Anda di halaman 1dari 13

KONSEP DASAR KEBUDAYAAN

Coba bayangkan apa yang pertama kali terlintas dalam pikiran apabila anda
mendengar kata kebudayaan? Apabila ditanyakan apakah kebudayaan itu, maka setiap
orang, mulai dari abang-abang becak di pingir jalan, mbok jamu gendong yang berjualan
keliling kota, para pejabat, atau para anggota DPR sampai menteri dan presiden pasti
masing-masing memiliki jawabannya. Mungkin di antara mereka ada yang mengatakan
bahwa kebudayaan itu adalah tradisi, atau adat-istiadat, atau bahkan tata krama dan sopan
santun. Sebagian lagi menyatakan bahwa kebudayaan itu adalah kesenian dan upacaraupacara adat, makanan tradisional, atau suku bangsa terasing, atau gaya hidup suatu
komunitas, atau berhubungan dengan segala sesuatu yang diciptakan manusia. Dan
mungkin kalian sendiri mempunyai pengertian dan jabawan tersendiri?
Dalam kehidupan kita sehari-hari kebudayaan diartikan lebih mengacu pada aspekaspek yang khusus saja, seperti keindahan, kesusastraan, kesenian, bangunan-bangunan
peninggalan masa lalu, upacara-upacara adat, atau beberapa hal yang berkaitan dengan
sopan santun. Pengertian kebudayaan yang bersifat khusus ini berlainan dengan pengertian
kebudayaan menurut para ahli antropologi atau sosiologi yang memandang kebudayaan
secara umum dan menyeluruh.
Memang, istilah ini sangatlah populer sehingga setiap orang mempunyai
pandangannya sendiri-sendiri, dan bahkan di kalangan para ilmuwan sendiri konon sampai
sekarang tidak ada kesepakatan yang padu mengenai apakah kebudayaan itu. Masingmasing orang, termasuk para ilmuwan, memberikan batasan sesuai dengan sudut pandang
dan orientasi pemikirannya, oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila A.L. Kroeber
dan Claude Kluckhon yang pada tahun 1950an melakukan penelitian mengenai
perbedaan-perbedaan dan persamaan pemikiran mengenai kebudayaan menyatakan
bahwa terdapat 176 definisi mengenai kebudayaan. Jadi kalau dalam kelas kita ada Wulan
Kwok pasti dia akan nyeletuk Busyett..., banyak sekali ya!. Kalau sebegitu banyak, mana
dong yang paling benar dan yang paling bermanfaat bagi kita? Wah itu pertanyaan yang
sangat sulit dijawab, karena setiap ahli tersebut dalam mengkaji masalah kebudayaan yang
mereka amati tersebut pastilah tidak sembarangan, sehingga apa yang mereka hasilkan
dapat dipertanggungjwabkan secara ilmiah. Nah, daripada kita memperdebatkan kebenaran
definisi-definisi kebudayaan tersebut lebih baik kita mencoba memahami kebudayaan
dengan cara lain, setuju?

Konsep Dasar Kebudayaan - 1

Konsepsi kebudayaan yang demikian merasuk dalam alam pikiran manusia


sebetulnya tidaklah terlalu mengherankan karena apabila direnungkan dan dicermati
dengan seksama, hampir segala tingkah laku dan gerak-gerik kita manusia, termasuk
pemenuhan kebutuhan dasar kita1, diatur oleh kebudayaan, bahkan tindakan-tindakan atau
gerak fisikal tubuh yang bersifat refleks sekalipun.
Setiap manusia dalam satu hari akan mengedipkan mata sebanyak kurang lebih
3000 kali. Kedipan mata itu berguna untuk membasahi bola mata sehingga tidak mengalami
kekeringan. Nah, akan tetapi apabila seorang pemuda mengedipkan mata kepada seorang
gadis maka kedipan mata itu pasti akan medapat makna tertentu, tidak semata-mata
mekanisme fisiologis tubuh. Berjalan juga merupakan mekanisme tubuh yang pasti
dilakukan manusia; tetapi cara berjalan taruna AKABRI atau mahasiswa STPDN, atau
peragawati di cat-walk bukan melulu persoalan mekanisme tubuh, tapi diberi pemaknaan
tertentu sehingga cara berjalannya kemudian agak berbeda dengan cara berjalan pada
umumnya. Apabila kita mengantuk, maka tanpa dapat dicegah kita akan menguap; akan
tetapi sangatlah tidak sopan apabila kita menguap seperti kuda nil yaitu tanpa ditutup oleh

tangan dan mengeluarkan suara erangan panjangg. Nah, pengaturan dan pemaknaan itu
adalah budaya. Coba sekarang anda cari beberapa contoh gerak tubuh atau gerak
pemenuhan kebutuhan dasar manusia yang kemudian diberi makna tertentu.
Selama ini apabila kita mendiskusikan kebudayaan, maka salah satu kesepakatan
universal yang dapat diterima adalah bahwa kebudayaan itu hanya dimiliki oleh manusia
sebagai makhluk sosial, sedangkan hewan, meskipun beberapa jenis di antaranya
dikategorikan sebagai makhluk sosial, tidak dianggap memiliki kebudayaan. Kalian tahu
hewan apa saja yang termasuk ke dalam kategori makhluk sosial? Betul, semut, lebah,
1

Seacara sederhana kebutuhan dasar menusia dapat didefiniskan sebagai segala sesuatu yang dibutuhkan
manusia yang apabila tidak terpenuhi akan menyebabkan kematian.
Konsep Dasar Kebudayaan - 2

gajah, singa, gorilla, dan beberapa lainnya lagi memang memiliki spesialisasi dan
pembagian kerja dalam kelompok mereka sehingga dianggap sebagai makhluk sosial. Lalu,
mengapa hanya manusia yang memiliki kebudayaan? Kemudian, bukankah umat manusia
itu sangat beraneka ragam? Dari yang berkulit hitam legam sampai yang putih pucat; dari
yang hidup di gurun yang sangat panas sampai yang hidup di es yang dingin; dari yang
hidup di tepian pantai sampai yang hidup di pegunungan tinggi bersalju? Bagaimana kita
bisa yakin bahwa makhluk yang sangat berlainan ini semuanya memiliki kebudayaan?
Wah itu pertanyaan yang bagus sekali. Nah untuk bisa menjawabnya kita sekali lagi
harus membandingkan makhluk manusia dengan hewan. Berdasarkan penelitian fisiologi
dan genetika kita mendapatkan informasi perbandingan berikut ini:
Hewan:
Memiliki struktur dan fisiologi tubuh yang bersifat khusus sesuai dengan lingkungan
tempat hidupnya. Dengan susunan anatomis yang spesifik itu, secara otomatis
masing-masing jenis atau species hewan tersebut dapat melakukan penyesuaianpenyesuaian dengan lingkungan tempat hidupnya. Misalnya harimau atau singa
memiliki taring dan cakar yang sangat tajam yang memungkinkan mereka untuk
mengoyak dan mencabik-cabik daging mentah; beruang kutub memiliki bulu dan
lapisan lemak dalam tubuh yang sangat tebal sehingga tidak akan merasa kedinginan
hidup dalam cuaca di bawah titik beku, dan bahkan ketika musim dingin berlangsung
beruang

akan

tidur;

unta

memiliki

semacam

kantung

di

punuknya

yang

memungkinkannya untuk tidak minum dalam jangka waktu cukup lama di bawah terik
matahari; rusa meruntokkan tanduknya pada musim-musim tertentu, elang memiliki
mata yang sangat tajam yang dapat melihat mangsanya jauh di angkasa raya, dan
sebagainya. Karena struktur dan fisiologi tubuh seperti itu maka hewan secara
otomatis mampu melakukan penyesuaian-penyesuaian diri atau beradaptasi dengan
lingkungannya. Kita tidak pernah melihat harimau atau singa bersama teman-

Konsep Dasar Kebudayaan - 3

temannya membakar daging rusa hasil buruannya atau melihat elang memakai
teropong jarak jauh untuk melihat mangsanya bukan?

Manusia:
Diciptakan dengan struktur dan fisiologi tubuh yang bersifat umum. Coba perhatikan,
di seluruh dunia ini kita dapat melihat bahwa struktur anatomis tubuh manusia itu
sama, susunan dan anggota badan sama, susunan syaraf dan panca indera sama,
dan sebagainya.
Apabila kalian belum yakin bahwa seluruh umat manusia itu sebetulnya sama, berasal
dari satu species yang sama yaitu homo sapiens, kita dapat membuktikannya melalui
dua hal yaitu:
1.

apapun ras atau kelompok etniknya, manusia dapat saling kawin mengawini
tanpa mengakibatkan masalah genetika. Jadi orang Busman di Afrika yang hidup
di gurun yang sangat panas dapat saja menikah dengan orang Eskimo yang
tinggal di kutub utara yang sangat dingin tanpa menimbulkan masalah genetika.

2.

asal golongan darahnya sama, manusia dapat saling mempertukarkan


darahnya atau menjadi donor darah bagi manusia yang lain.

Di sisi lain, lingkungan tempat hidup manusia sangatlah berlain-lainan. Ada manusia
yang tinggal di daerah gurun pasir yang sangat panas seperti orang-orang Arab dan
kebanyakan orang-orang di Afrika aau orang Aborigin di Austaralia, tetapi ada juga yang
hidup di kawasan kutub utara yang sangat dingin, selain itu ada juga yang tinggal di daerah
pegunungan yang sangat tinggi bersalju yang lapisan O2nya tipis, seperti orang-orang Tibet
dan orang Aztek di Peru. Orang-orang Eropa kita kenal hidup dalam lingkungan yang
memiliki banyak musim, dan sebagainya. Selain lingkungan alam (nature), manusia juga
hidup dalam kitaran lingkungan sosial dan lingkungan transendental (alam gaib) yang tidak
pernah tetap sepanjang waktu.
Akibat dari keterbatasan yang dimilikinya itu, maka untuk dapat mempertahankan
hidupnya manusia harus melakukan penyesuaian-penyesuaian dengan cara menciptakan
atau mempergunakan alat-alat bantu yang memungkinkannya dapat melangsungkan
kehidupannya (survival). Tanpa bantuan alat, manusia tidak akan mampu melakukan
penyesuaian diri dengan lingkungan tampat hidupnya. Oleh karena itulah manusia juga
dikenal atau disebut sebagai homo faber (makhluk pengguna alat). Keseluruhan

Konsep Dasar Kebudayaan - 4

kemampuan menciptakan (idea), mempergunakan alat-alat (act and artefact) yang


diciptakannya itulah yang kemudian kita sebut kebudayaan. Dan karena lingkungan tempat
hidup manusia sangat beragam, maka kebutuhan dan tuntutan penyesuaian dirinya pun
berlain-lainan pula sehingga dengan sendirinya peralatan dan cara-cara penggunaan
peralatan atau kebudayaan itupun berlain-lainan pula. Ketika kebutuhan-kebutuhan,
tuntutan-tuntutan dan keinginan-keingingan manusia itu berkembang maka kebudayaan pun
berkembang pula menjadi semakin rumit dan kompleks. Coba bayangkan oleh kalian
bagaimana kehidupan orang Eskimo di kutub utara apabila kita tidak berhasil menciptakan
baju?

Jadi, singkatnya kebudayaan itu merupakan wahana atau alat bagi manusia yang
dipergunakannya untuk melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan sekitarnya.
Lalu bagaimana dengan orang-orang Dani di pegunungan Jayawijaya Irian?
Mengapa mereka mampu bertahan? Bukankah sampai sekarang masih banyak yang belum
berpakaian, padahal tempat mereka tinggal itu adalah pegunungan tinggi yang dingin,
banyak nyamuk malaria, sering hujan? Kalian ada yang tahu jawabannya? Tadi kita telah
bahas bahwa ide, cara, dan alat penyesuaian diri (yaitu kebudayaan) tiap-tiap kelompok
manusia itu berlain-lainan, sesuai dengan kondisi lingkungan dan sumberdaya yang
tersedia. Nah, orang-orang Dani memang tidak mengembangkan pakaian sebagaimana
yang kita kenal, mereka hanya mempergunakan koteka untuk dan sejenis rumput-rumputan
untuk menutupi aurat mereka. Akan tetapi, alat dan cara penyesuaian diri dengan
lingkungannya tidak kurang ampuhnya dengan pakaian tebal. Untuk menahan dingin dan
serangan nyamuk malaria mereka melumuri tubuh mereka dengan lemak/minyak babi yang
memang melimpah di sana. Kandungan lemak babi itu ternyata mampu menahan dinginnya
udara pegunungan Jayawijaya, akan tetapi sebagai konsekuensinya mereka tidak boleh
sering-sering mandi karena akan menghilangkan lemak babi di tubuhnya, begitu.

Konsep Dasar Kebudayaan - 5

Karakteristik Kebudayaan
Apabila kalian sudah paham bagaimana kebudayaan terbentuk, untuk lebih
memperdalam pemahaman kita mengenai kebudayaan, mari kita telaah karakteristik atau
ciri-ciri kebudayaan. Secara umum terdapat tujuh karakteristik kebudayaan yaitu:
1.

Dimiliki Bersama.
Telah kita bahas bahwa kebudayaan itu khas makhluk manusia, dan fitrah manusia
adalah sebagai makhluk sosial, atau makhluk yang hidup berkelompok. Pasti kalian
nonton film atau baca komik Tarzan kan? Nah, melalui cerita itu kita dapat ketahui
bagaimana perilaku manusia yang terisolasi dari manusia yang lain. Melalui film itu kita
saksikan bagaimana si Tarzan diajari hidup berbudaya oleh Jane yang sedang
melakukan ekspedisi ke rimba tempat Tarzan tinggal bersama kelompok gorilla.
Jadi memang si Tarzan itu tidak berkebudayaan karena dia hidup terpisah dengan
manusia-manusia lainnya. Kebudayaan itu tidak dimiliki secara individual, tetapi oleh
suatu kelompok tertentu. Makanya kita kenal ada kebudayaan Sunda yang dimiliki oleh
komunitas orang Sunda, kebudayaan Batak yang dimiliki komunitas orang Batak,
kebudayaan India, Mesir, dan sebagainya, yang menunjukkan kepemilikan secara

kolektif. Besaran kelompok manusia itu sifatnya relatif, ada yang besar melingkupi satu
negara, misalnya kebudayaan Jepang, atau hanya sebesar lingkup suku bangsa, atau
hanya terdiri dari sekelompok orang-orang tertentu seperti kelompok Punk atau gank
motor.
Kelompok atau komunitaslah yang menentukan tata aturan, cara bergaul, berbagai
peralatan, simbol-simbol, bahasa yang boleh digunakan, dan sebagainya. Warga
kelompok itu harus taat dan mengikuti semua aturan yang telah ditentukan bersama itu.
Namun demikian, tidak berarti bahwa semua aturan dan tata tertib kelompok yang telah
ditentukan bersama itu dijalankan secara seragam. Dalam sebuah kelompok selalu
Konsep Dasar Kebudayaan - 6

terdapat variasi-variasi individual yang sampai batas tertentu masih bisa ditolerir oleh
kelompok yang bersangkutan.
Coba ingat-ingat, setiap hari senin kita selalu mengikuti upacara bendera kan? Nah,
upacara bendara adalah sebuah unsur kebudayaan sekolah. Di dalam upacara siswa
berbaris rapi. Ada pembagian kerja; ada yang bertugas sebagai pembina upacara,
pengibar bendera, pembaca naskah Pancasila, dan sebagainya. Tata tertib upacara
bendera itu harus dijalankan dengan khidmat-sekolah menentukan begitu dan kita
menyepakatinya. Nah sekarang kita perhatikan teman-teman kita, terutama yang
berbaris di barisan belakang: ada yang sibuk berkirim sms kepada teman atau
pacarnya, ada yang sedang jual pesona, ada yang terkantuk-kantuk karena semalam
begadang, ada yang jongkok sambil bersenda-gurau, yang ngobrol, dan lain
sebagainya. Semuanya dilakukan sembunyi-sembunyi, tidak ada yang terang-terangan
dan demonstratif melakukannya. Jangan dikira para guru dan pembina upacara tidak
melihat itu semua, mereka melihatnya, hanya menganggap hal tersebut masih dalam
batas toleransi mereka. Kita tidak pernah kan melihat teman kita yang sedang mengikuti
upacara bendera tertawa terbahak-bahak dengan keras atau berlari-larian, atau
merokok? Coba pikirkan apa yang terjadi kalau itu kalian lakukan, atau ada yang
berminat mencobanya?
aktivitas yang tidak diperkenankan,
melakukannya akan dikenakan sanksi

BATAS TOLERANSI
KEBUDAYAAN
kreativitas/variasi yang masih
diperkenankan
aktivitas yang tidak diperkenankan,
melakukannya akan dikenakan sanksi

Jadi, kebudayaan itu hanya dimiliki oleh suatu kelompok tertentu, bukan individu, akan
tetapi masih memingkinkan terjadinya variasi individual sepanjang masih dalam batas
toleransi kelompok.
2.

Diteruskan secara sosial melalui proses belajar


Masih ingat filmnya Kevin Costner Dancing with Wolves? Di dalam film itu ada seorang
wanita kulit putih yang diangkat anak oleh keluarga Indian. Wanita ini, namanya Tangan
Konsep Dasar Kebudayaan - 7

Terkepal, berpakaian, berperilaku, dan berbicara bahasa Indian. Kecuali penampilan


fisiknya, tidak ada satupun tanda-tanda yang menunjukkan bahwa wanita ini kulit putih.

Jadi kebudayaan itu tidak berhubungan dengan aspek genetik atau ras seseorang.
Apapun ras atau suku bangsanya, apabila dia dididik dan dibesarkan oleh kelompok
yang memiliki kebudayaan yang berbeda, maka dia akan tumbuh dan berkembang
sebagaimana layaknya anggota-anggota lain masyarakat tersebut yang mengusung
kebudayaan dimana dia dibesarkan. Misalnya, seorang anak bangsawan keraton Solo
apabila dididik dan dibesarkan oleh keluarga Batak, maka dia tidak akan berbicara
dengan menggunakan bahasa Jawa kromo inggil yang halus dan lemah-lembut, akan
tetapi akan berbicara sebagaimana orang Batak bicara yang keras dan lugas. Memang
kita mengenal kebudayaan dari lingkungan sekitar dimana kita tinggal, melalui proses
sosial dan pergaulan kita dibentuk sesuai dengan citra kebudayaan kelompok kita.
3.

Relatif
Sebelumnya kita telah pelajari bahwa karena lingkungan alamiah tempat manusia hidup
itu berbeda-beda maka kebudayaan yang diciptakannya pun sangat beragam. Oleh

Konsep Dasar Kebudayaan - 8

karena itu, apa yang baik, paling cocok, dan berguna bagi suatu kebudayaan belum
tentu baik, cocok dan berguna bagi kebudayaan yang lainnya lagi. Inilah sisi relatif dari
kebudayaan. Contoh, secara tradisional orang Sunda makan dengan menggunakan
ujung jari (dicocol) dan tidak boleh berbunyi (ceplak). Hal ini dimungkinkan kerena
makanan orang Sunda biasanya kering tanpa kuah. Nah, cara makan yang baik orang
Sunda itu tidak mungkin diterapkan pada orang-orang Minangkabau dan Batak yang
makanannya biasanya berkuah sehingga cara makannya harus diraup. Sikap yang
terlalu melebih-lebihkan kehebatan kelompok etnisnya sendiri disebut etnosentrisme.
4.

Dinamis.
Sebetulnya kebudayaan itu tidak pernah mandek, diam, statis, atau tidak mengalami
perubahan. Aspek-aspek kebudayaan yang kita kenal sekarang ini, yang masih
bertahan sampai masa kini, sebetulnya merupakan kelanjutan dari masa sebelumnya.
Kebudayaan selalu mengalami perubahan. Pengertian perubahan (dinamis) ini kita
harus pahami sebagai perbaikan

atau penambahan (progress), pengurangan

(regress), atau sama-sekali tidak dipergunakan lagi (punah, extinct). Jadi, ada unsur
kebudayaan yang mengalami perbaikan-perbaikan atau penambahan-penambahan
unsur-unsurnya, tetapi ada juga kebudayaan yang dalam beberapa hal mengalami
pengurangan sehingga masih cocok dan dapat dipergunakan pada masa sekarang ini,
atau yang sama sekali tidak pernah lagi dipergunakan karena sudah dianggap tidak
cocok atau tidak berguna lagi.
Contoh, apabila kompleks pengolahan pertanian sawah kita anggap sebagai salah satu
unsur kebudayaan petani, kita dapat mengatakan bahwa penambahan pupuk buatan,
insektisida, dan bibit unggul merupakan sisi dinamis yang bersifat perbaikan dari
kebudayaan petani. Akan tetapi, sebaliknya kita juga dapat melihat bahwa ada sisi

Konsep Dasar Kebudayaan - 9

pengurangan

dalam

kebudayaan

petani

tersebut,

yaitu

salah

satunya

tidak

dipergunakannya ani-ani sebagai alat menuai padi yang diganti sabit.


Contoh lain lagi: dahulu, ketika berbicara dengan orang tuanya, seorang anak tidak
boleh memandang muka atau mata orang tuanya. Untuk menunjukkan rasa hormat dia
harus berbicara sambil menundukkan muka. Nah, orang tua jaman sekarang akan
merasa tersinggung atau menganggap anaknya tidak memperhatikan apabila si anak
ketika berbicara dengannnya hanya menundukkan muka tanpa memandang mata. Tapi
perhatikan baik-baik, bagaimanakah penggunaan bahasa atau paling tidak nada suara
si anak ketika berbicara dengan orang tuanya, samakah dengan yang dia pergunakan
dengan teman-temannya? Sudah tentu berlainan bukan? Meskipun tata cara untuk
menunjukkan sikap hormat kepada orang tua sekarang ini sudah berubah, akan tetapi
penggunaan bahasa atau nada bicara masih dipertahankan lemah lebut.
Nah, sekarang silahkan cari contoh-contoh di sekeliling kalian yang menunjukkan sifat
dinamis dari kebudayaan!
5.

Berbentuk atau terdiri dari lambang-lambang


Tadi kita sudah membahas bahwa untuk menunjukkan rasa hormat seorang anak
kepada orang tua itu ditunjukkan dengan perilaku tertentu, di masa lalu dengan
menundukkan muka sambil satu tangan menggosok tangan yang lain, atau di masa
sekarang dengan menatap mata orang tuan, tetapi kedua-duanya menggunakan bahasa
halus. Nah, yang kita uraikan itu adalah pengamatan kita atas sejumlah lambang yang
dapat menggambarkan perilaku penghormatan. Jadi perilaku menundukan muka atau
menatap mata itu adalah lambang. Kemudian penggunaan bahasa juga lambang.
Bahkan, bahasa itu sendiri adalah sistem lambang yang paling canggih yang dimiliki
manusia. Coba perhatikan gambar di bawah ini:
K
A
G
M K
O
N

Apa yang bisa kita artikan


dari sekumpulan huruf yang
tidak beraturan itu? Tidak
ada! Akan tetapi apabila kita
susun seperti ini kita akan
mendapat satu benda yang
kita kenal dalam hidup kita

MANGKOK

Konsep Dasar Kebudayaan - 10

Coba sekarang tunjukkan bagaimana perilaku tertib di dalam kelas? Betul sekali, masingmasing duduk dengan tenang di kursinya, memperhatikan guru dengan baik, apabila ingin
bertanya mengangkat tangannya, kalau ingin ngobrol dengan temannya dilakukan dengan

bentukan-bentukan
yang memiliki
simbolisasi yang
sangat kuat

bisik-bisik, dan sebagainya; nah tindakan-tindakan tersebut merupakan lambang yang


menandakan ketertiban di kelas. Mungkin kalian kurang bisa memahami bahwa perilaku
tersebut sebetulnya merupakan sebuah lambang, bisa dimaklumi, karena lambang-lambang
yang kita amati ada yang sangat kuat mencitrakan sesuatu (simbolisasi) sehingga dengan
mudah dapat kita kenali artinya, tetapi ada pula yang tidak kuat. Coba perhatikan foto apa di
atas itu?

6.

Terintegrasi.
Sekarang apa saja unsur-unsur yang terdapat dalam sebuah mobil? Kalian masingmasing pasti sudah mengetahuinya bahwa mobil terdiri dari bagain-bagian besar seperti
mesin, roda, body, dan bagian dalam (interior). Kesemuanya itu membentuk satu

Konsep Dasar Kebudayaan - 11

kesatuan yang utuh, atau terintegrasi (terpadu), sehingga kita sebut mobil, dan apabila
salah satu dari unsur-unsur tersebut tidak ada maka akan mengganggu fungsi
keseluruhan dari mobil tersebut. Jangan lupa, di dalam unsur-unsur besar tersebut juga
terdapat unsur-unsur yang lebih kecil lagi, yang satu sama lain bekerja sama
membentuk satu fungsi tertentu. Ambil contoh mesin. Di dalamnya terdiri dari piston,
gigi-gigi penggerak, pemicu pembakaran (platina), karburator, busi, penyedia tenaga
(baterai/aque), dinamo, dan lain sebagainya. Keseluruhan unsur pembentuk mesin
tersebut bekerja berpadu, sehingga apabila salah satu unsur tersebut rusak maka akan
menyebabkan tidak berfungsinya mesin.
Nah, kebudayaan pun demikian pula. Kebudayaan terdiri dari berbagai unsur yang
bekerja secara berpadu dengan unsur lainnya sehingga menghasilkan fungsi yang telah
kita pelajari: kemampuan bertahan hidup, menciptakan tertib sosial, dan memberi
identitas kelompok. Unsur-unsur kebudayaan itu pun bisa kita bagi dalam unsur yang
besar atau kecil, tergantung dari sudut pandang mana kita ingin memilahnya. Kita bisa
menyebut misalnya kebudayaan Sunda. Unsur-unsur yang membentuknya misalnya
terdapat orang-orang yang berbahasa Sunda, kemudian pada umumnya hidup dari mata
pencaharian sebagai petani sawah, kebanyakan beragama Islam, tinggal di dataran
priangan, sangat dekat dan mengenal mitos prabu Siliwangi, dan sebagainya silahkan
tambahkan sendiri. Kebudayaan Sunda tersebut juga mengandung unsur-unsur yang
lebih kecil, misalnya kita dapat sebut masyarakat dan kebudayaan Baduy di Banten atau
kasepuhan di pedalaman Taman Nasional Gunung Halimun Sukabumi sebagai salah
satu kebudayaan tradisional yang masih lestari. Sekarang coba cari contoh karakterisitik
kebudayaan yang terintegrasi ini di lingkungan sekolah kalian!

7.

Berbentuk pola
Coba kalian pergi ke tukang jahit, kemudian tanyakan kepadanya apa yang
dilakukannya pertama kali ketika akan membuat baju atau celana? Pasti jawabannya
adalah membuat pola baju atau celana dahulu. Apapun model atau bahan atau warna
yang akan dibuatnya, dia akan membuat pola yang sama. Bagi pakaian laki-laki maka
polanya tertentu, sedangkan bagi pakaian wanita dipergunakan pola khusus untuk
wanita. Yang akan membedakan pola pakaian tersebut biasanya ukuran, bisa S (small),
M (medium) atau L (large).

Konsep Dasar Kebudayaan - 12

Nah, kalau kita perhatikan, semua pola pakaian yang dibuat di berbagai kota-kota di
Indonesia, bahkan di luar negeri, itu sama. Ada standar baku yang berlaku umum
sehingga bentukan tertentu tersebut dipahami sebagai pola. Jadi yang harus kita
perhatikan di sini adalah bahwa bentukan tersebut merupakan bentukan yang tetap,
kalaupun ada perbedaan-perbedaan, sifatnya minor (kecil).
Nah demikian pula dengan kebudayaan. Kebudayaan itu harus berbentuk menetap,
tidak mudah berubah. Mengapa demikian? Telah kita bahas sebelumnya bahwa salah
satu fungsi kebudayaan itu adalah guna terciptanya tertib sosial (order), yaitu malalui
penerapan dan penetapan aturan-aturan, nilai-nilai dan norma-norma yang disepakati.
Dengan demikian, untuk mencapai tujuan itu maka nilai-nilai dan norma-norma tersebut
harus relatif menetap sehingga mencapai suatu bentuk yang baku. Sekarang bayangkan

Model/pola
DNA manusia

Bentuk pola pakaian


yang biasa digunakan
penjahit

apabila kita sekarang menetapkan aturan di kelas yang memperbolehkan siswa belajar
sambil makan minu; kemudian besok aturan itu kita ubah lagi, misalnya siswa boleh
belajar sambil makan-minum asal membaginya dengan guru; kemudian minggu depan
kita ubah lagi aturan lagi dengan melarang kembali belajar sambil makan-minum. Nah,
coba pikirkan apa yang akan terjadi?

Konsep Dasar Kebudayaan - 13