatif adalah sebagai berikut:
(1) Ujian tulis pilih ganda (Multiple Choice Question)
(2) Ujian lisan (Oral)
(3) Ujian praktek

b.

Pelaksanaan Ujian

49

Pelaksanaan ujian untuk setiap program adalah sebagai berikut::


a.

Ujian MCQ bisa berbentuk monodisiplin atau Multidisciplinary Examination (MDE) yang dilaksanakan di
setiap mata kuliah kecuali Clinical Skill Program (CSP).

b.

Ujian lisan berupa Students Objective Oral Case Analysis (SOOCA) yaitu ujian dengan menggunakan
kasus yang akan dianalisis untuk menilai kemampuan menganalisis dan mengaplikasikan ilmu biomedik
dasar ke dalam masalah yang diberikan, serta penalaran masalah klinik.

c.

Ujian praktik yang dilaksanakan berupa Objective Structured Clinical Examination (OSCE) dan Objective
Structured Practical Examination (OSPE) di CSP, serta praktik komputer untuk CRP.

Tabel 3.1 Jadwal Ujian PSK FK Unpad


Mata Kuliah
BHP, PHOP, CRP

BMP
SOCA

a.

UTS, UAS (termasuk ujian comprehensive)


MDE: UTS (FBS I-II), UAS (FBS III-IV), termasuk
ujian comprehensive FBS I-IV).
MDE: setiap akhir sistem, termasuk ujian
comprehensive pada akhir semester.
Setelah FBS II (untuk FBS I dan II), akhir
semester I, untuk FBS III dan IV, serta akhir
semester II, III, IV, V, VI dan VII untuk BMP.

FBS

1)

Waktu Ujian

OSCE

Setiap akhir semester.

Lab CRP

Setiap akhir semester kecuali semester 2 tidak


ada lab CRP.

Skripsi

Saat UAS semester VII

Cara penilaian:
Skor, Huruf Mutu, Angka Mutu
Sistem Penilaian menggunakan penilaian acuan patokan (criterion reference)
Skor*

Huruf Mutu

Angka Mutu

80 100

4.00

76 79

B++

3.50

72 75

B+

3.25

68 71

3.00

64 67

C++

2.75

60 63

C+

2.50

56 59

2.00

45 55

1.00

< 45

50

b. Pembobotan skor Mata Ajar


Pembobotan skor pada setiap FBS, BMP, Final komprehensif, SOOCA, OSCE, BHP, CHOP, dan CRP dalam (%)
adalah sebagai berikut:

Program

Nilai akhir skripsi


memperhatikan
berikut:
Nilai
60%
Nilai
ujian:

Midterm

Final

Compre

SOOCA

FBS

40

20

40

BMP

40

20

40

CSP

OSCE

Lain

100

PHOP

25/20

25/20

25/20

25/20

0/20

CRP

25/20

25/20

25/20

25/20

0/20

BHP

25/20

25/20

25/20

25/20

0/20

ditentukan
dengan
pembobotan sebagai
bimbingan:

bobot

bobot 40%

Bagi mahasiswa yang mengikuti sidang lebih lambat dari waktu yang ditentukan karena kesalahannya sendiri, maka
nilai maksimalnya adalah B.
c.

Nilai kelulusan
Nilai kelulusan setiap mata ajar minimal C, dengan pengecualian pada CSP harus mendapat nilai A untuk semua
keterampilan yang diujikan.

d.

Ujian Perbaikan (Remedial Examination)


Untuk memperbaiki nilai, mahasiswa diberi kesempatan mengikuti ujian perbaikan dengan ketentuan sebagai
berikut:

Untuk MDE (FBS + BMP), BHP, CRP dan PHOP segera setelah yudisium 1.
Bagi mahasiswa yang mendapat nilai D atau E bersifat wajib
Bagi mahasiswa yang sudah mendapat nilai B+, B atau C diperbolehkan mengikuti ujian perbaikan, dengan
catatan:
A. Jumlah nilai B+, B dan/atau C yang akan diperbaiki tidak boleh melebihi 4 mata ajar (FBS atau
program), diluar mata ajar yang mendapat nilai D dan E.
B. Apabila mendaftar untuk ujian perbaikan nilai, akan tetapi pada waktunya tidak hadir tanpa alasan
yang sah, maka nilainya menjadi E.
C. Bagi mahasiswa yang mengikuti ujian perbaikan maka nilai terbaik yang akan diambil.
D. Ujian perbaikan harus mendapat persetujuan dari dosen wali.

Untuk SOOCA segera setelah pelaksanaan SOOCA, dan hanya ada satu kali ujian perbaikan SOOCA. Bila
setelah ujian perbaikan SOOCA tetap tidak lulus, nilai ujian yang terbaik yang akan diambil. Nilai ujian
perbaikan untuk SOOCA adalah maksimum C (56).

Untuk OSCE ujian perbaikan diadakan segera setelah pelaksanaan OSCE atau di tahun berikutnya, dengan
ketentuan sebagai berikut:
- bila tidak lulus pada < 6 station dari 12 station yang diujikan, maka ujian perbaikan dilakukan segera
setelah pelaksanaan OSCE dan yang diulang hanya station yang tidak lulus.
- bila tidak lulus > 6 station, maka ujian perbaikan OSCE diadakan tahun berikutnya dan mahasiswa harus
mengulang seluruh station.

Untuk skripsi ujian perbaikan diadakan di semester berikutnya.

Tidak ada ujian perbaikan untuk ujian compre.

Ujian perbaikan dapat dilakukan setiap akhir semester 2, 4, 6 dan 7, sampai mahasiswa tsb lulus atau
mencapai batas masa studi 14 semester.
Ujian susulan dilaksanakan sesegera mungkin untuk mengganti ujian yang ditinggalkan karena sakit atau
alasan lainnya yang sah. Ujian susulan paling lambat dilaksanakan pada saat intersemester break setelah
semester ganjil, dan 7 hari sebelum judicium pada semester genap. Bila mahasiswa tidak bisa hadir pada
kesempatan tersebut maka ybs dianggap gagal dan nilainya adalah E. Mahasiswa harus melapor kepada
ketua program studi paling lambat 2 minggu sebelum ujian susulan dilaksanakan.

e.

Ketentuan Penilaian Akhir Cabang Ilmu (Subjek)


Pada setiap sistem terdapat komponen cabang ilmu (subjek) yang terkait dengan sistem tersebut yaitu:
A. Ilmu kedokteran dasar (misalnya anatomi, ilmu faal, biokimia dan sebagainya)
B. Ilmu Kedokteran Klinik (Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Bedah dan seterusnya)
Untuk menentukan nilai cabang suatu ilmu, maka nilai cabang ilmu dari masing-masing akan dikalikan dengan
jumlah SKS pada sistem tersebut kemudian dijumlahkan dan dibagi berdasarkan total SKS cabang

51

Contoh:
Biokimia dengan jumlah sks berdasarkan KIPDI sebanyak 7 sks
Sistem
Cabang Ilmu
FBS A
Sistem E Sistem G Sistem H
A
(Subject)
(0,75 sks)
(0,5 sks)
(1,5 sks)
(1 sks)
(1 sks)
Biokimia
40
60
70
80
40
Nilai
(40 + 60 + 70 + 80 + 40)/7 = 290/7 = 41.42
Biokimia
artinya huruf mutu E (tidak lulus)

f.

Pengumuman Hasil Ujian


Hasil Ujian diumumkan ke mahasiswa selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari setelah pelaksanaan ujian.

1.2.2
Evaluasi Keberhasilan Mahasiswa.
Keberhasilan mahasiswa akan dievaluasi melalui kegiatan yudisium yang diselenggarakan 2 (dua) kali, dan
menurut ketentuan sebagai berikut:
1. Yudisium pertama untuk menentukan keberhasilan mahasiswa, sehingga mahasiswa dapat memutuskan
mata ajar apa yang harus atau dapat diperbaiki pada ujian perbaikan.
2. Yudisium kedua untuk memutuskan apakah seorang mahasiswa dapat meneruskan ke paket program tahun
selanjutnya atau harus mengulang paket program tahun tersebut atau harus menghentikan studi (dropout).
Yudisium merupakan bagian penting dari kegiatan akademik yang wajib dihadiri oleh seluruh mahasiswa. Bagi
mahasiswa yang tidak menghadiri yudisium tanpa alasan yang sah, nilainya baru akan diumumkan awal semester
berikutnya.

1.2.3 Protap Yudisium


(1). Kriteria Promosi Tahun Pertama
Mahasiswa tahun pertama dapat melakukan promosi ke tingkat yang
lebih lanjut, apabila:
a. Memiliki IPK sekurang-kurangnya 2.00
b. Tidak terdapat huruf mutu E
c. Huruf mutu D tidak melebihi (<) 20% (8 sks) dari beban studi
d. Institusional TOEFL 550

(39 sks)

(2) Untuk mahasiswa tahun 2 kriteria kelulusan adalah:


a. Tidak ada nilai E
b. IPK > 2,0
c. Jumlah D < 20% (9 sks) dari total sks tahun kedua (43 sks).
(3) Untuk mahasiswa tahun 3 dan 4 kriteria kelulusan adalah:
a. Tidak ada nilai E
b. IPK > 2,0
c. Jumlah D < 20%:
Untuk tahun 3 maksimal 8 sks dari 41 sks
Untuk tahun 4 maksimal 4 sks dari 21 sks.
(4) Untuk lulus sarjana kedokteran (Sked):
Lulus semua program dan departemental, tidak ada nilai D dan E
IPK > 2,75
Mahasiswa yang dinyatakan boleh melanjutkan ke tahun berikutnya pada yudisium ke-2 tetapi masih memiliki
nilai D, maka diwajibkan untuk mengikuti ujian perbaikan pada tahun akademik selanjutnya.
1.2.4 Ketentuan Pengulangan.
Mahasiswa tahun 1, 2 dan 3 yang dinyatakan tidak lulus pada yudisium kedua diwajibkan untuk mengulang
semua mata ajar tahun yang bersangkutan termasuk yang sudah lulus dan tidak diperkenankan untuk
mengambil mata ajar dari paket tahun berikutnya.

52

Ketentuan pengulangan bagi mahasiswa tahun 4:


a) Tidak lulus yudisium pertama: mahasiswa tahun 4 yang tidak lulus pada yudisium pertama harus
mengikuti remedial dan yudisium kedua, sesuai dengan kalender akademik tahun akademik yang
bersangkutan.
b) Tidak lulus yudisium kedua: mahasiswa tahun 4 yang tidak lulus pada yudisium kedua, harus
mengikuti remedial kembali dan mengikuti yudisium ketiga yang dilaksanakan pada akhir semester
genap.
c) Tidak lulus yudisium ketiga dan selanjutnya: mahasiswa tahun 4 yang masih belum lulus pada
yudisium ketiga dan selanjutnya, harus mengikuti kembali kegiatan belajar mengajar pada program ybs.
Sedangkan untuk departemental, mahasiswa tsb harus mendapat bimbingan yang diselenggarakan oleh
departemen ybs.
d) Yudisium keempat dan selanjutnya dilaksanakan setiap akhir semester sampai dengan mencapai
semester 14.
e) Bila sampai semester 14 mahasiswa tsb masih belum lulus, maka akan dilakukan pemutusan
hubungan studi.
f) Lulus yudisium II tetapi IPK belum mencapai 2,75: mahasiswa wajib mengikuti remedial sampai IPK
mencapai 2,75 dengan yudisium setiap akhir semester.
g) Selama masih belum dinyatakan lulus dari PSSK, mahasiswa tsb wajib melakukan registrasi dan
membayar SPP sesuai ketentuan yang berlaku.
1.2.5 Syarat Kelulusan
Syarat lulus untuk mendapat gelar akademik Sarjana Kedokteran (S.Ked) adalah sebagai berikut:
1.
IPK minimal 2,75
2.
Lulus semua mata ajar/cabang ilmu/program/sistem yang ditempuh dengan tidak melewati lama studi
maksimal selama 14 semester.
3.
Sudah menyelesaikan seluruh kewajiban administratif kepada pihak Fakultas/Universitas. Bagi mahasiswa
yang lulus dapat mengikuti wisuda di Universitas.
1.3 Tata Tertib Kegiatan Belajar Mengajar
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

10.
11.
12.
13.

Yang dimaksud dengan kegiatan belajar mengajar di sini adalah tutorial, (mini) lecture, kegiatan laboratorium
biomedik, komputer dan keterampilan klinik, ekstramural dan bimbingan skripsi.
Mahasiswa harus hadir di ruang perkuliahan tepat waktu sesuai dengan ketentuan jam kerja atau yang telah
dijadwalkan sebelumnya.
Mahasiswa harus hadir di ruang kegiatan belajar mengajar (ruang kuliah, tutorial, skills lab maupun
Laboratorium biomedis) sepuluh menit sebelum waktu yang telah ditentukan.
Bagi mahasiswa yang terlambat (lebih dari jadwal yang telah ditentukan), tidak diperkenankan untuk
mengikuti perkuliahan, kecuali dengan alasan yang jelas dan dapat diterima oleh dosen yang hadir pada saat
perkuliahan tersebut.
Mahasiswa yang karena keterlambatannya tidak diperkenankan mengikuti kegiatan belajar mengajar oleh
dosen yang bersangkutan maka dianggap tidak hadir tanpa alasan.
Mahasiswa harus mematuhi aturan berpakaian yang memenuhi etika berpakaian mahasiswa seperti yang
telah ditetapkan pada pedoman umum kemahasiswaan atau yang lebih spesifik pada setiap program studi
yang bersangkutan.
Setiap mengikuti kegiatan belajar mengajar, mahasiswa harus mengisi daftar hadir mahasiswa dan dosen
(DHMD).
Mahasiswa harus mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum mengikuti kegiatan belajar mengajar dan
melaksanakan setiap tugas yang diberikan yang terkait dengan kegiatan belajar mengajar yang diikuti.
Mahasiswa yang tidak hadir karena alasan yang dapat dibenarkan, seperti: sakit, terkena musibah,
mendapat tugas dari fakultas atau universitas, atau alasan lain yang dapat dipertanggungjawabkan yang telah
diajukan dan mendapat persetujuan sebelumnya, dapat meninggalkan kegiatan pendidikan setelah
menyampaikan keterangan tertulis dari pihak berwenang (dokter atau pimpinan Fakultas).
Surat keterangan sakit dari dokter harus diserahkan ke SBP paling lambat 2 (dua) hari kerja setelah
ketidakhadiran, sedangkan untuk surat keterangan dari pimpinan Fakultas paling lambat 1 (satu hari) kerja
sebelum ketidak hadiran.
Kegiatan pendidikan yang ditinggalkan dengan alasan yang sah ini dapat digantikan dengan mengikuti
kegiatan susulan yang sama atau kegiatan lainnya seperti pemberian tugas berdasarkan kebijakan dosen
terkait.
Khusus untuk kegiatan skills lab, mahasiswa harus mendapat kesempatan untuk dilatih pada waktu yang
telah disepakati segera setelah mahasiswa tersebut hadir kembali.
Untuk lab activity dan lab CRP dosen ybs dapat memberikan praktikum susulan bila memungkinkan, atau
memberikan tugas sesuai dengan materi yang ditinggalkan oleh mahasiswa ybs.

53

1.4 Kehadiran Mahasiswa


Tingkat kehadiran mahasiswa dalam kegiatan belajar mengajar diatur dengan ketentuan sebagai berikut:
a)
b)

Tingkat kehadiran untuk kegiatan laboratorium harus mencapai 100%.


Tingkat kehadiran untuk tutorial, mini lecture, BHP, CRP, PHOP, dan MKU sekurang-kurangnya 80%,
sedangkan 20% ketidak hadiran harus didasari oleh alasan yang dapat dipertanggung jawabkan.
Mahasiswa yang tidak hadir pada kegiatan belajar mengajar karena alasan seperti: sakit, terkena musibah,
mendapat tugas dari Fakultas atau Universitas, atau alasan lainnya TETAP DIANGGAP sebagai KETIDAK
HADIRAN dalam perkuliahan.

c)

1.5 Pedoman Ujian.


1. Persyaratan Mengikuti Ujian.
a. Mahasiswa dapat mengikuti ujian bila telah memenuhi syarat administrasi yang telah ditetapkan oleh
Universitas sehingga terdaftar sebagai mahasiswa Unpad.
b. Mahasiswa dapat mengikuti ujian bila telah memenuhi ketentuan mengikuti kegiatan belajar mengajar sebagai
berikut:
1.
Ujian OSCE: tingkat kehadiran pada skills lab 100 %.
2.
Ujian SOCA dan MDE: tingkat kehadiran pada tutorial, dan mini lecture masing-masing minimal 80%,
serta 100% untuk lab activity.
3.
Ujian BHP, CRP, dan PHOP: tingkat kehadiran pada perkuliahan BHP, CRP, PHOP masing-masing
minimal 80% dan 100% untuk lab computer bagi mata ajar CRP.
4.
Mahasiswa yang dapat menunjukkan bukti surat keterangan sakit dari dokter atau surat izin dari
Pimpinan Fakultas/Ketua Prodi untuk ketidakhadiran pada perkuliahan tutorial, mini lecture, BHP, CRP,
dan PHOP.
5.
Bagi mahasiswa yang tidak memenuhi poin 1 dan 2, (non eligible), maka mahasiswa tersebut
kehilangan hak untuk mengikuti ujian remedial sesuai dengan ujian yang persyaratannya tidak
terpenuhi.
2.

Tata tertib Ujian:


1. Mahasiswa harus hadir di ruang ujian 15 menit sebelum ujian dimulai.
2. Setiap mengikuti ujian mahasiswa harus mengisi daftar hadir.
3. Mahasiswa harus membawa identitas diri resmi seperti kartu mahasiswa.
4. Mahasiswa dilarang keras melakukan tindakan kecurangan pada saat ujian seperti mencontek, memberi
bantuan terhadap teman, mengambil bahan ujian tanpa izin, memotret atau melakukan tindakan lain yang
menganggu pelaksanaan ujian.
5. Mahasiswa yang melakukan pelanggaran akan dikenakan sanksi sesuai ketentuan yang dijelaskan dalam
klausul sanksi pelanggaran.

3.

Pedoman Melanjutkan ke Program PSPD.


Mahasiswa yang dapat melanjutkan ke Program PSPD adalah mahasiswa yang telah dinyatakan lulus untuk
mendapatkan gelar akademik sarjana kedokteran (S.Ked) dengan persyaratan sebagai berikut:
a. IPK minimal 2,75
b. Lulus semua mata ajar/cabang ilmu/program/sistem yang ditempuh dengan tidak melewati lama studi
maksimal selama 14 semester.
c. Sudah menyelesaikan seluruh kewajiban administratif kepada pihak Fakultas/Universitas.

1.6 Sanksi Atas Pelanggaran


1. Tidak hadir pada kegiatan belajar mengajar tanpa alasan yang sah, maka mahasiswa yang bersangkutan
tidak berhak mengikuti ujian remedial di tahun yang bersangkutan.
2. Melakukan pelanggaran pada saat ujian, berupa mencontek, memberikan contekan, mengambil bahan ujian
tanpa izin mencatat dan/atau memotret soal, membawa alat komunikasi (handphone atau alat komunikasi
yang lain), maka untuk mata kuliah tersebut dinyatakan tidak lulus dan tidak berhak mengikuti remedial
3. Memalsukan tanda tangan atau mengisikan absensi temannya yang tidak hadir, maka mahasiswa ybs dan
mahasiswa yang ditanda-tangankan, akan dikenakan skorsing sampai dengan pemutusan studi.
4. Tidak berpakaian sesuai aturan dan norma yang berlaku diminta untuk pulang dan mengganti pakaiannya
dengan yang sesuai aturan, dan kembali untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar.
5. Sanksi atas pelanggaran lainnya diberikan sesuai aturan yang telah ditetapkan..
1.7

Pedoman Pengajuan Undur Diri dari Program Pendidikan Sarjana FK-UNPAD.


a.

Bagi mahasiswa yang ingin undur diri dari PSK FK Universitas Padjadjaran ke Prodi di Perguruan Tinggi
lain berlaku ketentuan sebagai berikut:

54

1. Surat permohonan Pengunduran Diri dari mahasiswa ybs yang disetujui oleh Orang Tua/Wali,
diketahui oleh Dosen Wali/TPBK dan Pimpinan Program Studi
2. Surat permohonan Pengunduran Diri atas nama mahasiswa dari Pimpinan Fakultas Asal (Dekan)
kepada Pimpinan Universitas (Rektor/PR 1).
3. Surat Keputusan Pengunduran Diri mahasiswa dari Pimpinan Universitas (Rektor/PR 1).
4. Transkrip Akademik mahasiswa ybs selama studi di Universitas Padjadjaran yang ditandatangani oleh
Pimpinan Fakultas (Dekan/PD 1)
b.

a.

Pemutusan studi:
Mahasiswa mengalami pemutusan studi dengan ketentuan sebagai berikut:
- IPK < 2.00 pada semester 2
- IPK < 2.00 pada semester 4
- IPK < 2.00 pada semester 6
- Untuk mahasiswa tahun 1, 2 dan tahun 3: tidak lulus lebih dari satu kali pada judisium 2.

Struktur mata kuliah

1
FBS I
(4)
C10A.101
FBS II
(4)
C10A.102

RPS I
(5)
C10A.
201

EMS
(7)
C10A.
109

RPS II
(5)
C10A.
202

CRP I
(1)
C10A.105

SEMESTER
4

DMS
(8)
C10A.20
7

CVS
(8)
C10A.
115

GIS
(7)
C10A.
213

TM
(7)
C10A.
121

NBSS
(10)
C10A.
110

HIS
(8)
C10A.20
8

RS
(7)
C10A.
116

GUS
(7)
C10A.
214

FM
(7)
C10A.
122

CRP II
(2)
C10A.
203

CRP
III
(1)
C10A.
111

CRP IV
(1)
C10A.20
9

CRP V
(1)
C10A.
117

CRP
VI
(1)
C10A.
215

CRP
VII
(3)
C10A.
123

BHP I +
MKU
(2)
C10A.106

BHP II
+
MKU
(2)
C10A.
204

BHP
III
(1)
C10A.
112

BHP IV
(1)
C10A.21
0

BHP V
(1)
C10A.
118

BHPVI
(1)
C10A.
216

BHP
VII
(1)
C10A.
124

PHOP I
(1)
C10A.107

PHOP
II
(2)
C10A.
205

PHOP
III
(1)
C10A.
113

PHOP IV
(1)
C10A.21
1

PHOP
V
(1)
C10A.
119

CSP I
(1)
C10A.108

CSP II
(2)
C10A.
206

CSP IV
(2)
C10A.21
2

CSP V
(2)
C10A.
120

21*

18*

21*

20*

FBS III
(4)
C10A.103
FBS IV
(4)
C10A.104

CSP
III
(2)
C10A.
114
22*

Keterangan
( ) = beban kredit
* SKS = satuan kredit semester
1. FBS
= Fundamentals of Biomedical Science
2. CVS
= Cardiovascular System
3. DMS
= Dermatomusculoskeletal System
4. EMS
= Endocrine & Metabolism System

PHOP
VI +
KKNM
-PMD
(3)
C10A.
217
CSP
VI
(2)
C10A.
218
21*

PHOP
VII
(1)
C10A.
125
CSP
VII
(2)
C10A.
126
21*

55

5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
b.

GIS
GUS
FM
HIS
RPS
NBSS
RS
TM
BHP
PHOP
CRP
CSP

= Gastrointestinal System
= Genitourinary System
= Family Medicine
= Hematoimmunology System
= Reproductive System
= Neurobehavior & Special Senses System
= Respiratory System
= Tropical Medicine
= Bioethics & Humanities Program
= Public Health Oriented Program
= Community Research Program
= Clinical Skill Program

Deskripsi mata kuliah


Struktur kurikulum tersusun dari berbagai program pendidikan yang disusun secara komprehensif untuk
memastikan kompetensi utama dicapai pada akhir proses pendidikan. Secara umum tujuan dari masing-masing
progam adalah:
Freshmen Semester Program bertujuan untuk menyiapkan mahasiswa pada pendidikan tinggi yang
membutuhkan kemampuan belajar mandiri dan self-directed learning. Selain itu materi pada FBS mengaktifkan
pengetahuan lampau (prior knowledge) mahasiswa agar siap pada proses pendidikan lebih lanjut

Biomedical Program bertujuan untuk memfasilitasi mahasiswa mempelajari berbagai ilmu kedokteran dasar
dan klinik melalui pendekatan klinik secara terintegrasi dalam bentuk pembelajaran berdasarkan masalah
(problem-based learning).

Clinical Skills Program bertujuan untuk melatih kemampuan keterampilan klinik mahasiswa sesuai yang
dipelajari pada Biomedical Program.

Public Health Oriented Program merupakan program untuk memfasilitasi mahasiswa mempelajari dan
mengaplikasikan berbagai prinsip dasar ilmu kesehatan masyarakat

Community Research Program bertujuan untuk memfasilitasi mahasiswa mempelajari dan mengaplikasikan
berbagai prinsip dasar penelitian berupa metodologi, epidemiologi dan biostatistik pada praktik kedokteran.

Bioethics and Humanities Program merupakan program yang memfasilitasi mahasiswa mempelajari dan
mengaplikasikan berbagai prinsip dasar etika dan hukum kedokteran serta berbagai aspek humaniora pada
praktik kedokteran.

Penjelasan materi yang dibahas pada masing-masing mata ajar adalah sebagai
berikut:
C10A.101 Fundamentals Of Biomedical Science I (MKK) 4
Aplikasi ilmu kedokteran dasar yang melingkupi biologi kedokteran dasar, biomolekuler, konsep reaksi biokima dan
bioenergetik pada kasus-kasus klinik yang terkait, aplikasi prinsip kesehatan masyarakat, epidemiologi dan etika
(determinant of health, konsep penyakit, pengenalan pada desain penelitian, peran statistic dan sejarah kedokteran),
keterampilan komunikasi.
C10A.102 Fundamentals Of Biomedical Science II (MKK) 4
Aplikasi ilmu kedokteran dasar yang melingkupi prinsip genetik, embriologi, kehidupan sel, jaringan dan general body
design pada kasus-kasus klinik yang terkait. Aplikasi prinsip kesehatan masyarakat, epidemiologi, dan etika
(determinant of health, faktor resiko, human variability, pengukuran dan evaluasi, penelusuran informasi dan literatur,
etika pada praktik klinik kedokteran) keterampilan komunikasi.
C10A.103 Fundamentals Of Biomedical Science III (MKK) 4
Aplikasi ilmu kedokteran dasar pada prinsip agent of disease dan mekanisme penyakit. Etiologi penyakit yang meliputi
aspek fisik, kimiawi dan infeksius (pathogen). Interaksi antara manusia dan pathogen yang menginduksi gangguan
fungsi normal. Mekanisme penyakit yang didiskusikan meliputi hal-hal tentang cellular injury, reaksi infeksi-inflamasi,
gangguan hemodinamik dan neoplasma pada kasus-kasus yang terkait. Aplikasi prinsip kesehatan masyarakat,
epidemiologi dan etika kesehatan (pencegahan dan pengendalian penyakit mrnular, SPSS, pengukuran epidemiologi
dan filsafat ilmu) terhadap kasus-kasus yang terkait.

56

C10A.104 Fundamentals Of Biomedical Science IV (MKK) 4


Aplikasi ilmu kedokteran dasar pada dasar pendekatan prinsip penegakan diagnosis berdasarkan pemeriksaan
laboratorium menggunakan bernagai specimen, konsep dasar farmakologis dan farmasi pada kasus yang terkait.
Aplikasi prinsip kesehatan masyarakat, epidemiologi dan etika kesehatan (pencegahan dan pengendalian penyakit
menular, pengenalan metode penelitian deskriptif dan aplikasi statistic, Epi-info, ethical guidelines dan penelitian
biomedis), kemampuan komunikasi.

C10A.105 Community Research Program I (MKB) 1


Pengenalan dan praktik kemampuan computer dasar terutama yang berkaitan dengan analisis data (Microsoft Excel,
Epi Info, SPSS, dan penelusuran literature)
C10A.106 Bioethics And Humanities Program I (MPK) 2
Dasar-dasar bioetika pada dunia kedokteran. prinsip KODEKI, aspek kerahasiaaan tugas, prinsip etika pada
penatalaksanaan pasien, analisis etika penatalaksanaan pasien, peran Konsil pada dunia kedokteran, konsep nilai
moral, norma etika, hukum, agama dan kebudayaan, sejarah kedokteran, dasar konsep profesionalisme kedokteran
dan decision making pada praktik medi.
C10A.107 Public Health Oriented Program I (MKB) 1
Prinsip dan filosofi kesehatan masyarakat, sejarah dan pengembangan kesehatan masyarakat, system kesehatan,
pelayanan kesehatan primer, etika dan hukum kesehatan masyarakat, pemahaman prinsip dasar, konsep dan
implementasi kesehatan masyarakat.
C10A.108 Clinical Skills Program I (MKB) 1
Kemampuan keterampilan klinik pada aspek komunikasi, pencegahan infeksi, pemeriksaan tanda vital, konseling dan
pemeriksaan diagnostik sederhana serta pemahaman di setiap keterampilan klinik terkait.
C10A.201 & C10A.202 Reproductive System I & II (MKB) 10
Aplikasi konsep dasar human development dan reproduksi pada kasus-kasus terkait. Aplikasi anatomi dan histology
organ reproduksi wanita dan pria, biologi, embriologi dan fisiologi reproduksi pada konsep pubertas, fertilisasi,
kehamilan, persalinan, nifas, menyusui dan penyakit ginekologis berdasarkan standar kompetensi nasional.
Pemahaman konsep patofisiologi dan pathogenesis penyakit reproduksi serta identifikasi etiologi dan faktor resiko.
Aplikasi konsep etika, kesehatan masyarakat dan epidemiologi terkait kasus-kasus reproduksi.
C10A.203 Community Research Program II (MKB) 2
Konsep epidemiologi pada penyakit, pengenalan dan statistik kedokteran, variable dan skala pengukuran, pengukuran
dalam epidemiologi dan statistic vital, dinamika populasi, pengenalan terhadap konsep probabilitas, estimasi nilai
populasi, klasifikasi penyakit internasional, sertifikasi penyakit dan status rekam medis.
C10A.204 Bioethics And Humanities Program II (MPK) 2
Pemahaman prinsip heterogenitas berdasarkan umur, gender, orientasi seksual, etnis, diasbilitas dan status social
ekonomi, tanggungawab terhadap hak asasi manusia, prosedur legal, aspek etika pada kebijakan pelayanan
kesehatan, alternative solusi pada masalah kebijakan etika kesehatan, pemahaman perspektif pasien, kepercayaan
pasien, pertimbangan bio-psiko-sosio-kultural pada pembuatan keputusan, aspek komunikasi dengan sejawat dan
profesi lain, evaluasi aspek etika dan hukum yang berkaitan dengan keluarga, anak dan wanita.
C10A.205 Public Health Oriented Program II (MKB) 2
Pemahaman konsep pemberdayaan masyarakat, implementasi konsep perilaku bersih dan sehat pada masyarakat,
program pengendalian tembakau, masalah nutrisi pada masyarakat, pencegahan HIV dan AIDS pada masyarakat,
konsep penatalaksanaan bencana.

57

C10A.206 Clinical Skills Program II (MKB) 2


Kemampuan keterampilan klinik pada aspek komunikasi, pencegahan infeksi, pemeriksaan tanda vital, konseling dan
pemeriksaan diagnostik sederhana serta pemahaman di setiap keterampilan klinik terkait reproduksi berdasarkan
standar kompetensi dokter nasional.
C10A.109 Endocrine And Metabolism System (MKB) 7
Aplikasi konsep anatomi, histologi dan fisiologi dari kelenjar endokrin serta regulasinya. Aplikasi konsep dasar tersebut
pada keadaan patologis dengan pemahaman identifikasi etiologi, faktor resiko, patofisiologi dan patogenesis,
pemahaman analisis pemeriksaan penunjang pada penegakan diagnosis, evaluasi dan penatalaksanaan pasien
dengan gangguan endokrin. Aplikasi konsep kesehatan masyarakat, epidemiologi dan etika pada kasus-kasus
endokrin dan metabolik.
C10A.110 Neurobehavior & Special Senses System (MKB) 10
Aplikasi konsep anatomi, histologi dan fisiologi dari organ terkait neurobehaviour dan special senses serta regulasinya.
Aplikasi konsep dasar tersebut pada keadaan patologis dengan pemahaman identifikasi etiologi, faktor resiko,
patofisiologi dan patogenesis, pemahaman analisis pemeriksaan penunjang pada penegakan diagnosis, evaluasi dan
penatalaksanaan pasien dengan gangguaan dan penyakit berbasis mekanisme congenital, infeksi, neoplasma, trauma
dan lain-lain. Aplikasi konsep kesehatan masyarakat, epidemiologi dan etika pada kasus-kasus neurobehaviour dan
special senses.
C10A.111 Community Research Program III (MKB) 1
Pemahaman konsep epidemiologis pada design penelitian kesehatan: Disease Outbreak; EpiInfo disease outbreak;
Variability and Bias; Confounding; validity; Research Design 1: introduction, qualitative; Research Design 2-3: crosssectional, case control, cohort; Research Design 4: clinical trial, experimental
C10A.112 Bioethics And Humanities Program III (MPK) 1
Pemahaman pendekatan holistic pada penatalaksanaan pasien, aspek penghormatan terhadap sesama individu,
aplikasi nilai-nilai profesionalisme pada kasus role-play, konsep komunikasi pasien dan keluarga, hubungan dokterpasien, edukasi, konseling dan inform consent, hubungan antara otonomi individu dan tanggung jawab, analisis
implementasi prinsip pada kasus.
C10A.113 Public Health Oriented Program III (MKB) 1
Pemahaman konsep hubungan antara lingkungan dan kesehatan, keadaan lingkungan yang berbahaya bagi
kesehatan masyarakat, potensi hazard pada tempat kerja, pengaruh air dan limbah pada kesehatan masyarakat,
hubungan antara kualitas udara dan penyakit, prinsip higienitas dan sanitasi lingkungan, konsep rumah dan fasilitas
public yang memenuhi syarat kesehatan.
C10A.114 Clinical Skills Program III (MKB) 2
Kemampuan keterampilan klinik pada aspek komunikasi, pencegahan infeksi, pemeriksaan tanda vital, konseling dan
pemeriksaan diagnostik sederhana serta pemahaman di setiap keterampilan klinik terkait neurobehaviour, special
senses dan endokrin-metabolik berdasarkan standar kompetensi dokter nasional.
C10A.207 Dermatomusculoskeletal System (MKB) 8
Aplikasi konsep anatomi, histologi dan fisiologi dari organ terkait dematomusculoskeletal. Aplikasi konsep dasar
tersebut pada keadaan patologis dengan pemahaman identifikasi etiologi, faktor resiko, patofisiologi dan patogenesis,
pemahaman analisis pemeriksaan penunjang pada penegakan diagnosis, evaluasi dan penatalaksanaan pasien
dengan gangguaan dan penyakit berbasis mekanisme congenital, infeksi, neoplasma, trauma dan lain-lain.
Pemahaman konsep kegawatdaruratan dan patient safety. Aplikasi konsep kesehatan masyarakat, epidemiologi dan
etika pada kasus-kasus dermatomuskuloskeletal.
C10A.208 Hematoimmunology System (MKB) 8
Aplikasi konsep anatomi, histologi dan fisiologi dari organ terkait hematoimunologi. Aplikasi konsep dasar tersebut
pada keadaan patologis dengan pemahaman identifikasi etiologi, faktor resiko, patofisiologi dan patogenesis,
pemahaman analisis pemeriksaan penunjang pada penegakan diagnosis, evaluasi dan penatalaksanaan pasien
dengan gangguaan dan penyakit berbasis mekanisme congenital, infeksi, neoplasma, trauma dan lain-lain. Aplikasi
konsep dasar kelainan berdasarkan alergi, autoimun dan update mengenai metode kedokteran terkini dalam

58

penatalaksanaan penyakit terkait hemato imunologi. Aplikasi konsep kesehatan masyarakat, epidemiologi dan etika
pada kasus-kasus hematoimunologi.
C10A.209 Community Research Program IV (MKB) 1
Pemahaman konsep epidemiologis pada design penelitian kesehatan : aspek etika: citing literature, informed concent,
informasi yang sahih dan valid, isin etika, plagiarism; Surveillance; Hypothesis Statistics; Association, Correlation and
Regression; Non Parametric Statistics; teknik sampling dan randomisasi.
C10A.210 Bioethics And Humanities Program IV (MPK) 1
Pemahaman konsep pendekatan holistik, cara komunikasi dan penyampaian pendapat, hubungan heterogentitas
dengan persespsi dan diabilitas, reaksi yang baik ketika mengidentifikasi pelanggaran etika yang dilakukan sejawat,
evaluasi prinsip etika pada konsep manusia terhadap body image, kewajiban dan tanggung jawab dokter berdasarkan
KODEKI, praktik Hukum kedokteran Indonesia, Confidentiality and Fiduciary Duty, analisis aspek keadilan pada
konteks kerjasama internasional pada kerja sama penelitian.
C10A.211 Public Health Oriented Program IV (MKB) 1
Pemahaman dan aplikasi konsep kesehatan masyarakat pada : pembuangan air dan limbah rumah sakit, control
vector, konstrol paparan lingkungan, transboundary and global ecological health concern, kesehatan, penyakit terkait
lingkungan kerja, fasilitas kesehatan berbasis infeksi, ergonomic dan kecelakaan kerja, regulasi dan pengawasan
kesehatan dan keselamatan kerja, aplikasi kesehatan kerja.
C10A.212 Clinical Skills Program IV (MKB) 2
Kemampuan keterampilan klinik pada aspek komunikasi, pencegahan infeksi, pemeriksaan tanda vital, konseling dan
pemeriksaan diagnostik sederhana serta pemahaman di setiap keterampilan klinik terkait dermato-muskuloskeletal dan
hemato-imunologi berdasarkan standar kompetensi dokter nasional.

C10A.115 Cardiovascular System (MKB) 8


Aplikasi konsep anatomi, histologi dan fisiologi dari organ terkait kardiovaskular. Aplikasi konsep dasar tersebut pada
keadaan patologis dengan pemahaman identifikasi etiologi, faktor resiko, patofisiologi dan patogenesis, pemahaman
analisis pemeriksaan penunjang pada penegakan diagnosis, evaluasi dan penatalaksanaan pasien dengan gangguaan
dan penyakit berbasis mekanisme congenital, infeksi, neoplasma, trauma dan lain-lain. Aplikasi konsep kesehatan
masyarakat, epidemiologi dan etika pada kasus-kasus terkait kardiovaskular.
C10A.116 Respiratory System (MKB) 7
Aplikasi konsep anatomi, histologi dan fisiologi dari organ terkait respiratori. Aplikasi konsep dasar tersebut pada
keadaan patologis dengan pemahaman identifikasi etiologi, faktor resiko, patofisiologi dan patogenesis, pemahaman
analisis pemeriksaan penunjang pada penegakan diagnosis, evaluasi dan penatalaksanaan pasien dengan gangguaan
dan penyakit berbasis mekanisme congenital, infeksi, neoplasma, trauma dan lain-lain. Aplikasi konsep kesehatan
masyarakat, epidemiologi dan etika pada kasus-kasus terkait respiratori.
C10A.117 Community Research Program V (MKB) 1
Pemahaman konsep epidemiologis pada design penelitian kesehatan :manajemen, koleksi dan pengumpulan data ;
Introduction to Critical Appraisal and EBM; Screening; Diagnostic Testing; EBM: Diagnostic, Therapeutic and
Prognostic; Literature Searching Part 2 and End Note Part 1.
C10A.118 Bioethics And Humanities Program V (MPK) 1
Pemahaman konsep : peran dokter pada kemaslahatan masyarakat, komunikasi antar profesi kesehatan dalam rangka
asuransi dan jaminan kesehatan, mengenal prinsip etika terkait dengan asuransi kesehatan, kerjasama dalam tim,
penyelesaian konflik, kepemimpinan dan pembangunana teknologi kedokteran dengan keadilan sosial.
C10A.119 Public Health Oriented Program V (MKB) 1
Pemahaman dan aplikasi konsep kesehatan masyarakat pada : peran dokter pada aspek menajemen kesehatan,
manajemen sumber daya, rekam medis dan system informasi kesehatan, penyusunan program, aspek terkait
manajemen pelayanan kesehatan.
C10A.120 Clinical Skills Program V (MKB) 2

59

Kemampuan keterampilan klinik pada aspek komunikasi, pencegahan infeksi, pemeriksaan tanda vital, konseling dan
pemeriksaan diagnostik sederhana serta pemahaman di setiap keterampilan klinik terkait kardiovaskular dan
respiratori berdasarkan standar kompetensi dokter nasional.
C10A.213 Genitourinary System (MKB) 7
Aplikasi konsep anatomi, histologi dan fisiologi dari organ terkait genitor-urinari. Aplikasi konsep dasar tersebut pada
keadaan patologis dengan pemahaman identifikasi etiologi, faktor resiko, patofisiologi dan patogenesis, pemahaman
analisis pemeriksaan penunjang pada penegakan diagnosis, evaluasi dan penatalaksanaan pasien dengan gangguaan
dan penyakit berbasis mekanisme congenital, infeksi, neoplasma, trauma dan lain-lain. Aplikasi konsep kesehatan
masyarakat, epidemiologi dan etika pada kasus-kasus terkait genitor-urinari.
C10A.214 Gastrointestinal System (MKB) 7
Aplikasi konsep anatomi, histologi dan fisiologi dari organ terkait gastrointestinal. Aplikasi konsep dasar tersebut pada
keadaan patologis dengan pemahaman identifikasi etiologi, faktor resiko, patofisiologi dan patogenesis, pemahaman
analisis pemeriksaan penunjang pada penegakan diagnosis, evaluasi dan penatalaksanaan pasien dengan gangguaan
dan penyakit berbasis mekanisme congenital, infeksi, neoplasma, trauma dan lain-lain. Aplikasi konsep kesehatan
masyarakat, epidemiologi dan etika pada kasus-kasus terkait gastrointestinal.
C10A.215 Community Research Program VI (MKB) 2
Pemahaman konsep epidemiologis pada design penelitian kesehatan : Overview of Research Process and
Framework; Proposal Penelitian; Review Literatur; Formulating Research Problem; Selecting Research Design;
Sample Size; Questionnaire: construction, validation and tool of measurement; Choosing Appropriate Statistical Test;
Communicating Research Findings; End Note.
C10A.216 Bioethics And Humanities Program VI (MPK) 1
Pemahaman dan aplikasi konsep : penghormatan peran dan opini profesionalisme pada profesi lain, hubungan
permasalahan ekonomi dengan status kesehatan masyarakat, membangun hubungan berdasarkan nilai etika dengan
sesame sejawat, institusi kesehatan dan perusahaan farmasi, aspek etika dan legal terkait peresepan obat,
pemahaman peran dokter pada masyarakat dengan social ekonomi yang rendah, analisis fasilitas kesehatan dengan
keterbatasan sumber daya.
C10A.217 Public Health Oriented Program VI (MKB) 1
Pemahaman dan aplikasi prinsip kesehatan masyarakat pada ekonomi kesehatan, system keuangan pelayanan
kesehatan, pemahaman terhadap aspek logistik pada pelayanan kesehatan, kualitas pelayanan kesehatan, dan
system manajemen rumah sakit
C10A.218 Clinical Skills Program VI (MKB) 2
Kemampuan keterampilan klinik pada aspek komunikasi, pencegahan infeksi, pemeriksaan tanda vital, konseling dan
pemeriksaan diagnostik sederhana serta pemahaman di setiap keterampilan klinik terkait gastrointestinal dan genitor
urinari berdasarkan standar kompetensi dokter nasional
C10A.121 Tropical Medicine (MKB) 7
Aplikasi dan pemahaman ilmu kedokteran dasar yang terintegrasi dengan aspek klinis terkait etiologi, epidemiologi,
pathogenesis, temuan hasil pemeriksaan penunjangm komplikasi dan pencegahan, prinsip diagnostic dan
penatalaksanaan pada penyakit infeksi tropis.
C10A.122 Family Medicine (MKB) 7
Aplikasi dan pemahaman ilmu kedokteran dasar yang terintegrasi dengan aspek klinis serta ilmu kesehatan
masyarakat dengan pendekatan holitik (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative). Aspek penatalaksanaan penyakit
dalam keluarga dan masyarakat, analisis peran keluarga pada statu kesehatan individu dan masyarakt, peran dokter
pada kesehatan keluarga, pengobatan alternative dan komplementer, konsultasi, edukasi, konseling dan penyusunan
rujukan.
C10A.123 Community Research Program VII (MKB) 2
Aplikasi pengetahuan epidemiologi dasar dan klinis pada penulisan dan penyusunan artikel ilmiah dalam bentuk
skripsi/minor thesis

60

C10A.124 Bioethics And Humanities Program VII (MPK) 1


Aplikasi pemahaman konsep bioetika dan humaniora pada pengobatan tradisional, alternative dan komplementer,
tanggung jawab dan peran dokter pada status gizi komunitas, alokasi sumber daya, peran mahasiswa kedokteran dan
layanan kesehatan, pertimbangan berdasarkan aspek etikolegal.
C10A.125 Public Health Oriented Program VII (MKB) 1
Pemahaman dan aplikasi konsep kesehatan masyarakat pada pelayanan kesehatan primer, dokter keluarga, peran
penyakit pada keluarga, asesmen fungsi keluarga, kesejahteraan keluarga, Eldery dan Disability, Paliative dan Home
care.
C10A.126 Clinical Skills Program VII (MKB) 2
Kemampuan keterampilan klinik pada aspek komunikasi, pencegahan infeksi, pemeriksaan tanda vital, konseling dan
pemeriksaan diagnostik sederhana serta pemahaman di setiap keterampilan klinik terkait penyakit tropis dan konsep
dokter keluarga berdasarkan standar kompetensi dokter nasional
Keterangan:
MPK : Mata ajar Pengembangan Kepribadian
MKB : Mata ajar Keahlian Berkarya
MKK : Mata ajar Keilmuan & Keterampilan

3.

Program Studi Profesi Dokter (PSPD)


Program Studi Profesi Dokter
Keterampilan para peserta didik PSPD diperoleh melalui kegiatan akademis berupa proses pembelajaran yang
diselenggarakan di rumah sakit pendidikan utama (RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung) dan rumah sakit dan
Puskesmas jejaring yang diatur melalui rotasi di semua departemen dengan menekankan pencapaian
kompetensi sesuai dengan yang tercantum dalam Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) 2012 yang
dikeluarkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia (KKI).

3.1 Persyaratan mengikuti Program Studi Profesi Dokter (PSPD)


Persyaratan untuk mengikuti pendidikan di PSPD Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran:
1. Lulusan Sarjana Kedokteran FKUP dengan memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a. Memiliki IPK Sarjana Kedokteran minimal 2,75
b. Telah mengirimkan publikasi ilmiah minor thesis
c. Tidak memiliki keterbatasan fisik dan mental untuk melakukan tugas-tugas profesi,
d. Diwajibkan mengikuti Pembekalan Pra-Program Studi Profesi Dokter yang diselenggarakan oleh
FKUP/RSUP Dr. Hasan Sadikin, yang dinyatakan dengan kehadiran penuh atau minimal 80% bagi yang
memliki alasan ketidakhadiran sesuai peraturan yang berlaku), dan mengucapkan Janji Mahasiswa
PSPD
e. Telah melakukan registrasi sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan oleh pihak Universitas
Padjadjaran
f. Setelah lulus program Sarjana Kedokteran, tidak menunda kegiatan akademik di PSPD lebih dari 1 tahun
(2 semester)
2. Lulusan Sarjana Kedokteran universitas lain:
a. Berasal dari Fakultas Kedokteran negeri dengan akreditasi A
b. Memiliki IPK Sarjana Kedokteran minimal 2,75
d. Dinyatakan lulus Tes Potensi Akademik (TPA) dan MMPI yang diatur dan diselenggarakan oleh Pimpinan
FKUP,Setelah lulus program Sarjana Kedokteran, tidak menunda kegiatan akademik di PSPD lebih dari 1
tahun (2 semester)
e. Tidak memiliki keterbatasan fisik dan mental untuk melakukan tugas-tugas profesi
f. Tempat/lahan kegiatan akademik telah dinyatakan tersedia.
g. Telah mengikuti pembekalan Pra-Program Studi Profesi Dokter yang diselenggarakan oleh FKUP/RSUP
Dr. Hasan Sadikin dan mengucapkan Janji Mahasiswa PSPD
3. Program Adaptasi
Untuk program adaptasi harus menunjukkan surat permohonan yang sudah disyahkan oleh kolegium dan
KKI yang sudah dievaluasi, serta berkas-berkas evaluasi keberhasilan dari universitas sebelumnya, dan lulus
mengikuti ujian seleksi yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran.
4. Program Elektif

61

Untuk pendaftaran program elektif harus mengajukan permohonan resmi dengan persyaratan yang telah
ditentukan kepada pimpinan FKUP (surat permohonan dengan usulan departemen dan waktu kegiatan, daftar
riwayat hidup, surat pengantar, dan rekomendasi dari pimpinan institusi asal, transkrip nilai sementara,
kurikulum pendidikan institusi asal, serta surat keterangan sehat)
3.2 Struktur disiplin/bidang ilmu (mata kuliah)
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.

Sandi

Departemen

C12A001
C12A002
C12A003
C12A004
C12A005
C12A006
C12A007
C12A008
C12A009
C12A010
C12A011
C12A012
C12A013
C12A014
C12A015
C12A016
C12A017

Ilmu Bedah
Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan
Ilmu Kesehatan Anak
Ilmu Penyakit Dalam
Ilmu Kesehatan Masyarakat
Ilmu Kedokteran Keluarga
Ilmu Anestesi
Ilmu Kedokteran Kehakiman
Ilmu Kedokteran Jiwa
Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut
Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin
Ilmu Kesehatan Mata
Ilmu Penyakit Saraf
Ilmu Penyakit Telinga Hidung & Tenggorokan
Radiologi
Ilmu Kedokteran Nuklir
Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

Minggu SKS
9
9
9
9
4
5
3
3
3
1
3
3
3
3
3
1
1

5
5
5
5
3
4
2
2
2
0.5
2
2
2
2
2
0.5
0.5

3.3 Deskripsi Disiplin/Bidang Ilmu (setara mata kuliah)


1. C12A 001 Ilmu Bedah
Meliputi: bedah umum, bedah digestif, bedah ortopedi, bedah urologi, bedah plastik dan maksilofasial, bedah
onkologi, bedah anak, bedah toraks dan kardiovaskular, bedah vaskular, bedah syaraf.
2. C12A 002 Ilmu Kebidanan dan Kandungan (obstetri dan ginekologi)
Meliputi: Anamnesis dan pemeriksaan fisik bidang obstetri dan ginekologi, etika pada bidang obstetri dan ginekologi,
obstetri fisiologi, obstetri patologi, obstetri operatif, kontrasepsi, ginekologi, obstetri sosial.
3. C12A 003 Ilmu Kesehatan Anak
Meliputi: Anamnesis dan pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dan tata laksana (farmakoterapi dan non
farmakoterapi, termasuk komunikasi dan edukasi) kasus-kasus di bidang: alergi-imunologi, endokrinologi, gastrohepatologi, gawat darurat pediatri (kegawatdaruratan dan resusitasi), hematologi-onkologi, infeksi dan penyakit tropis,
kardiologi, nefrologi, neonatologi, neuropediatri, nutrisi dan metabolik, respirologi, dan tumbuh kembang-pediatri sosial.
4. C12A 004 Ilmu Penyakit Dalam (Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah)
Meliputi: Anamnesis dan pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dan tata laksana (farmakoterapi dan non
farmakoterapi, termasuk komunikasi dan edukasi) kasus-kasus di bidang: endokrinologi dan metabolisme,
gastroentero-hepatologi, geriatri, ginjal-hipertensi, hemato-onkologi medik, penyakit jantung dan kardiovaskular,
penyakit infeksi, pulmonologi, dan reumatologi,
5. C12A 005 Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Keluarga
Meliputi: Expert SessionI-II, Case Report & Community Science Session, Community Health Teaching, Community
Health Experiences. Integrasi materi dari departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Ilmu Gizi, Ilmu Faal, dan
Rehabilitasi Medik.
6. C12A 006 Ilmu Anestesi
Monitoring hemodinamik (invasif dan non invasif), airway management (tanpa alat dan dengan alat), terapi cairan
(resusitasi, perdarahan, dehidrasi), perawatan perioperatif (praoperatif, durante operatif, pascaoperatif), resusitasi.
7. C12A 007 Ilmu Kedokteran Kehakiman
Dokter dan hukum medikolegal (aspek-aspek medikolegal dalam kasus forensik), komunikasi dan kerjasama,
dokumen kematian, autopsi klinik dan autopsi medikolegal, pemeriksaan penunjang, forensik klinik, manajemen
pengelolaan jenazah, etika kedokteran, dan profesionalisme.

62

8. C12A 008 Ilmu Kedokteran Jiwa


Meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, tata laksana awal kasus-kasus insomnia, gangguan psikotik, gangguan afektif,
gangguan cemas, gangguan somatofarm, gangguan psikosomatik, disfungsi seksual, efek samping terapi obat
psikoaktif (withdrawl obat?), psikiatri anak.
9. C12A 009 Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut
Pemeriksan pasien (pemeriksaan kesehatan umum, pemeriksaan ekstraoral dan intraoral, manajemen info klinik),
pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut (diagnosis dan diagnosis banding), tata laksana dan tindak lanjut (tindakan
anestesi lokal).
10. C12A 010 Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
Morfologi kelainan kulit, pemeriksaan klinis dermatologis, dermatoterapi, infeksi kulit (virus, parasit, bakterti, jamur),
penyakit kusta/Morbus Hansen, penyakit eritropapuloskuamosa, penyakit alergi dan imunologi, penyakit kelainan
kelenjar dan adneksa kulit, dermatosa lain, infeksi menular seksual (IMS), kegawatdaruratan medik di departemen kulit
11. C12A 011 Ilmu Penyakit Mata (Ilmu Kesehatan Mata)- Oftalmologi
Keterampilan pemeriksaan dasar dan penunjang mata, Penggunaan alat diagnostik, Keterampilan tindakan di ruang
apa?, Penegakkan diagnosis dan perencanaan pengelolaan kasus mata (hordeolum dan kalazion, kelainan refraksi,
konjungtivitis akut, konjungtivitis vernalis, konjungtivitis fliktenularis, konjungtivitis purulenta, aberasi kornea, korpus
alienum kornea, keratitis dendritika, keraritis pungtata superfisialis, keratitis numularis, ulkus kornea, pterigium,
pinguekula, episkeritis, skleritis, uveitis anterior, endoftalmitis, panoftalmitis, katarak, glaukoma sudut tertutup akut).
12. C12A 012 Ilmu Penyakit Syaraf (Saraf) - Neurologi
Anamnesis dan pemeriksaan fisik kelainan syaraf?, dan tata laksana awal: stroke, epilepsi, infeksi susunan syaraf,
tetanus, nyeri kepala, nyeri punggung bawah, penyakit Parkinson, neuropati perifer, koma dan penurunan kesadaran,
status epileptikus.
13. C12A 013 Ilmu Kesehatan THT-KL
Otologi, audiologi, rinologi dan alergi, farings-laring, bronkoesofagologi, bedah tumor kepala dan leher, trauma
maksilofasial.
14. C12A 014 Ilmu Radiologi
Radio fisikadiagnostik dan terapi, posisi pemotretan radiologi (Positioning), radioanatomi; radiopatologi toraks,
gastointestinal, traktus urogenital, muskuloskeletal, neuroradiologi; ultrasonografi (USG); radioterapi pada kasus-kasus
tumor ganas (kanker)
15. C12A 015 Ilmu Kedokteran Nuklir
Pemeriksaan dan pengobatan dengan ilmu kedokteran nuklir (tiroid, jantung, dan fungsi ginjal).
16. C.12A 016 Ilmu Rehabiliatsi Medik
Kemampuan mengidentifikasi masalah impairment, disabilitas, dan handicap pada pasien yang mengalami inaktivitas
atau imobilisasi lama (pasien stroke, palsi serebral, dan lain-lain), nyeri punggung bawah (low back pain), serta artritis
sendi (osteoartritis dan reumatoid artritis).
17.

C12A017 Ilmu Kedokteran Keluarga

3.4 Kegiatan Akademik

3.4.1 Proses pembelajaran


Untuk mencapai tujuan Program Studi Profesi Dokter maka pendidikan dilaksanakan dengan menggunakan
metode pelatihan berdasarkan kompetensi (Competency-based Training), yang meliputi kompetensi klinik dan
manajemen kesehatan masyarakat.
Program Studi Profesi Dokter (PSPD) di FKUP terdiri dari rotasi pada 16 departemen yang dilaksanakan dalam
waktu 3 semester. Setelah tahap ini diselesaikan diharapkan dokter muda telah memiliki kompetensi sebagai
dokter umum. Total beban kredit untuk seluruh tahap pendidikan ini adalah setara dengan 42 satuan kredit
semester (SKS). Selanjutnya untuk memperkuat kemandirian dokter muda, dilakukan program internship
selama 12 bulan yang di bawah KIDI (Komite Internship Dokter Indonesia).
3.4.2 Proses belajar dilakukan dengan pendekatan:
1. Apprenticeship: Dokter muda belajar untuk mendapat kompetensi dengan cara belajar dan praktik
langsung (magang) di bawah bimbingan preseptor berpengalaman.
2. Supervisor based: Kegiatan akademik dokter muda disupervisi oleh preseptor. Tindakan klinik dokter muda
berada dalam tanggungjawab preseptor. Untuk kegiatan jaga maka supervisor dokter muda adalah peserta

63

3.
4.
5.
6.
7.
8.

Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS)/ residen senior (chief resident) dan dokter penanggungjawab pelayanan
(DPJP) departemen yang bertugas saat itu.
Patient based: Proses pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan pasien (kasus-kasus sesuai
SKDI).
Community based: Kasus-kasus yang dihadapi adalah kasus yang banyak ditemukan di masyarakat
sesuai SKDI.
Problem solving: Pembelajaran dilakukan untuk mendorong kemampuan memecahkan masalah
Experiential: Dokter muda mencoba langsung melakukan penanganan pasien
Family medicine approach (holistic & comprehensive): penanganan pasien menggunakan pendekatan prinsip
dokter keluarga, yaitu penanganan secara holistik dan komprehensif dengan memerhatikan aspek fisik, psikis,
sosial-ekonomi, dan budaya pasien
Bioethics, legal aspect & professionalism: Dokter muda dituntut untuk selalu memerhatikan aspek
bioetik, aspek legal, dan berlaku professional

3.4.3 Lokasi kegiatan akademik:


Selama mengikuti kegiatan akademik para dokter muda melakukan tugas di fasilitas kesehatan, sebagai
berikut:
- Rumah sakit pendidikan utama: RSUP dr Hasan Sadikin (RSHS) Bandung
- RSUD jejaring yang ditentukan oleh FKUP
- Puskesmas jejaring di wilayah kerja Dinas Kesehatan Jawa Barat yang ditentukan oleh FKUP
- Klinik Kedokteran Keluarga jejaring FKUP
Kegiatan akademik dilaksanakan di bawah bimbingan dan supervisi para preseptor dengan tempat kerja berupa:
- poliklinik (rawat jalan)
- ruang perawatan(rawat inap)
- unit gawat darurat
- ruang operasi/tindakan
- ruang administrasi (di Puskesmas, klinik dokter keluarga)
- komunitas (posyandu)
3.4.4 Bentuk kegiatan akademik:
Setara praktikum
Preceptorship: kegiatan akademik berupa tatap muka dengan preceptor selama kurang lebih 120 menit per hari
berupa:
Bed side teaching (BST) atau chair side teaching (CST), atau community side teaching (CoST): merupakan proses
pembelajaran dengan menggunakan pasien yang dilakukan di poliklinik, ruang rawat inap, unit gawat darurat, atau
ruang operasi untuk pemeriksaan pasien dan diskusi yang akan melatih proses berfikir dan keterampilan pemecahan
masalah mahasiswa. Termasuk pembahasan pelayanan kesehatan masyarakat dan keluarga.
a. Setara perkuliahan
- Case report session (CRS)
Merupakan acara ilmiah dokter muda berupa laporan hasil pemeriksaan, rencana penatalaksanaan
pasien, serta analisis kasus yang diperoleh melalui BST, kemudian didiskusikan di bawah bimbingan preseptor.
- Clinical/community science session (CSS)
Merupakan acara ilmiah dokter muda berupa penulisan dan presentasi yang membahas salah satu
topik yang berkaitan dengan masalah pasien pada BST, CST, atau CoST yang kemudian didiskusikan
di bawah bimbingan preseptor.
- Meet the expert
Merupakan forum diskusi ilmiah dokter muda dengan pakar dari masing-masing departemen dan
merupakan kesempatan bagi para dokter muda untuk mendiskusikan hal-hal yang masih belum jelas.
c. Setara kegiatan lapangan
- Penyuluhan
Merupakan kegiatan untuk melatih teknik komunikasi dokter muda dalam program promosi kesehatan
- Penelitian
Merupakan kegiatan untuk melatih dokter muda dalam melakukan penelitian yang dapat dilakukan di
masyarakat, rumah sakit, atau puskesmas
d) Kegiatan lain yang diatur oleh masing-masing departemen.
3.4.5 Tata tertib pelaksanaan kegiatan akademik PSPD
1. Peserta PSPD disebut dokter muda (DM).
2. Pada saat mengikuti kegiatan PSPD dokter muda telah menyelesaikan persyaratan administrasi
yang ditetapkan oleh FKUP.

64

3. Dalam melaksanakan kegiatan akademik PSPD, dokter muda dibagi ke dalam kelompok-kelompok,
yang akan melakukan rotasi di semua departemen FKUP/RSHS.
Rotasi adalah lama waktu yang dibutuhkan oleh dokter muda untuk menyelesaikan kegiatan
pendidikan profesi di suatu departemen. Jadwal rotasi untuk setiap kelompok ditetapkan oleh
pengelola PSPD.
4. Pembagian kelompok dilakukan secara pengundian dengan memerhatikan pemerataan berdasarkan prestasi
akademik (IPK), jenis kelamin, serta status kemahasiswaan..
5. Ketua kelompok dokter muda adalah mahasiswa yang dipilih oleh anggota kelompoknya,
6. Jadwal rotasi ditentukan dengan mekanisme pengundian yang adil dan tidak boleh diganti. Pengaturan rotasi
setiap kelompok dilaksanakan oleh Sekretariat PSPD FKUP yang dikeluarkan dengan Berita Acara Pembagian
Kelompok dan Jadwal Rotasi yang ditandatangani Ketua PSPD, dengan aturan anggota kelompok tidak
diperbolehkan pindah ke kelompok lain, kecuali dengan alasan yang dapat diterima dan disetujui oleh Ketua PSPD
FKUP,
7. Ketua PSPD FKUP memberikan surat pemberitahuan kepada Kepala Departemen/SMF (cq
Koordiantor PSPD
Departemen) sebelum dokter muda mulai mengikuti pendidikan di departemen tersebut.
8. Dokter muda diharuskan melapor kepada Koordinator PSPD Departemen atau yang mewakili, untuk mendapatkan
penjelasan mengenai tata tertib, pedoman kerja (termasuk kegiatan jaga dan aturannya), sistem pendidikan, dan
sistem penilaian di departemen yang bersangkutan.
9. Untuk kegiatan di RSUD/Puskesmas jejaring: Ketua PSPD Departemen/Ketua departemen memberikan surat
pengantar berupa pemberitahuan kepada Direktur RS Jejaring dan Kepala Puskesmas Jejaring sebelum dokter
muda mulai mengikuti pendidikan di RSUD/PKM jejaring tersebut. Surat pengantar ditembuskan ke Ketua PSPD
FKUP.
10. Dokter muda diharuskan melapor kepada Direktur RS Jejaring dan Kepala Puskesmas Jejaring atau yang mewakili
sebelum mengikuti kegiatan pendidikan di tempat tersebut (sambil membawa pengantar dari Dekan FKUP).
11. Tugas dan kewenangan klinis dokter muda PSPD ditentukan oleh masing-masing departemen.
12. Daftar hadir:
Pengisian daftar hadir:
- Dilakukan minimal dua kali, yaitu pada saat datang dan pulang, tepat pada waktunya,
- Dilakukan sendiri, tidak boleh diwakilkan.
- Laporan kehadiran dokter muda dikirimkan oleh koordinator PSPD Departemen kepada sekretariat PSPD FKUP
secara periodik
13. Jam kerja: Senin-Jumat: 07.0016.00 WIB;
Apabila ada ketentuan lain, ditetapkan oleh masing-masing departemen.
14. Selama mengikuti kegiatan akademik di RSHS/RSUD jejaring/Puskesmas dokter muda harus mengenakan jas
putih panjang dan tanda pengenal PSPD sesuai aturan yang berlaku.
15. Kegiatan jaga
- Jam jaga:
a. Hari kerja: setelah jam kerja s.d. 07.00 WIB hari berikutnya
b. Hari libur : - kelompok pagi: 07.0019.00 WIB
- kelompok malam: 19.0007.00 WIB hari berikutnya.
- Jumlah dan frekuensi jaga ditentukan oleh departemen yang bersangkutan dengan ketentuan sebanyakbanyaknya satu kali dalam satu minggu.
- Jaga ditentukan/diatur oleh kordinator PSPD departemen.
- Selama mengikuti kegiatan jaga di RSHS/RSUD jejaring/Puskesmas dokter muda harus mengenakan seragam
jaga dan tanda pengenal PSPD sesuai aturan yang berlaku.
16. Bila karena suatu sebab dokter muda tidak dapat mengikuti kegiatan PSPD, maka yang bersangkutan harus
menyatakannya dengan surat pemberitahuan resmi dan menyebutkan alasan yang dapat diterima disertai bukti
yang sah. Surat tersebut harus diserahkan kepada Preseptor dan Koordinator PSPD Departemen selambatlambatnyanya saat dokter muda kembali mengikuti kegiatan, dan surat ditembuskan ke sekretariat PSPD FKUP.
17. Dokter muda yang akan meninggalkan kegiatan akademik selama menjalani kegiatan PSPD di suatu departemen
harus mengajukan surat permohonan dan memperoleh izin dari preseptor yang diketahui oleh Koordinator PSPD
Departemen yang bersangkutan.
18. Pada saat melakukan kegiatan di suatu departemen, dokter muda tidak diperkenankan mengerjakan tugas dari
departemen lain.
19. Dokter muda yang meninggalkan kegiatan akademik departemen melebihi batas waktu kehadiran departemen oleh
karena mendapat tugas dari pimpinan Fakultas diberlakukan ketentuan yang sama dengan dokter muda yang
mengundurkan diri, kecuali ada ketentuan lain dari kepala departemen terkait atau dari pimpinan FKUP.
20. Pengunduran diri dari departemen harus disertai surat pengunduran diri yang bersangkutan dan ditujukan kepada
Wakil Dekan Bidang Akademik dengan tembusan ke Ketua PSPD dan Kepala Departemen terkait. Kegiatan
akademik yang tertunda akan diganti pada akhir rotasi semua departemen yang akan diatur oleh sekretariat PSPD
FKUP.
21. Setiap dokter muda harus senantiasa menjaga nama baik almamater dengan selalu menegakkan disiplin serta
menjunjung tinggi sikap profesionalisme.

65

22. Setiap dokter muda diharuskan mematuhi norma akademik, termasuk cara berpakaian dan norma hukum sesuai
dengan Surat Keputusan Dekan No.2114/H6.7/Kep/FK/2010.
23. Setiap dokter muda harus mengikuti aturan dan tata tertib yang berlaku di RSHS, RSUD jejaring, dan PKM jejaring.
24. Setiap dokter muda siap menerima sanksi, apabila melakukan pelanggaran terhadap aturan yang berlaku.
25. Penanganan dokter muda yang selama mengikuti kegiatan akademik PSPD dinyatakan mengalami masalah
gangguan kejiwaan dilakukan di bawah Tim
(TPBK) FKUP.
26. Selama belum dinyatakan lulus dokter dan dianggap masih mengikuti kegiatan akademik PSPD, seluruh
mahasiswa PSPD diwajibkan mengikuti aturan registrasi sesuai ketentuan Universitas Padjadjaran.

3.5 Evaluasi keberhasilan


1. Evaluasi keberhasilan mahasiswa dinilai melalui beberapa macam metode penilaian yang dilakukan
selama mengikuti kegiatan akademik PSPD, berupa:
a. Evaluasi selama rotasi di departemen
Kegiatan evaluasi di departemen dilakukan secara berkala dengan menilai kompetensi yang diharapkan melalui:
No

Komponen evaluasi

Pembobotan

Mini Clinical Examination Evaluation (Mini-CEX)

2025 %
2030 %

Bed Side Teaching (BST)

Case Report Session (CRS)

510 %

Clinical Science Session (CSS)


Bentuk ujian lain, bergantung pada kebijakan masing-masing
departemen, seperti:
- Objective Structured Clinical Examination (OSCE)
- Student Oral Case Analysis (SOCA)
- Multi disciplinary Examination (MDE)
- Pre-mid-post test, essay
- dan lain lain.
Total

510 %

2030%

100 %

b. Waktu dan sifat penilaian :


Penilaian dilakukan secara berkala selama kegiatan akademik PSPD dan pada akhir setiap program di
departemen. Penilaian berkala bersifat penilaian formatif dan dapat digunakan sebagai penilaian sumatif.
Penilaian perilaku profesional dilakukan secara berkala selama mengikuti rotasi departemen dan digunakan
untuk penilaian akhir PSPD
c. Penilaian Perilaku Profesional (Professional Behavior)
Perilaku Profesional meliputi standar perilaku profesi dokter yang
didasari oleh prinsip-prinsip sebagai berikut:
- Kesehatan dan kesejahteraan pasien adalah yang paling utama,
- Pasien memiliki hak untuk memilih,
- Keadilan sosial bagi seluruh pasien.
Selama dokter muda mengikuti PSPD maka penilaian perilaku profesional dilakukan dalam bentuk 360 degree dengan
format yang terstandar. Penilaian perilaku bukan berupa ujian, tetapi merupakan bagian proses pembinaan. Oleh
karena itu sedapat mungkin dilakukan bukan di hari terakhir periode rotasi stase agar dimungkinkan adanya proses
pembinaan. Selain itu, untuk menjamin objektivitas jika memungkinkan sedapat mungkin penilaian dilakukan lebih dari
satu kali, atau lebih dari satu preseptor. Dokter muda bisa dinilai oleh preseptor, dosen lain, tenaga kesehatan lain,
dokter muda lain serta dirinya sendiri.
Atribut perilaku profesional yang diamati adalah aspek-aspek sebagai
berikut:
a. Altruisme (rela berkorban), caring (peduli terhadap sesama), compassion (welas asih)
b. Respect (sikap hormat) dan cultural competence (pemahaman budaya)
c. Honesty (jujur), honor (menjaga martabat), and integrity (teguh memegang prinsip profesional)
d. Excellence & scholarship
e. Dutifulness (memenuhi kewajiban), responsibility (bertanggungjawab)
f. Communication

66

Hasil penilaian dikategorikan atas:

baik

perlu perhatian

perlu perhatian khusus (bila nilai akhir ini bukan bagian dari nilai akademik, tetapi dapat
memengaruhi nilai akhir di departemen (yudisium departemen):
1. Kategori perlu perhatian:
Bila hasil penilaian termasuk kategori ini, dokter muda diberi tugas humanitarian, menambah jaga, menangani
pasien intensif, alternatif lainnya yang bertujuan memperbaiki sikap profesional, bukan tugas yang bersifat
kognitif.
2. Kategori perlu perhatian khusus:
Selain mendapat tugas di atas, dapat dipertimbangkan untuk mendapatkan pengurangan angka nilai
akademik (contoh: nilai akademik A dikurangi menjadi B).
Pada yudisium akhir PSPD di Fakultas, mahasiswa yang masuk kategori Perlu Perhatian Khusus di lebih dari 2
departemen akan memengaruhi kelulusan. Pembinaan lanjutan akan ditentukan dalam rapat PSPD. Oleh karena itu
pada yudisium akhir PSPD departemen harus melaporkan Nilai Akhir Profesionalisme di samping Nilai Akademik.
Penjelasan lebih lanjut mengenai atribut profesional terdapat pada buku log mahasiswa.
2. Syarat mengikuti ujian akhir di departemen:
a. Selama mengikuti kegiatan akademik PSPD memenuhi persyaratan kehadiran yang telah ditentukan,
b. Telah melaksanakan semua tugas dan kewajiban selama program pendidikan berlangsung, termasuk
penilaian berkala dan penilaian perilaku,
c. Telah menyelesaikan kewajiban administrasi (termasuk pengembalian buku dari perpustakaan dan
pembayaran registrasi yang sedang berjalan).

Angka dan Huruf Mutu:


Angka Mutu sesudah pembobotan dijadikan Huruf Mutu dengan menggunakan cara Penilaian Acuan Patokan
(PAP).
Pengumuman hasil ujian departemen dilaksanakan segera setelah menyelesaikan rotasi di suatu departemen
dan dokter muda yang tidak lulus berhak mengikuti ujian ulangan sesuai aturan departemen terkait.
Ujian ulangan ke1 dilaksanakan di departemen pada minggu terakhir stase yang sedang berjalan, sebelum
yudisium departemen, sedangkan ujian ulangan ke2 dilaksanakan pada saat spacing/jeda dengan syarat
membawa pengantar dari PSPD dan wajib mengikuti rotasi atau bimbingan selama satu minggu sebelum
ujian ulangan ke2 dilakukan.
Masa jeda/spacing adalah waktu dokter muda tidak mengikuti kegiatan akademik PSPD di departemen.
Masa ini dapat digunakan untuk mengulang atau memperpanjang masa pendidikan sesuai ketetapan yang
telah ditentukan.

Yudisium
a.. Departemen
Dokter muda yang berhak mengikuti yudisium adalah dokter muda yang telah menyelesaikan seluruh
program pendidikan pada departemen yang bersangkutan serta tidak memperoleh nilai perilaku perlu
perhatian khusus
b. PSPD
Dokter muda yang berhak mengikuti yudisium PSPD adalah mahasiswa PSPD yang telah menyelesaikan
seluruh program pendidikan pada semua departemen serta tidak memperoleh nilai perilaku perlu
perhatian khusus, kemudian dilakukan validasi nilai oleh tim PSPD FKUP.
Yudisium PSPD dilakukan berdasarkan hasil rapat validasi nilai dari departemen-departemen melalui
berita acara yang di tandatangani oleh Ketua PSPD dan wakil dokter muda yang mengikuti yudisium.
Bagi mahasiswa yang telah dinyatakan lulus pada yudisium tersebut, diijinkan untuk mengikuti ujian
komprehensif.

Keberhasilan dokter muda


Kriteria keberhasilan dokter muda di suatu departemen dinyatakan dengan parameter sebagai berikut:

67

Ujian pertama:
Nilai Akhir

Huruf Mutu

80 100
76 79
72 75
68 71
56 - 67
44 - 55
< 44

A
B++
B+
B
C
D
E

Angka
Mutu
4,00
3,50
3,25
3,00
2,00
1,00
0

Keterangan
Lulus
Lulus
Lulus
Lulus
Tidak Lulus
Tidak Lulus
Tidak Lulus

Ujian ulangan (remedial) hanya diberikan apabila huruf mutu C dan D; untuk huruf mutu E peserta
diwajibkan untuk mengulang penuh kegiatan akademis di departemen tersebut.
Ujian ulangan:
Ujian ulangan
Pertama

Kedua

NILAI

Keterangan

Lulus

<B

Tidak Lulus, Ujian Ulangan II

Lulus
Tidak Lulus, Mengulang
Penuh

<B

Perbaikan Huruf Mutu:


Dengan mengingat batas IPK minimal (3,00) dan batas lama studi Program Studi Profesi Dokter, maka
dokter muda diperkenankan mengikuti perbaikan huruf mutu sesuai ketentuan Panitia Yudisium.

Indeks Prestasi Kumulatif (IPK):


IPK Program Studi Profesi Dokter adalah jumlah () perkalian seluruh Angka Mutu dengan jumlah seluruh
beban kredit (SKS) PSPD, dibagi oleh jumlah () kredit (SKS) PSPD.
IPK = (Angka mutu departemen x SKS departemen)
SKS PSPD
Ujian Komprehensif
Setelah lulus pada semua departemen dan dinyatakan lulus pada yudisium ke1, dokter muda wajib
mengikuti ujian komprehensif.
a. Persyaratan:
- Dinyatakan lulus semua departemen.
- Telah menyelesaikan persyaratan administrasi sesuai aturan Universitas Padjadjaran.
b. Metode ujian
- Ujian tulis MDE dalam bentuk pilihan berganda (MCQ).
- Ujian keterampilan klinik dalam bentuk Objective Structured Clinical Examination (OSCE) bagi
mahasiswa asing.
Jumlah soal
- MCQ: 200 soal dengan perbandingan soal sesuai SKS Departemen.
- OSCE: 12 station yang merupakan perwakilan dari setiap Departemen sesuai kasus pada SKDI.
Kelulusan:
- MCQ: dengan metode modified Angoff oleh perwakilan juri dari semua departemen.
- OSCE: untuk setiap station dengan metode borderline regression; kelulusan OSCE adalah minimal lulus
9 station dengan tidak ada station dengan nilai <50% nilai minimal station.
Setelah ujian komprehensif tersebut, akan dilakukan yudisium ke2.
3.6 Evaluasi hasil belajar
Dokter muda dinyatakan lulus PSPD dengan kriteria sebagai berikut:
a. Lulus dari setiap departemen
b. Lulus ujian komprehensif

68

c. Memiliki IPK minimal 3,00


d. Telah menyelesaikan segala administrasi sesuai peraturan Fakultas Kedokteran/Universitas Padjadjaran
e. Lulus Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) bagi dokter muda Indonesia
Yudisium
Pengumumam hasil pendidikan dokter muda diumumkan pada yudisium ke2
Yudisium ini wajib dihadiri oleh semua dokter muda peserta PSPD terkait.
Bagi yang tidak menghadiri yudisium ke2, maka pengumuman hasil pendidikan akan ditangguhkan dan
dilaksanakan pada yudisium periode berikutnya.
3.7 Uji Kompetensi Dpkter Indonesia (UKDI) - exit exam DIKTI
Setelah lulus ujian komprehensif, para dokter muda wajib mengikuti Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI),
berupa ujian MDE (MCQ) yang diselenggarakan secara computerised-based test (CBT) dan OSCE yang
diselenggarakan oleh Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) yang diselenggarakan
serentak secara nasional sesuai periode pelaksanaan UKDI (setiap bulan Februari, Mei, Agustus, dan
Nopember).
Sesuai Surat Edaran Dikti Kemendikbud No. 88/E/DT/2013 UKDI ini merupakan exit exam bagi seluruh
mahasiswa Fakultas Kedokteran di Indonesia.
Persyaratan mengikuti UKDI:
- Lulus yudisium ke2
- Mendaftarkan diri ke Panitia UKDI dengan melengkapi syarat administrasi sesuai ketentuan Panitia UKDI
(PUKDI)
Sebagai upaya persiapan mengikuti UKDI, tim PSPD FKUP memberikan bimbingan dan try out, baik untuk
MDE maupun OSCE. Para dokter muda yang akan mengikuti UKDI diwajibkan mengikuti kegiatan ini, termasuk
mengikuti try out UKDI (MDE) yang diselenggarakan wilayah 3 AIPKI
a.
Setelah ada pengumuman hasil UKDI, para dokter muda wajib mengikuti yudisium ke-3 (yudisium akhir).
Hasil yudisium:
- Lulus UKDI CBT dan OSCE
- Lulus salah satu UKDI
- Tidak lulus kedua-duanya
Bagi yang belum lulus UKDI, akan mengikuti UKDI ulangan pada periode UKDI berikutnya (peserta re-taker).
Selama menunggu waktu pelaksanaan UKDI berikutnya, peserta re-taker wajib mengikuti bimbingan yang
diadakan oleh Tim Bimbingan Re-taker (di bawah koordinasi Tim PSPD dan Unit Evaluasi Hasil Belajar
Mahasiswa).
3.10. Sumpah Dokter
Bagi mahasiswa Indonesia, yang berhak mengikuti sumpah dokter adalah dokter muda yang sudah lulus UKDI.
Sumpah dokter merupakan prasyarat untuk mendapatkan ijazah (sertifikat kelulusan) dokter sebelum mengikuti
Program internship Dokter Indonesia (PIDI) yang diselenggarakan oleh Komite Internship Dokter Indonesia
(KIDI).
Bagi mahasiswa PSPD asing yang berhak mengikuti sumpah dokter adalah yang sudah mengikuti kegiatan
magang di RSUD dan PKM jejaring dan dinyatakan lulus.
Setelah sumpah dokter, para lulusan akan mengikuti wisuda Universitas Padjadjaran (kelompok profesi) dan
mendapatkan ijazah dokter.
3.8 Lama studi
Lama studi Program Studi Profesi Dokter ditempuh paling cepat selama 3 (tiga) semester dan paling lambat
selama 6 (lenam) semester.
3.9 Pemutusan studi:
Pemutusan studi terhadap dokter muda dilakukan jika:
- melewati batas lama studi (maksimal 6 semester)
- mengundurkan diri
- melakukan pelanggaran etik berat (ditetapkan oleh Komisi Etik FKUP
dan berdasarkan keputuan Rektor Universitas Padjadjaran)
Catatan:

69

Program internship/magang bagi mahasiswa asing


Setelah dinyatakan lulus dari ujian komprehensif, peserta didik PSPD (dokter muda) asing akan mengikuti program
magang di RS dan PKM jejaring yang telah ditentukan FKUP, selama 6 bulan (1 semester).
Kegiatan ini merupakan sarana pelatihan keprofesian berbasis kompetensi pelayanan primer dengan tujuan
meningkatkan kompetensi yang telah dicapai saat mengikuti pendidikan dokter.
Syarat mengikuti magang:
- Lulus ujian komprehensif MDE dan OSCE
- Menyelesaikan urusan administrasi (registrasi, pengembalian buku perpustakaan)
Tata tertib magang:
- Pembagian kelompok, tempat, dan tata tertib magang diatur oleh PSPD.
- Selama magang para dokter muda dibimbing dan disupervisi oleh preseptor di RS/PKM jejaring, sesuai surat tugas
Preseptor RS/PKM jejaring dari Dekan FKUP.
- Selama magang, para peseptor selain bertugas membimbing dan supervisi doter muda, juga bertugas melakukan
penilaian komprehensif dan wajib mengisi buku log.
- Hasil penilaian disampaikan oleh RS/PKM jejaring secara tertulis dan tertutup kepada PSPD FKUP.
- Selesai kegiatan magang, tim PSPD FKUP akan melakukan kegiatan validasi nilai magang.
- Kemudian dilakukan yudisium akhir.
- Bagi yang lulus, dilanjutkan dengan mengikuti sumpah dokter dan wisuda Universitas Padjadjaran.
- Bagi yang tidak lulus, diwajuibkan mengikuti remedial hingga lulus (dengan memperhitungkan masa studi).
4. PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS ( PPDS )
1 Tujuan Pendidikan
Secara garis besar pendidikan dokter spesialis memiliki tujuan umum dalam mendidik peserta PPDS, diharapkan
setiap lulusan PPDS memiliki kompetensi akademik dan profesi, yang mampu menjalankan praktek kedokteran di
bidang spesialisasinya, baik secara mandiri maupun dalam tim, dalam upaya memenuhi kebutuhan yang
diamanatkan dalam sistim pemeliharaan kesehatan.
Secara rinci, tujuan pendidikan umum dan khusus dari setiap program studi dapat dilihat dalam Panduan
Penyelenggaraan Pendidikan Dokter Spesialis dari setiap program studi.
2

3.

Struktur Kurikulum
Yang dimaksud dengan Struktur Kurikulum adalah bagaimana isi kurikulum/ materi pembelajaran diorganisasikan
dan bagaimana jadwal pembelajaran akan dilaksanakan.
Pendidikan dokter spesialis dimulai pada bulan Februari dan bulan Agustus, dimulai dengan Program Pra PPDS
yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran dan R.S Pendidikan Utama. Program ini
merupakan pengayaan yang berisi berbagai informasi mengenai hal-hal yang perlu diketahui, difahami, dan
diikuti oleh peserta PPDS selama mengikuti pendidikan di Fakultas Kedokteran dan di R.S Pendidikan.
World Federation For Medical Education ( WFME ) memberikan definisi mengenai Post Graduate Medical
Education, yaitu suatu fase pendidikan bagi dokter yang dimulai di bawah supervisi/pengawasan menuju praktek
mandiri sebagai seorang spesialis setelah yang bersangkutan menyelesaikan pendidikan dokter umum. Merujuk
kepada definisi tersebut, kompetensi adalah sesuatu hal yang berkembang, pada umumnya kompetensi
berkembang sesuai dengan tahap pembelajaran/pengalaman klinik. Dengan demikian pendidikan dokter
spesialis mempunyai ciri pendidikan yang berjenjang. Sebagai contoh program studi Ilmu Kesehatan Anak
mengenal tingkat yunior, madya dan senior sedangkan program studi Ilmu Bedah mengenal jenjang
pendidikanTahap Bedah Dasar dan Lanjut. Penjenjangan ini sejalan dengan peraturan Konsil Kedokteran
Indonesia ayat 1 pasal 8 yaitu bahwa pemberian sertifikat kompetensi sesuai dengan pencapaian tingkat
kompetensi yang telah dicapai peserta PPDS-I sesuai tingkat pendidikannya.
Struktur kurikulum secara lebih rinci dapat dilihat dalam Pedoman Pendidikan setiap program studi. Setiap
program studi memiliki materi pembelajaran dan struktur kurikulum yang berbeda, sehingga mengakibatkan
adanya perbedaan dalam masa studi terjadwal dari setiap program studi (tabel 1).
Materi Pembelajaran
Materi pembelajaran merupakan bidang ilmu, keterampilan, dan perilaku yang harus dipelajari dan dikuasai oleh
peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan.
Materi pembelajaran pada umumnya berupa praktek klinis dan teori yang sesuai, ilmu biomedis dasar, ilmu klinis
dan laboratorium bidang spesialisasi terkait, pengetahuan yang memadai mengenai perilaku, etika kedokteran,
sistim kesehatan yang berlaku, aspek medikolegal dan ilmu sosial lain.
Ilmu biomedis dasar, tergantung kebutuhan dari program studi, dapat berupa anatomi, fisiologi, biokimia,
biofisika, biologi sel dan molekuler, genetika, mikrobiologi, imunologi, farmakologi, patologi, dan sebagainya.

70

Ilmu lain, tergantung dari kebutuhan program studi dapat berupa psikologi medis, sosiologi medis, biostatistik,
epidemiologi, kedokteran masyarakat, dan sebagainya. (secara lengkap dapat dilihat dalam Pedoman
Penyelenggaraan Pendidikan Dokter Spesialis).

4. Masa Studi Terjadwal dari setiap Program Studi


Program Studi
Anestesiologi dan Terapi Intensif

Masa Studi Terjadwal


(semester)
7

Ilmu Bedah

Ilmu Bedah Anak

10

Ilmu Bedah Saraf

11

Urologi

10

Ilmu Kedokteran Forensik

Ilmu Kedokteran Nuklir

Ilmu Kedokteran Jiwa

Ilmu Kesehatan Anak

Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin

Ilmu Kesehatan THT-KL

Ilmu Penyakit Dalam

Ilmu Kesehatan Mata

Neurologi

Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler

Obstetri dan Ginekologi

Orthopaedi dan Traumatologi

Patologi Anatomi

Patologi Klinik

Radiologi

Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

Batas akhir masa studi (Masa Studi Maksimal) adalah :


n + 1/2 n ( n= lama masa studi terjadwal )
Sebagai contoh, batas akhir masa studi Program Studi Orthopaedi dan Traumatologi adalah :
9 + ( 9 ) = 13 semester

5.
1.

Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis


Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif

Tahapan Pendidikan
Program Pendidikan Pascasarjana Anestesiologi dibagi dalam dalam tiga tahap pendidikan, dengan masing-masing
tahap mempunyai tujuan pendidikan yang bulat, dan dicapai melalui pengalaman belajar dari isi pendidikan tertentu.
Tahapan pendidikan yang dimaksud bukan merupakan pembagian berdasarkan tahun, melainkan merupakan tahapan
atau pembagian tingkat perilaku yang dicapai.
Tahap I (tahap kualifikasi) selama 2 semester (28 SKS)
Tahap II (tahap pendalaman) selama 3 semester (42 SKS)
Tahap III (tahap akhir) selama 2 semester (32 SKS)
Sehingga jumlah beban seluruhnya 102 SKS + 2 SKS = 104 SKS

71

Tahap I: 2 (dua) semester = 28 SKS


Tahap ini merupakan tahap yang menentukan apakah peserta didik dapat melanjutkan pendidikannya atau drop out.
Oleh karena itu, maka tahap I menjadi sangat penting baik untuk peserta didik maupun untuk pelaksana pendidikan.
Mata kuliah dalam tahap ini harus dapat menjamin, bahwa bila peserta dapat menyelesaikan dengan baik, dipastikan
selanjutnya mendapat mata kuliah dalam tahap I terdiri dari:
MKDU (mata kuliah dasar umum): yaitu mata kuliah yang dirancang untuk memberikan dasar pengetahuan agar
peserta didik menjadi seorang ilmuwan, peneliti, pemikir yang berlandaskan etika kedokteran dan berhubungan
antar manusia yang baik, serta memahami masalah yang berkaitan dengan medikolegal.
MKDK (mata kuliah dasar keahlian): yaitu mata kuliah yang dirancang untuk memberikan pengetahuan dasar
(basic sciences) yang diperlukan untuk Spesialis Anestesiologi, yang melandasi keterampilan yang dipersyaratkan.
Keterampilan dasar yang berlandaskan etik dan hubungan antar manusia, berupa keterampilan dalam
mempertahankan patensi jalan nafas (dengan/tanpa alat), pemberian napas buatan dengan tangan, dan resusitasi
jantung paru, ketiga keterampilan tersebut dikaitkan, dituangkan dalam keterampilan setara ALS, ATLS, ACLS, dan
sebagainya.
Pengelola anestesi untuk pasien dengan Status Fisik I II (umur 5-60) untuk pembedahan superfisial (termasuk
orthopedi sedang), yang dimulai dari pengelolaan prabedah, selama pembedahan sampai pascabedah, termasuk
pengelolaan cairan, stres, dan nyeri akut sesuai kasus yang ditangani.
Tahap II: 3 (tiga) semester = 42 SKS
Tahap ini merupakan tahap pendalaman yang bertujuan untuk memberikan bekal peserta didik agar akhir tahap
pendalaman mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari profesi
Spesialis Anestesiologi. Pengalaman belajar didapatkan dari Mata Kuliah Keahlian (MKK) yang dijabarkan dalam teori,
pengalaman klinik, dan pengalaman peneliti. Pengalaman klinik meliputi pengelolaan anestesi, pengelolaan penderita
gawat yang memerlukan tindakan pembedahan, pengelolaan penderita gawat yang memerlukan terapi dan perawatan
intensif, pengelolaan nyeri akut dan nyeri kronik, antisipasi dan pengelolaan penyulit yang mungkin timbul.

Semester 3:
Pengetahuan dan keterampilan dalam: anestesi regional, anestesi untuk pembedahan abdominal bawah, abdominal
atas (pada pasien tanpa kelainan endokrin), pembedahan orthopedi besar (tidak termasuk leher, dan tulang
punggung), pembedahan mata, THT, ginekologi, urologi sedang, disertai dengan pengelolaan prabedah, dan
pascabedah, pengelolaan nyeri, dan penyulit yang mungkin timbul. Kesemuanya diaplikasikan baik pada pembedahan
terencana, maupun darurat.
Semester 4:
Pengetahuan dan keterampilan dalam: anestesi untuk bedah anak (tidak termasuk bedah saraf pusat), anestesi pada
penderita dengan penyakit endokrin (DM dan tiroid), pembedahan kepala-leher (tidak termasuk bedah saraf),
pembedahan ginekologi, urologi besar, baik untuk tindakan terencana maupun darurat. Kesemuanya disertai dengan
pengelolaan pra dan pascabedah. Aplikasi pemberian nutrisi enteral, dan parenteral (termasuk pemasangan CVP).
Pengalaman dasar-dasar penanganan intensif (Tahap I).

Semester 5:
Pengetahuan dan keterampilan dalam: pengelolaan anestesi bedah paru, bedah saraf perifer, penanganan intensif
tahap II (pengelolaan nafas buatan dengan berbagai mesin, nutrisi, pengelolaan gagal ginjal akut, pengelolaan trauma
ganda, sepsis, dll).
Tahap III: 2 (dua) semester = 32 SKS
Tahap ini merupakan tahap pemantapan dengan rumusan perilaku yang diharapkan selain kemampuan medik, juga
berupa kemampuan nonmedik dengan melaksanakan tugas-tugas manajerial sebagai chief resident, melakukan tugas
pengaturan ketenagaan peserta PPDS I (dengan bimbingan KPS/SPS), tugas sebagai pembimbing (membimbing
residen yang lebih muda, mahasiswa, dan paramedik), serta konsultasi.
Semester 6 & 7:
Pengetahuan dan keterampilan penanganan ICU (tahap III), bedah saraf (trauma kepala), pengetahuan dan
kesempatan mengikuti bedah jantung, serta penyelesaian yang telah dimulai pada akhir semester 5.
Tahap ini diakhiri dengan ujian profesi dengan menyertakan penguji dari pusat pendidikan yang lain.

72

2.

Program Studi Ilmu Bedah

a.
1.

Struktur Mata Kuliah


Bed Side Teaching (Clinical Problem Based Learning):
Proses pembelajaran klinik yang dilakukan oleh peserta didik ketika melakukan perawatan pasien-pasien di
bangsal bedah, poliklinik, maupun instalasi gawat darurat di bawah supervisi langsung staf pengajar. Staf
pengajar melakukan observasi langsung kinerja pemeriksaan klinik bedah peserta didik, kemudian memberikan
umpan balik, dan mendemonstrasikan berbagai ketrampilan klinik yang dianggap masih memerlukan koreksi atau
perbaikan. Setelah sesi di bangsal selesai, dilakukan diskusi kasus yang dikelola dengan metode Problem based
learning.

2.

Referat:
Penulisan dan penyajian suatu subtopik dari suatu modul belajar oleh peserta didik di bawah panduan seorang
fasilitator/tutor. Referat disusun sebagai karya tulis ilmiah yang dicetak dan dipresentasikan di hadapan
pembimbing, penelaah, serta peserta didik lainnya. Presentasi dilakukan melalui sarana multi media yang terdiri
dari maksimum 20 menit presentasi dan 15 menit diskusi.

3.

Laporan kasus-kasus:
Dilaksanakan dalam bentuk :
a. Laporan Jaga: Dilakukan diskusi pengelolaan perioperatif dan intra-operatif atas laporan kasus pasien-pasien
gawat darurat. Dilakukan setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat dengan waktu dari jam 07.00 08.00 pagi.
b. Laporan kasus-kasus elektif: Dilakukan diskusi pengelolaan perioperatif atas laporan pasien-pasien yang
dirawat di bangsal bedah. Waktu pelaksanaan diatur oleh masing-masing divisi.

4.

Presentasi kasus:
Penyajian dan pembahasan suatu kasus yang terdapat permasalahan kompleks atau yang jarang dijumpai. Kasus
disajikan dalam bentuk naskah tertulis yang dicetak dan presentasi oral di hadapan pembimbing, penelaah, serta
peserta didik lainnya.

5.

Kuliah Mini (Meet the expert):


Dilaksanakan selama 50 menit, yang terdiri dari kuliah didaktik (maksimum 30 menit) oleh narasumber/staf
pengajar dan dilanjutkan dengan diskusi kelas selama 20 menit.

6.

Telaah kritis jurnal (Journal Club):


Peserta didik melaksanakan telaah kritis atas satu topik artikel orisinal (bukan suatu artikel review, case report,
dan editorial) dari jurnal internasional maupun nasional yang ditetapkan oleh staf pendidik di divisi tempat peserta
didik melaksanakan stasenya. Hasil telaah kritis tersebut disajikan dalam bentuk presentasi oral di forum
departemen. Jadwal Kegiatan ini adalah : setiap hari Jumat pada jam 14.00 15.00.

7.

Diskusi kelompok, forum diskusi, dan tutorial:


Di bawah fasilitasi seorang tutor yaitu staf pendidik, peserta didik mengajukan suatu topik diskusi dalam disiplin
ilmu bedah dasar ataupun lanjut dan contoh kasusnya, kemudian dibahas secara paripurna. Kegiatan ini berupa
kegiatan Forum Diskusi Biologi molekuler setiapo hari Jumat dari jam 13.00 14.00 dan kegiatan diskusi di
masing-masing divisi.

8.

Ronde / visite besar:


Dilakukan ronde visitasi pasien-pasien yang dirawat di bangsal bedah, instalasi perawatan intensif, dan gawat
darurat oleh para staf pengajar untuk melakukan perawatan perioperatif berdasarkan laporan presentasi oleh
peserta didik dan pemeriksaan langsung oleh staf tersebut. Proses bed side teaching dapat juga dilakukan
seiring dengan kegiatan tersebut.

9.

Pelatihan ketrampilan klinik bedah:


Pelatihan ketrampilan klinik dan prosedur bedah dasar dilakukan dengan prinsip pelatihan berbasis kompetensi
yaitu pola belajar tuntas, humanistik, pendekatan adult learning principles. Pendekatan ini dilakukan tahapantahapan sebagai berikut: akuisisi ketrampilan melalui presentasi kuliah instruktur, demonstrasi oleh instruktur pada
alat bantu belajar/ standardized patient (SP) /hewan hidup atau organ hewan, kemudian proses pendampingan
coaching ketika peserta melakukannya pada alat bantu belajar/SP, di laboratorium ketrampilan klinik, dan diakhiri
oleh pelatihan dengan supervisi maupun mandiri pada pasien-pasien di rumah sakit.

10. Pelaksanaan modul-modul belajar:

73

Setiap divisi memiliki koordinator pendidikan yang sekaligus bertugas untuk mengelola pelaksanaan modul belajar
berbagai teknik operasi yang telah ditetapkan oleh kolegium. Selain itu, ditetapkan pula staf pengajar yang akan
membimbing dan mendidik para peserta didik berdasarkan tingkat / jenjang peserta.
1. Proses pembelajaran dilaksanakan melalui metode:
a. small group discussion
b. peer assisted learning (PAL)
c. bedside teaching
d. task-based medical education
2.

3.
4.

Peserta didik paling tidak sudah harus mempelajari:


a. bahan acuan (references)
b. ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran
c. ilmu klinis dasar
Penuntun belajar (learning guide) berupa daftar tilik langkah-langkah
prosedur yang dipresentasikan dalam bentuk teknik operasi.
Tempat belajar (training setting): bangsal bedah, kamar operasi, bangsal perawatan pasca operasi.

11. Praktek kerja:


Peserta didik melakukan praktek pelayanan bedah di bawah supervisi staf pengajar berupa kegiatan:
a. Pelayanan di poliklinik.
b. Pelayanan di instalasi gawat darurat rumah sakit: Jaga Malam dan stase di Instalasi Gawat Darurat RS
dr Hasan Sadikin Bandung.
c. Pelayanan bedah di ruang instalasi bedah.
d. Perawatan perioperatif di ruang perawatan (bangsal).
A. Struktur Mata Kuliah
Masa studi program pendidikan adalah 9 semester dengan masa studi maksimal adalah 14 semester. Pendidikan
dilaksanakan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
KURIKULUM
Bedah Digestif 2
bulan
B

SEMESTER
1

Bedah Onkologi 2
bulan

E
D
A

Bedah Orthopedi 2
bulan
Bedah Urologi 2
bulan

KURSUS
Pra Bedah Dasar (12
minggu)
BSSC
LLL ESPEN
Peri-Operatif
Wound and Stoma
Care

UJIAN
Ilmu
Dasar
Bedah

USG (FAST)

H
Bedah Anak 2
bulan
D

Bedah Plastik 2
bulan

A
S
A
R

Bedah saraf 2
bulan
Bedah Vaskular 1
bulan
Bedah Toraks 1
bulan
Emergensi 1 bulan
ICU 1 bulan

OSCE

74

Bedah Onkologi 2
bulan

DSTC

BSSC II:
Laparoskopi
Endoskopi

Bedah Digestif 2
bulan
Bedah Plastik 2
bulan
RS. Dr. Slamet
Garut
Bedah Anak 2
bulan

Bedah Orthopedi 1
bulan
Bedah Urologi 1
bulan
B
E
D
A
H

L
A
N
J
U

Emergensi 2 bulan
Bedah Onkologi 2
bulan

Bedah Digestif 2
bulan
Bedah Toraks 1
bulan
Bedah Vaskular 1
bulan
Bedah Onkologi 2
bulan

Ujian
Kognitif

Bedah Digestif 2
bulan
Bedah Vaskular 2
bulan

T
Bedah Orthopedi 1
bulan

Bedah Toraks 1
bulan
Bedah Saraf 2
bulan
Dinas Luar RS
Satelit:
9
RSPAD Jakarta (3
bulan)
RS. Dr. Slamet
Garut (1 bulan),
dan

TESIS
Ujian
Profesi
Lokal
Ujian
Profesi
Nasion
al

75

RSUD Cibabat/ RS
Dustira/ RSUD
Tasikmalaya (1
bulan)
Tesis
Keterangan:
BSSC : Basic Surgical Skill Courses
OSCE : Objective Skill Clinical Examination
FAST
: Focus Abdominal Sonography for Trauma
LLL ESPEN
: Long Life Learning ESPEN
DSTC
: Definitive Surgery for Trauma Care

Tujuan pembelajaran umum pada setiap tahapan pendidikan :


No.
1.

2.

3.

Tahapan pendidikan
Kursus Pra Bedah Dasar
Setelah mengikuti kursus, peserta didik akan mampu :
1. Menjelaskan ilmu-ilmu kedokteran dasar yang
relevan dengan ilmu bedah, ilmu bedah dasar, dan
melakukan ketrampilan klinik dasar bedah dengan
benar.
2. Menjelaskan ilmu-ilmu dasar yang relevan dengan
praktik ilmu bedah.
3. Menyusun proposal penelitian dalam bidang ilmu
bedah
4. Melakukan ketrampilan klinik dasar bedah
Bedah Dasar
Setelah melaksanakan tahap bedah dasar, peserta didik
akan mampu:
1. Menerapkan dasar-dasar dan prinsip ilmu bedah
emergensi dan trauma.
2. Menjelaskan pengetahuan dasar di dalam bidang
ilmu bedah digestif, orthopaedi, onkologi, kepala
dan leher, urologi, bedah plastik dan rekonstruksi,
bedah anak, kardiothoraks, vaskular, bedah saraf,
serta perawatan intensif bedah.
3. Melakukan perawatan perioperatif pasien-pasien
bedah sesuai dengan prinsip total care.
4. Melakukan ketrampilan prosedur bedah dasar di
bidang ilmu bedah digestif, orthopaedi, onkologi,
kepala dan leher, urologi, bedah plastik dan
rekonstruksi, bedah anak, kardiothoraks, vaskular,
bedah saraf, serta perawatan intensif bedah.
5. Melakukan penelitian klinik dan mempublikasikan 2
karya ilmiah.

Bedah lanjut
Setelah melaksanakan tahap bedah lanjut, peserta didik
akan mampu:
1. Menerapkan pengetahuan bedah lanjut di dalam
bidang ilmu bedah digestif, orthopaedi, onkologi,
kepala dan leher, urologi, bedah plastik dan

Level
Kompete
nsi

(K2, P4)
(K2)
(K3)
(P4)

(K3)
(K2)

(K3, P5)
(P5)

(K4)

(K3)

76

2.
3.

4.

5.

rekonstruksi, bedah anak, kardiothoraks, vaskular,


bedah saraf, serta traumatologi.
Melakukan perawatan perioperatif pasien-pasien
bedah sesuai dengan prinsip total care.
Melakukan ketrampilan prosedur bedah lanjut di
bidang ilmu bedah digestif, orthopaedi, onkologi,
kepala dan leher, urologi, bedah plastik dan
rekonstruksi, bedah anak, kardiothoraks, vaskular,
bedah saraf, serta traumatologi dan perawatan
intensif bedah.
Melakukan perawatan perioperatif dan
melaksanakan prosedur pembedahan secara
mandiri di rumah sakit jejaring pendidikan.
Menyusun thesis dan mempublikasikan hasil
penelitiannya.

(K3, P5)
(P5)

(K4, P5)

Struktur Mata Kuliah berdasarkan sistem kredit semester (sks).

SEMESTER

Mata Kuliah
Courses
Tahap Pendidikan Bedah Dasar:

SKS
SC

Basic Surgical Training Phase:

SEMESTER
I

Pendidikan Pra Bedah Dasar: Ilmu Dasar Umum,


Ilmu Kedokteran Dasar, Ilmu Bedah Dasar dan
Keterampilan Dasar Bedah Umum

13.04

Basic Surgical Training Phase:Basic Sciences,Basic


Medical Sciences,Basic Surgical Sciences and
Skills of General Surgery
Pengetahuan dan Keterampilan Dasar Bedah
Digestif I

5.73

Basic Knowledge and Skills of Digestive Surgery I


Pengetahuan dan Keterampilan Dasar Bedah
Onkologi I

5.73

Basic Knowledge and Skills of Surgical Oncology I


Pengetahuan dan Keterampilan Dasar Bedah Anak
I

5.73

Basic Knowledge and Skills of Pediatric Surgery I

SEMESTER
II

Pengetahuan dan Keterampilan Dasar Urologi I


Basic Knowledge and Skills of Urology I

5.73

77

Mata Kuliah

SEMESTER

Courses
Pengetahuan dan Keterampilan Dasar Bedah
Plastik dan Rekontruksi I

SKS
SC
5.73

Basic Knowledge and Skills of Plastic and


Reconstructive Surgery I
Pengetahuan dan Keterampilan Dasar Bedah
Emergensi I

5.73

Basic Knowledge and Skills of Emergency Surgery


I

SEMESTER
III

Pengetahuan dan Keterampilan Dasar Orthopaedi I

5.73

Basic Knowledge and Skills of Orthopaedics I


Pengetahuan dan Keterampilan Dasar Bedah Saraf
I

2.86

Basic Knowledge and Skills of Neuro Surgery I


Pengetahuan dan Keterampilan Dasar Bedah
Thoraks I

2.86

Basic Knowledge and Skills of Cardiothoracic


Surgery I
Pengetahuan dan Keterampilan Dasar Bedah
Vaskular I

2.86

Basic Knowledge and Skills of Vascular Surgery I


Pengetahuan dan Keterampilan Dasar Perawatan
Intensif

2.86

Basic Knowledge and Skills of Intensive Care

Tahap Pendidikan Bedah Lanjut


Advance Surgical Knowledge and Skills
SEMESTER
IV

Pengetahuan dan Keterampilan Lanjut Bedah


Onkologi II

5.73

Advanced Knowledge and Skills of Surgical


Oncology II
Pengetahuan dan Keterampilan Lanjut Bedah
Digestif II

5.73

Advanced Knowledge and Skills of Digestive


Surgery II
Pengetahuan dan Keterampilan Lanjut Bedah
Plastik dan Rekontruksi II

5.73

78

SEMESTER

Mata Kuliah
Courses
Advanced Knowledge and Skills of Plastic and
Reconstructive Surgery II

SEMESTER
V

Pengetahuan dan Keterampilan Lanjut Bedah Anak


II

SKS
SC

5.73

Advanced Knowledge and Skills of Pediatric


Surgery II
Pengetahuan dan Keterampilan Lanjut Bedah
Emergensi II

5.73

Advanced Knowledge and Skills of Emergency


Surgery II
Pengetahuan dan Keterampilan Lanjut Urologi II

2.86

Advanced Knowledge and Skills of Urology II

SEMESTER
VI

Pengetahuan dan Keterampilan Lanjut Bedah


Onkologi III

5.73

Advanced Knowledge and Skills of Surgical


Oncology III
Pengetahuan dan Keterampilan Lanjut Bedah
Digestif III

5.73

Advanced Knowledge and Skills of Digestive


Surgery III
Pengetahuan dan Keterampilan Lanjut Bedah
Thoraks II

2.86

Advanced Knowledge and Skills of Cardiothoracic


Surgery II
Pengetahuan dan Keterampilan Lanjut Bedah
Vaskular II

2.86

Advanced Knowledge and Skills of Vascular


Surgery II

SEMESTER
VII

Pengetahuan dan Keterampilan Lanjut Orthopaedi


II

2.86

Advanced Knowledge and Skills of Orthopaedics II


Pengetahuan dan Keterampilan Lanjut Bedah
Onkologi IV
Advanced Knowledge and Skills of Surgical
Oncology IV

5.73

79

Mata Kuliah

SEMESTER

Courses
Pengetahuan dan Keterampilan Lanjut Bedah
Digestif IV

SKS
SC
2.86

Advanced Knowledge and Skills of Digestive


Surgery IV
Pengetahuan dan Keterampilan Lanjut Bedah
Thoraks III

2.86

Advanced Knowledge and Skills of Cardiothoracic


Surgery III
Pengetahuan dan Keterampilan Lanjut Bedah
Vaskular III

2.86

Advanced Knowledge and Skills of Vascular


Surgery II

SEMESTER
VIII

Pengetahuan dan Keterampilan Lanjut Bedah Saraf


II

5.06

Advanced Knowledge and Skills of Neuro Surgery


II
Keterampilan Manajerial dan Profesional Di RS
Satelit:
Managerial and Professional Skills at
Networking Hospitals

SEMESTER
IX

Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Subroto Jakarta

7.60

Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Slamet Garut

2.53

Rumah Sakit Cibabat Cimahi/Dustira/Tasikmalaya

3.19

Tesis

6.39

Thesis
TOTAL

155

Keterangan :
Dasar penghitungan SKS ditetapkan oleh FK UNPAD dengan pedoman sebagai berikut :
1. Satu semester : setara dengan 16 19 minggu kerja
2. Satu SKS untuk peserta didik adalah:
a. 50 menit/minggu : perkuliahan/ tatap muka
b. 60 menit /minggu : kegiatan tugas terstruktur dan tidak terjadwal
c. 60 menit/minggu : kegiatan akademik peserta didik secara mandiri
3. Satu SKS kegiatan praktikum di laboratorium : 2-3 jam/minggu di laboratorium
4. Satu SKS kerja lapangan : 4 6 jam tugas di lapangan atau sejenisnya
5. Satu SKS penyusunan tesis : 3-4 jam /hari selama 25 hari kerja.

80

B.

Evaluasi Hasil Belajar

Penilaian terhadap pencapaian kompetensi peserta didik yang sesuai dengan kurikulum adalah bagian dari
proses kualifikasi. Kualifikasi ini membutuhkan berbagai metode dan instrumen evaluasi secara berkala (ujian
formatif) dan evaluasi akhir (ujian sumatif). Ruang lingkup penilaian akan meliputi aspek kognitif, psikomotor, dan
afektif (sikap dan prilaku profesional ). Penilaian berkala dilakukan secara kontinyu pada jenjang Pra Bedah
Dasar, Stase Bedah Dasar, dan Bedah Lanjut. Sesuai dengan panduan kurikulum Kolegium Bedah Indonesia,
maka di setiap jenjang pendidikan dilaksanakan ujian nasional.

Kualifikasi
1.

2.

3.

4.
5.

6.
7.
8.

9.

Kualifikasi yang dimaksud pada pedoman ini adalah adalah proses penilaian dan penetapan seorang peserta
didik di dalam pencapaian kompetensi standar yang telah ditetapkan oleh Kolegium Bedah Indonesia dan
PPDS-1 Bedah Umum FK UNPAD/RS dr Hasan Sadikin Bandung.
Tujuan kualifikasi adalah untuk menentukan apakah peserta mampu melanjutkan pendidikan pada program
studi yang dipilih. Bila peserta tidak lulus kualifikasi, peserta dikembalikan ke TKP-PPDS-I untuk disalurkan ke
program studi pilihan II sesuai dengan persyaratan.
Isi atau materi proses kualifikasi adalah pemahaman dan penerapan teori ilmu bedah umum, ketrampilan
melakukan prosedur klinik dan pembedahan, dan prilaku professional di dalam melaksanakan tugas
perawatan pada pasien, tugas-tugas akademik PPDS-1, dan bekerja sama di dalam tim personil perawatan
bedah .
Kualifikasi dilaksanakan melalui metode ujian dan penilaian secara berkala dan kontinyu.
Metode Evaluasi dan ujian pada saat stase:
a. Ujian kognitif tertulis: Ujian tulis kasus secara essay, dan ujian pilihan berganda dengan prinsip
vignette
b. Ujian ketrampilan psikomotor:
i. Ujian Mini CEX: ujian kompetensi pemeriksaan klinik
ii. Ujian DOP (Direct Observation of Procedure/s) dan Modul Operasi
c. Evaluasi kegiatan akademik stase :
i. Referat
ii. Telaah kritis jurnal
iii. Presentasi kasus
iv. Seminar dan diskusi kelompok
d. Evaluasi kegiatan perawatan perioperatif :
i. Ronde /Visite Besar
ii. Hubungan interpersonal dan komunikasi efektif
iii. Kerja sama tim
iv. Tanggung jawab dan kehadiran
e. Buku Log:
f. Portfolio setiap peserta didik
Kualifikasi dilaksanakan oleh KPS bersama tim penerimaan dan dibentuk dengan SK Departemen yang terdiri
dari staf pengajar.
Penilaian berkala bertujuan untuk menentukan apakah peserta mampu meneruskan ke tahap pendidikan
berikutnya dan dilakukan setiap bulan berupa kegiatan judisium.
Dalam hal peserta didik yang tidak lulus pada tahapan stase, maka diberikan kesempatan untuk proses
remediasi melalui pengulangan stase maksimal tidak lebih dari 2 kali pengulangan stase. Apabila hal ini
terjadi maka KPS akan membentuk tim khusus dan konseling untuk melakukan penilaian ulang secara
komprehensif perihal potensi dan kemampuan profesionalnya, serta dilakukan ujian ulangan, Proses ini
dilaksanakan maksimal selama 3 bulan.
Apabila peserta dinyatakan oleh tim khusus dan konseling tidak mampu melanjutkan pendidikan, maka tim
akan merekomendasikan untuk mengajukan permohonan pengunduran diri, atau dinyatakan putus sudi (drop
out). Dalam hal peserta dikeluarkan karena masalah etika dan moral, yang bersangkutan diusulkan tidak
dapat diterima sebagai peserta pada program studi yang sama di Fakultas Kedokteran lain.

C. Pedoman Ujian

81

Bahan ujian
Sebagian besar (>80%) bahan ujian berasal dari textbook wajib, semua materi perkuliahan, seminar, diskusi, dan
pelatihan yang telah diberikan kepada peserta didik.
Buku wajib:
1. Norton J.A., Barie P.S., Bollinger R.RR., Chang A.E., Lowry S.F. (Eds), Surgery Basic Science & Clinical
Evidence, Second Edition, Springer Verlag: 2007.
2. Brunicardi F.C., (Ed), Schwartzs: Principles of Surgery, Ninth Edition, Mc Graw-Hill Co: 2010.
3. Way W.L., Current diagnosis and treatment surgery, 13th Edition, Mc Graw-Hill Co.: 2011.
Saat pelaksanaan ujian
Ujian dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan jenjang pendidikan.
1. Ujian Ilmu Dasar lokal : dilaksanakan pada akhir Perkuliahan Bedah Dasar
2. Ujian Ilmu Dasar Nasional : dilaksanakan pada akhir Perkuliahan Bedah Dasar
3. Ujian akhir sirkulasi/posting/stase: dilaksanakan pada tiap akhir sirkulasi/posting/stase
4. Ujian Bedah Dasar Nasional (OSCE): dilaksanakan pada akhir Tahap Bedah Dasar (awal Semester IV)
5. Ujian Kognitif Nasional: dilaksanakan pada masa posting Tahap Bedah Lanjut awal semester V.
6. Ujian Profesi Nasional: dilaksanakan pada akhir Pendidikan
Ad. 2,4,5,6 diselenggarakan / dikoordinir oleh Kolegium Ilmu Bedah Indonesia
Ujian Nasional
1.
Ujian Ilmu Dasar Nasional
1. Pelaksanaan
Diadakan 2 x dalam setahun, setiap bulan Januari dan Juli
2. Persyaratan :
1. Telah menyelesaikan Perkuliahan Tahap Bedah Dasar
2. Telah lulus Ujian Ilmu Dasar (Lokal)
3. Menyerahkan buku catatan kegiatan yang telah diperiksa dan ditanda tangani oleh KPS
4. Telah melunasi iuran angota muda IKABI
3. Bentuk ujian
Ujian tulis dengan bentuk soal pilihan ganda
4. Tempat ujian
Diselenggarakan bersama-sama secara terpusat pada pertemuan ilmiah tahunan IKABI setiap bulan Juli dan
di senter pendidikan setiap bulan Januari.
5. Hasil ujian
Diumumkan paling lambat 1 bulan setelah ujian dilaksanakan. Peserta yang tidak lulus dapat mengulang.
2.

Ujian Bedah Dasar Nasional ( OSCE )


1. Pelaksanaan
Diadakan 2 x dalam setahun, setiap bulan Juni dan Nopember
2. Persyaratan
a) Telah menyelesaikan 2 karya ilmiah (1 penelitian retrospektif deskriptif, 1 referat / 1 laporan kasus)
b) Telah lulus Ujian Ilmu Dasar Nasional
c) Menyerahkan buku catatan kegiatan yang telah diperiksa dan ditanda tangani oleh KPS
d) Telah melunasi iuran angota muda IKABI
3. Bentuk ujian
Ujian praktek dalam melakukan asessment klinis terhadap penderita/ penderita simulasi. Penilaian dilakukan
oleh seorang asessor yang dilengkapi dengan lembar jawaban yang dibuat secara terstruktur
4. Tempat ujian
Diselenggarakan secara regional ( peserta didik berasal dari beberapa senter pendidikan ), dan dikoordinir oleh
Kolegium Ilmu Bedah Indonesia
5. Hasil ujian

82

Diumumkan paling lambat 1 bulan setelah ujian dilaksanakan. Peserta yang tidak lulus dapat mengulang,
ditempat yang sama atau di regional yang lain.

3. Ujian Kognitif Ilmu Bedah Nasional


a. Pelaksanaan
Diadakan 2 x dalam setahun, setiap bulan Januari dan Juli
b. Persyaratan
1. Telah menyelesaikan semua posting Tahap Bedah Lanjut
2. Menyerahkan buku catatan kegiatan yang telah diperiksa dan ditanda tangani oleh KPS
3. Telah menyelesaikan 2 karya ilmiah (minimal 1 referat nasional )
4. Telah melunasi iuran angota muda IKABI
c. Bentuk ujian
Ujian tulis dengan bentuk soal pilihan ganda dan esai
d. Soal ujian
Pembagian persentasi soal-soal ujian pilihan ganda :
- Bedah Digestif
25% (30%)
- Bedah HNB Onkologi
15% (25%)
- Bedah Ortopaedi
15% (15%)
- Bedah Thoraks kardiovaskuler
10% (10%)
- Bedah Urologi
10% (5%)
- Bedah Anak
10% (5%)
- Bedah Plastik Rekonstruksi
10% (5%)
- Bedah Syaraf
5% (5%)
Soal esai sebanyak dua soal : Kasus Bedah Digestif dan Onkologi, Kepala dan leher
e. Tempat ujian
Diselenggarakan oleh Kolegium Ilmu Bedah Indonesia bersama-sama secara Nasional pada waktu yang
bersamaan di BITDEC Bali untuk wilayah Timur ( Semarang, Jogja, Solo, Surabaya, Malang,Bali, Makasar,
Manado, Banjarmasin dan samarinda), dan Bapelkes Batam untuk wilayah Barat (Aceh, Medan, Padang,
Palembang, Bandung, Jakarta ) pada bulan Januari dan Juli. Dengan catatan; di masa yang akan datang, akan
dihadiri oleh external examiner dari kawasan Negara ASEAN.
f. Hasil ujian
Diumumkan paling lambat 1 bulan setelah ujian dilaksanakan. Peserta yang
tidak lulus dapat mengulang.
4. Ujian Profesi Bedah Nasional
a. Pelaksanaan
Diadakan 4 x dalam setahun, setiap bulan Januari, April, Juli, dan Oktober
b. Persyaratan
1. Lulus ujian Kognitif Ilmu Bedah Nasional
2. Telah menyelesaikan semua tahapan pendidikan sesuai Katalog Program Studi Ilmu Bedah yang
dinyatakan dengan surat tanda selesai dari KPS
3. Menyerahkan buku catatan kegiatan yang telah diperiksa dan ditanda tangani oleh KPS
4. Menyelesaikan penelitan dan penulisan karya akhir
5. Telah melunasi iuran angota muda IKABI
c. Bentuk ujian
Ujian lisan dengan titik berat penilaian pada analisis dan pemecahan masalah pasien.
d. Soal ujian
Ujian kasus penderita kelainan bedah :
Ujian ini menilai kemampuan peserta didik dalam menegakkan diagnosis klinis, mengusulkan pemeriksaan
penunjang, serta merencanakan terapi.
1. Long case (kasus dengan diskusi 45menit/ kasus)
Dua kasus terdiri dari 1 kasus Bedah Digestif, 1 kasus Bedah Onkologi Kepala dan Leher atau Bedah
Ortopaedi, dan satu kasus (long case) harus berupa kasus onkologi

83

2. Short case (kasus dengan diskusi 20 menit/kasus)


- 3 kasus terdiri dari subspesialisasi lain.
e. Tim Penguji Nasional
Tim penguji terdiri dari :
1.
Seorang penguji Nasional Ahli Bedah Umum yang ditunjuk oleh Kolegium Ilmu Bedah Indonesia dengan
jabatan minimal (setara) lektor kepala yang masih aktif di pusat Pendidikan Ilmu Bedah dan telah
berpengalaman sebagai pendidik selama minimal 5 tahun, serta memiliki sertifikat instruktur kursus
dari program Kolegium Ilmu Bedah Indonesia, Guru Besar, Doktor S3 atau jabatan KPS.
2.

Penguji setempat yang ditunjuk oleh KPS dengan jabatan minimal (setara) lektor yang masih aktif sesuai
dengan materi ujian Penguji nasional dan penguji setempat dibuatkan SK Dekan Fakultas Kedokteran
ditempat ujian berlangsung, usulan ke dekan oleh KPS setempat.
f. Tempat ujian
Ujian Profesi Bedah Nasional diselenggarakan di senter pendidikan Ilmu Bedah dimana peserta ujian dapat
berasal dari senter pendidikan bedah lain.
g. Hasil ujian
Diumumkan langsung setelah ujian selesai dilaksanakan. Peserta yang tidak lulus dapat mengulang pada
jadwal Ujian Profesi Bedah Nasional berikutnya.
Hasil ujian dinyatakan dalam suatu formulir khusus (Berita Acara Ujian Profesi Bedah Nasional) yang
menyatakan lulus/tidak lulusnya peserta didik dan ditandatangani oleh Penguji Nasional dan KPS.
Hasil ujian dilaporkan kepada Dekan dan dipakai oleh Dekan sebagai dasar untuk menerbitkan surat tanda
lulus/ijasah Spesialis Bedah.
D.

Tata Tertib

Dalam tata tertib ini yang dimaksud dengan :


1. Pusat Pendidikan/Tempat Pendidikan Dokter Spesialis adalah Departemen yang menyelenggarakan Program
Pendidikan Dokter Spesialis-I
2. Peserta PPDS-I adalah peserta didik yang terdaftar dan sedang mengikuti program pendidikan ditempat
pendidikan.
3. Tata tertib Peserta PPDS-I di tempat pendidikan adalah peraturan yang mengatur sikap, perilaku dan tata cara
yang wajib dipatuhi oleh setiap PPDS-I di dalam mengikuti dan menjalankan proses belajar mengajar di tepat
pendidikan.

TUJUAN TATA TERTIB


Tata tertib PPDS-I ini secara umum bertujuan untuk :
1. Menciptakan proses belajar mengajar yang tertib, teratur dan iklim yang kondusif untuk pengembangan individu
PPDS-I maupun tempat pendidikan.
2. Membentuk PPDS-I dan alumni yang berilmu, patuh pada hukum dan peraturan yang berlaku dan diharapkan
mampu untuk menjadi anggota masyarakat yang baik, serta bertanggung jawab pada dirinya dan masyarakat.
3. Diharapkan mampu menjadi PPDS-I yang bertaqwa, produktif, inovatif dan berbudi luhur.

TATA TERTIB KHUSUS PESERTA PPDS-I DI TEMPAT PENDIDIKAN


Di lingkungan tempat pendidikan, disamping melaksanakan peraturan dan tata tertib secara umum, juga diberlakukan
peraturan tata tertib yang bersifat khusus sebagai berikut :
I. Akademis
1. Mentaati peraturan akademis yang berlaku.
2. Mengembangkan sikap dan prilaku ilmiah.
3. Tidak boleh terlambat dalam mengikuti kegiatan pendidikan atau pulang sebelum kegiatan berakhir tanpa ijin.

84

4.
5.
6.

Harus mengirimkan surat ijin bila tidak dapat mengikuti kegiatan pendidikan (tidak hadir)
Diwajibkan untuk berpakaian rapi dalam mengikuti kegiatan pendidikan.
Tidak diperkenankan berbuat curang dalam ujian atau tugas-tugas akademik lainnya.

II. Tata Pergaulan


1. Bersikap dan berprilaku hormat pada Staf Pengajar, Staf Administrasi, Staf Rumah Sakit Pendidikan, dan sesama
peserta PPDS-I.
2. Sopan, saling menghargai dan menghindari perbuatan yang tidak bermoral.
3. Membina kerjasama sesama peserta PPDS-I.
III. Penampilan
1. Bertata rias yang rapi dan sopan.
2. Berpakaian bersih, rapi, sopan dan menggunakan tanda pengenal.
3. Tidak diperkenankan memakai baju kaos.
4. Mengenakan sepatu yang terawat dan dikenakan secara wajar.
Khusus Pria
1. Tidak diperkenankan berambut gondrong.
2. Tidak diperkenankan menggunakan anting-anting, tindik hidung dan asesoris tidak wajar lainnya.
3. Tidak diperkenankan bercelana jeans.
Khusus Wanita
1. Tata rias dan rambut harus rapi dan tidak menyolok.
2. Tidak diperkenankan berpakaian ketat atau berpakaian mini.
3. Tidak diperkenankan menggunakan cadar.
IV.
1.
2.
3.
4.
5.

Lain-lain
Menjaga kebersihan, keindahan, ketertiban, keamanan serta ketenangan lingkungan pendidikan.
Penyaluran aspirasi PPDS-I harus melalui jalur yang telah ditentukan.
Tidak diperkenankan membawa senjata api dan senjata tajam.
Tidak diperkenankan membawa narkotika, obat-obatan terlarang, dan minuman keras.
Tidak diperkenankan merokok di tempat kegiatan pendidikan (termasuk di kamar jaga , daerah kamar operasi dan
termasuk di RS Jejaring).
6. Menghindari pornografi.
E.

Jenis Pelanggaran dan Sanksi


Rincian aturan penegakkan disiplin dan sangsi administratif

Jenis pelanggaran
Tidak hadir (absen) karena sakit

Rincian Penegakkan disiplin


1.Ada surat sakit dari dokter RS
Negeri/Puskesmas

Sangsi Administratif
Surat harus sampai di sekretariat
KPS paling lambat hari ke-3 sakit.
Absen sakit >4 hari : Perpanjang
stase 1 bulan.

2.Tanpa alasan yang jelas, tanpa surat


sakit dari dokter

Absen 1 hari: Teguran lisan.


Absen >1 hari : Perpanjang stase 1
bulan.

85

Absen Kegiatan Pendidikan

Tanpa alasan jelas.

Teguran Lisan dan Membuat paper

Absen ketika Tugas Jaga

Tanpa alasan jelas (diketahui


meninggalkan tempat selama > 30
menit)

Teguran Lisan dan Tertulis dan


Stase 1 bulan

Melakukan tindakan operasi tanpa


ijin dari konsulen:

1.Tidak melakukan informed consent.

Teguran Lisan dan Tertulis dan


membuat paper.

2.Tindakan operasi/pemasangan alat


tanpa ijin dan tak sesuai standar

Teguran Lisan dan Tertulis dan


Hukuman Stase 1 bulan

3.Melakukan operasi tetapi tanpa


melakukan Ujian Teknik Operasi

Teguran Lisan.

1.Laporan Jaga
2.Journal Reading
3.Seminar

Tidak menjalankan operasi yang diinstruksi-kan oleh konsulen

Teguran Lisan dan Tertulis oleh


konsulen bersangkutan dan
hukuman stase 1 bulan

Bertengkar dengan sesama peserta


didik

Teguran Lisan dan Tertulis.

Menjalankan instruksi operasi dari


konsulen, tetapi melakukan
kesalahan teknik operasi

Teguran Lisan dan Tertulis oleh


konsulen sub-Departemen
bersangkutan dan hukuman stase 1
bulan.

Tidak menjawab konsul dengan


cepat

Terlambat 1 jam:
Dengan alasan jelas

Teguran Lisan

Terlambat 1 jam:

Teguran Lisan dan Tertulis

Tanpa alasan

86

Laporan Jaga :

Terlambat 2 jam

Teguran Lisan dan Tertulis

Tidak terlambat, tetapi menjawab tanpa


konsultasi ke Peserta didik
Senior/Trainee/Konsulen

Teguran Lisan

1.Tidak melaporkan kasus gawat


darurat (pasien umum)

Teguran Lisan dan Tertulis

2.Tidak melaporkan kasus gawat


darurat (pasien pribadi konsulen) dan
tidak menanyakan ijin melaporkan kpd
konsulen bersangkutan

Teguran Lisan.

3.Tanpa dengan sengaja tidak


melaporkan dengan lengkap

Teguran Lisan

4.Dengan sengaja dan terbukti

Teguran Lisan dan Tertulis dan


stase 1 bulan.

menyembunyikan laporan jaga.

Jenis sanksi yang diberikan dapat berupa:


1.
2.
3.
4.

Peringatan secara lisan atau tertulis.


Peringatan dengan percobaan.
Dikenakan ganti rugi/denda.
Pengurangan nilai ujian bagi mata kuliah atau kegiataan akademik yang bersangkutan.

3.

Program Studi Ilmu Bedah Saraf

a.

Struktur Mata Kuliah

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Materi Pendidikan
Diskusi Pengetahuan Dasar & IBS lanjut
Journal Reading
Kegiatan Malam Klinik
Visite Besar dan Bedside Teaching
Visite Ruangan
Dokter Jaga
Joint Conference
Simposium: - Pembicara
- Peserta
Prosedur Diagnostik
Konferensi Praoperasi
Operasi: - Asisten II

Bobot
SKS
12,0
2,0
4,0
9,0
9,0
4,0
0,75
2,0
4,0
0,75
6,75
16,20

Semester
I-VI
I-VIII
I-VI
I-X
I-X
I-VIII
III-XI
V-XI
I-XI
III-XI
I-XI
I-VI

87

No

Materi Pendidikan
- Asisten I
- Operator
Konferensi Pascaoperasi
Kegiatan Kursus
Penulisan Refarat
Laporan Kasus
Laporan Kasus Kematian
Stase Lokal:
1. Bedah, 24 bulan
2. Neurologi, 6 bulan
3. Patologi, 1 bulan
4. Radiologi, 1 bulan
5. NICU, 1 bulan
Stase Luar Negeri, per minggu
Aktivitas Pendidikan RS Luar RSHS
Tesis

12
13
14
15
16
17

18
19

b.

Daftar Mata Kuliah


No

Materi Pendidikan

Diskusi Pengetahuan Dasar & IBS lanjut

Journal Reading

Kegiatan Malam Klinik

Visite Besar dan Bedside Teaching

Visite Ruangan

Dokter Jaga

Joint Conference

Simposium: - Pembicara

9
10
11
12
13
14
15

Prosedur Diagnostik
Konferensi Praoperasi
Operasi: - Asisten II
Konferensi Pascaoperasi
Kegiatan Kursus
Penulisan Refarat
Laporan Kasus

16

Laporan Kasus Kematian

17

Stase/rotasi Lokal:
1. Bedah, 24 bulan

4. Radiologi, 1 bulan

2. Neurologi, 6 bulan 5. NICU, 1 bulan


3. Patologi, 1 bulan
Stase Luar Negeri, per minggu
18
19

Aktivitas Pendidikan RS Luar RSHS


Tesis

Bobot
SKS
9,72
1,08
6,75
2,0
2,0
2,0
2,0
33,5
8,4
1,4
1,4
1,4
2,0
1,5
6,0

Semester
III-VII
VI-XI
I-XI
III-X
III-X
I-X
I-X
II-VI
II-VI
II-VI
II-VI
II-VI
VII-XI
I-VIII
X

88

c.

Deskripsi Mata Kuliah

1.

6.

Diskusi Pengetahuan Dasar Ilmu Bedah Saraf Dan Bedah Saraf Lanjut
Neuro anatomi, Neuro fisiologi, Neuro histologi/patologi, Neuro kimia, Pengetahuan teori klinik umum ilmu bedah
saraf lanjut, Neuro diagnostik, Pemeriksaan klinik neurologik, Pengetahuan teori klinik khusus ilmu, Bedah Saraf,
dan Teknik tindakan.
Pengetahuan Teori Klinik Khusus Dan Penerapan Teknologi Ilmu Bedah Saraf
Ilmu bedah elektif A, Ilmu bedah darurat A, Ilmu bedah elektif B, Ilmu bedah darurat B, Diagnostik.
Penggunaan alat diagnostik, Terapi medik, Konferensi pre dan pascaoperasi, Tindakan operatif/nonoperatif.
Pengembangan Kemampuan Tanggung Jawab
Dokter bedah saraf, Dokter jaga I dan bangsal, Dokter jaga II dan bangsal, Visite besar dan bedside teaching,
Visite ruangan, Aktivitas pendidikan Rumah Sakit luar RSHS.
Stase Lokal Dan Luar Negeri
Stase/rotasi pada Bagian Bedah, Neurologi, Patologi, Radiologi, NICU, dan Aktivitas stase luar negeri.
Pengembangan Ilmu Keahlian Bedah Saraf
Journal reading, Kegiatan malam klinik, Joint conference, Simposium nasional dan internasional, Kegiatan
kursus, Penulisan refarat, Penulisan laporan kasus, Laporan kasus kematian, Memperdalam ilmu bedah saraf ke
luar negeri, Mengembangkan kerjasama antar bagian di Indonesia, Asean, dan Asia.
Tesis

4.

Program Studi Orthopaedi dan Traumatologi

2.
3.
4.
5.

Struktur Mata Kuliah


Tahap Bedah Dasar
1.

Tahap Orthopaedi dan Traumatologi Dasar


( 1 semester/semester IV)
A.
Biologi selular dan molecular musculoskeletal
B.
Pembentukan, pertumbuhan embriologi dan dasar genetik kelainan
musculoskeletal
Surgical Anatomy and Approach
C.
D.
Biomekanik musculoskeletal dan biomaterial
E.
Inflamasi, degenerasi dan neoplasma musculoskeletal
F.
Imaging orthopaedi and other investigation (eg blood test, dll)
G.
Dasar traumatologi musculoskeletal
H.
Komplikasi traumatologi musculoskeletal
I.
Dasar osteosintesis, prosthetic and orthotic
Orthopaedic research (methodology and statistic)
J.
K.
Kelainan congenital pada musculoskeletal

2.

Tahap Orthopaedi & Traumatologi Lanjut 1


( 2 semester / semester V VI)

A. Trauma Ekstremitas Bawah


1.
Fraktur femur proksimal
2.
Fraktur femur diafisis
3.
Fraktur femur distal
4.
Fraktur tibia proksimal
5.
Fraktur tibia fibula diafisis
6.
Fraktur tibia fibula distal
7.
Fraktur kalkaneus non artikular
8.
Fraktur metatarsal, falang non artikular
9.
Sindroma kompartemen femur, tungkai bawah, kaki
10. Amputasi traumatik : femur, tungkai bawah, kaki, sendi lutut, sendi
pergelangan kaki dan sendi kaki
11. Trauma jaringan lunak, tendon fleksor dan ekstensor kaki (sederhana)
termasuk tendon achiles
12. Dislokasi panggul, lutut (sederhana)
13. Fraktur femur (kompleks)
14. Fraktur tungkai bawah (kompleks)

89

15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.

Dislokasi panggul dan fraktur kapur femur


Fraktur femur subtrokanter, pertrokanter, intertrokanter
Fraktur femur kolum
Fraktur femur interkondilus
Cedera patella dan mekanisme ekstensi
Dislokasi lutut traumatik akut
Fraktur plato tibia
Fraktur plafon tibia
Fraktur dan dislokasi pergelangan kaki
Fraktur kalkaneus (intraartikular)
Fraktur talus dan dislokasi subtalar
Fraktur dislokasi kaki tengah, kaki depan termasuk cedera lisfranc
Fraktur pelvis
Fraktur acetabulum
Cedera pelvis akut dan resusitasi bedah (fiksasi eksternal, klem C)
Sindroma Kompartemen

B. Trauma Ekstremitas Atas


1.
Fraktur klavikula
2.
Fraktur humerus proksimal
3.
Fraktur humerus diafisis
4.
Fraktur humerus distal
Fraktur lengan bawah (antebrachii)
5.
6.
Fraktur radius distal non artikular
7.
Fraktur metacarpal, falang non articular
8.
Cedera jaringan lunak tangan, kulit, kuku, tendon fleksor dan ekstensor
(sederhana)
9.
Sindroma kompartemen akut lengan bawah dan tangan
10. Amputasi traumatik (non replantasi): jari, ujung jari, tangan, lengan
bawah, lengan atas
11. Dislokasi bahu, siku akut/kronis
12. Cedera sendi AC dan sternoklavikular
13. Fraktur skapula dan dislokasi skapulotorasik
14. Fraktur skapula dan dislokasi glenohumeral
15. Fraktur humerus proksimal (kompleks)
16. Fraktur humerus dan komplikasi neurologis (kompleks)
17. Fraktur interkondilus humerus
18. Fraktur dan dislokasi siku, instabilitas siku
19. Fraktur olekranon dan kaput radius
20. Fraktur Galeazzi dan Montegia
21. Fraktur Radius distal intraartikular
22. Fraktur metacarpal, falang (intraarticular) termasuk skafoid dan fraktur
karpal lainnya
23. Fraktur dan dislokasi tangan : interfalang, metakapofalang,
karpometakarpal,
interkapal/radiokarpal
(lanatum,
perilunatum,
skafolunatum), sendi radioulnar distal
24. Cedera jaringan lunak kompleks: penyusunan kembali, graf, flap (tidak
termasuk flap lepas) saraf tepi, vaskuler (tak termasuk bedah mikro)
C. Trauma Pediatrik
1.
Fraktur dan dislokasi bahu pasien anak
2.
Fraktur lempeng pertumbuhan dan cedera musculoskeletal akibat
penyiksaan anak
3.
Fraktur dan dislokasi siku pada anak
Fraktur lengan bawah (green stick, fraktur komplit)
4.
Fraktur radius distal (buckle, fraktur komplit)
5.
6.
Fraktur dan dislokasi karpus
7.
Fraktur leher femur dan fraktur dislokasi panggul pada anak
8.
Fraktur tulang belakang pada anak
9.
Fraktur femur pada anak
10. Fraktur femur interkondilus pada anak
11. Fraktur plato tibia pada anak
12. Cedera patella dan mekanisme ekstensi

90

13. Fraktur tibia fibula diafisis pada anak


14. Fraktur dan dislokasi kaki dan pergelangan kaki pada anak
D. Trauma Tulang Belakang
1.
Evaluasi inisial pasien cedera tulang belakang
2.

Fraktur dan dislokasi tulang cervikal atas (oksiput, atlas dan aksis)

3.

Fraktur tulang cervikal bawah

4.

Fraktur dan dislokasi torakolumbar

5.

Cedera medulla spinalis

E. Infeksi dan Inflamasi Ekstremitas


1.
Infeksi sendi (supuratif-granulomatosa)
2.

Infeksi jaringan lunak (selulitis, tenosinovitis supuratif)

3.

Osteomielitis akut dan kronik

4.

Penyakit inflamasi sendi (RA, gout, psedogout)

5.

Kaki diabetes

6.

Gangren dan fasciitis nekrotikans

7.

Entesopati ekstremitas atas

8.

Entesopati ekstremitas bawah

9.

Rheumatisme non-articular dan nyeri miofasial


Tulang Belakang

10.

Spondilitis (supuratif-granulomatosa)

11.

Penyakit inflamasi tulang belakang (AS, RA)


Pediatrik

12.

Osteomielitis hematogenik akut

13.

Artritis septic pada anak

14.

Osteomielitis kronik tulang panjang pada anak

F. Cedera Ekstremitas Terkait Olah Raga


Instabilitas sendi
1.
2.

Cedera otot (strain, afulsi, ruptur, kontusio)

3.

Cedera Ligamen

4.

Sindroma pemakaian berlebihan

5.

Masalah tulang rawan sendi

6.

Diagnostik artroskopi pada lutut dan bahu

7.

Fraktur stress/fatigue

3.

Tahap Orthopaedi & Traumatologi Lanjut 2


( 2 semester / semester VII VIII)
A. Tumor Musculoskeletal
Assesmen tumor musculoskeletal
1.
2.

Biopsi pada tumor musculoskeletal

3.

Manajemen tumor tulang jinak

4.

Manajemen tumor jinak jaringan lunak

5.

Manajemen tumor ganas tulang

6.

Manajemen tumor ganas jaringan lunak

7.

Manajemen penyakit metastasis tulang

8.
9.

Amputasi radikal
Prosedur penyelematan tungkai

B. Orthopaedi Pediatrik

91

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Penyakit muskuloskeletal kongenital 7 genetik (postur pendek,


akondroplasia, epifiseal, displasia, ollier's, multi hereditari exostosis)
Penyakit metabolik muskuloskeletal (Rickets, ostemomalasia, renal
osteodistrofi,
hindrofostasia,
paratiroid,
juvenile
ostroporosis,
mucopolisakaridosis)
Penyakit
hematologis
muskuloskeletal
(Gaucher's,
hemofilia,
hemoglobinopati)
Gangguan neuromuskuler (distrofi muskular, polio dan paralisis terkait,
spinal muscular atropi, neuropati perifer, cerebral palsy, myelodisplasia)
Gangguan umum, ekstremitas atas (defisiensi lengan, dislokasi
congenital kaput radius, osteochondritis dissecans, penyakit sprengel's)
Gangguan umum tulang belakang (muscular torticolis, skoliosis, klippel
feil, all kyphosis, spondylosis-spondylolisthesis)
Gangguan umum panggul (DDH, coxavara, leg Perthes)
Gangguan pada femur dan tibia (perbedaan panjang tungkai, defisiensi
kongenital- PFFD, masalah torsional tibia, tibia fara, kongenital
psedoarthrosis, posteromedial bow)
Gangguan pada lutut (Penyakit Osgood Schlatter, osteochondritis
dissecans, nyeri patella femoral, discoid meniscus, dislokasi/ subluksasi
kongenital)
Gangguan pada kaki dan pergelangan kaki
a.
Clubfoot
b.
Congenital vertical talus, metatarsus adductus calcaneovalgus,
tarsal coalition, cavus feet, complex congenital foot deformities,
central ray-polydactily-syndactily-congenital hallux valgus, Amputation
congenital dan traumatic

C. Orthopaedi Geriatri dan Degeneratif


1.
Osteoarthritis tungkai
2.

Osteoarthritis tulang belakang

3.

Masalah pada ibu jari kaki : OA, hallux valgus

4.

Osteoporosis

5.

Manajemen fraktur osteoporosis

6.

Penyakit degeneratif tulang belakang (stenosis, penyakit diskus


degeneratif, herniasi diskus, degeneratif spondylolisthesis,
spondylosis)
- Cervical
- Thoracal
- Lumbal

D. Metabolik Endokrin
Metabolik
1.

Sendi Charcot : kaki diabetic

2.

Gout, pseudogout

3.

Arthropati Hemofilia

E. Tulang Belakang
1.
2.
3.

Deformitas tulang belakang dewasa (kifosis cervical, kifosis dan


skoliosis torakalis, kifosis dan skoliosis lumbal)
Ketidakseimbangan sagital
Syringomyelia, diastematomyelia, multiple sclerosis, spinocereblaria,
spina bifida

F. Ekstremitas Atas
1.
Penyakit sendi degeneratif (arthritis sensi sternoclav, osteoarthritis
sendi AC, osteoarthritis glenohumeral, rotator cuff/subacromial bursaimpingment syndrome, frozen shoulder-calcific tendinitis-brceps
tendinitis)
2.
Ganguan neurologis
a. Sindroma jepitan pada ekstremitas atas

92

3.
4.

b. Traumatik
c. Cedera pleksus brakialis
Anomali kongenital

5.

Kegagalan pembentukan (focomelia, radial club hand), kegagagalan


difensiasi (syndactily), duplikasi (polidactili) tumbuh berlebih
(macrodactily), sindroma jepitan pita kongenital, abnormalitas skeletal
secara umum (madelung)
Penutupan jaringan lunak dan kulit

6.

Replantasi

7.

Transfer tendon

8.

Deformitas lain : mallet, boutonniere schwan neck, Dupuytren

G. Pelvis dan Ekstremitas Bawah


Rekonstruksi Kelainan Panggul
1.

Arthroplasti panggul (dengan/ tanpa prostesis)

2.

Osteotomi rekonstruksi sekitar panggul

3.

Arthrodesis

4.

AVN sendi panggul

5.

Pembebasan jaringan lunak/rekonstruksi sekitar panggul


Rekonstruksi Gangguan Pada Lutut

6.

Arthroskopik debridemen

7.

Arthroskopik rekonstruksi

8.

Arthroplasti

9.

Osteotomi rekonstruksi sekitar lutut : femur (supracondylar), tibia (HTO)

10.

Arthrodesis

11.

Rekonstruksi jaringan lunak sekitar lutut

12.

Gangguan lainnya pada lutut (OCD, discoid meniscus, chondromalacia


patella)
Gangguan pada pergelangan kaki dan kaki

13.

Bone lengthening

14.

Instabilitas pergelangan kaki

15.

Fasciitis plantaris

16.

Gangguan jari kaki

17

Arthrodesis kaki dan pergelangan kaki

18

Arthtotomy ankle

19

Rekonstruksi jaringan lunak kaki dan pergelangan kaki

20

Osteotomy pada rekonstruksi sekitar kaki dan pergelangan kaki

21

Arthroskopik pada ankle

H. Rehabilitasi Medik
1
Rehabilitasi Peri operatif
2
3

Prinsip Amputasi tungkai

Terapi fisik

Orthotic-prosthetic di orthopaedi

4. Tahap Chief Resident Orthopaedi dan Traumatologi (Semester IX)


1. Chief IPDS-IOT
2.

Rotasi luar (tahap magang mandiri)

Professional behavior :
- Assesting patient

93

- Being a good communicator


- Teaching and training
- Keeping up to date
- Manager and leadership
- Promoting good health
- Probing and ethics

5.

Program Studi Ilmu Kedokteran Forensik

Struktur Mata Kuliah


Kegiatan Semester Ganjil
No.

Sandi

1.

C21F.101

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.

C21F.102
C21F.103
C21F.104
C21F.105
C21F.106
C21F.107
C21F.314
C21F.316
C21F.320
C21F.322
C21F.323
C21F.324
C21F.325
C21F.330
C21F.332
C21F.502
C21F.518
C21F.527
C21F.530
C21F.531
C21F.532
C21F.533

Nama Mata Kuliah


Visum et Repertum dan Perundang-undangan yang
berhubungan dengan Ilmu Kedokteran Forensik
Visum et Repertum korban Hidup
Tanatologi
Teknik Otopsi
Traumatologi
Pembunuhan anak
Etika dan MedikoLegal I
Toksikologi II
Kejahatan Seksual II
Otopsi dan Diagnosis II
Barotrauma
"Scene investigation" dan ekshumasi
Penanganan Kecelakaan dan korban massal
Identifikasi I
Dokter Jaga
Kegiatan Ilmiah
Visum Klinik (Praktek)
Trace Evidence II
Identifikasi III
Dokter Jaga
Saksi Ahli
Kegiatan Ilmiah
Kegiatan Membimbing

SKS
2
2
2
2
2
2
2
2
2
3
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
3
1

Kegiatan Semester Genap


No.

Sandi

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

C21F.209
C21F.210
C21F.211
C21F.212
C21F.213
C21F.215
C21F.217
C21F.219
C21F.408
C21F.421
C21F.426
C21F.428
C21F.429

Nama Mata Kuliah


Asfiksia
Mati Mendadak Karena Penyakit
Anaphylactic shock
Kecelakaan lalu lintas
Toksikologi I
Kejahatan Seksual I
"Trace evidence" I
Otopsi dan Diagnosis I
Etika dan Medikolegal II
Otopsi dan Diagnosis III
Identifikasi II
Kematian "accidental" anestesi dan operasi
Stase Pathologi Anatomi

SKS
2
2
1
2
2
2
2
3
2
3
2
1
3

94

No.

Sandi

14.
15.
16.
17.
18.
19.

C21F.430
C21F.433
C21F.632
C21F.633
C21F.634
C21F.635

Nama Mata Kuliah


Dokter Jaga
Kegiatan Membimbing
Kegiatan Ilmiah
Kegiatan Membimbing
Stase Akhir
Tugas Akhir

SKS
2
1
2
1
4
6

Pokok Bahasan
C21F.101 Visum et Repertum dan Perundang-undangan yang berhubungan dengan Ilmu Kedokteran
Forensik
Visum et Repertum jenazah; Perundang-undangan KUHP & KUHAP; UU Kesehatan; UU Praktek
Kedokteran; UU Rumah Sakit; Instruksi Kapolri No. Ins/E/20/XI/75; LN No. 350 tahun 1937; PP No. 18
tahun 1981; PP No. 10 tahun 1966;
Permenkes No. 269/Menkes/Per/III/2008;
Permenkes No.290/Menkes/Per/III/2008; Death Certificate
C21F.102
C21F.103
C21F.104
C21F.105

C21F.106
C21F.107

C21F.209
C21F.210

C21F.211
C21F.212

C21F.213
C21F.215

C21F.217

Visum et Repertum korban Hidup


Visum et Repertum klinis (luka dan kejahatan seksual); Standar Prosedur Operasional Penanganan
Korban Kekerasan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Tanatologi
Definisi dan tipe mati; Perubahan awal kematian; Perkiraan waktu kematian; Perubahan lanjut kematian;
Entomologi Forensik; Perubahan kimiawi tubuh setelah kematian
Teknik Otopsi
Persiapan dan teknik otopsi umum; Teknik otopsi pada situasi tertentu; Pemeriksaan luar; Teknik
eviserasi; Pengambilan bahan pemeriksaan patologi; Perawatan jenazah; Fotografi forensic
Traumatologi
Penentuan luka intravital/postmortal; Luka benda tumpul/tajam; Luka listrik/petir; Luka termis; Luka
tembak/ledakan; Pola perlukaan; Perlukaan regional; Perubahan histologi dan histokimiawi dari perlukaan;
Bunuh diri
Pembunuhan Anak/Infantisida
Definisi infantisida; Estimasi maturitas bayi; Child abuse; Karakteristik perlukaan pada anak; Stillbirths;
Sudden Infant Death Syndrome;
Etika dan Medikolegal I
Filsafat moral praktek kedokteran; Prinsip Bioetika; Profesionalisme; Hak asasi manusia; Kode Etik
Kedokteran dan Hukum Kedokteran; Pelanggaran etika dan penanganannya; Malpraktek dan
penanganannya.
Asfiksia
Definisi dan tanda klasik asfiksia; Hanging; Strangulasi; Tenggelam; Asfiksia mekanik; Plastic bag
asphyxia; Asfiksia traumatik; Asfiksia postural; Smothering; Suffocation; Choking
Mati Mendadak karena Penyakit
Atherosclerosis Coronary Artery Disease; Infark myokardia; Hypertensive Heart Disease; Pulmonary
Embolism; Aneurisma pembuluh darah; Asma bronchial; Sistem Gastrointestinal; Kondisi Ginekologis;
Kematian pada epilepsy; Waterhouse-Friderichsen Syndrome
Anaphylactic Shock
Kematian karena syok anafilaksis; Tes imunologis; Temuan otopsi; Sebab kematian
Kecelakaan Lalu Lintas
Pola perlukaan; Pemeriksaan terhadap korban; Dinamika pergerakan dan pengaruh yang timbul; Sebab
kematian pada kecelakaan lalu lintas; Perlukaan pada pengendara motor, pengendara sepeda dan
pejalan kaki; Bunuh diri dan pembunuhan sehubungan dengan kendaraan
Toksikologi I
Definisi dan pengenalan toksikologi; Cara pengambilan sampel; Cara penyegelan dan pengiriman sampel;
Teknik pemeriksaan toksikologi; Alkohol; Jenis-jenis racun;
Kejahatan Seksual I
Anatomi dan fisiologi genitalia perempuan dan laki-laki, anal dan perianal; Undang-undang sehubungan
dengan kejahatan seksual dan perbuatan cabul; UU Perlindungan Anak; Prosedur Standar Operasional
Penanganan Korban Kekerasan Seksual dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan
Anak; Jenis-jenis kejahatan seksual; Jenis-jenis perbuatan cabul; Insidensi kejahatan seksual
Trace Evidence I
Pengenalan Barang Bukti Medis, Electromagnetic spectrum; Mikroskop forensik; Kromatografi;
Pemeriksaan darah; pemeriksaan sidik jari (Teknik pengambilan sidik jari, Pola sidik jari); pemeriksaan
rambut dan serat

95

C21F.219
C21F.314
C21F.316

C21F.320
C21F.322
C21F.323
C21F.324
C21F.325
C21F.330
C21F.332
C21F.408

C21F.421
C21F.426
C21F.428
C21F.429
C21F.430
C21F.433
C21F.502
C21F.518

C21F.527
C21F.530
C21F.531
C21F.532
C21F.533
C21F.632
C21F.633

Otopsi dan Diagnosis I


Pemeriksaan luar; Asistensi otopsi; Pembuatan visum et repertum
Toksikologi II
Racun korosif; Racun logam berat; Racun gas; Pestisida; Sedativa/hipnotika; Psikofarmaka; Narkotika;
Racun makanan
Kejahatan Seksual II
Perlukaan pada kejahatan seksual; Informed Consent; Prinsip penanganan korban kejahatan seksual dan
perbuatan cabul; Kelainan seksual; Prinsip analisis forensik; Penyakit Menular Seksual; Post Traumatic
Stress Disorder; Aborsi
Otopsi dan Diagnosis II
Asistensi otopsi; Pemeriksaan dalam; Pembuatan visum et repertum; Embalming; Mendiagnosis sebab
kematian
Barotrauma
Kematian akibat tekanan udara tinggi dan rendah
Scene Investigation dan Ekshumasi
Penggalian kubur; Penentuan cara kematian; Pemeriksaan di tempat kejadian; Pencarian barang bukti di
tempat kejadian
Penanganan Kecelakaan dan Korban Massal
Struktur organisasi tim identifikasi; Manajemen korban bencana; Tata laksana; Form Interpol; DMORT
Identifikasi I
Metode Identifikasi; Fotografi; Golongan darah; Sidik jari
Dokter Jaga I
Melakukan jaga per minggu sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan
Kegiatan Ilmiah
Melakukan presentasi pada kegiatan ilmiah yang diadakan oleh Kolegium Kedokteran Forensik
Etika dan Medikolegal II
Isu etika dan medikolegal dalam masalah: Permulaan kehidupan (Beginning of Life); Hak reproduksi dan
teknologi reproduksi; Penyakit genetik; Akhir kehidupan (End of Life); Hak pengambilan keputusan pada
kelompok tuna daya (vulnerable group); Isu etika pendidikan kedokteran.
Otopsi dan Diagnosis III
Operator Otopsi; Eviserasi; Embalming; Diagnosis sebab kematian; Pembuatan Visum et Repertum
Identifikasi II
Odontologi; Tehnik superimposisi; Antropologi I (Metode, Antropologi dalam konteks forensik; Forensic
Taphonomy; Metode penemuan TKP)
Kematian Accidental Anestesi dan Operasi
Kematian akibat pemberian anestesi (payah pernafasan, payah kardiovaskular akut); Surgical shock,
exhaustion, accidents
Stase Patologi Anatomi
Melakukan stase selama 1 bulan di UPF Patologi Anatomi
Dokter Jaga
Melakukan jaga per minggu sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan
Kegiatan Membimbing
Melakukan bimbingan terhadap mahasiswa di bawah supervisi
Visum Klinik (Praktek)
Membuat visum et repertum korban hidup sesuai dengan rekam medis yang datang
Trace Evidence II
Pemeriksaan serologi; Pemeriksaan obat dan narkotika (Identifikasi narkotika, Cara pembuatan narkotika);
Pemeriksaan dokumen (Teknik pemeriksaan dokumen, Pemeriksaan tulisan tangan dan tanda tangan); Uji
balistik
Identifikasi III
Antropologi II (Estimasi Usia saat kematian, Anthroposcopic Traits, Sebab dan Cara Kematian); DNA;
Sidik telinga
Dokter Jaga
Melakukan jaga per minggu sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan
Saksi Ahli
Menjadi saksi ahli di dalam pengadilan berhubungan dengan kasus yang diperiksa
Kegiatan Ilmiah
Melakukan presentasi pada kegiatan ilmiah yang diadakan oleh Kolegium Kedokteran Forensik
Kegiatan Membimbing
Melakukan bimbingan terhadap mahasiswa di bawah supervisi
Kegiatan Ilmiah
Melakukan presentasi pada kegiatan ilmiah yang diadakan oleh Kolegium Kedokteran Forensik
Kegiatan Membimbing

96

C21F.634
C21F.635

6.

Melakukan bimbingan terhadap mahasiswa di bawah supervisi


Stase Akhir
Melakukan stase pada tempat yang telah ditentukan
Tugas Akhir (Tesis)
Membuat tesis sebagai syarat penyelesaian program pendidikan dokter spesialis

Program Studi Ilmu Kedokteran Jiwa

KURIKULUM PEMBELAJARAN
A. Struktur dan Daftar Materi Pendidikan

1.

Materi Dasar Umum


Materi Dasar
Khusus
Materi Keahlian
Umum
Materi Keahlian
Khusus
Materi Penerapan
Keahlian
Materi Penerapan
Akademik
Ketrampilan Klinik /
Wawancara
Psikiatrik
Kegiatan Elektif
Kegiatan Ilmiah
Tugas Jaga
Tugas Membimbing
Jumlah SKS

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

B.

Semester / SKS

Materi Pendidikan
/ Kegiatan
Akademik

No

Jml
1

10.0

10.0

1.0

1.0
3.5

2.5

6.0

1.0

3.0

6.5

6.5

6.0

5.0

7.0

8.0

4.0

2.5

23.0
4.0
1.5

1.0

11.0

1.5

1.0

1.0

1.0
1.0

1.0
1.0

10.5

14.5

16.5

14.0

1.5
1.0
1.0
1.0
13.0

1.0
1.0
1.0
8.5

Deskripsi Materi Pendidikan

Semester 1 (Kualifikasi)
No.
1.

2.

Jenis Kegiatan Akademik


Materi Dasar Umum
1.1 Filsafat Umum Filsafat Ilmu dan Epistemologi, Aliran
dalam Psikiatri, Sejarah Psikiatri
1.2 Etika Profesi dan Etika Psikiatri
1.3 Metodologi Penelitian
1.4 Tata Cara Penulisan Ilmiah
1.5 Metode Belajar Mengajar
1.6 Statistik dan Komputer Statistik
1.7 Epidemiologi Klinik dan EBM
Materi Dasar Khusus
2.1 Biologi Sel dan Biologi Molekuler
Jumlah

SKS
0.5
0.5
1.0
1.0
1.0
3.0
3.0
1.0
11.0

Semester 2 (Tahap 1)
No.
1.

2.

3.

4.

Jenis Kegiatan Akademik


Materi Keahlian Umum
1.1 Psikiatri Biologi
1.2 Siklus Kehidupan dan Teori Perkembangan I
1.3 Psikopatologi Fenomenologik/Deskriptif
1.4 Psikofarmakologi I
1.5 Ketrampilan Klinik Wawancara Psikiatri
Materi Keahlian Khusus
2.1 Gangguan Psikiatrik I
2.2 PsikoterapiI
Materi Penerapan Keahlian
3.1 Gangguan Psikiatrik I
3.2 Psikoterapi
Kegiatan Ilmiah
Jumlah

SKS
0.5
0.5
1.0
0.5
1.0
0.5
0.5
4.0
1.0
1.0
10.5

30.5
7.5

9.0

0.5

3.0

1.0
1.0
1.0
11.0

1.5
7.0
5.0
3.0
99

97

Semester 3 (Tahap 1)
No.
1.

2.

3.

4.
5.

Jenis Kegiatan Akademik


Materi Keahlian Umum
1.1 Psikiatri Biologi
1.2 Teori Perkembangan II
1.3 Psikofarmakologi II
1.4 Tes Psikometri dalam Bidang Psikiatri
Materi Keahlian Khusus
2.1 Gangguan Psikiatrik II
2.2 Rehabilitasi Mental
2.3 Kedaruratan Psikiatri
2.4 Terapi Kejang Listrik
Materi Penerapan Keahlian
3.1 Gangguan Psikiatrik II
3.2 Rehabilitasi Mental (Stase RS Jiwa)
3.3 Kedaruratan Psikiatri (Stase Ruang Rawat Intensif)
3.4 Terapi Kejang Listrik (Praktek Terapi Kejang Listrik)
Ketrampilan Klinik / Wawancara Psikiatrik
Kegiatan Ilmiah
Jumlah

SKS
0.5
0.5
0.5
1.0
0.5
0.5
1.0
1.0
4.0
1.0
1.0
1.0
1.0
1.0
14.5

Semester 4 (Tahap 2)
No.
1.

2.

3.
4.

Jenis Kegiatan Akademik


Materi Keahlian Khusus
1.1 Psikopatologi Psikodinamika I
1.2 Gangguan Psikiatrik III
1.3 Psikofarmakologi III
1.4 Konsep dan Teori Dasar Psikoterapi I
1.5 Konsep dan Dinamika Keluarga I
Materi Penerapan Keahlian
2.1 Psikopatologi Psikodinamika I
2.2 Gangguan Psikiatrik III
2.3 Konsep dan Teori Dasar Psikoterapi I
Kegiatan Ilmiah
Tugas Jaga
Jumlah

SKS
1.0
2.0
0.5
2.0
1.0
1.0
6.0
1.0
1.0
1.0
16.5

Semester 5 (Tahap 2)
No.
1.

2.

3.
4.
5.

Jenis Kegiatan Akademik


Materi Keahlian Khusus
1.1 Psikopatologi Psikodinamika II
1.2 Konsep dan Teori Dasar Psikoterapi II
1.3 Psikiatri Adiksi I
1.4 Psikiatri Geriatri I
1.5 Psikiatri Anak dan Remaja I
1.6 Consultation Liaison Psychiatry I
1.7 Administrasi RS Jiwa
Materi Penerapan Keahlian
2.1 Psikopatologi Psikodinamika II
2.2 Konsep dan Teori Dasar Psikoterapi II
2.3 Psikiatri Adiksi I (Stase Sub Divisi Psikiatri Adiksi)
2.4 Psikiatri Geriatri I (Stase Sub Divisi Psikiatri Geriatri)
2.5 Psikiatri Anak dan Remaja I (Stase Sub Divisi
Psikiatri Anak dan Remaja)
Kegiatan Ilmiah
Ketrampilan Klinik / Wawancara Psikiatrik
Tugas Jaga
Jumlah

SKS
1.0
2.5
0.5
0.5
0.5
0.5
1.0
1.0
1.5
0.5
0.5
0.5
1.0
1.5
1.0
14.0

Semester 6 (Tahap 3)
No.
1.

Jenis Kegiatan Akademik


Materi Keahlian Khusus
1.1 Psikiatri Adiksi II
1.2 Psikiatri Geriatri II
1.3 Psikiatri Anak dan Remaja II

SKS
0.5
0.5
0.5

98

1.4 Consultation Liaison Psychiatry II


1.5 Neuropsikiatri dan Gangguan Fungsi Luhur
1.6 Sistem dan Dinamika Keluarga II : Isu Gender
1.7 Psikiatri Forensik
1.8 Psikiatri Komunitas dan Psikiatri Sosial
1.9 Psikiatri Transkultural dan Psikiatri Transkultural
2.
Materi Penerapan Keahlian
2.1 Psikiatri Adiksi II (Stase Sub Divisi Psikiatri Adiksi)
2.2 Psikiatri Geriatri II (Stase Sub Divisi Psikiatri Geriatri)
2.3 Psikiatri Anak dan Remaja II (Stase Sub Divisi
Psikiatri Anak dan Remaja)
2.4 Psikiatri Forensik (Membuat Laporan TPKP dan VeR
Psikiatrikum)
Kegiatan Elektif
3.1 Psikiatri Militer
3.
3.2 Psikiatri Wanita
3.3 Psikiatri Spiritual dan Religi
4.
Kegiatan Ilmiah
5.
Tugas Jaga
6.
Tugas Membimbing
Jumlah

0.5
0.5
0.5
1.0
1.0
1.0
0.5
0.5
0.5
1.0
1.5
1.0
1.0
1.0
13.0

Semester 7 (Tahap 3)
No.
1.

2.
3.
4.
5.

Jenis Kegiatan Akademik


Materi Penerapan Keahlian
1.1 Administrasi RS Jiwa (Stase RS Jiwa)
1.2 Consultation Liaison Psychiatry (Stase Neurologi,
Bedah Saraf, Rehabilitasi Medik)
Kegiatan Ilmiah
Tugas Jaga
Tugas Membimbing
Materi Penerapan Akademik
5.1 Usulan Penelitian
5.2 Ujian Usulan Penelitian
Jumlah

SKS
1.0
3.0
1.0
1.0
1.0
1.5
8.5

Semester 8 (Tahap 3)
No.
1.
2.
3.
4.
5.

Jenis Kegiatan Akademik


Kegiatan Ilmiah
Ketrampilan Klinik / Wawancara Psikiatrik
Tugas Jaga
Tugas Membimbing
Materi Penerapan Akademik
5.1 Ujian Penelitian
5.2 Ujian Akhir Ketrampilan Klinik (Komprehensif, Kasus
Dipersiapkan, Kasus Baru)
Jumlah

SKS
1.0
0.5
1.0
1.0
7.5

11.0

7. Program Studi Ilmu Kesehatan Anak


Program Pendidikan Dokter Spesialis Anak
Program Pendidikan Dokter Spesialis Anak dilaksanakan di Departemen/SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUP Dr. Hasan
Sadikin/Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Jl.Pasteur No. 38 Bandung, Rumah Sakit Pendidikan (RSP), Jl.
Eijkman No. 38 Bandung, dan Rumah Sakit Jejaring. Gelar profesi yang dicapai adalah Dokter Spesialis Anak.
Pendidikan Dokter Spesialis Anak dibagi menjadi 3 tahap sesuai dengan pencapaian kompetensi minimal yang harus
diraih, yaitu yunior, madya, dan senior.
Tahap Yunior
Setelah menjalani pembelajaran materi MKK pada semester pertama, peserta PPDS-1 IKA masuk ke dalam program
pendidikan profesi dokter spesialis anak tahap yunior (semester 24). PPDS-1 IKA yang bersangkutan menjalani
pendidikan selama 6 minggu masing-masing di divisi sebagai berikut:
1. Alergi-Imunologi

99

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Endokrinologi
Gastro-hepatologi
Hematologi-Onkologi
Kardiologi
Nefrologi
Neonatologi
Neuropediatri
Nutrisi dan Metabolisme
Infeksi dan Penyakit Tropik
Respirologi
Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial

Setelah lulus tahap yunior, peserta PPDS-1 IKA mendapat sertifikat kompetensiyunior.
Tahap Madya
Setelah lulus tahap yunior, peserta PPDS-1 IKA melanjutkanke tahap madya (semester 57). PPDS-1 IKA yang
bersangkutan menjalani pendidikan masing-masing selama 6 minggu di divisi sebagai berikut:
1. Alergi-Imunologi
2. Endokrinologi
3. Gastro-hepatologi
4. Gawat Darurat Pediatri
5. Hematologi-Onkologi
6. Kardiologi
7. Nefrologi
8. Neonatologi
9. Neuropediatri
10. Nutrisi dan Metabolisme
11. Penyakit Infeksi dan Tropik
12. Respirologi
13. Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial
Setelah lulus tahap madya, peserta PPDS-1 IKA mendapat sertifikat kompetensi madya.
Tahap Senior
Setelah lulus tahap madya, pada awal semester ke-8, peserta PPDS-1 IKA memasuki tahap senior, serta menjalani
pendidikan di:
1. PICU (pediatric intensive care unit) selama 6 minggu
2. NICU (neonatal intensive care unit)selama 6 minggu
3. Poliklinik Anak selama 6 minggu
4. RS Jejaring di RSUD Ujung Berung, RSUD Cibabat, RSUD Majalaya, RSKIA Astananyar, RSUD Soreang, dan
RSUD Waled masing-masing selama 4 minggu.
Tabel 2.1 Materi dan Tahap Pembelajaran serta Bobot SKS Materi Program Pendidikan Dokter Spesialis Anak
Tahap
Semester
Materi Pembelajaran
Bobot SKS
Kualifikasi
1
MKU/MKK
6
Yunior
14
MPK yunior
18
MPA-2 yunior
10
Madya
57
MPK madya
18
MPA-2 madya
6
Senior
8
PICU-NICU
6
Tugas mandiri Poliklinik Anak dan RS
Jejaring
Total Bobot SKS
64

100

Struktur pendidikan yang meliputi pendidikan program Magister dan dokter spesialis anak dapat dilihat pada skema di
bawah ini:
Program Magister
(luar jam kerja)

Program
Profesi
(jam
kerja)

S
I

SI

S II
MDU
MDK

S
III

S
III

S
IV

S III
Usulan
penelitian

S
IVV

S
VI

MKU/MKK
(bagian program Magister dalam jam kerja)

Rotasi
12divisi

Rotasi
13 divisi

Kualifikasi

Yunior

Madya

S
VII
P
I
C
U

TESIS
S
VIII
N P
I O
C L
U I
Senior

R
S
D

Gambar 1. Struktur Pendidikan Program Magister dan Dokter Spesialis Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran
2.1.1 Proses Pembelajaran Program Magister

MDU, MDK, MKU, dan MKK


Tutorial meliputi tatap muka baik terjadwal maupun tidak terjadwal, diskusi, presentasi, dan pemberian tugastugas.

MPA-1
Penulisan Tugas Khusus (sari pustaka), usulan penelitian, dan penulisan tesis dilaksanakan melalui
tutorial/bimbingan, pemberian tugas dan monitoring.Untuk mempercepat proses pengajuan usulan penelitian,
maka dilaksanakan program mentoring.
Program mentoring untuk pembuatan usulan penelitian dilakukan sebanyak 2 siklus masing-masing 2 kali
pertemuan. Dua orang mentor merupakan staf Departemen Ilmu Kesehatan Anak yang bertindak sebagai
pembimbing penelitian, sedangkan 2 mentor yang lain adalah staf Departemen Ilmu Kesehatan Anak. Pada setiap
pertemuan, Mentor akan memberikan masukan dan penilaian performance peserta didik, serta mencatat hasil
kemajuan studi mahasiswa tersebut untuk dijadikan dasar kelayakan usulan penelitian. Selain itu Mentor
menandatangani buku Log mahasiswa.
2.1.2
Proses Pembelajaran Pendidikan Dokter Spesialis Anak
Pendidikan profesi dokter spesialis mempunyai karakteristik education, exposure, and experience yang akan
mengantarkan peserta didik untuk mencapai tingkat expertise, evidence-based practice, and excellence.
Tujuan utama pendidikan dokter spesialis adalah memberi kesempatan yang cukup untuk memperoleh pengalaman
klinik (clinical exposure), agar yang bersangkutan memperoleh pengalaman penting yang diperlukan, sehingga dapat
memberikan pelayanan kesehatan dengan standar yang tinggi sesuai dengan bidang keahliannya.
Beberapa komponen proses pembelajaran profesi dokter spesialis anak adalah sebagai berikut:
1.
Magang (apprenticeship)
Merupakan proses penerapan keprofesian dari ilmu yang telah didapat. Metode pembelajaran berupa
demonstrasi, bedside teaching, analisis kasus, tatap muka terjadwal dan tidak terjadwal, dan pemberian tugas
2.
Aktivitas pendidikan terstruktur, yaitu:
Bacaan jurnal (12 kalimasing-masing untuk tingkat yunior dan madya)
Sari pustaka (2 kali presentasi wajibdi tingkat madya, bila ada tambahan sesuai kebijakan divisi)
Presentasi kasus (1 kali EvidencedBased Case Report, 1 kaliLongitudinal Case ditingkat madya, bila ada
tambahan sesuai kebijakan divisi)
Presentasi kasus kematian/clinicopathological conference (tahap madya atau senior), bergantung pada
tempat perawatan pasien meninggal
Presentasi ilmiah di luar institusi (1 kali tingkat madya/senior diajukan pada PIT IDAI atau KONIKA)
Proses pembelajaran berupa telaah kritis, tutorial, analisis kasus, pengelolaan informasi, dan konsultasi
3.
e-learning mempergunakan sumber online
4.
Mengembangkan keterampilan dengan mengikuti pelatihan praktik dan prosedur pediatri melalui berbagai
aktifitas lokakarya dan pelatihan. Pelatihan prosedur pediatri ini sudah dimulai saat peserta didik berada pada
semester I. Diktum klasik yang sudah lama dikenal yaitu memerhatikan, mengerjakan, dan mengajarkan (see, do,
and teach dictum) merupakan metode penting untuk memperoleh keterampilan praktik klinik dan prosedur medik
5.
Mendidik mahasiswa kedokteran tingkat profesi (Program Studi Pendidikan Dokter/PSPD)
2.2. KURIKULUM (STRUKTUR MATA KULIAH)
Agar peserta PPDS-1 IKA dapat menjalani semua yang dipersyaratkan di dalam kurikulum pendidikan dengan baik,
diperlukan pemahaman mengenai komponen-komponen berikut ini.

101

1. Struktur mata kuliah


a. Materi Pembelajaran
b. Struktur dan Penyelenggaraan Pendidikan
2. Deskripsi mata kuliah
a. Materi Dasar Umum (MDU)
b. Materi Dasar Khusus (MDK)
c. Materi Keahlian Umum (MKU)
d. Materi Keahlian Khusus (MKK)
2.1.1
Struktur Mata Kuliah
2.1.2
Materi Pembelajaran
2.1.2.1 Materi Pembelajaran Pendidikan Magister Kesehatan BKU IKA: Mata Kuliah
1. Materi Dasar Umum (MDU)
Berisi dasar materi ilmu, tidak terbatas pada bidang kedokteran, yang diperlukan untuk menjadi calon penggagas
dan peneliti, terdiri atas:
Filsafat ilmu
Etika profesi
Metodologi penelitian
Biostatistika dan komputer statistika.
2. Materi Dasar Khusus (MDK)
Berisi dasar pengetahuan keahlian dalam bidang kedokteran selain IKA yang dapat membantu pencapaian
kualitas akademik, dan pada gilirannya kemudian, membantu pencapaian kualitas keprofesian yang tinggi. Terdiri
atas:
Biologi molekular
Farmakologi klinik
Epidemiologi klinik
Kedokteran berbasis bukti (evidence-based medicine)
Administrasi kesehatan dan rekam medik.
3. Materi Keahlian Umum (MKU)
Berisi materi pengajaran yang memberikan dasar pengetahuan keahlian dalam bidang IKA agar mampu
memecahkan permasalahan kesehatan anak secara ilmiah. Terdiri atas:
Tumbuh kembang
Nutrisi klinis
Genetika kedokteran
Elektrolit dan keseimbangan asam-basa
4. Materi Keahlian Khusus (MKK)
Merupakan materi pengajaran keahlian yang meliputi semua subdisiplin dalam bidang IKA, yaitu:
Alergi-imunologi
Endokrinologi
Gastro-hepatologi
Gawat darurat pediatri
Hematologi dan onkologi
Kardiologi
Nefrologi
Neonatologi
Neurologi
Nutrisi dan metabolik
Penyakit infeksi tropik
Respirologi
Tumbuh kembang-pediatri sosial
Prosedur medik-pediatri
5. Materi Penerapan Akademik-I
Berhubungan dengan persyaratan pendidikan Magister seperti:
Topik khusus (sari pustaka dalam istilah Kurikulum 2000).
Usulan penelitian
Tesis
2.1.2.2 Materi Pembelajaran Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Anak:
1. Materi Penerapan Keprofesian (MPK)
Merupakan pelatihan keprofesian yang secara umum, meliputi pelatihan dalam bidang:
Tatalaksana pasien gawat darurat
Tatalaksana pasien rawat inap
Tatalaksana pasien rawat jalan
Tatalaksana kasus jangka panjang

102

2.

Penilaian tumbuh kembang dan pendekatan pediatri sosial


Prosedur medik-pediatri
Materi Penerapan Akademik-2 (MPA-2)
Berhubungan dengan pencapaian kemampuan profesi dengan kompetensi akademik yang baik, terdiri atas:
Bacaan kepustakaan (journal reading)
Referat
Presentasi ilmiah di luar institusi
Sajian kasus sulit dan kasus kematian
Laporan jaga

2.1.3
Struktur dan Penyelenggaraan Pendidikan
Yang dimaksud dengan struktur kurikulum yaitu bagaimana isi/materi pengajaran diorganisasikan dan bagaimana
jadwal pembelajaran akan dilaksanakan.
Penyelenggaraanpendidikan dilaksanakanberdasarkan ketentuan yang berlaku yaitu:
Program Magister
Program ini diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, dalam hal ini
Program Pendidikan Combined Degree (PPCD) bekerja sama dengan Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas
Kedokteran Universitas Padjadjaran.
Program inidiikuti PPDS pada semester ke -4 atau 5, bersifat opsional, Saat ini program ini menginduk kepada
Program Magister Ilmu Kedokteran Dasar Fakultas`Kedokteran Universitas Padjadjaran.
Tempat pendidikan : Gedung Program Pascasarjana Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran JI. Eyckman No.
38, Bandung.
Waktu pendidikan
: Disesuaikan dengan jadwal dari Program Pascasarjana, kecuali untuk MKK
diselenggarakan pada jam kerja di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran
Universitas Padjadjaran/RSUP Dr. Hasan Sadikin
Gelar akademik
: Magister Kesehatan (MKes)
Materi dan tahap pembelajaran, serta bobot SKS dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 2.1 Materi dan Tahap Pembelajaran serta Bobot SKS Materi Program Magister
Materi
Semester
Waktu dan Tempat
MDU
12
sesuai jadwal PPCD
MDK
2
sesuai jadwal PPCD
MKU DAN MKK
1
DIKA, pada jam kerja
MPA-1
3
sesuai jadwal PPCD
Total Bobot SKS

2.2 Deskripsi Mata Kuliah


2.2.1
Materi Dasar Umum
2.2.1.1 Filsafat Ilmu Pengetahuan
Pengertian filsafat
Ilmu pengetahuan sebagai alat kritik bagi semua pengetahuan
Metafisika, ontologi, epistomologi, dan logika
Arti dan tujuan ilmu pengetahuan, tradisi ilmu pengetahuan
Ilmu Pengetahuan dan kebenaran
2.2.1.2 Etika Profesi
Etika Profesi
Etika dan estetika
2.2.1.3 Metodologi Penelitian
Ilmu dan penelitian
Dasar-dasar penelitian dalam bidang kedokteran dan kesehatan
Sampel dan populasi
Pengukuran dalam penelitian
Usulan penelitian
Disain penelitian
Studi seksi silang
Studi kasus kontrol
Studi kohor
Analisis kesintasan
Uji diagnostik

Bobot SKS
11
12
14
11
48

103

Uji klinis
Metaanalisis
Besar sampel
Pemilihan uji hipotesis
Masalah etika penelitian
Penulisan hasil penelitian dan rujukan
Penelusuran artikel
Telaah kritis literatur
Review sistematik

2.2.1.4 Biostatistika dan Komputer statistika


Pengertian statistika
Statistika vital
Pengolahan data
Teori probabilitas
Ukuran dan teknik sampling
Statistik inferens
Penarikan kesimpulan
Dasar uji bermakna
Uji perbedaan 2 mean
Uji perbedaan lebih dari 2 mean
Uji perbedaan 2 proporsi
Uji nonparametrik
Korelasi dan regresi lnear
Multivariate analysis
2.2.1.5 Pelatihan penggunaan komputer
Meliputi penggunaan berbagai paket komputer misalnya:
Epi info
Stata
SPSS
2.2.2 Materi Dasar Khusus (MDK)
2.2.2.1 Biologi Molekular
Fungsi hidup, biomolekul, sel
Faktor-faktor psikoklinis
Protein
Bioenergetika
Oksidasi biologi
Metabolime
Membran biologis
Komunikasi antarsel
Gradien dalam makhluk hidup
Strategi lokomotif
Replika dan ekspresi
2.2.2.2 Farmakologi Klinik
Pengantar farmakologi klinik
Farmakokinetik
Faktor-faktor yang mengubah respons
Efek samping obat
Interaksi obat
Analisis manfaat, risiko dan ekonomi dalam penggunaan obat
Penerapan pengobatan rasional dalam pelayanan
Terapi antimikrob
Toksikologi klinik
2.2.2.3 Epidemiologi, Epidemiologi Klinik, dan Kedokteran Berbasis Bukti (KBB)
Pengantar epidemiologi, epidemiologi klinik, dan KBB
Nilai p dan interval kepercayaan
Normalitas dan kausalitas
Pengantar penggunaan komputer
Searching clinic
Diagnosis
Terapi

104

Prognosis
Harm
Clinical guidelines
Meta-analysis
Health technology assessment
Clinical decision making
Cost-benefit analysis
KBBdan clinical governance
KBB dan clinical audit

2.2.2.4 Administrasi Kesehatan dan Rekam Medis


Dasar-dasar administrasi kesehatan
Definisi rekam medis
Isi rekam medis
Nilai rekam medis dalam bidang
Legal
Administrasi
Keuangan
Riset
Pendidikan
Dokumentasi
2.2.3
Materi Keahlian Umum (MKU)
2.2.3.1 Tumbuh kembang (Growth and Development/Pediatri Sosial)
Penilaian pertumbuhan dan perkembangan
Konsep umum tumbuh kembang dan kebutuhan dasar tumbuh kembang anak
Pemantauan pertumbuhan anak dengan growth chart(CDC 2000)
Pemantauan perkembangan anak dengan Denver II
Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan
Stimulasi
Gangguan Pertumbuhan dan Perkembangan
Gangguan pertumbuhan fisik
Gangguan perkembangan motorik
Gangguan perkembangan bahasa
Gangguan fungsi vegetatif
Kecemasan
Gangguan suasana hati (mood disorders)
Bunuh diri dan percobaan bunuh diri
Gangguan kepribadian yang terpecah (disruptive behavioral disorders)
- Gangguan perilaku seksual
- Gangguan perkembangan pervsif dan psikosis pada anak
- Disfungsi neurodevelopmental pada anak usia sekolah
- Kelainan saraf dan pediatrik akibat trauma otak
- Penyakit psikosomatik
Peningkatan Kualitas anak
Keluarga berencana
Upaya peningkatan kualitas anak
Imunisasi
Perlindungan anak
Undang-undang perlindungan anak
Anak dengan kebutuhan khusus
Masalah sosial
Adopsi
Foster care
Child care
Separation and death
Impact of violence

2.2.3.2 Nutrisi dan Penyakit Metabolik Anak


Penilaian status gizi
Kesulitan makan pada anak
Malnutrisi energi protein dan defisiensi vitamin:
Patofisiologi/patogenesis malnutrisi energi protein
Klasifikasi malnutrisi energi protein

105

Pengenalan malnutrisi energi protein


Tatalaksana malnutrisi energi protein
Pengenalan defisiensi nutrien lain (vitamin)
Obesitas
Pengenalan obesitas (klinis, antropometris)
Penyebab dan tipe obesitas
Penyulit/komplikasi obesitas
Tatalaksana obesitas
Kelainan metabolik bawaan
Diagnosis kelainan metabolik bawaan berdasarkan gejala klinis dan laboratorium sederhana
Patofisiologi/dasar kelainan metabolik bawaan
Masalah kelainan metabolik bawaan
Skrining kelainan metabolik bawaan
Langkah-langkah tatalaksana
Kedaruratan yang mungkin terjadi dan cara penanggulangannya
Dukungan nutrisi: enteral
Indikasi nutrisi enteral
Jenis-jenis formula enteral
Cara penghitungan kebutuhan cairan, energi, dan nutrien
Untung-rugi serta komplikasi formula enteral
Dukungan nutrisi: parenteral
Indikasi nutrisi parenteral
Jenis-jenis preparat total parenteral nutrition
Cara penghitungan kebutuhan cairan, energi, dan nutrien
Untung-rugi serta komplikasi formula parenteral
Diet pada berbagai penyakit (ginjal, hati, jantung, saluran cerna)
Dasar modifikasi diet pada berbagai penyakit
Masalah yang mungkin terjadi (pengaturan atau akibat diet tersebut) dan cara mengatasinya
Pengaturan diet
Diet pada berbagai penyakit (ketogenik, alergi, diabetes melitus, kelainan metabolik bawaan)
Dasar modifikasi diet pada berbagai penyakit
Masalah yang mungkin terjadi (pengaturan atau akibat diet tersebut) dan cara mengatasinya
Pengaturan diet
Manajemen laktasi
2.2.3.3 Genetika Kedokteran
Sitogenetika
Genetika molekular
Genetika biokimia
Genetika klinik
Epidemiologi genetika
Imunogenetika
Genetika perkembangan
Genetika populasi

2.2.3.4 Elektrolit, keseimbangan air, dan asam basa


Keseimbangan cairan dan elektrolit
Fisiologi keseimbangan air dan elektrolit
Gangguan keseimbangan air dan elektrolit
Tatalaksana gangguan keseimbangan air dan elektrolit
Keseimbangan asam basa
Fisiologi keseimbangan asam-basa
Pengukuran keseimbangan asam-basa
Gangguan keseimbangan asam-basa: respiratorik
Gangguan keseimbangan asam-basa: metabolik
Tatalaksana gangguan keseimbangan asam-basa: respiratorik
Tatalaksana gangguan keseimbangan asam-basa: metabolik
-

2.2.3.5 Materi Keahlian Khusus (MKK)


Alergi-Imunologi Anak
Imunologi dasar I
Sejarah imunologi
Perkembangan sistem imun
Kompleks histokompatibilitas

106

Sistem komplemen
Imunologi dasar II
Respons imun
Imunitas humoral
Imunitas selular
Sistem Fagosit
Imumnologi Klinis I
Reaksi hipersensitivitas
Anafilaksis-anafilaktoid
Uji tusuk kulit
Alergi makanan
Imunologi klinis II
Urtikaria-angioedema
Dermatitis atopi
Rinitis alergi
Alergi obat
AIDS pada anak
Imunologi klinis III
Artritis reumatoid juvenilis
Lupus eritematosus sistemik
Purpura Henoch-Schoenlein
Imunitas dan imunopatologi
Autoimunitas
Imunomodulasi
Terapi medikamentosa dan imunoterapi

Endokrinologi Anak
Pengantar endokrinologi anak
Fisiologi, anatomi, biokimia
Mekanisme kerja
Regulasi hormon
Manifestasi kelainan endokrin
Evaluasi anak dan remaja dengan kemungkinan penyakit endokrin
Peranan sistem endokrin dalam tumbuh kembang anak
Pertumbuhan (linear)
Pengukuran pertumbuhan
Pertumbuhan abnormal:
Short stature (perawakan pendek)
Tall stature (perawakan tinggi)
Obesitas: aspek endokrin
Etiologi-patogenesis
Diagnosis
Pengelolaan
Gangguan metabolisme vasopresin
Fisiologi vasopresin normal
Diabetes insipidus:
Sentral
Nefrogenik
SIADH
Gangguan kelenjar tiroid
Fisiologi dan anatomi tiroid normal
Goiter
Hipotiroidisme
Neonatal/bawaan
Dapatan
Hipertiroidisme
Diabetes melitus
Tipe 1
Tipe 2
DKA (diabetes ketoasidosis)
Hipoglikemia
Metabolisme karbohidrat normal
Hipoglikemia neonatal
Hipoglikemia pada anak di luar periode neonatal
-

107

Hiperplasia adrenal kongenital (HAK)


Steroidogenesis adrenal normal
HAK disebabkan defisiensi 21-hidroksilase
Sindrom Cushing dan Penyakit Cushing
Kelainan organ reproduksi laki-laki
Testis undesensus
Mikropenis
Intersex
46, XX, Intersex (virilization)
46, XY, Intersex (undervirilization)
Intersex gonadal murni
Kelenjar paratiroid dan gangguannya
Peranan hormon, homeostasis kalsium, dan metabolisme tulang
Hipoparatirodisme
Aspek endokrin pubertas
Fisiologi
Pubertas dini
Pubertas lambat
Gangguan metabolisme iodium
Defisiensi iodium (aspek endokrin)
Gastro-hepatologi Anak
- Disfagia
- Muntah
Refluks gastroesofagus
Muntah menetap
Muntah bedah
- Diare
Diare akut
Sindrom diare kronik
Malabsorpsi dan intoleransi kronik
Terapi nutrisi enteral
Alergi makanan
Perawatan paska bedah intestinal
- Perdarahan saluran cerna
PerdarahanSMBA
Perdarahan SMBB
- Konstipasi
Konstipasi akibat pengaruh makanan
Konstipasi akibat kelainan bawaan
Konstipasi akibat infeksi
Konstipasi akibat obat
- Sakit perut
Sakit perut akut
Sakit perut berulang
Sakit perut bedah
- Gangguan tumbuh kembang akibat penyakit saluran cerna
Masukan kalori yang tidak adekuat
Malabsorpsi dan kehilangan kalori terlalu banyak
Diare kronik
Gangguan fungsi limfatik saluran cerna
- Kolestasis intrahepatik pada bayi dan anak
Infeksi sepsis
Virus hepatotropik A,B, C
Virus non-hepatotropik : TORCH
Metabolik
Sindrom Alagille
Defisiensi alfa 1 antitripsin
Galaktosemia
Tirosinemia
- Kolestasis ekstrahepatik pada bayi dan anak
Atresia bilier
Inspissated bile syndrome
Kista duktus koledokus

108

Kolelitiasis
Kolesistitis
Hepatitis akut
Hepatitis virus hepatotropik A-C
Hepatitis virus non A-C
Hepatitis non virus (karena obat, bakteri, parasit)
Hepatitis kronik
Hepatitis virus hepatotropik B-C
Hepatitis karena kelainan metabolik
Glycogen storage disease
Sindrom Alagille
Defisiensi alfa 1 antitripsin
Galaktosemia
Penyakit Wilson
Hepatitis Otoimun
Tumor hati
Hepatoblastoma
Karsinoma hepatoselular
Kelainan hati akibat obat

Parasetamol
Sitostatika
Tuberkulostatika
Antikonvulsan
Sirosis Hepatis dan hipertensi portal
Sirosis hati
Hipertensi portal karena sirosis
Hipertensi portal karena kelainan ekstrahepatik
Asites refrakter karena sirosis hati
Gagal hati fulminan
Transplantasi hati

Hematologi dan Onkologi Anak


- Anemia defisiensi besi (ADB)
Metabolisme besi
Etiologi dan epidemiologi anemia defisiensi besi
Diagnosis anemia defisiensi besi berdasarkan klinis dan laboratoris
Tatalaksana anemia defisiensi besi
Komplikasi anemia defisisensi besi
Dampak sosial
- Anemia defisiensi asam folat dan vitamin B12
Metabolisme asam folat dan vitamin B12
Etiologi dan epidemiologi di masyarakat
Diagnosis anemia megaloblastik secara rinci
Tatalaksana anemia megaloblastik
- Anemia hemolitik otoimun
Etiologi anemia hemolitik otoimun
Patofisiologi hemolisis
Dampak hemolisis terhadap eritropoiesis dan sistem biliaris
Diagnosis anemia hemolitik auotoimun
Tatalaksana dan rujukan penderita anemia hemolitik auotoimun
- Penyakit hemolitik pada bayi baru lahir
Etiologi dan epidemiologi penyakit hemolitik pada bayi baru lahir
Patofisiologi hemolisis
Diagnosis (termasuk serologi antenatal dan anamnesis secara rinci)
Terapi hiperbilirubinemia
Transfusi tukar
Dampak individual dan sosial kern icterus
Efek dan berbagai cara terapi hiperbilirubinemia
- Defisisensi G6PD
Epidemiologi
Patofisiologi hemolisis
Diagnosis
Nasihat pencegahan hemolisis pada penderita
Konsultasi genetik

109

Anemia aplastik
Etiologi anemia aplastik
Patofisiologi
Diagnosis anamnesis secara rinci
Talasemia
Patogenesis talasemia alfa dan beta
Pewarisan talasemia alfa dan beta
Epidemiologi talasemia
Diagnosis
Tatalaksana penderita talasemia beta
Hemosiderosis dan hemokromatosis
Tatalaksana hemosiderosis
Indikasi splenektomi
Komplikasi penderita talasemia beta mayor
Indikasi tranplantasi sumsum tulang
Dampak biopsikososial
Konsultasi genetika
Pengendalian talasemia beta
Idiopathic thrombocytopenic purpura (ITP)
Definisi ITP akut dan kronis
Etiologi
Patogenesis
Diagnosis
Tatalaksana
Komplikasi dan tatalaksananya
Indikasi splenektomi
Amegakaryocytic thrombocytopenic purpura (ATP)
Definisi
Diagnosis
Tatalaksana
Trombopatia
Definisi
Perbedaan trombopatia bawaan dengan didapat
Jenis-jenis trombopatia bawaan
Jenis-jenis trombopatia didapat
Diagnosis trombopatia
Penetapan rujukan
Hemofilia
Etiologi dan epidemiologi
Diagnosis
Tatalaksana
Persiapan pasien yang memerlukan tindakan operasi
Pengobatan rumatan
Indikasi rujukan
Konsultasi genetika
Dampak psikososial
Penyakit von Willebrand
Etiologi dan epidemiologi
Diagnosis berdasarkan gejala klinis dan hasil laboratorium
Tatalaksana
Persiapan pasien yang memerlukan tindakan operasi
Indikasi rujukan
Konsultasi genetika
Dampak psikososial
Defisiensi vitamin K
Etiologi
Patogenessis perdarahan akibat defisiensi vitamin K
Diagnosis berdasarkan gejala klinis dan hasil laboratorium
Komplikasi
Efek samping pengobatan
Kelainan pembuluh darah
Jenis-jenis kelainan pembuluh darah
Diagnosis
Tatalaksana

110

Leukemia
Definisi
Etiologi dan epidemiologi
Patogenessis dan gejala-gejala leukemia
Klasifikasi leukemia
Diagnosis
Pengobatan penunjang suportif
Rujukan
Jenis-jenis regimen pengobatan leukemia
Pengobatan atas petunjuk rujukan
Komplikasi dan pengobatan
Konsultasi dampak
Preparat apus darah tepi leukemia
Aspirasi sumsum tulang
Tumor ganas padat
Jenis tumor ganas padat
Epidemiologi
Diagnosis
Gejala klinis dan hasil laboratorium
Rujukan pada saat yang tepat
Kerjasama dengan disiplin ilmu lain yang terkait
Penyuluhan masalah penyakit kepada orangtua
Transplantasi sumsum tulang
Indikasi
Rujukan atas petunjuk konsultasi
Transfusi darah
Indikasi transfusi darah
Persiapan dosis dan macam transfusi darah
Tatalaksana transfusi darah yang tepat
Pencegahan dan penanganan terhadap penyakit yang timbul

Kardiologi Anak
Pendahuluan
Anatomi jantung normal
Fisiologi jantung normal
Embriologi jantung normal
Penyakit jantung bawaan
- Defek septum atrium
- Defek septum ventrikel
- Duktus arteriosus persisten
- Stenosis pulmonal
- Hipoplasia jantung kiri
- Stenosis aorta
- Koarktasio aorta
- Tetralogi Fallot
- Atresia pulmonal
- Double outlet right ventricle
- Transposisi arteri besar
- Atresia trikuspid
- Anomali drainase vena pulmonalis
- Dekstrokardia
Demam reumatik dan penyakit jantung reumatik
Penyakit jantung didapat nonreumatik
- Infeksi
Endokarditis
Miokarditis
Perikarditis
Efusi perikardium
Penyakit Kawasaki
Penyakit Takayasu
- Noninfeksi
Kelainan kardiovaskular pada glomerulonefritis
Kelainan kardiovaskular pada hipertensi
-

111

Kelainan kardiovaskular pada gangguan elektrolit dan asam basa


Kelainan kardiovaskular pada kelainan hematologi
Tromboemboli
Kelainan kadiovaskular pada penyakit metabolik dan endokrin
Kelainan kardiovaskular pada kelainan ginjal
Kelainan kardiovaskular pada penyakit paru
Masalah khusus
Gagal jantung
EKG abnormal
Disritmia
Hipertensi pulmonal
Kardiomiopati
Syok kardiogenik
Henti jantung
Nefrologi Anak
Proteinuria
Hematuria
Ginjal polikistik
Katup uretra posterior
Sindrom nefrotik sensitif steroid
Sindrom nefrotik resisten steroid
GNA pascastreptokokus
GNK (glomerulonefritis kronik)
Sindrom hemolitik uremik
Nefropati IgA
Asidosis tubular ginjal
Hipertensi primer
Hipertensi sekunder
Krisis hipertensi
Infeksi saluran kemih simpleks dan kompleks
Refluks vesiko-ureter
Intoksikasi jengkol
GGA (gagal ginjal akut)
GGK (gagal ginjal kronik)
Enuresis
Neuropediatri
Peningkatan tekanan intrakranial
Epilepsi
Kejang demam
Penatalaksanaan kejang
Infeksi susunan saraf
Trauma lahir pada neonatus
Hypoxic ischemic encephalopathy pada neonatus
Malformasi kongenital susunan saraf pusat
Tumor pada susunan saraf
Trauma kepala dan tulang belakang
Penyakit neuromuskular
Penyakit metabolik dan degeneratif
Penyakit neurokutan
Penyakit serebrovaskular
Ensefalopati
Gangguan perkembangan umum (retardasi mental, gangguan belajar)
Cerebral palsy
Gangguan perkembangan khusus (ADHD, autis, gangguan perkembangan pervasif)
Gawat Darurat Pediatri
- Resusitasi
Resusitasi dasar
Resusitasi lanjutan
Obat resusitasi
- Pengangkutan penderita gawat
Pengangkutan penderita gawat di dalam dan antar rumah sakit
- Kedaruratan anak
Triase

112

Kedaruratan pernapasan dan terapi oksigen


Kedaruratan kardiovaskular
Kedaruratan SSP
Keracunan
- Ilmu kesehatan anak intensif
Resusitasi otak
Kegawatan pernafasan dan ventilasi mekanik
Kegawatan kardiovaskular
Pengelolaan medik pra dan pascabedah
- Prosedur pediatrik
Intubasi endotrakeal
Intraosseus line
RJP (resusitasi jantung paru) bayi dan anak
Infeksi dan Penyakit Tropik
- Patogenesis penyakit infeksi
- Imunologi penyakit infeksi
- Respons imun terhadap penyakit infeksi
- Demam, patogenesis, dan tatalaksana
- Demam tanpa kausa yang jelas
- Pemberian antibiotik di bidang pediatrik
- Isolasi
- Pemeriksaan penunjang diagnosis/nilai normal
- Helmintiasis
- Malaria
- Amebiasis/giardiasis
- Difteria
- Disentri basiler
- Pertusis
- Tetanus
- Demam tifoid
- Salmonelosis
- Infeksi streptokokus grup A
- Infeksi stafilokokus
- Sepsis
- Campak
- Dengue
- Rubela
- Parotitis epidemika
- Varicella-Zoster
- HIV
- Flu burung/Avian influenza
- Infeksi nosokomial
Neonatologi
- Asfiksia neonatorum
- Ikterus
- BBLR (bayi berat lahir rendah)
- Termoregulasi
- Fisiologi neonatus
- Cacat bawaan
- Sindrom gawat napas
- Hipoglikemia
- Nutrisi parenteral
- Anemia
- Hipokalsemia
- Nutrisi enteral
Respirologi Anak
- Mekanisme pertahanan lokal saluran respiratorik
Aerodynamic filtering
Airway reflexes
Mechanism of cough and abnormalitiies of the cough reflex
Mucous and lung water
Disorder of the mucocilliary system

113

The respiratory epithelium


Kelainan respiratorik yang sering ditemukan pada bayi
Laringomalasia
Emfisema dan lobaris kongenital
Kista paru dan bleb paru
Fistula trakeosesofageal
Kelainan diafragma dan dinding dada (hernia diafragmatika, enterasio diafragma, osteogenesis imperfekta)
Tumor mediastinum
Asma bronkial
Patofisiologi
Diagnosis
Klasifikasi (derajat serangan, derajat penyakit)
Penatalaksanaan
Batuk kronik berulang (BKB)
Pneumotoraks, pneumomediastinum
Infeksi saluran respiratorik akut
Bagian atas (rinitis, rinofaringitis, tonsilitis, tonsilofaringitis, sinusitis, otititis media akut, epiglotitis, sindrom
croup)
Bagian bawah (bronkopneumonia, bronkiolitis)
Drowning, near drowning
Avian influenza
Tuberkulosis

3.1 Evaluasi Belajar dan Batas Waktu Studi


3.1.1
Evaluasi Hasil Belajar
Penilaian berdasarkan tujuannya dibagi menjadi tiga yaitu formatif, sumatif, dan gabungan keduanya (penilaian sumatif
yang berisi pula komponen formatif, contohnya early warning summative yang diselenggarakan The United States
National Board of Medical Examiner). Penilaian formatif dipergunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik
dengan tujuan untuk memperbaiki kekurangan/kelemahan yang ditemukan, sedangkan penilaian sumatif dipergunakan
untuk menentukan/menjadi dasar suatu keputusan seperti lulus-tidak lulus, baik atau buruk.
3.1.2
Penilaian untuk Program Magister Kesehatan
MDU/MDK/MKUIMKK
Penilaian dilaksanakan melalui pemberian tugas-tugas, diskusi, presentasi, dan ujian tertulis maupun lisan bila
diperlukan.
Usulan Penelitian
Penilaian usulan penelitian dilaksanakan melalui ujian Sidang Usulan Penelitian mencakup kerangka penulisan,
substansi masalah yang akan diteliti, tujuan penelitian, metode penelitian, perangkat statistik yang akan
dipergunakan,dan kepustakaan yang relevan.
Seminar Usulan Penelitian:
1. Usulan penelitian kerangka tesis yang belum diuji secara empiris
2. Seminar usulan penelitian dilaksanakan pada alih semester, yaitu setelah kwartal ke-2 program magister
3. Jumlah penguji adalah 7 orang yang terdiri atas 2 anggota tim pembimbing dan 5 orang penelaah termasuk ketua
sidang dan 2 orang penilai etika penelitian.
4. Sidang diketuai oleh Guru Besar yang ditunjuk oleh Program Pascasarjana Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran.
5. Penguji disarankan oleh ketua Peminatan dan ditetapkan oleh Koordinator Program Pascasarjana Fakultas
Kedokteran Universitas Padjadjaran
6. Penguji pada waktu usulan penelitian adalah juga penguji pada pratesis dan tesis
7. Penguji boleh bergelar magister selama pada bagian tersebut belum ada yang bergelar doktor.
8. Pada akhir seminar semua skor yang berupa angka mutu dengan kisaran 0,004,00 dikumpulkan dan dihitung
dengan rincian: Nilai pembimbing adalah 60% dan nilai penelaah 40%
9. Angka kelulusan serendah-rendahnya 3,00
10. Bila tidak lulus, mahasiswa diberi kesempatan hanya satu kali seminar perbaikan dan bila belum berhasil juga
mahasiswa dikenakan sanksi pemutusan sandi
11. Bagi mahasiswa yang telah lulus seminar diwajibkan melengkapi dan memperbaiki usulan penelitiannya dan
ditandatangani kembali oleh pembimbing dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai usulan penelitian untuk tesis.
Hasil perbaikan harus diserahkan kepada ketua program untuk mendapat surat izin melaksanakan penelitian
12. Bobot Ujian Usulan Penelitian 4 SKS

114

13. Pedoman huruf mutu usulan penelitian:


ANGKA MUTU
HURUF MUTU

3,764,00
A
ANGKA MUTU
HURUF MUTU

3,513,75
A(-)
3,764,00
A

3,263,50
B(+)

3,003,25
B

3,003,75
B

14. Usulan penelitian harus dilakukan paling lambat pada akhir semester ke-4 program pendidikan Magister.
Tabel 3.1

Predikat Kelulusan Usulan Penelitian Berdasarkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)


IPK
Predikat
3,714,00
Dengan Pujian
3,413,70
Sangat Memuaskan
2,753,40
Memuaskan

Tabel 3.2

Predikat Kelulusan Tesis Berdasarkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)


IPK
Predikat
3,714,00
Dengan Pujian
3,413,70
Sangat Memuaskan
2,753,40
Memuaskan

3.1.3
Penilaian Program Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Anak
Tata Cara Pelaksanaan PenilaianPeserta PPDS-1 IKA
Dalam rangka memperoleh kompetensi dokter spesialis anak, peserta PDS-1 IKA melakukan kegiatan pembelajaran
yang merupakan gabungan proses pelayanan, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Jenis kegiatan tersebut meliputi:
- Pemeriksaan pasien termasuk tatalaksana pasien (bed side)
- Acara ilmiah, meliputi:
1. Laporan kasus
2. Sari pustaka
3. Bacaan jurnal
4. Tugas baca
5. Laporan kasus longitudinal
6. Evidence based case report (EBCR)
7. Laporan kematian (audit morbiditas dan mortalitas)
Dengan memperhatikan tingkat kompetensi dari area kompetensi yang harus dicapai sesuai dengan tahap pendidikan
peserta PPDS-1 (yunior/madya) penilaian di divisi berupa:
Presentasi pada saat ronde divisi dan ronde besar
Bacaan jurnal
Analisis kasus
Sari pustaka
Audit morbiditas dan mortalitas
Pengamatan langsung keterampilan melakukan prosedur medis pada anak (DOPS: direct observation procedural
skill assesment)
MINI-CEX
Script corcodance test (SCT)
Ujian lisan atau tertulis (modifikasi esai atau pilihan berganda) dilaksanakan pada awal dan akhir magang di divisi
Penilaian buku log
Portofolio
Pemberian angka, nilai mutu, markah, dan interpretasi setiap penilaian di divisi adalah sebagai berikut:
Bentuk asesmen peserta PPDS-1 IKA
Untuk penilaian dan evaluasi kemajuan hasil belajar peserta PPDS-1 IKA digunakan beberapa metode asesmen
(sesuai aturan kolegium IKA Indonesia), meliputi:
Case based discussion (CBD)
Mini clinical examination (Mini CEX) dilaksanakan di tiap divisi
Direct observational procedures(DOPS)
Mini peer assesment tools (Mini PAT)
Objective clinical structured evaluation (OSCE)
Essay
Multiple choice question (MCQ)
Buku Log

115

Penilaian dalam bentuk angka dan huruf mutu.


Hasil penilaian tersebut merupakan dasar penilaian kelulusan divisi.
Tabel 3.3

Penilaian di Divisi
Nilai Akhir (NA)
80NA100
68NA<80
56NA<68
45NA<56
NA<45

Huruf Mutu
A
B
C
D
E

Angka Mutu (AM)


3.20AM4
2.72AM<3.20
2.24AM<2.72
1.80AM<2.24
AM<1.80

Setelah berhasil melewati setiap tahap dalam program pendidikan (yunior, madya, dan senior), kepada peserta
didik akan diberikan sertifikat kompetensi.
CbD (Case-based Discussion)
Case-based Discussionadalah suatu metode untuk menilai kemampuan klinik peserta PPDS-1dalam hal pengambilan
keputusan klinik, dan aplikasi/penggunaan pengetahuan medik dalam mengelola pasien, dan hanya memerlukan
waktu 20 menit untuk dapat mengevaluasi kemampuan peserta PPDS-1 dan sekaligus memberikan umpan balik pada
kasus tersebut.
Mini-CEX (MiniClinical Examination)
Mini-CEX adalah penilaian kemampuan klinis peserta PPDS-1 pada saat berhadapan dengan pasien, dan hanya perlu
1520 menit untuk dapat menilik interaksi peserta PPDS-1 dengan pasien, kemudian diikuti umpan balik 510 menit.
Dari berbagai pemakaian, Mini-CEX telah dibuktikan merupakan alat yang valid dan dapat dipercaya untuk mengukur
kemampuan klinik peserta PPDS-1.
DOPS (Direct Observation of Procedural Skill)
Direct Observation of Procedural Skilladalah penilaian kemampuan klinik peserta PPDS-1 dalam melakukan suatu
tindakan medik pada pasien, dan hanya memerlukan waktu 1520 menit untuk dapat mengevaluasi kemampuan
peserta PPDS-1 dalam melakukan tindak medis secara keseluruhan, dan kemudian diikuti oleh umpan balik selama 5
menit. DOPStelah terbukti merupakan alat yang valid untuk dapat mengukur kemampuan peserta PPDS-1 dalam
melakukan tindak medis.
Mini-PAT (MiniPeer Assessment Tool)
Mini-PAT adalah suatu metode untuk menilai prestasi klinik peserta PPDS-1, ditujukan untuk menilai prestasi peserta
PPDS-1 dalam mengelola pasien yang didasarkan pada kemampuan peserta PPDS-1 secara rutin dalam menangani
pasien, dan hanya memerlukan waktu 10 menit untuk dapat mengevaluasi kemampuan peserta PPDS-1.
4.1 Pedoman Ujian
4.1.1. Ujian OSCE (Objective Structure of Clinical Examinaton)
Setiap peserta PPDS-1 IKA harus mengikuti ujian OSCE sebanyak 3 kali (1 kali tingkat yunior, 1 kali tingkat madya,
dan 1 kali tingkat senior).Ujian OSCE diadakan secara periodik setahun dua kali pada bulan April dan Oktober.
Kelulusan ujian OSCE pada semua tahap pendidikan merupakan salah satu prasyarat untuk mengikuti ujian
komprehensif lokal yang diselenggarakan sebelum mengikuti ujian evaluasi nasional yang diselenggarakan kolegium
IKA Indonesia.
4.1.2 Ujian tertulis
Ujian tertulis berupa essay atau MCQ merupakan evaluasi tambahan yang bersifat fakultatif.
4.1.3 Ujian MCQ Nasional
Ujian MCQ nasional dilaksanakan oleh Kolegium Ilmu Kesehatan Anak Indonesia dan kelulusannya merupakan salah
satu prasyarat untuk mengikuti ujian komprehensif lokal sebelum mengikuti ujian evaluasi nasional yang
diselenggarakan kolegium IKA Indonesia.
4.1.4.Ujian Komprehensif Lokal
Ujian ini merupakan prasyarat untuk mengikuti ujian nasional (evaluasi nasional),dilaksanakan setelah peserta PPDS-1
IKA lulus di semua divisi,lulus ujian OSCE, lulus tugas akhir dan atau ujian tesis, menyerahkan artikel ilmiah dan sudah
disetujui oleh editor jurnal ilmiah yang terakreditasi untuk dipublikasikan, serta tidak ada tunggakan pinjaman buku
perpustakaan.

116

a.

Bentuk Ujian
Ujian terdiri dari kasus panjang (long case) dan kasus pendek (short case). Ujian kasus panjang berbentuk
evidence based practice, sedangkan kasus pendek berbentuk Mini-CEX atau disesuaikan dengan metodeevaluasi
nasional.

b.

Penyelenggaraan Ujian Komprehensif Lokal


Penguji ujiankomprehensif lokal ditentukan secara bergiliran oleh Tim Pendidikan PPDS-1 IKA yang mendapat
persetujuan Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Anak, terdiri atas 5 orang penguji dan 1 orang sekretaris.

c.

Tatacara Ujian
Mengacu kepada peraturan yang telah ditentukan oleh Kolegium Ilmu Kesehatan Anak Indonesia.

Kasus panjang
Satu kasus diberikan kepada setiap kandidat 7 hari sebelum penyelenggaraan ujian untuk ditatalaksana dan
dibuat makalah kasus panjang
Format kasus panjang terdiri atas identitas pasien, ilustrasi kasus, dan diskusi tanpa disertai daftar pustaka
Kandidat mempresentasikan kasusnya selama 1520 menit dengan memakai alat bantu dengar pandang
Setelah kandidat selesai mempresentasikan kasus, tim penguji dapat memeriksa/melihat kasus yang
dipresentasikan
Masing-masing penguji mendapat waktu 10 menit untuk mengajukan pertanyaan secara bergilir
Pertanyaan yang diajukan oleh seorang penguji juga dinilai jawabannya oleh penguji-penguji lain
Apabila penguji merasa pertanyaan yang diajukan penguji sebelumnya sudah dirasakan cukup, maka penguji
bersangkutan boleh tidak mengajukan pertanyaan lagi
Proporsi pertanyaan sebagai berikut: 40% mengenai kasus dan 60% mengenai ilmu kesehatan anak secara
keseluruhan
Kasus pendek
Kasus disiapkan oleh panitia penyelenggara, sesaat sebelum penyelenggaraan ujian
Kandidat dan penguji tidak mengetahui kasus sebelumnya
Kandidat dan penguji diberi keterangan pendek tertulis mengenai pasien sebagai berikut: nama, umur,
anamnesis singkat, dan lain-lain
Kandidat mengambil anamnesis, memeriksa pasien, dan kemudian mempresentasikan. Kandidat memakai
alat-alat kedokteran yang disediakan (stetoskop, termometer, tensimeter, dan lain-lain). Seluruhnya dilakukan
dalam waktu 15 menit
Pada waktu kandidat melakukan amanesis dan memeriksa pasien, para penguji mengamati dan menilai
kandidat
Setelah kandidat mempresentasikan pasien, dilakukan diskusi umum yang dipimpin oleh Ketua Tim Penguji
Masing-masing penguji mendapat waktu 5 menit untuk mengajukan pertanyaan/diskusi dengan kandidat.
Penilaian dilakukan dengan memakai pola Mini-CEX
Pertanyaan yang diajukan oleh seorang penguji juga dinilai jawabannya oleh penguji lain
Apabila penguji selanjutnya merasa pertanyaan yang diajukan penguji sebelumnya sudah dirasakan cukup,
maka penguji bersangkutan boleh tidak mengajukan pertanyaan lagi
4.1.5 Evaluasi Nasional
Diselenggarakan secara nasional sesuai jadwal yang ditetapkan Kolegium Ilmu Kesehatan Anak Indonesia.Setelah
dinyatakan lulus ujian Evaluasi Nasional (EN) yang bersangkutan berhak memperoleh gelar dokter spesialis anak.
Batas waktu pendidikan
Batas waktu masa studi PPDS-1 IKA adalah 1 x masa studi (8 semester), yaitu 12 semester.
5.1 Tata Tertib
5.1.1 Sanksi akademik
Sanksi akademik dapat berupa peringatan akademik dan atau pemutusan studi. Sanksi pemutusan studi
diusulkan atau diajukan oleh Program Studi pendidikan Spesialisasi Anak Fakultas Kedokteran UNPAD dan
diputuskan oleh Rektor UNPAD.
5.1.2 Peringatan Akademik dan Pemutusan Studi pada Program Magister
A. Peringatan Akademik pada Program Magister
Peringatan akademik beserta surat Pembantu Dekan I ditujukan kepada lembaga pengirim atau mahasiswa untuk
memberitahukan adanya kekurangan prestasi akademik mahasiswa atau pelanggaran pendidikan lainnya. Hal ini
dilakukan untuk memperingatkan mahasiswa agar tidak mengalami pemutusan studi.
Peringatan akademik pada program magister tersebut diberikan kepada:
1. Mahasiswa regular yang pada akhir semester IV belum melakukan seminar usulan penelitian.
2. Mahasiswa regular yang pada akhir semester IX belum menempuh ujian akhir lisan terbuka mempertahankan
tesis.

117

B. Pemutusan Studi Akademik pada Program Magister


Dengan dikeluarkannya Pemutusan Studi berarti mahasiswa dikeluarkan dari fakultas/jurusan atau program studi
karena prestasinya sangat rendah, kelalaian administratif, dan atau kelalaian mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Pemutusan studi dikenakan kepada mahasiswa program magister yang mengalami kondisi dibawah ini:
1. Akhir semester I tidak mencapai Indeks Prestasi (IP) 2,75;
2. Akhir semester II tidak mencapai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,00;
3. Pada akhir semester I dan/atau semester II memperoleh huruf mutu di bawah C.
4. Mahasiswa regular yang pada akhir semester IV belum melaksanakan seminar usulan penelitian.
5. Mahasiswa regular yang pada akhir semester V tidak lulus seminar usulan penelitian.
6. Mahasiswa regular yang pada akhir semester IX belum menempuh sidang ujian tesis
5.1.3
Peringatan Akademik dan Pemutusan Studi pada Program Spesialis Anak
A. Peringatan Akademik pada Program Spesialis Anak
Peringatan akademik pada tahap yunior atau madya dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. 2 nilai C: diberi peringatan pertama
b. 3nilai C: diberi peringatan kedua dan dikonsulkan kepada tim konseling DIKA yang ditetapkan oleh Kepala
Departemen IKA
c. 4nilai C: diberi peringatan ketiga dan dianjurkan alih jurusan
d. Bila peserta PPDS yang bersangkutan masih ingin melanjutkan pendidikannya dan tidak ingin pindah jurusan,
PPDS akan diberi kesempatan dua kali lagi
B. Pemutusan Studi Akademik pada Program Spesialis Anak
Pemutusan studi akademik tahap yunior dilaksanakan bila salah satu keadaan tercapai:
a. Mendapat nilai D atau E di 2 divisi, baik secara berurut-turut atau tidak
b. Akhir semester I Indeks Prestasi (IP) <2,75 atau akhir semester II Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) <2,75
c. Bila masa pendidikan tahap yunior diperkirakan akan melebihi masa n+ n.
n=lama pendidikan tahap yunior, yaitu 3 semester (12 divisi), dengan demikian kesempatan melaksanakan di tahap
yunior 18 divisi
d. Mendapat 6 nilai Cdi divisi yang berbeda
Pemutusan studi akademik tahap madya dilaksanakansesuai dengan evaluasi tahap yunior. Untuk tahap seniortidak
ada pemutusan studi yang diakibatkan oleh alasan akademik, tetapipenghentian pendidikan dilakukan bila masa
pendidikan keseluruhan melebihi 1 x lama pendidikan, yaitu 12 semester. Surat penghentian studi dikeluarkan
dengan Surat Keputusan Rektor.
5.1.4 Pemutusan Studi karena Kelalaian Administratif
Pemutusan studi dikenakan kepada mahasiswa Program Pascasarjana termasuk Program Spesialis I yang
menghentikan studi dua semester berturut-turut atau dalam waktu berlainan tanpa izin Rektor.
5.1.5 Pemutusan Studi karena Kelalaian mengikuti Kegiatan Belajar-Mengajar
Pemutusan studi dikenakan kepada mahasiswa Program Spesialis I dan atau Program Pascasarjana yang telah
mendaftar atau mendaftarkan kembali secara administratif, tetapi:
1. Tidak mengikuti kegiatan belajar-mengajar pada semester I dan/atau semester II tanpa alasan yang dapat
dibenarkan, baik mengisi maupun tidak mengisi KRS.
2. Tidak mengisi KRS (tidak mengikuti kegiatan belajar-mengajar) 2 semester berturut-turut atau secara
terpisah, tanpa alasan yang dapat dibenarkan; dan atau
3. Mengundurkan diri dari satu atau beberapa mata kuliah setelah lewat batas waktu perubahan KRS 2
semester berturut-turut atau secara terpisah, tanpa alasan yang dapat dibenarkan.
5.1.6 Pemutusan Studi karena Pelanggaran Etika Berat
Penghentian pendidikan dapat dijatuhkan tanpa peringatan/teguran awal bila ditemukan pelanggaran etika berat hasil
temuan staf pendidikan yang diperkuat dengan keputusan komite medik RSUP dr. Hasan sadikin. Kriteria pelanggaran
etika berat ditentukan oleh tim yang ditunjuk oleh Departemen IKA.
5.1.7 Pemutusan Studi karena Alasan Kondisi Kesehatan
Penghentian pendidikan dapat dijatuhkan karena alasan kondisi kesehatan yang diperkuat dengan surat keterangan
dari Majelis Penguji Kesehatan Pegawai RSUP dr. Hasan Sadikin.
6.1 Sanksi Pelanggaran
Apabila mahasiswa melakukan pelanggaran, setelah dibicarakan dengan Senat Fakultas, akan dikenai sanksi khusus,
sedangkan penanganan masalah pidananya akan diserahkan kepada yang berwajib. Jenis pelanggaran tersebut
adalah seperti dibawah ini:

118

6.1.1
Pelanggaran Hukum
Mahasiswa yang melakukan pelanggaran hukum, baik yang berupa tindak pidana maupun penyalahgunaan obat,
narkotika, dan sejenisnya, serta penggunaan minuman keras dan sejenisnya, dan telah ditetapkan bersalah secara
hukum oleh pengadilan, akan dikenakan sanksi berupa skorsing sampai dengan pemutusan studi oleh Rektor sesuai
putusan tersebut.
6.1.2
Pelanggaran Etika Moral dan Etika Profesi
Mahasiswa melakukan pelanggaran etika moral, profesi (memeriksa pasien/klien tanpa supervisi, membuat resep,
melakukan konsultasi tanpa supervisi, membocorkan rahasia jabatan,dsb.), memalsukan tandatangan dan sejenisnya,
akan dikenakan sanksi berupa skorsing oleh Dekan sampai dengan pemutusan studi oleh Rektor.
6.1.3
Pelanggaran Etika Akademik
Mahasiswa yang melakukan pelanggaran etika akademik, seperti menyontek, menjiplak (makalah, laporan, tugas
akhir, tesis, dsb.) membocorkan sejenisnya akan dikenakan sanksi berupa skorsing sampai dengan pemutusan studi.
7.1 Ketentuan Pengambilan Cuti
7.1.1
Cuti Akademik
Cuti akademik sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Padjadjaran, yaitu sebanyak 1 kali yang lamanya
1 semester. Surat permohonan ditujukan kepada Rektor melalui Direktur Program Pascasarjana Universitas
Padjadjaran, selambat-lambatnya 1 minggu sebelum daftar ulang (her registrasi). Periode cuti akademik tersebut tidak
diperhitungkan dalam batas waktu maksimal program studi. Cuti akademik dapat diambil setelah mendapat izin rektor
dan selama periode cuti akademik tersebut mahasiswa dibebaskan dari SPP.
7.1.2
Cuti Sakit
Harus dibuktikan dengan surat keterangan istirahat/tidak boleh mengikuti kegiatan pendidikan dari dokter spesialis.
Bila lama sakit lebih dari lima hari dalam satu bagian yang bersangkutan harus mengulang di divisi tersebut.
7.1.3
Cuti Hamil
Cuti hamil diberikan selama tiga bulan, yaitu 1 bulan sebelum dan 2 bulan sesudah melahirkan.
7.1.4 Cuti Khusus
Merupakan jenis cuti yang diberikan atas pertimbangan Kepala Departemen dengan masukan dari KPS, termasuk ke
dalam Cuti Khusus adalah menikah. Lama cuti disesuaikan dengan keperluan serta memperhitungkan aspek
pendidikan.
8.

Program Studi Ilmu Penyakit Dalam

Metode Pembelajaran
A.

Metode scientific problem solving approach dan decision making

Proses pendidikan dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip metode ilmiah, berupa kemampuan scientific
problem solving approach dan decision making berbasis bukti.

Derajatkompetensipendidikansesuaidengankriteria Bloom (Buku PEKERTI) :


Kognitif:
C1 :pengetahuan
C2 :pemahaman
C3 :penerapan
C4 :analisis
C5 :sintesis
C6 :evaluasi
Afektif
:
A1 :pengenalan
A2 :pemberianrespon
A3 :penghargaanterhadapnilai
A4 :pengorganisasian
A5 :pengamalan
Psikomotor:
P1 :imitasi
P2 :manipulasi
P3 :presisi

119

P4 :artikulasi
P5 :naturalisasi
B.

Tingkat kompetensi skillspeserta PPDS-1 Bagian Penyakit Dalam FK. UNPAD/ RSUP dr. Hasan Sadikin
dibagi atas :
1. Tingkat Pemula : peserta PPDS dalam tahap melihat dan asistensi
2. Tingkat Madya : peserta PPDS mampu melakukan dengan supervisi
3. Tingkat Mandiri : peserta PPDS mampu melakukan tanpa supervisi, kecuali tindakan-tindakan khusus
(aspirasi cairan sendi, aspirasi cairan pericardial)
Kriteria tingkat kompetensi :
1. Tingkat Pemula : semester I
2. Tingkat Madya : semester II IV
3. Tingkat Mandiri : semester V - VII

Struktur Mata Kuliah


No
1
2
3
4

Kode MK
C21J01.0001
C21J01.0019
C21J01.0002
C21J01.0003

Nama

SKS
6
7
4
2

Sem
I
I-II
VII
II V

Umum (Junior)
Jaga A
Supervisi Divisi Umum dan Rumah Sakit Jejaring
Endokrinologi-Metabolisme

C21J01.0004

Gastroentero-Hepatologi

II V

6
7

C21J01.0005

Ginjal dan Hipertensi

II V

C21J01.0006

Hematologi dan Onkologi

II V

C21J01.0007

Penyakit Tropik Infeksi

II V

C21J01.0008

Kardiovaskular

II V

10

C21J01.0009

Respirologi

II V

11

C21J01.0010

Reumatologi

II V

12

C21J01.0011

Geriatri

II V

13

C21J01.0034

Penyakit Kritis Respirasi

II V

14

C21J01.0017

Poliklinik Umum Pria

II V

15

C21J01.0026

Pembimbing ko-ass

1.5

II-VII

16

C21J01.0028

Referat (3)

II-IV

17

C21J01.0029

Presentasi Kasus (3)

II-IV

18

C21J01.0030

Telaah Literatur (12)

II-VI

19

C21J01.0020

Jaga B

III-VI

20

C21J01.0014

Emergensi

VI

21

C21J01.0018

Poliklinik Umum Wanita

VI

22

C21J01.0021

Bagian Jiwa / Kulit

0.5

V-VII

23

C21J01.0022

Bagian Bedah Syaraf / THT / Bedah Rahang

0.5

V-VII

24

C21J01.0023

Bagian Obstetri dan Ginekologi

0.5

V-VII

25

C21J01.0024

Bagian Bedah

0.5

V-VII

26

C21J01.0025

Bagian Neurologi

0.5

V-VII

27

C21J01.0033

Tesis

VII

28

C21J01.0035

Jaga Senior

VI-VII

29

C21J01.0012

Ruang Intensif (ICU/MICU)

VII

30

C21J01.0013

IW / CICU

VII

31

C21J01.0031

Penelitian Makalah Nasional

III-VII

83

120

Evaluasi Hasil Belajar


Evaluasi meliputi aspek kognitif, psikomotor dan afektif. Evaluasi pendidikan peserta PPDS merupakan
evaluasi secara integratif dan komprehensif dan dilaksanakan secara objektif. Evaluasi tidak berdasarkan komponen
kognitif saja namun komponen afektif dan psikomotor merupakan faktor penentu yang sama pentingnya.
Evaluasi penilaian dapat terdiri dari berbagai komponen :
1.
Penilai dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam
2.
Masukan dari pembimbing dan pendidik.
3.
Masukan dari staf DepartemenIlmu Penyakit Dalam, staf Departemen lain, sesama peserta PPDS, perawat,
staf administrasi.
4.
Masukan dari komponen luar seperti komite medik rumah sakit bila terkait kasus pelayanan (afektif dan
psikomotor)
Pencapaian kompetensi skills peserta didik dibagi menjadi :
1. Tingkat Pemula : peserta PPDS dalam tahap melihat dan asistensi
2. Tingkat Madya : peserta PPDS mampu melakukan dengan supervisi
3. Tingkat Mandiri : peserta PPDS mampu melakukan tanpa supervisi, kecuali tindakan-tindakan khusus (seperti
aspirasi cairan sendi, aspirasi cairan pericardial)
Evaluasi Program Terstruktur Terjadwal :
1. Ujian sumatif
2. Ujian Bedside
3. Evaluasi jaga
4. Evaluasi konsulen Penyakit Dalam untuk disiplin ilmu yang lain
5. Ujian Nasional Kompetensi Ilmu Penyakit Dalam (Kolegium-IPD)
Evaluasi program Tidak Terstruktur Terjadwal : sesuai dengan kegiatan, penilaian tercatat pada buku kemajuan (log
book)
Ujian untuk evaluasi kemajuan akademik peserta PPDS dibuat setiap 2 bulan

Untukpeserta PPDSUmumYunior
1. UjianPasien
2. Ujian Tertulis

Untukpeserta PPDSDivisi : Sesuai dengan Divisi masing-masing

Untukpeserta PPDSUmumsenior
: MempersiapkandiriuntukUjianNasional
Penilaian divisi Umum

Nilai ruangan
: 40 %

Nilai jaga
: 10 %

Nilai modul
: 10 %

Nilai ujian sumatif : 10%

Nilai ujian bed side : 30 %


Cat : nilai ruangan terdiri dari nilai supervisor Umum ( 40 %) dan nilai Kepala sub bagian Umum (30%) dan nilai Kepala
Pelayanan (30%).
Penilaian Divisi :

Nilai ruangan (kognitif, psikomotor, afektif)

Presentasi kasus

Referat
Ujian untuk kenaikan tingkat jaga
Kognitif:Ujian tertulis dengan materi wajib dan Kasus-Kasus Khusus, Penanganan kasus harian (visite, BST)
Psikomotor: Penilaian kegiatan harian (BST, penanganan kasus pasien saat visite bersama), nilai Audit Lapor Jaga
oleh Auditor
Afektif : Penilaian Konsulen dan masukan dari supervisor, residen yang lebih senior dan perawat
Kegiatan Umpan Balik hasil Evaluasi kepada Peserta PPDS
Hasil evaluasi disampaikan langsung setelah peserta PPDS melakukan setiap
kegiatan dan batas paling akhir 1 bulam setelah kegiatan
Penyelenggara pendidikan akan melakukan evaluasi tentang pengaruh pemberian
umpan balik hasil evaluasi kepada peserta PPDS setiap 6 bulan

121

Kegiatan umpan balik terhadap hasil evaluasi kepada pembimbing dan fakultas
Hasil evaluasi dibahas dalam rapat staf selanjutnya disampaikan kepada pembimbimg kegiatan dan Fakultas
Hasil evaluasi diumumkan secara terbuka kepad peserta PPDS
Bukti hasil evaluasi ditindak lanjuti untuk proses perbaikan dalam rapat staf setiap 6 bulan
Umpan balik ditindak lanjuti untuk perbaikan sistem.
Peraturan sanksi peserta didik PPDS
Tahapan sanksi
Tergantung dari berat ringannya pelanggaran (ditentukan dengan pertimbangan Departemen) sanksi dapat dimulai
dengan :

Teguran lisan I
: Ringan

Teguran lisan II (keras)


: Sedang

Teguran keras (tertulis)


: Berat

Skorsing

Pemutusan studi : Perlu mendapat persetujuan Senat Fakultas dan pada beberapa
hal perlu pendapat Komite Medik
Kewajiban , Pelanggaran dan Sanksi PPDS
No
1

KEWAJIBAN
Mengikuti seluruh kegiatan ilmiah:

Konferensi klinik

Visite besar

Laporan kematian

Journal reading

Referat/kasus
Konsultasi dengan supervisor

Visite besar minimal 1X

Journal reading
2X

Kasus dan referat 3X


(dicatat dan ditanda tangani di buku laporan
kemajuan studi/buku log)
Konsultasi secara tetulis pasien sulit kepada :
1. Senior Umum
2. Supervisor

PELANGGARAN

Teguran I
Dsb

Membuat laporan/catatan medik sesuai dengan


data (penunjang/hasil konsultasi/catatan follow
up) sesuai dengan aslinya/keadaan yang terjadi

Mencatat inventarisasi pasien, masuk dan


pulang yang divalidasi oleh supervisor

Menjaga keutuhan status


Mengisi status baru maksimal 24 jam
Membuat laporan harian/follow up
Membuat status pulang ( maksimal 1
minggu sesudah pasien/meninggal harus
sudah ditanda tangani supervisor)
Mengembalikan status rekam medikpaling
lambat 1 minggu setelah selesai stase
Membuat laporan triwulan pasien
dimasing-masing Divisi (maksimal 2
minggu setelah selesai stase)

Menandatangani surat kontrak belajar pada


saat penerimaan PPDS

Tidak hamil dalam 1 tahun pertama

Teguran I
Dsb

< 2X

SANKSI

< 3X
konsul terlambat
saran dari konsulen
tidak ditindak lanjuti
kelayakan konsul
Manipulasi
status/data
tidak
membuat
catatan
catatan tidak lengkap
Menghilangkan
status
Terlambat
mengisi
status
Tidak
melakukan
follow
up/tidak
lengkap
mengeevaluasi
pasien
Keterlambatan
pengisian
status
pulang
Terlambat membuat
laporan triwulan
Hamil
Praktek

Teguran I
Dsb

Teguran keras s/d DO


Teguran I
Dsb
Teguran I
Dsb
s/d
mengulang stase di divisi
tsb

Teguran lisan
Teguran tertulis

122

No

KEWAJIBAN
(ditanda tangani juga oleh suami)

Tidak praktek dalam 1 tahun pertama


Sakit / ijin kurang dari 1minggu (5 hari kerja) di
Divisi

PELANGGARAN

Sakit/ ijin lebih dari 1


minggu ( 5 hari kerja)

SANKSI

Mengulang di Divisi
tersebut

PERINGATAN AKADEMIK
Peringatan akademik diberikan apabila :

Pada akhir triwulan I nilai ruangan < 70

Pada akhir semester II IPK < 3,0

Pada setiap semester yaitu pada setiap kegiatan di divisi dengan nilai < 70

Pada semester ke 10 belum juga selesai pendidikan


PERATURAN PEMUTUSAN STUDI
Pemutusan pendidikan PPDS FK. UNPAD adalah wewenang Rektor UNPAD yang dituangkan dalam Surat
Keputusan Rektor UNPAD berdasarkan atas permintaan :
1.
Dekan FK. UNPAD sebagai kepanjangan tangan dari institusi pendidikan yang bersangkutan.
2.
Dekan FK. UNPAD atas permintaan dari peserta didik.
Tata cara pemutusan studi pendidikan PPDS
Peserta PPDS dinyatakan putus studi bila tidak dapat memenuhi persyaratan administrasi, atas keinginan sendiri,
evaluasi atas pencapaian kompetensi, pelanggaran etika dan profesionalisme, dan atau sebab lain sebagai berikut :

Kelalaian Administratif,
Bila peserta didik tidak aktif dan tidak melakukan registrasi ulang selama 2 semester berturut turut
Meninggalkan proses pembelajaran selama lebih dari 2 (dua) minggu tanpa alasan yang dapat
diterima dan tidak mengindahkan surat teguran ke-3 yang dikirim oleh Ketua Program Studi

Melakukan pelanggaran Etika dan Profesionalisme


Yaitu hal yang berhubungan dengan sikap perilaku terhadap guru/dosen, sesama peserta didik, pasien dan
pelaksana pelayanan kesehatan dan administrasi keilmuan dan institusi yang harus dideskripsikan oleh
bagian masing-masing

Pelayanan Hukum,
Pemutusan pendidikan dilaksanakan apabila telah ada keputusan hukum yang tetap dan yang bersangkutan
terbukti bersalah
Kekurangan dalam pencapaian Kompetensi,
Dalam pencapaian kompetensi dapat ditempuh selambat-lambatnya apabila 1 x masa pendidikan.
Pemutusan studi dilakukan pada jenjang pertama dari pendidikan dasar atas dasar pertimbangan kebaikan
peserta didik. Namun dalam keadaan tertentu yang sangat tidak diharapkan, pemutusan studi dapat terjadi
pada jenjang diatasnya misalnya, peserta PPDS melakukan pelanggaran berat pada jenjang senior.
Pemutusan studi dilaksanakan bila peserta didik :
- Apabila akhir semester I IP < 2,75
- Apabila IPK semester II < 3
- Apabila sesudah semester 12 belum menyelesaikan pendidikan
- Apabila mahasiswa tidak aktif selama 2 semester berturut-turut atau dalam waktu berlainan tanpa ijin
rektor (cuti akademik dengan ijin rektor hanya sekali)
- Mendapat teguran dalam masalah afektif, kognitif dan psikomotor yang diputuskan oleh Komite Medik

Kondisi Khusus
1. Bagi peserta didik yang mengalami gangguan kejiwaan, seperti psikotik atau gangguan kepribadian
yang menunjukan atau berpotensi untuk menimbulkan ketidakamanan/kerugian bagi dirinya dan
pasien/masyarakat, tidak diperkenankan untuk melanjutkan proses pembelajaran. Kondisi ini harus
berdasarkan keterangan dari Dokter Spesialis Jiwa.
2. Peserta didik diketahui sebagai pengguan NAPZA atau memiliki penyakit kejiwaan, dan lain
sejenisnya.Dengan berlakunya UU nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, status pengguna
narkotika bukan lagi diklasifikasikan sebagai kriminal, namun sebagai pasien yang wajib lapor diri dan
menjalani rehabilitasi, kecuali bila yang bersangkutan juga bertindak sebagai pengedar atau
sejenisnya. Yang bersangkutan harus menjalani rehabilitasi medik atau sosial di institusi yang ditunjuk
pemerintah. Namun untuk tingkat pemakaian ketergantungan, yang bersangkutan diminta untuk
mengundurkan diri sebagai peserta PPDS mengingat tingkat ketergantungan memiliki angka
kekambuhan yang tinggi. Kondisi ini harus berdasarkan keterangan dari Dokter Spesialis Kedokteran
Jiwa bagian Adiksi

123

Atas Keinginan Sendiri


Peserta didik berhak mengundurkan diri dari pendidikan atas dasar keinginan sendiri dengan mengajukan
permintaan tertulis kepada Pimpinan fakultas dengan tembusan kepada TKP PPDS disertai dengan
alasan pengunduran diri
9.

Program Studi Ilmu Kesehatan Mata

A. METODE PEMBELAJARAN
Proses Pelaksanaan Pendidikan
Pelaksanaan kegiatan pembelajaran PPDS-I I.K.Mata dilakukan mengikuti kalender akademik FK UNPAD selama
minimal 8 semester dan maksimal 12 semester.
Kegiatan pembelajaran berupa:
a. Magang yaitu sistem pembelajaran berupa demonstrasi, bedside teaching, analisis kasus, tatap muka
terjadwal dan tidak terjadwal, visite dan pengelolaan pasien dengan supervisi
b. Aktivitas pendidikan terstruktur meliputi bacaan kepustakaan (journal reading), sari kepustakaan
(referat)/laporan kasus, presentasi karya ilmiah didalam dan diluar institusi pendidikan (PIT/APAO/ARVO)
Tempat pendidikan:
1. RS Pendidikan Utama : RS Mata Cicendo Bandung
2. RS Dr. Hasan Sadikin Bandung
3. RS Jejaring
Metode Pembelajaran
Proses pembelajaran terbagi atas 3 tahapan yang terdiri dari:
1. Tahap Pengayaan Dasar
2. Tahap Magang
3. Tahap Mandiri
Tahap Pengayaan Dasar
Waktu
Peserta
Target pencapaian

: Tiga (3) bulan pertama di semester 1 (satu)


: seluruh peserta didik baru PPDS-I I.K. Mata
: sesuai dengan kompetensi pengayaan dasar tingkat mata (terlampir)

Kegiatan:
a. Rotasi di semua divisi dengan jadwal yang telah ditetapkan
b. Pengayaan pengetahuan dan kompetensi ketrampilan dasar pemeriksaan mata
c. Presentasi sari kepustakaan dengan tema yang telah ditentukan
Metode:
1. Mini lecture
2. Skills lab
3. Tutorial
4. Presentasi ilmiah
Penilaian tahap pengayaan:
a. Penilaian kegiatan sehari-hari
b. Penilaian presentasi ilmiah
c. Penilaian kompetensi ketrampilan dasar pemeriksaan mata
d. Penilaian diberikan dalam bentuk ujian tertulis dan observasi langsung kegiatan sehari-hari oleh dosen
pengampu menggunakan borang yang telah ditentukan
Tahap Magang
Peserta :
Peserta PPDS yang telah mendapatkan sertifikat kompetensi tahap pengayaan
Target pencapaian :
Memiliki kompetensi sesuai standar kompetensi tahap magang (terlampir)
Kegiatan :
Magang dilaksanakan di setiap subbagian, yang terdiri dari :
1. Subbagian Infeksi & Imunologi (12 minggu)
2. Subbagian Refraksi, Lensa Kontak dan Low Vision (12 minggu)
3. Subbagian Katarak dan Bedah Refraktif (24 minggu)

124

4.
5.
6.
7.
8.
9.

Subbagian Glaukoma (12 minggu)


Subbagian Vitreoretina (12 minggu)
Subbagian Rekonstruksi Okuloplastik dan Onkologi (12 minggu)
Subbagian Pediatrik Oftalmologi dan Strabismus (12 minggu)
Subbagian Neurooflamologi (12 minggu)
Subbagian Oftalmologi Komunitas (12 minggu)

Alur kegiatan tahap Magang


Tahap Magang terbagi menjadi 2 bagian, yaitu:
Tahap I, terdiri dari rotasi di divisi:
a. Infeksi Imunologi
b. Refraksi, Lensa kontak & Low vision
c. Katarak dan Bedah Refraktif 1 & 2
d. Glaukoma
e. Rekonstruksi, Okuloplasti & Onkologi
Tahap II, terdiri dari rotasi di divisi:
a. Retina
b. Neurooftalmologi
a. PO-Strabismus
b. Oftalmologi Komunitas
Pelaksanaan magang tahap I
1. Setelah peserta didik melewati tahap pengayaan akan mengikuti rotasi magang tahap I di divisi Infeksi atau
Refraksi
2. Setelah melewati divisi Infeksi atau refraksi, peserta didik dapat mengikuti rotasi di salah satu divisi yang ada
di rotasi magang tahap I.
3. Apabila tidak lulus salah satu divisi di tahap I, peserta didik diwajibkan untuk mengulang rotasi tersebut
sebelum memasuki rotasi magang tahap II.
4. Apabila pada yudisium semester ke-2 dan ke-4, nilai IPK tidak mencapai angka mutu 3.00 maka peserta didik
akan dikenakan sanksi akademik berupa pemutusan studi
5. Apabila peserta didik tidak lulus di salah satu divisi dengan alasan tidak memenuhi syarat jumlah kehadiran,
maka peserta didik diwajibkan untuk mengulang rotasi di divisi tersebut TANPA mengulang presentasi
makalah ilmiah (jurnal/referat/laporan kasus)
Pelaksanaan magang tahap II
1. Setelah melewati rotasi magang di tahap I, peserta didik akan mengikuti rotasi di tahap 2 secara paralel
2. Apabila tidak lulus di salah satu divisi rotasi magang tahap II, maka peserta didik diwajibkan untuk
mengulang kembali rotasi di divisi tersebut di akhir tahap 2
3. Apabila peserta didik tidak lulus di salah satu divisi dengan alasan tidak memenuhi syarat jumlah
kehadiran, maka peserta didik diwajibkan untuk mengulang rotasi di divisi tersebut TANPA mengulang
presentasi makalah ilmiah (jurnal/referat/laporan kasus)
4. Stase ke departemen Neurologi selama 2(dua) minggu dilakukan pada saat peserta didik sedang
mengikuti rotasi di divisi NO
5. Stase ke departemen Bedah Saraf selama 1(satu) minggu dilakukan pada saat peserta didik sedang
mengikuti rotasi di divisi ROO
Pada setiap rotasi di divisi, setiap peserta didik diwajibkan untuk melaksanakan kegiatan ilmiah terstruktur dalam
bentuk :
a. Journal reading
b. Presentasi kasus/sari kepustakaan
Salah satu kegiatan ilmiah tersebut dilaksanakan dihadapan seluruh peserta dan staf pengajar. Sedangkan satu
kegiatan lainnya dilaksanakan di divisi bersangkutan dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh program studi, kegiatan
ilmiah di divisi WAJIB dihadiri peserta didik di divisi tersebut. Sedangkan bagi peserta didik di divisi lain dapat
mengikuti acara ilmiah ini selama tidak menganggu kegiatan di divisi terkait.
Khusus untuk divisi Infeksi dan Refraksi, seluruh kegiatan ilmiah dilakukan di hadapan seluruh peserta didik dan staf
pengajar.
Apabila yang bersangkutan mengulang rotasi di divisi tertentu karena alasan akademis, maka peserta didik
DIWAJIBKAN untuk melakukan kembali presentasi ilmiah sesuai jadwal yang ditentukan.
Penilaian Tahap Magang :
1. Penilaian kegiatan harian
Mencakup attitude, absensi, etika dan profesionalisme
2. Penilaian hasil presentasi journal/sari kepustakaan/laporan kasus

125

3.

Penilaian kompetensi pengetahuan dan ketrampilan di divisi masing-masing dalam bentuk ujian akhir

Tahap Mandiri
Peserta :
Tahap mandiri dilakukan oleh peserta PPDS semester akhir yang telah mendapatkan sertifikat kompetensi tahap
magang yang didapatkan setelah lulus seluruh divisi di rotasi tahap magang dan mengikuti ujian Tulis Nasional.
Target pencapaian :
Kompeten untuk melakukan tindakan dokter mata sesuai standar kompetensi (terlampir) secara mandiri dibawah
supervisi
Kegiatan:
Tahap mandiri dilaksanakan dalam bentuk kegiatan pelayanan rawat jalan, rawat inap, kamar bedah, dan RS Jejaring
Pelaksanaan kegiatan mandiri terdiri dari kegiatan di:
1. Divisi Infeksi Imunologi
2. Divisi Refraksi, lensa kontak & low vision
3. Divisi KBR
4. Divisi Glaukoma
5. Divisi Retina
6. Divisi ROO
7. Divisi NO
8. Divisi PO & Strabismus
9. Divisi Oftalmologi Komunitas
10. Diagnostik
11. Rawat Inap
12. UGD
13. RS Jejaring
Penilaian :
1. Penilaian kegiatan harian di setiap divisi yang dilalui selama rotasi tahap mandiri
2. Penilaian pengetahuan dan kompetensi ketrampilan peserta didik tahap mandiri dilakukan oleh staf pengajar
terkait di setiap divisi yang dilalui peserta didik
3. Sebelum mengikuti ujian diagnostik nasional, peserta didik wajib mengikuti ujian komprehensif
4. Ujian komprehensif terdiri dari ujian diagnostik terstruktur, ujian kasus pendek dan ujian video operasi
5. Ujian komprehensif dilakukan secara bersamaan diikuti oleh seluruh peserta didik yang telah memajukan
usulan/proposal penelitian akhir
6. Penilaian ujian komprehensif dilakukan oleh staf pengajar dari masing-masing divisi pada waktu yang
ditentukan oleh Tim PPDS
KEGIATAN PELAYANAN PESERTA DIDIK
Kegiatan pelayanan terstruktur
Selama mengikuti kegiatan pembelajaran, peserta didik diwajibkan untuk mengikuti kegiatan pelayanan terstruktur
yang terdiri dari :
1. Visite besar
Tujuan kegiatan :
a. melatih pemikiran komprehensif para peserta didik
b. pembahasan dan evaluasi akademik kegiatan pelayanan pasen rawat inap
Peserta
:
a. perwakilan peserta didik tahap magang dari masing-masing divisi yang ditentukan berdasarkan jadwal
yang ditetapkan
Waktu
: Setiap hari Selasa jam 8.00 9.00 WIB
Metode :
a. Visite besar dipimpin oleh staf pengajar I.K. Mata yang telah ditentukan penjadwalannya
b. Two way teaching method
Penilaian
a.
b.
c.

:
Berdasarkan dinamika kelompok pada saat visite besar dan hal spesifik berdasarkan
penampilan individu
Presentasi kehadiran/absensi peserta didik
Evaluasi dilakukan oleh staf pengajar pemimpin visite besar

126

2.

Diskusi Kasus Umum (Kasus Rabu)


Tujuan
:
a. melatih kemampuan berdiskusi peserta didik
b. melatih kemampuan problem solving peserta didik
c. meningkatkan kemampuan pemecahan masalah klinis secara komprehensif peserta didik
Peserta
:
a. seluruh peserta PPDS I.K. Mata
b. staf pengajar I.K. Mata sebagai narasumber
Waktu
: Setiap hari Rabu jam 7.00 8.00 WIB
Metode :
a. dilaksanakan dalam bentuk student-centre learning
b. dipimpin oleh moderator yang dipilih dari peserta didik yang telah dijadwalkan oleh Tim PPDS
c. kasus diskusi umum diajukan oleh divisi atau hasil visite besar .
d. staf pengajar berfungsi sebagai narasumber, terutama berkaitan dengan divisi kasus yang dimajukan
e. peserta didik yang mempresentasikan kasus diwajibkan untuk menghubungi staf pengajar di divisi yang
bersangkutan untuk hadir sebagai narasumber
Penilaian
:
a. berdasarkan keaktifan peserta didik dalam berdiskusi dan dinamika kelompok
b. presentasi/kehadiran peserta didik
c. evaluasi peserta didik dilakukan oleh staf pengajar sebagai bahan masukan penilaian kegiatan seharihari

Kegiatan pelayanan tidak terstruktur


Proses pembelajaran peserta didik juga melibatkan kegiatan pelayanan dengan supervisi dalam bentuk:
1. Pelayanan poliklinik, rawat inap dan kamar bedah
a. Pelayanan di poliklinik dan rawat inap dilakukan oleh peserta didik tahap magang dan mandiri sesuai
rotasi yang telah ditentukan oleh Tim PPDS
b. Seluruh pelayanan dilakukan dibawah pengawasan staf pengajar di divisi terkait
c. Setiap peserta didik wajib untuk melaksanakan persiapan prabedah, melakukan
asistensi/melakukan tindakan bedah dengan supervisi dan mempersiapkan
penanganan pasca
bedah
d. Setiap peserta didik wajib untuk melaporkan perkembangan setiap kasus yang ditanganinya
secara berkesinambungan kepada staf pengajar terkait
2.

Pelayanan Gawat Darurat


a. Pelayanan gawat darurat dilakukan oleh peserta didik setelah jam kerja yaitu pukul 15.00 07.00
keesokan harinya
b. Pelayanan gawat darurat dilakukan oleh 2 orang peserta didik, yang disebut sebagai dokter jaga I
dan dokter jaga 2. Dokter jaga 1 adalah residen magang tahap 1 dan dokter jaga 2 adalah residen
magang tahap II. Kedua dokter jaga wajib untuk selalu berada di lingkungan RS selama jam jaga
berlangsung.
c. CR jaga adalah residen tahap mandiri yang akan bertugas selama 1 minggu, dan bertugas untuk
memberi supervisi kepada dokter jaga 1 dan 2, serta wajib untuk melihat kasus sebelum melaporkan
pasien kepada konsulen jaga.
d. Seluruh pelayanan gawat darurat dilakukan di bawah pengawasan staf pengajar yang bertugas
sebagai konsulen jaga selama 1 minggu dan bertanggung jawab atas pengelolaan pasien jaga
e. Penjadwalan dokter dan konsulen jaga dilakukan oleh Tim PPDS dan IGD RSMC
f. Laporan jaga dilakukan setiap pagi oleh dokter jaga, dengan dihadiri oleh konsulen jaga, kepala/staf
UGD, staf pengajar dan peserta didik lainnya.

3.

Menjawab konsul antar bagian


a. Pemeriksaan dilakukan oleh peserta didik tahap magang dan mandiri dengan pengawasan staf
pengajar dari divisi terkait
b. Pemeriksaan pasen dapat dilakukan di luar/di dalam RS Cicendo
c. Hasil pemeriksaan wajib dilaporkan kepada staf pengajar terkait secara berkesinambungan

4.

Rotasi di RS Hasan Sadikin


a. Rotasi di RS Hasan Sadikin meliputi kegiatan di departemen Ilmu Penyakit Saraf (2 minggu) dan
Bedah Saraf ( 1 minggu)
b. Rotasi diikuti oleh peserta didik tahap magang yang sedang mengikuti rotasi di NO dan ROO

127

c.
d.
e.
5.

Peserta didik diwajibkan untuk mengikuti seluruh kegiatan pembelajaran di departemen terkait dan
diwajibkan untuk mempresentasikan karya ilmiah sesuai dengan ketentuan di departemen terkait.
Penilaian peserta didik dilakukan oleh staf pengajar departemen terkait dengan format penilaian
yang telah ditentukan sebelumnya
Penilaian meliputi keaktifan dan kehadiran peserta didik selama mengikuti rotasi di departemen
tersebut

Rotasi di RS Jejaring
a. Rotasi di RS Jejaring adalah suatu kegiatan mandiri dibawah supervisi dokter pembimbing klinik di
RS Jejaring
b. Pada keadaan khusus dimana tidak ada dokter pembimbing klinik di RS Jejaring tersebut, maka
KPS akan bertindak sebagai pembimbing dengan mendapat surat penugasan dari RS Jejaring
tersebut
c. Rotasi diikuti oleh peserta didik tahap mandiri dan telah menyelesaikan penelitian deskriptif
d. Kegiatan pembelajaran berupa kegiatan pelayanan rawat jalan, rawat inap, kamar bedah dan UGD.
e. Dosen pendidik klinik RS Jejaring memberikan evaluasi peserta didik dalam bentuk :
1. Kemampuan berpikir komprehensif dan keputusan klinis
2. Inisiatif dan kemampuan bekerja sama
3. Etika dan perilaku profesional

KEGIATAN ILMIAH PESERTA DIDIK


1. Journal Reading
Tujuan
:
a. melatih kemampuan peserta didik untuk melakukan penelaahan terhadap perkembangan ilmu terkini
dalam publikasi ilmiah
b. memperluas wawasan tentang metodologi ilmiah dalam mengkaji dan menerapkan ilmu kesehatan mata
c. melatih kemampuan presentasi ilmiah
Metode :
a. peserta didik mengajukan pilihan jurnal yang akan dimajukan kepada pembimbing yang telah ditetapkan
b. Kriteria pemilihan jurnal disusun berdasarkan:
Aktualitas (jurnal 5 tahun terakhir)
Kesesuaian isi dengan kompetensi dokter spesialis mata umum
Relevansi dengan aplikasi praktis dokter spesialis mata umum
Menarik dan mudah dipahami
c. Lembar persetujuan pembimbing dilampirkan pada jurnal yang telah ditetapkan
d. Jurnal dan lembar persetujuan dibagikan secara elektronik kepada seluruh peserta didik dan staf
pengajar minimum 3 hari sebelum presentasi
e. Apabila staf pengajar membutuhkan bentuk cetak dari sari kepustakaan, maka peserta didik wajib
memberikan kepada staf yang bersangkutan, terutama moderator, pembimbing dan penilai.
f. Presentasi dilaksanakan sesuai jadwal yang telah ditetapkan, dihadiri minimal oleh pembimbing, moderator
dan penilai.
Penilaian
:
a. evaluasi dilakukan oleh staf pengajar selaku pembimbing, moderator dan penilai meliputi aspek :
- pemahaman isi jurnal secara umum
- pemahaman kesesuaian terhadap aplikasi praktis
- pemahaman metodologi penelitian
- teknik presentasi
2. Sari Kepustakaan/Referat
Tujuan
:
a.
Melatih kemampuan peserta didik untuk membuat sari kepustakaan
b. Melatih kemampuan menulis karya ilmiah
c. Melatih kemampuan presentasi secara baik
Metode
:
a. Peserta didik mengajukan alternatif judul sari kepustakaan kepada pembimbing yang telah ditentukan
b. Kriteria pemilihan judul sari kepustakaan disusun berdasarkan:
Aktualisasi kepustakaan (minimal 10 tahun terakhir)
Relevansi materi dengan perkembangan ilmu kesehatan mata
Relevansi dengan aplikasi praktek dokter mata spesialis mata umum
c. Penulisan sari kepustakaan disesuaikan dengan tata cara penulisan karya ilmiah Fakultas Kedokteran
UNPAD

128

d. Lembar persetujuan pembimbing dilampirkan pada halaman judul sari kepustakaan


e. Sari kepustakaan dan lembar persetujuan dibagikan kepada seluruh peserta didik dan staf pengajar
secara elektronik minimum 3 hari sebelum presentasi.
f. Apabila staf pengajar membutuhkan bentuk cetak dari sari kepustakaan, maka peserta didik wajib
memberikan kepada staf yang bersangkutan, terutama moderator, pembimbing dan penilai.
f. Presentasi dilaksanakan sesuai jadwal yang telah ditetapkan, dihadiri minimal oleh pembimbing, moderator
dan penilai.
Penilaian
:
Evaluasi dilakukan oleh staf pengajar selaku pembimbing, moderator dan penilai meliputi aspek :
- pemahaman materi sari kepustakaan
- pemahaman aplikasi sari kepustakaan
- teknik penulisan sari kepustakaan
- teknik presentasi
3. Laporan Kasus
Tujuan
:
a.
Melatih kemampuan peserta didik untuk membuat laporan kasus
b. Melatih kemampuan menulis karya ilmiah
c. Melatih kemampuan presentasi secara baik
Metode
:
a. Peserta didik mengajukan alternatif tema laporan kasus kepada pembimbing yang telah ditentukan
b. Kriteria pemilihan tema laporan kasus disusun berdasarkan:
Kasus menarik
Kasus yang jarang ditemukan
Relevansi dengan aplikasi praktek dokter mata spesialis mata umum
c. Penulisan laporan kasus disesuaikan dengan tata cara penulisan karya ilmiah Fakultas Kedokteran
UNPAD
d. Lembar persetujuan pembimbing dilampirkan pada halaman judul laporan kasus
e. Laporan kasus dan lembar persetujuan dibagikan kepada seluruh peserta didik dan staf pengajar secara
elektronik minimum 3 hari sebelum presentasi.
f. Apabila staf pengajar membutuhkan bentuk cetak dari laporan kasus, maka peserta didik wajib
memberikan kepada staf yang bersangkutan, terutama moderator, pembimbing dan penilai.
g. Presentasi dilaksanakan sesuai jadwal yang telah ditetapkan, dihadiri minimal oleh pembimbing, moderator
dan penilai.
Penilaian
:
Evaluasi dilakukan oleh staf pengajar selaku pembimbing, moderator dan penilai meliputi aspek :
- pemahaman materi sari kepustakaan
- pemahaman aplikasi sari kepustakaan
- teknik penulisan sari kepustakaan
- teknik presentasi
4. Penelitian deskriptif
Penelitian deskriptif adalah penelitian non-eksperimental yang tidak melakukan kontrol atau manipulasi
variabel. Penelitian deskriptif dapat berupa deskriptif analitik atau non-analitik.
Tujuan
:
a. melatih kemampuan peserta didik dalam melakukan penelitian sederhana
b.
memberikan gambaran awal terhadap suatu fenomena yang dapat diteliti lebih lanjut dalam
bentuk tugas akhir
c. sebagai masukan terhadap suatu prosedur/tindakan yang dilakukan di RS Pendidikan
Peserta
:
Peserta didik tahap magang
Metode :
a. Peserta didik diwajibkan untuk mengajukan 3 tema penelitian/divisi yang diminati pada awal semester 3
ke program studi
b. Program studi akan menentukan tema berdasarkan usulan peserta didik
c. Program studi akan menunjuk 2 orang pembimbing
d. Penelitian dilakukan sepenuhnya dibawah arahan pembimbing
e. Tidak diperlukan usulan penelitian secara formal
f. Penulisan penelitian deskriptif disajikan dalam bentuk format jurnal cetak dengan struktur:
i. Judul

129

g.
h.

ii. Pendahuluan
iii. Metode
iv. Hasil
v. Diskusi
Penelitian deskriptif dipresentasikan di hadapan peserta didik dan staf pengajar sebagai salah satu
syarat akademik PPDS-I
Setelah dipresentasikan secara lokal, penelitian deskriptif dipublikasikan dalam PIT Perdami/majalah
kedokteran/publikasi ilmiah lainnya

Penilaian
:
a. Evaluasi dilakukan oleh tim penilai yang ditunjuk oleh KPS, terdiri dari:
Dua orang pembimbing
Satu orang moderator
Lima orang penilai
b. Apabila salah seorang anggota tim penilai berhalangan, maka kehadirannya dapat digantikan oleh staf
yang ditunjuk oleh KPS
c. Presentasi harus dihadiri oleh sekurang-kurangnya satu orang pembimbing
5. Tugas Akhir
Tugas akhir adalah penelitian ekperimental/epidemiologi untuk menguji hipotesis. Tugas akhir PPDS
disesuaikan dengan tingkat pendidikan strata-2 tanpa mengurangi bobot aplikasi klinis.
Tujuan
:
a. melatih kemampuan peserta didik melakukan penelitian
b. melatih kemampuan aplikasi metodologi penelitian
c. melatih kemampuan presentasi peserta didik
d. merupakan salah satu syarat untuk kelulusan peserta didik
Peserta
:
Peserta pendidikan tahap mandiri
Metode
:
a. Peserta didik mengajukan 3 tema penelitian/divisi kepada program studi setelah menempuh ujian tulis
Nasional
b. Tim PPDS akan membagi peserta didik sesuai peminatan divisi secara merata
c. Penunjukkan pembimbing 1 diserahkan sesuai usulan dari divisi terkait
d. Pembimbing 2 akan disusun oleh Tim PPDS secara merata di antara seluruh staf pengajar
e. Staf pengajar yang berhak menjadi pembimbing tugas akhir telah ditentukan sesuai kriteria yang
tercantum pada pedoman staf pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Mata
f. Penelitian dilakukan dengan mengambil bentuk penulisan karya tulis S-2 sesuai buku panduan program
pascasarjana yang dikeluarkan oleh FK UNPAD
g. Setelah mendapat judul dan menyusun proposal, peserta didik diwajibkan untuk mengajukan usulan
penelitian dihadapan tim penguji yang terdiri dari:
Satu orang Ketua sidang
Satu orang Sekretaris sidang/notulen
Dua orang pembimbing
Tiga orang penguji (akademik/etik/metodologi)
h. Ketua sidang mempunyai wewenang untuk memutuskan usulan penelitian diterima, ditolak atau diulang
i. Apabila sidang usulan penelitian diulang, maka peserta didik hanya diwajibkan untuk mempresentasikan
bagian yang perlu diperbaiki atau diklarifikasi berdasarkan notulensi sidang terdahulu
j. Sidang ulang usulan penelitian dihadiri oleh tim penguji yang sama dengan sidang terdahulu
k. Apabila usulan penelitian diterima, maka penelitian dapat dilanjutkan setelah mendapat persetujuan
komite etika penelitian.
l. Apabila diperlukan perhitungan statistik tidak diwajibkan untuk mengkonsultasikan kepada ahli statistik
diluar staf pengajar ilmu Kesehatan Mata
m. Seminar hasil penelitian dilakukan dengan melibatkan tim penguji sebagai berikut:
Satu orang Ketua sidang
Satu orang Sekretaris sidang/notulen
Dua orang pembimbing
Tiga orang penilai(akademik/etik/metodologi)
n. Tim penguji seminar hasil penelitian dapat merupakan tim yang SAMA dengan tim penguji usulan
penelitian
o. Apabila seminar hasil penelitian diulang, maka peserta didik hanya diwajibkan untuk mempresentasikan
bagian yang perlu diperbaiki atau diklarifikasi berdasarkan notulensi sidang terdahulu

130

p.
q.
r.

Sidang ulang seminar hasil penelitian dihadiri oleh tim penguji yang sama dengan sidang seminar
terdahulu
Sidang terbuka hasil penelitian dihadiri oleh seluruh staf pengajar
Yudisium akhir pendidikan dokter spesialis dilakukan bersamaan dengan sidang terbuka hasil penelitian
dan dilakukan oleh kepala departemen didampingi KPS

Penilaian
:
Aspek yang dinilai pada usulan penelitian dan seminar hasil penelitian adalah:
1. Kualitas isi penelitian (kaidah Feasible, Interesting, Novel, Ethic, Relevance)
2. Penguasaan metodologi penelitian
3. Penguasaan teori pendukung
4. Teknik presentasi
B. STRUKTUR MATA KULIAH
Kurikulum PPDS-I I.K.Mata terdiri dari 94 (sembilan puluh empat) SKS yang ditempuh selama 8 (delapan) semester
sebagai berikut:
1. Tahap Pengayaan
SKS
Semester
a. Materi pengayaan dasar
6 SKS
1
2. Tahap Magang
Tahap I, terdiri:
a. Infeksi Imunologi
7 SKS
1
b. Refraksi, Lensa kontak & Low vision
7 SKS
2
c. Katarak dan Bedah Refraktif 1
7 SKS
2
d. Katarak dan Bedah Refraktif 2
6 SKS
3
a. Glaukoma
7 SKS
3
b. Rekonstruksi, Okuloplasti & Onkologi
7 SKS
4
Tahap II, terdiri:
c. Retina
7 SKS
4
d. Neurooftalmologi
7 SKS
5
a. PO-Strabismus
7 SKS
5
b. Oftalmologi Komunitas
7 SKS
6
3. Tahap Mandiri
a. Karya ilmiah
7 SKS
6
b. Bekerja mandiri 1
6 SKS
7
c.

Bekerja mandiri 2

6 SKS

C. EVALUASI HASIL BELAJAR


1. Penilaian log book
Log book adalah buku kegiatan sehari-hari peserta didik, berupa kegiatan ilmiah dan kegiatan pelayanan
yang dilakukan selama masa pendidikan.
2. Ujian akhir tahap pengayaan
Ujian meliputi ujian pengetahuan akademik dan ujian ketrampilan, yang dilakukan oleh staf pengajar yang
memberikan materi terkait
3. Ujian akhir di setiap divisi
Merupakan ujian yang dilaksanakan sebagai salah satu prasyarat kelulusan dari divisi tersebut. Ujian
dilakukan oleh staf pengajar di divisi masing-masing.
4. Ujian divisi tahap mandiri
Ujian dilakukan dalam bentuk penilaian kegiatan sehari-hari dan OCEX (Ophthalmic Clinical Examination)
yang dilakukan oleh staf pengajar di divisi terkait
5. Ujian tulis komprehensif/Ujian Tulis Nasional
Merupakan ujian tulis yang dilaksanakan oleh Kolegium Oftalmologi Indonesia dan diikuti oleh peserta didik
yang telah memasuki semester 5 keatas.
6. Ujian klinis komprehensif/Ujian Kompetensi Lokal
Merupakan ujian lokal yang dilaksanakan oleh seluruh divisi secara bersamaan, terdiri dari ujian diagnostik
terstruktur, ujian kasus pendek dan ujian video operasi.
7. Ujian Kompetensi Nasional
Merupakan ujian kompetensi bertaraf nasional yang diselenggarakan oleh Kolegium Oftalmologi Indonesia,
sebagai syarat untuk mendapatkan sertifikat kompetensi dokter spesialis mata

131

D.

PEDOMAN UJIAN
Setiap akhir rotasi pendidikan akan dilakukan yudisium untuk menilai kelulusan peserta didik di masingmasing divisi, baik peserta didik tahap pengayaan, magang dan mandiri berdasarkan ujian yang telah dilakukan.
Penilaian untuk yudisium juga akan menilai aspek tambahan seperti attitude, performa dan absensi kehadiran. Pada
yudisium akan diumumkan nilai indeks prestasi (IP) sesuai jumlah semester yang telah dijalani. Sertifikat kompetensi
akan diberikan untuk peserta didik yang telah menyelesaikan tahap pengayaan dan tahap magang.
Ujian Kompetensi Nasional dilakukan setelah usulan penelitian disetujui dan telah lulus ujian kompetensi
lokal. Kelulusan Ujian Kompetensi Nasional akan diberikan sertifikat kompetensi sebagai spesialis mata yang
diterbitkan oleh Kolegium Oftalmologi Indonesia. Setelah peserta didik menyelesaikan penulisan tugas akhir dan telah
menjalankan sidang terbuka, maka peserta didik dinyatakan lulus dari program pendidikan dokter spesialis mata.
A.

B.

TATA TERTIB
1. Peserta didik harus mematuhi seluruh peraturan yang tertera dalam buku Pedoman Umum Penyelenggaraan
PPDS-I FK UNPAD
2. Peserta didik harus mengikuti 100% acara ilmiah kecuali sedang mengikuti kegiatan di luar RS/ di dalam RS
yang dibuktikan dengan surat keterangan dari divisi
3. Acara ilmiah bersama dilaksanakan pada pukul 07.00 dan 14.00 WIB
4. Acara ilmiah siang wajib diikuti oleh seluruh peserta didik, kecuali dua (2) orang/lebih (sesuai kebutuhan
pelayanan di divisi terkait) residen tahap mandiri yang bertugas di poliklinik/OK.
5. Ketidakhadiran di acara ilmiah diwajibkan untuk membuat ringkasan acara ilmiah yang tidak dihadiri secara
tertulis tangan, dan tugas diserahkan ke sekretariat pendidikan paling lambat 3 hari setelah acara ilmiah
tersebut berlangsung
6. Bila dalam 3 hari tidak menyerahkan tugas ringkasan, maka peserta didik diwajibkan untuk membuat makalah
lengkap sesuai materi ilmiah yang tidak dihadiri. Dan bila dalam 1 minggu tidak menyerahkan makalah
lengkap maka peserta didik akan dikenakan surat peringatan.
7. Ketidakhadiran di acara ilmiah tanpa alasan yang jelas sebanyak 3 (tiga) kali dalam 3 bulan(1 rotasi) akan
mendapatkan 1 (satu) surat peringatan
8. Kehadiran di tempat pendidikan dihitung berdasarkan jam kehadiran dari absensi digital
9. Keterlambatan akan diakumulasikan dalam bentuk ketidakhadiran
10. Apabila peserta didik tidak mengikuti kegiatan pendidikan sebanyak 1 (satu) hari atau lebih TANPA alasan
yang jelas, peserta didik diwajibkan untuk mengulang rotasi di subbagian terkait
11. Apabila peserta didik tidak mengikuti kegiatan pendidikan selama lebih dari 5 hari kerja(sakit/alasan yang
dapat diterima) dalam tiga bulan (1 rotasi) maka peserta didik diwajibkan untuk mengulang rotasi di
subbagian terkait
12. Ketidakhadiran dengan alasan sakit, maka peserta didik wajib menyerahkan surat sakit dari dokter spesialis
kepada tim PPDS paling lambat 3 hari sejak sakit. Bila dalam 3 hari tim sekretariat tidak menerima surat
sakit dari yang bersangkutan, maka peserta didik dianggap tidak hadir tanpa alasan yang jelas.
13. Ketidakhadiran wajib diinformasikan ke konsulen subbagian terkait dan tim PPDS
14. Peserta didik diperbolehkan mengajukan cuti maksimum 12 hari kerja/tahun DENGAN memperhitungkan
ketidakhadiran yang telah dilakukan sebelumnya
15. Cuti tidak boleh diambil secara berturut-turut lebih dari 5 hari kerja.
16. Masa studi peserta didik dimulai sejak dimulai program studi pada semester 1 dan berakhir pada saat
terbitnya ijazah yang telah ditandatangani oleh Rektor Universitas Padjadjaran. Selama periode tersebut
peserta didik diwajibkan untuk mengikuti kegiatan pendidikan dan pelayanan sesuai ketentuan yang berlaku.
17. Peserta didik wajib untuk menyerahkan hasil penulisan tesis ke perpustakaan departemen Ilmu Kesehatan
Mata dan Tim Koordinasi Pendidikan PPDS Fakultas Kedokteran UNPAD.
18. Peserta didik wajib menyelesaikan kewajiban-kewajiban yang terkait dengan rekam medis Rumah Sakit dan
perpustakaan sebelum presentasi hasil tesis pada sidang terbuka.

JENIS PELANGGARAN DAN SANKSI


Sanksi adalah konsekuensi dari perilaku/tindakan yang tidak sesuai dengan standar yang telah digariskan.
Sanksi diputuskan berdasarkan rapat khusus program studi yang melibatkan institusi terkait dengan memperhatikan
laporan/fakta/bukti yang terjadi.
Sanksi terdiri dari:
a. Teguran lisan
Teguran yang diberikan pada peserta didik apabila peserta didik melakukan pelanggaran. Teguran lisan dapat
diberikan langsung oleh staf pengajar di subbagian yang bersangkutan dan dilaporkan ke program studi untuk
didokumentasikan dalam buku pelanggaran peserta didik.
b. Surat Peringatan
Surat peringatan diberikan untuk pelanggaran yang dilakukan oleh peserta didik. Surat peringatan dapat
diberikan oleh KPS maksimal sebanyak 2 kali terhadap seorang peserta didik selama mengikuti masa studi.
c. Skorsing

132

d.

Diberlakukan apabila peserta didik telah mendapatkan 2 kali surat peringatan dan atau melakukan
pelanggaran.
Pemberian sanksi skorsing akan dikeluarkan oleh Dekan FK UNPAD
Pemutusan studi
Diberlakukan apabila peserta didik melakukan pelanggaran atau tidak memenuhi kualifikasi akademis
atau tidak mengindahkan sanksi yang telah diberikan sebelumnya. Pemutusan studi dilakukan dengan surat
keputusan Rektor UNPAD.

Sanksi dapat dijatuhkan dengan alasan:


1. Akademik (pemutusan hubungan studi) bila peserta didik :
a. Tidak memenuhi syarat minimum IPK 3.0 pada akhir semester 2 dan 4
b. Melewati batas masa studi 12 (duabelas) semester
2. Administratif
a. Tidak memenuhi persyaratan administratif yang ditetapkan oleh PPDS-I FK UNPAD, termasuk kewajiban
pembayaran dan sumbangan pendidikan
b. Tidak memenuhi persyaratan administratif yang ditetapkan oleh RS Mata Cicendo dan RS Pendidikan
lainnya yang digunakan
c. Tidak memenuhi presentasi kehadiran yang dipersyaratkan, termasuk presentasi kehadiran acara ilmiah
3. Etika dan profesionalisme
a. Tidak memenuhi standar etika profesi kedokteran yang ditentukan oleh DKEK Perdami dan IDI
4. Prosedur Rumah Sakit
a. Tidak memenuhi SOP RS Mata Cicendo
b. Tidak memenuhi standar terapi RS Mata Cicendo
c. Melakukan tindakan yang melampaui kewenangan klinik RS Mata Cicendo
Proses Pemberian Sanksi
Pemberian sanksi diberikan melalui mekanisme sebagai berikut:
1. Teguran lisan dapat langsung diberikan sesuai dengan temuan pada saat pelanggaran dilakukan dan dicatat
dalam buku sanksi di setiap subbagian terkait.
2. Surat peringatan diberikan oleh KPS berdasarkan laporan yang diberikan secara tertulis oleh subbagian dan
atau RS Pendidikan. Sebelum memberikan surat peringatan, KPS akan melakukan rapat terbatas untuk
membahas pelanggaran peserta didik tersebut untuk melakukan klarifikasi. Kedua pertemuan tersebut
diagendakan dan dibuat berita acaranya.
3. Skorsing diberikan berdasarkan laporan tertulis dari staf pengajar/subbagian/RS Pendidikan kepada program
studi. Sebelum skorsing dijatuhkan, KPS akan melakukan rapat pleno staf dan RS Pendidikan. KPS juga
akan memanggil peserta didik yang bersangkutan untuk melakukan klarifikasi. Pertemuan tersebut
diagendakan dan dibuat berita acaranya. Hasil pertemuan tersebut diajukan kepada DEKAN FK UNPAD
untuk selanjutnya diterbitkan surat keputusan skorsing kepada peserta didik.
4. Pemutusan studi diberikan berdasarkan laporan tertulis dari staf pengajar/subbagian/RS Pendidikan kepada
program studi. Sebelum skorsing dijatuhkan, KPS akan melakukan rapat pleno staf dan RS Pendidikan. KPS
juga akan memanggil peserta didik yang bersangkutan untuk melakukan klarifikasi. Pertemuan tersebut
diagendakan dan dibuat berita acaranya. Hasil pertemuan tersebut diajukan kepada Rektor UNPAD melalui
Dekan untuk selanjutnya diterbitkan surat keputusan pemutusan studi.
5. Untuk pelanggaran akademik, program studi tidak harus mendapat laporan dari subbagian, namun dapat
berdasarkan hasil perhitungan nilai akademik.
6. Untuk pelanggaran etika akan diajukan terlebih dahulu ke Komisi Etik Senat Akademik FK UNPAD untuk
meminta pertimbangan pelanggaran etika.
10. Program Studi Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
A.

Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran dalam rangka penyelenggaraan dilakukan berdasarkan pembelajaran berdasarkan masalah
(problem-based learning), yang meliputi:
1. Ronde bangsal (bed-side teaching/BST)
2. Supervisi poliklinik dan tindakan
3. Laporan jaga
4. Laporan kasus
5. Referat/reading assignment
6. Journal reading
7. Diskusi multidisiplin
8. Publikasi ilmiah
9. Tesis (karya ilmiah akhir)

133

1.

2.

Ronde bangsal (bed-side teaching/BST)


a. Visite besar
Merupakan visite terhadap seluruh pasien rawat inap IK Kulit dan Kelamin. Visite dilakukan satu kali setiap
minggu dan diikuti oleh seluruh peserta didik, dokter penanggung jawab pasien, serta dipimpin oleh staf
konsultan dengan satu orang pendamping dari staf konsulen. Dalam setiap visite dilakukan pembahasan dan
pemecahan masalah terhadap kasus pasien rawat inap yang ada.
b.

Visite harian tahap pengayaan


Merupakan visite yang dilakukan setiap hari kerja, yang diikuti oleh peserta didik tahap pengayaan dan
dipimpin oleh dokter penanggung jawab bangsal. Dalam visite ini dilakukan peninjauan ulang keadaan pasien,
keberhasilan terapi, dan pemecahan masalah yang ada.

c.

Visite harian divisi (alergi-imunologi, morbus hansen, anak, jamur, dan dermatologi umum)
Merupakan visite yang dilakukan setiap hari kerja, yang diikuti oleh peserta didik divisi dan dipimpin oleh
dokter penanggung jawab pasien sesuai divisi masing-masing. Dalam visite ini dilakukan peninjauan ulang
keadaan pasien, keberhasilan terapi, dan pemecahan masalah yang ada.

Supervisi poliklinik dan tindakan


Supervisi poliklinik merupakan kegiatan setiap hari kerja di poliklinik yang diikuti oleh peserta didik dan
dipimpin oleh dokter penanggung jawab pasien sesuai dengan divisi masing-masing. Dalam supervisi ini dilakukan
diskusi mengenai diagnosis, diagnosis banding, pemeriksaan penunjang, melakukan penanganan atau
pengobatan, serta memberikan edukasi kepada pasien dan atau keluarganya secara lege artis dengan dasar
Kode Etik Kedokteran Indonesia dan mediko-legal. Dalam kegiatan ini juga dilakukan diskusi mengenai
permasalahan dan pemecahan masalah yang ada pada setiap pasien.
Supervisi tindakan merupakan kegiatan yang dilakukan sehubungan dengan penegakan diagnosis atau
pengobatan suatu penyakit. Dalam kegiatan ini dilakukan serangkaian prosedur sesuai standar yang telah
ditetapkan.

3.

Laporan jaga
Laporan jaga merupakan bentuk tertulis dari pertanggungjawaban peserta didik yang menjalani tugas jaga
bangsal dan jaga emergensi. Laporan jaga dibuat setiap selesai melakukan jaga bangsal dan jaga emergensi.
Laporan terdiri atas data pasien, hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, diagnosis, dan terapi. Laporan kemudian
diserahkan kepada dokter penanggung jawab pasien, diperiksa kelengkapannya, kemudian ditandatangani
apabila telah disetujui.

4.

Laporan kasus
Laporan kasus merupakan makalah tertulis mengenai penanganan kasus terhadap pasien, terdiri atas
penegakan diagnosis, perawatan, penatalaksanaan, dan pembahasan mengenai kasus yang bersangkutan.
Laporan kasus dapat pula berupa penelitian atau mini resaerch terhadap kasus-kasus menarik atau terapi-terapi
terbaru.
Peserta PPDS wajib mempresentasikan laporan kasus dalam bahasa Inggris sesuai dengan stase di setiap
divisi yang bersangkutan. Setiap residen harus mempresentasikan 12 kasus selama masa pendidikan.

5.

Referat/reading assignment
Referat/tinjauan pustaka merupakan makalah ilmiah yang terdiri atas pembahasan mengenai suatu topik ilmiah
tertentu. Topik referat dapat ditentukan oleh pembimbing atau oleh peserta didik sendiri sesuai kesepakatan.
Reading assignment merupakan terjemahan dari salah satu bab pada buku wajib Prodi IK Kulit dan Kelamin.
Pemilihan materi reading assignment dilakukan oleh pembimbing dari divisi yang bersangkutan.
Peserta PPDS membuat referat minimal 3 referat dan 12 reading assignment selama pendidikan dan harus
dipresentasikan secara oral.

6.

Journal reading
Journal reading merupakan pembahasan mengenai jurnal-jurnal terbaru. Pembahasan meliputi seluruh aspek
yang ada di dalam jurnal tersebut. Peserta PPDS wajib mempresentasikan 11 journal reading dalam bahasa
Inggris dengan kriteria edisi 5 tahun terakhir.

7.

Diskusi multidisiplin
Diskusi multidisiplin dilakukan apabila terdapat kasus yang sulit dan melibatkan beberapa disiplin ilmu lain.
Diskusi dilakukan di ruang sidang dan diikuti oleh seluruh peserta PPDS, staf IK Kulit dan Kelamin, serta staf
disiplin ilmu lain.

134

8.

Publikasi ilmiah
Peserta PPDS wajib mempublikasikan minimal 4 (empat) karya ilmiah: 2 (dua) sebagai penulis utama (author)
dan 2 (dua) sebagai penulis pendamping (co-author). Karya ilmiah dapat berupa laporan kasus atau hasil
penelitian, yang dipresentasikan minimal 1 (satu) kali di Kongres Nasional PERDOSKI.

9.

Tesis (karya ilmiah akhir)


Peserta PPDS melakukan penelusuran daftar pustaka, membuat usulan penelitian (UP), melakukan penelitian,
dan menganalisis hasil penelitian, serta melaporkan hasil penelitian secara tertulis dalam bentuk tesis/karya ilmiah
akhir, kemudian mempertahankannya secara lisan dalam seminar hasil penelitian.

B.

Struktur Mata Kuliah

1.

Struktur Mata Kuliah


No
1

Materi Pendidikan

Bobot
Semester
SKS

Tahap Pengayaan
Pengetahuan dan Keterampilan
Dermatologi dan Venereologi Dasar

10

Tahap Magang
Pengetahuan dan Keterampilan
Dermatologi dan Venereologi Khusus,
terdiri atas:
Tahap Magang 1
1.

Alergi-Imunologi

II s/d III

2.

Dermatomikologi

II s/d III

3.

Morbus Hansen

II s/d III

4.

Infeksi Menular Seksual

II s/d III

Tahap Magang II

1.

Dermatologi Anak

IV s/d V

2.

Dermatologi Kosmetik

IV s/d V

3.

Tumor dan Bedah Kulit

IV s/d V

Tahap Mandiri
1.

Dermatologi Umum

VI

2.

Usulan Penelitian

VI

3.

Pengetahuan dan Keterampilan


Dermatologi dan Venereologi Lanjut
Pengetahuan dan Keterampilan
Dermatologi dan Venereologi
Komprehensif
Tesis (Karya Ilmiah Akhir)

VII

VII

VII

4.
5.

Total SKS
2.

Daftar Mata Kuliah


No
Materi Pendidikan
1
Pengetahuan dan Keterampilan Dermatologi dan Venereologi
Dasar

80

135

No
2

3
4
3.

Materi Pendidikan
Pengetahuan dan Keterampilan Dermatologi dan Venereologi
Khusus
1. Alergi-Imunologi
2. Dermatomikologi
3. Morbus Hansen
4. Infeksi Menular Seksual
5. Dermatologi Anak
6. Dermatologi Kosmetik
7. Tumor dan Bedah Kulit
8. Infeksi Menular Seksual
Dermatologi Umum
Tesis

Deskripsi Mata Kuliah


1.

Pengetahuan Dasar
Medikolegal dan etika medis, anatomi, fisiologi, dan histologi kulit dan kelamin, dermatopatologi, morfologi
kelainan kulit dan kelamin, tatacara pemeriksaan dermatologi dan venereologi, pemeriksaan penunjang di
bidang dermatologi dan venereologi, dermatoterapi topikal dan sistemik, serta proses penyembuhan luka.
Alergi dan imunologi kulit dasar, dermatomikologi dasar, morbus hansen dasar, infeksi menular seksual
dasar, dermatologi anak dasar, dermatologi kosmetik dasar, serta tumor dan bedah kulit dasar.

2. Pengetahuan Khusus

2.

a.

Alergi imunologi: Dermatitis kontak, penyakit kulit akibat kerja, urtikaria, angioedema, erupsi obat alergi,
penyakit vesikobulosa autoimun, sindroma Stevens-Johnson, nekrolisis epidermal toksik, lupus
eritematosus, skleroderma, dermatomiositis.

b.

Dermatomikologi: Mikosis superfisialis, seperti: dermatofitosis dan nondermatofitosis. Mikosis profunda,


seperti: misetoma, aktinomikosis, kromomikosis, sporotrikosis, zigomikosis subkutan. Kandidosis kutis.

c.

Morbus Hansen (MH): MH dengan reaksi, MH dengan kecacatan, MH dengan relaps, MH pada
kehamilan, MH dengan resistensi obat, dan prevention of disability (POD).

d.

Infeksi menular seksual (IMS): IMS berbentuk duh tubuh genital dengan komplikasi, IMS berbentuk ulkus
dengan komplikasi, IMS berbentuk tonjolan dengan komplikasi, IMS lain, seperti hepatitis B, moluskum
kontagiosum, dan infeksi HIV/AIDS.

e.

Dermatologi anak: Akropustulosis pada bayi, mastositosis-histiositosis, genodermatosis, kelainan nutrisi,


metabolik, dan herediter.

f.

Dermatologi kosmetik: Akne dan skar akne, gangguan pigmentasi, jaringan parut, striae, alopesia
androgenik dan gangguan pada rambut, selulit, hiperhidrosis, kelainan kosmetik kuku, tattoo.

g.

Tumor dan bedah kulit: Tumor jinak: tumor jinak epidermis dan kista epidermis, tumor jinak adneksa,
tumor jinak melanosit dan sel nevus, tumor jinak jaringan ikat, tumor jinak jaringan lemak dan kelainan
metabolisme lemak, tumor kulit karena virus, neoplasma, dan hiperplasia vaskular. Prakanker: keratosis
aktinik, penyakit Bowen, dan leukoplakia. Tumor ganas: tumor ganas epidermis dan adneksa, tumor
ganas sel melanosit, tumor ganas vaskular, limfoma, tumor ganas jaringan ikat, dan leukemia kulit.

h.

Dermatologi umum: Penyakit bakterial dengan keterlibatan kulit, seperti pioderma berat, antraks,
frambusia, tuberkulosis kutis. Penyakit virus, seperti varisela dalam kehamilan, herpes zoster dengan
komplikasi. Penyakit zoonosis. Kelainan inflamasi persisten, kinetik sel, dan diferensiasi epidermis.
Kelainan kelenjar keringat. Dermatitis dan kelainan inflamasi lain. Kelainan kulit akibat faktor mekanik
dan fisik. Manifestasi kulit pada kelainan organ lain. Perubahan dan penyakit kulit pada kehamilan.

Keterampilan Klinis
Keterampilan pengelolaan pasien rawat jalan dan rawat inap, termasuk keterampilan menetapkan dan
penggunaan alat diagnosis, seperti uji tusuk, uji intradermal, uji tempel, uji provokasi oral. Keterampilan
tindakan terapi medis, seperti ekstraksi komedo, enukleasi milia, injeksi triamsinolon asetonid, injeksi toksin

136

botulinum, mikrodermabrasi, subsisi, epilasi dan depilasi, bedah kimia superfisial. Tindakan bedah kulit,
seperti bedah skalpel, bedah listrik, bedah beku, dan bedah laser.

C.

3.

Penerapan Pengetahuan dan Keterampilan serta Tanggung Jawab


Penanganan pasien rawat jalan jalan dan inap, emergensi, jaga konsul, dan referal di rumah sakit jejaring.

4.

Kegiatan Ilmiah
Pembuatan dan presentasi laporan kasus, referat/reading assignment, journal reading. Mengikuti pertemuan
ilmiah tingkat lokal dan nasional. Menyusun karya ilmiah dan publikasi.

5.

Ujian Nasional
Ujian Teori dan OSCE

6.

Tesis
Seminar usulan penelitian dan hasil penelitian

Evaluasi Hasil Belajar

Tujuan evaluasi hasil belajar adalah untuk menilai kemampuan akademik profesional sesuai dengan kompetensi
dan kurikulum pendidikan yang telah ditetapkan.
1.

Kemampuan yang Dinilai

Pada hakikatnya, pada suatu program studi yang bercirikan akademik profesional, kemampuan akhir yang
dievaluasi adalah pencapaian professional performance (kemampuan/penampilan profesional), yang secara artifisial
dapat dibagi menjadi 3 bidang yaitu:
1. P: pengetahuan atau knowledge (bidang kognitif)
a. Pengetahuan dan pemahaman
b. Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan klinis
2. K: keterampilan atau skill (bidang psikomotor)
a. Keterampilan klinis non-tindakan
b. Keterampilan klinis tindakan
3. S: sikap atau attitude (bidang afektif)
a. Hubungan interpersonal
b. Sikap dan cara kerja profesional
2.

Tahapan Evaluasi
1. Evaluasi Tahap Pengayaan
Evaluasi pada akhir semester pertama, untuk menentukan apakah peserta dapat melanjutkan pendidikan pada
semester berikutnya. Apabila dinilai tidak mampu meneruskan studi maka diberikan keputusan untuk
menghentikan pendidikan.
Kriteria penilaian:
1. P: Pengetahuan
a. Pengetahuan dasar dan khusus terdiri dari :
Nilai ujian tulis tengah semester
Nilai ujian tulis akhir semester
b. Nilai makalah ilmiah terdiri dari :
Laporan kasus
Referat
Journal reading
2. K: Keterampilan
Nilai pengelolaan pasien rawat jalan
Nilai pengelolaan pasien rawat inap
Nilai ujian akhir kasus
3. S: Sikap

137

Nilai batas lulus (NBL): 70


Ketentuan evaluasi tahap pengayaan
a.
b.
c.

Nilai akhir tahap pengayaan adalah nilai kumulatif rerata dari semua komponen penilaian dan dinyatakan
lulus bila nilai 70. Dengan catatan nilai ujian akhir kasus tidak boleh < 70.
Apabila nilai ujian akhir kasus < 70 diberi kesempatan mengulang 2 kali dengan jangka waktu 2 minggu,
dan nilai yang diberikan maksimal 70.
Apabila nilai makalah ilmiah < 70 maka diberi kesempatan mengulang 1 kali dengan nilai maksimal 70.

2. Evaluasi Tahap Magang


Evaluasi dilakukan di setiap divisi tahap magang. Penilaian meliputi bidang pengetahuan, keterampilan, dan
sikap. Jenis komponen dan pembobotan ditetapkan oleh masing-masing divisi.
Kriteria penilaian:
1. P: Pengetahuan
a. Pengetahuan dasar dan khusus terdiri dari :
Tugas baca
Nilai ujian tulis mingguan
Nilai ujian tulis pertengahan
Nilai ujian tulis akhir
Nilai ujian komprehensif
b. Nilai makalah ilmiah terdiri dari :
Laporan kasus
Referat/ reading assignment
Journal reading
2. K: Keterampilan
Nilai pengelolaan pasien rawat jalan
Nilai pengelolaan pasien rawat inap
Nilai ujian akhir kasus
Ujian Praktek Bedah Kulit
3. S: Sikap
Nilai batas lulus (NBL): 70
3. Evaluasi Tahap Mandiri
Evaluasi tahap mandiri terdiri atas penilaian di Divisi Umum dan penyelesaian tugas-tugas akhir, seperti
seminar usulan penelitian, ujian tulis dan OSCE nasional, ujian kasus komprehensif, serta tesis.
-

Kriteria penilaian di Divisi Umum:


1. P: Pengetahuan
a. Pengetahuan dasar dan khusus terdiri dari :
Diskusi kasus
b. Nilai makalah ilmiah terdiri dari :
Laporan kasus
Reading assignment
Journal reading
2. K: Keterampilan
Nilai pengelolaan pasien rawat jalan
Nilai pengelolaan pasien rawat inap
3. S: Sikap
Nilai batas lulus (NBL): 70

Seminar Usulan Penelitian


Ujian Tulis dan OSCE Nasional
Ujian Komprehensif
Tesis (Seminar Hasil Penelitian)

138

3. Cara Penilaian
Cara yang digunakan untuk penilaian adalah memberikan skor, kemudian dikonversi menjadi angka mutu dan
huruf mutu seperti yang terdapat pada tabel 1.
Tabel 1. Skor, angka mutu, dan huruf mutu
Skor
88-100
80-87
70-79
65-69
60-64
52-59
45-51
< 44

Angka Mutu
4,00
3,50
3,00
2,50
2,00
1,50
1,00
0,00

Huruf Mutu
A
B+
B
C+
C
D+
D
E

4. Predikat Lulus
Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) merupakan jumlah skor kisaran 0,00 4,00 seluruh mata kuliah dan tesis dibagi
jumlah SKS.
Pedoman hasil yudisium:
3,71-4,00
3,41-3,70
3,00-3,40
D.

Dengan Pujian
Sangat Memuaskan
Memuaskan

Pedoman Ujian
1. Persyaratan Mengikuti Ujian Akhir Tahap Pengayaan
Peserta PPDS dapat mengikuti ujian akhir tahap pengayaan, bila telah memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.

Menyelesaikan semua tugas akademik


Menyelesaikan tugas statistik pasien rawat inap
Menyelesaikan resume status pasien pulang rawat inap
Menyelesaikan kompilasi foto pasien rawat inap
Menyelesaikan buku kompilasi laporan kasus, referat/reading assignment, dan journal reading

2. Persyaratan Mengikuti Ujian Akhir Divisi


Peserta PPDS dapat mengikuti ujian akhir divisi, bila telah memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.

Menyelesaikan semua tugas akademik


Menyelesaikan tugas statistik pasien rawat jalan
Menyelesaikan resume status pasien pulang rawat inap
Menyelesaikan kompilasi foto pasien rawat inap

3. Persyaratan Mengikuti Ujian Tulis dan OSCE Nasional


Ujian tulis dan OSCE nasional diselenggarakan oleh Kolegium dan diikuti oleh peserta PPDS bila telah
memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a.
b.
c.

Telah lulus 7 (tujuh) divisi di tahap magang


Minimal telah 4 bulan di divisi umum
Telah melaksanakan seminar usulan penelitian

4. Persyaratan Mengikuti Ujian Tesis


Peserta PPDS dapat mengikuti ujian tesis, bila telah memenuhi ketentuan sebagai berikut:

139

a.
b.
c.
a.

Menyelesaikan kompilasi laporan kasus, referat//reading assignment, dan journal reading.


Menyelesaikan kompilasi sebagai author dan co-author
Menyerahkan sertifikat hasil ujian TOEFL dengan skor minimal 500
Menyerahkan tugas administrasi, yaitu: sertifikat ujian nasional, buku raport, buku log, kunci locker, dan foto
8R

E. Tata Tertib
Tata Tertib Kegiatan PPDS
1.

Yang dimaksud dengan kegiatan PPDS di sini adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan
akademik Prodi IK Kulit dan Kelamin.
Peserta PPDS harus hadir di rumah sakit tepat waktu sesuai dengan ketentuan jam kerja, dengan mengisi daftar
hadir masuk dan daftar hadir pulang.
Peserta PPDS harus mematuhi aturan berpakaian yang memenuhi etika, yang telah ditetapkan pada pedoman
umum kemahasiswaan FK Unpad.
Peserta PPDS harus mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum mengikuti kegiatan dan melaksanakan setiap
tugas yang diberikan.
Peserta PPDS yang tidak hadir karena alasan yang dapat dibenarkan, seperti: sakit, terkena musibah, mendapat
tugas dari Prodi, Departemen, Fakultas, atau Universitas, atau alasan lain yang dapat dipertanggungjawabkan
yang telah diajukan dan mendapat persetujuan sebelumnya, dapat meninggalkan kegiatan prodi setelah
menyampaikan keterangan tertulis dari pihak berwenang (dokter atau pimpinan fakultas).
Surat keterangan sakit dari dokter harus diserahkan ke Sekretaris Prodi paling lambat 1 (satu) hari kerja setelah
ketidakhadiran,

2.
3.
4.
5.

Kehadiran Peserta PPDS


Tingkat kehadiran peserta PPDS dalam kegiatan prodi diatur dengan ketentuan sebagai berikut:
1.
2.

Pada setiap divisi, peserta PPDS dapat tidak hadir paling banyak selama 3 (tiga) hari. Apabila ketidakhadiran lebih
dari 3 (tiga) hari, maka peserta PPDS akan dikenakan perpanjangan stase di divisi yang bersangkutan, sesuai
dengan peraturan yang ada.
Peserta PPDS yang tidak hadir karena alasan seperti sakit atau terkena musibah, maka ketidakhadirannya tetap
dihitung, kecuali apabila mendapat tugas dari Prodi, Departemen, Fakultas, atau Universitas.

Cuti
1. Cuti Akademik
-

Cuti akademik diajukan ke Rektor Unpad melalui TKP PPDS FK Unpad 1 (satu) bulan sebelumnya.
Cuti akademik tidak diperkenankan pada 2 (dua) semester pertama dan 2 (dua) semester terakhir.
Lama cuti akademik hanya 1x6 bulan (1 semester)
Dibebaskan dari pembayaran her-registrasi tetapi harus terdaftar sebagai mahasiswa Unpad berdasarkan SK
Rektor Unpad.

2. Cuti Hamil
-

Cuti hamil tidak dikaitkan dengan her-registrasi dan disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah bahwa PPDS
PNS selama 3 bulan akan dianggap ijin.
Cuti hamil bagi PPDS non-PNS maksimal 3 bulan.

F. Jenis Pelanggaran dan Sanksi


Jenis Pelanggaran dan Sanksi Pendidkan:
1.
2.
3.
4.
5.

Pelanggaran ringan diberikan teguran lisan dan atau tertulis.


Pelanggaran sedang, selain teguran tertulis, disertai dengan penambahan jaga ruangan atau jaga emergensi
sesuai dengan hasil rapat staf.
Pelanggaran berat dilaporkan ke Pimpinan Fakultas
Pimpinan Fakultas menyelenggarakan Rapat Senat Fakultas untuk membahas pemberian skorsing atau
pemutusan studi.
Surat keputusan skorsing atau pemutusan studi diterbitkan oleh Rektor Universitas Padjadjaran atas usulan
pimpinan Fakultas.

140

Pengertian mengenai batasan tentang pelanggaran ringan, sedang, dan berat diserahkan kepada Ketua Program
Studi melalui penelaahan bersama dengan jajaran Staf Pendidik, termasuk Kepala Departemen.
Putus Studi
Peserta PPDS dinyatakan putus studi bila:
1.

Kelalaian administrasi
- Tidak melaksanakan registrasi selama 2 (dua) semester.
- Meninggalkan proses pembelajaran selama lebih dari 2 (dua) minggu tanpa alasan yang dapat diterima dan
tidak mengindahkan surat teguran ke-3 yang dikirimkan oleh KPS.

2.

Permintaan sendiri
Peserta PPDS mengajukan permintaan secara tertulis untuk mengundurkan diri kepada Dekan FKUP dengan
tembusan kepada Kepala Departemen dan KPS.

3.

Atas dasar evaluasi pencapaian kompetensi


- Hasil evaluasi menunjukkan tidak mampu lagi menyelesaikan studi dalam pencapaian kompetensi yang
dipersyaratkan.

4.

Alasan kondisi atau kesehatan yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan studi.
Alasan ini harus diperkuat dengan surat kesehatan dari RS Dr. Hasan Sadikin.

5.

Pelanggaran etika dan profesionalisme berat yang dapat menyebabkan penghentian sementara (skorsing) atau
selamanya (drop out) berdasarkan keputusan Rapat Senat FK Unpad.

6.

Pelanggaran hukum
Bila peserta PPDS diduga melanggar hukum dan sedang dalam proses penegakkan hukum, peserta didik
dibebaskan dari tugas mengikuti pembelajaran.
Bila kemudian hari dinyatakan tidak bersalah, yang bersangkutan diperkenankan untuk mengikuti kembali
proses pembelajaran, sedangkan bila dinyatakan bersalah, Rektor akan mengeluarkan sanksi berupa
skorsing sampai pemutusan studi.

11. Program Studi Ilmu Penyakit Saraf


a. Struktur Mata Kuliah
No

Materi Pendidikan

Pengetahuan Teori Dasar

Pengetahuan Teori Klinik Umum

Bobot
SKS

Semester

I II

2,8

I s/d IV

6,8

I s/d VIII

Pengetahuan Teori Klinik Khusus


- Penyakit Serebrovaskular
- Neurotraumatologi
- Neurogeriatri
3

- Infeksi SSP
- Saraf Tepi dan Neurofisiologi Klinik
- Epilepsi
- Fungsi Luhur
- Neuroimaging
- Nyeri Kepala

141

- Neuroepidemiologi
- Vertigo
- Neurooftalmologi
- Neuropediatri
- Nyeri
- Gangguan Gerak (Movement Disorder)
- Neurotoksikologi
- Neuroimunologi
- Neuroemergensi/Intensive Care
4

Penerapan Teknologi Ilmu Penyakit Saraf

20,8

I s/d VIII

Pengembangan Ilmu Keahlian Penyakit


Saraf

37,6

I s/d VIII

Tesis

VIII

b. Daftar Mata Kuliah


No

Materi Pendidikan

Pengetahuan Teori Dasar

Pengetahuan Teori Klinik Umum


Pengetahuan Teori Klinik Khusus
- Penyakit Serebrovaskular
- Neurotraumatologi
- Neurogeriatri
- Infeksi SSP
- Saraf Tepi dan Neurofisiologi Klinik
- Epilepsi
- Fungsi Luhur
- Neuroimaging

- Nyeri Kepala
- Neuroepidemiologi
- Vertigo
- Neurooftalmologi
- Neuropediatri
- Nyeri
- Gangguan Gerak (Movement Disorder)
- Neurotoksikologi
- Neuroimunologi
- Neuroemergensi/Intensive Care

Penerapan Teknologi Ilmu Penyakit Saraf

Pengembangan Ilmu Keahlian Penyakit Saraf

Tesis

142

c.

Deskripsi Mata Kuliah


1.

Pengetahuan Teori Dasar


Anatomi susunan saraf, Neurofisiologi, Neuropatologi, Neurofarmakologi.

2.

Pengetahuan Teori Klinik Umum


Diagnostik fisik penyakit saraf, Diagnostik laboratorium dalam bidang penyakit saraf, Patofisiologi dalam
bidang penyakit saraf, Dasar-dasar penyakit nonneurologik yang memberi komplikasi neurologik.

3.

Pengetahuan Teori Klinik


Masalah yang sering terjadi, Masalah gawat yang sering terjadi, Masalah gawat yang jarang terjadi,
Masalah lain.

4.

Penerapan Teknologi Ilmu Penyakit Saraf


Diagnostik menggunakan alat diagnostik, Tindakan-tindakan perawatan medik.

5.

Pengembangan Kemampuan Tanggung Jawab Dokter Penyakit Saraf


Dokter jaga, Melaksanakan pendidikan mahasiswa dan pasca-sarjana, Chief Resident, Tugas khusus
lain.

6.

Pengembangan Ilmu Keahlian Penyakit Saraf


Mengikuti penyajian, Melakukan penyajian, Karya tulis, Referat, Jurnal, Presentasi kasus, Mengikuti dan
menyajikan hasil penelitian ilmiah di tingkat Nasional dan Regional. Pengembangan Kemampuan Belajar
Mengajar, Membimbing mahasiswa dan paramedik, Membantu membimbing peserta program studi yang
lebih muda.

7.

Tesis

12. Program Studi Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Bedah Kepala dan Leher
A. METODE PEMBELAJARAN
Presentasi Acara Ilmiah
Peserta didik melakukan presentasi acara ilmiah selama 30 menit dan dilanjutkan dengan diskusi, dipandu dan
dibimbing oleh konsulen sub bagian. Acara ilmiah dapat berupa presentasi referat, literature reading, journal
reading, lain-lain. Selain itu peserta didik wajib presentasi ilmiah di forum nasional, minimal 1 kali.
Aktifitas pendidikan terstruktur :
1. Referat setiap sub bagian
2. Literature reading
3. Journal reading
4. Presentasi Kasus Ruangan
5. Joint Conference
6. Presentasi ilmiah di : PIT (Pertemuan Ilmiah Tahunan) Perhati-KL atau KONAS (Kongres Nasional) PerhatiKL, atau PITO (Pertemuan Ilmiah Tahunan Otologi) dan PIT UNPAD, atau pertemuan ilmiah lainnya yang
ditetapkan bagian.
Kegiatan Ilmiah/Lokakarya atau Pelatihan yang wajib diikuti peserta PPDS Program Studi Ilmu Kesehatan
THT-KL adalah :
Kegiatan Ilmiah Terencana yang Wajib Diikuti oleh Peserta PPDS
1. Pertemuan Ilmiah Tahunan yang bersifat nasional, yaitu :
- PIT PERHATI KL (Pertemuan Ilmiah Tahunan Perhimpunan Ahli THT-KL) atau
- KONAS PERHATI-KL (Kongres Nasional Perhati-KL) atau
- PITO PERHATI-KL (Perhimpunan Ilmiah Tahunan Otologi Perhati-KL)
Pada Pertemuan Ilmiah ini, peserta PPDS wajib : presentasi ilmiah/poster, mengikuti Forum PPDS.
2. Pertemuan Ilmiah Tahunan Regional seperti :
PIT FK UNPAD (Pertemuan Ilmiah Tahunan) FK UNPAD atau Pertemuan Ilmiah regional lainnya (bila ada)
Kegiatan Pelatihan/Workshop Basic Skill yang Wajib Diikuti oleh Peserta PPDS
1. Pelatihan Diseksi Tulang Temporal
2. Pelatihan Dasar Bedah Sinus Endoskopik (Basic FESS)
3. Pelatihan Manajemen Rinitis Alergi

143

4.
5.
6.
7.

Pelatihan Dasar Bedah Kepala - Leher


Pelatihan Dasar Diagnotik Pendengaran
Pelatihan Dasar Maksilofasial dan Plastik Rekonstruksi
Pelatihan Dasar Endoskopi di bidang THT-KL

Perkuliahan
Peserta didik mengikuti perkuliahan pada acara ilmiah, baik yang terencana (misalnya di acara Pertemuan Ilmiah
Tahunan, acara ilmiah harian, Forum PPDS, dll ), maupun yang tidak terencana (insidentil).
Seminar/Workshop
Peserta didik ikut serta dalam acara seminar/workshop yang sudah terencana ataupun insidentil; baik sebagai
peserta, panitia atau pembicara.
Bedside Teaching
Peserta didik melaksanakan bedside teaching di : poliklinik umum THT-KL, poliklinik-poliklinik sub bagian, ruang
perawatan THT-KL dan ruang operasi
Kerja Lapangan
Peserta didik melaksanakan kerja lapangan di : poliklinik umum dan sub bagian, ruang perawatan THT-KL dan
ruang operasi
E-learning
Pseserta PPDS-1 mempergunakan sumber online terutama untuk mencari journal, literature, bahan bacaan
terbaru
Ikut serta mendidik peserta Program Studi Profesi Dokter Fakultas Kedokteran
Penelitian Akhir (tesis)
Merupakan program wajib dengan topik pilihan dan terarah, sesuai minat peserta didik, yang dilakukan secara
perorangan pada akhir program pendidikan. Usulan Penelitian dipresentasikan semester VI dan Ujian Tesis
dilaksanankan pada semester VIII.
Pedoman Penulisan Usulan Penelitian dan Tesis mengikuti Pedoman yang dikeluarkan oleh Universitas
Padjadjaran, yang terkini dan terbaru.
Tugas
Peserta didik PPDS diwajibkan untuk mengerjakan tugas, seperti tugas membaca buku teks atau jurnal ilmiah,
menyusun laporan kegiatan, tugas jaga malam serta tugas pelayanan kesehatan, sebagai bagian dari pendidikan
dan pengabdian masyarakat dan lain-lain (seperti pendamping ujian peserta didik P3D,dan lain-lain)
MATERI PEMBELAJARAN
MATERI PENDIDIKAN
Materi pendidikan yang diberikan adalah :
1. Materi Keahlian Umum (MKU)
2. Materi Keahlian Khusus (MKK)
3. Materi Penerapan Akademik (MPA)
4. Materi Penerapan Keprofesian (MPK)
MATERI KEAHLIAN UMUM (MKU)
Materi Keahlian Umum adalah materi pendidikan yang memberikan dasar pengetahuan keahlian dalam bidang
Ilmu Kesehatan THT-KL agar peserta program mampu memecahkan masalah Ilmu Kesehatan THT-KL secara
ilmiah.
Materi Keahlian Umum terdiri dari :
1. Pelatihan Bedah Dasar
2. Pelatihan Bedah Saraf
3. Pelatihan Anestesi Dan Reanimasi
4. Pelatihan Radiologi
5. Pelatihan Ilmu Kesehatan Mata
6. Pelatihan Ilmu Kedokteran THT-KL Dasar
MATERI KEAHLIAN KHUSUS (MKK)

144

Materi Keahlian Khusus adalah materi pendidikan yang memberikan pengetahuan keahlian dalam bidang
Ilmu Kesehatan THT-KL sehingga lulusan spesialis THT-KL mempunyai kompetensi yang tinggi dan ahli dalam
bidangnya.
Materi Keahlian Khusus terdiri dari materi pendidikan dari beberapa Sub-bagian dalam bidang Ilmu
Kesehatan THT-KL, yaitu : Laring-Faring, Rinologi-Alergi, Otologi, Audiologi, Bronkoesofagologi, Maksilofasial dan
Plastik Rekonstruksi serta Onkologi-Bedah Kepala Leher.
MATERI PENERAPAN AKADEMIK (MKA)
Materi Penerapan Akademik adalah kegiatan ilmiah yang materinya secara langsung berhubungan dengan
Ilmu Kesehatan THT-KL. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pengetahuan, memahami Metodologi Penelitian
dan mampu melaksanankan serta menyusun suatu Publikasi Ilmiah.
Materi Penerapan Akademik terdiri dari :
Usulan Penelitian/Proposal Penelitian
Tesis
Jurnal Reading
Presentasi Kasus
Laporan Jaga
Referat
Presentasi ilmiah dik Kongres/seminar
Lain-lain
MATERI PENERAPAN KEPROFESIAN (MPK)
Materi Penerapan Keprofesian adalah pelatihan keprofesian dengan menerapkan Ilmu Kesehatan THT-KL yang
didapat dari berbagai kegiatan keprofesian secara berkesinambungan.
Pelatihan dilakukan di Rumah Sakit Pendidikan dr. Hasan Sadikin Bandung atau di rumah sakit jejaring di wilayah
Jawa Barat, sehingga diperoleh bermacam-macam kasus dengan jumlah yang cukup untuk mencapai
ketrampilan/kompetensi keprofesian yang baik.
Aktifitas keahlian ini meliputi Pelatihan pasien Gawat Darurat, pelatihan pasien rawat jalan,pelatihan Pasien Rawat
Inap, Pelatihan pasien di Kamar Tindakan/Kamar Operasi, Pelatihan pasien di sub bagian dan Pelatihan pasien di
rumah sakit jejaring. Dengan pelatihan ini diharapkan peserta program dapat memperoleh ketrampilan keprofesian
yang baik dan menguasai bidang kelimuan yang baik.
Pendidikan Spesialis THT-KL dilaksanakan selama 8 semester dengan rincian rotasi sebagai berikut :
Jenjang I
Bedah Dasar
Stase Ilmu Kesehatan Mata
Stase Anestesi
Stase Radiologi
Prakualif
Laring faring II + Head and Neck
Rhino-alergi II
+ maksilofasial
Otologi II

: 9 bulan
: 1 bulan
: 1 bulan
: 2 minggu (1/2 bulan)
: 1,5 bulan
: 1 bulan
: 1 bulan
: 1 bulan

Jenjang II
Stase Bedah Saraf
Laring Faring
Rhino-Alergi
Audio Vestibular
Bronkoesofagologi
Otologi
Head and Neck
Maksilofasial

: 2 bulan
: 6 bulan
: 6 bulan
: 3 bulan
: 3 bulan
: 6 bulan
: 3 bulan
: 3 bulan

Pendidikan diberikan berdasarkan modul sesuai dengan ketetapan dari Kolegium Telinga Hidung Tenggorok dan
bedah Kepala dan Leher.
Rincian dari masing-masing rotasi adalah sebagai berikut :
Bedah Dasar
Basic Medicine
Ilmu Bedah Dasar
Mata Kuliah Dasar Umum (Anatomi, Physiologi, Patologi Anatomi)

145

Instructional Course ( Nutrition therapy, .......)


Bedah Onkologi
Biopsi
Flap sederhana
Kemoterapi
Wide eksisi pada keganasan kulit
Bedah Kepala dan Leher
Eksisi tumor jaringan lunak kepala leher
Lobektomi subtotal/total
Tiroidektomi subtotal
Tiroidektomi
Parotidektomi
Bedah Plastik
Tandur kulit
Labioplasty
Palatoplasty
Bedah Thoraks dan Cardio Vaskular
Vena seksi
Kanulasi arteri perifer
Perawatan trauma thorax konservatif
Jaga malam di Bagian Bedah

Bedah Saraf
Peserta PPDS mempelajari dan mengikuti kegiatan operasi kasus-kasus Bedah Saraf yang berhubungan
dengan THT-KL. Peserta PPDS juga menjalani jaga malam di Bagian Bedah Saraf.
Ilmu Kesehatan Mata
Peserta PPDS mempelajari dan mengikuti kegiatan operasi kasus-kasus Mata yang berhubungan dengan
THT-KL.
Pra Kualifikasi
Observasi dan/ asisten I/II di Poliklinik
Observasi dan/ asisten I/II di Ruangan
Observasi dan/ asisten I/II di Kamar Operasi
Jaga Malam di Departemen Ilmu Kesehatan THT-KL
Stase di Bagian Anestesi
Stase di Bagian Radiologi
Laring Faring
Modul Laringitis
Modul Sumbatan Jalan Nafas Atas
Modul Suara Parau
Modul Disfoni
Modul Faringitis
Modul Tonsilitis
Modul Trauma Laring
Modul Abses Leher Dalam
Jaga malam
Rhinologi- Alergi
Modul Benda Asing
Modul Epistaxis
Modul Polip Hidung
Modul Sinusitis Paranasal
Modul Rinitis non Alergi
Modul Rinitis Alergi
Modul Penyakit akibat reaksi hipersensitifitas tipe I
Audio Vestibular
Modul Gangguan pendengaran
Modul Gangguan Keseimbangan

146

Modul Tuli Kongenital


Modul Gangguan pendengaran Pada Anak Sekolah
Modul Gangguan Pendengaran pada Pekerja
Modul Pemeriksaan BERA
Modul Alat Bantu Dengar

Bronko-Esofagologi
Modul Benda Asing Pada Tracheo bronchial
Modul Stenosis
Modul Fistula Tracheo-Bronko-Esofagus
Modul Sialodenitis
Modul Sialolith
Modul Esofagitis Korosif
Modul Trauma Esofagus
Modul Benda Asing esofagus
Modul Gangguan Motorik, Spasme, Achalasia, Refluk
Modul Varises Esofagus
Otologi
Modul Trauma
Modul Benda Asing
Modul Radang Telinga Luar
Modul Radang Telinga Tengah
Modul Radang Telinga Dalam
Modul Kelainan Kongenital
Modul Neoplasma Telinga
Modul Gangguan Nervus Fasialis

B. STRUKTUR MATA KULIAH


MATERI KEAHLIAN KHUSUS (MKU)
MATERI SUB BAGIAN LARING-FARING
Modul Laringitis
Modul Sumbatan Jalan Nafas Atas
Modul Suara Parau
Modul Disfoni
Modul Faringitis
Modul Tonsilitis
Modul Trauma Laring
Modul Abses Leher Dalam
Stomatitis
Infeksi Odontogenik
Mendengkur dan Henti Nafas Saat Tidur
Pencitraan Jalan Nafas pada Anak-anak
Kelainan Kongenital Traktus Aerodigestivus
Papiloma Laring
Modul Sialodenitis
Modul Sialolith
MATERI SUB BAGIAN RINOLOGI ALERGI
Modul Benda Asing
Modul Epistaksis
Modul Polip Hidung
Modul Sinusitis Paranasal
Modul Rinitis non Alergi
Modul Rinitis Alergi
Modul Imunologi Alergi
Penyakit Granulomatosis & Autoimun pada Hidung dan Sinus Paranasal
Fungsi dan Disfungsi Indra Penciuman

147

Rinitis Alergi pada Anak


Rinitis Alergi pada Lansia
Rinitis Alergi pada Kehamilan
MATERI SUB BAGIAN AUDIO VESTIBULAR
Modul Gangguan pendengaran
Modul Gangguan Keseimbangan
Modul Tuli Kongenital
Modul Gangguan pendengaran Pada Anak Sekolah
Modul Gangguan Pendengaran pada Pekerja
Modul Pemeriksaan BERA
Modul Alat Bantu Dengar
Obat-obatan Ototoksik
Tinnitus
Penuaan pada Sistem Auditori dan Vestibuler
MATERI SUB BAGIAN BRONKO-ESOFAGOLOGI
Modul Benda Asing Pada Tracheo bronchial
Modul Stenosis
Modul Fistula Tracheo-Bronko-Esofagus
Modul Esofagitis Korosif
Modul Trauma Esofagus
Modul Benda Asing esofagus
Modul Gangguan Motorik, Spasme, Achalasia, Refluk
Modul Varises Esofagus
Indra Pengecap
Evaluasi Disfagia
Manajemen Disfagia
Pemeriksaan Radiologik Traktus Aerodigestif Bagian Atas
Evaluasi Endoskopik Traktus Aerodigestif Bagian Atas
Kelainan Esofagus
MATERI SUB BAGIAN OTOLOGI
Modul Trauma Telinga
Modul Benda Asing, Serumen dan Keratosis Obturans
Modul Radang Telinga Luar
Modul Radang Telinga Tengah
Modul Radang Telinga Dalam
Modul Neoplasma Telinga
Modul Gangguan Nervus Fasialis
Perikhonditis/Othematom
Komplikasi Intratemporal dan Intrakranial Otitis Media
Otitis Media Efusi
Kolesteatoma
Pencitraan Tulang Temporal
Neurophysiologc Intra Operative Monitoring
Otologic Manifestation of Systemic Disease
Rekonstruksi Membran Timpani dan Tulang-tulang Pendengaran
Otosklerosis
Cochlear Implant & Other Implantable Auditory Prosthesis
Surgical Management of Vestibular Disorders
MATERI SUB BAGIAN BEDAH KEPALA DAN LEHER
Modul Neoplasma Hidung dan Sinus Paranasal
Modul Tumor Tonsil
Modul Tumor Faring ( Angiofibfom nasofaring, Karsinoma)
Modul Tumor Lidah
Modul Tumor Tracheo Bronchial
Modul Tumor Kelenjar Ludah
Modul Tumor Leher
Modul Tumor Esofagus
Modul Tumor Laring

148

Terapi gen
Biologi dan Imunologi Tumor Kepala dan Leher
Prinsip-prinsip Kemoterapi Tumor Kepala dan Leher
Prinsip-prinsip Radiasi Onkologi
Cutaneous Malignancy
Melanoma Maligna
Tumor Orbita
Neoplasma Rongga Mulut
Kista odontogenik, tumor dan Lesi-lesi di Rahang
Diseksi Leher
Karsinoma Sel Skuamosa pada Traktus Aerodigestif Atas
Limfoma pada Kepala dan Leher
Pembedahan Basis Cranii

MATERI SUB BAGIAN MAKSILOFASIAL REKONSTRUKSI DAN BEDAH PLASTIK


Modul Trauma dan Fraktur Hidung
Modul Kelainan Septum
Modul Trauma Wajah dan Maksilofasial
Modul Labioschizis
Modul Palatoschizis
Modul Kelainan Kongenital Telinga
Rhinoplasti
Blepharoplasti
Modul Rhytidectomy
Grafts and Implants in Facial, Head and Neck Surgery
Local Skin Flaps : Anatomy, Physiology and General Types
Microvascular Free Flaps in Head and Neck Reconstruction
Surgical Reconstruction After Mohs Surgery and Tissue Expansion
Scar Camouflage
Surgery for Exopthalmos
Facial Reanimation
Congenital Auricular Malformation
Chin and Malar Augmentation
Chemical Peeling
Laser Skin Resurfacing
Management of Benign Facial Lessions
Management of Alopecia
Cosmetic use of Botox and Injectable Fillers
Rejuvenation of The Midface

C. EVALUASI HASIL BELAJAR


Sistem monitoring dan evaluasi kurikulum untuk menjamin terlaksananya program PPDS didasarkan atas
pedoman : standar profesi THT-KL, standar kompetensi THT-KL yang dikeluarkan Kolegium THT-KL tahun 2008
serta tercantum dalam buku Panduan Penyelenggaraan PPDS THT-KL FK UNPAD.
Di dalam program pendidikan dokter spesialis, selain untuk acuan materi ajar, standar kompetensi
digunakan sebagai acuan untuk menentukan kelulusan peserta didik. Standar kompetensi merupakan proses dan
hasil kegiatan yang ditunjukkan oleh peserta didik sebagai penerapan pengetahuan dan keterampilan yang telah
dipelajarinya. Standar kompetensi merupakan standar kemampuan minimal yang harus dipunyai oleh seorang
dokter spesialis.
Berdasarkan Buku Standar Kompetensi Dokter (Konsil Kedokteran Indonesia, 2006) terdapat 7 area
kompetensi, yaitu komunikasi efektif, keterampilan klinis, landasan ilmiah kedokteran, pengelolaan masalah
kesehatan, pengelolaan informasi, mawas diri dan pengembangan diri, etika, moral, medikolegal, profesionalisme
dan keselamatan pasien. Setiap area kompetensi ditetapkan definisinya, dan disebut sebagai kompetensi inti.
Setiap area kompetensi dijabarkan menjadi beberapa komponen kompetensi, yang dirinci lebih lanjut menjadi
kemampuan.
Sistem monitoring dan evaluasi dilaksanakan per sub bagian sesuai dengan lamanya jadwal rotasi di masingmasing sub bagian. Sebagai bentuk pelaksanaan kegiatan untuk mencapai kompetensi dicatat dan ditulis dalam
buku log book, yang akan ditandatangani oleh supervisor/konsulen.

149

Predikat kelulusan :
NILAI
ANGKA
MUTU

HURUF
MUTU

90 100

85 89

A-

3.75

80 84

B+

3.50

75 - 79

70 74

B-

2.75

65 69

C+

2.50

60 64

45 59

< 45

INTEPRETASI
Sangat Baik
Excellent
Hampir Sangat Baik
Slightly Excellent
Lebih dari Baik
Very Good
Baik
Good
Hampir Baik
Slightly Good
Lebih dari Cukup
More than Sufficient
Cukup
Sufficient
Kurang
Poor
Gagal
Fail

Batas Waktu Studi


Batas Waktu Studi Program Magister, Program Doktor, dan Program Spesialis-I
Program Spesialis-I harus dapat diselesaikan paling lama 10 semester I terhitung sejak terdaftar sebagai
mahasiwa pada semester I pada Program Spesialis-I (untuk beberapa Program Spesialis-I ditentukan tersendiri)
D. PEDOMAN UJIAN
Sistem Evaluasi untuk mencapai kompetensi
Tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui apakah peserta program telah mencapai kemampuan akademik serta
kemampuan klinis sesuai kompetensi yang diharapkan. Tahap evaluasi dilakukan secara berkala dan evaluasi
akhir. Evaluasi berkala dilakukan pada setiap tahap pendidikan secara berkesinambungan.
Dengan memperhatikan tingkat kompetensi dari area kompetensi yang harus dicapai sesuai dengan tahap
pendidikan peserta PPDS, penilaian di Sub Bagian berupa :
Evaluasi Berkala
- Kognitif :
Bentuk :
Penilaian presentasi acara ilmiah meliputi Journal Reading, Literature reading, referat.
Penilaian presentasi kasus : kasus ruangan, kasus kematian, Joint case, dll
Penilaian Pre test dan Post Test
Ujian Tahunan (bertahap dan berjenjang)
-

Psikomotor :
Bentuk :
Penilaian ketrampilan klinis
Penilaian kemampuan tatalaksana pasien ruangan
Penilaian tatalaksana pasien di poli
Ujian OSCE

Afektif

Evaluasi Tahap Akhir


berupa:
Ujian Usulan Penelitian, dilakukan pada semester V
Ujian Tesis PPDS, dilakukan pada semester VIII setelah memenuhi persyaratan :
Menyerahkan data-data penelitian dan jurnal/referensi yang digunakan dalam penelitian ke pembimbing.
Ujian Nasional, dengan persyaratan (dari kolegium sub komite Ujian Nasional) sebagai berikut :
Persyaratan Calon Peserta Ujian Nasional
1.
Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis I THT-KL yang terdaftar di Sentra Pendidikan THT-KL

150

2.
3.
-

Sudah menyelesaikan seluruh pendidikan di sub-bagian atau seksi Sentra Pendidikan THT-KL. (dibuktikan
dengan surat keterangan telah selesai mengikuti seluruh siklus oleh KPS atau Ketua Bagian), Diizinkan
belum membacakan tesis terakhir.
Melengkapi persyaratan administrasi Ujian Nasional :
Mengisi formulir Ujian Nasional (Tulis & OSCE) yang ditandatangani oleh KPS/ Ketua Bagian Sentra
Pendidikan bersangkutan
Membayar biaya Ujian Nasional (Tulis & OSCE)
Melunasi iuran sebagai anggota muda PERHATI-KL ke Kolegium Ilmu Kesehatan THT-KL Indonesia
terhitung sejak mulai pendidikan sampai bulan pelaksanaan dimana Ujian Nasional diselenggarakan
(melampirkan bukti pembayaran dan Surat Keterangan dari Ketua Cabang PERHATI setempat & KPS)
Presentasi verbal di Forum Nasional minimal 1 (satu) kali
Selesai 8 (delapan) tugas kegiatan ilmiah sub bagian
Surat pernyataan telah mengikuti forum PPDS yang diselenggarakan oleh Kolegium Ilmu Kesehatan THTKL Indonesia minimal 6 KODI (melampirkan sertifikat)
Telah mengajukan seminar proposal, dibuktikan dengan surat keterangan dari KPS

Kelulusan terdiri dari kelulusan setiap subbagian, kelulusan ujian nasional dan kelulusan tesis.
Peserta PPDS-1 dinyatakan lulus dari suatu subbagian bila yang bersangkutan minimal memperoleh nilai B (baik)
dari setiap aspek pencapaian kompetensi yang dicapai.
Penilaian peserta PPDS-1 berdasarkan atas :
- Penguasaan keilmuan spesialistik atau yang berhubungan, melalui ujian pilihan berganda dan modifikasinya,
esai, dan lisan.
- Analisis kasus
- Audit morbiditas dan mortalitas
- Presentasi pada saat visite ruangan
- Kegiatan sehari-hari dalam mengelola pasien
- Presentasi acara ilmiah : journal reading, referat, kasus ruangan, literature reading
- Penilaian buku log/porto folio
- Pengamatan langsung dalam melaksanakan prosedur medik atau tindakan operatif
- Ujian Sub bagian
E.

TATA TERTIB
A.

Umum
1. Mahasiswa harus senantiasa menjaga nama baik Departemen Ilmu Kesehatan THT dengan
menegakkan disiplin serta menjunjung tinggi sikap profesionalisme.
2. Selama menjalani kegiatan di Departemen Ilmu Kesehatan THT, mahasiswa wajib memakai jas dokter
warna putih serta tanda pengenal resmi sebagai peserta PPDS-I FK UNPAD.
3. Mahasiswa mengikuti kepaniteraan dengan membawa surat pengantar dari Bagian Akademik Fakultas
Kedokteran UNPAD.
4. Mahasiswa bertugas dalam kelompok kecil dengan pembimbing satu orang preceptor.
5. Mahasiswa diharuskan melapor pada Kepala Departemen Ilmu Kesehatan THT sebelum dan setelah
melaksanakan kegiatan. Pada waktu menghadap, PPDS-I diberikan penjelasan mengenai tujuan
pendidikan terutama yang menyangkut falsafah serta etik.
6. Peserta PPDS-I juga harus melapor kepada Koordinator Pendidikan untuk mendapatkan program kerja
dan jadwal evaluasi pendidikan.
7. Setelah itu PPDS-I diharuskan melapor kepada preceptor masing-masing untuk mendapatkan jadwal
kegiatan bimbingan.
8. Mengikuti seluruh kegiatan yang tercantum di dalam buku log (logbook) yang dibuktikan dengan tanda
tangan preceptor dan penanggung jawab pada setiap kasus yang ditangani yang harus diserahkan
sebelum peserta didik menyelesaikan stase di Departemen Ilmu Kesehatan THT.
9. Setiap izin meninggalkan tugas kepaniteraan harus dengan sepengetahuain/persetujuan Kepala
Departemen Ilmu Kesehatan THT atau koordinator PPDS-I.
10. Bila tidak dapat mengikuti kepaniteraan karena sesuatu sebab, hendaknya dinyatakan dengan
tertulis/surat sakit. Surat keterangan tersebut, sedapat mungkin diserahkan kepada Koordinator PPDSI pada waktu yang bersangkutan tidak hadir.
11. Bila berhalangan karena sesuatu sebab tidak dapat mengikuti kegiatan lebih dari 1 (satu) hari maka
peserta PPDS-I diharuskan mengulang kegiatan di Departemen Ilmu Kesehatan THT selama 3
minggu.
12. Selama mengikuti kegiatan di Departemen Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran UNPAD/RS dr
Hasan Sadikin, semua aktivitas baik dalam bidang pendidikan, pelayanan maupun administratif, ditulis

151

dalam buku kegiatan dan ditandatangani oleh Konsulen yang bersangkutan. Diharapkan peserta
PPDS-I dapat menyelesaikan tugas pendidikan yang dibebankan tepat pada waktunya.
13. Pada setiap awal bekerja di ruangan/poliklinik/kamar operasi/UGD diharuskan melapor kepada
konsulen/dokter/kepala ruangan/poliklinik/UGD.
14. Ketua Kelompok PPDS-I adalah salah satu mahasiswa dari kelompok PPDS-I tersebut.
15. Tata tertib Ujian:
a. Kehadiran selama di Departemen Ilmu Kesehatan THT memenuhi persyaratan kehadiran yang
telah ditentukan.
b. Telah melaksanakan semua tugas dan kewajiban selama rotasi di Departemen Ilmu Kesehatan
THT.
c. Telah menyelesaikan kewajiban administrasi (contohnya pengembalian buku dari perpustakaan,
telah memeriksa kembali peralatan pemeriksaan THT).
d. Peserta PPDS-I diharuskan mengikuti ujian setelah buku log/buku modul kompetensinya
dinyatakan layak/lulus oleh Koordinator PPDS-I atas rotasi yang telah lengkap diikuti.
e. Sebelum diuji, peserta PPDS-I diharuskan memperlihatkan buku log untuk dinilai akan kegiatan
yang telah dilakukan selama kepaniteraan.
f. Lembaran ujian setelah diisi oleh penguji diserahkan kepada administrasi Departemen Ilmu
Kesehatan THT.
g. Ujian dilakukan oleh seorang penguji dan pendamping penguji.
h. Hasil ujian diberitahukan kepada peserta PPDS-I.
F.

KHUSUS
1. Proses pendidikan berlangsung setiap hari Senin sampai dengan Jumat mulai pukul 07.15-15.30 WIB.
Kegiatan pendidikan PPDS-I adalah :
Jurnal Reading.
Litelature Reading.
Stase OK.
Stase Ruangan.
Stase Poli.
RS Jejaring.
2. Acara ilmiah atau diskusi kasus setiap hari pukul 07.15 sampai dengan pukul 08.30 dan siang hari mulai
pukul 12.00 sampai 13.00.
3. Setiap hari diadakan absensi sebanyak 2 (dua) kali, yaitu sewaktu datang dan setelah selesai
menjalankan kepaniteraan pada hari itu.
4. Kegiatan dengan bimbingan dilakukan pada pagi hari pukul 07.15 08.30 atau siang hari di atas pukul
12.00.
5. Poliklinik THT:
Mahasiswa memerika pasien dengan membuat status (sangat dianjurkan pasien baru) dengan
anamnesis, pemeriksaan fisik, diagnosis klinik, diagnosis banding, dan rencana penatalaksanaannya
serta membuat usulan pemeriksaan dan terapi.
Melaporkan hasil pemeriksaan tersebut pada PPDS/konsulen poliklinik yang bertugas pada hari itu.
Pembagian rotasi ke poliklinik umum, rinologi, otologi, audiologi, onkologi bedah kepala leher, plastik
rekonstruksi-maksilofasial yang diatur oleh ketua kelompok.
6. Tugas jaga:
Semua peserta PPDS-I harus melakukan jaga malam sebagai bagian dari pendidikan.
Tugas jaga berlangsung setiap hari Senin sampai dengan Jumat mulai pukul 15.30-07.15 WIB, pada
hari Sabtu, Minggu, dan hari libur lainnya dibagi menjadi 2 (dua) gelombang. Gelombang pertama
pukul 07.00-19.00 WIB, gelombang kedua pukul 19.00-07.00 WIB.
Selama menjalani tugas jaga, mahasiswa diwajibkan memakai baju jaga.
Pengaturan jaga dilakukan oleh Chief Residen PPDS-I.
Mahasiswa mengikuti seluruh kegiatan yang dilakukan PPDS jaga saat itu sambil belajar anamnesis
dan pemeriksaan fisik pada pasien serta membantu dengan supervisi beberapa tindakan yang
tercakup dalam bidang kompetensi keahlian yang harus dilakukan mahasiswa.
Setiap jaga diwajibkan membuat resume kasus yang dilaporkan pada Konsulen jaga.
7. Kamar operasi/ruang tindakan:
Sebelum masuk ke kamar operasi harus sudah mengetahui cara tindakan dan antiseptik termasuk
cara mencuci tangan, memakai pakaian, dan mengetahui alat-alat operasi.
Melihat dan mengenal operasi yang dilakukan di Departemen Ilmu Kesehatan THT, baik dalam
anestesi lokal maupun umum.
Bila memungkinkan mendiskusikan pasien yang akan atau sudah dilakukan operasi dengan operator.
8. Ruang rawat inap:
Mengetahui indikasi rawat pada pasien-pasien THT
Mampu menegakkan diagnosis dan mengetahui penatalaksanaannya.

152

Mengikuti visite besar konsulen ruangan pada saat itu.


Mengikuti seluruh kegiatan yang dilakukan oleh PPDS yang bertugas di ruangan pada saat itu dan
mendiskusikannya.
G. JENIS PELANGGARAN DAN SANKSI
1. Mahasiswa yang terbukti melanggar norma akademik dan norma hukum dikenakan sanksi sesuai dengan
Surat Keputusan Dekan No. 126/J06.6.FK/Kep/KM/2003.
2. Keterlambatan pengisian daftar hadir lebih dari 15 menit dianggap tidak hadir pada hari itu.
3. Bila peserta didik tidak menyerahkan logbook yang telah diisi lengkap pada akhir stase maka peserta didik
tersebut tidak akan mendapatkan nilai di Departemen Ilmu Kesehatan THT.
4. Kelalaian administratif :
- Meninggalkan proses pembelajaran.
- Tidak mematuhi jam kerja.
Bila peserta PPDS-I diketahui tidak mematuhi jam kerja, yang bersangkutan akan mendapat teguran lisan,
bila tetap berulang akan diberikan teguran tertulis. Bila setelah 3 (tiga) kali yang bersangkutan tidak
menunjukkan perbaikan, yang bersangkutan diharuskan mengulang rotasi di Departemen Ilmu Kesehatan
THT.
5. Kekurangan dalam pencapaian kompetensi.
Bila peserta PPDS-I memperoleh nilai dibawah batas kelulusan, yang bersangkutan diharuskan mengulang
ujian. Bila mahasiswa tidak lulus lagi setelah mengulang ujian maka diwajibkan mengulang rotasi di
Departemen Ilmu Kesehatan THT.
6. Sikap perilaku yang melanggar etika profesi
Sikap perilaku yang melanggar etika dan profesionalisme antara lain dapat berupa sikap perilaku terhadap:
a. Pasien:
Tidak menunjukkan sikap belas kasih, misalnya bersikap kasar
Tidak menunjukkan sifat altruism, malah menelantarkan pasien dan keluarganya
Tidak memiliki kepekaan terhadap kebutuhan pasien, tidak memberikan rasa nyaman
Tidak dapat dipercaya
Tidak dapat menjaga kerahasian pasien
Tidak peka terhadap nilai-nilai ras, gender, dan nilai lain yang dianut pasien seperti agama dan
kepercayaan
b. Pendidik
Misalnya tidak bersikap santun terhadap pendidik, baik yang berasal dari Departemen Ilmu Kesehatan THT
maupun departemen lain.
c. Sejawat Peserta PPDS-I.
Baik yang berasal dari Departemen Ilmu Kesehatan THT maupun diluar bagian.
Baik terhadap yang senior, sederajat maupun terhadap yang yunior.
Pelanggaran diantaranya dapat berupa kekerasan verbal, fisik, maupun tekanan secara financial
d. Tenaga administrasi, karyawan, dan paramedis rumah sakit
e. Keilmuan
Misalnya: tidak mengikuti acara ilmiah, melalaikan tugas yang bersifat keilmuan, misalnya tugas baca dsb.
f. Institusi
Misalnya: tidak menjaga peralatan pendidikan dengan baik, tidak mengindahkan peraturan rumah sakit,
Fakultas Kedokteran UNPAD dan sebagainya. Mahasiswa harus mengganti/memperbaiki peralatan THT
yang dipinjamkan apabila terbukti tidak berfungsi/rusak setelah dipakai selama kegiatan
7. Pelanggaran Hukum
Bila peserta didik diduga melanggar hukum dan sedang dalam proses penegakkan hukum, peserta PPDS-I
tidak diperkenankan mengikuti rotasi di Departemen Ilmu Kesehatan THT.
8. Kondisi khusus peserta PPDS-I
Yang dimaksud kondisi khusus peserta PPDS-I yaitu bila yang bersangkutan diketahui sebagai pengguna
narkoba atau memiliki penyakit kejiwaan, dan lain sejenisnya.
Saat ini, pengguna narkoba diklasifikasikan sebagai penderita, bukan perbuatan kriminal, kecuali bila
merangkap sebagai pengedar atau sejenisnya. Namun yang bersangkutan harus mencari pertolongan
kepada ahlinya.
Bagi peserta didik yang mengalami gangguan kejiwaan, yang menunjukkan atau berpotensi untuk
menimbulkan ketidak amanan/kerugian bagi dirinya dan pasien/masyarakat. Kondisi ini harus berdasarkan
keterangan dari dokter spesialis kesehatan jiwa.
Peserta PPDS-I tidak diperkenankan mengikuti rotasi di Departemen Ilmu Kesehatan THT.

153

Peringatan
Peringatan awal diberikan pada saat peserta PPDS I baru masuk di program studi berupa pembacaan
peraturan sanksi terutama mengenai penghentian studi oleh KPS atau SPS dengan disaksikan oleh Kepala
Departemen. Peserta PPDS I membuat Surat Pernyataan yang menyatakan bahwa yang bersangkutan telah
mengerti dan akan mematuhi peraturan tersebut dan menanda tanganinya dengan KPS dan Kepala
Departemen sebagai saksi.
Peringatan berikutnya diberikan bila peserta didik melakukan kesalahan. Peserta PPDS dipanggil setiap
melakukan kesalahan atau tidak lulus dari suatu sub-bagian/sub-spesialis, diterangkan mengenai bentuk
kesalahan/kekurangan oleh Tim KPS dan kemungkinan sanksi yang akan diterima. Selanjutnya bentuk sanksi
atau peringatan ketidak lulusan dikirim dalam bentuk tertulis kepada yang bersangkutan dengan tembusan ke
instansi pengirim/wali.
Setiap PPDS memiliki file mengenai reward and punishment yang diperoleh.
Derajat Berat Ringannya Bentuk Pelanggaran/Kelalaian
Pelanggaran ringan dan sedang diserahkan kepada Ketua Program Studi Departemen Ilmu Kesehatan THT
melalui penelaahan bersama dengan jajaran staf pendidik, termasuk Kepala Departemen, terutama dalam hal
aspek sikap perilaku yang melanggar etika dan profesionalisme.
Contoh pelanggaran ringan : peserta didik tidak mengikuti kegiatan tanpa alasan yang dapat diterima. Peserta
PPDS-I harus menyadari bahwa pelanggaran ringan yang dilakukan berulang, dapat berakumulasi menjadi
pelanggaran sedang.
Contoh pelanggaran sedang : melakukan kekerasan verbal terhadap peserta lainnya.
Contoh pelanggaran berat : plagiarism, kelalaian yang menimbulkan kecacatan, dan sebagainya.
Pelanggaran/kelalaian yang dinilai berat harus diperkuat oleh keputusan Komite Medik RS Pendidikan.
Bentuk Sanksi
Pada umumnya harus bersifat mendidik dan proporsional dengan bentuk kesalahan, misal :
Teguran.
Penambahan giliran jaga bila kesalahan yang dilakukan bentuknya ringan dan terjadi dalam waktu jaga.
Turun jabatan missal dari CR ke tingkat yang lebih rendah bila kesalahannya dalam bentuk kompetensi yang
tidak sesuai dengan yang seharusnya.
Skorsing.
Penghentian studi.
Penghentian Studi untuk Sementara
Mahasiswa Program Spesialis dapat menghentikan studi untuk sementara dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Jumlah maksimum penghentian studi untuk sementara (harus dengan izin tertulis Rektor) adalah satu
semester
2. Dengan Izin Rektor :
Mahasiswa mengajukan surat permohonan kepada Dekan, yang diketahui Dosen Wali-nya (dengan
membubuhkan tanda tangan pada surat itu, selambat-lambatnya 2 (dua) minggu sebelum kegiatan
akademik berjalan. (untuk mahasiswa Program PascaSarjana, surat permohonan ditujukan ke Direktur
PascaSarjana, selambat-lambatnya satu minggu sebelum herregistrasi).
Setelah mempertimbangkan segi akademik (IPK dan jumlah tabungan kredit), Direktur Program
Pascasarjana, Dekan/Ketua Program meneruskan permohonan itu kepada Rektor.
Apabila mendapat izin Rektor, maka selama periode penghentian studi sementara itu mahasiswa
dibebaskan dari pendaftaran, uang kuliah, dan uang praktikum.
Periode penghentian studi sementara itu tidak diperhitungkan dalam batas waktu maksimal program
studinya.
Hak mahasiswa untuk memperoleh penghentian studi untuk sementara dengan izin Rektor ini gugur
apabila mahasiwa memperoleh huruf mutu K selama 3 semester berturut turut maupun secara terpisahpisah dan kemudian diterima kembali, kesempatan penghentian studi untuk sementara ata izin Rektor
hanya sementara.
3. Jika mahasiswa melakukan penghentian studi sementara Tanpa izin Rektor, maka ia akan dikenakan saksi
sebagai berikut :
Untuk mendaftar kembali harus mengajukan permohonan tertulis kepada Rektor, melalui Direktur Program
Pascasarjana, Dekan atau Ketua Program; permohonan tersebut dapat diterima atau ditolak.
Periode penghentian studi sementara itu diperhitungkan dalam batas waktu maksimal program studinya.
Diwajibkan membayar uang kuliah dan uang praktikum yang terutang, dan untuk semester berikutnya
membayar sesuai dengan mahasiswa baru.
Bagi mahasiswa yang pernah menghentikan studi sementara tanpa izin Rektor dan kemudian diterima
kembali, kesempatan penghentian studi untuk sementara atas izin Rektor tidak diberikan lagi mahasiswa
program Pascasarjana.
4. Menghentikan studi tanpa izin Rektor, dikenakan sanksi pemutusan studi.

154

5.
6.

Penghentian studi untuk sementara, dengan alasan seperti pada butir 3 diperkenankan, namun
diperhitungkan dalam batas waktu studinya.
Penghentian studi untuk sementara tidak boleh dilakukan pada :
Semester I, dan/atau
Semester II, dan/atau
Satu dan/atau dua semester menjelang batas waktu studi yang diperkenankan
Catatan : Mahasiswa yang menghentikan studi untuk sementara tanpa izin Rektor dalam semester-semester
di atas dianggap mengundurkan diri

Prosedur Pengajuan Undur Diri (Keluar) dari Universitas Padjadjaran


Bagi mahasiswa tersebut dianggap yang ingin pindah dari Universitas Padjadjaran ke pergruan tinggi lain
berlaku ketentuan sebagai berikut :
1. Mahasiswa tersebut dianggap mengundurkan diri atas keinginan sendiri dari Universitas Padjadjaran. Oleh
karenanya yang bersangkutan harus membuat surat pernyataan mengundurkan diri (dengan diketahui oleh
orang tua/wali) kepada Rektor melalui Kepala Bagian dan Dekan fakultasnya masing masing;
2. Universitas Padjadjaran sekalipun tidak akan mempersulit prosesnya namun tidak dapat membantu proses
pengurusan kepindahan ke perguruan tinggi lain;
3. Universitas Padjadjaran hanya dapat mengeluarkan surat tanda telah keluar dan daftar nilai yang sudah
ditempuh selama studi di Universitas Padjadjaran dan surat keterangsn lainnya yang diperlukan, setelah
mahasiswa yang bersangkutan memenuhi semua utang (biaya yang belum dibayar, pinjaman buku, dsb).
Penghentian Studi
PPDS-I Departemen Ilmu Kesehatan THT dinyatakan putus studi/ tidak dapat melanjutkan kegiatan akademik /
profesi bila tidak dapat memenuhi persyaratan administrasi, evaluasi akademik atau yang diakibatkan sebagai
berikut :
Umum ( berlaku untuk jenjang I dan II )
1. Atas permintaan sendiri.
Peserta PPDS Mengajukan permintaan pengunduran diri secara tertulis kepada dekan FK UNPAD melalui
TKP PPDS dengan tembusan kepada Kepala Departemen dan KPS Departemen Ilmu Kesehatan THT.
2. Tidak melaksanakan registrasi akademik selama 2 semester berturut-turut tanpa alasan yang jelas.
3. Alasan kondisi kesehatan yang diperkuat dengan surat keterangan dari Majelis Penguji Kesehatan Pegawai
RS DR Hasan Sadikin.
4. Pelanggaran etika berat.
5. Penghentian pendidikan dapat dijatuhkan tanpa peringatan / teguran awal bila ditemukan pelanggaran etika
berat hasil temuan staf pendidikan yang diperkuat dengan keputusan Komite Medik RS dr. Hasan Sadikin.

13. Program Studi Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan (Obgin)


A. Metode Pembelajaran
Pendidikan diselenggarakan atas dasar Sistem Modul yang mendapatkan bobot Sistem Kredit Semester.
Beban Program pendidikan atau program studi, baik beban total, maupun beban semesteran dan beban setiap mata
pelajaran (termasuk didalamnya pengetahuan (knowledge), K ketrampilan (skill), S sikap (attitude) dan tanggung
jawab), dinyatakan dengan Satuan Kredit Semester (SKS). Struktur, komposisi, serta lama pendidikan ditetapkan
dengan mengacu pada kompetensi pendidikan yang ditetapkan oleh Kolegium secara nasional dan kompetensi
tambahan yang ditetapkan Program Studi. Pendidikan diselenggarakan dalam 3 tahapan pencapaian kompetensi yang
terdiri dari tahap dasar, tahap magang, dan tahap mandiri.
Beban program pendidikan dokter Spesialis-I Obstetri dan Ginekologi FKUP/RSHS adalah 149,75 SKS, seperti pada
lampiran. Seluruh program dapat diselesaikan dalam waktu 8 semester atau 4 tahun. Jangka waktu total program
pendidikan maksimal 1 1/2 x lama pendidikan (12 semester).
Setiap peserta didik yang diterima di Pendidikan Dokter Spesialis-I diwajibkan mendaftarkan diri dan setiap
semester semua peserta diwajibkan mendaftarkan diri ulang ke Fakultas Kedokteran. Ketentuan UNPAD bagi yang
tidak melaksanakan pendaftaran ulang 2 (dua) kali berturut-turut dianggap mengundurkan diri.
B. Struktur Mata Kuliah
1. Kurikulum
Tujuan pendidikan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi FK Unpad/RS Hasan Sadikin adalah
menghasilkan lulusan yang memiliki profil lulusan sebagai seorang Spesialis Obstetri dan Ginekologi (SpOG) yang
mempunyai kompetensi holistik, meliputi klinik, akademis dan profesionalisme,

155

dapat berperan sebagai dokter spesialis yang


o Berakhlak dan berbudi luhur good gentleman;
o mempunyai ketrampilan klinik yang handal good clinic;
o mampu mendidik dengan baik good teacher;
o mampu berkomunikasi dengan baik - good communicator
o mempunyai kompetensi pengetahuan dan keterampilan good practitioner
o senantiasa meningkatkan profesionalisme long life leaner
o mampu mendedikasikan pengetahuan, ketrampilan dan kualitas profesional mereka sesuai dengan
tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan (public health needs and demands) health system
partner
o mampu melakukan penelitian dengan baik good scholar, dan
o menjadi manajer yang efektif good manager.
Kurikulum yang digunakan di Program Pendidikan Dokter Spesialis I Obgin FK Unpad mengacu pada
kurikulum nasional dari kolegium Obststetri dan Ginekologi Indonesia dan sesuai dengan ketentuan dari Konsil
Kedokteran Indonesia tentang pendidikan dokter spesialis serta peraturan pendidikan dari Pemerintah (UU No 20
Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran), peraturan pendidikan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
Indonesia, Kebijakan Universitas Padjadjaran dan Fakultas Kedokteran, serta peraturan terkait lainnya, selain itu
juga memperhatikan masukan-masukan dari Perhimpunan Profesi (Persatuan Obstetri dan Ginekologi Indonesia)
dan alumnus. Tujuan itu diharapkan dapat dicapai melalui kurikulum pendidikan terintegrasi yang dikelompokkan
berdasarkan materi pendidikan yang memenuhi elemen-elemen kurikulum (landasan kepribadian; penguasaan
ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan/atau olahraga; kemampuan dan keterampilan berkarya; sikap dan perilaku
dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan ilmu dan keterampilan yang dikuasai; penguasaan kaidah
berkehidupan bermasyarakat), yaitu sebagai berikut :
Materi Inti Pendidikan Spesialis Obgin (19 modul)
Materi Keterampilan Lanjutan (Stase divisi)
Materi Penerapan Akademik (MPA) (Karya Tulis Ilmiah).
Materi-materi itu diberikan dalam 8 semester, masing-masing semester mempunyai tujuan pendidikan yang
bulat dan dicapai melalui pengalaman belajar/isi pendidikan tertentu. Pembagian semester ini merupakan
tahapan/pembagian berdasarkan kemampuan yang dicapai mencakup pengetahuan dan pengertian, penyelesaian
masalah dan pengambilan keputusan, keterampilan psikomotor, keterampilan interpersonal, kebiasaan kerja dan
sikap profesional.
a. Materi Inti Pendidikan Spesialis Obgin
Materi ini terbagi dalam 19 modul dan beberapa materi keterampilan klinik dasar sesuai dengan
kompetensi yang perlu dicapai oleh peserta didik yaitu :
1. Kompetensi Umum : berisi dasar pengetahuan untuk setiap ilmuwan agar menjadi seorang penggagas
dan peneliti. Materi ini merupakan materi dasar yang tidak menyangkut bidang ilmu kedokteran secara
langsung (etika, komunikasi, patient safety, kerjasama tim)
1. Modul 1
: Keterampilan Klinik Dasar
2. Modul 2
: Pengajaran, Telaah dan Penilaian
3. Modul 3
: Teknologi informasi, riset dan upaya peningkatan praktik klinik
4. Modul 4
: Etika dan Hukum dalam Obstetri dan Ginekologi
5. Modul 5
: Keterampilan Bedah Inti
6. Modul 6
: Penanganan pasca operasi
7. Modul 19
: Pengembangan profesionalisme
2. Kompetensi Dasar Obstetri dan Ginekologi adalah materi pendidikan yang memberikan dasar
pengetahuan keahlian dalam bidang Obstetri dan Ginekologi agar mampu memecahkan
permasalahan dalam bidang obstetri dan ginekologi dengan menggunakan nalar yang bersifat ilmiah.
Materi Kompetensi Dasar Obstetri dan Ginekologi mencakup :
Modul-modul Obstetri :
1. Modul 8
: Asuhan Antenatal
2. Modul 9
: Kedokteran Maternal
3. Modul 10
: Asuhan Persalinan
4. Modul 11
: Asuhan Kelahiran
5. Modul 12
: Masalah Nifas dan Neonatus
6. Modul 16
: Asuhan Kehamilan Dini
Modul-modul Ginekologi Jenjang I
1. Modul 7
: Prosedur Pembedahan
2. Modul 15
: Kesehatan Reproduksi
3. Modul 18
: Uroginekologi
3. Kompetensi Lanjut Obstetri dan Ginekologi adalah materi pendidikan sub spesialisasi dalam bidang
obstetri dan ginekologi yang akan diberikan oleh para konsultan di bidangnya masing-masing. Materi
Kompetensi Lanjut Obstetri dan Ginekologi mencakup :
Modul Ginekologi Jenjang II :

156

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Modul 7
Modul 13
Modul 14
Modul 15
Modul 17
Modul 18

: Prosedur Pembedahan
: Masalah-masalah Ginekologi
: Subfertilitas
: Kesehatan Reproduksi
: Ginekologi Onkologi
: Uroginekologi

Pemberian materi keterampilan klinik dasar dilakukan pada saat peserta didik berada di beberapa tempat
stase di RS dr. Hasan Sadikin (baik di Departemen Obstetri & Ginekologi maupun Departemen lain),
Rumah Sakit Satelit, atau pada saat morning report, visite besar, presentasi kasus, journal reading,
konferensi klinik, dan audit maternal.
Proses Pendidikan dilaksanakan di Rumah Sakit Pendidikan utama dan di berbagai Rumah Sakit Satelit
dan Wahana Pendidikan Kedokteran untuk mendapatkan materi ajar. Materi tersebut berupa kasus-kasus
dengan jumlah dan variasi yang sesuai dengan tingkat kompetensi yang ingin dicapai secara
komprehensif dilaksanakan dengan melalui tiga tahap ketrampilan : akuisisi, kompetensi dan profisiensi.
Dengan kompetensi seperti tersebut diatas, pelayanan kesehatan akan bertaraf dan berkualitas tinggi
sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran. Strategi yang dipilih ialah pelatihan
keprofesian dengan melakukan tatalaksana pasien di bangsal untuk pasien rawat inap dan di poliklinik
untuk pasien rawat jalan, di kamar operasi untuk kasus-kasus operasi, Unit Perawatan Intensif, RS Satelit
(comprehensive skills), dan penanganan kasus-kasus gawat darurat di ruang gawat darurat, melalui
pendekatan kedokteran berbasis bukti (evidence-based medicine), serta kegiatan di masyarakat untuk
berlatih penerapan pendekatan Obstetri dan Ginekologi Sosial.
Melalui kerja praktek selain untuk mencapai ketrampilan profesional (skill) peserta didik PPDS juga
mendapatkan penguatan (strengtening) dalam penugasan keilmuan (knowledge) melalui serangkaian
kegiatan dalam materi penerapan akademik.

SKEMA ROTASI PPDS OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


TAHAP I
Tahap Dasar

Semester 1

Semester 2

Semester 3

Semester 4

Ketrampilan klinik dasar (1 bulan)


Pengetahuan dasar (1 bulan)
Poliklinik Obstetri (1 bulan)
Ruang perawatan Obstetri (2 bulan)
Kamar bersalin (1 bulan)
Instalasi gawat Darurat (IGD) (1 bulan)
Ruang perawatan Obstetri (1 bulan)
Poliklinik Obstetri (1/2 bulan)
Kamar bersalin (1 bulan)
RS Satelit (2 1/2 bulan)
Instalasi Gawat darurat (IGD) (1/2 bulan)
Kamar operasi (1/2 bulan)
Poliklinik Obstetri (1/2 bulan)
Ruang perawatan Obstetri (1/2 bulan)
RS Satelit (2 bulan)
Unit Kehamilan Risti / USG (1 bulan)
Rekam medik (1 bulan)
Instalasi Gawat Darurat (IGD) (1/2 bulan)
Kamar operasi (1/2 bulan)
Unit Perawatan Intensif (ICU) (1/2 bulan)
RS Satelit (2 bulan)
Poliklinik Ginekologi (1/2 bulan)
Poliklinik Onkologi (1/2 bulan)
Ruang perawatan Ginekologi (1/2 bulan)
Rekam medik (1 bulan)

157

TAHAP II
Tahap Magang

Semester 5

Semester 6

TAHAP III
Tahap Mandiri

Semester 7
Semester 8

Instalasi Gawat Darurat (IGD) (1/2 bulan)


Kamar operasi (1 bulan)
Unit Perawatan Intensif (ICU) (1/2 bulan)
RS Satelit (1 1/2 bulan)
Poliklinik Ginekologi (1/2 bulan)
Ruang perawatan Ginekologi (1/2 bulan)
Poliklinik Onkologi (1/2 bulan)
Stase Divisi Obstetri Ginekologi Sosial (1 bulan)
Stase Divisi
Onkologi (1 bulan)
Fetomaternal (1 bulan)
Endokrin Reproduksi (1 bulan)
Uroginekologi (1 bulan)
RS Satelit (2 bulan)
CHIEF RESIDEN
Instalasi Gawat Darurat (IGD) (1/2 bulan)
Kamar operasi (1/2 bulan)
Kamar bersalin (1/2 bulan)
Unit Perawatan Intensif (ICU) (1/2 bulan)
RS Satelit (6 bulan)
Poliklinik Ginekologi (1/2 bulan)
Poliklinik Obstetri (1 bulan)
Poliklinik Onkologi (1/2 bulan)
Poliklinik Infertilitas (1/2 bulan)
Ruang perawatan Obstetri (1/2 bulan)
Ruang perawatan Ginekologi (1/2 bulan)
Ruang Kehamilan Risiko Tinggi (USG) (1/2 bulan)

b. Materi Keterampilan Lanjutan (Stase divisi)


Pada tahap magang para peserta didik PPDS I Obgin akan melakukan stase di setiap divisi yang ada di
Departemen Obgin FK Unpad/RS Hasan Sadikin (5 divisi) dengan tujuan untuk meningkatkan
pengetahuan dan ketrampilan lanjutan tentang kajian yang ada di divisi dan yang diperlukan apabila kelak
nanti akan mengikuti pendidikan Sp 2. Diharapkan juga pada saat stase divisi, para peserta didik dapat
melakukan suatu penelitian sederhana yang sesuai serta mempublikasikannya di forum ilmiah nasional
maupun internasional.
c. Materi Penerapan Akademik
Materi ini merupakan suatu rangkaian kegiatan pendidikan akademik berupa kegiatan ilmiah yang
langsung berhubungan dengan keilmuan yang ditekuni. Berbagai jenis kegiatan ini bertujuan untuk
membina pengetahuan, sikap dan tingkah laku ilmuwan, menguasai metode riset ilmiah, mampu membuat
tulisan ilmiah dan menulis tesis ilmiah dalam mendukung ketrampilan keprofesian sebagai dokter Spesialis
Obstetri dan Ginekologi.
Materi penerapan akademik terdiri dari dua kelompok :
1. Kelompok I
Yang berhubungan langsung dengan persyaratan kelulusan pendidikan pasca sarjana
adalah sebagai berikut :
a. Sari pustaka
b. Usulan penelitian
c. Tesis
2. Kelompok II
Yang berhubungan dengan pencapaian kemampuan keprofesian misalnya :
a. Journal Reading.
b. Konferensi Ilmiah.
c. Konferensi Audit Mediko-etiko-legal.
d. Konferensi Klinik.
e. Laporan Kasus.
f. Pembuatan Makalah Ilmiah.

158

2. Konsep mata kuliah dan beban sks


Proses Pendidikan dibagi ke dalam tahapan Pembekalan Modul, Penerapan Modul dan Evaluasi.
Proses belajar mengajar dilakukan secara terintegrasi dalam bentuk modul mata kuliah terintegrasi dengan
beban akademik 13% dan beban klinis 87% dari total 120,76 sks. Setiap semester diberikan beban modul yang
setara dengan pengelompokan mata kajian fisiologi, patologi I dan II, ginekologi serta obstetri & ginekologi
sosial . Penjelasan pelaksanaan proses belajar mengajar akan dilaksanakan pada awal masa pendidikan oleh
KPS. Pembekalan dilakukan selama dua bulan diberikan oleh tim pengampu modul berupa materi-materi ajar
dan ketrampilan yang dimasukkan dalam modul materi ketrampilan klinik dasar.
Kemampuan umum hendak dicapai dalam tiap tahap pendidikan adalah sebagai berikut:
TAHAP I Tahap Dasar
: Semester I, II, III, IV
Pada semester I untuk kelompok Materi Inti Pendidikan Spesialis Obgin dengan Kompetensi Umum yang
akan diberikan dalam Program Khusus dari Pengelola program studi Obstetri dan Ginekologi.
Pada semester II hingga IV diberikan Materi Inti Pendidikan Spesialis Obgin dengan kompetensi dasar
dan lanjut serta MPA yang dilakukan mulai dari semester II di lingkungan RSHS dan RS satelit.
TAHAP II Tahap Magang (Calon Asisten Kepala / Calaska)
: Semester V, dan VI
Pada semester V merupakan lanjutan pemberian materi Materi Inti Pendidikan Spesialis Obgin dengan
Kompetensi Lanjut serta pada semester VI akan diberikan Materi Keterampilan Lanjutan dari masing-masing
divisi di lingkungan Dep Obgin FKUP/RSHS, sementara Materi Penerapan Akademik (MPA) dilakukan di RSHS
dan RS satelit.
TAHAP III Tahap Mandiri (Asisten Kepala / Chief Resident)
: Semester VII dan VIII
Semester VII dan VIII adalah merupakan tahap chief resident dengan pelaksanaan program pendidikan
profesi yang dilakukan di RSHS dan RS satelit, sementara program MPA yang akan dilakukan adalah hasil
akhir dari seluruh rangkaian kegiatan MPA berupa pengajuan hasil karya penelitian dalam bentuk tesis.
Semester I
NO

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
11
12
13
14
15
16
17

KEGIATAN
KULIAH
MODUL 1 : KETERAMPILAN KLINIK DASAR
MODUL 3 : TEKNOLOGI INFORMASI, CLINICAL GOVERNANCE
DAN PENELITIAN
MODUL 4 : ETIKA DAN HUKUM
MODUL 5 : KETERAMPILAN BEDAH INTI (PGD & BSS)
MODUL 8 : ASUHAN ANTENATAL
MODUL 10 : ASUHAN PERSALINAN
MODUL 11 : ASUHAN KELAHIRAN
MODUL 12 : ASUHAN NIFAS DAN NEONATUS
MODUL 15 : KESEHATAN REPRODUKSI (DISFUNGSI SEKSUAL)
MODUL 19 : PENGEMBANGAN PROFESIONALISME
PRESENTASI KASUS
LABORATORIUM
KURETASE & ASPIRASI VAKUM MANUAL (JML MINIMAL
KOMPETEN : 5 KALI TINDAKAN)
ASUHAN PERSALINAN NORMAL (jt : 5 )
PRAKTEK LAPANGAN
KERJA POLIKLINIK (4 J/HARI EFEKTIF 50%)
KERJA RUANGAN (4 J/HARI EFEKTIF 70%)
KAMAR BERSALIN (4 J/HARI EFEKTIF 70%)
MORNING REPORT
VISITE BESAR

TOTAL SKS
PER
SEMESTER

SKS

1,17
0,19
0,19
1,17
1,17
1,17
1,17
1,17
0,19
0,19
0,00
0,05
0,09
0,83
0,83
0,83
0,83
0,67

1,92

159

Semester II
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

KEGIATAN
MODUL 5 : KETERAMPILAN BEDAH INTI (PERIOPERATIVE
CARE)
MODUL 8 : ASUHAN ANTENATAL
MODUL 15 :KESEHATAN REPRODUKSI (KB,HIV/AIDS)
MODUL 16 : PENANGANAN KEHAMILAN DINI (ABORTUS
INKOMPLIT)
MODUL 10 : ASUHAN PERSALINAN
PRESENTASI KASUS
LABORATORIUM
1. EKSTRAKSI VAKUM (JT : 5)
2. EKSTRAKSI FORCEPS (JT : 5)
3. STERILISASI (JT : 5 LT)
PRAKTEK LAPANGAN
KERJA POLIKLINIK
KERJA RUANGAN
KAMAR BERSALIN
UNIT GAWAT DARURAT
MORNING REPORT
VISITE BESAR

SKS
1,17

TOTAL
SKS PER
SEMESTER
18,28

1,17
1,17
1,17
1,17
4,00
0,09
0,09
0,09
1,67
1,67
1,67
1,67
0,83
0,67

Semester III
NO

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

KEGIATAN
KULIAH
MODUL 6 : ASUHAN PASCA OPERASI (POST OPERATIVE
CARE)
MODUL 7 : PROSEDUR PEMBEDAHAN GINEKOLOGI
MODUL 9 : KEDOKTERAN MATERNAL
MODUL 11 : ASUHAN KELAHIRAN (SUNGSANG)
MODUL 18 : UROGINEKOLOGI
PRESENTASI KASUS
LABORATORIUM
1. PERSALINAN SUNGSANG (JT : 5)
2. SALPINGO-OVAREKTOMI (JT : 5)
3.EMBRIOTOMI (JT : 5 LT )
PRAKTEK LAPANGAN
KERJA POLIKLINIK
KERJA RUANGAN
KAMAR BERSALIN
UNIT GAWAT DARURAT
MORNING REPORT
VISITE BESAR

SKS

TOTAL SKS
PER
SEMESTER
18,28

1,17
1,17
1,17
1,17
1,17
4,00
0,09
0,09
0,09
1,67
1,67
1,67
1,67
0,83
0,67

Semester IV
NO

1
2
3
3

KEGIATAN
KULIAH
MODUL 7
: PROSEDUR PEMBEDAHAN GINEKOLOGI
(HISTEREKTOMI/ ADHESIOLISIS)
MODUL 11 : ASUHAN KELAHIRAN
MODUL 16 : PENANGANAN KEHAMILAN DINI (ABORTUS
HABITUALIS/ KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU)
MODUL 13 : MASALAH GINEKOLOGI

SKS

1,17
1,17
1,17
1,17

TOTAL SKS
PER
SEMESTER
19,54

160

NO
4
5
6

KEGIATAN
MODUL 14 : SUB FERTILITAS
MODUL 17 : GINEKOLOGI ONKOLOGI
PRESENTASI KASUS
LABORATORIUM
1. SEKSIO SESAREA (JT : 5 )
2. HISTEREKTOMI TOTAL (JT : 5 )
PRAKTEK LAPANGAN
KERJA POLIKLINIK
KERJA RUANGAN
KAMAR BERSALIN
UNIT GAWAT DARURAT
MORNING REPORT
VISITE BESAR

7
8
9
10
11
12
13
14

SKS

TOTAL SKS
PER
SEMESTER

1,17
1,17
4,00
0,09
0,28
1,67
1,67
1,67
1,67
0,83
0,67

Semester V
NO

KEGIATAN
KULIAH
MODUL
7:
PROSEDUR
PEMBEDAHAN
GINEKOLOGI
(LAPAROSKOPI)
MODUL 2 : PENGAJARAN, TELAAH DAN PENELITIAN
MODUL 15 : KESEHATAN REPRODUKSI (DISFUNGSI SEKSUAL)
MODUL 19 : PENGEMBANGAN PROFESIONALISME

1
2
3
4
5
6
7
8

PRESENTASI KASUS
PRESENTASI NASIONAL
LABORATORIUM
1. STERILISASI LAPAROSKOPI (JT :5 )
2. MIOMEKTOMI (JT : 5 )

9
10
11
12
13
14

PRAKTEK LAPANGAN
KERJA POLIKLINIK
KERJA RUANGAN
KAMAR BERSALIN
UNIT GAWAT DARURAT
MORNING REPORT
VISITE BESAR

SKS

1,17

TOTAL SKS
PER
SEMESTER
15,47

0,39
0,39
0,39
4,00
0,69
0,09
0,19

1,67
1,67
1,67
1,67
0,83
0,67

Semester VI
NO

1
2
3

4
5
6
7
8

KEGIATAN
KULIAH
STASE DIVISI ONKOLOGI
STASE DIVISI FETOMATERNAL
STASE DIVISI FERTILITAS DAN ENDOKRINOLOGI
STASE DIVISI UROGINEKOLOGI
STASE DIVISI OBGINSOS
LABORATORIUM
1. PERINEOPLASTY (JT : 5 )
2. TOTAL VAGINAL HISTEREKTOMI (JT : 5 )
PRAKTEK LAPANGAN
KERJA POLIKLINIK
KERJA RUANGAN
KAMAR BERSALIN

SKS

3,50
3,50
3,50
3,50
3,50
0,09
0,19
0,42
0,42
0,42

TOTAL SKS
PER
SEMESTER
20,94

161

NO

KEGIATAN

9
10
11

UNIT GAWAT DARURAT


MORNING REPORT
VISITE BESAR

SKS

TOTAL SKS
PER
SEMESTER

0,42
0,83
0,67

Semester VII
NO

KEGIATAN

SKS

KULIAH
TESIS

5,00

2
3
4
5
6
7

PRAKTEK LAPANGAN
KERJA POLIKLINIK
KERJA RUANGAN
KAMAR BERSALIN
UNIT GAWAT DARURAT
MORNING REPORT
VISITE BESAR

0,42
0,42
0,42
0,42
0,83
0,67

TOTAL SKS
PER
SEMESTER
8,17

Semester VIII
NO
1
2
3
4
5
6
7

KEGIATAN
KULIAH
TESIS
PRAKTEK LAPANGAN
KERJA POLIKLINIK
KERJA RUANGAN
KAMAR BERSALIN
UNIT GAWAT DARURAT
MORNING REPORT
VISITE BESAR

SKS
5,00

TOTAL SKS PER


SEMESTER
8,17

0,42
0,42
0,42
0,42
0,83
0,67

Pelaksanaan Modul dicatat dan ditandatangani dalam Buku Log, sedangkan pencapaian dalan keterampilan
dicatat dan ditandatangani dalam Buku Kemajuan sebagai perangkat evaluasi dan dokumentasi dan pada akhir
program pendidikan. Buku Log akan dikirimkan ke Kolegium sebagai salah satu prasyarat mengikuti Ujian
Nasional.

165

Struktur Kurikulum
Pembekalan modul

Penerapan & evaluasi modul


Tahap I

Ko
mp
ete
nsi

Sm 1

Tahap II

Sm 2

Sm 3

Obstetri
patologi
dasar

Obstetri
patologi
lanjut

Sm 4

Sm 5

Tahap III
Sm 6

Sm 7

S
m
8

Fisiologi
Ujian kolegium

Ujian Akhir Program

Presentasi kasus
berbahasa
Inggris

Stase Divisi

Ujian Calaska

Obstetri dan
ginekologi sosial
serta Keluarga
Berencana

Ujian Obginsos

Presentasi
kasus

Ujian Ginekologi

Presentasi
kasus

Ujian patologi 2

Presentasi
kasus

Ujian patologi 1

Ujian fisiologi

Materi Inti

Fisiol
ogi
wanit
a
hamil
, gizi
dala
m
keha
milan
dan
lakta
si

Pemerik
saan
obstetri,
pengelol
aan
kehamila
n dan
nifas,
psikolog
i wanita
hamil,
bimbing
an
pemerik
saan
obstetri

Ginekologi
onkologi dan
uroginekolog,
Endokrinologi
reproduksi

166

Evaluasi operative skills

Ujian Aska

Evaluasi operative skills

Laparoskopi
diagnostik
(Kehamilan
ektopik)

Histerekto
mi
vaginal,
Kehamilan
ektopik
lanjut,
Uterus
ruptur

RS Pendidikan utama, Stase RS Afiliasi dan satelit

Attitude

membina hubungan kerja yang baik dengan


paramedik sebagai mitra kerja sesuai dengan
etik kedokteran

Materi
Penerapa
n
Akademik

Pengajuan judul Penelitian

Seksio
Sesarea

Evaluasi operative skills

RS Pendidikan
Utama

Histerektom
i

Evaluasi operative skills

Embriot
omi,
Pertolon
gan
persalin
an
sungsan
g,
Salpingo
ovarekto
mi

Evaluasi operative skills

Evaluasi operative skills

Evaluasi operative skills

Materi Ketrampilan Operasi

Pertolongan
persalinan
fisiologis,
Kuretase,
Kuretase
vakum

Ekstraks
i
forceps,
vakum,
dan
sterilisa
si
perempu
an

mengelola sistem pembinaan rujukan obstetri dan ginekologi.

Evaluasi
Sari
Pustaka

Sidang
Usulan
Penelit
ian
166

Penelitian

mengkoordi
nasikan
kelancaran
pelayanan
dan
menerima
konsultasi
dari peserta
tingkat
semester
dibawahnya
, melakukan
konsultasi
antar
departemen
Sidang
Karya Tulis
Ilmiah

167

Pengajuan judul dan


pelaksanaan
Penelitian PIT

168

C. Panduan Kegiatan Klinik


1. Ketentuan Umum.
1. Setiap memasuki tempat kerja/ tempat stase peserta PPDS wajib lapor
ke konsulen penanggung jawab stase masing-masing, dipimpin oleh
chief residen.
2. Lama kerja di masing-masing tempat stase 2 minggu atau 1 bulan
sesuai ketetapan Ketua Program Studi.
3. Pre-test dilakukan di minggu pertama tempat stase dan diberikan oleh
konsulen penanggung jawab masing-masing tempat stase.
4. Post-test dilakukan di minggu terakhir tempat stase dan diberikan oleh
konsulen penanggung jawab masing-masing tempat stase.
5. Test dalam bentuk tulisan, keterampilan atau mini Clinicial
Examination (Cex)
6. Tempat Kegiatan Klinik PPDS-I.S I
Kegiatan klinik PPDS-I dilakukan dibeberapa tempat
1. Poliklinik Obstetri dan Ginekologi FKUP/RSHS.
Poliklinik ini dipakai untuk pendidikan peserta Program Studi
Pendidikan Dokter (PSPD) dan PPDS-I, dibawah bimbingan
seorang konsulen setiap hari kerja (Unit rawat jalan).
Poliklinik Obstetri & Ginekologi terdiri dari :
a. Poliklinik Obstetri.
b. Poliklinik Ginekologi.
c. Poliklinik KB
d. Poliklinik Infertilitas.
e. Poliklinik Endokrin,
f. Poliklinik Uroginekologi,
g. Poliklinik Onkologi
h. Poliklinik HIV (Teratai)
i. Fasilitas lain, selain Poliklinik Obstetri dan
Ginekologi Umum :
1. Poliklinik Kehamilan Risiko Tinggi (Feto
Maternal) di Instalasi Rawat Jalan (IRJ).
2. Poli onkologi
3. Unit Ultrasonografi di Instalasi Rawat Inap
(IRI) dan Klinik Sakura OBGIN.
4. Poliklinik Infertilitas di Ruang Aster (FER)
5. Klinik khusus pasien HIV-AIDS di Ruang
Teratai
2. Ruangan Rawat Inap
a.
Ruang 17A : Fisiologi.
b.
Ruang 17B : Patologi.
c.
Rawat inap kelas VIP, I dan II
d.
Ruang Kemuning
e.
Perawatan Intermediate

169

3. Kamar Tindakan dan Unit Perawatan Khusus di Instalasi Gawat


Darurat (IGD).
4. Unit Bedah Sentral.
a.
Unit Bedah Sentral Obstetri-Ginekologi.
b.
Unit Anestesiologi.
c.
ICU
5. Rumah Sakit Satelit (13 Rumah Sakit Satelit) :
a.
RSU. Majalaya
b. RSU. Sumedang
c. RSU. Ujung Berung
d. RSIA. Astana Anyar
e. RSU. Cibabat
f. RSU. Cianjur
g. RSU Samsudin SH Sukabumi
h. RSU. Soreang
i. RSU. Subang
j. RSU Garut
k. RSU Ciawi
l. RSU Waled, Cirebon
m. RSU Kefamenanu, NTT
6. Stase diluar Departemen Obstetri & Ginekologi RSHS : ICU
2. Panduan Pembelajaran di Poliklinik Obstetri dan Ginekologi.
1. Tujuan Pembelajaran :
Sesuai dengan tahap pendidikannya, maka selama bertugas di
poliklinik obstetri dan ginekologi tujuan pembelajaran yang hendak
dicapai ialah seluruh peserta PPDS I mampu untuk (perincian lebih
lanjut dapat dilihat dalam isi kurikulum dan kegiatan) :
Semester I :
melakukan pemeriksaan obstetri serta mengenal perubahanperubahan fisiologi pada wanita hamil, gizi dalam kehamilan dan
laktasi, fisiologi dan pengelolaan kehamilan dan nifas, psikologi wanita
hamil, bimbingan pemeriksaan obstetri dan ginekologi.
Semester II :
menangani kasus-kasus patologik obstetri.
Semester III :
menangani kasus-kasus patologi obstetri lanjut dan kemampuan
diagnostik ultrasonografi obstetri dan ginekologi.
Semester IV :
menangani kasus-kasus ginekologi dan infertilitas
Semester V :
menerapkan pengetahuan obstetri dan ginekologi sosial dan Keluarga
Berencana.
Semester VI

170

Pra Asisten Kepala/Chief Resident (CR) dan mempelajari keahlian


subspesialistik di 5 (lima) divisi yang ada di Departemen Obstetri dan
Ginekologi
Semester VII - VIII :
melaksanakan tugas-tugas sebagai Asisten Kepala (CR).
Waktu Kerja :
Waktu kerja di poliklinik obstetri dan ginekologi setiap hari kerja (Senin
- Kamis dari jam 07.00 - 15.30. Hari Jumat dari jam 07.00 - 16.00).
Lama bertugas di Instalasi Poliklinik Obstetri dan Ginekologi sesuai
dengan daftar rotasi yang bergulir setiap bulan dan ditetapkan oleh
Ketua Program Studi.
Penilaian :
Penilaian para peserta PPDS dilakukan oleh konsulen poliklinik
berdasarkan pencapaian log-book dan diskusi.
2. Tugas dan wewenang.
a. Pelayanan.
Peserta PPDS melakukan pemeriksaan dan menangani kasus
sesuai dengan isi kurikulum dan tingkat kompetensi pada semester
masing-masing. Khusus bagi peserta PPDS-I semester VI - VIII
(Asisten Kepala) disamping tugas rutin, juga bertugas
mengkoordinasi kelancaran pelayanan dan menerima konsultasi
dari peserta tingkat semester dibawahnya. Pada setiap hari kerja di
poliklinik pendidikan PPDS-I bertugas seorang konsulen yang
memberi bimbingan dan konsultasi bagi para peserta. Konsultasi
kasus dari atau ke Departemen lain harus diketahui oleh konsulen
poliklinik. Konsultasi ke Devisi di Departemen Obstetri dan
Ginekologi dilakukan sepengetahuan peserta Asisten Kepala.
Semua peserta program diwajibkan membuat laporan harian
tentang jenis dan jumlah kasus yang ditangani, dan pada akhir
tahapan membuat laporan tentang apa yang telah dilakukan selama
bertugas di poliklinik.
b. Penelitian.
Peserta PPDS dapat ikut serta dalam proyek penelitian yang
dilaksanakan di poliklinik.
c. Pendidikan.
Peserta PPDS ikut serta dalam journal reading/presentasi kasus
yang diselenggarakan oleh konsulen poliklinik menurut jadwal yang
ditetapkan kemudian.
3. Panduan Pembelajaran di Ruang Rawat Inap.
Tujuan Pembelajaran :

171

Setelah melalui stase di ruang rawat inap, peserta PPDS I Obgin


diharapakan mampu untuk melakukan perawatan kasus obstetri dan
ginekologi, serta perawatan pra dan pasca bedah.
1. Organisasi.
a. Penanggung jawab umum ialah kepala unit perawatan dan kepala
ruang perawatan.
b. Penanggung jawab medik tiap ruangan ialah konsulen ruangan.
c. Peserta PPDS-I semester VI - VIII yang bekerja diruangan bertugas
sebagai Asisten Kepala yang mengkoordinasikan dan membantu
peserta PPDS-I tahap semester dibawahnya yang bertugas dalam
penangan pasien di ruangan.
d. Peserta PPDS-I tingkat semester I - V bertanggung jawab dalam
penangan pasien di ruangan dan laporan-laporan yang akan
diajukan dalam ronda ruangan dan konferensi klinik.
2. Tugas.
a. Konsulen ruangan akan melakukan ronda ruangan dua kali
seminggu yang disertai bimbingan dan bedside teaching. Diluar
ketentuan tersebut konsulen ruangan setiap waktu dapat
mengadakan pemeriksaan dan dimintai konsul.
b. Setiap peserta PPDS-I yang bertugas di ruangan perawatan obstetri
dan ginekologi menangani kasus yang sesuai dengan wewenang
tingkat masing-masing.
c. Setiap hari dibuat laporan perawatan pasien, dan kasus-kasus
dibukukan, kemudian disusun dalam sebuah buku laporan.
d. Setiap kasus yang dirawat harus diperiksa sekurang-kurangnya satu
kali sehari pada pagi hari oleh peserta PPDS-I dan satu kali sore
hari oleh peserta PPDS-I yang sedang jaga didampingi oleh
perawat yang bertugas dan mengikutsertakan mahasiswa P3D.
e. Setiap kasus diperiksa lengkap oleh peserta PPDS-I didampingi
oleh perawat. Penentuan diagnosis serta rencana penanganannya
harus disetujui oleh konsulen ruangan.
f. Kalau peserta PPDS-I berhalangan masuk kerja setelah
memberitahu Kepala Departemen yang didukung surat keterangan
sakit, pasien-pasien akan ditangani oleh PPDS-I lain yang diatur
oleh Asisten Kepala.
g. Setiap rencana tindakan atau operasi besar/kecil yang akan
dilakukan harus diketahui oleh konsulen ruangan.
h. Setiap peserta PPDS-I harus memberi konseling Keluarga
Berencana, baik sterilisasi maupun cara kontrasepsi lain.
i. Setiap peserta PPDS-I yang menangani pasien postpartum / nifas
harus memberi penerangan tentang perawatan bayi dan
pemberian ASI.

172

j. Dalam hal pencatatan dan pelaporan, setiap peserta PPDS-I yang


bekerja di ruangan harus menyelesaikan hal-hal sebagai berikut :
1) Pengisian Status perawatan lengkap, termasuk ikhtisar.
2) Melengkapi Maternity Care Monitoring untuk kasus obstetri
(persalinan dengan berat badan janin > 500 gram).
3) Melengkapi Hospital abortion record untuk kasus abortus,
mola dan kehamilan ektopik.
4) Mengisi Kartu kematian ibu jika kematian ibu terjadi dalam
perawatan.
5) Mengisi Indeks klinik ginekologi untuk kasus-kasus ginekologik
yang dirawat.
6) Pada akhir masa tugas setiap peserta PPDS I menyampaikan
laporan tertulis yang diketahui oleh konsulen ruangan tentang
jumlah dan jenis kasus yang ditangani selama bekerja di
ruangan perawatan kepada Ketua Program Studi Obstetri dan
Ginekologi.
7) Chief resident bertanggung jawab atas laporan Bed Occupation
Rate, Lenght of stay, Case Rate, Antibiotic using, Nosocomial
infection di ruangnya masing-masing setiap bulan dan
dilaporkan kepada Kepala Departemen, kepala instalasi, dan
kepala ruang perawatan.
3. Pendidikan.
a. Penanganan kasus di ruangan perawatan kelas II dilakukan oleh
peserta PPDS-I tingkat semester IV - V dan seorang Asisten
Kepala. Penanggung jawab dan pembimbing perawatan adalah
konsulen ruangan.
b. Peserta PPDS-I membantu perawatan kasus konsulen dalam
penanganan kasus di kelas II dan I swasta oleh konsulen.
c. Pasien di Ruangan didiskusikan diantara peserta PPDS dengan
dukungan kepustakaan.
d. Semua tinndakan yang dilakukan dicatat dalam buku kemajuan dan
ditanda tangani oleh Konsulen Ruangan.
e. Keterampilan yang diperlukan sesuai dengan tujuan modul diujikan
pada akhir stase dan dicatat pada Buku Log yang ditanda tangani
oleh Konsulen Ruangan.
4. Panduan Pembelajaran Pembedahan Gawat Darurat.
1. Tujuan Pembelajaran :
Peserta PPDS I Obgin diharapkan mampu untuk :
a. mengidentifikasi masalah gawat darurat dan menindaklanjutinya
berdasarkan indikasi dan syarat pembedahan secara tepat.
b. melakukan dan menjelaskan pemberian anestesi dan analgesi.
c. menjelaskan teknik pembedahan, perawatan pra dan pascabedah
secara tepat.

173

d. menjelaskan dan melakukan perawatan pada syok, gangguan


keseimbangan asan basa/elektrolit, gangguan pembekuan darah
dan transfusi darah.
e. menjelaskan dan melakukan tindakan resusitasi bayi baru lahir
secara tepat.
f. mengorganisir personil dan tata kerja di kamar bedah.
2. Uraian kegiatan pelayanan:
a. Mengidentifikasi dan merencanakan pembedahan secara tepat dan
terorganisir bersama paramedik, yang meliputi hal-hal sebagai
berikut :
1) Mendiagnosis kasus emergensi Obstetri dan Ginekologi dan
mementukan tindakannya.
2) Memberikan tindakan suportif yang diperlukan
3) Memberikan koseling terhadap pasien dan keluarganya, serta
menyiapkan izin operasi.
4) Menyiapkan darah.
5) Mengidentifikasi dan mengatasi masalah kardiopulmoner
dan bila perlu melakukan resusitasi yang diperlukaqn pada ibu
dan bayi, sebelum melakukan konsultasi dengan senior atau
konsulen dan Departemen terkait.
6) Berkomunikasi secara langsung (tertulis dan lisan) dengan
dokter anestesi dan paramedik kamar bedah serta dokter anak
bila diperlukan, mengenai jenis dan jadwal pembedahan.
7) Memberi instruksi lisan maupun tertulis kepada paramedik
mengenai obat, cairan, pengambilan darah dan urin untuk
dikirim ke laboratorium. Semua pengobatan harus dilaporkan
secara tertulis, terperinci, yaitu mengenai jenis, cara, dosis dan
saat pemberian.
8) Khusus tindakan seksio sesarea atas indikasi gawat janin harus
dapat dimulai kurang dari 30 menit setelah diagnosis gawat
janin dibuat.
9) Tindakan pembedahan dilakukan oleh peserta yang telah dinilai
mampu melakukannya dengan mempertimbangkan keadaan
pasien dan tingkat kesulitan operasi.
b. Asisten Kepala harus mampu mengantispasi dan mengetahui setiap
komplikasi pembedahan dan melaporkannya pada konsulen. Hasil
tindakan harus dilaporkan kepada konsulen DPJP (Dokter
Penanggung Jawab Pasien).
c. Pembedahan dilakukan di kamar bedah gawat darurat RSHS.
Tindakan sederhana dilakukan di kamar tindakan ruang gawat
darurat.
d. Perawatan pascabedah.
Instruksi diberikan dan perawatan pascabedah dilakukan di kamar
bedah gawat darurat oleh pembedah pada jam kerja. Diluar jam kerja

174

tugas tersebut dilakukan oleh dokter jaga peserta PPDS I semester


IV, V, VI, VII, dibawah kordinasi CR dan konsultasi dengan DPJP.
e. Peserta diwajibkan mengetahui hasil PA dan memeriksa bayi baru
lahir sampai pulang.
3. Uraian kegiatan pendidikan
a. Bimbingan operasi.
Bimbingan teknik operasi diberikan oleh konsulen dan Asisten
Kepala kepada peserta terutama pada gawat darurat
b. Semua tinndakan yang dilakukan dicatat dalam buku kemajuan dan
ditanda tangani oleh Konsulen Ruangan.
c. Keterampilan yang diperlukan sesuai dengan tujuan modul diujikan
pada akhir stase dan dicatat pada Buku Log yang ditanda tangani
oleh Konsulen Ruangan.
5. Panduan Pembelajaran Pembedahan Berencana
1. Tujuan Pembelajaran :
Peserta PPDS I diharapkan mampu untuk melakukan perencanaan,
persiapan dan tindakan pembedahan sesuai dengan kemampuan
tahap serta memahami cara-cara teknik pembedahan pada tingkat
lebih lanjut.
2. Uraian kegiatan pelayanan :
a. Peserta PPDS I yang bertugas di ruangan dan Kamar Bedah
harus memeriksa, menegakkan diagnosis dan merencanakan
pembedahan secara cermat.
b. Melengkapi pemeriksaan fisik dan penunjang dan persiapan
prabedah
1) Keadaan mental pasien.
2) Keadaan fisik pasien : keadaan umum, tensi, nadi, suhu,
paru-paru, jantung dan abdomen.
3) Menilai pemeriksaan laboratorium rutin : Hb, leukosit,
trombosit, pembekuan darah (PT dan aPTT), ureum,
creatinin, SGOT, SGPT, Natrium, Kalium. Pada pasien
kronis, dengan asites, gizi buruk, diperiksakan albumin,
sedangkan pada pasien tua diperiksakan gula darah puasa
dan 2 jam pp.
4) Urin : reduksi, protein, sedimen.
5) Foto torax : AP.
6) EKG.
7) Bila dianggap perlu, maka pemeriksaan tambahan berupa
tes faal paru.
8) Pemeriksaan pasien prabedah dilakukan bersama konsulen
sehari sebelum pembedahan.

175

c.
d.
e.
f.
g.

h.

i.

j.
k.
l.
m.
n.
o.

p.
q.
r.

9) Mengenal dan memeriksa ketersediaan berbagai jenis


instrumen yang akan digunakan untuk tiap jenis
pembedahan.
Melakukan konsultasi yang diperlukan untuk penilaian prabedah
Konsul pada Kosulen Ruangan atau Konsulen Divisi untuk
pemeriksaan dan penilaian prabedah
Memberikan konseling prabedah terhadap pasien dan
keluarganya, serta menyiapkan izin operasi.
Pembedahan berencana dilakukan setelah pasien dipersiapkan
dengan optimal dan dijadwalkan sehari sebelumnya.
Penjadualan dilakukan oleh Asisten Kepala yang bekerja di
Ruang Kemuning dengan memperhatikan indikasi operasi,
pemeriksaan prabedah oleh konsulen, kelayakan operasi serta
hasil konsultasi dengan bagiam penyakit dalam dan anestesi.
Tindakan pembedahan dilakukan oleh Tim yang disusun oleh
penjadual operasi dengan mempertimbangkan tingkat kesulitan
operasi dan kompetensi operator, kebutuhan supervisi dan
operasi peserta PPDS I.
Tim pembedahan terdiri dari sekurang-kurangnya :
1) seorang operator (konsulen/peserta PPDS-I).
2) seorang asisten dan circulating person
3) seorang dokter (konsulen/peserta PPDS-I) anestesi
4) seorang paramedik instrumentasi dan
5) seorang pembantu/instrumentasi.
Mengidentifikasi dan mengatasi masalah kardiopulmoner
Memberikan tindakan suportif yang diperlukan
Menyiapkan darah
Berkomunikasi secara langsung (tertulis dan lisan) dengan dokter
anestesi dan paramedik kamar bedah serta dokter anak bila
diperlukan, mengenai jenis dan jadwal pembedahan.
Asisten Kepala harus mampu mengantispasi dan mengetahui
setiap komplikasi pembedahan dan melaporkannya pada
konsulen. Ia harus melaporkan hasil tindakan kepada konsulen.
Perawatan pascabedah.
Peserta PPDSI yang bekerja diruangan harus mengetahui
temuan intra operatif, tindakan yang diberikan dan instruksi
pascabedah.
Pasien pascabedah harus mendapat pemeriksaan yang
seksama, baik klinis maupun pemantauan penunjang.
Setiap penyimpangan dari perkembangan keadaan prabedah
harus dilaporkan oleh Asisten Kepala kepada Konsulen yang
bersangkutan atau Konsulen Ruangan.
Peserta PPDSI yang bekerja diruangan diwajibkan mengetahui
hasil PA

176

s.
t.

u.
v.
w.

Dokter ruangan dan Asisten Kepala melakukan timbang terima


pada pertukaran jaga.
Laporan operasi sudah ditandatangani operator/konsulen
pembimbing operasi dalam waktu 2 x 24 jam setelah selesai
operasi. Bila laporan tersebut belum selesai ditandatangani
dalam 24 jam pertama, maka salinan laporan tersebut
dilampirkan pada catatan medik.
Penilaian selama bertugas di Instalasi Bedah Sentral dilakukan
oleh pembimbing operasi operator dan Konsulen penanggung
jawab Instalasi Bedah Sentral.
PPDS yang menjadi operator harus mengingatkan konsulen
pembimbing untuk mengisi penilaiannya (check list).
Laporan bulanan rekapitulasi jumlah dan jenis tindakan sudah
harus diselesaikan dalam minggu pertama bulan berikutnya.

3. Uraian kegiatan pendidikan


a. Bimbingan operasi.
Bimbingan teknik operasi diberikan oleh konsulen dan Asisten
Kepala kepada peserta terutama pada gawat darurat
b. Semua tindakan yang dilakukan dicatat dalam buku kemajuan dan
ditanda tangani oleh Konsulen Ruangan.
c. Keterampilan yang diperlukan sesuai dengan tujuan modul diujikan
pada akhir stase dan dicatat pada Buku Log yang ditanda tangani
oleh Konsulen Ruangan.
6. Panduan Pembelajaran Instalasi Gawat Darurat (IGD).
1. Tujuan Pembelajaran :
Peserta PPDS I sesuai dengan kemampuan tingkatnya, setelah
menyelesaikan tugas kerja di IGD diharapkan mampu untuk :
a.
Memeriksa penderita dan mengenal masalah kasus gawat
obstetri dan ginekologi dan membuat perencanaan
penanganannya.
b.
Memahami
patofisiologi
syok,
hasil
pemeriksaan
laboratorium, gangguan keseimbangan asam-basa/elektrolit
dan kelainan darah.
c.
Memahami masalah transfusi darah serta mampu memberi
dan mengawasi transfusi.
d.
Melakukan tindakan resusitasi.
e.
Melakukan pengamatan keadaan pasien gawat dan
mempergunakan peralatan khusus untuk pengamatan.
f.
Memberikan terapi dan melakukan tindakan penanganan
obstetri dan ginekologi pada kasus gawat sesuai dengan
tahapnya.
g.
Dapat mengorganisir personil dan tata kerja di Instalasi
Gawat Darurat.

177

2.

Uraian kegiatan Pelayanan


a. Pasien yang dirawat ialah pasien yang sedang dalam keadaan
terancam jiwanya. Asisten kepala atau peserta tingkat semester
IV atau V langsung menangani pasien tersebut dengan titik
berat kepada penyakit nilai risiko dan penanganan sesuai
kompetensi peserta PPDSI.
b. Paramedik IGD diberi tugas-tugas terperinci tertulis yang harus
diawasi ketat pelaksanaannya.
c. Perkembangan keadaan pasien harus dilaporkan kepada DPJP
paling lama 6 jam sekali dan hasil diskusi atau instruksi dicatat
dalam status yang ditandatangani oleh DPJP.
d. Semester VII (Tahap IV) yang bertindak sebagai manajer
harian yang mengatur dan mengawasi efisiensi dan efektivitas
kerja.
e. Tiap peserta menangani kasus yang sesuai dengan
wewenangnya dan pembagian tugas dilakukan oleh Semester
VII. Semester VII harus mengetahui setiap kasus yang
ditangani oleh peserta.
f. Seleksi setiap kasus baru tanpa pemeriksaan antenatal harus
dilakukan oleh Semester VII, kemudian ia menugaskan
penanganan kasus pada peserta yang berwenang sesuai
dengan kemampuannya.
g. Khusus kehamilan risiko tinggi ditangani oleh personil sesuai
dengan tahap kemampuannya dan sesuai pula dengan derajat
risiko kehamilan. Pembagian tersebut dilaksanakan untuk
kepentingan dan keselamatan pasien.
h. Catatan/tugas tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut :
a. Status vital,
b. Cairan masuk: jenis, jumlah tetesan dan banyaknya cairan
per 24 jam
c. Cairan keluar: Jenis, warna dan banyaknya.
d. Obat-obatan: jenis, cara pemberian dan dosis
e. Mobilisasi
f. Kebersihan perawatan
g. Pasien gawat: interval pengukuran tensi, nadi , nafas
setiap 15 menit
h. Pasien kurang gawat: interval pengukuran tensi, nadi,
nafas setiap 1-3 jam
i. Pemeriksaan laboratorium
j. Visite dengan konsulen tiap pagi
i. Pencatatan :
i. Setiap catatan pada rekam medik harus berupa
dokumentasi yang sebenarnya.

178

j.

ii. Rekam medik rumah sakit diisi oleh dokter,


mahasiswa dan paramedik.
iii. Rekam medik penelitian diisi langsung oleh peserta
yang menangani kasus tersebut.
iv. Catatan obstetrik (meternity care monitoring, formulir
kematian ibu dan formulir kematian perinatal).
v. Partogram diisi oleh pemeriksa pada saat pasien in
partu masuk.
vi. Penilaian risiko kehamilan diisi oleh dokter yang
memeriksa dan kemudian diteliti oleh Tahap IV atau
konsulen.
vii. Setiap kali peserta PPDS mengisi rekam medik pasien
harus diteliti kembali oleh PPDS yang lebih senior
atau konsulen.
viii. Tanggal, jam dan nama-nama pemeriksa harus ditulis
di rekam medik pada setiap kali pemeriksaan.
Pembagian Tugas, Wewenang dan Tanggung Jawab
i. Semester VII (Tahap III)
1. Bertindak sebagai manajer yang mengatur
kelancaran tugas mengatur pembagian kasus sesuai
dengan tahap peserta PPDS dan mengawasi disiplin
kerja dan pelaksanaan tugas anggota tim.
2. Menentukan kasus yang akan dikonsulkan ke Bagian
lain sepengetahuan konsulen.
3. Memeriksa dan menjawab konsultasi kasus dari
bagian lain sepengetahuan konsulen.
4. Membimbing tindakan pembedahan darurat peserta
tim jaga.
5. Memberikan penilaian jaga bagi anggota tim dan
membicarakannya pada konsulen.
6. Membimbing mahasiswa dan mendiskusikan laporan
jaga mahasiswa tahap II.
7. Membuat laporan pelaksanaan pelayanan medik
Gawat Darurat pada akhir masa tugas setiap
bulannya.
ii. Semester V VI (Tahap II)
1. Bertindak sebagai peserta PPDS yang berkonsultasi
dengan konsulen jaga.
2. Membantu pengawasan dan penanganan kasus oleh
tim yang lebih yunior.
3. Melakukan penanganan/pembedahan operatif sesuai
dengan wewenang dan kemampuannya.
4. Melakukan perawatan/pengawasan kasus khusus
yang ditentukan oleh Konsulen.

179

5.

iii.

iv.

v.

vi.

Membimbing mahasiswa dan mendiskusikan laporan


jaga mahasiswa tahap I.
6. Bertanggung jawab kepada peserta PPDS Semester
VIII atas pelaksanaan tugas yang diberikan.
7. Sesuai dengan penugasan pada modul Subbagian,
peserta PPDS ini bertanggungjawab pula untuk
melakukan penanganan perawatan kasus yang
terkait dengan Divisinya (Semester VI)
Semester IV (Tahap II)
1. Menerima dan memeiksa kasus yang datang di
Poliklinik Gawat Darurat.
2. Melakukan penanganan perawatan/pengawasan
Gawat Darurat termasuk perawatan khusus sesuai
dengan wewenang dan kemampuannya.
3. Melakukan
penanganan
Operatif/Pembedahan
Gawat Darurat sesuai dengan wewenang dan
kemampuannya.
4. Bertanggung jawab kepada peserta PPDS Tahap IV
(Semester VIII) atas pelaksanaan tugas yang
diberikan.
Semester III (Tahap II)
1. Bertindak sebagai pelapor pada Konferensi Klinik.
2. Melakukan penanganan perawatan/pengawasan
Gawat Darurat sesuai dengan wewenang dan
kemampuannya.
3. Melakukan
penanganan
Operatif/Pembedahan
Gawat Darurat sesuai dengan wewenang dan
kemampuannya.
4. Mengawasi dan memeriksa kasus yang dirawat di
IRNA bagian Obstetri Ginekologi pada waktu dinas
jaga.
5. Bertanggung jawab kepada peserta PPDS Semester
VII atas pelaksanaan tugas yang diberikan.
Semester II (Tahap I)
1. Melakukan perawatan/pengawasan Gawat Darurat
sesuai dengan wewenang dan kemampuannya.
2. Melakukan
penanganan
Operatif/Pembedahan
sesuai dengan wewenang dan kemampuannya.
3. Bertanggung jawab kepada Semester VII atas
pelaksanaan tugas yang diberikan.
Semester I (Tahap I)
1. Melakukan perawatan/pengawasan Gawat Darurat
sesuai dengan wewenang dan kemampuannya.
2. Melakukan penanganan operatif/pembedahan sesuai
dengan wewenang dan kemampuannya.

180

3.

Bertanggung jawab kepada Semester VIII (Tahap III)


atas pelaksanaan tugas yang diberikan.

3. Uraian kegiatan pendidikan


a.
Bimbingan operasi.
Bimbingan teknik operasi diberikan oleh konsulen dan Asisten
Kepala kepada peserta PPDS I terutama pada pasien gawat
darurat
b) Semua tindakan yang dilakukan dicatat dalam buku kemajuan
dan ditanda tangani oleh Konsulen Ruangan.
c) Keterampilan yang diperlukan sesuai dengan tujuan modul
diujikan pada akhir stase dan dicatat pada Buku Log yang
ditanda tangani oleh Konsulen Ruangan.
d) Penilaian tugas kerja di Instalasi Gawat Darurat (IGD)
merupakan hasil akhir dari penilaian yang berasal dari Visite,
Pengetahuan, sikap dan perilaku saat melakukan
penatalaksanaan pasien di IGD, Bimbingan/tutorial.
7. Panduan Pembelajaran saat Ronda Besar dan Ronda Pendidikan.
1.
Tujuan Pembelajaran
Setiap Peserta PPDS I sesuai dengan kemampuan tingkatnya,
diharapkan mampu untuk :
a. Menjelaskan keadaan ruang perawatan pada saat Ronda besar
(visite besar) dalam hal :
i. Okupasi (corak penderita yang sedang dirawat).
ii. Perawatan dan
iii. Hal-hal non medik (administratif, kinerja staf dan sarana
fisik di setiap unit pelayanan).
b. Mengetahui dan menjelaskan perawatan penderita dengan
memperlihatkan kebutuhan penderita pada saat ronda pendidikan
(pendidikan di samping tempat tidur penderita/bed side teaching).
2.

Uraian kegiatan :
a. Ronda besar
meliputi segala aspek perawatan.
1) Semua penderita dengan statusnya ditinjau dan kalau perlu
dibicarakan kasus demi kasus.
2) Meninjau keadaan di ruangan.
3) Meninjau semua aspek fisik yang berhubungan dengan
perawatan.
4) Tata cara ronda besar.
a. Hari Ronda Besar adalah : Senin dan Kamis
Hari Senin waktu ronda : jam 09.00 - 11.00 dipimpin Kepala
Departemen, Sekretaris Departemen atau anggota staf
yang ditunjuk. Konsulen melakukan ronda besar dan

181

melihat setiap pasien yang dirawat. Dalam ronda pendidikan


semua peserta yang bekerja di ruangan ikut hadir. Demikian
pula ko-asisten, para konsulen ruangan, kepala perawatan
dan unsur-unsur yang sedang berada di Departemen,
seperti peserta pendidikan patologi anatomi. Dalam ronda
besar tersebut peserta yang bersangkutan mengajukan
masalah dan berdiskusi tentang kasus yang ditanganinya.
Hari Kamis waktu ronda : jam 08.00 - 10.00 dipimpin salah
seorang dari Koordinator Fungsional Bidang Pendidikan,
Koordinator Fungsional Bidang Pelayanan, KPS Obstetri
dan Ginekologi atau anggota staf yang dirunjuk. Ronda
besar ini diikuti hanya oleh asisten, koasisten dan perawat
yang bertugas di ruangan masing-masing. Para peserta
mempersiapkan beberapa kasus di ruangan yang akan
diajukan. Kasus-kasus yang dipilih ialah kasus-kasus yang
sangat menarik dan kasus-kasus yang membutuhkan
konsultasi lebih lanjut, yang ditinjau dan dibahas dalam
segala aspeknya oleh pimpinan ronda. Kasus-kasus
tersebut sebelumnya telah dibicarakan oleh peserta dengan
konsulen ruangan yang bersangkutan.
b. Setelah masalah dengan peserta didik selesai, baru
diberi kesempatan kepada staf medik dan non-medik
unit pelayanan untuk memberikan masukan kepada
pimpinan visite.
c. Apabila dianggap perlu maka setiap kasus yang
dianggap menarik, luar biasa atau jarang dapat
diusulkan untuk dibicarakan dalam konferensi ilmiah.
d. Apabila perlu maka pimpinan visite dapat memberikan
penilaian terhadap kinerja individu / tim dalam suatu unit
pelayanan.
e. Pencatat : Seorang paramedik senior yang bertugas
mencatat segala temuan atau penilaian yang dilakukan
dalam visite besar
b. Ronda pendidikan
1) Ronde dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah
disepakati oleh Tim unit tertentu.
2) Pada saat visite maka seluruh peserta didik yang tergabung
dalam Tim wajib hadir, kecuali apabila ada kegiatan lain
yang bersifat darurat. Dalam ronde tersebut peserta didik
diberikan kesempatan untuk mengajukan permasalahan
medik maupun non medik pada seluruh kasus yang sedang
dirawat oleh Tim di berbagai unit. Dalam visite akan
dilakukan diskusi mengenai berbagai hal yang menyangkut

182

3)
4)

masalah keilmuan dan aplikasi klinis yang terkait dengan


penanganan pasien untuk mendapatkan gambaran tingkat
pengetahuan, sikap dan perilaku dari peserta didik.
Apabila dianggap perlu maka setiap kasus yang dianggap
menarik, luar biasa atau jarang dapat diusulkan untuk
dibicarakan dalam konferensi ilmiah.
Pimpinan visite wajib memberikan penilaian terhadap
kinerja individu / tim dalam suatu unit pelayanan.

8. Panduan Pembelajaran di Kamar Tindakan dan Kamar Bersalin


1. Tujuan Pembelajaran :
Setiap Peserta PPDS I sesuai dengan kemampuan tingkatnya, setelah
selesai masa tugas di kamar tindakan dan kamar bersalin diharapkan
mampu untuk :
a. Melakukan pemeriksaan obstetri/ginekologi serta pertolongan
persalinan normal (semester I).
b. Melakukan secara tepat pemberian cara-cara anestesi (semester
I).
c. Melakukan penanganan kasus patologik
d. Melakukan secara tepat pembedahan obstetri/ ginekologi.
e. Bertindak sebagai manager/asisten kepala dalam hal-hal medik
(semester VII - VIII).
2. Uraian kegiatan.
a. Organisasi.
1) Peserta tingkat semester VII - VIII merupakan Asisten Kepala
yang bertindak sebagai manager harian yang mengatur dan
mengawasi efisiensi dan efektivitas kerja di kamar tindakan,
kamar bedah dan kamar isolasi. Bila tidak ada peserta
semester VII - VIII maka peserta semester VI mengambil alih
tugas tersebut.
2) Tiap peserta menangani kasus yang sesuai dengan
kewenangannya dan pembagian tugas dilakukan oleh Asisten
Kepala.
3) Seleksi setiap kasus baru/tanpa pemeriksaan antenatal harus
dilakukan oleh asisten Kepala, kemudian ia menugaskan
penanganan kasus pada peserta yang berwenang sesuai
dengan kemampuannya.
4) Khusus kehamilan risiko tinggi ditangani oleh peserta PPDS I
sesuai dengan tingkat kemampuannya dan sesuai pula
dengan derajat risiko kehamilan. Pembagian tersebut
dilaksanakan untuk kepentingan dan keselamatan pasien.
3. Kegiatan Pelayanan.

183

2.

3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

12.

Asisten Kepala melakukan ronda dan melihat setiap pasien


yang dirawat di kamar tindakan, kemudian melaporkan dan
mendiskusikannya dengan Konsulen Kamar Bersalin Waktu
ronda : jam 08.00 - 08.30 setiap hari, kecuali hari libur. Hari
libur ronda dipimpin Asisten Kepala.
Asisten Kepala melakukan ronda pada waktu pergantian jaga,
yaitu jam 7.00 dan jam 15.30 dan melakukan timbang terima
dengan dokter jaga.
Setiap pasien baru harus diperiksa mulai dari anamnesis,
status generalis, status obstetri atau ginekologi, kemudian
dibuat diagnosis dan rencana pengelolaannya.
Dilakuan observasi pasien sesuai dengan keperluan medik
pasien. Partogram dibuat saat observasi pasien.
Peserta PPDS I memeriksa dan menyediakan kelengkapan
alat untuk pertolongan.
Peserta PPDS I melakukan koordinasi dan konsultasi
dengan departemen terkait untuk pengelolaan pasien
Semua data yang diperoleh dicatat pada status pasien
dengan baik dan benar.
Data pasien dicatat pada buku register.
Kasus kematian ibu dan perinatal dicatat pada buku khusus.
Instruksi harus diberikan secara tertulis dan jelas mengenai :

Cairan masuk : jenis, jumlah tetesan, dan jumlah


cairan dalam 24 jam.

Pencatatan cairan keluar : jenis, warna dan


banyaknya.

Obat-obatan : cara pemberian dan dosisnya.

Mobilisasi.

Perawatan kebersihan.

Pasien gawat : pengukuran tensi, nadi dan nafas


setiap 15 menit.

Pasien kurang gawat : pengukuran tensi, nadi dan


nafas setiap 1 - 3 jam.

Pemeriksaan laboratorium.

Pengawasan denyut jantung janin dan his.

Rawat gabung bayi baru lahir (rooming-in), dalam


hal ini PPDS-I tahap semester I-II diharuskan ikut
mengatur pelaksanaan pengiriman bayi keruangan
dan mengetahui kondisi bayi tersebut.
Tindakan medik dilakukan oleh peserta PPDSI, sedangkan
paramedik mengadakan kajian dan tindakan keperawatannya.

4. Kegiatan Pendidikan

184

a.
b.
c.
d.
e.

Pasien menarik dan pasien sulit dibicarakan oleh peserta


PPDSI dibawah bimbingan Konsulen Kamar Bersalin atau
Konsulen Jaga.
Peserta PPDSI melatih kembali keterampilan obstetrinya
dengan bimbingan konsulen Kamar Bersalin.
Bimbingan penangan dan tindakan kasus sulit diberikan setiap
waktu oleh Konsulen Kamar Bersalin dan Konsulen Jaga.
Semua tindakan dicatat dalam buku kemajuan dan ditanda
tangani oleh Konsulen Kamar Bersalin.
Pada akhir stase dilakukan ujian sesuai Modul dan dicatat
dalam Buku Log yang ditandatangani oleh Konsulen Kamar
Baersalin

9. Pengaturan Tugas Jaga


1. Tim jaga terdiri dari peserta tahap semester I VIII
2. Waktu Dinas Jaga :
i. Hari biasa : mulai jam 15.30 s/d 07.00 esok harinya.
ii. Hari libur : mulai jam 07.00 s/d 07.00 esok harinya.
3. Pembagian tugas jaga :
1) Residen kepala/Chief Resident (CR)(Semester VII/VIII)
a) Mengawasi efektivitas dan efisiensi kerja tim.
b) Tempat konsultasi terakhir sebelum masalah diajukan
kepada konsulen jaga.
c) Mengelola konsultasi antar Departemen
d) Bertanggung jawab atas penatalaksanaan pasien IGD
dan di ruang perawatan Departemen Obstetri dan
Ginekologi selama jam jaga.
e) Mengetahui seluruh kasus yang dikelola saat jaga.
f) Bertanggung jawab terhadap kebenaran isi status
pasien selama jaga.
2) Tahap Semester V - VI :
Bertindak sebagai jaga utama (Jaga III).
a) Bertanggung jawab, mengatur dan mengawasi
efektivitas dan efisiensi kerja tim jaga.
b) Mengajukan laporan dan konsultasi kepada Asisten
Kepala.
c) Bertanggung jawab atas penatalaksanaan pasien IGD
dan di kamar bersalin/tindakan sesuai dengan
kompetensinya.
d) Membacakan laporan jaga pada morning report.
e) Mengelola konsultasi dari ruang perawatan.
f) Membuat status pasien
yang dikelola sesuai
tingkatannya.
3) Tahap semester II- IV :

185

a)

Bertanggung jawab atas penata-laksanaan pasien IGD


dan di kamar bersalin/tindakan sesuai dengan
kompetensinya.
b) Membacakan laporan jaga pada morning report
c) Mengelola konsultasi dari ruangan perawatan.
4) Tahap semester I :
a) Menyelenggarakan penatalaksanaan pasien di kamar
bersalin (kasus fisiologi).
b) Menyelenggarakan penatalaksanaan pasien di kamar
tindakan, sesuai dengan kemampuannya.
c)
Membacakan laporan jaga pada morning report
5) Konsulen jaga Departemen Obstetri - Ginekologi RSHS adalah
Konsulen onsite. Konsulen onsite menerima konsultasi dokter
jaga mengenai pasien di IGD, Kamar operasi dan ruang
pemulihan, kamar bersalin, ruang perawatan dan ICU selama
periode jaga.
6) Setiap peserta dinas jaga diwajibkan :
a) Memberikan bimbingan kepada mahasiswa yang
bertugas di Departemen Obstetri - Ginekologi RSHS.
b) Membuat laporan jaga didalam buku laporan jaga.
c)
Hadir dan memberikan rangkuman pasien jaga dalam
morning report pada pagi hari berikutnya, serta
konferensi klinik setiap hari Senin dan Kamis.
10. Panduan Konferensi Klinik
1.

2.

Tujuan :
Memberikan kesempatan untuk semua unsur Departemen
mengetahui kegiatan bidang pelayanan masyarakat, pendidikan,
penelitian/pembangunan, serta administasi / keuangan.
Uraian kegiatan :
a. Kegiatan Konferensi Klinik (KK) diselenggarakan 2 kali
seminggu pada hari Senin dan Kamis jam 13.00 - 14.00
membahas permasalahan yang tercakup dalam tujuan diatas.
Konferensi dipimpin oleh Kepala Departemen atau salah
seorang staf yang ditunjuk untuk mewakilinya. Pada awal bulan
konferensi klinik diisi dengan laporan bulanan.
b. Kehadiran :
Semua peserta PPDS-I diwajibkan hadir, kecuali sedang
menolong kasus gawat darurat, atau alasan kuat yang dapat
diterima Ketua Program Studi. KK dihadiri juga oleh para staf
pengajar, serta staf paramedik yang berkaitan dengan
kegiatan-kegiatan tersebut.
c. Agenda konferensi klinik

186

Pada konferensi klinik dibicarakan:


1) Rencana dan pelksanaan operasi terencana
2) Pasien ICU
3) Kasus khusus dari ruangan dan poliklinik
4) Presentasi singkat tentang topik tertentu sesuai
penugasan.
5) Masalah pelayanan, penelitian dan pendidikan yang
penting
6) Kemajuan dalam supervisi dan ujian keterampilan.
7) Laporan bulanan :
a) Cakupan pelaporan kegiatan pelayanan :
i. Dinas kamar bersalin/tindakan.
ii. Kegiatan operasi terencana.
iii. Pelayanan rawat jalan.
iv. Kegiatan pelayanan :
Obstetri Umum.
Ginekologi Umum.
Onkologi.
Perawatan Kesuburan ; KB dan
Infertilitas.
Feto-Maternal.
Endokrinologi.
Bedah rekonstruksi.
Obstetri-Ginekologi Sosial.
v. Kegiatan di Rumah Sakit lainnya :
RSU. Majalaya.
RSU. Sumedang
RSU. Ujungberung
RSU. Cibabat
RSB. Astana Anyar
RSU. Cianjur
RSU. Samsudin SH Sukabumi
RSU. Garut
RSU. Soreang
RSU Subang
RSU Ciawi
RSU Waled Cirebon
RSU Kefamenanu NTT
b) Cakupan pelaporan administrasi dan keuangan :
Administrasi
dan
Keuangan
(Sekretaris
Departemen / Koordinator Fungsional Bidang
Administrasi dan Keuangan) :

Terapan
ketentuan/perubahan
administrasi/keuangan.

187

Pembiayaan
kegiatan
dan
pembekalan.

Masalah-masalah penting lainnya.


c) Cakupan pelaporan kegiatan penelitian :
Pendidikan
S0/S1/Sp1/S3
(Koordinator
Fungsional Bidang Pendidikan/wakilnya).
d) Cakupan pelaporan kegiatan penelitian :

Penyelenggaraan penelitian baru


(Koordinator
Fungsional
Bidang
Penelitian).

Permasalahan pelaksaan penelitian


(idem).

Penyelesaian penelitian tesis peserta


(pembimbing
penelitan
yang
bersangkutan).
e) Cakupan pelaporan kegiatan pengabdian pada
masyarakat :
Pengabdian pada masyarakat (Koordinator
Fungsional
Bidang
Pengabdian
pada
Masyarakat).
3. Pelaksanaan Konferensi Klinik :
a. Pelaporan harus sudah mempersiapkan laporan sebelumnya
dengan memperhatikan kejelasan serta batas waktu yang
tersedia. Peserta PPDS-I yang tahapannya ditetapkan di atas,
harus menulis semua laporan kegiatan dalam buku yang
tersedia dengan memperhatikan hal berikut:
1) Pembicaraan dengan konsulen sebelumnya.
2) Penekanan laporan sesuai hasil pembicaraan.
3) Kelengkapan data dalam buku laporan/
4) Penetapan Departemen yang diajukan secara lisan,
singkat dan jelas serta mencakup pengumpulan dana
subjektif dan objektif, pengamatan, penyimpulan serta
penyelesaian.
5) Bilamana perlu, mempersiapkan penyajian data khusus :
foto radiologik, ultrasonografi, slide dan sebagainya.
b. Laporan harus dapat dikelompokkan menurut jenisnya :
1) Laporan klasik dan singkat :
a. Persalinan spontan.
b. Abortus.
c. Perdarahan antepartum yang jelas.
d. Ketuban pecah dini tanpa penyulit.
e. Kehamilan ektopik terganggu.
f. Ekstraksi cunan/vakum tanpa penyulit.

188

g. Perdarahan psca persalinan.


h. Sterilisasi.
i. Tumor dan peradangan panggul.
j. Mola-hidatidosa.
k. Visum et repertum kejahatan susila.
l. Traumatologi sederhana.
2) Laporan khusus dan lengkap :
a. Disproporsi janin panggul.
b. Gestosis.
c. Infeksi obstetrik.
d. Syok obstetrik
e. Persalinan letak lintang.
f. Semua laparotomi.
g. Semua penyulit kasus-kasus obstetri diatas.
h. Kematian ibu, perinatal.
i. Konsultasi dimeja operasi.
j. Gawat janin.
c. Masalah lain dilaporkan secara singkat, karena konferensi klinik
sedapat mungkin berakhir pada jam 14.30
11. Panduan Pembelajaran saat Dinas di Rumah Sakit Satelit.
PPDS I Obstetri dan Ginekologi Universitas Padjadjaran memakai 13
Rumah Sakit Satelit sebagai lahan pendidikan, yaitu Rumah Sakit :
RSU Majalaya, RSU Sumedang, RSU Ujung Berung, RSU Cibabat,
RSU Cianjur, RSU Garut, RSU Samsudin SH Sukabumi, RSU Soreang,
RSB. Astana Anyar, RSU Ciawi, RSU Waled Cirebon, RS Kefamenanu
NTT dan RSU Subang.
1.

Tujuan Pembelajaran :
a. Setiap Peserta PPDS I sesuai dengan kemampuan
tingkatnya, setelah selesai masa tugas di Rumah Sakit
Satelit diharapkan mampu untuk :
b. memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat di
bidang obstetri dan ginekologi dengan sarana yang ada di
RSU Tingkat Kabupaten.
c. menjelaskan struktur organisasi Dinas Kesehatan Tingkat
Kabupaten/Kota, termasuk RSU Tingkat Kabupaten/Kota.
d. mengelola sistem pembinaan rujukan obstetri dan ginekologi.

2. Uraian kegiatan :
a. Kegiatan di Rumah Sakit Satelit diawali dengan melapor ke
Kepala SMF Obgin dan Direktur Rumah Sakit Satelit.
b. Menanda tangani perjanjian kerja dengan Kepala SMF Obgin
dan diketahui oleh Direktur Rumah Sakit Satelit. .

189

c.

d.

e.

f.

g.

h.

Kegiatan pelayanan medik :


1. Menangani kasus poliklinik, kamar bersalin, kamar
bedah, dan ruang perawatan dengan memperhatikan
tingkat urgensi pelayanan. Pembagian waktu kerja diatur
untuk saling mengisi sehingga semua kegiatan obstetrik
dan ginekologik dapat dikerjakan dengan baik dan harus
dilaporkan kepada konsulen, baik siang maupun malam.
2. Untuk kasus yang sukar atau memerlukan tindakan
khusus, harus segera dilaporkan kepada konsulen. Pada
tindakan bedah pertama peserta harus didampingi oleh
konsulen RSU (seksio sesarea, kehamilan ektopik
terganggu, histerektomi dan lain-lain), sekalipun telah
lulus ujian tindakan tersebut. Operasi akut selanjutnya
dapat dilakukan sendiri tergantung dari penilaian
konsulen pada saat operasi pertama.
Kegiatan ilmiah :
1. Mengikuti/memberikan kuliah, khusus pada acara ilmiah
Rumah
Sakit/IDI
Cabang
Kabupaten
yang
bersangkutan.
2. Memberi ceramah pembinaan pada tenaga pelaksana
pelayanan obstetri dan ginekologi Kabupaten yang
bersangkutan.
3. Mengadakan presentasi kasus di Rumah Sakit Satelit
Kegiatan pendidikan :
1. Mendidik
mahasiswa/siswi
bidan/perawat
dalam
menangani kasus di poliklinik, kamar bersalin, kamar
bedah dan ruang perawatan.
2. Mengikuti diskusi dan berdiskusi pada laporan
Departemen.
3. Mengikuti diskusi dan berdiskusi pada presentasi kasus
mahasiswa.
Kegiatan administratif :
1. Mengawasi/membuat sendiri status lengkap di poliklinik,
kamar bersalin dan ruang perawatan.
2. Mengawasi/membuat sendiri laporan bedah.
3. Membuat laporan bulanan.
4. Mengikuti apel pagi yang diadakan di halaman depan
RS.
5. Mengikuti kegiatan-kegiatan lain yang melibatkan
seluruh unsur rumah sakit.
Waktu tugas :
Peserta PPDS I ditugaskan di salah satu RS. Satelit selama 2
minggu. Meninggalkan RS Satelit hanya dibenarkan dengan
seijin konsulen RS yang bersangkutan.
Penilaian

190

Konsulen Satelit memberikan penilaian meliputi hal-hal yang


tercantum dalam Daftar Penilaian.
D. Panduan Kegiatan Akademik
Tujuan Kegiatan Akademik :
Menambah dan menyegarkan pengetahuan obstetri dan ginekologi, serta
meningkatkan kemampuan pengenalan dan analisis permasalahan medik
yang dihadapi, serta membahas masalah-masalah yang penting untuk
diketahui.
Keterampilan kegiatan akademik secara garis besar terbagi dalam tiga
domain :

Ketrampilan penelitian dasar dan penerapannya

Pengelolaan penelitian dan

Kemampuan komunikasi.
Ketrampilan itu dipelajari dalam bentuk kegiatan akademik yang meliputi:
A. Morning report
B. Presentasi kasus
C. Journal reading
D. Konferensi Khusus: Kematian Ibu, Perinatal, Pertemuan klinikopatologi
E. Tesis
1.

Morning report
1. Pertemuan ini dilakukan mulai jam 7.00, kecuali :

hari Senin jam 6.30, yang membahas kasus-kasus jaga


hari sebelumnya, dipimpin oleh konsulen onsite,

hari Rabu kasus jaga langsung dilaporkan pada konsulen


onsite.
2. Residen jaga membacakan resume pasien jaga yang dikelolanya.
3. Setiap hari Selasa dan Jumat, presentasi dan diskusi
diselenggarakan berbahasa Inggris.
4. Semua peserta PPDS-I diwajibkan hadir dengan daftar hadir,
kecuali sedang menolong kasus gawat darurat, atau mempunyai
alasan yang dapat diterima Ketua Program Studi.

2.

Presentasi Kasus (PK) atau laporan kasus :


Merupakan kegiatan penulisan serta penyajian kasus baik dalam bidang
obstetri maupun ginekologi yang memiliki masalah baik dalam aspek
diagnostik, penanganan, pencegahan maupun kemajuan teknologi yang
berkaitan dengan kasus tersebut dalam suatu forum ilmiah. Upaya
pembahasan pada akhirnya dapat digambarkan dalam suatu alur
penatalaksanaan baik yang terkait dengan upaya diagnostik maupun
penatalaksanaan.

191

Penyelenggaraannya adalah sebagai berikut :


a. Pertemuan ini dibahas tentang masalah diagnostik/terapeutik,
ketajaman pengamatan, kemungkinan pencegahan, ataupun
kemajuan teknologi yang berkaitan dengan kasus yang didukung
oleh journal terbaru.
b. Kasus-kasus yang akan dibicarakan pada Presentasi Kasus
dapat ditentukan dalam konferensi klinik atau divisi, ronde besar,
diskusi dengan pembimbing atau oleh penyelenggara pendidikan
dan penjadualannya akan ditentukan oleh KPS.
c. Bahan Presentasi Kasus yang telah selesai disusun akan
diajukan dalam konferensi Presentasi Kasus minimal 1 kali
pada masa pendidikan Tahap II yang merupakan prasyarat
bagi tiap peserta didik untuk naik ke tahap III dan minimal 1
kali pada masa pendidikan tahap III yang merupakan pra
syarat bagi tiap peserta didik untuk naik ke tahap IV.
d. Seorang residen menyajikan kasusnya, dipimpin oleh seorang
moderator dan didampingi 4 orang panelis dari peserta didik
tahap III (semester V VII) yang sudah mempelajari bahan yang
akan disajikan, sehingga mampu menyiapkan tanggapan
sebelumnya..
e. Dilakukan setiap hari Selasa dan Jumat pada jam 13.00.
f. Satu diantara presentasi yang dilakukan diselenggarakan dalam
bahasa Ingrris.
g. Sebelum disajikan, naskah penyajian tersebut harus
dikonsultasikan dahulu pada konsulen yang ditunjuk sebagai
narasumber yang diatur oleh KPS, minimal 2 minggu sebelum
presentasi.
h. Naskah penyajian harus disampaikan pada konsulen, moderator
dan nara sumber selambat-lambatnya 2 hari sebelum jadwal
konferensi ilmiah dalam bentuk hard copy untuk narasumber dan
atau undangan dari luar Departemen, serta 4 orang konsulen
penilai, sedangkan untuk konsulen lainnya diberikan soft copy.
i. Jadual konsulen yang wajib hadir : narasumber dan 4 orang
konsulen sebagai komentator/penilai.
Semua peserta PPDS-I diwajibkan hadir, kecuali sedang menolong
kasus gawat darurat, atau mempunyai alasan yang dapat diterima Ketua
Program Studi.
Penilaian
a.
Yang berhak menilai adalah moderator dan komentator
(Konsulen).
b.
Penilaian didasarkan atas pengetahuan, sikap dan perilaku dari
individu / Tim yang menyajikan kasus.

192

c.

Penilaian akan diberikan apabila penyaji telah melengkapi


seluruh persyaratan yang ditetapkan pada saat konferensi, baik
berupa perbaikan makalah maupun hal-hal lainnya.
Pihak penyelenggara pendidikan hanya akan mengeluarkan nilai
bagi peserta PPDS apabila bahan makalah yang telah diperbaiki
beserta dengan dokumentasinya dalam bentuk disket atau
compact disc telah diserahkan ke Bagian Pendidikan untuk
didokumentasikan ke dalam file masing-masing peserta didik.
Penilaian konferensi ilmiah merupakan prasyarat untuk
kenaikkan tahap peserta didik ke semester berikutnya.
Penilaiannya dilakukan berdasarkan :

d.

e.
f.
3.

Journal reading dilakukan pada pertemuan di Divisi

4.

Konferensi Khusus:
a. Konferensi Kematian Ibu (KKI) :
Masalah klinik diluar RSHS (perujuk), segi-segi non-klinik yang
berpengaruh, kemungkinan penyebab kematian, pencegahan dan
aspek medikolegal.
b. Konferensi kematian Perinatal (KKP) :
Masalah klinik sebelum kelahiran, penata-laksanaan segera
sesudah kelahiran, analisa penyebab kematian, dan pencegahan.
c. Konferensi Patologi Anatomi (KPA) :
Kaitan gambaran klinik dan histopatologi, dampak perencanaan
tindak lanjut, dan penata-laksanaan kasus.

5.

Tesis
Tesis dibuat mengacu pada pedoman dari Universitas Padjadjaran dan
sesuai dengan pedoman yang dikeluarkan oleh Kelompok Fungsional
Bidang Penelitian Departemen Obstetri dan Ginekologi FK Unpad pada
buku Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah Departemen Obstetri dan
Ginekologi FK Unpad.
A.

Seminar presentasi kasus


Tujuan seminar presentasi kasus adalah : setelah membuat laporan
kasus peserta diharapkan menguasai kemampuan dalam
menggunakan sumber keterangan sebanyak-banyaknya untuk
menganalisis kasus yang telah selesai ditangani.
Kerangka laporan kasus
Abstrak
Memuat keterangan secara singkat namun informatif mengenai
permasalahan apa yang akan dibahas. Jumlah kata pada abstrak
tidak lebih dari 150 dan menggunakan kaidah IMRAD.

193

Pendahuluan
Pendahuluan harus singkat serta menjelaskan tujuan yang ingin
dicapai dengan penanganan yang baik pada kasus yang dihadapi
Riwayat kasus
Riwayat kasus yang diajukan dalam bentuk resume medik yang
mencakup :
Data dasar.
Daftar masalah.
Uraian masalah.
Rencana penanganan awal .
Catatan kemajuan.
Tinjauan pustaka
Memuat mengenai dasar keilmuan serta teori-teori yang akan
digunakan sebagai dasar pembahasan kasus. Diharapkan teori-teori
tersebut diambil dari buku teks maupun jurnal.
Pembahasan
Hendaknya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut
:
- Apakah masalah / persoalan yang ada ?
- Mengapa demikian ?
- Bagaimana mengatasinya ?
- Penilaian masalah ?
Definisi masalah : deviasi dari standar yang merangsang kita untuk
bertindak.
Untuk mengetahui standar dan adanya deviasi gunakanlah sumbersumber keterangan sebaik-baiknya (kepustakaan, konsultasi dan
sebagainya).
Rujukan
Rujukan tidak dibatasi jumlahnya, disusun menurut nomor urut
pemunculan dalam naskah, sesuai dengan tata cara penulisan
Vancouver. Minimal 2 text book dan 4 jurnal terbaru dengan
maksimal 5 tahun. Semua nama yang ditulis pada diskusi harus ada
dalam daftar rujukan dan sebaliknya.
B.

Forum Ilmiah Lokal, Nasional, Regional, maupun Internasional


Diharapkan peserta didik mampu tampil dalam suatu forum ilmiah,
baik yang berskala Lokal, Nasional, Regional, maupun Internasional.
Setiap hasil penelitian yang dihasilkan oleh peserta didik baik hasil
tesis maupun di luar tesis dapat diajukan dalam forum ilmiah dalam

194

acara Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) atau Kongres Obstetri dan


Ginekologi (KOGI) atau forum ilmiah lainnya. Setiap peserta wajib
minimal tampil 1 kali dalam suatu acara forum ilmiah pada acara PIT
/ KOGI.
C.

Sari Pustaka.
1) Sari pustaka mengenai topik yang merupakan kajian pustaka
penelitian yang akan dimulai dan dipresentasikan oleh calon
peneliti tersebut.
2) Peserta sejak tahap I akhir hendaknya telah memilih suatu topik
dalam bidang obstetri dan ginekologi yang akan dibahas di
dalam sidang sari pustaka beserta dengan pembimbingnya dari
staf pengajar Bagian Obstetri dan Ginekologi atau bagian yang
lain dan hal ini harus dilaporkan kepada penyelenggara
pendidikan untuk didokumentasi.
3) Untuk Sari Pustaka, maka tulisan yang dibuat akan berisikan :
abstrak, pendahuluan, tinjauan pustaka serta kesimpulan.
Jumlah kata dalam pembuatan tulisan berkisar lebih kurang
3000 + 10% (tanpa disertai dengan kepustakaan)
4) KPS akan memantau tahapan penyelesaian sari pustaka oleh
masing-masing peserta didik.
5) Setelah dianggap selesai pembuatan sari pustaka oleh
pembimbing, maka peserta didik dapat segera melapor kepada
KPS dan Koordinator Kelompok Fungsional Bidang Penelitian
untuk mendapatkan jadwal konferensi sari pustaka beserta
nama moderator dan komentatornya.
6) Bahan penyajian / konferensi harus diterima moderator,
komentator dan narasumber paling lambat 7 hari sebelum
jadual konferensi ilmiah dilangsungkan.
7) Bahan penyajian dalam bentuk makalah tertulis dan dalam
bentuk soft copy wajib diserahkan ke Koordinator Kelompok
Fungsional Bidang Penelitian dan Pendidikan sebagai
dokumentasi.
8) Peserta didik yang ditunjuk untuk mengajukan sari pustaka
menyajikan secara lisan kasus tersebut dengan memanfaatkan
alat bantu audio visual yang tersedia (alokasi waktu 20 menit)
9) Diberi kesempatan pada komentator dan seluruh peserta
sidang untuk memperjelas beberapa hal dari isi sari pustaka.
10) Komentator memberi tanggapan masing-masing selama 5
menit.
11) Penyaji kasus harus memberi jawaban terhadap semua
tanggapan yang diajukan oleh tiap komentator.
12) Semua peserta sidang diberi kesempatan untuk memberi
tanggapan jika waktu memungkinkan.

195

13) Setelah tanggapan dari komentator maupun peserta konferensi


dianggap cukup, maka pembimbing diberikan kesempatan
untuk menjelaskan beberapa hal dari sari pustaka yang masih
belum jelas.
14) Yang berhak menilai adalah moderator dan komentator
(Konsulen).
15) Penilaian didasarkan atas pengetahuan, sikap dan perilaku dari
individu yang menyajikan sari pustaka. (Lembar penilaian sari
pustaka)
16) Penilaian akan diberikan apabila penyaji telah melengkapi
seluruh persyaratan yang ditetapkan pada saat konferensi,
berupa perbaikan makalah sari pustaka maupun hal-hal
lainnya.
17) Pihak penyelenggara pendidikan hanya akan mengeluarkan
nilai bagi peserta didik apabila bahan makalah sari pustaka
yang telah diperbaiki beserta dengan dokumentasinya dalam
bentuk soft copy telah diserahkan ke Koordinator Kelompok
Fungsional Bagian Penelitian dan Pendidikan untuk
didokumentasikan ke dalam file masing-masing peserta didik.
D.

Usulan Penelitian
1) Setelah sari pustaka disetujui dalam sidang sari pustaka, maka
peserta bersama pembimbing segera membuat usulan
penelitian yang dapat pula dibantu oleh seorang pembimbing
statistik.
2) Judul usulan penelitian dan pembimbing segera dilaporkan
kepada KPS dan Koordinator Kelompok Fungsional Bagian
Penelitian dan Pendidikan untuk didokumentasi.
3) KPS akan memantau tahapan penyelesaian usulan penelitian
oleh masing-masing peserta didik.
4) Panitia ujian usulan penelitian dibentuk sesudah pembimbing
menyatakan usulan penelitian telah selesai. Panitia ini dibentuk
oleh KPS/SPS, terdiri dari pembimbing dan 3 orang staf
pengajar. Seorang di antaranya menjadi Kepala dan seorang
lagi menjadi sekretaris panitia ujian. Pihak penyelenggara juga
akan menetukan jadwal ujian usulan penelitian tersebut.
5) Bahan penyajian / konferensi harus diterima moderator dan
penguji paling lambat 7 hari sebelum jadual ujian usulan
penelitian dilangsungkan.
6) Bahan penyajian dalam bentuk makalah tertulis dan dalam
bentuk soft copy wajib diserahkan ke Koordinator Kelompok
Fungsional Bagian Penelitian dan Pendidikan sebagai
dokumentasi.
7) Usulan penelitian yang telah selesai disusun bersama
pembimbing akan diajukan dalam ujian usulan penelitian pada

196

8)

E.

masa pendidikan semester 4 dan merupakan prasyarat


untuk naik ke semester 5.
Dengan diterimanya usulan penelitian (lulus) oleh tim penilai di
bawah kordinasi Koordinator Kelompok Fungsional Bagian
Penelitian, maka peserta didik dapat segera memulai
penelitiannya.

Sidang Hasil Penelitian


1) Bertujuan agar peserta didik mampu menyelenggarakan
pengorganisasian seluruh kegiatan penelitian ilmiah dengan
penguasaan rangkaian analisa dan sintesa yang akan
menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang dapat dimengerti
ilmuwan lainnya.
2) Mampu meyakinkan obyektivitas dan kebenaran upaya
penelitiannya melalui penyajian lisan dan tulisan secara lugas
kepada ilmuwan lain dengan memperhatikan kelaziman
penyajian ilmiah.
3) Semua peserta didik diwajibkan hadir kecuali dengan alasan
yang dapat diterima oleh KPS/SPS. (Alasan harus tertulis
melalui memo)
4) Tesis yang telah selesai disusun bersama pembimbing akan
diajukan dalam ujian tesis pada masa pendidikan tahap III IV
dan merupakan prasyarat untuk dapat mengikuti ujian tulis
nasional dan ujian lisan nasional.
5) Pelaksanaan pembuatan tesis dilakukan oleh peneliti dengan
arahan pembimbing.
6) Bila ada permasalahan dalam pelaksanaan penelitian maka
harus diputuskan dalam rapat segitiga antara pembimbing,
KPS/SPS dan Koordinator penelitian.
7) Laporan tertulis penelitian (tesis) harus diselesaikan dalam
batas waktu yang telah ditentukan. Setelah itu KPS/SPS akan
menjadualkan suatu ujian tesis.
8) Panitia ujian tesis dibentuk sesudah pembimbing menyatakan
pertanggungjawaban peneliti selesai. Panitia ini dibentuk oleh
KPS/SPS, terdiri dari pembimbing dan 3 orang staf pendidik
(sesuai dengan staf pendidik yang menguji pada saat dilakukan
ujian usulan penelitian). Seorang di antaranya menjadi Kepala
dan seorang lagi menjadi sekretaris panitia ujian.
9) KPS bersama dengan Koordinator Kelompok Fungsional
Bidang Penelitian akan memantau tahapan penyelesaian
usulan penelitian oleh masing-masing peserta didik.
10) Bahan penyajian / konferensi harus diterima moderator dan
komentator paling lambat 7 hari sebelum jadual ujian tesis
dilangsungkan

197

11) Bahan penyajian dalam bentuk makalah tertulis dan dalam


bentuk soft copy wajib diserahkan ke bagian pendidikan
sebagai dokumentasi.
12) Ujian tesis akan mencakup :

Penguasaan permasalahan kesehatan yang berkaitan


erat dengan materi penelitian.

Penguasaan metodologi penelitian yang dianut.

Tatalaksana penelitian dan teknik pengolahan data.

Kemampuan penyimpulan hasil penelitian dengan


tekanan khusus pada penguasaan obyektivitas data
yang dipergunakan.

Kesesuaian saran dengan tujuan penelitian.

Penguasaan pelaporan dan pembahasan hasil


penelitian.

Upaya meyakinkan ilmuwan lain.

Dampak hasil penelitian.

Ketelitian rujukan pustaka.

Kemampuan menolak saran yang tidak tepat.


13) Yang berhak memberikan penilaian adalah para penguji.
14) KPS hanya akan mengeluarkan nilai bagi peserta didik apabila
bahan tesis yang telah diperbaiki (telah dilengkapi tanda
tangan
pembimbing
dan
penguji)
beserta
dengan
dokumentasinya dalam bentuk soft copy telah diserahkan ke
Koordinator Kelompok Fungsional Bidang Pendidikan untuk
didokumentasikan ke dalam file masing-masing peserta didik.
15) Hasil penilaian tersebut akan menjadi dasar bagi
penyelenggara
pendidikan
untuk
mengusulkan
yang
bersangkutan sudah layak untuk menjalani ujian nasional.

198

E. Evaluasi Hasil Belajar


1. Tahap-tahap Evaluasi
Tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui kemampuan Akademik profesional
peserta sesuai katalog dan kultur pendidikan.
Evaluasi mencakup :
a. Bidang Kognitif (K):

Pengetahuan dan pemahaman

Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan klinik


b. Bidang Psikomotor (S):

Ketrampilan klinik non operatif

Ketrampilan klinik operatif


c. Bidang Afektif (A):

Hubungan inter-personal

Sikap dan kebiasaan kerja profesional


Kemampuan akademik dievaluasi dengan 2 jalur, yaitu :
I.
Evaluasi modul untuk penilaian peserta didik dilakukan pada
penerapan modul sebagai ujian tengah semester dan ujian
komprehensif untuk setiap semester sampai semester V, yang
dikordinasikan oleh Kordinator Tahap beserta Tim pelaksana
ujian masing-masing semester yang meliputi bahan kajian
fisiologi, patologi I, patologi II, ginekologi dan obgin sosial.
Tahap-Tahap Evaluasi tersebut adalah sebagai berikut :
1. Evaluasi berkala
a. Ujian tengah semester
b. Ujian semester
c. Ujian Calon Asisten Kepala
d. Ujian Asisten Kepala
2. Evaluasi akhir
a. Ujian Tesis
b. Ujian Akhir Program
c. Ujian Kolegium
II.
Evaluasi Ketrampilan Klinis sesuai semester masing-masing.
Setelah lulus ujian-ujian tersebut, peserta didik menjalani ujian calon asisten
kepala (calaska), ujian asisten kepala, ujian tesis dan ujian akhir program.
Ujian akhir program dilaksanakan 2 tahap :

Pertama dilaksanakan oleh program studi PDS I Obgin FK Unpad


(Ujian akhir program)

Setelah lulus ujian akhir program, peserta didik berhak untuk


mengikuti ujian kahir tahap dua yang dilaksanakan secara Nasional
oleh Kolegium Obstetri & Ginekologi (ujian nasional / National Board
Examination).

199

Peserta didik dinyatakan lulus program pendidikan spesialis-I apabila :


a. Lulus ujian akhir program dengan syarat IPK untuk perangkat mata
pelajaran dan karya ilmiah pada akhir program pendidikan sama atau
lebih dari 3. Kepada lulusan program diberikan yudisium lulus
memuaskan, sangat memuaskan, cumlaude dengan ketentuan
seperti tertera di bawah ini :
i. 3,71 < IPK < 4,000 = cum laude.
ii. 3,400 < IPK < 3,70 = sangat memuaskan
iii. 3,000 < IPK < 3,399 = memuaskan
b. Lulus ujian nasional.
2. Pemberian Angka, Skoring Dan Interpretasi
Angka kelulusan merupakan gabungan dari angka rata-rata nilai di setiap
stase dengan bobot 20%, hasil ujian komprehensif atau ujian akhir semester
dengan bobot 60% dan evaluasi kegiatan lain sebesar 20%. Untuk angka
kelulusan ujian ulangan tidak mempertimbangkan nilai stase dan hasil
kegiatan lainnya.
Prestasi akademik diukur melalui perhitungan Indeks Prestasi (IP) dan IP
Kumulatif (IPK). IP dan IPK ialah jumlah nilai mutu total dibagi jumlah
beban (SKS) total. Nilai mutu ialah nilai angka kali beban (SKS).
Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) merupakan angka yang menunjukkan
prestasi atau kemajuan belajar mahasiswa secara kumulatif mulai dari
semester pertama sampai dengan semester paling akhir yang telah
ditempuh. IPK dihitung pada tiap akhir semester. Rumus
perhitungannya sebagai berikut (pembulatan ke bawah apabila kurang
dari 0,05, pembulatan ke atas apabila sama/lebih dari 0,05) :
IPK = Jumlah (AM x SKS) seluruh semester yang
ditempuh / Jumlah SKS seluruh semester yang
ditempuh
Salah satu cara yang dipakai untuk memberi angka skoring dan
interpretasinya dapat dilihat pada tabel 6.1.

200

TABEL 6.1. ANGKA, NILAI MUTU, BOBOT DAN INTERPRESTASINYA


PADA SISTEM PENILAIAN PESERTA PROGRAM
Rentang Nilai (skala 5)
Rentang skor
(Skala 100)

Bobot

NILAI
MUTU

INTERPRETASI

90 100
85 89

4,00
3,75

A
A-

Baik Sekali

80 84
75 79

3,50
3,00

B+
B

Baik

70 74
65 69

2,75
2,50

BC+

Cukup

60 64
55 59

2,00
1,75

C
C-

Kurang

45 49
0 44

1,00
0,00

D
E

Kurang Sekali

Nilai Batas Lulus (NBL) : 70 atau nilai minimal B


(IPK = 2,75)

3. Cara Evaluasi
a.

Ujian semester.
Ujian semester dilakukan untuk peserta PPDS I semester I-V.
Materi Ujian adalah Fisiologi, Patologi I, Patologi II, Obginsos dan
Ginekologi.
1) Syarat ujian semester
i. Telah selesai mengikuti rotasi yang sudah ditentukan.
ii. Telah menyelesaikan ujian keterampilan yang ditentukan
untuk masing-masing semester.

201

2)
3)

iii. Telah melaksanakan evaluasi sesuai Buku Log (dicatat


dan ditanda tangani oleh konsulen) pada tempat rotasi
yang bersangkutan.
iv. Telah mendapat konfirmasi dari konsulen pembimbing
pada saat menandatangani Buku Log
v. Apabila persyaratan tersebut tidak dipenuhi, peserta
masih diperbolehkan mengikuti ujian tulis dan lisan pada
semester yang bersangkutan tetapi tidak mendapatkan
judicium sebelum persyaratan tersbut dipenuhi dan
tetap mendapat hukuman sesuai peraturan yang
berlaku.
vi. Apabila dalam 1 (satu) bulan sesudah ujian lisan syarat
tersebut belum terpenuhi judicium akan dilakukan pada
judicium berikutnya
Ujian ini dilaksanakan pada minggu ke-3 bulan ke-5 setiap
semester.
Materi ujian adalah:
i. Semester I: Ujian fisiologi, buku acuan : Williams
Obstetrics, bab 1-17
ii. Semester II: Ujian Patologi I, buku acuan : Williams
Obstetrics, bab 18-35
iii. Semester III, Ujian Patologi II, buku acuan : Williams
Obstetrics, bab 36-59
iv. Semester IV, Ujian Ginekologi, buku acuan : Novaks
gynecology, Speroff, Te Linde dan Ostegard
v. Semester V, Ujian Obginsos

202

Metoda ujian semester adalah:


Semester

Jenis Ujian

Penelitian

FISIOLOGI

MCQ, OSAT &


Essay

II

PATOLOGI I

MCQ & OSAT

Judul PIT

III

PATOLOGI II

MCQ & OSAT

Judul Tesis

IV

GINEKOLOGI

MCQ & OSAT

Sari Pustaka

OBGINSOS

MCQ, OSAT &


Essay

Sidang UP

VI

CALASKA

MCQ & OSAT

VII

ASisten
KepalA (Chief
Resident)

MCQ & OSAT

VIII

Ujian
Akhir
Program

MCQ & TULIS

Ujian Nasional

MCQ & OSAT

Sidang Tesis

Ket : OSAT : Objective Structured Assessment of Technical skills


Tabel 1. Metode Ujian dan Tingkatan Penelitian PPDS-1 OBGIN FK Unpad
Keterangan :
1) Semester I dan V : ujian essay, OSAT dan MCQ (tabel 1.)
Setelah ujian essay, OSAT dan MCQ dilakukan ujian lisan 1
minggu kemudian, mengenai pertanyaan pada ujian essay
Peserta ujian berhak mendapat salinan/kopi ujian tertulisnya
1 hari setelah ujian tertulis dan berhak mendapat bimbingan
dari dosen wali/pembimbing.
Khusus untuk peserta PPDS-1 pada semester 1 berlaku
mekanisme sebagai berikut (Gambar1) : Setelah memenuhi
persyaratan untuk ujian Fisiologi Peserta PPDS mengikuti
ujian MCQ dan Tulis sesuai ketentuan berlaku dan bila pada
hasilnya dinyatakan tidak lulus maka peserta bersangkutan
berhak mengikuti Ujian Ulangan 1 di bulan ke-6 semester
pertama tersebut.

203

Dan bila hasilnya dinyatakan tidak lulus maka pada peserta


tersebut akan dikembalikan pada TKP-PPDS-1 sesuai
dengan ketentuan yang berlaku, dan dinyatakan tidak
mampu mengikuti proses pendidikan dan dihentikan
pendidikannya.

Gambar 1. Alur Ujian Semester 1 PPDS-1 OBGIN


UNPAD
2) Semester II, III, IV dan VII (Aska). Ujian MCQ dan OSAT
a. Angka kelulusan adalah gabungan dari ujian
penerapan Modul, Ujian semesteran dan nilai harian
dari morning report, presentasi kasus dan ujian
keterampilan.
b. Nilai ujian semester diberi bobot 70%, ujian
pelaksanaan modul yang dilaksanakan di stase diberi
bobot 15% dan angka presentasi kasus, morning

204

c.
d.

e.

f.

report serta keterampilan diberi bobot 15%. Nilai


kelulusan adalah 70.
Kriteria ketidak kelulusan pada ujian OSAT adalah bila
tidak lulus pada lebih dari 2 station dan tidak digabung
dengan angka lainnya.
Apabila tidak dapat mencapai angka kelulusan,
peserta PPDS I diberikan kesempatan ujian ulangan I
pada minggu ke-3 bulan ke-6 setiap semester dengan
kriteria kelulusan yang sama. Diharapkan peserta
PPDS I tersebut mendapat bimbingan dari konsulen
Pembimbing/ Wali.
Apabila tidak lulus pada ujian ulangan I, peserta PPDS
I dinyatakan degradasi (turun ke semester
dibawahnya) beserta kewajiban sesuai dengan
semester yang diikutinya (pembekalan modul dan
supervisi) dengan bimbingan intensif dari konsulen
Pembimbing/ Wali dan diberikan surat peringatan
keras.
Apabila ternyata gagal pada ujian ulangan ke-1 pada
semester yang diikutinya dalam proses degradasi
(kecuali semester 7) maka peserta PPDS-I tersebut
dinyatakan tidak mampu mengikuti proses pendidikan
dan dihentikan pendidikannya. (Gambar 2.)

b. Ujian Calaska (Gambar 3.)


a. Syarat: Telah lulus ujian Obstetri dan Ginekologi
Sosial, telah dinyatakan lulus dari stase divisi, serta
telah melaksanakan sidang Usulan Penelitian.
b. Waktu Ujian Calaska dilaksanakan 4 kali dalam 1
tahun yakni pada bulan Januari, Mei dan Juli dan
September
c. Metodanya adalah OSAT pada 8 station (2 kasus
dalam Bahasa Inggris) yang pengujinya ditentukan
berdasarkan keputusan tim KPS.
d. Soal ujian ditentukan oleh tim penguji.
e. Kandidat yang tidak lulus diberikan kesempatan untuk
ujian ulangan 1 bulan kemudian.
f. Apabila kandidat tidak lulus lagi maka diberi
kesempatan untuk mengikuti ujian calaska pada
jadwal berikutnya dan dinyatakan dihentikan
pendidikannya bila waktu semesternya telah melebihi
12 semester

205

Gambar 2. Alur Ujian Semester II, III, IV, dan V PPDS-1 OBGIN UNPAD

206

Gambar 3. Alur Ujian Semester Calon Asisten Kepala (Calaska) PPDS-1


OBGIN UNPAD
c. Ujian tesis.
a. Panitia ujian Tesis dibentuk oleh Kepala Departemen, terdiri
dari panitia ujian akhir.
1. Ketua dan Sekretaris ujian Tesis diambil dari Panitia
ujian akhir.
2. Ujian tesis dihadiri oleh Tim pembimbing tesis yang
bersangkutan.
b. Panitia ujian Tesis, bertugas untuk menguji Tesis.
c. Berkas Tesis diterimakan untuk ditelaah, 3 minggu sebelum
ujian Tesis dilaksanakan. Selama 1 minggu masing-masing
anggota panitia menelaah, selanjutnya mengajukan daftar

207

masalah/pertanyaan secara tertulis kepada sekretaris panitia


yang akan menjadualkan ujian 1 minggu sesudah terkumpulnya
daftar masalah/ pertanyaan.
d. Ujian dihadapi peserta dengan perincian berikut :
a. Penyajian lisan selama 20 menit.
b. Rangkaian pertanyaan dan pengajuan permasalahan
dipimpin ketua panitia yang akan memilihnya dari
daftar.
c. Tanggapan
dan
jawaban
atas
permasalahan/pertanyaan.
d. Rangkuman akhir oleh peserta, sebagai kesimpulan
atas semua permasalahan/ pertanyaan yang
diajukan (10 menit)
e. Rapat panitia ujian untuk menentukan nilai.
e. Keputusan panitia dari rapat tertutup butir d 5) menyimpulkan
hasil akhir :
a. A : lulus tanpa perbaikan, nilai rata-rata 3,200 4,000.
b. B : lulus dengan perbaikan ringan, nilai rata 2,720 3,199 waktu perbaikan paling lama 2 minggu.
c. C : lulus dengan perbaikan berat, nilai rata-rata
2,000 - 2,719, waktu perbaikan paling lama 4
minggu.
f. Tesis yang telah diujikan kemudian diperbaiki sesuai dengan
masukan dari penguji dan disarikan. Naskah tesis yang telah
diperbaiki dan ditandatangani pembimbing kemudian diserahkan ke
KPS 4 minggu setelah ujian Tesis dilaksanakan, naskah sa untuk
ditandatangani dan untuk persyaratan ujian akhir. Tesis yang telah
disarikan dan dibuat dalam format journal kemudian diserahkan
kepada Tim editor Departemen Obstetri dan Ginekologi Universitas
Padjadjaran untuk dikoreksi dan dimuat dalam Majalah Ilmiah
Nasional yang terakreditasi atau MOGI. Tanda terima artikel
tersebut menjadi persyaratan Ujian Nasional.
d. Ujian Akhir
a. Syarat : Telah menjalani masa 1 tahun sebagai Asisten Kepala
(CR)
Setelah satu bulan lulus ujian tesis dan
menyerahkan
perbaikannya
yang
telah
ditandatangani Pembimbing.
b. Ujian Akhir dilaksanakan 4 kali dalam setahun yakni pada bulan
Januari, Mei, Juli dan September.
c. Metoda Ujian terdiri dari ujian tertulis, ujian pasien, ujian lisan.

208

d. Penentuan soal dilakukan oleh tim penguji yan ditugaskan


dengan surat keputusan Kepala Departemen Obstetri dan
Ginekologi FK Unpad.
e. Tata cara ujian akhir program :
1) Ujian Tulis dan Ujian Lisan :
i. Bahan ujian tulis meliputi semua isi pendidikan
sesuai dengan katalog Program Studi Obstetri
Ginekologi.
ii. Soal ujian tulis dikumpulkan dari para anggota
panitia ujian akhir.
iii. Soal ujian tulis terdiri atas 10 soal essay.
iv. Ujian berlangsung dari jam 08.00 - 13.00.
v. Ujian lisan dilakukan 1 minggu setelah ujian tulis.
vi. Nilai ujian tulis dan lisan menjadi satu dengan
angka kelulusan 70.
2) Ujian pasien :
i. Penguji mendapatkan presentasi singkat dan
memeriksa pasien yang diujikan.
ii. Peserta didik membuat status lengkap dan resume
dari pasien yang diujikan.
iii. Penguji mengajukan pertanyaan tentang kasus
yang diperiksa dan pertanyaan lain tentang halhal obstetri ginekologi lainnya yang berhubungan
dengan kasus yang diujikan.
iv. Ketua penguji memimpin ujian dan waktu ujian
adalah 2 jam.
v. Penilaian :

Tiap penguji memberi penilaian pada lembar


penilaian yang disediakan.

Penilaian meliputi penyusunan status, diskusi,


presentasi dan jawaban-jawaban yang
diberikan.

Kedua komponen ini sama nilainya.

Nilai jawaban adalah nilai rata-rata dari


semua
jawaban,
baik
dari
jawaban
pertanyaan penguji sendiri, maupun penguji
lainnya.

Nilai ujian pasien ialah angka rata-rata


penguji.

Nilai batas kelulusan adalah 70


e. Ujian Kolegium
Ujian Nasional adalah ujian yang dilakukan oleh Kolegium
Obstetri dan Ginekologi Indonesia secara serentak dengan waktu
pelaksanaan dan materi ujian sama untuk semua senter

209

pendidikan Obstetri dan Ginekologi di Indonesia . Ujian Nasional


terdiri atas ujian tulis nasional dan ujian lisan nasional.
a.

Syarat:
a. Telah lulus ujian akhir 1 bulan sebelumnya
b. Telah menyerahkan naskah artikel Tesis untuk majalah
Obstetri dan Ginekologi Indonesia (MOGI) atau majalah
yang terakreditasi.
c. Telah menyerahkan Log book yang telah terisi lengkap.
d. Kandidat harus membayar biaya ujian yang ditentukan
oleh kolegium
Soal ujian tulis dan lisan dibuat oleh kolegium
Kandidat yang tidak lulus ujian tulis mendapat ujian
ulangan pada ujian kolegium berikutnya.
b. Tatalaksana
1) Tata Tertib
Pakaian:
i. Peserta Ujian (Pria) : Kemeja Berdasi
ii. Peserta Ujian (Wanita)
: Bebas
Rapih
iii. Penguji
:
Jas
Putih Berdasi
Hadir tepat waktu
Mengisi registrasi dengan menunjukkan identitas

2) Ujian dilaksanakan pada bulan Maret di Jakarta, Juli di


tempat PIT/KOGI dan November di Surabaya.
a) Ujian Tulis
i. Soal-soal ujian dikumpulkan dari seluruh senter
pendidikan dan bank soal .
ii. Pemilihan soal yang akan dikeluarkan di dalam
satu periode ujian dilakukan oleh Kepala Komisi
Ujian Nasional .
iii. Ujian berupa pilihan berganda dalam bahasa
Inggris.
iv. Nilai batas kelulusan adalah 70.
b) Ujian Lisan.
i. Dilakukan dengan OSAT pada hari yang sama.
ii. Soal OSAT diberikan setelah dibahas pada
workshop di pagi harinya.
iii. OSAT terdiri dari 8 station dengan 2 station
berbahasa Inggris.
iv. Batas ketidaklulusan adalah gagal di lebih dari dua
station.

210

c) Judicium
i. Dilakukan pada sore harinya pada sidang yang
dihadiri oleh Pimpinan Kolegium dan para Penguji.
ii. Peserta yang dinyatakan lulus, diberi surat
kelulusan oleh Kolegium Obstetri dan Ginekologi
Indonesia.
iii. Peserta yang dinyatakan gagal, harus menguanja,
lisan saja atau kedua-duanya tergantung dari hasil
judicium.
f. Penilaian dan Ujian Keterampilan Klinis
Seorang lulusan PPDS-1 Obstetri dan Ginekologi FK Unpad/RSHS
dikatakan kompeten setelah melakukan penilaian keterampilan klinis
mandiri atas hal tersebut di bawah sejumlah 6 (enam) kali oleh
Konsulen (termasuk ujian) dan dinyatakan lulus kompetensi dan
diberikan sertifikat kompetensi :
Semester

II
III
IV
V
VI

VII

Jenis
Tindakan/Keterampilan
Klinis Mandiri (Tingkat
4A)
1. Pertolongan
persalinan fisiologis
2. Kuretase
3. Kuretase vakum
1. Ekstraksi forceps
2. Ekstraksi vakum
3. Sterilisasi wanita
1. Pertolongan
persalinan sungsang
1. Salpingo-ovarektomi
1. Histerektomi
2. Seksio Sesarea
1. Kehamilan ektopik

Jenis
Tindakan/Keterampilan
Klinis Supervisi
(Tingkat 3)

1. Embriotomi

1. Laparoskopi
(Tubektomi/Kehamila
n Ektopik/Kistektomi)
1. Histerektomi vaginal
2. Kehamilan ektopik
lanjut
3. Uterus ruptur

211

F. TATA TERTIB
1.

Hak Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Obstetri


dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
1. Mendapatkan kesempatan yang sama selama proses
pendidikan.
2. Mengetahui kompetensi yang akan diperoleh selama
proses pendidikan.
3. Mendapatkan bimbingan dari pendidik klinik selama
menjalankan pembelajaran klinik.
4. Mendapatkan semua kompetensi klinik sesuai
dengan program pendidikan dokter spesialis obstetri
dan ginekologi
5. Mendapatkan dosen pembimbing klinik.
6. Mengetahui aspek-aspek yang akan dinilai.
7. Mengikuti
ujian
setelah
memenuhi
segala
persyaratan.
8. Mendapatkan penilaian yang adil dan obyektif sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
9. Mengetahui hasil penilaian.
10. Menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan peraturan
akademik
yang berlaku dan tidak menyimpang dari ketentuan batas
waktu yang ditetapkan
11. Mendapat cuti akademis sesuai dengan peraturan Universitas
Padjadjaran
a. Peraturan Cuti
Selama pendidikan, peserta PPDSI dapat menjalani cuti tahunan,
cuti sakit, cuti hamil maupun cuti atas alasan mendesak.
b. Cuti tahunan.
1.
Hak cuti diberikan setelah menyelesaikan 2 semester
pertama.
2.
Peserta PPDS-I dapat mendapatkan cuti tahunan selama 12
hari kerja dengan maksimum hari cuti yang diambil sejumlah
6 (enam) hari dalam setiap paket cutinya setiap semester.
3.
Surat permohonan cuti diajukan 1 bulan sebelumnya pada
tanggal 1.
4.
Yang bersangkutan diwajibkan mencarikan pengganti selama
menjalani cuti.
5.
Cuti yang bersangkutan dapat ditolak oleh Ketua Program
Studi sebagai hak prerogratif Ketua Program Studi
c. Cuti sakit.

212

1.

2.

3.
4.

5.

Apabila peserta PPDSI sakit, maka yang bersangkutan harus


menyerahkan surat sakit dari dokter spesialis terkait kepada
Kepala Program Studi dan apabila cuti sakit lebih dari 3 hari
akan diperhitungkan dengan jatah cuti tahunan
Sakit lebih dari 2 minggu akan diperpanjang masa
pendidikannya selama 1-2 bulan dan bila sakit lebih 2 bulan,
yang bersangkutan perlu mengambil cuti akademik selama 6
bulan.
Bila peserta PPDS sakit lebih dari tiga (3) bulan maka akan
dimintakan pertimbangan medis untuk menentukan yang
bersangkutan dapat melanjutkan pendidikan.
Bila peserta PPDS sakit (tidak masuk) lebih dari tiga (3) bulan
maka akan mengikuti prosedur berikut ini : (Lihat bagan 8.
Panduan tidak mengikuti pendidikan lebih dari tiga (3) bulan) :

Pendidikan akan dikembalikan ke semester


pertama, setiap semester / tahapan pendidikan
yang telah dilalui selama satu (1) bulan /
tahapan.

Setiap akhir tahapan harus melalui uji


kompetensi.

Selama proses dalam kedua point diatas maka


tidak mengurangi masa studi, kecuali bila peserta
PPDS dinyatakan tidak lulus uji kompetensi atau
dinyatakan mengulang sirkulasi pada tahap yang
sama.

Bila peserta PPDS dinyatakan tidak kompeten


dan telah mengikuti dua (2) kali bimbingan
khusus maka akan diajukan dan diputuskan
dalam rapat pendidikan.
Ijin yang dimintakan residen akan mengurangi masa cuti
residen yang bersangkutan.

d. Cuti Hamil
1.
Masa cuti hamil 3 bulan, dimulai pada 34 minggu kehamilan
dan yang bersangkutan mengambil cuti akademik 3 bulan.
2.
Bila sejak awal kehamilan terdapat komplikasi maka dapat
mengajukan cuti hamil selama 1 tahun. 6 bulan masa cuti
dimasukkan ke dalam cuti akademik sedangkan 6 bulan
berikutnya tidak memperpanjang masa akhir pendidikan.
3.
Untuk cuti hamil selanjutnya, peserta PPDSI diberikan cuti
yang sama, tetapi memperpanjang masa akhir pendidikan.
e.

Cuti karena alasan mendesak


1.
Meninggalkan tempat tugas sesaat

213

2.

3.

a.

Apabila peserta terpaksa harus meninggalkan tempat


tugas sesaat pada jam kerja untuk keperluan pribadi,
peserta tersebut diwajibkan untuk meminta izin terlebih
dahulu kepada atasan langsung (bila sedang bertugas di
Ruangan, IGD, Poliklinik, Bedah Sentral, Divisi dan RS
Satelit).

b.

Apabila peserta meninggalkan tugas karena harus


menghadiri kegiatan ilmiah di Bagian, sebelumnya
peserta tersebut harus memberitahukan kepada
Penyelia/staf/Kepala Perawatan.

c.

Apabila peserta tidak dapat menghadiri kegiatan


ilmiah/konferensi di Departemen oleh karena masih ada
pekerjaan di tempat tugas yang tidak dapat ditinggalkan
atau karena ada keperluan pribadi yang mendesak
sekali, maka peserta diwajibkan memberitahukan/minta
izin kepada moderator kegiatan ilmiah tersebut atau
Pimpinan konferensi.

Meninggalkan tempat tugas selama satu hari


a. Apabila peserta tidak dapat hadir selama satu hari
penuh karena keperluan pribadi, maka peserta tersebut
harus meminta izin kepada atasan langsung
ditempatnya bertugas.
b.

Apabila peserta tidak dapat hadir selama satu hari


penuh karena mendapat tugas, peserta tersebut tetap
diwajibkan memberitahukan kepada atasan langsung.

c.

Apabila tidak dapat hadir selama satu hari penuh karena


sakit harus segera memberitahukan atasan langsung
secara tertulis atau melalui telepon.

Meninggalkan tempat tugas lebih dari satu hari


Apabila peserta PPDS akan meninggalkan tempat tugas lebih
dari satu hari untuk keperluan pribadi, maka peserta tersebut
diwajibkan mengajukan permohonan tertulis yang ditujukan
kepada Koordinator Pendidikan PPDS/Kepala Program Studi,
setelah terlebih dahulu meminta izin dan mendapat
persetujuan tertulis dari atasan langsung ditempatnya
bertugas.

214

2.

3.

Kewajiban Peserta Didik


1.
Menaati peraturan dan menjalankan seluruh kegiatan
pembelajaran klinik yang ditetapkan oleh pengelola
Program Studi.
2.
Mematuhi tata tertib dan peraturan yang ditetapkan oleh
Program Studi dan Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran
3.
Mengetahui
jenis-jenis
kewenangan
yang
boleh
didelegasikan oleh pendidik klinik
4.
Melaksanakan tugas klinik yang didelegasikan oleh
pendidik klinik dan pembimbing klinik sesuai dengan
kewenangannya.
5.
Terhadap pasien berlaku sopan, ramah dan melakukan tugas
dengan sepenuh hati, tegas dan sesuai dengan kewenangan; tidak
diperkenankan mempermainkan pasien; dan memberikan
pelayanan terbaik sebagai ibadah tanpa mengharapkan timbal
balik sesuatu apapun dari pasien, serta memperhatikan dan
melaksanakan prinsip-prinsip patient safety dalam memperlakukan
pasien dan norma etika yang berlaku di masyarakat
6.
Menjaga
norma-norma
pendidikan
untuk
menjamin
keberlangsungan proses dan keberhasilan pendidikan;
7.
Ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan, kecuali bagi
peserta didik yang dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
8.
Hubungan dengan paramedik : Peserta harus membina hubungan
kerja yang baik dengan paramedik sebagai mitra kerja sesuai
dengan etik kedokteran.

Sanksi Akademik
Sanksi akademik dapat berupa peringatan akademik dan/atau
pemutusan studi. Sanksi pemutusan studi diusulkan/diajukan oleh
program studi/fakultas dan diputuskan oleh Rektor. Selama masa
pendidikan peserta didik PDS I dapat dijatuhi sanksi apabila
memperlihatkan sikap dan kemampuan kerja yang tidak profesional
ataupun kesalahan lain, sanksi dapat berupa :
1. Peringatan Akademik Lisan
2. Peringatan Akademik Keras hingga perpanjangan masa pendidikan
Sanksi dijatuhkan atas dasar pengamatan para konsulen dengan bukti yang
diakui dan ditanda tangani oleh peserta didik yang bersangkutan.
Peringatan akademik berbentuk surat dari Wakil Dekan I yang ditujukan
kepada orang-tua/wali dan lembaga pengirim/penanggung atau peserta
didik untuk memberitahukan adanya kekurangan prestasi akademik
peserta didik atau pelanggaran ketentuan lainnya. Hal ini dilakukan

215

untuk memperingatkan peserta didik agar tidak mengalami pemutusan


studi.
Masa perpanjangan pendidikan akan diperhitungkan setelah ujian calaska
sebelum bertugas menjadi CR. Masa perpanjangan pendidikan yang
diberikan pada waktu CR, akan diperhitungkan pada saat setelah ujian
tesis.
4.

Penghentian pendidikan
Dengan ditetapkannya Pemutusan Studi berarti peserta didik dihentikan
pendidikannya dari Univesitas Padjadjaran karena prestasinya tidak
sesuai peraturan yang berlaku, kelalaian administratif, dan/atau
kelalaian mengikuti kegiatan pembelajaran.
Tujuan pemutusan studi ialah :
a. Mempertahankan mutu hasil pendidikan.
b. Mempertahankan tanggung jawab profesional.
c. Mempertahankan pendayagunaan sumber pendidikan.
Sanksi dijatuhkan hanya oleh KPS atau oleh Rektor atas usulan KPS
yang disetujui oleh Pimpinan Fakultas. Laporan kondisi peserta didik
yang harus diberikan peringatan akademik sebagai akibat melakukan
kelalaian, dilampiri bukti prestasi akademik dan/atau bukti kelalaian :
1) Surat peringatan kepada peserta didik yang bersangkutan dari
Pimpinan Fakultas (Dekan/WD I)
2) Surat Permohonan Pertimbangan atas peserta didik yang
melakukan pelanggaran hukum dari Pimpinan Fakultas
(Dekan/WD I) kepada Senat Fakultas
3) Surat Keputusan melanggar/tidak melanggar Hukum atas
nama peserta didik yang bersangkutan dari Senat Fakultas
4) Surat permohonan Pemutusan Studi atas nama peserta didik
yang bersangkutan dari Pimpinan Fakultas (Dekan/WD I)
kepada Pimpinan Universitas (Rektor/Warek I)
5) Surat Persetujuan/Penolakan Pemutusan Studi peserta didik
yang bersangkutan dari Pimpinan Universitas (Rektor/Warek I)
6) Transkrip Akademik yang telah ditempuh oleh peserta didik
yang bersangkutan selama di Universitas Padjadjaran,
ditandatangani oleh Pimpinan Fakultas (Dekan/WD I).
Penghentian pendidikan merupakan hasil rangkaian penilaian kemajuan
pendidikan peserta, yang mengungkapkan kekurangan-kekurangan
yang terlalu jauh dari pencapaian yang ditetapkan dalam kurikulum yang
harus diselesaikan.
Pemutusan studi dikenakan kepada peserta didik yang mengalami
kondisi di bawah ini:
1.
Semester I, jika peserta gagal dalam mengikuti ujian ulangan
Fisiologi (semester I)
2.
Akhir semester I tidak mencapai Indeks Prestasi (IP) 2,75;

216

3.
4.
5.
6.
7.

8.
9.

10.
11.

12.

13.

Gagal pada ujian semester selama 2 (dua) semester berturutturut untuk semester 2-5,
Akhir semester II tidak mencapai Indeks Prestasi Kumulatif
(IPK) 2,75;
Ketidak mampuan belajar dan/atau peningkatan kemampuan
diri dalam
pembinaan/bimbingan khusus.
Waktu pendidikannya melebihi 1 x lama pendidikan Prodi
(12 semester dari rencana pendidikan 8 semester)
Kurangnya rasa tanggung jawab profesional yang
membahayakan pasien ataupun lembaga pendidikan, kondisi
ini diputuskan oleh Rapat Staf Departemen Obstetri dan
Ginekologi
Tidak melakukan registrasi berturut-turut tanpa ijin Rektor;
Telah melakukan pendaftaran atau pendaftaran kembali
secara administratif, tetapi tidak mengikuti kegiatan belajarmengajar pada semester bersangkutan tanpa alasan yang
dapat dibenarkan,
Menghentikan studi dua semester berturut-turut atau dalam
waktu berlainan tanpa ijin Rektor;
Perilaku yang melanggar hukum dan / atau memperlihatkan
sikap tidak terpuji, berupa tindak pidana maupun terlibat
dalam pemakaian atau pengedaran obat terlarang dan
sejenisnya, maka ditetapkan bersalah secara hukum oleh
pengadilan, akan dikenakan sanksi berupa skorsing sampai
dengan pemutusan studi oleh Rektor sesuai dengan
peraturan yang berlaku;
Pelanggaran etika moral dan etika profesi, seperti
perselingkuhan dan pelecehan seksual, perkelahian sesama
peserta PPDS I atau penyelenggara pelayanan di Rumah
Sakit baik di dalam maupun diluar lahan pendidikan,
memeriksa pasien/klien tanpa supervisi, membuat resep,
melakukan konsultasi tanpa supervisi, membocorkan rahasia
jabatan, dan sebagainya, memalsukan tanda tangan dan
sejenisnya, akan dikenakan sanksi berupa skorsing oleh
Dekan sampai dengan pemutusan studi oleh Rektor.
Ketentuan dalam Pasal 406 dan Pasal 351 KUHP juga dapat
dikenakan terhadap aktivitas demo yang tidak tertib dan
menimbulkan kerusuhan sehingga mengakibatkan terjadinya
kerusakan barang milik orang lain dan atau korban luka-luka.
Pelanggaran etika akademik seperti menyontek, menjiplak
(makalah, laporan, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi, dan
sebagainya), membocorkan soal atau sejenisnya akan
dikenai sanksi berupa skorsing sampai dengan pemutusan
studi. Pada hal-hal tertentu, fakultas dapat mengeluarkan

217

keputusan tersendiri asal tidak bertentangan dengan


ketentuan hukum atau peraturan di atasnya.
14. Hal-hal lainnya ditentukan oleh peraturan program studi.
Pelaksanaan penghentian pendidikan mengenal beberapa tahap :
Tahap diagnostik :
a.Penilaian umum dan khusus peserta.
b.Kajian akhir tahap pendidikan.
c. Penetapan unsur pemberat kemajuan pendidikan.
d.Pengenalan unsur penyebab keadaan.
Tahap pembinaan/bimbingan khusus :
a. Dilakukan untuk unsur pemberat yang dikenali.
b. Diperlukan sebagai kegagalan pendidikan pada tahap tersebut.
c. Dinilai untuk masa yang ditetapkan, dan menurut ketentuan
butir-butir di atas.
d. Tidak mengenal perpanjangan/pengulangan.
Tahap penghentian :
1. Diputuskan atas dasar hasil penilaian setelah pembahasan
tuntas dalam rapat staf pengajar.
2. Diberitahukan kepada peserta : Kekurangan-kekurangan
ataupun hasil penilaian terakhir serta alasannya.
3. Pemberitahuan kepada lembaga pengirimnya.
4. Penerbitan surat penghentian pendidikan sekaligus dengan
pengembalian peserta ke lembaga pengirimnya.
5.

Penghargaan dan remisi


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

1 (satu) semester tidak pernah sakit akan mendapat


pengurangan 1 (satu) peringatan keras.
2 (dua) semester tidak pernah sakit akan mendapatkan
pengurangan 1 (satu) bulan hukuman.
5 (lima) kali memberikan supervisi akan mengurangi satu
peringatan keras
10 (sepuluh) kali memberikan supervisi akan mengurangi satu
bulan perpanjangan pendidikan.
Berperan aktif dalam kegiatan mengharumkan nama Departemen
akan mengurangi satu bulan perpanjangan pendidikan.
Membuat publikasi ilmiah di tingkat internasional akan
mengurangi dua bulan perpanjangan pendidikan.
Peserta PPDS I yang berprestasi akan diusulkan untuk
mendapatkan Tadjuludin Award dari POGI.

218

8.

Setiap semester Peserta PPDS 1 diberikan rekapitulasi hukuman


yang diterima dalam semester tersebut

G. Panduan Adaptasi Dokter Spesialis Lulusan Luar Negeri


1. Tujuan
Tujuan penyelenggaraan adaptasi dokter spesialis lulusan luar negeri ialah
untuk memberi kesempatan penyesuaian bagi mereka yang sah ijasahnya,
serta dinilai layak untuk memperoleh kesempatan adaptasi; sehingga pada
akhir program adaptasinya akan:
1. Dapat menerapkan kemampuan bidang obstetri dan ginekologi
yang sudah dipelajarinya, menurut kaidah yang lazim dianut dokter
spesialis obstetri dan ginekologi di Indonesia.
2. Menguasai pola morbiditas serta pola kerja dalam pelayanan
kesehatan masyarakat, sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang
berlaku di sini.
3. Memahami dan menghayati tata-nilai serta etik profesi obstetri dan
ginekologi, sehingga dapat diterima dikalangan profesi tersebut.
2. Syarat
Calon adaptasi harus memenuhi persyaratan administratif:
1. Ijasahnya dinilai sah oleh Panitia Penilai Ijasah Sarjana Lulusan
Luar Negeri (PPISLLN, Depdiknas).
2. Kurikulum pendidikannya telah dikaji oleh Board of Obstetrics and
Gynecology dari Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia
dan disimpulkan layak untuk diberi kesempatan adaptasi.
3. Surat permintaan dari konsorsium Ilmu Kesehatan Depdiknas untuk
kesempatan adaptasi di FK UNPAD.
4. Surat persetujuan Kepala Kolegium Obstetri dan Ginekologi
Indonesia.

219

3. Jalur Penerimaan
1. Berkas permintaan pada butir II di atas akan dipelajari oleh staf
pengajar Program Studi Obstetri dan Ginekologi PPDS di FK
UNPAD. Jika nilai tidak sesuai dengan tersedianya kesempatan
adaptasi maka berkasnya dikembalikan ke Konsorsium Ilmu
Kesehatan.
Mereka yang dinilai sesuai dengan kesempatan adaptasi, akan dipanggil
untuk wawancara dengan staf pengajar minimal 7 hari sebelum jadual.
2. Wawancara dilakukan oleh 3 atau 4 staf pengajar untuk dinilai;
1. Kejelasan keterangan tertulis yang ada
2. Latar belakang pendidikan.
3. Tata nilai : profesional, tanggung jawab, sikap pribadi.
4. Penilaian diri terhadap program adaptasi.
3. Kesimpulan wawancara terdiri atas kemungkinan sebagai berikut :
a. Tidak tepat untuk program adaptasi di UNPAD, berkas
dikembalikan ke Konsorsium Ilmu Kesehatan dengan saran
untuk dikirim ke lembaga pendidikan lainnya.
b. Dapat diberi kesempatan adaptasi di UNPAD dan ditetapkan
jadual penyelenggaraan penilaian awal.
4. Penilaian Awal
Bagi mereka yang diberi kesempatan adaptasi di UNPAD, diatur kegiatan
sebagai berikut :
a. Orientasi kegiatan program studi selama 14 hari.
b. Penilaian kemampuan awal selama 30 hari :
a. Dinas Poliklinik 1 minggu
b. Ujian teori patologi (uji tulis)
c. Dinas di unit tindakan 1 minggu
d. Ujian kasus medikal (uji lisan)
e. Dinas di unit rawatan 1 minggu
f.
Ujian kasus bedah (ujian operasi)
g. Penilaian kemampuan pembedahan 1 minggu
c. Kesimpulan kemampuan awal sesudah minggu terakhir :
1. Kemampuan calon terlalu rendah untuk adaptasi dan
memerlukan suatu program pendidikan yang lebih dari satu
tahun (2 semester) berkas di kembalikan ke konsorsium Ilmu
Kesehatan Depdiknas dengan tembusan kepada Board of
Obstetrics and Gynecology Perkumpulan Obstetri dan
Ginekologi Indonesia (POGI).
2. Kemampuan calon mengizinkan untuk program adaptasi 3-6-9
atau 12 bulan dengan penilaian terus menerus.
3. Jika calon sesuai butir 2, selanjutnya ditetapkan jadual program
adaptasi sesuai dengan daya tampung Program studi Obstetri
dan Ginekologi PPDS di FK UNPAD.

220

5. Penyelenggaraan
Program adaptasi pada dasarnya terdiri dari :
1. Penempatan sebagai dokter jaga ikutan (tahap I dan IIA) dengan dinas
poliklinik dan/atau unit tindakan.
2. Penempatan sebagai dokter jaga pelapor (tahap IIB/IIC) dengan dinas di
unit rawatan dan/atau bedah pusat.
3. Penempatan sebagai dokter jaga utama (tahap IIIA/IIIB) dengan
penempatan di tempat stase yang sesuai kebutuhannya.
6. Penilaian
Penilaian dilakukan secara terus-menerus dengan pengujian secara
bertahap sesuai dengan penempatannya.
Ujian tulis, lisan dilakukan setiap 2 bulan sebelum mengikuti ujian
Calaska. Setelah mengikuti tahap Asisten Kepala, yang
bersangkutan menjalani ujian akhir dan ujian Kolegium.
7. Penghentian Adaptasi
Penghentian program adaptasi dapat terjadi sebagai berikut :
a. Peserta adaptasi mengundurkan diri.
b. Peserta adaptasi membuat kesalahan berat yang membawa
cacat tubuh ataupun kematian kasus yang seyogianya dapat
dihindarkan.
c. Peserta adaptasi membuat kesalahan-kesalahan yang
berulang diperingatkan lisan/tertulis tanpa usaha perbaikan
yang memadai.
d. Peserta adaptasi tidak menunjukan kemajuan yang sesuai
dengan harapan staf pengajar dan program pembinaan yang
khusus diberikan baginya juga tidak memberikan hasil baik.
e. Peserta adaptasi menolak menyelesaikan tugas yang tercakup
dalam program adaptasinya.
8. Lain-lain
1. Bagi mereka yang belum pernah diambil sumpahnya sebagai
dokter, karena pendidikan dokter diselesaikan di luar negeri,
akan diusahakan untuk diambil sumpahnya di FK UNPAD
secepatnya, sesuai dengan jadual penyumpahan dokter yang
ada.
2. Peserta adaptasi harus membuat perjanjian pada :
i. Saat sebelum melakukan kegiatan pra program adaptasi
ii. Saat akan mulai melakukan program adaptasi
3. Semua pembiayaan yang timbul selama penyelenggaraan
program adaptasi, harus dipikul oleh peserta sendiri.

221

14. Program Studi Patologi Anatomi


A. Metode Pembelajaran
PELAKSANAAN PENDIDIKAN
1. Pendidikan mahasiswa PPDS-1 program studi Patologi Anatomi
berlangsung selama 7 semester.
2. Batas akhir masa studi sesuai ketentuan (Masa Studi Maksimal) adalah
: n + 1/2 n ( n= lama masa studi terjadwal ) sehingga batas akhir masa
studi adalah 12 semester.
3. Pelaksanaan pendidikan sesuai kurikulum yang berlaku dan memenuhi
standar kompetensi yang ditetapkan oleh Kolegium Patologi Anatomi
Indonesia.
4. Penilaian dan evaluasi mahasiswa PPDS-1 program studi Patologi
Anatomi dilaksanakan sesuai pedoman penilaian dan ketentuan yang
berlaku pada Fakultas Kedokteran UNPAD.
5. Pemberian sanksi akademik mahasiswa PPDS-1 program studi Patologi
Anatomi dilaksanakan sesuai pedoman penilaian dan ketentuan yang
berlaku pada Fakultas Kedokteran UNPAD.
6. Prosedur cuti dan sejenisnya bagi mahasiswa PPDS-1 program studi
Patologi Anatomi dilaksanakan sesuai pedoman penilaian dan ketentuan
yang berlaku pada Fakultas Kedokteran UNPAD.
PETA KURIKULUM PPDS-1 PATOLOGI ANATOMI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN
Semester I
Head and Neck (including ear)
Respiratory System
Cardiovascular System
Mediastinum
Ujian Akhir Semester I
Semester II
Oral Cavity
Salivary Gland
Gastrointestinal System
Hepar and Gall Bladder
Pancreas and Billiary Tract
Ujian Akhir Semester II
UJIAN NASIONAL TAHAP I
Semester III
Genitourinary System (male)
Reproductive System (female)
Diagnosis Cytology
Frozen Section
Ujian Akhir Semester III
Semester IV
Reticuloendothelial System
Spleen

222

Adrenal Gland
Soft Tissue (Fibrous Tissue and Fatty Tissue)
Fine Needle Aspiration Biopsy
Ujian Akhir Semester IV
Semester V
Breast
Soft Tissue (Muscle tissue) and Bone
Blood
Skin
Eye
Clinicopathologic conference
Cancer-clinic consultation
Ujian Akhir Semester V
UJIAN NASIONAL TAHAP 2
Semester VI-VIII
Stase Bedah Onkologi
Stase Kebidanan dan Kandungan
Stase Ilmu Kedokteran Kehakiman
Stase Radiologi
Stase Patologi Klinik Sub Divisi Hematologi
Usulan Penelitian, dan Laporan Kemajuan (Progress
Report)
Tesis
Ujian Kompetensi Lokal
UJIAN NASIONAL TAHAP 3

223

PETA KOMPETENSI PPDS-1 PATOLOGI ANATOMI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNPAD
SEMESTER &
RINCIAN TOPIK

I.
Kepala & Leher
Sist.Respirasi
Sist. Kardiovaskuler
Mediastinum

Menerapk
an
etika
profesi
saat
diagnosis

Menulis
karya
Ilmiah
berupa
referat,
jurnal

Menegakk
an
diagnosis

II.
Rongga Mulut
Kelenjar Liur
Sist. Gastrointest
Hati
&
saluran
Empedu
Pankreas & saluran
Bilier

Menerapk
an
etika
profesi
saat
diagnosis

Menulis
karya
Ilmiah
berupa
referat,
jurnal,
poster

Menegakk
an
diagnosis

III.
Sist. Urogenital
Sist.
Reproduksi
Wanita
Sitologi
Potong Beku

Menerapk
an
etika
profesi
saat
diagnosis

Menulis
karya
Ilmiah
berupa
referat,
jurnal,

Menegakk
an
diagnosis

KOMPETENSI
4
5

Melaksanak
an kegiatan
memotong
jaringan

Melaksanak
an
dan
mengawasi
kegiatan
memotong
jaringan

Melaksanak
an
dan
mengawasi
kegiatan
memotong
jaringan,

Membim
bing
adik
kelas
dalam
mendiag
nosis,
mengerj
akan
tugas

Membim
bing
adik
kelas
dalam
mendiag

224

poster,
karya
ilmiah lain

potong beku

IV.
Sist.Retikuloendoteli
al
Limpa
Kelenjar Adrenal
Jaringan Ikat
Jaringan Lemak
FNA

Menerapk
an
etika
profesi
saat
diagnosis

Menulis
karya
Ilmiah
berupa
referat,
jurnal,
poster,
karya
ilmiah lain

Menegakk
an
diagnosis

Membantu
melakukan
pradiagno
sis kasus
autopsy

V.
Payudara
Jaringan otot
Tulang
Darah
Jaringan Kulit
Mata
CPC
Konsultasi
Klinik
Kanker

Menerapk
an
etika
profesi
saat
diagnosis

Menegakk
an
diagnosis

Membantu
melakukan
pradiagno
sis kasus
autopsy

VI sampai VIII
Stase
Bedah
Onkologi
Stase Kebidanan &
Kandungan

Menerapk
an
etika
profesi
saat

Menulis
karya
Ilmiah
berupa
referat,
jurnal,
poster,
laporan
kasus,
karya
ilmiah lain

Menulis
karya
Ilmiah
berupa

Menegakk
an
diagnosis

Melakukan
pradiagno
sis kasus
autopsy,

Melaksanak
an
dan
mengawasi
kegiatan
memotong
jaringan,
potong
beku,
melakukan
fna

Melaksanak
an
dan
mengawasi
kegiatan
memotong
jaringan,
potong
beku,
melakukan
fna

Mengikuti
kegiatan
CPC, diskusi
klinik
kanker,
diskusi
kasus sulit

Mengikuti
kegiatan
CPC, diskusi
klinik
dan
klinik
kanker,
diskusi
kasus sulit

Berperan
sebagai
menejer
dan
berdiskusi
tentang
pengelola
an
lab
patologi

Melaksanak
an
dan
mengawasi
kegiatan

Mengikuti
kegiatan
CPC, diskusi
klinik
dan

Berperan
sebagai
menejer
dan

nosis,
mengerj
akan
tugas

Membim
bing
adik
kelas
dalam
mendiag
nosis,
mengerj
akan
tugas

Membim
bing
adik
kelas
dalam
mendiag
nosis,
mengerj
akan
tugas

Membim
bing
adik
kelas

225

Stase
Ilmu
Kedokteran
Kehakiman
Stase Radiologi
Stase Patologi Klinik
Usulan Penelitian
Laporan Kemajuan
Tesis
Ujian Kompetensi

diagnosis

referat,
jurnal,
poster,
laporan
kasus,
karya
ilmiah lain

melakukan
autopsy
pada saat
stase

memotong
jaringan,
potong
beku,
melakukan
fna

klinik
kanker,
diskusi
kasus sulit

berdiskusi
tentang
pengelola
an
lab
patologi

dalam
mendiag
nosis,
mengerj
akan
tugas

226

B.

Struktur Mata Kuliah


No

Materi Pendidikan

1
2
3

Pengetahuan Dasar Patologi


Pengetahuan Patologi Umum
Pengetahuan Teori Patologi
Khusus
Patologi
Molekuler
&
Imunopatologi
Keterampilan
Diagnostik
Patologi Organ
Sitologi dan FNAB
Penerapan Teknologi Patologi
Anatomi
Pengembangan Kemampuan
Tanggung Jawab &
Ilmu
Keahlian Patologi Anatomi
Tehnik Otopsi
Tanggung Jawab Mengajar
Etika Patologi Anatomi
Metodologi Penelitian
Penelitian, Tesis, dan Stase
Administrasi Laboratorium

4
5
6
7
8

9
10
11
12
13
14

Daftar Mata Kuliah


No
Materi Pendidikan
1
Pengetahuan Dasar Patologi
2
Pengetahuan Patologi Umum
3
Pengetahuan
Teori
Patologi
Khusus
4
Patologi
Molekuler
&
Imunopatologi
5
Keterampilan Diagnostik Patologi
Organ
6
Sitologi dan FNAB
7
8

Penerapan Teknologi Patologi


Anatomi
Pengembangan
Kemampuan
Tanggung Jawab dan Ilmu

Bobot
SKS
11
13
16

Semester

I s/d V

I s/d V

2
7

II s/d V
I s/d VIII

11

I s/d VIII

1
2
1
3
7
1

VI
II s/d VIII
I s/d VIII
I s/d VII
II-VIII
V-VIII

I
I s/d III
I s/d IV

Tugas & Pelaksanaan


Kuliah, Diskusi
Penelusuran Pustaka
Referat & Baca jurnal
Tugas baca literatur,
penelitian
Pra-Diagnosis,
Case
Report, CPC
Praktikum
&
baca
sitologi
Tutor, Demonstrasi
Argumentasi ilmiah
Pengajuan naskah

227

No
9
10
11
12
13
14

Materi Pendidikan
Keahlian Patologi Anatomi
Tehnik Otopsi
Tanggung Jawab Mengajar
Etika Patologi Anatomi
Metodologi Penelitian
Penelitian, Tesis, dan Stase
Administrasi Laboratorium

Tugas & Pelaksanaan


Presentasi kasus
Simulasi & Bimbingan
Menghayati Kode etik &
Mengamalkan Kode etik
Meneliti & Melaporkan
Penerapan ilmu dan
beretika

Deskripsi Mata Kuliah


1. Pengetahuan Dasar Patologi
Dasar-dasar Metodologi Penelitian, Teknik Histopatologi, Teknik
Sitologi, Teknik Autopsi, dasar- dasar Histokimia, dasar-dasar
Imunopatologi, dan dasar-dasar Patologi Subselular dan Molekular dan
Patologi Eksperimental.
2. Pengetahuan Patologi Umum
Patobiologi, Patologi Organ, sitologi / FNAB, dan Imunohistokimia, dan
pengetahuan mengenai teori Potong Beku (Vries Coupe / VC).
3. Pengetahuan Teori Patologi Khusus
Pengetahuan teori khusus mengenai patologi organ, pengetahuan teori
sitologi / FNAB, pengetahuan mengenai teori imunohistokimia, dan
pengetahuan mengenai teori potong beku.
4. Keterampilan Diagnostik
Keterampilan diagnostik patologi organ, keterampilan diagnostik sitologi
/ FNAB, keterampilan diagnostik imunohistokimia.
5. Penerapan Teknologi Patologi Anatomi
Kemampuan penerapan teknologi patologi anatomi bidang pengolahan
jaringan, kemampuan penerapan teknologi patologi anatomi bidang
sitologi/ FNAB, kemampuan penerapan teknologi patologi anatomi
bidang potong beku, dan kemampuan penerapan teknologi patologi
anatomi bidang imunohistokimia.
6. Pengembangan Kemampuan Tanggung Jawab dan Ilmu Keahlian
Patologi Anatomi
Diskusi klinik, diagnosis patologi anatomi, referat/ journal reading, clinicpathological conference, seminar/ symposium, dan etika profesi patologi
anatomi.
7. Tanggung Jawab Mengajar
Kemampuan mengajar dan membimbing peserta didik setingkat
Pendidikan S1 dan sesama peserta PPDS-1 terutama kepada peserta
PPDS-1 dengan tingkat yang lebih muda. Proses pengajaran dan
pembimbingan dilakukan dengan tata cara yang baik dan benar,
bertanggung jawab dan beretika sesuai kaidah keilmuan yang sudah
dikuasai.

228

8.

9.

C.

Penelitian, Tesis, dan Stase


Kemampuan menyusun proposal penelitian, melaksanakan penelitian
dan mempresentasikan hasil penelitian dimulai dari tingkat yang
sederhana berupa laporan kasus atau penelitian tipe deskriptif sejak
semester ke-2. Selanjutnya peserta didik wajib melakukan penelitian
analitik dan mempresentasikan dalam pertemuan ilmiah tingkat nasional
dan atau internasional sebanyak minimal 2 judul selama masa
pendidikan.
Administrasi Laboratorium
Keterampilan menejerial mengelola laboratorium patologi anatomi
diperoleh selama peserta didik mengikuti proses belajar berupa
pengamatan, diskusi, dan evaluasi dengan seluruh komponen staf
laboratorium.
Evaluasi Hasil Belajar
Peserta didik mengikuti evaluasi belajar berupa Ujian Tengah Semester
(UTS), Ujian Akhir Semester (UAS), dan ujian nasional tahap I, II, III
sesuai ketentuan prodi dan kolegium.

D. Pedoman Ujian
KETENTUAN UJIAN PPDS-1 PATOLOGI ANATOMI
I. Ujian Lokal
I.
a. Ujian Tengah Semester
Pada setiap tengah semester (tiga bulan kalender), diadakan ujian tertulis
yang wajib diikuti oleh seluruh peserta didik. Tidak ditentukan persyaratan
khusus.
I.
b. Ujian Akhir Semester
Pada setiap akhir semester, diadakan ujian tertulis dan ujian keterampilan
diagnosis dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Setiap mahasiswa PPDS-1 Patologi Anatomi telah menyelesaikan
seluruh kewajiban presentasi ilmiah maupun tugas akademik lainnya
yang dibuktikan dengan kelengkapan LOGBOOK.
2. Setiap mahasiswa PPDS-1 Patologi Anatomi telah menyelesaikan
seluruh kewajiban pembayaran iuran keanggotaan IAPI.
3. Waktu pelaksanaan ujian ditetapkan berdasarkan rapat akademik
Departemen Patologi Anatomi.
4. Pelaksanaan ujian berdasarkan peraturan yang telah ditetapkan.
5. Ujian tulis dilaksanakan pada hari pertama, dimulai pukul 08.00-selesai.
6. Ujian keterampilan diagnosis dilaksanakan setelah ujian tulis selesai.
7. Yudisium dilakukan setelah seluruh rangkaian ujian selesai
dilaksanakan.
8. Peserta ujian dinyatakan lulus apabila nilai ujian tulis mencapai minimal
75, nilai ujian keterampilan diagnosis mencapai minimal 75 dan nilai
kegiatan harian mencapai 75.

229

9.

Nilai kegiatan harian diberikan oleh seluruh pendidik meliputi kegiatan


jurnal reading, referat, diagnosis referat, nilai kegiatan harian akan
dijumlahkan seluruhnya dan dibuat rerata.
10. Prosentase nilai akhir terdiri dari 40% nilai kegiatan harian dan 60% nilai
ujian akhir semester.
I. b. Ujian Perbaikan (Remedial) Akhir Semester
1.

Peserta ujian diberi kesempatan mengikuti ujian perbaikan sebanyak


satu kali sesuai topic ujian yang dinyatakan tidak lulus dalam
yudisium pertama.
2. Setelah seluruh peserta ujian perbaikan (remedial) selesai mengikuti
tahapan ujian maka akan diadakan yudisum kedua.
3. Nilai tertinggi yang dapat diperoleh oleh peserta ujian perbaikan
(remedial) adalah 75.
4. Peserta ujian yang dinyatakan tidak lulus pada yudisium kedua setelah
ujian perbaikan (remedial), diwajibkan mengulang kembali selama satu
semester.
5. Peserta ujian yang tidak berhasil lulus pada yudisium kedua
setelah ujian perbaikan (remedial) akan diberikan surat peringatan.
6. Selama menempuh pendidikan, setiap mahasiswa PPDS-1 Patologi
Anatomi hanya dapat mengulang sebanyak 2 kali satu semester
(berturut-turut atau tidak).
7. Bila selama menenpuh PPDS-1 Patologi Anatomi mahasiswa PPDS-1
mengulang lebih dari 2 semester, maka yang bersangkutan akan
diberikan surat peringatan yang ketiga dan dinyatakan tidak dapat
meneruskan progam pendidikan. Ketua Program Studi Patologi
Anatomi akan mengirimkan laporan beserta surat kepada Koordinator
TKP PPDS-1 Fakultas Kedokteran UNPAD dan Dekan untuk
selanjutnya diproses sesuai peraturan yang berlaku di Fakultas
Kedokteran UNPAD.
I.c. Ujian Tesis
1. Ujian tesis dapat diikuti oleh PPDS-1 yang sudah menyelesaikan tugas
stase, sudah mengikuti ujian nasional tahap II, sudah melunasi uang
iuran keanggotaan IAPI dan menyelesaikan ketentuan pembayaran SPP
dari fakultas kedokteran UNPAD.
2. Ujian tesis meliputi:
a. Presentasi Usulan Penelitian
b. Presentasi Laporan Kemajuan/Progress Report
c. Ujian Tesis
3. Waktu ujian tesisn ditetapkan berdasarkan rapat departemen Patologi
Anatomi.
4. Pembimbing kegiatan penelitian akhir sebanyak 3 orang terdiri dari
pembimbing utama, pembimbing pendamping pertama, dan pembimbing

230

5.
6.
7.
8.
9.

pendamping kedua yang ditetapkan oleh KPS dan kepala departemen


berdasarkan SK kepala departemen.
Penguji tesis sebanyak 3 orang yang ditentukan berdasarkan hasil
keputusan rapat departemen patologi anatomi.
Staf pengajar yang tidak termasuk kedalamn tim pembimbing maupun
tim penguji, wajib menghadiri rangkaian kegiatan tesis dan memberikan
masukan.
Nilai dari tim pembimbing dan tim penguji berdasarkan buku pedoman
pelaksanaan pendidikan fakultas kedokteran Universitas Padjadjaran.
Segala ketentuan yang belum tercantum akan didiskusikan dan
diputuskan melalui rapat departemen Patologi Anatomi.
Tata cara penulisan tesis mengikuti peraturan yang tercantum pada
buku pedoman penulisan tesis fakultas kedokteran UNPAD.

I.d. Ujian Kompetensi Lokal


1. Ujian kompetensi lokal adalah ujian lisan, tertulis, maupun keterampilan
laboratorium yang meliputi histopatologi, sitologi, FNAB, dan menejerial
patologi anatomi.
2. Ujian kompetensi lokal wajib diikuti oleh peserta PPDS-1 yang telah
dinyatakan lulus ujian tesis sebelum mengikuti ujian nasional tahap III.
3. Ujian kompetensi lokal dilaksanakan pada waktu yang ditetapkan oleh
KPS.
4. Peserta ujian dinyatakan lulus apabila mendapatkan nilai masingmasing 75 untuk seluruh topik ujian.
5. Peserta yang belum lulus ujian kompetensi lokal (nilai dari setiap topik
ujian <75) diberi kesempatan mengulang ujian sebanyak satu kali.
6. Peserta yang dinyatakan lulus ujian kompetensi lokal dapat mengikuti
ujian nasional tahap III.
II. Ujian Nasional
II.a. Tahap I dan II
1. Ujian nasional tahap I dan II dilaksanakan sesuai ketentuan Kolegium
Nasional Patologi Anatomi. Waktu pelaksanaan ujian ditentukan oleh
Kolegium. Tempat pelaksanaan ujian di setiap pusat pendidikan Patologi
Anatomi yang ditunjuk oleh Kolegium.
2. Peserta ujian nasional tahap I adalah mahasiswa PPDS-1 Patologi
Anatomi yang telah menyelesaikan pendidikan semester 1 dan semester
2 yang berasal dari seluruh pusat pendidikan Patologi Anatomi, telah
mendaftar secara resmi yang dibuktikan melalui surat yang
ditandatangani oleh Kepala Departemen (atau wakil) dan Ketua
Program Studi (atau wakil), membayar biaya ujian sesuai ketentuan.
3. Peserta ujian nasional tahap II adalah mahasiswa PPDS-1 Patologi
Anatomi yang telah menyelesaikan pendidikan semester 1-5 yang
berasal dari seluruh pusat pendidikan Patologi anatomi, telah mendaftar
secara resmi yang dibuktikan melalui surat yang ditandatangani oleh

231

4.
5.

Kepala Departemen (atau wakil) dan Ketua Program Studi (atau wakil),
membayar biaya ujian sesuai ketentuan.
Ketentuan kelulusan peserta ujian ditetapkan oleh Kolegium dan
diumumkan melalui surat kepada Kepala Departemen (atau wakil) dan
Ketua Program Studi (atau wakil).
Bila peserta ujian dinyatakan tidak lulus, dapat mengikuti ujian ulang
pada kesempatan berikutnya dan memenuhi ketentuan yang ditetapkan
oleh Kolegium.

II.b. Ujian Nasional Tahap III


1.

2.

3.
4.

Ujian nasional tahap III dilaksanakan sesuai ketentuan Kolegium


Nasional Patologi Anatomi. Waktu pelaksanaan ujian ditentukan oleh
Kolegium. Tempat pelaksanaan ujian di setiap pusat pendidikan Patologi
Anatomi yang ditunjuk oleh Kolegium.
Peserta ujian nasional tahap III adalah mahasiswa PPDS-1 Patologi
Anatomi yang telah menyelesaikan pendidikan seluruh tahapan
pendidikan yang berasal dari seluruh pusat pendidikan Patologi anatomi,
telah dinyatakan lulus ujian akhir lokal (ujian tesis dan kompetensi),
mendaftar secara resmi yang dibuktikan melalui surat yang
ditandatangani oleh Kepala Departemen (atau wakil) dan Ketua
Program Studi (atau wakil), membayar biaya ujian sesuai ketentuan, dan
memenuhi seluruh persyaratan yang ditetapkan oleh Kolegium.
Bila peserta ujian dinyatakan tidak lulus, dapat mengikuti ujian ulang
pada kesempatan berikutnya dan memenuhi ketentuan yang ditetapkan
oleh Kolegium.
Peserta yang lulus pada ujian nasional tahap III dinyatakan telah
menyelesaikan pendidikan PPDS-1 Patologi Anatomi dan berhak
menggunakan gelar Dokter Spesialis Patologi Anatomi, setelah
menerima Sertifikat Kompetensi Kolegium Patologi Anatomi, dan
mendapatkankan ijazah Spesialis Patologi Anatomi dari Universitas
Padjadjaran.

E. Tata Tertib
Tata Cara Program Studi
1. Alih Program Studi
Peserta PPDS-I mengajukan surat untuk alih Program Studi kepada
Ketua Program Studi, selanjutnya yang bersangkutan menghubungi dan
mengajukan permintaan alih Program Studi kepada Ketua Program
Studi yang baru dengan membawa keterangan dari Ketua Program
Studi yang lama. Ketua Program Studi yang baru akan menelaah
kelayakan yang bersangkutan untuk dapat diterima sebagai peserta
PPDS-I, bila diperlukan, yang bersangkutan diharuskan untuk menjalani
berbagai uji seleksi penerimaan.

232

2.

Alih Institusi Pendidikan dari Institusi lain ke PPDS-I Fakultas


Kedokteran UNPAD.
Pelamar menghubungi dan mengajukan permohonan untuk pindah
institusi pendidikan PPDS-I kepada Ketua Program Studi yang dituju
dengan membawa surat keterangan yang dianggap perlu dari Ketua
Program Studi Institusi asal. Bila dalam penilaian Ketua Program Studi
yang dituju, setelah melalui konsultasi dengan para staf pendidik
Departemen, yang bersangkutan dapat diterima, maka yang
bersangkutan harus mengundurkan diri dari Program Studi di Institusi
Asal dan memohon untuk pindah ke PPDS-I Fakultas Kedokteran
UNPAD. Rektor di Institusi Asal mengirimkan surat kepada Rektor
Universitas Padjadjaran mengenai maksud kepindahan yang
bersangkutan. Selanjutnya Dekan Fakultas Kedokteran melalui TKP
PPDS-I, akan berkonsultasi secara tertulis dengan Ketua Program Studi.
Bila diterima, Rektor UNPAD akan mengirim jawaban kepada Rektor
Institusi Asal, dan selanjutnya di tingkat Fakultas yang bersangkutan
akan didaftarkan sebagai mahasiswa baru PPDS-I melalui SMUP sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.

3.

Alih Institusi Pendidikan dari PPDS-I Fakultas Kedokteran UNPAD


Peserta PPDS-I menghubungi Ketua Program Studi di Institusi yang
dituju, setelah memperoleh jawaban yang positif, sedapat mungkin
tertulis, yang bersangkutan mengajukan permohonan alih institusi
pendidikan kepada Ketua Program Studi, selanjutnya Ketua Program
Studi akan membuat surat persetujuan mengenai hal tersebut kepada
Dekan dengan tembusan kepada TKP PPDS-I. Atas usulan Dekan,
Rektor akan mengirimkan surat kepada Rektor Institusi yang dituju yang
berisi maksud kepindahan peserta PPDS-I tersebut. Bila diterima,
Rektor akan member informasi kepada Dekan dan selanjutnya melalui
mekanisme yang berlaku, peserta PPDS-I termaksud dihapus status
kemahasiswaannya dari Universitas Padjadjaran.

KETENTUAN PENGAMBILAN CUTI BAGI PESERTA PPDS-I


1. Lama cuti dalam satu tahun adalah 12 hari kerja dengan catatan:
Lama cuti maksimal yang boleh diambil dalam satu subbagian / divisi/
unit kerja adalah 6 hari kerja. Permohonan cuti diajukan kepada kepala
subbagian tempat peserta PPDS-I berdinas, selanjutnya diteruskan
kepada Kepala Bagian melalui KPS.
2.

Cuti sakit
Harus dibuktikan dengan surat keterangan dari dokter spesialis yang
menerangkan peserta didik tidak diperkenankan untuk mengikuti
kegiatan pendidikan.
Bila lama sakit lebih dari 6 hari dalam satu subbagian/ divisi/ unit kerja
yang bersangkutan harus mengulang di subbagian tersebut.

233

3.

Cuti hamil
Cuti hamil diberikan selama 3 tiga bulan untuk peserta program studi.

4.

Cuti akademik/ penghentian studi sementara.


Sesuai ketentuan dalam Pedoman Umum Penyelenggaraan Pendidikan
Universitas Padjadjaran penghentian studi sementara hanya
diperkenankan selama satu semester dengan alasan yang dapat
diterima sesuai dengan peraturan Universitas.
Surat permohonan untuk mengambil cuti akademik ditujukan kepada
Rektor Universitas Padjadjaran melalui TKP PPDS, paling lambat 6
minggu sebelum dimulainya semester yang akan datang.

5.

Cuti khusus
Merupakan jenis cuti yang diberikan atas pertimbangan Kepala Bagian/
Departemen dengan masukan dari KPS, termasuk kedalam Cuti Khusus
adalah cuti untuk melaksanakan ibadah Haji/ Umroh, menikah dan lain
lain. Lama cuti disesuaikan dengan keperluan dan dengan
memperhitungkan aspek pendidikan.

F. Jenis Pelanggaran dan Sanksi


Selama proses pendidikan, setiap peserta didik PPDS-1 Patologi Anatomi
harus mengikuti seluruh peraturan yang berlaku dan terikat pada aturan yang
telah dibaca, disetujui dan ditandatangani diatas materai 6000 pada waktu acara
Penerimaan Mahasiswa Baru, yaitu berupa: Surat Pernyataan Kesanggupan
Mematuhi Segala Aturan dan Surat Pernyataan Bebas Penggunaan Narkoba.
Bila melanggar aturan tersebut maka peserta didik akan terkena sanksi
pendidikan.
Sanksi pendidikan adalah seperangkat tindakan yang dapat berupa teguran
lisan atau tertulis, mengulang di suatu subbagian/divisi/unit kerja program
pendidikan spesialis, dipekerjakan di suatu unit kerja yang berhubungan dengan
pendidikan, skorsing sampai dengan pemutusan studi. Sanksi pendidikan
ditujukan untuk memperbaiki kinerja peserta didik dan atau untuk melindungi
pasien/masyarakat, institusi, dan peserta didik sendiri terhadap kerugian akibat
pelanggaran dan kelalaian yang dilakukan oleh peserta didik atau akibat kondisi
khusus tertentu.
Jenis pelanggaran/ kelalaian atau kondisi khusus peserta didik
termaksud di atas dapat dikelompokkan kedalam :
1. Kelalaian administratif
2. Kekurangan dalam pencapaian kompetensi
3. Tidak mampu mempertahankan kompetensi yang telah dicapai selama masa
pendidikan
4. Sikap perilaku yang melanggar etika dan profesionalisme
5. Pelanggaran hukum
6. Masalah khusus seperti pengguna NAPZA dan penyakit tertentu.

234

Kelalaian administratif dapat berupa :


1. Tidak melakukan registrasi.
Bila tidak melakukan registrasi tanpa alasan yang jelas maka yang
bersangkutan tidak diperkenankan untuk mengikuti kegiatan pendidikan
pada semester tersebut, dan semester tersebut diperhitungkan dalam
masa studi. Peserta didik tersebut tetap diwajibkan hadir di program studi
dan penempatan kerjanya di atur oleh Ketua Program Studi.
Bila tidak melakukan registrasi selama 2 semester berturut-turut peserta
didik dianggap mengundurkan diri. Surat keputusan mengenai pemutusan
studi yang bersangkutan diterbitkan oleh Rektor Universitas Padjadjaran
atas laporan Pimpinan Fakultas.
2. Meninggalkan proses pembelajaran tanpa alasan yang dapat diterima
Pendidikan Program Spesialis merupakan pendidikan yang mempunyai
ciri yang sangat spesifik berupa hubungan yang sangat erat antara
pembelajaran akademik dan praktek keprofesian.
Peserta didik, secara progresif memperoleh pemaparan klinis ( clinical
exposure ) yang memadai untuk memperoleh pengalaman klinis yang
diperlukan untuk mencapai keahlian, yang dengan keahlian tersebut
mereka dapat memberikan pelayanan kesehatan dengan kualitas yang
sangat baik.
Secara ringkas, karakteristik pendidikan dokter spesialis berupa
education, clinical exposure, and experience yang akan
mengantarkan peserta didik menjadi seorang expertise, evidencebased practice and excellence.
Dengan memahami karakteristik tersebut, peserta PPDS-I harus mengikuti
semua kegiatan pendidikan dengan sebaik-baiknya.
Bila peserta PPDS-I meninggalkan proses pembelajaran kurang dari satu
minggu, tanpa alasan yang dapat diterima, maka yang bersangkutan akan
menerima teguran tertulis.
Bila peserta didik meninggalkan proses pembelajaran selama 2 (dua)
minggu baik berturut-turut atau tidak, yang bersangkutan diharuskan
mengulang keseluruhan semester yang sedang berjalan.
Bila peserta PPDS-I meninggalkan proses pembelajaran selama 2 ( dua )
minggu berturut-turut tanpa alasan yang dapat diterima, Ketua Program
Studi akan mengirim surat teguran dengan tembusan kepada Pembantu
Dekan I dan TKP PPDS-I. Bila dalam 2 ( dua ) minggu yang bersangkutan
tidak kunjung membalas surat tersebut atau tidak menghubungi program
studi, Ketua Program Studi akan mengirimkan surat teguran kedua dan
ketiga dengan selang antara 2 ( dua ) minggu. Bila dalam 2 minggu
setelah surat teguran ketiga, yang bersangkutan tidak kunjung membalas
surat tersebut atau tidak menghubungi program studi, maka yang
bersangkutan dianggap mengundurkan diri sebagai peserta PPDS-I
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Ketua Program Studi

235

menyampaikan laporan mengenai hal tersebut kepada Pimpinan Fakultas


untuk proses pemutusan studi.
3. Tidak mematuhi jam kerja
Bila peserta didik diketahui tidak mematuhi jam kerja, yang bersangkutan
akan mendapat teguran lisan, bila tetap berulang akan diberikan teguran
tertulis. Bila setelah 2 (dua) kali mendapat teguran tertulis, yang
bersangkutan tidak menunjukkan perbaikan, yang bersangkutan
diharuskan mengulang keseluruhan semester yang sedang berjalan.
4. Sikap perilaku yang melanggar etika dan profesionalisme antara lain
dapat berupa sikap perilaku terhadap :
a. Pasien :
Tidak menunjukkan sikap belas kasih, misalnya bersikap kasar
Tidak menunjukkan sifat altruisme,malah menelantarkan pasien dan
keluarganya
Tidak memiliki kepekaan terhadap kebutuhan pasien,
tidak
memberikan rasa nyaman
Tidak dapat dipercaya
Tidak dapat menjaga kerahasiaan pasien
Tidak peka terhadap nilai nilai ras, gender, dan nilai lain yang dianut
pasien seperti agama dan kepercayaan.
b. Pendidik
Misalnya tidak bersikap santun terhadap pendidik, baik yang berasal dari
program studi yang bersangkutan maupun yang diluar program studi
c. Sejawat residen, baik yang berasal dari satu program studi maupun diluar
program studi, baik terhadap yang senior, sederajat maupun terhadap
yang yunior. Pelanggaran diantaranya dapat berupa kekerasan verbal,
fisik maupun tekanan secara finansial
d.Paramedis dan karyawan rumah sakit seperti misalnya tidak menghargai
tugas dan kewajiban mereka.
a.

Keilmuan.
Dapat berupa meninggalkan/tidak mengikuti acara ilmiah seperti journal
review/reading, referat, sajian kasus), atau melalaikan tugas yang
bersifat keilmuan seperti tugas baca; tanpa alasan yang dapat diterima.
b. Institusi
Seperti tidak menjaga peralatan Rumah Sakit Pendidikan dengan baik,
atau tidak mengindahkan peraturan Rumah Sakit Pendidikan dan
Fakultas Kedokteran UNPAD.
5. Pelanggaran hukum
Bila peserta didik diduga melanggar hukum dan sedang dalam proses
penegakkan hukum, peserta didik dibebaskan dari tugas mengikuti proses
pembelajaran.
Bila dikemudian hari dinyatakan tidak bersalah, yang bersangkutan
diperkenankan untuk mengikuti kembali proses pembelajaran. Masa yang
hilang sebagai akibat proses penegakkan hukum diusahakan dengan

236

meminta bantuan Pimpinan Fakultas untuk tidak dimasukkan kedalam masa


studi terjadwal.
Bila telah ditetapkan bersalah, Rektor akan mengeluarkan sanksi berupa
skorsing sampai pemutusan studi.
6. Kondisi khusus peserta PPDS
Yang dimaksud kondisi khusus peserta PPDS-I dapat berupa yang
bersangkutan diketahui sebagai pengguna NAPZA atau memiliki penyakit
kejiwaan, dan lain sejenisnya.
Dengan berlakunya UU nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotik, status
pengguna narkotik bukan lagi diklasifikasikan sebagai kriminal, namun
sebagai pasien yang wajib lapor diri dan menjalani rehabilitasi,kecuali bila
yang bersangkutan juga bertindak sebagai pengedar atau sejenisnya. Yang
bersangkutan harus menjalani rehabilitasi medik atau sosial di institusi yang
ditunjuk pemerintah. Hal ini sesuai dengan UU nomor 35 Tahun 2009
tentang Narkotik dan sesuai pula dengan salah satu komponen kompetensi
dari area kompetensi pengembangan profesi dan kepribadian (lihat
lampiran 3) yang menyatakan bahwa peserta didik harus memiliki
kemampuan untuk dapat mengidentifikasi masalah-masalah yang
mempengaruhi kesehatan, kesejahteraan dan kemampuan profesi.
Yang bersangkutan dibebaskan dari proses pembelajaran selama masa
pengobatan dan rehabilitasi, namun tetap diperhitungkan kedalam masa
studi terjadwal. Bila yang bersangkutan dinyatakan telah bebas dari
penggunaan NAPZA dengan menunjukkan sertifikat dari institusi yang
merawat atau merehabilitasi, diperkenankan kembali melanjutkan
pendidikan. Namun untuk tingkat pemakaian ketergantungan, yang
bersangkutan diminta untuk mengundurkan diri sebagai peserta PPDS-I,
mengingat tingkat ketergantungan memiliki angka kekambuhan yang tinggi.
Kondisi ini harus berdasarkan keterangan dari Dokter Spesialis Kedokteran
Jiwa bagian Adiksi.
Khusus bagi peserta PPDS-I yang dalam kegiatannya banyak berhubungan
dengan zat-zat yang dapat menimbulkan adiksi, seperti Program Studi
Anestesi dan Terapi Intensif dan Ilmu Kedokteran Jiwa, demi kebaikan
dirinya dan masyarakat, pengguna NAPZA tidak diperkenankan untuk
melanjutkan pendidikan.
Bagi peserta didik yang mengalami gangguan kejiwaan, seperti psikotik atau
gangguan kepribadian yang menunjukkan atau berpotensi untuk
menimbulkan ketidakamanan/ kerugian bagi dirinya dan pasien/masyarakat,
tidak diperkenankan untuk melanjutkan proses pembelanjaran. Kondisi ini
harus berdasarkan keterangan dari Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa.
Peserta didik yang mengalami kondisi khusus diatas dan tidak
memungkinkan untuk melanjutkan pendidikannya, Pimpinan Fakultas atas
laporan Ketua Program Studi mengusulkan penghentian studi kepada
Rektor.

237

Derajat berat ringannya bentuk pelanggaran/kelalaian


Pengertian mengenai batasan tentang pelanggaran ringan dan sedang
diserahkan kepada Ketua Program Studi melalui penelaahan bersama
dengan jajaran staf pendidik, termasuk kepala bagian/departemen, terutama
dalam hal menyangkut aspek sikap perilaku yang melanggar etika dan
profesionalisme.
Contoh pelanggaran ringan adalah peserta didik tidak mengikuti acara
ilmiah kurang dari 3 kali tanpa alasan yang dapat diterima. Namun peserta
PPDS-I harus menyadari bahwa pelanggaran ringan yang dilakukan
berulang, dapat berakumulasi menjadi pelanggaran sedang.Contoh
pelanggaran sedang adalah melakukan kekerasan verbal terhadap peserta
PPDS-I yunior.Pelanggaran berat dapat berupa plagiarism, kelalaian yang
dapat menimbulkan kecacatan, dan sebagainya.
Pelanggaran/kelalaian yang dinilai berat harus diperkuat oleh keputusan
Komite Medik R.S Pendidikan.
Bentuk Sanksi Pendidikan
a. Pelanggaran ringan diberikan teguran lisan dan atau tertulis.
b. Pelanggaran sedang, selain teguran tertulis
disertai dengan
mengulang di subagian /divisi/unit kerja tertentu paling lama 3 bulan.
Penempatan di subagian/divisi/unit kerja tersebut disesuaikan dengan
kepentingan pendidikan peserta PPDS-I. Sanksi pendidikan tersebut
diberlakukan segera setelah keputusan pemberian sanksi pendidikan
diterbitkan oleh Ketua Program Studi.
c. Pelanggaran berat, yang diperkuat oleh penilaian komite medik R S
Pendidikan, sanksi pendidikan dapat berupa skorsing atau pemutusan
studi. Program Studi memberi laporan kepada Dekan Fakultas
Kedokteran mengenai adanya pelanggaran berat tersebut disertai
dengan bukti-bukti yang diperlukan.
d. Pimpinan Fakultas menyelenggarakan Rapat Senat Fakultas untuk
membahas pemberian skorsing atau pemutusan studi.
e. Surat keputusan skorsing atau pemutusan studi diterbitkan oleh Rektor
Universitas Padjadjaran atas usulan Pimpinan Fakultas.
Pemutusan Studi
Peserta PPDS-I dinyatakan putus studi bila tidak dapat memenuhi
persyaratan administrasi, atas keinginan sendiri, evaluasi atas pencapaian
kompetensi, pelanggaran etika dan profesionalisme, dan atau sebab lain
sebagai berikut :
a. Kelalaian Administrasi
1. Tidak melaksanakan registrasi selama 2 semester berturut-turut
2. Meninggalkan proses pembelajaran selama lebih dari 2 (dua) minggu
tanpa alasan yang dapat diterima dan tidak mengindahkan surat
teguran ke-3 yang dikirimkan oleh Ketua Program Studi.

238

b. Atas Keinginan sendiri


Peserta didik berhak mengundurkan diri dari pendidikan atas dasar
keinginan sendiri dengan mengajukan permintaan tertulis kepada
Pimpinan Fakultas dengan tembusan kepada TKP PPDS disertai alasan
pengunduran diri.Sebagai contoh adalah karena alasan kesehatan yang
tidak memungkinkan untuk melanjutkan pendidikan.Segala akibat
pengunduran diri ditanggung oleh yang bersangkutan, seperti misalnya
pengembalian dana beasiswa,dan sebagainya.
c. Atas dasar evaluasi pencapaian kompentensi
Alasan ini seyogyanya tidak terjadi dalam proses pendidikan dokter
spesialis, namun adakalanya setelah berbagai upaya dilaksanakan
namun derajat kompetensi tertentu sebagai persyaratan kelulusan tidak
kunjung dicapai. Dalam keadaan ini dengan berat hati, atas dasar
tanggung jawab profesi pendidik terhadap masyarakat pemutusan studi
tidak dapat dihindarkan.
Sebaiknya pemutusan studi dilakukan pada jenjang pertama dari
pendidikan atas dasar pertimbangan kebaikan peserta didik. Namun
dalam keadaan tertentu yang sangat tidak diharapkan, pemutusan studi
dapat terjadi pada jenjang di atasnya, misalnya peserta PPDS-I
melakukan pelanggaran berat pada jenjang senior.
Agar tidak terjadi pemutusan studi atas dasar evaluasi pencapaian
kompetensi, peserta PPDS-I harus berupaya sekuat tenaga dan dengan
kerjasama yang baik dengan para pendidik untuk meningkatkan kinerja
mereka.
d. Atas dasar Pelanggaran Etika dan Profesionalisme yang berat
Pelanggaran etika berat yang diperkuat keputusan komite medik R S
Pendidikan diajukan ke rapat Senat Fakultas, bila Senat Fakultas
sependapat dengan Program Studi dan Komite Medik R S Pendidikan,
Pimpinan Fakultas mengajukan usulan pemutusan studi kepada Rektor.
e. Pemutusan Studi akibat telah melebihi batas ahir studi
Bila karena sesuatu hal PPDS-I dalam proses pendidikannya telah
melewati batas ahir studi, yang bersangkutan dapat dilakukan
pemutusan studi.
f. Kondisi khusus
Penderita pengguna NAPZA atau gangguan kejiwaan yang tidak
memungkinkan untuk melanjutkan pendidikan yang diperkuat oleh
keterangan tertulis dari dokter spesialis kedokteran jiwa dapat dilakukan
pemutusan studi.

15. Program Studi Patologi Klinik

239

A.

Metode Pembelajaran
Materi pembelajaran merupakan bidang ilmu, keterampilan, dan perilaku
yang harus dipelajari dan dikuasai oleh peserta didik untuk mencapai tujuan
pendidikan. Materi pembelajaran pada umumnya berupa praktek dan teori,
ilmu biomedis dasar, ilmu klinis dan laboratorium bidang spesialisasi terkait,
pengetahuan mengenai perilaku, etika kedokteran, sistem kesehatan yang
berlaku, aspek medikolegal dan ilmu sosial lain. Ilmu biomedis dasar,
tergantung kebutuhan, dapat berupa anatomi, fisiologi, biokimia, biofisika,
biologi sel dan molekuler, genetika, mikrobiologi, imunologi farmakologi,
patologi, dsb. Ilmu klinis berupa bidang ilmu spesialistik baik berupa klinis
maupun laboratorium. Ilmu lain, tergantung dari kebutuhan, dapat berupa
psikologi medis, sosiologi medis, biostatistik, epidemiologi, kedokteran
masyarakat, dsb.
Disamping itu setiap peserta PPDS-I Patologi Klinik diwajibkan untuk
mempelajari, mencontoh, dan menerapkan sikap profesionalisme. Beberapa
aspek penting dari sikap profesionalisme yang harus ditunjukkan oleh
peserta didik adalah :
a. Kemandirian, mampu mengambil keputusan klinis secara mandiri
dengan tujuan untuk kebaikan pasien
b. Altruisme, mengedepankan kepentingan orang lain dalam hal ini pasien
dan keluarganya
c. Menunjukkan belas kasih dalam menghadapi pasien
d. Memiliki kepekaan terhadap kebutuhan pasien, memberikan rasa
nyaman
e. Dapat dipercaya dan diandalkan termasuk dalam pemenuhan janji
seperti jadwal praktek, konsultasi dan sebagainya
f. Dapat menjaga kerahasian pasien
g. Memiliki kepekaan dan mengambil tindakan yang sesuai terhadap
maslah gender, usia, budaya, agama, dan ketidak mampuan atau
kecacatan yang dimiliki pasien
h. Menghargai orang lain, termasuk hal-hal yang bersifat pribadi dan
martabat pasien, menghargai martabat-tugas dan pekerjaan sesama
residen baik yang junior, para pendidik, residen dan pendidik dibidang
spesialisasi lain, perawat, dan karyawan rumah sakit, dsb.
Dapat mempertanggungjawabkan segala tindakan medis yang diambil
baik terhadap pasien, masyarakat maupun terhadap organisasi pofesi.
Diharapkan peserta didik dapat menunjukkan dirinya sebagai seorang ahli
dalam bidang spesialisasanya, penasihat dalam bidang kesehatan,
komunikator kesehatan, pendidik, manajer kesehatan, dan menjadi pribadi
yang mampu bekerjasama dalam suatu kelompok. Lebih jauh lagi,
mengingat muatan akademik yang begitu tinggi, kurang lebih mencapai 40%,
setelah lulus diharapkan peserta didik dapat berkiprah sebagai seorang
peneliti di bidang kesehatan.

240

B.

Struktur Mata Kuliah


No

Materi Pendidikan

MKDU
Dasar-Dasar
Pengetahuan
Laboratorium
Patogenesis,
patofisiologi,diagnosis
dan
intepretasi
pemeriksaan
laboratorium
untuk
penyakit
hematologi dan onkologi
Patogenesis,
patofisiologi,diagnosis
dan
intepretasi
pemeriksaan
laboratorium untuk penyakit metabolicendokrin, kardiovaskular, gastroenterohepatologi dan nefrologi
Patogenesis,
patofisiologi,diagnosis
dan
intepretasi
pemeriksaan
laboratorium untuk mikrobiologi klinik
dan penyakit infeksi
Patogenesis,
patofisiologi,diagnosis
dan
intepretasi
pemeriksaan
laboratorium untuk penyakit alergi dan
imunologi
Ujian Kompetensi

Stase PMI dan Bank Darah

Stase RS Jejaring, IPD dan IKA

Manajemen Laboratorium

10
11

Bobot
SKS
10

Semester
I

16

II S/D VII

16

II S/D VII

II S/D VII

II S/D VII

III

IV S/D VII

Penelitian Mandiri

III - VII

Karya Tulis Akhir (Tesis)

IV - VII

Dengan perincian sebagai berikut :


A. Tahap Dasar
No
1
2
3
4
5

Materi
Orientasi Lapangan
Overview Departemen Struktur
Organisasi
Tata Tertib PPDS
Proses Pendidikan dan Kurikulum
Alur dan Jenis Pelayanan

Waktu
1
1
1
1
1

SKS

Semester
I

241

No

Materi

Waktu

K3
Patient Safety
Universal Precaution
Peraturan Jaga
Overiew Laboratorium Rawat
Emergensi
Overiew Laboratorium Rawat Inap
Overiew Laboratorium Rawat Jalan
Pengambilan Darah dan Persiapan
Bahan Pemeriksaan Hematologi
Pengambilan Darah Dan Persiapan
Bahan Pemeriksaan Mikrobiologi
LCS, Transudat + Eksudat
Praktikum Pengambilan Darah Dan
Persiapan Sampel
Kuliah Umum Divisi Hematologi
Kuliah Umum Divisi Hematologi
(Hemostasis)
Kuliah Umum Divisi Hematologi
(Transfusi Darah)
Kuliah Hemato-Onkologi
Kuliah Imuno-Onkologi
Overview Imunologi
Kuliah Imunologi Alamiah Dasar
(Seluler Dan Humoral)
Kuliah Imunologi Adaptif Dasar
(Limfosit B, Limfosit T Dan Antibodi)
Prinsip Metode Pemeriksaan Imunologi
(Aglutinasi, ICT, EIA)
Pengenalan Alat Dan Perawatannya Di
Lab Imunologi
Kuliah Penanda Cardiovaskuler
Disease
Kuliah Dasar Nefrologi
Pengambilan Darah Dan Persiapan
Bahan Pemeriksaan Urin Dan Cairan
Tubuh
Kuliah Umum Divisi Endokrin Dan
Metabolisme
Prinsip Kerja Alat Ukur

10

11
12

13
14

SKS

Semester

1
1

1
1

242

No

15

16
17
18
19

20

21

22
23

24

Materi
Kuliah Dasar Gastroenterologi Hepatik
Tutorial
Menggunakan Dan Merawat Mikroskop
Kuliah Mikrobiologi dan Biologi
Molekuler
Spektrofotometri, Turbidimetri,
Nefelometri
Alat Pengukur Gas Darah Dan
Elektrolit, Coulometri
Enzimatik, End Point, Rate Assay
Prinsip Pemeriksaan Elektroforesis,
Immunoelektroforesis, Khromoatografi,
Immuno-Difusi, Immuno-Kimia, ELISA,
Chemiluminescense, Flow-Cytometer
Kuliah Pengenalan Metode Imunologi
Elisa Imunokromatography, Aglutinasi,
Flowsitometri, ECLIA
Preanalitik, Analtik, Dan Post Analitik
Pemeriksaan Imunologi
Memahami Prinsip Kerja Biakan
Kuman, Jamur, Uji Kepekaan Kuman;
Pewarnaan Mikrobiologi,Teknik
Pewarnaan Sediaan Hematologi,
Jamur,Urinalisis, Parasitologi,
Pewarnaan ZN
Prinsip Pengadaan, Penggunaan &
Pelaporan Pemakaian Reagen,
Penyimpanan Reagensia, Kalibrator,
Standard, Kontrol Laboratorium Klinik
Prinsip Alat Automatik, Cara
Pengambilan Bahan Spesimen
Prinsip Kontrol Mutu Hasil Lab
Prinsip Perbankan Darah
Membuat Anggaran Untuk Lab
Mengawasi Dan Membimbing Tenaga
Teknis Dan Adm. Lab
Menggunakan Kepustakaan Sebagai
Sumber Pengetahuan
Tanggung Jawab Terhadap Tugas
JUMLAH

Waktu

SKS

1
1
1
1

1
1
1
1

24

10

Semester

243

No

Materi

Waktu

Tahap Klinis
1. Divisi Imunologi Klinik
Kompetensi yang
No
Materi
diharapkan
1 Dengue,
Mampu memahami dan
Typhoid,
menginterpretasikan
malaria, TBC
pemeriksaan laboratorium
(common
serologi penyakit dengue,
infection)
typhoid, malaria dan TBC
(common infection)

SKS

Semester

B.

Hepatitis
A,B,C,D,E
Other rare viral
infection (EBV)
HIV, Sifilis,
Chlamydia
(STD)

WB
Imunoelectroph
oresis,
Flowsitometri
Imunitasseluler
(Quantiferon/Elli
spot)

Amoeba,
Leptospira,
H.pylori
danpenyakit
parasit lain

Infeksi jamur
dan bakteri lain

Mampu memahami dan


menginterpretasikan
pemeriksaan laboratorium
serologi Hepatitis
A,B,C,D,E Other rare viral
infection (EBV)
Mampu memahami dan
menginterpretasikan
pemeriksaan laboratorium
serologi HIV, Sifilis,
Chlamydia (STD)
Mampu memahami dan
menginterpretasikan
pemeriksaan laboratorium
serologi WB
Imunoelectrophoresis,
Flowsitometri
Imunitasseluler
(Quantiferon)
Mampu memahami dan
menginterpretasikan
pemeriksaan laboratorium
serologi Amoeba,
Leptospira, H.pylori
danpenyakit parasit lain
Mampu memahami dan
menginterpretasikan

Wkt
2

SK
S

Seme
ster
II s/d
IV

II s/d
IV

II s/d
IV

II s/d
IV

II s/d
IV

II s/d
IV

244

(Streptococcus)

pemeriksaan laboratorium
serologi Infeksi jamur dan
bakteri lain (Streptococcus)
JUMLAH

2.
No

12

Divisi Kimia Klinik


Materi
Pemeriksaan
parameter Kimia
Klinik dari awal
(spesimen
managemen)
sampai akhir
(validasi hasil) :
1. Auto
analyser
Cobas 6000
2. Alat
fotometer
ode
pemeriksaan
Hitachi 4020
3. Pemeriksaan
elektroforesis
protein
4. Pemeriksaan
batu ginjal
5. Pemeriksaan
klirens
kreatinin
6. Pemeriksaan
gas darah
Endokrin dan
metabolisme :
Kelenjar
tiroid
Infertilitas
Test
kehamilan
Kelenjar

Kompetensi yang
diharapkan
1. Memahami prinsip
kerja alat-alat dan
metode-metode
pemeriksaan
2. Memahami etiologi
dan patogenesis
peningkatan/penur
unan kadar
pemeriksaan
laboratorium terkait
3. Mampu
mengetahui dan
melakukan trouble
shooting tahap
awal untuk
pemeriksaan
dengan alat terkait
4. Mampu
menghitung dan
menginterpretasi
hasil pemeriksaan
klirens kreatinin
5. Mampu
menginterpretasi
hasil pemeriksaan
AGD dan batu
ginjal
Memahami dan mampu
mengerjakan serta
menginterpretasi hasil
pemeriksaan Kimia
Klinik yang
berhubungan dengan
gangguan endokrin dan
metabolisme

Wkt

SK
S

Semes
ter

II s/d IV

II s/d IV

245

No

Materi
prostat :
- Fosfatase
asam
- Fosfatase
prostat

Parameter Kimia
Klinik untuk
diagnosa Anemia
Hemolitik Anemia
Defisiensi Fe:
Fe serum
TIBC
G6PD

Internal QC
External QC

Pemeriksaan
parameter Kimia
Klinik pada
gangguan
Hepatogastoenter
ologi

Pemeriksaan
parameter Kimia
Klinik pada
gangguan Sistem
Enzimologi

Point of Care

Kompetensi yang
diharapkan
Kelenjar tiroid
Infertilitas
Test kehamilan
Kelenjar prostat

Memahami dan mampu


mengerjakan serta
menginterpretasi
parameter Kimia Klinik
yang berhubungan
dengan gangguan
endokrin dan
metabolisme :
Fe serum
TIBC
Feritin
Transferrin
G6PD
Memahami dan mampu
mengerjakan serta
menginterpretasi serta
mengevaluasi :
Internal QC
External QC
Memahami dan mampu
mengerjakan serta
menginterpretasi
pemeriksaan Kimia
Klinik yang
berhubungan dengan
gangguan
Hepatogastroenterologi
Memahami dan mampu
mengerjakan serta
mengevaluasi
pemeriksaan Kimia
Klinik yang
berhubungan dengan
gangguan Sistem
Enzimologi
Mampu menggunakan

Wkt

SK
S

Semes
ter

II s/d IV

II s/d IV

II s/d IV

II s/d IV

II s/d IV

246

No

Materi
Testing (POCT)

Keseimbangan
Elektrolit:
Kadar
Natrium
serum & urin
Kadar Kalium
serum & urin
Kadar
Calcium
serum & urin
Kadar
Magnesium
serum & urin
Kadar
Phosphor
serum & urin
Kadar Ureum
serum & urin
Kadar
Kreatinin
serum & urin

Kompetensi yang
diharapkan
dan memahami serta
menginterpretasi
pemeriksaan
laboratorium POCT
Memahami dan mampu
mengerjakan,
menginterpretasi serta
mengevaluasi
parameter Kimia Klinik
yang berhbungan
dengan gangguan
keseimbangan elektrolit

Wkt

SK
S

Semes
ter

II s/d IV

Pemeriksaan
laboratorium
untuk penyakit
Saluran kemih

Memahami dan mampu


mengerjakan,
menginterpretasi serta
mengevaluasi
parameter Kimia Klinik
yang berhbungan
dengan gangguan
Saluran Kemih

II s/d IV

10

Pemeriksaan
laboratorium
Cairan Tubuh :
Cairan
peritoneal
Cairan
amnion
Cairan sendi
Cairan pleura
Cairan

Memahami dan mampu


mengerjakan,
menginterpretasi serta
mengevaluasi
parameter Kimia Klinik
yang berhbungan
dengan gangguan
Cairan Tubuh

II s/d IV

247

No

Kompetensi yang
diharapkan

Materi

Wkt

SK
S

Semes
ter

perikardial

11

Pemeriksaan
parameter Kimia
Klinik
Kardiovaskuler

12

Pemeriksaan
Hepatogastroente
rologi

13

Pemeriksaan
Kardiologi,
Enzimologi &
Endokrinologi

14

Drug abuse &


Toxicology

Memahami dan mampu


mengerjakan,
menginterpretasi serta
mengevaluasi
parameter Kimia Klinik
yang berhbungan
dengan gangguan
sistem kardiovaskuler
Memahami dan mampu
mengerjakan,
menginterpretasi serta
mengevaluasi hasil
pemeriksaan serta
faktor-faktor interferensi
pemeriksaan
Hepatogastroenterologi
Memahami dan mampu
mengerjakan,
menginterpretasi serta
mengevaluasi hasil
pemeriksaan serta
faktor-faktor interferensi
Kardiologi, Enzimologi
& Endokrinologi
Memahami
farmakokinetik,
metabolisme obat,
farmakodinamik,
monitoring obat-obat
khususm sindrom
toksikologik, evaluasi
dan manajemen over
dosis dan keracunan
obat

JUMLAH

3.

Divisi Hematologi Klinik

II s/d IV

II s/d IV

II s/d IV

II s/d IV

24

248

No
1

Materi
A.

Manajemen
Lab
Hematologi

1.

2.

3.

4.

5.

B.

Alat
Hematologi
Otomatis

6.

C.

Kelainan
Eritrosit

7.

D.

Pemeriksaan
Hematologi
yang
berhubunga
n
dengan
kelainan

8.

Kompetensi yang
diharapkan
Memahami,
mampu
membuat
dan
mengelola pemantapan
mutu lab hematologi.
Memahami,
mampu
membuat
dan
mengevaluasi kebijakan
lab hematologi.
Memahami,
mampu
membuat
dan
mengevaluasi protap lab
hematologi.
Memahami,
mampu
membuat
dan
mengevaluasi instruksi
kerja lab hematologi.
Memahami,
mampu
membuat
dan
mengevaluasi
tahap
preanalitik pemeriksaan
lab hematologi.
Memahami prinsip kerja,
mampu menggunakan
dan mengetahui trouble
shooting tahap awal
untuk alat hematologi
Analyzer Lengkap
Memahami
pathogenesis
dan
patofisiologi serta dapat
menjelaskan
kelainan
eritrosit secara umum,
yang meliputi : kelainan
jumlah,
fungsi
atau
morfologinya
Memahami,
mampu
mengerjakan
dan
mengevaluasi
pemeriksaan hematologi
lanjutan
yang
beerhubungan dengan

Wkt
2

SK
S

Seme
ster
II s/d I

II s/d
IV

II s/d
IV

II s/d
IV

249

eritrosit

E.

Pemeriksaan
Aspirasi
Sumsum
Tulang

kelainan eritrosit, secara


otomatis dan manual,
sideroblas, Ham Test,
resistensi
osmotik,
parasit
malaria,
elektroforesis Hb dan
pemeriksaan sumsum
tulang (morfologi dan
mielogram)
9.
10.
11.

F.

Anemia
Defisiensi
Besi

12.

13.

G. Anemia
Akibat
Penyakit
Kronis

14.

15.

Menguasai
indikasi
pemeriksaan
aspirasi
sumsum tulang.
Mampu
melakukan
aspirasi sumsum tulang.
Mampu
melakukan
interpretasi
sediaan
hapus sumsum tulang
(morfologi, ME Ratio,
dan mielogram) dan
menghubungkannya
dengan kelainan klinik.
Menguasai
definisi,
etiologi,
epidemiologi,
patogenesis
dan
patofisiologi,
gejala
klinik
serta
kriteria
diagnosis kasus anemia
defisiensi besi.
Mampu
melakukan
pengelolaan
laboratorium
secara
komprehensif
pada
kasus anemia defisiensi
besi.
Menguasai
definisi,
etiologi,
epidemiologi,
patogenesis
dan
patofisiologi,
gejala
klinik
serta
kriteria
diagnosis kasus anemia
akibat penyakit kronis.
Mampu
melakukan
pengelolaan
laboratorium
secara

II s/d IV

II s/d
IV

II s/d
IV

250

H.

Thalassemia

I.

Kelainan
Leukosit

10

J. Pemeriksaan
Hematologi
yang
berhubungan
dgn Kelainan
Leukosit

komprehensif
pada
kasus anemia akibat
penyakit kronis.
16. Menguasai
definisi,
etiologi,
epidemiologi,
patogenesis
dan
patofisiologi,
gejala
klinik
serta
kriteria
diagnosis
kasus
Thalassemia
17. Mampu
melakukan
pengelolaan
laboratorium
secara
komprehensif
pada
kasus Thalassemia.
18. Memahami patogenesis
dan patofisiologi, serta
dapat
menjelaskan
kelainan leukosit secara
umum, yang meliputi:
kelainan jumlah, fungsi
maupun morfologinya.
19. Memahami,
mampu
mengerjakan
dan
mengevaluasi
pemeriksaan hematologi
lanjutan
yang
berhubungan
dengan
kelainan
leukosit,
secara otomatis dan
manual, yang meliputi:
seluruh parameter yang
berhubungan
dgn
leukosit-selain
CBCyang
ada
di
alat
Hematology
Analyzer
lengkap (35 parameter),
jumlah eosinofil, koreksi
normoblas, sel LE, Sel
Sezary, sitokimia dan
pemeriksaan sumsum
tulang (morfologi dan
mielogram).

II s/d
IV

II s/d
IV

251

11

K.

Leukemia
dan
leukemia
akut

12

L.

Kelainan
Mieloprolifer
atif Kronis
(Leukemia
Mielositik
Kronis)

13

M. Kelainan
Hemostasis

14

N.

Transfusi
dan
Perbankan
Darah

20. Menguasai
definisi,
etiologi,
epidemiologi,
klasifikasi, patogenesis
dan patofisiologi, gejala
klinik, kriteria diagnosis
dan
pengelolaan
(laboratorium)
kasus
leukemia.
21. Menguasai
definisi,
etiologi,
epidemiologi,
klasifikasi, patogenesis
dan patofisiologi, gejala
klinik, kriteria diagnosis
dan
pengelolaan
(laboratorium)
kasus
Leukemia
Mielositik
Kronis.
22. Memahami patogenesis
dan patofisiologi, serta
dapat
menjelaskan
kelainan
trombosit
secara umum, yang
meliputi:
kelainan
jumlah, fungsi maupun
morfologinya.
23. Mampu
Mengerjakan
Uji
Cocok
serasi
(Kompatibilitas)
24. Memahami
da
menguasai managemen
dan pelayanan darah di
bank darah
25. Mampu melakukan dan
mengintepretasi
berbagai pemeriksaan
laboratorium
yang
berhubungan
dengan
skrining penyakit MLTD
dan reaksi transfusi

II s/d
IV

II s/d
IV

II s/d IV

252

14

O. Pelayan
darah di PMI
(*)

15

P.

26. Memahami
dan
menguasai pelayanan
darah di PMI
27. Memahami
dan
menguasai
rekrutmen
donor
28. Memahami
dan
menguasai pengolahan
darah
29. Memahami
dan
menguasai
distribusi
darah

Stase Bank
Darah

II s/d IV

2
JUMLAH

24

*)Catatan : Stase PMI dilaksanakan pada Tahap Aplikasi

4.
No
1

Divisi Mikrobiologi Klinik


Kompetensi yang
Materi
diharapkan
Pengetahuan
Mampu memahami
prinsip dan
prinsip dan metode
metode alat-alat
alat laboratorium
laboratorium
mikrobiologi
mikrobiologi
BAKTERIOLOGI

Patofisiologi,
Mampu
manifestasi
memahami
klinik,
patofisiologi
transmisi
manifestasi
dan
klinik, transmisi
epidemiologii
dan
nfeksi bakteri
epidemiologiinf
eksi bakteri

Morfologi
dan

Mampu
interpretasi
mengetahui
pewarnaan
morfologi
Gram
interpretasi
pewarnaan

Berbagai
Gram
Media isolasi
dan faktor-
Mampu

Wkt

SKS

Semester

II s/d IV

II s/d IV

253

faktor
mempengaru
hi
pertumbuhan
dan
interpretasi
koloni
Berbagai
cara
identifikasi
koloni bakteri

UJI KEPEKAAN

Pengetahua
n
mekanisme
kerja
antimikroba
(Bakteri,
Jamur, Virus,
Parasit,
Mikobakteriu
m)

Pengetahua
n
mekanisme
resistensi

Prinsip
berbagai
cara
uji
kepekaan
antimikroba
MIKOBAKTERIO
LOGI

Patofisiolo
gi
manifestasi
klinik,
transmisi
dan
epidemiolo

memahami
berbagai media
isolasi
dan
faktor-faktor
mempengaruhi
pertumbuhan
dan interpretasi
koloni
Mampu
memahami
berbagai
pemeriksaan
untuk
identifikasi
koloni bakteri

Mampu
memahami
mekanisme
kerja
antimikroba
(Bakteri,
Jamur, Virus,
Parasit,
Mikobakterium)
Mampu
memahami
mekanisme
resistensi
Mengetahui
prinsip
berbagai cara
uji kepekaan
antimikroba

Mampu
memahami
patofisiologi
manifestasi
klinik,
transmisi dan
epidemiologi
infeksi

II s/d IV

II s/d IV

254

gi infeksi
mikobakter
ium

Pengenala
n prinsip
dan
berbagai
cara
pewarnaan
BTA

Pengenala
n, prinsip
dan
interpretasi
berbagai
media
pertumbuh
an
mikobakter
ium
MIKOLOGI

Patogenesi
s,
manifestasi
klinik,
transmisi
dan
epidemiolo
gi infeksi
jamur

Pengenala
n morfologi
dan
interpretasi
pewarnaan
KOH/GRA
M

Berbagai
media
isolasi dan
faktorfaktor
mempenga
ruhi
pertumbuh

mikobakteriu
m
Memahami
prinsip dan
berbagai cara
pewarnaan
BTA
Memahami
prinsip dan
interpretasi
berbagai
media
pertumbuhan
mikobakteriu
m

Mampu
memahami
patogenesis,
manifestasi
klinik,
transmisi dan
epidemiologi
infeksi jamur
Mampu
mengenai
morfologi dan
interpretasi
pewarnaan
KOH/GRAM
Mampu
menginterpret
asi berbagai
media isolasi
dan faktorfaktor
mempengaru
hi
pertumbuhan
dan

II s/d IV

255

an dan
interpretasi
koloni
jamur

Identifikasi
koloni
jamur
PARASITOLOGI

Patogenesi
s,
manifestasi
klinik,
transmisi
dan
epidemiolo
gi infeksi
parasit

Pengenala
n
dan
interpretasi
diagnostik
mikroskopi
k
infeksi
parasit
(malaria,
filarial,
cacing,
amoeba)
VIROLOGI

Patogenesi
s,
amnifestas
klinik,
transmisi
dan
epidemiolo
gi infeksi
virus

Pengenala
n
dan
interpretasi
diagnostik
molekuler
infeksi

interpretasi
koloni jamur
Mampu
memahami
identifikasi
koloni jamur

Mampu
memahami
pathogenesis
penyakit
infeksi oleh
parasit
Mampu
mengenali
dan
melakukan
interpretasi
diagnostik
mikroskopik
infeksi parasit
(malaria,
filarial,
cacing,
amoeba)

Patogenesis,
amnifestas
klinik,
transmisi dan
epidemiologi
infeksi virus
Pengenalan
dan
interpretasi
diagnostik
molekuler
infeksi virus

II s/d IV

II s/d IV

256

virus
JUMLAH

C.
1.

12

Wkt

SKS

Tahap Aplikasi
Divisi Imunologi Klinik
N
o
1

Materi
TORCH
(Toxoplasma,
Rubella,
Cytomegalo
virus , Herpes
simplek)
Penyakitpenyakit
Autoimun nonorgan spesifik
(SLE dan RA)
dan organ
spesifik (DM,
Thyroid)

Penyakitpenyakit
hipersensitivitas
dan
imunodefisiensi
Imunodefisiensi

Imunologi
Keganasan dan
Tumor Marker

Kompetensi yang
diharapkan
Mampu memahami,
melakukan dan
menginterpretasi
pemeriksaan serologi
: TORCH
Mampu memahami,
melakukan,
dan
menginterpretasi
pemeriksaan serologi
penyakit-penyakit
Autoimun non-organ
spesifik
(SLE dan
RA)
dan
organ
spesifik
(DM,
Thyroid)
Mampu
memahami,
melakukan
dan
menginterpretasi
pemeriksaan penyakitpenyakit
hipersensitivitas dan
imunodefisiensi
Mampu
memahami
mengenai
reaksi
imunologi
pada
Imunodefisiensi
Mampu memahami,
melakukan
dan
menginterpretasi
pemeriksaan

Semester

V s/d VII

V s/d VII

V s/d VII

V s/d VII

V s/d VII

257

Aspek
molekuler
imunologi (TLR,
sitokin/kemokin/i
nterleukin/molek
uladhesi, dll)
Manajemen dan
QC
Laboratorium
Immunologi

laboratorium serologi
penyakit keganasan
(tumor marker)
Mampu memahami
mekanisme
Aspek
molekuler imunologi
(TLR,sitokin/kemokin/
interleukin/molekulad
hesi, dll)
Mampu memahami
pengelolaan
manajemen dan QC
Laboratorium
Immunologi
JUMLAH

2.

V s/d VII

V s/d VII

Wkt

SKS

Divisi Kimia Klinik


N
o
1

Materi
Managemen
laboratorium
Kimia Klinik

1.

2.

3.

4.

Kompetensi yang
diharapkan
Mampu melakukan
evaluasi permintaan
pemeriksaan Kimia
Klinik dan
menghubungkannya
dengan Ilmu
Patologi Klinik
Mampu melakukan
evaluasi pencapaian
jumlah pemeriksaan
laboratorium Kimia
Klinik
Mampu
merencanakan dan
mengevaluasi
kebutuhan reagen
dan bahan habis
pakai di
laboratorium Kimia
Klinik
Mampu melakukan
evaluasi efisiensi
SDM dan alat-alat di

Semes
ter

V s/d
VII

258

Nefrologi dan
cairan tubuh :
Glomerulo
nefritis
Akut
(GNA)
Glomerulo
nefritis
Kronis
(GNK)
Sindrom
nefrotik
Gangguan
ginjal akut
Pielonefriti
s (PNA)
Pielonefriti
s Kronis
(PNK)
Sistitis
Internal
QC
External
QC

Endokrinologi
:

laboratorium Kimia
Klinik
5. Memahami dan
mampu
mempersiapkan
serta mengevaluasi
akreditasi
laboratorium
Menguasai :
1. Patogenesis
2. Patofisiologi
3. Pemeriksaan Kimia
Klinik
4. Pengelolaan
laboratorium secara
komprehensif pada
gangguan / penyakit
GNA,GNK, PNA,
PNK, Sistitis

Mampu dan menguasai :


1. Analisis dan
interpretasi hasil
internal QC
2. Mempersiapkan dan
melaksanakan
pemeriksaan
External QC
3. Evaluasi umpan
balik External QC
Menguasai :
Patofisiologi dan
Patogenesis
Pemeriksaan Kimia
Klinik pada gangguan
system endokrin &
metabolism

V s/d
VII

V s/d
VII

V s/d
VII

259

Pengelolaan
laboratorium secara
komprehensif pada
gangguan/penyakit
endokrin
Mampu menjawab
konsul dari klinisi dan
menginvestigasi hasil
yang tidak terduga (tidak
sesuai klinis)

Hepatogastr
oenterolog
i
- Hepatitis
kronis
- Sirosis &
komplikasi
nya
- Ca
hepatitis
- Cholesistiti
s,
Cholelithia
sis,
Choledoch

Menguasai :
1. Patofisiologi dan
Patogenesis
2. Pemeriksaan
laboratorium untuk
penyakit
Hepatogastroenterol
ogi
3. Pengelolaan
laboratorium secara
komprehensif pada
penyakit
Hepatogastroenterol
ogi
4. Mampu menjawab

V s/d
VII

260

olithiasis
- Ca
pancreas
- Ca gaster
- Crohn
Disease
- Colitisulcer
ativa
- Enteritis
- Gastritis
- Ulkus
peptikum/d
uodeni
5. Acute
Renal
Failure
(ARF)
6. Chronic
Renal
Failure
(CRF)

Kardiovaskule
r:
5. Penyakit
jantung
koroner
6. Infark
miokard
akut
7. Decompe
nsatio
cordis
kanan
8. Decompe
nsatio

konsul dari klinisi


dan menginvestigasi
hasil yang tidak
terduga (tidak
sesuai klinis)

Menguasai :
1. Patofisiologi dan
Patogenesis
2. Pemeriksaan
laboratorium untuk
penyakit ARF dan
CRF
3. Pengelolaan
laboratorium secara
komprehensif pada
penyakit ARF dan
CRF
4. Mampu menjawab
konsul dari klinisi
dan menginvestigasi
hasil yang tidak
terduga (tidak
sesuai klinis)
Menguasai :
1. Patofisiologi dan
Patogenesis
2. Pemeriksaan
laboratorium untuk
penyakit
kardiovaskuler
3. Pengelolaan
laboratorium
secara
komprehensif pada
penyakit
kardiovaskuler
4. Mampu menjawab

V s/d
VII

V s/d
VII

261

9.

8
3.

cordis kiri
Miokarditi
s

konsul dari klinisi


dan
menginvestigasi
hasil yang tidak
terduga (tidak
sesuai klinis)
1

Ujian OSCE

V s/d
VII

Divisi Hematologi Klinik


No

Materi

Kompetensi yang
diharapkan

Wkt
SKS
(mg)

Semester

A. ManajemenLa 1. Mampu melakukan


boratorium
evaluasi atas
Hematologi
permintaan
pemeriksaan
hematologi dan
menghubungkanny
a dengan clinical
pathway di RSHS.
2. Mampu melakukan
evaluasi
pencapaian hasil
lab hematologi.
3. Mampu
merencanakan dan
mengevaluasi
kebutuhan reagens
dan bahan habis
pakai di lab
hematologi.
4. Mampu melakukan
evaluasi efisiensi
SDM dan alat-alat
di lab hematologi.
5. Memahami, mampu
mempersiapkan
dan mengevaluasi
akredi-tasi dan ISO
lab hematologi

V s/d VII

B.

V s/d VII

Anemia

6. Menguasai definisi,

262

etiologi,
epidemiologi,
patogenesis dan
patofisiologi, gejala
klinik , kriteria
diagnosis dan
mampu melakukan
pengelolaan
laboratorium secara
komprehensif pada
anemia karena
perdarahan
7. Menguasai definisi,
etiologi,
epidemiologi,
patogenesis dan
patofisiologi, gejala
klinik, kriteria
diagnosis dan
mampu melakukan
pengelolaan
laboratorium
secara
komprehensif pada
hemoglobinopati
8. Menguasai definisi,
etiologi,
epidemiologi,
patogenesis dan
patofisiologi, gejala
klinik, kriteria
diagnosis dan
mampu melakukan
pengelolaan
laboratorium secara
komprehensif pada
anemia
sideroblastik.
9. Menguasai definisi,
etiologi,
epidemiologi,
patogenesis dan
patofisiologi, gejala
klinik, kriteria
diagnosis dan

263

C.

Polisitemia

mampu melakukan
pengelolaan
laboratorium secara
komprehensif pada
anemia
megaloblastik.
10. Menguasai definisi,
etiologi,
epidemiologi,
patogenesis dan
patofisiologi, gejala
klinik, kriteria
diagnosis dan
mampu melakukan
pengelolaan
laboratorium
secara
komprehensif pada
anemia aplastik
11. Menguasai definisi,
etiologi,
epidemiologi,
patogenesis dan
patofisiologi, gejala
klinik, kriteria
diagnosis dan
mampu melakukan
pengelolaan
laboratorium
secara
komprehensif pada
anemia
hipoproliferatif
yang berhubungan
dengan penyakit
sistemik
12. Menguasai definisi,
etiologi,
epidemiologi,
patogenesis dan
patofisiologi, gejala
klinik serta kriteria
diagnosis berbagai
keadaan
polisitemia

V s/d VII

264

13. Mampu melakukan


pengelola-an
laboratorium
secara
komprehensif pada
berbagai keadaan
polisitemia.
D. Kelainan
14. Kelainan Leukosit
Leukosit dan
yang berhubungan
pemeriksaan
dengan infeksi
laboratorium 15. Kelainan
terkait.
mieloproli-feratif
kronik
16. Mielodisplasia
17. Kelainan
Limfoproli-feratif
/Leukemia
Limfositik Kronik
18. Limfoma Maligna
19. Multiple Myeloma
20. Histiositosis
dan
Lipid
Storage
Diseases
E.

Kelainan
Hemostasis

21. Menguasai definisi,


etiologi,
epidemiologi,
patogenesis dan
patofisiologi, gejala
klinik serta kriteria
diagnosis kasus
kelainan vaskuler
22. Mampu melakukan
pengelolaan
laboratorium
secara
komprehensif pada
kelainan vaskuler
23. Menguasai definisi,
etiologi,
epidemiologi,
patogenesis dan
patofisiologi, gejala

V s/d VII

V s/d VII

265

24.

25.

6
26.

27.

28.

F.

Pemeriksa
an
laboratoriu
m pada
perdarahan

29.

klinik serta kriteria


diagnosis kelainan
sistem koagulasi.
Mampu melakukan
pengelolaan
laboratorium
secara
komprehensif pada
kelainan sistem
koagulasi.
Mampu melakukan
pengelolaan
laboratorium
secara
komprehensif pada
kelainan sistem
fibrinolisis.
Mampu melakukan
pengelolaan
laboratorium
secara
komprehensif pada
kelainan sistem
fibrinolisis.
Mampu melakukan
pengelolaan
laboratorium
secara
komprehensif pada
kelainan sistem
antikoagulan
alamiah.
Mampu melakukan
pengelolaan
laboratorium
secara
komprehensif pada
kelainan sistem
antikoagulan
alamiah.
Memahami,
mampu
mengerjakan dan
mengevaluasi
peme-riksaan

V s/d VII

266

, trombosis
dan DIC

hemostasis yang
berhubungan
dengan
perdarahan,
trombosis dan DIC.

Stase PMI

2
JUMLAH

4.

22

Divisi Mikrobiologi Klinik


No

Materi

Kompetensi yang
diharapkan

Pemantapan
mutu dan
Mampu melaksanakan
Manajemen
pemantapan mutu dan
1
Laboratorium
manajemen laboratorium
Mikrobiologi
Mikrobiologi Klinik
Klinik
BAKTERIOLOG

Ekspertise
Mampu memberikan
pemeriksaa
konsultasi pada kasusn
kasus infeksi bakteri
laboratoriu
pada system terkait
m infeksi
bakteri pada
Mampu memberikan
:
konsultasi pada kasus
Siste
kasus infeksi pada
m
kasus infeksi rumah
Respiratori
sakit
2

Siste
m

Mampu memberikan
konsultasi dalam
kardiovasku
ler
PPIRS

Siste
Mampu memberikan
m
konsultasi pada kasus
bioterrorism
Gastrointest
inal

Siste
m Traktus
Urinarius &

Wkt
(mg)

SKS

Semester

V s/d VII

V s/d VII

267

STD

Siste
m Susunan
Saraf
Pusat

Ekspertise
pemeriksaa
n infeksi
rumah sakit
(HAI)

Peran
laboratoriu
m
mikrobiologi
dalam
PPIRS
Bakteribakteri yang
berpotensi
dipergunaka
n untuk
bioterrorism

UJI
KEPEKAAN

Ekspertise
hasil uji
kepekaan
antimikrob
a
berdasark
an buku
panduan
CLSI

Identifikas
i MDRO,
MRSA,
ESBL,
VRE

Peran

Mampu membuat
ekspertise hasil uji
kepekaan
antimikroba
berdasarkan CLSI
Mampu
mengidentifikasi
MDRO, MRSA,
ESBL,VRE
Pembuatan dan
penerapan
penggunaan Peta
Bakteri
Mampu membuat
Peta Bakteri di RS
serta menerapkana

V s/d VII

268

laboratori
um
mikrobiolo
gi dalam
PPRA
Pembuata
n dan p
meenerap
an
pengguna
an Peta
Bakteri di
RS

MIKOBAKTER
IOLOGI

Ekspertise
pewarnaa
n BTA
dan media
pertumbu
han
mikobakte
rium

Ekspertise
diagnostik
molekuler
mikobakte
rium
(Gen
Expert)
MIKOLOGI

Ekspertis
e
pewarnaa
n
KOH/GR
AM dan
koloni
jamur
PARASITOLO
GI

Ekspertise

di RS
penggunaannya

Mampu membuat
ekspertise
pewarnaan BTA dan
media pertumbuhan
mikobakterium
Mampu membuat
ekspertise
diagnostik molekuler
mikobakterium (Gen
Expert)

Mampu membuat
ekspertise
pewarnaan
KOH/GRAM dan
koloni jamur

Mampu membuat
ekspertise diagnostik
mikroskopik infeksi

V s/d VII

V s/d VII

V s/d VII

269

269iagnos
tic
mikroskop
ik infeksi
parasit
(malaria,
filarial,
cacing,
amoeba)
VIROLOGI

Ekspertise
diagnostic
molekuler
infeksi
virus

parasit (malaria,
filarial, cacing,
amoeba)

Mampu membuat
ekspertise diagnostik
molekuler infeksi
virus
JUMLAH

V s/d VII

G. Evalusi Hasil Belajar


1. Tahap Dasar
: Ujian Kompetensi Tahap Dasar
2. Tahap Klinis :
a. Imunologi Klinik : Ujian Teori ; Ujian Praktikum dan Ujian
Kompetensi Tahap Klinik
b. Kimia Klinik : Ujian Hepatogastroenterologi ; Ujian Enzimologi ;
Ujian Nefrologi, Keseimbangan Asam Basa dan Elektrolit ;
Ujian Nefrologi dan Cairan Tubuh ; Ujian Sistem Kardiovaskuler
; Ujian Komprehensif ; Ujian Kompetensi Tahap Klinik
c. Hematologi Klinik : Ujian I Manajemen ; Ujian II Eritrosit ; Ujian
III Leukosit ; Ujian IV Hemostasis dan Transfusi ; Ujian
Komprehensif OSCE dan Ujian Kompetensi Tahap Klinik
d. Mikrobiologi Klinik : Ujian Teori ; Ujian Praktikum dan Ujian
Kompetensi Tahap Klinik
3. Ujian Kompetensi Tahap Klinik : Syarat untuk naik ke Tahap
Aplikasi, setelah menyelesaikan Tahap Klinis di 4 (empat) divisi.
4. Tahap Aplikasi :
a. Imunologi Klinik : Ujian Teori ; Ujian Praktikum dan Ujian
Kompetensi Tahap Aplikasi
b. Kimia Klinik : Ujian Manajemen Laboratorium Kimia Klinik ;
Ujian QC ; Ujian Endokrin ; Ujian Nefrologi ; Ujian
Kardiovaskuler ; Ujian OSCE ; Ujian Komprehensif OSCE ;
Ujian Kompetensi Tahap Aplikasi

270

c.

5.
H.

Hematologi Klinik : Ujian I Manajemen ; Ujian II Eritrosit ; Ujian


III Leukosit ; Ujian IV Hemostasis dan Transfusi ; Ujian
Komprehensif OSCE dan Ujian Kompetensi Tahap Aplikasi
d. Mikrobiologi Klinik : Ujian Teori ; Ujian Praktikum dan Ujian
Kompetensi Tahap Aplikasi
Ujian Akhir : Karya Tulis Akhir (KTA) ; OSCE dan Ujian Nasional

Pedoman Ujian
Tata Cara Pelaksanaan Ujian :
1.
Ujian Divisi
a. Ujian berupa ujian tertulis dan praktikum.
b. Jadwal pelaksanaan ujian ditentukan oleh Kepala Divisi masing-masing.
c. Jadwal ujian dibuat oleh Sekretariat Pendidikan setelah diusulkan
oleh Kepala Divisi.
d. Jadwal yang sudah ditentukan diinformasikan kepada yang
bersangkutan/ Chief Residen 1 (satu) minggu sebelum ujian
dilaksanakan.
e.

f.
g.
h.
1.

Sekretariat PPDS menyiapkan sarana dan prasarana untuk


pelaksanaan ujian :
Absensi ujian
Kertas ujian
Soal ujian
Ruangan
(konfrensi, ruang perpustakaan, ruang
Sekretariat PPDS).
Peserta ujian mengisi absen yang telah disediakan oleh
Sekretariat Pendidikan.
Lamanya ujian ditentukan oleh Kepala Divisi masing-masing.
Ujian diawasi oleh Kepala Divisi masing-masing atau Sekretariat
PPDS.

Ujian Kompetensi
a. Ujian Kompetensi dilaksanakan di Tahap Klinis setiap 6 (enam)
bulan sekali pada bulan Februari dan Agustus.
b. Ujian dilaksanakan setelah peserta PPDS menyelesaikan
kewajiban berupa presentasi acara ilmiah dan ujian di 4 (empat)
divisi yaitu :
Divisi Kimia Klinik
Divisi Hematologi Klinik
Divisi Imunologi Klinik
Divisi Mikrobiologi Klinik
c. Tata cara ujian seperti ujian divisi, tetapi soal berasal dari seluruh
divisi.

271

I.

Tata Tertib Meliputi :


1. Tata Tertib Kegiatan Belajar Mengajar
a. Mahasiswa dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar bila telah
memenuhi persyaratan administrasi yang ditetapkan oleh
Universitas sehingga terdaftar sebagai mahasiswa Unpad.
b. Mahasiswa harus hadir tepat waktu sesuai dengan ketentuan jam
kerja atau yang telah dijadwalkan sebelumnya.
c. Mahasiswa harus mematuhi berpakaian yang memenuhi etika
berpakaian mahasiswa seperti yang telah ditetapkan pada
pedoman umum kemahasiswaan atau yang lebih spesifik pada
setiap program studi bersangkutan.
d. Setiap mengikuti kegiatan belajar mengajar, mahasiswa harus
mengisi daftar hadir mahasiswa.
e. Mahasiswa harus mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum
mengikuti kegiatan belajar mengajar dan melaksanakan setiap
tugas yang diberikan yang terkait dengan kegiatan belajar
mengajar yang diikuti.
f. Mahasiswa yang tidak hadir karena alasan yang dapat
dibenarkan, seperti :
1. Sakit
2. Terkena musibah
3. Mendapat tugas dari Fakultas atau Universitas
4. Atau alasan lain yang dapat dipertanggungjawabkan yang
telah diajukan dan mendapat persetujuan sebelumnya, dapat
meninggalkan kegiatan pendidikan setelah menyampaikan
keterangan tertulis dari pihak yang berwenang (dokter atau
Pimpinan Fakultas). Surat keterangan tersebut harus
diserahkan kepada SBP paling lambat 1 (satu) hari kerja
setelah ketidakhadiran kecuali untuk alasan (d) paling lambat
2 hari sebelum ketidakhadiran. Kegiatan pendidikan yang
ditinggalkan dengan alasan yang sah ini dapat digantikan
dengan mengikuti kegiatan susulan yang sama atau
kegiatan lainnya berdasarkan kebijakan dosen yang terkait.
g.

2.

Apabila mahasiswa tidak dapat memenuhi ketentuan tersebut di


atas, kehadirannya dianggap tidak memenuhi syarat. Mahasiswa
yang tidak memenuhi ketentuan tersebut di atas, kehadirannya
tidak memenuhi syarat. Mahasiswa yang tidak memenuhi syarat
kehadiran 100% tidak boleh mengikuti ujian dan nilainya menjadi
0 atau E non-akademis, serta tidak berhak mengikuti remedial di
tahun yang bersangkutan.

Tata Tertib Ujian

272

a.
b.
c.
d.

e.
f.
g.

3.

Mahasiswa dapat mengikuti kegiatan ujian bila telah memenuhi


persyaratan administrasi yang telah ditetapkan oleh Universitas
sehingga terdaftar sebagai mahasiswa Unpad.
Mahasiswa dapat mengikuti ujian bila telah memenuhi ketentuan
mengikuti kegiatan belajar mengajar secara penuh.
Mahasiswa harus hadir tepat waktu sesuai dengan ketentuan
jadwal ujian yang telah ditetapkan sebelumnya.
Mahasiswa harus mematuhi aturan berpakaian yang memenuhi
etika berpakaian mahasiswa seperti yang telah ditetapkan pada
pedoman umum kemahasiswaan atau yang lebih spesifik pada
setiap program studi bersangkutan.
Setiap mengikuti ujian mahasiswa harus mengisi daftar hadir.
Mahasiswa harus membawa identitas diri resmi seperti Kartu
Tanda Mahasiswa.
Mahasiswa dilarang keras melakukan tindakan kecurangan pada
saat ujian seperti mencontek, memberikan bantuan terhadap
teman, mengambil bahan ujian tanpa izin, memotret atau
melakukan tindakan lain yang mengganggu pelaksanaan ujian.

Tata Tertib Absensi


Tata tertib absensi terdiri dari absensi sidik jari dan absensi manual
dengan peraturan sebagai berikut :
a. Peserta PPDS wajib absensi sidik jari dan absensi manual di
tempat yang telah disediakan pada pagi hari mulai pukul 07.00
07.30 WIB dan sore hari minimal pukul 15.30 WIB untuk hari
Senin sampai Kamis, sedangkan hari Jumat minimal pukul 16.00
WIB.
b. Untuk peserta PPDS yang jaga malam tetap absensi jari pada
keesokan paginya yaitu pukul 07.00 - 07.30 WIB dan absensi
lepas jaga pada siang hari minimal pukul 12.00 WIB.
c. Untuk peserta PPDS yang datang diatas pukul 07.30 WIB maka
dianggap datang terlambat.

4. Tata Tertib Kegiatan Ilmiah


Kegiatan Ilmiah yang wajib dipresentasikan oleh Peserta PPDS di tiap divisi
terdiri dari:
a. Divisi Hematologi Klinik : Jurnal Inggris (JE) Tahap Dasar, Jurnal
Inggris (JE), Tinjauan Pustaka (TP) untuk Tahap Klinik dan Tinjauan
Kasus 1 (TK1) dan Tinjauan Kasus 2 (TK2) untuk Tahap Aplikasi.
b. Divisi Kimia Klinik : Jurnal Inggris (JE) Tahap Dasar, Jurnal Inggris (JE),
Tinjauan Pustaka (TP) untuk Tahap Klinik dan Tinjauan Kasus 1 (TK1)
dan Tinjauan Kasus 2 (TK2) untuk Tahap Aplikasi.

273

c.

d.

e.

Divisi Imunologi Klinik : Jurnal Inggris (JE) Tahap Dasar Jurnal Inggris
(JE), Tinjauan Pustaka (TP) untuk Tahap Klinik dan Tinjauan Kasus
(TK) untuk Tahap Aplikasi.
Divisi Mikrobiologi Klinik : Jurnal Inggris (JE) Tahap Dasar, Jurnal
Inggris (JE), Tinjauan Pustaka (TP) untuk Tahap Klinik dan Tinjauan
Kasus (TK) untuk Tahap Aplikasi.
Tinjauan Pustaka

Pelaksanaan Kegiatan Ilmiah terdiri dari :


a. Jadwal Acara Ilmiah
1. Peserta PPDS mempresentasikan tugas ilmiahnya (jurnal inggris,
tinjauan pustaka, tinjauan kasus) berdasarkan jadwal yang sudah
ditentukan sebelumnya pada surat pengantar masuk divisi.
2. Apabila ada perubahan jadwal presentasi terlebih dahulu
dikonfirmasikan kepada sekretariat PPDS untuk dijadwal ulang oleh
KPS/ SPS setelah mengisi formulir revisi jadwal maju.
3. Makalah dibagikan 3 (tiga) hari sebelum presentasi acara ilmiah dan
1 (satu) minggu untuk presentasi thesis.
b. Penilaian
1. Peserta PPDS menyiapkan formulir penilaian untuk diisi oleh
konsulen pembimbing dan penilai yang sudah ditandatangani oleh
Kepala Departemen dan Ketua Program Studi.
2. Hasil nilai akhir diperoleh dari jumlah rata-rata konsulen pembimbing
dan penilai yang hadir kemudian diserahkan ke sekretariat PPDS.
3. Nilai akan dimasukkan kedalam raport oleh sekretariat pendidikan
dan ditandatangani pembimbing sesudah menyelesaikan perbaikan
dan pekerjaan rumah.
c. Pengarsipan
1. Nilai kegiatan ilmiah diarsipkan di sekretariat PPDS.
2. Makalah yang sudah dipresentasikan disimpan dalam bentuk
hardcopy di sekretariat PPDS dan softcopy dalam bentuk CD yang
disimpan di ruang KPS.
3. Setiap Peserta PPDS yang sudah mempresentasikan kegiatan
ilmiahnya wajib mengisi data tersebut kedalam arsip komputer.
5. Tata Tertib Peminjaman Buku Perpustakaan
Perpustakaan buka setiap hari kerja dari hari Senin Jumat pukul 08.00
15.30 WIB.
Jam Pelayanan Perpustakaan hari Senin Jumat pukul 13.00 15.00 WIB.
a.

Syarat Keanggotaan :
1. Peserta PPDS Departemen Patologi Klinik UNPAD.
2. Menyerahkan pas photo 23 sebanyak 1 lembar.

274

3.
4.
5.
6.

Tidak dikenakan biaya administrasi.


Kartu anggota TIDAK BOLEH hilang dan dipinjamkan pada
pemakai lain.
Kartu anggota disimpan di perpustakaan.
Kartu anggota berlaku sampai dengan selesai masa pendidikan di
Departeme Patologi Klinik dan menjadi salah satu syarat untuk
pemberian rekomendasi brevet dan wisuda.

b.

Peminjaman :
1. Peminjam adalah anggota perpustakaan Departemen Patologi
Klinik.
2. Jumlah peminjaman buku maksimal 1 (satu) buku.
3. Batas peminjaman maksimal 3 (tiga) hari.
4. Selain anggota perpustakaan HANYA boleh fotokopi saja. Biaya
yang dikenakan sebesar Rp.300,00 (tiga ratus rupiah) per lembar.
5. Untuk perpanjangan peminjaman buku berikutnya, apabila masih ada
pinjaman HARUS dikembalikan terlebih dahulu, maksimal peminjaman
buku HANYA 1 (satu) kali.

c.

Sanksi
1. Terlambat mengembalikan buku dikenakan denda Rp. 5.000,00
(lima ribu rupiah) per hari.
2. Anggota yang menghilangkan buku harus diganti sesuai dengan
buku aslinya.
3. Apabila tidak memenuhi uang denda, maka keanggotaan yang
bersangkutan akan dicabut.

d.

Tata Tertib Umum


1. Pengunjung harap mengisi buku tamu.
2. Dilarang membawa makanan / minuman
perpustakaan.
3. Dilarang berisik.

kedalam

ruangan

6. Pindah Divisi
Ketentuan pindah divisi :
a. Peserta PPDS wajib melewati semua putaran divisi yaitu divisi Kimia
Klinik, Hematologi Klinik, Imunologi Klinik, Mikrobiologi Klinik.
b. Residen pindah divisi, apabila telah menyelesaikan semua kewajiban di
divisi yang sudah dilewati yaitu :
Mempresentasikan kegiatan ilmiah berupa jurnal inggris, tinjauan
kasus, tinjauan pustaka.

275

Apabila dalam setiap kegiatan ilmiah masih ada catatan / PR,


peserta PPDS wajib mempresentasikan ulang dan disesuaikan
dengan jadwal .
Telah melaksanakan ujian praktikum dan teori.
Telah melaksanakan ujian komprehensif.
Menyimpan dan menyerahkan arsip makalah ilmiah yang telah
dipresentasikan untuk yang bersangkutan dan Sekretariat
Pendidikan.
Menyerahkan CD ilmiah berupa softcopy.
Menyimpan dan memasukkan data kegiatan ilmiah ke dalam
computer.
Menyelesaikan dan mengisi kegiatan LKK, Mini Lecture dan
Perwalian seperti yang sudah tercantum di buku Log Kegiatan.
c. Melengkapi data raport berdasarkan :
Judul makalah ilmiah
Nama moderator / pembimbing
Tanggal maju presentasi
Hasil nilai ilmiah
Tandatangan moderator / pembimbing
d. Peserta PPDS melaporkan kepada sekretariat pendidikan untuk pindah
divisi untuk dibuatkan Surat Keterangan dan Surat Pengantar pindah
divisi berikutnya beserta jadwal kegiatan ilmiah.
-

7. Perwalian
a. Perwalian dilaksanakan sebulan sekali yang disesuaikan dengan jadwal
dosen wali yang sudah ditunjuk.
b. Jumlah masing-masing anak wali berjumlah 5 - 6 orang tiap dosen wali.
c. Setiap akan perwalian, peserta PPDS mengambil dan mengembalikan
berkas perwalian di sekretariat pendidikan dan mencatat kegiatan
perwalian di buku Log Kegiatan.
8. Ijin Dan Cuti
Peserta PPDS diperbolekan untuk menggunakan hak ijin dan cuti selama
dalam pendidikan.
a. Ijin dan Cuti diberikan kepada peserta PPDS dengan ketentuan
maksimal 8 (delapan) kali dalam setahun dengan tidak melebihi
batas ketentuan di atas , apabila melebihi batas ketentuan tidak
diperbolehkan untuk mengambil ijin atau cuti.
b. Perhitungan ketentuan ijin dan cuti adalah jatah cuti tahunan
dikurangi oleh banyaknya ijin yang sudah diambil.
c. Tidak boleh mengambil cuti lebih dari 5 (lima) hari kerja di satu divisi
yang sedang dijalani.
d. Cuti diberikan untuk peserta PPDS yang telah menjalani 2 semester
diperbolehkan mengambil cuti tahunan
e. Cuti untuk kehamilan diberikan selama 3 bulan.

276

f.

Cuti 1 semester (6 bulan) dapat diambil bila ada keperluan mendesak


setelah meminta ijin pada Kepala Departemen dan KPS .

9.

Tata Cara Presentasi Jurnal Inggris/ Tinjauan Pustaka/ Tinjauan


Kasus
a. Jadwal
1. Sekretaris PPDS menyusun jadwal berdasarkan urutan surat
pengantar bagian
2. Presentasi ilmiah dilaksanakan setiap hari kerja
3. Apabila terjadi perubahan jadwal presentasi, terlebih dahulu harus
dikonfirmasikan kepada sekretariat PPDS.
4. Makalah paling lambat dibagikan 3 (tiga) hari sebelum presentasi.
5. Peserta PPDS mempresentasikan tugas ilmiahnya (jurnal,
tinjauan kasus dan tinjauan pustaka) berdasarkan jadwal yang
sudah ditentukan sebelumnya sesuai dengan jadwal yang
tercantum pada surat pengantar masuk divisi.
6. Pelaksanaan presentasi tugas ilmiah dalam sehari diisi maksimal
2 (dua) kegiatan ilmiah.
b.

Penilaian
1. Peserta PPDS menyiapkan formulir penilaian yang sudah
ditandatangani oleh Kepala Departemen dan Ketua Program Studi
untuk diisi oleh konsulen pembimbing dan penilai.
2. Hasil nilai akhir diperoleh dari jumlah rata-rata nilai konsulen
pembimbing dan penilai yang hadir.
3. Formulir nilai yang telah diisi dan ditandatangani konsulen
kemudian diserahkan ke sekretariat PPDS.
4. Sekretariat PPDS menerima hasil penilaian kegiatan ilmiah
Peserta PPDS yang sudah dipresentasikan.
5. Apabila dalam formulir hasil presentasi ilmiah tidak ada catatan/
saran/ PR, nilai dapat diisi oleh petugas sekretariat PPDS
kedalam buku raport dan ditandatangani oleh pembimbing
masing-masing.
6. Apabila ada catatan/ saran/ PR yang harus dipresentasikan ulang,
nilai untuk sementara belum diisi kedalam buku raport .
7. Presentasi ulang dijadwalkan oleh masing-masing pembimbing.
8. Nilai presentasi dikeluarkan oleh Sekretariat Pendidikan sesudah
menyelesaikan prbaikan makalah dan presentasi PR.

277

c.

Pengarsipan
1. Nilai kegiatan ilmiah diarsipkan di Sekretariat Pendidikan.
2. Makalah yang sudah dipresentasikan disimpan dalam bentuk
softcopy (CD) dan hardcopy di Sekretariat Pendidikan dan setiap
peserta PPDS yang sudah mempresentasikan kegiatan ilmiahnya
wajib mengisi data tersebut kedalam arsip komputer.

10. Tata Cara Usulan Penelitian (UP)


a. Peserta PPDS yang akan mengajukan UP terlebih dahulu meminta
formulir pengajuan UP ke Sekretariat Pendidikan.
b. Formulir pengajuan UP meliputi nama peserta didik, NPM, judul
penelitian, waktu pelaksanaan, tanda tangan pembimbing I, II, dan III
diisi oleh Peserta PPDS.
c. Setelah formulir pengajuan UP lengkap disetujui dan ditandatangani
oleh semua pembimbing kemudian diserahkan ke petugas Sekretariat
Pendidikan untuk dibuatkan Surat Keputusan (SK) dan surat undangan.
d. SK dan surat undangan UP yang telah ditandatangani oleh KPS dan
Kepala Departemen selanjutnya diinformasikan kepada peserta PPDS.
e. Peserta PPDS menyiapkan makalah, SK dan surat undangan, dalam 1
(satu) map yang sudah diberi judul (cover) untuk diberikan kepada
masing-masing konsulen 1 (satu) minggu sebelum pelaksanaan.
f. Pelaksanaan UP dihadiri oleh para konsulen dan peserta PPDS.
g. Formulir untuk penilaian UP menggunakan formulir penilaian UP dan
formulir rekapitulasi nilai dari masing-masing konsulen.
11. Tata Cara Seminar Hasil PeneLITIAN (SHP)
a. Peserta PPDS yang akan mengajukan SHP terlebih dahulu meminta
formulir pengajuan ke Sekretariat Pendidikan.
b. Formulir pengajuan SHP yang meliputi nama peserta didik, NPM, judul,
waktu pelaksanaan dan tanda tangan pembimbing I, II, dan III diisi oleh
peserta didik.
c. Setelah formulir pengajuan SHP lengkap dan disetujui oleh semua
pembimbing,
selanjutnya diserahkan ke petugas
Sekretariat
Pendidikan untuk dibuatkan Surat Keputusan (SK) dan undangan.
d. SK dan surat undangan SHP yang telah ditandatangani oleh KPS dan
Kepala Departemen selanjutnya diinformasikan kepada peserta PPDS.
e. Peserta PPDS menyiapkan makalah, SK dan surat undangan, dalam 1
(satu) map yang sudah diberi judul (cover) untuk diberikan kepada
masing-masing konsulen 1 (satu) minggu sebelum pelaksanaan.
f. Pelaksanaan SHP dihadiri oleh para konsulen dan peserta PPDS.
g. Formulir untuk penilaian SHP menggunakan formulir penilaian SHP dan
formulir rekapitulasi nilai dari masing-masing konsulen.

278

12. Tata Tertib Sidang Tesis


a. Tata cara bagi Peserta PPDS
1. Peserta PPDS yang akan mengajukan Sidang terlebih dahulu
meminta formulir pengajuan ke Sekretariat Pendidikan.
2. Formulir pengajuan Sidang yang meliputi nama peserta didik,
NPM, judul, waktu pelaksanaan, tanda tangan pembimbing I,
II, dan III diisi oleh Peserta PPDS.
3. Setelah formulir pengajuan Sidang lengkap dan disetujui oleh
semua pembimbing,
selanjutnya diserahkan ke petugas
Sekretariat Pendidikan untuk dibuatkan Surat Keputusan (SK),
dan undangan.
4. SK dan surat undangan Sidang yang telah ditandatangani oleh
KPS dan Kepala Departemen selanjutnya diinformasikan
kepada peserta PPDS.
5. Peserta PPDS menyiapkan makalah, SK dan surat undangan,
dalam 1 (satu) map yang sudah diberi judul (cover) untuk
diberikan kepada masing-masing konsulen 1 (satu) minggu
sebelum pelaksanaan.
6. Pelaksanaan Sidang hanya dihadiri oleh para konsulen.
7. Formulir untuk penilaian Sidang menggunakan formulir
penilaian Sidang dan formulir rekapitulasi nilai dari masingmasing konsulen.
b.

J.

Tata cara persiapan petugas sekretariat PPDS


1. Sebelum pelaksanaan Sidang ,Sekretariat Pendidikan akan
mengeluarkan formulir penilaian attitude kepada para kepala
divisi (Hematologi, Kimia Klinik, Mikrobiologi, dan Imunologi)
sebagai salah satu persyaratan nilai akhir.
2. Sekretariat Pendidikan menyiapkan map yang berisi Tata Cara
Sidang, daftar honorarium Sidang, alokasi waktu Sidang,
formulir attitude yang sudah ditandatangani oleh para kepala
divisi, formulir berita acara, rekapitulasi kesimpulan nilai dan
kewajiban yang harus dipenuhi oleh peserta PPDS.

Jenis Pelanggaran dan Sanksi


1. Penentuan Pelanggaran Akademik
Drop out (DO) diusulkan bila:
a. Peserta PPDS telah melewati 1,5 kali tahap yang ditentukan (tahap
klinis seharusnya 81 minggu, batas ancaman DO lebih dari 162
minggu).
b. Pada tahap klinis 2 divisi tidak lulus secara berurutan (ujian dapat
di-her 2 kali).

279

c.
d.
2.

Bila peserta PPDS tidak lulus (tidak berurutan) setelah mengulang


ujian 2 kali di akhir tahap klinis dan tetap tidak lulus pada ujian
ulang tersebut serta telah mendapat tugas jaga utama.
Ketentuan diatas berlaku pula untuk tahap aplikasi.

Peringatan Pelanggaran Akademik


a. Surat peringatan pertama akan disampaikan oleh KPS kepada
kepala divisi terkait, peserta PPDS yang bersangkutan, dan dosen
wali pada saat peserta PPDS telah melewati waktu yang
ditentukan untuk divisi terkait, tembusan akan disampaikan
kepada Kepala Departemen.
b. Peringatan Kedua, peserta PPDS akan dipanggil oleh KPS,
didampingi oleh kepala divisi dan / atau dosen wali sesudah
terlambat 4 minggu untuk divisi kimia/hematologi atau 2 minggu
untuk divisi serologi/mikrobiologi, hasil pertemuan akan dilaporkan
kepada Kepala Departemen.
c. Peringatan Ketiga, pemberian sanksi (pengadaan text book)
sesudah 4 minggu berikutnya untuk divisi kimia/hematologi, 2
minggu berikutnya untuk divisi serologi/mikrobiologi, dan akan
dibuat laporan pada Kepala Departemen.
d. Untuk penentuan keputusan DO (Drop Out) harus disepakati oleh
Kepala Departemen.

16. Program Studi Radiologi


Substansi
Kolegium Radiologi Indonesia menetapkan modul yang kemudian
disesuaikan dengan subdivisi yang berlaku di Departemen Radiologi FK
Unpad/RSHS yaitu:
1. Radiologi Emergensi
2. Radiologi Toraks
3. Radiologi Pediatrik
4. Neuroimejing
5. Radiologi Kepala dan Leher
6. Radiologi Traktus Gastrointestinal
7. Radiologi Traktus Genitourinarius
8. Radiologi Muskuloskeletal
9. Radiologi Payudara dan Small Parts
10. Radiologi Intervensional
11. Kedokteran Nuklir
12. Biomolekular imejing

280

Lama Pendidikan PPDS Radiologi


Proses pendidikan dokter spesialis Radiologi FK Unpad, sesuai dengan
Surat Keputusan Kolegium Radiologi Indonesia (KRI) No. 4/SK/X/2011 tertanggal
8 November 2011,
ditempuh selama minimal 7 semester sampai dengan
maksimal 11 semester.
Batasan waktu pendidikan terhitung sejak terdaftar sebagai mahasiswa
semester pertama. Batasan waktu studi terhitung sejak terdaftar sebagai
mahasiswa pada semester pertama.
Beban studi kumulatif
Beban studi kumulatif adalah besarnya beban studi kumulatif yang
diperlukan untuk menyelesaikan PPDS Radiologi FK Unpad. Pendidikan sarjana
kedokteran dilalui setelah menempuh 105 SKS.
Jenjang Selama Pendidikan
Jenjang PPDS Radiologi dibagi menjadi 3 tahap:
1. Tahap 1 (Jenjang Dasar):
Peserta: PPDS semester I
Lama: 6 Bulan
Pembekalan: tentang materi-materi dasar mengacu pada modulmodul yang diterbitkan oleh Kolegium
Evaluasi: melalui ujian dengan materi dasar tersebut di atas.
Lulus langsung, dengan bukti sertifikat kompetensi sesuai Tahap I:
Tahap I lanjut ke jenjang Tahap 2
Tidak Lulus; Maksimal 3 kali dapat masuk lanjut ke jenjang Tahap
2
2. Tahap 2 (Jenjang Lanjut)
Peserta: PPDS yang lulus Jenjang Dasar
Lama: 15 bulan
Evaluasi: melalui ujian dengan materi modul- modul lanjut yang
membekali
PPDS tentang aspek pengenalan lanjutan
pengetahuan keprofesionalan seperti Radiologi Emergensi,
Radiologi Toraks, Radiologi Pediatrik, Neuroimejing, Radiologi
Kepala dan Leher, Radiologi Traktus Gastrointestinal, Traktus
Genitourinarius, Radiologi Muskuloskeletal, Radiologi Payudara
dan Small Parts, Radiologi intervensional, Kedokteran Nuklir,
Biomolekular imejing dan pengetahuan khusus tentang Radiofisika
dan proteksi radiasi, disertai pengembangan pelatihan ketrampilan
penggunaan ultrasonografi, pelaksanaan prosedur-prosedur
radiologi dan angiografi.
Lulus Langsung, dengan bukti sertifikat kompetensi sesuai Tahap I:
Tahap II lanjut ke jenjang Tahap III
Tidak lulus: Maksimal 3 kali dapat masuk lanjut ke jenjang Tahap 3
3. Tahap 3 (Jenjang Mandiri)
Peserta: PPDS yang lulus Jenjang Lanjut
Lama: 13 bulan

281

Pembekalan: melatih kemandirian dalam mengenali, menganalisis


dan mendiagnosis melalui pengetahuan keprofesionalan seperti
Radiologi Emergensi, Radiologi Toraks, Radiologi Pediatrik,
Neuroimejing, Radiologi Kepala dan Leher, Radiologi Traktus
Gastrointestinal,
Traktus
Genitourinarius,
Radiologi
Muskuloskeletal, Radiologi Payudara dan Small Parts, Radiologi
intervensional, Kedokteran Nuklir, Biomolekular imejing dan
pengetahuan khusus tentang Radio fisika dan proteksi radiasi,
disertai pengembangan pelatihan ketrampilan penggunaan
ultrasonografi, pelaksanaan prosedur-prosedur radiologi dan
angiografi.
Evaluasi: melalui ujian dengan materi modul- modul lanjut yang
membekali
PPDS tentang aspek pengenalan lanjutan
pengetahuan keprofesionalan seperti Radiologi Emergensi,
Radiologi Toraks, Radiologi Pediatrik, Neuroimejing, Radiologi
Kepala dan Leher, Radiologi Traktus Gastrointestinal, Traktus
Genitourinarius, Radiologi Muskuloskeletal, Radiologi Payudara
dan Small Parts, Radiologi intervensional, Kedokteran Nuklir,
Biomolekular imejing dan pengetahuan khusus tentang Radio fisika
dan proteksi radiasi, disertai pengembangan pelatihan ketrampilan
penggunaan ultrasonografi, pelaksanaan prosedur-prosedur
radiologi dan angiografi.
Lulus langsung, dengan bukti sertifikat kompetensi sesuai Tahap II:
Tahap III mengikuti ujian BPNRI
Tidak lulus: Maksimal 3 kali dapat masuk lanjut ke jenjang Tahap 3
Dalam pelaksanaannya PPDS akan melewati proses pembelajaran dan
pelatihan ketrampilan di setiap stase/divisi. Proses pembelajaran dan pelatihan
ketrampilan yang diberikan dalam bentuk foto reading, morning report, laporan
kasus, journal reading, referat, kuliah umum, kuliah pakar, dan kegiatan
praktikum/ketrampilan.

D
A
S
A
R

J
E
N
J
A
N
G

U
J
I
A
N

9
5 Jurnal
3 Refreat
1 Kasus

L
A
N
J
U
T

J
E
N
J
A
N
G

U
J
I
A
N

Usulan Penelitian Tesis

M
A
N
D
I
R
I

J
E
N
J
A
N
G

Ujian tesis

U
J
I
A
N

N
A
S
I
0
N
A
L

B
P
N
R
I

P
R
A

U
J
I
A
N

10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41

JARAK USULAN PENELITIAN (UP) DENGAN UJIAN TESIS MINIMAL 6 BULAN

KETERANGAN
ORI
ORIENTASI PENGENALAN
THORAK
TH
GI
GASTROINTESTINAL
UG
UROGENITAL
USG
ULTRASONOGRAPI
MSK
MUSKULOSKELETAL
INV
INTERVENSI
NEU
NEUROIMAGING

NUKLIR (Jakarta)
OB-GYN
RAD TH
Orto

TH
GI
UG
USG
MSK
INV
NEURO

TH
GI
UG
USG
MSK
INV
NEU

TH
GI
UG
USG
MSK
INV
NEU

ORI

TAHAP PENDIDIKAN PPDS RADIOLOGY FKUP / RSHS

BPNRI
BPNRI
BPNRI
BPNRI
BPNRI
BPNRI

BPNRI
BPNRI
BPNRI
BPNRI
BPNRI
BPNRI
BPNRI
BPNRI
BPNRI
BPNRI
BPNRI
BPNRI
BPNRI
BPNRI
BPNRI

BPNRI

42
BPNRI
BPNRI
BPNRI
BPNRI
BPNRI
BPNRI
BPNRI

282

Time Schedule PPDS Radiologi (7 Semester)

283

Selama pendidikan, PPDS harus mengikuti dan menjalani stase-stase:


1. Stase emergensi
2. Stase neuroimejing
3. Stase toraks: Respiratorius & Kardiovaskuler
4. Stase prosedur (genitourinari dan gastrointestinal)
5. Stase muskuloskeletal dan intervensi
6. Stase ultrasonografi
7. Stase Radioterapi
8. Stase Nuklir
9. Stase Obstetri Ginekologi
10. Stase Rumah Sakit Jejaring
Tugas dan Kegiatan Ilmiah
1
Foto reading: dilakukan setiap hari di dalam masing-masing stase
dibimbing oleh Dosen yang telah ditentukan (sesuai kompetensi
konsulen).
3 Morning report: dilakukan setiap hari, disampaikan oleh peserta PPDS
yang menjalani tugas jaga malam sebelumnya dibimbing oleh Dosen.
4
Laporan kasus: pemaparan sebuah kasus yang telah disetujui oleh
Dosen pembimbing sebelumnya dan disampaikan dalam jam acara
ilmiah. Seorang peserta PPDS Radiologi diwajibkan menyampaikan 1
kasus selama masa pendidikan.
5 Journal reading: pemaparan sebuah journal internasional yang telah
disetujui oleh Dosen
pembimbing sebelumnya dan disampaikan
dalam jam acara ilmiah. Seorang peserta PPDS Radiologi diwajibkan
menyampaikan 6 journal internasional selama masa pendidikan.
6 Referat pemaparan sebuah referat yang telah disetujui oleh Dosen
pembimbing sebelumnya dan disampaikan dalam jam acara ilmiah.
Seorang peserta PPDS Radiologi diwajibkan menyampaikan 6 referat
selama masa pendidikan.
7 Kuliah umum: perkuliahan yang disampaikan oleh Dosen pengampu
Radiologi baik untuk kalangan internal Departemen Radiologi maupun
terbuka untuk kalangan eksternal. Kegiatan perkuliahan ini terjadwal dan
diselenggarakan minimal 1 x dalam setiap bulannya.
8 Kuliah pakar: Perkuliahan oleh dosen dalam dan luar negeri (luar
institusi) yang disampaikan oleh Dosen Luar Biasa atau Pakar Bidang
tertentu. Kegiatan perkuliahan ini terjadwal dan diselenggarakan minimal
1 x dalam setiap bulannya.
9 Tutorial: diskusi khusus per kelompok dipandu oleh seorang Dosen
pembimbing yang dilakukan terjadwal 1 x dalam setiap bulannya.
10 Join conference: pemaparan sebuah kasus yang dibahas bersamasama dengan departemen lain sesuai permasalahan kasus klinis yang
diangkat dan disampaikan dalam jam acara ilmiah. Kegiatan ini diikuti
olehPPDS PPDS beserta seorang Dosen pembimbing yang telah
ditentukan sebelumnya.

284

11 Jaga malam: kegiatan di unit emergensi yang dijalani oleh PPDS


secara terjadwal setiap bulannya selama 5 semester pertama. Di hari
kerja mulai dari pukul 15.30 sampai pukul 07.00, serta di hari libur.
12 Pembuatan poster ilmiah/free paper: pemaparan sebuah kasus yang
telah disetujui oleh Dosen pembimbing sebelumnya dan disampaikan
dalam bentuk poster atau presentasi free paper dalam suatu seminar .
Seorang peserta PPDS Radiologi diwajibkan menyampaikan 1 poster
ilmiah atau 1 free paper selama masa pendidikan.
13 Seminar dan Workshop Radiologi: seluruh peserta PPDS radiologi
wajib mengikuti minimal 5 seminar/workshop/PIT Radiologi selama
mengikuti program pendidikan
14 Praktikum/ketrampilan: semua jenis keterampilan yang disesuaikan
dengan kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang PPDS Radiologi
(kemampuan/keterampilan anamnesis, ketrampilan ultrasonografi,
keterampilan melaksanakan prosedur-prosedur pemeriksaan radiologi,
interpretasi foto konvensional, dan lain-lain).
15 Magang: kegiatan komprehensif pengaplikasian ilmu yang dijalani
seorang PPDS di rumah sakit atau instansi jejaring.
16 Penelitian/tugas akhir: di akhir masa pendidikan, peserta PPDS
Radiologi diwajibkan membuat 1 buah penelitian dengan judul yang
sudah disetujui oleh Dosen pembimbing dan disampaikan dalam sidang
usulan penelitian serta sidang tugas akhir, sebagai syarat ujian nasional
(BPNRI).
Kegiatan bidang ini diberi 1 satuan kredit semester (SKS) untuk setiap
54 jam kegiatan per semester. Pedoman umum untuk menentukan nilai kredit
semester:
WXN = nilai kredit semester
54
Di mana:
W = Waktu rata-rata yang diperlukan oleh peserta untuk melaksanakan suatu
pemeriksaan atau tindakan.
N
= Jumlah penderita, tindakan, bahan atau masalah yang dianggap cukup
untuk memberikan pengalaman, sehingga mampu melakukan sendiri.
Jadi:
1 SKS = 18 jam kuliah (kognitif)
1 SKS = 54 jam praktek (psikometri )
Semester

Kode Modul

(1)
I
Tahap 1

(2)
C21O001

Orientasi
Toraks-1

Nama Modul

Bobot sks

(3)

(4)
3,5

285

C21O002
C21O003
C21O004
C21O005
C21O006
II-IV
Tahap 2

C21O007
C21O008
C21O009
C21O010
C21O011
C21O012
C21O013
C21O014
C21O015
C21O016

V-VI
Tahap 3A

C21O017
C21O018
C21O019
C21O020
C21O021
C21O022
C21O023
C21O024
C21O025

VII
Tahap 3B

C21O026
C21O027
C21O028
C21O029
C21O030

Muskuloskeletal-1
Traktus gastrointestinal-1
Traktus genitourinaria-1
Neuroradiologi -1
Emergensi-1
TOTAL
Toraks-2
Muskuloskeletal-2
Traktus gastrointestinal-2
Traktus genitourinaria-2
Neuroradiologi -2
Pediatrik-1
Radiologi intervensi-1
Kepala leher*
Radiologi Fisika dan Proteksi Radiasi
Emergensi-2
TOTAL
Toraks-3
Muskuloskeletal-3
Traktus gastrointestinal-3
Traktus genitourinaria-3
Neuroradiologi -3
Pediatrik-2
Radiologi intervensi-2
Payudara
Emergensi-3
TOTAL
Ketrampilan khusus:
Biomolekular imejing
Kedokteran Nuklir
Radioterapi
Obstetri & ginekologi
Penelitian dan Tugas Akhir
TOTAL
TOTAL SKS

2
2,5
2
2
2
14
7
4
4
4
4
3
2
3
4
5
40
8
4
4
4
4
3
2
4
5
38
2
1
1
1
8
13
105

286

Tahap pendidikan

(3)
Toraks (tahap 1)

Lama
Pelaksa
naan
(bulan)
(4)
2

Toraks (tahap 2)

Toraks (tahap 3)

Muskuloskeletal

MuskuloskeletalIntervensi (Tahap
1)

MuskuloskeletalIntervensi (Tahap
2)

Neuroimejing
(Tahap 1)
Neuroimejing
(Tahap 2)

Neuroimejing
(Tahap 3)

10

Ultrasonografi
(Tahap 1)

No.
(1)
1

Kode
Kepaniteraan
(2)

Jenis
Kepaniteraan

Kelengkapan*
(5)
Modul torak
Modul emergensi
Modul torak
Modul pediatrik
Modul emergensi
Modul torak
Modul pediatrik
Modul payudara
Modul emergensi
Modul muskuloskeletal
Modul emergensi
Modul muskuloskeletal
Modul radio. intervensi
Modul kepala-leher
Modul pediatrik
Modul emergensi
Modul muskuloskeletal
Modul radio. intervensi
Modul pediatrik
Modul emergensi
Modul neuroradiologi
Modul emergensi
Modul neuroradiologi
Modul pediatrik
Modul kepala-leher
Modul emergensi
Modul neuroradiologi
Modul pediatrik
Modul emergensi
Modul Gastrointestinal
Modul genitourinaria
Modul thorak
Modul muskuloskeletal

287

11

Ultrasonografi
(Tahap 2)

12

Ultrasonografi
(Tahap 3)

13

Prosedur
(Tahap 1)

GI/UG

14

Prosedur
(Tahap 2)

GI/UG

15

Prosedur
(Tahap 3)

GI/UG

16

Kepaniteraan/
Stase Luar

Tugas akhir/tesis

4
3

17
TOTAL

Modul Gastrointestinal
Modul genitourinaria
Modul torak
Modul pediatrik
Modul muskuloskeletal
Modul kepala-leher
Modul emergensi
Modul Gastrointestinal
Modul genitourinaria
Modul torak
Modul pediatrik
Modul muskuloskeletal
Modul payudara
Modul emergensi
Modul Gastrointestinal
Modul genitourinaria
Modul emergensi
Modul Gastrointestinal
Modul genitourinaria
Modul pediatrik
Modul emergensi
Modul Gastrointestinal
Modul genitourinaria
Modul pediatrik
Modul emergensi
Radioterapi
Kedokteran Nuklir
Obstetri ginekologi
RS Jejaring

Modul Radiologi Fisika dan Proteksi radiasi dilakukan di semester II dan III dalam
bentuk tutorial/perkuliahan 2 jam / minggu.
Modul Biomolekuler imejing dilakukan di semester VII dalam bentuk
tutorial/perkuliahan 2 jam / minggu.

288

Kepaniteraan khusus yang akan dijalani PPDS di semester 7 adalah sebagai


berikut:
Kode
Lama Pelaksanaan
No.
Jenis Kepaniteraan
Kepaniteraan
(bulan)
(1)
(2)
(3)
(4)
1
Radioterapi
1
2
Kedokteran nuklir
1
3
Obstetri Ginekologi
1
4
RS Jejaring
1
TOTAL
4
Setiap PPDS wajib membuat/melakukan:
- Jurnal reading
:5
- Referat/Laporan Kasus : 3
- Free Paper/Poster
:1
- Seminar/Workshop
: minimal 5
- Tugas akhir
: usulan penelitian/tesis 1
Pelaksanaan Pembimbingan Tesis
Prosedur Tesis (Tugas Akhir):
1. Usulan judul dapat dimulai sejak semester V. Proposal dapat diajukan pada
semester V. Peserta yang bersangkutan
2. Setiap PPDS mengajukan judul tesis kepada Divisi Litbang Departemen
Radiologi, kemudian dilakukan pembimbingan oleh dosen pembimbing tesis
yang telah ditentukan dengan menunjukkan Log Book yang sudah
ditandatangani oleh konsulen.
3. Syarat: PPDS sudah dinyatakan lulus tahap I dan tahap II dengan nilai ratarata minimal (B) dan telah melaksanakan tugas ilmiah (pembacaan jurnal
dan referat) minimal 75% dari keseluruhan.
4. PPDS melakukan bimbingan Tesis sebelum melakukan presentasi proposal
(Sidang Usulan Penelitian).
5. PPDS memperbaiki/melengkapi sesuai hasil Sidang Usulan Penelitian di
bawah bimbingan dosen pembimbing tesis.
6. PPDS mengajukan Ethical Clearance, setelah mendapat persetujuan dari
Komite Etika Kedokteran.
7. PPDS sudah dapat melakukan penelitian sambil melakukan bimbingan
kemudian melakukan presentasi/sidang tesis.
8. PPDS memperbaiki/melengkapi tesis sesuai hasil Sidang Tesis.

289

Sistem evaluasi:
Untuk menilai keberhasilan proses pembelajaran PPDS selama 7 semester
melalui:
i.
Penilaian Psikomotor
ii.
Penilaian Pengetahuan
iii.
Penilaian Keterampilan
iv.
Penilaian Perilaku/Etika/Sopan Santun
v.
Penilaian Sumatif
vi.
Penilaian Formatif
Penilaian psikomotor
1
Penilaian berdasarkan kemampuan psikomotor/keterampilan PPDS
dalam melakukan keterampilan yang harus dikuasai oleh seorang
lulusan program studi Radiologi.
2
Penilaian dilakukan oleh Dosen Pembimbing dan dilakukan saat
pelaksanaan praktikum dan di setiap ujian subdivisi dan ujian tahap.
Penilaian pengetahuan, keterampilan, dan perilaku/etika/sopan santun
PPDS dievaluasi oleh seluruh konsulen setiap hari selama kegiatan belajar
PPDS secara lisan maupun tertulis
Penilaian Sumatif
Penilaian dilakukan pada setiap PPDS selama pendidikan, terdiri atas:
1.
Ujian subdivisi: ujian yang dijalani setiap PPDS setiap kali
menyelesaikan satu masa kepaniteraan di stase tertentu.
2.
Ujian tahap: ujian yang dijalani setiap PPDS setiap kali menyelesaikan
satu tahap tertentu.
3.
Sidang tesis.
4.
Ujian Pra BPNRI.
5.
Ujian Akhir BPNRI: ujian yang dilaksanakan di akhir masa pendidik
Ujian Subdivisi:
1.
Seorang PPDS dapat menjalani ujian subdivisi bila telah menyelesaikan
tugas-tugas di subdivisi (jurnal, referat atau laporan kasus)
2.
Apabila belum menyelesaikan tugas-tugas subdivisi maka tidak diizinkan
untuk mengikuti ujian, dan harus mengulang di subdivisi tersebut selama
1 bulan dan tidak mengikuti rotasi.
3.
Apabila telah menyelesaikan tugas-tugas subdivisi, yang bersangkutan
berhak mengikuti ujian subdivisi.
4.
Apabila yang bersangkutan lulus ujian maka berhak untuk meneruskan
rotasi kepaniteraannya, jika tidak lulus pada ujian I maka yang
bersangkutan harus mengulang/mengikuti ujian kedua
5.
Bila ujian kedua tidak lulus maka yang bersangkutan harus mengulang
di subdivisi tersebut selama 1 bulan dan mengikuti ujian ketiga.

290

6.
7.

Bila pada ujian ketiga tidak lulus yang bersangkutan harus mengulang di
subdivisi tersebut sesuai lama pendidikan di subdivisi tersebut dan
mengikuti ujian keempat.
Pada ujian keempat, yang bersangkutan dipertimbangkan untuk
menjalani ujian di depan tim penguji.

Ujian tahap
1.
Seorang
PPDS
dapat menjalani
ujian
tahap
bila
telah
menyelesaikan/menjalani semua subdivisi dan telah dinyatakan lulus
dalam semua ujian subdivisi di tahap tersebut.
2.
Apabila belum menyelesaikan /menjalani semua subdivisi dan telah
dinyatakan lulus dalam semua ujian subdivisi maka tidak diizinkan untuk
mengikuti ujian dan tidak boleh meneruskan rotasi.
4.
Apabila yang bersangkutan lulus ujian tahap maka berhak untuk
meneruskan rotasi kepaniteraannya ke tahap berikutnya, jika tidak lulus
pada ujian I maka yang bersangkutan harus mengulang/mengikuti ujian
kedua
5.
Bila ujian kedua tidak lulus maka yang bersangkutan harus mengulang
di tahap tersebut kemudian mengikuti ujian ketiga.
7.
Apabila ujian ketiga tidak lulus, maka yang bersangkutan
dipertimbangkan untuk di drop out.
Sidang Tesis
1. Seorang PPDS dapat menjalani sidang tesis bila telah
menyelesaikan/menjalani semua subdivisi, tahap dan stase khusus,
serta telah dinyatakan lulus dalam semua ujian di seluruh bagian
tersebut.
2. Sidang tesis dapat dilaksanakan setelah PPDS menjalani Sidang Usulan
Proposal (UP) dan menyelesaikan perbaikan UP dengan bimbingan
dosen pembimbing.
3. Sidang tesis akan diselenggarakan bila dihadiri minimal oleh 3 orang
penguji, 1 orang pembimbing, dan 1 orang wakil dari Divisi Litbang.
Ujian Akhir (BPNRI)
Persyaratan mengikuti ujian BPNRI :
1.
Telah menyelesaikan masa pendidikan selama 7 semester dan
dilaksanakan pada akhir semester 7.
2.
Telah menyelesaikan tugas-tugas di subdivisi, telah lulus ujian subdivisi,
telah menyelesaikan tesis dan menjalani sidang tesis.
3.
Telah lulus ujian pra BPNRI.
Pelaksanaan ujian BPNRI disesuaikan dengan aturan yang dikeluarkan oleh
Kolegium Radiologi.

291

Penilaian formatif/afektif
1.
Penilaian berdasarkan pada perilaku keseharian, keaktifan dalam
diskusi, kehadiran, sopan santun, etika dan ketrampilan perilaku
profesional.
2.
Penilaian dilakukan oleh para staf pengajar dan menjadi pertimbangan
saat kelulusan di setiap ujian subdivisi dan ujian tahap.
Pedoman Evaluasi
Pedoman evaluasi mengacu kepada pedoman evaluasi FK UNPAD yaitu :

Nilai Angka

Nilai Huruf

Nilai Mutu

80 - 100

4.00

68 - 79

3.00

56 - 67

2.00

45 - 55

1.00

44

Nilai batas Lulus : B


Cara penghitungan IPK
IPK = Bobot nilai x sks
sks
Kualifikasi kelulusan disesuaikan dengan Index Prestasi Kumulatif
Predikat
IPK
Memuaskan
3.00 3.49
Sangat memuaskan
3.50 3.79
Cum laude
3.80 4.00
Predikat kelulusan cum laude diberikan kepada lulusan yang menyelesaikan
masa studi tepat waktu dan diperoleh tanpa mengulang mata ajar.
Tata Tertib
Meliputi :
Daftar hadir setiap hari masuk Pk. 07.00 WIBB tepat waktu
Pulang Pk. 15.30 WIBB tepat waktu
Mengikuti seluruh kegiatan ilmiah antara lain (minimal 90% selama PPDS
dengan persetujuan konsulen dan KPS)

Morning report

Journal reading

Referat

292

Laporan kasus
Tesis
Kuliah

Hal pokok pada proses belajar-mengajar di PPDS yang perlu dicermati dalam
kaitannya dengan tata tertib para PPDS
1. Tidak boleh merokok di lingkungan fakultas dan rumah sakit
2. Tidak diperkenankan menggunakan obat-obatan psikotropika/narkotika
maupun minuman keras.
3. Tidak diperkenankan membawa senjata api, senjata tajam, petasan dan
bahan yang mudah meledak.
4. Berperilaku sopan terhadap pengajar, sejawat, petugas dan pasien serta
keluarganya di lingkungan radiologi dan RSUP dr. Hasan Sadikin
sesuai dengan 5 S dalam SIGAP (senyum, sapa, salam, sopan, santun).
5. Senantiasa menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan radiologi
dan RSHS
6. Hadir 15 menit sebelum jadwal kegiatan dimulai
7. Tidak boleh meninggalkan ruangan selama acara ilmiah, kecuali seijin
konsulen
8. Selama kegiatan selalu bersikap sopan dan santun, memberikan
perhatian dan partisipasi penuh
9. Mematuhi peraturan-peraturan umum
Tata tertib berpakaian
1. Sopan dalam berpakaian
2. Pakaian yang digunakan dalam kegiatan akademik rapih, bersih, sopan
dan sesuai dengan suasana Rumah Sakit maupun tempat pelayanan
kesehatan.
3. Memakai jas putih
Pengaturan Jam Kerja

Mengacu pada surat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara RI


nomor 05/M.PAN/1/2003 tanggal 7 Januari 2003 tentang penetapan jam
kerja

Jam kerja PPDS Radiologi FK UNPAD 5 (lima) hari kerja :

Hari Senin s.d Kamis


: 07.00 s.d. 15.30

Hari Jumat
: 07.00 s.d 16.00

Jam jaga PPDS Radiologi

Hari Senin s.d Jumat


: 15.30 s.d 07.00

Hari Sabtu s.d Minggu : shift pagi 07.00 s.d 19.00


shift malam 19.00 s.d 07.00

Selalu melakukan absensi biometric (sidik jari)

293

Tertib meliputi:
Administratif
Akademis
Etika
Tertib Administratif :
Tujuan : Agar PPDS disiplin dalam kepatuhan terhadap Tata Tertib Selama
pendidikan
Meliputi :
1
Tertib kehadiran/jam datang
2
Tertib Belajar sehari/mengikuti proses belajar penuh kecuali
sepengetahuan dosen yang bertugas
3
Tertib jam pulang
Tertib Akademis
1.
Pada saat acara ilmiah, seluruh PPDS wajib hadir tepat
waktu sampai acara ilmiah selesai
2.
Bila lambat hadir pemberitahuan lebih dahulu kepada
KPS/konsulen yang bertugas
3.
Membuat tugas-tugas dan kegiatan ilmiah sesuai dengan
jadwal, kecuali seijin konsulen pembimbing
4.
Bila tidak masuk, pemberitahuan lebih dahulu kepada
KPS/konsulen yang bertugas
5.
Dianggap
tidak
etis/sopan
yang
membuat
dosen/pembimbing kurang menyenangkan
Sanksi Pendidikan PPDS
Sanksi pendidikan adalah seperangkat tindakan yang dapat berupa teguran lisan
atau tertulis, mengulang di suatu subdivisi atau tahap, skorsing sampai dengan
pemutusan studi.
Sanksi pendidikan ditujukan untuk memperbaiki kinerja PPDS dan/atau
melindungi pasien/masyarakat, institusi dan PPDS itu sendiri terhadap kerugian
akibat pelanggaran dan kelalaian yang dilakukan oleh PPDS atau akibat kondisi
tertentu.
Kriteria sanksi dari Ringan sampai Berat dengan mempertimbangkan aspek
pembinaan lebih dahulu oleh seluruh konsulen.
Dalam proses belajar mengajar, sesuai dengan tujuan pendidikan di PS Radiologi
FK Unpad, maka PPDS diwajibkan mengikuti semua kegiatan pendidikan sebaikbaiknya.
Beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam pemberian sanksi akademik
untuk seorang PPDS antara lain:
Bila peserta PPDS meninggalkan proses belajar mengajar kurang dari 3 hari
tanpa alasan yang dapat diterima, maka yang bersangkutan akan menerima
teguran lisan.

294

Bila peserta PPDS meninggalkan proses belajar mengajar kurang dari 1


minggu tanpa alasan yang dapat diterima, maka yang bersangkutan akan
menerima teguran tertulis pertama.
Bila peserta PPDS meninggalkan proses belajar mengajar lebih dari 1
minggu tanpa alasan yang dapat diterima, maka yang bersangkutan akan
menerima teguran tertulis kedua dengan tembusan ke Pembantu Dekan I
dan TK PPDS
Bila dalam 2 minggu yang bersangkutan tidak mengindahkan surat teguran
kedua, KPS akan mengirimkan surat teguran ketiga dengan tembusan ke
Pembantu Dekan I dan TK PPDS dan diberikan sanksi akademis.
Bila dalam 2 minggu yang bersangkutan tidak mengindahkan surat teguran
ketiga, maka yang bersangkutan akan dibahas dalam rapat departemen
untuk ditindak lanjuti bersama dengan Pembantu Dekan 1 dan TK PPDS
Dalam tahun pertama pendidikan tidak diperkenankan untuk mengambil cuti.
Dalam tahun pertama pendidikan tidak diperkenankan untuk praktek.
Pada tahun pertama pendidikan dianjurkan untuk tidak hamil
Cuti sakit harus disertakan surat keterangan dokter spesialis
Izin meninggalkan pendidikan maksimal 2 hari dengan membuat surat
keterangan
Bila peserta PPDS meninggalkan proses belajar mengajar selama 3 hari
sampai 5 hari , yang bersangkutan diharuskan mengulang di subdivisi
tersebut selama 1 minngu.
Bila peserta PPDS meninggalkan proses belajar mengajar selama 1 minggu
sampai 1 bulan, yang bersangkutan diharuskan mengulang di subdivisi
tersebut selama 1 bulan.
Bila PPDS meninggalkan proses belajar mengajar selama lebih dari 3 bulan,
yang bersangkutan diharuskan mengulang masa pendidikan selama 6 bulan.
Bila PPDS tidak mematuhi jam kerja, maka yang bersangkutan akan
mendapat teguran lisan. Bila masih berulang, diberi teguran tertulis. Bila 2
kali mendapat teguran tertulis, maka yang bersangkutan diharuskan
mengulang di subdivisi tersebut.
Bila PPDS memperoleh nilai di bawah batas kelulusan, pada kesempatan
ujian kedua, yang bersangkutan diharuskan mengulang di subdivisi atau di
tahap tertentu.
Pemutusan Studi peserta PPDS:
Tujuan pemutusan studi ialah :
a. Mempertahankan mutu hasil pendidikan
b. Mempertahankan tanggung jawab professional
c. Mempertahankan pendayagunaan sumber pendidikan
Meliputi :
Penilaian ketiga faktor (administratif , akademik, dan etika ) dilakukan oleh
seluruh dosen sejak awal dan diketahui oleh PPDS yang bersangkutan dengan
teguran lisan maupun tertulis dan dilakukan pembinaan lebih dahulu secara
berkesinambungan. Apabila tetap tidak mengindahkan PPDS tersebut dilakukan

295

penilaian seluruh dosen dan dirapatkan bersama untuk mengambil keputusan


apakah PPDS tersebut masih layak atau tidak untuk melanjutkan ke jenjang
selanjutnya.
Pemutusan studi peserta PPDS FK Unpad adalah wewenang Rektor Unpad yang
dituangkan dalam Surat Keputusan Rektor Unpad berdasarkan permintaan:
1. Dekan FK Unpad sebagai perpanjangan tangan program studi
2. Dekan FK Unpad atas permintaan PPDS.
Tata cara pemutusan studi
Peserta PPDS dinyatakan putus studi bila tidak dapat memenuhi persyaratan
administrasi, evaluasi atas pencapaian kompetensi, pelanggaran etika dan
profesionalisme, atas keinginan sendiri, atau sebab/kondisi lain.
Seorang PPDS dipertimbangkan untuk menjalani pemutusan studi atas hasil
keputusan Rapat Staf pengajar PS Radiologi FK Unpad, kemudian disampaikan
ke TKPPDS untuk disampaikan ke Dekan FK Unpad.
Beberapa hal yang menjadi fokus pertimbangan saat memutuskan seorang
PPDS mendapat ancaman pemutusan studi adalah:
1. Kelalaian administrasi
a. PPDS tidak aktif melakukan registasi selama 2 semester
berturut-turut
b. Meninggalkan proses belajar mengajar selama lebih dari 2
bulan tanpa alasan yang dapat diterima dan tidak
mengindahkan surat teguran ke-3 yang dikirim oleh KPS.
2. Kekurangan atas pencapaian kompetensi
a. Masa studi selambat-lambatnya 1,5 x masa pendidikan (11
semester)
b. Mendapat nilai C setelah 3 x berturut-turut melaksanakan ujian
tahap yang sedang dijalani.
3. Pelanggaran etika dan profesionalisme
a. Memiliki etika, sopan-santun, dan tingkah-laku yang dinilai
yang dianggap kurang oleh staf pengajar atas pertimbangan
berbagai pihak.
b. Melakukan pelanggaran profesionalisme yang berhubungan
dengan hak-hak pasien, yang ditentukan oleh rapat staf
pengajar.
4. Atas keinginan sendiri
PPDS berhak mengundurkan diri dari pendidikan atas dasar keinginan
sendiri dengan mengajukan permintaan tertulis pada pimpinan fakultas
dengan tembusan ke TK PPDS dan PS Radiologi dengan menyebutkan
alasan pengunduran diri.

296

5.

Sebab/kondisi lain.
a. PPDS dengan gangguan kejiwaan atau gangguan kepribadian
yang berpotensi menimbulkan ketidakamanan/kerugian bagi
dirinya sendiri dan pasien/masyarakat.
b. PPDS diketahui sebagai pengguna NAPZA.
c. PPDS terkena kasus kriminalitas atau ditetapkan sebagai
tersangka oleh Kepolisian.

17. Program Studi Ilmu Kedokteran Nuklir


A. Metode Pembelajaran
Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Nuklir dibagi menjadi 3 TAHAP
sesuai dengan pencapaian kompetensi minimal yang harus diraih, yaitu
kompetensi 1, 2 dan 3 (junior, madya dan senior).
Metode pembelajaraan dalam program studi kedokteran nuklir terdiri dari
Penerapan Keprofesian dan Akademik yang dikemas dalam bentuk-bentuk
pengalaman belajar yaitu:
a. Tugas baca.
b. Mengikuti kuliah pra-sarjana.
c. Mengikuti penyajian naskah ilmiah , simposium, kongres, seminar
kedokteran nuklir dan lain-lain yang berkaitan.
d. Mengikuti presentasi kasus penyakit di bagian klinik terkait.
e. Diskusi dengan bimbingan.
f. Melakukan pemeriksaan dan penelitian in-vivo dan atau in-vitro.
g. Penafsiran hasil pemeriksaan in-vivo dan in-vitro.
h. Melakukan konsultasi dan rujukan berbagai kasus problematik yang
berhubungan dengan kedokteran nuklir.
i. Melakukan pemantapan kendali mutu kedokteran nuklir.
j. Ikut serta memberikan bimbingan bagi peserta
k. Menyusun dan menyajikan naskah ilmiah.
l. Mengikuti kuliah pascasarjana.
m. Stase di Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Radiologi, dan Ilmu Bedah
dan lain - lain di RS Pendidikan Utama dan RS jenjang pendidikan yang
dianggap perlu.

297

B. Struktur Mata Kuliah


ISI KURIKULUM

URAIAN

PENGALAMAN
BELAJAR

Fisika Nuklir

Instrumentasi
dan Deteksi
Radiasi

1. Aspek Dasar Struktur


Benda
2. Peluruhan radioaktivitas
3. Interaksi radiasi dengan
benda
4. Pencarian yang menyertai
peluruhan radioaktif dan
implikasi biologisnya
5. Fisika dasar dari prosedur
pencitraan termasuk CT, MRI
dan Ultrasonografi

a, b, e, l, o

1. Prinsip deteksi dan detector


2. Instrumentasi Kedokteran
Nuklir dengan penekanan
khusus pada kamera gamma,
termasuk juga scanner,
pencitraan tomografi,
pencacah seluruh tubuh,
pencacah gamma pencacah
beta, system pemantauan dan
kalibrator dosis.
3. Kolimasi dektektor radiasi
khususnya kolimator pararel
diverging dan converginh serta
kolimator lubang miring dan
pinhole.
4. Instrumentasi elektronik
5. Produksi Pencitraan dan
teknologi penyajian termasuk
prinsip fotografi
6. Dasar dan aplikasi dari
modalitas pencitraan lain yang
berkaitan dengan prosedur
kedokteran nuklir

a, b, e, f, l, o

298

ISI KURIKULUM
Dosimetri dan
Proteksi Radiasi

Radiobiologi
dan Patologi
Radiasi

Model Kinetika
dan Sistem
Fisiologi
Matematika,
Statistika dan
Komputer

Radiokimia dan
Radiofarmasi

URAIAN

PENGALAMAN
BELAJAR

1. Pengukuran dan
Penghitungan dosis radiasi
2. Diagnosis, Evaluasi dan
Pengelolaan over-exposure
serta kecelakaan radiasi
3. Peraturan Pemerintah
tentang keselamatan radiasi
4. Teknik untuk mengurangi
paparan terhadap penderita,
personel dan lingkungan

a, b, e, l, o

1. Efek biologi dari radiasi


2. Immunologi, biologi
molekuler dan genetika

a, b, e, l

Model matematika dari system


fisiologik

a, b, e, l

1. Dasar-dasar Matematika
2. Distribusi probabilitas,
statistika parametric dan nonparametrik
3. Struktur, fungsi dan
pemograman computer
4. Aplikasi computer dengan
penekanan pada
penghitungan fungsi dan
pencitraan organ

a, b, e, l

1. Produksi radionuklida
dengan reactor, siklotron dan
akselerator partikel lain
2. Generator radionuklida
3. Formulasi radiofarmaka
4. Biokimia, fisiologi dan
farmakokinetik radiofarmaka
5. Kendali mutu radiofarmaka

a, b, e, f, l, o

299

ISI KURIKULUM
Metodologi
Penelitian

Pemeriksaan
invivo

URAIAN

PENGALAMAN
BELAJAR

1. Falsafah ilmu
2. Statistika Kedokteran
3. Metodologi Penelitian
Kedokteran

a, b, e, l

1. Indikasi klinik penggunaan


teknik kedokteran nuklir
2. Persiapan, pelaksanaan
dan pengawasan pascapemeriksaan
3. Gambaran normal, varian
normal dan patologik
4. Pencitraan in vivo dan
penilaian fungsional statik dan
dinamik dari organ: otak,
cairan serebrospinalis,
kelenjar tiroid, kelenjar saliva,
paru-paru, jantung dan
pembuluh darah, esofagus,
lambung, kandung dan saluran
empedu, hati, limpa, ginjal,
pancreas, tumor dan abses,
kandung kencing, tulang,
sendi, sumsum tulang, system
limfatik, kelenjar adrenal,
jaringan neuroendokrin dan
radioimunosintigrafi.
5. Penggunaan perangkat
pencitraan dan detector
eksternal untuk pencitraan
organ tubuh dan untuk timedependent dan studi fungsi
diferensiasi
6. Pengguaan teknik
gatingfisiologik untuk studi
fungsi
7. Pemantauan penderita
selama studi intervensi seperti
exercisedan pharmacologic
test, terutama interpretasi
elektrokardiogram dan

a s.d o

300

ISI KURIKULUM

URAIAN

PENGALAMAN
BELAJAR

resusitasi kardiopulmoner
8. Kinetika seluler, analisis
absorpsi dan ekskresi, studi
balans perunut
9. Uji komposisi tubuh,
termasuk analisis
kompatemental
10. Pencacahan dan
penyidikan seluruh tubuh
11. Hubungan antara prosedur
kedokteran nuklir dengan
prosedur diagnostic lain
Pemeriksaan
invitro

Terapi dengan
radionuklida

1. Metodologi dan kendali


mutu radioligand assay
2. Binding capacity studies
3. Dasar-dasar activation
analysis dan autoradiografi

a s.d o

1. Seleksi penderita, indikasi


dan kontraindikasi terapi
radionuklida
2. Penentuan dosis,
penghitungan dosis radiasi
terhadap organ sasaran dan
jaringan sekitar serta organ
lain, dan paparan terhadap
seluruh tubuh
3. Terapi radionuklida untuk
penyakit
4. Hipotiroid
5. Karsinoma tiroid
6. Polisitemia vera dan
penyakit mieloproliferatif
7. Metastasis ke tulang (terapi
paliatif)
8. Terapi dengan koloid fosfor
radioaktif dan radiokoloid
untuk terapi intrakaviter efusi
maligna radioimunoterapi

a s.d o

301

C. Evaluasi Hasil Belajar


C. 1 Tujuan:
Untuk menentukan apakah peserta telah mencapai tujuan pendidikan
dokter spesialis ilmu kedokteran nuklir dan berhak menerima ijasah.
C.2 Poin Penilaian:
1. Kemampuan memahami dan memecahkan masalah secara ilmiah
2. Pengetahuan peserta dalam bidang ilmu kedokteran nuklir
3. Keterampilan
4. Sikap peserta dalam tugas sehari-hari : tanggung jawab terhadap
pekerjaan, sikap terhadap sesama sejawat dan sikap terhadap
pegawai di tempat pendidikan.
C.3 Cara Penilaian:
Penilaian akhir dilakukan dengan cara:
1. Ujian tertulis
2. Ujian Keterampilan
3. Pengamatan kegiatan sehari-hari
4. Analisa tingkah laku
D. Pedoman Ujian
Penilaian akhir dilakukan dan diputuskan oleh Koordinator Program studi
bersama para penilai. Jika diperlukan penilai dari luar lingkungan IKN di tingkat
regional atau nasional atas dasar pertimbangan ketua bidang studi dan disetujui
Koordinator Program Studi, maka harus diperhatikan kesesuaian bidang
spesialisasi penilai ini dengan tujuan pendidikan dokter spesalis kedokteran nuklir
yang sedang dinilai.
D. 1 Kelulusan
Pada umumnya setiap program studi memiliki berbagai jenjang
pendidikan seperti yunior-madya dan senior. Setiap jenjang terdiri dari berbagai
subbgaian atau unit kerja / kumpulan modul. Kelulusan terdiri dari kelulusan dari
setiap subbagian/divisi/unit kerja, kelulusan suatu jenjang pendidikan dan
kelulusan akhir pendidikan. Pada umumnya penilaian dapat berdasarkan:

Penguasaan keilmuan spesialistik atau yang berhubungan, melalui


ujian pilihan berganda dan modifikasinya, esai dan lisan

Analisis kasus

Audit morbiditas dan mortalitas

Presentasi pada saat ronde/visite besar atau visite subbagian/divisi

Kegiatan sehari-hari dalam mengelola pasien

Journal Review, referat dan presentasi kasus

Penilaian buku log / portofolio

Pengamatan langsung dalam melaksanakan prosedur medik atau


tindakan operatif

OSCE

302

Mini-CEX
Dan lain-lain sesuai dengan ke khas-an program studi
Bila semua subbagian/divisi/unit kerja pada suatu jenjang pendidikan telah
lulus semua, maka peserta didik memperoleh promosi ke jenjang pendidikan
berikutnya, misalnya setelah lulus dari jenjang junior yang bersangkutan
mendapat promosi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang madya. Bila semua
jenjang telah berhasil dilewati dengan baik, maka peserta didik berhak mendapat
gelar dokter spesialis yang ijasahnya ditanda tangani oleh Rektor Universitas
Padjajaran.
Hampir setiap program studi telah memberlakukan Ujian/Evaluasi
Nasional (national board examination) yang diselenggarakan oleh kolegium
terkait. Kebanyakan program studi mempersyaratkan kelulusan dari Ujian /
Evaluasi nasional sebelum diperkenankan untuk mengikuti wisuda pascasarjana
di Universitas. Demikian pula dengan Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu
Kedokteran Nuklir dan Pencitraan Molekuler.
D.1.2 Nilai, Huruf Mutu dan Angka Mutu
Sesuai dengan ketentuan dari Universitas Padjajaran penilaian terhadap
pencapaian hasil pembelajaran digunakan pola Penilaian Acuan Patokan (PAP).
Ketentuan tersebut seperti yang tercantum dalam Keputusan Menteri Pendidikan
Nasional R.I Nomor 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum
Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa dinyatakan dengan
huruf A,B,C,D, dan E. namun karena dalam pendidikan dokter spesialis, selain
ditentukan oleh pihak universitas, juga ditentukan oleh pihak Kolegium. Bila
Kolegium terkait menganut pemberian atribut plus atau minus dibelakang huruf
mutu, hal ini dapat diterima dengan terlebih dahulu berkonsultasi dengan
Pimpinan Fakultas.
E. Tata Tertib
Selama pendidikan, setiap peserta didik PPDS akan melaksanakan
komponen proses pembelajaran profesi dokter spesialis kedokteran nuklir
sebagai berikut:
a. Pengayaan
Merupakan Program pengayaan materi untuk peserta didik PPDS yang
baru masuk sehingga peserta didik PPDS baru lebih mengenal tentang
cara belajar di Departemen Ilmu Kedokteran Nuklir dan Pencitraan
Molekuler serta diharapkan telah mengetahui ilmu dasar saat memasuki
pendidikan dokter spesialis kedokteran nuklir.
b. Magang
Merupakan proses penerapan keprofesian dari ilmu yang telah didapat.
Metode pembelajaran berupa demonstrasi, skills lab, analisis kasus,
tatap muka terjadual dan tidak terjadual, dan pemberian tugas-tugas.
c. Aktifitas Pendidikan Terstruktur yang terdiri dari:

303

JournalReading (21 kali).

Referat (5 kali).

Presentasi Kasus (1 kali).

Presentasi poster nasional minimal 1 kali.

Presentasi poster internasional minimal 1 kali.

Presentasi oral baik nasional maupun internasional minimal 1 kali.


d. E-Learning mempergunakan Sumber Online.
e. Mengembangkan keterampilan dan mengikuti pelatihan prosedur dan
praktik
kedokteran nuklir. Diktum klasik yang sudah lama dikenal yaitu
memperhatikan,
mengerjakan dan mengajarkan (see, do, teach dictum) merupakan
metode
penting
untuk memperoleh keterampilan.
f. Pendampingan mahasiswa kedokteran, khususnya peserta Program
Pendidikan
profesi
Dokter (P3D).
g. Diwajibkan untuk melakukan penelitian.
Kegiatan Rutin PPDS antara lain:
a. Visite pagi yang dilakukan setiap hari kerja pada pukul 07.30
b. Pemeriksaan diagnostik kedokteran nuklir sesuai dengan rotasi yang
telah ditentukan
c. Stase RS Jejaring di Rumah Sakit MRCCC dan RS Kanker Dharmais
Jakarta.
G. Jenis Pelanggaran dan Sanksi
Sanksi pendidikan adalah seperangkat tindakan yang berupa teguran lisan
atau tertulis, mengulang di suatu subbgaian/divisi/unit kerja program pendidikan
spesialis dipekerjakan di suatu unit kerja yang berhubungan dengan pendidikan
skorsing sampai dengan pemutusan studi.
Sanksi pendidikan ditujukan untuk memperbaiki kinerja peserta didik dan
atau untuk melindungi pasien/masyarakat, institusi dan peserta didik sendiri
terhadap kerugian akibat pelanggaran dan kelalaian yang dilakukan oleh peserta
didik atau akibat kondisi khusus tertentu.
G.1. Jenis Pelanggaran/kelalaian atau kondisi khusus peserta didik
Jenis pelanggaran/kelalaian atau kondisi khusus peserta didik termaksud di
atas dapat dikelompokkan kedalam;
1.
Kelalaian Administratif.
2.
Kekurangan dalam pencapaian kompentesi.
3.
Tidak mampu mempertahankan kompetensi yang telah dicapai selama
masa pendidikan.
4.
Sikap perilaku yang melanggar etika dan profesionalisme.
5.
Pelanggaran hukum.
6.
Masalah Khusus seperti penggunaan NAPZA dan penyakit tertentu.

304

G.1.1 Kelalaian administratif


Kelalaian administratif dapat berupa :
1. Tidak melakukan registrasi.
Bila tidak melakukan registrasi tanpa alasan yang jelas maka yang
bersangkutan tidak diperkenankan untuk mengikuti kegiatan pendidikan pada
semester tersebut dan semester tersebut diperhitungkan dalam masa studi.
Peserta didik tersebut tetap diwajibkan hadir di program studi dan
penempatan kerjanya di atur oleh Koordinator Program Studi.
Bila tidak melakukan registrasi selama 2 semester berturut-turut peserta didik
dianggap mengundurkan diri. Surat keputusan mengenai pemutusan studi
yang bersangkutan diterbitkan oleh Rektor Universitas Padjadjaran atas
laporan Pimpinan Fakultas.
a. Meninggalkan proses pembelajaran tanpa alasan yang dapat diterima
Program Pendidikan Spesialis merupakan pendidikan yang mempunyai ciri
yang sangat spesifik berupa hubungan yang sangat erat antara pembelajaran
akademik dan praktek keprofesian. Peserta didik, secara progresif
memperoleh pemaparan klinis (clinical exposure) yang memadai untuk
memperoleh pengalaman klinis yang diperlukan untuk mencapai keahlian,
yang dengan keahlian tersebut mereka dapat memberikan pelayanan
kesehatan dengan kualitas yang sangat baik. Secara ringkas, karakteristik
pendidikan dokter spesialis berupa "education, clinical exposure, and
experience" yang akan mengantarkan peserta didik menjadi seorang "
expertise, evidence-based practice and excellence".
Dengan memahami karakteristik tersebut, peserta PPDS-I harus mengikuti
semua kegiatan pendidikan dengan sebaik-baiknya.

Bila peserta PPDS-I meninggalkan proses pembelajaran kurang dari satu


minggu, tanpa alasan yang dapat diterima, maka yang bersangkutan akan
menerima teguran tertulis.

Bila peserta didik meninggalkan proses pembelajaran selama 2 (dua) minggu


baik berturut-turut atau tidak, yang bersangkutan diharuskan mengulang di
subagian/divisi/unit kerja tempat yang bersangkutan bekerja. Penempatan
yang bersangkutan selama menunggu rotasi berikutnya ditentukan oleh
Ketua Program Studi.

Bila peserta PPDS-I meninggalkan proses pembelajaran selama 2 ( dua )


minggu, Koordinator Program Studi akan mengirim surat teguran dengan
tembusan
kepada Pembantu Dekan I dan TKP PPDS-I.

Bila dalam 2 ( dua ) minggu yang bersangkutan tidak kunjung membalas


surat tersebut atau tidak menghubungi program studi, Koordinator Program
Studi akan mengirimkan surat teguran kedua dan ketiga dengan selang
antara 2 (dua)
minggu.

305

Bila dalam 2 minggu setelah surat teguran ketiga, yang bersangkutan


tidak kunjung membalas surat tersebut atau tidak menghubungi
program studi, maka yang bersangkutan dianggap mengundurkan
diri sebagai peserta PPDS-I Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran. Koordinator Program Studi menyampaikan laporan
mengenai hal tersebut kepada Pimpinan Fakultas untuk proses
pemutusan studi.
b. Tidak mematuhi jam kerja
Bila peserta didik diketahui tidak mematuhi jam kerja, yang
bersangkutan akan mendapat teguran lisan, bila tetap berulang akan
diberikan teguran tertulis. Bila setelah 2 (dua) kali mendapat teguran
tertulis, yang bersangkutan tidak menunjukkan perbaikan, yang
bersangkutan diharuskan mengulang di subagian/divisi/unit kerja dimana
dia bekerja.
G.1.2 Kekurangan dalam pencapaian kompetensi
Bila peserta didik memperoleh nilai di bawah batas kelulusan, yang
bersangkutan diharuskan mengulang di subagian/ divisi /unit kerja tempat yang
bersangkutan bekerja. Bila yang bersangkutan tidak lulus di 2 (dua) subagian/unit
kerja dalam suatu jenjang pendidikan, Koordinator Program Studi akan
menerbitkan teguran tertulis dengan tembusan kepada wali/instansi pengirim dan
TKP PPDS. Bila mengalami 3 (tiga) kali tidak lulus, selain menerbitkan teguran
tertulis, KPS akan mengirimkan peserta PPDS-I tersebut ke Tim Konseling di
program studi terkait. Bila masih tetap tidak menunjukkan perbaikan, yang
bersangkutan ditawarkan untuk alih program studi, mungkin terdapat perbedaan
antara minat dan bakat.
G.1.3 Ketidak mampuan dalam memelihara kompetensi yang telah dicapai
selama masa pendidikan.
Ketidak mampuan untuk mempertahankan kompetensi yang telah
diperoleh pada suatu jenjang pendidikan merupakan suatu bentuk kelalaian
peserta didik. Bila peserta didik telah dinyatakan lulus dan suatu
subagian/divisi/unit kerja, sebagai ilustrasi, yang bersangkutan telah lulus dari
subagian/divisi Radiofarmasi, namun misalnya pada saat melaksanakan tugas
jaga menunjukkan suatu kesalahan yang mendasar dalam melakukan prosedur
persiapan radiofarmaka, maka yang bersangkutan diharuskan untuk mengulang
di subagian tersebut. Sebelum menjatuhkan sanksi, Koordinator Program studi
akan meneliti secara seksama dan dengan melibatkan Staf Pendidik dari
subagian/divisi tersebut

306

G.1.4 Sikap Perilaku melanggar etika dan profesionalisme


Sikap perilaku yang melanggar etika dan profesionalisme antara lain
dapat berupa sikap perilaku terhadap :
1. Pasien:

Tidak menunjukkan sikap belas kasih, misalnya bersikap kasar

Tidak menunjukkan sifat altruisme.malah menelantarkan pasien


dan keluarganya

Tidak memiliki kepekaan terhadap kebutuhan pasien, tidak


memberikan rasa nyaman

Tidak dapat dipercaya

Tidak dapat menjaga kerahasiaan pasien

Tidak peka terhadap nilai nilai ras, gender, dan nilai lain yang
dianut pasien seperti agama dan kepercayaan.
2. Pendidik
Misalnya tidak bersikap santun terhadap pendidik, baik yang berasal
dari program
studi yang bersangkutan maupun yang diluar program studi
3. Sejawat residen, baik yang berasal dari satu program studi maupun
diluar program studi, baik terhadap yang senior, sederajat maupun
terhadap yang yunior. Pelanggaran diantaranya dapat berupa kekerasan
verbal, fisik maupun tekanan secara finansial
4. Paramedis dan karyawan rumah sakit seperti misalnya tidak menghargai
tugas dan kewajiban mereka.
5. Keilmuan
Dapat berupa meninggalkan/ tidak mengikuti acara ilmiah seperti jural
review reading, referat,sajian kasus, atau melalaikan tugas yang bersifat
keilmuan seperti tugas baca, tanpa alasan yang dapat diterima.
6. Institusi
Seperti tidak menjaga peralatan Rumah Sakit Pendidikan dengan baik,
atau tidak mengindahkan peraturan Rumah Sakit Pendidikan dan
Fakultas Kedokteran UNPAD.
G.1.5 Pelanggaran hukum
Bila peserta didik diduga melanggar hukum dan sedang dalam proses
penegakkan hukum, peserta didik dibebaskan dari tugas mengikuti proses
pembelajaran. Bila dikemudian hari dinyatakan tidak bersalah, yang
bersangkutan diperkenankan untuk mengikuti kembali proses pembelajaran.
Masa yang hilang sebagai akibat proses penegakkan hukum diusahakan dengan
meminta bantuan Pimpinan Fakultas untuk tidak dimasukkan kedalam masa studi
terjadwal. Bila telah ditetapkan bersalah, Rektor akan mengeluarkan sanksi
berupa skorsing sampai pemutusan studi.

307

G.1.6. Kondisi khusus peserta PPDS


Yang dimaksud kondisi khusus peserta didik PPDS-I dapat berupa yang
bersangkutan diketahui sebagai pengguna NAPZA atau memiliki penyakit
kejiwaan, dan lain sejenisnya. Dengan berlakunya UU nomor 35 Tahun 2009
tentang Narkotik, status pengguna narkotik bukan lagi diklasifikasikan sebagai
kriminal, namun sebagai pasien yang wajib lapor diri dan menjalani rehabilitasi,
kecuali bila yang bersangkutan juga bertindak sebagai pengedar atau sejenisnya.
Yang bersangkutan harus menjalani rehabilitasi medik atau sosial di institusi yang
drtunjuk pemerintah. Hal ini sesuai dengan UU nomor 35 Tahun 2009 tentang
Narkotik dan sesuai pula dengan salah satu komponen kompetensi dari area
kompetensi pengembangan profesi dan kepribadian yang menyatakan bahwa
peserta didik harus memiliki kemampuan untuk dapat mengidentifikasi masalahmasalah yang mempengaruhi kesehatan, kesejahteraan dan kemampuan profesi.
Yang bersangkutan dibebaskan dari proses pembelajaran selama masa
pengobatan dan rehabilitasi, namun tetap diperhitungkan kedalam masa studi
terjadwal. Bila yang bersangkutan dinyatakan telah bebas dari penggunaan
NAPZA dengan menunjukkan sertifikat dari institusi yang merawat atau
merehabilitasi, diperkenankan kembali melanjutkan pendidikan. Namun untuk
tingkat pemakaian ketergantungan, yang bersangkutan diminta untuk
mengundurkan diri sebagai peserta didik PPDS-I, mengingat tingkat
ketergantungan memiliki angka kekambuhan yang tinggi. Kondisi ini harus
berdasarkan keterangan dari Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa bagian Adiksi.
Khusus bagi peserta PPDS-I yang dalam kegiatannya banyak
berhubungan dengan zat-zat yang dapat menimbulkan adiksi, seperti Program
Studi Anestesi dan Terapi Intensif dan llmu Kesehatan Jiwa, demi kebaikan
dirinya dan masyarakat, pengguna NAPZA tidak diperkenankan untuk
melanjutkan pendidikan.
Bagi peserta didik yang mengalami gangguan kejiwaan, seperti psikotik
atau gangguan kepribadian yang menunjukkan atau berpotensi untuk
menimbulkan ketidakamanan/ kerugian bagi dirinya dan pasien/masyarakat, tidak
diperkenankan untuk melanjutkan proses pembelanjaran. Kondisi ini harus
berdasarkan keterangan dari Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa.
Peserta didik yang mengalami kondisi khusus di atas dan tidak
memungkinkan untuk melanjutkan pendidikannya, Pimpinan Fakultas atas
laporan Koordinator Program Studi mengusulkan penghentian studi kepada
Rektor
G.2 Derajat berat ringannya bentuk pelanggaran/kelalaian
Pengertian mengenai batasan tentang pelanggaran ringan dan sedang
diserahkan kepada Koordinator Program Studi melalui penelaahan bersama
dengan jajaran staf pendidik, termasuk kepala bagian/departemen, terutama
dalam hal menyangkut aspek sikap perilaku yang melanggar etika dan
profesionalisme.

308

Contoh pelanggaran ringan adalah peserta didik tidak mengikuti acara


ilmiah kurang dari 3 kali tanpa alasan yang dapat diterima. Namun peserta
PPDS-I harus menyadari bahwa pelanggaran ringan yang dilakukan berulang,
dapat berakumulasi menjadi pelanggaran sedang. Contoh pelanggaran sedang
adalah melakukan kekerasan verbal terhadap peserta PPDS-I yunior.
Pelanggaran berat dapat berupa plagiatism, kelalaian yang dapat menimbulkan
kecacatan, dan sebagainya. Pelanggaran/kelalaian yang dinilai berat harus
diperkuat oleh keputusan Komite Medik R.S Pendidikan.
G.3 Bentuk Sanksi Pendidikan
Pelanggaran ringan diberikan teguran lisan dan atau tertulis.
Pelanggaran sedang, selain teguran tertulis disertai dengan mengulang di
subagian /divisi/unit kerja tertentu paling lama 3 bulan. Penempatan di
subagian/divisi/unit kerja tersebut disesuaikan dengan kepentingan pendidikan
peserta didik PPDS-I. Sanksi pendidikan tersebut diberlakukan segera setelah
keputusan pemberian sanksi pendidikan diterbitkan oleh Koordinator Program
Studi. Pelanggaran berat, yang diperkuat oleh penilaian komite medik R.S
Pendidikan, sanksi pendidikan dapat berupa skorsing atau pemutusan studi.
Program Studi memberi laporan kepada Dekan Fakultas Kedokteran mengenai
adanya pelanggaran berat tersebut disertai dengan bukti-bukti yang diperlukan.
Pimpinan Fakultas menyelenggarakan Rapat Senat Fakultas untuk membahas
pemberian skorsing atau pemutusan studi. Surat keputusan skorsing atau
pemutusan studi diterbitkan oleh Rektor Universitas Padjadjaran atas usulan
Pimpinan Fakultas.
G.4 Pemutusan Studi
Peserta PPDS-I dinyatakan putus studi bila tidak dapat memenuhi
persyaratan administrasi, atas keinginan sendiri, evaluasi atas pencapaian
kompetensi, pelanggaran etika dan profesionalisme, dan atau sebab lain sebagai
berikut:
G.4.1 Kelalaian Administrasi
1. Tidak melaksanakan registrasi selama 2 semester berturut-turut
2. Meninggalkan proses pembelajaran selama lebih dari 2 ( dua ) minggu
tanpa alasan yang dapat diterima dan tidak mengindahkan surat teguran
ke-3 yang dikirimkan oleh Koordinator Program Studi.
G.4.4.2 Atas Keinginan sendiri
Peserta didik berhak mengundurkan diri dari pendidikan atas dasar
keinginan sendiri dengan mengajukan permintaan tertulis kepada Pimpinan
Fakultas dengan tembusan kepada TKP PPDS disertai alasan pengunduran
diri.Sebagai contoh adalah karena alasan kesehatan yang tidak memungkinkan
untuk melanjutkan pendidikan.Segala akibat pengunduran diri ditanggung oleh
yang bersangkutan, seperti misalnya pengembalian dana beasiswa.dan
sebagainya.

309

G.4.4.3 Atas dasar evaluasi pencapaian kompentensi


Alasan ini seyogyanya tidak terjadi dalam proses pendidikan dokter
spesialis, namun adakalanya setelah berbagai upaya dilaksanakan namun
derajat kompetensi tertentu sebagai persyaratan kelulusan tidak kunjung dicapai.
Dalam keadaan ini dengan berat hati, atas dasar tanggung jawab profesi pendidik
terhadap masyarakat pemutusan studi tidak dapat dihindarkan.
Sebaiknya pemutusan studi dilakukan pada jenjang pertama dari
pendidikan atas dasar pertimbangan kebaikan peserta didik. Namun dalam
keadaan tertentu yang sangat tidak diharapkan, pemutusan studi dapat terjadi
pada jenjang di atasnya, misalnya peserta PPDS-I melakukan pelanggaran berat
pada jenjang senior.
Agar tidak terjadi pemutusan studi atas dasar evaluasi pencapaian
kompetensi, peserta PPDS-I harus berupaya sekuat tenaga dan dengan
kerjasama yang baik dengan para pendidik untuk meningkatkan kinerja mereka.
Pemutusan studi dilaksanakan bila peserta didik :
1. Mendapat nilai D atau E dari 2 subbagian/divisi, baik secara berturut-turut
atau tidak. Peringatan pertama diberikan pada saat peserta didik
mendapat nilai D atau E yang pertama.
2. Tidak memenuhi persyaratan untuk dapat mengikuti ujian local maupun
ujian nasional, seperti :

Journal Reading (21 kali)

Referat (5 kali)

Presentasi Kasus (1 kali)

oral

Presentasi oral atau poster internasional minimal 1 kali


Bila masa pendidikan tahap Junior diperkirakan akan melebihi batas
ahir studi.
Dengan demikian, maka penghentian studi peserta PPDS dilaksanakan bila
peserta didik tidak lulus (nilai C) di 6 subbagian baik berurutan ataupun tidak
berurutan.
G.4.4.4 Atas dasar Pelanggaran Etika dan Profesionalisme yang berat
Pelanggaran etika berat yang diperkuat keputusan komite medik RS
Pendidikan diajukan ke rapat Senat Fakultas, bila Senat Fakultas sependapat
dengan Program Studi dan Komite Medik RS Pendidikan, Pimpinan Fakultas
mengajukan usulan pemutusan studi kepada Rektor.
G.4.4.5 Pemutusan Studi akibat telah melebihi batas ahir studi
Bila karena sesuatu hal peserta didik PPDS-I dalam proses
pendidikannya telah melewati batas akhir studi, maka kepada yang bersangkutan
dapat dilakukan pemutusan studi.

310

G.4.4.6 Kondisi khusus


Penderita pengguna NAPZA atau gangguan kejiwaan yang tidak memungkinkan
untuk melanjutkan pendidikan yang diperkuat oleh keterangan tertulis dari dokter
spesialis kesehatan jiwa dapat dilakukan pemutusan studi.
18.

Program Studi Ilmu Bedah Anak

A. METODE PEMBELAJARAN
Dalam rangka pencapaian kompetensi, maka peserta didik melaksanakan
kegiatan - kegiatan sebagai berikut :
1. Ronde bangsal/Visite
a. Visite besar : merupakan visite seluruh pasien rawat inap bedah anak
yang dilakukan 1 x per minggu, dipimpin oleh seorang staf pendidik
senior dan diikuti oleh seluruh peserta didik.
b. Visite sub divisi : merupakan visite pasien rawat inap sub divisi yang
dipimpin oleh kepala sub divisi yang dilakukan 2 x per minggu, diikuti
oleh peserta didik masing-masing sub divisi.
c. Visite harian : merupakan visite terhadap seluruh pasien rawat inap
bedah anak yang dipimpin oleh chief residen yang dilakukan setiap
hari dan diikuti oleh seluruh peserta didik.
2. Konferensi kasus (case presentation)
Merupakan kegiatan ilmiah dalam bentuk diskusi kasus bedah anak yang
dianggap menarik untuk didiskusikan sebagai pembelajaran dan dilakukan
pemecahan masalah. Diskusi ini dilakukan 1 x perminggu dipimpin oleh
staf pendidik sub divisi yang bersangkutan dan diikuti seluruh peserta
didik.
3. Journal reading :
Merupakan kegiatan ilmiah dalam bentuk penyajian jurnal-jurnal terbaru
dalam 5 tahun terakhir yang berkaitan dengan perkembangan ilmu dan
penatalaksanaan kelainan-kelainan bedah anak. Kegiatan ini dilakukan 1
x per minggu dipimpin oleh staf pendidik sub divisi yang bersangkutan dan
diikuti seluruh peserta didik.
4. Referat :
Merupakan kegiatan ilmiah yang disusun oleh peserta didik dalam bentuk
sari kepustakaan. Kegiatan ini dilakukan 2 x per minggu dipimpin oleh staf
pendidik sub divisi yang bersangkutan dan diikuti seluruh peserta didik.
5. Laporan jaga :
Merupakan laporan pertanggungjawaban kegiatan jaga pada pasienpasien di emergensi dan pasien rawat inap. Laporan ini dilakukan 5 x per
minggu dipimpin oleh staf pendidik sesuai jadwal yang telah ditentukan
dan diikuti oleh seluruh peserta didik.
6. Assesment pasien rawat inap dan poliklinik :
Merupakan penilaian pasien-pasien bedah anak di ruang rawat inap (preop dan post op) dan pasien rawat jalan yang membutuhkan keputusan

311

bersama dalam penegakan diagnosis dan rencana tindakan yang akan


dilakukan. Penilaian ini dilakukan masing-masing 1 x per minggu dipimpin
oleh staf pendidik dan diikuti oleh seluruh peserta didik.
7. Diskusi modul:
Merupakan kegiatan ilmiah dalam bentuk modul yang berhubungan
dengan teori, tatalaksana, teknik operasi. Kegiatan ini dilakukan 1 x per
minggu yang dipimpin oleh staf pendidik sub divisi yang bersangkutan dan
diikuti peserta didik sub divisi bersangkutan.
8. Diskusi multi disiplin:
Merupakan diskusi kasus tertentu yang melibatkan disiplin ilmu selain
bedah anak terkait kasus masing-masing. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh
residen dengan dipandu oleh staf pendidik dari sub divisi terkait.
B. STRUKTUR MATA KULIAH
Tahap

Semester

I - II

Junior
63,5 SKS

III - IV

Madya
55,5 SKS

V VII

Materi Pendidikan

SKS

1. Pengetahuan dan Keterampilan Dasar


Bedah
2. Pengetahuan dan Keterampilan Diagnostik
dan Perawatan Peri-operatif
3. Pengetahuan dan Keterampilan Dasar
Bedah : Bedah Digestif, Bedah Onkologi,
Urologi, dan Bedah Emergensi Anak
4. Pengetahuan dan Keterampilan Dasar
Bedah : Orthopedi, Bedah Saraf, Plastik,
Thoraks, Vaskuler, Bedah Emergensi Anak
1. Pengetahuan dan Keterampilan Bedah
Digestif Anak I dan II
2. Pengetahuan dan Keterampilan
Bedah
Urogenital Anak I dan II
3. Pengetahuan dan Keterampilan
Bedah
Onkologi Anak I dan II
4. Pengetahuan dan Keterampilan
Bedah
Neonatal I dan II
5. Pengetahuan dan Keterampilan Bedah
Emergensi Anak
1. Pengetahuan dan Keterampilan Bedah
Digestif Anak III, IV, V
2. Pengetahuan dan Keterampilan
Bedah
Urogenital Anak III,IV,V
3. Pengetahuan dan Keterampilan
Bedah
Onkologi Anak III,IV,V
4. Pengetahuan dan Keterampilan
Bedah

11,8
1,2
7
14,5

29

43,5

312

VIII

Senior
28
SKS

TOTAL SKS

IX - X

Neonatal III, IV, V


5. Pengetahuan dan Keterampilan Bedah
Emergensi Anak
1. Pengetahuan dan Keterampilan Hematoonkologi Anak
2. Pengetahuan
dan
Keterampilan
Gastrohepatologi Anak
3. Pengetahuan
dan
Keterampilan
Perinatologi
4. Pengetahuan dan Keterampilan Perawatan
Intensif Bayi & Anak
5. Pengetahuan dan Keterampilan Gizi dan
Penyakit Metabolik
6. Pengetahuan dan Keterampilan Infeksi
7. Pengetahuan dan Keterampilan Bedah
Emergensi Anak
1. Pengetahuan dan Keterampilan Bedah
Digestif Anak VI
2. Pengetahuan dan Keterampilan
Bedah
Urogenital AnakVI
3. Pengetahuan dan Keterampilan
Bedah
Onkologi Anak VI
4. Pengetahuan dan Keterampilan
Bedah
Neonatal VI
5. Pengetahuan dan Keterampilan Bedah
Emergensi Anak
6. Penerapan Pengetahuan dan Keterampilan
Bedah Anak di Rumah Sakit Jejaring
7. Pengembangan Kemampuan Membuat
Penelitian Akhir

12

14,5
5
6
2,5

147

C. EVALUASI HASIL BELAJAR


Evaluasi dilaksanakan secara teratur dan periodik meliputi aspek
kognitif, psikomotor, dan attitude melalui pengamatan secara terus menerus
dan evaluasi terjadwal (ujian stase, ujian semester, ujian akhir). Penilaian
yang dilakukan meliputi penilaian terhadap keterampilan dalam membuat
diagnosis, pengelolaan pasien dan keterampilan operasi (psikomotor) serta
analisa terhadap kemampuan untuk bekerjasama, hubungan interpersonal,
dan tanggung jawab (attitude).

313

Evaluasi dilakukan di masing-masing Sub divisi Bedah Anak mulai dari


pengamatan dan penilaian langsung saat melakukan prosedur perioperatif
(poliklinik, UGD, rawat inap), visite sub divisi dan visite besar atau pada kegiatan
ilmiah seperti presentasi kasus, journal review, audit morbiditas dan mortalitas.
Penilaian juga dilakukan dengan menilai log book peserta didik dan evaluasi
terjadwal (ujian bedah dasar, ujian semester bedah anak, dan ujian akhir).
D. PEDOMAN UJIAN
Evaluasi dalam bentuk ujian dilaksanakan selama pendidikan, terdiri
dari: (a) Ujian Kursus Pra Bedah Dasar, dilaksanakan setelah selesai
kegiatan kursus pra Bedah Dasar (b) Ujian Stase Bedah Dasar, merupakan
evaluasi terjadwal yang dilaksanakan setelah stase di setiap Sub Divisi Ilmu
Bedah (c) Ujian Stase Bedah Anak,merupakan ujian tertulis yang
dilaksanakan setiap akhir stase Sub Divisi Bedah Anak (d) Ujian Semester
Bedah Anak, merupakan ujian yang dilaksankan setiap akhir semester
dengan materi yang sudah ditetapkan sesuai dengan kompetensi yang harus
diperoleh pada setiap tahapan (e) Ujian Kenaikan Tahap Kompetensi,
merupakan ujian yang dilakukan peserta didik untuk dapat melanjutkan ke
tahapan selanjutnya. Bentuk ujian yang dilakukan berupa ujian tulisan dan
OSCE (e) Ujian Profesi (Board) Bedah Anak Lokal, merupakan prasyarat
untuk mengikuti ujian nasional dan dilaksanakan setelah peserta didik
menyelesaikan seluruh tahapan pendidikan dan kewajiban yang berhubungan
dengan pelaksanaan pendidikan. Bentuk ujian berupa ujian lisan atau tulisan
yang dinilai oleh 2 orang penguji lokal. Penyelenggara Ujian Bedah Anak
Lokal berdasarkan Surat Ketua Program Studi Ilmu Bedah Anak dan
diselenggarakan di Institusi Pendidikan Dokter Spesialis (IPDS) Bedah Anak
setempat. (f) Ujian Profesi (Board) Bedah Anak Nasional, merupakan ujian
akhir pendidikan peserta PPDS-1 Ilmu Bedah Anak dan dilaksanakan setelah
lulus Ujian Lokal. Bentuk ujian berupa ujian tulis dan ujian kasus. Ujian Profesi
Nasional dinilai oleh dua orang penguji nasional yang ditentukan oleh
Kolegium Ilmu Bedah Anak dan satu orang penguji lokal yang berstatus
penilai. Penyelenggaraan Ujian Profesi Nasional dilaksanakan berdasarkan
Surat Permohonan KPS Bedah Anak kepada Ketua Kolegium Ilmu Bedah
Anak, dan Ketua Komisi Ujian Nasional Ilmu Bedah Anak. Dekan
mengeluarkan Surat Keputusan (SK) penunjukan Penguji Ujian Profesi
(Board) Nasional. Ujian diselenggarakan di Institusi Pendidikan Dokter
Spesialis (IPDS) tempat asal kandidat.
E. TATA TERTIB
Tata Tertib Kegiatan Belajar Mengajar
a. Peserta didik dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar bila telah
memenuhi persyaratan administrasi yang telah ditetapkan oleh
Fakultas Kedokteran / Universitas Padjadjaran sehingga terdaftar
sebagai peserta didik UNPAD.

314

b. Peserta didik harus hadir tepat waktu sesuai dengan ketentuan jam
kerja.
c. Peserta didik harus mematuhi aturan berpakaian yang memenuhi etika
berpakaian seperti yang telah ditetapkan.
d. Peserta didik harus melaksanakan tugas yang diberikan yang terkait
dengan kegiatan belajar mengajar yang diikuti.
e. Peserta didik yang tidak hadir karena alasan yang dapat dibenarkan
(sakit, terkena musibah, mendapat tugas dari fakultas / universitas
atau alasan lain yang dapat dipertanggungjawabkan) dapat
meninggalkan kegiatan pendidikan setelah mendapat keterangan
tertulis dari pihak yang berwenang (dokter pimpinan fakultas).
Tata Tertib Ujian
a. Peserta didik dapat mengikuti kegiatan ujian bila telah memenuhi
persyaratan administrasi yang telah ditetapkan oleh Universitas
sehingga terdaftar sebagai peserta didik UNPAD
b. Peserta didik dapat mengikuti ujian bila telah memenuhi ketentuan
mengikuti kegiatan belajar mengajar secara penuh.
c. Setiap mengikuti ujian, peserta didik harus mengisi daftar hadir
d. Peserta didik dilarang keras melakukan tindakan kecurangan pada
saat ujian.
F. JENIS PELANGGARAN DAN SANKSI
Apabila peserta didik melakukan pelanggaran, setelah dibicarakan
dengan Senat Fakultas, maka akan dikenai sanksi khusus. Selanjutnya bila
terdapat masalah pidana akan diserahkan kepada yang berwajib.
1. Pelanggaran hukum
Peserta didik yang melakukan pelanggaran hukum, baik yang berupa
tindak pidana maupun penyalahgunaan obat, narkotika dan
sejenisnya, serta penggunaan minuman keras dan sejenisnya, dan
telah ditetapkan bersalah secara hukum oleh pengadilan, akan
dikenakan sanksi berupa skorsing sampai dengan pemutusan studi
oleh Rektor sesuai dengan putusan tersebut.
2. Pelanggaran etika moral dan etika profesi
Peserta didik yang melakukan pelanggaran etika moral, profesi,
memalsukan tandatangan dan sejenisnya akan dikenakan skorsing
oleh Dekan sampai dengan pemutusan studi oleh Rektor.
3. Pelanggaran etika akademik
Peserta didik yang melakukan pelanggaran etika akademik seperti
mencontek, menjiplak (makalah, laporan,tugas akhir,dsb) atau
sejenisnya akan dikenanakan sanksi berupa skorsing sampai dengan
pemutusan studi.

315

Sanksi akademik
Sanksi akademik adalah sanksi yang diberikan kepada peserta didik karena
melakukan pelanggaran akademik. Sanksi dapat berupa peringatan tertulis,
perpanjangan stase, skorsing atau pemutusan studi. Sanksi peringatan
tertulis dan perpanjangan stase diberikan oleh Ketua Program Studi
sedangkan sanksi skorsing diusulkan / diajukan oleh Ketua Program Studi ke
Dekan dan diputuskan oleh Dekan, sedangkan sanksi pemutusan studi
diusulkan / diajukan oleh Ketua Program Studi ke Dekan dan diputuskan oleh
Rektor.
1. Peringatan tertulis
Peringatan tertulis dibuat oleh Ketua Program Studi apabila
dinilai ada kekurangan prestasi akademik peserta didik atau
pelanggaran ketentuan lainnya. Hal ini dilakukan untuk
memperingatkan peserta didik agar tidak mendapatkan sanksi yang
lebih berat.
Peringatan tertulis dikenakan terhadap peserta didik yang pada
tiap akhir semester mendapat Indeks Prestasi (IP) dibawah 2,75,
dan/atau Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dibawah 2,75. Peringatan
tertulis karena kelalaian administratif dikenakan kepada peserta didik
yang melalaikan kewajiban administratif (misalnya tidak melakukan
pendaftaran ulang untuk satu semester). Peringatan tertulis juga
diberikan bila peserta didik melakukan kelalaian yang menyebabkan
morbiditas pada pasien.
2. Perpanjangan stase
Perpanjangan stase adalah sanksi yang diberikan pada peserta
didik apabila tidak lulus ujian stase 2x berturut turut; melakukan
kelalaian tindakan atau prosedur yang menyebabkan morbiditas; tidak
menyelesaikan karya tulis ilmiah tahap bedah dasar, bedah lanjut dan
usulan penelitian sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
Lama perpanjangan stase ditentukan oleh berat ringannya
kesalahan yang dilakukan (setengah atau satu kali stase). Pada masa
perpanjangan stase, peserta didik tetap melakukan kegiatan seperti
layaknya stase normal.
3. Skorsing
Merupakan sanksi dengan gradasi yang lebih berat dari
perpanjangan stase. Selama masa skorsing, peserta didik tetap hadir
tetapi tidak diperkenankan mengikuti kegiatan pendidikan. Yang
bersangkutan harus diberikan bimbingan terutama mengenai masalah
penyebab sanksi tersebut.
4. Pemutusan studi
Pemutusan studi dikenakan terhadap peserta didik yang
mempunyai prestasi belajar yang rendah (akhir semester I tidak dapat
mencapai Indeks Prestasi (IP) 2,75 dan akhir semester II tidak
mencapai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,00), melakukan kelalaian
administratif (seperti tidak melakukan registrasi 2 semester berturut

316

turut tanpa izin Rektor), lalai dalam mengikuti kegiatan belajar


mengajar dan lama studi melebihi 1 x lama pendidikan yang telah
ditentukan. Selain itu, pemutusan studi dapat
juga diberikan bila peserta didik terbukti melakukan tindak pidana
maupun penyalahgunaan obat, narkotika dan sejenisnya, serta
penggunaan minuman keras dan sejenisnya, melakukan pelanggaran
etika moral dan profesi, serta melakukan pelanggaran etika akademik.

19. Program Studi Ilmu Urologi


A. Metode Pembelajaran
Proses pendidikan dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip metode ilmiah,
berupa kemampuan scientific problem solving approach dan decision making
berbasis bukti evidence based medicine. Bentuk kegiatan berupa kuliah,
diskusi kuliah, mandiri, tutorial, kegiatan bangsal dan poliklinik serta kamar
operasi. Kegiatan ini mencakup pendidikan akademik dan pelatihan
keprofesian.
Metode pembelajaran untuk meteri dasar umum (MDU), materi dasar khusus
(MDK), materi keahlian umum, materi keahlian khusus (MKK), materi
penerapan akademik (MPA), dan materi penerapan keprofesian (MPK)
diberikan dalam bentuk tutorial, diskusi, tugas membaca dan tugas menulis.
1. PANDUAN BERBAGAI KEGIATAN MPK
Kerja Poli
Tata laksana pasien poliklinik dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan
Sadikin Bandung dan RS. Jejaring. Poliklinik Khusus Urologi di RS. Dr. Hasan
Sadikin Bandung dilengkapi dengan alat-alat diagnostik berupa USG,
uroflowmetri dan urodinamik. Opersionalisasi alat-alat tersebut dilakukan oleh
PPDS 1 Urologi dengan bimbingan dari konsulen urologi.
Kerja Bangsal
Tata laksana pasien rawat inap dilakukan di ruang rawat urologi serta
ruang rawat lain yang pasiennya dikonsulkan atau rawat bersama dengan
urologi. Visite harian dilakukan oleh PPDS 1 Urologi yang ditugaskan dengan
dilakukan ronde harian dipimpin oleh chief residen. Pasien-pasien yang
bermasalah diperiksa kepada supervisior konsulen urologi (Dokter
Penangung Jawab Pasien = DPJP) untuk didiskusikan dan ditangani lebih
lanjut. Ronde besar dilakukan setiap hari Kamis yang dipimpin oleh Staf
00 00
Urologi sesuai dengan jadwal (Jam 7 -8 Pagi).
Kamar Operasi
Kegiatan di kamar operasi bedah dilakukan di Kamar Operasi Central
RS. Dr. Hasan Sadikin Bandung lantai 3, 4 dan RS. Jejaring. Selama

317

pendidikan, peserta didik mendapatkan pengalaman tindakan dan wewenang


yang disesuaikan dengan jenjang pendidikannya, yaitu :
Prosedur Inti Urologi
Semester 1 dan 2
Sistoskopi rigid
Cysto : Biopsy : Diathermy
Cysto : Retrograde
Cysto : Insert DJ Stent
Optical urethrotomy
Percutaneus / Open nephrostomy

Pengalaman Tindakan
MP
MT

X
X
X
X
X

X
X
X

TUR BT small
TUR B neck (BNI)
TUR P < 40 Gm
Cystolitholapaxy
Simple ureteroscopy

X
X
X
X
X

Urodynamic studies
TRUS + Biopsy
Open/Percutaneus cystostomy
Circumcision
Epididymal cyst
Hydrococele
Varicocele
Inguinal orchidectomy
Ureterolitotomi

X
X
X

X
X
X

X
X
X
X
X

A
MP
MT

: Anestesi
: Mengerjakan sendiri dengan pengawasan
: Mengerjakan tanpa pengawasan langsung

Prosedur Inti Urologi


Semester 3 dan 4
Cysto : Insert DJ Stent
Optical urethrotomy
TUR BT small (< 6 cm)
TUR BT large (> 6 cm)
TUR P < 40 gm
TUR P > 40 gm

Pengalaman Tindakan
MP
MT
X
X
X
X
X
X
X

X
X

318

Prosedur Inti Urologi


Semester 3 dan 4
Ureteroscopy simple
Ureteroscopy stone extraction
disintegration

A
/

Inguinal orchidectomy
Simple nephrectomy
Radical nephrectomy
Nephroureterectomy
Colposuspension
Pyelolithotomy/pyeloplasty
RRP
Radical cystectomy
Heal loop diversion
Uretrolithotomy
Urethroplasty/hypospadia

A
MP
MT

Pengalaman Tindakan
MP
MT
X
X

X
X
X
X
X
X
X
X
X

X
X

: Anestesi
: Mengerjakan sendiri dengan pengawasan
: Mengerjakan tanpa pengawasan langsung
Prosedur Inti Urologi
Semester 5 dan 6

Cysto : Insert DJ Stent


Optical urethrotomy
TUR BT small (< 6 cm)
TUR BT large (> 6 cm)
TUR P < 40 gm
TUR P > 40 gm
Ureteroscopy simple
Ureteroscopy stone extraction /
disintegration
Inguinal orchidectomy
Simple nephrectomy
Radical nephrectomy
Nephroureterectomy
Colposuspension
Pyelolithotomy/pyeloplasty
RRP
(Retropubic
Radical

Pengalaman Tindakan
MP
MT

X
X
X
X
X
X
X
X
X

X
X
X
X

X
X
X

319

Prosedur Inti Urologi


Semester 5 dan 6
Prostatectomy)
Radical cystectomy
Bowel/Ileal loop diversion
PCNL (Percutaneus Nephrolithotripsy
Urethroplasty/hypospadia

A
MP
MT

Pengalaman Tindakan
MP
MT

X
X
X
X

: Anestesi
: Mengerjakan sendiri dengan pengawasan
: Mengerjakan tanpa pengawasan langsung

2. PANDUAN BERBAGAI KEGIATAN MPA


Proposal Penelitian
Proposal penelitian merupakan kegiatan akademik yang direncanakan dan
disusun menurut kaidah penulisan ilmiah agar dapat digunakan sebagai
pedoman melakukan penelitian untuk penulisan tesis. Pembimbing ialah staf
akademik yang berkualifikasi penilai. Judul ditentukan bersama oleh
pembimbing dengan peserta PPDS. Pertimbangan tema proposal adalah
jumlah populasi penelitian, distribusi penyakit, perkiraan biaya dan
sebagainya.
Tesis / Karya Akhir
Penulisan tesis merupakan kegiatan akademik dengan cara mengolah hasil
kegiatan penelitian dalam bentuk karya tulis berdasarkan analisis data
sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan program studi. Tesis / Karya
tulis ialah kegiatan akademik dalam bentuk menulis suatu karya ilmiah
tentang suatu topik keilmuan yang disusun berdasarkan hasil penelitian ilmiah
menggunakan metodologi penelitian.
Naskah tesis akhir (buku tesis) ditandatangani oleh pembimbing, Kepala divisi
urologi dan Ketua Program Studi. Format naskah tesis akhir dikaji dengan
sampul keras (hard cover) warna hitam dan tulisan hitam. Naskah tesis
merupakan hak milik sepenuhnya pusat pendidikan Urologi Bandung.
Journal Reading
Journal reading atau pembacaan makalah ilmiah ialah kegiatan akademik
melalui pembahasan makalah ilmiah di depan forum. Penyaji adalah PPDS 1
Urologi semester 4 ke atas. Moderator adalah staf modul yang bersangkutan.
Pembacaan makalah dihadiri oleh semua PPDS mulai semester 4 ke atas,
moderator dan seluruh Staf Urologi. Journal reading dilakukan bergiliran tiap

320

minggu sesuai jadwal yang sudah ditentukan. Pemberian judul dan jadwal
penyajian dikoordinasi oleh Ketua Program Studi. PPDS mengajukan
ringkasan makalah dengan memakai LCD, kemudian diadakan diskusi bebas.
Laporan Jaga
Laporan jaga ialah kegiatan akademik melalui pembahasan kasus yang
didapat sebagai hasil tugas jaga oleh PPDS yang bertugas jaga di IGD
(Instalasi Gawat Darurat). Kasus yang dilaporkan ialah kasus yang datang ke
IGD, pasien bermasalah diruangan, dan laporan kematian. Pembahasan
ditujukan pada masalah diagnostik dan tindakan yang dilakukan oleh PPDS.
Pembahasan lebih mendalam akan dilaksanakan kemudian pada acara
15
Asessment. Laporan jaga dilaksanakan setiap pagi mulai jam 7. , dipimpin
oleh staf yang ditunjuk oleh Kepala Divisi / Ketua Program Studi dan dihadiri
oleh seluruh PPDS 1 Urologi semester 4 ke atas.
Asessment
Asessment ialah kegiatan akademik yang dilaksanakan setiap hari, dipimpin
oleh staf yang bertugas dan dihadiri oleh seluruh staf dan seluruh PPDS 1
Urologi semester 4 ke atas dan PPDS Bedah yang sedang menjalani stase di
urologi. Kasus yang dipresentasikan adalah seluruh kasus dari rawat jalan
dan rawat inap yang memerlukan tindakan, kasus yang bermasalah atau sulit
dan kasus kematian. Presentan adalah PPDS 1 Urologi semester 4 ke atas
dan PPDS Bedah yang sedang menjalani stase di urologi hari tersebut
bertanggung jawab atas pasien yang dipresentasikan.
Konferensi Klinik (CPC)
Konferensi klinik ialah kegiatan akademik yang membahas kasus urologi
dengan mengundang disiplin ilmu terkait. Kasus dipresentasikan oleh PPDS 1
Urologi semester 4 ke atas yang bertanggung jawab atas kasus tersebut,
dipimpin oleh staf yang bertanggung jawab terhadap pasien tersebut (DPJP).
Presentasi ilmiah di luar institusi
Setiap PPDS diharuskan paling sedikit satu kali mengajukan masalah ilmiah
di luar institusi pendidikan urologi. Presentasi ilmiah di luar institusi berupa
kegiatan pembacaan karya ilmiah baik berupa presentasi oral atau poster di
forum urologi nasional dan internasional, serta publikasi ilmiah di jurnal
nasional (JURI, JIBI) dan jurnal internasional, sebanyak 4 (empat) kali selama
pendidikan urologi lanjut.
B. Struktur Mata Kuliah
NO
MATERI PENDIDIKAN
1
Materi Dasar Umum
2
Materi Dasar Khusus
3
Materi Keahlian Umum

BOBOT SKS
7
7
18

SEMESTER
I
I
II, III

321

NO
4
5
6
7
8
a.
b.
c.
d.

e.
f.

MATERI PENDIDIKAN
Materi Keahlian Khusus 1
Materi Penerapan Akademik 1
Materi Keahlian Khusus 2
Materi Penerapan Akademik 2
Materi Penerapan Keprofesian

BOBOT SKS
16
16
26
16
40

SEMESTER
II s/d IV
II s/d IV
V s/d VIII
V s/d X
III s/d X

Materi Dasar Umum : Etika kedokteran, Metodologi penelitian


kesehatan dan kedokteran, Bio statistik.
Materi Dasar Khusus : Epidemiologi klinik dan kedokteran berbasis
bukti, Biosel-biomolekuler dan genetika kedokteran, Farmakologi klinik.
Materi Keahlian Umum : Anatomi Bedah, Fisiologi bedah, Patologi
Anatomi dan Klinik.
Materi Keahlian Khusus : Fisiologi ginjal, Urodinamik, Radiologiurologi, Infeksi saluran kemih, Obstruksi saluran kemih, Batu urinerius,
Patofisiologi gagal ginjal akut, Kateterisasi, Perawatan dan komplikasi,
Inkontinensia urin, Dasar diagnosis dan penanganan varikokel dan
hidrokel, Acute scrotum, Keganasan pada traktus urinarius, Kelainan
congenital traktus urinarius, Surgical approach bedah urologi,
Pemeriksaan
diagnostik
urologi
(Pencitraan,
uroflowmetri),
Operasionalisasi ESWL, Keterampilan operasi terbuka, Keterampilan
operasi endoskopi.
Materi Penerapan Akademik : Penugasan, seminar, diskusi dan
pembuatan tesis.
Materi Penerapan Keprofesian : Journal Reading, Laporan jaga,
Assesment, Konferensi klinik (CPC), Presentasi ilmiah di luar institusi,
Tata laksana pasien gawat darurat, Tata laksana pasien rawat jalan,
Tata laksana pasien rawat inap, Prosedur-prosedur diagnostic di bidang
urologi, Tindakan ESWL, Tindakan-tindakan operasi terbuka di bidang
urologi, Tindakan-tindakan operasi endoskopi di bidang urologi.

C. Evaluasi Hasil Belajar


Semua peserta Program Studi Pendidikdn Profesi Dokter Spesialis-1 Urologi
mempunyai buku log yang merupakan bukti tertulis setiap kegiatan yang
dilaksanakan oleh Program Studi beserta tingkat kompetensi yang sudah dicapai.
Tujuan evaluasi hasil pendidikan adalah untuk mengetahui apakah peserta
program studi telah mencapai kemempuan akademik profesional sesuai dengan
kurikulum pendidikan.
Untuk mengetahui pencapaian tujuan pendidikan dilakukan penilaian yang
umumnya mencakup :
1. Bidang afektif :
a. Sikap dan kebiasaan kerja professional, Etika Kedokteran
b. Hubungan inter-personal dengan sejawat, perawat, mahasiswa, tenaga
administratif

322

2. Bidang kognitif :
a. Pengetahuan dan pemahaman
b. Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan klinik
3. Bidang psikomotor :
a. Keterampilan klinik non operatif
b. Keterampilan klinik operatif
Tahap-Tahap Evaluasi
Secara garis besar evaluasi selama masa pendidikan dilaksanakan secara
bertahap, berkala dan bersifat berkesinambungan dan bersifatt sumatif untuk
menentukan keputusan.
1.
Evaluasi berkala
Sesuai dengan tahap pendidikan dilakukan evaluasi sumatif secara berkala.
Kegiatan ini dimulai dengan evaluasi tahap awal yang dilakukan pada
semester-semester awal kemudian dirancang evaluasi berkala tahap-tahap
selanjutnya.
Evaluasi tahap awal juga digunakan sebagai tahapan pra kualifikasi untuk
menilai apakah seorang peserta program mampu meneruskan studi atau
tidak. Bila dinilai tidak mampu meneruskan studi maka diberikan keputusan
untuk mengundurkan diri atau menghentikan pendidikan. Bila mampu,
peseta program dapat melanjutkan ke tahap pendidikan berikutnya.
2.

Evaluasi akhir
Pada tahap akhir pendidikan, dilaksanakan evaluasi akhir secara
komprehensif. Evaluasi tahap akhir dilakukan apabila peserta program telah
menyelesaikan semua tahap pendidikan dan telah lulus dalam evaluasi
berkala sebelumnya.

Kemampuan yang dinilai


Pada hakikatnya pada program studi yang bercirikan akademik profesional,
kemampuan akhir yang dievaluasi ialah pencapaian professional performance
(kemampuan/penampilan profesional) yang secara artifisial dapat dipilah-pilah
menjadi tiga bidang/domain yaitu :
S Sikap
P Pengetahuan (Kognitif)
K Keterampilan (Psikomator)
D. Pedoman Ujian
Berbagai cara dapat digunakan oleh masing-masing program studi sebagai
berikut :
1.
Ujian tulis berkala dilakukan setiap 3 bulan untuk menilai pengetahuan
2.
Ujian lisan untuk menilai kognitif (clinical reasoning skill) / ujian teknik
operasi sebelum melakukan operasi menurut tingkatannya
3.
Ujian kasus untuk menilai kognitif dan psikomotor

323

4.
5.
6.
7.
8.

Ujian praktek
Ujian presentasi makalah
Ujian OSCA (Objective Structure Clinical Assesment)
Ujian tesis
Ujian Board, Kognitif

H.1. Pemberian Angka, Skoring dan Interpretasi


Salah satu cara yang dipakai untuk memberikan angka, scoring, interpretasi
dan memberi predikat dapat dilihat pada table di bawah ini.
TABEL : ANGKA, NILAI MUTU, MARKAH DAN INTERPRETASINYA PADA
SISTEM PENILAIAN PESERTA PROGRAM
ANGKA
NILAI MUTU
MARKAH
INTERPRETASI
90 100
4,00
A
BAIK SEKALI
85 89
3,75
A80 84
3,50
B+
BAIK
75 79
3,25
B
70 74
2,75
BCUKUP
65 69
2,50
C+
60 64
2,25
C
KURANG
55 59
2,00
C45 54
1,00
D
KRANG SEKALI
0 44
0,00
E
NILAI BATAS LULUS (NBL) : 70 (IPK = 2,75)
I. Tata Tertib
I.1. Tata tertib kegiatan belajar mengajar
1.
PPDS-1 Urologi dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar bila telah
memenuhi persyaratan administrasi yang telah ditetapkan oleh
Universitas sehingga terdaftar sebagai PPDS-1 UNPAD.
2.
PPDS-1 Urologi harus hadir tepat waktu sesuai dengan ketentuan jam
kerja atau yang telah dijadwalkan sebelumnya.
3.
PPDS-1 Urologi harus mematuhi aturan berpakaian yang memenuhi
etika berpakaian mahasiswa seperti yang telah ditetapkan pada
pedoman umum kemahasiswaan.
4.
Setiap mengikuti kegiatan belajar mengajar, PPDS-1 Urologi harus
mengisi daftar hadir.
5.
Peserta PPDS Bedah Dasar adalah sepenuhnya bertugas dan belajar
di stase Bedah Dasar dan tidak boleh terlibat kegiatan urologi dalam
bentuk apapun, kecuali atas perintah dan ijin konsulen Urologi. Ketua
Program Studi Bedah Dasar mempunyai wewenang penuh menilai
layak tidaknya PPDS Urologi dapat Masuk ke Urologi Lanjut.

324

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.
13.
14.

Peserta PPDS bila berhalangan hadir harus memberitahukan kepada


SPS, KPS atau Kepala Divisi dan bila sakit harus menyerahkan surat
keterangan dari dokter yang berwenang, bila tidak ada kabar / berita
dikenakan sanksi sebagai berikut :
Tidak hadir 1 3 hari : perpanjangan masa studi 2 minggu
Tidak hadir 3 7 hari : perpanjangan masa studi 1 bulan
Tidak hadir 8 14 hari : perpanjangan masa studi 2 bulan
Tidak hadir 15 30 hari : perpanjangan masa studi 3 bulan
Tidak hadir > 30 hari : dianggap mengundurkan diri
Peserta PPDS yang tidak menyerahkan / menyelesaikan status
khusus dan medical record pasien dalam 2 x 24 jam terhitung sejak
pasien pulang, diwajibkan :
1. Mengganti jasa medik yang telah dibayarkan pasien
2. Menandatangani surat pernyataan pengunduran diri di atas materai
Peserta PPDS menyalahi prosedur tetap yang telah ditentukan,
sehingga menimbulkan :
1. Pasien lebih lama dirawat
: 1 bulan perpanjangan masa studi
2. Kecacatan pasien permane
: 2 bulan perpanjangan masa studi
3. Kematian pasien yang non acceptable : 3 bulan perpanjangan
masa studi
Peserta PPDS yang melakukan tindakan di luar kegiatan akademik
yang mengakibatkan rusaknya nama baik institusi, diberhentikan
studinya dari prodi urologi secara tertulis yang dituangkan dalam berita
acara pemberhentian kegiatan belajar mengajar dari prodi urologi,
ditandatangani oleh KPS, SPS dan Kepala Divisi Urologi setelah
dirapatkan di Divisi/Prodi Urologi.
Peserta PPDS karena ketidak hati-hatiannya menyebabkan kerusakan
peralatan / instrumen milik prodi urologi, diwajibkan untuk mengganti,
sehingga proses belajar mengajar dan pelayanan terhadap pasien
tidak terganggu.
Evaluasi peserta PPDS dilakukan setiap akhir bulan yang wajib
dihadiri semua staf dan hasil penilaian diumumkan hari berikutnya.
Penilaian mencakup bidang afektif, kognitif, psikomotor . Setiap Sanksi
diputuskan oleh rapat staf dengan prosedur urutan sebagai berikut :
teguran lisan (1x), teguran tertulis (1x). Bila tetap tidak ada perubahan
setelah dilakukan evaluasi, Sanksi dijatuhkan.
Sanksi nonakademis diputuskan oleh rapat Divisi/Prodi dilanjutkan ke
Dekan sesuai prosedur.
Sanksi tindakan pidana diputuskan oleh rapat staf yang dapat
diadakan setiap saat, dihadiri paling sedikit setengah jumlah staf 1.
Peraturan yang tidak tercantum dalam peraturan ini, tetapi telah
disepakati sebagai suatu peraturan tambahan dan ditetapkan dalam
surat keputusan yang harus ditaati oleh peserta PPDS Urologi.

325

I.2. Tata tertib ujian


a.
PPDS-1 Urologi dapat mengikuti ujian bila telah memenuhi
persyaratan administratif yang telah ditetapkan oleh Universitas
sehingga terdaftar sebagai PPDS-1 Urologi FK. UNPAD.
b.
PPDS-1 Urologi dapat mengikuti ujian bila telah memenuhi ketentuan
mengikuti kegiatan belajar mengajar secara penuh.
c.
PPDS-1 Urologi harus hadir tepat waktu sesuai dengan ketentuan
jadwal ujian yang telah ditentukan sebelumnya.
d.
PPDS-1 Urologi dilarang keras melakukan tindakan kecurangan pada
saat ujian seperti mencontek, memberikan bantuan terhadap teman,
mengambil bahan ujian tanpa izin, memotret atau melakukan tindakan
lainyang mengganggu pelaksanaan ujian.
J. Jenis Pelanggaran dan Sanksi
J.I. PERINGATAN AKADEMIK
1. Peringatan akademik dikenakan terhadap mahasiswa program profesi
dan spesialis yang pada tiap akhir semester mengalami salah satu
kondisi dibawah ini :
Indeks Prestasi (IP) dibawah 2,75;
Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dibawah 2,75.
2. Meninggalkan proses pembelajaran tanpa alasan yang dapat
diterima
Bila PPDS meninggalkan proses pembelajaran selama 2 (dua) minggu
maka KPS akan mengirimkan surat teguran dengan tembusan kepada
Waki Dekan I dan TKP PPDS. Bila dalam 2 (dua) minggu tidak ada
jawaban akan KPS akan mengirimkan surat teguran ke 2 dan ke 3
dengan selang 2 minggu. Bila setelah 2 minggu surat teguran ke 3 yang
bersangkutan tidak membalas surat/menghubungi program studi, maka
dianggap mengundurkan diri.
3. Tidak mematuhi jam kerja
Bila peserta didik tidak mematuhi jam kerja maka akan mendapat
teguran lisan, bila tetap berulang akan diberikan teguran tertulis. Bila
setelah 2 kali mendapat teguran tertulis tidak menunjukkan perbaikan,
maka yang bersangkutan diharuskan mengulang di stase tersebut.
4. Kekurangan dalam pencapaian kompetensi
Bila peserta didik memperoleh nilai di bawah batas kelulusan, yang
bersangkutan diharuskan mengulang. Bila tidak lulus 2 kali maka KPS
akan menerbitkan teguran tertulis dan tembusan kepada wali/instansi
pengirim dan TKP PPDS. Bila mengalami 3 kali tidak lulus selain
menerbitkan teguran tertulis, KPS akan mengirimkan peserta PPDS tsb.
ke Tim Konseling Program Studi terkait, bila tetap tidak menunjukkan
perbaikan, yang bersangkutan ditawarkan untuk alih program.

326

5. Ketidakmampuan memelihara kompetensi yag telah dicapai


Bila peserta didik dinilai melakukan kesalahan dan bertindak tidak sesuai
dengan kompetensi yang telah dicapainya, maka KPS akan memberikan
sanksi.
6. Sikap perilaku melanggar etika dan profesionalisme terhadap:
a. Pasien
- Tidak menunjukkan sikap belas kasih
- Tidak menunjukkan sifat antusiasisme
- Tidak memiliki kepekaan terhadap kebutuhan pasien
- Tidak dapat dipercaya
- Tidak dapat menjaga kerahasiaan pasien
- Tidak peka terhadap nilai-nilai ras, gender, agama
b. Pendidik
- Tidak bersikap santun
c. Sejawat residen
- Melakukan kekerasan fisik, verbal maupun tekanan secara
finansial
d. Paramedis dan karyawan rumah sakit
- Tidak menghargai tugas dan kewajiban mereka
e. Keilmuan
- Meninggalkan acara ilmiah atau melalaikan tugas
f. Institusi
- Merusakan peralatan rumah sakit/Prodi
J.2. PEMUTUSAN STUDI / SARAN PENGUNDURAN DIRI
Pengunduran diri disarankan sebelum dikenakan pemutusan studi bagi para
mahasiswa yang mengalami salah satu kondisi di bawah ini :
1.

Prestasi akademik rendah


Pada akhir semester I tidak mencapai Indeks Prestasi Kumulatif
(IPK) 2,75;
Pada akhir semester II tidak mencapai Indeks Prestasi Kumulatif
(IPK) 3,00;
Pada akhir semester I dan/atau semester II memperoleh huruf mutu
dibawah C;
Bila lama studi melebihi 1 x lama pendidikan di program studi
spesialis;

2.

Kelalaian administrasi
Bagi mahasiswa Program Diploma, Sarjana, Profesi, Spesialis dan
Program Pascasarjana yang menghentikan studi dua semester berturutturut atau dalam waktu berlainan tanpa ijin rektor.

327

3.

Kelalaian mengikuti kegiatan Belajar-Mengajar


Bagi mahasiswa Program Diploma, Sarjana, Profesi, Spesialis dan
Program Pascasarjana yang telah mendaftar atau mendaftarkan kembali
secara administratif, tetapi :
Tidak mengikuti kegiatan belajar-mengajar pada semester I dan/atau
semester II tanpa alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan,
baik mengisi maupun tidak mengisi KRS.
Tidak mengisi KRS (tidak mengikuti kegiatan belajar-mengajar) dua
semester berturut-turut atau secara terpisah, tanpa alasan yang
dapat dibenarkan; dan/atau;
Mengundurkan diri satu atau beberapa mata kuliah setelah lewat
batas waktu perubahan KRS dua semester berturut-turut atau secara
tepisah, tanpa alasan yang dapat dibenarkan.

4.

Pelanggaran hukum
Bila diduga melanggar hukum maka peserta didik dibebaskan dari tugas
mengikuti proses pembelajaran. Bila telah ditetapkan bersalah, Rektor
akan mengeluarkan sanksi berupa skorsing sampai pemutusan studi.

5.

Pemutusan studi
Dinyatakan putus studi bila tidak dapat memenuhi syarat :
- Administrasi
- Atas keinginan sendiri
- Evaluasi : - Bila tidak lulus 6 kali tidak berturut-turut.
- Melewati batas akhir studi dan pertimbangan lainnya
- Pelanggaran etika dan profesionalisme
- Kondisi khusus : NAPZA atau gangguan kejiwaan

20. Program Studi Kardiologi dan Kedokteran Vaskular


A. Metode Pembelajaran
Proses belajar mengajar sebagian besar dilakukan dengan metoda praktikum
dengan menggunakan laboratorium rawat inap biasa, rawat intermediate,
rawat intensive, unit rawat jalan, unit diagnostik (invasif dan non invasif), unit
rehabilitasi medik serta unit lain yang terkait.
Selain praktikum, dilakukan konferensi klinik harian untuk melatih kemampuan
peserta didik untuk melakukan analisis dan menerapkan pengetahuan yang
mereka miliki saat mengelola setiap kasus.
Pembacaan Referat dan Journal merupakan kegiatan rutin sebagai sarana
untuk menambah pengetahuan secara mandiri. Presentasi kasus juga
merupakan bagian dari metoda pembelajaran sebagai upaya untuk melatih
ketajaman analisis terhadap suatu permasalahan klinis.

328

Kegiatan kuliah dilakukan dalam bentuk mini lecture untuk topik bahasan
tertentu. Selain itu peserta didik juga diwajibkan untuk mengajukan makalah
dalam suatu kegiatan ilmiah yang bersifat nasional atau bahkan regional.
B. Struktur Mata Kuliah
Tahap I. Pengetahuan Kedokteran Klinik Umum
(Kompetensi Dasar) 12 Bulan
Meliputi bidang-bidang: Ilmu Penyakit Dalam, Rawat Intensif/ICU;
Ilmu Kesehatan Anak (tumbuh kembang); Kardiologi Klinik
Dewasa.
Tahap II. Pengetahuan Kardiovaskular Klinik Khusus
(Kompetensi Inti) 24 Bulan
Meliputi bidang-bidang : Diagnostik Non Invasif/Pencitraan;
Diagnostik Invasif/Terapi Intervensif; Cardiac Intensive Care Unit
(CICU); Kardiologi Klinik Anak; Kedokteran Vaskular; Kedaruratan
Kardiovaskular (Emergency); Kedokteran Nuklir; Radiologi; Pacu
Jantung dan Elektrofisiologi; Prevensi dan Rehabilitasi
Kardiovaskular; Bedah Jantung dan Perawatan Post Operatif;
Poliklinik Kardiovaskular.
Tahap III. Keterpaduan/Penerapan Ilmu Penyakit Jantung
(Kompetensi Lanjut) 6 Bulan
Meliputi bidang-bidang ilmu: Kardiologi Dewasa; Kardiologi Anak;
Perawatan Intensif Kardiovaskular (CICU); Diagnostik Invasif dan
Non Invasif.
SMT
I

II

DIVISI

LAMA

SKS

SANDI

Ilmu Penyakit Dalam

6 Bulan

14

C21U01.0001

Ilmu Kesehatan Anak

1,5 Bulan

C21U01.0002

3 Bulan

C21U01.0003

1,5 Bulan

C21001.0025

3 Bulan

10

C21U01.0010

3 Bulan

10

C21U01.0012

3 Bulan

C21U01.0005

Kardiologi Klinik Dewasa


Perawatan Intensif
Umum (ICU)

III

Diagnostik Non-Invasif
Diagnostik Invasif dan
Intervensi Non-Bedah

IV

Perawatan Intensif
Kardiovaskular (CICU)

329

SMT

VI

DIVISI

LAMA

SKS

SANDI

Kardiologi Klinik Anak

3 Bulan

C21U01.0004

Kedokteran Vaskular
Kedaruratan
Kardiovaskular
(Emergency)
Kedokteran Nuklir

1,5 Bulan

C21U01.0021

3 Bulan

C21U01.0006

3 Minggu

C21U01.0014

Radiologi

3 Minggu

C21U01.0026

1,5 Bulan

C21U01.0022

1,5 Bulan

C21U01.0023

1,5 Bulan

C21U01.0024

1,5 Bulan

C21U01.0007

1,5 Bulan

C21U01.0016

1,5 Bulan

C21U01.0017

1,5 Bulan

C21U01.0018

1,5 Bulan

C21U01.0027

C21U01.0019

Pacu Jantung dan


Elektrofisiologi
Prevensi dan Rehabilitasi
Kardiovaskular
Bedah Jantung dan
Perawatan Post Operatif
Poliklinik Kardiovaskular

VII

Keterpaduan Kardiologi
Klinik Anak
Keterpaduan Kardiologi
Klinik Dewasa
Keterpaduan Perawatan
Intensif Kardiovaskular
Keterpaduan Diagnostik
Invasif dan Non-Invasif
Thesis
TOTAL

42 Bulan

120
SKS

C. EVALUASI HASIL BELAJAR


1. Evaluasi Hasil Belajar
Evaluasi selama pendidikan dilakukan dengan berbagai cara (meliputi
aspek kognitif, afektif dan attitude) sebagai berikut :
Metoda mini-clinical evaluation exercise (Mini-CEX)
Metoda objective structured clinical evaluation (OSCE)
Metoda mini peer assessment tool (Mini-PAT)
Metoda direct observation of procedural skills (DOPS)

330

Metoda case-based discussion (CbD)


Metoda multiple choice question (MCQ) dan essay

2. Penilaian harian
Penilaian yang meliputi tiga hal diatas dilakukan saat konferensi (termasuk
penilaian kegiatan pembacaan kasus, referat dan journal), kegiatan di
ruang perawatan dan kegiatan yang berkaitan dengan keterampilan/
kegiatan motorik
3. Pencatatan Seluruh Kegiatan
Seluruh kegiatan peserta didik tercatat dalam Log Book dan Portofolio.
4. Batasan Nilai, Huruf Mutu dan Angka Mutu
Batasan penilaian sebagai berikut:
NILAI

HURUF MUTU

ANGKA MUTU

80 - 100
75 - 79
70 - 74
65 - 69
60 - 64
52 - 59
45 - 51
0 - 44

A
B+
B
C+
C
D+
D
E

4
3.5
3.0
2.5
2.0
1.5
1.0
0

5. Ujian perbaikan
Ujian perbaikan dilakukan dalam kurun waktu 1 bulan. Untuk stase ulang
akan dijadwalkan sesuai dengan rotasi yang berlaku.
D.

PEDOMAN UJIAN
1. Evaluasi Ujian Bed Side (Pasien) Peserta Didik
- Ujian bed side adalah proses penilaian yang dijalankan secara
menyeluruh meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik dan usulan
usulan pemeriksaan pasien.
- Prosedur Ujian Bed Side :
1. Ujian bed side dilakukan pada peserta didik.
2. Pasien disiapkan pada semua tahap pada pagi hari.
3. Waktu ujian 60 90 menit.
4. Pelaksanaan ujian dilakukan dalam 2 tahap : tahap pemeriksaan
dan tahap diskusi / tanya jawab.

331

5. Ujian bed side akan dinilai oleh staf edukatif penilai didampingi
oleh seorang pendamping staf edukatif pembimbing atau
pendidik.
6. Nilai ujian bed side diserahkan pada pelaksanaan hari ujian,
kecuali dalam keadaan khusus.
7. Hasil dalam penilaian dimasukkan didalam form penilaian yang
telah disediakan.
2. Evaluasi Ujian Sumatif Peserta Didik
- Ujian Sumatif adalah proses penilaian yang dijalankan secara
menyeluruh pada akhir satu rotasi divisi untuk menentukan tahap
pembelajaran dalam peserta didik.
- Prosedur Ujian Sumatif :
1. Ujian sumatif dilaksanakan selambat-lambatnya 2 minggu
sebelum rotasi pada suatu divisi berakhir.
2. Nilai hasil ujian sumatif diserahkan kepada tim evaluasi selambatlambatnya 1 minggu sebelum rotasi pada suatu divisi berakhir.
E.

TATA TERTIB
Tata tertib di Program Studi Kardiologi dan Kedokteran Vaskular, sebagai
berikut :
- Setiap peserta didik wajib mengisi daftar hadir harian, termasuk daftar
hadir dokter jaga :
Pengisian daftar hadir dilakukan secara elektronik dengan
menggunakan mesin finger print yang terdapat di berbagai tempat di
lingkunan RSUP Dr. Hasan Sadikin, setelah melakukan prosedur
pendaftaran sidik jari di Instalasi Sistem Informasi RS (SIRS) RSUP
Dr. Hasan Sadikin.

Pengsisian daftar hadir harian dilakukan pada saat peserta PPDS


datang (tidak lebih dari pukul 07.30) dan pada saat pulang (tidak
kurang dari pukul 15.30).

Pengisian daftar hadir jaga disesuaikan dengan waktu jaga


berdasarkan hari sebagai berikut :
o Hari Senin- Kamis
o Hari Jumat
o Hari Sabtu
o Hari Minggu/ Hari LIbur

: 15.30 - 07.00 WIB.


: 16.00 - 08.00 WIB.
: 08.00 - 08.00 WIB.
: 08.00 - 07.00 WIB.

Bila karena alasan tertentu, peserta didik tidak dapat melakukan


pengisian daftar hadir, maka yang bersangkutan harus segera

332

memberitahukan kepada sekretariat program studi disertai dengan


alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

- Pembacaan Literatur, Pembuatan Referat, dan Pembahasan Kasus :


Selama mengikuti pendidikan di Program Pendidikan Dokter Spesialis

F.

Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah setiap peserta didik wajib
untuk mempresentasikan pembacaan literatur sekurang-kurangnya 10
(sepuluh) literatur, pembahasan referat 3 (tiga), dan pembahasan
kasus 3 (tiga).
KPS mengatur jadwal Pembacaan Literatur, Pembuatan Referat, dan
Pembahasan Kasus sesuai rotasi secara bergiliran.
Peserta PPDS yang telah mendapatkan jadwal menghubungi
sekretariat Program Studi untuk mengetahui nama pembimbing.
Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis bertemu dengan
pembimbing untuk berdiskusi mengenai tema dan masalah yang akan
dipresentasikan.
Kegiatan bimbingan harus dicatat dalam Log Book peserta Program
Pendidikan Dokter Spesialis yang bersangkutan.
Naskah presentasi yang telah disetujui oleh pembimbing, harus
dibagikan ke seluruh staf pendidik selambat-lambatnya 3 (hari)
sebelum jadwal presentasi.
Lama Presentasi ;
o Presentasi pembacaan literatur dilakukan dalam waktu sekurangkurangnya 30 menit yang terdiri dari 10-15 menit presentasi dan
sisa waktu dipergunakan untuk diskusi dengan seluruh peserta
konferensi.
o Presentasi pembahasan referat dilakukan dengan waktu sekurangkurangnya 45 menit yang terdiri dari : 20 menit presentasi dan 25
menit diskusi dengan seluruh peserta konferensi.
o Presentasi pembahasan kasus dilakukan dengan waktu sekurangkurangnya 45 menit yang terdiri dari : 20 menit presentasi dan 25
menit diskusi dengan seluruh peserta konferensi.
Selesai presentasi, peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis
meminta pembimbing untuk membubuhkan tanda tangan di Log Book.
Naskah presentasi yang telah diperbaiki sesuai hasil diskusi,
diserahkan kepada sekretariat program studi dalam bentuk hard copy
maupun soft copy (CD) untuk disimpan dalam portofolio peserta
Program Pendidikan Dokter Spesialis yang bersangkutan.

JENIS PELANGGARAN DAN SANKSI

333

1.

Jenis Pelanggaran, sebagai berikut :

- Kelalaian administrasi.
- Kekurangan dalam pencapaian kompetensi.
- Tidak mampu mempertahankan kompetensi yang telah dicapai
selama masa pendidikan.

- Sikap perilaku yang melanggar etika dan profesionalisme.


- Pelanggaran hukum.
- Masalah khusus (penggunaan NAPZA, gangguan kejiwaan, dan lainlain).
2.

Sanksi yang diberikan, sebagai berikut :


A. Sanksi Evaluasi Studi terhadap Peserta Didik:
- Sanksi studi peserta didik adalah sanksi yang dijatuhkan kepada
mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Penyakit
Jantung dan Pembuluh Darah yang belum memenuhi persyaratan
evaluasi studi sesuai dengan waktu yang ditetapkan dengan
memberikan teguran lisan I, teguran lisan II, teguran lisan tertulis,
skorsing sampai pada diusulkan pindah ke prodi lain, perguruan
tinggi lain atau diberhentikan sebagai peserta didik.
- Peserta didik yang mendapatkan sanksi dihadapkan/ dipanggil KPS
untuk menjelaskan pelanggaran yang dilakukan peserta didik.
- Sanksi ditetapkan oleh KPS dan diketahui oleh kepala Departemen
sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan sesuai hasil
kesepakatan rapat pleno.
- Apabila sanksi yang diberikan adalah berupa pemindahan program
atau pemutusan studi maka diputuskan melalui surat keputusan
Dekan FK UNPAD atau pada beberapa hal perlu mendapat
pertimbangan komite medik/etik.
- Peserta didik yang belum memenuhi persyaratan evaluasi studi
sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan akan dipanggil oleh KPS
untuk mendapat penjelasan mengenai pelanggaran yang telah
dilakukan oleh peserta didik tersebut.
- Kepada peserta didik dapat dijatuhkan sanksi berupa teguran lisan I,
teguran lisan II, teguran tertulis, penghentian studi sementara
(skorsing), pengusulan pindah ke Prodi lain, pengusulan pindah ke
Perguruan Tinggi lain maupun pemutusan studi.
- Sanksi berupa teguran lisan I, teguran lisan II, dan teguran tertulis
ditetapkan oleh KPS dan diketahui oleh Kepala Departemen.
- Sanksi berupa penghentian studi sementara (skorsing), pengusulan
pindah ke Prodi lain, pengusulan pindah ke Perguruan Tinggi lain

334

maupun pemutusan studi ditetapkan bersama oleh seluruh staf


Departemen melalui rapat pleno Departemen.
Keputusan rapat pleno tersebut akan disampaikan kepada Dekan
dengan tembusan ke TKP PPDS sebagai bahan pertimbangan bagi
penetapan keputusan oleh Dekan FK UNPAD.
Sanksi berupa pemindahan Program Studi, pemindahan ke
Perguruan Tinggi lain atau pemutusan studi ditetapkan berdasarkan
Surat Keputusan Rektor UNPAD, atas masukan Dekan FK UNPAD.

B. Sanksi Pendidikan (Sanksi Akademik) Peserta Didik:


- Sanksi pendidikan (sanksi akademik) adalah seperangkat tindakan
yang dapat berupa teguran lisan atau tertulis, mengulang di suatu
modul program pendidikan spesialis, diperkerjakan di suatu unit kerja
yang berhubungan dengan pendidikan, skorsing sampai dengan
pemutusan studi.
- Batasan tentang pelanggaran :
Pelanggaran/kelalaian yang dinilai berat harus diperkuat dengan
keputusan
Komite
Medik
RS
pendidikan
dimana
pelanggaran/kelalaian tersebut terjadi.
Pelanggaran ringan diberikan teguran lisan dan/atau tertulis.
Pelanggaran sedang, selain mendapat teguran lisan disertai pula
dengan mengulang seluruh kegiatan stase di divisi/unit kerja
tertentu.
Penempatan di divisi/unit kerja tertentu disesuaikan dengan
kepentingan pendidikan peserta PPDS.
Sanksi pendidikan tersebut diberlakukan segera setelah
keputusan pemberian sanksi pendidikan diterbitkan oleh Ketua
Program Studi.

335

21. Program Studi Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi


A.

Metode Pembelajaran

1. Tahap Pendidikan
Sebelum melakukan tahap pendidikan diberikan lebih dahulu kegiatan
pembekalan pra-PPDS yang berisi orientasi mengenai rumah sakit pendidikan
utama, program pendidikan dokter spesialis, Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran, RS. Hasan Sadikin dan sistem manajemen pelayanan dan rujukan.
Orientasi diikuti bersama dengan seluruh PPDS yang berasal dari program
studi lain diselenggarakan oleh FK UNPAD/ RSHS. Tujuan orientasi ialah untuk
memperkenalkan kegiatan, lahan dan proses pendidikan serta mempersiapkan
peserta untuk mengikuti program pendidikan selanjutnya.
2. Kelompok Kegiatan
Aktifitas dalam proses pendidikan IKFR secara garis besar dibagi atas 3
(tiga) kelompok kegiatan :
Kegiatan akademik
Kegiatan pelatihan keprofesian
Kegiatan ko-kurikuler dan ekstra-kurikuler
a)

Kegiatan Akademik
Kegiatan akdemik ialah kegiatan dengan tujuan menambah dan
memperdalam keilmuan (knowledge) dalam bidang IKFR. Kegiatan
akademik terdiri dari 2 (dua) kelompok kegiatan yaitu kegiatan akademik
modul dan non-modul.
Kegiatan akademik modul ialah paket kegiatan akademik yang
membahas dan mendalami keilmuan cabang ilmu atau subdisiplin tertentu
dan diselenggarakan oleh cabang ilmu atau subdisiplin bersangkutan.
Kegiatan akademik modul umumnya merupakan kegiatan akademik
terjadwal yang diselenggarakan dalam bentuk tutorial dan diskusi kelompok.
Kegiatan akademik non-modul ialah kegiatan akademik yang tidak
terbatas hanya mengenai pendalaman keilmuan satu cabang ilmu atau
subdisiplin tertentu. Yang termasuk kegiatan akademik non-modul ialah :
Tinjauan Pustaka
Presentasi Kasus
Journal reading
Short case
Long case
Tutorial
Proposal penelitian
Tesis

336

Kegiatan akademik non-modul umumnya merupakan kegiatan akademik


terjadwal yang diselenggarakan dalam bentuk seminar.
Disamping kegiatan akademik terjadwal terdapat berbagai kegiatan
akademik yang tidak terjadwal, seperti :
Konsultasi pasien (diskusi kasus)
Tugas baca (reading assignment)
Tugas tulis (written assignment)
Tugas Observasi (observation assignment)
Pelaksanaan penelitian
b)

Kegiatan Pelatihan Keprofesian


Kegiatan pelatihan keprofesian (kerja praktik) ialah kegiatan yang
bertujuan untuk mencapai keterampilan (skill) yang dipersyaratkan bagi
seorang dokter Spesialis IKFR.
Kegiatan pelatihan keprofesian dilaksanakan di berbagai lahan
pendidikan yaitu di RS Pendidikan Utama, RS Mitra Pendidikan, Puskesmas,
Yayasan Pembinaan Anak Cacat Bandung dan di masyarakat. Secara garis
besar bentuk-bentuk kegiatan pelatihan keprofesian yang ditugaskan kepada
dikelompokkan ke dalam:
Tatalaksana pasien rawat jalan (ambulatory patient)
Tatalaksana pasien rawat inap (inpatient)
Tindakan/prosedur IKFR
Kegiatan akademik dan kegiatan pelatihan keprofesian dilakukan secara
bersamaan (simultan) dengan jam kerja mulai pukul 07.00 16.00 dan Senin
Jumat. (Tabel)

Tabel 2.1 Jadwal Kegiatan Harian Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi
Hari
Jam
Kegiatan
Senin
07.00-09.00
Presentasi Laporan kasus / tinjauan pustaka/
Penelitian
09.00-12.00
Poliklinik / ruangan / Tutorial / Journal Reading
12.00-13.00
Istirahat
13.00-16.00
Poliklinik / ruangan / Tutorial / Journal Reading
Selasa
07.00-09.00
Morning report
09.00-12.00
Poliklinik / ruangan / Tutorial / Journal Reading
12.00-13.00
Istirahat
13.00-16.00
Poliklinik / ruangan / Tutorial / Journal Reading
Rabu
07.00-09.00
Presentasi Laporan kasus / tinjauan
pustaka/Penelitian
09.00-12.00
Poliklinik / ruangan / Tutorial / Journal Reading
12.00-13.00
Istirahat
13.00-16.00
Poliklinik / ruangan / Tutorial / Journal Reading
Kamis
07.00-09.00
Morning report

337

Hari

Jumat

Jam
09.00-12.00
12.00-13.00
13.00-16.00
07.00-09.00
09.00-11.30
11.30-13.00
13.00-16.00

Kegiatan
Poliklinik / ruangan / Tutorial / Journal Reading
Istirahat
Poliklinik / ruangan / Tutorial / Journal Reading
Journal Reading / Penelitian
Poliklinik / ruangan / Tutorial / Journal Reading
Istirahat
Poliklinik / ruangan / Tutorial / Journal Reading

c). Kegiatan Ko-Kulikuler dan Ekstra-Kulikuler


Disamping melakukan kegiatan akademik dan kegiatan pelatihan
keprofesian setiap peserta diharapkan aktif dalam kegitan ko-kulikuler dan
ekstra-kulikuler. Kegiatan ko-kulikuler ialah kegiatan yang mendukung
pencapaian tujuan pendidikan yang secara langsung berhubungan dengan
kurikulum. Kegiatan ekstra-kulikuler ialah kegiatan yang mendukung
pencapaian tujuan pendidikan, pembinaan karakter dan pengembangan minat
dan bakat yang secara tidak langsung berhubungan dengan kurikulum.
3.

Buku Log
Setiap Peserta PPDS-1 dilengkapi dengan buku log yang digunakan
untuk mencatat setiap kegiatan (baik kegiatan akademik, kegiatan pelatihan
keprofesian, maupun kegiatan ko- dan ekstra kulikuler) segera setelah
kegiatan tersebut dilakukan dan ditandatangani oleh staf terkait.
a. Manfaat buku Log
Membantu mencatat setiap kegiatan yang dilakukan dengan maksud
mengetahui kekurangan-kekurangan yang terjadi dan merencanakan
kegiatan tambahan untuk menutupi kekurangan tersebut.
Membantu Supervisor menilai kegiatan agar dapat memberikan
kegiatan tambahan untuk bersangkutan.
b.

4.

Penggunaan buku Log


Buku log sudah harus digunakan sejak kegiatan awal di pendidikan
(setiap pertanyaan mengenai cara pengisian buku log yang masih belum
dimengerti, harap ditanyakan ke Sekretariat Program Pendidikan).
Penulisan dan konfirmasi setiap kegiatan yang akan diisikan kedalam
buku log sebaiknya dibicarakan lebih dahulu kemudian diparaf oleh
supervisor terkait. Oleh karena itu diingatkan kepada seluruh PPDS agar
mencatat semua kegiatan di buku log segera setelah kegiatan itu selesai
sehingga tidak ada yang hilang atau tidak tertuliskan.

Ketentuan Umum
a. Peserta
Kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan penelitian wajib diikuti setiap staf
pendidik dan Peserta PPDS-1. Ijin untuk tidak tidak mengikuti kegiatan

338

diberikan kepada yang sedang berotasi di Departemen lain atau


bersamaan dengan kegiatan pelayanan di Departemen lain.
Penjadwalan
Kegiatan ini dikoordinasi dan diatur oleh penyelenggara pendidikan
Tatacara
Media yang disediakan ialah slide projector, overhead projector (OHP)
atau liquid crystal display (LCD) Slide, transparansi dan media lain harus
memenuhi syarat :
Estetik tetapi tidak penuh dengan latar belakang yang mengganggu
teks
Taat dalam penggunaan ejaan dan bahasa
Baris teks atau keterangan tidak lebih dari 10 baris
Tulisan atau huruf terbaca dengan jelas dari baris paling belakang
Pedoman Penulisan mengacu pada Buku Pedoman Penulisan
Tesis/Disertasi dan Artikel Ilmiah Fakultas serta Buku Pedoman
Penulisan Tugas Ilmiah Prodi IKFR FK Unpad terbaru
Penilaian : mempergunakan lembar penilaian khusus yang telah
disediakan
Setelah selesai setiap kegiatan mencatat kegiatan tersebut di buku log
masing-masing dan ditandatangani oleh pembimbing.
5.

Tutorial / Diskusi Kelompok


Tutorial / diskusi kelompok ialah forum kegiatan akademik berupa
presentasi ilmiah interaktif di depan sebagian staf akademik dan sebagian
a. Ketentuan umum Tutorial/Diskusi Kelompok
1) Peserta
Kegiatan tutorial /diskusi kelompok wajib diikuti oleh para PPDS
sesuai dengan semesternya dan yang diwajibkan mengikuti
remedial pada saat rapat yudisium
2) Penjadwalan
Kegiatan tutorial/diskui kelompok dikoordinir oleh penyelenggara
pendidikan
3) Tatacara
Penentuan topik, bahan yang akan diajukan oleh Peserta
PPDS-1 ditetapkan oleh penyelenggara pendidikan
Kegiatan tutorial merupakan kegiatan yang meliputi dua aspek:
teori dan praktik. Pembagian waktu dari ke dua aspek tersebut
diserahkan pada penanggung jawab modul / tutor pelaksana.
Setiap kegiatan diskusi kelompok dipimpin oleh seorang tutor
Tutor ditetapkan oleh penyelenggara pendidikan

339

Penilai kegiatan tutorial dilakukan secara bervariasi dan


diserahkan bentuk dan pelaksanaannya baik menggunakan
kasus, MCQ, esai dan tanya jawab lisan yang dapat
dipertanggungjawabkan oleh tutor pemegang modul.
Peserta PPDS-1 berhak mendapatkan kesempatan remedial
sebanyak 1 kali untuk ujian post test
Nilai modul tidak hanya didasarkan pada nilai ujian post test
akan tetapi merupakan bentuk penilaian yang bersifat dinamis
(pengamatan) yang dilaksanakan secara komprehensif saat
pelaksanaan tutorial meliputi attitude, kognisi dan afektif.

Setelah selesai setiap kegiatan tutorial / diskusi kelompok maka PPDS wajib
mencatat kegiatan tersebut di buku log masing-masing dan ditandatangani
oleh staf terkait/penanggung jawab modul.
6.

Makalah Ilmiah
Makalah ilmiah terdiri dari makalah:
Presentasi Kasus
Tinjauan Pustaka
Proposal Penelitian/Tesis

7. Presentasi Kasus
Presentasi Kasus merupakan kegiatan akademik melalui penyajian dan
pembahasan suatu kasus didepan sidang ilmiah pleno. Presentasi kasus
dapat juga dipandang sebagai satu kesatuan komprehensif pelatihan
keprofesian dengan maksud untuk mendapatkan dukungan ilmu yang kuat
dalam melakukan kegiatan keprofesian.
a. Tujuan
Tujuan Umum
Meningkatkan kemampuan Peserta Program Pendidikan Dokter
Spesialis-1 dalam menggunakan sumber keterangan sebanyak-banyaknya
untuk menganalisis kasus yang ditangani.
Tujuan Khusus
Setelah penyajian kasus, diharapkan peserta :
1. Menguasai materi Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi khususnya
kasus yang dipresentasikan
2. Mampu menulis karya ilmiah yang baik dan sesuai kaidah yang
berlaku
3. Mampu mengenal, menelusuri sebab dan memecahkan masalah
secara kritis analitis dan sistematis.

340

Tujuan Per-semester
Semester II : Mampu melakukan pemeriksaan fisik rehabilitasi dan
diagnosis fungsional
Semester III : Mampu menegakkan diagnosis fisik dan fungsional,
mampu/menguasai penataksanaan rehabilitasi medik dasar.
Semester IV : Mampu melakukan penataksanaan rehabilitasi medik
dasar, umum dan ortotik prostetik
Semester V : Mampu melakukan penataksanaan rehabilitasi medik
dasar, umum dan Pediatrik
Semester VI : Mampu melakukan penataksanaan rehabilitasi medik
dasar, umum dan kasus kardio-respirasi
Semester VIII : Mampu merencanakan, mengimplementasikan,
mengelola kasus secara paripurna kasus geriatri / multiple
problems.
b. Jumlah Kasus
Berdasarkan kesepakatan dengan pusat-pusat pendidikan Ilmu Kedokteran
Fisik dan Rehabilitasi, selama masa pendidikan ditetapkan bahwa
peserta PPDS-1 harus menyelesaikan sebanyak 6 (enam) kasus panjang
dan 1 (satu) kasus pendek dan 1 kali presentasi poster/oral presentation
di acara ilmiah nasional (baik berupa penelitian/kasus).
c. Jenis Kasus
Kasus panjang (kasus khusus) : kasus yang ditulis berdasarkan
kerangka acuan
Kasus pendek: kasus yang ditulis dengan isi : anamnesis,
pemeriksaan fisik dan problem, manajemen (sesuai dengan rekam
medis rawat jalan)
d. Topik Kasus
Jenis kasus

No.

Semester

semester 2

Neuromuskuler

semester 3

Muskuloskeletal

semester 4

Neuromuskuler

semester 5

Pediatrik

Keterangan
Ditekankan PF :
umum pada
pasien stroke
Ditekankan pada
kasus fraktur dan
OA
Ditekankan pada
kasus SCI

341

No.

Semester

semester 6

Jenis kasus

Keterangan

Kardiorespi

Semester VII : Kasus pendek - bebas (multiple problem) Pada


semester VII laporan kasus diajukan dalam bentuk laporan tertulis
(resume singkat) 1 bulan 1 kasus sebagai bentuk evaluasi dan
pelaporan kegiatan di tempat stase tanpa perlu melakukan
presentasi.
Keterangan : setiap Peserta PPDS-1 semester 5 dan 6 wajib
mempresentasikan 1 (satu) buah kasus atau penelitian pendahuluan
di Pekan Ilmiah Tahunan (PIT)
e. Sumber Kasus
Diajukan oleh peserta sendiri atau ditetapkan dan telah disetujui oleh
Pembimbing dari pasien-pasien rawat jalan atau rawat inap.
f. Tata Cara
Kasus yang telah ditentukan, harus segera diajukan minimal 2 (dua)
minggu sebelumnya kepada pembimbing
Setiap presentan wajib melakukan bimbingan kepada dokter
pembimbing
Home visit dilaksanakan sesuai situasi dan kondisi serta arahan
pembimbing
Pasien harus dibawa untuk dilakukan pemeriksaan fisik dan
dilakukan pengambilan audiovisual, dengan dihadiri oleh penguji
(wajib) dan pembimbing kasus (fakultatif pada kondisi yang tidak
dapat dihindari)
Tampilan audio visual dipergunakan untuk presentasi. Naskah dalam
bentuk makalah diserahkan ke Sekretariat Pendidikan, paling lambat
3 (tiga) hari kerja sebelum jadwal penyajian untuk dibagikan kepada
penilai dan pembimbing serta Peserta PPDS-1.
g. Kerangka Acuan Penulisan (lihat Buku Panduan Penulisan Tugas
Ilmiah Prodi IKFR FK Unpad)
h. Cara Penyajian

Penyajian disampaikan dengan mempergunakan sarana audio


visual dalam bahasa Inggris

342

Penyajian dilakukan dalam 30 menit presentasi pembukaan (teori


dan anamnesis), 30 menit pemeriksaan fisik, 45 menit diskusi
umum, 15 menit diskusi dengan penguji.
Total waktu : 120 menit dengan minimal 5 orang penanya pada
diskusi umum.
Formulir penilaian kasus terlampir.

8. Journal Reading
Journal Reading atau pembacaan makalah ilmiah ialah kegiatan akademik
melalui pembahasan makalah ilmiah di depan forum.
a). Tujuan
Agar peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis
kemampuan:

Menggunakan/memanfaatkan kepustakaan

Menjaring Informasi yang sesuai

Mengenal/mengetahui informasi terkini di bidang IKFR

mempunyai

b). Jumlah Jurnal


Berdasarkan kesepakatan dengan pusat-pusat Pendidikan Ilmu
kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, selama masa pendidikan ditetapkan
bahwa peserta harus mempresentasikan minimal sebanyak 10 (sepuluh)
jurnal, termasuk yang dipresentasikan di luar Departemen IKFR.
c). Topik
Topik disesuaikan dengan rotasi / stase, di Departemen Ilmu Kedokteran
Fisik dan Rehabilitasi, di Departemen lain FK UNPAD atau RS Jaringan
lahan Pendidikan yang ditunjuk :
No

Semester

Topik

semester 1

semester 2

3
4
5
6

semester 3
semester 3
semester 4
semester 4

Neuromuskuler (fokus :
stroke)
Muskuloskeletal
(fokus : Therapeutik
exercise/modalitas)
Muskuloskeletal
Ortotik Prostetik
Pediatrik
SCI

7
8

semester 5
semester 5

Cedera Olah Raga


Kardio

Tempat

RS. Cibabat
RS.
Fatmawati
RS.Al-Ihsan/
RS. Salamun/

343

No

Semester

Topik

9
10

semester 6
semester 6

Geriatri/paliatif/komunitas
Respirasi

Tempat
RS. Soreang
RS. Rotinsulu

d). Tata Cara


1. Sumber Topik dan Judul Jurnal
Berasal dari jurnal internasional yang terakreditasi dan berhubungan
dengan topik Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik.
2. Naskah
Naskah Jurnal diperbanyak dan harus diserahkan ke Sekretariat
Pendidikan PPDS-1, paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum jadwal penyajian
untuk dibagikan kepada Penilai, masing-masing staf Divisi terkait topik
jurnal, dan Peserta PPDS-1 lainnya.
3. Usulan Judul
Diajukan oleh peserta PPDS-1 kepada dokter pembimbing / penilai paling
lambat 2 (dua) minggu sebelum tanggal presentasi.
4. Penyajian di luar Departemen IKFR
Peserta PPDS-1 yang bersangkutan harus mambawa lembar penilaian
yang tersedia dari Departemen IKFR.
e). Cara Penyajian
Penyajian disampaikan dengan mempergunakan sarana audio visual
dalam bahasa Inggris
Penyajian dilakukan dalam 20 menit, diskusi 40 menit (total 60
menit).
Formulir penilaian penyajian jurnal terlampir.
Diwajibkan untuk menampilkan paparan critical appraisal untuk
semester 2 ke atas
Membuat resume jurnal yang dibuat dalam bahasa Indonesia untuk
pembimbing/penguji, staf divisi terkait
9. TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan Pustaka ialah kegiatan akademik dengan cara membahas dan
menyarikan berbagai makalah ilmiah menjadi satu karya ilmiah tulis yang
disusun menurut kaidah penulisan ilmiah.
a) Tujuan
Agar peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis mempunyai kemampuan:
Menggunakan/memanfaatkan kepustakaan
Menjaring informasi yang sesuai

344

Mambahas / menganalisis suatu masalah berdasarkan berbagai


kepustakaan, menyusun makalah ilmiah yang berisi penyelesaian
masalah tersebut, mempresentasikan secara benar dalam suatu
konferensi ilmiah.

b) Jumlah Tinjauan Pustaka


Berdasarkan kesepakatan dengan pusat-pusat Pendidikan Ilmu kedokteran
Fisik dan Rehabilitasi, selama masa Pendidikan ditetapkan bahwa
peserta PPDS-1 harus menyelesaikan sebanyak 5 (lima) buah Sari
Pustaka
c) Topik
No

Semester

1
2
3
4
5

semester II
semester III
semester IV
semester V
semester VI

Topik
Muskuloskeletal
Neuromuskuler
Pediatrik
Kardiorespi
Geriatri/cedera olah raga

d) Tata Cara
1. Topik bahasan/Judul
Diajukan oleh Peserta atau ditentukan dan disetujui oleh Pembimbing
minimal 2 (dua) bulan sebelumnya
2.

Konsep Tinjauan Pustaka

Konsep / draft sari pustaka harus sudah diberikan kepada


pembimbing minimal 1 (satu) bulan sebelumnya dan
melakukan bimbingan sesudahnya.

Naskah harus diserahkan ke Sekretariat Pendidikan, paling


lambat 7 (tujuh) hari sebelum jadwal penyajian untuk
dibagikan kepada penilai, pembimbing dan Peserta PPDS-1.

3. Kerangka Penulisan Tinjauan Pustaka


Lihat Buku Panduan Penulisan Tugas Ilmiah Prodi IKFR FK Unpad
4.

Cara Penyajian
Penyajian disampaikan dengan mempergunakan sarana audio
visual selama 25 menit, diskusi 35 menit dengan minimal 5 orang
penanya, diskusi dengan pembimbing/penguji 15 menit (total 75
menit) dalam bahasa Indonesia
Penilaian sesuai dengan formulir Penilaian Penyajian Tinjauan
Pustaka.

345

10.

Kegiatan Harian
a. Panduan Kegiatan Harian PPDS-1
1) Jadwal Kegiatan harian setiap bulan :
Disusun oleh staf kependidikan 1 bulan sebelum semester
baru dimulai.
Rencana jadwal kegiatan yang telah disusun kemudian
berikan kepada seksi ilmiah PPDS-1 yang telah ditunjuk
dalam struktur organisasi PPDS-1 untuk dilakukan cek silang
pada setiap semester sebagai bentuk komitmen tanggung
jawab pelaksanaan tugas dan jadwal yang telah ditetapkan
oleh seluruh Peserta PPDS-1.
Penyusunan dan koordinasi dengan Peserta PPDS-1 seluruh
staf berada dalam supervisi dan koordinasi dengan
berkoordinasi dengan sekretariat pendidikan dan supervisi
KPS/Kelompok Fungsional Pendidikan PPDS dan sumber
daya
Jadwal yang sudah dilakukan cek silang dan persetujuan
para staf pendidik kemudian akan ditetapkan oleh Ketua
Program Studi, di minggu terakhir semester berjalan.
Jadwal yang sudah ditetapkan harus dilaksanakan sesuai
jadwal sedapat mungkin, kecuali :
Apabila penanggung jawab modul berhalangan dapat
digantikan oleh tutor lain yang telah ditunjuk oleh
penanggung jawab modul jam yang sama, apabila tidak
dapat dilakukan penggantian tutor maka tutorial dapat
dilakukan di luar jam kerja atau pada waktu kosong lain
bila tersedia dalam agenda kegiatan yang telah
ditetapkan.
Apabila modul tidak dapat terlaksana karena alasan yang
tidak dapat dihindari oleh Peserta PPDS-1 maka jadwal
tutorial akan diatur ulang oleh seksi ilmiah PPDS-1 dan
sekretariat pendidikan dengan tidak mengubah jadwal
kegiatan tutorial lainnya yang telah disusun sebelumnya.
Seorang Peserta PPDS-1 tidak boleh tidak mengikuti tutor
sebanyak 20% dari total pertemuan modul/tutorial.
Jadwal kegiatan harian harus tertulis pada white board
setiap hari.
Setiap yang rotasi di Poliklinik harus menuliskan nama
pasien, nomor rekam medik dan diagnosa pasien yang
dilayani oleh Peserta PPDS-1 dalam log book untuk
kemudian dimintakan tanda tangan konsulen koordinator
pelayanan (DPJP Poliklinik) hari tersebut.
Setiap yang rotasi di pelayanan khusus harus menuliskan
nama pasien, nomor rekam medik dan diagnosa pasien
yang dilayani pada hari dia bekerja dan meminta tanda

346

tangan konsulen koordinator pelayanan (DPJP Poliklinik)


saat itu.
Setiap Peserta PPDS-1 yang melakukan rotasi di ruangan
harus menuliskan nama pasien, nomor rekam medik dan
diagnosa pasien yang menjadi tanggung jawabnya dan
meminta konsulen supervisor ruangan (DPJP ruangan)
dalam log book.
Pada akhir rotasi maka setiap Peserta PPDS-1 wajib
menjalani ujian divisi :
Bila Peserta PPDS-1 tersebut lulus pada ujian divisi maka
yang bersangkutan dapat melakukan rotasi ke divisi yang
lain
Bila Peserta PPDS-1 tersebut tidak lulus pada ujian divisi
maka yang bersangkutan mendapatkan hak remedial 1
kali ujian divisi bila pada ujian remedial juga tidak lulus,
maka diharuskan untuk mengulang divisi tersebut di
semester berikutnya.
Kegiatan bimbingan yang dilakukan oleh untuk memenuhi
kewajiban tugas ilmiahnya harus ditandatangani oleh
pembimbing dalam log book yang sudah disediakan.
11.

a)

Penelitian/Tesis
Tesis ialah kegiatan akademik dalam bentuk menulis suatu karya ilmiah
tentang suatu topik keilmuan yang disusun berdasarkan hasil penelitian
ilmiah menggunakan metodologi penelitian dan diuji oleh dewan penguji
yang berwenang dalam suatu forum ilmiah.
Penulisan tesis merupakan kegiatan akademik dengan cara mengolah
hasil kegiatan penelitian dalam bentuk karya tulis berdasarkan analisis
data sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan program studi.
Latar Belakang
Karya ilmiah medis berdasarkan hasil penelitian yang sahih
merupakan salah satu faktor pendorong kemajuan ilmu kedokteran.
Dalam era globalisasi saat ini persaingan tingkat dunia berlangsung
dengan terbuka di segala bidang termasuk di bidang kedokteran.
Kemampuan meneliti dan menuangkannya dalam suatu naskah ilmiah
sangat perlu dikuasai oleh seorang dokter Spesialis Kedokteran Fisik
dan Rehabilitasi sebagai seorang cendekiawan dan agen kemajuan
dibidangnya.
Salah satu tujuan pendidikan dokter spesialis ialah mencapai
kemampuan menentukan, merencanakan dan melaksanakan
pendidikan dan penelitian secara mandiri dan mengembangkan ilmu
ke tingkat yang lebih tinggi.
Sesuai dengan tujuan diatas seorang dokter Spesialis Kedokteran
Fisik dan Rehabilitasi diharapkan dapat berfungsi sebagai tenaga

347

profesional dalam bidang pelayanan kesehatan rehabilitasi medik dan


ikut berkiprah secara akademik sebagai seorang Magister Kedokteran
bidang Ilmu IKFR.
b)

Tujuan
Melatih dalam membuat karya ilmiah dan melakukan penelitian
yang baik dan benar dan sekaligus cara mempresentasikannya.
Mempraktikan metodologi penelitian ilmiah yang pernah dipelajari
Sumber ilmiah bagi Ilmu IKFR pada umumnya
Mampu memilih masalah kedokteran / kesehatan untuk bahan
penelitian yang dapat membantu pengembangan ilmu dan dapat
diterapkan untuk peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat
Mampu mengajukan usulan penelitian secara lengkap dengan
memperhatikan semua unsur pembatas yang mampu laksana dan
bersesuaian dengan jadwal pendidikan
Mampu menerapkan dan menjelaskan metodologi penelitian yang
baik dan benar
Mampu menyelenggarakan pengorganisasian seluruh kegiatan
penelitian bidang kedokteran/kesehatan dengan penguasaan
rangkaian analisa dan sintesa yang menghasilkan kesimpulan
yang dapat dimengerti ilmuwan lainnya.
Mendapatkan pengalaman dan keterampilan menyusun usulan
penelitian
Mampu meyakinkan obyektifitas dan kebenaran upaya
penelitiannya melalui penyajian lisan dan tulisan secara lugas
kepada ilmuwan lain, dengan memperhatikan kelaziman penyajian
ilmiah.
Mampu menerima kritik dan saran perbaikan hasil karya ilmiahnya
dalam sidang terbuka, serta mampu menyusun kembali
penelitiannya sesuai dengan hasil persidangan dalam waktu yang
ditetapkan.

c)

Sumber Judul Penelitian


Judul penelitian diambil dari bahasan luas topik dalam sari
pustaka dengan fokus pada salah satu sub topik yang lebih
spesifik dan mampu laksana
Judul penelitian dapat berasal dari peserta sendiri atau
disarankan oleh staf pendidik

d) Pembimbing
Pembimbing adalah staf pengajar IKFR yang berkualifikasi penilai
dan ditetapkan dengan surat tugas Ketua Program Studi.
Dalam persiapan presentasi proposal penelitian diperlukan 3 orang
pembimbing yang terdiri dari : 1 (satu) pembimbing yaitu

348

pembimbing materi utama dari Departemen IKFR FK Unpad, 1


(satu) pembimbing materi pendamping yang bisa berasal dari
Departemen IKFR FK Unpad atau dari Departemen terkait isi
penelitian, dan 1 (orang) pembimbing statistik.
Pembimbing materi ialah staf akademik dari salah satu divisi atau
Departemen lain terkait. Pembimbing materi memberikan
bimbingan dan arahan terutama dari aspek materi materi
keilmuannya.
Pembimbing statistik dapat dipilih oleh peneliti sendiri
Pembimbing statistik memberikan bimbingan dan arahan dari
aspek metodologi penelitian
e)

Tugas Pembimbing
Memantau pelaksanaan penelitian sejak pembuatan proposal
penelitian, pelaksanaan penelitian dan penyusunan naskah tesis.
Memberi motivasi, bimbingan dan arahan serta bila perlu menegur
untuk perbaikan proses pelaksanaan penelitian
Melakukan kegiatan diskusi konsultasi terjadwal dengan peneliti
Apabila dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan tidak melapor untuk
membahas hasil penelitiannya, pembimbing dapat secara aktif
memanggil bersangkutan.
Pembimbing sekaligus menjadi anggota penguji sidang penelitian.

f) Tahap Pembuatan Usulan Penelitian


Penyusunan usulan judul penelitian sudah harus dimulai minimal
pada semester II dan terakhir pada semester IV
Usulan Judul Proposal penelitian dibuat berdasarkan masalah
yang diidentifikasi dari sari pustaka dan jurnal penelitian
Usulan judul dan rancangan awal proposal dikonsultasikan
dengan dosen wali semester 4
Dosen wali kemudian melaporkan usulan judul dan rancangan
awal proposal kepada Koordinator Penelitian dan Pengembangan
Departemen agar dapat disesuaikan dengan penelitian-penelitian
yang sedang berjalan
Koordinator
Penelitian
dan
Pengembangan
kemudian
berkoordinasi dengan Koordinator Kelompok Fungsional PPDS
dan sumber daya untuk menentukan pembimbing utama dan
pendamping untuk Peserta PPDS-1 yang bersangkutan
Bila telah ditetapkan judul penelitian maka Peserta PPDS-1
tersebut dapat melanjutkan ke jenjang berikutnya yaitu
pembuatan proposal penelitian setelah melakukan proses
pembimbingan dengan pembimbing (baik pembimbing materi dan
pembimbing statistik)

349

g) Tahap Pembuatan Proposal Penelitian


Proposal penelitian dibuat dibawah bimbingan staf pendidik yang
ditunjuk sebagai pembimbing materi dan pembimbing metodologi
dengan mempertimbangkan aspek mampu laksana berdasarkan
jumlah populasi penelitian, distribusi penyakit, perkiraan biaya
dan sebagainya.
Proposal penelitian harus dibuat sesuai dengan kaidah
metodologi penelitian
Selambat-lambatnya dalam waktu 3 (tiga) bulan setelah judul
proposal penelitian ditetapkan harus sudah mendiskusikan
naskah awal proposal penelitiannya untuk dilaporkan kepada
penyelenggara pendidikan
Apabila dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan peneliti tidak melapor
untuk membahas proposal penelitiannya, pembimbing dapat
secara aktif memanggil bersangkutan dan melaporkan kepada
penyelenggara pendidikan
Proposal penelitian di presentasikan pada kegiatan ilmiah wajib
(sidang usulan penelitian), yang diselenggarakan dalam bentuk
kegiatan ilmiah yang wajib dihadiri oleh seluruh staf pendidik Profi
IKFR FK Unpad, pembimbing statistik dan seluruh Peserta
PPDS-1 untuk dipertimbangkan kelayakan dari segi tujuan dan
metodologi penelitian, waktu dan biaya.
h)

Pelaksanaan Penelitian

Penelitian merupakan salah satu komponen kegiatan akademik


yang diwajibkan bagi sebagai suatu proses dalam penyusunan
tesis.

Pelaksanaan penelitian sudah harus segera dimulai selambatlambatnya pada semester 5, setelah selesai menyusun proposal
penelitian dan telah dinyatakan memenuhi syarat dan lulus ujian
proposal penelitian.

Jangka waktu penelitian harus sesuai dengan surat persetujuan


penelitian yang dibuat oleh Koordinator Penelitian dan
Pengembangan serta Ketua Program Studi dan Koordinator atau
Kepala-kepala Divisi dimana peserta didik tersebut sedang
menjalankan rotasi saat penelitian

Selama melakukan penelitian, setiap bulan melaporkan


perkembangan hasil penelitian kepada Pembimbing Penelitian

Apabila selama penelitian menghadapi hambatan agar melapor


kepada pembimbing penelitian untuk dicarikan jalan keluarnya

Bila penelitian dibatalkan agar memberitahukan secara tertulis


kepada Ketua Program Studi dan segera mencari judul penelitian
yang baru. Proses pengajuan judul sesuai dengan prosedur
semula.

350

Penelitian dilakukan setelah terdapat persetujuan dari Komite Etik


Hasil penelitian dipresentasikan segera setelah penelitian selesai

i) Tempat penelitian
Sesuai dengan materi penelitian pelaksanaan dapat dilakukan di :
RS Pendidikan Utama
RS Mitra
Lahan pendidikan lain :
Puskesmas
Dan lain-lain
j)

Waktu Penelitian
Tidak diberikan waktu khusus untuk melakukan penelitian, oleh
karena itu sesuai dengan materi penelitian, pelaksanaan penelitian
dapat dikerjakan diantara waktu-waktu pelatihan keprofesian dengan
cara mengatur secara mandiri sehingga tugas pelayanan dan tugas
pelatihan tidak terlantar (kerjasama dengan Program Studi lain).

k)

Biaya Penelitian
Pada dasarnya biaya penulisan proposal, penelitian dan penulisan
tesis ditanggung oleh sendiri. Oleh karena itu faktor mampu-laksana
(feasibility) sangat penting dikaji dalam penyusunan proposal.
Pembimbing dan Program Studi dapat membantu mencarikan cara
untuk pembiayaan penelitian melalui hibah penelitian agar penelitian
dapat dikerjakan dengan lancar.

l)

Pemantauan
Pemantauan kemajuan pelaksanaan penelitian dilakukan oleh
pembimbing materi. Bila dalam jangka waktu yeng telah ditentukan
tahapan pelaksanaan penelitian belum selesai, maka akan dipanggil
oleh pembimbing materi untuk dilakukan evaluasi terhadap
kelambatan dan kendala yang dihadapi serta mencari jalan keluarnya.
Bila tahapan pelaksanaan penelitian masih belum dipenuhi sesuai
jadwal maka akan dipanggil menghadap forum evaluasi penelitian
terdiri dari 1) Pembimbing materi, 2) KPS dan 3) Koordinator
Kelompok Fungsional Penelitian, Kerja sama, dan Pengabdian
Masyarakat untuk diminta pertanggungjawabannya.
m) Kegiatan Penelitian
Pembuatan proposal penelitian
Proposal penelitian diajukan melalui pembimbingan dengan
pembimbing yang telah ditetapkan kemudian dilakukan Sidang
Usulan Penelitian dilakukan di Semester 4 atau 5.
Pembuatan tesis
Dilakukan setelah hasil Sidang Usulan Penelitian menyatakan
Peserta PPDS-1 tersebut lulus (semester 4-6)

351

Dalam menyusun naskah laporan akhir penelitian, perlu


berkonsultasi dengan semua pembimbing
Konsep naskah yang telah selesai, diajukan kepada semua
pembimbing untuk dikoreksi
Naskah yang telah dikoreksi dan disetujui, ditandatangani oleh
semua pembimbing
Presentasi Hasil Penelitian dilakukan pada semester 6 sebagai
bentuk pemaparan hasil penelitian yang telah dilaksanakan,
dipresentasikan dengan dihadiri oleh seluruh staf pendidik,
pembimbing dan ahli statistik
Publikasi
Sebagai bentuk tanggung jawab ilmiah maka seluruh Peserta
PPDS-1 IKFR FK Unpad yang telah menyelesaikan penelitian dan
mempresentasikannya diwajibkan untuk mempublikasikannya
pada jurnal terakreditasi (persyaratan dianggap terpenuhi jika telah
diperoleh surat keterangan mengirimkan/submit pada jurnal
tersebut). Biaya yang dikeluarkan terkait publikasi merupakan
tanggung jawab peneliti dan pembimbing. Sanksi administratif
terkait kelalaian tidak mempublikasikan karya ilmiah akan terkait
dengan kebijakan Perdosri Cabang Jawa Barat dalam memberikan
surat rekomendasi organisasi dalam pembuatan SIP atau surat
pernyataan kelulusan sementara.
n)

Lain-lain
Peserta PPDS-1 yang mengambil program combine degree (PPCD)
diwajibkan membuat penelitian yang berbeda dengan penelitian yang
dilakukan untuk mendapatkan gelar SpKFR untuk menghindari auto
plagiarism.

o)

Tahap Ujian Sidang Usulan Penelitian dan Proposal/Hasil Penelitian


Ujian Sidang Usulan Penelitian dan Ujian Hasil Penelitian adalah
kegiatan akademik berupa presentasi ilmiah yang berkaitan
dengan penelitian ilmiah yang merupakan syarat wajib
diperolehnya gelar Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi
(SpKFR) di depan sidang pleno Program Studi IKFR yang dihadiri
oleh seluruh staf akademik, peserta PPDS-1 Prodi IKFR FK Unpad,
undangan dan narasumber yang terkait.
Penyajian disampaikan dengan mempergunakan sarana audio
visual
Alokasi waktu yang diberikan untuk ujian sidang usulan penelitian
ataupun hasil penelitian sama yaitu sebagai berikut :
- 30 menit presentasi,
- 15 menit diskusi (pertanyaan dari Peserta PPDS-1 IKFR FK
Unpad),

352

p)

- 15 menit pertanyaan dari penguji


Dalam ujian proposal penelitian maka ditetapkan 3 orang penguji
(satu orang merangkap sebagai ketua sidang).
Pada semester 5, Peserta PPDS-1 harus telah melalui ujian Usulan
Penelitian
Pengumpulan draft proposal penelitian dan hasil penelitian dalam
bentuk hard copy yang akan dipresentasikan maksimal 1 (satu)
minggu sebelum presentasi di sekretariat pendidikan untuk
seluruh staf pendidikan Prodi IKFR FK Unpad, pembimbing statistik
dan narasumber terkait.
Ujian hasil penelitian mencakup :
Penguasaan masalah kedokteran/kesehatan yang berkaitan
dengan materi penelitian
Penguasaan metodologi penelitian yang dianut
Tatalaksana penelitian dan teknik yang dianut
Kemampuan menganalisa dan menyimpulkan hasil penelitian
dengan obyektif berdasarkan data
Kesesuaian tujuan, hasil, dan saran penelitian
Penguasaan laporan dan pembahasan hasil penelitian
Upaya meyakinkan ilmuwan lain.
Dampak hasil penelitian
Ketelitian rujukan pustaka
Kemampuan menolak saran yang tidak tepat
Seorang peserta PPDS-1 telah dianggap menyelesaikan tugas
penelitian bila telah mendapatkan surat diterimanya artikel di jurnal
terakreditasi
Peserta tidak diizinkan mengikuti ujian lokal/institusional pada
semester yang sama dengan waktu penelitian dimulai
Bila ada perubahan yang menyangkut topik, judul, isi, metodologi
penelitian sesudah dilakukannya usulan penelitian maka harus ada
persetujuan pembimbing dan dilaporkan pada Koordinator
Penelitian dan Pengembangan Departemen IKFR FK Unpad.
Kegiatan bimbingan usulan, proposal dan hasil penelitian yang
dilakukan oleh peneliti untuk memenuhi kewajiban harus
ditandatangani oleh pembimbing dalam log book yang sudah
disediakan.
Penelitian tidak boleh dilakukan bersamaan dengan semester
persiapan ujian institusional
Peneliti diharuskan mengisi buku register penelitian yang ada di
Departemen Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

Cara Penulisan Tesis

353

Daftar pustaka yang digunakan untuk thesis dan penelitian haruslah


bersumber dari jurnal (80%) dan usia jurnal adalah 10 tahun terakhir.
Duapuluh persen sisanya, boleh bersumber dari buku atau lainnya, dan
boleh berusia lebih dari 10 tahun terakhir.
B.

STRUKTUR MATA KULIAH


1. STRUKTUR DASAR KURIKULUM
Untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dengan
menggunakan program pendidikan yang berciri seperti diuraikan pada
bab sebelumnya, maka struktur dasar kurikulum Pendidikan Dokter
Spesialis-1 Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi FK UNPAD terdiri
dari 3 (tiga) bagian sebagai berikut :

Bagian pertama : pendidikan dasar ilmiah

Bagian kedua : pendidikan bidang kekhususan ilmu kedokteran


fisik dan rehabilitasi

Bagian Ketiga : rangkaian kegiatan ilmiah yang berhubungan


dengan riset ilmiah dan Bagian penguasaan keterampilan
keprofesian.

Gambar 2.1. Struktur dasar kurikulum

354

Untuk memperlihatkan tercakupnya bidang pencapaian pedalaman akademik


sebagai seorang spesialis IKFR serta untuk menghitung beban studi ,
kurikulum dibagi dalam kelompok materi pendidikan
1) Cakupan Akademik
Materi Dasar Umum (MDU/ Pengetahuan Teori Dasar Umum)
Materi Dasar Khusus (MDK / Pengetahuan Teori Dasar
Khusus)
Materi Keahlian Khusus ( MKK / Pengetahuan Teori Klinik
Khusus)
Materi Penerapan Akademik (MPA)
2)

Cakupan keterampilan keprofesian (bidang keterampilan spesialis)


Materi Penerapan Keprofesian (MPK)

2. BEBAN STUDI
Total beban studi yang diperlukan ialah 110,99 SKS dengan lama studi 8
Semester.
Tabel 2.2. Kurikulum Pendidikan
Sandi
C21T.010
1

Mata Kuliah/Modul

Tutorial/Sub Modul
Semester 1
Modul Dasar IKFRM
- Filsafat ilmu pengetahuan &
I
etika profesi
- Pengantar Kinesiologi
- Anatomi & Kinesiologi : Kepala
dan tulang belakang
- Anatomi & Kinesiologi
Ekstremitas Atas : Bahu
- Anatomi & Kinesiologi
Ekstremitas Atas : Siku
- Anatomi & Kinesiologi
Ekstremitas Atas : Tangan
- Anatomi & Kinesiologi
Ekstremitas Bawah: Hip
- Anatomi & Kinesiologi
Ekstremitas Bawah: Lutut
- Anatomi & Kinesiologi
Ekstremitas Bawah: Kaki
- Gait/Analisis Pola Jalan

SKS
5,50

355

Sandi

Mata Kuliah/Modul

C21T.010
1

Modul Dasar IKFRM


II

C21T.000
1

Modul Peneriksaan
IKFRM

C21T.600
1
C21T.500
1

Modul Tatalaksana
Komprehensif (1)
Modul Kegiatan
Ilmiah I

C21T.100
1

C21T.110
1

C21T.120
1
C21T.120
2

Tutorial/Sub Modul
- Fisiologi KFR
- Metodologi Penelitian dan
Biostatistik
- Epidemiologi klinik dan
Evidence Based Madicine
- Biologi Molekular
- Biologi dan Patobiologi

SKS

- Pemeriksaan Dasar
Muskuloskeletal : Lingkup
Gerak Sendi
- Pemeriksaan Dasar
Muskuloskeletal : Kekuatan Otot
- Pemeriksaan Dasar
Neuromuskuler

3,22

- Journal Reading 1
- Sajian Kasus Khusus
Semester 2
Modul
- Kinesiologi Development
Habilitasi/Rehabilitasi - Pemeriksaan Dasar Pediatrik
Anak I
- Tatalaksana KFR pada Plexus
Brachialis Injury
- Tatalaksana KFR pada
Tortikolis Muscular Kongenital
(TMK)
Modul Terapi IKFRM
- Modul Terapi Panas :
I (Modalitas)
Superficial Heating (IR dan
Paraffin)
- Modul Terapi Panas : Deep
Heating (SWD, MWD, dan US)
- Modul Terapi Inhalasi
- Modul Terapi Dingin (Cold
Therapy)
- Modul Terapi Stimulasi Elektrika
- Traksi, manipulasi dan Masase
- Kinesio Tapping
- Laser Tharapy
Modul Terapeutik
- Fisiologi Latihan
Exercise I
Modul Terapeutik
- Terapi Teknik Neurofasilitasi
Exercise II

2,50

0,67
1,00
0,50
2,52

3,50

2,00
1,00

356

Sandi
C21T.300
1
C21T.600
2
C21T.500
2

C21T.100
2
C21T.110
2

C21T.200
1

C21T.110
3

C21T.600
3
C21T.500
3

C21T.100
3

Mata Kuliah/Modul
Modul IKFR
Neuromuskuler I
Modul Tatalaksana
Komprehensif (2)
Modul Kegiatan
Ilmiah II

Tutorial/Sub Modul
- Tatalaksana KFR pada
Neuropatik Perifer

- Journal Reading 2
- Sajian Kasus Khusus
- Sari Pustaka/Referat
Semester 3
Modul
- Tatalaksana KFR pada Motor
Habilitasi/Rehabilitasi
Delay Development
Anak II
Modul Terapi IKFRM
- UE-LE Orthosis
II (Prostetik-Ortotik
- UE-LE Prostesis
dan Alat bantu)
- Shoe Prescription
- Spinal Orthosis
- Peresepan Kursi Roda dan Alat
bantu (cruth, Cane and Walker)
Modul
- Tatalaksana KFR pada
Muskuloskeletal I
Osteoporosis
- Tatalaksana KFR pada
Tendinitis
- Tatalaksana KFR pada Fraktur
- Tatalaksana KFR pada
Amputasi
- Tatalaksana KFR pada Luka
Bakar
Modul Terapi IKFRM
- Fisiologi menelan dan
II I
komunikasi
- Tatalaksana KFR pada
gangguan menelan
- Tatalaksana KFR pada
gangguan komunikasi
Modul Tatalaksana
Komprehensif (3)
Modul Kegiatan
- Journal Reading 3
Ilmiah III
- Journal Reading 4
- Sajian Kasus pendek
- Sari Pustaka/Referat
Semester 4
Modul
- Tatalaksana KFR pada Cerebral
Habilitasi/Rehabilitasi
Palsy
Anak III
- Pemeriksaan dan tatalaksana
KFR pada gangguan menelan

SKS
2,00
0,67
1,00
0,50
1,00
2,36
4,00

2,50

2,00

0,67
1,00
1,00
0,50
1,00
2,50

357

Sandi

Mata Kuliah/Modul

C21T.020
1

Modul Prosedur
IKFR Spesialistik dan
subspesialistik I

C21T.300
2
C21T.400
1

Modul IKFR
Neuromuskuler II
Modul IKFR
Kardiorespirasi I

C21T.200
2

Modul
Muskuloskeletal II

C21T.600
4
C21T.500
4

Modul Tatalaksana
Komprehensif (4)
Modul Kegiatan
Ilmiah IV

C21T.510
1

Modul Penelitian I,
Modul Prosposal
Penelitian

C21T.100
4
C21T.400
2

Modul
Habilitasi/Rehabilitasi
Anak IV
Modul IKFR
Kardiorespirasi II

C21T.200
3
C21T.600
5

Modul
Muskuloskeletal III
Modul Tatalaksana
Komprehensif (5)

Tutorial/Sub Modul
(feeding)
USG
CT Scan dan foto polos
muskuloskeletal
Tatalaksana KFR pada
myofascial trigger point
sindrome (MTPS)
Tatalaksana KFR pada Spinal
Cord Injury (SCI)
Pemeriksaan Dasar
Kardiopulmoner
Modul Uji Latih
Tatalaksana KFP pada nyeri
punggung bawah
Tatalaksana KFP pada nyeri
lutut
Tatalaksana KFP pada nyeri
bahu

SKS
1,50

2,09
2,50

2,50

0,67
-

Journal Reading 5
Journal Reading 6
Sajian Kasus khusus
Sari Pustaka/Referat

Semester 5
- Kelainan Kongenital /Spina
Bifida
- Tatalaksana pada Skoliosis
- Tatalaksana pada gangguan
paru restriktif
- Tatalaksana pada pasca infark
Myocard
- Tatalaksana Rehabilitasi pada
CABG
- Tatalaksana pada gangguan
paru obstruktif (asma, PPOK)
- Tatalaksana KFR pada Atritis

1,00
1,00
0,50
1,00
1,00

2,04

3,50

1,69
0,67

358

Sandi
C21T.500
5

Mata Kuliah/Modul
Modul Kegiatan
Ilmiah V

C21T.510
2

Modul Penelitian II,


Modul Hasil
Penelitian

C21T.100
5

Modul
Habilitasi/Rehabilitasi
Anak V

C21T.300
3
C21T.020
2

Modul IKFR
Neuromuskuler III
Modul Prosedur
IKFR Spesialistik dan
subspesialistik II

C21T.600
6
C21T.500
6
C21T.510
3

Modul Tatalaksana
Komprehensif (6)
Modul Kegiatan
Ilmiah VI
Modul Penelitian III,
Ujian Tesis

C21T.100
6
C21T.300
4
C21T.400
3

Modul
Habilitasi/Rehabilitasi
Anak VI
Modul IKFR
Neuromuskuler IV
Modul IKFR
Kardiorespirasi III

C21T.200
4

Modul
Muskuloskeletal IV

C21T.120

Modul Terapeutik

Tutorial/Sub Modul
Journal Reading 7
Journal Reading 8
Sajian Kasus khusus
Sari Pustaka/Referat

Semester 6
- Autism syndrome + ADHD
- Tatalaksana KFR pada
gangguan Integrasi Sensori
- Tatalaksana KFR pada
Poliomyelitis
- Tatalaksana pada Kelainan
angulasi lutut dan kaki
- EMG, Biofeedback
- Tatalaksana KFR pada
myofascial trigger point
Sindrome (MTPS)
- injeksi intralesional dan
intraartikular
- Hidrotherapy

SKS
1,00
1,00
0,50
1,00
1,67

4,50

1,75
3,87

0,67
- Sajian Kasus pendek
- Sari Pustaka/Referat

Semester 7
- Tatalaksana KFR pada SMA
- Tatalaksana KFR pada myopati
(DMP)
- Movement disorder : Sindroma
Parkinson
- Tatalaksana KFR Pre dan
pasca bedah thorax (paru,
jantung)
- Tatalaksana KFR pada Repair
Tendon
- Tatalaksana KFR pada sprain
pergelangan kaki
- Terapi okupasional

0,50
1,00
1,67

2,00

1,50
1,75

2,00

1,28

359

Sandi
3
C21T.000
5
C21T.600
7
C21T.500
7

C21T.100
7
C21T.300
5
C21T.400
4
C21T.200
5
C21T.000
4
C21T.000
6
C21T.600
8
C21T.500
8

Mata Kuliah/Modul
Exercise III
Modul Paliatif

Tutorial/Sub Modul

SKS
1,69

- HIV/AIDS
- Kanker

Modul Tatalaksana
Komprehensif (7)
Modul Kegiatan
Ilmiah VII

0,67

- Journal Reading 7
- Journal Reading 8
- Sajian Kasus khusus
Semester 8
Modul
- Sindroma Down, Kelainan
Habilitasi/Rehabilitasi
kongenital lain
Anak VII
Modul IKFR
- Tatalaksana KFR pada Stroke
Neuromuskuler V
Modul IKFR
- Gagal jantung kronik
Kardiorespirasi IV
Modul
- COR : Cedera ACL
Muskuloskeletal V
Modul Geriatri
- Demensia/Alzeimer
- Artroplasti sendi
Modul RBM

1,00
1,00
0,50

Modul Tatalaksana
Komprehensif (8)
Modul Kegiatan
Ilmiah VIII

0,67

1,75
2,94
1,28
1,30
1,75
0,50

0,50

- Sajian Kasus khusus

Deskripsi mata kuliah/modul Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, dalam tabel
berikut :
Tabel 2.3 Total Beban Studi
Akademik
sks
%
Bagian pertama (pendidikan dasar ilmiah)
MDK
4,00
MDU
1,00
Materi

Profesi
sks
%
6,22
-

Bagian kedua (Pendidikan bidang kekhususan IKFR)


MKK
12,44
13,24
MKU
1,50
4,25

Jumlah
sks
11,22
10,22
1,00
31,43
25,68
5,75

360

Akademik
Profesi
sks
%
sks
%
Bagian ketiga (Kegiatan ilmiah riset / penguasaan
keterampilan profesional)
MPK
16,49
28,34
MPA-2
19,00
MPA-1
4,34

Jumlah
sks
68,17

35,43

110,99

Materi

Jumlah

3.

75,39

44,83
19,00
4,34

Beban Studi Materi Pendidikan


1.
Materi Dasar Umum (MDU)
Materi Dasar Umum adalah materi pendidikan yang memberikan dasar
pengetahuan bagi setiap ilmuwan agar menjadi seorang
penggagas dan peneliti. Materi ini merupakan materi dasar yang
tidak menyangkut bidang ilmu kedokteran secara langsung.

Tabel 2.4 Materi Dasar Umum


No
1

Materi Dasar Umum


Filsafat Ilmu Pengetahuan & Etika
profesi
Jumlah

SKS
A
P
1,00
1,00

Pokok bahasan ini dipakai sebagai pendidikan dasar bersama untuk


pencapaian bidang Spesialis-1 dan bidang keterampilan
keprofesian.
2.

Materi Dasar Khusus (MDK)


Materi Dasar Khusus berisi dasar pengetahuan keahlian dalam
bidang ilmu kedokteran agar peserta mampu mengenali,
memecahkan masalah, menjadi pengembang ilmu dan pada
gilirannya dapat menerapkan keprofesiannya dalam kualitas yang
tinggi.
Tabel 2.5 Materi Dasar Khusus
No
1
2
3

Materi Dasar Khusus

Modul Dasar IKFRM I


Modul Dasar IKFRM II
Modul Pemeriksaan IKFR
umlah

SKS
A
2,00
1,00
1,00
4,00

P
2,50
1,50
2,22
6,22

361

Materi Dasar Umun dan Materi Dasar Khusus merupakan program


dasar pendalaman akademik sebagai seorang spesialis yang
dikelola sebagian oleh FK (Pendidikan dasar).
3. Materi Keahlian Umum (MKU)
Materi Keahlian Umum adalah materi pendidikan yang memberikan
dasar pengetahuan dan keterampilan dalam bidang IKFR agar
mampu menangani masalah melalui pendekatan dan intervensi IKFR
secara ilmiah.
Tabel 2.6 Materi Keahlian Umum
No
Materi Keahlian Umum
1.

2.

Modul Prosedur IKFR Spesialistik dan


sub spesialistik I
- USG
- CT Scan dan foto polos
muskuloskeletal
Modul Neuromuskuler III
- EMG, Biofeedback
Jumlah

SKS
A
1,00

P
3,00

0,50

1,25

1,50

4,25

Materi Keahlian Umum ini termasuk materi pendidikan spesialis-1


dan pendidikan keprofesian Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi
dan diselenggarakan sepenuhnya oleh Departemen Ilmu
Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi
4. Materi Keahlian Khusus (MKK)
Materi Keahlian Khusus adalah materi pendidikan yang
memberikan pengetahuan dana keterampilan dalam IKFR agar
menjadi pakar dalam bidangnya.
Materi Keahlian Khusus merupakan materi pendidikan dari
berbagai subdisiplin dalam lingkup Ilmu Kedokteran Fisik dan
Rehabilitasi.
Tabel 2.7 Materi Keahlian Khusus
No
1
2
3

Materi Keahlian Khusus


Modul habilitasi/Rehabilitasi
Anak I
Modul Terapeutik Exercise 1
Modul Modul Terapi IKFRM I
(Modalitas)

SKS
A
1,00

P
1,52

1,00
1,50

1,00
2,00

362

No

Materi Keahlian Khusus

Modul Habilitasi/Rehabilitasi
Anak II
Modul Prostetik-Ortotik dan alat
bantu
Modul IKFR Muskuloskeletal I
Modul IKFR Neuromuskuler I
Modul IKFR Muskuloskeletal II
Modul Kardiorespirasi I
Modul Tatalaksana
Komprehensif I
Modul Tatalaksana
Komprehensif II
Modul Tatalaksana
Komprehensif III
Modul Tatalaksana
Komprehensif IV
Modul Tatalaksana
Komprehensif V
Modul Tatalaksana
Komprehensif VI
Modul Tatalaksana
Komprehensif VII
Modul Tatalaksana
Komprehensif VIII
Modul Neuromuskuler IV
Jumlah

5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

5.

SKS
A
1,00

P
1,36

2,00

2,00

1,00
1,00
1,50
1,00
0,67
0,67
0,67
0,67
0,67
0,67
0,67
0,67
1,44
12,44

13,24

Materi Penerapan Akademik (MPA)


Materi Penerapan Akademik bersisi kegiatan akademik berupa
penerapan ilmu yang didapat sebelumnya. Materi ini merupakan
rangkaian kegiatan ilmiah yang langsung berhubungan dengan
keilmuan yang ditekuni. Kegiatan ini bertujuan membina
pengetahuan, sikap dan tingkah laku ilmuwan, menguasai metode
riset ilmiah, mampu membuat tulisan ilmiah, dan menulis tesis
ilmiah untuk mendukung keterampilan keprofesian sebagai Dokter
Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi berdasarkan
kedokteran berbasis bukti.
Materi Penerapan Akademik terdiri dari 2 kelompok sebagai
berikut :
a. Kelompok 1 : MPA-1
Materi penerapan Akademik kelompok 1 terdiri dari :

363

b.

Modul Proposal Penelitian, Modul Hasil Penelitian dan


Tesis

Kelompok 2 : MPA-2
Materi Penerapan Akademik kelompok 2 terdiri dari :

Journal Reading

Sajian Kasus Umum

Sajian Kasus Khusus

Sajian Kasus Pendek

Sari Pustaka

Materi Penerapan Akademik kelompok 2 termasuk dalam kegiatan


pelatihan keprofesian, sebagai penguat untuk mendapat
keterampilan keprofesian sebagai seorang Dokter Spesialis
Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi yang merupakan syarat utama
untuk mendapatkan gelar SpKFR.
6.

Materi Penerapan Keprofesian (MPK)


Materi Penerapan Keprofesian berisi pendidikan dan pelatihan
penerapan keprofesian dengan menerapkan ilmu yang didapatkan
sebelumnya secara nyata melalui berbagai kegiatan keprofesian
klinik bidang IKFR.
Proses kegiatan pelatihan keprofesian dilaksanakan di Rumah
Sakit Penididikan Utama dan di Rumah Sakit Jejaring, baik
didalam maupun diluar jam kerja (tugas luar), agar mendapatkan
keterampilanberupa penguasaan kasus-kasus sehingga dapat
diterapkan berbagai prosedur Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi
dengan jumlah dan variasi yang sesuai untuk mencapai tingkat
kompetensi yang diharapkan.
Kegiatan pelatihan keprofesian bertujuan untuk mencapai
keterampilan (kompetensi) profesional berkualitas tinggi yang
didukukung oleh pengetahuan akademik yang tangguh dan
mantap (scientist physician). Dengan kompetensi tersebut di atas
pelayanan kesehatan akan bertaraf dan berkualitas tinggi sesuai
perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran. Strategi yang dipilih
ialah pelatihan keprofesian dengan cara kerja praktik di ruang
rawat inap dan dipoliklinik atau unit rawat jalan melalui pendekatan
kedokteran berbasis bukti. Semua kegiatan pendidikan
keprofesian harus dicatat dalam buku log.

364

Tabel 2.8 Materi Penerapan Keprofesian


No

Materi Penerapan Keprofesian

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
13
14
15
16
17

Modul Terapeutik exercise 2


Modul IKFR Muskuloskeletal I
Modul IKFR Neuromuskuler I
Modul Terapi IKFRM 3
Modul IKFR Muskuloskeletal II
Modul Kardiorespirasi I
Modul IKFR Neuromuskuler II
Modul Habilitasi/Rehabilitasi Anak IV
Modul Kardiorespirasi II
Modul IKFR Muskuloskeletal III
Modul Geriatri
Modul IKFR Neuromuskuler III
Modul IKFR Kardiorespirasi III
Modul Habilitasi/Rehabilitasi Anak V
Modul IKFR Muskuloskeletal IV
Modul IKFR Neuromuskuler IV
Modul IKFR Neuromuskuler V
Modul Habilitasi/Rehabilitasi Anak VI
Modul Prosedur IKFR Spesialistik
dan sub spesialistik II
Modul Paliatif
Modul RBM
Modul Habilitasi/Rehabilitasi Anak
VII
Modul Teurapeutik exercise III
Modul Kardiorespirasi III
Jumlah

18
19
20
21
22
24

SKS
A
0,50

P
0,50
1,50
1,00
1,00
1,00
1,50
1,09
1,15
2,00
1,00
1,00
1,19
1,00
3,00
0,80
1,00
1,50
1,00
2,54

1,00

1,00
0,89
1,50
1,00
0,75
0,50
0,75
1.50
0,50
0,50
1,00
1,33
0,69
1,75

1,00
0,50
0,75

0,58
0,75
16,49

0,78
0,54
28,34

Tujuan kerja praktik selain untuk mencapai keterampilan keprofesian (skill)


juga untuk penguat dalam penguasaan keilmuan (knowledge) melalui
kegiatan materi penerapan akademik (terutama kelompok 2).
4. PRASYARAT MODUL
Prasyarat modul merupakan suatu syarat yang harus di tempuh dalam
pelaksanaan modul berikutnya.
Tabel 2.9 Prasyarat Modul
Modul
Prasyarat

Modul Neuropatik

Modul Dasar IKFR I dan


Perifer
Modul Pemeriksaan IKFR

365

Modul

Modul Terapi IKFR III

Prasyarat
Modul Dasar IKFR I dan
Modul Fisiologi Latihan
Modul Terapi IKFR I dan II

Modul IKFR
Neuromuskuler I

Modul IKFR
Neuromuskuler II

Modul Dasar IKFR I dan


Modul Fisiologi Latihan

Modul IKFR
Neuromuskuler III

Modul IKFR
Neuromuskuler IV

Modul IKFR
Neuromuskuler II

Modul IKFR
Neuromuskuler III

Stase di RS lain

Modul
Neuromuskuler IV

Modul
Neuromuskuler V

Deep Heating (SWD,


MWD dan USD)

Sudah melewati :
- Superficial Heating
- Biologi dan Patobiologi
- Fisiologi KFR

Tatalaksana KFR
pada Osteoporosis

Sudah Modul Kines


(semua) dan Biologi dan
Patobiologi

Demensia / Alzeimer

Sudah melewati modul :


- Neuromuscular I III
- Musculoskeletal I III
- Paliatif

Artroplasti sendi

Sudah melewati modul :


- Hip & Knee (Kines)
- Kelainan Angulasi Lutut
& Kaki

366

Modul

Modul Arthritis

Prasyarat
- Tatalaksana KFR pada
Artritis

Modul KFR Pre &


Pasca Bedah Thera
ex (IKFR
Kardiorespirasi III)
Modul Tatalaksana
Pada Gangguan Paru
Restriktif

Modul Therapeutik
Exercise I
Modul Kardiorespi I & II

Modul IKFR Kardiorespi I,


Diantaranya :
- Pemeriksaan Dasar
Kardiopulmoner
- Anatomi, Fisiologi
system Kardiorespiratori
- Patofisiologi Gangguan
Sistem Kardiorespirasi
- Modul Uji Jalan

Modul IKFR Kardiorespi I,


Diantaranya :
- Pemeriksaan Dasar
Kardiopulmoner
- Anatomi, Fisiologi
system Kardiorespiratori
- Patofisiologi Gangguan
Sistem Kardiorespirasi
- Modul Uji Jalan

Modul Terapi IKFRM III:


Fisiologi Menelan Dan
Komunikasi

Modul Anatomi dan

Modul Tatalaksana
Pada Gangguan Paru
Obstruktif (asma,
PPOK)

Tatalaksana Pada
Gangguan Menelan
Spinal Orthosis

Kinesiologi UE, LE, Spine


Pemeriksaan Dasar
Muskuloskeletal
Modul Terapi IKFRM I
Modul Thera ex I & II
Modul Therapi IKFRM II

367

Modul

Prasyarat
Kinesiologi spine

Kelainan Konginital
Spina Bifida

Tatalaksana Scoliosis

Tatalaksana KFR
Pada Repair Tendon

Modul Luka Bakar

EMG Biofeedback

Modul Artoplasti
Sendi

Modul Myofascial
Triger Point (MTPS)

Modul Kinesio
tapping

Modul UE, LE
Orthosis

Modul Tatalaksana
KFR Pada Fraktur

Modul Anatomi dan


Kinesiologi LE
Pemeriksaan Dasar
Muskuloskeletal

Modul Pemeriksaan Dasar


Muskuloskeletal
Modul Anatomi dan
Kinesiologi seluruh alat
gerak dan spine

Modul Fisiologi KFR

Modul Anatomi dan


Kinesiologi LE

Modul Nyeri leher


Modul Anatomi dan
Modul Pemeriksaan Dasar
Muskuloskeletal

Modul Anatomi dan


Kinesiologi
Modul Pemeriksaan Dasar
Muskuloskeletal

Modul Fisiologi KFR


Pemeriksaan Dasar
Neuromuskuler
Modul Anatomi dan
Kinesiologi Spine

Modul Anatomi dan


Kinesiologi
Modul Pemeriksaan Dasar
Muskuloskeletal

Modul Fisiologi
Latihan

Modul UE, LE Orthosis

Modul Tatalaksana

Modul Fisiologi KFR

368

Modul
KFR Pada nyeri Lutut

Prasyarat

Modul Tatalaksana
KFR Pada Nyeri
Bahu

Modul Tatalaksana
KFR Pada Sprain
Pergelangan Kaki

Modul Injeksi
Intralesional dan
Intraartikular

Modul COR : Cedera


ACL

Modul Anatomi dan


Kinesiologi UE
Pemeriksaan Dasar
Muskuloskeletal
Modul Anatomi dan
Kinesiologi LE
Pemeriksaan Dasar
Muskuloskeletal
Modul Anatomi dan
Kinesiologi UE dan LE
Pemeriksaan Dasar
Muskuloskeletal

Modul Cold Therapy

Modul Anatomi dan


Kinesiologi
Pemeriksaan Dasar
Muskuloskeletal
Modul Anatomi dan
Kinesiologi LE
Pemeriksaan Dasar
Muskuloskeletal
Modul Fisiologi KFR

Modul Fisiologi
Latihan

Modul Fisiologi KFR

Modul Tatalaksana
KFR pada Amputasi

Modul Anatomi dan


Kinesiologi
Modul Pemeriksaan Dasar
Muskuloskeletal
Modul UE, LE Prostesis
Modul Fisiologi KFR

Modul Terapi
Stimulasi Elektrik

Tatalaksana KFR
Motor Delayed
Development

Modul Pemeriksaan Dasar


Pediatrik

369

Modul

Tatalaksana KFR
pada Cerebral Palsy

Pemeriksaan dan
Tatalaksana KFR
pada Gangguan
Menelan (feeding)

Prasyarat

Tataaksana KFR Motor


Delayed Development

Fisiologi Menelan dan


Komunikasi

C.
Evaluasi Hasil Belajar
Semua Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Kedokteran Fisik
dan Rehabilitasi FK Unpad mempunyai buku log yang merupakan bukti tertulis
setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh beserta tingkat kompetensi yang sudah
dicapai.
1. Evaluasi Hasil Pembelajaran
Tujuan evaluasi hasil pembelajaran adalah untuk mengetahui apakah telah
mencapai kemampuan akademik profesional (professional performance) sesuai
dengan kurikulum pendidikan. Secara artifisial kemampuan profesional tersebut
dapat dipilah-pilah dalam ranah sebagai berikut :
P pengetahuan (knowledge)
K keterampilan (skill)
S sikap (attitude)
Evaluasi selama masa pendidikan dilaksanakan secara bertahap, berkala
dan berkesinambungan. Evaluasi hasil pembelajaran bersifat sumatif untuk
menentukan keputusan disamping bersifat formatif untuk memberikan umpan
balik kepada peserta didik.
2. Evaluasi Tahap Pra-Kualifikasi
Evaluasi pada akhir semester pertama, untuk menentukan apakah peserta
dapat melanjutkan pendidikan pada semester-semester berikutnya. Bila dinilai
tidak mampu meneruskan studi maka diberikan keputusan untuk menghentikan
pendidikan. Bila mampu, peserta program dapat melanjutkan ke tahap
pendidikan berikutnya.
Tahap pra-kualifikasi disamping merupakan persyaratan untuk tahap
berikutnya juga merupakan tahap kualifikasi untuk menilai apakah mampu
meneruskan studi atau tidak. Bila dinilai tidak mampu meneruskan studi maka
diberikan keputusan untuk menghentikan pendidikan. Setelah dinyatakan lulus
semua evaluasi berkala diharuskan menempuh Evaluasi Nasional.
3. Evaluasi Kegiatan Akademik
Tujuan akademik ialah pencapaian pendalaman ilmu (knowledge). Evaluasi
yang digunakan ialah ujian obyektif yang meliputi berbagai cara sebagai berikut :

370

a.
b.

Ujian Tulis
Esai modifikasi (modified essay question)
Pilihan jamak (multiple choice question)
Ujian Lisan (wawancara)
Memakai lembar penilaian (check list atau rating scale)

4. Kegiatan Akademik Modul


Evaluasi kegiatan akademik modul bersifat sumatif dan dilakukan pada
akhir setiap kegiatan serta diselenggarakan oleh staf penilai modul bersangkutan.
Penilai kegiatan akademik modul didapat dari :
a. Modul pembekalan
Modul pengantar IKFR
Modul Dasar IKFR
Modul Anatomi, Kinesiologi, dan Fisiologi Rehabilitasi
Modul Terapi Modalitas dalam KFR
Modul Latihan Terapeutik
Modul Prostetik-ortotik dan alat Bantu
b.

5.

Modul divisi
Habilitasi/Rehabilitasi Medik Anak
Muskuloskeletal
Neuromuskuler
Kardiorespirasi
Geriatri

Kegiatan Akademik Non Modul


Evaluasi kegiatan akademik non modul terjadwal dilakukan setiap akhir
kegiatan dengan memakai lembar penilaian. Penilaian kegiatan akademik nonmodul didapat dari penilaian :

Sajian Kasus Panjang (long case)

Sajian Kasus Pendek (short case)

Journal reading

Tinjauan Pustaka

Proposal Penelitian

Tesis

Presentasi di luar institusi

Evaluasi kegiatan pelatihan keprofesian


Tujuan yang ingin dicapai pada kegiatan pelatihan keprofesian ialah
kemampuan profesional Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan
Rehabilitasi. Oleh karena itu fokus penilaian ialah pencapaian
keterampilan dan kemampuan (skill). Namun pada hakekatnya
penilaian kemampuan profesional merupakan penilaian komprehensif
terhadap ketiga ranah (knowlenge, skill, attitude) tersebut diatas.
Umumnya cara yang digunakan adalah :

371

o
o
o

Ujian komprehensif dengan menggunakan pasien sebagai entry


Ujian praktik (ujian keterampilan)
Penilaian sehari-hari yang berkesinambungan (continuous
assessment)

Penilaian kegiatan pelatihan keprofesian didapat dari penilaian selama


bekerja di divisi yang meliputi:

Tatalaksana pasien rawat inap

Tatalaksana pasien rawat jalan

Prosedur KFR
Evaluasi kegiatan pelatihan keprofesian dilakukan dengan memakai lembar
penilaian. Ujian komprehensif dan ujian praktik yang bersifat sumatif
dilakukan pada akhir semester 8.
6.

Rapat Evaluasi
Penetuan keputusan terhadap hasil evaluasi ditetapkan melalui rapat
evaluasi program studi yang dilaksanakan minimal 2 kali dalam 1 semester atau
setiap 3 (tiga) bulan sekali.
a. Ketua
Ketua Program Studi (merangkap anggota)
b. Kelompok Fungsional (merangkap anggota)
o Pendidikan PSSK dan PSPD serta evaluasi
o Pendidikan PPDS dan sumber daya
o Penelitian, kerja sama, dan pengabdian masyarakat
c. Anggota
o Kepala Departemen IKFR FK UNPAD
o Para pembimbing semester
o Para anggota Divisi
o Para penanggungjawab modul
o Para penanggungjawab rumah sakit mitra
o Staf pengajar IKFR
D. Pedoman Ujian
1. Jenis-jenis Ujian Yang Digunakan
a. Ujian Tulis
Ujian tulis dilakukan setiap akhir semester. Berbagai divisi dan modul
memberi masukan sesuai dengan modul yang dijalankan. Ujian ini
dimaksudkan sebagai ujian formatif untuk mengetahui sejauh mana
pokok bahasan telah dipahami peserta program. Ujian diberikan dalam
bentuk soal pilihan jamak atau esai sesuai modul yang diberikan.

372

b. Ujian lisan/praktik
Ujian lisan praktik dilakukan pada akhir semester 1 (pemeriksaan
fisik), semester 2 (modalitas), dan semester 3 (ortotik prostetik). Pada akhir
rotasi / modul dapat diadakan ujian lisan tambahan. Penilaian pada ujian
praktik mempergunakan lembar penilaian yang telah dipersiapkan. Pasien
(kasus) dapat dipakai sebagai entry untuk membahas lingkup Ilmu
Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi secara komprehensif sesuai modul,
semester 1 8.
Penilaian sehari-hari (Continuous assessment)
Penilaian kegiatan sehari-hari terutama dilakukan pada setiap unit (kerja di
poliklinik, kerja bangsal, penyuluhan dan kegiatan lain) yang mencakup
asfek kognitif, psikomotor dan afektif. Penilaian pada umumnya dilakukan
dengan menggunakan lembar penilaian (observation sheet : rating
scale/checklist)
Pemberian angka, nilai mutu, markah dan interprestasi
Cara yang dipakai untuk memberi angka, nilai mutu, markah dan
interprestasi dapat dilihat pada tabel menunjukkan predikat yang diberikan
setelah menyelesaikan satu modul.
Tabel 2.10 Nilai, huruf, dan angka mutu pada penilaian
Nilai Akhir
Huruf Mutu
Angka Mutu
80 NA 100

3,20 AM 4,00

68 NA < 80

2,72 AM < 3,20

56 NA < 68

2,24 AM < 2,72

45 NA < 56

1,80 AM < 2,24

NA < 45

AM < 1,80

Tabel 2.11 Nilai batas lulus (NBL) ditetapkan sebagai berikut :


Angka
Nilai Mutu
Markah
Predikat
70
3,00
B
Baik
Tabel 2.12 Predikat yang diberikan pada hasil penilaian
Nilai Mutu
Predikat
Dengan pujian (cum laude)
3,71 4,00
3,41 3,70
Sangat memuaskan
Memuaskan
2,75 3,40
Nilai mutu, markah dan predikat tersebut mengacu Peraturan Rektor
Universitas Padjadjaran tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan
Pendidikan Universitas Padjadjaran Tahun Akademik 2014/2015.

373

Kelulusan dengan predikat dengan pujian (cum laude) tidak hanya


berdasarkan pada IPK, tetapi dengan mempertimbangkan masa studi
maksimum, yakni masa studi minimum (N) ditambah 0,5 tahun (n+0,5)
tahun.
Batas akhir masa studi (Masa Studi Maksimal) Prodi IKFR adalah : n + n
(n = lama masa studi terjadwal) yaitu : 8 + (8) = 12 Semester
c.

Ujian Institusional
Ujian Institusional diselenggarakan oleh Prodi PPDS-1 IKFR 2 kali /
tahun, yaitu setiap bulan Februari dan Agustus. Kriteria dan jumlah
penguji dalam Ujian Institusional ditentukan oleh Prodi PPDS-1 IKFR.
Materi ujian disiapkan oleh Panitia Ujian Institusional IKFR FK Unpad.
Ujan Institusional terdiri Ujian Tulis dan Ujian Lisan. Teknis
pelaksanaan dan syarat-syarat kelulusan mengikuti aturan yang
ditetapkan untuk ujian nasional.

d. Ujian Nasional (National Board Examination)


Ujian Nasional diselenggarakan oleh Kolegium PPDS-1 IKFR 2 kali /
tahun, yaitu setiap bulan Desember dan Juni. Kriteria dan jumlah
penguji dalam Ujian Institusional ditentukan oleh Kolegium IKFR.
Materi ujian disiapkan oleh Komisi Ujian Nasional IKFR FK Unpad.
Ujan Nasional terdiri Ujian Tulis dan Ujian Lisan.
e.

Unas (Ujian Nasional) Tulis


Ujian Nasional Tulis diselenggarakan 2 minggu sebelum Ujian
Nasional Lisan dan dilakukan di Pusat-pusat Pendidikan Dokter
Spesialis-1 IKFR di Indonesia dalam waktu yang bersamaan dan
dikoordinasi oleh masing-masing KPS. Kelulusan peserta didik dalam
Ujian Nasional Tulis merupakan prasyarat untuk dapat mengikuti Ujian
Nasional Lisan. Nilai Batas Lulus (NBL) Ujian Nasional Tulis adalah 60
dari nilai maksimum 100.

f.

Unas (Ujian Nasional) Lisan


Ujian Nasional Lisan diselenggarakan setiap bulan Januari dan Juli
dan diselenggarakan secara bergantian di satu Pusat Pendidikan
Dokter Spesialis-1 IKFR yang ditentukan oleh Kolegium IKFR. Materi
Ujian Nasional Lisan disiapkan oleh Komisi Ujian Nasional Kolegium
IKFR.
Materi Ujian Nasional Lisan terdiri dari 4 (empat) subjek, yaitu :
1) Ujian Kasus dengan materi uji
Keterampilan pemeriksaan
Keterampilan pembuatan catatan medik
Manajemen kasus
NBL (Nilai Batas Lulus) : 70 dari nilai maksimum 100
2) Pengetahuan Umum (General Knowledge) dalam IKFR

374

3) Modalitas Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi


4) Ortotik-Prostetik Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi
Dengan catatan nilai hasil akhir untuk materi butir 2, 3 dan 4, tidak
kurang dari 60 untuk masing-masing materi.

E.

Tata Tertib
1. Kehadiran
a) Daftar hadir harus diisi pada saat kedatangan, kepulangan dan
setiap acara ilmiah
b) Daftar hadir diisi dalam rentang waktu 15 menit setelah acara
dimulai, kemudian diserahkan kepada konsulen pembimbing saat
itu
c) Keterlambatan kehadiran sampai 15 menit setelah acara ilmiah
dimulai, dianggap absen hari.
d) Keterlambatan kehadiran lebih dari 15 menit pada acara ilmiah
(setelah acara dimulai) dianggap absen hari, kecuali bila telah
meminta ijin sebelumnya.
e) Keterlambatan kehadiran harus disertai dengan alasan yang jelas
dan dapat diterima (diketahui oleh pembimbing acara ilmiah dan
chief residen).
f) Contoh alasan yang dapat diterima adalah: yang bersangkutan sakit
atau keluarga dekat (suami/istri/anak/orang tua) sakit serta
keperluan yang memerlukan kehadiran yang bersangkutan seperti
memperpanjang SIM, pengambilan rapor anak dan lain sebagainya.
(Hal-hal lain yang ada diluar contoh ini dipertimbangkan oleh
pembimbing acara ilmiah yang bersangkutan).
g) Ketidakhadiran dalam modul wajib maksimal 10% dari total waktu
pelaksanaan modul hingga selesai, bila peserta PPDS-1 tidak
mengikuti modul lebih dari 10% alokasi waktu maka peserta PPDS1 tersebut harus mengulang modul tersebut dan tidak dapat
mengambil modul yang menjadikan modul tersebut sebagai
prasyaratnya di semester berikutnya.
2.

Peraturan Ketidak hadiran


Ketidakhadiran tidak diperbolehkan lebih dari 5 (lima) hari per semester
(termasuk cuti dan ijin), tidak bersifat kumulatif
Ketentuan Umum
Sebelum dan sesudah cuti /ijin, tugas-tugas yang bersangkutan harus
dialih tugaskan kepada yang ditunjuk untuk menggantikan yang cuti/ijin
dengan sepengetahuan koordinator pelayanan Departemen IKFR
RSHS-FKUP.

375

3.

Ijin Meninggalkan Tempat Tugas


a) Meninggalkan Tempat Pada Waktu Bertugas
Apabila peserta meninggalkan tempat tugas pada jam kerja,
peserta tersebut diwajibkan untuk meminta ijin dahulu kepada
KPS dan atau penanggungjawab tempat bertugas (koordinator
pelayanan)
Apabila peserta tidak dapat dapat menghadiri kegiatan ilmiah di
departemen oleh karena masih ada pekerjaan ditempat tugas
yang tidak dapat ditinggalkan atau karena ada keperluan pribadi
yang mendesak, maka peserta pendidikan diwajibkan
memberitahu/meminta ijin pembimbing kegiatan ilmiah tersebut.
b) Meninggalkan Tempat Tugas Selama Satu Hari
Apabila peserta tidak dapat hadir selama satu hari, maka
peserta PPDS-1 tersebut harus meminta ijin kepada KPS dan
pembimbing kegiatan ilmiah hari tersebut.
Apabila peserta PPDS-1 tidak dapat hadir selama satu hari
karena mendapat tugas pendidikan dari Departemen, peserta
PPDS-1 tersebut diwajibkan memberitahukan kepada KPS,
penanggungjawab tempat bertugas dan pembimbing kegiatan
ilmiah hari tersebut.
Apabila tidak dapat hadir selama satu hari karena sakit, harus
segera memberitahukan KPS dan penanggung jawab
ditempatnya bertugas secara tertulis atau melalui telepon.
Surat ijin tertulis telah disetujui oleh penanggung jawab
ditempatnya bertugas dan segera diberikan ke Sekretaris
Pendidikan.
c) Meninggalkan Tempat Tugas Lebih Dari Satu Hari
Apabila peserta PPDS-1 akan meninggalkan tempat tugas lebih dari
satu hari, maka peserta PPDS-1 tersebut diwajibkan untuk
mengajukan permohonan tertulis yang ditujukan kepada KPS/SPS,
setelah terlebih dahulu meminta ijin dan mendapat persetujuan
tertulis dari penanggung jawab di tempatnya bertugas dengan
memberitahukan kepada pembimbing semester.
d) Meninggalkan Tempat Tugas Untuk Penelitian
Untuk keperluan penelitian peserta PPDS-1 yang dikerjakan dalam jam
kerja harus mendapatkan ijin tertulis dari KPS atas sepengetahuan
pembimbing penelitian. Sebelum dilaksanakannya penelitian maka
pembimbing harus menginformasikan tentang pelaksanaan
penelitian yang sedang dilaksanakan dalam rapat rutin pendidikan.

376

4.

Cuti
Sehubungan dengan peraturan akademik tentang cuti yang mengacu
pada aturan dasar Pendidikan FK UNPAD tentang cuti akademik, maka
cuti lain di luar cuti akademik diatur oleh Program Studi masing-masing.
a.

Cuti Tahunan
1) Permohonan cuti dapat diajukan setelah menjalani pendidikan
selama 2 (dua) semester
2) Permohonan cuti diajukan selambatnya 1 (satu) bulan sebelum
tanggalnya.
3) Permohonan cuti diajukan kepada Kepala Departemen melalui
Ketua Program Studi/Sekretaris Program Studi, setelah
sebelumnya
mendapatkan
persetujuan
tertulis
dari
penanggungjawab di tempatnya bertugas dengan dilengkapi
data mengenai :
Alamat pada saat cuti
Sejawat Rehabilitasi Medik yang bertugas / menggantikan
ditempat bertugas
Cuti yang telah diambil dalam tahun tersebut
4) Pengajuan permohonan cuti harus menggunakan formulir yang
tersedia di RSHS
5) Ijin/cuti hanya diberikan selama tidak mengganggu kelancaran
kegiatan.
6) Cuti tahunan yang diambil sekitar Hari Raya Idul Fitri dan
Natal/tahun Baru diajukan secara kolektif melalui chief residen
selambat-lambatnya 3 (tiga) minggu sebelum Hari Raya
/Natal/Tahun Baru tersebut.

b.

Cuti Sakit/Hamil/Melahirkan
Peserta PPDS-1 dengan cuti sakit sampai dengan 2 (dua) hari
diwajibkan untuk memberitahu dokter penanggungjawab
pelayanan tempat bertugasnya secara lisan atau tertulis, secara
langsung atau melewati kurir.
Peserta PPDS-1 dengan cuti sakit lebih dari 2 (dua) hari, maka
diwajibkan untuk menyerahkan surat keterangan sakit yang
dikeluarkan oleh dokter kepada Ketua Program Studi /Sekretaris
Program Studi
Untuk cuti melahirkan diambil kebijaksanaan memberikan cuti
selama 10 (sepuluh) hari kerja dengan ketentuan tidak
diperbolehkan mengambil cuti atau ijin di semester berikutnya.
Cuti sakit yang lebih dari 2 (dua) minggu (10 hari kerja) berarti
mengulang semester tersebut.

c.

Cuti Akademik

377

1)

2)
3)
4)

5)

6)
7)

5.

Batasan
Cuti Akademik adalah hak peserta didik untuk berhenti
sementara dari kegiatan akademik untuk jangka waktu tertentu
dengan tetap memnuhi kewajiban yang ditentukan oleh FK
UNPAD atau Program Studi IKFR
Cuti akademik tidak dapat diberikan pada tahun akademik
pertama dan terakhir dari pendidikan (semester 1 dan 2,
semester 7 dan 8)
Lama cuti akademik : 6 (enam) bulan
Hak cuti akademik
Maksimal 2 (dua) kali selama masa Pendidikan, dengan
catatan: masa cuti akademik tetap diperhitungkan sebagai
masa toleransi batas maksimal keterlambatan pendidikan
(sesuai dengan batas toleransi keterlambatan masa pendidikan
selama 1 tahun)
Prosedur Pengajuan.
Permohonan ditujukan kepada KPS dengan tembusan kepada
: Kepala Departemen dan TKP. Bila KPS menyetujui
permohonan tersebut, maka permohonan cuti diteruskan ke
TKP dengan menyertakan data mengenai waktu dan lama cuti
akademik yang disetujui. TKP dapat memberikan kriteria
tambahan untuk permohonan cuti tersebut.
SPP: Peserta yang mengambil cuti akademik tetap diwajibkan
membayar SPP penuh
Ketentuan/kriteria tambahan
Apabila dipandang perlu, khususnya apabila ada aspek
pengetahuan dan keterampilan yang harus dievalusi
setelah cuti akademik, akan dilakukan Placement Test
(atau test lain yang diperlukan) dan ketentuan ini sudah
diberitahukan kepada pemohon sebelum cuti akademik
disetujui.
Peserta yang telah menyetujui ketentuan diatas
(ketentuan/kriteria tambahan) wajib tunduk pada hasil
evaluasi paska cuti akademik yang dilakukan, termasuk
harus mengulang semester sebelumnya (konsekuensi ini
wajib diberitahukan kepada yang bersangkutan)

Penghentian Pendidikan Peserta PPDS-1 FK Unpad


Peserta PPDS-1 IKFR dapat diberhentikan pendidikannya (drop out)
atas dasar :
a. Permintaan sendiri
Peserta mangajukan permintaan secara tertulis untuk
mengundurkan diri kepada Dekan FK UNPAD dengan tembusan
kepada Kepala Departemen dan KPS

378

b.

c.

d.

e.

Alasan kondisi atau kesehatan yang tidak memungkinkan untuk


melanjutkan studi
Alasan ini harus diperkuat dengan Surat Majelis Penguji
Kesehatan FK UNPAD RS Dr Hasan Sadikin
Hasil evaluasi menunjukkan tidak mampu lagi menyelesaikan studi
dalam pencapaian kompetensi yang dipersyaratkan. Kompetensi
yang dipersyaratkan bagi peserta adalah sebagai berikut:
Pada tahap pendidikan awal : IPK (Indeks prestasi kumulatif) pada
akhir semester II kurang dari 2,75.
Pada tahap pendidikan akhir : akhir semester VI tidak memperoleh
Indeks prestasi Kumulatif (IPK) 2,75.
Pelanggaran etika berat
Penghentian pendidikan dapat dijatuhkan tanpa peringatan bila
terdapat pelanggaran etika sangat berat berdasarkan hasil rapat
pleno Departemen berkoordinasi dengan Komite Medik RSHS
Bila masa pendidikan telah melebihi n+1/2n
n=lama pendidikan menurut katalog dengan Surat Keputusan
Dekan FK UNPAD

Syarat kelulusan mata kuliah :


1. Bagi peserta yang tidak lulus pada Ujian modul, maka peserta tersebut
diberi kesempatan melakukan 1 kali untuk melakukan ujian remedial
untuk modul yang bersangkutan
2. Jika hasil dari Ujian Ulangannya dinyatakan tidak lulus, maka
permasalahannya ini akan dibawa ke Rapat Yudisium I untuk dibahas
dan diputuskan langkah selanjutnya.
3. Bila dalam rapat Yudisium I diputuskan mahasiswa yang bersangkutan
mengulang modul, maka pengulangan modul dilakukan di akhir
semester VIII.
F.

Jenis Pelanggaran Dan Sanksi


1. Kriteria Penilaian Surat Peringatan
a). Sistem Penilaian
1) Penilaian dilakukan terhadap sikap, pengetahuan dan
keterampilan selama mengikuti pendidikan di Departemen
IKFR FK UNPAD
2) Sistem penilaian dilakukan berdasarkan derajat dari kesalahan
dan atau kelalaian yang dilakukan oleh
3) Derajat kesalahan dibedakan atas 3 kategori, yaitu : ringan,
sedang dan berat
4) Setiap kesalahan akan mendapatkan surat peringatan sesuai
dengan derajat kesalahan yang dilakukan