Anda di halaman 1dari 12

PERAN PENDIDIKAN

DALAM PEMBINAAN MORAL BANGSA


Assalamu alaykum Warahmatullah Wabarakatuh
1. Muqaddimah
Moralitas adalah bukti kebebasan manusia dalam menentukan pilihannya. Tuhan hanya
memberikan bimbingan dan petunjuk, tidak memaksa manusia. Manusialah yang memilih;
adakala ia mengambil jalan kebaikan, adakala ia mengambil jalan kejahatan. Moralitas adalah
sikap mental di mana seseorang lebih memilih kebaikan dari keburukan, kebenaran dari
kebatilan, keadilan dari kezaliman. Moralitas adalah komitmen yang menuntut seseorang lebih
mempertimbangkan kebaikan untuk sesama ketimbang kepentingan diri sendiri, spiritualitas di
atas nafsu dan kepentingan duniawi; moralitas mencerminkan kesabaran, kasih sayang,
kemampuan menahan diri dan kemampuan meletakkan nilai-nilai di atas segala bentuk tekanan
emosi dan nafsu.
Dunia tanpa moral dalam kehidupan manusia akan membawa kepada destruksi
peradaban. Kekosongan moral akan menghapus nilai-nilai kemanusiaan. Tanpa moral manusia
tidak berbeda dari hewan: akal tidak banyak memberikan manfaat. Jika akal merupakan alat
untuk melakukan kalkulasi dan analisis rasional, maka moralitas adalah kesadaran nurani yang
menentukan pengambilan sikap. Kecerdasan akal mampu secara kreatif membangun peradaban
yang mencengangkan, tetapi tanpa moral peradaban itu rapuh. Peradaban yang dibangun
seorang penguasa di atas puing-puing nestapa dan penderitaan rakyat jelata akan menuai
kehancuran dalam waktu yang tidak lama. Peradaban Firaun yang dibangun dengan darah dan
air mata kaum Bani Israil, misalnya, dihancurkan Tuhan dalam waktu sesaat. Kemegahan
duniawi yang dibangun tanpa fondasi moral, hanya sebuah ilusi yang akan lenyap dalam
sekejap.
Moralitas, dengan demikian, adalah basis bagi ketahanan sebuah masyarakat dan
bangsa. Moralitas memberikan keseimbangan dalam hubungan dan interaksi sesama manusia
sehingga menguatkan cita-cita bersama serta mendistribusikan ketenteraman secara merata.
Moralitas berdampak pada semua lini kehidupan: sosial budaya, ekonomi, politik, pendidikan
dan keagamaan. Jadi persoalan moralitas sangat penting, tidak bisa diabaikan.

2. Moralitas dalam Wacana


Moralitas sering disebut dengan a code of conduct,1 aturan berperilaku. Dalam bertindak dan
melakukan berbagai aktivitas yang bersinggungan dengan orang lain diperlukan aturan yang
merupakan tatanan sikap. Seseorang tidak boleh berkelakuan seenaknya ketika berinteraksi
dengan orang lain, melainkan harus sesuai dengan ketentuan tertentu baik berdasarkan ajaran
agama atau adat istiadat, yakni aturan berdasarkan kesepakatan masyarakat. Tata tutur, cara
berbicara, bahasa yang digunakan, cara berdiri dan duduk, sampai pada cara meletakkan tangan
serta cara mengedipkan mata, dianggap punya makna tersendiri oleh kebanyakan orang; di
hadapan orang lain kita tidak boleh melakukannya secara sebarangan. Akan tetapi, dalam hal ini
ada problem yang muncul, yakni soal standar moral. Aturan-aturan moral yang dianut suatu
masyarakat boleh jadi berbeda dari yang dianut masyarakat lain. Lalu yang mana harus
dijadikan standar?
Dalam wacana filsafat, moralitas dan etika memang merupakan persoalan yang pelik
dan telah menimbulkan perdebatan yang panjang. Apa sebenarnya moralitas itu? Ia berasal dari
mana? Apakah ia hanya terkait dengan persoalan tindakan dan didasarkan pada alasan-alasan
praktis? Apakah kita berbuat baik, hanya supaya orang lain berbuat baik kepada kita? Kalau
orang lain tidak mau berbuat baik kepada kita, bagaimana? Ataukah moralitas hanya a matter of
emotion, sympathy [and] motive? Atau apakah ia adalah sebuah karakter yang hanya tergantung
pada pendidikan moral yang didapatkan seseorang, seperti pandangan Aristoteles?2
Para agamawan percaya bahwa moralitas mesti berasal dari keyakinan. Moralitas tanpa
Tuhan hanyalah omong kosong. Untuk apa orang melakukan sebuah kebaikan jika tidak ada
konsekuensi apa pun? Seorang Mario Teguh pun pernah berkata: Saya dulu protes kalau hidup
kita itu untuk Tuhan. Lalu, untuk aku apa? Kebebasanku di mana? Harus begini untuk
menyenangkan Tuhan, lalu untuk menyenangkan saya mana?
Dalam kegelisahannya, Mario mengajukan protes, mengapa kita berbuat baik untuk
Tuhan? Mengapa bukan untuk kita sendiri? Perjalanan hidupnya dan kesungguhannya mencari
jawaban tentang kebaikan pada akhirnya memberinya kemantapan soal mengapa kita harus
melakukan kebaikan, sehingga Mario berkata: ... sampai saya mengerti bahwa kesenangan itu
justru karena kita mengabdikan diri pada kebaikan. Dan kepada generasi muda ia nasihatkan
bahwa jika yang kamu pikirkan kebaikan, yang kamu rasakan kebaikan, yang kamu katakan
kebaikan, yang kamu lakukan kebaikan, maka kebaikan itu yang mencari jalan.3
http://en.wikipedia.org/wiki/Morality, 25 April 2009.
Roger Scruto, Modern Philosophy, Penguin Books, 1996, 271.
3
Republika, 29 April 2009.
1
2

Dalam wacana filsafat dikatakan, orang melakukan kebaikan adalah karena kebaikan itu
sendiri. Bagi sebagian filosof, moralitas adalah sifat alamiah manusia, sementara menurut
sebagian yang lain, moralitas muncul sebagai sebuah kontrak sosial karena manusia
menginginkan hidup damai. Moralitas bukan berasal dari Tuhan, tetapi dari manusia itu sendiri;
ia adalah sebuah produk nalar dan bagian dari kebutuhan manusia. Pemahaman seperti ini tidak
masuk akal para agamawan. Para agamawan percaya bahwa tidak ada moralitas tanpa Tuhan.
Manusia berbuat baik atau meninggalkan kejahatan karena mereka yakin akan konsekuensinya.
Untuk apa seseorang melakukan perjuangan berat atau merelakan nyawanya melayang, jika
setelah itu ia musnah dan hanya menjadi debu?
Namun sebuah situs filsafat menyebutkan sebuah laporan sebagai berikut: The most
significant predictor of a person's moral behavior may be religious commitment. People who
consider themselves very religious were least likely to report deceiving their friends, having
extramarital affairs, cheating on their expenses accounts, or even parking illegally. Based on
this finding, what we believe about Creation has a decided effect on our moral thinking and our
behavior.4 (Yang paling dapat memprediksikan perilaku moral seseorang barangkali adalah
komitmen keagamaannya. Orang yang menganggap dirinya paling religius ternyata adalah
yang paling sedikit dilaporkan telah melakukan penipuan terhadap temannya, melakukan zina,
melakukan penipuan keuangan, atau bahkan melakukan parkir ilegal. Berdasarkan laporan
ini, maka apa yang kita yakini mengenai Penciptaan memiliki dampak paling menentukan
tentang moral berpikir dan perilaku kita).
Sebuah situs Kristen Kanada menyampaikan laporan hasil survei bahwa anak-anak
remaja Kanada cenderung lebih bermoral tetapi kurang religius (TEENAGERS are becoming
more moral but less religious).5 Di sini yang dimaksudkan dengan moral adalah hal-hal yang
bersifat kebaikan praktis seperti kejujuran, persahabatan dan keadilan. Pelaksana survei,
seorang sosiolog pada Universitas Lethbridge mengatakan bahwa People can be good without
God, (orang bisa menjadi baik tanpa Tuhan). Namun kemudian ia mengatakan bahwa
kelompok yang menganggap dirinya beragama ternyata, dari hasil survei, lebih konsisten dalam
mengapresiasi kebaikan seperti kehormatan, kejujuran dan saling tolong menolong,
dibandingkan mereka yang menganggap dirinya ateis. 6 Jadi sebenarnya potensi moral yang
dimiliki orang-orang beragama lebih kuat dan konsisten dibanding dengan apa yang mungkin
ada pada moral sekuler. Akan tetapi yang menjadi persoalan adalah realitas yang membuat
perasaan hati kita sangat tidak nyaman, yaitu: terdapat sejumlah orang beragama (baca:
http://www.allaboutphilosophy.org/morality.htm, 25 April 2009.
http://www.canadianchristianity.com/nationalupdates/090416survey.html, 25 April 2009.
6
Ibid.
4
5

mengaku beragama) yang menunjukkan sikap tidak bermoral. Telah menjadi rahasia umum
bahwa survei-survei menunjukkan bahwa korupsi sangat merajalela di tengah-tengah kehidupan
umat Islam, di negara-negara Islam, atau dilakukan oleh penguasa-penguasa Muslim.
Perbuatan-perbuatan curang tidak pernah terkecuali terjadi di tengah-tengah masyarakat
Muslim. Bahkan ada sebuah survei internasional yang menyebutkan bahwa negara yang paling
sedikit tindakan kriminalnya adalah Jepang, bukan Indonesia, atau Afghanistan, atau Mesir,
atau Saudi Arabia.
Dalam Islam diajarkan bahwa inti agama adalah kemuliaan akhlak. Nabi Muhammad
diriwayatkan telah menyatakan bahwa beliau diutus untuk memperbaiki kemuliaan akhlak. 7
Ketika berbicara akhlak, itu berarti menyangkut dengan perilaku dan ketika berbicara soal
perilaku, itu artinya berbicara mengenai interaksi seseorang dengan yang lain, baik manusia
maupun alam semesta. Dalam Islam, Nabi Muhammad menjadi manusia agung dan terhormat
bukan karena kehebatan mukjizatnya atau karena kemampuan supranaturalnya, tetapi karena
keagungan akhlaknya. Pujian yang diberikan Tuhan kepada Nabi Muhammad adalah berkaitan
dengan perilaku beliau yang sangat santun dan mulia.8
Islam memandang moralitas itu berasal dari Tuhan: melaksanakan yang baik dan
menjauhkan yang buruk adalah perintah.9 Akan tetapi perintah itu tidak sekedar perintah, tanpa
makna dan nilai. Dalam pandangan Islam, sepanjang pemahaman saya, setiap perintah dan
larangan dari Tuhan merujuk pada karakteristik manusia itu sendiri (the nature of human
being). Manusia adalah khalifah Tuhan dan karena itu ia mengejawantahkan sifat-sifat-Nya.
Tuhan telah meniupkan ruh-Nya10 kepada manusia dan hal itu menjadikan manusia memiliki
kesadaran ketuhanan yang amat dalam. Namun di sisi lain manusia adalah hamba-Nya, karena
itu ia harus tunduk kepada-Nya. Jadi nilai-nilai kemanusiaan yang hakiki tidak dapat dipisahkan
Hadis tersebut berbunyi ; ;dalam teks yang lain disebutkan dengan
;. Hadis ini diriwatkan oleh Imam Ahmad dan al-Bayhaq. Namun perintah berakhlak mulia terdalam
berbagai kitab hadis sahih dengan berbagai variasi redaksi.
8
Q.S. al-Qalam [68]: 4 menyebutkan , sesungguhnya engkau (hai Muhammad)
mempunya budi pekerti yang agung. Dalam S. li Imrn [3]: 159 disebutkan
, Maka
disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap
keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka,
mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian
apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.
9
Q.S. Al-Qasas [28]: 77 menegaskan ... ... berbuat baiklah
(kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan
di (muka) bumi ...
10
Q.S. al-Sajdah [32]: 9 mengatakan ,
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia
menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.
7

dari nilai-nilai ketuhanan. Keadilan Tuhan adalah keadilan yang dipahami manusia juga;
kebaikan Tuhan adalah kebaikan yang dipahami manusia juga. Tuhan yang dipahami dalam
Islam bukanlah Tuhan yang tidak logis. Atas landasan teologis itulah moralitas dalam Islam
dibangun.
3. Modernitas dan Tantangan Dunia Pendidikan
Dunia modern sering kali dikaitkan dengan dunia barat atau peradaban barat yang rasional dan
sekuler. Dunia Islam juga sering kali dipertentangkan dengan dunia barat atau dunia modern.
Jika terjadi kerusakan-kerusakan moral dalam masyarakat Muslim, maka tidak jarang juga yang
disalahkan adalah dunia barat atau peradaban modern.
Kita hidup di zaman yang bergerak sangat cepat. Perubahan terjadi dalam berbagai segi
kehidupan dan dengan cara-cara yang tidak terduga sebelumnya. Kecanggihan dalam bidang
teknologi informasi menjadikan dunia ini bagai sebuah perkampungan sempit yang dapat
terjangkau ke mana-mana. Manusia di seluruh dunia dapat berkomunikasi dalam jaringan yang
sangat luas dan bahkan tanpa batas. Ini adalah sebuah potensi besar, sekaligus bahaya raksasa.
Orang dapat melakukan kebaikan tanpa batas, sekaligus kejahatan tanpa batas.
Inilah tantangan dunia modern terhadap moralitas yang paling besar, yakni sebagai
akibat dari akses informasi yang terbuka lebar bagi siapa saja dan kapan saja serta di mana saja,
tidak terkecuali dunia pendidikan.
Tantangan yang kedua, ketiga dan seterusnya adalah tidak lebih dari akibat atau dampak
dari hal tersebut. Seluruh informasi dapat menjangkau segala lini kehidupan kita. Kepada
semua orang dapat disuguhkan kebaikan, kotoran atau pun sampah; terserah kita mau
memakannya atau tidak. Tanpa moralitas seluruh hidup kita akan teracuni.
Industrialisasi, eksploitasi manusia, penjajahan ekonomi, monopoli kekayaan,
kecurangan politik, dan segala bentuk kejahatan sosial dan kemanusiaan lain yang dapat
dilakukan secara lebih mudah dan terorganisir menjadikan dunia ini terasa lebih tidak aman dan
lebih menakutkan. Bagaimana dengan anak-anak kita yang akan diculik, nyawa kita yang
mudah melayang, para mahasiswa kita yang diprovokasi, politikus kita yang dibohongi, para
hakim kita yang disuap, pemimpin kita yang ditipu ... dan sebagainya. Salah dan benar menjadi
sangat mudah disembunyikan; baik dan buruk sangat mudah dikaburkan.
Modernitas adalah sebuah prestasi peradaban yang sangat mengagumkan, namun jika
manusia tidak saling membangun kepercayaan untuk mengarahkan potensi itu untuk kebaikan
dunia ini, maka yang ditakutkan adalah destruksi yang semakin parah. Dunia pendidikan
5

menghadapi persoalan serius dalam berbagai hal terkait dengan apa yang disuguhkan dunia
modern, baik kecanggihan teknologinya, keluasan dan keterbukaan informasinya, peradabannya
yang tanpa batas dan sebagainya.
4. Realitas Kehidupan Manusia
Manusia adalah pendosa, tetapi sebaik-baik pendosa adalah yang bertobat.11 Kisah turunnya
Adam dari surga dalam ajaran agama mencerminkan watak alami manusia itu sendiri sebagai
makhluk yang memiliki kelemahan, namun ia mendapatkan apresiasi dan bahkan amanah
karena ia dapat mengoreksi dirinya dan dengan kesadarannya ia dapat naik ke tingkat yang
lebih tinggi. Memilih kebaikan di antara berbagai pilihan baik dan buruk adalah sebuah
prestasi. Demikian juga melakukan koreksi terhadap kesalahan adalah sebuah pertanda adanya
ketulusan. Kemauan untuk melakukan koreksi adalah bukti pengakuan yang tulus. Karena itu
manusia yang bertobat adalah manusia yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan, sebab
menolak bertobat sama dengan menolak terhadap dosa itu sendiri.
Ini tidak berarti manusia dibolehkan melakukan dosa. Dosa itu adalah sebuah
pelanggaran. Apa yang terlihat pada konsep ini adalah sebuah dinamika dan proses
penyempurnaan manusia yang terjadi secara dinamis. Manusia tidak terlahir seperti anak ayam
yang langsung dapat berjalan dan mencari makan sendiri. Manusia pada watak dasarnya tidak
terlepas dari kebutuhannya akan bimbingan dan petunjuk. Manusia berangkat dari nalurinya
dan potensi yang ia bawa sejak lahir. Itulah kekuatan manusia: kemampuan untuk
mengembangkan diri. Ini tentu saja tidak bisa terjadi tanpa kebebasan. Manusia adalah makhluk
yang memiliki free will: ia dalam hal ini seperti Tuhan yakni memiliki iradah, sebab Tuhan
memang telah meniupkan ruh-Nya kepadanya, dan karena itu ia diangkat menjadi khalifahNya, yakni wakil-Nya di bumi.
Iradah yang diberikan Tuhan kepada manusia itulah yang telah membuat dunia ini
seperti ini: penuh dinamika. Manusia saling menumpahkan darah, berperang, saling membunuh,
menganiaya, menipu, melakukan tindakan-tindakan korup atau curang, saling menyakiti dan
sebagainya. Sebaliknya ada juga manusia yang saleh, tulus, suka berbuat baik, rendah hati,
berbuat baik tanpa pamrih, memuji Tuhan, tidak lupa berdoa dan berterima kasih serta selalu
bersikap santun.

Teks hadis tersebut berbunyi . Hadis ini diriwayat oleh al-HHkim


dalam kitabnya al-Mustadrak al al-S Sah Sih Sayn, Juz 17, hal. 779 (al-Maktabah al-Syamilah). Diriwayatkan
juga oleh al-Drim, Ibn Mjah dan al-Bayhaq.
11

Namun, realitas kehidupan yang kita saksikan hari ini ternyata lebih banyak
mengandung kepiluan dari pada rasa bahagia. Perang terjadi di mana-mana. Kejahatan tidak
mengenal batas peradaban. Orang seakan-akan tidak dapat lagi menemukan di mana ada bagian
tanah di dunia ini yang aman untuk dihuni. Sedemikian parahkah kehidupan umat manusia hari
ini?
Lebih jauh dari itu, agama yang selalu dirujuk sebagai ajaran yang diturunkan untuk
membahagiakan dan menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat, seakan tidak berdaya.
Pemimpin-pemimpin masyarakat beragama justeru ditemukan yang paling banyak melakukan
pelanggaran kemanusiaan dan paling korup. Social justice menjadi isu paling sentral di negaranegara Muslim. Kedisiplinan, kemanusiaan, keadilan, kecintaan kepada ilmu pengetahuan
adalah di antara hal-hal paling terabaikan di negara-negara Muslim. Ini fenomena apa
sebenarnya? Apakah agama telah mengabaikan moralitas? Atau umatnya yang telah
mengabaikan makna yang sesungguhnya dari agama mereka? Di mana peran pendidikan agama
yang kita banggakan selama ini?
5. Moral dalam Pendidikan Rumah Tangga
Menjadi orang tua adalah sebuah pilihan, bukan karena kebetulan, karena itu tanggung jawab
seorang orang tua tidak dapat diabaikan. Menjadi orang tua kadang-kadang dianggap berat
karena tanggung jawab yang dipikul sangat besar, namun ajaran agama juga mengajarkan
bahwa kompensasi dan reward bagi orang tua yang berkomitmen dan bertanggung jawab
adalah luar biasa. Surga di bawah telapak kaki ibu, kata Nabi Muhammad; 12 demikian pula
Quran memberikan peringatan: ... Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya
sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan
kepada keduanya ah dan janganlah kamu membentak mereka; ucapkanlah kepada mereka
perkataan yang mulia.13 Apresiasi kepada orang tua diberikan agama sangat tinggi. Seorang
anak yang durhaka kepada orang tua mendapatkan ancaman yang sangat berat.
Pendidikan harus dimulai dari keluarga, dari rumah, yakni oleh orang tua atau orang
yang mengasuh si anak. Bahkan sesungguhnya pendidikan itu berkaitan dengan berbagai sisi
dari kehidupan dalam keluarga. Demikian juga, kekuatan dan kelemahan sebuah masyarakat
sangat terkait dengan kekuatan dan kelemahan kehidupan-kehidupan rumah tangga dalam
Al-Albni mengatakan hadis ini lemah dan bahkan mawd,
S namun ada hadis lain yang bersumber
dari Muwiyah ibn Jhimah dengan pengertian yang sama; hadis ini diriwayatkan oleh beberapa ahli hadis,
termasuk al-Nas dan al-T Habrn serta ditashihkan oleh al-HHkim. Lihat al-Albn, al-Salsalah al-DSafah,
Juz II, hal. 169, (al-Maktabah al-Symilah).
13
Q.S. al-Isr [17]: 23.
12

masyarakat tersebut. Rumah tangga yang kokoh dan harmonis akan berdampak bagus pada
kehidupan di sekitarnya. Anak-anak yang dibesarkan dalam rumah tangga seperti itu akan
memiliki jiwa dan semangat hidup yang lebih positif; keretakan rumah tangga akan berdampak
sangat buruk bagi si sanak. Jadi rumah tangga adalah pilar-pilar kehidupan sosial yang sangat
menentukan.
Soal pendidikan moral sebenarnya sudah masuk dalam pendidikan secara general untuk
anak, yakni bahwa pendidikan untuk anak harus dilakukan dengan cara mengembangkan
potensi yang ia miliki. Akan tetapi pendidikan moral menjadi sangat spesial karena ia
bersentuhan dengan segala aspek pendidikan yang lain. Pendidikan moral menekankan
pengembangan potensi jiwa anak sehingga ia menjadi tangguh menghadapi dunia di sekitarnya
dan menjadi orang yang mampu mengapresiasi makna hidup bagi dirinya dan bagi orang lain.
Ia tidak hanya harus mengenal dunia (berilmu: tahu), tetapi juga harus bisa menyayanginya
(sadar); tidak hanya mampu mengelola dunia (alam dan lingkungannya), tetapi juga
menghargainya (menjadi orang yang bersyukur).
Tugas seperti inilah yang sebenarnya membuat pendidikan itu menjadi tugas yang berat.
Quran mengatakan bahwa harta dan anak adalah fitnah (ujian).14 Pada kesempatan lain Quran
mengatakan bahwa sebagian dari anak itu mungkin menjadi musuh bagi orang tuanya. 15 Quran
bukan ingin menakut-nakuti, tetapi menjelaskan realitas hidup yang akan dihadapi manusia,
supaya mereka dapat mengadakan antisipasi dan mempersiapkan diri sehingga tidak mengalami
frustrasi. Manusia tidak akan mampu menolak takdir, tatapi dengan kesiapan mental manusia
dapat memasuki situasi itu dengan sebuah kekuatan dan persiapan yang memadai.
Pendidikan untuk anak adalah sebuah kewajiban; memang telah demikian takdir
manusia. Manusia menjadi cerdas tidak secara instan, tetapi melalui proses yang panjang. Ia
harus dibesarkan dan diasuh, dididik dan dilatih. Kekuatan manusia terletak pada potensi yang
ia miliki, bukan pada innate instinct-nya. Ia tidak cerdas seperti lebah atau semut, tetapi ia
berproses. Proses inilah yang harus dijaga dan dibimbing. Maka manusia perlu pendidikan,
tarbiyyah.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai pendidikan anak dalam kehidupan
keluarga, terutama sekali pendidikan moral mereka:
Q.S. al-Anfl [8]: 28: , (Dan ketahuilah, bahwa
hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang
besar).
15
Q.S. al-Taghbun [64]: 14:
( Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada
yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan
tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang).
14

Pertama, bahwa pendidikan dalam rumah tangga itu meliputi berbagai aspek: fisik,
mental, sosial, emosi, perilaku, harga diri dan sebagainya. Karena itu sebelum memutuskan
untuk memiliki anak, seseorang seharusnya sudah memiliki pengetahuan dan keahlian yang
memadai untuk mendidik anaknya. Ia harus memiliki general knowledge tentang dunia dan
kehidupan dan harus siap membekali diri tentang apa saja yang diperlukan untuk kepentingan
pendidikan anaknya.
Kedua, potensi dan kecenderungan anak harus diperhatikan. Anak memang anak kita,
tetapi ia sebenarnya ia bukan datang dari kita. Your children are not your children, kata Kahlil
Gibran (1883-1931), ... they come through you but not from you ... Namun alam memiliki
hukum yang amat menakjubkan yang mengikat orangtua dengan anaknya melalui kasih sayang
yang luar biasa. Setiap anak kecil mempunyai kekuatan magis yang menggoda setiap mata
memandang. Ayah dan Ibu tidak akan pernah rela apa pun menyakiti anaknya, walaupun, aneh
sekali, kita juga kerap mendengar orangtua yang nekat melawan nuraninya dan rela membunuh
anaknya sendiri.16 Sepertinya tidak mungkin. Tetapi kenyataan hidup yang pahit ataupun
kebodohan kadang-kadang dapat membuat mata buta, telinga tuli dan akal tidak lagi waras.
Pada zaman jahiliah ada orang yang membunuh anak perempuannya ketika baru lahir karena
merasa aib. Di Pakistan, beberapa tahun lalu (2005), seorang laki-laki membunuh empat anak
perempuannya (tiga anak kandung, satu anak tiri) dengan dalih menyelamatkan kehormatan
keluarga.17
Anak adalah sebuah anugerah, karena itu harus dijaga dan disyukuri. Biarkan ia menjadi
dirinya; tugas kita sebagai orang tua adalah membimbingnya, bukan memaksakan kehendak
kita atasnya.
Ketiga, pendidikan anak harus bersifat alami. Anak-anak harus diajarkan dengan jiwa
dan hati nurani, bukan dengan kekerasan. Biarkan anak-anak belajar dengan cara yang nyaman
dan menyenangkan.
Keempat, karena itu, orang tua harus mampu memberikan dorongan kepada anak,
bukan memaksa mereka menguasai sesuatu. Memberikan dorongan berarti membuka jalan bagi
pengetahuan yang ia (si anak) sendiri merasa senang dan menyukainya. Orang tua harus bisa
membaca jalan mana yang mudah dan lempang bagi anaknya.
Kelima, orang tua adalah keteladanan, karena itu harus berwibawa, walaupun tidak
perlu dibuat-buat. Orang tua akan berwibawa di hadapan anaknya kalau ia dapat

Lihat misalnya Baru Lahir, Bayi Dibunuh Ibunya, Republika, 21 Februari 2006.
<http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/12/tgl/29/time/151900/idnews/
508837/idkanal/10>
16
17

menghargai anaknya, bukan ketika ia dapat menggiring anaknya ke mana yang ia sukai.
Wibawa adalah sebuah karakter alami yang lahir dari pesona jiwa yang dimiliki seseorang.
Orang tua harus menjadi pesona bagi anak-anaknya. Ia hanya dapat melakukan itu dengan kasih
sayang yang tulus, bukan dengan kecaman suaranya yang keras.
Semua poin di atas termasuk bagian dari perilaku yang harus ditunjukkan orang tua
kepada anaknya supaya pendidikan moral dalam rumah tangga dapat terserap secara lebih
signifikan. Sebuah poin terakhir yang harus dicatat adalah bahwa pendidikan dalam rumah
tangga hanya akan berhasil jika kerja sama kedua orang tua terjalin dengan baik. Jika tidak,
maka sebuah kegagalan akan mengintai.
6. Pendidikan Sekolah dan Masyarakat
Sekolah telah menjadi sebuah kewajiban dalam kehidupan masyarakat modern. Pendidikan
seakan-akan tidak sah tanpa sekolah. Kita pun sebagai masyarakat modern seolah-olah tidak
dapat lagi memisahkan antara sekolah dan hakikat pendidikan. Sekolah telah identik dengan
pendidikan itu sendiri, pengetahuan sama dengan diploma, prestasi dengan nilai, keilmuan
dengan kesarjanaan, dan segala simbol yang terkait dengan sekolah dikultuskan secara
berlebihan.
Dalam kehidupan masyarakat sekarang ini, tidak ada lagi orang yang tidak sekolah.
Pemerintah pun telah melakukan berbagai upaya agar semua anak-anak dapat sekolah. Akan
tetapi sampai di mana pemerintah sanggup menyekolahkan anak-anak kita? Anak-anak siapa
yang dapat melakukan akses ke pendidikan berkualitas atau ke jenjang yang lebih tinggi, yakni
ke universitas? Mengapa sekolah-sekolah kita memiliki kualitas yang berbeda-beda? Siapa
yang bertanggung jawab?
Lebih jauh lagi, apakah sekolah telah memberikan pelayanan pendidikan sebagaimana
diharapkan? Apakah anak-anak kita telah mendapatkan pendidikan dari sekolah sebagaimana
mestinya? Semua pertanyaan ini, dan sejumlah pertanyaan lain yang serupa, masih relevan,
sejak sekolah didirikan di negeri ini, sampai hari ini. Keadilan dalam bidang pendidikan masih
jauh dari yang diharapkan.
Pada tahun 1971 Ivan Illich18 menerbitkan sebuah buku Deschooling Society, yang berisi
pikiran dan gagasannya yang sangat radikal tentang sekolah. Ia mengajak agar sekolah
dihapuskan karena sekolah telah mengubah pola pikir dan mentalitas masyarakat. Mendirikan
sekolah berarti menginstitusionalisasi-kan pendidikan dan ini berarti menginstitusionalisasikan
Bukunya dapat diretrieved pada http://ournature.org /~novembre/illich/ 1970_ deschooling.html

18

10

masyarakat. Dengan cara seperti ini kita telah membunuh potensi masyarakat dan potensi serta
kebebasan kreativitas anak-anak. Terlebih, sekolah telah dijadikan objek bisnis dan menjadi
monopoli kelompok tertentu. Hal ini sangat berbahaya bagi kemerdekaan nilai-nilai pendidikan
yang sebenarnya amat luas.
Kritik Illich terhadap sekolah mungkin membuat kita agak sedikit tersentak, sebab
sekolah telah memberikan kontribusi luar biasa dalam bidang pendidikan secara universal.
Tetapi, yang menarik, Illich sebenarnya bukan hanya mengkritik, tetapi menawarkan sebuah
solusi bagi pendidikan di zaman yang memiliki potensi dalam bidang teknologi sangat luar
biasa. Illich mengajak semua masyarakat terlibat berkontribusi dalam menyebarkan ilmu
pengetahuan dan pendidikan (seharing knowledge). Hal lain yang paling penting adalah
mengembalikan kesadaran kita terhadap makna hakiki dari pendidikan, bahwa ia bukan sekedar
untuk mendapatkan ijazah atau meraih gelar kesarjanaan.
Jika nasihat Illich mau didengarkan maka sekolah seharusnya menjadi milik
masyarakat dan masyarakat bertanggung jawab atas maju atau mundurnya sebuah sekolah atau
tempat pendidikan apa pun bentuknya. Demikian juga para guru, mereka harus menjadi
penggali potensi anak-anak untuk dikembangkan menjadi kekuatan dahsyat yang mengubah
keadaan menjadi lebih baik dan berguna bagi masyarakat, bukan guru yang bekerja hanya untuk
menghabiskan waktu saja karena tidak ada pekerjaan lain, atau hanya sebagai tempat pelarian
agar jangan disebut penambah daftar pengangguran.
Guru adalah keteladanan, karena itu guru harus mampu berdiri di depan muridmuridnya sebagai sosok yang dapat memberikan pesona secara moral, bukan penampilan baju
yang baru dan mahal.
Masyarakat juga harus menghargai guru. Guru tanpa penghargaan yang layak akan
mengalami kemerosotan dalam dirinya. Mungkin seorang guru telah bekerja keras dan tulus
untuk melaksanakan kewajibannya, tetapi tanpa dukungan yang layak dari masyarakat, maka
sebagai manusia ia juga akan lemah.
7. Penutup
Hanya dua hal ingin saya katakan pada penutup pembicaraan ini. Pertama: moralitas adalah
sebuah divine power atau anugerah Tuhan untuk kita pelihara. Apabila kita mengabaikannya
maka kita akan menjadi sangat rugi. Moralitas adalah sinyal jiwa yang membimbing kita dalam
menata kehidupan di tengah-tengah keramaian dunia; jika mengabaikannya kita akan tersesat.

11

Kedua, moralitas bukan anugerah yang murah. Kita harus bekerja keras meraihnya dan
harus dapat mewariskannya kepada anak-anak kita. Pendidikan moral adalah sebuah
keniscayaan jika kita ingin memberikan yang terbaik bagi generasi kita akan datang. Perguruan
Tinggi Islam memain peran yang sangat penting dan strategis dalam menjawab tantangan ini.
Maka yang menjadi saran saya juga dua hal: Pertama untuk masyarakat, perkuat
hubungan dan kerja sama rumah tangga dan sekolah atau pendidikan. Kedua untuk pemerintah,
berikan perhatian yang maksimal untuk kepentingan pendidikan, terutama sekali terkait dengan
pembinaan moral.
Wassalamu alaykum Warahmatullah Wabarakatuh

Meulaboh, Januari 2015


Zulkarnaini Abdullah

12