Anda di halaman 1dari 10

Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Bina Darma Palembang 2014

HUBUNGAN ANTARA BODY IMAGE DENGAN HARGA DIRI PADA PRIA


METROSEKSUAL DI PALEMBANG SQUARE MALL
Selvi Widya Pratiwi
Program Studi Psikologi
Fakultas Psikologi Universitas Bina Darma Palembang

Abstract
This study aims to determine the relationship between Body Image with Self
Esteem on metrosexual men in Palembang Square. The subjects were male
metrosexual, data collection instruments used in this study is the scale of body image and
self-esteem scale. Methods of data analysis using simple regression correlation
techniques. The results showed no significant relationship between body image and selfesteem in men metrosexual in Palembang Square. The relationships in the show from the
value of the correlation coefficient R = 0.437 with a significance value (p) = 0.000, or in
other words, p <0.01. This shows that there is a significant relationship between body
image and self-esteem with metrosexual men in Palembang Square. The value of the
donation of body image to self-esteem is 19.1%. The conclusion of this study is that there
is a significant relationship between body image and self-esteem in men metrosexual in
Palembang Square. These results inform that the lower body image and the lower the
self-esteem. Conversely, the higher the body image, the higher the self-esteem.

Keywords: Self-Esteem, Body Image, Metrosexual

Pendahuluan
Saat Ini sudah banyak sekali kemajuan dalam kehidupan sehari-hari yang
dipengaruhi oleh kemajuan tehnologi dan kemajuan zaman. Kemajuan tehnologi dan
kemajuan zaman memberikan pengaruh terhadap kehidupan kehidupan pria saat ini, pria
sangat memperhatikan penampilan mengingat penampilan menjadi satu kebutuhan yang
sangat menunjang di tengah-tengah lingkungan tempat pria bersosialisasi. Kartajaya,
dkk (2003) menjelaskan bahwa metroseksual adalah pria yang memiliki sikap dan
perilaku mirip seperti kaum wanita. Hal tersebut disebut juga sebagai women oriented
man, yaitu pria yang berorientasi wanita. Kartajaya, dkk (2003) menjelaskan arti
metroseksual yaitu seorang pria perkotaan yang memiliki suatu orientasi seksual tertentu

Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Bina Darma Palembang 2014

dengan estetika tinggi, dan menghabiskan uang dan waktu dalam jumlah yang banyak
demi penampilan dan gaya hidupnya.
Pria metroseksual memiliki beberapa ciri yang membedakan pria metroseksual
dengan Pria biasa lainnya. Kartajaya, dkk (2003) juga menjelaskan beberapa ciri pria
metroseksual yaitu : (a) pria metroseksual cenderung memilih kota besar sebagai tempat
tinggal. Beberapa kemudahan yang dimaksud seperti keberadaan gym, kafe, pusat
perbelanjaan dan berbagai macam informasi yang terkait. (b) pada umumnya pria
metroseksuksual merupakan orang-orang yang secara ekonomi tercukupi. Keberadaan
materi sangat dibutuhkan untuk membiayai gaya hidup mereka. (c) metroseksual selalu
tertarik mengenai perkembangan mode. Untuk mendapatkan informasi-informasi
perkembangan mode terakhir maka mereka secara rutin mengkonsumsi majalah-majalah
yang berkaitan dengan mode. (d) gaya hidup metroseksual selalu berkaitan dengan
penampilan dan perawatan tubuh. Pria metroseksual melakukan berbagai hal untuk
menjaga penampilan mereka agar tetap ideal dan menarik. Pria metroseksual umumnya
selalu tampil menarik, yaitu tampil rapi dan terawat.
Pria metroseksual juga lebih suka menghabiskan waktu diluar yang sering di sebut
pria saat ini dengan istilah nongkrong, pria metroseksual terlihat sangat suka
menghabiskan waktu bersama teman-teman. Seperti di Palembang sudah banyak sekali
tempat-tempat yang memang menjadi favorit pria metroseksual ini untuk berkumpul, pria
metroseksual melakukan ini di pengaruhi oleh harga diri. Page & Page (2000) harga diri
adalah tentang bagaimana individu memandang dan menilai dirinya sendiri.
Tambunan (Danny, 2001) mengemukakan harga diri merupakan suatu hasil
penilaian individu terhadap dirinya yang diungkapkan dalam sikap-sikap yang bersikap
positif dan negatif. Bagaimana seseorang menilai tentang dirinya akan mempengaruhi
perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Coopersmith (1967), karakteristik harga diri rendah
yaitu : (1) mempunyai perasaan inferior, (2) takut dan gagal dalam mengadakan
hubungan sosial, (3) terlihat sebagai orang yang putus asa, (4) merasa diasingkan, (5)
kurang dapat mengekspresikan diri, (6) sangat tergantung pada lingkungan, (7) tidak
konsisten.
Santrock (2001) mengatakan bahwa penampilan fisik merupakan penyumbang yang
kuat pada harga diri seseorang. Hurlock (1980) memiliki bentuk fisik yang baik akan
menimbulkan kepuasan dalam diri terhadap tubuhnya. Semakin menarik atau efektif
kepercayaan diri terhadap tubuh makan semakin positif harga diri yang di miliki karena
body image positif akan meningkatkan nilai-nilai diri, kepercayaan diri serta mempertegas
jati diri pada orang lain maupun dirinya sendiri yang akan mempengaruhi harga diri
seseorang.
Bischof (1983) body image adalah gambaran mental seseorang terhadap bentuk dan

Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Bina Darma Palembang 2014

ukuran tubuhnya, bagaimana seseorang mempersepsikan dan memberikan penilaian


atas apa yang difikirkan dan rasakan terhadap bentuk dan ukuran tubuhnya, dan atas
penilaian orang lain terhadap dirinya.
Hoyt (Naimah, 2008) body image diartikan sebagai sikap seseorang terhadap
tubuhnya dari segi ukuran, bentuk, maupun estetika berdasarkan evaluasi individual dan
pengalaman efektif terhadap atribut fisiknya.
Rincian obyek sikap citra tubuh (body image) (a) bagian tubuh seperti wajah, rambut,
gigi, hidung, lengan, perut, ukuran dan bentuk dada, pantat, pinggul, kaki, paha, leher,
bentuk bibir dan mata, pipi. (b) keseluruhan tubuh mencakup berat badan, tinggi badan,
proporsi tubuh, penampilan fisik dan bentuk tubuh. (Suliswati, 2005). Menurut Lightstone
(2002) ciri-ciri body image yang negatif adalah orag orang yang memiliki rasa tidak puas
terhadap diri mereka sendiri.
Metode
Variabel yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah body image sebagai variabel
bebas dan harga diri sebagai variabel terikat.
Artur (2010) menyatakan bahwa body image merupakan imajinasi subyektif yang
dimiliki seseorang tentang tubuhnya, khususnya yang terkait dengan penilaian orang lain,
dan seberapa baik tubuhnya harus disesuaikan dengan persepsi-persepsi ini. Menurut
Amalia (2007) setiap individu memiliki gambaran diri ideal seperti apa yang diinginkannya
termasuk bentuk tubuh ideal seperti apa yang dimilikinya. Body image pada pria
metroseksual dapat diukur menggunakan skala Body image melalui aspek-aspek Body
image dari Cash & Pruziky (2002) yaitu evaluasi penampilan, orientasi penampilan,
kepuasan daerah tubuh kecemasan menjadi gemuk, pengkategorian ukuran tubuh.
Lerner dan Spanier (Ghufron & Risnawati, 2010) berpendapat bahwa harga diri
adalah tingkat penilaian yang positif atau negatif yang dihubungkan dengan konsep diri
seseorang. Harga diri merupakan evaluasi seseorang terhadap terhadap dirinya sendiri
secara positif dan juga sebaliknya dapat menghargai secara negatif. Berk (2003) harga
diri adalah pendapat yang individu buat mengenai penilaian dan perasaan individu sendiri
yang

diasoiasikan

dengan

pendapat-pendapat

tersebut.

Harga

diri

pada

pria

metroseksual dapat diukur melalui skala harga diri menggunakan aspek-aspeknya dari
Coopersmith

(Brotoharsojo

dkk,

2005)

yaitu

kekuasaan

(power),

keberartian

(significance), kebajikan (virtue), kemampuan (competence).


Populasi dalam penelitian ini adalah pria metroseksual yang berada di kawasan
Palembang Square mall yang jumlah pastinya tidak diketahui. Peneliti melakukan skala
try out pada 61 pria metroseksual di Palembang square sedangkan pada saat
penyebaran

skala

penelitian

peneliti

mendapatkan

subjek

sebanyak

74

metroseksual. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik incidental sampling.

pria

Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Bina Darma Palembang 2014

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala psikologis untuk
mengungkap variabel yang hendak diteliti yaitu harga diri body image yang dibuat
berdasarkan aspek-aspek harga diri dan body image.
Uji hipotesis menggunakan teknik korelasi analisis regresi sederhana (simple
regression). Menurut Hadi (2002) analisis regresi untuk beberapa tujuan yang utama,
yaitu :
a Mencari korelasi antara variabel bebas dengan variabel tergantung
b Menguji apakah korelasi itu signifikan atau tidak signifikan
c Menyusun persamaan garis regresi
d Mencari korelasi antara sesama prediktor yaitu variabel tergantung dan antara tiap
prediktor dengan kriterium yaitu variabel bebas dengan menguji taraf signifikansinya
e

(jarak prediktornya lebih dari satu)


Mencari bobot sumbangan efektif tiap prediktor yaitu variabel bebas (jika predictor
lebih dari satu) dan mencari korelasi parsial jika diperlukan.
Analisis data untuk keseluruhan perhitungan statistik dalam penelitian ini, dilakukan

dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS (Statistical Package for Social
Science) versi 20.00 for windows.

Hasil dan Pembahasan


Berdasarkan

hasil

perhitungan

stastistik

yang

telah

dilakukan,

untuk

membuktikan bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan antara harga diri dengan
body image pada pria metroseksual di Palembang Square. Analisis dilakukan dengan
menggunakan uji regresi sederhana yang hasilnya adanya penerimaan terhadap
hipotesis yang diajukan. Hasil tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien korelasi R= 0,437
dengan nilai signifikansi (p) = 0,000 atau dengan kata lain p <0,01. Ini menunjukkan
bahwa ada hubungan yang sangat signifikan antara harga diri dengan body image pria
metroseksual di Palembang Square. Besarnya nilai sumbangan body image (variabel
bebas) terhadap harga diri (variabel terikat) adalah yang 19,1 % berarti bahwa masih
terdapat 80,9 % dari faktor lain yang mempengaruhi harga diri tetapi variabel itu tidak
diteliti oleh peneliti. Faktor-faktor lain itu menurut Coopersmith (Brotoharsojo dkk, 2005)
adalah pengalaman, pola asuh, lingkungan, dan sosial ekonomi.
Tambunan (Danny, 2011) mengemukakan harga diri merupakan suatu hasil
penilaian individu terhadap dirinya yang diungkapkan dalam sikap sikap yang positif
dan negatif. Bagaimana seseorang menilai tentang dirinya akan mempengaruhi perilaku
dalam kehidupan sehari hari.
Kategorisasi harga diri menunjukan menunjukkan dari 74 pria metroseksual di
Palembang Square yang dijadikan subjek penelitian, terdapat 32 pria metroseksual atau

Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Bina Darma Palembang 2014

43,24 % yang memiliki harga diri tinggi dan 42 pria metroseksual atau 56,76% siswa
memiliki harga diri rendah. Rendahnya harga diri pada pria metroseksual di Palembang
Square terlihat dari pria metroseksual yang menyatakan bahwa ada ketidakpuasan pada
dirinya sehingga itu membuat pria metroseksual selalu berusaha memperbaiki apa yang
dinilai dan dilihat oleh dirinya dan lingkungan sekitar sebagai sesuatu hal yang belum
baik. Contohnya pada saat dirinya dinilai negatif oleh orangorang sekitar pria
metroseksual merasa terganggu dan pria metroseksual berusaha menarik diri untuk
sementara waktu dengan alasan dirinya merasa malu. Hal ini sesuai dengan karakteristik
harga diri rendah menurut Coopersmith (1967) yaitu : mempunyai perasaan inferior, takut
dan gagal dalam mengadakan hubungan sosial, terlihat sebagai orang yang putus asa,
kurang dapat mengekspresikan diri, sangat tergantung pada lingkungan, tidak konsisten.
Dengan demikian dapat disimpulkan pria metroseksual memiliki harga diri yang rendah
seperti yang di peroleh dari hasil analisis data yang menunjukkan dari 74 pria
metroseksual terdapat 42 pria metroseksual (56,76%) memiliki yang memiliki harga diri
yang rendah.
Santrock (2001) mengatakan bahwa penampilan fisik merupakan penyumbang
yang kuat pada harga diri seseorang. Hurlock (1980) memiliki bentuk fisik yang baik akan
menimbulkan kepuasan dalam diri terhadap tubuhnya. Semakin menarik atau efektif
kepercayaan diri terhadap tubuh makan semakin positif harga diri yang di miliki karena
body image positif akan meningkatkan nilai-nilai diri, kepercayaan diri serta mempertegas
jati diri pada orang lain maupun dirinya sendiri yang akan mempengaruhi harga diri
seseorang.
Bischof (1983) body image adalah gambaran mental seseorang terhadap bentuk
dan ukuran tubuhnya bagaimana seseorang mempersepsikan dan memberikan penilaian
atas apa yang difikirkan dan dirasakan terhadap bentuk dan ukuran tubuhnya, dan atas
penilaian orang lain terhadap dirinya. Artur (2010) body image merupakan imajinasi
subyektif yang dimiliki seseorang tentang tubuhnya, khususnya yang terkait dengan
penilaian orang lain, dan seberapa baik tubuhnya harus disesuaikan dengan persepsipersepsi ini. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan pengertian dari body image yaitu
bagaimana seseorang memandang dirinya terutama ukuran tubuh, bentuk fisik, dan
penampilannya, penilaian ini merupakan penilaian subyektif.
Kategorisasi body image menunjukkan bahwa dari 74 pria metroseksual di
Palembang Square yang dijadikan subjek penelitian, terdapat 34 pria metroseksual atau
45,94% yang memiliki body image positif, dan 40 pria metroseksual atau 54,06% yang
memiliki body image yang negatif.
Hal ini dapat dilihat dari kebanyakan dari pria metroseksual yang merasa tidak
puas dengan apa yang ada pada dirinya, ketika pria metroseksual di komentari tentang

Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Bina Darma Palembang 2014

penampilan

dalam

berpakaian

maka

pria

metroseksual

berusaha

mengubah

penampilannya agar bisa terlihat dan dinilai lebih menarik oleh orang lain. Pria
metroseksual berusaha untuk merawat tubuh dan penampilan untuk bisa memenuhi
keinginanya agar bisa terlihat lebih baik lagi. Perilaku ini sesuai dengan ciri-ciri body
image negatif adalah orang-orang yang memiliki rasa tidak puas dengan diri mereka
sendiri. Dengan demikian dapat disimpulkan pria metroseksual memiliki body image yang
negatif seperti yang di peroleh dari hasil analisis data yang menunjukkan dari 74 pria
metroseksual terdapat 40 pria metroseksual (54,06%) memiliki yang memiliki body image
yang negatif
Dari hasil data penelitian skala harga diri terlihat skor tertinggi pada aitem nomor
9, 18, dan 45 yaitu pada aspek kebajikan. Dan skor terendah terdapat pada nomor 2, 5,
25 yaitu pada aspek keberartian. Sedangkan pada skala body image skor tertinggi pada
aitem nomor 23 yaitu pada aspek orientasi penampilan, dan skor terendah ada pada
nomor 8 yaitu pada aspek evaluasi penampilan. Hal ini menunjukan bahwa ada
hubungan yang terjadi pada kedua variabel, ketika orientasi penampilan pria
metroseksual dinilai baik maka mempengaruhi nilai kebajikan pada dirinya, dan
sebaliknya ketika evaluasi penampilan pria metroseksual rendah maka hal ini juga
memberikan pengaruh pada keberartian pada dirinya. Pada indikator body image yaitu
kecemasan menjadi gemuk pria metroseksual mengatasi kecemasan tersebut dengan
berbagai hal di antaranya yaitu suka menimbang berat badan, berusaha mengurangi
asupan karbohidrat pada tubuh agar tidak gemuk. Perilaku ini mempengaruhi harga diri
pria metroseksual pada indikator kemampuan, yaitu ketika berhasil mencapai apa yang
diinginkan merasa bahwa lingkungan memberikan penilaian dan apresiasi yang baik
terhadap diri pria metroseksual, pria metroseksual merasa ketika dirinya mampu menjaga
asupan makanan ini bisa mencegah kegemukan, dan apabila dirinya tidak gemuk maka
pria metroseksual akan dinilai baik oleh lingkungan.
Pada indikator kepuasan daerah tubuh yaitu kurang puas dengan warna kulit
yang ada saat ini, serta jerawat adalah hal yang sangat mengganggu pria metroseksual.
Ini mempengaruhi harga diri pria metroseksual pada indikator kekuasaan, dimana pada
aitem kekuasaan menyatakan bahwa suka membandingkan diri sendiri dengan orang
lain. Ketika pria metroseksual membandingkan dirinya dengan orang yang memiliki kulit
yang bersih dan terawat ini tentu memberikan motivasi besar pada pria metroseksual
untuk bisa mendapatkan kulit yang lebih baik dari apa yang sudah dimiliki saat ini.
Indikator pengkategorian ukuran tubuh pada body image menyatakan ingin memiliki
tubuh yang lebih tinggi dari saat ini karna masih merasa kurang tinggi di bandingkan
dengan orang lain, dan merasa tidak nyaman dengan berat badan saat ini karena merasa
masih sangat kurus. Indikator ini mempengaruhi harga diri pria metroseksual pada

Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Bina Darma Palembang 2014

indikator kekuasaan yaitu suka membandingkan pendapat orang lain dengan pendapat
sendiri tentang penampilan, ketika pria metroseksual merasa tidak nyaman dengan berat
dan tinggi badan saat ini tentu membuat rasa percaya diri pria metroseksual menurun
terlebih lagi ketika pria metroseksual mendengar komentar atau pendapat orang lain
yang dinilai kurang menyenangkan tentang berat dan tinggi badannya ini membuat pria
metroseksual selalu berupaya untuk bisa merubah itu.
Berdasarkan uraian dan hasil analisis data, peneliti menyimpulkan bahwa
hipotesis yang diajukan oleh peneliti yaitu ada hubungan antara body image dengan
harga diri pada pria metroseksual di Palembang Square dalam penelitian ini diterima.
Adapun bunyi dari hipotesis penelitian ini berdasarkan hasil analisis data yang telah
dilakukan adalah ada hubungan yang sangat signifikan antara body image dengan harga
diri pada pria metroseksual di Palembang Square. Hasil ini menginformasikan bahwa
semakin negatif body image maka semakin rendah harga diri. Sebaliknya, semakin positif
body image, maka semakin tinggi harga diri.
Daftar Pustaka
Artur S. R. & Emily S. R. (2010). Kamus Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Arikunto S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Ed Revisi VI. Jakarta :
PT. Rineka Cipta
Amalia, L. 2007. Citra Tubuh (Body Image) Remaja Perempuan. Jurnal Musawa, Vol. 5,
No.4, Oktober . STAIN Ponogoro.
Azwar, S. (2012). Penyusunan Skala Psikologi Edisi 2. Yogjakarta: Pustaka Pelajar.
Atwater, E. (1999) Psychology

of adjustment personal growth in a changing world

prentice Hall New Jersey.


_________. (2005). Psychology adjustment. Second edition. New Jersey : Printice-Hall.
Bischof, L. J. (1983) Interpreting personality theories Harper dan Row New York.
Brotoharsojo, H., Syabadhyni, B.,Mokaginta,V.A. (2005). Psikologi Ekonomi dan
Konsumen. Jakarta : Bagian Psikologi Industri dan Organisasi Fakultas Psikologi
Universitas Indonesia.
Berk, L. E, (2003) Child development, (6th ed.), MA : Allyn & Bacon, Boston,
Cash,T.F & Pruziky, T. (2002). Body Image : A Handbook Of Theory. Research and
clinical practice. Guiford press
Coopersmith, S. (1967). The Antecendentsof Self Esteem. San Fransisco : Freeman.
Danny, P. (2001). Harga Diri. Diakses dari http://dannypaijo.blogspot.com/2009/03/hargadiri.html.
Depkes.

(2003).

Indeks

Massa

Tubuh.

Diakses

dari

Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Bina Darma Palembang 2014

http://decungkringo.wordpress.com/2012/03/30/indeks-massa-tubuh-imt/
Ghufron, M,N. & Risnawati (2010). Teori-teori psikologi. Jogjakarta: Ar-Ruzz

Media

Grogan, S. (2000). Body Image: Understanding Body Dissatifaction in men, women and
Children (2nd ed). USA & Canada: Psychology Press.
Garliah (2009). Hubungan anatara body image dengan perilaku diet pada remaja. Skripsi
(tidak di terbitkan) Universitas Sumatera Utara.
Hurlock, E.B. (1980). Psikologi perkembangan : suatu pendekatan sepanjang rentang
kehidupan (ed.5) (Istiwidayanti & soedjarwo, pengalih bhs). Jakarta : Erlangga.
______. (1999). Psikologi Perkembangan

: suatu pendekatan Sepanjang Rentang

Kehidupan. Jakarta : Erlangga

Indriana, Y & Yanti, A.W (2008) Body Image Dalam Hubungan Dengan Kompetensi
Interpersonal Pada Remaja. Skripsi (tidak diterbitkan). Medan : Fakultas
Psikologi.
Kartajaya, H., Yuswohadi., Madyani, D., & Indrio , B. D. (2003) Marketing metroseksual in
venus . Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Keliat, B.A. (1992). Gangguan Konsep Diri. Jakarta : EGC (Penerbit buku kedokteran)
Lightstone, Judy. (2002) Body Image. www.edrefferel.com
Melliana, (2006). Hubungan Antara Body Image dan Identitas Diri Pada Remaja. Skripsi
(tidak diterbitkan). Yogyakarta.
Naimah, T. (2008). Pengaruh Komparasi Sosial Pada Public Figure Di Media Massa
Terhadap Body Image Remaja Di Kecamatan Patukraja, Kabupaten Banyumas,
Jurnal Psikologi Penelitian Humanioral, Vol. 9,

No. 2, 2008. Universitas

Muhammadiyah Purwokerto.
Page, A., & Page, C, (2000). Kiat meningkatkan harga diri anda, (Yunita, penerjemah.),
Arean, Jakarta.
Robinson, J. P., Shaver, P.R., & Wrightsman, L. S, Measure of personality and social
psychological attidutes: Volume I of measure of psychological attitudes
California: Academic Press, San Diego, 1991.
Rice, F. P. (1999) The Adolescent: Development relationships, and culture, (9th ed),

Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Bina Darma Palembang 2014

Needham Heights. Allyn & Bacon, MA,


Santrock, J.W (2002). Life Span Development (perkembangan masa hidup). Jilid 1 edisi
ke 5. Terjemahan Juda Damarik & Ahmad Chusairi. Jakarta : Erlangga.
______. (2001) Adolescence : Perkembangan Remaja (edisi ke-6). Jakarta: Penerbit
Erlangga.
Shaffer, D. R, Developmental psychology: Childhood and adolescence, (6th ed.),
Belmont, Wadsworth, CA, 2002.
Siregar, A. (2006). Harga Diri Pada Remaja Obesitas. Diunduh dalam laman
http://www.digitalibrary.usu.ac.id.
Suliswati. (2005) . Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa, Jakarta : Erlangga.
Sugiono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta.
Thompson, J. K. (2000). Body image, Eating Disorders, and Obesity. American
Psychological Association Washington, DC.
Wahyuni.

(2007).

Self

Esteem

Remaja.

Diunduh

dalam

laman

http://danipaijo.blogspot.com
Wardhani (2009). Hubungan antara konformitas dan harga diri dengan perilaku konsumtif
pada remaja putra. Skripsi (tidak diterbitkan). Universitas Sebelas Maret
Surakarta.
.