Anda di halaman 1dari 23

GRAND DESIGN

PT GRAHA CEMERLANG PAPER UTAMA

Diah Ismi Anggraini Putri


J3M112056

PROGRAM KEAHLIANTEKNIK DAN MANAJEMEN LINGKUNGAN


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karuniaNya sehingga tugas Grand Design ini berhasil diselesaikan. Tugas ini disusun
sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS) Mata
Kuliah Teknologi Pengelolaan dan Pemanfaatan Limbah Industri dan Domestik.
Tema yang dipilih adalah pengolahan limbah cair di Kawasan Industri Kota
Deltamas, Cikarang - Bekasi.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Haruki Agustina selaku dosen
Mata Kuliah Teknologi Pengelolaan dan Pemanfaatan Limbah Industri dan
Domestik yang telah banyak memberi pengalaman dan ilmu terkait pengelolaan
limbah cair industri maupun domestik. Tidak lupa penulis mengucapkan terima
kasih kepada Kak Bramtama Wijaya dan Kak Frisca Rahmadina selaku asisten
dosen kelas B atas kritik serta saran dalam pembuatan tugas Grand Design ini dan
juga telah sabar dalam mengajar kami selama satu semester ini.
Selain sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Ujian Akhir Semester
(UAS) Mata Kuliah Teknologi Pengelolaan dan Pemanfaatan Limbah Industri dan
Domestik, tugas Grand Design ini juga dibuat untuk mengasah pemahaman
mahasiswa terkait limbah cair yang dihasilkan oleh suatu industri dan upaya
pengolahannya yang tepat dan efisien.
Semoga tugas Grand Design ini bermanfaat bagi yang membacanya.

Bogor, Desember 2014

Diah Ismi Anggraini Putri

DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR................................................................................... 6
BAB I. PENDAHULUAN............................................................................ 8
1.1

Latar Belakang............................................................................... 8

1.2

Tujuan......................................................................................... 9

BAB II. STUDI PUSTAKA..........................................................................9


BAB III. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN............................................10
3.1 Bahan Baku..................................................................................... 10
3.2 Bahan Penolong................................................................................ 10
3.3 Proses Produksi................................................................................. 11
3.4 Limbah Yang Dihasilkan......................................................................11
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN.........................................................12
4.1 Volume Air Limbah............................................................................ 12
4.2 Karakteristik Air Limbah.....................................................................12
4.2.1 Fisika........................................................................................ 12
4.2.1 Kimia........................................................................................ 12
4.3 Design Proses IPAL............................................................................12
4.4 Perhitungan IPAL.............................................................................. 16
4.4.1. Bar Screen................................................................................. 16
4.4.2. Tangki Equalisasi........................................................................16
4.4.3. Bak Koagulasi-Flokulasi...............................................................17
4.4.4. Bak Sedimentasi.........................................................................17
4.4.5. Bak Aerasi................................................................................. 18
4.4.5. Bak Sludge dan Filter Press............................................................19
4.4.6. Perhitungan Efisiensi....................................................................19

4.5. AutoCAD....................................................................................... 20
BAB V. SIMPULAN................................................................................. 23
BAB VI. DAFTAR PUSTAKA....................................................................24

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Alur Proses Pengolahan Limbah.......................................................12


Gambar 2 Design IPAL............................................................................... 19
Gambar 3 IPAL Tampak Atas........................................................................20
Gambar 4 IPAL Tampak Menyamping.............................................................21

BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air merupakan sumber daya alam yang penting dalam mendukung
kehidupan makhluk hidup, baik manusia, hewan dan juga tumbuhan. Keberadaan
pasokan air bersih kini semakin berkurang, karena banyaknya zat pencemar yang
masuk baik dari limbah domestik maupun industri. Menurut Undang-Undang RI
Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 82 Tahun 2001 tentang
Pengelolaan Kualitas dan Pengendalian Pencemaran Air, bahwa untuk

melestarikan fungsi air perlu dilakukan pengelolaan kualitas air dan pengendalian
pencemaran air secara bijaksana dengan memperhatikan kepentingan generasi
sekarang dan mendatang serta keseimbangan ekologis.
Industri merupakan salah satu penyumbang polutan ke dalam air akibat
aktivitas proses produksinya yang dapat mengakibatkanya perubahan lingkungan.
Perubahan komponen lingkungan sebagai akibat masuknya bahan pencemar
menyebabkan perubahan kualitas lingkungan, sehingga diperlukan pengolahan
yang baik untuk menurunkan cemaran khususnya pada limbah cair (Ginting
2007).
Meningkatnya aktivitas berbagai macam industri mengakibatkan semakin
besarnya limbah yang dihasilkan dari waktu ke waktu sehingga dapat
menimbulkan permasalahan bagi lingkungan. Permasalahan lingkungan hidup
seolah-olah seperti dibiarkan sejalan dengan intensitas pertumbuhan industri yang
masif. Hal ini menjadi polemik ketika industrialisasi itu sendiri menjadi prioritas
dalam pembangunan sebagaimana tercantum dalam MP3EI (Master Plan
Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia).
Limbah cair yang berasal dari buangan suatu usaha atau kegiatan produksi
berpotensi menurunkan kualitas air. Limbah cair dikatakan cemaran karena
sifatnya membahayakan bagi ekosistem air serta mempengaruhi kesehatan
masyarakat apabila tidak mengalami pengolahan. Oleh sebab itu, pengolahan
limbah cair menjadi sangat penting untuk meminimalisir terjadinya cemaran
terhadap air yang kondisinya semakin terbatas.
Proses pengolahan limbah cair merupakan salah satu kegiatan pengelolaan
limbah yang harus dilakukan sebelum limbah cair tersebut dibuang ke lingkungan.
Pengolahan limbah cair dengan memanfaatkan teknologi pengolahan dapat
dilakukan dengan cara fisika, kimia, dan biologis atau gabungan ketiga sistem
pengolahan tersebut. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)pada umumnya
terdiri atas kombinasi dua atau tiga cara pengolahan tersebut. Seluruh proses
pengelolaan limbah cair yang dilakukan bertujuan agar tercapainya pengelolaan
lingkungan dengan parameter dan peraturan yang ditetapkan pemerintah sehingga
lingkungan hidup tetap lestari dan tetap dapat berfungsi sesuai peruntukkannya.
PT Graha Cemerlang Paper Utama merupakan perusahaan yang
memproduksi kertas tissue. PT Graha Cemerlang Paper Utama memproduksi

4608.3 ton tissue setiap bulannya. Air limbah yang dihasilkan dari proses produksi
tidak langsung dibuang ke lingkungan tetapi dilakukan pengolahan terlebih
dahulu, ini bertujuan untuk menghindari pencemaran lingkungan. Outlet dari
pengolahan limbah cair juga dimanfaatkan untuk proses produksi kembali dan
penyiraman tanaman sekitar pabrik.

1.2 Tujuan
Untuk mempelajari proses pembuatan skema design IPAL PT Graha
Cemerlang Paper Utama sesuai dengan karakteristik air limbah yang dihasilkan.

BAB II. STUDI PUSTAKA


Limbah adalah zat atau bahan buangan yang dihasilkan dari proses
kegiatan manusia (Ign Suharto, 2011 :226). Limbah dapat berupa tumpukan
barang bekas, sisa kotoran hewan, tanaman, atau sayuran. Keseimbangan
lingkungan menjadi terganggu jika jumlah hasil buangan tersebut melebihi
ambang batas toleransi lingkungan. Apabila konsentrasi dan kuantitas melibihi
ambang batas, keberadaan limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan
terutama bagi kesehatan manusia sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap
limbah. Tingkat bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh limbah bergantung pada
jenis dan karakteristik limbah.
Berdasarkan Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah Nomor 10 tahun
2004 tentang baku mutu air limbah, yang dimaksud dengan limbah cair adalah
sisa dari suatu hasil usaha dan atau kegiatan yang berwujud cair yang dibuang ke
lingkungan dan diduga dapat menurunkan kualitas lingkungan. Sedangkan
menurut Sugiharto (1987) air limbah (waste water) adalah kotoran dari

masyarakat, rumah tangga dan juga yang berasal dari industri, air tanah, air
permukaan, serta buangan lainnya. Begitupun dengan Metcalf & Eddy (2003),
mendefinisikan limbah berdasarkan titik sumbernya sebagai kombinasi cairan
hasil buangan rumah tangga (permukiman),instansi perusahaaan, pertokoan, dan
industri dengan air tanah, air permukaan, dan air hujan.
Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) atau dikenal dengan waste water
treatment plant (WWTP), adalah sebuah struktur yang dirancang untuk
membuang limbah biologis dan kimiawi dari air sehingga memungkinkan air
tersebut untuk dibuang ke lingkungan atau digunakan pada aktivitas yang lain.
Fungsi dari IPAL mencakup:

Pengolahan air limbah pertanian, untuk membuang kotoran hewan, residu


pestisida, dan sebagainya dari lingkungan pertanian.

Pengolahan air limbah perkotaan, untuk membuang limbah manusia dan


limbah rumah tangga lainnya.

Pengolahan air limbah industri, untuk mengolah limbah cair dari


aktivitas manufaktur sebuah

industri

dan

komersial,

termasuk

juga

aktivitas pertambangan
BAB III. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
3.1 Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan dalam proses produksi yaitu Leaf Bleach
Kraft Pulp (LBKP), Needle Blech Kraft Pulp (NBKP) dan Broke. NBKP adalah
jenis pulp serat panjang atau soft wood yang berasal dari batang tumbuhan
berdaun jarum (pine, spruce, cedar) yang memiliki panjang serat > 1.3 mm
(biasanya 2.2 mm). Jenis pulp ini PT Graha Cemerlang Paper Utama mengimpor
dari Canada, New Zealand, Scandinavia,. LBKP adalah jenis pulp serat pendek
yang berasal dari batang tumbuhan berdaun lebar ( Acasia, Eucalyptus) yang
memiliki panjang serat <1.3 mm (biasanya 0.6-0.9 mm). Jenis pulp ini PT Graha
Cemerlang Paper Utama mengimpor dari New Zealand dan Brazil. Broke adalah
sisa buangan kertas dari proses produksi. Broke ini berasl dari sisa trim rewainder,
tissue machine, residual spool dan reject converting.

3.2 Bahan Penolong


Bahan penolong yang digunakan dalam proses produksi yaitu wet
strength, dry strength, softener, NaOH, coating, relesase, dan air. Wet strength
adalah bahan kimia yang digunakan untuk meningkatkan Wet Tensile kertas tissue,
bahan kimia yang digunakan yaitu Amibond WS 456. Softener adalah bahan kimia
yang digunakan untuk melembutkan kertas tissue dari segi fibernya (melapisi
fiber), bahan kimia yang digunakan adalah Amisoft 6538. NaOH adalah bahan
kimia yang digunakan untuk menaikkan nilai pH (nilai asam basa), chemical yang
digunakan adalah Caustic Soda. Coating adalah bahan kimia yang digunakan
untuk melindungi permukaan Yankee dari Blade, selain itu Coating juga berfungsi
untuk melicinkan kertas tissue dan menempelkan kertas tissue pada Yankee, bahan
kimia yang digunakan yaitu Amicoat TC 6101, TM 6123, dan Creepetrol A9915.
Release adalah bahan kimia yang digunakan untuk memudahkan lepasnya kertas
tissue dari Yankee, bahan kimia yang digunakan yaitu Amicoat TR 6112, 6127, dan
Rezosol 150. Air yang digunakan untuk melarutkan dan mentransfer buburan pulp.
3.3 Proses Produksi
PT Graha Cemerlang Paper Utama memproduksi kertas tissue dengan
jenis facial, toilet, napkin, towel. Cakupan proses produksi tissue secara garis
besar dimulai dengan masuknya bahan baku berupa pulp baik LBKP maupun
NBKP di bagian Stock Preparation yang kemudian diolah di masing-masing line
di area Stock Preparation. Broke (internal dan converting) masuk di bagian Tissue
Machine (TM) dan selanjutnya diolah di broke line di area Stock Preparation.
Pulp LBKP, NBKP, dan broke dicampur dengan komposisi tertentu sesuai
kebutuhan jenis tissue yang diproduksi (disebut furnish). Selanjutnya furnish
diproses di Tissue Machine (TM) hingga dihasilkan jumbo roll tissue di TM. Hasil
dari jumbo roll tissue di TM kemudian diproses lebih lanjut di rewainder. Di
rewainder jumbo roll TM dipotong sesuai kebutuhan order dari pelanggan

sehingga didapatkan ukuran yang sesuai (lebar, panjang, diameter roll). Roll yang
dihasilkan di rewainder kemudian ditimbang dan dicatat berat tiap roll-nya dalam
laporan. Selanjutnya roll dikemas sesuai permintaan dan diberi label. Setelah
pelabelan, roll kemudian dikirim ke Roll Warehouse (Gudang Roll) untuk proses
penyimpanan dan pengiriman.
3.4 Limbah Yang Dihasilkan
Sumber limbah yang masuk ke WWTP berasal dari proses produksi kertas
tissue (PM 1 dan PM 2) yang ditimbulkan dari proses pencucian mesin produksi,
silo, white water tank, proses High Density Cleaner (HDC), vibrating, screen,
multisolter, kebocoran pada system perpipaan dan tumpahan/overflow.

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Volume Air Limbah
Debit air limbah produksi yang masuk ke WWTP sekitar 350m3/hari.
Debit Outlet hasil pengolahan limbah cair sekitar 250m3/hari recycle ke produksi
dan 100 m3/hari dibuang ke lingkungan. Air limbah tersebut dibuang ke sungai
Cikaranggelam.
4.2 Karakteristik Air Limbah
4.2.1 Fisika
Limbah cair yang masuk ke WWTP PT Graha Cemerlang Paper Utama
yaitu tidak berbau dan berwarna putih. Suhu inlet memiliki kisaran antara 30.7134.18 Oc sedangkan untuk suhu outlet memiliki kisaran antara 27.1-36.3 Oc. TSS
inlet setiap bulannya memiliki kisaran 187.09 mg/L sedangkan setelah dilakukan
pengolahan (TSS outlet) memiliki kisaran 6 mg/L. TDS inlet memiliki kisaran
219 mg/L sedangkan untuk TDS outlet setiap bulannya memiliki kisaran 302
mg/L. TDS outlet lebih tinggi dibandingkan TDS inlet dikarenakan penggunaan
bahan kimia PAC, ACH, NaOCL pada saat pengolahan.

4.2.1 Kimia
Limbah cair yang masuk ke WWTP PT Graha Cemerlang Paper Utama
memiliki rata-rata karakteristik kimia yaitu dengan nilai pH berkisar 6-7.5. Untuk
nilai COD outlet sebesar 41 mg/L, sedangkan untuk BOD5 outlet sebesar 14
mg/L. Nilai COD dan BOD5 outlet tidak melebihi dari baku mutu yang telah
ditetapkan yakni 100 mg/L dan 50 mg/L.
4.3 Design Proses IPAL
Limbah cair yang masuk ke WWTP diolah dengan berbagai proses
pengolahan. Proses pengolahan limbah cair di WWTP meliputi proses pengolahan
secara fisika meliputi penyaringan, equalisasi, sedimentasi, filtrasi. Sedangkan
pengolahan secara kimia meliputi koagulasi, flokulasi. Dan untuk pengolahan
secara biologi meliputi aerasi.

Gambar 1 Alur Proses Pengolahan Limbah


Penjelasan unit-unit pengolahan limbah cair:
1. Bar Screen

Bar screen memiliki fingsi menyaring kotoran yang


berukuran besar dan serat-serat yang terbawa air limbah. Selain
itu, secara tidak langsung bar screen dapat melindungi
peralatan mekanis dari kerusakan misalnya kayu, batu,
potongan besi, sampah, dan lain-lain.
2. Equalisasi
Equalisasi berfungsi untuk

meminimumkan

dan

mengendalikan fluktuasi aliran limbah cair baik kuantitas


maupun

kualitas

yang

berbeda

dan

menghomogenkan

konsentrasi limbah cair dalam bak equalisasi (Suharto 2011).


Pada baik ini terjadi penghomogenan suhu, pH, debit dan
konsentrasi limbah cair dengan menggunakan mixer dan
blower.
3. Koagulasi-Flokulasi
Proses koagulasi dan flokulasi adalah konversi dari
polutan-polutan yang tersuspensi koloid yang sangat halus di
dalam air limbah menjadi gumpalan-gumpalan yang dapat
diendapkan,

disaring,

atau

diapungkan

(Siregar

2005).

Pengolahan air limbah di bak koagulasi-flokulasi berlangsung


secara fisika dan kimia. Pengolahan secara fisika dilakukan
dengan pengadukan, sementara pengolahan secara kimia
dilakukan dengan penambahan koagulan dan flokulan.
Koagulan yang digunakan adalah Poly Aluminium
Chloride (PAC) dan Aluminium Chlorohydrate (ACH).
Pemberian PAC menyebabkan air limbah memiliki nilai pH
yang rendah (kondisi asam), oleh sebab itu dilakukan
penambahan NaOH untuk menaikkan nilai pH.
Flokulan yang digunakan adalah polimer. Agar flok
terbentuk sempurna, kecepatan pengadukan diperlambat. Flok
yang dihasilkan akan berbentuk seperti lumpur yang disebut
dengan sludge. Setelah mengalami proses koagulasi dan
flokulasi, air limbah akan dialirkan ke bak sedimentasi untuk
dilakukan pemisahan air dan sludge.
4. Sedimentasi

Sedimentasi adalah pemisahan partikel dari air dengan


memanfaatkan gaya gravitasi. Proses ini bertujuan untuk
memperoleh air buangan yang jernih dan mempermudah proses
penanganan lumpur.. dalam proses sedimentasi hanya partikelpartikel yang lebih berat dari air yang dapat terpisah. Proses
sedimentasi dapat menurunkan BOD dengan rentang antara
30%-75%, menurunkan padatan terlarut (TDS) sekitar 40%95%, mereduksi mikroba sekitar 40%-75% (Suharto 2011).
Proses sedimentasi dilakukan setelah proses koagulasiflokulasi. Semakin besar flok yang terbentuk pada proses
koagulasi-flokulasi akan semakin cepat proses pengendapan
sebaliknya apabila flok yang terbentuk kecil maka proses
pengendapan akan berjalan lambat.
5. Aerasi
Metode aerobic adalh metode dengan menggunakan bakteri
aerob yang dapat berfungsi secara optimal bila tersedia udara
sebagai sumber kehidupan. Fungsi udara adalah untuk
menyediakan oksigen bagi kehidupan bakteri (Ginting 2007).
Pada bak aerasi ini terjadi proses desinfeksi dengan
penambahan natrium hypochlorite (NaOCl).
Pembunuhan bakteri bertujuan untuk membunuh bakteri
pathogen

yang

ada

did

lam

air

limbah.

Mekanisme

pembunuhan sangat dipengaruhi oleh kondisi dari zat


pembunuhnya dan mikroorganisme itu sendiri. Banyak zat
pembunuh

kimia

termasuk

klorin

dan

komponennya

mematikan bakteri dengan cara merusak atau menginaktifkan


enzim utama sehingga terjadi kerusakan pada dinding sel
bakteri tersebut. Mekanisme lain dari desinfektan adalah
dengan merusak langsung dinding sel seperti yang dilakukan
apabila menggunakan bahan radiasi ataupun panas (Sugiharto
1987). Air limbah yang dihasilkan di bak aerasi adalah 75 m 3
setiap harinya dan waktu tinggal 15 jam.
6. Bak Sludge

Bak sludge merupakan bak penampungan sludge yang


berasal

dari

bak

sedimetasi.

Selanjutnya

dari

bak

penampungan sludge akan diolah di filter press.


7. Filter Press
Filter press merupakan mesin penyaring lumpur bertekanan
yang tersusun atas beberapa plate penyaringan dengan
system operasional menggunakan hidrolik manual. Sludge
yang berada di bak penampungan dipompa menuju filter
press yang kemudian dihasilkan lembaran-lembara sludge.
Sludge

cake

yang

dihasilkan

disimpan

di

tempat

penyimpanan kemudian dikirim ke pihak ketiga.


4.4 Perhitungan IPAL
4.4.1. Bar Screen
Debit air limbah (QIPAL) yang dihasilkan yaitu 350 m3/hari atau 15 m3/jam,
sehingga V

= Va + (20% x Va)
= 15 m3+ (20% x 15 m3)
= 15m3+ 3 m3
= 18 m3

Ditentukan bar screen dengan dimensi :


Panjang x Lebar x Kedalaman = (3x 3 x 2) m

4.4.2. Tangki Equalisasi


Untuk proses equalisasi diasumsikan jangka waktu tinggal hidrolis
(HRT) yaitu 6 jam. Debit air limbah (QIPAL) yang dihasilkan yaitu 350
m3/hari atau 15 m3/jam, sehingga Volume aktual (Va) tangki equalisasi
adalah :
Va

= HRT x QIPAL
= 6 jam x 15 m3/jam
= 90 m3

Maka, volume tangki equalisasi (Ve) yang harus dibangun adalah :


Ve

= Va + (20% x Va)

= 90 m3+ (20% x 90 m3)


= 90 m3+ 18 m3
= 108 m3
Ditentukan tangki equalisasi dengan dimensi :
Panjang x Lebar x Kedalaman = (5 x 5 x 4,5) m

4.4.3. Bak Koagulasi-Flokulasi


Kriteria Perencanaan :

Waktu pengadukan (td) = 3 menit


Debit air limbah yang masuk (Q) = 350 m3/hari = 15 m3/jam = 0,25
m3/s

Kapasitas bak koagulasi yang harus dibangun adalah :

Kapasitas bak = Q x td
= 0,25 m3/s x 3 x 60s
= 45 m3
Maka, ditentukan bak koagulasi dengan dimensi :
Panjang x Lebar x Kedalaman = (5x 4 x 2,25) m

4.4.4. Bak Sedimentasi


Perencanaan dimensi bak sedimentasi ditentukan berdasarkan debit
yang masuk dari air limbah yang diolah. Hasil pengukuran di lapangan
didapatkan besarnya debit yang mengalir (Q) yaitu 350 m3/hari. Dari nilai
debit tersebut dapat dihitung volume total bak pengendap dengan
menentukan waktu tinggal (detention time (td) dari air limbah yang diolah.
Nilai waktu detensi (td) untuk perencanaan ini adalah 20 menit. Berikut
perhitungan volume total dari bak sedimentasi:
td

= 20 menit = 0,33 jam

= 350 m3/hari

= Q td
= 350 m3/hari 0,33 jam 1 hari/24 jam
= 4.8 m3

Sebagai surface loading rate diasumsikan :


SF = 30 m3/m2/hari
Maka, luas permukaan (surface area) yang diperlukan adalah :
As = 350 m3/hari
30 m3/m2/hari
= 12 m2
Kemudian, tentukan panjang (P), lebar (L), dan kedalaman (H) bak
sedimentasi dengan rumus :

Kedalaman (H)
H
= v0 waktu
= 30

0,33 jam

= 0,41 m

Untuk nilai panjang dan lebar bak sedimentasi, diasumsikan


perbandingannya yaitu 2 : 1, maka :
Panjang : Lebar = 2 : 1
Panjang = 2 x Lebar
Maka,

As

= Panjang Lebar

2L

2L2

1,58 m

As

= Panjang Lebar

= 5 / 1,58

x 1,58

= 3,16 m

4.4.5. Bak Aerasi


Kriteria Perencanaan :

Waktu retensi (td) = 15 20 menit


Debit air limbah yang masuk (Q) = 350 m3/hari = 15 m3/jam = 0,25
m3/s

Kapasitas bak flokulasi yang harus dibangun adalah :

Kapasitas bak = Q x td
= 0,25 m3/s x 20 x 60s
= 300 m3
Maka, ditentukan bak flokulasi dengan dimensi :
Panjang x Lebar x Kedalaman = (8 x 7 x 5) m

4.4.5. Bak Sludge dan Filter Press


Debit air limbah (QIPAL) yang dihasilkan yaitu 350 m3/hari atau 15 m3/jam,
sehingga V

= Va + (20% x Va)
= 15 m3+ (20% x 15 m3)
= 15m3+ 3 m3
= 18 m3

Ditentukan bak penampung sludge dan filter press dengan dimensi :


Panjang x Lebar x Kedalaman = (3x 3 x 2) m

4.4.6. Perhitungan Efisiensi


1. Beban Pencemaran
x Q = 14 mg/L BOD x 350 m3/ hari
= 11 kg/bulan
2. Efesiensi IPAL
TSS=

=
= 96.7 %

x 100%

x 100%

4.5. AutoCAD

Gambar 2 Design IPAL

Gambar 3 IPAL Tampak Atas

Gambar 4 IPAL Tampak Menyamping

BAB V. SIMPULAN

Dalam pembuatan grand desain dan instalasi pengolahan air limbah,


diperlukan perhitungan dan desain yang baik, efisien dan teknologi canggih agar
dalam pengelolaannya perusahaan dapat meminimalkan pengeluaran dan
perusahaan dapat menjaga lingkungan sesuai peruntukannya. Selain itu
perusahaan pula dapat meningkatkan mutu, kepercayaan konsumen dan kulitas
perusahaan apabila dalam pengelolaan limbahnya baik dan juga perusahaan dapat
mendapatkan penghargaan propper program peringkat kerja dari departement
lingkungan serta perusahaan dapat meningkatkan profit pendapatan.

BAB VI. DAFTAR PUSTAKA

Effendi.2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengolahaan Sumber Daya dan


Lingkungan Perairan.Yogyakarta : Kanisius
Ginting P.2007. Sistem Pengelolaan Lingkungan dan Limbah Industri. Yogyakarta
:Y rama widya
Keputusan Gubernur Jawa Barat NO. 6 tahun1999 Lampiran III Baku Mutu
Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri DI Jawa Barat
Siregar, sakti A.2005. Instalasi Pengolahan Air Limbah Menuntaskan
Pengenalan Alat-alat dan Sistem Pengolahan Air Limbah. Yogyakarta :
Kanisius.
Sugiarto. 1987. Dasar Dasar Pengolahan Air Limbah. Universitas
Indonesia Press. Jakarta.
Sugiarto l.2011. Limbah kimia dalam Pencemaran Udara dan Air. Yogyakarta (ID)
: penerbit Andi