Anda di halaman 1dari 18

Love you ndra

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Pengukuran adalah membandingkan suatu besaran yang diukur dengan besaran lain sejenis
yang ditetapkan sebagai satuan. Pengukuran ada dua macam yaitu pengukuran langsung dan
pengukuran tidak langsung. Dalam makalah ini saya membahas mengenai pengukuran
langsung dan tidak langsung. Pengukuran langsung adalah pengukuran dengan alat ukur yang
mempunyai skala ukur yang telah dikalibrasikan dan hasil pengukuran dapat langsung dibaca
pada skala tersebut. Pengukuran tidak langsung itu sendiri adalah pengukuran dengan
instrumen pembanding, maksudnya dengan membandingkan dimensi yang diperoleh dari
hasil pengukuran kemudian membacanya dengan bantuan alat ukur langsung.
1.2

Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari makalah ini adalah:


a) Apa definisi alat ukur langsung dan tak langsung?
b) Apa saja macam-macam alat ukur langsung dan bagaimana menggunakannya?
c) Apa saja macam-macam alat ukur tidak langsung dan bagaimana menggunakannya?
1.3

Tujuan Penulisan

Pembuatan makalah ini selain untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Metologi
Industri juga untuk mengetahui:
a) Definisi alat ukur langsung dan tak langsung
b) Macam-macam alat ukur langsung dan bagaimana menggunakannya
c) Macam-macam alat ukur tidak langsung dan bagaimana menggunakannya

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Definisi Pengukuran Langsung


Pengukuran langsung adalah pengukuran yang hasil pengukurannya dapat langsung

dibaca pada skala ukur dari alat ukur yang digunakan. Penguuran langsung menggunakan
alat ukur yang mempunyai skala ukur yang telah dikalibrasikan dan hasil pengukuran dapat
langsung dibaca pada skala tersebut. Dengan demikian alat ukur yang digunakan adalah alat
ukur yang mempunyai skala yang bisa langsung dibaca skalanya, sebagai contoh antara lain
jangka sorong dan mikrometer.
2.2

Macam-Macam Alat Ukur Langsung


Alat ukur langsung yang banyak digunakan dalam bidang otomotif antara lain :

jangka sorong dan mikrometer.


a) Jangka Sorong
Alat ukur ini dalam praktik sehari-hari mempunyai banyak sebutan antara lain : mistar
ingsut, sketmat, sigmat, atau vernier caliper. Jangka sorong ada 2 jenis yaitu jangka sorong
analog dan jangka sorong digital. Pada gambar 2.1 dapat dilihat bentuk jangka sorong analog
dan jangka sorong digital

(a)

(b)
Gambar 2.1 (a) Jangka sorong analog (b) Jangka sorong digital
Fungsi Jangka Sorong

Untuk mengukur suatu benda dari sisi luar dengan cara diapit pada rahang luar.
Untuk mengukur sisi dalam suatu benda yang biasanya berupa lubang (pada pipa,

maupun lainnya) dengan rahang dalam.


Untuk mengukur kedalamanan celah/lubang pada suatu benda dengan cara
"menancapkan/menusukkan" bagian tangkai besi.

Jangka sorong biasanya digunakan untuk mengukur diameter suatu benda. Jika jangka
sorongnya mempunyai ekor, maka ekor tersebut dapat digunakan untuk mengukur
kedalaman. Jangka sorong mempunyai 2 skala yaitu skala utama dan skala nonius. Jangka
sorong memiliki ketelitian hingga 0.01 mm. Cara membaca diameternya (x):
x = Skala utama + Skala nonius
Ket:
x = diameter benda yang diukur (cm)
Dalam membaca nilai di skala utama lihatlah angka sebelum/sama dengan angka 0
yangterdapat di skala nonius. Angka 1 di skala utama bernilai 1 cm jadi garis-garis
sebelum angka satu masing-masing bernilai 0.1 cm.
Dalam membaca nilai di skala nonius lihatlah garis di skala nonius yang berhimpit
dengan garis di skala utama maka garis tersebut adalah nilai skala nonius. Setiap garis
diskala nonius bernilai 0.01 mm (bergantung pada ketelitian jangka sorong). Jika di skala
nonius terdapat angka 1 maka nilainya 0.01 mm dan jika diantara angka 0 dan 1 ada
sebuah garis, maka nilai garis itu 0.005 mm.
Tingkat ketelitian jangka sorong

Susunan garis-garis yang dibuat secara teratur dengan jarak garis yang tetap dan tiap
garis mempunyai arti tertentu biasanya disebut dengan skala. Pada jangka sorong terdapat
skala utama dan skala nonius atau skala vernier. Banyaknya garis pada skala vernier
menentukan tingkat ketelitian, semakin banyak garis pada skala nonius maka mistar geser
semakin teliti tetapi semakin sulit dibaca karena jarak antar baris semakin rapat. Jarak antar
garis pada skala utama untuk satuan metrik pada umumnya 1 mm, sedang pada satuan inci
jarak antar garis adalah 1/16 inci untuk ketelitian 1/128 inci dan 0,025 inci untuk ketelitian
0,001 inci.
b)

Mikrometer

Mikrometer merupakan alat ukur langsung dengan tingkat ketelitian yang lebih tinggi hingga
mencapai 0,001 mm. Fungsi utama mikrimeter adalah untuk mengukur diameter. Ada 3
macam micrometer yaitu : mikrometer dalam, mikrometer luar, dan mikrometer kedalaman.
Macam macam micrometer
a. Mikrometer luar (Outside Micrometer)
Mikrometer luar untuk mengukur dimensi luar, misalnya tinggi nok, diameter batang katup.

Gambar 2.2 Mikrometer luar


Alat ukur ini mempunyai bentuk yang bermacam macam yang disesuaikan dengan bentuk
benda yang akan diukur. Dalam bidang otomotif biasanya micrometer luar digunakan untuk
mengukur komponen otomotif antara lain : tinggi nok, diameter batang katup, diameter jurnal
poros, dan sebagainya.
Prinsip kerja alat ini jika rachet diputar satu kali, maka poros akan bergerak satu ulir. Apabila
jarak ulir 1 mm, poros akan bergerak 1 mm dan seterusnya. Inilah prinsip pengukuran dengan
mikrometer. Pada alat ukur yang sebenarnya rachet berarti inner sleeve dan poros adalah
spindle. Spindle merupakan poros panjang yang dapat bergerak maju-mundur untuk

menyesuaikan dimensi benda yang akan diukur. Untuk menggerakkan spindle dilakukan
dengan cara memutar thimble (rachet). Apabila thimble diputar ke kanan, maka spindle akan
mendekati anvil (landasan poros). Pada saat mengukur benda kerja, jika jarak antara spindle
dengan benda kerja masih jauh, maka untuk mendekatkannya dengan cara memutar thimble
ke kanan. Namun apabila jarak antara ujung spindle dengan benda kerja sudah dekat, maka
untuk mendekatkannya dengan cara memutar rathchet stoper sampai ujung spindle
menyentuh benda kerja. Lock clamp digunakan untuk mengunci spindle agar tidak dapat
berputar sehingga posisi skala pengukuran tidak berubah.
b. Mikrometer dalam (Inside Micrometer)
Mikrometer dalam berfungsi untuk mengukur dimensi dalam, misalnya diameter silinder

Gambar 2.3 Mikrometer dalam


c. Mikrometer kedalaman (Depth Micrometer)
Mikrometer kedalaman untuk mengukur kedalaman, missal kedalaman paku keling pada
kampas kopling.

Gambar 2.4 Mikrometer kedalaman


Cara Membaca Hasil Pengukuran pada Mikrometer

Untuk membaca hasil pengukuran pada mikrometer sekrup dapat dilakukan dengan langkah
sebagai berikut :

Menentukan nilai skala utama yang terdekat dengan selubung silinder (bidal) dari
rahang geser ( skala utama yang berada tepat di depan/berimpit dengan selubung

silinder luar rahang geser).


Menentukan nilai skala nonius yang berimpit dengan garis mendatar pada skala
utama.

Hasil pengukuran dinyatakan dalam persamaan :


Hasil = Skala Utama Atas + Skala Utama Bawah + (Skala Nonius x skala terkecil
mikrometer)
Contoh pembacaan hasil pengukuran dengan mikrometer sekrup :

Skala pada Outer Sleeve (Atas) = 55,00 mm


Kenaikan / Skala pada Outer Sleeve (bawah) = 0,5 mm
Skala Thimble = 45 x 0,1 = 0,45 mm
Hasil pengukuran 55+0,5+0,45 = 55,95 mm
2.3 Rangkuman Alat Ukur Langsung
1. Jangka sorong yang beredar di pasaran mempunyai bentuk dan tingkat ketelitian yang
sangat beragam baik dalam satuan metris maupun inci. Semakin teliti suatu mistar
geser, pembacaan skala pengukurannya semakin sulit karena jarak antar garis pada
skala vernier semakin rapat. Tingkat ketelitian mistar geser dengan satuan metris
antara lain : 0,1 mm, 0,05 mm, dan 0,02 mm, sedang untuk satuan inci antara lain :
1/128 inci dan 1/1000 inci.
2. Hasil pengukuran dengan jangka sorong dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :
kebersihan alat ukur dan benda kerja, posisi alat ukur dengan benda kerja, posisi

penglihatan si pengukur dengan benda yang diukur, dan tingkat ketelitian mistar
geser.
3. Sebagai alat ukur langsung, jangka sorong dapat digunakan untuk mengukur dimensi
luar, dimensi dalam dan kedalaman suatu benda kerja. Dalam bidang otomotif alat
ukur tersebut dapat digunakan untuk menentukan diameter luar piston, panjang pegas,
diameter dalam lubang pena piston, kedalaman paku keling dan sebagainya.
4. Mikrometer merupakan alat ukur langsung dengan tingkat ketelitian hingga 0,001
mm yang prinsip kerjanya mirip dengan mur dan baut. Tingkat ketelitian mikrometer
tergantung ukuran kisar inner sleeve dan thimble. Semakin halus atau semakin kecil
kisarnya, maka tingkat ketelitiannya semakin tinggi. Mikrometer diciptakan
mengingat keterbatasan mistar geser dalam hal tingkat ketelitiannya.
5. Untuk menghasilkan ukuran yang tepat, maka mikrometer harus diset nol dahulu
sebelum digunakan. Prosedur set nol mikrometer tergantung selisih antara garis nol
pada thimble dengan garis horizontal pada outer sleeve.

2.4 Definisi Pengukuran Tidak Langsung


Pada pengukuran langsung hasil pengukurannya dapat dibaca langsung pada skala
ukur alat ukur yang digunakan karena memang dari alat ukur tersebut memungkinkan untuk
maksud-maksud di atas. Akan tetapi, kadang-kadang kita tidak bisa melakukan pengukuran
langsung dikarenakan adanya pengukuran yang memerlukan kecermatan yang tinggi ataupun
karena bentuk benda ukur yang tidak memungkinkan untuk diukur dengan alat ukur
langsung.
Untuk keadaan seperti di atas maka biasanya dilakukan pengukuran tak langsung.
Seperti penjelasan di atas tadi, pengukuran tidak langsung adalah pengukuran dengan
instrumen pembanding, maksudnya dengan membandingkan dimensi yang diperoleh dari
hasil pengukuran kemudian membacanya dengan bantuan alat ukur langsung. Pada
pengukuran ini, akan terjadi dua kali proses pengerjaan. Macam-macam alat ukur tidak
langsung dibagi menjadi dua yaitu alat ukur standar dan alat ukur pembanding.
2.5

Alat ukur standar


Yang termasuk dalam kategori alat ukur standar untuk pengukuran tak langsung

adalah: blok ukur (gauge blok), kaliber induk tinggi (height master), jangka bengkok dan
jangka kaki.
1. Blok Ukur (Gauge Blok)
Blok ukur dikenal juga dengan berbagai nama misalnya end gauge, slip gauge,
jogauge (johanson gauge). Sebagai alat ukur standar, maka blok ukur ini dibuat sedemikian
rupa sehingga fungsinya sesuai dengan namanya yaitu alat ukur standar. Alat ukur ini
berbentuk segi empat panjang dengan ukuran ketebalan yang bermacam-macam. Dua dari 6
permukaannya adalah sangat halus, rata dan sejajar. Kedua permukaan ini sangat halus dan
rata maka antara blok ukur yang satu dengan blok ukur yang lain dapat digabungkan/disusun
tanpa perantara alat lain. Bila penyusunannya dilakukan dengan teliti maka akan diperoleh
suatu susunan blok ukur yang sangat kuat seolah-olah blok ukur yang satu dengan yang lain
sangat melekat. Dengan menyusun blok ukur yang mempunyai ukuran tertentu maka kita
dapat mengecek atau mengkalibrasi ukuran yang lain. Karena blok ukur ini diperlukan untuk
pengukuran presisi sebagai alat ukur standar maka alat ukur ini harus dibuat dari bahan yang
kuat dan tahan lama. Biasanya bahan untuk membuat blok ukur adalah baja, karbon tinggi,
baja paduan atau karbida. Dengan perlakuan proses panas tertentu maka logam ini

mempunyai sifat-sifat: tahan terhadap keausan karena tingkat kekerasannya tinggi yaitu 65
RC, tahan terhadap korosi, koefisien muai panjangnya sama dengan baja karbon yaitu 12 x
10-6 0C-1, tingkat kestabilan dimensinya tinggi. Kegunaan dari blok ukur ini antara lain
untuk: mengecek dimensi ukuran alat-alat ukur, mengkalibrasi alat ukur langsung seperti
mistar ingsut, mikrometer dan mistar ketinggian, menyetel komparator dan jam ukur,
menyetel posisi batang sinus dan senter sinus dalam pengukuran sudut, dan mengukur serta
menginspeksi komponen-komponen yang presisi di dalam ruang inspeksi. Cara pemakaian
Untuk pengukuran celah, pilihlah balok-balok tersebut yang sesuai dengan celah yang diukur,
apabila antara celah dan balok terpasang dengan presisi maka itulah ukuran dari celah
tersebut.

Gambar 2.5 Satu set blok ukur


2.

Kaliber Induk Tinggi (Height Master)


Kaliber induk tinggi merupakan alat ukur standar dalam proses tak langsung,

diantaranya berfungsi sebagai penyetelan posisi nol pada micrometer dalam.

Gambar 2.6 Height master


3. Jangka Bengkok dan Jangka Kaki
Jangka Bengkok
Guna jangka bengkok digunakan untuk mengukur tebal, lebar, panjang dan garis
tengah benda bulat secara kasar. Alat ini terbuat dari baja perkakas dengan ujungnya
dikeraskan. Bentuknya ada yang dilengkapi dengan mur penyetel dan ada pula yang tidak.
Panjang kakinya dalam inchi merupakan ukuran jangka bengkok.

Gambar 2.7 Jangka Bengkok


Macam-macam jangka bengkok terdiri atas :

Jangka bengkok dengan engsel


Jangka bengkok dengan pegas dan baut penyetel.

Jangka bengkok dilengkapi dengan skala ukuran.

Jangka Kaki
Jangka kaki digunakan antara lain untuk mengukur diameter lubang dan jarak sesuatu
celah. Bentuk kakinya menghadap keluar dan panjang kakinya itulah ukuran jangka kaki
dalam inchi. Hasil pengukuran yang diperoleh adalah ukuran kasar. Disebabkan kedua
kakinya itu mengeper bila menyentuh bidang-bidang yang diukur maka perlu banyak berlatih.
menggunakan untuk memperhalus permukaan jari-jari. Dengan jari-jari yang tidak perasa
kesalahan ukur mudah terjadi.

Gambar 2.8 Jangka Kaki


Macam-macam jangka kaki terdiri atas :

Jangka kaki dengan engsel


Jangka kaki dengan baut, penyetel, dan pegas
Jangka kaki dilengkapi dengan skala ukuran.

2.6 Alat Ukur Pembanding


Yang termasuk dalam kategori alat ukur pembanding untuk pengukuran tak langsung
adalah : Jam ukur (dial gauge), Pupitas (Dial test Indikator), Alat Ukur Pembanding
Ketinggian, dan kaliber.
1. Jam ukur (dial gauge)
DIAL GAUGE atau ada yang menyebut dial indicator adalah alat ukur yang
dipergunakan untuk memeriksa penyimpangan yang sangat kecil dari bidang datar, bidang
silinder atau permukaan bulat dan kesejajaran. Konstruksi sebuah alat dial indikator terdiri

atas jam ukur (dial gauge) yang di lengkapi dengan alat penopang seperti blok alas magnet,
batang penyangga, penjepit, dan baut penjepit.

Gambar 2.9 Dial Gauge


Cara Pembacaan Dan Penggunaan Alat
Saat akan digunakan dial indikator tidak dapat digunakan sendiri, tapi memerlukan
kelengkapan seperti di atas yang harus diatur sedemikian rupa pada saat pengukuran. Posisi
dial gauge harus tegak lurus terhadap benda kerja yang akan diukur.
Pada dial indikator terdapat 2 skala. Yang pertama skala yang besar (terdiri dari 100
strip) dan skala yang lebih kecil. Pada skala yang besar tiap stripnya bernilai 0,01 mm. Jadi
ketika jarum panjang berputar 1 kali penuh maka menunjukkan pengukuran tersebut sejauh 1
mm. Sedangkan skala yang kecil merupakan penghitung putaran dari jarum panjang pada
skala yang besar.Sebagai contoh, jika jarum panjang pada skala besar bergerak sejauh 6 strip
dan jarum pendek bergerak pada skala 3 maka artinya hasil pengukurannya adalah3,06 mm.
Pengukuran ini diperoleh dari :
skala pada jarum panjang dibaca : 6 x 0,01 mm = 0,06 mm
skala pada jarum pendek dibaca : 3 x 1 mm = 3 mm
maka hasil pengukurannya adalah 0,06 mm + 3 mm = 3,06 mm.
Skala dan ring dial indikator dapat berputar ke angka 0 agar lurus dengan penunjuk.
Penghitung putaran ukur jam berfungsi menghitung jumlah putaran penunjuk. Yang perlu
diperhatikan dalam menggunakan dial indicator adalah keadaan permukaan benda yang akan
diukur harus bersih, posisi spindel dial (ujung peraba) tegak lurus pada permukaan komponen
yang diperiksa, dan metode pengukuran yang digunakan.

Metode Pengukuran
a. Letakkan V-block di atas plat datar dan letakkan poros di atas block.
b. Sentuhkan spindel dial gauge pada permukaan poros. Aturlah tinggi dial gauge lock
sedemikian rupa sehingga menyentuh permukaan poros.
c. Putarlah poros perlahan-lahan dan temukan point pada permukaan pembacaan paling
kecil. Putarlah outer ring sampai penunjukkan pada "0".
d. Putarlah poros perlahan-lahan. Bacalah jumlah gerakan pointer.
Adapun metode pengukuran yang digunakan dial indikator adalah sebagai berikut:
a. benda kerja yang dipindahkan, dial indikator tetap pada posisi diam.
b. Dial indikator yang dipindahkan, benda kerja tetap pada posisi diam.
c. Benda kerja diputar, dial indikator tetap pada posisi diam.
2.

Pupitas (Dial test Indikator)


Pupitas disebut juga jam ukur tes atau dial test indicator yang berfungsi untuk

mengetahui kerataan permukaan benda kerja dan mengukur daerah toleransi suatu produk.
Perbedaan dengan dial indicator yaitu terletak pada sensornya. Sensor pada pupitas berupa
lengan dengan ujung berbentuk bola dan gerakkannya seperti busur, mempunyai kapasitas
pengukuran yang lebih kecil yaitu antara 0,2 s/d 0,8 mm.
Pupitas sendiri terdiri atas beberapa bagian-bagian yaitu :

Sensor yang berbentuk lengan


Blok gerak
Blok diam
Piring ukur
Rangka terbuat dari metal atau plastic

Pemakaian pupitas yaitu dengan cara pupitas dipasang pada dudukan pemindah
(transfer stand) dengan tiang dan lengan yang dapat diatur dengan baut penyetel atau
pengaturan secara feksibel. Macam macam pupitas dapat dilihat dari konstruksi piring
pengukur, pupitas terdiri atas:

Pupitas dengan konstruksi piring ukur sumbunya sejajar dengan sumbu rangka.
Pupitas dengan konstruksi piring ukur sumbunya tegak lurus dengan rangkanya.

Penggunaan dari pupitas antara lain sebagai berikut :

Mengukur permukaan (kerataan) secara bertingkat.


Mengukur celah (permukaan luar) pada poros kerah (colar)
Mengukur kerataan permukaan dari lubang bertingkat.
Mengukur lubang alur da kesejajaran sumbunya.

Mengukur kesejajaran permukaan, baik permukaan luuar maupun dalam.


Mengukur kerataan bidang horizontal maupun bidang miring.

3. Alat Ukur Pembanding Ketinggian


Alat ukur pembanding ketinggian disebut juga kaliber ketinggian adalah sebuah alat
sebagai pembanding ukuran ketinggian standar dengan tinggi objek ukur yang terdiri atas:

Kaliber induk ketinggian


Blok geser, pupitas atau penggores.

Prosedur dan teknik penggunaan alat ukur pembanding ketinggian:

Letakkan objek ukur, kaliber induk ketinggian dan blok geser pada meja rata.
Geserkan kaliber ketinggian (blok geser dan kelengkapannya) pada alat ukur
(kaliber induk

ketinggian) sebagai ukuran standar yang akan digunakan

untuk mengukur atau membandingkan dengan ukuran objek ukur (benda

kerja).
Usahakan ujung penggores atau sensor pada pupitas menyentuh

permukaan

blok ukur pada kaliber induk ketinggian. Stel pada posisi nol atau kencangkan

baut pengikatnya jika menggunakan penggores.


Geserkan kaliber ketinggian (blok geser) yang telah diset ukuran

ketinggiannya pada benda kerja.


Bandingkan ketinggian blok ukur dengan ketinggian kaliber apakah sama,
lebih tinggi atau lebih rendah, memenuhi standar toleransi atau di luar standar

toleransi yang diberikannya.


Simpulkan hasil pengukurannya: Tidak melebihi standar toleransi yang
diberikan.

4.

Kaliber
Kaliber adalah alat ukur yang digunakan untuk memeriksa batas ukur secara langsung

atau tidak langsung dan juga sebagai alat pembanding ukuran. Ukuran pada kaliber terbagi
menjadi dua, yaitu ukuran standart sebagai acuan dan ukuran standar batas atau limit. Ukuran
standar sebagi acuan adalah kaliber yang berbentuk blok ukur, yang dibuat khusus dengan
ketelitian yang sangat tinggi. Blok ukur ini digunakan untuk mencocokan ukuran dari alatalat ukur dan digunakan pula sebagai alat kalibrasi untuk menera alat-alat yang aktif
digunakan. Sedangkan ukuran batas atau limit digunakan untuk mencocokan ukuran dari alatalat ukur yang tingkat ketelitiannya dibawah dari jenis kaliber ukuran standar.

Jenis dari kaliber ada beberapa macam antara lain kaliber roll, kaliber bola, kaliber poros
konis, dan kaliber celah ( snap gauge ).

BAB III
PENUTUPAN
3.1 Kesimpulan
Saat ini alat ukur mengalami banyak perubahan. Alat ukur jaman sekarang lebih
banyak jenisnya, lebih canggih, dan juga kebanyakan tidak memakai cara manual lagi dalam
penggunaannya. Terutama dipabrik-pabrik besar. Dalam hal mengukur barang produksi,
pabrik tersebut tidak menggunakan alat ukur manual yang masih menggunakan tenaga
manusia, namun menggunakan sistem komputer. Manusia hanya tinggal mengatur dan
mensetingnya melalui komputer tanpa perlu bersusah payah, apalagi pabrik yang
memproduksi mesin berskala besar.
Banyak juga kelebihan alat ukur otomatis daripada alat ukur manual. Terutama dalam
hal kespesifikan ukurannya. Namun semua alat ukur mempunyai kegunaan yang sama, yaitu
sebagai alat pengukur bahan. Maka dari itu alat ukur akan berfungsi maksimal apabila kita
menggunakan pada tempatnya, seperti contoh jangka bengkok digunakan untuk mengukur
tebal, lebar, panjang dan garis tengah benda bulat secara kasar.Di samping itu cara
penggunaan dan perawatan alat ukur juga bisa berpengaruh pada nilai guna dari alat ukur
presisi atau tidaknya dan ketepatan pengukuran.Maka dari itu hal tersebut juga harus di
perhatikan guna mempertahankan nilai guna dan kepresisian alat ukur.
3.2 Saran
Alat ukur langsung maupun tak langsung memang masih menggunakan tenaga
manusia, banyak kekurangan alat ukur manual ini, contoh nya, kurang teliti,memakan waktu
yang cukup lama, dll. di bandingkan alat ukur otomatis, alat ukur manual kurang efisien pada
saat ini, namun masih banyak juga yang menggunakan alat ukur manual, jadi kami
menyarankan kepada yang memakai alat ukur manual unruk bisa meningkatkan agar
memakai alat ukur otomatis. namun ada baik nya juga kita belajar mengenai alat ukur
manual, karna masih banyak yang menggunakan alat ukur manual, maka kami mengharapkan
pada pembaca agar memahami isi makalah ini dan menerapkan di lingkungan kerja, dan
jika terdapat ada kekurangan dalam makalah ini,, kami mengharapkan kritik dan saran
pembaca agar lebih memperjelas tentang materi pembelajaran ini. Atas perhatian pembaca,
kami ucapkan terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Agoest, Pratikum Metrologi, diakses


dari :http://www.scribd.com/agoest_adi/d/33990247-Bab-2-Praktikum-Metrologi, tanggal 16
April 2012.
Anonim. (t.th.). Materi Pelajaran Engine Group Step 1.,Jakarta : PT Toyota Astra
Motor.
Anonim. (1995). Materi Pelajaran Engine Group Step 2.,Jakarta : PT Toyota Astra
Motor.
Crouse, William H, dan Anglin, Donald L (1986). Automotive Engines.
Depdikbud : Dirjen Dikti, Proyek Pengembangan LPTK. Dirjen Dikti, Proyek
Pengembangan LPTK.
Encyclopedia. South Holland : The Goodheart Willcox. New York : Mc Graw Hill.
Roni, alat ukur pada SMK, diakses
dari :http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2011/04/13/alat-ukur--pada-smk-jurusanteknik-mesin/, tanggal 16 April 2012
Sudji Munadi. (1988). Dasar-Dasar Metrologi Industri. Jakarta.
Toboldt, William K, dan Johnson, Larry. (1977). Automotive
Wardan Suyanto. (1986). Teori Motor Bensin. Jakarta : Depdikbud