Anda di halaman 1dari 20

Pengertian Foraminifera

mlm Foraminifera adalah organisme bersel tunggal (protista) yang


mempunyai cangkang atau test (istilah untuk cangkang internal). Foraminifera
diketemukan melimpah sebagai fosil, setidaknya dalam kurun waktu 540 juta
tahun. Cangkang foraminifera umumnya terdiri dari kamar-kamar yang tersusun
sambung-menyambung selama masa pertumbuhannya. Bahkan ada yang
berbentuk paling sederhana, yaitu berupa tabung yang terbuka atau berbentuk
bola dengan satu lubang. Cangkang foraminifera tersusun dari bahan organik,
butiran pasir atau partikel-partikel lain yang terekat menyatu oleh semen, atau
kristal CaCO3 (kalsit atau aragonit) tergantung dari spesiesnya.
Foraminifera yang telah dewasa mempunyai ukuran berkisar dari 100 mikrometer
sampai 20 sentimeter. Beberapa spesies mempunyai hubungan simbiose dengan
alga. Alga tersebut hidup di dalam cangkang foraminifera. Spesies yang lain
memakan makanan berupa molekul organic terlarut, bakteri, diatome dan alga
bersel tunggal yang lain, sampai hewan-hewan kecil seperti Kopepoda.
Foraminifera menangkap makanan dengan jaring tipis pseudopodia (disedut
retikulopodia) yang keluar dari salah satu atau beberapa lubang (apertur) pada
dinding cangkang. Foraminifera bentonik juga meman-faatkan pseudopodianya
untuk alat gerak.

HABITAT FORAMINIFERA
Diperkirakan ada 4.000 spesies foraminifera yang masih hidup di laut di seluruh
dunia. Dari jumlah tersebut, 40 spesies diantaranya adalah foraminifera
plangtonik, yang hidup melayang di dalam air laut. Selebihnya hidup pada
permukaan dasar alut atau membenamkan diri pada batu pasir, lumpur, batuan
dan tanaman di dasar laut. Foraminifera diketemukan di semua lingkungan laut,
dari lingkungan pasang surut sampai palung laut yang paling dalam, dari daerah
tropik sampai kutub, akan tetapi kumpulan spesiesnya bervariasi tergantung dari
lingkungannya. Beberapa spesies melimpah hanya di laut dalam, sedangkan
spesies yang lain hanya diketemukan di terumbu karang, dan sebagian yang lain
hidup di muara sungai yang bersifat payau atau lingkungan rawa pasang surut.
Foraminifera merupakan organieme bercangkang yang paling melimpah di
likungan laut. Satu sentimeter kubik sedimen dasar laut mengandung ratusan
individu foraminifera hidup, dan lebih banyak lagi jumlah cangkang yang
kosong/mati. Di banyak lingkungan cang-kang foraminifera merupakan
komponen penting suatu sedimen. Di beberapa daerah laut dalam yang jauh dari
darat, sering dijumpai dasar perairan laut tersusun sebagian besar dari cangkang
foraminifera plangtonik. (sumber : Abdul kholiq)
Diposkan oleh MAXWEL JOSEPH HENRI NAINGGOLAN d

Kegunaaan foram
Penelitian tentang fosil foraminifera mempunyai beberapa penerapan yang terus
berkembang sejalan dengan
perkembangan mikropaleontologi dan geologi. Fosil foraminifera bermanfaat
dalam biostratigrafi,paleoekologi, paleobiogeografi, dan eksplorasi minyak
dan gas bumi.

BIOSTRATIGRAFI
Foraminifera memberikan data umur relatif batuan sedimen laut
Ada beberapa alasan bahwa fosil foraminifera adalahmikrofosil yang sangat
berharga khususnya untuk menentukan umur relatif lapisan-lapisan batuan
sedimen laut. Data penelitian menunjukkan foraminifera ada di bumi sejak
jaman Kambrium, lebih dari 500 juta tahun yang lalu. Foraminifera mengalami
perkembangan secara terus-menerus, dengan demikian spesies yang berbeda
diketemukan pada waktu (umur) yang berbeda-beda. Foraminifera mempunyai
populasi yang melimpah dan penyebaran horizontal yang luas, sehingga
diketemukan di semua lingkungan laut. Alasan terakhir, karena ukuran fosil
foraminifera yang kecil dan pengumpulan atau cara mendapatkannya relatif
mudah meskipun dari sumur minyak yang dalam.
PALEOEKOLOGI DAN PALEOBIOGEOGRAFI
Foraminifera memberikan data tentang lingkungan masa lampau (skala
Geologi)
Karena spesies foraminifera yang berbeda diketemukan di lingkungan yang
berbeda pula, seorang ahli paleontologi dapat menggunakan fosil foraminifera
untuk menentukan lingkungan masa lampau tempat foraminifera tersebut hidup.
Data foraminifera telah dimanfaatkan untuk memetakan posisi daerah tropik di
masa lampau, menentukan letak garis pantai masa lampau, dan perubahan
perubahan suhu global yang terjadi selama jaman es. Jika sebuah perconto
kumpulan fosil foraminifera mengandung banyak spesies yang masih hidup
sampai sekarang, maka pola penyebaran modern dari spesies-spesies tersebut
dapat digunakan untuk menduga lingkungan masa lampau - di tempat kumpulan
fosil foraminifera diperoleh - ketika fosil foraminifera tersebut masih hidup. Jika
sebuah perconto mengandung kumpulan fosil foraminifera yang semuanya atau
sebagian besar sudah punah, masih ada beberapa petunjuk yang dapat
digunakan untuk menduga lingkungan masa lampau. Petunjuk tersebut adalah
keragaman spesies, jumlah relatif dari
spesies plangtonik dan bentonik (prosentase foraminifera plangtonik dari total
kumpulan foraminifera plangtonik dan bentonik), rasio dari tipe-tipe cangkang
(rasioRotaliidae, Miliolidae, dan Textulariidae), dan aspek kimia material
penyusun cangkang.
Aspek kimia cangkang fosil foraminifera sangat bermanfaat karena
mencerminkan sifat kimia perairan tempat foraminifera ketika tumbuh. Sebagai
contoh, perban-dingan isotop oksigen stabil tergantung dari suhu air. Sebab air
bersuhu lebih tinggi cenderung untuk menguapkan lebih banyak isotop yang
lebih ringan. Pengukuran isotop oksigen stabil pada cangkang foraminifera
plangtonik dan bentonik yang berasal dari ratusan batuan teras inti dasar laut di
seluruh dunia telah dimanfaatkan untuk meme-takan permukaan dan suhu dasar
perairan masa lampau. Data tersebut sebagai dasar pemahaman bagaimana
iklim dan arus laut telah berubah di masa lampau dan untuk memperkirakan
perubahan-perubahan di masa yang akan datang (keakurasiannya belum teruji).
EKSPLORASI MINYAK

Foraminifera dimanfaatkan untuk menemukan minyak bumi.


Banyak spesies foraminifera dalam skala biostratigrafimempunyai kisaran hidup
yang pendek. Dan banyak pula spesies foraminifera yang diketemukan hanya
pada lingkungan yang spesifik atau ter-tentu. Oleh karena itu, seorang ahli
paleontologi dapat meneliti sekeping kecil perconto batuan yang diperoleh
selama pengeboron sumur minyak dan selanjutnya menentukan umur geologi
dan lingkungan saat batuan tersebut terben-uk. Sejak 1920-an industri
perminyakan memanfaatkan jasa penelitianmikropaleontologi dari seorang ahli
mikrofosil. Kontrol stratigrafi dengan menggunakan fosil foraminifera memberikan
sumbangan yang berharga dalam mengarahkan suatu pengeboran ke arah
samping pada horison yang mengandung minyak bumi guna meningkatkan
produktifikas minyak.
Diposkan oleh MAXWEL JOSEPH HENRI NAINGGOLAN d

Foraminifera adalah organisme bersel tunggal (protista) yang mempunyai


cangkang atau test (istilah untuk cangkang internal). Foraminifera
diketemukan melimpah sebagai fosil, setidaknya dalam kurun waktu 540
juta tahun. Cangkang foraminifera umumnya terdiri dari kamar-kamar yang
tersusun sambung-menyambung selama masa pertumbuhannya. Bahkan ada
yang berbentuk paling sederhana, yaitu berupa tabung yang terbuka atau
berbentuk bola dengan satu lubang. Cangkang foraminifera tersusun dari
bahan organik, butiran pasir atau partikel-partikel lain yang terekat
menyatu oleh semen, atau kristal CaCO3 (kalsit atau aragonit) tergantung
dari spesiesnya. Foraminifera yang telah dewasa mempunyai ukuran berkisar
dari 100 mikrometer sampai 20 sentimeter.
Penelitian tentang fosil foraminifera mempunyai beberapa penerapan yang
terus berkembang sejalan dengan perkembangan mikropaleontologi dan
geologi. Fosil foraminifera bermanfaat dalam biostratigrafi, paleoekologi,
paleobiogeografi, dan eksplorasi minyak dan gas bumi.
a. Biostratigrafi
Foraminifera memberikan data umur relatif batuan sedimen laut. Ada
beberapa alasan bahwa fosil foraminifera adalah mikrofosil yang sangat
berharga khususnya untuk menentukan umur relatif lapisan-lapisan batuan
sedimen laut. Data penelitian menunjukkan foraminifera ada di bumi sejak
jaman Kambrium, lebih dari 500 juta tahun yang lalu.
Foraminifera mengalami perkembangan secara terus-menerus, dengan
demikian spesies yang berbeda diketemukan pada waktu (umur) yang
berbeda-beda. Foraminifera mempunyai populasi yang melimpah dan
penyebaran horizontal yang luas, sehingga diketemukan di semua lingkungan
laut. Alasan terakhir, karena ukuran fosil foraminifera yang kecil dan
pengumpulan atau cara mendapatkannya relatif mudah meskipun dari sumur
minyak yang dalam.
b. Paleoekologi dan Paleobiogeografi
Foraminifera memberikan data tentang lingkungan masa lampau (skala

Geologi). Karena spesies foraminifera yang berbeda diketemukan di


lingkungan yang berbeda pula, seorang ahli paleontologi dapat menggunakan
fosil foraminifera untuk menentukan lingkungan masa lampau tempat
foraminifera tersebut hidup. Data foraminifera telah dimanfaatkan untuk
memetakan posisi daerah tropik di masa lampau, menentukan letak garis
pantai masa lampau, dan perubahan perubahan suhu global yang terjadi
selama jaman es.
Sebuah perconto kumpulan fosil foraminifera mengandung banyak spesies
yang masih hidup sampai sekarang, maka pola penyebaran modern dari
spesies-spesies tersebut dapat digunakan untuk menduga lingkungan masa
lampau - di tempat kumpulan fosil foraminifera diperoleh - ketika fosil
foraminifera tersebut masih hidup. Jika sebuah perconto mengandung
kumpulan fosil foraminifera yang semuanya atau sebagian besar sudah
punah, masih ada beberapa petunjuk yang dapat digunakan untuk menduga
lingkungan masa lampau. Petunjuk tersebut adalah keragaman spesies,
jumlah relatif dari spesies plangtonik dan bentonik (prosentase foraminifera
plangtonik dari total kumpulan foraminifera plangtonik dan bentonik), rasio
dari tipe-tipe cangkang (rasio Rotaliidae, Miliolidae, dan Textulariidae), dan
aspek kimia material penyusun cangkang.
Aspek kimia cangkang fosil foraminifera sangat bermanfaat karena
mencerminkan sifat kimia perairan tempat foraminifera ketika tumbuh.
Sebagai contoh, perban-dingan isotop oksigen stabil tergantung dari suhu
air. Sebab air bersuhu lebih tinggi cenderung untuk menguapkan lebih
banyak isotop yang lebih ringan. Pengukuran isotop oksigen stabil pada
cangkang foraminifera plangtonik dan bentonik yang berasal dari ratusan
batuan teras inti dasar laut di seluruh dunia telah dimanfaatkan untuk
meme-takan permukaan dan suhu dasar perairan masa lampau. Data
tersebut sebagai dasar pemahaman bagaimana iklim dan arus laut telah
berubah di masa lampau dan untuk memperkirakan perubahan-perubahan di
masa yang akan datang (keakurasiannya belum teruji).
c. Eksplorasi Minyak
Foraminifera dimanfaatkan untuk menemukan minyak bumi. Banyak spesies
foraminifera dalam skala biostratigrafi mempunyai kisaran hidup yang
pendek. Dan banyak pula spesies foraminifera yang diketemukan hanya pada
lingkungan yang spesifik atau ter-tentu. Oleh karena itu, seorang ahli
paleontologi dapat meneliti sekeping kecil perconto batuan yang diperoleh
selama pengeboron sumur minyak dan selanjutnya menentukan umur geologi
dan lingkungan saat batuan tersebut terben-uk.
Sejak 1920-an industri perminyakan memanfaatkan jasa penelitian
mikropaleontologi dari seorang ahli mikrofosil. Kontrol stratigrafi dengan
menggunakan fosil foraminifera memberikan sumbangan yang berharga
dalam mengarahkan suatu pengeboran ke arah samping pada horison yang
mengandung minyak bumi guna meningkatkan produktifikas minyak.
Selain ketiga hal tersebut diatas foraminifera juga memiliki kegunaan dalam
analisa struktur yang terjadi pada lapisan batuan. Sehingga sangatlah
penting untuk mempelajari foraminifera secara lengkap.
1.2. Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan dari dilaksanaknnya praktikum ini adalah untuk melatih
mahasiswa agar lebih familiar dan mendalami materi yang telah
disampaikan dalam perkuliahan. Selain itu dari dilaksanakannya praktikum

ini mahasiswa akan terlatih dalam menganalisa fosil dan juga untuk melatih
mahasiswa dalam bekerjasama dengan anggota kelompoknya.
1.3. Waktu dan Tempat
Pelaksanaan praktikum makro-mikropalenteologi ini dimulai pada tanggal 20
Oktober 2009 sampai tanggal 14 Januari 2010 di Laboratorium Makro Mikro
Palenteologi Fakultas Teknik Universitas Kutai Kartanegara.
2.6. Pengenalan Cangkang Foraminifera Plankton dan Bhentos
2.6.1. Susunan kamar
1. Susunan kamar foraminifera plankton
Susunan kamar foraminifera plankton dibagi menjadi :
Planispiral yaitu sifatnya berputar pada satu bidang, semua kamar terlihat
dan pandangan serta jumlah kamar ventral dan dorsal sama. Contoh:
Hastigerina
Trochospiral yaitu sifat berputar tidak pada satu bidang, tidak semua kamar
terlihat, pandangan serta jumlah kamar ventral dan dorsal tidak sama.
Contohnya : Globigerina.
Streptospiral yaitu sifat mula-mula trochospiral, kemudian planispiral
menutupi sebagian atau seluruh kamar-kamar sebelumnya. Contoh:
Pulleniatina.
2.6.2. Bentuk test dan kamar foraminifera
Bentuk test adalah bentuk keseluruhan dari cangkang foraminifera,
sedangkan bentuk kamar merupakan bentuk masing-masing kamar
pembentuk test.
Macam-macam pembentuk test antara lain :
Tabular (berbentuk tabung), contohnya Bathyspiral rerufescens
Bifurcating (bentuk cabang), contohnya Rhabdammina abyssorum.
Radiate (bentuk radial), contohnya Astrorizalimicola sandhal.
Arborescent (bentuk pohon), contohnya Dendrophrya crecta.
Irregular (bentuk tak teratur), contohnya Planorbulinoides sp.
Hemispherical (bentuk setengah bola), contohnya Pyrgo murrhina.
Zig-zag (bentuk berbelok-belok), contohnya Lenticulina.
Lancealate (bentuk seperti gada), contohnya Guttulina sp.
Conical (bentuk kerucut), contohnya Textularilla cretos.
Spherical (bentuk bola), contohnya Orbulina universa.
Discoidal (bentuk cakram), contoh Cycloloculina miocenica.
Fusiform (bentuk gabungan), contohnya Vaginulina leguman.
Biumbilicate (mempunyai dua umbilicus), contohnya Anomalinella
rostrata.
Biconvex (bentuk cembung di kedua sisi), contohya Robulus nayaroensis.
Flaring (bentuk seperti obor), Goesella rotundeta.
Spiroconvex (bentuk cembung di sisi dorsal), contohnya Cibicides
refulgens.
Umbilicoconvex (bentuk cembung di sisi ventral), contohnya Pulvinulinella
pacivica.
Lenticular biumbilicate (bentuk lensa), contohnya Cassidulina laevigata.

Palmate (bentuk daun), contohnya Flabellina frugosa.


Macam-macam bentuk kamar antara lain :
Spherical, contohnya Ellipsobulimina sp
Pyriform, contohnya Ellipsoglandulina velascoensis.
Tabular, contohnya Pleurostomella subhodosa.
Globular, contohnya Globigerina bulloides.
Ovate, contohnya Guttlina problema.
Angular truncate, contohnya Virgulina gunteri.
Hemispherical, contohnya Pulleniatina obliquiloculata.
Angular rhomboid, yaitu Globorotalia tumida.
Radial elongate, contohnya Clavulina insignis.
Clavate, contohnya Hastigerinella bermudezi.
Tubulospinate, contohnya Hantkeninaalabamensis.
Cyclical, contohya Cycloloculina miocenica.
Flatulose, contohnya Pleurostamella clavata.
Semicircular, contohnya Pavonina flabelliformis.
2.6.3. Septa dan suture
Septa adalah bidang yang merupakan batas antara kamar satu dengan
lainnya, biasanya terdapat lubang-lubang halus yang disebut foramen. Septa
tidak dapat terlihat dari luar test, sedangkan yang tampak pada dinding luar
test hanya berupa garis yang disebut suture.
Suture merupakan garis yang terlihat pada dinding luar test, merupakan
perpotongan septa dengan dinding kamar. Suture penting dalam
pengklasifikasian foraminifera karena beberapa spesies memiliki suture yang
khas.
Macam-macam bentuk suture :
Tertekan (melekuk), rata atau muncul dipermukaan test. Contohnya:
Chilostomella colina.
Lurus, melengkung lemah, sedang atau kuat. Contoh: Orthomorphina
challegeriana
Suture yang mempunyhai hiasan. Contohnya: Elphidium incertum untuk
hiasan berupa bridge.
2.6.4. Jumlah kamar dan jumlah putaran
Mengklasifikasikan foraminifera berdasarkan jumlah kamar dan jumlah
putaran perlu diperhatikan. Karena spesies tertentu mempunyai jumlah
kamar pada sisi ventral yang hampir pasti sedang dan pada bagian sisi dorsal
akan berhubungan erat dengan jumlah putaran. Jumlah putaran yang banyak
umumnya mempunyai jumlah kamar yang banyak pula , namun jumlah
putaran itu juga jumlah kamarnya dalam satu spesies mempunyai kisaran
yang hampir pasti.
Pada susunan kamar trochospiral jumlah putaran dapat diamati pada sisi
dorsal, sedangkan pada planispiral jumlah putaran pada sisi ventral dan
dorsal mempunyai kenampakan yang sama.
Cara menghitung putaran adalah dengan menentukan arah putaran dari
cangkang. Kemudian menentukan urutan pertumbuhan kamar-kamarnya dan
menarik garis pertolongan yang memotong kamar 1 dan 2 dan menarik garis
tegak lurus yang melalui garis pertolongan pada kamar 1 dan 2.

2.6.5. Aperture
Aperture foraminifera plankton
Aperture adalah lubang utama dari test foraminifera yang terletak pada
kamar terakhir. Khusus foraminifera plankton mempunyai bentu aperture
maupun variasinya lebih sederhana. Umumnya mempunyai bentuk aperture
utama interiomarginal yang terletak pada dasar (tepi) kamar terakhir
(septal face) dan melekuk kedalam, terdapat pada bagian ventral (perut).
Macam-macam aperture yang dikenal pada foraminifera plankton :
1. Primary aperture interiomarginal, yaitu :
Primary aperture interiomarginal umbilical adalah aperture utama
interiomarginal yang terletak pada daerah umbilical atau pusat putaran.
Contoh : Globigerina.
Primary aperture interiomarginal umbilical extra umbilical yaitu aperture
utama interiomarginal yang terletak pada daerah umbilicus melebar sampai
peri-peri. Contohnya : Globorotalia.
Primary aperture interiomarginal equatorial yaitu aperture utama
interiomarginal yang terletak pada daerah equator, dengan cirri-ciri dari
samping terlihat simetri dan hanya dijumpai pada susunan kamar planispiral.
Equator merupakan batas putaran akhir dengan putaran sebelumnya pada
peri-peri. Contohnya : Hestigerina.
2. Secondary aperture/supplementary aperture
Merupakan lubang lain dari aperture utama dan lebih kecil atau lubang
tambahan dari aperture utama.contoh : Globigerinoides.
3. Accessory aperture
Yaitu aperture sekunder yang terletak pada struktur accessory atau aperture
tambahan. Contohnya : Catapsydrax.
Aperture foraminifera benthos
Golongan benthos memiliki bentuk aperture yang bervariasi dan aperture itu
sendiri merupakan bagian penting dari test foraminifera, karena merupakan
lubang yang protoplasma organisme tersebut bergerak keluar dan masuk.
Macam-macam aperture foraminifera benthos antara laian :
1. Simple aperture
Open end of tube/at end of tabular chamber.
At base of aperture face.
In middle apertural face.
Aperture yang bulat dan sederhana, biasanya terletak diujung sebuah test
(terminal) lubangnya bulat. Contoh : Lagena, Frondioularia.. Falmula.
Aperture Virgulina/Loop shaped/comma shaped, mempunyai
koma/melengkung, tetapi tegak lurus pada permukaan septum/septal face.
Contoh: Virgulina, Bulimina.
With neck and phialine lip.
Aperture Phyaline, merupakan sebuah lubang yang terletak di ujung neck
yang pendek tapi menyolok.
Entosolenia tube.
Aperture slit like, berbentuk lubang sempit yang memanjang, umum
dijumpai pada foraminifera yang bertest hyaline. Contoh: Nonion, Fullenia,
Nonionela, Textularia.
Lateral/Hooded, Subterminal.

Cruciform.
Aperture Crescentic, lubangnya berbentuk tapal kuda. Contoh:
Nodosarella.
2. Apertural teeth
Sangle/With single tooth.
Apertural flap/with valvular tooth.
Pleurostomelline bifid /bifid tooth.
Umbilical teeth.
Modified tooth.
Lateral flanges .
3. Supplementary aperture
Sangle/With single tooth.
Apertural flap/with valvular tooth.
Pleurostomelline bifid /bifid tooth.
Umbilical teeth.
Modified tooth.
Lateral flanges .
Dendritik.
Apertur yang memancar (radiate), terminal sangat umum pada famili
Nodosaridae dan 'Yolymorphinidae merupakan sebuah lubang yang,bulat,
tetapi mempunyai pematang yang memancar dari pusat lubang. Contoh
Nodosaria, Folymorphina.
Radiate with apertural chamberlet.
Median and peripheral/peripheral and areal.
4. Multiple aperture
Multiple sutural, aperture yan g terdiri dari banyak, lubang, terletak di
sepanjang suture.
Multiple equatorial, Interiomarginal at base of apertural face.
Aperture cribrate/areal, cribrate/inapertural face cribrate. Bentuknya
seperti saringan, lubang umumnya halus dan terdapat pada permukaan
kamar akhir. Contoh Cribostomun.. Hiliola., Ammomassilina.
At base and in apertural face/areal multiple.
Terminal.
Areal supplementary.
Sutural and umbilical canal openings
5. Primary aperture
Umbilical.
Interiomarginal'umbilical extra umbilical/simple aperture lip/ventral and
peripheral.
Spilo umbilical/interiomarginal equatorial
2.6.6. Oranamen (hiasan) foraminifera
Ornament atau hiasan juga dapat dipakai sebagi penciri khas untuk genus
atau spesies tertentu contohnya pada genus Globoquadina yang memiliki
hiasan pada aperture yaitu flap.
Berdasarkan letak hiasannya dapat dibagi mejadi :
1. Pada suture antara lain

Suture bridge (bentuk suture yang menyerupai jembatan), contohnya


Sphaeroidinella dehiscens
Suture limbate (bentuk suture yang tebal), contohnya Globotruncana
angusticarinata.
Retral processes (bentuk suture zig-zag), contohnya Elphidium incertum.
Raised bosses (bentuk suture benjol-benjol), contohnya Globotruncana
calcarat.
2. Pada umbilicus, antara lain :
Depply umbilicus (umbilicus yang berlubang dalam), contohnya
Globoquadrina dehiscens.
Open umbilicus (umbilicus yang terbuka lebar), contohnya Spaerodinella
dehiscens.
Umbilical flap (umbilicus yang mempunyhai penutup), contohnya Robulus
sp.
Ventral umbo (umbilicus yang menonjol di permukaan), contohnya
Cibicides.
3. Pada peri-peri antara lain
Keel (lapisan tipis dan bening), contohnya Globorotalia menardi.
Spine (bentuk menyerupai duru), contohnya Hantkenina alabamensis.
4. Pada aperture antara lain
Lip/rim (bibir aperture yang menebal), contohnya Globogerina nepenthes.
Flap (bentuk menyerupai anak lidah), contohnya Globoquadrina dehiscens.
Tooth (bentuk menyerupai gigi), contohnya Globorotalia nana.
Bulla (bentuk segi enam yang teratur), contohnya Catapydrax dissimilis
Tegilla (bentuk yang tak teratur), contohnya Catapsydrax stainforty.
5. Pada permukaan test
Smooth (permukaan yang licin), contohnya Pulleniatina primalis.
Punotate (permukaan bintik-bintik), contohnya Orbulina bilobata
Reticulate (permukaan seperti sarang madu), contohnya Hedbergelina
washitensis.
Pustulose (permukaan dengan tonjolan-tonjolan bulat), contohnya
Rugoglobigerina rotundata.
Canceliate (permukaan dengan tonjolan yang memenjang), contohnya
Rugoglobigerina rugosa.
Axial costae (permukaan dengan garis searah sumbu), contohnya
Amphicoryna separans.
Spiral costae (permukaan dengan garis searah putaran kamar), contohnya
Lenticulina costata.
2.6.7. Komposisi test foraminifera
Berdasarkan komposisnya test foraminifera dikelompokkan menjadi empat,
yaitu ;
1. Dinding chitin/tektin
Dinding tersebut terbuat dari zat tanduk yang disebut chitin, namun
foraminifera dengan dinding seperti ini jarang dijumpai sebagai fosil.
Foraminifera yang mempunyai dinding chitin, antara lian :
Golongan allogromidae
Golongan miliolidae

Golongan lituolidae
Beberapa golongan Astroizidae
Cirri-ciri dinding chitin adalah fleksibel, transparan, berwarna kekuningan
dan imperforate.
2. Dinding arenaceous dan aglutinous
Dinding arenaceous dan agglutinin terbuat dari zat atau material asing
disekelilingnya kemudian direkatkan satu sama lain dengan zat perekat oleh
organisme tersebut. Pada dinding arenaceous materialnya diambil dari butirbutir pasir saja, sedangkan agglutinin materialnya diambil dari butir-butir
pasir, sayatan-sayatan mika, spone specule, fragmen-fragmen foraminifera
lainnya dan lumpur. Zat perekatnya bisa chitin, oksida besi, silica dan
gampingan. Zat perekat gampingan adalah cirri khas dari foraminifera yang
hidup di perairan tropis, sedangkan zat perekat silica khas untuk
foraminifera yang hidup di perairan dingin.
Contoh :
Dinding aglitinous : Ammobaculites aglutinous
Dinding Arenaceous : Psammosphaera
3. Dinding siliceous
Beberapa ahli (Brady, Hubler, Chusman, Jones) berpendapat bahwa dinding
silicon dihasilkan oleh organisme itu sendiri. Menurut Glessner dinding
silicon berasal dari zat primer (organisme itu sendiri)maupun zat skunder.
Tipe dinding ini jarang ditemukan, hanya dijumpai pada beberapa golongan
Ammodiscidae dan beberapa spesies dari Miliolidae.
4. Dinding calcareous/gampingan
Dinding yang terbuat dari zat gampingan dijumpai pada sebagian besar
foraminifera. Dinding gampingan dapat dikelompokkan menjadi :
Gampingan porselen : adalah dinding gampingan yang tidak berpori,
mempunyai kenampakan seperti pada porselen, bila kena sinar berwarna
putih opaque. Contohnya Quingueloculina, Pyrgo.
Gamping granular : adalah dinding yang terbuat dari Kristal-kristal kalsit
yang granular, pada sayatan tipis terlihat gelap. Contohnya Endothyra.
Gamping komplek : dinding yang dijumpai berlapis, kadang-kadang terdiri
dari satu lapis yang homogen, kadang terdiri dari dua bahkan empat lapis.
Terdapat pada glongan Fussulinidate.
Gamping hyaline : terdiri dari zat-zat gamping yang trasparan dan berpori.
Kebanyakan dari foraminifera plankton yang mempunyai dinding seperti ini.
2.7. Beberapa Contoh Foraminifera Planktonik dan Benthonik
2.7.1. Foraminifera Planktonik
2.7.1.1. Family Globigerinidae
Family globigerinidae terdiri dari beberapa genus antara lain:
1. Genus Cribohantkenina
Cirri-ciri morphologi sama dengan hantkenina tetapi kamar akhir sangat
gemuk dan mempunyai CRISRATE yang terletak pada plular apertural face.
Contoh: Cribrohantkenina bermudesi (p16)
2. Genus Hastigerina
Cirri-ciri morphologi dengan dinding test hyaline, bentuk test biumbilicate,
susunan kamar planispiral involute atau Loosely Coiled. Aperture
berbentuk parabola, terbuka lebar dan terletak pada apertural face.
Contoh: Hastigerina aequilateralis (N14- N23)

3. Genus Clavigerinella
Dengan cirri-ciri morphologi dinding test hyaline. Bentuk test pipih panjang,
susunan kamar involute, radial elongate atau clavate. Contoh:
Clavigerinella jarvisi (P13- P15).
4. Genus Pseudohastigerina
Cirri-ciri morphologi dengan dinding test hyaline, bentuk test biumbilicate,
susunan kamar planispiral involute atau Loosely Coiled. Aperture terbuka
lebar, berbentuk parabol dan terletak pada apertureal face. Genus ini
dipisahkan dari Hastigerina karena testnya yang lebih pipih.
5. Genus Cassigerinella
Cirri-ciri morphologi dengan dinding test hyaline. Susunan kamar pada
permulaan planispiral dan seterusnya tersusun secara biserial. Aperture
berbentuk parabol dan terletak didasar apertural face.Contoh:
Cassigerinella chipolensis (P18-N13).
2.7.1.2. Famili Globorotaliidae
Family ini umumnya mempuyai test biconvex, bentuk kamar subglobular,
susunan kamar trochospiral , Aperture memanjang dari umbilicus ke pinggir
test dan terletak pada dasar apertural face. Pinggir test ada yang
mempunyai keel dan ada yang tidak.
Berdasarkan bentuk test, bentuk kamar, aperture dan keel, maka family ini
dapat dibagi atas dua genus, yaitu :
1. Genus Globorotalia
Cirri-ciri morphologi dengan test hyaline, bentuk test biconvex, bentuk
kamar subglobular, atau angular conical. Aparture memanjang dari
umbilicus ke pinggir test. Pada pinggir test terdapat keel dan ada yang
tidak. Berdasarkan ada tidaknya keel maka genus ini dapat dibagi menjadi
dua sub genus, yaitu :
- Subgenus Globorotalia
Subgenus ini mencakup seluruh glabarotalia yang mempunyai keel.
Membedakan subgenus ini dengan yang lainnya maka dalam penulisan
spesiesnya, biasanya diberi kode sebagai berikut :
Contoh : Globorotalia (G) tumida (N18-N23)
Abc
a. Menrangkan genus.
B. Menerangkan subgenus.
C. Menerangkan species.
- Suibgenus Turborotalia
Subgenus mencakup seluruh globorotalia yang tidak memiliki keel.
Membedakannya, maka subgenus turborotalia dalam penulisan spesiesnya
diberi kode :
Contoh : Globorotalia (ST) Siakensis (N2- N14)
2. Genus truncorotaloides
Cirri-ciri morphologi dengan dinding test hyaline bentuk test truncate ,
bentuk kamar angular truncate. Susunan kamar umbilical convex
trochospiral dengan deeply umbilicus. Aperture terbuka lebar yang
memanjang dari umbilicus ke pinggir test. Cirri-ciri khasnya dari genus ini
ialah terdapatnya sutural supplementary aperture dan dinding test yang
kasar (seperti berduri) yang pada genus globorotalia hal ini tidak akan
dijumpai. Subgenus ini tidak dibahas lebih lanjut, karena terdapat pada
lapisan tua Eosen Tengah.

Contoh : Truncorotaloides rahri (P13- P14)


2.7.1.3. Family Globigeriniidae
Family ini pada umumnya mempunyai bentuk test sperichal atau
hemispherical, bentuk kamar glubolar dan susunan kamar trochospiral
rendah atau tinggi. Apaerture pada umumnya terbuka lebar dengan posisi
yang terletak pada umbilicus dan juga pada sutura atau pada apertural
face.
Berdasarkan bentuk test, bentuk kamar, bentuk aperture dan susunan kamar
maka family ini dapat dibagi atas 14 genus yaitu:
1. Genus Globigerina
Cirri-ciri morphologi dengan dinding test hyaline, bentuk test speroical,
bentuk kamar globural, susunan kamar trochospiral. Aperture terbuka lebar
dengan bentuk parabol dan terletak pada umbilicus. Aperture ini disebut
umbilical aperture.
2. Genus Globigerinoides
Ciri-ciri morphologi sama dengan Globigerina tetapi mempunyai
supplementary aperture, dengan demikian dapat dikatakan bahwa
globigerinoides ini adalah Globigerina yang mempunyai supplementary
aperture. Contohnya: Globigerinoides primordius. (N4)
3. Genus globoquadina
Cirri-ciri morphologi dinding test hyaline, bentuk test spherical, bentuk
kamar globural, dan susunan kamar trochoid. Aperture terbuka lebar dan
terletak pada umbilicus dengan segi empat yang kadang-kadang mempunyai
bibir. Contohya: Globoquadrina alrispira
4. Genus Globorotaloides
Ciri-ciri morphologi sama dengan genus Globorotalia tetapi umbilicusnya
tertutup oleh Bulla (bentuk segi enam yang tertutup).
5. Genus Pulleniatina
Ciri-ciri morphologi dengan dinding test hyaline, bentuk test spherical,
bentuk kamar globural, susunan kamar trochospiral terpuntir. Aperture
terbuka lebar memanjang dari umbilicus ke arah dorsal dan terletak di dasar
apertural face. Contohnya: Pulleniatina obliquiloculate (N19 N23)
6. Genus Sphaeroidinella
Cirri-ciri morphologi dengan dinding test hyaline, bentuk test spherical atau
oval, bentuk kamar globural dengan jumlah kamar tiga buah yang saling
berangkuman (embracing). Aperture terbuka lebar dan memanjang didasar
sutura. Pada dorsal terdapat supplementary aperture.
Salah satu spesies yang termasuk genus ini beserta gambar dan keterangan.
Spaeroidinella dehiscens (N19 N23)
Test trochospiral, equatorial peri-peri lobulate sangat ramping, sumbu periperi membulat. Dinding berlubang kasar, permukaan licin. Kamar
subglobular menjadi bertambah melingkupi pada saat dewasa, tersusun
dalam tiga putaran, tiga kamar dari putaran terakhir bertambah ukurannya
secara cepat. Suture tidak jelas tertekan radial. Aperture primer
interiomarginal umbirical, atau 2 aperture skunder pada sisi belakang
terdapat pada kamar terakhir.
7. Genus Sphaeroidinellopsis
Ciri-ciri morphologi sama dengan genus Spaeroidinella tetapi tidak
mempunyai supplementary aperture, dengan demikian dapat dikatakan
bahwa Spaeroidiniellopsis itu adalah Spearoidinella yang tidak mempunyai

supplementary aperture.
8. Genus Orbulina
Ciri-ciri morphologi dengan dinding test hyaline dan bentuk test spherical,
serta aperture tidak kelihatan (small opening). Aperture ini adalah akibat
dari terselumbungnya seluruh kamar-kamar sebelumnya oleh kamar terakhir.
Beberapa speies yang termasuk pada genus ini beserta gambar.
Urbulina universa
Orbulina bilobata
9. Genus Biorbulina
Cirri-ciri morphologi sama dengan genus orbulina, tetapi gandeng dua.
10. Genus Praeorbulina
Cirri-ciri morphologi dinding test hyaline, bentuk test spherical atau agak
lonjong. Bentuk lonjong ini diakibatkan oleh kamar-kamar terakhir yang
menyelumbungi kamar-kamar sebelumnya. Aperture utama tidak terlihat
lagi, yang terlihat hanya supplementary aperture saja yang berbentuk stripstrip.
11. Genus Candeina
Cirri-ciri morphologi dinding test hyaline, bentuk test spherical, bentuk
kamar globural. Jumlah kamar tiga buah dan di sepanjang sutura terdapat
sutural supplementary aperture. Contohnya: Candeina nitida
12. Genus Globigerinatheca
Cirri-ciri morphologi dinding test hyaline, bentuk test spherical, dan bentuk
kamar globular. Susunan kamar pada permulaan trochospiral dan kemudian
berangkuman (embracing). Umbilicus tertutup dan terdapat secondary
aperture yang berbentuk parabol dan kadang-kadang tertutup bulla.
13. Genus Globigerinita
Cirri-ciri morphologi sama dengan genus globigerina tetapi dengan bulla.
14. Genus Globigerinatella
Cirri-ciri morphologi dinding test hyaline, bentuk test spherical, susunan
kamar pada permulaan trochospiral dan kemudian berangkuman. Umbilicus
samar-samar karena tertutup bulla. Terdapat sutural secondary aperture
bullae dengan infralaminal aperture.
15. Genus Catapsydrax
Cirri-ciri morphologi dengan dinding test hyaline, bentuk test spherical,
susunan kamar trochospiral. Memiliki hiasan pada aperture yaitu berupa
bulla pada catapsydrax dissimilis dan tegilla pada catapsydrax
stainforthi. Dengan memiliki accessory aperture yaitu infralaminal
accessory aperture pada tepi hiasan aperturenya. Contohnya: Catapsydrax
dissimilis (N1 N8)
2.7.2. Pengenalan genus dan spesies foraminifera benthonik
Foraminifera benthonik memiliki habitat pada dasar laut dengan cara hidup
secara vagile (merambat/merayap) dan sessile (menambat). Alat yang
digunakan untuk merayap pada benthos yang vagile adalah pseudopodia.
Terdapat yang semula sesile dan berkembang menjadi vagile serta hidup
sampai kedalaman 3000 meter di bawah permukaan laut. Material penyusun
test merupakan agglutinin, arenaceous, khitin, gampingan.
Foraminifera benthonik sangat baik digunakan untuk indikator paleoecology
dan bathymetri, karena sangat peka terhadap perubahan lingkungan yang
terjadi. Faktor-faktor yang mempengaruhi ekologi dari foraminifera

benthonic ini adalah :


Kedalaman laut
Suhu/temperature
Salinitas dan kimia air
Cahaya matahari yang digunakan untuk fotosintesis
Pengaruh gelombang dan arus (turbidit, turbulen)
Makanan yang tersedia
Tekanan hidrostatik dan lain-lain.
Faktor salinitas dapat dipergunakan untuk mengetahui perbedaan tipe dari
lautan yang mengakibatkan perbedaan pula bagi ekologinya. Streblus
biccarii adalah tipe yang hidup pada daerah lagoon dan daerah dekat pantai.
Lagoon mempunyai salinitas yang sedang karena merupakan percampuran
antara air laut dengan air sungai.
Foraminafera benthos yang dapat digunakan sebagai indikator lingkungan
laut secara umum (Tipsword 1966) adalah :
Pada kedalaman 0 5 m, dengan temperatur 0-27 derajat celcius, banyak
dijumpai genus-genus Elphidium, Potalia, Quingueloculina, Eggerella,
Ammobaculites dan bentuk-bentuk lain yang dinding cangkangnya dibuat
dari pasiran.
Pada kedalaman 15 90 m (3-16 C), dijumpai genus Cilicides, Proteonina,
Ephidium, Cuttulina, Bulimina, Quingueloculina dan Triloculina.
Pada kedalaman 90 300 m (9-13oC), dijumpai genus Gandryna, Robulus,
Nonion, Virgulina, Cyroidina, Discorbis, Eponides dan Textularia.
Pada kedalaman 300 1000 m (5-8 C), dijumpai Listellera, Bulimina,
Nonion, Angulogerina, Uvigerina, Bolivina dan Valvulina
Macam-macam genus dari foraminifera benthos yang sering dijumpai :
Genus Ammobaculites Chusman 1910
Termasuk famili Lituolidae, dengan cirri-ciri test pada awalnya terputar,
kemudian menjadi uniserial lurus, komposisi test pasiran, aperture bulat
dan terletak pada puncak kamar akhir. Muncul pada karbon resen.
Genus Amondiscus Reuses 1861
Termasuk famili Ammodiscidae dan ciri ciri test monothalamus, terputar
palnispiral, kompisisi test pasiran, aperture pada ujung lingkaran. Muncul
Silur Resent.
Genus Amphistegerina d Orbigny 1826
Famili berbentuk lensa, trochoid, terputar involut, pada ventral terlihat
surture bercabang tak teratur, komposisi test gampingan, berpori halus,
aperture kecil pada bagian ventral kecil pada bagian ventral
Genus Bathysiphon Sars 1972
Termasuk famili Rhizamminidae dengan test silindris, kadang kadang lurus,
monothalamus, komposisi test pasiran, aperture di puncak berbentuk pipa.
Muncul Silur Resent.
Genus Bolivina
Termasuk famili Buliminidae dengan test memanjang, pipih agak runcing,
beserial, komposisi gampingan, berposi aperture pada kamar akhir, kadang
berbentuk lope, muncul Kapur Resent.
Genus d Orbigny 1826

Termasuk famili Buliminidae, test memanjang, umunya triserial, berbentuk


kamar sub globular, komoposisi gampingan berpori.
Genus Cibicides Monfort 1808
Termasuk famili Amonalidae, dengan cirri cirri test planoconvex rotaloid,
bagian dari dorsal lebih rata, komposisi gampingan berpori kasar, aperture di
bagian ventral, pemukaan akhir sempit dan memanjang.
Genus Decalina d Orbigny 1826
Termasuk famili Lageridae, dengan ciri ciri test pilythalamus, uniserial,
curvilinier, suture menyudut, komposisi test gampingan berpori halus,
aperture memancar, terletak pada ujung kamar akhir.
Genus Elphidium Monfort 1808
Termasuk famili Nonionidae dengan ciri cirri test planispiral, bilateral
simetris, hampir seluruhnya involute, hiasan suture bridge dan umbilical,
komposisi test gampingan berpori, aperture merupakan sebuah lubang/lebih
pada dasar pemukaan kamar akhir.
Genus Nodogerina Chusman 1927
Termasuk famili Heterolicidae, degan test memanjang, kamar tersusun
uniserial lurus, kompisi test gampingan berpori halus, aperture terletak di
puncak membulat mempunyai leher dan bibir. Muncul Kapur Resen.
Genus Nodosaria Lamark 1812
Termasuk famili Lagenidae degan test lurus memajang, kamar tersusun
uniserial, suturenya tegak lurus, terhadap sumbu, pada pemulaaan agak
bengkok kemudian lurus, komposisi gampingan berpori, aperture di puncak
berbentuk radier, muncul Karbon Resent.
Genus Nonion Monfort 1888
Termasuk famili Nonionidae dengan test cenderung involute, bagian tepi
membulat, umumnya dijumpai umbilical yang dalam, komposisi gampingan
berpori , aperture melengkung pada kamar akhir. Muncul Yura Resent.
Genus Rotalia Lanmark 1804
Umumnya suture menebal pada bagian dorsal, bagian ventral suturenya
tertekan ke dalam, komposisi test gampingan berpori, aperture pada bagian
ventral membuka dari umbilical pinggir.
Genus Saccamina M. Sars 1869
Termasuk famili Sacanidae degan test globular, komposisi test dari material
kasar, biasanya oleh khitin berwarna coklat, aperture di puncak umumnya
degan leher. Muncul Silur Resent.
Genus Textularia Derance 1824
Termasuk famili Textularidae test memanjang kamar tersusun biserial,
morfologi kasar, komposisi pasiran, aperture sempit memanjang pada
permukaan kamar akhir. Muncul Devon Resent.
Genus Uvigerina d Obigny 1826
Termasuk famili uvigeridae degan test fusiform, kamar triserial, komposisi
berpori, aperture di ujung dengan leher dan bibir. Muncul Eosen Resent.
2.7.3. Foraminifera Besar Bhentonik
Ordo foraminifera ini memiliki bentuk yang lebih besar di bandingkan degan
yang lainnya. Sebagian besar hidup didasar laut degan kaki semu dan type
Letuculose, juga ada yang hidup di air tawar, seperti family Allogromidae.
Memiliki satu kamar atau lebih yang dipisahkan oleh sekat atau septa yang

disebut suture . aperture terletak pada permukaan septum kamar terakhir.


Hiasan pada permukaan test ikut menentukan perbedaan tiaptiap jenis.
Foraminifera besar benthonik baik digunakan untuk penentu umur.
Pengamatan dilakukan degan mengunakan sayatan tipis vertical, horizontal,
atau, miring di bawah miroskop. Pemberiam sitematik foraminifera
benthonik besar yang umum ( A. Chusman 1927).
2.7.3.1. Famili Discocyclidae
Genus Aktinocyclina : kenampakan luar bulat, tidak berbentuk bintang, di
jumpai rusak rusak yang memancar.
Genus Asterocyclina : kenampakan luar seperti bintang polygonal, dijumpai
rusak rusak radier.
Genus Discocyclina : kenampakam luar merupakan lensa, kadang bengkok
menyerupai lensa, kadang bengkok menyerupai pelana, kelilingnya bulat
degan/ tanpa tonggak tonggak.
2.7.3.2. Famili Camerinidae
Genus Asslina : kenampakan luar pipih (lentukuler) discoidal, test besar
ukuran 2 50 mm, di jumpai tonggak tonggak.
Genus Cycloclypeus : kenampakan luar seperti lensa dan kamar sekunder
yang siku siku terlihat dari luar.
Genus Nummulites : kenampakan luar seperti lensa, terputar secara
planispiral, hanya putaran terluar yang terlihat, pada umumnya licin.
2.7.3.3. Famili Alveolinelliadae
Genus Alveolina : kenampakan luar berbentuk telur/slllips (fusiform),
panjang kurang lebih 1 cm.
Genus Alveolinella : bentuk sama degan Alveolina panjang sumbunya 0,5
1,5 cm serta ada suatu kanal (pre septa). Celah celahnya tersusun menjadi
3 baris dan tersusun bergantian, tetapi sambung menyambung.
2.7.3.4. Famili Miogpsinidae
Genus Miogypsian : kenampakan luar terbentuk segitiga, lonjong hingga
bulat, kadang seperti bintang/pligonal, permukaan papilliate, sering di
jumpai tongkak.
Genus Miogypsinoides ; kenampakan luar terbentuk segitiga, lonjong dan
kulit luarnya datar.
2.7.3.5. Famili Calcarinidae
Genus Biplanispira : kenampakan luar pipih hingga seperti lensa, discoidal,
hampir bilateral simetri dengan/tanpa tonggak.
Genus Pellatispira : kenampakan luar seperti lensa (lentikuler) dan bulat
sering dijumpai tonggak.
2.7.3.6. Famili Orbitoididae
Genus Lepidocyclina : kenampakan seperti lensa (lentiluler) pipih cembung,
discoidal, permukaan test papilate, halus reticulate, pinggirnya bisa bulat,
kadang seperti batang atau polygonal.
2.8. Aplikasi Foraminifera
Masalah masalah Geologi yang menghubungkan dengan umur suatu batuan
sampai sekarang masih mempergunakan foraminifera planktonik di samping
juga mengunakan metode metode lain yang lebih teruji dan lebih tepat.
Penentuan kisaran umur dengan mengunakan foraminifera planktonik,
dilakukan degan langkah langkah sebagai berikut :

a. Mengenalisa fosil foraminifera palakton dari suatu batuan sampai ke


tingkat spesiesnya.
b. Mempergunakan acuan Blow (1969) dalam penetuan kisaran umum dari
fosil foram plankton yang telah diamati dan dianalisa.
c. Menetukan kisaran umur fosil foram plankton yang muncul akhir dan umur
yang punah awal.
d. Maka umur batuan yang didapatkan merupakan suatu range dari hasil
nomor C
BAB III
PEMBAHASAN
Mikropaleontologi merupakan cabang paleontologi yang mempelajari
mikrofosil. Mikrofosil adalah fosil yang umumnya berukuran tidak lebih besar
dari empat millimeter, dan umumnya lebih kecil dari satu milimeter,
sehingga untuk mempelajarinya dibutuhkan mikroskop cahaya ataupun
elektron. Fosil yang dapat dipelajari dengan mata telanjang atau dengan
alat berdaya pembesaran kecil, seperti kaca pembesar, dapat
dikelompokkan sebagai makrofosil. Secara tegas, sulit untuk menentukan
apakah suatu organisme dapat digolongkan sebagai mikrofosil atau tidak,
sehingga tidak ada batas ukuran yang jelas.
3.1. Pendeskripsian Foraminifera
Mempelajari mikrofosil (foraminifera) ada beberapa hal yang harus
diperhatikan diantaranya adalah :
1. Susunan kamar
Susunan kamar foraminifera plankton dibagi menjadi tiga yaitu:
Planispiral yaitu sifatnya berputar pada satu bidang, semua kamar terlihat
dan pandangan serta jumlah kamar ventral dan dorsal sama.
Trochospiral yaitu sifat berputar tidak pada satu bidang, tidak semua kamar
terlihat, pandangan serta jumlah kamar ventral dan dorsal tidak sama.
Streptospiral yaitu sifat mula-mula trochospiral, kemudian planispiral
menutupi sebagian atau seluruh kamar-kamar sebelumnya. Contoh:
Pulleniatina
2. Bentuk test dan bentuk kamar
Bentuk test adalah bentuk keseluruhan dari cangkang foraminifera,
sedangkan bentuk kamar merupakan bentuk masing-masing kamar
pembentuk test.
Penghitungan kamar foraminifera dimulai dari bagian dalam dan pada bagian
terkecil dimana biasanya mendekati aperturenya.
3. Septa dan Suture
Septa adalah bidang yang merupakan batas antara kamar satu dengan
lainnya, biasanya terdapat lubang-lubang halus yang disebut foramen. Septa
tidak dapat terlihat dari luar test, sedangkan yang tampak pada dinding luar
test hanya berupa garis yang disebut suture.
Suture merupakan garis yang terlihat pada dinding luar test, merupakan
perpotongan septa dengan dinding kamar. Suture penting dalam
pengklasifikasian foraminifera karena beberapa spesies memiliki suture yang
khas
4. Aperture
Aperture adalah lubang utama dari test foraminifera yang terletak pada

kamar terakhir.
Pengamatan foraminifera mikro (plankton dan benthos ini dilakukan dengan
menggunakan mikroskop. Langkah-langkahnya sebagai berikut:
- Menyiapkan Alat dan bahan berupa mikroskop, lampu, serta alat tulis
untuk mendeskripsikan dan menggambar fosil yang diamati.
- Meletakkan fosil pada mikroskop yang ada pada plate fosil dan lamp
dinyalakan.
- Mengatur letak fosil dan perbesaran lensa mikroskop.
- Mengamati dan menggambar bentuk fosil serta bagian-bagiannya.
- Mendeskripsikan berdasarkan literatur yang ada.
3.2. Aplikasi Dari Pemanfaatan Foraminifera
Foraminifera dapat digunakan untuk menentukan umur batuan serta untuk
mengetahui struktur geologi apa saja yang terjadi pada suatu daerah seperti
sesar, lipatan dan kekar. Berikut ini adalah contoh penggunaan foraminifera
dalam menetukan umur batuan.
Contoh :
Dari sampel batuan diperoleh fosil plankton sebagai berikut:
Keterangan:
A. Satuan Batu pasir dengan kandungan fosil sebagai brerikut:
Fosil a N2 N8
Fosil b N5 N7
Fosil c N6 N11
penentuan umur batuan dapat dilakukan dengan metode muncul akhir punah awal.
Umur batuan adalah N6 N7
B. Satuan batu lempung dengan kandungan fosil sebagai brerikut:
Fosil d N1 N12
Fosil e N8 N10
Fosil f N6 N9
Dengan metode muncul akhir punah awal
Umur satuan batu lempung tersebut adalah N8 N9
Satuan batu gamping
Keterangan :
Fosil a N8 - N10
Fosil B N7 - N15
Fosil c N9 - N14
Dengan metode muncul akhir dan punah awal maka
Umur satuan batu gamping tersebut adalah N9 N10
Dari uraian di atas maka dapat didisimpulkan sebagai berikut:
- Sesuai dengan hukum superposisi yaitu lapisan yang berada paling bawah
merupakan lapisan batuan yang paling tua dan lapisan yang paling muda
berada di paling atas.
- Satuan batuannya selaras karena susunan lapisan batuannya dari yang tua
sampai yang muda berurutan
- Tidak terjadi gap(waktu yang terputus).
Data Nama fosil dan umurnya
NO Nama Foraminifera
1 Clavigerinella jarvisi P13 P15
2 Cribrohantkenina bermudesi P16

3 Hastigerina aequilateralis N14 N23


4 Cassigerinella chipolensis P18 N13
5 Globoratalia (G) tumida N18 N23
6 Globoratalia (T) siakensis N2 N14
7 Truncorotaloides rahri P13 P14
8 Globigerinoides primordius N4
9 Pulleniatina obliquiloculate N19 N23
10 Spaeroidinella dehiscens N19 N23
11 Orbulina universa N9 N23
12 Orbulina bilobata N9 N23
13 Candeina nitida N17 N23
14 Catapsydrax dissimilis N1 N8
15 Genus Ammobaculites Chusman 1910 Karbon - resent
16 Genus Ammodicus Reuss 1861 Silur - resent
17 Genus Bathysiphon Sars 1972 Silur - resent
18 Genus Bolivina Kapur - resent
19 Genus Nodogerina Chusman 1927 Kapur - resen
20 Genus Nodosaria Lamark 1812 Karbon - resen
21 Genus Nonion Monfort 1888 Yura - resent
22 Genus Saccamina M. Sars Silur - resent
23 Genus Textularia Derance 1824 Devon - resent
24 Genus Uvigerina dOrbigny 1826 Eosin - resent
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Dari praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Foraminifera adalah organisme bersel tunggal (protista) yang mempunyai
cangkang atau test (istilah untuk cangkang internal).
2. Penelitian tentang fosil foraminifera mempunyai beberapa penerapan
yang terus berkembang sejalan dengan perkembangan mikropaleontologi
dan geologi. Fosil foraminifera bermanfaat dalam biostratigrafi,
paleoekologi, paleobiogeografi, dan eksplorasi minyak dan gas bumi.
3. Fosil ukurannya lebih dari 5 mm namun ada yang berukuran sampai 19
mm seperti genus fusulina yang memiliki cangkang- cangkang yang dimiliki
organisme, embrio dari foil-fosil makro serta bagian-bagian tubuh.
4. Dalam membedakan foraminifera yang satu dengan yang lainnya harus
memperhatikan bentuk test, susunan kamar, bentuk kamar, ornament ,
suture dan aperturenya.
5. Dalam menentukan suatu umur batuan menggunakan fosil dapat dilaukan
dengan melihat fosil muncul akhir dan punah awal.
6. Masalah masalah Geologi yang berhubungan dengan umur suatu batuan
sampai sekarang masih mempergunakan foraminifera planktonik di samping
juga mengunakan metode metode lain yang lebih teruji dan lebih tepat.
4.2. Saran
Praktikum yang akan datang diharapkan lebih ditingkatkan lagi dalam
penyajian materi serta literatur yang disediakan agar mahasiswa lebih
paham sehingga tujuan dari dilaksanakannya praktikum dapat tercapai

secara maksimal.
http://laporanp.blogspot.com/2010/02/bab-i-pendahuluan-1_07.html
6.3.2 Plankton
Organisma yang hidup melayang-layang dalam kolom air disebut
plankton. Penyebaran plankton bahari juga dikontrol oleh parameter-parameter lingkungan
seperti salintas, pasokan oksigen, temperatur, dan ketersediaan bahan makanan.
Fitoplankton (phytoplankton) dikontrol oleh intensitas cahaya, yang nilainya akan menurun
dengan bertambahnya kedalaman atau dengan makin keruhnya air. Karena itu, fitoplankton
tidak hidup di daerah air turbid seperti di sekitar sistem delta yang berlumpur. Parameter
lingkungan bahari berbeda-beda, tergantung pada asal-usul air, iklim, geografi, dan
kedalaman. Keberadaan suatu plankton juga dipengaruhi oleh tingkat toleransi yang
dimilikinya terhadap parameter-parameter lingkungan tersebut di atas. Sebagai contoh,
radiolaria dan foraminifera planktonik jarang ditemukan di paparan, sedangkan
dinoflagelata dan acritarch dapat hidup mulai dari lingkungan laut tepi hingga laut terbuka
(gambar 6-6). Karena itu, penyebaran fosil plankton tertentu secara kasar dapat pula
dikaitkan dengan massa air, kedalaman, dan jaraknya terhadap daratan.
Nisbah
mikrofosil plantonik terhadap bentonik (Murray, 1976) dan nisbah dinocyst laut-"dalam"
terhadap dinocyst laut-"dangkal" memberikan informasi mengenai tingkat "kelautan" dan
upwelling.
Copy and WIN : http://bit.ly/copynwin

http://geofact.blogspot.com/2011/01/biostratigrafi.html
ghiozan karami