Anda di halaman 1dari 18

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS DIARE

Dosen pengampu : Budiarsih,S.Kp

DISUSUN OLEH :
Patminingsih
Priyono
Ratna Kusumawati

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA


SEMARANG
2011

Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan hidayah Nya, sehingga kami bisa menyelesaikan tugas
makalah Asuhan Keperawatan Anak yang berjudul DIARE.
Penulis juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna dan tidak
lepas dari kekurangan karena kemampuan , pengetahuan , dan pengalaman yang
penulis miliki. Namun berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak , akhirnya
penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Dalam kesempatan ini penulis dapat
mengucapkan banyak terima kasih kepada Budiarsih,S.Kp selaku dosen pembimbing
Asuhan Keperawatan Anak.
Akhirnya penulis dengan rendah hati membuka dan menerima kritik dan saran
yang membangun untuk kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.

Semarang, Maret 2011


Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Penyakit diare masih sering menimbulkan KLB ( Kejadian Luar Biasa )
seperti halnya Kolera dengan jumlah penderita yang banyak dalam waktu yang
singkat.Namun dengan tatalaksana diare yang cepat, tepat dan bermutu kematian dpt
ditekan seminimal mungkin. Pada bulan Oktober 1992 ditemukan strain baru yaitu
Vibrio Cholera 0139 yang kemudian digantikan Vibrio cholera strain El Tor di tahun
1993 dan kemudian menghilang dalam tahun 1995-1996, kecuali di India dan
Bangladesh yang masih ditemukan. Sedangkan E. Coli 0157 sebagai penyebab diare
berdarah dan HUS ( Haemolytic Uremia Syndrome ). KLB pernah terjadi di USA,
Jepang, Afrika selatan dan Australia. Dan untuk Indonesia sendiri kedua strain diatas
belum pernah terdeksi.
B. TUJUAN
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui dan dapat menjelaskan askep diare pada anak.
2. Tujuan Khusus
1. Mampu melakikan pengkajian pada Anak dengan kasus diare.
2. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada Anak dengan kasus
diare.
3. Mampu membuat rencana keperawatan pada Anak dengan kasus diare.
4. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada Anak dengan kasus
diare.
5. Mampu mengevaluasi pelaksanaan askep pada Anak dengan kasuse diare.

BAB II
PEMBAHASAN
A.

DEFINISI
Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi
lebih dari 3 kali pada anak, konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat
pula bercampur lendir dan darah atau darah saja. (Ngastiyah, Perawatan Anak Sakit,
1997 ).
Diare adalah keadaan di mana seorang individu mengalami atau beresiko
mengalami defekasi sering dengan feses cair, atau feses tidak berbentuk. (Lynda
Juall Carpenito, 2001).
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih dari
biasanya (100-200 ml/jam tinja), dengan tinja berbentuk cair atau setengah
cair,dapat pula disertai frekuensi defekasi yang meningkat (Mansjoer, arif, et all,
1999).
Diare adalah buang air besar dengan konsentrasi tinja encer atau cair lebih
dari 3xsehari (Menurut WHO, 1980).

B.

TANDA DAN GEJALA

Feses lunak, cair.

Peningkatan frekuensi defekasi

Kram perut

Frekuensi bising usus meningkat


( Lynda Juall Carpenito )

C.

ETIOLOGI

Penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor


1.

Faktor infeksi

Infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab utama diare pada anak.

Infeksi bakteri : Vibrio, E.Coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter,


Yersinia, Aeromonas.

Infeksi virus : Enteroviru, Adenovirus, Rotavirus. Astrovirus.

Infeksi parasit : Cacing ( Ascaris, Trichuris, Oxyuris, strongyloides );


Protozoa ( Etamoba histolytica, Giardia lamblia, Trichomonas hominis ); jamur (
Candida albicans ).

2.

Faktor malabsorbsi

Malabsorbsi karbohidrat : disakarida ( intoleransi laktosa, maltosa dan


sukrosa ), monosakarida ( intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa ). Pada bayi
dan anak yang terpenting dan tersering adalah intoleransi laktosa ).

3.

Malabsorbsi lemak

Malabsorbsi protein
Faktor makanan
Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.

4.

Faktor psikologis
Rasa takut dan cemas.

D.

PATOFISIOLOGI, PATWAY
Makan yang sudah terkontaminasi masuk kedalam tubuh melalui oral atau mulut,
kemudian masuk kedalam lambung dan di olah secara mekanik. Makanan yang
sudah hancur dibawa ke usus halus,karena adanya infeksi bakteri,virus dan parasit
dapat menyababkan mekanisme tubuh untuk mengeluarkan toksin, sehingga terjadi
peningkatan sekresi air dan elektronik ke dalam rongga usus,
Peningkatan gerakan usus (Hiperperistaltik) yang akan menyebabkan usus tidak
dapat menyerap makan dengan baik , kemudian tekanan osmotik dalam rongga usus
meninggi,dan terjadilah c. Dan isi dalam rongga usus yang berlebihan akan
merangsang usus untuk mengeluarkannya (diare)

Patway

Makan & minuman yang terkontaminasi

Mulut
Usus halus
Infeksi pada mukosa usus

mekanisme tubuh untuk


mengeluarkan toksin

peningkatan gerakan usus


(Hiperperistaltik)

tekanan osmotik
dalam rongga usus

naik
peningkatan sekresi air
dan elektronik ke dalam

usus tidak dapat menyerap


makan dengan baik

Terjadi pergeseran air


dan elektrolit didalam

rongga usus

usus
Isi rongga usus yang
berlebihan

akan

merangsang

usus

untuk
mengeluarkannya.
DIARE

E. PENGKAJIAN
a. Identitas klien :
Umur : Sering terjadi pada terutama usia 6 bulan sampai 2 tahun (WHO,
1995).
b. Keluhan Utama
Dimulai dengan keluhan mual, muntah dan diare dengan volume yang banyak,
suhu badan meningkat, nyeri perut
c. Riwayat penyakit
Terdapat beberapa keluhan, permulaan mendadak disertai dengan muntah dan
diare. Faeces dengan volume yang banyak, konsistensi cair, muntah ringan atau
sering dan anak gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat dan nafsu makan
menurun.
d. Pola aktivitas sehari-hari
1. Nutrisi
Makan menurun karena adanya mual dan muntah yang disebabkan
lambung yang meradang.
2. Istirahat tidur
Mengalami gangguan karena adanya muntah dan diare serta dapat juga
disebabkan demam.
3. Kebersihan
Personal hygiene mengalami gangguan karena seringnya mencret dan
kurangnya menjaga personal hygiene sehingga terjadi gangguan integritas
kulit. Hal ini disebabkan karena faeces yang mengandung alkali dan berisi
enzim dimana memudahkan terjadi iritasi ketika dengan kulit berwarna
kemerahan, lecet disekitar anus.

4. Eliminasi
Pada BAB juga mengalami gangguan karena terjadi peningkatan
frekuensi, dimana konsistensi lunak sampai cair, volume tinja dapat sedikit
atau banyak. Dan pada buang air kecil mengalami penurunan frekuensi
dari biasanya.
e. Pemeriksaan fisik.
1. Tanda-tanda vital
Terjadi peningkatan suhu tubuh, dan disertai ada atau tidak ada peningkatan
nadi , pernapasan.
Bila terjadi kekurangan cairan didapatkan :
Haus
Lidah kering
Tulang pipi menonjol
Turgor kulit menurun
Suara menjadi serak
Bila terjadi gangguan biokimia :
Asidosis metabolik
Napas cepat/dalam (kusmaul)
Bila banyak kekurangan kalium
Aritmia jantung
Bila syok hipovolumik berat
Nadi cepat lebih 120 x/menit
Tekanan darah menurun sampai dari tak terukur.
Pasien gelisah.

Muka pucat
Ujung-ujung ektremitas dingin
Sianosis
Bila perfusi ginjal menurun
Anuria
Nekrosis tubular akut.
(Mansjoer, Arif., et all. 1999).
f. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan tinja
Diperiksa dalam hal volume, warna dan konsistensinya serta diteliti
adanya mukus darah dan leukosit. Pada umumnya leukosit tidak dapat
ditemukan jika diare berhubungan dnegan penyakit usus halus. Tetapi
ditemukan pada penderita Salmonella, E. Coli, Enterovirus dan Shigelosis.
Terdapatnya

mukus

yang

berlebihan

dalam

tinja

menunjukkan

kemungkinan adanya keradangan kolon. PH tinja yang rendah menunjukkan


adanya malabsorbsi HA, jika kadar glukosa tinja rendah / PH kurang dari 5,5
maka penyebab diare bersifat tidak menular.
2. Pemeriksaan darah
Pemeriksaan analisis gas darah, elektrolit, ureum, kreatinin dan berat
jenis plasma.
Penurunan PH darah disebabkan karena terjadi penurunan bikarbonas
sehingga frekuensi nafas agak cepat.
Elektrolit terutama kadar natrium, kalium, kalsium, dan fosfor .
F. PENATALAKSANAAN
1. Rehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan.
a. Jenis cairan

Pada diare akut yang ringan dapat diberikan oralit. Diberikan cairan RL, bila tak
tersedia dapat diberikan NaCl isotonik ditambah satu ampul Na bikarbonat 7,5 %
50 ml.
b. Jumlah cairan
Diberikan sesuai dengan jumlah cairan yang dikeluarkan.
Kehilangan cairan tubuh dapat dihitung dengan beberapa cara :
Metoda Pierce :
Derajat Dehidrasi
Ringan

Kebutuhan cairan ( X kg BB)


5%

Sedang

8%

Berat

10 %

c. Jalan masuk atau cara pemberian cairan


Dapat dipilih oral atau IV.
d. Jadwal pemberian cairan
Rehidrasi dengan perhitungan kebutuhan cairan diberikan pada 2 jam pertama.
Selanjutnya dilakukan penilaian kembali status hidrasi untuk memperhitungkan
kebutuhan cairan. Rehidrasi diharapkan terpenuhi lengkap pada akhir jam ke-3.
e. Terapi simtomatik
Obat diare bersifat simtomatik dan diberikan sangat hati-hati atas pertimbangan
yang rasional.
-Sifat antimotilitas dan sekresi usus.
-Sifat antiemetik.
f. Vitamin meneral, tergantung kebutuhannya.
-Vitamin B12, asam folat, vit. K, vit. A.
-Preparat besi , zinc, dll.
g. Terapi definitif

Pemberian edukatif sebagailangkah pencegahan. Hiegene perseorangan, sanitasi


lingkungan, dan imunisasi melalui vaksinasi sangat berarti, selain terapi
farmakologi.

G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.

Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan


kehilangan cairan sekunder terhadap muntah dan diare.

2.

Perubahan kenyamanan berhubungan dengan kram abdomen, diare dan


muntah sekunder akibat dilatasi vaskuler dan hiperperistaltik.

3.

Risiko terhadap ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik yang


berhubungan dnegan kurang pengetahuan tentang kondisi, pembatasan diet, dan
tanda-tanda serta gejala komplikasi.

H. PERENCANAAN
Diagnosa No. 1
Tujuan :Kebutuhan volume cairan adekuat.
Kriteria hasil : Individu akan

Meningkatkan masukan cairan minimal 2000 ml (kecuali bila merupakan

kontraindikasi).
Menceritakan perlunya untuk meningkatkan masukan cairan selama stress

atau panas.
Mempertahankan berat jenis urine dalam batas normal (1,010 & 1,025).
Memperhatikan tidak adanya tanda dan gejala dehidrasi.

Intervensi general :
1. Rencanakan tujuan masukan cairan untuk setiap pergantian ( misal 1000 ml
selama siang hari, 800 ml selama sore hari, 300 ml selama malam hari).
R/ Deteksi dini memungkinkan terapi penggantian cairan segera untuk
memperbaiki defisit.

2. Jelaskan tentang alasan-alasan untuk mempertahankan hidrasi yang adekuat


dan metoda-metoda untuk mencapai tujuan masukan cairan.
R/ Informasi yang jelas akan meningkatkan kerjasama klien untuk terapi.
3. Pantau masukan , pastikan sedikitnya 1500 ml cairan per oral setiap 24 jam.
R/ Catatan masukan membantu mendeteksi tanda dini ketidak seimbangan
cairan.
4. Pantau haluaran, pastikan sedikitnya 1000 - 1500 ml/24 jam. Pantau terhadap
penurunan berat jenis urine.
R/ Catatan haluaran membantu mendeteksi tanda dini ketidak seimbangan
cairan.
5. Timbang BB setip hari dengan jenis baju yang sama, pada waktu yang sama.
Kehilangan berat badan 2 - 4 % menunjukkan dehidrasi ringan. Kehilangan
berat badan 5 - 9 % menunjukkan dehidrasi sedang.
R/ Penimbangan BB harian yang tepat dapat mendeteksi kehilanagan cairan.
6. Pertimbangkan kehilangan cairan tambahan yang berhubungan dengan
muntah, diare, demam, drain.
R/ Haluaran dapat melebihi masukan, yang sebelumnya sudah tidak
mencukupi untuk mengkompensasi kehilangan yang tak kasap mata.
Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus, membuat haluaran tak
adekuat untuk membersihkan sisa metabolisme dengan baik dan mengarah
pada peningkatan BUN dan kadar elektrolit.
7. Kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan kadar elektrolit darah, nitrogen
ure darah, urine dan serum, osmolalitas, kreatinin, hematokrit dan
hemoglobin.
R/ Propulsi feses yang cepat melalui usus mengurangi absorpsi elektrolit.
Muntah-muntah juga menyebabkan kehilangan elektrolit.
8. Kolaborasi dengan pemberian cairan secara intravena.

R/ Memungkinkan terapi penggantian cairan segera untuk memperbaiki


defisit.

Diagnosa No.2
Tujuan : Klien merasa nyaman.
Kriteria hasil : Klien akan :
-Melaporkan penurunan kram abdomen.
-Menyebutkan makanan yang harus dihindari.
Intervensi :
1. Dorong klien untuk berbaring dalam posisi terlentang dnegan bantalan
penghangat di atas abdomen.
R/ Tindakan ini meningkatkan relaksasi otot GI dan mengurangi kram.
2. Singkirkan pemadangan yang tidak menyenangkan dan bau yang tidak sedap
dari lingkungan klien.
R/ Pemandangan yang tidak menyenangkan atau bau tak sedap merangsang
pusat muntah.
3. Dorong masukan jumlah kecil dan sering dari cairan jernih (misal; teh encer,
air jahe, agar-agar, air) 30 sampai 60 ml tiap 1/2 sampai 1 jam.
R/ Cairan dalam jumlah yang kecil cairan tidak akan mendesak area gastrik dan
dengan demikian tidak memperberat gejala.
4. Instruksikan klien untuk menghindari hal ini :
a. Cairan yang panas dan dingin.
b. Maknan yang mengandung lemak dan serat (misal ; susu, buah)
c. Kafein.

R/ cairan yang dingin merangsang kram ; cairan panas menrangsang


peristaltik ; Lemak juga meningkatkan peristaltik dan kafein meningkatkan
motilitas usus.
5. Lindungi area perianal dari iritasi.
R/ Sering BAB dengan peningkatan keasaman dapat mengiritasi kulit perianal.

Diagnosa No. 3
Tujuan : Pengetahuan klien tentang kondisi, pembatasan diet, dan tanda-tanda serta
gejala komplikasi adekuat.
Kriteria hasil :
Klien dapat menjelaskan kembali

kepada perawat setelah penjelasan dari

perawat.
Intervensi :
1. Jelaskan pembatasan diet :
a.

Makanan tinggi serat (sekam & buah segar).

b.

Makanan tinggi lemak ( susu, makanan goreng).

c.

Air yang sangat panas atau dingin.

R/ Makann ini dapat merangsang atau mengiritasi saluran usus.


2. Jelaskan pentingnya mempertahankan kesimbangan antara masukan cairan oral
dan haluaran cairan.
R/ Muntah dan diare dapat dengan cepat menyebabkan dehidrasi.
3. Jelaskan manfaat istirahat dan dorong untuk istirahat adekuat.
R/ Inaktivitas menurunkan peristaltik dan memungkinkan salurang GI untuk
istirahat.
4. Instruksikan untuk mencuci tangan dan :

a. Desinfeksi area permukaan dengan desinfektan yang mengandung tinggi


alkohol.
b. Rendam peralatan makan dan termometer dalam larutan alkohol atau
gunakan alat pencuci piring untuk peralatan makan.
c. Tidak mengijinkan menggunkan bersama alat-alat dengan orang sakit.
R/ Penyebaran virus dapat dikontrol dengan desinfeksi area permukaan area
(kamar tidur) dan peralatan makan. Desinfeksi dengan kandungan alkohol
rendah tak efektif melawan beberapa virus.
5. Ajarkan klien dan keluarga untuk melaporkan gejala ini :
a. Urine coklat gelap menetap selama lebih dari 12 jam.
b. Feses berdarah.
R/ Deteksi dini dan pelaporan tanda dehidrasi memungkinkan intervensi
segera untuk mencegah ketidakseimbangan cairan atau elektrolit serius

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan :
Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali
pada bayi lebih dari 3 kali pada anak, konsistensi feses encer, dapat
berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah atau darah saja
yang biasanya (100-200 ml/jam tinja),
Yang ditandai dengan
-

Feses lunak, cair.

Peningkatan frekuensi defekasi

Kram perut

Frekuensi bising usus meningkat

B. Saran
Melalui makalah ini diharapkan pembaca mengerti dan mengetahui
bagaimana proses penyakit tandanya,penyebab dan akibat diare
anak.Dengan makalah ini diharapkan pembaca menghindari atau mengetahui
tentang tanda-tanda terjadinya diare pada anak.Selain itu diharapkan perawat
atau tenaga medis dapat memberikan Asuhan Keperawatan Pada Anak
dengan Kasus Diare.

Daftar Pustaka

Carpenito, L.J., (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Ed. 2


Jakarata : EGC
(2000). Diagnosa Keperawatan. Ed. 8. Jakarata : EGC
Makalah Kuliah . Tidak diterbitkan.
Mansjoer, Arif., et all. (1999). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI :
Media Aescullapius.
Pitono Soeparto, dkk. (1997). Gastroenterologi Anak. Surabaya : GRAMIK FK
Universitas Airlangga.
Price, Anderson Sylvia. (1997) Patofisiologi. Ed. I. Jakarata : EGC.