Anda di halaman 1dari 10

I. PENDAHULUAN

  • A. Latar Belakang dan Masalah

    • 1. Latar Belakang

Tuberkulosis (TBC) dianggap sebagai masalah kesehatan dunia yang penting karena lebih kurang sepertiga penduduk dunia terinfeksi oleh Micobacterium tuberculosae. Pada tahun 1998 ada 3.617.047 kasus TBC yang tercatat di seluruh dunia. Data yang dilaporkan World Health Organitations (WHO) menunjukkan bahwa 95% kasus TBC terjadi di negara berkembang dan 75%-80% terjadi pada usia produktif yaitu 20-49 tahun (Amin dan Bahar, 2006).

Walaupun pengobatan TBC yang efektif sudah tersedia tapi sampai saat ini TBC masih tetap menjadi problem kesehatan dunia yang utama. Pada bulan Maret 1993 WHO mendeklarasikan TBC sebagai global health emergency. Ini disebabkan banyaknya penderita yang tidak berhasil disembuhkan, terutama penderita menular dengan Basil Tahan Asam (BTA) yang positif (Depkes RI, 2002).

Tahun 1999, WHO memperkirakan setiap tahun terjadi 583.000 kasus baru TBC di dunia dengan kematian karena TBC sekitar 140.000. Insiden TBC- BTA positif diperkirakan 130/100.000 penduduk (Amin dan Bahar, 2006).

Indonesia merupakan negara dengan prevalensi TBC ke-3 tertinggi di dunia setelah China dan India. Pada tahun 1998 diperkirakan TBC di China, India dan Indonesia berturut-turut 1.828.000, 1.414.000 dan 591.000 kasus. Berdasarkan survei kesehatan rumah tangga 1985 dan survei kesehatan nasional, TBC menempati ranking nomor 3 sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Prevalensi nasional terakhir TBC paru diperkirakan 0,23% (Amin dan Bahar, 2006 ; Tahitu dan amiruddin, 2007).

Hasil survey tahun 2004 menunjukkan perbedaan nyata pada angka prevalensi dan insidensi kasus TBC di beberapa wilayah Indonesia. Variasi estimasi kasus TBC BTA positif didapatkan 64/100.000 di Jawa dan Bali, 160/100.000 di Sumatera dan 210/100.000 di Kawasan Timur Indonesia.

Case Detection Rate (CDR) atau angka penemuan kasus TBC di Indonesia pada tahun 2005 adalah 68%, telah mendekati target global untuk penemuan kasus pada tahun 2005 sebesar 70% dan target 2007 menjadi 74%. Sedangkan angka keberhasilan pengobatan mencapai 89,7% melebihi target WHO sebesar 85%.

Menurut Tahitu dan Amiruddin (2007), penyakit tuberkulosis paru terbanyak berasal dari keluarga yang berada di bawah garis kemiskinan.

Provinsi Lampung terdiri dari 8 kabupaten dan 2 kota, 159 kecamatan dan 2086 desa/kelurahan. Jumlah penduduk Provinsi Lampung pada tahun 2005 berjumlah 6.983.707 jiwa dengan 30% dari total penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan sehingga Provinsi Lampung cukup rawan terhadap bahaya akibat penyakit TBC.

Saat ini program Penanggulangan TBC di Propinsi Lampung menunjukkan adanya perbaikan dari tahun ke tahun, meski belum dapat mencapai semua target nasional program. Tahun 2006 CDR mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2005 meski masih jauh dari target nasional, yakni dari 34,9% meningkat menjadi sebesar 41,3%. Hal ini memberikan indikasi bahwa program belum begitu bermakna dalam memutuskan rantaipenularan penyakit tuberkulosis.

Penanggulangan TB Paru dilaksanakan dengan Strategi DOTS. Dengan adanya program Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) dalam penanggulangan TB Paru maka pengembangan Unit Pelayanan Kesehatan telah mulai ditingkatkan jumlahnya. Berdasarkan tabel 4.9. dibawah diketahui bahwa angka BTA positif pada tahun 1999-2006 terjadi peningkatan,sedangkan angka konversi dan kesembuhan nampak berfluktuatif naik turun. Untuk itu masih banyak yang harus diperbaiki dan ditingkatkan karena angka kesembuhan TB Paru BTA + ini belum mencapai target ≥ 85%.

Jika jumlah TB paru klinis dibandingkan antara kabupaten/kota maka Kota Bandar Lampung dengan kasus terbesar dan Kota Metro dengan kasus

terkecil, sedangkan BTA positifnya terbesar adalah Kota Bandar Lampung dan terkecil adalah Kota Metro, lebih jelas dapat dilihat grafik dibawah.

Tabel 1. Situasi P2 TB Paru di Propinsi Lampung tahun 1999 – 2006

terkecil, sedangkan BTA positifnya terbesar adalah Kota Bandar Lampung dan terkecil adalah Kota Metro, lebih jelas
terkecil, sedangkan BTA positifnya terbesar adalah Kota Bandar Lampung dan terkecil adalah Kota Metro, lebih jelas

Status sembuh terbesar di Kota Bandar Lampung 90% dan terendah di Kabupaten Way Kanan 76%, lebih jelas dapat dilihat pada grafik diatas. Status sembuh terbesar di Kota Bandar Lampung 90% dan terendahdi Kabupaten Way Kanan 76%, lebih jelas dapat dilihat pada grafik diatas.

.

6
6

Kota Bandar Lampung yang merupakan ibu kota provinsi Lampung merupakan daerah yang cukup padat penduduknya. Kepadatan penduduk ini merupakan salah satu faktor resiko cepatnya penyebaran tuberkulosis paru. Kecamatan Panjang merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kota Bandar Lampung. Menurut data yang dihimpun oleh puskesmas perawatan panjang yang memiliki wilayah kerja di kecamatan panjang, angka penemuan kasus tuberkulosis paru cukup tinggi. Pada tahun 2009 ditemukan 69 penderita (148,6%) dengan BTA (+) dari 837 orang (116,4%) yang suspek tuberkulosis paru. Hal ini merupakan pencapaian yang sangat memuaskan karena target pencapaian suspek tuberkulosis paru (70%) dan penderita dengan BTA (+) (70%) sudah melebihi target yang telah ditentukan oleh dinas kesehatan setempat. Akan tetapi pencapaian target untuk proporsi penderita tuberkulosis paru dengan BTA (+) diantara suspek tuberkulosis paru masih kurang (8,24%) dari target yang ditetapkan (10%). Nilai ini dapat menjadi patokan bagaimana proses penetapan suspek yang diperiksa dahaknya dengan hasil penderita tuberculosis paru BTA (+). Hal ini dapat menggambarkan kualitas sumber daya manusia yakni petugas kesehatan yang bekerja di unit pelayanan kesehatan untuk mendiagnosis TBC secara klinis lalu menganjurkan untuk pemeriksaan dahak.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas maka dalam penulisan ini rumusan masalah yang akan dibahas adalah bagaimana pelaksanaan Program Pencegahan

dan Pemberantasan Penyakit Menular Sub Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit TBC di Puskesmas Perawatan Panjang periode tahun 2013 berhasil ?

B. Tujuan dan Manfaat Penulisan

  • 1. Tujuan Penulisan

    • a. Tujuan umum

Dipahaminya Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular Sub Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit TBC di Puskesmas Perawatan Panjang mulai perencanaan sampai evaluasi program, secara menyeluruh, sehingga dapat meningkatkan mutu dan jangkauan pelayanan pada masyarakat serta tercapainya derajat kesehatan yang optimal.

  • b. Tujuan khusus

1. Mengetahui permasalahan dari pelaksanaan Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular Sub Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit TBC di Puskesmas Perawatan Panjang

  • 2. Diketahuinya kemungkinan penyebab masalah dari Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular Sub Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit TBC di Puskesmas Perawatan Panjang

  • 3. Mampu merumuskan alternatif pemecahan masalah dari Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular Sub Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit TBC di Puskesmas Perawatan panjang

  • 2. Manfaat Penulisan

    • 1. Bagi penulis dapat mengaplikasikan ilmu kedokteran komunitas mengenai evaluasi pelaksanaan program pemberantasan penyakit tuberkulosis paru

    • 2. Bagi masyarakat dapat mengetahui faktor yang mempengaruhi pencarian pengobatan tuberkulosis paru

    • 3. Bagi Puskesmas Perawatan Panjang dapat diketahuinya permasalahan yang ada pada pelaksanaan program pemberantasan penyakit tuberkulosis paru serta dapat dicari alternatif pemecahan masalah.

    • 4. Bagi pengambil kebijakan dalam hal ini Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam rangka peningkatan pelaksanaan program pemberantasan penyakit menular seperti penyakit tuberkulosis

    • 5. Bagi penulis selanjutnya dapat menjadi acuan penulisan dalam mengevaluasi pelaksanaan program yang dilakukan oleh puskesmas