Anda di halaman 1dari 7

25 Januari 2006 - 19:33 (Diposting oleh: Rumah Dunia)

PUISI JAMAL D. RAHMAN


Jamal D. Rahman
RUBAIYAT MATAHARI
1
dengan bismilah berdarah di rahim sunyi
kueja namamu di rubaiyat matahari
kau dengar aku menangis sepanjang hari
karena dari november-desember selalu lahir januari
2
engkaulah sepi di jemari hujan
kabar semilir dari degup gelombang
engkaulah api di jemari awan
membakar cintaku hingga degup bintang-gemintang
>3
atas sepi perahuku bercahaya
membawa matahari ke jantung madura
atas bara api cintaku menyala
menantang matahari di lubuk semesta
4
aku peras laut jadi garam
mengasinkan hidupmu di ladang-ladang sunyi
aku bakar langit temaram
bersiasat dengan bayangmu dalam kobaran api
5
batu karam perahu karam
tenggelam di rahang lautan
darahku bergaram darahmu bergaram
menyeduh asin doa di cangkir kehidupan
6
karena laut menyimpan teka-teki
di puncak suaramu kurenungi debur gelombang
karena layar hanya selembar sepi
di puncak doamu kukibarkan bintang-gemintang
7
pohon cemara ikan cemara
menggelombang biru di riak-riak senja

antara pohon dan ikan kita adalah cemara


mendekap cakrawala di dasar samudera
8
di rahang rahasia rinduku abadi
sampai runtuh seluruh sepi
rinduku adalah ketabahan matahari
menerima sepi di relung puisi
9
di relung malam lambaianku menua
juga pandanganmu di kaca jendela
alangkah dalam makna senja
menanggung berat perpisahan kita
10
dari pintu ke pintu ketukanku kembali
tak lelah-lelah mencari januari di reremang pagi
dari rindu ke rindu aku pun mengaji
tak tamat-tamat membaca cinta di aliflammim puisi
2002-2003
*) Jamal D Rahman adalah penyair kelahiran Madura. Puisi-puisinya bnyak diterbitkan di media
assa adn kumpulan cerpen. Sekarang bergiat di majalah Horison dan membentuk sanggarsanggar sastra di sekolah.
*) Foto: Anak-anak Rumah Dunia mengibaratkan masa depan mereka merupakan lorong waktu,
yang sulit dijangkau dan ditebak ujungnya. (foto Qizink)
03 Juli 2006 - 19:48 (Diposting oleh: Rumah Dunia)
SEMBILAN PUISI SANGKAKALA
SAJAK-SAJAK SANGKAKALA:
1.
RUMAH [ini rumah] MU
seperti rumahmu terutarakan
kamu mereka satu, satu suku
satu bahasa ibu
ini memang rumahmu
rumah yang selalu ada bayangmu
yang kau tahu hanya nyata
maya terisolir, kau merasa?

aku selalu seperti ini, hampa


pada pengembaraan sekat-sekat
asa pecundang bermuka dua
lelaki bersama letih, bernyawa
lantas kau terdiam, menanak harap
atau hanya sekedar lepaskan penat
tak tersentuh jiwa yang meratap
seperti ini, seperti rumahmu yang pekat
kita bergumul dan cinta tak tersemai
ini rumahmu, rumah yang selalu ada bayangmu
April '06
***
2.
JANJI [yang] SAMAR
aku mulai menghisap lagi
menghisap gulungan-gulungan lapuk
nikmatilah seperti ini
seperti setengah terantuk
katamu kau akan menunggu
menunggu di halte pagutan pertama
kemana jiwa tersungkur di sampingmu
disamping tawa-tawa berjelaga
tikami kelakar melodi tak terpatri
sekedar menguapkan getar emosi
beredar, telusuri apa yang kau ingini
namun tak berkata, bungkam kaca menyekati
redam, sangat redam dan intonasi tak bergetar
kau menunggu kiranya akan tetap berkelakar
sepeti itu, seperti janji yang samar
aku tetap disini
di halte pagutan pertama
tak bergerak
apalagi berpindah halte
seperti yang kau bayangkan
aku tetap menunggu
hingga tak bergetar

kapan?
April '06
***
3.
SEBAB AKIBAT
bergerak dalam duapuluhlima kenabian, selaras mutasi baikburuk penyangga kehidupan
terlewati. Tahu, sadar, menyadari, tolak ukur aku kamu diuntungrugi bergejolak bersama
pilihmemilih. ia sesuai budaya pasangsurut menurut idealisme dianut beruruturutan tersebut.
jangan pernah bertanya mengapa tercipta tegangmenegang antara musa dan fir'aun, mereka
dihidupkan untuk hidup selagi bernafaskan jiwaraga satu. Lantas kita tetap memilih setelah
menilik, bukan diam namun terpaksa. Itu kejujuran yang berkilauan diambang temali keterikatan.
Menghapuskan sebab sebuah akibat, berarti menciptakan sebab untuk akibat yang baru. bisakah
kita menentukan sebuah akibat dengan pasti dari sebuah sebab yang ditentukan? maka
berjalanlah dengan seluruh kesadaran dan sinambung perhatian. kita masih meniruniru opini dari
budaya yang telah akut diejawantahkan, bahkan acapkali lalai untuk menyadari sebuah
kesinambungan sebab, penyebab, akibat, pengakibat.
April '06
***
4.
LAGI BIRU
kilatan sampah
pemuja serapah
ukirlah kedip bodoh
serupa tuhan
dipuja bintang matahari
disembah tapi meracuni
kudera ingatlupa elok
mencari rembulan di tumpukan pasir
kemujung asap jingga tersihir
engkau siapa tanya
aku bercerita tak rasa
cambuki nafsu dengan golok
aku tuhan
bohong, engkau hantu
dicatat oleh bisu

aku bodoh
memuja tuhan palsu
bodoh, aku tuhan ragu
Kairo, 250306
***
5.
KOMUNITAS BIRU
Selintas tertegun
oleh kematian melamun
selintas berkaca
oleh mata tidak kaca
mimpi yang nyata
nyata yang mimpi
kejujuran terpaut
mungkin menghadap maut
aturan main seperti apa
kudamba segalanya ada
tataplah kedudukan nista
terlintas sebuah jeda
mencetak diam penjelajahan
mengukir hidup di kejauhan
aku mereka lamur
lumpur, lumpur, lumpur.
Selintas tertegun
komunitas biru terjun
Ungu, 230306
Parade Karya
25 Januari 2006 - 19:28 (Diposting oleh: Rumah Dunia)
TIGA PUISI WAN ANWAR
Moh. Wan Anwar
1.
BEJALAN KE UTARA
berjalanlah lurus ke utara, di melintasi rimbun asam

dan masa silam, kau akan tahu darat dan laut


seperti bibir sepasang kekasih saling memagut
seperti maut yang tiap waktu terus beringsut
pulau-pulau kecil, tempat burung-burung hijrah
dari musim ke musim, gemetar di kejauhan
sisa bakau merunduk muram, kawanan ikan mengenangkan pertemuan
seperti penduduk yang dihantam gelombang daratan
berlayarlah dengan perahu kayu, menyisiri utara
mengendus panu para nelayan, kau akan bertemu kenyataan
sisa ikan busuk, ceceran solar, muatan kayu dari seberang
daki dan kapal inspeksi yang asing berputar-putar sendirian
berjalanlah terus ke utara, menyapa sunyi yang beranak di tambak
membayangkan pelabuhan kenangan masa silam
2005
***
2.
PERTANYAAN DI STASIUN KERETA
jika timur itu hari depan, mengapa laju kereta kembali ke masa silam
bahwa stasiun ini peninggalan residen, tentu saja kami tahu
juga deret pohon asam, irigasi, dan gedung-gedung pemerintahan
begitulah, bukankah tuan-tuan hanya sanggup membangun mall
jurang antara cahaya lampu kristal dan temaram perkampungan
kami hamba tuan-tuan, sudah lama bosan dalam penantian
tuan-tuan mengobral janji, mengganggu tidur dan mimpi kami
maka kini izinkan kami bertanya, peti-peti yang siang malam diangkut kereta
milik siapa? kemilau lampu di jalan raya untuk siapa!
kami tahu tuan-tuan tak akan menjawab, karena tuan-tuan
sedang meluncur ke masa silam, jadi izinkan kami mendakwa
kami tak tahan lagi mendengar dan menyaksikan mulut tuan-tuan
berbusa, nganga, dan amat hina
2005
***

3.
KASIDAH BANTEN
aku datang
tetapi dari mana aku datang
aku pergi
tetapi kemana aku pergi
kau sambut aku dengan kasidah
tempat berdiam segala kisah
kupersembahkan padamu denting kecapi
tempat sunyi menggali diri
dua tanda dua nama
bertemu dalam nestapa
karena aku telah datang
kauterima cinta di ujung pedang
karena kau telah menjemput
kuterima hatimu semurni maut
dua tanda dua nama
bertemu dalam nestapa
jika kau dan aku adalah rumah
rumah siapakah kita
jika kau dan aku jadi penghuni
siapakah yang akan kita hadapi
2005
***
Moh.Wan Anwar, lahir di Cianjur, kuliah di Bandung dan Jakarta, kini tinggal di Serang. Puisi,
cerpen, dan eseinya dimuatkan di sejumlah koran dan majalah, antara lain: Pikiran Rakyat, Mitra
Budaya, Bandung Pos, Suara Merdeka, Kompas, Republika, Media Indonesia, Suara Karya,
Koran Tempo, Jurnal Puisi, dan Majalah Horison. Buku yang ditulisnya: Sebelum Senja Selesai
(2002), Sepasang Maut (2004), Kuntowijoyo dan Dunianya (akan terbit pertengahan 2006), dan
Batas Kesetiaan (manuskrip siap terbit).
*) Foto: Rimba Alangalang datang dari Banten Selatan, mencoba menggabungkan tradisi dan
modernitas di dalam hidupnya. (foto Qizink)