Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
Pemeriksaan laboratorium merupakan hal yang terpenting dalam proses
diagnosis suatu penyakit. Banyak informasi penting yang bisa didapatkan dari
proses tersebut yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan langkah
yang akan diambil terhadap pasien. Dengan demikian, proses pemeriksaan
laboratorium memiliki peranan vital bagi pasien. Pemeriksaan laboratorium
terhadap pasien menggunakan bahan pemeriksaan yang berasal dari tubuh pasien.
Pada prinsipnya semua cairan tubuh dapat diperiksa, namun yang sering
dilakukan untuk pemeriksaan rutin hanya spesimen yang memiliki arti klinis,
misalnya darah, urin, sekret, cairan sendi, dan cairan otak (LCS) (Gandasoebrata,
2010).
Pada makalah ini akan dibahas secara khusus pemeriksaan laboratorium klinik
terhadap spesimen cairan otak atau Liquor cerebrospinalis (LCS) terutama
pemeriksaan mikrobiologi. Pemeriksaan LCS ini berperan penting dalam
mendiagnosis adanya penyakit selaput otak atau meningen. Pemeriksaan terhadap
LCS terbagi atas pemeriksaan makroskpis, mikroskopis, bakteriologi, dan
kimiawi (Lilian, 2011).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Liquour cerebrospinalis adalah cairan otak yang diambil melalui lumbal
punksi. Cairan otak dibentuk oleh plexus Chorideus dan merupakan hasil filtrasi
dari plasma. Cairan otak tidak boleh dipandang sama dengan cairan yang terjadi
oleh proses ultrafiltrasi saja dari plasma darah. Di samping filtrasi, faktor sekresi
dari plexus choroideus turut berpengaruh. Susunan cairan otak juga selalu
dipengaruhi oleh konsentrasi beberapa macam zat dalam plasma darah. (Ginsberg,
2007). Hal ini disebabkan adanya permeabilitas yang selektif dan adanya blood
brain barrier dimana pada keadaan normal mencegah masuknya beberapa bahan
kedalam LCS (Lilian, 2011).
Pengambilan cairan otak itu dilakukan dengan maksud diagnostik atau
untuk melakukan tindakan terapi. Kelainan dalam hasil pemeriksaan dapat
memberi petunjuk kearah suatu penyakit susunan saraf pusat, baik yang akut
maupun yang kronik dan berguna pula setelah terjadi trauma (Genisberg, 2007).
Liquour cerebrospinalis (LCS) ditemukan di ventrikel otak dan sisterna juga
ruang subarakhnoid yang mengelilingi otak dan medula spinalis. Seluruh ruangan
berhubungan satu sama lain, dan tekanan cairan diatur pada suatu tingkat yang
konstan (Pearce, 1972).
Fungsi utamanya adalah untuk melindungi sistem saraf pusat (SSP) terhadap
trauma. Otak dan cairan serebrospinal memiliki gaya berat spesifik yang kurang
lebih sama (hanya berbeda sekitar 4%), sehingga otak terapung dalam cairan ini.
Oleh karena itu, benturan pada kepala akan menggerakkan seluruh otak dan
tengkorak secara serentak, menyebabkan tidak satu bagian pun dari otak yang
berubah bentuk akibat adanya benturan tadi (Ginsberg, 2007; Pearce, 1972).

Gambar 1. Aliran dan absorpsi LCS

2.1 Prosedur Pungsi Lumbal ( Gandasoebrata, 2010; Kee, 1999).


Cairan otak biasanya diperoleh dengan melakukan punksi lumbal yang lebih
sering dilakukan pada antara lumbal IV dan V dari ruang subarakhnoid karena
lokasi tersebut merupakan tempat berkumpulnya LCS dan hampir tidak mungkin
menimbulkan cedera sistem saraf. Pada anak-anak spinal cord berada lebih kranial
sampai umur 9 bulan. Seorang klinik yang ahli dapat memperkirakan
pengambilan tersebut.
Hasil punksi lumbal dimasukkan dalam 3 tabung yang berbeda, antara lain :

Tabung I berisi 1 mL : Dibuang karena tidak dapat digunakan sebagai


bahan pemeriksaan karena mungkin mengandung darah pada saat
penyedotan.

Tabung II berisi 7 mL : Digunakan untuk pemeriksaan serologi,


bakteriologi dan kimia.

Tabung III berisi 2 mL : Digunakan untuk pemeriksaan jumlah sel, hitung


jenis dan protein kualitatif/kuantitatif.

Gambar 2. Lumbal 4 dan 5 untuk pengambilan lumbal punksi.

Normalnya LCS berwarna jernih, wujud dan viskositasnya setara air

Kekeruhan LCS akan tampak bila jumlah sel meningkat

Lekosit 200-500/l3

Eritrosit > 400/mL

Mikroorganisme (bakteri, fungi, amoeba)

Aspirasi lemak epidural sewaktu dilakukan pungsi

Media kontras radiografi.

Xantochromia, yaitu warna kekuningan merah muda sering disebabkan :


1. Lisis eritrosit (pada kasus perdarahan subarachnoid, pasien dengan
kadar bilirubin 10-15 mg/dL).
2. Kadar protein LCS >150 mg/dL (infeksi dan inflamasi SSP).
3. Traumatik tap (dengan eritrosit >100.000/mm3).

Hijau, dapat disebabkan oleh :


1. Hiperbilirubinemia.
2. LCS purulen.
4

Merah muda disebabkan oleh perdarahan trauma akibat pungsi.

Hijau atau keabu-abuan disebabkan oleh adanya pus.

Bekuan terjadi akibat banyak darah masuk. Normal karena tidak terlihat
bekuan. Bekuan karena banyaknya fibrinogen yang berubah menjadi
fibrin (Ginsberg Lionel, 2007).

BAB III
PEMERIKSAAN MIKROBIOLOGI LIQUOR CEREBROSPINALIS
Dalam keadaan normal cairan otak bersifat steril, dalam keadaan
peradangan/terinfeksi cairan otak dapat menjadi purulen disebut meningitis
purulenta, atau menjadi serosa disebut meningitis serosa.
a. Penyebab meningitis purulenta yang sering ditemukan adalah :
1. Escherichia coli.
2. Streptococcus group B.
3. Streptococcus pneumonia.
4. Haemophilus influenza.
5. Neisseria meningitidis.
b. Sedangkan penyebab meningitis serosa yang sering ditemukan adalah :
1. Mycobacterium tuberculosa.
2. Cryptococcus neoformans dan golongan jamur lainnya serta virus.
Pemeriksaan biakan bermanfaat untuk membantu diagnosis bakteriologik
melalui isolasi, identifikasi dan uji kepekaan terhadap antimikroba (Ginsberg
Lionel, 2007).
A. Praanalitik (Wasetiawan, 2010).
a. Pengambilan sampel.
1. Tujuan.
Mendapatkan spesimen cairan otak yang memenuhi persyaratan untuk
pemeriksaan bakteriologik.
2. Waktu pengambilan.
Setiap saat namun tetap memperhatikan syarat dan kontra indikasi dari
lumbal punksi. Sebaiknya sebelum pemberiaan antibiotika.
3. Pemberian identitas
a. Formulir permintaan pemeriksaan.
6

b. Label.
4. Cara penyimpanan pengiriman spesimen.
Spesimen harus sudah tiba di laboratorium dalam waktu kurang dari 1
jam setelah pengambilan. Jika hal ini tidak mungkin dilaksanakan,
spesimen harus dengan media transport untuk beberapa jam saja.
5. Media transport.
Media diphasik untuk transportasi dari kultur primer LCS dari pasien
dengan meningitis bakterial . Mengandung agar Kanji-Arang dan
kaldu kedelai mentah. Didalam laboratorium, media ini menunjang
pertumbuhan

dan

kehidupan

dari

Neisseria

meningitidis,

Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae selama 3


bulan.
6. Penolakan sampel.
Sampel tidak diberi label dengan baik .
Pengumpulan sampel tidak baru .
B. Analitik (Mary, 2009).
a. Isolasi dan identifikasi.
1. Tujuan.
Melakukan isolasi dan identifikasi bakteri penyebab meningitis dari
spesimen cairan otak.
2. Peralatan.
a. Inkubator
b. Kaca objek
c. Lampu Bunsen
d. Mikroskop
3. Media dan reagen.
a. Agar coklat.
b. Agar darah.
c. Agar Mac Conkey
d. Agar Sabouroud Dekstrosa (SDA)
e. Antisera spesifik streptococcus pneumonia (uji Quellung).
f. Pewarnaan Gram.
g. Pewarnaan Ziehl Neelsen.
h. Tinta India.
4. Prosedur pemeriksaan.
Pengolahan bahan.
a. Spesimen disentrifus di dalam tabung steril dengan
kecepatan 1000 rpm selama 15 menit.
b. Buang supernatan menggunakan pipet Pasteur, endapannya
diambil dilakukan pemeriksaan.

c. Bila cairan otak sangat purulen dapat langsung diperiksa


tanpa harus disentrifus.
5. Pemeriksaan (Mary, 2009; Geo F, 2013).
A. Makroskopis.
Amati cairan otak seperti : kekeruhan, warna.
B. Mikroskopis.
a. Pewarnaan gram.
1. Tujuan : Melihat kuman berdasarkan pengecatan gram
2. Prinsip : Membedakan bakteri dalam 2 golongan berdasarkan
kemampuan mempertahankan pewarna carbol gentian violet
(biru) yaitu golongan gram positif sedangkan pewarna safranin
yaitu golongan gram negatif (merah).
3. Periksa dibawah mikroskop dengan pembesaran 1000x selama
10 menit adanya leukosit , eritrosit, bakteri, dan ragi.

Gambar 3. Pewarnaan gram.

b. Pewarnaan tinta india dilakukan untuk melihat ada tidaknya


jamur Cryptococcus neoformans.
c. Pewarnaan Ziehl Neelsen.
1.Tujuan : Melihat kuman batang tahan asam secara direct.
2. Prinsp : Dinding bakteri yang tahan asam mempunyai lapisan
lemak yang sukar ditembus cat, oleh pengaruh phenol dan kadar
cat yang tinggi maka lapian lemak dapat ditembus cat basic
fuchsin.

Gambar 4. Pewarnaan Ziehl Neelsen

C. Kultur (Mary, 2009 ; Geo F, 2013)


Tabel 1. Kultur Bakteri
KUMAN

MEDIA

Steptococcus.

Agar darah, mEI agar

Streptococcus grup B

Streptococcus agalctiae selective agar base


M1257.

Escherichia coli.

MacConkey agar, EMB, endo agar, MI


agar, Modified mTEC agar.

Jamur.

Potato agar, Sabouraud Dextrose agar.

Haemophilus influenza.

Agar coklat

Neisseria meningitidis.

Agar coklat, Agar darah

Mycobacterium tuberculosa.

LJ, Mycobacteria7H11 agar.

C. Paska Analitik (Mary, 2009).


Pencatatan dan pelaporan.
Setelah hasil identifikasi bakteri ditemukan lengkap dengan spesisnya
dicatat dalam buku register laboratorium dan laporkan pada pengirim.
1. Makroskopik.
Dicatat dan dilaporkan sesuai hasil pengamatan : kekeruhan, warna.
2. Mikroskopik.
a. Hasil pewarnaan gram positif atau negatif : dicatat dan dilaporkan
adanya eritrosit, leukosit, bakteri maupun ragi.
b. Hasil pewarnaan ziehl Neelsen : BTA positif atau BTA negatif.
9

c. Hasil pewarnaan tinta India : Ada tidaknya Cryptococcus


neformans.
Tabel 2. Hasil kultur bakteri.
KUMAN
Steptococcus.
Streptococcus grup B

Escherichia
coli.
Jamur.
Haemophilus influenza.

MEDIA

HASIL

mEI agar
Blue halo
Streptococcus
agalctiae
selective agar base M1257.
Red or Magenta
Modified mTEC
Blue
MI agar
Putih
SDA
Tidak berwarna
Agar Coklat
Tidak berwarna.
Agar Coklat
Tidak berwarna
Agar Darah
Tidak berwarna
LJ

Neisseria meningitidis.
Mycobacterium
tuberculosa.

BAB IV
KESIMPULAN
10

Pemeriksaan mikrobiologi pada cairan serebrospinalis berguna untuk


membantu mengetahui penyebab terjadinya infeksi pada selaput otak. Namun
pemeriksaan mikrobiologi pada cairan otak membutuhkan waktu yang lama untuk
menentukan penyebab suatu penyakit sehingga tidak bisa dijadikan dasar untuk
memulai awal pemberian terapi. Pengambilan sampel untuk pemeriksaan
mikrobiologi cairan serebrospinalis sebaiknya sebelum pemberian terapi
antibiotika namun pemberian antibiotika bisa diberikan selama berjalannya
pemeriksaan mikrobiolgi.

DAFTAR PUSTAKA

11

Gandasoebrata, R.1989. Penuntun Laboratorium Klinik . Dian Rakyat : Jakarta.


Geo F et al. 2013. Mikrobiologi Kedokteran. EGC: Jakarta
Ginsberg L. 2007. Lecture Notes Neurology. Erlangga : Jakarta.
Kee, Joyce Lf .1999. Pemeriksaan Dan Diagnosis. EGC : Jakarta.
Mary et al. 2009. Difco & BBL Manual of Microbiological Culture Media.
Becton, Dickinson and Company: United States of America.
Pearce E C.1972.Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis . Gramedia : Jakarta.
http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/Liquor+cerebrospinalis. Diakses
10 Mei 2014.

Lilian AM, Kristy S. 2011. Graffs Textbook of Urinalysis and

Body Fluid.

Lippincott Williams&Wilkins. Philadelphia. USA.


Wasetiawan.

http://blog.unila.ac.id/wasetiawan/files/2010/01/BloodAgar .pdf. Diakses 10 Juni 2014.

12

2010.

Anda mungkin juga menyukai