Anda di halaman 1dari 19

PRINSIP KERJA ALAT BANTU DENGAR*)

Fitria Rezqi Dyah Winanti**)


Abstrak
Semakin berkembangnya teknologi, gangguan pendengaran hal yang lazim
ditemui saat ini, seperti gangguan pendengaran akibat bising salah satunya
penggunaan earphone atau headphone terlalu lama, terutama bagi remaja Indonesia
yang gemar bermain game online di warnet. Penggunaan earphone lebih dari 2 jam
perhari dapat mengalami gangguan pendengaran dan resiko hilangnya pendengaran
terhadap situasi sekitar. Selain itu, gangguan pendengaran juga diakibatkan usia
lanjut. Dengan demikian di buatlah alat bantu dengar yang dapat membantu
seseorang yang mengalami gangguan pendengaran agar dapat mendengar lebih baik
dengan cara mengamplifikasi suara yang kurang pada setiap pendengaran seseorang.
Kata kunci : Gangguan Pendengaran, Alat Bantu Dengar
Pendahuluan
Gangguan Pendengaran Akibat Bising (GPAB) atau Noise Induce Hearing
Lost (NIHL) hal yang lazim ditemui saat ini dengan semakin berkembangnya
teknologi, penyebab GPAB di Indonesia salah satunya karena penggunaan earphone
atau headphone yang terlalu lama, terutama bagi remaja indonesia yang gemar
bermain game online di warnet. Pengguna game online di Indonesia cukup besar
jumlahnya yaitu mencapai 6,5 juta orang atau bertambah sebesar 500 ribu orang dari
jumlah gamer pada tahun 2010 yaitu 6 juta orang. Penelitian yang dilakukan oleh
Julia Rahadian, Nawanto Agung Prastowo dan Rika Haryono dari Departemen
Fisiologi, Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya, bahwa ratarata disetiap counter
game online menyediakan earphone untuk para gamer. Survei yang dilakukan ke
warung internet (warnet) di wilayah Jakarta terhadap 40 naracoba berusia 18-19 tahun
yang dikelompokkan ke dalam kelompok kontrol 20 orang dan paparan 20 orang,

* Telah diseminarkan pada tanggal 3 Mei 2014


**Mahasiswa Pendidikan Fisika 2011 Kampus Palembang

menunjukkan bahwa 20 orang dengan kelompok paparan yang bermain game online
dengan menggunakan earphone lebih dari 2 jam perhari mengalami gangguan
pendengaran dan resiko hilangnya pendengaran terhadap situasi sekitar (Rahadian,
Prastowo dan Haryono, 2010).
Menurut Muyassaroh (2012) gangguan pendengaran juga karena faktor
presbikusis. Presbikusis adalah gangguan pendengaran sensorineural pada usia lanjut
akibat proses degenerasi organ pendengaran yang terjadi perlahan dan simetris pada
kedua sisi telinga. Kemudian menurut Dewi (2007) presbiakusis tidak dapat
disembuhkan. Gangguan dengar presbiakusis tipe sensorineural untuk memperbaiki
pendengarannya dengan menggunakan alat bantu dengar. Dengan demikian
dibutuhkan alat bantu dengar untuk membantu penderita presbiakusis maupun
penderita pendengaran akibat bising dan penggunanan headphone atau earphone
yang berlebihan dalam membantu sisa pendengaran untuk berkomunikasi dengan
baik sehingga dapat menumbuhkan harapan baru bagi penderita agar dapat
mendengar lebih baik lagi dengan cara mengamplifikasi suara yang kurang pada
setiap pendengaran seseorang.
Berdasarkan uraian diatas, maka saya tertarik untuk membuat alat bantu
dengar sebagai salah satu alternatif yang bisa digunakan oleh penderita gangguan
pendengaran dan juga memberikan informasi mengenai prinsip kerja alat bantu
dengar.
Tinjauan Pustaka
a. Pengertian Gelombang
Menurut Jati.E.M.D dan Priyambodo.K.T (2007) gelombang merupakan
gejala pemindahan usikan atau gangguan sehingga gelombang dapat di definisikan
sebagai getaran yang merambat melalui medium yang dapat berupa zat padat, cair
dan gas. Gelombang terjadi karena adanya sumber getaran yang bergerak terus
menerus. Medium pada proses perambatan gelombang tidak selalu ikut berpindah

tempat bersama dengan rambatan gelombang. Misalnya bunyi merambat melalui


medium udara, maka partikel-partikel udara akan bergerak osilasi (lokal) saja.
Menurut Harahap (2010) gelombang berdasarkan arah getar dan arah rambat,
gelombang dibedakan menjadi dua jenis yaitu gelombang transversal dan gelombang
longitudinal. Gelombang transversal adalah gelombang yang arah rambatannya tegak
lurus terhadap arah getarnya, contohnya gelombang pada tali , gelombang permukaan
air, gelombang cahaya. Sedangkan gelombang longitudinal adalah gelombang yang
arah merambatnya searah dengan arah getarnya, contohnya gelombang bunyi dan
gelombang pada pegas. Gelombang ini terdiri dari rapatan dan regangan. Rapatan
adalah daerah-daerah dimana kumparan-kumparan mendekat selama sesaat.
Regangan adalah daerah-daerah dimana kumparan-kumparan menjauh selama sesaat.
Rapatan dan regangan berhubungan dengan puncak dan lembah pada gelombang
transversal. Gelombang transversal dan gelombang longitudinal dapat digambarkan
secara grafis pada gambar sebagai berikut :

Gambar 1. Gelombang Transversal


Sumber : http://blog.uad.ac.id/wenyseptiani/2011/12/03/gelombang-longitudinal/

Gambar 2. Gelombang Longitudinal


Sumber : http://anangsb.blogspot.com/2012/08/gelombang-mekanik.html

Dalam makalah ini dibahas gelombang mekanik jenis longitudional yaitu pada
gelombang bunyi.
b. Pengertian Bunyi
Menurut Harahap, R, N (2010) bunyi secara harfiah dapat diartikan sebagai
sesuatu yang kita dengar. Bunyi merupakan hasil getaran dari partikel-partikel yang
berada di udara dan energi yang terkandung dalam bunyi dapat meningkat secara
cepat dan dapat menempuh jarak yang sangat jauh. Menurut (Jati.E.M.D dan
Priyambodo.K.T, 2007) bunyi merupakan gelombang mekanis jenis longitudional
yang merambat dan sumbernya berupa benda yang bergetar. Bunyi bisa kita dengar
sebab getaran benda sebagai sumber bunyi itu menggetarkan udara disekitarnya dan
melalui medium udara itu bunyi merambat sampai gendang telinga.. Bunyi sebagai
pergerakan gelombang di udara yang terjadi bila sumber bunyi mengubah partikel
terdekat dari posisi diam menjadi partikel yang bergerak. Secara lebih mendetail,
Harahap (2010) menyatakan bahwa bunyi mempunyai dua defenisi, yaitu:
1. Secara fisis, bunyi adalah penyimpangan tekanan, pergeseran partikel dalam
medium elastik seperti udara. Definisi ini dikenal sebagai bunyi Obyektif.
2. Secara fisiologis, bunyi adalah sensasi pendengaran yang disebabkan
penyimpangan fisis yang digambarkan pada bagian atas. Hal ini disebut sebagai
bunyi subyektif.
Jadi bunyi adalah suatu bentuk gelombang longitudinal yang merambat secara
perapatan dan perenggangan terbentuk oleh partikel zat perantara serta ditimbulkan
oleh sumber bunyi yang mengalami getaran. Rambatan gelombang bunyi disebabkan
oleh lapisan perapatan dan peregangan partikel-partikel udara yang bergerak ke luar,
yaitu karena penyimpangan tekanan. Gelombang bunyi adalah gelombang yang
dirambatkan sebagai gelombang mekanik longitudinal yang dapat menjalar dalam
medium padat, cair dan gas. Gelombang bunyi ini merupakan vibrasi atau getaran
molekul-molekul zat dan saling beradu satu sama lain namun demikian zat tersebut

terkoordinasi menghasilkan gelombang serta mentransmisikan energi bahkan tidak


pernah terjadi perpindahan partikel.
1. Intensitas Bunyi
Menurut sysawal (2013) intensitas bunyi didefinisikan sebagai jumlah energi
gelombang per satuan waktu per satuan luas yang tegak lurus terhadap arah rambat
gelombang. Jadi menurut Handayani dan Damari (2009) intensitas bunyi adalah
jumlah energi bunyi persatuan luas. Sehingga dapat dituliskan hubungan antara
daya, luas, dan intensitas memenuhi persamaan sebagai berikut :
I=

P
A

Keterangan :
I = Intensitas bunyi (W/m2)
A = Luas penampang (m2)
P = Daya gelombang bunyi (W)
2. Taraf Intensitas Bunyi
Menurut Indrajit (2009) menyatakan setiap makhluk di alam semesta ini
memiliki batas intensitas pendengaran. Batas intensitas bunyi yang dapat didengar
telinga manusia adalah sebagai berikut :
1. Intensitas terkecil masih dapat menimbulkan rangsangan pendengaran pada
telinga adala sebesar 10-12 watt/m2 yang disebut sebagai intensitas ambang
pendengaran.
2. Intensitas terbesar yang masih mampu diterima telinga manusia tanpa rasa
sakit adalah sebesar 1 watt/m2. Taraf intensitas (TI) sebanding dengan
logaritma perbandingan antara intensitas bunyi dan harga ambang intensitas
bunyi yang terdengar dan memiliki satuan decibel (dB). Secara matematis,
hubungan antara I dan TI ditulis
TI =10 log (

I
)
I0

Keterangan :
TI = Taraf intensitas (dB)
I = Intensitas bunyi sumber (W/m2)
I0 = Intensitas ambang bawah (W/m2)
c. Telinga
1. Definisi Telinga
Telinga merupakan organ tubuh untuk mendengar. Dalam istilah, Telinga
adalah alat indra yang memiliki fungsi untuk mendengar suara yang ada di sekitar
kita sehingga kita dapat mengidentifikasi apa yang terjadi di sekitar kita tanpa harus
melihatnya dengan mata kepala kita sendiri. Telinga selain sebagai alat pendengaran
juga untuk menjaga keseimbangan (Khristiyono, 2008).
2. Bagian-bagian Telinga
Menurut Khristiyono (2008) telinga tersusun dari tiga bagian telinga yaitu
telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam.

Gambar 3. Bagian-bagian Telinga


Sumber : http://ridhwanyunaser.blogspot.com/2013/10/definisi-telinga-bagian-bagian-telinga.html

3.

Proses Telinga Mendengar


Menurut Sujatmika (2013) proses mendengar merupakan suatu peristiwa yang

penting. Agar pendengaran dapat terjadi maka dibutuhkan sumber bunyi, media
rambat, dan alat pendengar. Manusia memiliki alat pendengaran berupa telinga, suatu
alat yang mampu menangkap getaran suara dari lingkungan dan mengubahnya
menjadi impuls pada sistem syaraf yang kemudian pada pusat pendengaran di otak
akan diterjemahkan. Dengan demikian, kegiatan mendengar sebenarnya dilakukan
oleh otak sedangkan telinga berfungsi sebagai alat pendengaran.

Sumber bunyi seperti petikan dawai, televisi, radio atau suara manusia akan
menyebabkan getaran di udara. Getaran tersebut akan merambat sampai ke telinga
bagian luar yang terdiri dari daun telinga, lubang telinga, dan gendang telinga
(membran timpani). Daun telinga digunakan untuk memfokuskan atau mengarahkan
getaran menuju gendang telinga. Saat getaran udara itu mengenai gendang telinga,
maka akan menyebabkan gendang telinga bergetar dengan gerakan maju mundur
seperti piston. Gendang telinga mampu menguatkan getaran dari sumber bunyi asal.
Walaupun demikian, tidak semua sumber bunyi mampu menggetarkan gendang
telinga. Kisaran bunyi yang dapat didengar sekitar 20 20.000 Hz yang lebih dikenal
dengan audiosonik.
Getaran kemudian diteruskan melalui tulang- tulang pendengaran. Terdiri dari
tulang martil, landasan dan sanggurdi. Pada akhirnya getaran diteruskan masuk pada
telinga bagian dalam. Pada telinga bagian dalam, getaran dari tulang pendengaran
akan menggetarkan cairan yang ada pada koklea. Saluran koklea berperan dalam
proses pendengaran. Koklea merupakan saluran melingkar seperti rumah siput, pada
ujung koklea ini terdapat rambut syaraf yang berhubungan dengan sistem saraf
pendengaran di otak. Getaran yang diteruskan sampai pada ujung koklea ini
menyebabkan merambatnya impuls menuju otak. Pusat pendengaran pada akhirnya
menterjemahkan impuls tersebut menjadi sensasi pendengaran. Adapun kemampuan
batas dengar telinga manusia yang telah diteliti oleh pemerintah Amerika Serikat, U.S
Government Occupational Safety and Healthy Act dituliskan sebagai berikut :
Tabel 1. Batas Pendengaran Telinga Manusia (Prabawa, 2012)
Tabel Batas Pendengaran Manusia
90 dB
8 jam
92 dB
6 jam
95 dB
4 jam
97 dB
3 jam
100 dB
2 jam
105 dB
1 jam
110 dB
30 menit
7

115 dB
4.

15 menit

Gangguan Pendengaran
Menurut Budianor (2013) menyatakan secara medis jenis gangguan

pendengaran sebagai berikut :


1. Conductive hearing Loss, disebabkan oleh masalah yang terjadi pada telinga
luar atau tengah dan berkaitan dengan masalah penghantaran suara.
Kemungkinan penyebab bisa dari tertumpuknya earwax atau kotoran telinga,
infeksi atau pertumbuhan telinga bagian luar, adanya lubang pada gendang
telinga, penyakit yang disebut dengan otosklerosis (yang menyebabkan
rangkaian tulang-tulang pendengaran menjadi kaku dan tidak dapat bergetar)
atau faktor keturunan. Conductive hearing loss biasanya bisa disembuhkan
secara medis, namun bila tidak dapat maka alat bantu dengar biasanya dapat
membantu mengatasinya.
2. Sensorineural hearing loss, ini adalah istilah untuk menggambarkan adanya
masalah pada telinga bagian dalam, baik di koklea, syaraf pendengaran atau
sistem pendengaran pusat. Gangguan dengan tipe ini bisa disebabkan oleh
berbagai hal namun kebanyakan disebabkan oleh kerusakan pada sel rambut
didalam koklea akibat penuaan, atau rusak akibat suara yang terlalu keras.
Gangguan pendengaran adalah tipe Sensorineural hearing loss jarang yang
bisa diatasi secara medis, namun seringkali alat bantu dengar dapat
membantu.
3. Mixed Hearing Loss (gangguan pendengaran campuran), dimana kondisi
gangguan pendengarannya ada unsur konduktif dan sensorineural. Banyak
orang dengan gangguan pendengaran jenis ini dapat terbantu bila memakai
alat bantu dengar.
Tabel 2. Derajat Gangguan Pendengaran (Kutz, 2013)
Derajat Gangguan

Gangguan Pendengaran

Pendengaran
Normal
Gangguan dengar ringan
Gangguan dengar sedang
Gangguan dengar sedang
Gangguan dengar sangat

0 sampai 25 dB
26 sampai 40 dB
41 sampai 60 dB
61 sampai 90 dB
Lebih dari 90dB

berat
d. Komponen-Komponen Alat Bantu Dengar
1. Resistor
Menurut Hasan (2012) resistor adalah komponen elektronika yang bersifat
tahanan atau penghambat, satuan resistor adalah Ohm. Resistor memiliki gelang
warna yang merupakan kode ukuran dari resistor tersebut. Resistor karbon merupakan
resistor yang paling umum untuk dipergunakan dalam penggunaan dalam segala
rangkaian elektronik. Elemen resistifnya dibuat dari campuran serbuk karbon atau
grafit karbon (seperti isi pensil) dengan keramik (tanah liat). Campuran tersebut
kemudian dibentuk menjadi bentuk silindris dan kawat logam atau konduktor yang
melekat pada masing-masing ujung untuk memberikan sambungan listrik sebelum
dilapisi dengan bahan isolasi luar dan tanda-tanda kode warna.

Gambar 4. Simbol Resistor


Sumber : http://ismulbat.files.wordpress.com/2011/11/buku-elektro3_ver2_.pdf

Gambar 5. Resistor
Sumber : http://www.iptekinfo.com/2014/01/pengertian-dan-fungsi-resistor.html

2. Kapasitor

Menurut Hasan (2012) kapasitor adalah komponen yang terdiri dua pelat
logam yang dipisahkan dengan isolator. Isolator ini menunjukkan nama dari kapasitor
tersebut. Sifat kapasitor adalah dapat menerima arus listrik dan menyimpannya dalam
waktu relatif. Simbol kapasitor dalam rangkaian adalah C. Satuan kapasitor disebut
Farad (F). Kemampuan untuk menyimpan muatan listrik pada kapasitor disebut
dengan kapasitansi atau kapasitas.

Gambar 6. Simbol Kondensator


Sumber : http://manalor.files.wordpress.com/2012/09/mengenal-komponen-elektronika.pdf

Gambar 7. Kapasitor
Sumber : https://www.academia.edu/4890577/Kapasitor

3. IC (Integrated Circuit)
Menurut Zaki (2011) Integrated Circuit (IC) adalah gabungan dari beberapa
komponen elektronika yang disatukan berbentuk chip kecil. IC digunakan
untuk beberapa keperluan pembuatan peralatan elektronik agar mudah dirangkai
menjadi peralatan yang berukuran relatif kecil. IC terbuat dari bahan semikundoktor
yaitu gabungan dari resistor, kapasitor, dioda dan transistor yang terintegrasi. Dalam
pembuatan alat ini dibutuhkan sebuah IC yang dapat memproses suara kemudian
dikuatkan agar dapat digunakan dengan baik, sehingga diperlukan IC LM 358. IC LM
358 ini memiliki dua buah operational amplifier dan penguatan sampai 100 dB.

Gambar 8. IC LM 358
Sumber : http://datasheet.octopart.com/LM358-Texas-Instruments-datasheet-117464.pdf

4. Potensiometer

10

Menurut Alviansyah (2010) potensiometer adalah sebuah resistor yang nilai


hambatannya dapat diubah-ubah dengan memutar poros yang telah tersedia.
Potensiometer memiliki tiga terminal dengan kontak geser yang membentuk pembagi
tegangan yang diatur. Potensiometer biasanya digunakan untuk mengontrol perangkat
listrik seperti control volume pada peralatan audio. Potensiometer dioperasikan oleh
mekanisme yang dapat digunakan sebagai transduser posisi, misalnya dalam joystick.

Gambar 9. Simbol Potensiometer


Sumber : http://v4z4.wordpress.com/2010/05/03/komponen-elektronika/

Gambar 10. Potensiometer


Sumber : http://www.futurlec.com/Potentiometers/POT50K.shtml

5. Baterai
Baterai adalah suatu alat yang menghasilkan energi listrik dengan proses
kimia. Bagian-bagian baterai :

Gambar 11. Bagian-bagian Baterai


Sumber : http://www.scribd.com/doc/82519105/Definisi-Baterai

Keterangan :
1. Batang karbon (C) sebagai kutub positif yang dilapisi oleh kuningan.

11

2. Amonium Clorida (NH4CL) sebagai larutan elektrolit dan memisahkan


dua kutub berlawanan tersebut.
3. Serbuk dalam baterai terdiri dari Mangan dioksida (MnO2), serbuk C
batu kawi.
4. Seng (Zn) sebagai kutub negatif.
6. Mic Kondensor
Microphone (disingkat mic) merupakan tranduser yang mendeteksi sinyal
suara dan menghasilkan sinyal elektrik. Ketika mikrofon menerima sinyal suara,
sinyal suara akan menggetarkan membran akibatnya kumparan kawat kecil yang
berada dibelakang membran ikut bergetar. Kumparan kawat kecil itu dikelilingi oleh
medan magnet yang tercipta dari sebuah magnet permanen kecil. Pergerakan
kumparan kawat kecil di medan magnet ini akan mengakibatkan terbentuknya sinyal
listrik (Sumandari, 2008).

Gambar 12. Microphone Condensor


Sumber : http://www.hisupplier.com/a-condenser-microphone/

7. Speaker
Menurut Zaki (2011) speaker adalah bagian dari sistem suara yang
mempunyai spesifikasi paling sedikit namun paling menentukan kualitas dari bagian
suara. Speaker atau pengeras suara merupakan transduser yang mengubah sinyal
elektrik ke frekuensi audio (suara) dengan cara menggetarkan komponennya yang
berbentuk selaput. Pada dasarnya speaker merupakan mesin penterjemah akhir,
kebalikan dari mikrofon. Speaker membawa sinyal elektrik dan mengubahnya
kembali menjadi getaran untuk membuat gelombang suara. Elemen terpenting dalam
sistem speaker adalah diafragma dan magnet. Pada alat ini menggunakan earphone
sebagai penterjemah akhir.

12

Gambar 13. Earphone


Sumber : http://www.cowonindia.in/Products/Media-Players--Accessories-Earphones/Cowon/Cowon-Earphone/pid456291.aspx

8. Saklar
Saklar adalah sebuah perangkat yang untuk memutuskan jaringan listrik atau
untuk menghubungkannya. Jadi saklar pada dasarnya adalah alat penyambung atau
pemutus aliran listrik. Secara sederhana, saklar terdiri dua bilah logam yang
menempel pada suatu rangkaian, dan bisa terhubung atau terpisah sesuai dengan
keadaan sambung (on) atau putus (off) dalam rangkaian itu (Febrianto, 2012).

Gambar 14. Simbol Saklar


Sumber : http://aimgembong.wordpress.com/category/tentang-kami/

Gambar 15. Saklar


Sumber : http://pigment7up.com/index.php?main_page=index&cPath=52

9. LED (Light Emitting Diode)


Menurut Alakadarya (2011) LED adalah komponen elektronika jenis dioda
yang mampu memancarkan cahaya. LED merupakan produk temuan lain setelah
diode. LED bisa memancarkan cahaya berdasarkan bahan yang dimilikinya dan
merupakan suatu lampu indikator dalam perangkat elektronika yang biasanya
memiliki fungsi untuk menunjukkan status dari perangkat elektronika tersebut.

13

Gambar 16. Simbol LED


Sumber : http://substitutionweb.blogspot.com/2011_05_01_archive.html

Gambar 17. LED


Sumber : http://bayangna.blogspot.com/2014_03_01_archive.html

Alat dan Bahan


Dalam pembuatan alat bantu dengar ini dibutuhkan alat dan bahan antara lain :
Tabel 3. Bahan Pembuatan Alat Bantu Dengar
No.
1.

Nama Alat dan Bahan


Kapasitor 100 nF

Jumlah
3

2.

Kapasitor 4,7 F

3.

Kapasitor 47 F

4.

LED

5.

Saklar

Gambar

14

6.

Mic Condensor

7.

IC LM 358

8.

Resistor 10 K

9.

Resistor 1 K

10.

Potensiometer

11.

Headset

12.

Kabel

13.

Baterai 9 Volt

14.

PCB

Tabel 4. Tabel Alat Pembuatan Alat Bantu Dengar

15

No.
1.

Nama Alat dan Bahan


Solder

Jumlah
1

2.

Timah

3.

Gunting

Gambar

Pembahasan

Gambar 18. Sistematika Alat

a. Prinsip Kerja Alat Bantu Dengar


Pada dasarnya alat bantu dengar ini bekerja dengan mengandalkan baterai
sebagai power supply, baterai berfungsi untuk mengalirkan energi listrik agar alat
16

bantu dengar ini dapat bekerja. Prinsip kerja dari alat bantu dengar berawal dari
ketika ada suara, frekuensi suara tersebut sebagai input yang diterima oleh mic,
frekuensi suara itu diubah dari sinyal suara menjadi sinyal listrik lalu prosesnya
dilanjutkan ke Amplifier. Di dalam Amplifier sinyal listrik diproses dengan menyaring
suara percakapan dan suara nois, untuk selanjutnya tugas amplifier membesarkan
sinyal listrik tersebut dengan memfokuskan membesarkan sinyal suara pada suara
percakapan dan mengecilkan suara nois. Dalam hal ini amplifier yang digunakan
adalah IC LM 358 yang memiliki dua operational amplifier sebagai penguat dan
memiliki delapan kaki. Menurut datasheet dari IC LM 358 keluaran dari IC ini
mencapai 100 desibel. Sinyal listrik yang sudah diproses oleh amplifier selanjutnya
sinyal listrik tersebut di proses oleh receiver yang mengubah sinyal listrik menjadi
suara yang sudah di perbesar. Receiver ini adalah speaker dalam hal ini earphone
sebagai outputnya. Suara yang didengar sama persis dengan sumber bunyi dan suara
tersebut sudah di perbesar karena proses amplifikasi alat bantu dengar. Jadi dapat
dianalogikan alat bantu dengar ini memiliki empat komponen utama yaitu
microphone atau mic, amplifier, receiver dan baterai.
Kesimpulan
Rangkaian alat bantu dengar ini pada dasarnya memiliki komponen mikrofon,
amplifier, speaker dan baterai. Prinsip kerjanya dapat diilustrasikan mikrofon
menerima frekuensi suara kemudian sinyal suara tersebut diubah menjadi sinyal
listrik yang kemudian sinyal listrik tersebut dikirim ke amplifier yang kemudian
dikuatkan setelah itu dikeluarkan berupa gelombang suara oleh penterjemah akhir.
Pada alat ini menggunakan earphone sebagai penterjemah akhir. Baterai digunakan
untuk mengalirkan arus listrik agar dapat menjalankan komponen.
Saran
Saran yang dapat diberikan untuk pembuatan alat bantu dengar :

17

1. Perlu diuji cobakan pada penderita untuk menguji keefektifan alat.


2. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dapat dikembangkan penguatan
yang lebih besar agar dapat lebih efektif dalam membantu penderita gangguan
pendengaran.
3. Perlu pengujian alat agar dapat dapat diketahui secara pasti alat ini untuk
gangguan pendengaran pada kategori rendah, sedang atau berat.
Daftar Pustaka
Alakadarya,P. (2011). LED. http://rasapas.wordpress.com/. 12 April 2014 (21:05)
Alviansyah,R. (2010). Potensiometer. http://heryanalvian.files.wordpress.com/. 28
Ferbruari 2014 (20:30)
Budianor,R. (2013). Gangguan Pendengaran. http://www.scribd.com/. 21 Maret2014
(21:53)
Condor, C,D,N. (2012). Komponen General Komponen LM 358.
https://www.sparkfun.com/datasheets/. 6 Mei 2014 (20:00)
Dewi,A,Y. (2007). Presbiakusis. http://pustaka.unpad.ac.id/. 28 Februari 2014
(09:01)
Febrianto,T. (2012). Saklar. http://www.scribd.com/. 21 Maret 2014 (21:45)
Handayani Sri dan Damari Ari. (2009). Fisika Untuk SMA dan MA Kelas XII.Jakarta:
Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
Harahap,R,N. (2010). Teori Gelombang dan Bunyi. http://repository.usu.ac.id/. 9 Mei
(04:00)
Hasan,E. (2012). Mengenal komponen elektronika.
http://manalor.files.wordpress.com/. 21 Maret 2014 (22:15)
Indrajit,D. (2009). Mudah dan Aktif Belajar Fisika.Jakarta: Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional
Jati,E.M.B dan Priyambodo,K.T.(2007). Fisika Dasar Untuk Mahasiswa Eksakta dan
Teknik.Yogyakarta: C.V Andi Offset
Julia Rahadian et all, (2010). Pengaruh Penggunaan Earphone Terhadap Fungsi
Pendengaran Remaja. Artikel Penelitian Departemen Fisiologi Fakultas
Kedokteran Unika Atma Jaya : Jakarta.
Khristiyono. (2008). Biologi SMA dan MA. Jakarta: Erlangga

18

Kutz, W, J (2013) . Degrees of hearing loss http://emedicine.medscape.com/. 6 Mei


2014 (20:45)
Muyassaroh. (2012). Presbiakusis. Jurnal Med Assoc, Volume 4.No.4 :155-158
Prabawa, I. (2012). Batas Pendengaran Telinga Manusia.
http://imanprabawa.wordpress.com/. 6 Mei 2014 (19:20)
Rahmanisa,A,R. (2012). Definisi Baterai. http://www.scribd.com. 20 Maret 2014
(19:15)
Sujatmika,S. (2013). Proses mendengar pada manusia.
http://4dailylearning.blogspot.com/. 21 Maret 2014 (22:00)

Sumandari. (2008). Microphone Condensor. http://lembarsuman.blogspot.com. 20


Maret 2014 (19:10)
Surya,Y. (2010). Getaran dan Gelombang. Tanggerang: PT Kandel
Syswal. (2013). Intensitas Bunyi. http://sysawal.blogspot.com/. 21 Maret 2014
(21:05)
Zaki. (2011). Elektronika Dasar Lanjutan Cetakan Ketiga. Yogyakarta: Absolut

19