Anda di halaman 1dari 30

KATA PENGANTAR.

Iii

DAFTAR ISI. ...

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Secara eksternal dan internal desakan untuk meningkatkan
kompetensi Pegawai Negeri Sipil (PNS) terus meningkat.
Secara eksternal, globalisasi membutuhkan PNS yang
profesional
untuk
mengelola
peluang-peluang
yang
dikandungnya agar dapat membawa kesejahteraan yang
seluas-luasnya
bagi
masyarakat.
Begitupula,
dengan
profesionalisme yang dimiliki, PNS yang profesional juga
mampu meredam ancaman-ancaman yang dihadirkan oleh
globalisasi.
Sementara itu secara internal kebijakan reformasi birokrasi juga
menuntut peningkatan profesionalisme PNS. Hanya PNS
seperti ini yang mampu melaksanakan reformasi birokrasi di
instansinya guna meningkatkan kualitas pelayanan publik yang
yang menjadi tanggungjawab instansinya.
Untuk mewujudkan PNS yang profesional, dibutuhkan program
Diklat yang berkualitas, yaitu program Diklat baik klasikal
maupun non klasikal yang mampu memenuhi kebutuhan
kompetensi peserta. Dalam konteks inilah, maka pemerintah
menetapkan kebijakan perencanaan Diklat termasuk di
dalamnya Training Need Analysis atau Analisa Kebutuhan
Diklat. Dengan kebijakan perencanaan Diklat ini, maka
seharusnya program-program Diklat yang dilaksanakan oleh
lembaga-lembaga Diklat merupakan hasil Analisa Kebutuhan
Diklat. Begitupula, peserta program-program Diklat tersebut
merupakan peserta Diklat yang memang membutuhkan
kompetensi yang akan dibangun pada program Diklat tersebut.

B. Deskripsi Singkat
Mata Diklat Kebijakan Diklat Aparatur merupakah salah satu
modul pada program Diklat Analisa Kebutuhan Diklat, yang
bertujuan untuk membekali peserta dengan kemampuan
menjelaskan kebijakan Diklat aparatur melalui pembelajaran
kebijakan pengembangan sumber daya manusia, kebijakan
Diklat aparatur dan kebijakan perencanaan Diklat aparatur.
Pembelajaran disajikan secara interaktif melalui metode
ceramah interaktif dan tanya jawab. Keberhasilan peserta dinilai
dari kemampuannya menjelasakan Kebijakan Diklat aparatur
secara baik dan benar.

C. Tujuan Pembelajaran
1. Hasil Belajar
Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta mampu
menjelaskan kebijakan Diklat aparaur secara baik dan benar.
2. Indikator Hasil Belajar
Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta dapat:
a. menjelaskan kebijakan pengembangan sumber daya
manusia;
b. menguraikan kebijakan Diklat aparatur;
c. Kebijakan perencanaan Diklat aparatur
3. Materi Pokok
Untuk mencapai indikator-indikator hasil belajar di atas, telah
ditetapkan materi-materi pokok yang perlu dipelajari oleh
setiap peserta Diklat, yang meliputi:

a. Kebijakan Pengembangan Sumber Daya Manusia


b. Kebijakan Diklat Aparatur
c. Kebijakan Perencanaan Diklat
4. Petunjuk Belajar
Muatan modul cukup menantang, selain karena isi atau
volume yang relatif banyak, juga karena pada umumnya
bersifat policy atau kebijakan. Untuk menyerap isinya secara
menyeluruh dibutuhkan kerjasama dan kesiapan semua
pihak, terutama bagi fasilitator dan peserta Diklat. Berikut
diuraikan persiapan-persiapan yang perlu dipersiapkan.
a. Bagi Fasilitator
Bagi fasilitator yang akan mengajarkan Kebijakan Diklat
aparatur ini perlu mempersiapkan diri dalam dua hal yaitu
penguasaan materi dan penguasan metode untuk
menyampaikan materi tersebut. Untuk penguasaan
materi, fasilitator dituntut untuk mempersiapkan diri
secara
matang
melalui
pemahaman
terhadap
keseluruhan substansi isi modul, logika urutan penyajian
bab per bab, termasuk penguasaan secara langsung
terhadap sejumlah kebijakan Diklat aparatur seperti
Undang-Undang 43 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok
Kepegawaian, Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun
2000 Tentang Diklat Jabatan PNS, sejumlah Peraturan
Kepala LAN seperti Pedoman Umum Penyelenggaraan
Diklat, Pedoman Akreditasi, dan sebagainya.
Di samping substansi materi, fasilitator juga dituntut
untuk menguasai sejumlah metode pembelajaran agar
dapat memilih metode yang tepat untuk mengantarkan
mata Diklat ini secara interaktif dan komunikatif.
Pemilihan media yang tepat serta kemampuan
membangun suasana belajar yang kondusif juga sangat

dibutuhkan, agar substansi materi dapat diserap oleh


peserta secara efektif.
b. Bagi Peserta Diklat
Untuk membangun suasana belajar yang interaktif,
sangat dianjurkan kepada peserta untuk terlebih dahulu
membaca keseluruhan isi modul ini sebelum diajarkan.
Dengan memahami isi modul ini, maka peserta dapat
lebih siap berdiskusi dengan fasilitator untuk mendalami
aspek-aspek tertentu dari isi modul ini. Yang tak kalah
pentingnya
peserta
diharapkan
terlebih
dahulu
meyakinkan dirinya tentang betapa wajibnya memahami
kebijakan Diklat aparatur, karena pada dasarnya
pelaksanaan Analisa
Kebutuhan Diklat telah diatur
dalam kebijakan-kebijakan pemerintah.

BAB II
KEBIJAKAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
Setelah membaca Bab ini, peserta diharapkan dapat
menjelaskan
kebijakan
pemerintah
tentang
pendidikan dan pelatihan aparatur

A. Kebijakan Manajemen Sumber Daya Manusia


Kemajuan suatu bangsa tidak ditentukan oleh sumber daya
alam yang dimilikinya. Fakta empiris menunjukkan bahwa
terdapat sejumlah negara yang sumber daya alamnya terbatas
seperti Jepang dan Singapore misalnya,
namun mampu
menjadi negara maju, meninggalkan jauh di belakang negaranegara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah.
Lantas apa yang menjadi faktor utama dan sebagai pengungkit
utama (key leverage) kemajuan bangsa. Fakta empiris yang
kemudian dibuktikan oleh berbagai penelitian ilmiah
menunjukkan bahwa kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan
oleh kemajuan sumber daya manusianya. Di tangan sumber
daya manusia yang profesional ini, berbagai inovasi dikreasi
untuk mengakselerasi kinerja yang dapat mendatangkan
kesejahteraan dan kemajuan bagi negara. Sumber daya alam
hanyalah mampu menghadirkan kemungkinan-kemungkinan,
namun sumber daya manusialah yang mampu mengubah
kemungkinan-kemungkinan itu menjadi kenyataan
Di antara sumber daya manusia yang ada di Indonesia, PNS
memainkan peranan yang sangat menentukan. Sebagian besar
pengambilan-pengambilan
keputusan
strategis
yang
menyangkut khalayak hidup orang banyak dilakukan oleh PNS.
Bahkan setelah itu, pelaksanaan keputusan-keputusan tersebut
juga dilaksanakan oleh PNS. PNS berada pada hampir semua

sektor yang menyangkut halayak hidup orang banyak. Mereka


bekerja
mulai
dari
merencanakan
sektor
tersebut,
mengorganisir pelaksanaan kegiatannya, memonitoring dan
mengevaluasi kegiatan tersebut untuk perbaikan berkelanjutnan
ke depannya. Sentral dan signifikannya peranan PNS tersebut,
maka negara memandang perlu menetapkan sebuah kebijakan
untuk mengelola manajemen PNS tersebut agar dapat
dihasilkan PNS yang profesional.
Kualitas PNS seperti di atas telah ditetapkan dalam UndangUndang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 1999 Tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 Tentang
Pokok-Pokok Kepegawaian seperti tertuang pada pasal 12 ayat
(3) yaitu PNS yang profesional, bertanggung jawab, jujur dan
adil. Bahkan untuk mendapatkan kualitas PNS seperti ini, telah
ditetapkan manajemen PNS yang meliputi perencanaan,
pengadaan, pengembangan kualitas, penempatan, promosi,
penggajian, kesejahteraan, dan pemberhentian sebagaimana
tercantum pada pasal 1 ayat (8).
Manajemen sumber daya manusia tersebut di atas tentu tidak
terlepas dari instansi pemerintah sebagai konteks tempat PNS
tersebut bekerja. Keberadaan mereka dalam suatu instansi
pemerintah bertujuan untuk mewujudkan visi instansi itu,
melaksanakan misi, kebijakan, program dan kegiatan. Oleh
karena itu, urgensi dibutuhkannya PNS pada suatu instansi
harus dapat dijelaskan dengan perwujudan visi dan
pelaksanaan misi, kebijakan, program dan kegiatan instansi itu.
Setiap PNS dituntut berkontribusi terhadap instansinya.
Sebagai suatu sistem, keseluruhan fungsi-fungsi manajemen
SDM mulai dari perencanaan, pengadaan, pengembangan
kualitas, penempatan, promosi, penggajian, kesejahteraan, dan
pemberhentian saling terkait sehingga masing-masing wajib
berjalan secara efektif. Permasalahan pada salah satu fungsi
saja, dapat menyebabkan terganggunya fungsi-fungsi

manajemen lainnya. Misalnya, jika perencanaan PNS tidak


berjalan dengan baik, maka dapat berpengaruh pada fungsi
penempatan. Pegawai yang baru direkrut tidak bisa ditempatkan
pada posisi tertentu karena kompetensinya tidak sesuai.
Begitupula, rekruitmen tersebut akan membawa pekerjaan
tambahan bagi fungsi pengembangan, karena harus
memprogramkan pelatihan tambahan bagi pegawai yang belum
memiliki kompetensi tersebut.

B. Kebijakan Pengembangan Sumber Daya Manusia


Sebagai suatu sumber daya yang mampu mengubah sumber
daya lainnya menjadi kenyataan, sumber daya manusia
memiliki karakteristik tersendiri. Salah satu karakteristiknya
yang spesifik adalah sumber daya manusia dapat menjadi
subyek atau pelaksana kegiatan. Sumber daya manusia tidak
hanya sebagai input yang menjadi obyek suatu kegiatan, tetapi
juga sebagai input yang ikut memperoses obyek lainnya.
Pentingnya peranan sumber daya manusia ini menuntut
perlunya sejumlah kebijakan untuk mangatur pengembangan
PNS secara berkelanjutan, mulai sejak PNS tersebut direkrut
hingga memasuki masa pensiun. Dalam pengembangan
tersebut, secara bertahap seorang pegawai akan melewati fase
pembentukan jati diri, pengembangan dan menjadi mapan,
pemeliharaan dan penyesuaian diri, dan selanjutnya memasuki
masa pemberhentian.
Dalam memasuki fase-fase tersebut, setiap PNS akan
mendapatkan program pengembangan pegawai, yang secara
umum dapat digolongkan menjadi dua bagian besar, yaitu jalur
pendidikan dan pelatihan dan jalur non pendidikan dan
pelatihan. Jalur pendidikan dan pelatihan akan dibahas secara

khusus pada Bab III, sedangkan program jalur non pendidikan


antara lain meliputi penugasan, promosi dan rotasi.
1. Penugasan
Setiap PNS adalah pejabat karena memiliki tugas dan
tanggung jawab jabatan. Dalam Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 43 Tahun 1999 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 Tentang Pokok-Pokok
Kepegawaian terdapat dua jenis jabatan yaitu jabatan
struktural dan fungsional. Dalam prakteknya, jabatan
fungsional terbagi menjadi dua bagian yaitu jabatan
fungsional tertentu dan jabatan fungsional umum yang lazim
disebut staff.
Pemberian tugas-tugas oleh organisasi pada setiap jabatan
menghadirkan tantangan-tantangan tertentu bagi setiap
PNS. Dengan tantangan-tantangan tersebut maka setiap
PNS akan mencari pengetahuan, keterampilan dan sikap
yang dibutuhkan untuk mengatasi tantangan tersebut. Oleh
karena itu, penugasan yang terprogram dan sistematis
dengan tingkat tantangan dan kesulitan yang berjenjang
pada gilirannya dapat mengembangkan PNS bersangkutan.
2. Promosi
Promosi adalah pemberian kenaikan pangkat atau jabatan
kepada PNS. Dengan promosi ini, PNS akan menghadapi
tugas-tugas baru yang lebih menantang atau sulit
dibandingkan dengan tugas-tugas pada jabatan atau
pangkat sebelumnya. Tentu saja tugas-tugas baru itu
membutuhkan kompetensi baru sehingga PNS tersebut akan
berupaya bahkan berjuang memperolehnya.
3. Rotasi

Rotasi adalah pemindahan PNS ke jabatan baru, tanpa


diikuti dengan kenaikan pangkat atau golongan. Dengan
rotasi ini, PNS hanya akan menghadapi tugas-tugas baru
dalam suatu organisasi. Tugas-tugas baru tersebut tentunya
juga membutuhkan pngetahuan, keterampilan dan sikap
perilaku yang baru untuk mengerjakannya. Dengan
demikian, wawasan PNS dalam suatu organisasi dapat lebih
berkembang, dibandingkan dengan wawasannya ketika
menduduki jabatan atau golongan sebelumnya.
Tentu saja kegiatan pengembangan pegawai yang bersifat nonDiklat tidak hanya terbatas pada penugasan, promosi dan
demosi saja. Dalam praktek manajemen sumber daya manusia,
masih terdapat sejumlah kegiatan lainnya yang bertujuan
mengembangkan pegawai. Pemberian tegruran baik lisan
maupun tertulis, pemberian sanksi mulai dari yang ringan
sampai berat adalah contoh lain kegiatan pengembangan
pegawai.
C. Rangkuman
Dibandingkan dengan sumber daya lainnya, sumber daya
manusia memainkan peranan yang sangat menentukan
pencapaian tujuan suatu instansi pemerintah, pemerintah
daerah, kementerian, lembaga dan kemudian negara. Di tangan
sumber daya manusia yang profesional, segala kemungkinankemungkinan bisa diubah menjadi kenyataan, menjadi kinerja
nyata.
Sehubungan dengan hal itu, maka sumber daya manusia
khusunya PNS perlu diatur dalam suatu kebijakan agar
penggunaan sumber daya dapat lebih efektif dan efisien untuk
mencapai tujuannya yaitu PNS yang profesional. Kebijakan
tersebut harus mengatur mulai dari perencanaan, pengadaan,
pengembangan kualitas, penempatan, promosi, penggajian,
kesejahteraan sampai pemberhentian.

Kebijakan pengembangan sumber daya manusia dalam


manajemen sumber daya manusia merupakan kebijakan yang
sangat strategis, karena kebijakan ini secara langsung
mengarahkan PNS menuju profesional. Dalam prakteknya,
kebijakan ini muncul dalam dua bentuk yaitu jalur Diklat dan
jalur Non Diklat. Penugasan, Promosi dan Rotasi serta
pemberian sanksi dan teguran merupakan bentuk-bentuk
kegiatan pengembangan sumber daya manusia.
D. Latihan
1. Mengapa manajemen PNS perlu diatur dalam suatu
kebijakan pemerintah?
2. Mengapa kebijakan pengembangan sumber daya manusia
memiliki nilai strategis dalam manajemen sumber daya
manusia?
3. Sebutkan
dan
uraikan
bentuk-bentuk
kegiatan
pengembangan sumber daya manusia

11

BAB III
KEBIJAKAN DIKLAT APARATUR
Setelah membaca Bab ini, peserta diharapkan dapat
menjelaskan
kebijakan
pemerintah
tentang
pendidikan dan pelatihan aparatur
Disamping jalur non-Diklat seperti yang diuraikan pada Bab II,
pengembangan pegawai juga dapat dilakukan melalui jalur
pendidikan dan pelatihan atau Diklat. Bahkan, jalur Diklat ini
memiliki nilai strategis tersendiri karena secara langsung dapat
membekali PNS dengan kompetensi yang dibutuhkan dalam
melaksanakan tugas jabatannya.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 Tentang
Diklat Jabatan PNS, tujuan dan sasaran penyelenggaraan Diklat
telah ditetapkan secara umum. Pada Pasal 2 ditegaskan bahwa
penyelenggaraan Diklat bertujuan untuk:
a. Meningkatkan pengetahuan, keahlian, keterampilan, dan
sikap untuk dapat melaksanakan tugas jabatan secara
professional dengan dilandasi kepribadian dan etika PNS
sesuai dengan kebutuhan instansi;
b. Menciptakan aparatur yang mampu berperan sebagai
pembaharu dan perekat persatuan dan kesatuan bangsa;
c. Memantapkan sikap dan semangat pengabdian yang
berorientasi
pada
pelayanan,
pengayoman,
dan
pemberdayaan masyarakat;
d. Menciptakan kesamaan visi dan dinamika pola pikir dalam
tugas pemerintahan umum dan pembangunan demi
terwujudnya kepemerintahan yang baik.
Adapun sasaran Diklat adalah terwujudnya PNS yang memiliki
kompetensi yang sesuai dengan persyaratan jabatan masingmasing (Pasal 3). Sementara itu, kompetensi itu sendiri diartikan
sebagai kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh PNS,

berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yang


diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya.
Penyelenggaraan Diklat, klasikal dan non klasikal, yang sesuai
dengan kebijakan tujuan dan sasaran Diklat di atas adalah
penyelenggaraan Diklat yang mengacu pada pemenuhan
kebutuhan kompetensi PNS, atau yang lazim dikenal dengan
Diklat berbasis kompetensi. Dengan kebijakan Diklat berbasis
kompetensi maka landasan utama penyelenggaraan adalah
kebutuhan kompetensi PNS. Jika PNS belum membutuhkan
kompetensi, penyelenggaraan Diklat belum merupakan suatu
kebutuhan sehingga tidak perlu dilaksanakan.
Untuk mewujudkan suatu penyelenggaraan Diklat berbasis
kompetensi, dibutuhkan upaya terpadu dari para stakeholder yang
terlibat seperti LAN sebagai Instansi Pembina Diklat, BKN sbagai
Instansi Pengendali Diklat, Pejabat Pembina Kepegawaian,
Instansi Pembina Jabatan Fungsional, Instansi Teknis, Lembaga
Diklat termasuk Pengelola, Widyaiswara dan Penyelenggara
Diklat. Diklat berbasis kompetensi hanya dapat terlaksana apabila
masing-masing pihak ini bekerja secara profesional.
Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 Tentang Diklat
Jabatan PNS menetapkan kebijakan Diklat aparatur yang
bertujuan agar pihak-pihak tersebut di atas dapat melaksanakan
tugas dan tanggungjawab yang telah ditetapkan. Berbagai
kebijakan Diklat aparatur yang telah ditetapkan dalam Peraturan
Pemerintah tersebut, semuanya diarahkan pada terwujudnya
penyelenggaraan Diklat yang berbasis kompetensi.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 Tentang
Diklat Jabatan PNS, ditegaskan bahwa pembinaan Diklat oleh
Instansi Pembina dilakukan melalui program (a) Penyusunan
pedoman Diklat; (b) Bimbingan dalam pengembangan kurikulum
Diklat; (c) Bimbingan dalam penyelenggaraan Diklat; (d)
Standarisasi dan akreditasi Diklat; (d) Standarisasi dan akreditasi

13

widyaiswara; (e) Pengembangan Sistem Informasi Diklat; (f)


Pengawasan terhadap program dan penyelenggaraan Diklat; (g)
Pemberian bantuan teknis melalui konsultasi, bimbingan ditempat
kerja, kerjasama dalam pengembangan, penyelenggaraan, dan
evaluasi Diklat. Secara umum, program-program tadi dapat
kelompokkan ke dalam tiga bagian besar yaitu penetapan standar
kualitas, penjaminan kualitas dan kontrol kualitas.
A. Penetapan Standar Kualitas
Diklat berbasis kompetensi diawali dengan penetapan standar
kompetensi jabatan. Pejabat struktural, pejabat fungsional
tertentu, dan pejabat fungsional umum harus memiliki standar
kompetensi jabatan. Dengan standar kompetensi tersebut,
ditetapkan kompetensi minimal baik berupa pengetahuan,
keterampilan maupun sikap yang dibutuhkan oleh PNS dalam
melaksanakan tugas jabatan yang didudukinya.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 Tentang
Diklat Jabatan PNS, ditetapkan bahwa tugas yang terkait
dengan standar kompetensi jabatan tersebut merupakan
tanggungjawab BKN sebagai Instansi Pengendali Diklat. Dalam
Pasal 26 dinyatakan bahwa Instansi Pengendali bertugas
melakukan pengembangan dan penerapan standar kompetensi
jabatan,
pengawasan
standar
kompetensi
jabatan,
pengendalian pemanfaatan lulusan Diklat.
Berangkat dari standar kompetensi jabatan tersebut, Instansi
Pembina Diklat, Instansi Pembina Jabatan Fungsional, dan
Instansi Teknis mengembangkan program-program Diklat yang
menjadi tanggungjawabnya. Melalui program-program Diklat
tersebut, kebutuhan-kebutuhan PNS akan kompetensi dapat
dipenuhi.

Jenis dan jenjang Diklat juga telah ditetapkan dalam Peraturan


Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 Tentang Diklat Jabatan
PNS. Dengan demikian, Instansi Pembina Diklat, Instansi
Pembina Jabatan Fungsional dan Instansi Teknis tetap harus
berpedoman pada kebijakan tersebut dalam mengembangkan
program Diklat. Pada pasal 3 dan 4, ditetapkan bahwa jenis
Diklat PNS terdiri atas Diklat Prajabatan dan Diklat Dalam
Jabatan, dan Diklat Dalam Jabatan terdiri atas Diklat
Kepemimpinan, Diklat Fungsional, dan Diklat Teknis.
1. Instansi Pembina
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000
tentang Diklat Jabatan PNS, Lembaga Administrasi
Negara sebagai Instansi Pembina Diklat bertanggung
jawab mengembangkan program Diklat Prajabatan dan
Diklat Kepemimpinan.
Diklat Prajabatan diperuntukkan bagi Calon PNS dan
merupakan persyaratan menjadi PNS. Diklat Prajabatan
terdiri atas Diklat Prajabatan Golongan I, II dan III. Diklat
Prajabatan. Diklat Prajabatan dilaksanakan untuk
memberikan pengetahuan dalam rangka pembentukan
wawasan kebangsaan, kepribadian dan etika PNS. Di
samping
pengetahuan
dasar
tentang
sistem
penyelenggaraan pemerintahan negara, bidang tugas
dan budaya organisasinya agar mampu melaksanakan
tugas dan perannya sebagai pelayan masyarakat.
Selain Diklat Prajabatan, Lembaga Administrasi juga
bertanggungjawab mengembangkan program Diklat
Kepemimpinan. Diklat Kepemimpinan diperuntukkan bagi
PNS yang akan atau telah menduduki jabatan struktural.
Diklat Kepemimpinan terdiri atas empat jenjang yaitu

15

Diklat Kepemimpinan Tingkat I, II, III dan IV. Diklat


Kepemimpinan
dilaksanakan
untuk
mencapai
persyaratan
kompetensi
kepemimpinan
aparatur
pemerintah yang sesuai dengan jenjang jabatan
struktural.
2. Instansi Pembina Jabatan Fungsional
Diklat Fungsional adalah yang ddilaksanakan untuk
mencapai persyaratan kompetensi yang sesuai dengan
jenis dan jenjang Jabatan Fungsional tertentu seperti
jabatan fungsional peneliti, widyaiswara, arsiparis dan
lain-lain. Pengembangan program Diklat Fungsional
menjadi tanggungjawab Instansi Pembina Jabatan
Fungsional. Dalam mengembangkan program-program
Diklat tersebut, Instansi Pembina Jabatan Fungsional
tetap harus berkoordinasi dengan Instansi Pembina
Diklat.
3. Instansi Teknis
Dalam melaksanakan tugas, pejabat struktural, pejabat
fungsional tertentu dan pejabat fungsional umum
membutuhkan kompetensi teknis sesuai bidang
tugasnya. Untuk memenuhi kompetensi teknis, setiap
Instansi Teknis dalam hal ini kementerian dan lembaga
mengembangkan program Diklat teknis sesuai sektor
yang menjadi tanggungjawabnya. Misalnya, kemneterian
pertanian mengembangkan program-program Diklat
Teknis
pertanian,
dan
seterusnya.
Dalam
mengembangkan
program-program
Diklat
teknis
tersebut, Instansi Teknis tetap harus berkoordinasi
dengan Instansi Pembina Diklat.
B. Penjaminan Kualitas

Selain kebijakan Diklat Berbasis Kompetensi, Peraturan


Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 Tentang Diklat Jabatan
PNS
juga
mengamanahkan
desentralisasi
dalam
penyelenggaraan Diklat. Artinya, penyelenggaraan Diklat tidak
lagi menjadi kewenangan pemerintah pusat. Pemerintah
Daerah pun dalam hal Pemerintah Provinsi, Kabupaten dan
Kota dapat melaksanakan Diklat selama memenuhi kualifikasi
yang telah ditetapkan oleh Instansi Pembina.
Kebijakan desentralisasi penyelenggaraan Diklat dapat dilihat
pada pasal 22, yang menyatakan:
(1) Diklat Prajabatan dilaksanakan oleh lembaga Diklat
Pemerintah yang terakreditasi.
(2) Diklatpim Tingkat IV, Diklatpim Tingkat III dan Diklatpim
Tingkat II dilaksanakan oleh lembaga Diklat Pemerintah
yang terakreditasi.
(3) Diklatpim Tingkat I dilaksanakan oleh Instansi Pembina.
Diklat Teknis dan Diklat Fungsional dilaksanakan oleh
lembaga Diklat yang terakreditasi.
Agar lembaga-lembaga Diklat baik pemerintah maupun swasta
dapat mengembangkan kapasitasnya sehingga mampu
memenuhi kualifikasi yang ditetapkan baik oleh Instansi
Pembina Diklat (untuk Diklat Prjabatan dan Kepemimpinan
Tingkat II, III dan IV), Instansi Pembina Jabatan Fungsional
(sesuai jabatan fungsional tertentu yang dibinanya), maupun
oleh Instansi Teknis (sesuai sektor dan substansi yang
dikelolanya), maka ditetapkan kebijakan penjaminan kualitas
yang meliputi kegiatan pembimbingan, sistem informasi Diklat
aparatur, akreditasi lembaga Diklat dan sertifikasi widyaiswara.
a. Pembimbingan

17

Lembaga Diklat yang menyelenggarakan Diklat


Kepemimpinan Tingkat II, III dan IV, Diklat Prajabatan
dibimbing oleh Instansi Pembina Diklat atau Lembaga
Administrasi. Instansi Pembina Jabatan Fungsional dan
Instansi Teknis masing-masing membimbing lembaga
Diklat dalam menyelenggarakan Diklat Fungsional dan
Diklat Teknis.
Kegiatan pembimbingan dapat berbentuk pembimbingan
di tempat kerja, Diklat, sosialisasi, workshop dan lain-lain.
Materi pembimbingan meliputi standar-standar kualitas
yang telah ditetapkan dalam masing-masing pedoman
penyelenggaraan Diklat-Diklat tersebut.
b. Sistem Informasi Diklat Aparatur
Selain pembimbingan kapasitas suatu lembaga Diklat
juga dapat ditingkatkan melalui kegiatan berbagi
informasi di antara sesama lembaga Diklat. Untuk
mempermudah dan mempercepat kegiatan berbagi
informasi ini, maka Instansi Pembina membangun suatu
Sistem Informasi Diklat Aparatur (SIDA) yang berbasis
teknologi informasi, Melalui SIDA, setiap lembaga Diklat
dapat mengunggah data dan informasi yang dimilikinya
sehingga dapat diakses oleh lembaga Diklat lain.
Dalam SIDA, setiap lembaga Diklat diharuskan
mengunggah informasi tentang kapasitas lembaga
Diklatnya melalui data program Diklat yang dilaksanakan,
alumni, widyaiswara, pengelola dan penyelenggara
Diklat, sarana dan prasarana Diklat yang dimiliki, modul
dan bahan ajar yang dikembangkan. Selain berbagi
informasi, SIDA memungkinkan juga terjadinya berbagi
sumber daya. Misalnya, lembaga Diklat tertentu dapat
meminta widyaiswara dari lembaga Diklat lain untuk
mengajar dalam suatu penyelenggaraan Diklat.

c. Akreditasi Lembaga Diklat


Jika program pembimbingan baik secara langsung
maupun melalui Sistem Informasi Diklat Aparatur sudah
berhasil membangun kapasistas suatu lembaga Diklat
dalam menyelenggarakan Diklat tertentu, maka lembaga
Diklat tersebut dapat diberi akreditasi. Akreditasi sendiri
diartikan sebagai penilaian kelayakan lembaga Diklat
dalam menyelenggarakan program Diklat tertentu yang
ditetapkan dalam SK dan Sertifikat Akreditasi oleh
Instansi Pembina (LAN). Program Diklat yang dimaksud
disini tidak terbatas pada Diklat Kepemimpinan dan
Prajabatan saja, melainkan Diklat Fungsional dan Diklat
Teknis juga diakreditasi oleh Lembaga Administrasi
Negara.
Dalam pelaksanaan akreditasi, Lembaga Administrasi
Negara membentuk Tim Akreditasi sesuai jenis Diklat
yang diakreditasi. Jika yang akan diakreditasi adalah
Diklat Fungsional, maka Instansi Pembina Jabatan
Fungsional menjadi bagian dalam Tim Akreditasi.
Begitupula halnya dengan Diklat Teknis.
Unsur-unsur yang dinilai kelayakan sebelum memberikan
sertifikat akreditasi meliputi unsur sumber daya manusia
kediklatan, program Diklat dan Fasilitas. Setiap unsur
menurunkan sejumlah sub unsur. Pada unsur sumber
daya manusia kediklatan misalnya, sub unsurnya adalah
pengelola
lembaga
Diklat,
widyaiswara
dan
penyelenggara Diklat, dengan masing-masing indikator
yang terukur. Indikator pada sub unsur widyaiswara
adalah sertifikasi widyaiswara atau kepemilikan sertifikat
TOT baik metodologi pengajaran maupun substansi yang
terkait dengan program Diklat yang diajarkan.

19

Sertifikat akreditasi diberikan apabila suatu lembaga


Diklat telah memenuhi persyaratan untuk masing-masing
unsur. Salah satu dari ketiga unsur tersebut tidak
terpenuhi, maka lembaga Diklat tersebut perlu
meningkatkan kapasitasnya lagi khususnya pada unsur
yang masih lemah tersebut.
C. Kontrol Kualitas
Pemerintah tentunya menginginkan agar kebijakan Diklat
berbasis kompetensi dapat diterapkan secara efektif oleh
masing-masing lembaga Diklat. Standar-standar kualitas yang
telah ditetapkan oleh Instansi Pembina, Instansi Pembina
Jabatan Fungsional dan Instansi Teknis dapat dipahami dengan
baik oleh lembaga Diklat dan secara konsisten menerapkannya
secara penuh.
Untuk itu, ketiga instansi tadi dituntut untuk melakukan
monitoring terhadap lembaga-lembaga Diklat
pada saat
lembaga Diklat tersebut menyelenggarakan Diklat. Dengan
membawa standar-standar kualitas yang ada, ketiga instansi ini
mencocokkan kesesuaian antara standar kualitas yang telah
ditetapkan dengan pelaksanaan. Dengan demikian, setiap
penyimpangan-penyimpangan yang ditemukan dapat segera
dikoreksi sehingga penyimpangan tidak terlalu jauh.
Di samping itu, ketiga instansi ini juga tetap dituntut untuk
melakukan evaluasi terhadap lembaga-lembaga Diklat yang
telah menyelenggarakan Diklat. Hasil evaluasi diharapkan
dapat menghasilkan rekomendasi kepada lembaga Diklat
tersebut agar penyelenggaraan mendatang dapat lebih sesuai
lagi dengan standar kualitas yang telah ditetapkan.
D. Rangkuman

Pendidikan dan Pelatihan Aparatur sebagai suatu jalur dalam


pengembangan sumber daya manusia memiliki keunggulan
tersendiri dalam mewujudkan PNS yang profesional. Melalui
penyelenggaraan Diklat baik yang bersifat klasikal maupun
non-klasikan, kompetensi yang akan dibangun dapat
disampaikan atau dibangun secara langsung kepada PNS yang
merupakan peserta Diklat.
Agar keunggulan tersebut dapat terjaga maka perlu diatur
suatu kebijakan Diklat aparatur khususnya pembinaan Diklat
aparatur. Terdapat tiga strategi kebijakan utama yaitu
penetapan standar kualitas, penjaminan kualitas, dan kontrol
kualitas. Ketiganya merupakan suatu siklus yang sistematis
membina lembaga-lembaga Diklat dalam menyelenggarakan
Diklat secara berkualitas.
E. Latihan
1. Apa keunggulan Diklat sebagai suatu jalur dalam
pengembangan sumber daya manusia?
2. Sebutkan tiga strategi utama dalam pembinaan Diklat? Dan
Uraikan masing masing strategi tersebut?
3. Apa itu akreditasi dan sertifikasi? Uraikan masing-masing
dan jelaskan perbedaannya?

21

BAB IV
KEBIJAKAN PERENCANAAN DIKLAT APARATUR
Setelah membaca Bab ini, peserta diharapkan dapat
menjelaskan kebijakan perencanaan pendidikan dan
pelatihan aparatur
Isu yang sangat mendasar dalam penyelenggaraan sebuah Diklat
berbasis kompetensi adalah apakah PNS yang mengikuti suatu
program Diklat benar-benar membutuhkan kompetensi yang
dibangun oleh Diklat itu. Untuk memastikan hal ini, Peraturan
Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 tentang Diklat Jabatan PNS
menetapkan Pejabat Pembina Kepegawaian sebagai pihak yang
bertanggungjawab akan hal ini. Dalam pasal 27, ditegaskan bahwa
Pejabat pembina kepegawaian melakukan Identifikasi kebutuhan
Diklat untuk menentukan jenis Diklat yang sesuai dengan
kebutuhan instansinya.
Dalam prakteknya, pejabat pembina kepegawaian dibantu oleh
unit yang menangani kepegawaian. Unit inilah yang melakukan
identifikasi kebutuhan atau analisa kebutuhan Diklat guna
merencanakan dan menetapkan jenis-jenis Diklat termasuk jenisjenis kompetensi yang dubutuhkan oleh suatu instansi, unit dalam
instansi, sampai pada individu-individu dalam instansi tersebut.
Hasil Analisa Kebutuhan Diklat ini kemudian menjadi dasar
perencanaan Diklat, baik dalam merancang program Diklat
maupun dalam menyelenggarakan Diklat. Diklat TNA ini
merupakan Diklat yang bertujuan untuk membekali pegawai pada
unit kepegawaian dan Diklat
dengan kompetensi untuk
melaksanakan analisa kebutuhan Diklat.
Analisis kebutuhan Diklat yang dihasilkan oleh unit kepegawaian
dan Diklat ini berupa jenis Diklat yang dibutuhkan oleh suatu
instansi baik pada tataran organisasi, unit dan invidividu. Instansi
Pembina, Instansi Pembina Jabatan Fungsional, atau Instansi
Teknis, atau bahkan Lembaga Diklat Pemerintah Daerah (Provinsi,
Kabupaten, Kota) kemudian menggunakan hasil analisis

kebutuhan Diklat tersebut untuk merancang bangun suatu program


Diklat. Dalam program Diklat ini, lembaga Diklat kemudian
merancang kompetensi Diklat, mata Diklat, peserta Diklat, tenaga
pengajar, fasilitas Diklat, evaluasi, registrasi dan sertifikasi, serta
pelaporan.
A. Kompetensi Umum Diklat
Kompetensi Umum Diklat (KUD), yang sebelumnya disebut
Tujuan Kurikulum Umum (TKU) adalah kompetensi Umum yang
diharapkan dapat dicapai (pengetahuan, ketrampilan dan sikap)
setelah selesai mengikuti Diklat. Dalam mendesain program
Diklat, KUD ini harus spesifik, terukur, realistis sehingga dapat
diwujudkan pada suatu kurun waktu tertentu, biaya tertentu, dan
alokasi sumber daya tertentu.
Untuk mencapai KUD ini, hasil analisis kebutuhan Diklat
memainkan peranan penting karena menjadi sumber informasi
dalam menentukan ranah pembelajaran (pengetahuan,
keterampilan, dan sikap) yang harus dimasukkan dalam KUD.
B. Kompetensi Khusus Diklat
Kompetensi Khusus Diklat (KKD) yang sebelumnya disebut
Tujuan Kurikuler Khusus (TKK) adalah Kompetensi Khusus yg
merupakan rincian/jabaran dari kompetensi umum. Dengan
KKD, diharapkan rancang bangun suatu program Diklat dapat
dilaksanakan dengan mudah karena kompetensi umum sudah
dijabarkan ke dalam kompetensi khusus yang bersifat lebih
mikro dan sangat spesifik. Begitupula dalam pelaksanaan Diklat
nantinya, penyelenggara khususnya bagian akademik dapat
lebih mudah menganalisis penyebab jika KUD tidak tercapai,
dengan jalan mengidentifikasi KKD yang sulit dicapai.
C. Mata Diklat

23

Mata Diklat merupakan pengelompokkan materi yang


dibutuhkan untuk mencapai satu atau lebih KKD. Oleh karena
itu, penuangan materi menjadi suatu mata Diklat tetap harus
mengacu pada pembagian ranah pengetahuan seperti
pengetahuan, keterampilan dan sikap serta substansi disiplin
suatu ilmu.
Dalam suatu program Diklat, rangkaian mata Diklat merupakan
sistem yang saling terkait membangun KUD. Dengan demikian,
perlu dipastikan bahwa suatu program Diklat dituntut untuk
memiliki mata Diklat yang mengajarkan pengetahuan,
keterampilan dan sikap yang dibutuhkan untuk melaksanakan
KUD. Jika tidak, maka ranah yang tidak termasuk tersebut
sebaiknya menjadi persyaratan mengikuti Diklat tersebut.
D. Peserta
Diklat berbasis kompetensi pada dasarnya bersifat taylor-made
atau dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan kompetensi
PNS tertentu. Oleh karena itu, persyaratan utama bagi peserta
adalah mereka yang belum memiliki KUD dan membutuhkan
KUD dalam pelaksanaan tugas jabatannya.
Jika persyaratan di atas sudah terpenuhi, barulah beranjak
menambahkan persyaratan administrative lainnya sebagai
upaya untuk membangun suasana kondusif dalam proses
belajar mengajar nantinya. Persyaratan lainnya seperti
kepangkatan, kesehatan jasmani dan rohani, umur, potensi,
motivasi, dedikasi, loyalitas dan seterusnya.
E. Fasilitator
Widyaiswara dan fasilitator lainnya adalah ujung tombak dalam
suatu penyelenggaraan Diklat. Sebaik apapun rancang bangun
program Diklat dan modul serta bahan ajar yang telah
dikembangkan, jika widyaiswara atau fasiliator lainnya tidak
kompeten, maka KUD sulit diwujudkan. Oleh karena itu,

kompetensi widyaiswara atau fasilitator lainnya menjadi


persyaratan utama. Dalam prakteknya, kompetensi tersebut
dapat dibuktikan melalui sertifikat TOT baik substansi maupun
metodologi pengajaran, pengalaman mengajarkan atau
melaksanakan substansi. Puncak dari kompetensi seorang
widyaiswara adalah sertifikasi widyaiswara yang diterima dari
Instansi Pembina Diklat.
F. Biaya
Istansi Pembina Diklat, Instansi Pembina Jabatan Fungsional
dan Instansi Teknis perlu menetapkan suatu standar biaya
dalam penyelenggaraan suatu program Diklat. Standar Biaya ini
kemudian menjadi acuan dalam membiayai setiap kegiatan atau
pengadaan barang/jasa dalam suatu program Diklat. Dalam
menetapkan standar biaya tersebut ketiga instansi tersebut di
atas tentunya harus berkoordinasi dengan instansi yang
berwenang sesuai peraturan perundangan.
Lembaga Diklat baik di pusat maupun di daerah mengacu pada
standar biaya tersebut dalam menetapkan pembiayaan di
instansinya. Bahkan untuk lembaga Diklat di Daerah, penetapan
standar biaya Diklat perlu mendapat persetujuan dari DPRD,
sehingga terbuka kemungkinan dilakukan penyesuaianpenyesuaian sesuai kondisi lokal masing-masing.
G. Fasilitas
Fasilitas yang meliputi prasarana dan sarana perlu ditetapkan
oleh Instansi Pembina Diklat untuk Diklat Prajabatan dan
Kepemimpinan, Instansi Pembina Jabatan Fungsional untuk
Diklat-Diklat Fungsional yang menjadi binaannya, Instansi
Teknis untuk Diklat-Diklat Teknis sesuai sektor yang menjadi
tanggungjawabnya. Dalam menyediakan fasilitas, lembaga
Diklat perlu memahami program Diklat apa yang dilaksanakan
dan memahami bagaimana Instansi Pembina, Instansi Pembina

25

Jabatan Fungsional atau Instansi Teknis menetapkan standarstandar fasilitas tersebut.


H. Evaluasi
Diklat berbasis kompetensi menuntut peserta Diklat menguasai
dan mampu melaksanakan KUD. Oleh karena itu, sistem
evaluasi untuk menilai apakah peserta telah menguasai KUD
menjadi suatu keharusan. Di samping evaluasi terhadap
peserta, evaluasi lainnya juga tetap perlu mendapat prioritas
guna peningkatan kualitas penyelenggaraan Diklat pada masamasa mendatang. Evaluasi tersebut meliputi evaluasi
widyaiswara, penyelenggara, dan pasca Diklat.
I. Registrasi
Setiap alumni Diklat yang telah mengikuti Diklat dan telah
menguasai kompetensi dalam KUD akan mendapatkan kode
registrasi sesuai dengan jenis dan jenjang Diklat yang
diikutinya. Instansi Pembina Diklat, Instansi Pembina Jabatan
Fungsional dan Instansi Teknis dituntut membangun sistem
pemberian kode registrasi secara nasional untuk memudahkan
penghitungan alumni Diklat secara nasional.
J. Sertifikasi
Sertifikasi adalah proses pemberian pengakuan kepada setiap
peserta Diklat yang telah berhasil menguasai KUD. Bentuk
pengakuan dituangkan dalam Surat Tanda Tamat Pendidikan
dan Pelatihan (STTPP). Jika belum menguasai KUD, sebaiknya
peserta tersebut cukup diberikan Surat Keterangan atau
Sertifikat telah mengikuti Diklat.
Untuk kontrol dan standar, Instansi Pembina, Instansi Pembina
Jabatan Fungsional, dan Instansi Teknis mengatur format dan
bentuk
STTPP
termasuk
pejabat
yang
berwenang
bertandatangan pada STTPP tersebut.

K. Pelaporan Diklat
Setelah selesai penyelenggaraan suatu program Diklat,
penyelenggara menyampaikan laporan penyelenggaraan baik
kepada BKN maupun kepada LAN. Oleh BKN, laporan tersebut
dipergunakan untuk memantau pemanfaatan alumni Diklat,
sedang LAN menggunakannya bersama Instansi Pembina
Jabatan Fungsional, dan atau Instansi Teknis untuk
penyempurnaan program Diklat khususnya kurikulum.
Setelah memahami unsur-unsur program Diklat yang diuraikan di
atas maka pada tingkat penyelenggaraan, setiap lembaga Diklat
dituntut membuat perencanaan pelaksanaan Diklat sesuai dengan
mengacu pada rancang bangun yang telah ditetapkan oleh
Instansi Pembina Diklat, Instansi Pembina Jabatan Fungsional,
atau Instansi Teknis, sesuai dengan program Diklat yang akan
dilaksanakan.
L. Rangkuman
Pelaksanaan Diklat yang berkualitas berawal dari perencanaan
Diklat yang matang. Untuk memenuhi syarat ini, maka peranan
analisa kebutuhan Diklat menjadi sangat penting karena dapat
menjadi sumber perencanaan Diklat. Unsur-unsur rancang
bangun program Diklat seperti KKD, KKD, Mata Diklat, peserta,
fasilitator, fasilitas, biaya, evaluasi, registrasi, sertifikasi dan
pelaporan bersumber dari hasil analisis kebutuhan Diklat. Tanpa
hasil analisis kebutuhan Diklat, sulit membuat perencanaan
Diklat yang efektif.

M.Latihan
1. Pada
kementerian,
lembaga,
pemerintah
provinsi,
kabupaten, dan kota, unit organisasi mana yang seharusnya
melaksanakan analisis kebutuhan Diklat? Mengapa
demikian?

27

2. Sebutkan unsur-unsur yang perlu direncanakan dalam


rancang bangun program Diklat?

BAB VI
PENUTUP

A. Simpulan
Pelaksanaan Analisis Kebutuhan Diklat dituntut taat pada
peraturan perundangan yang berlaku Oleh karena, setiap
pelaksana Analisis Kebutuhan Diklat wajib memahami sejumlah
kebijakan-kebijakan mulai dari Manajemen Kepegawaian,
Pengembangan Sumber Daya Manusia, Diklat Aparatur sampai
pada Kebijakan penyelenggaraan Diklat.
Pemahaman tersebut diharapkan dapat membangun suatu
makna dan sikap bagi pelaksana Analisis Kebutuhan Diklat
bahwa penyelenggaraan suatu program Diklat merupakan
bagian dari suatu sistem yang lebih besar, yang apabila
dilaksanakan tidak sesuai dengan kebijakan kebijakan
pemerintah yang ada maka dapat mempengaruhi sub-sub
sistem penyelenggaraan negara lainnya.
B. Tindak Lanjut
Kompetensi yang telah terbentuk dari membaca modul ini
barulah sebatas pengetahuan. Oleh karena itu, setiap peserta
Diklat
dituntut
untuk
menindaklanjutinya
dengan
menerapkannya secara konsisten ketika melaksanakan
kegiatan analisis kebutuhan Diklat. Dengan demikian,
pengetahuan tersebut dapat berubah menjadi kinerja nyata,
yang merupakan tujuan dari modul ini.

29

REFERENSI
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 1999
Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun
1974 Tentang Pokok-Pokok Kepegawaian
2. Undang-Undang 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 Tentang
Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil.
4. Keputusan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor:
193/XIII/10/6/2001 Tentang Pedoman Umum Pendidikan
dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil;
5. Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Ngara Nomor 2
Tahun 2008 Tentang Pedoman Akreditasi Lembaga Diklat
Pemerintah;