Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Gagal ginjal kronis biasanya merupakan akibat terminal dekstruksi
jaringan dan kehilangan fungsi ginjal yang berlangsung berangsur-angsur.
Keadaan ini dapat pula terjadi karena penyakit yang progresif cepat disertai
awitan mendadak yang menghancurkan nefron dan menyebabkan kerusakan
ginjal yang ireversibel. Beberapa gejala baru timbul sesudah fungsi filtrasi
glomerulus yang tersisa kurang dari 25%. Parenkim normal kemudian
memburuk secara progresif dan gejala semakin berat ketika fungsi ginjal
menurun. Sindrom ini akan membawa kematian jika tidak ditangani dengan
baik, namun terapi rumatan dengan dialisis atau transplantasi ginjal dapat
mempertahankan kehidupan pasien (Kowalak, 2011).
Hemodialisis merupakan penggunan ginjal modern menggunakan
dialisis untuk mengeluarkan zat terlarut yang tidak diinginkan melalui difusi
dan hemofiltrasi untuk mengeluarkan air, yang membawa serta zat terlarut
yang tidak diinginkan (OCallaghan, 2007). Pasien Hemodialisa (HD) di
Indonesia jumlahnya terus mengalami peningkatan. Tahun 2012, tercatat
sebanyak 17.035 pasien yang aktif menjalani program hemodialisis di Unit
Hemodialisa yang terdaftar dalam PERNEFRI. Pasien sebanyak 7902
diantaranya menjalani terapi hemodialisis sebanyak 2 kali dalam seminggu
atau sekitar 47% dari keseluruhan. Hal tersebut merupakan persentase
terbanyak dalam hemodialisis yang dilakukan secara rutin. Jumlah tindakan
hemodialisis dalam satu tahun tercatat untuk hemodialisis yang dilakukan
secara rutin yaitu sebanyak 717.497 tindakan (PERNEFRI, 2012).

Data di Indonesia menurut Yayasan Ginjal Diatrans Indonesia (YGDI),


pada tahun 2007 terdapat sekitar 100.000 orang pasien gagal ginjal namun
hanya sedikit saja yang mampu melakukan hemodialisis. Sedangkan Survey
Perhimpunan Nefrologi Indonesia menunjukkan 12,5 persen (sekitar 25 juta
penduduk) dari populasi mengalami penurunan fungsi ginjal. Meningkatnya
prevalensi gagal ginjal tahap akhir yang dirawat dapat dihubungkan dengan
peningkatan jumlah pasien yang menjalani terapi pengganti ginjal (TPG)/
Replacement Renal Therapy (RRT) yang mengalami beratnya perubahan
pola hidup mereka (Syamsiah, 2011).
Menurut Rachmat pada jumpa pers dalam rangka Hari Ginjal Sedunia
di Bandung 2009, hingga tahun 2015 diperkirakan sebanyak 36 juta orang
warga dunia meninggal dunia akibat penyakit gagal ginjal. Di Indonesia
penyakit gagal ginjal kronik semakin banyak diderita masyarakat. Hal
tersebut dapat dilihat dari data kunjungan ke poli ginjal hipertensi di rumah
sakit dan semakin banyaknya penderita yang harus menjalani cuci darah.
Berdasarkan data dari Indonesia Renal Registry, suatu kegiatan registrasi
dari Perhimpunan Nefrologi Indonesia, pada tahun 2008 jumlah pasien
hemodialisis naik menjadi 2260 orang dari 2148 orang pada tahun 2007.
Salah satu faktor penyebab meningkatnya angka penderita gagal ginjal dari
tahun ke tahun di dunia ini adalah kurangnya kesadaran masyarakat
terhadap deteksi dini penyakit tersebut. selain itu, banyaknya obat yang dijual
bebas di pasaran saat ini, mengakibatkan penderita penyakit gagal ginjal
terus bertambah (www.republika.co.id, 2009).
Berdasarkan WHO (2003) dalam Syamsiah (2011) berpendapat bahwa
salah satu masalah besar yang berkontribusi pada kegagalan hemodialisis
adalah masalah kepatuhan klien. Secara umum kepatuhan (adherence)

didefinisikan sebagai tingkatan perilaku seseorang yang mendapatkan


pengobatan, mengikuti diet, dan atau melaksanakan perubahan gaya hidup
sesuai dengan rekomendasi pemberi pelayanan kesehatan.
Menurut Saphiro, Deshetler, & Stockard, (1994) banyak faktor yang
menyebabkan ketidakpatuhan yang berdampak pada kegagalan klien dalam
mengikuti

program

terapi

gagal

ginjal.

Berbagai

riset

berusaha

menghubungkan variasi demografi dengan ketidaktaatan, akan tetapi


karakteristik demografi belum secara konsisten memprediksi perubahan
sikap kepatuhan yang terjadi pada klien. Penelitian Ahmad Sapri (2004) di
RSUD

Abdul

Moeloek

Bandar

lampung

tentang

faktor-faktor

yang

mempengaruhi kepatuhan dalam mengurangi asupan cairan pada pasien


CKD yang menjalani HD menunjukkan 67, 3 % pasien yang patuh dan 32,7
% pasien yang tidak patuh. Hal tersebut antara lain karena dipengaruhi faktor
keterlibatan tenaga kesehatan dan faktor lamanya (> 1 tahun) menjalani HD
(Syamsiah, 2011).
Penelitian Kamaluddin dan Rahayu

(2009),

faktor-faktor yang

mempengaruhi kepatuhan dalam mengurangi asupan cairan yaitu faktor usia


dan lama menjalani terapi HD tidak mempengaruhi kepatuhan dalam
mengurangi asupan cairan. Sedangkan faktor pendidikan, konsep diri,
pengetahuan pasien, keterlibatan tenaga kesehatan dan keterlibatan
keluarga mempengaruhi kepatuhan dalam mengurangi asupan cairan.
Berdasarkan studi pendahuluan di Unit Hemodialisa Palang Merah
Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta Januari 2015 terdapat rata-rata 50
pasien hemodialisis untuk setiap bulannya. Diperoleh data 3 dari 5 pasien
tidak mematuhi pembatasan cairan yang sudah ditentukan oleh dokter.
Adapun alasan ketiga pasien yang tidak mematuhi pembatasan cairan, yaitu :
pasien tidak bisa menahan rasa haus dan akan sesak napas jika terlalu

banyak minum. Satu dari ketiga pasien yang tidak patuh terhadap
pembatasan cairan mengalami asites. Sehingga dari data tersebut peneliti
tertarik untuk mengetahui gambaran kepatuhan pasien gagal ginjal kronik
dalam mengatur intake cairan di PMI DIY.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dibuat rumusan masalah
dalam penelitian ini adalah Bagaimana kepatuhan pasien hemodialisis
tentang pembatasan asupan cairan di Unit Hemodialisis PMI DIY Tahun
2015?.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran kepatuhan pasien hemodialisis tentang
pembatasan asupan cairan di Unit Hemodialisis PMI DIY Tahun 2015? .
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya karakteristik yang meliputi umur, jenis kelamin,
pendidikan, pekerjaan.
b. Diketahuinya patuh atau tidak patuh responden dalam mengatur
intake cairan.
c. Diketahuinya faktor-faktor yang menyebabkan pasien tidak patuh
terhadap pembatasan cairan : pendidikan, pengetahuan, lamanya
melakukan hemodialisa, informasi dan dukungan keluarga.
D. Manfaat Penelitian
1. Secara Teoritis
Memberikan informasi mengenai gambaran kepatuhan pasien gagal ginjal
kronik dalam mengatur intake cairan di PMI DIY sehingga bermanfaat
sebagai bahan pengembangan keilmuan Keperawatan Medikal Bedah.
2. Secara Praktis
a. Perawat di Unit Hemodialisis PMI DIY
Memberikan informasi mengenai gambaran kepatuhan pasien gagal
ginjal kronik dalam mengatur intake cairan di PMI DIY sehingga dapat

digunakan sebagai masukan untuk rencana asuhan keperawatan


yang baik.
b. Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Memberikan informasi mengenai gambaran kepatuhan pasien gagal
ginjal kronik dalam mengatur intake cairan sehingga menambah
referensi bidang keperawatan, khususnya Keperawatan Medikal
Bedah mengenai pentingnya mengatur intake cairan pada pasien
gagal ginjal kronik.
c. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini diperoleh data dasar yang dapat dijadikan sebagai
bahan mengembangkan suatu temuan bermanfaat untuk menambah
ilmu pengetahuan yang juga dapat digunakan untuk bahan penelitian
selanjutnya.
E. Ruang Lingkup
1. Keilmuan
Penelitian ini termasuk dalam ruang lingkup keilmuan keperawatan
medikal bedah yaitu pasien GGK yang sedang menjalani hemodilisis di
Unit Hemodialisis PMI DIY yang mencakup tentang gambaran kepatuhan
pasien gagal ginjal kronik dalam mengatur intake cairan.
2. Mata Ajar
Penelitian ini termasuk dalam ruang lingkup mata ajar Keperawatan
Medikal Bedah.
F. Keaslian Penelitian
1. Kamaluddin dan Rahayu tahun 2009 dengan judul analisis faktor-faktor
yang mempengaruhi kepatuhan asupan cairan pada pasien gagal ginjal
kronik

dengan

hemodialisis

di

RSUD

Prof.Dr.Margono

Soekarjo

Purwokerto. Penelitian ini merupakan penelitian observasional (survei).


Berdasarkan jenis desain penelitian merupakan penelitian non eksperimen
yaitu peneliti hanya melakukan observasi, tanpa memberikan intervensi

pada variabel yang akan diteliti. Variabel dalam penelitian ini adalah faktorfaktor yang mempengaruhi kepatuhan asupan cairan. Teknik pengumpulan
data pada penelitian ini menggunakan instrumen kuesioner yang dibagikan
langsung kepada responden. Selain itu, peneliti juga menggunakan lembar
angket untuk menganalisa kepatuhan dalam mengurangi asupan cairan
selama 3 hari berturut-turut. Kesimpulan dari penelitian tersebut yaitu faktor
usia dan lama menjalani terapi HD tidak mempengaruhi kepatuhan dalam
mengurangi asupan cairan. Sedangkan faktor pendidikan, konsep diri,
pengetahuan pasien, keterlibatan tenaga kesehatan dan keterlibatan
keluarga mempengaruhi kepatuhan dalam mengurangi asupan cairan.
Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilakukan
adalah teknik pengambilan sampel yaitu total sampling. Sedangkan
perbedaannya adalah

penelitian ini menggunakan metode deskriptif

analitik, tempat penelitian dan variabel penelitian.


2. Sari tahun 2009 dengan judul faktor-faktor yang berhubungan dengan
kepatuhan dalam pembatasan asupan cairan pada klien gagal ginjal kronik
yang menjalani terapi hemodialisis di ruang hemodialisa RSUP Fatmawati
Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif cross sectional yang
bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi kepatuhan dalam pembatasan asupan cairan pada klien
gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisis. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kuantitatif.
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari :
a. Variabel independen
1) Faktor predisposisi : pendidikan, pengetahuan, sikap pembatasan
asupan cairan dan lama menjalani hemodialisis.
2) Faktor pendukung : informasi dan dukungan keluarga dalam
menjalani pembatasan asupan cairan.

b. Variabel dependen
Kepatuhan dalam menjalani pembatasan asupan cairan.
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan instrumen
kuesioner dan lembar observasi yang dibagikan langsung kepada
responden untuk diisi dan dilengkapi. Kesimpulan dari penelitian tersebut
yaitu karakteristik responden usia pasien gagal ginjal kronik yang menjalani
hemodialisis memiliki rata-rata 49,98 tahun, usia termuda 20 tahun dan
tertua 79 tahun. Pasien yang memiliki jenis kelamin laki-laki lebih banyak
dibandingkan pasien yang memiliki jenis kelamin perempuan. Pasien yang
tidak bekerja lebih banyak dibandingkan yang bekerja. Lebih banyak
responden yang tidak patuh dibandingkan responden yang patuh dalam
pembatasan cairan. Faktor pendidikan mempengaruhi pasien terhadap
kepatuhan

dalam

pembatasan

asupan

cairan,

sedangkan

faktor

pengetahuan, lama menjalani hemodialisis, informasi dan dukungan


keluarga tidak mempengaruhi. Persamaan penelitian tersebut dengan
penelitian yang akan dilakukan adalah variabel penelitian. Sedangkan
perbedaannya adalah penelitian ini menggunakan metode deskriptif cross
sectional dan tempat penelitian.
3. Syamsiah tahun 2011 dengan judul faktor-faktor yang berhubungan dengan
kepatuhan pasien CKD yang menjalani hemodialisa di RSPAU Dr. Esnawati
Antariksa

Halim

Perdana

Kusuma

Jakarta.

Desain

penelitian

ini

menggunakan rancangan deskriptif analitik dengan pendekatan potong


lintang (cross sectional). Variabel dalam penelitian ini adalah usia, jenis
kelamin,

pendidikan,

lamanya

hemodialisa,

kebiasaan

merokok,

pengetahuan tentang HD, motivasi, akses pelayanan kesehatan, persepsi


pasien terhadap pelayanan perawat, dukungan keluarga dan kepatuhan.

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan instrumen


kuesioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai faktor-faktor yang
berhubungan dengan kepatuhan pasien CKD yang menjalani hemodialisis.
Kesimpulan dari penelitian tersebut yaitu faktor usia dan lama menjalani
terapi HD tidak mempengaruhi kepatuhan dalam mengurangi asupan
cairan. Sedangkan faktor pendidikan, konsep diri, pengetahuan pasien,
keterlibatan tenaga kesehatan dan keterlibatan keluarga mempengaruhi
kepatuhan dalam mengurangi asupan cairan. Persamaan penelitian
tersebut dengan penelitian yang akan dilakukan adalah variabel penelitian.
Sedangkan perbedaannya adalah

penelitian ini menggunakan teknik

pengambilan sampel non probability yaitu consecutive sampling dan


tempat penelitian.