Anda di halaman 1dari 8

Apa itu FILSAFAT ??

Filsafat tidak memberikan petunjuk-petunjuk untuk mencapai


taraf hidup yang lebih tinggi, juga tidak melukiskan teknik-teknik
baru untuk membuat bom atom. Sebenarnya jika di dalam
filsafat anda mencari jawaban yang disepakati oleh semua filsuf
sebagai hal yang benar, maka anda akan kecewa dan bersedih
hati
(Louis O. Kattsoff)[1]
Pengetian Filsafat

Setiap orang mungkin akan memberikan jawabannya sendiri apabila


dihadapkan pada pertanyaan apakah hakikat filsafat itu?. Pertanyaan tentang
hakikat filsafat telah diajukan semenjak ribuan tahun yang silam dan sampai saat ini
masih tetap dipertanyakan. Beragam jawaban telah diberikan sebagai usaha untuk
menjelaskan apakah sesungguhnya filsafat itu, namun tidak pernah ada jawaban
yang dapat memuaskan semua orang. Kondisi ini disinyalir berimbas pada
kekaburan pengertian filsafat yang hendak dijelaskan karena begitu beragamnya
jawaban yang ditawarkan.
Faktanya dalam kehidupan sosial masih banyak orang yang mengganggap
filsafat merupakan sesuatu yang serba rahasia, mistis, supra-natural, dan aneh. Ada
juga melihat filsafat sebagai percampuran antara astrologi, psikologi, dan teologi.
Asumsi lainnya ialah bahwa filsafat merupakan ilmu yang paling istimewa karena ia
merupakan mater of scientiarum atau induk dari segala ilmu. Alhasil, sebagian
orang memahami filsafat hanya bisa dipelajari oleh orang-orang jenius atau mereka
yang memiliki tingkat intelektual extra ordinary.
Pada sisi yang berbeda, ada orang yang memandang filsafat tidak penting
untuk dipelajari.` Mereka menganggap filsafat hanyalah omong kosong yang tidak
memiliki ruang kegunaan praksis. Bahkan, bagi mereka yang setengah-hati
mengakuinya sebagai ilmu, mereka membayangkan filsafat sebagai sejenis ilmu
yang mengawang tanpa sebuah pijakan nyata yang bisa dipertanggungjwabkan
secara ilmiah.
Di tengah kesimpangsiuran pengertian filsafat tersebut, seringkali kita
mengatakan atau mendengar ungkapan: Filsafat hidup saya adalah atau
keberhasilan orang itu tidak lepas dari filosofi yang dianutnya. Tentunya
filsafat dan filosofi pada ungkapan di atas pengacu pada sikap, prinsip, dan
gagasan yang dianut oleh seseorang dalam mengarungi bahtera kehidupan di dunia.
Sebenarnya, beragam kekeliruan dan kesalahpahaman di atas menunjukkan
ketidaktahuan atau pemahaman yang terfragmentasi tentang pengertian filsafat.

Lebih lanjut, ketidaktahuan dan pengetahuan yang dangkal tersebut akan


melahirkan penafsiran yang menyesatkan terhadap filsafat. Padahal jika filsafat
ditelaah dengan serius dan mendalam, ia akan semakin digandrungi, semakin
memikat, dan semakin menggugah sesorang untuk mengetahuinya. Oleh karena itu,
untuk memahami hakikat filsafat kita harus menelaah dari pelbagai aspek dan
dimensi, yakni: tinjauan etimologis yang menelaah filsafat dari asal usul katanya
dan tinjauan terminologis yang mengkaji filsafat dari sudut pemakaian istilahnya,
serta definisi yang diajukan oleh para filsuf itu sendiri.
Secara etimologis kata filsafat merupakan kata turunan dari philosophia
dalam bahasa Yunani. Ia merupakan kata majemuk dari philos yang berarti cinta
atau philia yang memiliki arti persahabatan atau tertarik kepada dan sophos
yang berarti kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, dan
intelegensi. Singkatnya, philosophia ialah cinta kebijaksanaan atau sahabat
pengetahuan.[2] Istilah philosophia telah di-indonesiakan menjadi filsafat, yang
mempunyai ajektiva atau kata sifat filsafati, dan filsuf yang merupakan kata
untuk menunjuk pada orangnya. Ada juga orang yang lebih menyukai sebutan
filosofi, yang memiliki kata sifat filosofis, dan filosof untuk mengacu kepada
orangnya.[3]
Secara historis, istilah filsafat digunakan oleh Phytagoras (sekitar abad ke-6
SM). Saat diajukan pertanyaan apakah ia seorang yang bijaksana, dengan penuh
kerendahan hati Phytagoras menjawab bahwa ia hanyalah philosophos atau orang
yang mencintai kearifan.[4] Namun keabsahan kisah tersebut diragukan karena
pribadi dan kegiatan Phytagoras bercampur dengan berbagai legenda. Berdasarkan
sumber lain, Heraklitus dianggap sebagai orang yang pertama mempergunakan
istilah philosophos tersebut..[5] Terlepas dari perdebatan kapan pertama kali
istilah

philosophia

atau

philosophos

pertama

kali

dipergunakan

dan

diperkenalkan oleh seseorang, yang jelas istilah kedua istilah tersebut, telah populer
dipergunakan oleh masyarakat Yunani pada masa Sokrates dan Plato.[6]
Secara terminologis, Filsafat berbanding lurus dengan watak dan fungsinya,
setidaknya memiliki arti sebagai berikut:[7]
1) Filsafat adalah seperangkat sikap dan keyakinan terhadap kehidupan dan alam
yang biasanya diterima secara tidak kritis.

Definisi ini merupakan arti

yang informal tentang filsafat. Misalnya, ungkapan filsafat saya


adalah mengacu pada sikap pembicara yang informal terhadap
apa yang dibicarakan.

2) Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan
sikap yang sangat dijunjung tinggi

oleh seseorang.

Pengertian ini

menunjuk pada arti yang formal yakni berfilsafat. Dalam


konteks ini filsafat memiliki dua arti yakni memiliki dan
melakukan, keduanya tidak dapat dipisahkan secara tegas
antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena seseorang tanpa
mempunyai suatu filsafat tertentu dalam arti yang formal dan
personal, ia tidak akan mampu berfilsafat dalam arti kritis dan
refleksif. Kendati demikian, memiliki filsafat tidak cukup untuk
melakukan filsafat atau berfilsafat. Suatu sikap filsafati yang
benar adalah sikap kritis dan mencari. Yakni sikap terbuka,
toleran, dan mau untuk melihat segala sudut persoaln tanpa
prasangka. Jadi, berfilsafat tidak hanya berarti membaca dan
mengetahui filsafat. Tetapi lebih dari itu, seseorang dituntut
untuk berargumentasi dan menganalisa persoalan berdasarkan
pengetahuan yang dimiliki, sehingga ia dapat berfikir dan
merasakan secara filsafati.
3) Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan. Ini berarti
bahwa

filsafat

berusaha

untuk

melihat

persoalan

melalui

kombinasi seluruh ilmu dan pengalaman kemanusiaan sebagai


suatu perspektif yang konsisten. Jadi, seorang filsuf ingin melihat
kehidupan, tidak hanya dalam kaca mata seorang seniman, atau
seorang pengusaha, atau seorang seniman, tetapi melampaui itu
semua ia ingin memahami hidup dalam beragam sudut pandang
yang menyeluruh.
4) Filsafat adalah sebagai analisa logis dari bahasa serta penjelasam tentang arti
kata dan konsep.

Ini merupakan suatu fungsi filsafat. Hampir

segenap filsuf mempergunakan metoda analisis tertentu untuk


menjelaskan arti istilah dan pemakaian bahasa. Namun ada
sekelompok filsuf yang memiliki keyakinan bahwa hal tersebut
merupakan tugas filsafat terutama, bahkan lebih dari itu ada
beberapa filsuf yang memandang hal tersebut sebagai satusatunya

fungsi

filsafat.

Mereka

adalah

para

filsuf

yang

mempunyai pendirian bahwa filsafat ialah suatu bidang khusus


yang mengabdi pada sains (ilmu) dan memberikan deskripsi
tentang bahasa, bukan suatu bidang yang luas yang menelaah
tentang segala dimensi pengalaman kemanusiaan.

5) Filsafat adalah sekumpulan problema-problema yang langsung yang mendapat


perhatian dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat.

Pada

konteks

mendorong

ini

filsafat

penyelidikan

dianggap

sebagai

mendalam

sesuatu

terhadap

yang

persoalan-

persoalan eksistensi manusia. Misalnya, siapakah aku?, dari


manakah aku dan kemana tujuan hidupku?, apakah itu
kebenaran?, apakah itu keindahan, dan lain sebagainya.
Semua pertanyaan itu bersifat filsafati, usaha untuk memperoleh
jawaban dan pemecahan terhadapnya telah melahirkan pelbagai
teori

dan

system

pragmatisme,

pemikiran

seperti:

eksistensialisme,

idealisme,

filsafat

realisme,

analitik,

dan

fenomenologi.
Begitulah beberapa pengertian filsafat secara umum. Perlu dicatat
bahwa kelima definisi yang diutaran di atas mungkin salah satu atau
dua diantarannya ditolak oleh seorang filsuf tertentu berdasarkan
keunikan sistem pemikiran tokoh tersebut. Oleh karena itu, lebih lanjut
akan diketengahkan beberapa pandangan filsuf terkait dengan persoalan
sekitar filsafat yang bersifat khas bagi mereka, yakni antara lain:
1) Sokrates[8], pengetahuan tentang diri sendiri melalui pencapaian
kejelasan konseptual sebagai fungsi filsafat.[9]
2) Plato[10], berpendapat bahwa filsafat ialah ilmu pengetahuan
yang berusaha meraih kebenaran yang asli dan murni, atau
penyelidikan tentang seba-sebab dan dan asas-asas yang paling
akhir dari segala sesuatu yang ada.[11]
3)

Aristoteles[12],

mengatakan

bahwa

filsafat

adalah

ilmu

pengetahuan yang senantiasa berusaha mencari prinsip-prinsip


dan

penyeba-penyebab

mengatakan

bahwa

dari

filsafat

realitas
adalah

yang
ilmu

ada.
yang

Ia

juga

berusaha

mempelajari peri ada selaku peri ada (being as being) atau peri
ada sebagaimana adanya (being as such). [13]
4) Descartes[14], filsafat ialah himpunan dari segala pengetahuan
yang pangkal penyelidikannya adalah mengenai Tuhan, alam,
dan manusia.[15]
5) Hegel[16], berangggapab bahwa filsafat bertugas mendeduksi
kategori-kategori. Maksudnya, ide-ide pokok untuk penafsiran

hakikat semua hal. Melalui sejarahnya filsafat menghadirkan


kebenaran mutlak dalam bentuk mutlak.[17]
Begitulah pengertian filsafat secara etimologis, terminologis, dan
definisi yang diberikan oleh para filsuf. Sebenarnya jika ditelah lebih
lanjut masih banyak pengetian yang diberikan oleh para filsuf,
karenanya tidak berlebihan ada sebuah anggapan bahwa jumlah definisi
filsafat berbanding seimbang dengan jumlah para filsuf itu sendiri.
Gagasan

dan

definisi

yang

begitu

kaya

tersebut

tidak

perlu

membingungkan, melainkan sebaliknya justru menampakkan betapa


luas ranah filsafat sehingga ia bisa bergerak dengan luwes dan leluasa.
Sedangkan perbedaan-perbedaan definisi yang diajukan ahli-ahli filsafat
merupakan keharusan filsafat, karena kesamaan definisi dan konsep
yang diajukan para filsuf justru akan membawa stagnasi pada filsafat
itu sendiri.

Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, alih bahasa oleh Soejono


Soemargono, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004), hlm. 3.
[1]

Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka


Utama, 1996), hlm. 242. bandingkan dengan pengertian yang diajukan
oleh Simon Balckburn dalam The Oxford University of philosophy sebagai
berikut: the study of the most general and abstract features of the
world and categories with which we think: mind, matter, reason, proof,
truth etc lihat Simon Blackburn, The Oxford University of philosophy ,
(Oxford-New York: Oxford University Press, 1994), hlm. 286.
[2]

[3] Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius,


1998), hlm. 14.

The Liang Gie, Suatu Konsepsi Kearah Penertiban Bidang Filsafat,


(Yogyakarta: 1977), hlm. 6. lihat Juga Lorens Bagus, Kamus Filsafat,
hlm. 244.
[4]

[5] Dr. Kondrad Kebung, SVD., Filsafat itu Indah, (Jakarta: Prestasi
Pustaka Karya, 2008). hlm. 10.
[6]

Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat, hlm. 14.

Titus dkk., Persoalan-persoalan Filsafat, terjem. oleh H.M. Rasjidi,


(Jakarta: Bulan Bintang, 1984), hlm. 11-15.
[7]

[8] Sokrates (469-399 SM) seorang filsuf Yunani dari Athena. Ia


masyhur dengan pendapatnya tentang filsafat sebagai usaha pencarian
yang perlu bagi tiap inteletual. Ia juga merupakan teladan seorang yang
menghayati prinsip-prinsipnya, walaupun akhirnya prinsip itu
berakibat pada yang fatal bagi nyawanya. Ia merupakan anak dari
Sophronicus (seorang ahli pahat), dan seorang perempuan yang
bernama Xanthippe. Dalam buku Plato yang bertajuk Apology
diceritakan bahwa Dewa di Delphi (Orackle at Delphy) mentahbiskan
Sokrates sebagai orang yang paling bijaksana di Yunani. Pada Tahun
339 SM, ia diadili dan mati dengan tuduhan merusak pemikiran kaum

muda dengan menyebarkan aqidah agama yang sesat. Lihat Titus dkk.,
Persoalan-persoalan Filsafat, hlm. 16.
[9]

Lorens Bagus, Kamus Filsafat, hlm. 244.

[10] Plato (427-347 SM), dilahirkan di Athena, di tengah-tengah


lingkungan aristocrat. Waktu masih muda ia merencanakan untuk
memasuki kehidupan politik tetapi ia membatalkan maksudnya tersebut
ketika Socrates yang ia kagumi, dihukum mati oleh negara. Setelah
Socrates meninggalkan Athena dan melakukan perjalanan sampai tahun
387 SM. Pada tahun itu ia kembali ke Athena dan mendirikan sekolah
yang tersohor dengan nama Academy; ia memimpinnya selama 40
tahun. Seperti muridnya yang brilian, Aristoteles, ia adalah salah satu
pemikir dan penulis yang sangat besar pengaruhnya dalam sejarah
masyrakat Barat. Karya-karyanya yang terkenal, antara lain; Apology
dan Crito, keduanya membicrakan tentang peradilan Socrates dan
percakapan-percakapannya
yang
terakhir;
Euthyphro
yang
membicarakan tentang ketakwaan (piety); Phaedo yang memusatkan
pembicaraan tentang Idea of the Good; dan Republic, karangan terbaik
dari Plato yang membicarakan tentang keadilan dan negara ideal. Titus
dkk., Persoalan-persoalan Filsafat, hlm. 320.
[11]

Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat, hlm. 15.

[12] Aristoteles (384-322) adalah seorang filosof, saintis, dan ahli


pendidikan.ia secara luas dianggap sebagai salah satu dari ahli pikir
yang paling berpengaruh dalam kebudayaan Barat. Ia dilahirkan di
Stagira, di bagian utara dari Yunani. Pada umur 18 tahun ia masuk ke
Akaemi Plato dan menetap di situ selama hampir 20 taun, yakni sampai
Plato meninggal. Ia sering melakukan perjalanan, dan pernah selama
empat tahun menjadi guru Prince Alexander yang kemudian terkenal
dengan nama Raja Alexander Agung (Alexande The Great). Sekitar tahun
334 SM, Aristoteles kembali ke Athena dan mendirikan perguruannya
sendiri, yang dinamakan Lyceum. Ia meringkas dan mengembangkan
pengatahuan
pada
masanya,
serta
memperkayanya
dengan
penyelidikannya sendiri serta pemikiran yang kritis. Aristoteles
menaruh perhatian kepada ilmu kedokteran dan ilmu hewan serta ilmuilmu lainnya; ia juga mendirikan laboratorium-laboratorium dan
museum-museum, muridnya, Raja Alexander, pernah menyediakan
tenaga sebanyak seribu orang di Yunani da Asia untuk membantu
Aristoteles mengumpulkan dan melaporakan princian-peincian tentang
kehidupan dan kebiasaan binatang-binatang. Ia juga mengumpulkan
konstitusi-kontitusi dan dokumen-dokumen mengenai kehidupan
berpolitik di beberapa negara. Tulisan-tulisannya menunjukkan erhatian
dalam segala ilmu pengetahuan, termsuk sains (alam), masyarakat dan
negara, sastra dn kesenia, serta kehidupan manusia. Karangannya
tentang Logika (organon), mengembangkan logika induktif dan
syllogistik. Etikanya (Nicomachean Ethic) merupakan karangan
sistematik yang prtama ditulis dalam bidang etika dan sampai sekarang
masih dibaca umum. Harold H. Titus dkk, Persoalan-Persoalan Filsafat,
terjem. Prof. Dr. H.M. Rasjidi, Jakarta: Bulan Bintang, 1984, hlm. 19
[13]

Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat, hlm. 15.

[14] Ren Descartes lahir pada 31 Maret 1596 di La Haye-Tourine,


sekarang La Haye-Descartes. Ayahnya seorang anggota Parlemen
Bretagne dari kalangan nigrat golongan bawah. Memperoleh pendidikan
pertamanya di College des Jesuites de la Fleche (1604-1614). Pada Tahun
1616 mendapat licence dari fakultas Hukum Universitas Poiters. Ia
meninggal pada 11 Februari 1650, dalam usia 54 tahun. Lihat Risalah

tentang Metode, Alih bahasa oleh Ida sundari Husen dan Rahayu S.
Hidayat, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1995), hlm.83-85.
[15]

Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat, hlm. 15.

[16] Georg Wilhelm Hegel (1770-1831), merupakan filsuf Jerman.


Hegel lahir di Stuttgart, dia belajar di Tbingen. Pada tahun 1801 ia
medapatkan lisensi tutor sebagai Privatdozent dalam bidang filsafat, ia
mengajar di di Jena. Namun, pada tahun 1907 ia terpaksa meninggalkan
Jena karena Perang napoleon, dan selama 8 tahun dia tinggal di
Nrnberg sebagai direktur Gymnasium. Pada tahun 1816 ia mendapat
gelar Profesor dalam bidang Filsafat di Heidelberg. Dua tahun kemudian
ia menggantikan Fichte sebagai Profesor di Berlin. Adapun karya-karnya
ialah phnomenologie des Geites atau Phenomenology of Mind (1910),
The phenomenology of Spirit (1977), Wissenschaft der Logik atau The
Science
of
Logic
(1874),
Enzyklopdie
der
Philosophischen
Wissenschaften in Grundisse atau The Encyclopedia of the Philosophical
Science (1816), dan Grundlinien der Philosophie des Rechts atau
Philosophy of Right (1821). Lihat Simon Blackburn, The Oxford
Dictionary of Philosophy,(New York: Oxford University Press, 1994), hlm.
168-169. lihat juga Titus dkk., Persoalan-persoalan Filsafat, terjem. oleh
H.M. Rasjidi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), hlm. 223.

stilah filsafat berasal dari bahasa Yunani : philosophia. Seiring perkembangan jaman akhirnya
dikenal juga dalam berbagai bahasa, seperti : philosophic dalam kebudayaan bangsa Jerman,
Belanda, dan Perancis; philosophy dalam bahasa Inggris; philosophia dalam bahasa Latin;
dan falsafah dalam bahasa Arab.
Para filsuf memberi batasan yang berbeda-beda mengenai filsafat, namun batasan yang berbeda
itu tidak mendasar. Selanjutnya batasan filsafat dapat ditinjau dari dua segi yaitu secara
etimologi dan secara terminologi.
Secara etimologi, istilah filsafat berasal dari bahasa Arab, yaitu falsafah atau juga dari bahasa
Yunani yaitu philosophia philien : cinta dan sophia : kebijaksanaan. Jadi bisa dipahami bahwa
filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Dan seorang filsuf adalah pencari kebijaksanaan, pecinta
kebijaksanaan dalam arti hakikat.
Pengertian filsafat secara terminologi sangat beragam. Para filsuf merumuskan pengertian
filsafat sesuai dengan kecenderungan pemikiran kefilsafatan yang dimilikinya. Seorang Plato
mengatakan bahwa : Filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan
kebenaran yang asli. Sedangkan muridnya Aristoteles berpendapat kalau filsafat adalah ilmu
( pengetahuan ) yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu metafisika,
logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Lain halnya dengan Al Farabi yang
berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu ( pengetahuan ) tentang alam maujud bagaimana hakikat
yang sebenarnya. Berikut ini disajikan beberapa pengertian Filsafat menurut beberapa para ahli:
Plato ( 428 -348 SM ) : Filsafat tidak lain dari pengetahuan tentang segala yang ada.
Aristoteles ( (384 322 SM) : Bahwa kewajiban filsafat adalah menyelidiki sebab dan asas
segala benda. Dengan demikian filsafat bersifat ilmu umum sekali. Tugas penyelidikan tentang
sebab telah dibagi sekarang oleh filsafat dengan ilmu.
Cicero ( (106 43 SM ) : filsafat adalah sebagai ibu dari semua seni ( the mother of all the
arts ia juga mendefinisikan filsafat sebagai ars vitae (seni kehidupan )
Johann Gotlich Fickte (1762-1814 ) : filsafat sebagai Wissenschaftslehre (ilmu dari ilmu-ilmu ,
yakni ilmu umum, yang jadi dasar segala ilmu. Ilmu membicarakan sesuatu bidang atau jenis

kenyataan. Filsafat memperkatakan seluruh bidang dan seluruh jenis ilmu mencari kebenaran
dari seluruh kenyataan.
Paul Nartorp (1854 1924 ) : filsafat sebagai Grunwissenschat (ilmu dasar hendak menentukan
kesatuan pengetahuan manusia dengan menunjukan dasar akhir yang sama, yang memikul
sekaliannya .
Imanuel Kant ( 1724 1804 ) : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan
pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya tercakup empat persoalan.
Betrand Russel.2002. Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan kondisi sosio-politik dari
zaman kuno hingga sekarang (alih Bahasa Sigit jatmiko, dkk ) . Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Ismaun.2007. Filsafat Administrasi Pendidikan(Serahan Perkuliahan ). Bandung : UPI
Ismaun.2007. Kapita Selekta Filsafat Administrasi Pendidikan (Serahan Perkuliahan). Bandung
: UPI
Koento Wibisono.1997. Dasar-Dasar Filsafat. Jakarta : Universitas Terbuka
Moersaleh. 1987. Filsafat Administrasi. Jakarta : Univesitas Terbuka

Olahraga adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau usaha yang dapat
mendorong mengembangkan, dan membina potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang
sebagai perorangan atau anggota masyarakat dalam bentuk permainan, perlombaan/
pertandingan, dan kegiatan jasmani yang intensif untuk memperoleh rekreasi, kemenangan, dan
prestasi puncak dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas
berdasarkan Pancasila.
Olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk memelihara
gerak (mempertahankan hidup) dan meningkatkan kemampuan gerak (meningkatkan kualitas
hidup). Seperti halnya makan, Olahraga merupakan kebutuhan hidup yang sifatnya periodik;
artinya Olahraga sebagai alat untuk memelihara dan membina kesehatan, tidak dapat
ditinggalkan. Olahraga merupakan alat untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan
jasmani, rohani dan sosial. Struktur anatomis-anthropometris dan fungsi fisiologisnya, stabilitas
emosional dan kecerdasan intelektualnya maupun kemampuannya bersosialisasi dengan
lingkungannya nyata lebih unggul pada siswa-siswa yang aktif mengikuti kegiatan Penjas-Or
dari pada siswa-siswa yang tidak aktif mengikuti Penjas-Or (Renstrom & Roux 1988, dalam
A.S.Watson : Children in Sport dalam Bloomfield,J, Fricker P.A. and Fitch,K.D., 1992).