Anda di halaman 1dari 101

BAB 1

KARAKTERISTIK AKUNTANSI MANAJEMEN


Akuntansi dapat dipandang sebagai suatu sistem yang mengolah masukan
berupa data operasi dan data keuangan untuk menghasilkan keluaran berupa
informasi akuntansi yang dibutuhkan oleh pemakai. Akuntansi manajemen
dapat dipandang dari dua sudut: akuntansi manajemen sebagai salah satu tipe
akuntansi & akuntansi manajemen sebagai salah satu tipe informasi.
Akuntansi manajemen adalah informasi keuangan yang merupakan keluaran
yang dihasilkan oleh tipe akuntansi manajemen, yang dimanfaatkan oleh
pemakai intern organisasi.
Akuntansi manajemen sebagai suatu tipe akuntansi (akuntansi keuangan
merupakan tipe akuntansi yang mengolah informasi keuangan untuk
memenuhi keperluan manajemen puncak dan pihak luar organisasi,
sedangkan akuntansi manajemen merupakan tipe akuntansi yg mengolah
informasi

keuangan

untuk

memenuhi

keperluan

manajemen

dalam

melaksanakan fungsi perencanaan dan pengendalian organisasi).


Bagi perusahaan yang besar, laporan keuangan yang dihasilkan oleh
akuntansi dimanfaatkan oleh pemakai luar yang terdiri dari pemegang saham,
kreditur, analis keuangan, organisasi karyawan, dan berbagai instansi
pemerintah. Mereka memerlukan laporan keu.perusahaan sebagai dasar
pembuatan keputusan tentang hub.mereka dengan pershn yg bersangkutan.
Manajemen berbagai jenjang organisasi suatu perusahaan memerlukan
informasi keuangan untuk mengambil keputusan mengenai perusahaan itu
sendiri atau bagiannya. Oleh karena karakteristik keputusan yg dibuat oleh
pihak luar berbeda dengan karakteristik keputusan yg dibuat oleh para
manajer, maka hal ini mempunyai dampak terhadap karakteristik sistem
pengolahan informasi akuntansi yg menghasilkan informasi keuangan.
Perbedaannya terletak pada:
1. Dasar pencatatan

Akuntansi keu.menggunakan prinsip akuntansi yg lazim sebagai pedoman


dalam mengolah data keuangan untuk disajikan kepada pemakainya. Di
lain pihak, akuntansi manajemen tidak terikat dengan prinsip akuntansi
yang lazim dalam pengolahan informasinya, karena pemakainya adalah
para manajer berbagai jenjang organisasi, yg lebih mementingkan
relevansi informasi dengan keputusan yg akan mereka lakukan.
2. Fokus Informasi
Akuntansi keuangan digunakan untuk mengolah informasi keuangan masa
lalu untuk menggambarkan pertanggungjawaban dana yang dipercayakan
oleh pihak luar kepada manajemen suatu perusahaan. Di lain pihak,
akuntansi manajemen di samping menghasilkan informasi keuangan masa
lalu, juga menyediakan informasi keuangan masa yang akan datang
sebagai salah satu dasar bagi manajemen dalam pengambilan keputusan.
3. Lingkup Informasi
Akuntansi keuangan mengolah dan menyajikan informasi keuangan
perusahaan secara keseluruhan. Akuntansi manajemen mengolah dan
menyajikan informasi keuangan bagian-bagian suatu perusahaan untuk
memenuhi keperluan manajer tertentu perusahaan yang menjadi tanggung
jawabnya saja.
4. Sifat Laporan yang Dihasilkan
Laporan yang dihasilkan oleh akuntansi keuangan umumnya berupa
ringkasan dan berisi informasi yang teliti. Laporan keuangan yang
dihasilkan oleh akuntansi manajemen lebih rinci dan unsur taksiran lebih
dominan dalam informasi yang disajikan di dalamnya.
5. Keterlibatan dalam Perilaku Manusia
Akuntansi keuangan lebih mementingkan pengukuran kejadian-kejadian
ekonomi sedangkan akuntansi manajemen lebih banyak bersangkutan
dengan pengukuran kinerja manajemen berbagai jenjang organisasi.

6. Disiplin Sumber yang Melandasi


2

Akuntansi keuangan hanya bersumber pada satu disiplin sumber: ilmu


ekonomi, sedangkan akuntansi manajemen memiliki dua disiplin sumber:
ilmu ekonomi dan psikologi sosial.
Hal yang sama di antara Akuntansi Keuangan dan Akuntansi Manajemen
yang pertama adalah prinsip akuntansi yang lazim diterima baik dalam
akuntansi keuangan kemungkinan besar juga merupakan prinsip pengukuran
yang relevan dalam akuntansi manajemen.yang kedua, akuntansi keuangan
dan akuntansi manajemen menggunakan informasi operasi yang sama sebagai
bahan baku untuk menghasilkan informasi yang disajikan kepada
pemakainya.
Peran akuntansi sebagai sistem pengolah informasi keuangan dalam
perusahaan dibagi menjadi tiga tingkat perkembangan: pencatat skor (score
keeping), penarik perhatian manajemen(attention directing), dan penyedia
informasi untuk pemecahan masalah (problem solving).
Mengapa informasi kuantitatif? Umumnya informasi kuantitatif lebih
berperan dalam mengurangi ketidakpastian bila dibandingkan dengan
informasi nonkuantitatif. Sebagai contoh, dalam pengambilan keputusan
investasi, manajemen tidak hanya memerlukan informasi apakah investasi
yang akan dilaksanakan mendatangkan laba, namun ia memerlukan informasi
besarnya rate of return dan pay-back period investasi yang akan
dilaksanakan.
Mengapa informasi akuntansi? Tolok ukur kinerja menggunakan informasi
akuntansi untuk memperoleh peran serta manajer yang ada di bawah manajer
puncak dalam mencapai tujuan perusahaan. Seorang manajer perlu menguasai
accounting jargon supaya dapat berpikir ekonomis rasional. Keterbatasan
pengetahuan seorang manajer tentang akuntansi sebagai bahasa bisnis akan
mengakibatkan tidak dimilikinya ketajaman analisis bisnisnya dalam
mengelola perusahaannya. Informasi akuntansi sebagai bahasa bisnis
dikelompokkan menjadi tiga golongan : operasi, keuangan, manajemen.

Informasi operasi : untuk melaksanakan aktivitas perusahaan sehari-hari,


seperti jumlah kilogram bahan baku yang dipakai dalam produksi, jumlah
produksi hari ini, jumlah jam kerja karyawan dalam satu minggu, dll.
Informasi Akuntansi Keuangan: diperlukan baik oleh manajemen puncak
maupun pihak luar perusahaan seperti pemegang saham, kreditur, instansi
pemerintah, dll seperti neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas.
Informasi Akuntansi Manajemen: untuk melaksanakan dua fungsi pokok
manajemen: perencanaan dan pengendalian aktivitas perusahaan. Informasi
ini disajikan kepada manajemen perusahaan dalam berbagai lap.keu.seperti
anggaran, laporan biaya produksi, laporan biaya mutu, laporan biaya
pemasaran, laporan biaya menurut pusat pertanggungjawaban.
Informasi akuntansi manajemen dapat dihubungkan dengan tiga hal: objek
informasi, alternatif yang dipilih, dan wewenang manajer.
Tipe informasi akuntansi manajemen: informasi akuntansi penuh (full
accounting

information,

informasi

akuntansi

diferensial

(differential

accounting information, dan informasi akuntansi pertanggungjawaban


(responsibility accounting information).
Trend yang menyebabkan perubahan akuntansi manajemen adalah:
1. Kemajuan teknologi informasi.
Manajemen mampu memproduksi produk dengan mudah, memperoleh
informasi yang diperlukan untuk menjalankan bisnis mereka dengan
cepat. Di lain pihak, akuntan manajemen mampu melakukan rekayasa
informasi yang sebelumnya tidak mungkin dilaksanakan dengan manual.
Perkembangan teknologi informasi mengakibatkan konsumen mudah
melakukan akses terhadap mutu produk dan jasa yang akan mereka beli.
Konsumen akan memilih produk produsen yang mampu menghasilkan
produk dan jasa yang memiliki mutu tinggi dengan harga yang murah.
2. Implementasi just-in-time (JIT) manufacturing.
Perusahaan

hanya

memproduksi

atas

dasar

permintaan,

tanpa

memanfaatkan tersedianya persediaan dan tanpa menanggung biaya


persediaan. JIT merupakan usaha untuk mengurangi waktu penyimpanan
4

(storage time) yang merupakan salah satu akibat dari aktivitas-bukanpenambah nilai bagi konsumen (non-value-added activities). JIT
mempunyai dampak signifikan terhadap tingkat persediaan, tata letak
pabrik (plant layout), dan penyediaan jasa pendukung.
3. Meningkatnya tuntutan mutu.
Untuk menghasilkan produk sesuai dengan spesifikasi mutu yang
dijanjikan kepada pelanggan dibutuhkan pengendalian menyeluruh atau
total quality control (TQC). TQC merupakan konsep pengendalian yang
meletakkan tanggung jawab pengendalian di pundak setiap karyawan
yang terlibat dalam proses pembuatan produk, sejak desain sampai proses
produksi, sampai produk mencapai pembeli.
4. Meningkatnya diversifikasi dan kompleksitas produk, serta semakin
pendeknya daur hidup produk.
5. Diperkenalkannya computer-integrated manufacturing.
Dampak perkembangan teknologi informasi terhadap kebutuhan manajemen
akan informasi akuntansi:
1. Informasi Biaya Produk yang Cermat
Tujuannya: (1) konsumen tidak dibebani niaya-bukan-penambah nilai
(non-value-added costs) bagi mereka, (2) laba yang diperoleh perusahaan
yang memasuki persaingan global dan tajam adalah rendah sehingga
hanya perusahaan-perusahaan yang cost-effective saja yang mampu
bertahan dan berkembang dalam situasi persaingan semacam itu.
2. Informasi Biaya Overhead yang Cermat
Biaya overhead pabrik mencerminkan konsumsi sumber daya dalam
pelaksanaan aktivitas tertentu. Manajemen memerlukan informasi ini
dalam setiap aktivitas perusahaan untuk menghasilkan produk agar
mereka mampu melakukan perbaikan secara terus menerus terhadap
value-added activities dan dapat menghilangkan non-value-added
activities. Dalam posisi ini manajemen akan mampu menjadikan
perusahaannnya cost-effective, salah satu daya saing (competitive edge)
yang harus dimiliki oleh perusahaan-perusahaan kelas dunia.
5

3. Informasi Biaya Daur Hidup Produk


Memungkinkan manajemen melakukan strategic cost analysis pada saat
mempertimbangkan peluncuran produk baru, penghentian produksi
produk yang ada, dan product profitability analysis.
Respon akuntansi manajemen terhadap kebutuhan manajemen akan informasi
akuntansi:
1. Akuntansi manajmen melepaskan dominasi akuntansi keuangan dengan
memfokuskan perekayasaan informasi akuntansi untuk memenuhi
kebutuhan manajemen. Informasi biaya yang dihasilkan akuntansi
manajemen tidak sekadar ditujukan kepada manajemen untuk memenuhi
kebutuhan pelaporan keuangan (financial reporting) bagi pihak luar
perusahaan, namun untuk memungkinkan manajemen melakukan
pengelolaan aktivitas (activity management) berdasarkan informasi biaya.
2. Akuntansi

manajemen

memanfaatkan

teknologi

komputer

untuk

merekayasa informasi biaya produk yang lebih cermat. Pemanfaatan


teknologi komputer ini memungkinkan pembebanan biaya overhead
(overhead cost assignment) kepada produk menjadi jauh lebih cermat,
sehingga memungkinkan manajemen melakukan analisis kemampuan
produk dalam menghasilkan laba (product profitability analysis) dan
keputusan penetapan harga jual (pricing decision).
3. Akuntansi manajemen berusaha mencerminkan konsumsi sumber daya
dalam setiap aktivitas untuk menghasilkan produk dengan menerapkan
activity-based cost system.
4. Akuntansi manajemen menciptakan target costing untuk memungkinkan
manajemen menerapkan market-driven strategy dalam memasuki pasar
dunia.
5. Akuntansi manajemen menyajikan informasi product-life-cycle cost untuk
memungkinkan manajemen melakukan strategic cost analysis.

BAB 2
INFORMASI AKUNTANSI PENUH
Konsep Informasi Akuntansi Penuh
Pembahasan informasi akuntansi penuh selalu bersangkutan dengan objek
informasi (information object atau information objective). Objek informasi
dapat berupa produk, keluarga produk, aktivitas, departemen, divisi, atau
perusahaan sebagai keseluruhan. Unsur yang membentuk informasi
akuntansi penuh adalah total aktiva, total pendapatan, dan/atau total biaya.
Full accounting information terdiri dari unsur full assets, full revenues,
dan/atau full costs, yg merupakan salah satu unsur full accounting info.
Full cost merupakan total biaya yg bersangkutan dengan objek informasi.
Jika informasi berupa produk, full cost merupakan total biaya yang
bersangkutan dengan produk tersebut. Perhitungan full cost suatu produk
dipengaruhi oleh metode penentuan harga pokok produksi yang
digunakan: full costing atau variable costing, activity-based costing.
Full costing merupakan salah satu metode penentuan harga pokok
produkasi, yang membebankan seluruh biaya produksi sebagai harga
pokok produksi, baik biaya produksi yang berperilaku variabel maupun
tetap. Jika perusahaan menggunakan pendekatan full costing dalam
penentuan harga pokok produksinya, full cost merupakan total biaya
produksi (biaya bahan baku + biaya tenaga kerja langsung + biaya
overhead pabrik variabel + biaya overhead pabrik tetap) ditambah dengan
total biaya nonproduksi (biaya administrasi & umum + biaya pemasaran).
Variable costing membebankan hanya biaya produksi yang berperilaku
variabel saja kepada produk. Jika perusahaan menggunakan pendekatan
variable costing dalam penentuan harga pokok produksinya, full cost
merupakan total biaya variabel (biaya bahan baku + biaya tenaga kerja
langsung + biaya overhead pabrik variabel + biaya administrasi & umum
variabel + biaya pemasaran variabel) ditambah dengan total biaya tetap

(biaya overhead pabrik tetap + biaya administrasi & umum tetap + biaya
pemasaran tetap).
Activity-based costing pada dasarnya merupakan metode penentuan harga
pokok produk (product costing) yang ditujukan untuk menyajikan
informasi harga pokok produk secara cermat (accurate) bagi kepentingan
manajemen, dengan mengukur secara cermat konsumsi sumber daya
dalam setiap aktivitas yang digunakan untuk menghasilkan produk.
Dengan pendekatan ini, aktivitas pembuatan produk dibagi menjadi tiga
fase: fase desain dan pengembangan, fase produksi, dan fase dukungan
logistik (logistic supports).
Rincian biaya setiap jenis aktivitas desain, produksi dan distribusi produk
dalam lingkungan manufaktur maju adalah sebagai berikut:
1. Unit-Level Activity Costs. Biaya ini dipengaruhi oleh besar kecilnya
jumlah unit produk yang dihasilkan. Biaya bahan baku, biaya tenaga
kerja langsung, biaya energi, dan biaya angkutan adalah contoh biaya
yang termasuk dalam golongan ini. Biaya ini dibebankan kepada
produk berdasarkan jumlah unit produk yang dihasilkan.
2. Batch-Related Activity Costs. Biaya ini berhubungan dengan jumlah
batch produk yang diproduksi. Setup costs, yang merupakan biaya
yang dikeluarkan untuk menyiapkan mesin dan ekuipmen sebelum
suatu order produksi diproses, biaya angkutan bahan baku dalam
pabrik, biaya inspeksi, biaya order pembelian adalah contoh biaya
yang termasuk dalam golongan biaya ini. Besar atau kecilnya biaya ini
tergantung dari frekuensi order produksi yang diolah oleh fungsi
produksi. Biaya ini tidak dipengaruhi oleh jumlah unit produk yang
diproduksi dalam setiap order produksi.
3. Product-Sustaining Activity Cost. Biaya ini berhubungan dengan
penelitian dan pengembangan produk tertentu dan biaya-biaya untuk
mempertahankan produk agar tetap dapat dipasarkan. Biaya ini tidak
terpengaruh oleh jumlah unit yang diproduksi dan jumlah batch
produksi yang dilaksanakan oleh divisi penjual.
8

4. Facility-Sustaining Activity Costs. Biaya ini berhubungan dengan


kegiatan untuk mempertahankan kapasitas yang dimiliki oleh
perusahaan. Biaya depresiasi dan amortisasi, biaya asuransi, biaya gaji
karyawan kunci perusahaan adalah contohnya. Biaya ini dibebankan
kepada produk atas dasar taksiran unit produk yang dihasilkan pada
kapasitas normal divisi penjual.
Manfaat Informasi Akuntansi Penuh
1. Pelaporan keuangan
Unsur informasi akuntansi penuh untuk kepentingan pelaporan kepada
pihak luar perusahaan adalah berbeda dengan unsur informasi
akuntansi penuh untuk kepentingan pelaporan keuangan kepada pihak
intern perusahaan. Pelaporan keuangan untuk pihak luar perusahaan
memerlukan informasi akuntansi penuh yg disusun berdasarkan prinsip
akuntansi yang lazim, sedangkan untuk pihak intern perusahaan
memerlukan informasi akuntansi penuh yang penyusunannya tidak
terikat pada prinsip akuntansi yang lazim.
2. Analisis kemampuan menghasilkan laba (profitability analysis).
Untuk mengukur kemampuan menghasilkan laba suatu perusahaan
atau suatu pusat laba dalam perusahaan biasanya digunakan alat
pengukur: kembalian investasi (return on investment atau disingkat
ROI) atau residual income (disingkat RI). Kembalian investasi
dihitung dengan cara membandingkan laba bersih dengan aktiva yang
digunakan oleh pusat laba tersebut untuk mendapatkan laba tersebut.
Penggunaan kembalian invetasi atau residual income sebagai alat
analisis kemampuan menghasilkan laba divisi dipengaruhi oleh 4
faktor berikut ini:
1. Konsep laba yang digunakan.
2. Komponen untuk menghitung laba.
3. Komposisi aktiva yang diperhitungkan dalam investment base.
4. Penilaian aktiva.

Terdapat 4 pengertian laba yang tersedia untuk mengukur laba divisi


berikut ini:
a) Laba kontribusi divisi (divisi contribution margin).
b) Laba terkendali divisi (division controllable profit).
c) Laba langsung divisi (division direct profit).
d) Laba bersih divisi (division net profit).
Konsep laba bersih divisi adalah yang cocok digunakan untuk
kepentingan pengukuran kemampuan menghasilkan laba divisi, karena
di dalamnya telah diperhitungkan informasi pendapatan penuh dan
informasi biaya penuh, sehingga mencerminkan semua faktor penentu
kemampuan menghasilkan laba divisi. Atas dasar kriteria tersebut
manajemen puncak dapat mengambil keputusan mengenai komponen
aktiva yang dimasukkan sebagai investasi suatu divisi berikut ini:
a) Kas, piutang dagang, persediaan, dan aktiva tetap yang digunakan
langsung oleh divisi adalah contoh aktiva yang dengan mudah
dapat diperhitungkan sebagai investasi dalam suatu divisi.
b) Aktiva divisi yang berasal dari sumber yang tidak memerlykan
biaya (interest free) tidak diperhitungkan dalam investment base.
c) Divisi tidak dapat dibebani dengan sebagian aktiva kantor pusat,
kecuali jika aktiva kantor pusat tersebut dapat diidentifikasikan
secara langsung dengan kegiatan tersebut.
d) Aktiva divisi yang tidak digunakan secara langsung untuk
memperoleh pendapatan divisi harus dikeluarkan dari perhitungan
investasi divisi.
e) Aktiva yang menganngur dalam suatu divisi, namun masih dapat
dimanfaatkan usaha divisi lain, dapat dikeluarkan dari perhitungan
investment base. Kebijakan ini dapat mendorong manajer divisi
untuk melepaskan aktiva yang rendah pemanfaatannya ke divisi
lain yang mampu memanfaatkan aktiva tersebut lebih baik.
3. Berapa biaya yang telah dikeluarkan untuk sesuatu? Jawabannya
adalah dengan menyajikan informasi biaya penuh yang bersangkutan
10

dengan objek biaya. Biaya penuh yang telah dikeluarkan untuk sesuatu
berperan bagi manajemen dalam:
a) Evaluasi konsumsi sumber daya yang dikorbankan untuk sesuatu,
b) penyediaan informasi untuk memungkinkan manajemen melongok
struktur biaya perusahaan pesaing ,
c) pengambilan keputusan membeli atau membuat sendiri,
d) penentuan harga jual produk atau jasa,
e) penyediaan kemudahan dalam penghilangan pemborosan dengan
menyediakan informasi biaya untuk aktivitas-bukan-penambah-nilai,
f) penyediaan informasi untuk perbaikan tingkat kemampuan produk
atau jasa dalam menghasilkan laba dengan memantau total biaya daur
hidup produk atau jasa,
g) penyediaan informasi untuk memungkinkan manajemen melakukan
perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan tentang biaya
mutu (quality costs),
h) Costs reimbursement,
i) inventory costing.
4. Penentuan harga jual dalam cost-type contract.
Cost-type contract adalah kontrak pembuatan produk atau jasa yang
pihak pembeli setuju untuk membeli produk atau jasa pada harga yang
didasarkan pada total biaya yang sesungguhnya dikeluarkan oleh
produsen ditambah dengan laba yang dihitung sebesar persentase
tertentu dari total biaya sesungguhnya tersebut. Biaya penuh masa lalu
dipakai sebagai dasar penentuan harga jual.
5. Penentuan harga jual normal.
Manajemen puncak harus harus memperoleh jaminan bahwa harga jual
produk atau jasa yang dijual di pasar dapat menutup biaya penuh untuk
menghasilkan produk atau jasa tersebut dan dapat menghasilkan
produk atau jasa tersebut dan dapat menghasilkan laba wajar. Harga
jual = Biaya produksi + Biaya nonproduksi + Laba yang diharapkan

11

6. Penentuan Harga Transfer.


Ada dua macam pendekatan yang digunakan untuk menentukan harga
transfer: penentuan harga transfer atas dasar biaya (cost-based
transfer price) dan penentuan harga transfer atas dasar harga pasar
(market-based transfer price).
7. Penentuan Harga Jual yang Diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Produk dan jasa yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan pokok
masyarakat luas seperti listrik, air, telepon dan telegraf, dan pos diatur
dengan peraturan pemerintah. Harga jual tersebut ditentukan
berdasarkan biaya penuh pada masa yang akan datang ditambah
dengan laba yang diharapkan. Informasi akuntansi penuh yang
bermanfaat yntuk penetapan harga jual produk atau jasa yang diatur
dengan peraturan pemerintah terdiri dari biaya penuh masa yang akan
datang yang akan dikeluarkan untuk menghasilkan produk atau jasa
dan aktiva penuh yang akan digunakan untuk menghasilkan produk
atau jasa tersebut.
8. Penyusunan program.
Merupakan proses pengambilan keputusan mengenai programprogram yang akan dilaksanakan oleh organisasi dan penaksiran
jumlah sumber daya yang akan dialokasikan kepada setiap program
tersebut. Dalam perusahaan dapat dijumpai berbagai program seperti:
program penelitian&pengembangan produk baru, pelatihan karyawan.
Rekayasa Informasi Akuntansi Penuh
Banyak biaya yang merupakan biaya bergabung (common costs), yang
dalam perekayasaan informasi akuntansi penuh harus dibagikan secara adil
kepada berbagai objek informasi melalui metode pembebanan tertentu.
Metode pembebanan biaya yang digunakan untuk perekayasaan informasi
akuntansi penuh dapat dibagi menjadi menurut tujuan pemanfaatan
informasi akuntansi penuh berikut ini:
1) Pembebanan biaya tidak langsung untuk penyediaan informasi Bagi
pengambilan keputusan manajemen. Dalam perekayasaan informasi
12

akuntansi penuh, biaya tidak langsung dibebankan kepada objek


informasi untuk memenuhi kebutuhan manajemen dalam: (a) analisis
kemampuan produk atau jasa dalam menghasilkan laba dan penentuan
harga jual (b) pengukuran kinerja manajer (hubungannya erat dengan
wewenang manajer tertentu untuk mengendalikan biaya).
2) Pembebanan biaya tidak langsung untuk pelaporan keuangan kepada
pihak luar perusahaan.
Umumnya dilakukan dengan dasar alokasi yang bersifat sembarang.
Tetapi cara ini bisa membuat manajemen salah menafsirkan informasi
biaya penuh yang diterimanya, sehingga akan menyebabkan kesalahan
dalam pengambilan keputusannya. biaya bersama dialokasikan kepada
produk bersama atas dasar alokasi berikut ini: nilai jual relatif, satuan
fisik, rata-rata biaya, rata-rata tertimbang.

13

BAB 3
INFORMASI AKUNTANSI DIFFERENSIAL
Salah satu fungsi penting manajemen adalah perencanaan. Dalam perencanaan,
mereka dihadapkan pada pengambilan keputusan yang menyangkut pemilihan
berbagai macam alternatif. Untuk memutuskan alternatif yang harus dipilih,
mereka menghadapi ketidakpastian. Oleh karena itu, manajemen memerlukan
informasi yang dapat mengurangi ketidakpastian yang mereka hadapi, sehingga
memungkinkan mereka menentukan pilihan dengan baik. Salah salah satu
informasi penting yang biasanya diperlukan sebagai dasar perencanaan dan
pengambilan keputusan adalah akuntansi differensial.
Proses Pengambilan Keputusan
A. Pengambilan keputusan dilaksanakan melalui empat tahap yang berurutan
berikut ini: 1. Pengakuan dan perumusan masalah atau kesempatan 2.
Pencarian tindakan alternatif dan pengkuantifikasinya masing-masing 3.
Pemilihan alternative optimum atau alternative yang memuaskan 4.
Implementasi dan penindaklanjutan
B. Pengakuan dan Perumusan Masalah atau Kesempatan Keputusan yang
harus diambil oleh manajemen kemungkinan merupakan respon terhadap :
1. Peristiwa yang mengandung masalah 2. Ancaman yang dirasakan ada 3.
Kesempatan yang diperkirakan akan terjadi Jika masalah atau kesempatan
telah ditonjolkan unutk menarik perhatian, masalah atau kesempatan
tersebut harus segera dirumuskan. Informasi akuntansi memiliki
kemampuan untuk memperjelas masalah yang dihadapi oleh manajemen
dengan mewujudkan masalah tersebut dalam bentuk kuantitatif keuangan.
C. Pencarian

Tindakan

MasingMasing

Jika

Alternatif

dan

masalah

atau

Kuantifikasi
kesempatan

Konsekuensinya
telah

selesai

dirumuskan,manajemen kemudian mencari alternative tindakan untuk


memecahkan

masalah

tersebut

dan menghitung

secara kuntitatif

konsekuensi setiap alternative tindakan tersebut.

14

D. Pemilihan alternative optimum atau alternatif yang memuaskan Tahap


yang paling gawat dalam proses pengambilan keputusan adalah pemilihan
satu diantara berbagai alternatif yang dapat dipilih. Meskipun tahap ini
tampaknya rasional, namun pemilihan akhir seringkali lebih didasarkan
atas pertimbangan ekonomis rasional. Manajer yang melakukan pemilihan
alternatif kemungkinan menghadapi beberapa alternative yang layak
dipilih, yang masing-masing memiliki segi-segi positif tertentu dipandang
dari sudut kriteria pemilihan alternatif yang digunakan. Manajer
kemungkinan menggunakan pendekatan ekonomis rasional di dalam
melakukan pemilihan alternative yang optimum, sehingga pemilihan
alternative yang dilakukan berdasarkan atas pertimbangan ekonomis
rasional.
E. Implementasi dan Penindaklanjutan Berhasil atau tidaknya pilihan akhir
tergantung atas efisiensi implementasi alternative yang telah dipilih.
Implementasi

hanya

akan

berhasil

jika

individu

yang

memilki

pengendalian terhadap sumber daya organisasi yagn diperlukan untuk


melaksanakan keputusan tersebut sepenuhnya danggup mewujudkan
alternative yang dipilih.
Peranan

Informasi

Akuntansi

Manajemen

KEPUTUSAN

Dalam

Dalam

Pengambilan

Keputusan
A. PENGAMBILAN

pengambilan

keputusan,

informasi akuntansi berperan untuk: 1. Meransang manajemen didalam


menyadari dan mendefinisikan masalah. 2. Memisahkan laternatif tindakan
yang satu dengan alternative tindakan yang lain 3. Menjelaskan
konsekuensi berbagai alternative tindakan yang dipilih 4. Membantu
menganalisis dan menilai berbagai alternative tindakan yagn akan dipilh.
B. Informasi Akuntansi sebagai Peransang (Stimuli) dalam Pengakuan Adanya
Masalah Informasi akuntansi dapat berfungsi sebagai perangsang untuk
menyadari adanya masalah. Apakah ransangan dari informasi tersebut
kenyataanya memicu kearah penyelesaian masalah tergantung atas
beberapa factor: a. Apakah lingkungan internal maupun eksternal
15

memungkinkan dengan cepat manajemen bereaksi. b. Kemampuan manajer


dalam mengorganisasi dan menggunakan informasi akuntansi serta
preferensi pribadi mereka terhadap informasi kuantitiatif atau kualitatif. c.
Ukuran perusahaan dan tingkat disentralisasi didalamnya d. Tersedianya
data industry sebagai pembanding
C. Kondisi lingkungan Informasi akuntansi dapat berfungsi sebagai pemicu
timbulnya kesadaran akan adanya masalah atau kesempatan dipengaruhi
oleh kondisi lingkungan internal maupun eksternal yang dihadapi. Jika
kondisi lingkungan tidak memungkinkan pengambilan keputusan dengan
cepat untuk bereaksi terhadap masalah atau kesempatan yang timbul,
informasi akuntansi tidak berfungsi sebagai pemicu kesadaran manajemen
kearah pemecahan masalah/tindakan menghadapi kesempatan.
D. Kemampuan Manajer di dalam Mengorganisaikan dan Menggunakan
Informasi Akuntansi serta Preferensi Pribadi Mereka terhadap Informasi
Kuantitatif atau Kualitatif Tingkat rangsangan yang dihasilkan oleh
informasi akuntansi dalam pengambilan keputusan juga ditentukan oleh
kemampuan manajer dalam mengorganisasi dalam menggunakan informasi
akuntansi serta ditentukan oleh preferensi manajer informasi kuantitatif.
E. Ukuran Perusahaan dan Tingkat Desentralisasi di dalamnya Biasanya
dalam perusahaan kecil, pemilik sekaligus memimpin perusahaan
melakukan

pengambilan

keputusan

dan

sekaligus

melaksanakan

keputusannya. Dalam situasi semacam ini, biasanya pengambil keputusan


mengandalkan observasi langsung dan intuisinya dalam menyadari adanya
masalah dan kesempatan.
F. Tersedianya Data Industri sebagai Pembanding Kemampuan informasi
akuntansi sebagai pemicu kesadaran manajer akan adanya masalah atau
kesempatan ditentukan pula oleh tersedia atau tidaknya data industri
sebagai pembanding.
G. Dampak Informasi Akuntansi Dalam Pemilihan Keputusan Bobot yang
diberikan oleh pengambil keputusan atas informasi akuntansi dalam
pemilihan akhir tergantung atas: 1. Seberapa jauh informasi dirasakan
16

mampu mengurangi sebagian ketidakpastian yang melingkupi proses


pengambilan keputusan. 2. Permintaan dan persaingan atas produk dan jasa
3. Tingkat ketelitian informasi akuntansi yang direkayasa oleh manajemen
4. Lingkup keputusan yang diambil (jangka pendek atau jangka panjang 5.
Preferensi pengambil information) keputusan (external information atau
internal.
H. Kemampuan akuntansi dalam mengukur biaya kesempatan
Konsep Informasi Akuntansi Diferensial (Differential Accounting
Information)
Informasi akuntansi diferensial merupakan taksiran perbedaan aktiva,
pendapatan, dan biaya dalam alternative tindakan tertentu dibandingkan
dengan alternative tindakan yang lain. Informasi akuntansi diferensial
mempunyai dua unsur pokok: merupakan informasi masa yang akan
datang dan berada di antara alternative yang dihadapi oleh pengambilan
keputusan. Informasi akuntansi diferensial terdiri dari biaya, pendapatan,
dan aktiva. Informasi diferensial yang hanya berkaitan dengan aktiva
disebut aktiva diferensial (differential assets), dan yang hanya berkaitan
dengan pendapatan disebut dengan pendapatan diferensial (defferential
revenues), dan yang hanya berkaitan dengan biaya disebut biaya
diferensial (differential costs).
Biaya Diferensial Sebagai Bagian Informasi Akuntansi Diferensial
A. Informasi akuntansi differensial terdiri dari aktiva, pendapatan dan biaya,
dari ketiga jenis informasi tersebut yang relatif sulit pengukurannya adalah
biaya differensial. Terdapat berbagai konsep biaya yang dikembangkan
dalam akuntansi biaya, sepertii opportunity cost, incremental cost, out of
pocket cost, dan hypothetical cost yang sebenarnya mempunyai pengertian
yang berbeda dengan biaya differensial.
B. Biaya Diferensial versus Biaya Relevan. Suatu biaya disebut biaya relean
jika biaya tersebut berhubungan dengan tujuan perekayasaan biaya
tersebut. Sedangkan biaya diferensial yaitu biaya yang relevan dengan
pengambilan

keputusan,

karena

pengambilan

keputusan

selalu
17

menyangkut pemilihann alternative masa yang akan datang. Dan untuk


melakukan pemilihan pengambilan keputusan harus dapat membedakan di
antara alternatif yang tersedia.
C. Biaya Diferensial sebagai Biaya Masa yang akan Datang (Future Cost).
Biaya masa yang akan datang (Future cost) adalah biaya yang dapat
diperkirakan akan terjadi dalam periode yang akan datang. Karena biaya
ini merupakan biaya yang di harapkan akan terjadi di masa yang akan
datang. Jadi biaya masa yang akan datang idak hanya sekedar diharapkan,
namun secara resmi di tuang alam bentuk rencana kegiatan menyeluruh
perusahaan untuk jangka waktu tertentu di masa yang akan datang biaya
tersebut merupakan biaya yang akan datang.
D. Biaya Diferensial adalah Biaya yang Berbeda Yaitu biaya masa yang akan
datang yang di perkirakan akan berbeda (differ) atau terpengaruh oleh
suatu pengambilan keputusan pemilihan di antara berbagai macam
alternatif.
E. Perbedaan Biaya Penuh dengan Biaya Diferensial Ada 3 aspek yang turut
membedakan yaitu: 1. Unsur Biaya 2. Sumber Informasi 3. Perspektif
Waktu Unsur Biaya yaitu yang membentuk biaya penuh suatu produk yang
terdiri dari biaya lansung berkaitan dengan produk ditambah dengan
bagian biaya yang tidak langsung yang dibebankan kepada produk
tersebut. Informasi biaya penuh diambil langsung dari catatan akuntansi
reguler perusahaan, karena sistem akuntansi perusahaan memang di
rancang untuk menghasilkan informasi biaya penuh dalam kegiatan
normalnya.
F. Biaya Diferensial versus Biaya Variabel Biaya variabel merupaan biaya
yang berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan, sedangkan
biaya diferensial selalu berkaitan dengan alternatif tertentu yang di
pertimbangkan

untuk

dipilih.

Jika

keputusan

yang

sedang

di

pertimbangkan berhubungan dengan pemilihan satu di antara berbagai


volume kegiatan, istilah yang sama dengan biaya diferensial adalah
incremental cost. Misalnya suatu pengambilan keputusan pemilihan di
18

antara berbagai metode pengangkutan bahan baku itu sendiri, meskipun


biaya bahan baku sering di anggap sebagai biaya variabel.
G. Biaya Diferensial versus Biaya Tetap Biaya tetap merupakan biaya yang
jumlah totalnya tidak berubah dengan adanya perubahan volume kegiatan
dalam kisar (range) perubahan volume kegiatan tertentu. Jika suatu biaya
tetap akan dikeluarkan dalam jumlah yang sama tanpa mempertimbangkan
keputusan khusus amna yang akan di ambil, biaya tersebut bukan
merupakan biaya diferensial.
H. Biaya Diferensial versus Biaya Depresiasi Depresiasi merupakan alokasi
secara periodik harga pokok aktiva yang tetap yang di peroleh pada waktu
yang lampau. Jika keputusan penanaman modal telah dilaksanakan, dan
aktiva tetap telah di beli, biaya depresiasi yang kemudian terjadi, di
tentukan dengan mempertimbangkan umur ekonomis aktiva tetap tersebut
dan metode depresiasi yang di pilih oleh manajemen.
I. Biaya Diferensial versus Biaya Tambahan (Incremental Cost) Biaya
tambahan (incremental cost) suatu alternative adalah tambahan biaya yang
akan terjadi jika suatu alternative yang berkaitan dengan perubahan
volume kegiatan di pilih. Biaya tambahan merupakan informasi akuntansi
manajemen yang diperlukan oleh manajemen dalam pengambilan
keputusan yang berhubungan dengan penambahan dan pengurangan
volume kegiatan. Karena biaya tambahan merupakan tambahan biaya yang
berhubungan dengan suatu alternatif, maka biaya ini sesungguhnya berasal
dari pengertian biaya diferensial. Biaya tambahan merupakan jumlah
semua biaya diferensial yang berhubungan dengan suatu alternatif yang
berkaitan dengan penambahan atau pengurangan volume kegiatan. Jumlah
biaya tambahan dalam peristiwa tertentu tergantung pada sudut pandang
yang di gunakan dalam analisis.
J. Biaya Diferensial versus Biaya kesempatan (Opportunity Cost) Biaya
kesempatan adalah pendapatan atau penghematan biaya yang di korbankan
sebagai akibat dipilihnya alternative tertentu. Biaaya kesempatan
merupakan salah satu elemen biaya diferensial, namun biaya diferensial
19

tidak terbatas pada biaya kesempatan saja. Biaya diferensial mencakup


pula biaya keluar dari kantong di samping dalam pengambilan keputusan
tertentu, biaya diferensial mencakup pula biaya kesempatan.
K. Biaya Diferensial versus Biaya Keluar dari Kantong (Out-of-Pocket Cost)
Biaya yang akan memerlukan pengeluaran kas sekarang atau dalam jangka
dekat sebagai akibat dari keputusan manajemen di sebut sebagai biaya
keluar dari kantong. Sebagai contoh manajemen memutuskan untuk
menerima pesananpemuatan produk dari seorang pelanggan. Dalam harga
biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja adalh contoh dari biaya keluar
dari kantong. Biaya keuar dari kantong adalah biaya diferensiasi yang di
pertimbangkan dalam pengambilan keputusan.
Nilai Waktu Uang Dalam Pengambilan Keputusan Jangka Panjang
Dalam pengambilan keputusan jangka panjang, nilai waktu uang
memegang peranan penting. Nilai investasi pada tahun ke-n, dengan
tingkat bunga sebesar i dihitung dengan rumus : In = Io (1 + i)n
In = Investasi pada tahun ke-n Io = Investasi pada tahun ke-0 i = Tingkat
bunga n = Jangka waktu
Untuk mengambil keputusan investasi semua airan kas yang diperkirakan
akan diterima dan dikeluarkan selama umur investasi harus dinyatakan
nilainya pada nilai tahun ke-0, dengan kata lain harus dihitung nilai
tunainya (present value) agar dapat diperbandingkan. Rumus perhitungan
nilai tunai sebagai berikut :
(NT = Nilai Tunai AK = Aliran Kas i = Tingkat Bunga n = Jangka waktu)
Manfaat

Informasi

Akuntansi

Diferensial

Dalam

Pengambilan

Keputusan
PENGAMBILAN KEPUTUSAN. Umummya manajemen menghadapi 4
macam pengambilan keputusan jangka pendek yaitu: 1. Membeli atau
membuat sendiri (make or buy decision) 2. Menjual atau memproses lebih
lanjut suatu produk (sell or process further) 3. Menghentikan atau
melanjutkan produksi produk tertentu atau kegiatan usaha suatu bagian

20

perusahaan (stop or continue product line) 4. Menerima atau menolak


pesanan khusus (special order decision)
A. Membeli atau Membuat Sendiri (Make or Buy Decision). Keputusan
membeli atau membuat sendiri dapat dibagi menjadi dua macam : 1.
Keputusan membeli atau membuat sendiri yang dihadapi oleh
perusahaan yang sebelumnya memproduksi sendiri produknya,
kemudian mempertimbangkan akan membeli produk tersebut dari
pemasok. (Tipe 1) 2. Keputusan membeli atau membuat sendiri yang
dihadapi oleh perusahaan yang sebelumnya membeli produk tertentu
dari pemasok luar, kemudian mempertimbangkan akan memproduksi
sendiri produk tersebut (Tipe 2). Tipe 1 umumnya merupakan
keputusan manajemen jangka pendek, yang tidak menyangkut
investasi jangka panjang. Dua kemungkinan yang dihadapi oleh
manajemen dalam pengambilan keputusan ini : a. Jika manfaat lebih
besar dari

pengorbanan,

menguntungkan

jika

alternatif

dipilih.

Jika

membeli
manfaat

dari luar
lebih

kecil

lebih
dari

pengorbanan, alternatif membeli dari luar sebaiknya tidak dipilih. b.


Jika manfaat lebih besar dari pengorbanan, alternatif membeli dari
luar lebih menguntungkan jika dipilih. Jika manfaat lebih kecil dari
pengorbanan, alternatif membeli dari luar sebaiknya tidak dipilih. Tipe
2 umumnya merupakan keputusan manajemen jangka panjang, karena
kemungkinan menyangkut investasi dana dalam jumlah yang besar
untuk

pengadaan

mesin

dan

perlengkapan

produksi.

Dua

kemungkinan yang dihadapi oleh manajemen dalam pengambilan


keputusan ini : a. Keputusan membuat sendiri tidak memerlukan
tambahan fasilitas produksi, karena manajemen dapat memanfaatkan
kapasitas yang masih menganggur dari mesin dan ekuipmen yang
telah dimiliki sebelumnya. Jika manfaat lebih besar dari pengorbanan,
alternatif membuat sendiri lebih menguntungkan jika dipilih.
Sebaliknya jika manfaat lebih kecil dari pengorbanan alternatif
membuat sendiri sebaiknya tidak dipilih. b. Keputusan membuat
21

sendiri akan mengakibatkan manajemen memerlukan tambahan


investasi dalam mesin dan ekuipmen. Manfaat bersih yang diperoleh
dibandingkan dengan besarnya investasi dalam mesin dan ekuipmen
(aktiva penuh) untuk memutuskan apakah manfaat bersih yang
diperoleh sebanding dengan investasi yang akan dilakukan.
B. Membeli atau Membuat Sendiri dalam Lingkungan Manufaktur Maju
Dalam lingkungan manufaktur maju, JIT manufacturing system
melakukan berbagai perubahan dalam perancangan kembali dan
penyederhanaan proses manufaktur. Sebagai akibatnya, banyak biaya
yang semula berupa biaya bergabung (common costs), dalam
lingkungan manufaktur maju diubah menjadi biaya langsung yang
dapat dirunut dengan mudah ke produk. Dengan demikian, akan dapat
dengan mudah diidentifikasi biaya langsung yang relevan untuk di
pertimbangkan dalam keputusan membeli atau membuat sendiri suatu
produk. Disamping itu, dengan semakin tingginya presentase nonvalume-related costs dari total biaya produk, keputusan membeli atau
membuat sendiri harus mempertimbangkan jenis biaya tersebut dalam
menghitung biaya terhindarkan (avoidable costs). Dalam analisis
membeli atau membuat sendiri berdasarkan akuntansi biaya
tradisional, biaya terhindarkan secara sederhana diidentifikasikan
berdasarkan besarnya biaya variable dan biaya tetap langsung. Biaya
variable dan biaya tetap langsung dianggap akan dapat dihindari jika
alternative membeli suku cadang dari pemasok luar dipilih. Biaya
tetap tidak langsung bukan merupakan biaya diferensial, karena
alternatif manapun yang dipilih, tidak akan terpengaruh oleh
keputusan yang diambil. Sehingga pertimbangan membeli atau
membuat sendiri dalam akuntansi biaya konvensial mendasarkan atas
analisis biaya yang akan di keluarkan.
C.

Menjual atau Memproses Lebih Lanjut Suatu Produk. Adakalanya


manjemen puncak dihadapkan pada pilihan menjual produk tertentu
pada kondisinya sekarang atau memprosesnya lebih lanjut menjadi
22

produk lain yang lebih tinggi harga jualnya. Dalam pengambilan


keputusan seperti ini, informasi akuntansi differensial yang di
perlukan oleh manajemen adalah pendapatan diferensial dengan biaya
diferensial jika alternative memproses lebih lanjut dipilih. Jika
pendapatan diferensial lebih tinggi dibandingkan dengan biaya
diferensial, maka alternatif unutk mengolah lebih lanjut suatu produk
dapat dipilih. Sebaliknya jika pendapatan diferensial lebih rendah
dibandngkan dengan biaya diferensial, maka alternatif untuk
mengolah lanjut suatu ditolak.
D. Menghentikan atau Melanjutkan Produksi Produk Tertentu atau
Kegiatan Usaha Departemen Tertentu. Dalam perusahaan yang
menghasilkan lebih dari satu macam keluarga produk (product line)
atau yang memilki berbagai departemen penghasil laba, adakalanya
manajemen puncak menghadapi salah satu keluarga produknya atau
salah satu departemennya mengalami kerugian usaha yang akan
diperkirakan akan berlangsung terus. Dalam menghadapi kondisi ini,
manajemen perlu mempertimbangkan keputusan menghentikan atau
tetap melanjutkan produksi produk atau kegiatan usaha departemen
yang

mengalami

kerugian.

Informasi

yang

relevan

untuk

dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan ini adalah biaya


difernsial dan pendapatan diferensial. Dengan dihentikannya produksi
produk tertentu atau kegiatan departemen tertentu perusahaan akan
kehilangan kesempatan memperoleh pendapatan dari produk atau
departemen tersebut. Pendapatan yang hilang (foregone revenues) ini
merupakan
pengorbanan

informasi
yang

pendapatan
ditanggung

diferensial
karena

dan

pemilihan

merupakan
alternatif

menghentikan produksi produk atau departemen tertentu. Dilain


pihak, dengan dihentikannya produksi atau kegiatan usaha departemen
tertentu, perusahaan menikmati manfaat berupa biaya terhindarkan
(avoidable costs) yang merupakan informasi akuntansi diferensial.
Jika biaya terhindarkan (yang merupakan manfaat yang diperoleh)
23

lebih besar dari pendapatan yang hilang (yang merupakan


pengorbanan) akibat dihentikannya produksi produk atau kegiatan
usaha departemen tertentu, maka alternatif penghentian sebaiknya
dipilih. Namun jika biaya terhindarkan lebih kecil dari dari
pendapatan yang hilang akibat dihentikannya produksi produk atau
kegiatan usaha departemen tertentu, maka alternatif penghentian
tersebur tidak dipilih.
E. Menerima atau Menolak Pesanan Khusus. Pada umumnya perusahaan
membangun pabriknya dengan kapasitas yang mampu memenuhi
permintaan pasar tertingggi beberapa tahun yang akan datang. Jika
perusahaan membangun pabriknya dengan kapasitas yang hanya
mampu memenuhi permintaan pasar sekarang, hal ini akan berakibat
dilakukannya

ekspansi

pabrik

secara

terus-menerus.

Dengan

demikian, umumnya perusahaan memiliki kapasitas menganggur,


yang

seringkali

mendorong

manajemen

puncak

untuk

mempertimbangkan penetapan harga jual di bawah harga jual normal.


Dalam pengambilan keputusan menerima atau menolak pesanan
khusus, informasi akuntansi adalah pendapatan diferensial dan biaya
diferensial. Jika pendapatan diferensial (yaitu tambahan pendapatan
dengan

diterimanya

pesanan

khusus

tersebut)

lebih

tinggi

dibandingkan dengan biaya diferensial (yaitu tambahan biaya karena


memenuhi pesanan khusus tersebut) maka pesanan khusus tersebut
sebaiknya diterima. Dilain pihak, jika pendapatan diferensial lebih
rendah dibandingkan dengan biaya difernsial, maka pesanan khusus
sebaiknya ditolak.
Pengaruh Pajak Penghasilan Terhadap Pengambilan Keputusan
Pajak penghasilan dikenakan atas laba yang diperoleh perusahaan atau
penghasilan

yang

dipengaruhi

pajak

diperoleh

perorangan.

penghasilan.

Para

Hampir

manajer

semua

keputusan

berkewajiban

untuk

menggunakan cara-cara hukum untuk meminimumkan pembayaran pajak.

24

BAB 4
INFORMASI AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN
Konsep Informasi Akuntansi Pertanggungjawaban
Informasi akuntansi pertanggung jawaban adalah suatu informasi tentang
aktiva, pendapatan, dan biaya yang menjadi wewenang dan tanggung jawab
unit-unit organisasi yang bertanggung jawabatas pertanggungjawaban tertentu
dalam suatu organisasi.
Informasi akuntansi pertanggungjawaban terdiri atas :
1. Informasi biaya masa lalu. Biaya yang menjadi tanggung jawab seseorang
yang digunakan dalam proses perencanaan. Contohnya : budget
2. Informasi biaya masa dating. Biaya sesungguhnya yang menjadi tanggung
jawab

seseorang

dalam

bentuk

laporan.

Contohnya

laporan

pertanggungjawaban dan laporan keuangan.


Manfaat Informasi Akuntansi Pertanggungjawaban
Menurut Mulyadi (1997:170-174)
1. Informasi akuntansi pertanggungjawaban yang berupa informasi masa yang
akan datang bermanfaat untuk penyusunan anggaran. Proses penyusunan
anggaran pada dasarnya merupakan prosespenetapan peran dalam usaha
mencapai sasaran perusahaan.
2. Informasi akuntansi pertanggungjawaban yang berupa informasi masa lalu
bermanfaat sebagai : a) Informasi akuntansi pertanggungjawaban sebagai
penilai

kinerja

manajer

pusat

pertanggungjawaban.

Informasi

pertanggungjawaban merupakan informasi yang penting dalam proses


perencanaan dan manajer yang bertanggung jawab terhadap perencanaan
dan realisasinya. b) Informasi akuntansi pertanggungjawaban sebagai
pemotivasi manajer. Informasi akuntansi akan berdampak langsung
terhadap motivasi manajer dengan mempengaruhi kemungkinan usaha
diberi penghargaan. Juga digunakan untuk mengukur kinerja manajer.
3. Informasi akuntansi pertanggungjawaban memungkinkan pengelolaan
aktivitas. Dengan menyajikan informasi biaya yang dipisahkan kedalam
25

biaya penambah dan bukan penambah nilai, sehingga manajemen dapat


memperoleh informasi biaya bukan-penambah dan dan bukan penambah
nilai yang menggambarkan besarnya pemborosan yang sekarang dialami
perusahaan dalam memenuhi kebutuhan customer. Manajer juga dapat
memperoleh biaya bukan penambah nilai yang memungkinkan mereka
memusatkan pengendalian mereka terhadap aktivitas bukan penambah
nilai,

selain

itu

juga

dapat

memungkinkan

mereka

melakukan

penyempurnaan efisiensi aktivitas penambah nilai.


4. Informasi akuntansi pertanggungjawaban memungkinkan pemantauan
efektivitas program pengelolaan aktivitas. Dengan menyajikan informasi
biaya yang dipisahkan kedalam biaya penambah dan bukan penambah
nilai dalam bentuk perbandingan dari periode ke periode, yang
mengakibatkan manajer dapat memantau efektivitas program pengelolaan
aktivitas dan merumuskan keputusan-keputusan strategik.
Kesimpulan

manfaat

yang

diperoleh

dari

informasi

akuntansi

pertanggungjawaban adalah manajer dapat mengetahui program yang telah


direncanakan untuk pengambilan keputusan-keputusan dalam perusahaan.
Fungsi informasi akuntansi pertanggungjawaban:
a. Menyiapkan Budget untuk masing-masing responsibility center
b. Mengukur Performa dari masing-masing responsibility center
c. Menyiapkan skema pelaporan secara periodik yang membandingkan
jumlah secara aktual dan jumlah budget.
Sistem Akuntansi Pertanggungjawaban Tradisional
Menurut

mulyadi

(1997:214), Sistem

akuntansi

pertanggungjawaban

tradisional adalah suatu sistem akuntansi yang disusun sedemikian rupa


sehingga pengumpulan dan pelaporan biaya dan atau pendapatan dilakukan
sesuai dengan pusat pertanggungjawaban dalam organisasi, dengan tujuan
agar dapat ditunjuk orang atau kelompok orang yang bertanggung jawab atas
penyimpangan biaya dan atau pendapatan yang dianggarkan.
Karakteristik sistem akuntansi pertanggungjawaban :
1.

Adanya identifikasi pusat pertanggungjawaban


26

2.

Standar ditetapkan sebagai tolak ukur kinerja manajer yang bertangung


jawab atas pusat pertanggungjawaban tertentu

3. Kinerja manajer diukur dengan membandingkanrealisasi dengan anggaran


4. Manajer secara individual diberi penghargaan atau hukumanberdasarkan
kebijakan manajemen yang lebih tinggi.
Kelemahan-kelemahan sistem akuntansi tradisional:
1. Mengabaikan biaya yang tidak memberikan nilai tambah
2. Memberikan perhatian lebih terhadap biaya tenaga kerja
3. Memfokuskan pada kondisi ekstern
4. Memberikan perhatian lebih terhadap ukuran keuangan
5. Perhitungan selisih mendorong tingkah laku negatif
Asumsi-asumsi sistem akuntansi pertanggungjawaban tradisional:
1. Pengelolaan Berdasarkan Penyimpangan
Dengan melihat penyimapangan yang terjadi dalam perusahaan, maka
manajemen

akan

memusatkan

perhatiaanya

terhadap

perbaikan

ketidakefisienan yang terjadi. Pelaporan secara periodik yang disajikan


oleh

akuntansi

pertanggungjawaban

kepada

manajer

yang

bertanggungjawab sangat cocok digunakan untuk menarik perhatian


mereka kearah bidang yang terdapat penyimpangan didalamnya dan
segera melakukan perbaikan.
2. Pengelolaan berdasarkan tujuan (Manajemen By Objective)
Dalam MBO manajer atas maupun bawah bersama-sama menetapkan
sasaran bersama yang dinyatakan dalam hasil atau sasaranyang
diharapkan dan secara bersama-sama memantau kemajuan dan
pencapaian sasaran tersebut.
3.

Struktur pertanggungjawaban sesuai dengan hierarki organisasi


Akuntansi

pertanggungjawaban

tradisional

menganggap

bahwa

pengendalian organisasi dapat meningkat dengan cara menciptakan


jaringan pusat pertanggungjawaban yang sesuai dengan struktur
organisasi formal perusahaan.

27

4.

Manajer bawahnya tersedia untuk menerima tanggung jawabyang


dibebankan kepada mereka melalui hierarki organisasi
Hal yang terpenting dalam menentukan agar sistem akuntansi
pertanggungjawaban ini berhasil adalah kesediaan para manajer pusat
untuk menerima tanggung jawab yang diberikan kepada mereka. Untuk
mendorong penerimaan tanggung jawab, kultur organisasi harus
memungkinkan para manajer untuk kadang-kadang gagal dalam tugas
mereka, tanpa harus takut untuk menerima hukuman atas kegagalan
mereka tersebut.

5.

Sistem akuntansi pertanggungjawaban mendorong kerjasama bukan


kompetisi
Sistem akuntansi pertanggungjawaban memberikan kesempatan kepada
manajer untuk merumuskan sasaran mereka sendiri dan membuat
keputusan dalam angka tenggung jawab yanng didelegasikan oleh
manajer di atasnya, maka hal ini akan meningkatkan kesetiaan harga diri
dan rasa penting dalam diri manajer.

Activity-Based Responsibility Accounting System


Activity-based responsibility adalah suatu sistem akuntansi yang disusun
sedemikian rupa sehingga pengumpulan dan pelaporan biaya dilakukan
menurut aktivitas penambah dan bukan penambah nilaiuntuk memungkinkan
manajemen merencanakan pengelolaan aktivitas dan memantau hasil
perbaikan bersinambungan atas berbagai aktivitas untuk pembuatan produk/
penyerahan jasa.
a.

Aktivitas penambah nilai. Aktivitas penambahan nilai adalah aktivitas


yang perlu dilakukan untuk menjaga agar perusahaan tetap bertahan dan
bekembang dalam bisnis yang dijalankan. Klasifikasi aktivitas
penambah nilai karena memenuhi 3 kondisi : 1)

Aktivitas yang

mampu menghasilkan perubahan suatu keadaan, 2)

Perubuhan sifat

tersebut tidak dapat dicapai oleh aktivitas sebelumnya, 3)

Aktivitas

tersebut memungkinkan aktivitas lain dapat dilaksanakan

28

b.

Aktivitas Bukan Penambah Nilai. Aktivitas bukan penambah nilai


adalah

aktivitas

yang

tidak

memberikan

nilai

tambah

dan

merupakanaktivitas yang tidak perlu dilakukan karena tidak membuat


perusahaan dapat bertahan atau berkembang dalam bisnisnya. Dalam
perusahaan manufaktur, terdapat 5 golongan aktivitas bukan penambah
nilai yaitu :
1. Pembuatan skedul. Pembuatan waktu dan sumber daya untuk
menentukan kapan berbagai produk yang berbeda dimasukkan dan
bagaimana berbagai produk tersebut diproduksi.
2. Pemindahan. Aktivitas yang menggunakan waktu dan sumber daya
untuk memindahkan bahan baku, produk dalam proses dan tranfer
produk jadi dari satu departemen ke departemen lainnya.
3. Penantian. Aktivitas yang didalamnya bahan baku dan produk dalam
proses menggunakan waktu dan sumber daya untuk menunggu
proses berikutnya.
4. Inspeksi. Aktivitas yang mengkonsumsi waktu dan sumber daya
untuk menjamin produk yang dihasilkan sesuai dengan mutu yang
sudah ditetapkan.
5. Penyimpanan. Aktivitas yang menggunakan waktu dan sumber daya
selama produk dan bahan baku disimpan sebagai bahan sediaan

Penggunaan Informasi Akuntansi PertanggungJawaban


Sistem akuntansi pertanggungjawaban tradisional mengarahkan perhatian
manajer pada pengendalian biaya.
1. Sistem pelaporan biaya dalam akuntansi pertanggungjawaban Tradisional
Pelaporan

dalam

sistem

akuntansi

pertanggungjawaban

harus

menggunakan klasifikasi dan kode rekening yang sesuai dengan konsep


pertanggungjawaban dalam organisasi. Dengan kata lain bahwa klasifikasi
kode rekening harus disusun sedemikian rupa sehingga selain mampu
menunjukkan jenis biaya atau penghasilan yang terjadi, memungkinkan
pengumpulan biaya terkendali dan tak terkendali pada masing-masing
pusat pertanggungjawaban atau kontribusi penghasilan masing-masing
29

produk dan dapat mengidentifikasikan pula kode tingkat pimpinan


manajemen yang bertanggung jawab. Posisi angka dalam kode rekening
dikelompokan menjadi 2 yaitu :
1) Menunjukkan tempat terjadinya biaya
2) Menunjukkan kode jenis biaya dan penghasilan yang digolongkan sesuai
dengan objek pengeluaran dan penerimaan.
Jenis laporan biaya yang dihasilkan oleh akuntansi biaya dalam sistem
akuntansi pertanggungjawaban tradisional meliputi:
Laporan Pertanggungjawaban (resposibility cost report). Bertujuan agar
manajer melakukan pengelolaan biaya dengan cara membandingkan biaya
yang direalisasikan dengan biaya yang dianggarkan.
Laporan Biaya Produksi (cost of produstion report). Bertujuan untuk
menyajikan laporan biaya produksi untuk analisis biaya produk yang
dihasilkan perusahaan tiap bulan.
Untuk memaksimumkan keuntungan laporan pertanggungjawaban harus
memenuhi 4 kriteria, yaitu :
a) Tepat Waktu,
b) Diterbitkan secara periodik dan konsisten,
c) Mudah dimengerti,
d) Membandingkan antara budget dan jumlah aktual
Format umum laporan pertanggungjawaban:
Nomor Kode akun biaya
Jenis biaya atau pusat pertanggungjawaban
Realisasi bulan ini
Anggaran biaya bulan ini
Penyimpangan biaya bulan ini
Realisai biaya sampai dengan bulan ini
Anggaran biaya sampai dengan bulan ini
Penyimpangan biaya sampai dengan bulan ini

30

2. Sistem pengelolaan akuntansi pertanggungjawaban dalam akuntansi


pertanggungjawaban tradisional
Oleh karena biaya yang terjadi dikumpulkan untuk setiap tingkat
manajemen, maka biaya-biaya harus digolongkan dan diberi kode sesuai
dengan tingkat manajemen yang berada dalam struktur organisasi.
Perhitungan cost produk dilakukan melalui tahap-tahap berikut :
a. Alokasi BOP departemen pembantu ke departemen produksi
b. Perhitungan cost produksi bagian kievel, bagian printing, bagian guset.
Pembebanan

Tanggung

Jawab

Biaya

Dalam

Akuntansi

Pertanggungjawaban Tradisional
Dalam menentukan terkendalikan atau tidaknya biaya, ada dua metode
yang dapat dilakukan, yaitu :
a.

Didasarkan pada biaya yang dikeluarkan, Contohnya : departemen

listrik dibebani tanggung jawab atas terjadinya biaya listrik tersebut karena
biaya listrik dikeluarkan oleh departemen listrik sedangkan bagian
departemen produksi dan departemen lain tidak dibebani.
b.

Berdasarkan pada sumber daya yang dikonsumsi, Contoh :

departemen listrik menjadi tanggung jawab penuh manajer listrik atau


dapat dialokasikan ke departemen pemakai sesuai dengan perilaku manajer
yang hendak dituju.
Rekayasa Infomasi Akuntansi Pertanggungjawaban
Penggunaan Informasi Akuntansi PertanggungJawaban
Sistem akuntansi pertanggungjawaban tradisional mengarahkanperhatian
manajer pada pengendalian biaya.
1. Sistem pelaporan biaya dalam akuntansi pertanggungjawaban Tradisional
Pelaporan

dalam

sistem

akuntansi

pertanggungjawaban

harus

menggunakan klasifikasi dan kode rekening yang sesuai dengan konsep


pertanggungjawaban dalam organisasi. Dengan kata lain bahwa klasifikasi
kode rekening harus disusun sedemikian rupa sehingga selain mampu
menunjukkan jenis biaya atau penghasilan yang terjadi, memungkinkan
pengumpulan biaya terkendali dan tak terkendali pada masing-masing
31

pusat pertanggungjawaban atau kontribusi penghasilan masing-masing


produk dan dapat mengidentifikasikan pula kode tingkat pimpinan
manajemen yang bertanggung jawab. Posisi angka dalam kode rekening
dikelompokan menjadi 2 yaitu :
a) Menunjukkan tempat terjadinya biaya
b) Menunjukkan kode jenis biaya dan penghasilan yang digolongkan
sesuai dengan objek pengeluaran dan penerimaan.
Jenis laporan biaya yang dihasilkan oleh akuntansi biaya dalam sistem
akuntansi pertanggungjawaban tradisional meliputi:
Laporan Pertanggungjawaban (resposibility cost report). Bertujuan agar
manajer melakukan pengelolaan biaya dengan cara membandingkan biaya
yang direalisasikan dengan biaya yang dianggarkan.
Laporan Biaya Produksi (cost of produstion report). Bertujuan untuk
menyajikan laporan biaya produksi untuk analisis biaya produk yang
dihasilkan perusahaan tiap bulan.
Untuk memaksimumkan keuntungan laporan pertanggungjawaban harus
memenuhi 4 kriteria, yaitu :
a)

Tepat Waktu

b) Diterbitkan secara periodik dan konsisten


c)

Mudah dimengerti

d) Membandingkan antara budget dan jumlah aktual


Format umum laporan pertanggungjawaban:
Nomor Kode akun biaya
Jenis biaya atau pusat pertanggungjawaban
Realisasi bulan ini
Anggaran biaya bulan ini
Penyimpangan biaya bulan ini
Realisai biaya sampai dengan bulan ini
Anggaran biaya sampai dengan bulan ini
Penyimpangan biaya sampai dengan bulan ini

32

2. Sistem pengelolaan akuntansi pertanggungjawaban dalam akuntansi


pertanggungjawaban tradisional
Oleh karena biaya yang terjadi dikumpulkan untuk setiap tingkat
manajemen, maka biaya-biaya harus digolongkan dan diberi kode sesuai
dengan tingkat manajemen yang berada dalam struktur organisasi.
Pengumpulan biaya untuk laporan produksi
Perhitungan cost produk dilakukan melalui tahap-tahap berikut :
a. Alokasi BOP departemen pembantu ke departemen produksi
b. Perhitungan cost produksi bagian kievel, bagian printing, dan bagian
guset.
Pembebanan

Tanggung

Jawab

Biaya

Dalam

Akuntansi

Pertanggungjawaban Tradisional
Dalam menentukan terkendalikan atau tidaknya biaya, ada dua metode
yang dapat dilakukan, yaitu :
a. Didasarkan pada biaya yang dikeluarkan. Contohnya : departemen
listrik dibebani tanggung jawab atas terjadinya biaya listrik tersebut
karena biaya listrik dikeluarkan oleh departemen listrik sedangkan
bagian departemen produksi dan departemen lain tidak dibebani.
b. Berdasarkan pada sumber daya yang dikonsumsi. Contoh : departemen
listrik menjadi tanggung jawab penuh manajer listrikatau dapat
dialokasikan ke departemen pemakai sesuai dengan perilaku manajer yang
hendak dituju.
Contoh :
Departemen listrik menghasilkan listrik untuk memenuhi kebutuhan 3
Departemen produksi X, Y, dan Z. Kapasitas Departemen listrik per tahun
adalah 320.000 Kwh dengan jumlah biaya listrik tersebut sebesar Rp
1.000.000 yang terdiri dari biaya tetap Rp 700.000 dan biaya variabel Rp
300.000. kebutuhan minimum departemen X, Y, dan Z masing-masing
80.000 Kwh, 70.000 Kwh, dan 50.000 Kwh.
Jawab:
Data Departemen Listrik
33

Biaya Tetap

Rp 700.000

Biaya Variable

Rp 300.000

Total Biaya Produksi Listrik Pertahun

Rp 1.000.000

Data Pemakaian Listrik Per Tahun


Kapasitas yang tersedia

320.000 Kwh

Kebutuhan Pokok Departemen


Departemen X

80.000 Kwh

Departemen Y

70.000 Kwh

Departemen Z

50.000 Kwh
200.000 Kwh

Kapasitas yang bebas pakai

120.000 Kwh

METODE PEMBEBANAN TANGGUNG JAWAB BIAYA LISTRIK


Metode 1 (Pembebanan berdasarkan kapasitas pelayanan)
Departemen X = (80.000/200.000) x Rp 1.000.000 =Rp 400.000
Departemen Y = (70.000/200.000) x Rp 1.000.000

=Rp 350.000

Departemen Z = (50.000/200.000) x Rp 1.000.000

=Rp 250.000
Rp1.000.000

Metode 2 (Pembebanan berdasarkan kapasitas pelayanan dan pemakaian)


Departemen X
Biaya Tetap
Biaya Variable

(80.000/200.000) x Rp 700.000
(300.000/120.000)

= Rp 280.000

= Rp 2,5 / Kwh

Departemen Y
Biaya Tetap
Biaya Variable

(70.000/200.000) x Rp 700.000
(300.000/120.000)

= Rp 245.000

= Rp 2,5 / Kwh

Departemen X
Biaya Tetap
Biaya Variable

(50.000/200.000) x Rp 700.000
(300.000/120.000)

= Rp 175.000

= Rp 2,5 / Kwh

Metode 3 (Pembebanan Berdasarkan Pemakaian)


Departemen X (Rp 1.000.000 / 320.000)

= Rp 3,125 / Kwh

Departemen Y (Rp 1.000.000 / 320.000)

= Rp 3,125 / Kwh

Departemen Z (Rp 1.000.000 / 320.000)

= Rp 3,125 / Kwh
34

BAB 5
PENGGUNAAN INFORMASI AKUNTANSI DIFERENSIAL DALAM
PERENCANAAN LABA JANGKA PENDEK
Perencanaan Laba Jangka Pendek
Perencanaan Laba Jangka Pendek dilakukan sebagai bagian dari proses
penyusunan anggaran perusahaan. Dalam perencanaan laba jangka pendek,
manajemen mempertimbangkan berbagai usulan yang berakibat pada :
Harga Jual
Volume Penjualan
Biaya Variabel
Biaya Tetap
Laba bersih
Oleh karena itu dalam perencanaan jangka pendek manajemen membutuhkan
informasi akuntansi differensial berupa :
(1) Taksiran pendapatan diferensial
(2) Taksiran biaya diferensial yang berdampak pada laba bersih
Dampak terhadap laba bersih tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam
memutuskan usulan kegiatan dalam proses perencanaan anggaran.
Alat analisis yang mampu memberikan kontribusi yang sangat besar dalam
proses penyusunan anggaran dan berbagai parameter yang bermanfaat untuk
perencanaan laba jangka pendek yaitu:
1. Impas
Impas memberikan informasi tingkat penjualan suatu usaha yang labanya
sama dengan nol. Paramater ini memberikan informasi kepada
manajemen, dari jumlah target pendapatan penjualan yang dianggarkan,
berapa pendapatan penjualan minimum yang harus dicapai agar usaha
perusahaan tidak mengalami kerugian.

35

2. Margin of safety
Memberikan informasi berapa volume penjualan yang dianggarkan atau
pendapatan penjualan tertentu maksimum boleh turun agar suatu usaha
tidak menderita rugi.
3. Shut down point
Memberikan informasi pada tingkat penjualan berapa suatu usaha secara
ekonomis sebaiknya ditutup karena pendapatan penjualannya hanya
dapat digunakan untuk menutup biaya tunai saja.
4. Degree of operating leverage
Memberikan informasi berapa kali lipat presentase tertentu perubahan
pendapatan penjualan mengakibatkan perubahan laba bersih.
5. Laba kontribusi perunit (Contribution margin)
Memberikan informasi kemampuan suatu produk dalam memanfaatkan
sumber daya yang langka untuk memberikan kontribusi dalam menutup
biaya tetap dan menghasilkan laba. (Kelebihan pendapatan penjualan di
atas biaya variabel)
Berbagai parameter tersebut memberikan bantuan yang penting bagi
manajemen dalam mempertimbangkan berbagai usulan kegiatan dalam proses
penyusunan anggaran perusahaan. Dalam proses perencanaan laba jangka
pendek manajemen memerlukan informasi akuntansi diferensial untuk
mempertimbangkan dampak perubahan volume penjualan, harga jual & biaya
terhadap laba perusahaan. Analisis impas & analisis biaya-volume-laba
merupakan teknik untuk membantu manajemen dalam perencanaan laba jangka
pendek.
Untuk memberikan gambaran proses perencanaan laba jangka pendek,
berikut ini diberikan Contoh 1 .
Departemen anggaran PT.X menyajikan laporan L/R projeksian
(Projected Income Statement ) untuk tahun anggaran 20X2 sbb:

36

PT. X
Laporan Laba Rugi Projeksian

Pendapatan

Tahun Anggaran 20X2


Jumlah
Rp. 500.000.000

%
100%

penjualan
Biaya Variabel
Rp. 300.000.000
60%
Laba kontribusi
Rp. 200.000.000
40%
Biaya tetap
Rp. 150.000.000
30%
Laba bersih
Rp. 50.000.000
10%
Dalam proses penyusunan anggaran induk perusahaan, laporan L/R
yang disusun dengan metode variable costing yang membantu manajemen
puncak dalam mempertimbangkan usulan kegiatan yang diajukan oleh
manajemen menengah. Keputusan jangka pendek umumnya menyangkut
penambahan / pengurangan volume kegiatan.
Dari laporan L/R yang disusun menurut metode variabel costing,
manajemen dapat memperoleh pemanfaatan dari alat-alat analisis diatas
yaitu :
1. Impas
Dari lap.L/R diatas target pendapatan (revenues) yang diharapkan
perusahaan Rp. 500.000.000, dari target tersebut manajemen memerlukan
informasi berapa pendapatan minimum yang harus dicapai perusahaan untuk
tahun anggaran yang akan datang agar tidak rugi. Dari target tersebut diatas
impas dapat dihitung sebesar Rp. 375.000.000 ( Rp. 500.000.000 / 40 % ).
Angka tersebut diatas menunjukkan bahwa dari target pendapatan penjualan
(revenues) yang direncanakan sebesar Rp. 500.000.000 minimum perusahaan
harus dapat menjual Rp. 375.000.000 agar perusahaan tidak rugi.
Jika perusahaan mampu memperoleh pendapatan penjualan diatas impas,
perusahaan baru dapat menghasilkan laba. Semakin rendah impas berarti
semakin besar kemungkinan perusahaan memperoleh kesempatan untuk
mendapatkan laba.
2. Margin Of Safety

37

Dari target pendapatan penjualan tersebut, manajemen memerlukan


informasi berapa jumlah maksimum penurunan target pendapatan penjualan
boleh terjadi, agar penurunan tersebut tidak mengakibatkan perusahaan
menderita kerugian. Untuk menjawab pertanyaan tersebut manajemen
memerlukan informasi margin of safety dari anggaran laba projeksian tahun
anggaran yang akan datang. Dari data dalam contoh 1. karena impas diatas
sebesar 375.000.000, maka jumlah maksimum penurunan target pendapatan
penjualan yang tidak menyebabkan perusahaan mengalami kerugian adalah Rp.
125.000.000 ( Rp. 500.000.000 Rp. 375.000.000) atau 25% (Rp.
125.000.000/Rp.500.000.000).
- Semakin besar margin of safety semakin besar kesempatan perusahaan
memperoleh laba, semakin kecil margin of safety semakin rawan
perusahaan terhadap penurunan target pendapatan penjualan.
- Jika margin of safety ratio, yang merupakan ratio antara margin of
safety dan pendapatan penjualan sebesar 25%, berarti penurunan target
pendapatan penjualan sedikit diatas 25% telah menyebabkan perusahaan
menderita kerugian.
3. Titik penutupan usaha ( Shut Down Point )
Suatu usaha tidak layak secara ekonomis untuk dilanjutkan jika
pendapatan penjualannnya tidak cukup untuk menutup biaya tunainya. Dari
contoh 1 diketahui bahwa biaya tetap perusahaan tersebut sebesar Rp.
150.000.000, 100.000.000 merupakan biaya tunai, maka anggaran thn 20X2,
titik penutupan usaha sebesar Rp.250.000.000 ( 100.000.000/40%). Hal ini
berarti dibawah pendapatan penjualan sebesar 250.000.000, usaha perusahaan
secara ekonomis tidak pantas dilanjutkan karena pendapatan penjualan
dibawah jumlah terebut akan mengakibatkan perusahaan tidak mampu
membayar biaya tunainya.
4. Degree of Operating Leverage
Ukuran ini menunjukkan persentase perubahan laba bersih sebagai
dampak terjadinya sekian persen perubahan pendapatan penjualan. Dari
contoh diatas DOL dihitung adalah 4X (Rp. 200.000.000/Rp. 50.000.000)
38

yang

berarti

setiap

1%

kenaikan

pendapatan

penjualan

akan

mengakibatkan 4% (4X1%) kenaikan laba bersih.


Jika usulan kegiatan diharapkan dapat menaikkan pendapatan penjualan
sebesar 5% maka dalam tahun anggaran tersebut laba bersih perusahaan akan
mengalami kenaikan 20% (4X5%).
5. Laba kontribusi perunit
- Kelebihan pendapatan penjualan diatas biaya variabel
- Memberikan gambaran jumlah yang tersedia untuk menutup biaya tetap
& menghasilkan laba.
- Semakin besar laba kontribusi, semakin besar kesempatan yang diperoleh
perusahaan untuk menutup biaya tetap & untuk menghasilkan laba.
Laba kontribusi perunit merupakan merupakan laba kontribusi dibagi
dengan volume penjualan. Jika informasi laba kontribusi perunit dihubungkan
dengan penggunaan sumber daya yang langka (scarce resources), manajemen
akan memperoleh informasi kemampuan berbagai macam produk untuk
menghasilkan laba. Informasi ini memberikan landasan bagi manajemen
dalam pemilihan produk yang menghasilkan laba tertinggi.
Contoh laba kontribusi setiap produk disajikan berikut ini:
A B C Total
Volume penjualan 500 300 200 1000
Pendapatan penjualan Rp.700.000 Rp.500.000 Rp.1.000.000 Rp. 2.500.000
Biaya Variabel 300.000 500.000 600.000 1.400.000
Laba kontribusi Rp.400.000 Rp.300.000 Rp.400.000 Rp.1.100.000
Biaya tetap 800.000
Laba bersih Rp. 300.000
Laba kontribusi perunit Rp. 800 Rp. 1.000 Rp. 2.000 Rp. 1.100

Produk

Konsumsi Jam

Jumlah

Contribition

Contribition

Peringkat
39

mesin perunit

produk yang margin perunit margin Per jam

Produk

dihasilkan

produk

perjam mesin

(1)
5
10
25

A
B
C

kemampuan

mesin

produk dalam

(2) X (3)

memanfaatkan

1: (1)

sumberdaya yang

(2)
0,20
0,10
0,04

langka
(5)
1
2
3

(3)
Rp. 800
1000
2000

(4)
160
100
80

Dari contoh diatas seolah-olah produk C menghasilkan laba kontribusi


perunit sebesar Rp.2000 yang memiliki kemampuan tertinggi untuk
memberikan kontribusi dalam menutup biaya tetap & untuk menghasilkan
laba. Kemampuan produk dalam menutup biaya tetap & menghasilkan laba
tidak diukur hanya atas dasar informasi laba kontribusi perunit, namun diukur
dari laba kontribusi perunit yang dihubungkan dengan pemanfaatan sumber
daya yang langka.
Ternyata produk A menduduki peringkat pertama dalam kemampuan
memanfaatkan sumberdaya yang langka ( jam mesin )untuk menutup biaya
tetap & menghasilkan laba. Setiap jam mesin yang dimanfaatkan untuk
memproduksi produk A mampu menghasilkan laba kontribusi sebesar Rp. 760
per jam mesin.
Rekayasa Parameter Untuk Perencanaan Laba Jangka Pendek
1. Impas
Impas (break-even) adalah:
a. keadaan usaha yang tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi.
b. jika jumlah pendapatan ( revenues ) sama dengan jumlah biaya
c. laba kontribusi hanya bisa menutupi biaya tetap saja.
d. Suatu cara untuk mengetahui volume penjualan minimum agar suatu
usaha tidak menderita rugi dan laba sama dengan 0
Ada 2 cara untuk menentukan impas :
a. Pendekatan teknik persamaan
b. Pendekatan grafis
40

a. Pendekatan teknik persamaan


Penentuan

impas

dengan

teknik

persamaan

dilakukan

dengan

mendasarkan pada persamaan pendapatan sama dengan biaya ditambah


laba.Atau laba adalah sama dengan pendapatan penjualan dikurangi biaya.
Dapat dinyatakan dalam persamaan sbb:
Y=cx-bx-a
Keterangan :
y=laba
c=harga jual persatuan
x=jumlah produk yang dijual
b=biaya variabel persatuan
a=biaya tetap
Jika persamaan tersebut dinyatakan dalam laporan laba rugi metode
variable costing, persamaan tersebut sbb:
Pendapatan penjualan cx
Biaya variabel

bx _ _

Laba kontribusi

cx-bx

Biaya Tetap

a__

Laba bersih y
Perusahaan akan mencapai keadaan impas jika jumlah pendapatan sama
dengan jumlah biaya (laba=0),atau jika dinyatakan dalam persamaan sbb:
0 = cx - bx
cx = bx + a
Persamaan tersebut diselesaikan sbb:
cx bx = a
x(c-b) = a
x = a / (c-b)
Keterangan :
cx = bx + a Pendapatan penjualan = biaya
cx bx = a Laba kontribusi = biaya tetap
41

x = a / (c-b) Impas (dalam satuan produk) = biaya tetap dibagi dengan selisih
antara harga jual persatuan dengan biaya variabel persatuan
X adalah kuantitas yang dijual pada keadaan impas
Jadi rumus perhitungan impas dalam satuan produk yang dijual adalah :
Impas dlm (Q) = Biaya tetap _
Harga jual persatuan Biaya variabel persatuan
Impas dalam rupiah penjual dapat dicari rumusnya dengan cara
mengalikan rumus impas tersebut diatas dengan c, yaitu harga jual persatuan
produk.
Jadi impas dalam rupiah penjualan dpt dihitung dengan rumus sbb:
Impas (Rp) = Biaya tetap _
Contribution margin ratio
Contoh 2:
Dalam suatu pasar malam, pak Amat akan membuka tempat penitipan
sepeda. Dia menyewa tempat yang dapat menampung 500 sepeda. Sewa
tersebut permalam Rp.1.500. Untuk menjaga sepedadia akan mepekerjakan
dua orang, dengan upah Rp. 1.000 semalam perorang, ditambah upah insentif
sebesar Rp. 2,50 perorang untuk setiap sepeda yang masuk titipan. Tarif
titipan yang dibebankan kepada pemakai jasa adalah sebesar Rp 25 persepeda
semalam. Perhitungan proyeksi laba permalam apabila 500 sepeda masuk ke
tempat penitipan sepeda pak Amat disajikan sbb:
Pendapatan penjualan 500 X Rp.25
jasa titipan sepeda
Biaya variabel:
Upah insentif untuk 500

dua karyawan
Rp.2.50
Laba kontribusi
Biaya tetap:
Sewa tempat titipan
Upah
dua
orang

JUMLAH
Rp. 12.500

%
100

X2.500

_ 20

Rp. 10.000
Rp. 1.500
2.000

_ 80
+

karyawan
Rp. 3.500

28
42

Laba bersih
Rp. 6.500
52
Pak Amat ingin memperoleh informasi berapa jumlah minimum sepeda yang
harus masuk setiap malam ketempat penitipan sepedanya,agar usaha titipan
tersebut tidak mengalami kerugian.
Jumlah sepeda minimum yang harus masuk setiap malam agar usaha pak
Amat dapat menutup semua biaya yang dikeluarkan semalam adalah :
Impas ( dlm kuantitas ) = Biaya tetap _
Harga jual persatuan By Variabel persatuan
= 3.500 _ = 175
25-5
Jika sepeda yang masuk titipan semalam minimum berjumlah 175 buah,
maka usaha pak Amat akan dapat menutup semua biaya yang dikeluarkan
semalam, sehingga usaha tersebut tidak mengalami kerugian.
Impas juga dapat dinyatakan dalam jumlah rupiah pendapatan dari usaha
titipan sepeda sbb:
Impas (Rp) = Biaya tetap _
Contribution Margin ratio
= 3.500 _ = Rp.4.375
80%
Jika pada suatu malam pak Amat menerima uang pendapatan penjualan jasa
titipan sepeda sebanyak Rp.4.375, dia dapat tenang hatinya karena dari
pendapatan penjualan jasa tersebut, minimum dia sudah dapat menutup biaya
yang dikeluarkan malam ini. Dengan kata lain sepeda yang masuk sudah
mendatangkan laba 80% (contribution margin ratio) dari uang pendapatan
penjualan jasa titipan sepeda yang diterimanya. Bukti bahwa pada pak Amat
menerima uang pendapatan penjualan jasa titipan sebanyak Rp.4.375
usahanya belum memperoleh laba,tetapi juga tidak rugi dapat diikuti dalam
perhitungan sbb:
Pendapatan penjualan jasa titipan sepeda 175 x Rp.25 = Rp. 4.375
Biaya variabel 175 x Rp. 5 =Rp. 875
Laba kontribusi Rp. 3.500

43

Biaya tetap :
Sewa tempat titipan

Rp. 1.500

Upah dua orang karyawan Rp. 2.000 Rp. 3.500


Contoh 3:
PT. Eliona memproduksi produk A. Rencana produksi untuk thn anggaran
20X1 adalah sbb:

Kg

Sediaan awal

100

Rencana produksi 1.100


1.200
Rencana penjualan 1.000
Sediaan akhir

200

Laporan Biaya Produksi Projeksian Thn 20x1


Biaya variabel standar per kg
produk :
Biaya bahan baku
Biaya tenaga kerja variabel
Biaya overhead variabel
Jumlah biaya produksi variabel
Biaya administrasi & umum

Rp. 10.000
7.000
8.000
Rp. 25.000
10.000

variabel
Biaya pemasaran variabel
Jumlah biaya variabel

8.000
Rp.43.000

Biaya tetap pertahun terdiri


dari :
Biaya overhead pabrik tetap
Biaya pemasaran tetap
Biaya administrasi & umum
Jumlah biaya tetap setahun

Rp.37.400.000
15.000.000
25.000.000
Rp.77.400.000

Harga jual produk Rp. 172.000 per kg


PT. ELIONA
Laporan Laba-Rugi Tahun 20x1 Projeksian
Pendapatan penjualan 1000XRp 72.000

Rp. 2.500.000

Jumlah
Rp.172.000.000
44

%
100%

Biaya variabel:

100 X Rp.25.000

Rp.27.500.000

Rp. 43.000.000

25%

Sediaan awal

1.100XRp.25.000

Rp.30.000.000

Rp 129.000.000

75%

5.000.000

Rp. 77.400.000

Rp.25.000.000

Rp. 51.600.000

Biaya

produksi 200 X Rp. 25.00

variabel

X Rp.8.000

Sediaan akhir

1.000XRp.10.000

8.000.000

Biaya non produksi


variabel:
By.

10.000.000
Rp.37.400.000

pemasaran

variabel

15.000.000
25.000.000

By. administrasi &


umum variabel
Jumlah

biaya

variabel
Laba kontribusi
Biaya tetap:
Biaya

overhead

pabrik tetap
Biaya

pemasaran

tetap
Biaya

administrasi

& umum tetap


Jumlah biaya tetap
Laba bersih
Dari informasi diatas diperoleh perhitungan :
Impas (Rp) = Rp. 77.400.000 = Rp.103.200.000
75 %
Dari target pendapatan penjualan sebesar Rp.172.000.000 dlm thn
20X1,minimum PT.Eliona harus mencapai pendapatan penjualan sebesar
Rp.103.200.000 agar perusahaan tidak menderita kerugian. Kuantitas produk
minimum yang harus dijual agar perusahaan tidak mengalami kerugian, maka
:

45

Impas (kg) = Rp.77.400.000 = 600 kg


Rp.172.000 Rp. 43.000
Dalam setiap penjualan 1 kg produk A berikutnya, perusahaan akan
memperoleh laba sebesar Rp.129.000 (75% X Rp.172.000) karena biaya tetap
seluruhnya telah tertutup dari penjualan 600 kg tersebut.
Misalkan dalam contoh 2 diatas , manajemen memerlukan informasi pada
volume penjualan berapa perusahaan harus menjual produknya dalam tahun
anggaran 20X1 untuk mendapatkan keuntungan misalnya Rp. 90.000.000.
Maka Perencanaan volume penjualan dihitung sbb:
Volume penjualan = Biaya tetap + Laba yang diinginkan Contribution Margin
ratio
Berdasarkan data dalam contoh 2 diatas , volume penjualan yang dapat
menghasilkan laba bersih Rp.90.000.000 dihitung sbb:
Volume penjualan (Q) = 77.400.000 + 90.000.000 = 1,297 kg
127.000 43.000
Volume penjualan (Rp) = 77.400.000 + 90.000.000 =Rp. 223.200.000
75 %
Jika dalam tahun 20X1 PT. Eliona mencapai tingkat penjualan sebanyak
1,297 kg atau dalam rupiah Rp. 223.200.000, maka laba bersih diperkirakan
Rp. 90.000.000
b. Perhitungan Impas dengan pendekatan grafis
Titik pertemuan antara garis pendapatan penjualan dengan garis biaya
merupakan titik impas. Untuk dapat menentukan titik impas, harus dibuat
grafik dengan sumbu datar menunjukkan volume penjualan, sedangkan
sumbu tegak menunjukkan biaya dan pendapatan.
Jika harga jual produk persatuan sebesar c, kuantitas produk yang dijual
sebesar X,biaya tetap sebesar a dan biaya variabel sebesar b persatuan x,
untuk volume penjualan sebesar X maka :
Pendapatan penjualan = cx
Biaya variabel = bx
Biaya tetap = a
46

Contoh 4
Dalam contoh 2 diatas diketahui bahwa :
Harga jual produk persatuan (c) = Rp. 172.000
Biaya variabel persatuan (b) = Rp. 43.000
Biaya tetap pertahun (a) = Rp. 77.400.000
Untuk berbagai macam volume penjualan (x) pendapatan penjualan,biaya
variabel,biaya tetap dan total biaya disajikan berikut ini:

Angka Rupiah Dalam Ribuan


Volume
Pendapatan
Biaya
Laba
Biaya tetap
Total Biaya
Penjualan
Penjualan
Variabel
(Rugi)
X
cx
bx
a
a+bx
cx-(a+bx)
1.000
Rp.172.000
Rp.43.000
Rp.77.400
Rp.120.400
Rp.51.600
800
137.600
34.400
77.400
111.800
25.800
600
103.200
25.800
77.400
103.200
0
400
68.800
17.200
77.400
94.600
(25.800)
200
34.400
8.600
77.400
86.000
(51.600)
Impas Dalam Lingkungan Manufaktur Maju
Karakteristik biaya produksi dalam lingkungan manufaktur maju ditandai
dengan berkurangnya unsur biaya tenaga kerja langsung dan membesarnya
proporsi biaya overhead pabrik. Teknologi manufaktur maju memungkinan
peusahaan

melakukan

diversifikasi

produk

yang

diproduksi

dan

menyebabkan semakin besarnya proporsi biaya overhead yang tidak


berkaitan dengan unit produk yang diproduksi (non unit related overhead
costs).
Setiap produk yang diproduksi mengkonsumsi non unit related overhead
costs) dengan proporsi yang berbeda-beda. Beda perhitungan impas
konvensional dengan activity based costing terletak pada unsur biaya variabel
berdasarkan perilaku biaya dalam hibungannya dengan unit level activities
saja.
Dalam perhitungan impas konvensional, total biaya terdiri dari biaya
tetap dan biaya variabel, yang dinyatakan dalam persamaan berikut ini :
K = a + bx

47

Keterangan :
K = total biaya
a = total biaya tetap
b = biaya variabel perunit
x = unit level activities
Dalam perhitungan impas berdasarkan activity based costing, total biaya
terdiri dari biaya tetap dan berbagai tipe biaya variabel, yang dinyatakan
dalam persamaan berikut ini :
K = a + b1x1 + b2x2 + b3x3
Keterangan :
k = Total biaya
a = facility sustaining activity cost
b1 = biaya variabel persatuan unit level activity
b2 = biaya variabel persatuan batch related activity
b3 = biaya variabel persatuan product sustaining activity
x1 = unit level activities
x2 = batch related activities
x3 = product sustaining activities
Jika harga jual persatuan produk sama dengan c, maka persamaan laba
berdasarkan activity based costing adalah :
Y = cx1 - a b1x1 b2x2 b3x3
Keterangan :
Y = laba
cx1 = Pendapatan penjualan (harga jual perunit kali kuantitas yang dijual
yang ditunjukkan oleh unit level activities)
a = facility sustaining activity costs
b1 = biaya variabel persatuan unit level activity
b2 = biaya variabel persatuan batch related activity
b3 = biaya variabel persatuan product sustaining activity
x1 = unit level activities
x2 = batch related activities
48

x3 = product sustaining activities


Dari persamaan dapat dihitung rumus perhitungan impas berdasarkan
activity based costing :
X = a + b2x2 + b3x3
c-b1
Keterangan :
x= volume penjualan pada kondisi impas
a = facility sustaining activity costs
b1 = biaya variabel persatuan unit level activity
b2 = biaya variabel persatuan batch related activity
b3 = biaya variabel persatuan product sustaining activity
x1 = unit level activities
x2 = batch related activities
x3 = product sustaining activities
Contoh 5
PT X memproduksi satu macam produk dengan struktur biaya sebagai berikut
:
Biaya variabel perunit Rp. 12.000
Biaya tetap setahun Rp. 100.000.000
Harga jual produk perunit Rp. 20.000
Impas dengan pendekatan konvensional :
Berdasarkan data tersebut dihitung impas dengan pendekatan konvensional
yaitu :
Impas = Biaya tetap
= Harga jual perunit biaya variabel perunit
= 100.000.000 _
20.000 - 12.000
= 12.500 unit
Impas dengan pendekatan activity based costing

49

Dengan pendekatan activity based costing, biaya diatas perlu dirinci lebih
lanjut seperti disajikan berikut:
Jenis biaya Jumlah cost driver Cost driver Biaya/unit
Unit level activity costs
Biaya bahan baku
Biaya tenaga kerja langsung

Rp. 6.000
Rp. 5.000

Biaya overhead pabrik variabel Rp. 500


Biaya pemasaran variabel
Unit yg dijual

Rp. 500
Rp. 12.000

Batch related activity costs 20 jam setup Rp. 1.000.000


Product sustaining activity costs 1.000 jam rekayasa Rp. 30.000
Facility sustaining activity costs Rp. 50.000.000
Dari data diatas dapat dihitung biaya tetap sbb :
Batch related activity costs 20 x Rp. 1.000.000
Product sustaining activity costs 1.000 x Rp. 30.000
Facility sustaining activity costs
Biaya tetap dgn pendekatan activity based costing

Rp. 20.000.000
30.000.000
50.000.000
Rp.100.000.000

Impas =
Facility sustaining activity costs + Product sustaining activity costs + Batch related activity costs
Harga jual/unit Unit level activity cost
= Rp. 50.000.000 + ( 20 x Rp. 1.000.000 ) + ( 1000 x Rp. 30.000)
Rp. 20.000 Rp. 12.000
= 12.500 unit
2. Margin Of Safety
Analisis impas memberikan informasi mengenai berapa jumlah volume
penjualan minimum agar perusahaan tidak menderita kerugian. Jika angka
impas dihubungkan dengan angka pendapatan penjualan yang dianggarkan
atau pendapatan penjualan tertentu, akan diperoleh informasi berapa volume
penjualan yang dianggarkan atau pendapatan penjualan tertentu boleh turun
agar perusahaan tidak menderita rugi. Selisih antara volume penjualan yang

50

dianggarkan dengan volume penjualan impas merupakan angka margin of


safety.
Dalam contoh 3, PT. Eliona merencanakan volume penjualan dalam
tahun anggaran 20X1 sebesar Rp. 172.000.000 sedangkan menurut
perhitungan, impas tercapai pada volume penjualan sebesar Rp. 103.200.000.
Angka margin Of Safety adalah sebesar Rp. 68.800.000 (Rp. 172.000.000
Rp. 103.200.000). Atau jika dinyatakan dalam persentase dari angka volume
penjualan yang dianggarkan adalah sebesar 40% (Rp. 68.800.000 /
Rp.172.000.000).
Angka margin of safety ini memberikan informasi berapa maksimum
volume penjualan yang direncanakan tersebut boleh turun, agar perusahaan
tidak menderita rugi atau dengan kata lain angka margin of safety
memberikan petunjuk jumlah maksimum penurunan volume penjualan yang
direncanakan,yang tidak mengakibatkan kerugian. Dari data diatas dapat
diambil kesimpulan bahwa jika volume penjualan tahun 20X1 yang
dianggarkan tersebut tidak dapat dicapai, maka maksimum penurunan yang
boleh terjadi adalah sebesar Rp. 68.800.000 atau 40% nya, agar perusahaan
tidak menderita kerugian.
Angka margin of safety ini berhubungan langsung dengan laba apabila
dihubungkan dengan marginal income ratio (profit-volume ratio )
Laba = Profit volume ratio x Margin of safety ratio
Laba = Laba kontribusi x Margin of safety _
Pendapatan penjualan Pendapatan penjualan
Dengan memakai data dalam contoh 3 dapat diketahui bahwa :
Laba = 75 % x 40 % = 30 %
Margin of safety ( M/S ratio ) dapat pula dihitung dengan rumus :
M/S ratio = Profit ratio _
Profit-volume ratio
Dari contoh di atas M/S ratio = 30% = 40%
75%
3. Titik Penutupan Usaha ( Shut Down Point )
51

Apabila ditinjau dari sudut biaya, pengambilan keputusan untuk menutup


usaha dilakukan dengan mempertimbangkan pendapatan penjualan dengan
biaya tunai (cash cost atau out atau out of pocket cost atau biaya keluar dari
saku). Biaya tunai adalah biaya-biaya yang memerlukan pembayaran segera
dengan uang kas. Dalam pengambilan keputusan untuk menutup usaha harus
diadakan pembedaan antara biaya keluar dari saku (out of pocket cost )
dengan biaya terbenam (sunk cost ), yaitu pengeluaran yang dilakukan pada
masa yang lalu, yang manfatnya masih dinikmati samapai sekarang).
Contoh biaya terbenam adalah biaya depresiasi,amortasi dan deplesi.
Suatu usaha harus dihentikan apabila pendapatan yang diperoleh tidak
dapat menutup biaya tunainya. Untuk mengetahui pada tingkat penjualan
berapa suatu usaha harus dihentikan dapat dilakukan dengan mencari
perpotongan antara garis pendapatan penjualan dengan garis biaya tunai
dalam grafik impas.

Contoh 8
Apabila dalam contoh 3, biaya tetap sebesar Rp. 77.400.000 tersebut
terdiri dari biaya keluar dari dari kantong Rp. 64.500.000 dan biaya
terbenam( sunk cost ) sebesar Rp. 12.900.000, maka dapat dibuat taksiran
laba tunai dan laba akuntansi (accounting profit , yaitu pendapatan penjualan
dikurangi dengan biaya biaya, baik terbenam maupun biaya keluar dari saku
). Titik penutupan usaha dapat pula dihitung dengan menggunakan rumus
berikut ini :
Titik penutupan usaha = Biaya tetap tunai _
Contribution margin ratio
Jika datanya berasal dari contoh 3, titik penutupan usaha ditentukan sbb:
Titik penutupan usaha = 64.500.000 = Rp. 86.000.000
75%
Atau dalam satuan produk, titik penutupan usaha dihitung sbb:
Titik penutupan usaha = 64.500.000 = 500 kg
52

172000 43.000
Dengan demikian usaha pengolahan produk A dalam contoh 3 harus
dihentikan jika penjualannya berada dibawah titik penutupan usaha sebesar
Rp. 86.000.000 atau 500 kg.
4. Degree Of Operating Leverage (DOL)
Degree Of Operating Leverage memberikan ukuran dampak perubahan
pendapatan penjualan terhadap laba bersih pada tingkat penjualan tertentu.
Dengan parameter ini, manajemen akan dengan cepat mengetahui dampak
setiap usulan kegiatan yang menyebabkan pendapatan penjualan terhadap
laba bersih perusahaan.
Degree of operating Leverage dihitung dengan rumus :
DOL = Laba kontribusi
Laba bersih
Karena laba kontribusi berubah sebanding dengan perubahan pendapatan,
dengan demikian setiap perubahan pendapatan penjualan dapatdiketahui
dengan

cepat

dampak

perubahannya

terhadap

laba

bersih dengan

menggunakan degree of operating leverage .


PT. Eliona
Laporan Laba rugi projeksian
Pendapatan penjualan Rp. 172.000.000
Biaya variabel
Laba kontribusi
Biaya tetap
Laba bersih

43.000.000
Rp. 129.000.000
77.400.000
Rp. 51.600.000

Dari laporan laba rugi projeksian diatas, pada tingkat penjualan Rp.
172.000.000, DOL perusahaan tersebut adalah sebesar 2,5 kali ( Rp.
129.000.000 / Rp. 51.600.000).
Pada tingkat penjualan tersebut jika misalnya Departemen pemasaran
mengusulkan promosi produk dengan cara tertentu, yang diperkirakan akan
mengakibatkan kenaikan volume penjualan sebesar 5%, maka dengan cepat

53

manajemen dapat memperkirakan kenaikan laba bersih sebesar 12,5% (2,5 X


5 %).
DOL menjadi semakin tinggi jika perusahaan beroperasi disekitar
keadaan impas. Misalnya PT.Eliona beroperasi pada volume penjualan 5%
diatas impas, maka laporan laba rugi dan DOL dapat dilihat seperti berikut
ini:
Pendapatan penjualan Rp. 108.360.000
Biaya variabel
Laba kontribusi

27.090.000
Rp.

Biaya tetap
Laba bersih

81.270.000
77,400.000

Rp. 3.870.000

Misalnya pendapatan penjualan mengalami penurunan 2% saja pada


tingkat penjualan Rp. 108.360.000 tersebut, maka laba bersih akan
mengalami penurunan sebesar 42 % (21 X 2%). Sebagai bukti dapat dilihat
laporan laba rugi berikut:
Pendapatan penjualan Perubahan turun 2%
Pendapatan penjualan Rp. 108.360.000 Rp. 106.192.800 -2 %
Biaya variabel 27.090.000 26.548.200
Laba kontribusi Rp. 81.270.000 Rp. 79.644.600
Biaya tetap 77.400.000 77.400.000
Laba bersih Rp. 3.870.000 Rp. 2.244.600 -42%
Penurunan pendapatan penjualan 2%, laba bersih turun sebesar Rp.
1.625.000 atau sebesar 42% (Rp. 1.625.400 / Rp.3.870.000).

54

BAB 6
PENGGUNAAN INFORMASI AKUNTANSI DIFERENSIAL DALAM
KEPUTUSAN INVESTASI
Dalam perencanaan jangka panjang, manajemen puncak menghadapi masalahmasalah yang berhubungan dengan investasi atau penanaman modal (capital
expenditure) seperti masalah penggantian aktiva tetap yang sudah tidak ekonomis
pemakaiannya. Karena pada umumnya investasi membutuhkan dana yang relatif
besar, dan keterikatan dana tersebut dalam jangka waktu yang relatif panjang,
serta mengandung risiko, maka diperlukan pertimbangan yang masak sebelum
investasi

tersebut

dilaksanakan.

Di

antara

berbagai

informasi

yang

dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan investasi, informasi akuntansi


manajemen, yang berupa aktiva diferensial, pendapatan diferensial, dan/atau biaya
diferensial merupakan informasi penting untuk menilai kelayakan ekonomis suatu
rencana investasi.
Investasi
Investasi adalah pengkaitan sumber-sumber dalam jangka panjang untuk
menghasilkan laba di masa yang akan datang. Dana yang sudah ditanamkan
akan terikat dalam jangka waktu yang panjang, sehingga perputaran dana
tersebut kembali menjadi uang tunnai memerlukan waktu yang lama.
Investasi banyak mengandung risiko dan ketidakpastian. Investasi dapat
dibagi menjadi empat golongan berikut ini:
1. Investasi yang tidak menghasilkan laba (non-profit investment)

Timbul karena adanya peraturan pemerintah atau karena syarat-syarat


kontrak yang telah disetujui, yang mewajibkan perusahaan untuk
melaksanakannya tanpa mempertimbangkan laba atau rugi. Misalnya
karena air limbah yang telah digunakan dalam proses produksi jika
dialirkan keluar pabrik akan mengakibatkan timbulnya pencemaran
lingkungan, maka pemerintah mewajibkan perusahaan untuk memasang
instalasi pembersihan air limbah, sebelum air tersebut dibuang ke luar

55

pabrik. Investasi jenis ini tidak memerlukan pertimbangan ekonomis


sebagai kriteria untuk mengukur perlu tidaknya pengeluaran tersebut.
2. Investasi yang tidak dapat diukur labanya (non-measurable profit

investment)
Contohnya adalah pengeluaran biaya promosi produk untuk jangka
panjang, biaya penelitian dan pengembangan, dan biaya program
pelatihan dan pendidikan karyawan. Dalam mempertimbangkan investasi
jenis ini, pedoman persentase tertentu dari hasil penjualan tidaklah
merupakan kriteria yang memuaskan, dan biasanya manajemen puncak
lebih banyak mendasarkan pada pertimbangannya (judgement) daripada
atas dasar analisis data kuantitatif.
3. Investasi dalam penggantian ekuipmen (replacement investment)

Meliputi pengeluaran untuk penggantian mesin dan ekuipmen yang ada.


Biasanya dilakukan atas dasar pertimbangan adanya penghematan biaya
(biaya

diferensial)

yang

akan

diperoleh

atau

adanya

kenaikan

produktivitas (pendapatan diferensial) dengan adanya penggantian


tersebut. Jika kativa diferensial berupa investasi dalam penggantian aktiva
tetap akan menghasilkan kembalian investasi (return on investment) yang
dikehendaki, maka penggantian mesin dan ekuipmen secara ekonomis
menguntungkan.

Seringkali

pendapatan

diferensial

juga

perlu

dipertimbangkan, yaitu jika kapasitas produksi ekuipmen yang baru


melebihi kapasitas produksi mesin dan ekuipmen yang dimiliki sekarang
dan pasar masih dapat menampung tambahan produk yang akan dijual.
4. Investasi dalam perluasan usaha (expansion investment).

Merupakan pengeluaran untuk menambah kapasitas produksi atau operasi


menjadi lebih besar dari sebelumnya. Pertimbangan yang diperlukan
adalah apakah aktiva diferensial untuk perluasan usaha diperkirakan akan
menghasilkan laba diferensial yang jumlahnya memadai. Kriterianya
adalah taksiran laba masa yang akan datang dan kembalian investasi
(return on investment) yang akan diperoleh karena adanya investasi
tersebut. Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah faktor risiko yang
56

berbeda-beda untuk tiap-tiap investasi, pajak penghasilan, dan nilai waktu


uang, karena ketiga faktor tersebut memerlukan aliran kas (cash flows) di
masa yang akan datang.
Informasi Akuntansi Manajemen
Dalam pengambilan keputusan investasi, manajemen memerlukan informasi
akuntansi manajemen yang berupa aktiva penuh, pendapatan penuh, dan
biaya penuh pada masa yang akan datang. Dalam pengambilan keputusan
penggantian aktiva tetap yang didasarkan pada pertimbangan kenaikan
produktivitas, manajemen memerlukan informasi akuntansi manajemen yang
berupa aktiva diferensial, pendapatan diferensial, dan biaya diferensial.
Informasi aktiva diferensial memberikan ukuran berapa jumlah dana
tambahan yang akan ditanamkan dalam penggantian aktiva tetap tertentu,
sedangkan pendapatan diferensial dan biaya diferensial memberikan ukuran
kenaikan produktivitas yang diperoleh dengan adanya penggantian aktiva
tetap yang direncanakan tersebut.
Pajak Penghasilan dan Keputusan Investasi
Jika suatu usulan investasi diperkirakan akan mengakibatkan penghematan
biaya atau tambahan pendapatan, maka di sisi lain biaya diferensial atau
pendapatan diferensial ini akan mengakibatkan tambahan pajak penghasilan
yang akan dibayar oleh perusahaan. Oleh karena itu dalam memperhitungkan
aliran kas keluar dari investasi, perlu diperhitungkan pula tambahan atau
pengurangan pajak yang harus dibayar akibat adanya penghematan biaya atau
tambahan pendapatan tersebut. Begitu sebaliknya jika ususlan investasi
diperkirakan akan mengakibatkan kerugian (biaya diferensial > pendapatan
diferensial), maka dampak pajak penghasilan akibat kerugian tersebut harus
diperhitungkan dalam taksiran aliran kas masuk dari investasi.
Biaya Kesempatan dan Pajak Penghasilan
Dalam penggantian aktiva tetap, perusahaan akan memiliki kesempatan
memperoleh kas masuk dai penjualan aktiva tetap lama dan kemungkinan
memperoleh laba atau menderita kerugian dari penjualan aktiva tetap lama
tersebut. Laba yang diperoleh dari selisih antara harga jual dan nilai bukunya
57

juga dikenakan pajak penghasilan. Nilai buku aktiva tetap yang diganti
merupakan harga pokok aktiva tetap yang belum didepresiasi. Nilai Buku
aktiva tetap yang diganti merupakan biaya terbenam (sunk cost), tetapi karena
tahun-tahun berikutnya tidak lagi akan dibebani biaya depresiasi aktiva tetap
yang diganti tersebut, dan hal ini akan mempunyai akibat terhadap
pembayaran pajak penghasilan, maka nilai buku ini harus dipertimbangkan
dalam memperhitungkan dampak pajak.
Kriteria Penilaian Investasi
Ada beberapa metode untuk menilai perlu tidaknya suatu investasi atau untuk
memilih berbagai macam alternatif investasi.
1. Pay-back Method
Dalam pay-back method, faktor yang menentukan penerimaan atau
penolakan suatu investasi adalah jangka waktu yang diperlukan untuk
menentukan kembali investasi. Rumus perhitungan pay-back (dalam
tahun) dapat dibagi menjadi dua kelompok:
a. Rumus perhitungan pay-back period yang belum memperhitungkan

unsur pajak penghasilan.


Pay-back period (dalam tahun) = Investasi / Laba tunai rata-rata per tahun
Pembilang berupa investasi merupakan aktiva diferensial yang
direncanakan dalam usulan investasi perluasan usaha, dan penyebut
yang berupa laba tunai merupakan pendapatan diferensial dikurangi
dengan biaya diferensial tunai.
b. Rumus perhitungan pay-back period yang memperhitungkan unsur

pajak penghasilan.
Pay-back period (dalam tahun) = Investasi / Kas masuk bersih
(+) Kebaikan Pay-back Method
1) Untuk investasi yang besar risikonya dan sulit untuk diperkirakan,
maka tes dengan metode ini dapat mengetahui jangka waktu yang
diperlukan untuk pengembalian investasi.

58

2) Metode ini dapat digunakan untuk menilai dua proyek investasi yang
mempunyai rate of return dan risiko yang sama, sehingga dapat dipilih
investasi yang jangka waktu pengembaliannya paling cepat.
(-) Kelemahan Pay-back Method
1) Tidak memperhitungkan nilai waktu uang.
2) Tdk mmprlihatkan pndapatan selanjutnya setelah invest.pokok kembali,
padahal penting u/ menghitung kemampuan menghasilkan laba.
2. Metode Rata-rata Kembalian Investasi (Average Return on Investment
Method atau Unadjusted Rate of Return Method).
Rata-rata kembalian investasi = Laba sesudah pajak
Rata-rata investasi
Laba sesudah pajak sama dengan laba tunai (cash profit) dikurangi dengan
biaya depresiasi (capital recovery). Oleh karena itu rumus perhitungan
tarif kembalian investasi (rate of return investment) adalah:
ARR = Rata-rata kembalian kas tahunan Penutupan Investasi
Rata-rata investasi
Kriteria pemilihan investasi dengan menggunakan metode ini adalah;
a. Suatu investasi akan diterima jika tarif kembalian investasinya dapat
memenuhi batasan yang telah ditetapkan oleh manajemen puncak
perusahaan.
b. Jika pengambil keputusan nelum memiliki batasan tarif kembalian
investasi, maka dari beberapa investasi yang diusulkan dipilih adalah
yang memberikan tingkat kembalian yang terbesar.
(+) Kebaikan metode ini adalah memperhitungkan aliran kas selama umur
proyek investasi.
(-) Kelemahan Metode Rata-rata Kembalian Investasi
1) Tidak memperhitungkan nilai waktu uang.
2) Dipengaruhi oleh penggunaan metode depresiasi.
3. Present Value Method
Dalam

keputusan

penambahan

aktiva

tetap,

informasi

akuntansi

manajemen yang dipertimbangkan adalah besarnya selisih antara


59

pendapatan diferensial dengan biaya diferensial serta dampak pajak


penghasilan sebagai akibat dari adanya pendapatan diferensial dan biaya
diferensial selama umur ekonomis aktiva tetap tesebut, kemudian
dinilaitunaikan dengan tarif kembalian tertentu. Jumlah nilai tunai ini
kemudian

dibandingkan

dengan

aktiva

diferensial

untuk

mempertimbangkan menguntungkan tidaknya tambahan aktiva tetap


tersebut. Jika jumlah nilai tunai tersebut lebih besar dari aktiva diferensial,
usulan investasi tersebut dianggap menguntungkan sedangkan jika jumlah
nilai tunai tersebut lebih rendah dari aktiva diferensial, usulan investasi
tersebut dianggap tidak menguntungkan.
(+) Kebaikan Present Value Method
1) Memperhitungkan nilai waktu uang.
2) Dalam present value method semua aliran kas selama umur proyek

investasi diperhitungkan dalam pengambilan keputusan investasi.


(-) Kelemahan Present Value Method: Dalam membandingkan dua proyek
investasi yang tidak sama jumlah investasi yang ditanamkan di
dalamnya, nilai tunai aliran kas bersih dalam rupiah tidak dapat dipakai
sebagai pedoman.
4. Discounted Cash Flows Method
Perbedaannya dengan present value method adalah tarif kembalian (rate
of return) sudah ditentukan lebih dahulu sebagai tarif kembalian,
sedangkan dalam discounted cash flows method justru tarif kembalian ini
yang dihitung sebagai dasar untuk menerima/menolak usulan investasi.
Penentuan tarif kembalian tersebut dilakukan dengan metode coba-coba
(trial and error), yaitu dengan cara:
a. Mencoba nilai tunai aliran kas masuk bersih pada tarif kembalian yang
dipilih secara sembarang di atas atau di bawah tarif kembalian
investasi yang diharapkan.
b. Menginterpolasikan kedua tarif kembalian tersebut untuk mendapatkan
tarif kembalian sesungguhnya.

60

Asumsi yang Melandasi Present Value dan Discounted Cash Flows


Method
1. Semua aliran kas dianggap terjadi pada akhir periode. Meskipun dalam
kenyataannya kas diterima dan dikeluarkan oleh perusahaan sepanjang
periode, namun untuk menyederhanakan perhitungan, aliran kas dianggap
terjadi pada akhir periode.
2. Semua aliran kas yang dihasilkan investasi dianggap segera ditanamkan
kembali ke dalam proyek lain, yang menghasilkan tarif kembalian yang
besarnya paling tidak sama dengan tarif kembalian investasi proyek yang
pertama.
Biaya Modal (Cost of Capital)
Sumber dari mana modal yang akan ditanamkan diperoleh akan menentukan
besarnya biaya modal (cost of capital) dan biaya modal ini yang digunakan
sebagai dasar untuk memilih rencana investasi yang dilakukan. Suatu
investasi dianggap akan menguntungkan jika investasi tersebut akan
menghasilkan tarif kembalian (rate of return) yang lebih besar dari biaya
modal ditanamkan.
1. Biaya Modal Pinjaman (Cost of Debt), dihitung dengan cara menentukan
tarif bunga efektif setelah pajak. Karena bunga modal pinjaman yang yang
dikeluarkan perusahaan dapat dikurangkan dari perusahaan untuk
penentuan laba kena pajak, maka pembayaran bunga modal pinjaman akan
menimbulkan penghematan pajak (tax saving).
2. Biaya Modal Saham Istimewa (Cost of Preferred Stock), mengharuskan
perusahaan membayar dividen dalam jumlah tetap, tanpa melihat apakah
perusahaan mengalami kerugian atau mengalami keuntungan, dan dividen
tersebut dibayar lebih dahulu sebelum dividen dibagikan kepada pemegang
saham biasa.
3. Biaya Modal Saham Biasa (Cost of Common Equity), jumlah dividen yang
dibayarkan kepada pemegang saham biasa adalah tidak tetap, tergantung
besar kecilnya laba yang diperoleh perusahaan dan juga tergantung
tersedianya

kas. Bahkan dalam keadaan rugi, perusahaan tidak


61

membayarkan

dividen

kepada

pemegang

saham

biasa.

Rumus

penghitungan biaya modal saham biasa adalah:


K=D
p

+
t

ket: k = biaya modal saham biasa


D = dividen per lembar saham yg kini dibayarkan
kepada pemegang saham biasa
p = harga pasar per lembar saham yang berlaku kini.
T = tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata yang
diharapkan untuk dividen saham biasa.
4. Biaya Modal Rata-rata (Average Cost of Capital), dihitung dari berbagai
biaya modal khusus (spesific cost of capital) dengan menggunakan angka
penimbang sebesar proporsi tiap-tiap sumber pembelanjaan dalam total
investasi yang akan dilakukan.
Pengambilan Keputusan Investasi dalam Lingkungan Manufaktur Maju
Kecermatan informasi akuntansi manajemen dibutuhkan oleh manajemen
dalam lingkungan manufaktur maju dalam: (1) penentuan besarnya investasi,
(2) penaksiran besarnya aliran kas masuk selama umur investasi, (3)
penentuan besarnya nilai residu, dan (4) penentuan besarnya discount rate.
Penentuan besarnya investasi. dalam lingkungan manufaktur maju, mesin
dan ekuipmen yang dikendalikan komputer lebih kompleks dibandingkan
dengan mesin dan ekuipmen standar yang digunakan dalam lingkungan
manufaktur tradisional. Dalam lingkungan manufaktur tradisional, Besarnya
investasi adalah sebesar biaya langsung yang bersangkutan dengan
penggantian atau pembelian mesin dan ekuipmen baru (seperti harga
perolehan mesin dan ekuipmen, bea masuk, dan biaya pemasangan).
Penaksiran besarnya aliran kas masuk selama umur investasi. Manfaat
tidak berwujud dan penghematan tidak langsung dari investasi menjadi
signifikan, dan harus diperhitungkan dalam penaksiran aliran kas masuk. Jika
perusahaan melakukan investasi dalam mesin dan ekupmen berteknologi
62

maju & menerapkan JIT philosophy dalam produksinya, mutu produk dapat
diandalkan, kepuasan pelanggan meningkat, posisi daya saing menjadi kuat,
kemampuan perusahaan dalam mempertahankan pangsa pasar menjadi lebih
besar.
Nilai Residu. Seringkali diabaikan dalam pengambilan keputusan investasi.
Alasannya adalah Ketidakpastian mengenai jumlahnya, sehingga menyulitkan
penaksirannya.
Discount Rate. Investasi dalam lingkungan manufaktur maju baru merupakan
investasi yang layak untuk dilakukan jika aliraan kas masuk dipertimbangkan
untuk jangka waktu panjang. Jika discount rate yang dipilih terlalu tinggi, hal
ini akan mengakibatkan pengambil keputusan cenderung mengambil
keputusan cenderung mempertimbangkan aspek jangka pendek.

63

BAB 7
PENGGUNAAN INFORMASI AKUNTANSI PENUH DALAM
PENENTUAN HARGA JUAL
Keputusan Penentuan Harga Jual
Karena permintaan konsumen atas produk dan jasa tidak mudah ditentukan
oleh manajer penentu harga jual, maka dalam penentuan harga jual, manajer
tersebut akan menghadapi banyak ketidak pastian. Selera konsumen, jumlah
pesaing yang memasuki pasar, dan harga jual yang ditentukan oleh pesaing,
merupakan contoh faktor-faktor yang sulit untuk diramalkan, yang mempengaruhi
pembentukan harga jual produk atau jasa di pasar.
Biaya memberikan informasi batas bawah suatu harga jual harus ditentukan.
Di bawah biaya penuh atau produk jasa, harga jual akan mengakibatkan kerugian
bagi perusahaan. Hal ini bisa mengakibatkan perusahaan akan berhenti sebagai
going concern atau akan mengganggu pertumbuhan perusahaan. Dengan
demikian manajer penentu harga jual senantiasa memerlukan informasi biaya
produk atau jasa dalam pengambilan keputusan penentuan harga jual, meskipun
biaya tidak menentukan harga jual dan bukan satu-satunya faktor yang harus
dipertimbangkan dalam penentuan harga jual.
Manfaat Informasi Biaya Penuh dalam Keputusan Penentuan Harga
Jual
a. Biaya penuh merupakan titik awal untuk mengurangi ketidakpastian yang
dihadapi oleh pengambil keputusan.
b. Biaya penuh merupakan dasar yang memberikan perlindungan bagi
perusahaan dari kemungkinan kerugian.
c. Biaya penuh memberikan informasi yang memungkinkan manajer
penentu harga jual melongok struktur biaya perusahaan pesaing.
d. Biaya penuh merupakan dasar untuk pengambilan keputusan perusahaan
memasuki pasar.

64

Metode Penentuan Harga Jual


1. Penentuan harga jual normal
Dalam keadaan normal, manager penentu harga jual memerlukan
informasi biaya penuh yang akan datang sebagai dasar penentuan harga jual
produk atau jasa. Metode penentuan harga jual normal sering disebut denagn
istilah cost-plus pricing, karena harga jual ditentukan denagn menambah
biaya masa yang akan datang dengan suatu persentase markup (tambahan
diatas jumlah biaya) yang dihitung dengan formula tertentu. Yaitu sebagai
berikut:
Harga jual = Taksiran biaya penuh + Laba yang diharapkan
2. Penentuan harga jual waktu dan bahan
Penentuan

harga

jual

waktu

dan

bahan

ini

pada

dasarnya

merupakan cost-plus pricing.Harga jual jual ditentukan sebesar biaya penuh


ditambah dengan laba yang diharapkan. Metode penentuan harga ini
digunakan oleh perusahaan bengkel mobil, dok kapal dan lainnya yang
menjual jasa reparasi bahan dan suku cadang. Volume jasa dihitung
berdasarkan waktu yang diperlukan untuk melayani pelanggan, sehingga
perlu dihitung harga jual per satuan waktu yang dinikmati oleh pelanggan.
Sedangkan volume bahan dan suku cadang yang diperlukan sebagai
pelengkap penyerahan dihitung berdasarkan kuantitas bahan dan suku cadang
yang diberikan kepada pelanggan.
3. Penentuan harga jual dalam cost-type contract (cost-type contract pricing)
Cost-type contract adalah kontrak pembuatan produk atau jasa yang pihak
pembeli setuju untuk membeli produk atau jasa pada harga yang didasarkan
pada total biaya yang sesungguhnya dikeluarkan oleh produsen ditambah
dengan laba yang dihitung sebesar persentase tertentu dari total biaya
sesungguhnya tersebut. Dalam cost-type pricing harga jual yang dibebankan
kepada palanggan dihitung berdasarkan biaya penuh sesungguhnyayang telah
dikeluarkan untuk memproduksi dn memasarkan produk.

65

4. Penentuan harga jual pesanan khusus (Special order pricing)


Pesanan khusus merupakan pesanan yang diterima oleh perusahaan di luar
pesanan reguler perusahaan. Biasanya pelanggan yang melakukan pesanan
khusus ini meminta harga di bawah biaya penuh, karena biasanya pesanan
khusus mencakup jumlah yang besar.
Dalam

mempertimbangkan

penerimaan

pesana

khusus,

informasi

akuntansi diferensial merupakan dasar yang dipakai sebagai landasan


penentuan harga jual. Jika harga yang diminta oleh pemesan lebih besar dari
biaya diferensial yang berupa biaya variebel untuk memproduksi data
memasarkan pesanan tersebut, maka pesanan dapat dipertimbangkan untuk
diterima. Biaya diferensial yang dipakai sebagai landasan penentuan harga
pesanan khusus diperkirakan menyebabkan perubahan volume kegiatan
melampaui kisar perubahan yang menjadikan biaya tetap bertambah.
5. Penentuan harga jual produk atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan
yang diatur dengan peraturan pamerintah
Dalam penentuan harga jual yang diatur dengan peraturan pemerintah,
biaya penuh yang akan datang yang dipakai sebagai dasar penentuan harga
jual tersebut dihitung dengan menggunakan pendekatan full costing saja,
karena pendekatan variabel costing tidak diterima sebagai prinsip akuntansi
yang lazim.
Faktor yang mempengaruhi penentuan harga jual barang dan jasa
Dalam

penentuan

harga

barang

dan

jasa banyak

hal

yang

mempengaruhinya antara lain:


1) Perimbangan permintaan dan penawaran
Umumnya harga jual produk dan jasa standar ditentuken oleh perimbangan
permintaan dan penawaran di pasar. Karena permintaan pelanggan atas
produk dan jasa tidak mudah ditentukan oleh manajer penentu harga jual
maka dalam penentuan harga jual manager tersebut akan menghadapi
ketidakpastiaan.
2) Selera pasar

66

Penentuan harga jual juga dipengaruhi selera pasar. Dengan melihat


kecenderungan selera pasar, manajer penentu harga jual akan semakin
terbantu untuk menentukan harga jual karena kecenderungan ini juga
dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran pelanggan.
3) Jumlah pesaing yang memasuki pasar
Yang juga perlu diperhatikan dalam penentuan harga jual barang dan jasa
adalah jumlah pesaing yang ada di pasar karena harga jual umumnya sudah
terbentuk di pasar yang dibuat oleh pesaing.
4) Harga jual yang ditentukan oleh pesaing
Jika perusahaan ingin memenangkan persaingn di pasar, salah satu nasihat
yang harus dipertimbangkan adalah: pahami pesaingmu. Jika pesaing
menurunkan harga jual produknya manajer penentu harga jual sudah
mengerti apa yang harus dilakukan dalam memutuskan penetuan harga jual
begitu pula jika pesaing menaikkan harga jual produknya.
5) Biaya
Satu-satunya faktor yang memiliki kepastian relatif tinggi yang
berpengaruh dalam penentuan harga jual adalah biaya. Biaya memberikan
informasi batas bawah suatu harga jual harus ditentukan. Biaya bukan
satu-satunya faktor yang harus dipertimbangkan dalam penentuan harga
jual.
Soal
1.Manager pemasaran PT X sedang mempertimbangkan penentu harga jual
produk A untuk tahun yang akan datang. Perusahaan menggunakan
pendekatan full costing dalam penentuan biaya penuh. Menurut anggaran
perusahaan direncanakan akan beroperasi pada kapasitas normal sebanyak
1.000.000. kg dengan taksiran biaya penuh untuk tahun anggaran yang akan
datang sebagai berikut:
Biaya produksi

Rp3.000.000.000

Biaya administrasi dan umum

200.000.000

Biaya pemasaran

300.000.000 +

Total biaya penuh

3.500.000.000
67

Total aktiva yang diperkirakan pada awal yang diperkirakan pada awal tahun
anggaran adalah sebesar Rp4.000.000.000 dan laba yang diharapkan yang
dinyatakan dalam tarif kembalian investasi adalah sebesar 25%
2. Misalkan untuk menghasilkan listrik diperlukan investasi sebesar
Rp3.200.000.000 untuk pengembalian mesin dan ekuipment serta modal
kerja.listrik pada Taksiran biaya produksi pada volume produksi
100.000.000 kwh per tahun adalah sebagai berikut:
Biaya bahan baku

Rp4.000.000.000

Biaya tenaga kerja langsung

3.000.000.000

Biaya overhead pabrik

8.000.000.000 +

Jumlah taksiran biaya produksi

Rp 15.000.000.000

Taksiran biaya nonproduksi setahun terdiri dari biaya pemasaran sebesar


Rp1.500.000.000 dan biaya administrasi dan umum sebesar Rp700.000.000.
diputuskan laba wajar untuk perusahaan listrik tersebut adalah 25% dari
investasinya.
Jawaban
1. Harga jual produk yang dihitung dengan cost-plus pricing dengan
pendekatan full costing :
Biaya administrasi dan umum

Rp 200.000.000

Biaya pemasaran

300.000.000

Laba yang diharapkan: 25% x 4.000.000.000

1.000.000.000 +

Jumlah

1.500.000.000

Biaya produksi

3.000.000.000 :

Persentase markup

50%

Perhitungan harga jual :


Biaya produksi
Markup 50%x3.000.000.000

3.000.000.000
1.500.000.000+

Jumlah harga jual

4.500.000.000

Volume produk

1.000.000 :

Harga jual per kg

Rp

4.500

68

2. Perhitungan markup:
Taksiran biaya administrasi dan umum
Taksiran biaya pemasaran
Laba yang diharapkan 25% x 3.200.000.000
Jumlah
Taksiran biaya produksi

700.000.000
1.500.000.000
800.000.000 +
Rp 3.000.000.000
15.000.000.000 :

Persentase markup

20%

Perhitungan harga jual per kwh :


Taksiran biaya produksi :
-

Biaya bahan baku

4.000.000.000

Biaya tenaga kerja langsung

3.000.000.000

Biaya overhead pabrik (variabel & tetap)

8.000.000.000 +
15.000.000.000

Markup 20% dari taksiran biaya produksi


Total harga jual
Volume produk
Harga jual listrik per kwh

3.000.000.000 +
18.000.000.000
100.000.000 :
Rp

180

69

BAB 8
PENGGUNAAN INFORMASI AKUNTANSI PENUH DALAM
PENENTUAN HARGA TRANSFER
Latar Belakang Timbulnya Masalah Transfer
Masalah penentuan harga transfer dijumpai pada perusahaan yan
organisasinya di susun menurut pusat-pusat laba, dan antar pusat laba yang
dibentuk tersebut terjadi transfer barang atau jasa. Perusahaan semacam ini
biasanya adalah perusahaan yang telah mengalami kemajuan yang pesat dan
kompleksitas. Latar belakang timbulnya masalah harga transfer dapat
dihubungkan dengan proses diferensiasi bisnis dan perlunya integrasi dalam
organisasi

yang

telah

melakukan

diferensiasi

bisnis.

a.Diferensiasi
Diferensiasi adalah proses pembagian pekerjaan menjadi tugas-tugas yang
diperlukan untuk mencapai sasaran organisasi.
b.Diversifikasi
Diversifikasi merupakan proses pembentukan unit-unit organisasi untuk
menghadapi berbagai lingkungan industri.
c.Integrasi
Integrasi merupakan usaha untuk mengkoordinasikan divisi-divisi yang
terbentuk dari adanya diferensiasi dan diversifikasi agar divisi-divisi yang
telah terbentuk tidak tercerai-berai.
Harga transfer memiliki peran ganda. Di satu sisi, harga transfer
mempertegas diversifikasi yang dilakukan oleh manajemen puncak.Harga
transfer menetapkan dengan tegas hak masing-masing divisi untuk
mendapatkan laba. Di sisi lain, harga transfer berperan sebagai salah satu alat
untuk menciptakan mekanisme integrasi. Misalnya dlm penentuan sumber
pengadaan barang,manajemen puncak dpt menempuh kebijakan jika
menguntungkan perusahaan secara keseluruhan,manajer divisi dipaksa untuk
memilih sumber pengadaan dari divisi lain dalam perusahaan, tidak dari
pemasoklain.
70

Desentralisasi
Desentralisasi adalah pendelegasian kebebasan untuk mengambil keputusan.
Desentralisasi dapat mengambil salah satu dari tiga bentuk berikut ini :
(1) Desentralisasi berdasarkan fungsi ( functional decentralization ),
(2) Desentralisasi berdasarkan daerah ( geographical decentralization ),
(3)

Desentralisasi

berdasar

laba

profit

decentralization

Desentralisasi memiliki kebaikan dan kelemahan. Manfaat desentralisasi


adalah

1) Para manajer tingkat yang lebih rendah mempunyai pengetahuan yang


terbaik

tentang

kondisi

setempat.

2) Desentralisasi memberikan kesempatan bagi para manajer tingkat lebih


rendah dalam mempersipakan diri untuk jabatan yang lebih tinggi setelah
berlatih

mengelola

unit

organisasi

tingkat

bawah.

3) Desentralisasi memberikan kebebasan bagi para manajer dalam


pengambilan keputusan, sehingga mereka dapat merasakan statusnya lebih
tinggi bila dibandingkan jiks mereka tidak memiliki kebebasan dalam
pengambilan keputusan. Dengan demikian desentralisasi dapat memberikan
motivasi
Sedangkan,

bagi

para
kelemahan

manajer
desentralisasi

untuk

berprestasi.
adalah

1) Para manajer mungkin membuat keputusan yang hanya menguntungkan


divisi yang dipimpinnya saja, dengan akibat merugikan perusahaan secara
keseluruhan.
2) Para manajer mempunyai kecenderungan untuk memiliki sendiri unit
organisasi penghasil jasa yang sebenarnya akan lebih murah jika jasa tersebut
disediakan

secara

terpusat.

3) Kadang-kadang biaya pengumpulan dan pengelolaan informasi mengalami


kenaikan dalam perusahaan yang organisasinya sudah didesentralisasikan.
Konsep Harga Transfer
Harga transfer merupakan harga barang dan jasa yang ditransfer antar
pusat laba dalam perusahaan yang sama. Penentuan harga transfer dalam
71

perusahaan yang telah mendesentralisasikan organisasinya ke dalam pusatpusat laba menimbulkan berbagai masalah , terutama masalah yang
menyangkut penentuan harga transfer yang adil bagi semua pihak yang
terkait, masalah motivasi, pengukuran kinerja, dan masalah pencapaian
tujuan perusahaan secara keseluruhan.
Karakteristik Harga Transfer
Jika antar pusat laba dalam suatu perusahaan membeli dan menjual barang,
ada dua macam keputusan yang harus dibuat :
1) Keputusan pemilihan sumber. Apakah memproduksi sendiri ataukah
membeli dari pemasok. Keputusan ini disebut sourcing decision.
2) Keputusan penentuan harga transfer. Jika barang diproduksi di dalam
perusahaan sendiri, keputusan berikutnya adalah pada harga transfer dari
divisi penjual ke divisi pembeli. Keputusan ini dikenal dengan istilah
transfer pricing decision.
Harga transfer pada hakikatnya memiliki tiga karakteristik berikut :
a. Masalah harga transfer hanya timbul jika divisi yang terkait hanya
diukur kinerjanya berdasarkan atas laba yang diperoleh mereka dan harga
transfer merupakan unsur yang signifikan dalam membentuk biaya penuh
barang yang diporduksi di divisi pembeli.
b. Harga transfer mengandung unsur laba di dalamnya
c. Harga transfer merupakan alat untuk mempertegas diversifikasi dan
sekaligus mengintegrasikan divisi yang dibentuk.
Masalah yang Dirundingkan Dalam Penentuan Harga Transfer
Dua masalah yang dirundingkan antara divisi penjual dan divisi pembeli
adalah

a. Dasar yang digunakan sebagai landasan penentuan harga transfer


b. Besarnya laba yang diperhitungkan dalam harga transfer
Metode Penentuan Harga Transfer
a. Penentuan harga transfer atas dasar biaya
(Cost-Based Transfer Pricing).
Dalam penentuan harga transfer ini, harga jual barang yang ditransfer
72

antar divisi didasarkan pada biaya penuh produk yang ditransfer. Biaya
penuh yang dipakai sebagai dasar penetuan harga transfer dapat dipilih
dari dua macam biaya, yaitu biaya penuh sesungguhnya dan biaya
penuh standar.
Jika activity based cost dipakai sebagai pendekatan perekayasaan biaya
yang digunakan sebagai dasar penetuan harga transfer, maka unsurunsur yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:
1) Unit level activity cost. Biaya ini dibebeankan oleh divisi penjual
berdasarkan biaya standar dikalikan jumlah produk yang ditransfer.
2) Batch-related activity cost. Biaya ini dibebankan kepada divisi
pembeli berdasarkan jumlah batch-related activity cost standar yang
dikeluarkan ole divisi penjual
3) Product-sustaining activity cost. Biaya ini dibebankan kepada
produk berdasarkan taksiiran jumlah unit produk yang akan dihasilkan
selama umur produk tersebut.
4) Facility-sustaining activity cost. Biaya ini dibebankan kepada
produk berdasarkan taksiran unit produk yang dihasilkan pada
kapasitas normal divisi penjual.
b. Penentuan harga transfer atas dasar harga pasar.
Harga pasar merupakan harga kesempatan bagi divisi penjual maupun
pembeli. Bagi divisi penjual, harga pasar merupakan penghasillan yang
akan dikorbankan didalam transfer produk kepada divisi pembeli,
sedangkan bagi divisi pembeli harga pasar tersebut merupakan biaya
yang seharusnya dikeluarkan jika produk tersebut dibeli dari pihak
luar.
Masalah dalam Penentuan Harga Transfer
Setiap harga transfer akan menjadi biaya variabel bagi divisi pembeli,
meskipun dari sudut pandang perusahaan secara keseluruhan, harga
transfer tersebut mengandung unsur biaya tetap dari divisi penjualan. Jika
di devisi pembeli terdapat kapasitas yang berlebih, analisis biaya yang
dilakukan oleh divisi pembeli untuk pengambilan keputusan jangka
73

pendek di bidang pemasaran akan berakibat terjadinya kesalahan


kesimpulan. Jika divisi pembeli memperlakukan unsur biaya biaya tetap
yang terdapat dalam harga barang yang ditransfer dari divisi penjual
sebagai biaya variabel, biaya variabel divisi pembeli akan berbeda dengan
biaya variabel dari sudut pandang perusahaan secara keseluruhan.
Jika manajer divisi pembeli melakukan perencanaan laba jangka pendek,
ia akan memperlakukan harga yang dibayarkan kepada divisi penjual
untuk produk yang ditransfer dari divisi tersebut sebagai unsur biaya
variabel. Dengan demikian usaha optimasi laba jangka pendek yang
dilakukan oleh divisi pembeli tidak selalu berakibat optimasi laba
perusahaan

secara

keseluruhan.

Masalah tersebut selalu timbul jiak produk atau jasa ditransfer dari divisi
penjual ke divisi pembeli dengan menggunakan harga transfer persatuan.
Masalah

ini

menjadi

lebih

besar

dalam

perusahaan

yang

divisinyamemasarkan produk yang diproduksi oleh divisi lain dalam


perusahaan

yang

sama.

Jika suatu divisi menjual seluruh produknya ke divisi lain dalam


perusahaan yang sama, divisi tersebut merupakan captive suplier. Manajer
divisi penjual ini tidak memilki wewenang yang signifikan dalam bidang
pemasaran. Tanggung jawab pokoknya adalah pada pada pengendalian
biaya, mutu produk, ketepatan jadwal produksi. Laba divisi ini sangat
ditentukan oleh volume produk yang dijual oleh divisi pembeli. Dengan
demikian, laba bukan meruapkan ukuran kinerja yang baik bagi kinerja
manajer

divisi

penjual.

Untuk memcahkan masalah yang dihadapi oleh captive suplier tersebut,


ada

dua

1.Memperlakukan

alternatif
divisi

yang
penjual

dapat
sebagai

pusat

dipilih:
biaya

2.Memilih satu dari tiga alternatif harga transfer: baben tetap bulanan,
pembagian laba, dan dua macam harga.

74

A. Divisi penjual diperlakukan sebagai pusat biaya


Jika divisi penjual mentransfer seluruh atau sebagian produknya kepada divisi
lain kepada perusahaan yang sama, divisi penjual pada hakekatnya
merupakan peseudo profit center (pusat laba tidak dalm arti yang
sebenarnya). Manajer divisi penjual ini tidak memilki wewenang yang
berarti dalam pemasaran produknya, sehingga laba divisinya sangat
ditentukan oleh kinerja divisi lain. Dengan demikian, laba tidak dapat
mencerminkan kinerja divisi penjual ini. Oleh karena itu, salah satu
alternatif yang tersedia bagi divisi penjual yang diperlukan sebagai captive
supplier bagi divisi lain ini adalah dengan memperlakukan divisi tersebut
sebagai pusat biaya. Tanggung jawab divisi penjual adalah terbatas pada
pengendalian terhadap biaya.
B.Beban

tetap

bulanan

(Fixed

Monthly

Charge)

Jika alternatif memperlakukan divisi penjual sebagai pusat biaya tidak


dipilih, namun agar kinerja divisi penjual tidak ssemata-mata ditentukan
oleh kinerja divisi pembeli, maka penentuan harga transfer dapat dilakukan
dengan beban tetap bulanan. Dengan menggunakan beban tetap bulanan,
divisi penjual sebagai captive supplier tetap diperlakukan sebagai pusat
laba, yang kinerjanya tidak dipengaruhi oleh volume penjualan divisi
pembeli. Harga transfer produk divisi penjual dihitung sebagai berikut:
1. Produk yang ditransfer ke divisi pembeli ditentukan harga transfernya
sebesar biaya variabel persatuan. Jika misalnya divisi penjual
mentransfer X unit produk ke divisi pembeli, maka divisi pembeli akan
dibebani dengan hasil kali biaya variabel per unit. Dengan jumlah unit
produk yang ditransfer ke divisi pembeli.
2. Setiap bulan divisi pembeli akan dibebani dengan beban tetap bulanan
yang

unsurnya

terdiri

dari:

a. Biaya tetap. Biaya tetap yang dibebankan oleh divisi penjual adalah
sebesar biaya tetap yang terjadi untuk penyediaan kapasitas untuk
kepentingan divisi pembeli. Karena sebaga captive suplier, divisi
penjual telah menyediakan kapasaitas untuk keperluan divisi pembeli,
75

maka semua biaya tetap yang timbul sebagai akibat penyediaan


kapasitas tersebut dibebankan pada divisi pembeli. Dengan demikian
volume kegiatan divisi pembeli tidak mempengaruhi perhitungan laba
divisi

penjual.

b. Laba. Unsur laba yang diperhitungkan dalam harga transfer ini


dihitung sebesar tarif kembalian investasi (Return on investment) atas
investasi divisi penjual unruk melayani kepentingan divisi pembeli.
Besarnya biaya tetap yang dibebankan kepada divisi pembeli dan
besarnya laba yang ditambahkan dalam harga transfer perlu
dirundingkan secara periodek antar divisi penjual dan divisi pembeli.
C.Pembagian Laba (Profit Sharing)
Dalam penentuan harga transfer ini, divisi pembeli dibebani baiaya
variabel standar untuk setiap unit produk yang ditransfer oleh divisi
penjual ke divisi pembeli. Biaya variabel divisi penjual ke divisi
pembeli ini digunakan untuk menghitung biaya variabel komulatif
produk yang selesai diproduksi dan dijual oleh divisi pembeli. Setelah
divisi penjual berhasil menjual produk tersebut ke pasar luar, laba
kontribusi yang diperoleh (yang merupakan selisih harga jual ke pasar
luar dikurangi dengan biaya variabel kumulatif) dibagi secara adil
kepada divisi penjual dan divisi pembeli.
D.Dua

Perangkat

Harga

(Two

Sets

of

Price)

Untuk menyelsaikan masalah yang dihadapi oleh divisi penjual yang


bertindak sebagai captive supplier dapat ditempuh cara lain dengan
menggunakan dua perangkat harga untuk produk yang ditransfer dari
divisi penjual ke divisi pembeli. Perangkat harga pertama yang
digunakan adalah harga jual produk divisi penjual di pasar luar
perusahaan. Pada saat divisi penjual mentransfer produk ke divisi
pembeli, rekening pendapatan divisi penjual dikredit sebesar jumlah
unit produk yang ditransfer dikalikan dengan harga jual produk tersebut
di pasar luar dikurangi dengan biaya pemasaran. Divisi pembeli
dibebani sebesar biaya variabel standar. Selish antar penadapatan dan
76

biaya variabel tersebut, dikreditkan ke rekening kantor pusat dan di


eliminasi pda saat dilakukan konsolidasi laporan keuangan.
Pengelolaan Harga Transfer
Karena penentuan harga transfer berdampak langsung terhadap laba
divisi yang terlibat dalam transfer produk atau jasa, sistem penentuan harga
transfer memerlukan aturan formal agar dapat dilakukan secara berhasil. Dua
aturan formal yang perlu ditetapkan adalah aturan negosiasi dan aturan
penyelesaian jika negosiasi menghadapi jalan buntu.
Negosiasi antar divisi
Jika pembentukan divisi disertai dengan desentralisasi wewenag
manajemen puncak, penentuan harga transfer tidak ditetapkan oleh staf
manajemen puncak, namun merupakan hasil negosiasi antar manajer divisi
yang terlibat dalam transfer barang atau jasa. Jika wewenang penentuan
harga transfer masih ditangan staf manajemen puncak, manager divisi
tidak ditempatkan dalam posisi yang dapat mengendalikan pendapatan dan
biaya divisinya. Dengan demikian, kondisi ini akan mengakibatkan laba
divisi tidak dapat dipakai sebagai pengukur yang baik kinerja manajer
divisi.
Setiap metode harga transfer seolah-olah seperti pedang bermata dua.
Jika metode harga transfer menguntungkan divisi penjual, tentu dilain
pihak akan merugikan divisi pembeli. Begitu pula sebaliknya, jika divisi
pembeli diuntungkan dengan metode harga transfer tertentu, maka divisi
penjual tentu akan dirugikan. Oleh karena itu, penentuan harga transfer
harus

dirundingkan

oelh

manajer

divisi

yang

terlibat.

Dalam melakukan perundingan, divisi yang terlibat perlu menetapkan


dasar yang akan dipakai sebagai landasan perundingan. Jiak digunakan
baiya penuh sebagi dasar, divisi yang terlibat perlu merundungkan tipe
biaya yang akan dipakai sebagai dasar (biaya standar atau biaya
sesungguhnya), unsur biaya yang diperhitungkan sebagai dasar penentuan
harga transfer, unsur aktiva yang diperhitungkan dalam capital employed,
77

dan besarnya tarif kembalian yang diperhitngkan dalam menghitung laba.


Biasanya kantor pusat menetapkan kebijakan yang bersangkutan dengan
sumber pengadaan. Misalnya divisi dilarang mengadakan kebutuhan bahan
dari perusahaan luar yang merupakan pesaing divisi lain dalam
perusahaan.
Arbitrase
Bagaimanapun rinci aturan negosiasi yang telah disepakati oleh divisi
yang terlibat, suatu saan akan terjadi jalan buntu dalam perundingan penetuan
harga transfer. Oleh karena itu, perlu disusun prosedur untuk menengahi
perselisihan yang terjadi anatar divisi penjual dan divisi pembeli. Lembaga
arbitrase perlu dibentuk untuk menyelesaikan masalah-masalah yang
dipersengketakan oleh divisi penjual dan divisi pembeli. Dalam lembaga
arbitrase ini, managemen kantor pusat bertanggung jawab dalam membantu
penyelesaian masalah-masalah yang disengketakan oleh para manajer divisi
yang terkait dalam penentuan harga transfer.
Lembaga arbitrase ini bertanggung jawab untuk:
1. Menyelesaikan perselisihan yang timbul dalam penentuan harga transfer.
2. Menelaah perubahan sumber pengadaan.
3. Mengubah aturan harga transfer jika diperlukan.

78

BAB 9
PENGGUNAAN INFORMASI AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN
DALAM PENILAIAN KINERJA
Definisi Penilaian Kinerja
Penilaian

kinerja

adalah

penentuan

secara

periodik

efektivitas

operasional suatu organisasi, bagian organisasi, dan karyaawan berdasarkan


sasaran, standard, dan criteria yang telah ditetapkan sebelumnya.
Tujuan pokok penilaian kinerja adalah untuk memotivasi karyawan
dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam mematuhi standard perilaku
yang telah ditetapkan sebelumnya, agar membuahkan tindakan dan hasil yang
diinginkan.
Manfaat Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja dimanfaatkan oleh manajemen untuk:
1. Mengelola oprasi organisasi secara efektif dan efisien melalui
pemotivasian karyawan secara maksimum.
2. Membantu pengambilan keputusan yang bersangkutan dengan karyawan,
seperti: promosi, transfer, dan pemberhentian.
3. Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan karyawan dan
untuk menyediakan kriteria seleksi dan evaluasi program pelatihan
karyawan.
4. Menyediakan umpan balik bagi karyawan mengenai bagaimana atasan
mereka menilai kinerja mereka.
5. Menyediakan suatu dasar bagi distribusi penghargaan.
Tahap Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja dilaksanakan dalam dua tahap utama: tahap persiapan dan
tahap penilaian. Yahap persiapan terdiri dari tiga tahap rinci:
1. Penentuan daerah pertanggungjawaban dan manajer yang bertanggung
jawab.
79

2. Penetapan kriteria yang dipakai untuk mengukur kinerja.


3. Pengukuran kriteria sesungguhnya.
Tahap penilaian terdiri dari tiga tahap rinci:
1. Pembandingan kinerja sesungguhnya dengan sasaran yang telah
ditetapkan sebelumnya.
2. Penentuan penyebab timbulnya penyimpangan kinerja sesungguhnya dan
yang ditetapkan dalam standard.
3. Penegakan perilaku yang diinginkan dan tindakan yang digunakan untuk
mencegah perilaku yang tidak diinginkan.
Empat golongan pusat pertanggungjawaban berikut ini:
1. Pusat pertanggunjawabaan yang sebagian besar biayanya merupakan
biaya variable teknik (engineered variable costs). Masukan dan keluaran
pusat pertanggungjawabaan ini memiliki hubungan nyata dan tidak erat.
2. Pusat pertanggungjawaban yang sebagian besar biayanya merupakan
biaya commetted

fixed

costs.

Masukan

dan

keluaran

pusat

pertanggungjawabaan ini memiliki hubungan nyata dan tidak erat.


3. Pusat

pertanggungjawabaan

biaya discretionary

variable

sebagian
costs.

besar

Masukan

biayanya
dan

merupakan

keluaran

pusat

pertanggungjawabaan ini memiliki hubungan artificial dan erat.


4. Pusat

pertanggungjawabaan

merupakan discretionary

fixed

yang
costs.

sebagian
Masukan

dan

besar

biayanya

keluaran

pusat

pertanggungjawabaan ini memiliki hubungan artifisian dan tidak erat.


Berdasarkan karakteristik masukan dan keluarannya dan hubungan di antara
keduanya, pusat pertanggungjawabaan daoat dibagi menjadi 4 macam
Karakteristik Pusat Pertanggungjawaban
Pusat biaya adalah pusat pertanggungjawaban yang manajernya diukur
prestasinya atas dasar biayanya (nilai masukannya).

80

Pusat pendapatan adalah pusat pertanggungjawaban yang manajernya diberi


wewenang untuk mengendalikan pendapatan pusat pertanggungjawaban
tersebut. Manajer pusat pendapatan diukur kinerjanya dari pendapatan yang
diperoleh pusat pertanggungjawaban dan tidak dimintai pertanggungjawaban
mengenai masukannya, karena dia tidak dapat mempengaruhi pemakaian
masukan tersebut.
Berdasarkan karakteristik hubungan antara masukan dan keluarannya, pusat
biaya dibagi lebih lanjut menjadi pusat biaya teknik (engineering expense
center). Pusat biaya teknik adalah pusat pertanggungjawaban yang sebagian
besar masukannya mempunyai hubungan yang nyata dan erat dengan
keluarannya.
Pusat laba adalah pusat pertanggungjawaban yang manajernya diberi
wewenang

untuk

mengendalikan

pendapatan

dan

biaya

pusat

pertanggungjawaban tersebut. Manajer pusat laba diukur kinerjanya dari


selisih antara pendapatan dengan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh
pendapatn tersebut.
Pusat investasi adalah pusat laba yang manajernya diukur prestasinya
dengan menghubungkan laba yang diperoleh pusat pertanggungjawaban
tersebut dengan investasi yang bersangkutan. Ukuran prestasi manajer pusat
investasi dapat berupa ratio antara laba dengan investasi yang digunakan
untuk memperoleh laba tersebut. Ukuran ini disebut dengan kembalian
investasi (return on investment disingkat ROI), yang rumus perhitungannya
adalah: laba dibagi investasi. Dapat pula manajer investasi diukur prestasinya
dengan menggunakan residual income, yang merupakan laba dikurangi
dengan beban modal (capital charge).
Penetapan Kriteria Kinerja Bagi Setiap Pusat Pertanggungjawaban
Dalam menetapkan kinerja manajer, berbagai factor berikut ini perlu
dipertimbangkan:
1. Dapat diukur atau tidaknya kriteria.
2. Rentang waktu sumber daya dan biaya.
81

3. Bobot yang perhitungkan atas kriteria.


4. Tipe kriteria yang digunakan dan aspek prilaku yang ditimbulkan.
Pengukuran Kinerja Sesungguhnya
Melakukan pengukuran hasil sesungguhnya bagian atau aktivitas yang
menjadi daerah wewenang manajer tersebut. Meskipun pengukuran kinerja
tampaknya objektif, bersifat repetitif, dan merupakan kegiatan yang rutin, namun
pengukuran kinerja itu sendiri sering kali memicu timbulnya perilaku yang tidak
semestinya.
Perilaku yang tidak semestinya yang sering kali muncul dalam pengukuran
kinerja adalah: perataan (smoothing), pencondongan (biasing), permainan
(gaming), penonjolan dan pelanggran aturan (focusing and illegal act).
Pembandingan

Kinerja

Sesungguhnya

dengan

Sasaran

yang

Telah

Ditetapkan Sebelumnya dan Pelaporan dengan Segera Hasilnya


Informasi penyimpangan kinerja sesungguhnya dari sasaran yang telah
ditetapkan

diumpanbalikkan

dalam

laporan

kinerja

manajer

yang

bertanggungjawab untuk menunjukkan efisiensi dan efektivitas kinerjanya.


Laporan kinerja harus memenuhi persyaratan berikut ini untuk
menghasilkan perilaku yang fungsional:
1. Laporan kinerja untuk manajer tingkat bawah harus berisi informasi yang
rinci, dan laporan kinerja untuk manajer tingkat di atasnya harus berisi
informasi yang lebih ringkas. Semakin tinggi jenjang manajer, semakin
ringkas isi laporan kinerjanya.
2. Laporan kinerja berisi unsur terkendalikan dan unsur tidak terkendalikan
yang disajikan secara terpisah, sehingga manajer yang bertanggung jawab
atas kinerja dapat dimintai pertanggungjawaban atas unsur-unsur yang
dikendalikan olehnya.
3. Laporan

kinerja

harus

mencakup

penyimpangan,

baik

yang

menguntungkan maupun yang merugikan.

82

4. Laporan kinerja sebaiknya diterbitkan paling tidak sebulan sekali.


Penerbitan kurang dari periode satu bulan dapat dilakukan dalam keadaan
khusus yang memerlukan perhatian segera dan perubahan segera terhadap
perilakku manajer.
5. Laporan kinerja harus disesuaikan dengan kebutuhan dan pengalaman
pemakai.
6. Penyajian laporan kinerja sebaiknya memperhatikan kemampuan penerima
dalam menerima dalam memahami laporan tersebut.
Penentu penyebab operasional dan keperilakuan penyimpangan yang
merugikan
penyimpangan kinerja sesungguhnya dari sasaran yang ditetapkan perlu
dianalisis untuk menentukan penyebab terjadinya penyimpangan tersebut, dan
dapat direncanakan tindakan untuk mengatasinya baik untuk membentuk perilaku
fungsional dalam proses penentuan penyebab terjadinya penyimpangan, harus
diselenggarakan rapat untuk berbagai jenjang manajer. Rapat tersebut harus
merupakan forum pembicaraan pemecahan bersama masalah masalah yang
timbul akibat penyimpangan dan mendorong partisipasi aktif setiap peserta yang
hadir untuk memecahkan masalah.
Penegakan perilaku dan tindakan yang Diinginkan Untuk
Mencegah terulangnya perilaku yang tidak di inginkan
Tahap akhir penilaian kinerja adalah tindakan koreksi untuk menegakan
perilaku yang diinginkan dan mencegah terulangnya perilaku yang tidak
diinginkan.
Ukuran Kinerja
Terdapat tiga mcam ukuran yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja
secara kuantitatif : ukuran kriteria tunggal, ukuran kriteria beragam, dan ukuran
kriteria beragam, dan ukuran kriteria gabungan. Ukuran kriteria tunggal ( single
criterion ) dalah ukuran kerja yang hanya menggunakan satu ukuran untuk

83

menilai kinerja manajer. Ukuran kriteria beragam (multiple criteria ) adalah


ukuran kinerja yang menggunakan berbagai macam ukuran untuk menilai kinerja
manajer. Ukuran kriteria gabungan
( composite criteria ) adalah ukuran kinerja yang menggunakan berbagai
macam ukuran, memperhitungkan bobot masing masing ukuran, dan
menghitung rata ratanya ukuran menyeluruh kinerja manajer.
Ukuran Kriteria Tunggal
Jika kriteria tunggal digunakan untuk mengukur kinerja, orang akan
cenderung memusatkan usahanya kepada kriteria tersebut dengan akibat
diabaikannya kriteria yang lain, yang kemungkinan sama pentingnya dalam
menentukan sukses atau tidaknya perusahaan atau bagianya. Sebagaui contoh,
manajer produksi yang di ukur kinerjanya dari tercapainya target kuantitas
produk yang dihasilkan dalam jangka waktu tertentu kemungkinan
mengabaikan pertimbangan penting lain mengenai mutu, biaya, pemeliharaan
ekuipment, dan sumber daya manusia.
Ukuran Kriteria Beragam
Berbagai aspek kinerja manajer dicari ukuran kriterianya sehingga seorang
manajer diukur kinerjanya dengan beragam kriteria.
Tujuan pengguna kriteria beragam ini adalah agar manajer yang diukur
kinerjanya mengarahkan usahanya kepada berbagai kinerja.
Ukuran Kriteria Gabungan
Karena disadari bahwa beberapa tujuan lebih penting secara keseluruhan
dibandingkan dengan tujuan yang lain, beberapa perusahaan memberiakan
bobot angka tertentu beragam kriteria kinerja untuk mendapatkan ukuran
tunggal kinerja manajer, setelah memperhitungkan bobot beragam kriteria
kinerja masing masing.

84

Peran Informasi Akuntansi Pertanggungjawaban dalam Penilaian


Kinerja Pusat Pertanggungjawaban
PENILAIAN KINERJA PUSAT PENDAPATAN
Informasi akuntansi yang dipakai ukuran kinerja manajer pusar pendapatan
adalah pendapatan.
Masalah akan timbul jika pusat pendapatan mentranfer produk atau jasanya
kepada pusat pertanggungjawaban lain dalam perusahaan. Masalah yang
timbul adalah apakah pendapatan dari Transfer produk atau jasa ke pusat
pertanggungjawaban lain dalam perusahaan tersebut diperhitungkan sebagai
pendapatan pusat laba dan pada harga transfer berapa harga diperhitungkan
sebagai beban pusat pertanggungjawaban yang menerima trnsfer.
PENILAIAN KINERJA PUSAT BIAYA
Informasi akuntansi yang dipakai sebagai ukuran kinerja pusat biaya adalah
biaya bayank masalah yang timbul dalam pengukuran biaya sebagai ukuran
kinerja, karena tidak ada biaya yang seratus persen dapat dikendalikan oleh
manajer yang memiliki wewenang untuk pengguna biaya sebagai ukuran
kinerja manajer pusat biaya adalah :
Masalah perilaku biaya
Masalah hubungan biaya dengan pusat biaya
Masakh jangka waktu
Masalh tanggung jawab ganda.
PENILAIAN KINERJA PUSAT LABA
Pusat laba adalah pusat pertanggungjawaban yang manajernya diberi
wewnang

untuk

mengendalikan

pendapatan

dan

biaya

pusat

pertanggungjawaban tersebut.
Demikian, untuk mengukur kinerja pusat laba, umumnya digunakan dua
ukuran yang menghubungkan laba laba yang diperoleh pusat laba dengan
investasi yang digunakan untuk menghasilkan laba: kembalikan investasi
( return on investment atau seringkali disingkat dengan ROI ) dan residual
85

income ( seringkali disingkat dengan RI ). Ukuran lain dapat di gunakan


untuk mengukur kinerja manajer pusat laba adalah produktivitas .
Kembalian Investasi ( Return Investment)
Kembalian investasi ( return on investment atau di singkat ROI) merupakan
perbandingan laba dengan investasi yang digunakan untuk menghasilkan
laba.
1.

ROI = Investasi

2.

ROI= Pendapatan

Laba
Investasi

Laba
Pendapatan

Dalam menggunakan kembalian investasi sebagai ukuran kinerja, diperlukan


kebijakan managemen yang bersangkutan dengan:
1. Penentuan komponen yang digunakan untuk menghitung laba
2. Komponen pendapatan
3. Komponen biaya
4. Penentuan Aktiva yang diperhitungkan ke dalam investment base
5. pengukuran nilai aktiva yang diperhitungkan ke dalam investment
base.
Manfaat kembalian investasi sebagai pengukur kinerja
Kembalian investasi sebagai pengukur kinerja pusat laba memiliki tiga
manfat berikut ini:
Kembalian investasi mendorong manager pusat laba menaruh perhatian yang
seksama terhadap hubungan antara pendapatan penjualan, biaya, dan
investasi.
Kembalian investasi mendorong manager pusat laba melaksanakan efisiensi
biaya.
Kembalian investasi mencegah manager pusat laba melakukan investasi yang
berlebihan di dalam pusat laba yang dipimpinnya.
86

Kelemahan kembalian investasi sebagai pengukur kinerja


Kembalian investasi sebagai pengukur kinerja pusat laba memiliki dua
kelemahan:
Kembalian investasi tidak mendorong manager pusat laba untuk melakukan
investasi dalam proyek yang akan berakibat menurunkan kembalian investasi
pusat laba, meskipun proyek tersebut menaikan frofitabilitas perusahaan
sebagai keseluruhan.
Kembalian investasi mengakibatkan manager pusat laba

memusatkan

perhatiannya kepada sasaran jangka pendek dengan mengorbankan sasaran


jangka panjang.
Residual Income
Residual income dihitung dengan mengurangi laba yang diperoleh pusat laba
dengan beban modal ( capital charge)
Dalam perhitungan residual income, pusat laba dapat menerapkan tarif beban
modal yang berbeda untuk aktiva yang memiliki resiko berbeda.
Keunggulan Residual Income
Residual income memiliki keunggulan dibandingkan dengan kembalian
investasi sebagai pengukur kinerja manager pusat laba.
Penggunaan residual

income

sebagai

pengukur kinerja pusat laba

mengakibatkan semua pusat laba memiliki sasaran laba yang sama untuk
investasi yang sebanding. Kembalian investasi sebagai pengukur kinerja
manager pusat laba memberikan perangsang yang berbeda-beda untuk
investasi.
Residual income dapat menggunakan tarif beban modal yang berbeda untuk
aktiva yang memiliki risiko yang berbeda.
Kelemahan Residual Income

87

Sebagai tolak ukur kinerja pusat laba, residual income memliki kelemahan
sebagai Berikut :
seperti halnya dengan kembalian investasi, residual income juga hanya
mendorong manajer pusat laba memusatkan orientasinya ke tujuan tujuan
jangka pendek, karena laba komponen yang digunakan untuk menghitung
laba halnya dibatasi dengan periode akuntansi yang tidak lebih dari satu tahun
kalender.
seperti halnya dengan kembalian investasi, residual income sebagai pengukur
kinerja pusat laba sangat dipengaruhi oleh metode depresiasi aktiva tetap
.karena biasanya penghitungan residual income didasarkan atas laba bersih
menurut akuntansi (yang biasanya depresi yang diperhitungkan sebagai biaya
dihitung dengan menggunakan metode garis lurus ), maka kinerja manajer
pusat laba tidak dapat dicerminkan dengan residual income.
tidak seperti halnya dengan kembalian investasi yang berupa ratio atau
persentase, residual income berupa angka absolut, yang tidak dapat di
gunakan untuk membandingkan kemampuan berbagai pusat laba dalam
mengahasilkan laba. Perbandingan secara langsung kinerja dua pusat laba
tidak dapat dilakukan menggunakan residual income jika dua pusat laba
tersebut memiliki rata rata aktiva yang berbeda.
Produktivitas Sebagai Pengukur Kinerja
Pusat pertanggungjawaban yang dapt di ukur dengan ukuran produktivitas
adalah pusat pertanggungjawaban yang keluaranya dapat diukur secra
kuantitatif, karena produktivitas merupakan ratio anatara keluaran denag
pemasukan.
DEFINISI PRODUKTIVITAS
Produktivitas berhubungan dengan produksi secra efisien dan
terutama ditujukan kepada hubungan antara keluaran dengan masukan yang
digunakan untuk menghasilakn keluaran tersebut.

88

Pengukuran

produktivitas

dilakukan

denagn

mengukur

perubahan

produktivitas sehingga dapat dilakukan penilaian terhadap usaha untuk


memeperbaiki produktivitas.
PRODUKTIVITAS PARSIAL
Pengukuran produktivitas untuk satu masukan pada saat di sebut
dengan pengukuran produktivitas operasional parsial (partial produktivity
measurement).
pengukuran produktivitas untuk seluruh masukan pada suatu saat disebut
dengan pengukuran produktivitas total (total produktivity measurement).
Produktivitas diukur dalam bentuk ratio antara keluaran dengan masukan .
Pormula untuk menghitung Produktivitas adalah :
Ratio produktivitas = Keluaran
Masukan
Jika keluaran dan masukan yang digunakan dalm formula tersebut
dinyatakan dalam kuantitas fisik, maka ratio produktivitas yang dihasilkan
berupa ukuran produktivitas operasional ( opreational produktivity measure )
jika digunakan keluaran dan masukan , ratio produktivitas yang dihasilkan
berupa ukuran produktivitas keuangan ( finacial produktivity measure ).
KELEBIHAN PRODUKTIVITAS PARSIAL
Produktivitas parsial sebagai pengukur kinerja manajer memiliki
kelebihan sebagai berikut ini:
1.

memungkinkan manajer memusatkan usahanya terhadap penggunaan

masukan tertentu saja.


2.

memudahkan

karyawan

operasional

menentukan

kinerja

produktivitasnya karyawan operasional hanya dapt mengedalikan masukan


tertentu, sehingga ukuran produktivitas parsial yang memberiakn umpan balik
mengenai hubungan antara keluaran dengan tertentu mudah mereka fahami.
3.

untuk kepentingan operasional, seringkali standar kinerja bersifat jangka

pendek, yang di ukur dengan membandingkan produktivitas parsialm batch


sekarang dengan batch sebelumnya.
89

KELEMAHAN PRODUKTIVITAS PARSIAL


Pengguna produktivitas parsial secar terpisah sebagai ukuran kinerja
dapat menyesatkan. Suatu penurunan produktivitas salah satu masukan
kemungkinan diperlukan untuk menaikan produktivitas masukan yang lain.
Kompensasi semacam ini .
PRODUKTIVITAS TOTAL
Pengukuran produktivitas total dapat dilakukan dalam dua kondisi :
tanpa adanya pertukaran produktivitas antar masuk dan memprehitungkan
adanya pertukaran produktivitas antarmasukan.
Aspek Perilaku dalam Penilaian Kinerja dengan Menggunakan
Informasi Akuntansi
Kemungkinan orang memberikan reaksi yang merugikan dengan disajikannya
data kinerja mereka dalam ukuran akuntansi. Alasan yang dikemukakan
adalah :
1. hubungan antara struktur organisasi dengan struktur pelaporan keuangan
2. tingkat partisipasi dalam penerapan standar
3. tingkat pemahaman manajeman terhadap informasi akuntansi dan sistem
akuntansi.

90

BAB 10
PENGGUNAAN INFORMASI AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN
DALAM PENYUSUNAN ANGGARAN
Dalam pengelolaan perusahaan,manajemen menetapkan tujuan dan sasaran dan
kemudian membuat rencana kegiatan untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut.
Definisi Anggaran
Anggaran merupakan suatu rencana kerja yang ddinyatakan secara kuantitatif,
yang diukur dalam satuan moneter standar dan satuan ukuran lain yang
mencakup jangka waktu satu tahun. anggaran merupakan suatu rencana kerja
jangka pendek yang disusun berdasarkan rencana kegiatan jangka panjang
yang ditetapkan dalam proses penyusunan program.
Mengapa Perusahaan Menyusun Anggaran?
Penyusunan

anggaran

dimaksudkan

untuk

memberikan

jaminan

pencapaian blue print tentang program jangka panjang, yang mencakup


pangsa pasar, produk dan teknologi produksi, kepegawaian, keuangan, citra
perusahaan, system informasi manajemen.
Proses penyusunan anggaran merupakan proses penyusunan rencana
kerja jangka pendek, yang dalam perusahaan berorientasi laba,pemilihan
rencana kerja didasarkan atas dampak rencana kerja tersebut terhadap laba.
Karakteristik Anggaran
Anggaran dinyatakan dalam satuan keuangan dan satuan selain keuangan
2. Anggaran umumnya mencakup jangka waktu satu tahun
3. Anggaran berisi komitmen atau kesanggupan manajemen
4. Usulan anggaran ditelaah dan disetujui oleh pihak yang berwenang lebih
tinggi dari penyusun anggaran
5. Sekali disetujui, anggaran hanyan dapat diubah dibawah kondisi tersebut
6. Secara berkala, kinerja keuangan sesungguhnya dibandingkan dengan
anggaran dan selisihnya dianalisis dan dijelaskan

91

KOMITMEN MANAJEMEN
Perbedaan yang mencolok antara anggaran dengan prakiraan adalah adanya
komitmen manajemen dalam anggaran. Proses penyusunan angaaran pada
dasarnya merupakan proses penetapan peran (role setting) yang setiap
manajer dalam jenjang organisasi diberi peran tertentu untuk melaksanakan
kegiatan dalam pencapaian sasaran yang ditetapkan dalam anggaran. Untuk
memungkinkan para manajer melaksanakan peran mereka , setiap manajer
memerlukan alokasi sumber daya ( sumber daya manusia,modal,uang).
Dengan demikian proses penyusunan anggaran yang berhasil adalah yang
dapat menjadikan setiap manajer dalam organisasi perusahaan memiliki
persepsi yang jelas mengenai peran mereka masing-masing dalam mencapai
sasaran anggaran. Persepsi yang jelas mengenai peran manajer dalam
mencapai sasaran anggaran hanya dapat berwujud jika dua syarat berikut ini
dipenuhi:
1. Sasaran anggaran diterima dengan jelas oleh manajer yang bertangung
jawab untuk mencapainya
2. Manajer yang diberi peran untuk mencapai sasaran anggaran diberi alokasi
sumber daya yang memadai untuk mencapai sasaran anggaran.
PENELAAHAN DAN PERSETUJUAN ANGGARAN
Perbedaan lain antara anggaran dan prakiraan adalah tidak adanya proses
penelaahan dan persetujuan dalam penyusunan prakiraan. Prakiraan ditujukan
untuk memperkirakan apa yang terjadi dimasa yang akan dating berdasarkan
berbagai asumsi kondisi tertentu.
PERUBAHAN ANGGARAN
Karena anggaran berisi komitmen manajer penyusun anggaran,maka
anggaran merupakan tolok ukur terbaik kinerja manajer. Oleh karena
itu,tidaklah mudah melakukan revisi anggaran,selama kondisi yang dipakai
sebagai dasar penyusunannya tidak mengalami perubahan yang signifikan.
Jika anggaran seringkali direvisi,anggaran tidak dapat lagi dipakai sebagai
tolak ukur kinerja manajer.
92

ANALISIS PENYIMPANGAN
Pelaksanaan anggaran berupa berbagai aktivitas yang dilaksanakan untuk
mencapai sasaran anggaran. dalam pelaksanaan aktivitas tersebut dikonsumsi
berbagai sumber daya yang diukur dengan menggunakan informasi akuntansi.
Kedudukan Anggaran Dalam Perencanaan Menyeluruh Perusahaan
Perencanaan menyeluruh perusahaan dilaksanakan melalui 4 tahap :
1. Penetapan filosofi dan misi
Filosofi adalah seperangkat keyakinan dasar (basic beliefs) yang menjadi
parameter bagi perusahaanan karyawannya. Filosofi merupakan apa yang
sebaiknya dikerjakan dan apa yang sebaiknya tidak dikerjakan oleh
perusahaan.
Contoh:
v Intregritas
v Manajemen
v Perencanaan
v Konsumen
v Karyawan
v Laba
v Pertumbuhan
v Lingkungan
v Pemasok
Misi(mission) adalah fokus utama bisnis perusahaan yang memberikan
jawaban atas pertanyaan.
2. Penetapan tujuan (goal) dan strategi
Tujuan adalah akhir sebuah kegiatan, hasil yang dicapai. Bagi perusahaan
secara keseluruhan, tujuan memberikan jawaban atas pertanyaan. Strategi
adalah metode atau rangkaian kegiatan untuk menghadapi pesaing.
Strategi dapat bersifat proaktif dan reaktif. Strategi memberikan jawaban
atas pertanyaan.

93

3. Penyusunan program
Penyusunan program merupakan proses pengambilan keputusan mengenai
program-progran yang akan dilaksanakan oleh perusahan dan taksiran
jumlah sumber daya yang akan dialokasikan kepada setiap program
tersebut.
4. Penyusunan anggaran
Anggaran adalah suatu rencana kegiatan yang dinyatakan selain
kuantitatif, biasanya dalam satuan uang,yang berjangka waktu tertentu,
biasanya satu tahun.
Fungsi Anggaran
1. Anggaran merupakan hasil akhir proses penyusunan rencana kerja.
2. Anggaran merupakan cetak biru aktivitas yang akan dilaksanakan
perusahaan dimasa yang akan datang.
3. Angggaran berfungsi sebagai alat komunikasi intern yang menghubungkan
berbagai unit organisasi dalam perusahaan dan yang menghubungkan
manajer bawah dan manajer atas.
4. Angggaran berfungsi sebagai tolok ukur yang dipakai sebagai pembanding
hasil operasi sesungguhnya.
5. Anggaran berfungsi sebagai alat pengendalian
6. Anggaran berfungsi sebagai alat untuk mempengaruhi dan memotivasi
manajer dan karyawan.
Organisasi Penyusunan Anggaran
Komite anggaran terdiri dari :
a. Direktur utama sebagai ketua merangkap anggota komite
b. Direktur pemasaran sebagai anggota
c. Direktur produksi sebagai anggota
d. Direktur keuangan sebagai anggota
e. Manajer departemen keuangan sebagai sekretaris komite

94

Tugas komite adalah:


a. Merumuskan sasaran anggaran dan kebijakan pokok perusahaan untuk
tahun anggaran
b. Menyampaikan informasi mengenai tujuan dan kebijakan pokok tersebut
kepada para manajer pusat pertanggung jawaban.
c. Menelaah rancangan anggaran yang diajukan oleh para manajer pusat
pertanggung jawaban
d. Melakukan negoisasi dengan para manajer pusat pertanggung jawaban
mengenai rancangan anggaran yang mereka ajukan
e. Mengajukan rancangan anggaran perusahaan secara keseluruhan kepada
dewan komisaris dan rapt umum pemegang saham (RUPS)
f. Menelaah anggaran yang telah disetujui oleh dewan komisaris dan RUPS
g. Melakukan negoisasi dengan para manajer dipusat pertanggungjawaban
mengenai anggaran yang telah di sahkan oleh RUPS
h. Melakukan revisi anggaran , sesuai dengan kebijakan rapat umum
pemegang saham.
DEPARTEMEN ANGGARAN
Fungsi ini dipegang oleh departemen anggaran dan rincian fungsinya adalah
sebagai berikut:
1. Menerbitkan prosedur dan formulir untuk penyiapan rancangan anggaran
setiap pusat pertanggungjawaban dalam perusahaan
2. Mengkoordinasi dan menerbitkan asumsi-asumsi yang dipakai sebagai
dasar penyusunan rancangan anggaran perusahaan
3. Membantu setiap manajer pusat pertanggungjawaban dalam menyusun
rancangan anggaran pusat pertanggunjawaban
4. Mengolah rancangan anggaran pusat pertanggungjawaban menjadi
rancangan anggaran induk (master budget)
5. Menganalisis rancangan anggaran dan memberikan rekomendasi kepada
komite anggaran

95

6. Menganalisis realisasi anggaran , menafsirkan hasil-hasilnya dan membuat


laporan ringkas mengenai hasil analisisnya tersebut kepada direksi
7. Mengadministrasikan proses perubahan dan penyesuaian anggaran
perusahaan.
Penyusunan Anggaran-Aspek Teknis
Anggaran induk terdiri dari 3 komponen: anggaran operasi (operating
budget), anggaran modal (capital budget), dan anggaran keuangan (financial
budget). Anggaran operasi bersangkutan dengan aktivitas untuk menghasilkan
laba perusahaan. Anggaran modal bersangkutan dengan tambahan dan
pengurangan aktiva tetap perusahaan, anggaran modal disusun berdasarkan
prakiraan penjualan jangka panjang. Anggaran keuangan bersangkutan dengan
aliran kas masuk dan aliran kas keluar.
PROSES PENYUSUNAN ANGGARAN INDUK
Anggaran operasi terdiri dari laporan rugi laba yang proyeksikan yang
dilampiri dengan anggaran berikut ini: anggaran penjualan, anggaran biaya
perpusat pertanggung jawaban (terdiri dari anggaran biaya produksi, anggaran
biaya administrasi dan umum, dan anggaran biaya pemasaran), anggaran
persediaan produk jadi, anggaran harga pokok penjualan.
Proses penyusunan anggaran induk perusahaan dilaksanakan melalui tahaptahap berikut ini:
1. Komite anggaran menyusun pedoman anggaran (budget guideline) yang
berisi kebijakan pokok perusaan dalam bidang pemasaran, produksi,
sumber daya manusia, keuangan, dan umum
2. Penyusunan rancangan anggaran penjualan oleh departemen pemasaran,
berdasarkan kebijakan pokok perusahaan dan prakiraan penjualan jangka
pendek
3. Penyusunan rancangan anggaran biaya perpusat pertanggungjawaban
berdasarkan kebijakan pokok perusahaan dan rancangan anggaran
penjualan oleh para manajer pusat pertanggungjawaban. Pusat-pusat
pertanggunjawaban dibagi menjadi menjadi 3 kelompok:
96

a. Pusat pertanggungjawaban produksi yabg terdiri dari departemendepartemen dibawah fungsi pemasaran.
b. Pusat pertanggungjawaban pemasaran yang tersiri dari departemendepatemen dibawah fungsi pemasaran
c. Pusat pertanggungjawaban administrasi dan umum yang terdiri dari
departemen-departemen dibawah fungsi keuangan, akuntansi dan umum.
4. Penyusunan rancangan anggaran persediaan produk jadi oleh departemen
produksi.
5. Penyusunan rancangan anggaran harga pokok penjualan oleh departemen
anggaran berdasarkan racangan anggaran biaya produksi, rancangan
anggaran persediaan produk jadi, dan rancangan anggaran penjualan.
6. Penyusunan rancangan laporan rugi laba yang diproyeksikan berdasarkan
rancangan anggaran penjualan, rancangana anggaran harga pokok
penjualan, dan rancangan aggaran biaya pemasaran, rancangan anggaran
biaya administrasi dan umum
7. Penyusunan rancangan anggaran modal berdasrkan prakiraan penjualan
jangka panjang
8. Penyusunan rancangan anggaran kas berdasarkan rancangan anggaran
penjualan, rancangan biaya perpusat pertanggungjawaban, dan rancangan
anggaran modal
9. Penyusunan

rancangan

neraca

yang

diproyeksikan

berdasarkan

arangcangan anggaran kas dan berbagai asumsi yan lain


10. Penyusunan rancangan anggaran modal kerja
11. Penelaahan rancangan anggaran biaya pusat pertanggungjawaban oleh
komite anggaran
12. Negosiasi rancangan anggaran biaya pusat pertanggungjawaban antara
para manajer puasat pertanggungjawaban dengan komite anggaran
13. Persetujuan rancangan anggaran biaya pusat pertanggungjawaban oleh
komite anggaran

97

14. Penyesuaian rancangan anggaran induk oleh departemen anggaran


sebagai akibat dari hasil proses negisiasi antara para manajer pusat
pertanggungjawaban dengan komite anggaran
15. Pengajuan rancangan anggaran induk oleh komite anggaran kepada
dewan komisaris dan rapat umum pemegang saham
16. Penelaahan rancangan anggaran induk oleh dewan komisaris dan rapat
umum pemegang saham
17. Pengesahan rancangan anggaran induk menjadi anggaran induk
perusahaan oleh rapat umum pemegang saham.
Penyusunan Anggaran-Aspek Perilaku
Aspek perilaku dalam penyusunan anggaran bersangkutan dengan perilaku
yang dibawa dalam proses penyusunan anggaran dan perilaku yang timbul sebagai
akibat orang mencoba hidup dengan anggaran. Dalam proses penyusunan
anggaran kemungkinan akan timbul kekwatiran di hati manajer pemasaran
mengenai kemungkinan tidak dinaikan nya batas biaya kebijakan (discretionary
costs) untuk departemennya dan ketakutan seorang manajer yang harus
mengatakan bahwa untuk tahun anggaran yang akan datang tidak aka nada
kenaikan gajin dan upah karyawan, serta kecemburuan dalam hati manajer
tertentu kepada manajer lain yang mendapatkan persetujuaan kenaikan biayanya.
Tahap-tahap proses pengendalian anggaran (budgetary control prosess)
1) Tahap Penetapan Sasaran
Dan Tujuan perusahaan kemudian dirinci lebih lanjut ke dalam sasaran
(goal) dan dibebankan pencapaiannya kepada manajer tertentu dalam proses
penyusunan anggaran. Sasaran adalah target tertentu yang diarahakan untuk
mencapai tujuan.
2) Tahap Implementasi
Setelah sasaran ditetapkan dan ditunjukan manajer yang bertanggung
jawab atas pencapaian sasaran tersebut, serta dialokasikan sumber daya
kepada manajer yang diberi peran untuk mencapai sasaran anggaran, fungsi
anggaran dalam perusahaan kemudian mengkonsolidasikannya kedalam suatu
98

anggaran komprensif yang formal untuk disahkan oleh direksi dan pemegang
saham.
Tahap implementasi anggaran dilaksanakan melalui dua kegiatan penting
1. Komunikasi anggaran. Manajer fungsi anggaran bertanggung jawab untuk
mengkomunikasikananggaran yang telah disahkan kepada para manajer
jenjang menengah dan bawah.
2. Kerja sama dan koordinasi
Implementasi anggaran yang berhasil memerlukan kerja sama orsng yang
memiliki berbagai macam keterampilan dan bakat setiap dimensi rencana
yang tercantum dalam anggaran harus dijelaskan secara hati-hati kepada
manajer yang bertanggung jawab atas pelaksanaannya agar berkembang di
ddalam dirinya rasa keterlibatan mereka dan pentingnya mereka dalam
konteks anggaran secara keseluruhan.
3) Tahap Pengendalian dan Evakuasi Kerja
Sasaran anggaran tidak akan tercapai tanpa pemantauan secara terus
menerus kemajuan karyawan dalam mencapai sasaran mereka. Dalam tahap
pengendalian dan evakuasi kinerja, kinerja sesungguhnya dibandingkan
dengan standar yang tercantum dalam anggaran, untuk menunjukan bidang
masalah dalam organisasi dan menyarankan tindakan pembetulan yang
memadai bagi kinerja yang berada di bawah standar.
KARAKTERISTIK ANGGARAN YANG BAIK
Anggaran yang baik memiliki karakteristik berikut ini:
1. Anggaran disusun berdasarkan program
Proses manajemen perusahaan dimulai dengan perencanaan strategic
(strategic planning) yang dalamnya terjadi proses penetapan tujuan perusahaan
dan penentuan strategi untuk mencapai tujuan tersebut. Setelah tujuan
perusahaan ditetapkan dan strategi untuk mencapai tujuan tersebut dipilih
proses manajemen perusahaan kemudian diikuti penyusunan program-program
untuk mencapai tujuan perusahaan yang ditetapkan dalam perencanaan
strategic.
99

Penyusunan

program

merupakan

proses

pengambilan

keputusan

mengenai program yang akan dilaksanakan perusahaan dan penaksiran sumber


yang dialokasikan kepada setiap program tersebut. Program merupakan
rencana jangka panjang untuk mencapai tujuan perusahaan yang ditetapkan
dalam perencanaan strategik.
2. Anggaran Disusun Berdasarkan Karakteristik Pusat Pertanggung jawaban yang
Dibentuk dalam Organisasi Perusahaan
Menurut

karakteristik

masukan

dan

keluarannya,

pusat

pertanggungjawaban dalam 4 golongan: pusat biaya, pusat pendapatan, pusat


laba, pusat investasi.
Proses pengendalian pusat biaya kebijakan dimulai dengan pembuatan anggaran
biaya yang disetujui oleh manajemen puncak.
Pusat pendapatan adalah pusat pertanggungjawaban yang manajernya diukur
kinerjanya berdasarkan pendapatannya.
Pusat laba adalah pusat pertanggungjawaban yang manajernya diukur dari
tersebut. Oleh karena itu dalam pusat laba, baik masukan maupun keluarannya
diukur dalam satuan rupiah untuk menghitung laba, yang dipakai sebagai
sebagai pebgukur kinerja manajernya.
ANGGARAN BERFUNGSI SEBAGAI ALAT PERENCANAAN DAN ALAT
PENGENDALIAN
Agar proses penyusunan anggaran dapat menghasilkan anggaran yang
dapat berfungsi sebagai alat pengendalian , proses penyusunan anggaran
harus mampu menanamkan sense of commitmentdalam diri penyusunnya.
Proses penyusunan anggaran yang tidak berhasil menanamkan sense
commitment dalam diri penyusunnya berakibat anggaran yang disusun tidak
lebih hanya sebagai alat perencanaan belaka; yang jika terjadi penyimpangan
antara realisasi dari anggarannya, tidak satupun manajer yang merasa
bertanggung jawab.

100

Untuk menghasilkan anggaran yang dapat berfungsi sebagai alat


perencanaan dan sekaligus sebagai pengendalian, penyusunan anggaran harus
memenuhi syarat berikut:
a. Partisipasi dari para manajer pusat pertanggungjawaban dalam proses
penyusunan anggaran
Partisipasi adalah suatu proses pengambilan keputusan bersama oleh dua
pihak atau lebih yang mempunyai dampak masa depan bagi pembuat
keputusan tersebut. Partisipasi dalam penyusunan anggaran berarti
keikutsertaan operating managers dalam memutuskan bersama dengan
komite anggaran mengenai rangkaian kegiatan di masa yang akan dating
ditempuh oleh operating managers tersebut dalam pencapaian sasaran
anggaran. Tingkat partisipasi operating managers dalam penyusunan
anggaran akan mendorong moral kerja yang tinggi dan inisiatif para
manajer.
b. Organisasi anggaran
Proses penyusunan anggaran memerlukan organisasi yang memisahkan
fungsi penyusun usulan anggaran, fungsi penelaah (review) dan pengesah
(approval) usulan anggarn, dan fungsi administrasi anggaran. Komite
anggaran yang anggotanya terdiri dari manajemen puncak perlu dibentuk
untuk melaksanakan fungsi review dan approval terhadap rangcangan
anggaran yang diterima dari operating managers.
c. Penggunaan

informasi

akuntansi

pertanggungjawaban

sebagai

alat

pengirim peran dalam proses penyusunan anggaran dan sebagai pengukur


kinerja manajer dalam pelaksanaan anggaran

101