Anda di halaman 1dari 10

UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA DAN IDENTIFIKASI EKSTRAK BUAH SAWO MANILA (Achras zapota

L.) TERHADAP BEBERAPA MIKROBA PATOGEN DENGAN METODE DIFUSI AGAR


(Fajrul Fhalaq Baso)

UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA DAN IDENTIFIKASI EKSTRAK BUAH SAWO


MANILA (Achras zapota L.) TERHADAP BEBERAPA MIKROBA PATOGEN
DENGAN METODE DIFUSI AGAR
Fajrul Fhalaq Baso
Jurusan Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Jalan Sultan Alauddin No.36 Samata, Gowa-Sul-Sel, Indonesia, Telp/Fax: 0411-841879/8221400
Email: fajrul_aroel@yahoo.com
ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian tentang uji aktivitas antimikroba dan identifikasi ekstrak buah sawo
manila (Achras zapota L.) terhadap beberapa mikroba patogen. Ekstraksi buah sawo manila dengan
metode maserasi menggunakan pelarut etil asetat dan etanol 70%. Uji skrining ekstrak buah sawo
manila pada konsentrasi 1% pada bakteri uji yaitu Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermis,
Streptococcus mutans, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella thyposa, Vibrio sp, Bacillus subtillis,
dan pada khamir yaitu Candida albicans. Selanjutnya dilakukan uji daya hambat menggunakan
metode difusi agar (paper disc) pada konsentrasi 1500 ppm, 1000 ppm, 500 ppm, dan 100 ppm
terhadap bakteri hasil uji skrining. Selanjutnya dilakukan identifikasi golongan senyawa ekstrak buah
sawo manila menggunakan metode skrinig fitokimia secara kualitatif.
Hasil Skrining aktivitas antimikroba menunjukkan bahwa ekstrak etanol buah sawo manila
dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermis,
Streptococcus mutans, dan Salmonella thyposa. Uji daya hambat menggunakan metode difusi agar
menunjukkan hasil bahwa semakin besar konsentrasi yang digunakan maka semakin besar pula
diameter hambatan yang dihasilkan. Hasil identifikasi ekstrak etanol buah sawo manila menunjukkan
adanya golongan senyawa tanin, flavanoid, dan terpenoid.
Kata kunci : antimikroba, ekstrak buah sawo manila, bakteri patogen, metode difusi agar

ABSTRACT
The research has conducted antimicrobial activity assay and identification of sapodilla
fruit extract manila (Achras zapota L.) against some pathogenic microbes with agar diffusion
method. Manila sapodilla fruit extraction by maceration method by using the solvent ethyl
acetate and ethanol 70%. Manila sapodilla fruit has tested by screening extract at a
concentration of 1% on the test bacteria which is namely Staphylococcus aureus,
Staphylococcus epidermis, Streptococcus mutans, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella
thyposa, Vibrio sp, Bacillus subtillis, and the fungus is Candida albicans. Furthermore, the
inhibition has tested by using the agar diffusion method (paper disc) at a concentratied of
1500ppm, 1000ppm, 500ppm, and 100ppm against screening test results of bacteria.
Furthermore, identification of classes of compounds sapodilla fruit of extract phytochemicals
by used screening manila methods qualitative.
Screening results showed that the antimicrobial activity of the ethanol extract manila
sapodilla fruit can inhibit the growth of Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermis,
Streptococcus mutans, and Salmonella thyposa. Inhibition test using the agar diffusion
method, shows that more the concentration used, more the diameter of the resulting barriers.
The results of the identification of sapodilla fruit ethanol extract showed a class of
compounds manila tannins, flavonoids, and terpenoids.
Keywords:antimicrobial, sapodilla fruit extract of manila, pathogenic bacteria, agar diffusion
method

UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA DAN IDENTIFIKASI EKSTRAK BUAH SAWO MANILA (Achras zapota
L.) TERHADAP BEBERAPA MIKROBA PATOGEN DENGAN METODE DIFUSI AGAR
(Fajrul Fhalaq Baso)

9. Bahan-bahan dalam penelitian


ini adalah buah sawo manila (Achras
zapota L.) yang buahnya diambil dari
desa
Biangkeke
kelurahan
Parumputan
kecamatan
Pajukukang
kabupaten
Bantaeng,
DMSO
(Dimetil
Sulfoksida), HCl 0,1%, medium
Nutrient Agar (NA), medium
Nutrient Broth (NB), medium
Potato Dekstrosa Agar (PDA),
Pelarut etanol 70%, pelarut etil
asetat, reagen besi (III) klorida,
Reagen Dragendorf, Reagen
Liebermann-Burchadad, Reagen
Mayer, Aquadest, Asam asetat
anhidrat p, Asam sulfat p,
Kloroform, Asam klorida p.
10.2.2 Alat Penelitian
11. Alat-alat dalam penelitian ini
adalah bejana maserasi, autoklaf
(Smic model YX 280 B),
cawan petri (Iwaki Pyrex),
gelas erlenmeyer (Iwaki Pyrex),
gelas kimia (Iwaki Pyrex), gelas
ukur 50 ml (Iwaki Pyrex), gelas
ukur 10 ml (Iwaki Pyrex), gelas
ukur 5 ml (Iwaki Pyrex),
inkubator (Memmert), Laminar
Air Flow (LAF), lemari pendingin,
ose bulat, oven (Memmert),
penangas air, rotary evaporator
(IKA), spoit (One Med), tabung
reaksi (Iwaki Pyrex), timbangan
analitik (AND).
12. 2.3 Prosedur Penelitian
13. 2.3.1 Pengumpulan dan Penyiapan
Sampel
14. Sampel yang digunakan adalah
buah sawo manila (Achras zapota L.)
yang diperoleh dari desa Biangkeke
kelurahan
Parumputan
kecamatan
Pajukukang
kabupaten Bantaeng. Buah sawo
yang telah dikumpulkan dicuci dan
dipotong
kecil-kecil
kemudian
dikeringkan dengan cara dianginanginkan. Buah sawo manila yang telah
kering dihaluskan dengan cara diblender.
Sampel disimpan di tempat kering
sebelum digunakan.
15. 2.3.2 Metode Ekstraksi

1. PENDAHULUAN
2. Masyarakat
Indonesia
mulai
saat
ini
mulai
mengutamakan
penggunaan
obat
secara
alami.
Sebelum obat-obat kimia berkembang
secara modern, nenek moyang kita
umumnya menggunakan obat-obatan
yang berasal dari tumbuh-tumbuhan
untuk
mengatasi
masalah
kesehatannya. Tumbuhan obat yang
digunakan
oleh
masyarakat
mempunyai kelebihan yaitu memiliki
efek samping yang kecil dibandingkan
dengan pengobatan kimiawi (Kardinan
dan Taryono, 2003).
3. Sawo merupakan salah satu
jenis tanaman buah potensial yang
sudah lama dikenal dan ditanam di
Indonesia. Sawo dijadikan sebagai
alternatif obat-obatan herbal. Tanaman
sawo merupakan tumbuhan tropis
yang cukup luas penyebarannya di
Indonesia (Rukmana, 1997). Dalam
sebuah studi penelitian yang dilakukan
oleh
Hening
Prihatin
(2013)
&
Wulandari
Berliani
(2007)
menunjukkan
bahwa
buah
sawo
manila (Acrhras zapota L.) mampu
membunuh bakteri Escerchia coli yang
dapat menyebabkan penyakit diare.
Selain itu, masyarakat menggunakan
buah sawo manila (Acrhras zapota L.)
obat untuk menyembuhkan penyakit
demam thypoid yang disebabkan oleh
bakteri Salmonella thypi.
4. Metode
ekstraksi
yang
digunakan adalah maserasi dengan
menggunakan pelarut etanol 70% dan
etil asetat. Etanol 70% bersifat polar
sehingga diharapkan dapat menarik senyawasenyawa kandungan kimia yang terdapat dalam
buah sawo manila. Etil asetat bersifat non polar
dibandingkan dengan etanol.
5. Aktifitas
antimikroba
dan
analisa kandungan senyawa pada
penelitian ini menggunakan metode
kualitatif yaitu dengan uji skrining
ekstrak etanol dan esktrak etil asetat
dari buah sawo manila (Achraz zapota
L).
6.
7. BAHAN DAN METODE
8. 2.1 Bahan Penelitian
2

UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA DAN IDENTIFIKASI EKSTRAK BUAH SAWO MANILA (Achras zapota
L.) TERHADAP BEBERAPA MIKROBA PATOGEN DENGAN METODE DIFUSI AGAR
(Fajrul Fhalaq Baso)

diinkubasi pada suhu 37C


selama 1 x 24 jam untuk bakteri
dan pada suhu kamar selama 3
x 24 jam untuk jamur.
19.2.3.4 Uji Aktivitas Antibakteri
20. Sebanyak 10 ml medium
NA kedalam botol cokelat steril,
setelah itu ditambahkan 40 l
inokulum
yang
kemudian
dituangkan kedalam cawan petri
steril.
Selanjutnya
cawan
digoyang, agar media memadat.
Pada media yang telah padat
diletakkan paper disk yang
sebelumnya
telah
direndam
didalam vial yang berisi larutan
ekstrak dengan masing-masing
konsentrasi 1500 ppm, 1000 ppm,
500 ppm, dan 100 ppm. Kemudian
diinkubasi pada suhu 37 C
selama 1 x 24 jam, lalu diamati
zona hambat yang terbentuk.
21. 2.3.5 Identifikasi golongan senyawa
Ekstrak Buah Sawo Manila (Achras
zapota L.)
22. Identifikasi golongan senyawa
terhadap ekstrak etanol buah sawo
manila (Achras zapota L.) meliputi
pemeriksaan
saponin,
tanin
dan
polifenol, steroid, terpenoid, flavonoid,
alkaloid, glikosida dan kuinon.
A. Pembuatan Larutan Uji Skrining Fitokimia
23. Pembuatan larutan uji untuk uji
skrining fitokimia dilakukan dengan
cara melarutkan sebanyak 250 mg
ekstrak etanol buah sawo manila
(Achras zapota L) dilarutkan 50 ml
etanol 70%, kemudian didapatkan
larutan uji yang digunakan untuk uji
fitokimia.

16.
Sampel buah sawo
manila (Achras zapota L) yang
telah diserbukkan, ditimbang
sebanyak 500 gram dimasukkan
dalam wadah maserasi dan
ditambahkan etil asetat hingga
terendam dan ditutup rapat,
dibiarkan selama 24 jam di
tempat yang terlindung dari
sinar matahari langsung sambil
diaduk sekali-kali. Disaring dan
dipisahkan ampas dan filtratnya.
Selanjutnya ampas dimaserasi
kembali dengan menggunakan
cairan penyari etil asetat yang
baru dengan jumlah yang sama.
Hal ini dilakukan 3 kali berturutturut. Filtrat etil asetat yang
diperoleh kemudian dipekatkan
dengan alat rotavapor sampai
diperoleh Ekstrak Etil Asetat.
Ampas yang diperoleh dibebas
etil
asetatkan
dengan
penambahan aquadest hangat
lalu
dikeringkan.
Kemudian
dimasukkan kembali kedalam alat
maserasi lalu ekstraksi dengan pelarut
etanol 70%. Kemudian disaring dan
dipisahkan ampas dan filtratnya, lalu
ampas dimaserasi kembali dengan
menggunakan cairan penyari etanol 70%
yang baru. Hal ini dilakukan selama 3
kali berturut-turut. Filtrat etanol yang
diperoleh dipekatkan dengan alat
evaporator sampai diperoleh Ekstrak
Etanol.
17. 2.3.3 Skrining Antimikroba
18. Sebanyak 10 mg ekstrak
Etil asetat dan ekstrak Etanol 70
% masing-masing dilarutkan
dalam 0,2 ml DMSO dengan
menggunakan
mikropipet,
kemudian dicampurkan dengan
9,8 ml medium NA untuk bakteri
dan medium PDA untuk jamur
hingga diperoleh volume akhir
10 ml. Campuran dituangkan
kedalam cawan petri secara
aseptis
dengan
digoyanggoyangkan agar merata dan
dibiarkan
memadat.
Biakan
mikroorganisme
kemudian
digoreskan diatas medium dan

24.

B. Saponin
25. Ekstrak etanol buah sawo (Achras
zapota L.) sebanyak 0,5 gram dimasukkan ke
dalam tabung reaksi, ditambahkan 10 ml air
panas, didinginkan dan kemudian dikocok
vertikal selama 10 detik. Pembentukan busa
setinggi 110 cm yang stabil selama tidak
kurang dari 10 menit menunjukkan adanya
saponin. Pada penambahan 1 tetes HCl 2 N, busa
tidak hilang (Depkes RI, 1989).
C. Tanin & Polifenol

UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA DAN IDENTIFIKASI EKSTRAK BUAH SAWO MANILA (Achras zapota
L.) TERHADAP BEBERAPA MIKROBA PATOGEN DENGAN METODE DIFUSI AGAR
(Fajrul Fhalaq Baso)

32. Larutan uji 5 ml ditambahkan 2


ml NaOH 1N kemudian diamati
perubahan warnanya. Reaksi positif
ditunjukkan
dengan
terbentuknya
warna kuning (Depkes RI, 1989).
33.
34. HASIL
35. 3.1 Hasil Ekstraksi
36.
Proses ekstraksi serbuk
simplisia buah sawo manila (Achras
zapota
L.)
dilakukan
dengan
menggunakan metode maserasi. Serbuk
kering buah sawo manila (Achras
zapota L) sebanyak 500 gram
dimaserasi dengan pelarut etil asetat dan
etanol 70%. Hasil ekstraksi serbuk
simplisia buah sawo manila (Achras
zapota L) diperoleh ekstrak etil asetat
sebanyak 18,95 gram dengan
rendamen 3,79% dan ekstrak
etanol 70% sebanyak 58,19
gram
dengan
rendamen
11,63%.
37.3.2 Skrining Antimikroba
38.
Uji skrining antimikroba
menggunakan ekstrak etil asetat dan
ekstrak etanol 70% terhadap beberapa
mikroba uji. Hasil uji skrining ini
menunjukkan bahwa Ekstrak
Etanol 70% buah sawo manila
(Achras
zapota
L.)
dapat
menghambat
bakteri
Streptococcus
mutans,
Staphylococcus
aureus,
Staphylococcus
epidermidis,
dan Salmonella thyposa.
39.3.3 Uji Aktivitas Antibakteri
40. Pengujian aktivitas antibakteri
ekstrak buah sawo manila (Achras
zapota L.) menggunakan metode difusi
agar (Paper disci). Hasil uji aktivitas
antibakteri ini menunjukkan bahwa
konsentrasi 1500 ppm memberikan daya
hambat terbaik pada bakteri uji
Streptococcus
mutans,Staphylococcus aureus,
Staphylococcus
epidermidis,
dan Salmonella thyposa.
41.
42. 3.4 Identifikasi Golongan Senyawa
43. Hasil skrining fitokimia secara
kualitatif pada ekstrak etanol buah
manila (Achras zapota L.) mengandung

26. Larutan uji sebanyak 1 ml direaksikan


dengan larutan besi (III) klorida 10%, jika terjadi
warna biru tua atau hitam kehijauan
menunjukkan adanya tanin dan polifenol (Jones
and Kinghorn, 2006).
D. Steroid
27. Diambil ekstrak etanol 0,5 g,
ditambahkan asam asetat anhidrat 2
ml kemudian tambahkan 2 ml asam
sulfat pekat. Adanya steroid ditandai
dengan perubahan warna dari violet
menjadi biru atau hijau (Edeoga H,
2005).
E. Terpenoid
28. Larutan uji 5 ml dicampurkan
dengan 2 ml kloroform, kemudian
tambahkan dengan hati-hati 3 ml
asam sulfat pekat. Terbentuknya
warna
coklat
kemerahan
pada
permukaan
dalam
larutan,
menunjukkan
adanya
terpenoid
(Edeoga H, 2005).
F. Flavanoid
29. Larutan uji dimasukkan kedalam
tabung reaksi sebanyak 5 ml dan
ditambahkan beberapa tetes HCl
pekat. Kemudian ditambahkan 0,2 g
bubuk logam Magnesium. Hasil positif
ditunjukkan dengan timbulnya warna
merah tua selama 3 menit (Mojab F,
2003).
G. Alkaloid
30. Larutan uji ekstrak diambil sebanyak 2
ml diuapkan di atas cawan porselin. Residu yang
dihasilkan kemudian dilarutkan dengan 5 ml HCl
2N. Larutan yang diperoleh dibagi ke dalam 3
tabung reaksi. Tabung pertama di tambahkan
dengan 3 tetes pereaksi Lieberman - Burchat,
Tabung kedua ditambahkan 3 tetes pereaksi
Dragendorff dan tabung ketiga ditambahkan 3
tetes pereaksi Mayer. Endapan cokelat sampai
hitam yang terbentuk pada Tabung pertama,
Endapan jingga yang terbentuk pada Tabung
kedua, dan endapan kuning pada Tabung ketiga
menunjukkan adanya alkaloid (Farsnworth,
1966; Depkes RI, 1989)
H. Glikosida
31. Larutan uji sebanyak 0,1 ml diuapkan di
atas penangas air, dilarutkan sisanya dengan 5
mL asam asetat anhidrat P, ditambahkan 10 tetes
asam sulfat P, terjadi warna biru atau hijau
menunjukkan adanya glikosida (Depkes RI,
1989).
I. Kuinon
4

UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA DAN IDENTIFIKASI EKSTRAK BUAH SAWO MANILA (Achras zapota
L.) TERHADAP BEBERAPA MIKROBA PATOGEN DENGAN METODE DIFUSI AGAR
(Fajrul Fhalaq Baso)

senyawa kimia golongan terpenoid,


tanin dan flavanoid.

50. Hasil uji aktivitas antibakteri ini


menunjukkan bahwa konsentrasi 1500
ppm memberikan daya hambat terbaik
pada bakteri uji Streptococcus
mutans
(11,6
mm),
Staphylococcus aureus (10,82
mm),
Staphylococcus
epidermidis (10,82 mm), dan
Salmonella thyposa (9,16 mm).
Kekuatan daya hambat bakteri menurut
David Stout (1971) didasarkan atas
ukuran diameter zona hambatnya, yaitu
lemah (< 5 mm), sedang (5 10 mm),
kuat (10 20 mm), dan sangat kuat (>
20 mm). Sehingga dapat disimpulkan
bahwa aktivitas antibakteri sampel buah
sawo manila (Achras zapota L.) adalah
sedang. Perbedaan besarnya diameter
hambatan disebabkan karena perbedaan
besarnya kandungan zat aktif pada
masing-masing konsentrasi. Perbedaan
diameter
hambatan
dapat
juga
dipengaruhi oleh jenis bakterinya karena
setiap bakteri memiliki tingkat kepekaan
yang berbeda-beda terhadap sampel
(Indah, 2012).
51. 4.4 Identifikasi Golongan Senyawa Ekstrak
Etanol Buah Sawo Manila (Achras zapota
L.)
52. Identifikasi golongan senyawa
dilakukan untuk mengetahui golongan
kandungan kimia yang terdapat dalam
ekstrak etanol buah sawo manila
(Achras zapota L).
53. Pemilihan pelarut dalam proses
ekstraksi berdasarkan atas prinsip like
dissolves like, yang mana senyawa polar
akan terekstraksi dalam pelarut polar
dan senyawa non polar dalam senyawa
non polar (Depkes RI, 2000). Hasil
skrining fitokimia pada ekstrak etanol
buah sawo manila (Achras zapota L)
menunjukan hasil positif terhadap
senyawa kimia golongan tanin dan
polifenol, terpenoid, dan flavonoid.
Sedangkan menunjukan hasil negatif
terhadap senyawa steroid, glikosida,
alkaloid, kuinon, dan saponin.
54. Kandungan
senyawa
tanin sebagai antibakteri dapat
menghambat enzim reverse
transkriptase
dan
DNA
topoisomerase
sehingga
sel
bakteri tidak dapat terbentuk

44. PEMBAHASAN
45. 4.1 Ekstraksi Buah Sawo Manila
(Achras zapota L.)
46. Hasil ekstraksi serbuk simplisia
buah sawo manila (Achras zapota L)
diperoleh ekstrak etil asetat sebanyak
18,95 gram dengan rendamen
3,79% dan ekstrak etanol 70%
sebanyak 58,19 gram dengan
rendamen
11,63%.
Etanol
merupakan pelarut polar sehingga
mampu menarik senyawa-senyawa yang
bersifat polar, dibandingkan dengan etil
asetat, etil asetat bersifat non polar
dibandingkan dengan etanol 70%.
47.4.2 Skrining Antimikroba
48.
Hasil uji skrining ini
menunjukkan bahwa Ekstrak
Etanol 70% buah sawo manila
(Achras
zapota
L.)
dapat
menghambat
bakteri
Streptococcus
mutans,Staphylococcus aureus,
Staphylococcus
epidermidis,
dan Salmonella thyposa. Hasil
skrining antimikroba ini menunjukkan
bahwa ekstrak buah sawo manila
(Achras zapota L.) lebih mudah
menghambat bakteri Gram positif
dibandingkan bakteri Gram negatif,
artinya bakteri Gram positif lebih rentan
terhadap
senyawa-senyawa
kimia
dibandingkan Gram negatif. Hal ini
kemungkinan
disebabkan
oleh
perbedaan komposisi dan struktur
dinding sel pada bakteri Gram positif
dan Gram negatif. Struktur dinding sel
bakteri Gram positif lebih sederhana,
yaitu berlapis tunggal dengan kandungan
lipid yang rendah (1-4%) sehingga
memudahkan bahan bioaktif masuk ke
dalam sel. Struktur dinding sel bakteri
Gram negatif lebih kompleks, yaitu
berlapis tiga terdiri dari lapisan luar
lipoprotein,
lapisan
tengah
lipopolisakarida yang berperan sebagai
penghalang masuknya bahan bioaktif
antibakteri, dan lapisan dalam berupa
peptidoglikan dengan kandungan lipid
tinggi (11-12%) (Jawetz et, al., 2005).
49. 4.3 Uji Aktivitas Antibakteri
5

UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA DAN IDENTIFIKASI EKSTRAK BUAH SAWO MANILA (Achras zapota
L.) TERHADAP BEBERAPA MIKROBA PATOGEN DENGAN METODE DIFUSI AGAR
(Fajrul Fhalaq Baso)

(Robinson, 1995). Kandungan


senyawa
Terpenoid
sebagai
antibakteri
adalah
bereaksi
dengan
porin
(protein
transmembran) pada membran
luar
dinding
sel
bakteri,
membentuk ikatan polimer yang
kuat sehingga mengakibatkan
rusaknya porin. Rusaknya porin
yang merupakan pintu keluar
masuknya
senyawa
akan
mengurangi
permeabilitas
dinding sel bakteri yang akan
mengakibatkan sel bakteri akan
kekurangan nutrisi, sehingga
pertumbuhan bakteri terhambat
atau
mati
(Cowan,
1999).
Kandungan Senyawa Flavonoid
sebagai
antibakteri
akan
membentuk senyawa kompleks
dengan protein ekstraseluler
dan terlarut sehingga dapat
merusak membrane sel bakteri
dan diikuti dengan keluarnya
senyawa intraseluler (Cowan,
1999)

65.Farnworth,N.R.Biological
and
Phytochemical Screening of Plant. Journal of
Pharmaceutical Sciences.1966. Hal. 59.
66.
67.
Hening P.N, Laili F.Y., Eka A., Uji
Daya Antibakteri Ekstrak Sawo
Manila
Terhadap
E.coli
dan
Implemantasinya
dalam
Pembelajaran
Peranan
Bakteri.
2013. Hal. 1

68.
69.
Indah, T.A. Uji Aktivitas
Antibakteri ekstrak etanol kulit
buah delima (Punica granatum L)
terhadap
beberapa
bakteri
penyebab diare dengan metode
difusi agar. Makassar : Jurusan
Farmasi UIN Alauddin, 2012. Hal.
49.
70.
71. Jawetz, E., J.I., Melnick dan E.A.
Adelberg,
Mikrobiologi
Kedokteran
Penerjemah
dan
editor
bagian
Mikrobiologi
kedokteran. Jakarta : Salemba
Medika, 2005. Hal. 351-352.

55.
56. KESIMPULAN
57. Ekstrak etanol Buah sawo manila
(Achras zapota L.) mempunyai aktivitas
antibakteri terhadap bakteri Streptococcus
mutans, Staphylococcus aureu, Staphylococcus
epidermidis, dan Salmonella thyposa, dengan
konsentrasi optimum 1500 ppm atau 1,5 mg/ml.
Golongan senyawa dari ekstrak etanol buah
sawo manila (Achras zapota L.) yaitu golongan
senyawa Flavanoid, Tanin, dan Terpenoid.
58.
59.
DAFTAR PUSTAKA

72.
73.Jones, W. P., Kinghorn, A. D. Extraction of
Plant Secondary Metabolites. In : Sharker,
S.D. Latif Z., Gray A.L, eds. Natural Product
Isolation, 2nd Edition. New Jersey : Humana
Press. 2006. Hal. 341- 342.
74.
75.
Kardinan, Agus dan Taryono, Tanaman
Obat Penggempur Kanker. Depok :
Agromedia Pustaka. 2003. Hal. 1
76.
77.
Mojab
F,
Kamalinejad
M,
Naysaneh
G.
&
Hamid
RV.
Phytochemical Screening of Some
Species of Iranian Plants, Iranian
Journal of Pharmaceutical Research.
2003. Hal. 77.
78.
79.Robinson, T. Kandungan Organik Tumbuhan
Tingkat Tinggi. Bandung : Penerbit ITB. P.
1995. Hal. 198.
80.
81.
Rukmana,
Rahmat,
Aneka
Olahan Buah Kesemek, Buah Sawo,
Buah Sirsak. Yogyakarta : Kanisius,
1997. Hal. 12

60.Cowan, M. Plant Product as Antimicrobial


Agent. Clinical Microbiology Review. 1999.
Hal. 582, 564.
61.Depkes RI. Materia Medika Indonesia V.
Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. 1989. Hal. 549-553.
62.
63.
Edeoga HO, Okwu DE. &
Mbaebre
BO.
Phytochemical
Constituent
of
Some
Nigerian
Medicinal Plants. Afr Journal of
Biotechnology. 2005. Hal. 685.
64.
6

UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA DAN IDENTIFIKASI EKSTRAK BUAH SAWO MANILA (Achras zapota
L.) TERHADAP BEBERAPA MIKROBA PATOGEN DENGAN METODE DIFUSI AGAR
(Fajrul Fhalaq Baso)

82.
83.
Wulandari,B.P, Lilis S., Efek
Antibakteri Infusa dan Ekstrak Buah
Sawo (Manilkara zapota) Terhadap
Berbagai Bakteri Penyebab Diare
Secara in Vitro. 2007. Hal 1.
84.
85.
86.
87.
88.
89.
90.
91.
92.
93.
94.
95.
96.
97.
98.
99.
100.
101.
102.
103.
104.
105.
106.
107.
108.
109.
110.

111.
112.
113.
114.
115.
116.
117.
118.
119.
120.
121.
122.
123.
124.
125.
126.
127.
128.
129.
130.
131.
132.
133.
134.
135.
136.
137.
138.
139.
140.
141.
142.
143.
144.

145.
146.
147. LAMPIRAN
148.

149. Tabel 1. Uji Skrining antimikroba Ekstrak etanol Buah Sawo


Manila (Achras zapota L)
150. S
151. Mikroba Uji
ampe 153. 154. 155. 156. 157. 158. 159. 160.
l
SM
BS
VB
PA
SA
SE
ST
CA
161. E
kstra
162. 163. 164. 165. 166. 167. 168. 169.
k
+
+
+
+
Etano
l
170. E
kstra
171. 172. 173. 174. 175. 176. 177. 178.
k Etil
Aseta
t
179. Keterangan :
180.
SM : Streptococcus mutans
+
: Menghambat
181.
BS : Bacillus subtillis
: Tidak Menghambat
182.
VB
: Vibrio sp
183.
PA
: Pseudomonas aureginosa
184.
SA
: Staphylococcus aureus
185.
SE
: Staphylococcus epidermidis
186.
ST
: Salmonella thyposa
187.
CA
: Candida albicans
188.

189. Tabel 2. Uji daya hambat Ekstrak etanol Buah Sawo Manila
(Achras zapota)
192.
Diameter Daerah
Hambat (mm)
196.
191.
195.
197.
198.
100
190.
B
Repli
1500
500
100
0
akteri
ka
p
p
p
p
si
p
p
p
p
m
m
m
m
199.
S
200.
201.
202.
203.
204.
treptoc
1
12
10
206.
207.
208.
209.
210.
occus
2
14
8
-

mutan
s

229.
S
taphyl
ococcu
s
aureus

259.
S
taphyl
ococcu
s
epider
midis

289.
S
almon
ella
thypi

212.
3
218.
x
224.
Rata
ra
ta
230.
1
236.
2
242.
3
248.
x
254.
Rata
ra
ta
260.
1
266.
2
272.
3
278.
x
284.
Rata
ra
ta
290.
1
296.
2
302.
3
308.
x

213.
15
219.
41

214.
11
220.
29

215.
221.
-

216.
222.
-

225.
13,6

226.
9,66

227.
-

228.
-

231.
14
237.
10
243.
13
249.
37

232.
9
238.
10
244.
9
250.
28

233.
239.
245.
251.
-

234.
240.
246.
252.
-

255.
12,3

256.
9,33

257.
-

258.
-

261.
14
267.
12
273.
11
279.
37

262.
9
268.
9
274.
10
280.
28

263.
269.
275.
281.
-

264.
270.
276.
282.
-

285.
12,3

286.
9,33

287.
-

288.
-

291.
10
297.
9
303.
10
309.
29

292.
7
298.
9
304.
10
310.
26

293.
299.
305.
311.
-

294.
300.
306.
312.
-

314.
Rata
315.
316.
317.
318.
9,66
8,66
ra
ta
319. Keterangan :
320.
: Tidak memberikan daya hambat
321.
322. Tabel 3. Uji Skrining Fitokimia Ekstrak etanol Buah Sawo Manila
(Achras zapota L)
323.
N 324. Golongan Senyawa
325. Hasil
o
326.
327. Saponin
328. 1
329.
330. Steroid
331. 2
332.
333. Terpenoid
334. +
3
335.
336. Glikosida
337. 4
338.
339. Tanin
340. +
5
341.
342. Flavanoid
343. +
6
344.
345. Alkaloid
346. 7
347.
348. Kuinon
349. 8
350. Keterangan :
351. +
: Mengandung golongan senyawa
352. : Tidak mengandung golongan senyawa