Anda di halaman 1dari 3

TUGAS 1

DS4105 MIP
Nama

: Nida Daniyatul Muhdirah

NIM

: 17311034

KELAS REGULER

PROGRAM STUDI MAGISTER DESAIN


FSRD ITB
2014

Pola Perubahan Rumah Sederhana sebagai Indikasi Pola Perilaku Adaptasi Penghuni
Oleh : Bagus Handoko

Pada saat pertumbuhan penduduk masih relatif rendah, harga tanah dan rumah bukanlah menjadi
suatu masalah yang cukup merisaukan bagi masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah.
Seseorang dapat membangun rumahya secara lebih leluasa dengan harga yang relatif murah. Pada
saat ini, laju pertambahan serta pertumbuhan penduduk sangat tinggi, mengakibatkan lahan menjadi
semakin terbatas dan harga rumah pun semakin tinggi, sehingga tidak terjangkau oleh golongan
masyarakat berpenghasilan rendah, khususnya terjadi di Pulau Jawa dan Madura (Frick, 1993:12).
Berdasarkan atas latar belakang tersebut pemerintah berupaya membantu masyarakat golongan ini
untuk mendapatkan rumah tinggal yang layak bagi mereka dengan cara mengadakan sistem rumah
massal dalam bentuk rumah sederhana. Apabila ditinjau secara kuantitatif, maka banyak sekali
rumah massal yang sudah dibangun oleh pemerintah baik itu melalui Perum Perumnas, REI (Real
Estate Indonesia), ataupun pengembang swasta. Di sisi lain ditinjau secara kualitas, masih banyak
rumah sederhana yang dibangun tanpa memperhatikan faktor-faktor kemanusiaan penghuninya,
faktor kualitas ruang dan kondisi fisik bangunan. Persoalan ini muncul karena masyarakat penghuni
rumah sederhana cenderung hanya dijadikan sebagai obyek pemasaran saja.
Konsep-konsep, kebijakan yang sedang berkembang di dalam pemukiman dan perumahan
itu sangat didominasi oleh peran pembangun (real estate developers). Pada dasarnya yang
ditawarkan ialah suatu pendekatan dalam pembangunan pemukiman dan perumahan yang
melihat masyarakat sebagai kelompok sasaran atau obyek untuk pemasaran. (Hasan Poerbo,
1990:1)
Seorang engineer tidak akan dapat menaikkan produksi degan tanpa menimbulkan sejumlah
masalah non teknis pada sisi lainnya hal ini terjadi pula pada seorang arsitek atau desainer yang
merancang rumah sederhana, di mana desain rumah yang dibuatnya tidak dapat menghasilkan
semangat baru daam perumahan, karena mereka hanya melihat hunian (rumah sederhana) sebagai
suatu hasil dari kekuatan-kekuatan teknologi dan ekonomi. Bersumber dari kendala-kendala ini maka
ada kecenderungan dari pihak perencana untuk hanya sekedar membuat variasi baru atas tema
yang diberikan kepadanya. Di sisi lain penghuni semakin sadar bahwa keinginan-keinginan
pribadinya tidak mempunyai pengaruh apapun terhadap apa yang sedang terjadi. Mereka hanya
diminta mengisi daftar pertanyaan mengenai syarat-syarat hunian yang akan diterapkan pada
pembangunan hunian-hunian yang tidak akan pernah mereka tempati (Habraken 1988: 4).
Pada hakekatnya seorang perencana harus mampu belajar dari pengalaman masa lalu. Belajar dari
kegagalan-kegagalan serta berbagai fenomena yang telah terjadi pada proyek perumahan
sederhana sebelumnya. Keterbatasan teknologi dan ekonomi yang ada mengondisikan perencana
cenderung berpikir secra sepihak (hanya bertitik tolak pada masalah keterbatasan dana yang ada).
Apabila upaya dan usaha untuk melakukan pengkajian secara lebih cermat, tepat, dan sungguhsungguh tidak dilakukan maka dikhawatirkan proyek rumah sederhana akan terus mengalami
kegagalan. Hal ini sudah terbukti pada hampir banyak kasus pengadaan rumah sederhana di seluruh
dunia (Frick, 1993:43). Ketidakjelian perencana dalam menangani fenomena yang ada pada kasus
rumah sederhana ini pada akhirnya akan menimbulkan dampak serta konflik yang sangat serius bagi
calon penghuninya.

Pola Perubahan Rumah Sederhana sebagai Indikasi Pola Perilaku Adaptasi Penghuni
Oleh : Bagus Handoko

Peluang kerja yang menggiurkan di kota-kota besar di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa dan
Madura menyebabkan laju pertambahan serta pertumbuhan penduduk bertambah sangat cepat. Hal
ini berdampak pada semakin terbatasnya lahan untuk hunian. Lahan yang terbatas dengan peminat
yang banyak berpengaruh pada meningkatnya harga hunian (rumah) di pasaran, sehingga golongan
masyarakat berpenghasilan rendah tidak bisa menjangkaunya.
Melihat fenomena tersebut, pemerintah berusaha membantu mereka untuk mendapatkan rumah
tinggal yang layak. Salah satu caranya adalah dengan mengadakan sistem rumah massal; sebuah
rumah yang dihuni oleh banyak kepala keluarga, dalam bentuk yang sederhana. Untuk
merealisasikan usahanya, Pemerintah telah beberapa kali melakukan kerja sama dengan Perum
Perumnas, REI (Real Estate Indonesia), atau pun pengembang swasta. Namun sayangnya, jika kita
tinjau dari segi kualitas, rumah tersebut kurang memperhatikan faktor-faktor kemanusiaan
penghuninya, serta faktor kualitas ruang dan kondisi bangunan. Hal ini terjadi karena para
pembangun (real estate developer) lebih melihat permasalahan ini sebagai peluang bisnis dan
memandang masyarakat yang akan menghuninya sebagai objek pemasaran. Sebagaimana
dijelaskan Hasan Poerbo (1990 : 1), Konsep-konsep, kebijakan yang sedang berkembang di dalam
pemukiman dan perumahan itu sangat didominasi oleh peran pembangun (real estate developers).
Pada dasarnya yang ditawarkan ialah suatu pendekatan dalam pembangunan pemukiman dan
perumahan yang melihat masyarakat sebagai kelompok sasaran atau obyek untuk pemasaran.
Pada awalnya, penghuni merasa tidak terlalu terganggu dengan kondisi hunian yang ditawarkan
para developer, namun kini mereka semakin menyadari bahwa mereka juga memiliki keinginankeinginan pribadi yang harus terpenuhi, bukan hanya sekedar memiliki sebuah hunian dengan
variasi tertentu. Dalam hal ini developer pun tidak bisa berbuat banyak, karena mereka terbatasi oleh
biaya dan teknologi yang ada. Maka disinilah peran perencana yang seharusnya lebih mengetahui
sistem perancangan dan bentuk desain yang benar dituntut untuk dapat memberikan peranannya
dalam memecahkan setiap permasalahan yang melingkupi rumah sederhana, sehingga tercapai
keselarasan antara kebutuhan dan keterbatasan kondisi namun tetap mencapai hasil yang optimal,
baik bagi calon penghuni maupun developer. Ketidaktelitian perencana dalam menangani fenomenafenomena yang ada pada kasus rumah sederhana dapat menimbulkan masalah bagi calon
penghuni, yang pada akhirnya akan berdampak pada berhasil atau tidaknya proyek tersebut.
Sehingga pengkajian yang cermat, tepat dan sungguh-sungguh sangat penting dilakukan agar
proyek rumah sederhana tidak tereus-menerus mengalami kegagalan. Menurut Frick (1993:43), hal
ini sudah terbukti pada hampir banyak kasus pengadaan rumah sederhana di seluruh dunia.