Anda di halaman 1dari 37

Paragonimiasis

Kelas B
Kelompok 7
Hesti Oktavianda
Ayu Novita Trisnawati
Elfa Tessa
Nur Shakilla Khairatul
Rissa Etri Arini
Dina Fitria
Shinta irianti

1111012032
1111012047
1111013002
1111013011
1111013026
1111013054
1111013036

Definisi

Paragonimiasis adalah infeksi parasit makanan


terdapat pada paru-paru yang bisa menyebabkan
sub-akut untuk penyakit radang paru-paru kronis.
Penyakit yang disebabkan lebih dari 30 spesies
trematoda dari genus Paragonimus. Tetapi yang
paling banyak disebabkan oleh Paragonimus
westermani
Cacing dewasa dari Paragonimus westermani
menempati paru-paru
Paragonimus szechuanensis menyebabkan nodul
subkutan

Penyebab
Trematoda penyebab: Paragonimus
westermani
HOSPES
Hospes definitif : Manusia, kucing,
anjing
Hospes perantara I: keong
beroperkulum dari genusHua,
Semisulcospira, Syncera danThiara
(Melania/Semisulcospira sp)
Hospes perantara II : ketam air tawar
dari genusEriocheir, Potamon,
Sesarma dan Parathelpusa
CARA INFEKSI:
Manusia dapat terinfeksi oleh
Paragonimus westermani karena
memakan hospes perantara II yang

Fresh-water crabs like this one


were implicated in a
Paragonimus outbreak
in January of 2007

Epidemiologi

Epidemiologi

Paragonimus
westermaniadalah
kosmopolit
terhadap
mamalia, kosmopolit terhadap manusia banya ditemukan di
daerah Timur Jauh.
Daerah endemic utama adalah Jepang, Korea Selatan,
Taiwan, Tiongkok dan Filiphina.
Kebiasaan di daerah Timur adalah memakan udang batu
yang diasinkan atau disajikan menjadi ketam mabuk.
Ketam mabuk dibuat dengan dicampurkan anggur dan
metaserkaria masih dapat hidup selama beberapa jam dalam
cairan anggur.
Infeksi pada anak terjadi karena ketam air tawar digunakan
sebagai obat campak dengan cara ditumbuk dan diambil
cairannya. Hal ini sering dilakukan di daerah Korea.
Diperkirakan menginfeksi 22 juta orang di seluruh dunia.

Klasifikasi
Kingdom: Animalia
Filum: Platyhelmintes
Kelas: Trematoda
Ordo:Plagiorchida
Famili:Troglorematidae
Genus: Paragonimus
Spesies:ParagonimusWestermani

Morfologi
Telur:
Ukuran : 80 120 x 50
60 mikron bentuk oval
cenderung
asimetris,
terdapat operkulum pada
kutub yang mengecil.
Ukuran operkulum relatif
besar, sehingga kadang
tampak telurnya seperti
terpotong berisi embrio.
Isi telur berupa morula.

Eggs of P. kellicotti in a Pap-stained


bronchial alveolar lavage (BAL)
specimen at 400x magnification.
Images courtesy of Dr. Gary Procop.

Morfologi
Cacing dewasa:
Cacing dewasa berwarna merah kecoklatan,
berukuran 12-18 x 4-6 mm dengan ketebalan tubuhnya
antara 3 5 mm.
Bersifat hermaprodit, sistem reproduksinya ovivar.
Batil isap kepala besarnya sama dengan batil isap perut
Batil isap perut terletak tepat di anterior garis anterior.
Testis berlobus dalam dan tidak teratur,terletak miring
dan berada sepertiga bagian dari posterior tubuh.
Ovarium besar dan berlobus,terletak disebelah anterior
testis,disebelah kananberhadapan dengan uterus
yang berkelak kelok.

Morfologi

Morfologi

The egg form leaves the definitive


host and hatches in the miracidium
that penestrates the snail.

The adult fluke is found in


its mammalian host.

10

The metacercaria is the form


ingested by humans.

The cercaria is the form that


penetrates the crab.

11

Daur Hidup Cacing

1.

2.

3.

4.

5.

Telur di keluarkan bersama feses atau


sputum yang berisi sel telur.
Telur menjadi matang dalam waktu kirakira 16 hari lalu menetas.
Mirasidium akan keluar dan mencari
herpes perantara pertama yaitu keong air
(siput bulinus / semisulcospira).
Didalam
tubuh
keong
mirasidium
berkembang
menjadi
sporokista
dan
kemudian menjadi redia.
Redia akan menghasilkan serkaria.

6. Serkaria akan keluar dari tubuh keong dan


mencari herpes perantara kedua, yaitu
ketam/kepiting.
7. Setelah masuk ketubuh kepiting, serkaria akan
melepaskan ekornya dan membentuk kista
(metaserkaria) didalam kulit dibawah sisik.
8. Metaserkaria akan masuk kedalam tubuh
manusia yang mengkonsumsi kepiting yang
mengandung metaserkaria yang dimasak
kurang matang.
9. Metaserkaria akan mengalami proses eksistasi
di duodenum dan keluarlah larva.
10. Larva menembus dinding usus halus rongga
perut diafragma menuju paru-paru.

Penyebaran

Gejala pertama di mulai dengan adanya batuk


kering yang lama kelamaan menjadi batuk darah.
Cacing dewasa dapat pula bermigrasi ke alatalat
lain dan menimbulkan abses pada alat tersebut
misalnya pada hati dan empedu.
Saat larva masuk dalam saluran empedu dan
menjadi dewasa, parasit ini dapat menyebabkan
iritasi pada saluran empedu, penebalan dinding
saluran, peradangan sel hati dan dalam stadium
lanjut akan menyebabkan sirosis hati yang
disertai oedema.

Patologi
Proses dibagi menjadi tiga tahap:
Tahap abses: cacing bermigrasi dari usus ke paruparu, menyebabkan perdarahan nekrosis jaringan,
makrofag, eosinofil dan neutrofil dikumpulkan
menyebabkan abses eosinophilous
Tahap Kista: cacing memancing reaksi granuloma
yang
secara
bertahap
melanjutkan
untuk
mengembangkan fibroid enkapsulasi
Tahap Fibrosis dan bekas luka : bahan internal
diekskresikan atau diserap, akibatnya proliferasi
jaringan fibrosa
Masa inkubasi: 3-6 bulan

Manifestasi klinis
Gejala sistemik: menggigil, demam ringan, kelemahan, sakit
kepala, nyeri dada, keringat malam. Beberapa pasien
mengalami urtikaria dan asma.
Gejala pernafasan: keterlibatan paru-paru ditandai dengan:
sputum berkarat, nyeri dada, batuk, hymoptysis, dahak,
hydrothorax, telur dapat ditemukan dalam dahak
Gejala Perut: nyeri umum perut, diare, mual, muntah, dan
hepatomegaly.asites, kepatuhan usus dan obstruksi terjadi
pada infeksi berat
Gejala sistem saraf: gejala yang rumit karena variasi dari
lokasi cacing:
Otak: hipertensi intrakranial
Kerusakan jaringan otak
Stimulasi yang abnormal dari jaringan otak:
peradangan

Apabila cacing dewasa berada dalam kista paruparu atau bronkus, penderita dapat mengalami
gejala batuk kering dan sesak nafas, sakit dada
dan demam.
Kasus ini disebut denganhemoptisis endemisdan
kejadiannya terjadi pada pagi hari. Sepintas
gejala ini mirip dengantuberculosisaktif.
Penderita
biasanya
mengeluarkan
sputum
berdarah (berwarna karat).
Pada pemeriksaan fisik menunjukkan suatu
bronkopneumoni
dengan
efusi
pleural.
(Onggowaluyo, 2001)

Migrasi cacing dewasa ke organ lainnya dapat


menimbulkan gejala yang berbeda-beda tergantung
dari organ yang diserang.
Keadaan selanjutnya, cacing berada pada otak dan
dapat menimbulkan desakan jaringan yang ada
disekitarnya.
Hal ini menyebabkan prognosis yang buruk karena
penderita akan mengalami epilepsy, hemiplegia atau
monoplegia.
Cacing yang ada di bawah kulit dapat menimbulkan
tumor.
Secara patologis, lokalisasi di paru terdapat reaksireaksi jaringan yang mendahului pembentukan
kapsul jaringan fibrosis (bungkus berwarna biru
mengandung sepasang cacing, telur dan infiltrasi
radang). (Onggowaluyo, 2001)

Penyakit akibat infeksi cacing ini dinamakan


Paraginiasis. Selama invasi hanya memberi sedikit
gangguan. Cacing dewasa dapat memberi gangguan
di
Paru-paru:
Berupa kerusakan jaringan
Tampak juga infiltrasi sel jaringan
Reaksi jaringan membentuk kapsul fibrotik (kista), di
dalamnya terdapat cacing dan juga telur, jika kista
ini berada di bronchus maka akan dapat pecah.
Gejala mula-mula batuk kering, kemudian batuk
darah.

Ektopik infeksi:
Telur-telur yang berada di jaringan organ
merupakan pusat dari pseudo tuberculosis
(TB palsu).
Di otak = gejala cerebral (epilepsi)
Di usus = abses dengan gejala diare
Di jaringan otot = ulcersa
Di hepar, dinding usus, pulmo, otot,
testis, otak, peritoneum, pleura terdapat
bentuk kista.

Luasnya organ yang mengalami kerusakan tergantung


pada jumlah cacing yang terdapat di saluran empedu
dan lamanya infeksi. Gejala yang muncul dapat
dikelompokkan menjadi 3 tahap, yaitu :
a.

Stadium ringan : tidak ditemukan gejala

b.

Stadium progresif : terjadi penurunan nafsu makan,


perut terasa penuh, diare

c.

Stadium lanjut : didapatkan sindrom hipertensi portal


yang terdiri dari pembesaran hati, ikterus, oedema
dan sirosis hepatic.

Diagnosis
1. Teknik parasitologi untuk mendeteksi telur Paragonimus dalam sputum
atau tinja sampel
biaya dan sensitivitas teknik ini dapat bervariasi menurut jenis teknik yang
digunakan;
hanya dapat digunakan jika cacing telah mencapai paru-paru dan mulai
bertelur;
2. Teknik imunologi untuk mendeteksi antibodi-cacing tertentu dalam sampel
serum atau antigen-cacing yang ada di serum

teknik ini biasanya lebih sensitif dibandingkan dengan yang umum


digunakan teknik parasitologi;
deteksi antibodi tidak dapat membedakan antara infeksi saat ini, baru dan
masa lalu;

kemampuan metoda ini


untuk mengukur intensitas infeksi masih
diperdebatkan;
teknik ini masih pada tahap percobaan;
3. Teknik molekuler seperti polymerase chain reaction juga masih pada tahap
percobaan.

Farmakologi untuk
Paragonimiasis


1.

Obat Golongan Praziquantel


Praziquantel merupakan salah satu golongan obat pilihan
untuk penyakit Paragonimiasis atau infeksi paru-paru yang
disebabkan oleh bakteriParagonimus westermanii.
Praziquantel merupakan obat yangdirekomendasikan oleh
WHO untuk Paragonimiasis.
Nama obat dagang yang beredar untuk golongan Praziquantel
adalahBILTRICIDE (Tablets: 600 mg)
Biltricide ini diberikan secara per oral dengan dosis : 25 mg /
kg selama 2 hari.
Biltricide memiliki tingkat kesembuhan sebesar80-90%.

Mekanisme kerja : meningkatkan permeabilitas sel membran


pada cacing mengakibatkan kehilangan kalsium intraselular,
kontraksi secara besar-besaran dan paralisis otot cacing.
KI :Ocular cysticercosis.
Interaksi Cimetidine: meningkatkan kadar plasma
praziquantel , meningkatkan efek farmakologi and adverse
effects.
Efek Samping
CNS :Malaise, sakit kepala, deman, mengantuk,pusing
DERMATOLOGIC: Urticaria.
GI: rasa tidak enak pada perut dengan/ tanpa nausea.
HEPATIC: peningkatan enzim hati.

Farmakokinetik
Absorpsi
Praziquantel diabsorpsi dengan baik setelah
Sekitar 80% dari dosis oral obat ini diserap dari
saluran pencernaan;
Namun, karena metabolisme lintas pertama yang
ekstensif, hanya sebagian kecil mencapai sirkulasi
sistemik sebagai
Konsentrasi serum puncak dari praziquantel terjadi
sekitar 1-3 jam setelah pemberian oral dosis biasa

Farmakokinetik
Distribusi
Distribusi praziquantel ke dalam jaringan tubuh manusia dan
cairan belum sepenuhnya diketahui
Dalam penelitian pada tikus, konsentrasi bebas (tidak terikat)
praziquantel di CSF yang sama dengan yang di serum.
Konsentrasi obat dalam CSF adalah dilaporkan 14-20% dari
total konkuren (bebas plus protein terikat)
Praziquantel
didistribusikan ke dalam air susu dalam
konsentrasi sekitar 25% konsentrasi serum ibu,
Eliminasi
Praziquantel memiliki serum paruh sekitar 0,8-1,5 jam pada
orang dewasa dengan fungsi ginjal dan hati normal, Namun,
serum paruh metabolit obat adalah sekitar 4-5 jam.
Diekresikan lewar urine

peringatan :
Pregnancy: Category B.
Laktasi: diekskresikan pada air susu
Anak-anak < 4th
Administration/Storage
Diminum pada saat makan dengan air
Tablet tidak boleh dikunyah
Simpan pada suhu ruangan

2. Obat Golongan Bithionol


Bithionol merupakan salah satu obat yang
digunakan
untuk
pengobatanpenyakit
Paragonimiasis atau infeksi paru-paru yang
disebabkan
olehbakteri
Paragonimus
westermanii.
Bithionol ini bukan merupakan obatpilihan
untuk Paragonimiasis tetapi merupakan obat
alternatif.
Hal ini disebabkan karena Bithionol memiliki
efek yang lebih buruk.

Efek Samping
Anoreksia, mual, muntah,rasa tidak nyaman
pada perut, diare, salivation, pusing, sakit
kepala, and skin rashes
Bithionol diberikan secara peroral dengan
dosis 30 sampai 50 mg / kg setiap hari selama
10 sampai 15 dosis

3. Triclabendazole
Triclabendazole merupakan salah satu obat
yang direkomendasikan oleh WHO untuk
pengobatan paragonimiasis.
Tetapi sekarang ini, obat golongan ini tidak
boleh digunakan di Amerika Serikat.
Triclabendazole diberikan secara peroral dengan
dosis 10 mg/kg /hari selama 3 hari, atau 20
mg/kg dibagi dalam 2 dosis selama 1 hari.
Triclabendazole
ini
memiliki
tingkat
kesembuhan sebesar 98,5 %.

Terapi tambahan
Jika menyebabkan lesi pada paru bagian
luar mungkin perlu pembedahan
Terapi
juga mungkin diperlukan untuk
kejang disebabkan oleh reaksi inflamasi
terhadap kematian cacing di otak.

Komplikasi
Komplikasi paru termasuk pneumonia,
bronkitis, bronkiektasis (pelebaran bronkus),
abses paru, efusi pleura, dan empiema
(nanah di dalam rongga jamak).
Komplikasi serebral termasuk kejang dan
koma.
Komplikasi kulit termasuk lesi kulit alergi

Pencegahan
1.

2.

3.

Lakukan penyuluhan kesehatan kepada


masyarakat di daerah endemis tentang
siklus hidup parasit
Masak kepiting dan udang karang untuk
setidaknya 145 F (~ 63 C ). dan
menghindari memakannya secara langsung
(mentah).
Di daerah endemis lakukan pemeriksaan air
terhadap kemungkinan terinfeksinya kerang,
keong, udang karang di perairan tersebut.

4.

5.

6.

Pembuangan tinja dan sputum pada


tempatnya
(jamban)juga
dapat
mengurangi penyebaran cacing ini.
Wisatawan
harus
dianjurkan
untuk
menghindari makanan tradisional yang
mengandung krustasea air tawar matang.
Gunakan Moluskicide untuk mengendalikan
populasi Keong