Anda di halaman 1dari 8

Penelitian & Analisis Abrasi Pantai Propinsi Riau

RINGKASAN EKSEKUTIF
1. PENDAHULUAN
Dalam ringkasan eksekutif Laporan Akhir ini yang merupakan hasil dari seluruh rangkaian kegiatan memuat
khususnya mengenai ringkasan hasil kegiatan lapangan dan pasca lapangan sebagai implementasi dari rencana
kegiatan yang telah dirancang sebelumnya. Substansi dari laporan ini adalah memaparkan metodologi baik
untuk pengambilan data di lapangan maupun analisis di laboratorium berikut hasil yang diperoleh.
Pantai adalah merupakan daerah yang komplek, baik sisi penanganan maupun proses yang terjadi. Dari sisi
penanganan, seperti kita ketahui di wilayah ini banyak institusi yang terlibat, sedangkan dari sisi proses
pantai adalah merupakan pertemuan antara proses asal darat dan lautan. Permasalahan yang mencolok,
adalah kejadian erosi (abrasi), baik karena proses alam maupun aktivitas manusia. Hal ini dirasa sangat
mendesak penanganannya, apabila dikaitkan dengan pengembangan wilayah pesisir

sebagai ruang hidup

tanpa gradasi kualitas lingkungan dan ekosistem di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Propinsi Riau yang sebagian besar wilayahnya merupakan wilayah pesisir dan laut, tentunya sangat
membutuhkan pedoman untuk pengidentifikasian, pencegahan dan pemecahan masalah erosi (abrasi) pantai.
1.1 Tujuan dan Sasaran
Hakekat tujuan Penelitian dan Analisis Abrasi Pantai adalah sebagai program panduan untuk pelaksanaan
kegiatan pencegahan & pemulihan kerusakan daerah pesisir pantai, dengan sasaran teridentifikasinya
masalah penyebab abrasi dan terpetakannya daerah (pantai) rawan abrasi.
1.2 Ruang Lingkup Kegiatan
Untuk mencapai maksud dan tujuan di atas, jenis dan macam kegiatan yang dilakukan seperti tersebut dalam
ruang lingkup kegiatan di bawah ini:
Survey lapang berupa pengambilan contoh sedimen, contoh air, dan pemetaan kedalaman dasar
laut (batimetri), pengamatan karakteristik pantai serta pengukuran arus, gelombang & pasangsurut.

PT. Aditya Ridho Gumilang & Badan Penelitian dan Pengembangan Propinsi Riau.

Penelitian & Analisis Abrasi Pantai Propinsi Riau

Analisa laboratorium
Pembuatan peta digital.
Penyusunan konsep awal pencegahan abrasi.
1.3 Lokasi Kegiatan
Lokasi kegiatan terletak di sekitar jalur Selat Malaka, tepatnya di sepanjang pantai Propinsi Riau, dengan
luas kurang-lebih 11.200 km2 dan panjang garis pantai mendekati 615 km.

2. ALAT & METODE


2.1. Sistim Posisi Pengambilan Data.
Penentuan posisi dan lintasan survey dari seluruh kegiatan lapangan yang diinstal di kapal menggunakan

Global Positioning System (GPS) yang telah diintegrasikan dengan Personal Computer (PC) atau laptop
sehingga dapat langsung diakses dan diproses di lapangan sedangkan untuk kegiatan di darat dan pantainya
menggunakan Garmin III plus.
2.2 Pemetaan Karakteristik Pantai
Pengamatan dari kegiatan ini dilakukan secara langsung dan visual dengan memperhatikan segala fenomena
yang terkait dengan berbagai proses yang terjadi langsung di sepanjang garis pantai secara deskriptif.
Karena pengamatan yang dilakukan secara langsung, hasil dari kegiatan ini sangat bergantung pada waktu
saat pengamatan dilakukan, baik itu berupa jam (pasang atau surut) atau musim (penghujan atau kemarau).
Hal utama yang diamati yang mendasari kriteria pembagian karakteristik pantai nantinya, adalah: jenis
material pantai dan litologi penyusun tebing pantai, morfologi atau relief pantai serta proses pantai yang
menyertainya, apakah pantai mundur (abrasi) atau pantai maju (akrasi).
2.3 Pemeruman
Pemeruman (sounding) dimaksudkan untuk mengukur dan mengetahui kedalaman dasar laut daerah penelitian
berikut pola morfologi dasar lautnya. Kegiatan ini menggunakan alat perum gema (echosounder) merk Odom
yang bekerja dengan prinsip pengiriman pulsa energi gelombang suara melalui transmitting transducer.

PT. Aditya Ridho Gumilang & Badan Penelitian dan Pengembangan Propinsi Riau.

Penelitian & Analisis Abrasi Pantai Propinsi Riau

2.4 Pengambilan Contoh Sedimen Dasar Laut


Kegiatan ini diarahkan pada sedimen permukaanya dengan menggunakan Alat percontoh comot (grab

sampler) yang dilakukan pada bagian permukaan dasar lautnya, biasanya untuk sedimen kasar yang bersifat
lepas dan urai. Selain jenis dan tekstur sedimen dasar laut, informasi yang diperoleh adalah kandungan
makrofauna.
2.5 Pengukuran Pasang Surut
Tujuan dari pengamatan pasang surut adalah untuk menghitung tinggi muka laut rata-rata guna pembuatan
peta batimetri. Pengamatan pasang surut pada penyelidikan ini dilakukan dengan menggunakan rambu ukur

(peal schaal) selama 15 hari.


2.6 Pengukuran Arus
Pengukuran arus dilakukan dengan cara statis, yaitu dengan memasukan instrumen pengukur arus valeport
106 pada kedalaman 1, 5, dan 15 meter dengan waktu pengamatan selama 26 jam. Dari hasil pengukuran ini
diperoleh informasi mengenai kecepatan dan arah dominan arus dari setiap kedalaman yang diamati.
2.7 Pengambilan Contoh Air
Kegiatan pengambilan contoh air dengan menggunakan alat water sampler yang dimodifikasi dimaksudkan
untuk mendapatkan informasi mengenai kualitas airnya. Pengambilan contoh air dilakukan pada 2 lapisan air
yaitu pada bagian atas (permukaan) dan tengah.
Selain metode-metode diatas, yang berkaitan dengan pengambilan data di lapangan, dilakukan pula berbagai
analisa di laboratorium seperti: analisa besar butir, dan analisa kualitas air.

3. HASIL
3.1 Kedalaman Dasar Laut

PT. Aditya Ridho Gumilang & Badan Penelitian dan Pengembangan Propinsi Riau.

Penelitian & Analisis Abrasi Pantai Propinsi Riau

Lokasi kegiatan memiliki kedalaman dasar laut berkisar antara 1 sampai 20 meter dengan 2 pola kontur
umum, yaitu; (1) kedalaman dasar laut/ batimetri dengan pola kontur tertutup (closure) dan (2) batimetri
dengan pola kontur yang mengikuti (sejajar) dengan garis pantai dari daratan utamanya. Pola yang pertama
secara umum nampak di utara lokasi kegiatan mulai dari muara Sungai Kampar terus ke selatan hingga lepas
pantai Tanjung Datuk dengan kemiringan lereng dasar laut yang makin curam ke arah selatan, ini
menandakan proses marin lebih dominan di lokasi tersebut. Hal yang berbeda dijumpai di daerah selatan,
pola yang berkembang adalah pola kontur yang cenderung menutup. Pola ini secara umum terdapat mulai dari
selatan Kelayang hingga ke daerah yang paling selatan dari lokasi kegiatan dan umumnya pola ini berkembang
di lepas pantai dimana terdapat sungai-sungai aktif, seperti Sungai Indragiri, Sungai Sepat dalam dan
Sungai Reteh. Kenampakan ini memperlihatkan bahwa suplai sedimen asal darat di daerah-daerah tersebut
cenderung lebih berkembang apabila dibandingkan dengan daerah di utaranya. Kerapatan antar
konturnyapun, di daerah selatan cenderung lebih renggang apabila dibandingkan pola yang pertama, kecuali
yang dijumpai di lepas pantai Tanjung Bangkong.
3.2 Penyebaran Sedimen Dasar Laut
Berdasarkan hasil analisa besar butir pada contoh-contoh sedimen dasar laut diperoleh sebaran sedimen
permukaan dasar laut sebagai berikut:
Satuan Sedimen Lanau
Merupakan satuan sedimen dasar laut yang paling dominan di lokasi kegiatan mulai dari lepas pantai timur
Bengkalis, muara Sungai Kampar hingga lepas pantai Tanjung Bangkong. Pelamparan satuan ini kurang-lebih
45.6% dari seluruh satuan sedimen yang ada di lokasi kegiatan dengan komposisi lanau berkisar antara
78.5% hingga 82.5% sedangkan sisanya disusun bersama antara pasir dan lempung.
Satuan Sedimen Pasir
Satuan Sedimen ini umumnya terdapat dan terakumulasi di lepas pantai dimana terdapat sungai-sungai
besar di pantainya. Hadir di lokasi kegiatan berupa pasir halus hingga menengah dengan material penyusun
bervariasi antara mineral pembentuk batuan hingga pecahan cangkang foram. Khusus untuk perairan di
utara Rupat disusun oleh kuarsa yang berukuran pasir. Pelamparan satuan sediment ini tidak begitu luas
hanya kurang-lebih 17.5% dari seluruh satuan sedimen yang ada dan diwakili oleh 10 contoh sedimen.
Parameter tekstural untuk sortasi 1.5 hingga 2.0 dengan besaran komposisi pasir diatas 90%.

PT. Aditya Ridho Gumilang & Badan Penelitian dan Pengembangan Propinsi Riau.

Penelitian & Analisis Abrasi Pantai Propinsi Riau

Satuan Sedimen Pasir lanauan


Pelamparan satuan sedimen ini tidaklah begitu luas, hanya menempati kurang-lebih 3.5% dari seluruh satuan
sedimen yang ada. Kenampakannya dapat dijumpai di lepas Pantai Bangkong dengan komposisi pasir sekitar
62% sedangkan lanau sekitar 32.3% sedangkan sisanya tersusun atas lempung. Material pasir tersusun atas
mineral utama pecahan cangkang foram kecil yang berukuran halus yang diduga merupakan kelanjutan dari
hasil transportasi satuan sedimen pasir yang ada di atasnya karena beda kemiringan lereng dasar laut.
Satuan Sedimen Lanau pasiran
Terdapat di bagian paling utara dari lokasi kegiatan, melampar mulai dari lepas pantai muara sungai Bela ke
selatan hingga bagian selatan dari Sungai Tengah dengan luas pelamparan kurang lebih 33% dari seluruh
satuan sedimen yang ada. Komposisi antar lanau dan pasirnya memiliki besaran 73.60% hingga 74.90% untuk
lanau dan 11.30% dan 13.30% untuk pasirnya. Sumber material pasir diduga masih dominan berasal dari
sebelah barat atau dari sekitar pantai Indragiri Hilir.
3.3 Kualitas Air Laut
Aspek ini merupakan faktor penting untuk mengetahui kondisi eksisting, tentang kualitas lingkungan. Dasar
penetapan kualitas air laut dilakukan dengan membandingkan beberapa ukuran/parameter kunci dengan baku
mutu yang ditetapkan. Pemeriksaan parameter air dilakukan secara langsung (ditempat) dan tidak langsung
(di laboratorium). Adapun parameter yang diukur adalah pH, Ammonium, jumlah zat padat terlarut (TDS)
dan jumlah zat padat tak terlarut (TSS).
Setelah membandingkan data hasil pengukuran di laboratorium dengan baku mutu acuan, beberapa hal yang
dapat dipaparkan disini adalah:

Acuan pengukuran dilakukan dengan cara membandingkan tabel Nilai parameter pengukuran
parameter sampel air laut di laboratorium dengan tabel Baku Mutu Air Laut menurut Kep. MenKLH
No. Kep-02/MENKLH/1988 dan Kep. Men. Neg. Lingkungan Hidup nomor 51 tahun 2004 maka dapat
disimpulkan bahwa Kep. Men. Neg. Lingkungan Hidup nomor 51 tahun 2004 yang baik dijadikan
acuan karena dengan alasan bahwa merupakan baku mutu standar yang terbaru dan memiliki nilai
yang lebih ketat dibandingkan dengan Kep. MenKLH. Kep-02/ MENKLH / 1988.

PT. Aditya Ridho Gumilang & Badan Penelitian dan Pengembangan Propinsi Riau.

Penelitian & Analisis Abrasi Pantai Propinsi Riau

Nilai pH diukur bisa untuk mengontrol kelarutan logam dalam air, artinya: Kenaikan pH menurunkan
kelarutan logam dalam air, karena kenaikan pH mengubah kestabilan dari bentuk karbonat menjadi
hidroksida yang membentuk ikatan dengan partikel pada badan air (sungai dll), sehingga akan
mengendap membentuk lumpur. pH di lokasi termasuk basa. Hal ini dimungkinkan karena akibat dari
lingkungan yang didominasi gambut pada daerah setempat.

Nilai TDS sangat besar karena dengan dilihat mata telanjang saja terlihat bahwa air sampel
memiliki kelarutan yang sangat tinggi dibandingkan dengan yang tersuspended (TSS). Sama halnya
dengan pH, bahwa nilai TDS besar karena akibat dari lingkungan yang didominasi gambut pada
daerah setempat.

Umumnya nilai ammonium di lokasi besar, kecuali daerah titik sampel LP 19 dan LP 33. Hal ini
menyebabkan bau, makin besar kandungan amoniumnya maka makin bau dan efek terhadap
kesehatan sangat banyak diantaranya bisa menyebabkan gangguan pernapasan, iritasi kulit, dan
selaput lendir. Sumber utama senyawa ini adalah ekskresi organisme maupun timbunan bahan
organic yang diperkirakan berasal dari pembuangan sampah ke laut sehingga menyebabkan
penimbunan sampah yang tidak terbawa arus, atau karena banyaknya gambut-gambut yang
membusuk.

3.4 Identifikasi Daerah Terabrasi


Berdasarkan pengamatan di lapangan, secara umum pantai di Propinsi Riau hampir semua ditemukan gejala
abrasi, ini tidak terlepas dari posisi Propinsi Riau yang terletak di Selat Malaka yang merupakan alur
terbuka dari Laut Cina Selatan, apalagi pada saat musim Utara, belum lagi umumnya batuan penyusun pantaipantai di Propinsi Riau berupa endapan muda yang relatif lunak. Pantai-pantai yang rawan abrasi tersebut,
adalah: hampir sebagian besar pantai di sekitar Indragiri Hilir, mulai dari pantai Parit Sungai hingga (Danai)
akibat aktifitas sungai Kampar, kenampakan yang jelas terlihat di sekitar Pantai Salensen (Sungai Guntung)
hingga pantai di sekitar muara S. Kateman. Selain itu gejala abrasi dijumpai juga di Utara P. Mendol hingga
Tanjung Piai, di tenggara P. Keransang. Pantai Utara P. Bengkalis, mulai dari pantai Telukpambang hingga
Jangkang dan sekitar pantai Selat Baru, yang terparah terlihat di pantai Meskom hingga 5 meter/ tahun,
Pantai sekitar Dumai (Guntung), selain itu terlihat pula gejala erosi akibat aktifitas . Rokan, seperti yang
nampak di daerah Langgadaihilir, dan Muktijaya.
3.5 Pencegahan dan Penanganan

PT. Aditya Ridho Gumilang & Badan Penelitian dan Pengembangan Propinsi Riau.

Penelitian & Analisis Abrasi Pantai Propinsi Riau

Dapat dilakukan dengan 3 cara: (1) secara alami, melalui penanaman bakau atau tanaman jenis lain; (2)
bangunan pantai (seawall) dan (3) merubah prilaku kehidupan masyarakat sekitar pantai.
Pengaman pantai bertujuan untuk mencegah erosi pantai dan penggenangan daerah pantai akibat limpasan
gelombang (overtopping). Berdasarkan strukturnya pengaman pantai dibedakan menjadi dua, yaitu
pengamanan "lunak" (soft protection) dan pengamanan keras (hard protection).
Pencegahan berupa Pengamanan lunak dilakukan dengan tiga cara yaitu:
1.

Pengisian Pasir; bertujuan untuk mengganti pasir yang hilang akibat erosi dan memberikan
perlindungan pantai terhadap erosi dalam bentuk system tanggul pasir. Hal yang harus diperhatikan
adalah lokasi pasir harus memiliki kedalaman yang cukup sehingga pertambahan kedalaman akibat
penggalian pasir tidak mempengaruhi pola gelombang dan arus yang pada gilirannya akan
mengakibatkan erosi ke pantai-pantai sekitarnya.

2.

Terumbu Karang; merupakan bentukan yang terdiri dari tumpukan zat kapur. Bentukan terumbu
karang dibangun oleh hewan karang dan hewan-hewan serta tumbuhan lainnya yang mengandung zat
kapur melalui proses biologi dan geologi dalam kurun waktu yang relative lama. Fungsi terumbu
karang selain sebagai bagian ekologis dari ekosistem pantai yang sangat kaya dengan produksi
perikanan juga melindungi pantai dan ekosistem perairan dangkal lain dari hempasan ombak dan
arus yang mengancam terjadinya erosi.

3.

Hutan Bakau (mangrove forest); Hutan bakau merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang
didominasi oleh beberapa jenis pohon yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang
surut pantai berlumpur. Fungsi dari hutan bakau selain sebagai tempat wisata dan penghasil kayu
adalah sebagai peredam gelombang dan angin badai, pelindung erosi, penahan lumpur dan penangkap
sediment.

Pencegahan melalui Pengamanan keras dilakukan dengan 5 cara, yaitu:


1.

Revetment; adalah stuktur pelindung pantai yang dibuat sejajar pantai dan biasanya memiliki
permukaan miring. Strukturnya biasa terdiri beton, timbunan batu, karung pasir, dan beronjong
(gabion). Karena permukaannya terdiri dari timbunan batu/blok beton dengan rongga-rongga
diantaranya, maka revetment lebih efektif untuk meredam energi gelombang.

PT. Aditya Ridho Gumilang & Badan Penelitian dan Pengembangan Propinsi Riau.

Penelitian & Analisis Abrasi Pantai Propinsi Riau

2.

Seawall; hampir serupa dengn revetment, yaitu dibuat sejajar pantai tapi seawall memiliki dinding
relative tegak atau lengkung. Seawall pada umumnya dibuat dari konstruksi padat seperti beton,
turap baja/kayu, pasangan batu atau pipa beton sehingga seawall tidak meredam energi gelombang,
tetapi gelombang yang memukul permukaan seawall akan dipantulkan kembali dan menyebabkan
gerusan pada bagian tumitnya.

3.

Groin (groyne) ; adalah struktur pengaman pantai yang dibangun menjorok relative tegak lurus
terhadap arah pantai. Bahan konstruksinya umumnya kayu, baja, beton (pipa beton), dan batu.

4.

Pemecah Gelombang Sejajar Pantai; Pemecah gelombang sejajar pantai ini dibuat terpisah ke arah
lepas pantai, tetapi masih di dalam zona gelombang pecah ( breaking zone). Bagian sisi luar pemecah
gelombang memberikan perlindungan dengan meredam energi gelombang sehingga gelombang dan
arus di belakangnya dapat dikurangi. Pantai di belakang struktur akan stabil dengan terbentuknya
endapan sediment.

5.

Stabilisasi Pantai; dilakukan dengan membuat bangunan pengarah sediment seperti tanjung buatan,
pemecah gelombang sejajar pantai, dan karang buatan yang dikombinasikan dengan pengisian pasir.
Metoda ini dilkukan apabila suatu kawasan pantai terdapat defisit sediment yang sangat besar
sehingga dipandang perlu untuk mengembalikan kawasan pantai yang hilang akibat erosi.

4. SARAN
Diantara beberapa pencegahan seperti di atas, pencegahan secara alami (natural) dengan cara penanaman
kembali tanaman pelindung pantai merupakan pencegahan yang paling murah dan hampir tidak memiliki
dampak sampingan, walaupun memerlukan waktu yang lama dan tepat untuk mulai musim tanamnya. Cara ini
dapat berhasil, apabila dibarengi dengan tingkat kesadaran masyarakat akan arti penting kesetimbangan
lingkungan, disamping itu perlu mulai dibuat suatu Rencana Tata Ruang Pantai & Pesisir (zonasi) yang
terintegrasi dengan melibatkan setiap stakeholder dan masyarakat setempat, mulai dari tingkat Kabupaten/
Kota hingga Propinsi dimana di dalamnya terdapat zona konservasi, zona penyangga dan zona pemanfaatan.

PT. Aditya Ridho Gumilang & Badan Penelitian dan Pengembangan Propinsi Riau.