Anda di halaman 1dari 38

MATA KULIAH

DOSEN

: APLIKASI EPIDEMIOLOGI
: Dr. drg. Andi Zulkifli, M.Kes

IDENTIFIKASI KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) PENYAKIT TB PARU


DI PUSKESMAS TEMPE KABUPATEN WAJO TAHUN 2013
DENGAN PENDEKATAN MAKSIMAL MINIMAL

OLEH

ASTI PRATIWI DUHRI


P1804213424
EPIDEMIOLOGI B

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur


melimpahkan

rahmat

kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah


dan

hidayah-Nya

sehingga

penulis

dapat

menyelesaikan makalah ini walaupun secara sederhana, baik bentuknya


maupun isinya.
Makalah ini disusun untuk melengkapi tugas Aplikasi Epidemiologi
yang mungkin dapat membantu

teman-teman untuk mengetahui cara

identifikasi KLB TB paru dengan pendekatan maksimal minimal. Makalah


ini dapat penulis selesaikan karena bantuan berbagai pihak. Karena itu pada
kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu penulis.
Tak ada gading yang tak retak, begitu juga dengan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang menbangun demi
sempurnanya penelian ini. Penulis juga mengharap makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca.

Makassar, Juni 2014

Tim Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................i
KATA PENGANTAR..............................................................................................ii
DAFTAR ISI...........................................................................................................iii
DAFTAR TABEL....................................................................................................v
DAFTAR GAMBAR DAN GRAFIK.....................................................................vi
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
A. Latar Belakang..........................................................................................1
B. Tujuan.......................................................................................................4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................5
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.

Pengertian Tuberkulosis Paru...................................................................5


Gejala Tuberkulosis Paru..........................................................................5
Klasifikasi TB Paru...................................................................................6
Penegakan Diagnosis..............................................................................10
Penemuan Penderita TB Paru.................................................................13
Sistem Pencatatan dan Pelaporan dalam Penanggulangan TB...............13
Pengobatan TB Paru...............................................................................15

BAB III GAMBARAN UMUM LOKASI............................................................22


A.
B.
C.
D.
E.
F.

Keadaan Geografi...................................................................................22
Keadaan Demografi................................................................................23
Sarana dan Tingkat Pendidikan...............................................................24
Kondisi Ekonomi dan Sosial Budaya.....................................................25
Transportasi dan Sarana Ibadah..............................................................25
Status Kesehatan.....................................................................................25

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...............................................................28


A. Hasil........................................................................................................28
B. Pembahasan.............................................................................................32

BAB V PENUTUP................................................................................................35
A. Kesimpulan.............................................................................................35
B. Saran.......................................................................................................35
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................36

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Jenis, Sifat dan Dosis OAT............................................................15
Tabel 2.2 Dosis paduan OAT KDT Kategori 1....................................................19
Tabel 2.3 Dosis paduan OAT Kombipak Kategori 1...........................................19
4

Tabel 2.4 Dosis paduan OAT KDT Kategori 2....................................................20


Tabel 2.5 Dosis paduan OAT Kombipak Kategori 2...........................................20
Tabel 2.6 Dosis KDT Sisipan : (HRZE)..............................................................21
Tabel 2.7 Dosis OAT Kombipak Sisipan : HRZE................................................21
Tabel 3.1

Luas Wilayah, Jumlah Penduduk, Jumlah Rumah Tangga, dan


Kepadatan Penduduk Menurut Kelurahan Puskesmas Tempe

Tahun

2012....................................................................................................24
Tabel 3.2

Fasilitas Kesehatan yang Tersebar di Puskesmas Tempe


Kabupaten Wajo Tahun 2012..............................................................26

Tabel 3.3

Persebaran Tenaga Kesehatan di Puskesmas Tempe Kabupaten Wajo


Tahun 2011.........................................................................................26

Tabel 3.4

Distribusi Frekuensi 5 Penyakit Tertinggi di Puskesmas Tempe


Kabupaten Wajo Tahun 2012..............................................................27

Tabel 4.1

Distribusi Penyakit TB Paru Berdasarkan Kelompok Umur di


Puskesmas Tempe Kabupaten Wajo Tahun 2008-2013......................28

Tabel 4.2

Distribusi Penyakit TB Paru Berdasarkan Jenis Kelamin di


Puskesmas Tempe Kabupaten Wajo Tahun 2008-2013......................29

Tabel 4.3

Distribusi Penyakit TB Paru Berdasarkan Waktu (Bulan) di


Puskesmas Tempe Kabupaten Wajo Tahun 2008-2013......................30

Tabel 4.4

Perbandingan Pola Maksimal Minimal (Tahun 2008-2012)

dengan

Kejadian TB Paru pada Tahun 2013 di Wilayah Kerja Puskesmas


Tempe Kabupaten Wajo......................................................................31

DAFTAR GAMBAR DAN GRAFIK


Gambar 1 Alur Diagnosis Tuberkulosis (Kepmenkes, 2009)..............................12

Grafik 4.1 Perbandingan Pola Maksimal Minimal (Tahun 2008-2012)


dengan Kejadian TB Paru pada Tahun 2013 di Wilayah Kerja
Puskesmas Tempe Kabupaten Wajo32

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tuberkulosis paru adalah salah satu penyakit menular yang masih
menjadi masalah kesehatan masyarakat bahkan masih menjadi komitmen
global dalam penanggulangannya. Hal ini disebabkan karena besarnya dampak
yang ditimbulkan oleh TB. Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian
akibat TB di dunia terjadi pada negara-negara berkembang (Kepmenkes,
2009). Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 1995 menunjukkan bahwa
penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit
kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia,
dan nomor satu dari golongan penyakit infeksi di Indonesia (Kepmenkes,
2009).
WHO memperkirakan pada tahun 2012 jumlah kasus baru TB paru di
dunia sebesar 8,6 juta dan 1,3 juta orang meninggal akibat TB dimana 0,32
juta diantara penderita TB dengan infeksi HIV Positif. 170.000 kasus kematian
akibat TB-MDR. Di tahun 2012 WHO mengestimasi bahwa kasus kematian
akibat TB Pada perempuan sebesar 410.000 kasus (250.000 kasus dengan HIV
negatif dan 160.000 kasus dengan HIV positif). Dan juga diestmasikan
terdapat 530.000 kasus pada anak-anak dan 74.000 kematian akibat TB pada
anak-anak dengan HIV (WHO, 2013).
Laporan WHO pada tahun 2009 mencatat peringkat Indonesia
menurun ke posisi lima dengan jumlah kasus baru TB sebesar 430.000 orang

(WHO, 2010). Namun, pada Tahun 2010, posisi Indonesia meningkat lagi di
posisi 4 sebesar 450.000 orang (WHO, 2011).
Dari hasil

Riset Kesehatan

Dasar (Riskesdas ) t a h u n 2013

didapatkan data bahwa prevalensi Tuberkulosis paru klinis yang tersebar


di seluruh Indonesia yang didiagnosis oleh tenaga kesehatan adalah 0,4%.
Enam provinsi diantaranya mempunyai angka prevalensi di atas angka
nasional, yaitu provinsi Papua Barat, Banten, Gorontalo, DKI Jakarta, Papua
dan Jawa Barat. Secara umum prevalensi yang tertinggi yaitu Jawa Barat
(0,7%) dan terendah di provinsi Lampung (0,1%).
Selama 3 tahun terakhir, angka penemuan kasus baru TB BTA positif
di Indonesia telah melebihi target yang ditetapkan WHO sebesar 70%. Pada
tahun 2011 angka penemuan kasus TB sudah mencapai 83,5% (Ditjen P2PL
RI dalam Dinkes Sulsel, 2012). Sulawesi Selatan merupakan salah satu
provinsi dengan angka penemuan kasus rendah yaitu sebesar 52,5% pada
tahun 2011 (Dinkes Sulsel, 2012). Kabupaten Wajo, sebagai salah satu
kabupaten di Sulawesi Selatan juga masih belum memenuhi target dalam hal
penemuan penderita TB paru. Pada tahun 2010 angka penemuan kasus TB
hanya sebesar 55,79%, kemudian meningkat di tahun 2011 menjadi 66,71%
(Dinkes Wajo, 2011, 2012). Dari 23 puskesmas yang ada di Kabupaten Wajo,
57% diantaranya memiliki angka CDR di bawah 70% pada tahun 2011
(Dinkes Wajo, 2012).
Berbagai tantangan baru yang perlu menjadi perhatian terkait dengan
TB yaitu TB/HIV, TB-MDR, TB pada anak dan masyarakat rentan lainnya.

Hal ini memacu pengendalian TB nasional terus melakukan intensifikasi,


akselerasi, ekstensifikasi dan inovasi program.
Tiap tahun selalu terdapat peningkatan jumlah penderita TB
yang tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. TB membunuh lebih banyak
kaum muda dan wanita dibandingkan penyakit menular lainnya. Terdapat
sekitar 2 sampai 3 juta orang meninggal akibat TB setiap tahun.
Sesungguhnya setiap kematian akibat TB itu bisa dihindari. Setiap detik, ada
1 orang yang meninggal akibat tertular TB. Setiap 4 detik, ada yang sakit
akibat tertular TB. Setiap tahun. 1 % dari seluruh populasi di seluruh dunia
terjangkit oleh penyakit TB. Sepertiga dari jumlah penduduk di dunia ini
sudah tertular oleh kuman TB (walaupun) belum terjangkit oleh penyakitnya.
TB paru disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis yang
merupakan batang aerobic tahan asam yang tumbuh lambat dan sensitif
terhadap panas dan sinar UV. TB paru termasuk Air Borne Disease yang
menyebar di udara pada saat seseorang yang menderita TB batuk dan bersin.
Penderita TB yang tidak berobat dapat menularkan penyakit kepada sekitar
10/15 orang dalam jangka waktu 1 tahun sehingga TB paru berpotensi menjadi KLB atau
wabah.
Setiap menit muncul satu penderita baru TB paru, dan setiap dua
menit muncul satu penderita baru TB paru yang menular. Bahkan setiap
empat menit sekali satu orang meninggal akibat TB di Indonesia. Kenyataan
mengenai penyakit TB di Indonesia begitu mengkhawatirkan, sehingga kita

harus waspada sejak dini dan mendapatkan informasi lengkap tentang


penyakit TB.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum adalah untuk mengidentifikasi Kejadian Luar Biasa
(KLB) penyakit TB paru di wilayah kerja Puskesmas Tempe, Kabupaten
Wajo tahun 2008-2013 dengan menggunakan pendekatan maksimal
minimal.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui kejadian TB berdasarkan orang dan waktu
b. Mengetahui terjadinya Kejadian Luar Biasa TB dengan menggunakan
pendekatan maksimal minimal

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Tuberkulosis Paru

Tuberkulosis

paru

adalah

penyakit

yang

disebabkan

oleh

Mycobacterium tuberculosis sebuah kuman aerob yang dapat hidup terutama


di paru atau di berbagai organ tubuh

lainnya yang mempunyai tekanan

parsial oksigen yang tinggi (Tabrani, 2010).


Tuberkulosis paru menular dari pasien TB BTA positif melalui
percikan dahak pada saat batuk atau bersin. Percikan dahak dapat bertahan
di dalam

ruangan yang lembab dalam waktu lama. Ventilasi dapat

mengurangi jumlah percikan dan sinar matahari langsung dapat membunuh


kuman. Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman
yang dikeluarkan dari parunya. Faktor yang memungkinkan seseorang
terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan
lamanya menghirup udara tersebut (Kepmenkes, 2009).
B. Gejala Tuberkulosis Paru
Gejala umum tuberkulosis meliputi:
1. Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama biasanya dirasakan
malam hari disertai keringat. Kadang-kadang serangan demam seperti
influenza dan bersifat hilang timbul
2. Penurunan nafsu makan dan berat badan
3. Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah)
4. Perasaan tidak enak (malaise), lemah (Kepmenkes, 2009).
Sedangkan gejala khusus yaitu (Kepmenkes, 2009):
1. Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan
sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan
kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara mengi,
suara nafas melemah yang disertai sesak.
2. Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai
dengan keluhan sakit dada.

3. Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang
pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di
atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
Semua gejala di atas dapat disebabkan oleh penyakit lain, sehingga
untuk memastikan penderita positif TB atau tidak maka dibutuhkan
pemeriksaan dahak terhadap TB. Gejala-gejala TB muncul secara perlahanlahan selama beberapa minggu atau beberapa bulan. Hal ini berlaku
khususnya pada gejala umum penyakit yaitu berat badan menurun, hilang
nafsu makan, rasa lelah atau demam.
C. Klasifikasi TB Paru
Klasifikasi TB paru dapat dibedakan sebagai berikut (Kepmenkes,
2009) :
1. Berdasarkan lokasi TB
a.
Tuberkulosis Paru, yaitu tuberkulosis yang menyerang jaringan paru
b.

tidak termasuk pleura dan kelenjar pada hilus.


Tuberkulosis Ekstra Paru, adalah tuberkulosis yang menyerang organ
tubuh lain selain paru (misalnya selaput otak, kelenjar limfe, pleura,
perikardium, persendian, tulang, kulit, usus, saluran kemih, ginjal, alat

kelamin dll).
2. Berdasarkan Pemeriksaan Bakteriologi
a. TB Paru BTA Positif, yaitu jenis tuberkulosis yang pada pemeriksaan
dahaknya menunjukkan hasil BTA positif dengan kriteria:
1) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA
positif.
2) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada
menunjukkan gambaran TB,
3) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB
positif,

4) 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen


dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif
dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
b. TB Paru BTA Negatif,
yaitu jenis tuberkulosis yang pada
pemeriksaan dahaknya menunjukkan hasil BTA negatif. Kasus yang
tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif. Kriteria
diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi:
1) Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif,
2) Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran TB
3) Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT
4) Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi
pengobatan.
3. Berdasarkan Tingkat Keparahan
a. TB Paru BTA Negatif Foto Toraks Positif, klasifikasi

ini dibagi

berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat dan


ringan. Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan
gambaran kerusakan paru yang luas dan atau keadaan umum pasien
buruk.
b. TB ekstra-paru

dibagi

berdasarkan

pada

tingkat

keparahan

penyakitnya, yaitu
1) TB ekstra paru ringan, misalnya TB kelenjar limfe, pleuritis
eksudativa unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan
kelenjar adrenal.
2) TB ekstra-paru berat, misalnya: meningitis, milier, perikarditis,
peritonitis, pleuritis eksudativa bilateral, TB tulang belakang, TB
usus, TB saluran kemih, dan alat kelamin.
4. Berdasarkan Riwayat Pengobatan
Tipe penderita berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya ada
beberapa tipe penderita TB Paru, yaitu:

a. Kasus baru adalah penderita yang belum pernah mendapat


pengobatan dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari
satu bulan.
b. Kasus kambuh (relaps) adalah penderita TB Paru yang sebelumnya
pernah mendapat pengobatan TB Paru dan telah dinyatakan sembuh
atau pengobatan lengkap, kemudian kembali lagi berobat dengan hasil
pemeriksaan dahak BTA positif.
c. Kasus setelah
putus berobat (default) atau

drop out

adalah

penderita yang telah menjalani pengobatan selama 1 bulan atau lebih


dan tidak mengambil obat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum
masa pengobatannya selesai.
d. Kasus gagal (Failure) adalah penderita BTA positif yang masih tetap
positif atau kembali menjadi positif pada akhir bulan kelima atau
akhir pengobatan.
e. Kasus pindahan (Transfer In) adalah penderita yang dipindahkan dari
sarana pelayanan kesehatan yang memiliki register TB lain untuk
melanjutkan pengobatannya.
f. Lain-lain adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan di atas.
Dalam kelompok ini termasuk kasus kronik, yaitu pasien dengan hasil
pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulang.
5. Berdasarkan Penularannya
Berdasarkan penularannya maka tuberkulosis dapat dibagi menjadi
3 bentuk, yaitu (Tabrani, 2010):
a.
Tuberkulosis Primer, yaitu tuberkulosis

pada anak-anak. Setelah

tertular 6-8 minggu kemudian mulai dibentuk mekanisme imunitas


b.

dalam tubuh, sehingga tes tuberkulin menjadi positif.


Reaktivasi dari Tuberkulosis Primer, sepuluh persen dari infeksi
tuberkulosis primer akan mengalami reaktivasi, terutama setelah 2

tahun dari infeksi primer. Reaktivasi ini disebut juga dengan


c.

tuberkulosis postprimer.
Tipe Reinfeksi, infeksi yang baru terjadi setelah infeksi primer jarang
terjadi. Mungkin dapat terjadi apabila terdapat penurunan imunitas
tubuh atau terjadi penularan secara terus-menerus oleh kuman
tersebut dalam suatu keluarga.

D. Penegakan Diagnosis
Jika seseorang mengalami gejala klinis seperti TB paru maka
dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk menegakkan diagnosanya.
Pemeriksaan yang dilakukan antara lain (Kepmenkes, 2009):
1. Anamnese yang baik terhadap pasien dan keluarganya,
2. Pemeriksaan fisik,
3. Pemeriksaan laboratorium (darah, dahak dan cairan otak),
4. Pemeriksaan patologi anatomi,
5. Rontgen dada,
6. Uji tuberculin.
Cara yang paling dipercaya untuk menegakkan diagnosis tuberkulosis
paru adalah menemukan kuman TB pada pemeriksaan dahak dengan sediaan
langsung. Pemeriksaan dilakukan dengan metode pewarnaan Ziehl-Neelsen
(ZN) atau menggunakan fluoroskopi modern dengan sinar ultraviolet
(Crofton, 2002).
Adapun cara diagnosis TB paru adalah sebagai berikut (Kepmenkes,
2009) :
1. Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari, yaitu
sewaktu-pagi-sewaktu (SPS). Dahak sewaktu pertama dikumpulkan pada
saat suspek TB datang berkunjung pertama kali. Pada saat pulang, suspek
membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari
kedua. Dahak pagi hari dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua,
segera setelah bangun tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada

petugas di sarana pelayanan kesehatan. Dahak sewaktu kedua


dikumpulkan di sarana pelayanan kesehatan pada hari kedua, saat
menyerahkan dahak pagi.
2. Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya
kuman TB (BTA).

Diagnosis TB tidak boleh dilakukan

hanya

berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu


memberikan gambaran yang khas pada TB paru, sehingga sering terjadi
overdiagnosis.

Gambaran kelainan

radiologik paru tidak selalu

menunjukkan aktivitasSuspek
penyakit.TB Paru

Pemeriksaan dahak mikroskopis Sewaktu, Pagi, Sewaktu (SPS)

Hasil BTA
+++
++-

Hasil BTA
+--

Hasil BTA
---

Antibiotik Non-OAT

Ada perbaikan
Tidak ada perbaikan

Foto toraks dan pertimbangan dokter


Pemeriksaan dahak mikroskopis

Hasil BTA
Hasil BTA
+++
--+++-Foto toraks dan pertimbangan dokter

10

TB

Bukan TB

Gambar 1. Alur Diagnosis Tuberkulosis (Kepmenkes, 2009)

E. Penemuan Penderita TB Paru


Penemuan pasien merupakan langkah pertama dalam kegiatan
program penanggulangan TB dengan strategi DOTS.

Penemuan dan

penyembuhan pasien TB menular dapat menurunkan kesakitan dan kematian


akibat TB, penularan TB di masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan
pencegahan penularan TB yang paling efektif di masyarakat. Kegiatan
penemuan pasien terdiri dari penjaringan suspek, diagnosis, penentuan
klasifikasi penyakit dan tipe pasien. (Kepmenkes, 2009).
Penemuan pasien TB dilakukan secara pasif, yaitu dengan menunggu
pasien datang ke unit pelayanan kesehatan untuk memeriksakan diri, semua

11

pasien yang memiliki gejala umum seperti TB paru harus dijaring sebagai
tersangka (suspek) TB. Untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka
TB, penemuan harus didukung dengan penyuluhan secara aktif, baik oleh
petugas kesehatan maupun masyarakat (Kepmenkes, 2009).
F. Sistem Pencatatan dan Pelaporan dalam Penanggulangan TB
Pencatatan dan pelaporan kasus TB sangat penting sebagai sumber
informasi dalam penanggulangan TB dengan

maksud mendapatkan data

untuk diolah, dianalisis, diinterpretasi, disajikan, dan disebarluaskan untuk


dimanfaatkan. Oleh karana itu dibutuhkan sebuah sistem pencatatan dan
pelaporan yang baku berdasar klasifikasi dan tipe penderita. Formulir yang
digunakan untuk pencatatan dan pelaporan menurut, yaitu : (1) TB 01. Kartu
pengobatan TB, (2) TB 02. Kartu identitas penderita, (3) TB 03. Register TB
kabupaten, (4) TB 04. Register Laboratorium TB, (5) TB 05. Formulir
permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak, (6) TB 06. Daftar
tersangka penderita (suspek) yang diperiksa dahak SPS, (7) TB 07. Laporan
Triwulan Penemuan Penderita Baru dan Kambuh, (8) TB 08. Laporan
Triwulan Hasil Pengobatan Penderita TB Paru yang terdaftar 12-15 bulan
lalu, (9) TB 09. Formulir rujukan/pindah penderita, (10) TB 10. Formulir
hasil akhir pengobatan dari penderita TB pindahan, (11) TB 11. Laporan
Triwulan Hasil Pemeriksaan Dahak Akhir Tahap Intensif untuk penderita
terdaftar 3-6 bulan lalu, (12) TB 12. Formulir Pengiriman Sediaan Untuk
Cross Check, (13) TB 13. Laporan Penerimaan dan Pemakaian OAT di
kabupaten.

12

Adapun pencatatan dan pelaporan yang dilakukan pada tingkat unit


pelayanan kesehatan seperti puskesmas menggunakan formulir sebagai
berikut (Kepmenkes, 2009) :
1. Daftar tersangka penderita (suspek) yang diperiksa dahak SPS (TB. 06)
2. Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak
3.
4.
5.
6.

(TB.05),
Kartu pengobatan TB (TB.01),
Kartu identitas penderita (TB.02),
Formulir rujukan/pindah penderita (TB.09)
Formulir hasil akhir pengobatan dari penderita TB pindahan (TB.10).

G. Pengobatan TB Paru
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah
kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan
mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT (Kepmenkes, 2009).
Dalam pengobatan TB digunakan OAT dengan jenis, sifat dan dosis
sebagaimana pada tabel berikut.
Tabel 2.1
Jenis, Sifat dan Dosis OAT

13

Sumber: Kepmenkes, 2009


1. Prinsip pengobatan
Pengobatan TB dilakukan dengan prinsip - prinsip sebagai
berikut:
a. OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat,
dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori
pengobatan. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi). Pemakaian
OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) lebih menguntungkan dan
sangat dianjurkan.
b. Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan
pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh
seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).
c. Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap awal (intensif)
dan lanjutan.
2. Tahap awal (intensif)
a. Pada tahap awal (intensif) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu
diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.
b. Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat,
biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2
minggu.
c. Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif
(konversi) dalam 2 bulan.
3. Tahap Lanjutan
a. Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun
dalam jangka waktu yang lebih lama
b. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga
mencegah terjadinya kekambuhan
4. Paduan OAT yang digunakan di Indonesia

14

Paduan OAT yang digunakan di Indonesia adalah WHO dan


IUATLD (International Union Against Tuberculosis and Lung Disease)
merekomendasikan paduan OAT standar, yaitu :

1)
2)
3)

a. Kategori 1 :
1) 2HRZE/4H3R3
2) 2HRZE/4HR
3) 2HRZE/6HE
b. Kategori 2 :
1) 2HRZES/HRZE/5H3R3E3
2) 2HRZES/HRZE/5HRE
c. Kategori 3 :
2HRZ/4H3R3
2HRZ/4HR
2HRZ/6HE
5. Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan TB
di Indonesia:
a. Kategori 1 : 2HRZE/4(HR)3.
b. Kategori 2 : 2HRZES/(HRZE)/5(HR)3E3.
Disamping kedua kategori ini, disediakan paduan OAT Sisipan :
HRZE dan OAT Anak : 2HRZ/4HR
Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk
paket berupa obat Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT), sedangkan
kategori anak sementara ini disediakan dalam bentuk OAT kombipak.
Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat
dalam satu tablet. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien.
Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien.
6. Paket Kombipak.
Paket kombipak adalah

paket obat lepas yang terdiri dari

Isoniasid, Rifampisin, Pirazinamid dan Etambutol yang dikemas dalam


bentuk blister. Paduan OAT ini disediakan program untuk digunakan

15

dalam pengobatan pasien yang mengalami efek samping OAT KDT.


Paduan Obat Anti TB (OAT) disediakan dalam bentuk paket, dengan
tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan
(kontinuitas) pengobatan sampai selesai. Satu (1) paket untuk satu (1)
pasien dalam satu (1) masa pengobatan.
7. Paduan OAT dan Peruntukannya
a. Kategori 1
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:
1) Pasien baru TB paru BTA positif.
2) Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif
3) Pasien TB ekstra paru
Dosis yang digunakan untuk paduan OAT KDT Kategori 1:
2(HRZE)/4(HR)3 sebagaimana dalam Tabel 2.2

Tabel 2.2
Dosis paduan OAT KDT Kategori 1

Sumber: Kepmenkes, 2009


Dosis yang digunakan untuk paduan OAT Kombipak Kategori 1:
2HRZE/ 4H3R3 sebagaimana dalam Tabel 2.3.
Tabel 2.3

16

Dosis paduan OAT Kombipak Kategori 1

Sumber: Kepmenkes, 2009


b. Kategori 2
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati
sebelumnya:
1) Pasien kambuh
2) Pasien gagal
3) Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat (default)
Dosis yang digunakan untuk paduan OAT KDT Kategori 2:
2(HRZE)S/(HRZE)/ 5(HR)3E3 sebagaimana dalam Tabel 2.4
Tabel 2.4
Dosis paduan OAT KDT Kategori 2

Sumber: Kepmenkes, 2009


Dosis yang digunakan untuk paduan OAT Kombipak Kategori 2:
2HRZES/ HRZE/5H3R3E3) sebagaimana dalam Tabel 2.5
Tabel 2.5
Dosis paduan OAT Kombipak Kategori 2

17

Sumber: Kepmenkes, 2009


Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk
streptomisin adalah 500mg tanpa memperhatikan berat badan.
Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan
khusus. Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan
menambahkan aquabidest sebanyak 3,7ml sehingga menjadi 4ml.
(1ml = 250mg).
c. OAT Sisipan
Paduan OAT ini diberikan kepada pasien BTA positif yang pada akhir
pengobatan intensif masih tetap BTA positif. Paket sisipan KDT
adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang
diberikan selama sebulan (28 hari) sebagaimana dalam Tabel 2.6.
Tabel 2.6
Dosis KDT Sisipan : (HRZE)

Sumber: Kepmenkes, 2009

18

Paket sisipan Kombipak adalah sama seperti paduan paket untuk


tahap intensif kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari)
sebagaimana dalam Tabel 2.7.
Tabel 2.7
Dosis OAT Kombipak Sisipan : HRZE

Sumber: Kepmenkes, 2009

BAB III
GAMBARAN UMUM LOKASI

Puskesmas Tempe berada di ibukota Kecamatan Tempe dan terletak di


bagian barat Kota Sengkang, ibukota Kabupaten Wajo. Dalam wilayah Kecamatan
Tempe

terdapat

tiga

puskesmas,

yaitu

Puskesmas

Tempe,

Puskesmas

Salewangeng, dan Puskesmas Pattirosompe yang dibagi menurut wilayah kerja


masing-masing.
VISI:
Visi Puskesmas Tempe adalah Dengan pelayanan prima kita tingkatkan
derajat kesehatan masyarakat wilayah kerja Puskesmas Tempe menuju kecamatan
sehat.
MISI:

19

Untuk mencapai visi tersebut, Puskesmas Tempe menyusun misi sebagai


pedoman kerja. Adapun misi tersebut yaitu:
1. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan
2. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan pada masyarakat
3. Meningkatkan kerjasama lintas sector
A. Keadaan Geografi
Wilayah kerja puskesmas meliputi enam kelurahan yaitu:
1. Kelurahan Mattirotappareng
2. Kelurahan Tempe
3. Kelurahan Bulu Pabbulu
4. Kelurahan Watallipue
5. Kelurahan Laelo
6. Kelurahan Salomenraleng
Luas wilayah kerja Puskesmas Tempe yaitu 10,92 km 2 dengan
keadaan daerah 100% daratan, terdapat danau dan aliran sungai. Beberapa
wilayah merupakan daerah rawan banjir terutama daerah pesisir Kelurahan
Laelo, Kelurahan Salomenraleng, dan Kelurahan Mattirotappareng. Adapun
batas-batas wilayah kerja Puskesmas Tempe adalah sebagai berikut:
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Tanasitolo
2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Pammana
3. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Takkalalla
4. Sebelah Barat berbatasan dengan Danau Tempe
B. Keadaan Demografi
Menurut data BPS Kabupaten Wajo tahun 2012, jumlah penduduk
wilayah kerja Puskesmas Tempe sebanyak 20.591 dan jumlah rumah tangga
sebanyak 4.476 KK.

Tabel 3.1
Luas Wilayah, Jumlah Penduduk, Jumlah Rumah Tangga, dan Kepadatan
Penduduk Menurut Kelurahan
Puskesmas Tempe

20

Tahun 2012

Kelurahan

Luas
Wilayah
(km2)
2,17

Jumlah
Pendudu
k
3.517

Mattirotapparen
g
Tempe
1,7
6.958
Bulu Pabbulu
1,15
3.980
Watallipue
1,1
2.563
Laelo
1,95
1.713
Salo Menraleng
2,85
1.860
Jumlah
10,92
20.591
Sumber: Puskesmas Tempe, 2012

Jumlah
Rumah
Tangga
779

Rata-rata
Jiwa/Ruma
h Tangga
5

Kepadatan
Penduduk
per km2
1.621

1.389
932
561
399
416
4.476

5
4
5
4
4
5

4.093
3.461
2.330
878
653
1.886

C. Sarana dan Tingkat Pendidikan


Sarana pedidikan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Tempe terdiri
dari:
TK
SD
MI
SLTP
SLTA

: 7 buah
: 12 buah
: 2 buah
: 3 buah
: 1 buah
Tingkat pendidikan penduduk wilayah kerja Puskesmas Tempe

umumnya sangat baik bahkan sudah ada sebagian penduduk dengan tingkat
pendidikan terakhir Sarjana, meski di wilayah tertentu masih ada penduduk
yang hanya berlatar belakang pendidikan SD. Umumnya penduduk dapat
membaca dan menulis dengan baik.
D. Kondisi Ekonomi dan Sosial Budaya
Mata pencaharian penduduk wilayah kerja Puskesmas Tempe 50%
nelayan/petani, 50% pedagang toko/warung, jasa, industri, PNS, dan lainlain. Penduduk bermata pencaharian nelayan umumnya mereka yang
bermukim di daerah pesisir sungai/danau.
Sebagian besar penduduk wilayah kerja Puskesmas Tempe adalah
Suku Bugis dan beragama islam. Budaya yang ada umumnya budaya Bugis

21

namun sudah mulai banyak dipengaruhi oleh budaya modern karena banyak
pendatang atau sebagian penduduknya senang merantau.
E. Transportasi dan Sarana Ibadah
Sarana jalanan wilayah kerja Puskesmas Tempe sudah bisa dilalui
kendaraan roda dua dan roda empat pada saat musim kemarau, tetapi saat
musim hujan beberapa wilayah hanya dapat dijangkau dengan menggunakan
perahu saat banjir.
Sarana ibadah di wilayah kerja Puskesmas Tempe yang mayoritas
beragama islam terdiri dari 18 buah masjid.
F. Status Kesehatan
Status kesehatan pada dasarnya untuk memberikan gambaran tentang
keadaan kesehatan masyarakat dalam suatu wilayah yang bersangkutan dapat
dilihat dari fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan dan angka kejadian peyakit
terbanyak di masyarakat wilayah kerja Puskesmas Tempe.
1. Jumlah Fasilitas Kesehatan
Tabel 3.2
Fasilitas Kesehatan yang Tersebar di Puskesmas Tempe
Kabupaten Wajo Tahun 2012
Jenis Fasilitas
Puskesmas
Posyandu
Poskesdes
Desa Siaga
Apotik

Jumlah
1
13
2
6
6

Sumber : Puskesmas Tempe, 2012


2. Jumlah Tenaga Kesehatan
Tabel 3.3
Persebaran Tenaga Kesehatan di Puskesmas Tempe
Kabupaten Wajo Tahun 2011

22

Tenaga Kesehatan
Dokter Umum
Dokter Gigi
Bidan
Perawat
Tenaga Kefarmasian
Tenaga Gizi
Tenaga Kesmas
Tenaga Sanitasi
Teknisi Medis
Jumlah

Jumlah
1
1
6
6
1
1
1
1
1
19

Sumber: Puskesmas Tempe, 2012

3. Kejadian Penyakit
Informasi mengenai 5 penyakit tertinggi di Puskesmas Tempe,
Kabupaten Wajo pada tahun 2012 dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 3.4
Distribusi Frekuensi 5 Penyakit Tertinggi
di Puskesmas Tempe Kabupaten Wajo Tahun 2012
NO

PENYAKIT

JUMLAH

Influensa Like Illnes

Diare

335

Tuberkulosis Paru

39

Diare Berdarah

5
DBD
Sumber: Puskesmas Tempe, 2012

2.294

23

Tabel 3.4 menunjukkan bahwa penyakit dengan jumlah kasus


tertinggi di Puskesmas Tempe, Kabupaten Wajo pada tahun 2012 adalah
ILI (Influensa Like Illnes) sebesar 2.294 kasus.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Berdasarkan hasil kunjungan lapangan di Puskesmas Tempe,
Kabupaten Wajo pada tanggal 14 April 2014 diperoleh data mengenai
distribusi penyakit TB paru sebagai berikut.
1. Distribusi Penyakit TB Paru Berdasarkan Orang
a. Distribusi Penyakit TB Paru Berdasarkan Kelompok Umur
Distribusi Penyakit TB Paru Berdasarkan Kelompok Umur di
Puskesmas Tempe pada tahun 2008 sampai 2013 dapat dilihat pada
tabel 4.1.
Tabel 4.1
Distribusi Penyakit TB Paru Berdasarkan Kelompok Umur di
Puskesmas Tempe Kabupaten Wajo Tahun 2008-2013
Tahun
10-19.

20-44

Kelompok Umur (tahun)


45-54
55-59

60-69

>70

24

2008
2009
2010
2011
2012
2013
Jumlah

n
2
2
4
0
2
2
12

%
n
16.67 19
16.67 14
33.33 25
0
23
16.67 18
16.67 37
100 136

%
13.97
10.29
18.38
16.91
13.24
27.21
100

n
11
15
7
14
8
19
74

%
14.86
20.27
9.46
18.92
10.81
25.68
100

n
6
6
1
3
3
8
27

%
22.2
22.2
3.7
11.1
11.1
29.6
100

n
3
3
2
9
7
9
33

%
9.09
9.09
6.06
27.3
21.2
27.3
100

n
2
1
0
3
1
5
12

Sumber: Puskesmas Tempe,2008-2013


Tabel 4.1 menunjukkan bahwa selama 6 tahun terakhir (tahun
2008-2013) kejadian TB paru lebih banyak terjadi pada kelompok
umur 20-44 tahun, dengan jumlah kasus tertinggi terjadi pada tahun
2013 sebanyak 37 kasus (27,21%). Sedangkan kasus terendah terjadi
pada kelompok umur >70 tahun pada tahun 2010 dan kelompok
umur 10-19 tahun pada tahun 2011 dimana tidak ditemukan kasus
baru TB paru.
b. Distribusi Penyakit TB Paru Berdasarkan Jenis Kelamin
Distribusi Penyakit TB Paru Berdasarkan jenis kelamin di
Puskesmas Tempe pada tahun 2008 sampai 2013 dapat dilihat pada
tabel 4.2.
Tabel 4.2
Distribusi Penyakit TB Paru Berdasarkan Jenis Kelamin di
Puskesmas Tempe Kabupaten Wajo Tahun 2008-2013
Jenis Kelamin
Tahun

Laki-Laki

n
%
2008
27
16.46
2009
17
10.37
2010
27
16.46
2011
36
21.95
2012
17
10.37
2013
40
24.39
Jumlah
164
100
Sumber: Puskesmas Tempe,2008-2013

Perempuan
n
%
16
12.31
24
18.46
12
9.23
16
12.31
22
16.92
40
30.77
130
100

25

%
16.7
8.33
0
25
8.33
41.7
100

Berdasarkan tabel 4.2, diketahui bahwa sebagian besar


penderita TB paru berjenis kelamin laki-laki dengan jumlah kasus
dari tahun 2008-2013 sebanyak 164 kasus.

2. Distribusi Penyakit TB Paru Berdasarkan Waktu


Distribusi Penyakit TB Paru Berdasarkan waktu disajikan melalui
distribusi penyakit berdasarkan bulan mulai dari tahun 2008 sampai
tahun 2013 yang dapat dilihat pada tabel 4.3.
Tabel 4.3
Distribusi Penyakit TB Paru Berdasarkan Waktu (Bulan) di
Puskesmas Tempe Kabupaten Wajo Tahun 2008-2013

Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
Septembe
r
Oktober
November
Desember
Jumlah

2008
n
%
8 18.6
0
0
3 6.98
5 11.6
4
9.3
3 6.98
4
9.3
3 6.98

2009
n
%
2 4.9
1 2.4
3 7.3
2 4.9
2 4.9
4 9.8
3 7.3
4 9.8

Tahun
2010
2011
n
%
n
%
2 5.13 2 3.9
5 12.8 4 7.7
3 7.69 11 21
2 5.13 4 7.7
5 12.8 7
13
2 5.13 6
12
2 5.13 6
12
7
18
0
0

2
3
6
2
43

3
9
5
3
41

3
2
6
0
39

4.65
6.98
14
4.65
100

7.3
22
12
7.3
100

7.69
5.13
15.4
0
100

4
8
0
0
52

7.7
15
0
0
100

2012
n
%
0
0
0
0
0
0
4 10.26
2
5.13
8 20.51
7 17.95
10 25.64

2013
n
%
5 6.25
10 12.5
11 13.8
6
7.5
7 8.75
7 8.75
3 3.75
0
0

3
0
1
4
39

0
7
24
0
80

7.69
0
2.56
10.26
100

0
8.75
30
0
100

Sumber: Puskesmas Tempe,2008-2013


Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui bahwa kejadian penyakit TB
paru selama 6 tahun terakhir cenderung fluktuatif, dengan kasus tertinggi
terjadi pada tahun 2013 sebanyak 80 kasus. Jika dilihat berdasarkan

26

bulan, kasus tertinggi TB paru sejak tahun 2008 sampai 2013 terjadi
pada bulan November 2013 sebanyak 24 kasus.
3. Perbandingan Pola Maksimal Minimal Kejadian TB Paru (tahun 20082012) dengan Kejadian TB Paru pada Tahun 2013.
Perbandingan Pola Maksimal Minimal Kejadian TB Paru untuk
mengetahui Kejadian Luar Biasa Penyakit TB Paru di wilayah kerja
Puskesmas Tempe pada Tahun 2013 dapat dilihat pada tabel 4.4 dan
grafik 4.4.
Tabel 4.4
Perbandingan Pola Maksimal Minimal (Tahun 2008-2012)
dengan Kejadian TB Paru pada Tahun 2013 di Wilayah Kerja
Puskesmas Tempe Kabupaten Wajo

Ap
r
2

Me
i
2

11

10

11

Kejadian TB

Jan

Feb

Mar

Minimal

Maksimal

Tahun 2013

Ag
s
0

10

24

Jun Jul

Se
p
2

Ok
t
0

Nov

Des

Sumber: Puskesmas Tempe,2008-2013


Tabel 4.4 menunjukkan bahwa angka kejadian TB paru tertinggi
dari tahun 2008 sampai tahun 2012 terjadi pada bulan Maret yaitu
sebanyak 11 kasus, sedangkan kejadian terendah pada bulan Januari,
Februari, Maret, Agustus, Oktober, November, dan Desember dimana
tidak ditemukan kasus baru TB paru.

Grafik 4.1

27

Perbandingan Pola Maksimal Minimal (Tahun 2008-2012) dengan


Kejadian TB Paru pada Tahun 2013 di Wilayah Kerja Puskesmas Tempe
Kabupaten Wajo
30
25
24
20
Minimal

15
10

Maksimal

11

10

10 8

7
5

8
7

9
7

6
4
4
0
2 2 2 2
2
0
0 Feb
0 Mar
0 Apr Mei Jun Jul Ags
0 Sep
0 Okt
0 Nov
0 Des
Jan
5

6
5

2013

Sumber: Puskesmas Tempe, 2008-2013


Berdasarkan Grafik 4.1 dapat diketahui bahwa terjadi tiga kali
Kejadian Luar Biasa (KLB) TB paru di wilayah kerja Puskesmas Tempe
pada tahun 2013, yaitu pada bulan Februari, April, dan November.
B. Pembahasan
Tuberkulosis

penyakit

infeksiyang

disebabkan

oleh

bakteri

Mycobacteriumtuberculosis Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru


walaupun pada sepertiga kasus menyerang organ tubuh lain dan ditularkan
orang ke orang. Ini juga salah satu penyakit tertua yang diketahui menyerang
manusia. Jika diterapi dengan benar tuberkulosis yang disebabkan oleh
kompleks Mycobacterium tuberculosis, yang peka terhadap obat, praktis
dapat disembuhkan. Tanpa terapi tuberkulosa akan mengakibatkan kematian
dalam lima tahun pertama pada lebih dari setengah kasus.

28

Daya penularan dari seorang penderita TB ditentukan oleh


banyaknya kuman yang terdapat dalam paru penderita. Persebaran dari
kuman-kuman tersebut dalam udara serta yang dikeluarkan bersama dahak
berupa droplet dan berada diudara disekitar penderita TB. Sumber penularan
yang paling berbahaya adalah penderita TB dewasa dan orang dewasa yang
menderita TB paru dengan kavitas (caverne). Kasus seperti ini sangat
infeksius dan dapat menularkan penyakit melalui batuk, bersin dan
percakapan. Semakin sering dan lama kontak, makin besar pula kemungkinan
terjadi penularan.
Penyakit tuberkulosis (TB) dapat menyerang manusia mulai dari usia
anak sampai dewasa dengan perbandingan yang hampir sama antara laki-laki
dan perempuan. Tabel 4.1 menunjukkan bahwa dari tahun 2008 sampai tahun
2013 kejadian TB paru di wilayah kerja Puskesmas Tempe lebih banyak
terjadi pada kelompok umur 20-44 tahun dengan jumlah 136 kasus. Kasus
tertinggi terjadi pada tahun 2013 sebanyak 37 kasus (27,21%). Sedangkan
distribusi menurut jenis kelamin disajikan dalam tabel 4.2 yang menunjukkan
bahwa sebagian besar penderita TB paru berjenis kelamin laki-laki dengan
jumlah kasus dari tahun 2008-2013 sebanyak 164 kasus. Hal ini disebabkan
karena laki-laki sebagian besar mempunyai kebiasaan merokok sehingga
menurunkan daya tahan tubuh dan memudahkan terjangkitnya TB paru.
Jumlah kasus TB paru di wilayah kerja Puskesmas Tempe selama 6
tahun terakhir adalah 294 kasus. Dari tahun 2008 sampai tahun 2013 kasus
TB paru cenderung berfluktuatif dimana pada tahun 2008 terdapat 43 kasus,
lalu menurun pada tahun 2009 dengan 41 kasus, kemudian menurun lagi pada

29

tahun 2010 dengan 39 kasus, pada tahun 2011 meningkat dengan 52 kasus,
kemudian menurun lagi menjadi 39 kasus pada tahun 2012, dan pada tahun
2013 meningkat secara drastis sebesar 80 kasus. Hal ini mungkin disebabkan
oleh diagnosis dan pengobatan yang tidak tepat, kepatuhan yang kurang,
migrasi penduduk, peningkatan kasus HIV/AIDS, dan strategi DOTS
(Directly Observed Therapy Short-course) yang belum berhasil.
Berdasarkan hasil analisis KLB dengan menggunakan pola maksimal
minimal pada grafik 4.1 dapat diketahui bahwa terjadi tiga kali Kejadian Luar
Biasa (KLB) TB paru di wilayah kerja Puskesmas Tempe pada tahun 2013,
yaitu pada bulan Februari, April, dan November.
Sebagian besar masyarakat belum mengetahui seluk beluk penyakit
ini. Masih banyak orang yang tidak mengerti bahwa penyakit TB dapat
menular. Hal ini menyebabkan sebagian masyarakat tidak waspada ketika
mengetahui ada penderita TB

di sekitarnya. Penderita sendiri terkadang

malas berobat atau tidak tuntas menyelesaikan pengobatan sehingga


penularan TB semakin meningkat dan dapat menimbulkan KLB.

BAB V
KESssIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Kejadian TB di Puskesmas Tempe Kabupaten Wajo dari tahun 2008-2013
paling banyak terjadi pada laki-laki. Berdasarkan umur, angka kejadian TB

30

Paru lebih banyak terjadi pada kelompok umur 20-44 tahun. Kejadian TB
paru dari tahun ke tahun cenderung fluktuatif.
2. Pada tahun 2013, terjadi tiga kali Kejadian Luar Biasa (KLB) TB paru di
wilayah kerja Puskesmas Tempe, yaitu pada bulan Februari, April, dan
November.
B. Saran
1. Perlunya diadakan penyuluhan secara rutin untuk meningkatkan
pengetahuan masyarakat mengenai penularan TB paru dan cara
penanggulangannya.
2. Meningkatkan keterampilan petugas puskesmas dalam mengidentifikasi
penyakit yang berpotensi KLB sehingga ketika terjadi KLB dapat segera
ditanggulangi.

DAFTAR PUSTAKA
Dinkes Sulsel. 2012. Ringkasan Eksekutif Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi
Selatan
[Online].
Available:
www.depkes.go.id/downloads/kunker/26_sulsel.pdf [Accessed].
Dinkes Wajo. 2011. Profil Kesehatan Kabupaten Wajo Tahun 2010.
__________. 2012. Profil Kesehatan Kabupaten Wajo Tahun 2011.
Kepmenkes. 2009. Keputusan Menteri Republik Indonesia Nomor
364/Menkes/SK/V/2009
[Online].
Available:
http://www.hukor.depkes.go.id/up_prodkepmenkes/KMK%20No.

31

%20364%20ttg%20Pedoman%20Penanggulangan%20Tuberkolosis
%20%28TB%29.pdf [Accessed].
Puskesmas Tempe. 2008. Surveilans Terpadu Penyakit Berbasis Puskesmas
Sentinel Tahun 2008.
________________. 2009. Surveilans Terpadu Penyakit Berbasis Puskesmas
Sentinel Tahun 2009.
________________. 2010. Surveilans Terpadu Penyakit Berbasis Puskesmas
Sentinel Tahun 2010.
________________. 2011. Surveilans Terpadu Penyakit Berbasis Puskesmas
Sentinel Tahun 2011.
________________. 2012. Profil Kesehatan Puskesmas Tempe.
Riskesdas.
2013.
Riset
Kesehatan
Dasar
[Online].
Available:
http://depkes.go.id/downloads/riskesdas2013/Hasil%20Riskesdas
%202013.pdf [Accessed].
________________. 2012. Surveilans Terpadu Penyakit Berbasis Puskesmas
Sentinel Tahun 2012.
________________. 2013. Surveilans Terpadu Penyakit Berbasis Puskesmas
Sentinel Tahun 2013.
Tabrani 2010. Ilmu Penyakit Paru. Jakarta: Trans Info Media.

WHO.

2011. Global Tuberculosis Control 2011 [Online].


www.who.int/tb/publications/global_report/ [Accessed].

Available:

_____.

2013. Global Tuberculosis Control 2013 [Online]. Available:


http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/91355/1/9789241564656_eng.pdf
[Accessed].

32