Anda di halaman 1dari 62

MATA KULIAH

DOSEN

: APLIKASI EPIDEMIOLOGI
: Dr. drg. Andi Zulkifli, M.Kes

LAPORAN HASIL SCREENING HIPERTENSI PADA WARGA


KOMPLEKS BUMI TAMALANREA PERMAI MAKASSAR
TAHUN 2014

OLEH
KELOMPOK 2
KELAS EPIDEMIOLOGI B
ANDI RASDIYANAH JAKIR (P1804213018)
HAMZAH
(P1804213423)
ASTI PRATIWI DUHRI
(P1804213424)

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur


melimpahkan

rahmat

kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah


dan

hidayah-Nya

sehingga

penulis

dapat

menyelesaikan makalah ini walaupun secara sederhana, baik bentuknya


maupun isinya.
Laporan hasil screening ini disusun untuk melaporkan hasil kegiatan
screening hpertensi yang telah dilakukan oleh penulis dan untuk
melengkapi tugas Aplikasi Epidemiologi

yang mungkin dapat membantu

teman-teman untuk mengetahui gambaran kejadian hipertensi melalui hasil


screening di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Makassar. Laporan ini
dapat penulis selesaikan karena bantuan berbagai pihak. Karena itu pada
kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu penulis.
Tak ada gading yang tak retak, begitu juga dengan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang menbangun demi
sempurnanya penelian ini. Penulis juga mengharap makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca.

Makassar, Juni 2014

Tim Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.....................................................................................i
KATA PENGANTAR...................................................................................ii
DAFTAR ISI...............................................................................................iii
DAFTAR TABEL........................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN............................................................................1
A.
B.
C.
D.

Latar Belakang................................................................................1
Rumusan Masalah...........................................................................3
Tujuan.............................................................................................4
Manfaat...........................................................................................5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...................................................................6


A. Tinjauan Umum Tentang Hipertensi...............................................6
B. Tinjauan Umum Tentang Screening..............................................18
BAB III METODE KEGIATAN.................................................................24
A.
B.
C.
D.
E.
F.

Rancangan Screening....................................................................24
Instrumen................................................................................................24
Lokasi dan waktu....................................................................................24
Sasaran Screening...................................................................................24
Cara Pelaksanaan....................................................................................24
Pengolahan Data dan Penyajian Data.....................................................25

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN....................................................26


A. Hasil..............................................................................................26
B. Pembahasan..................................................................................41
BAB IV PENUTUP........................................................................................
A. Kesimpulan.......................................................................................
B. Saran.................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Klasifikasi Hipertensi Berdasarkan Standar WHO.............................7


Tabel 2.2 Klasifikasi Tekanan Darah Pada Orang Dewasa Menurut JNC VII.....8
Tabel 2.3 Tabulasi Silang Hasil Screening dan Status Penyakit.......................21
Tabel 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di Kompleks Bumi
Tamalanrea Permai Tahun 2014.........................................................26
Tabel 4.2

Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Umur di Kompleks


Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014...............................................27

Tabel 4.3

Distribusi Responden Berdasarkan Status Pernikahan di Kompleks


Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014...............................................27

Tabel 4.4

Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di

Kompleks

Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014...............................................28


Tabel 4.5

Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan di Kompleks Bumi


Tamalanrea Permai Tahun 2014.........................................................28

Tabel 4.6

Distribusi Responden Berdasarkan Gejala Hipertensi di Kompleks


Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014...............................................29

Tabel 4.7

Distribusi Responden yang Diduga Hipertensi Berdasarkan Gejala Di


Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014..............................30

Tabel 4.8

Distribusi Responden Berdasarkan Konsumsi Makanan Di Kompleks


Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014...............................................30

Tabel 4.9

Distribusi Responden Berdasarkan Aktivitas Fisik Di Kompleks Bumi


Tamalanrea Permai Tahun 2014.........................................................31

Tabel 4.10 Distribusi Responden yang Diduga Hipertensi Riwayat Keluarga


Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014.........................31
Tabel 4.11 Distribusi Responden Berdasarkan Status Hipertensi Di Kompleks
Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014...............................................32
Tabel 4.12 Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Jenis Kelamin Di
Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014..............................32
Tabel 4.13 Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Kelompok Umur

Di

Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014..............................33


Tabel 4.14 Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Status Pernikahan
Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014.........................33
4

Tabel 4.15 Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Tingkat

Pendidikan

Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014.........................34


Tabel 4.16 Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Pekerjaan Di
Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014..............................34
Tabel 4.17 Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Kondisi Sakit Bagian
Tengkuk Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014........35
Tabel 4.18 Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Kondisi Sakit Kepala
Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014.........................35
Tabel 4.19 Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Kondisi Pandangan
Kabur Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014.............36
Tabel 4.20 Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Kondisi Kepala
Pusing Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014.............36
Tabel 4.21 Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Kondisi Ayunan
Langkah Tidak Teratur Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Tahun
2014....................................................................................................37
Tabel 4.22 Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Konsumsi Makanan
Asin Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Tahun

2014...........37

Tabel 4.23 Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Konsumsi Gorengan


Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014.........................38
Tabel 4.24 Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Konsumsi Lemak
Jenuh Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014...............38
Tabel 4.25 Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Aktivitas Fisik Berat
Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014.........................39
Tabel 4.26 Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Aktivitas Fisik
Sedang Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014............39
Tabel 4.27 Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Aktivitas Fisik
Ringan Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014............40
Tabel 4.28 Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Riwayat Keluarga Di
Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014.............................40
Tabel 4.29 Distribusi Hasil Kegiatan Screening Hipertensi Di Kompleks Bumi
Tamalanrea Permai Tahun 2014.........................................................41

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hipertensi kini menjadi masalah global karena prevalensi yang terus
meningkat sejalan dengan perubahan gaya hidup seperti merokok, obesitas,
inaktivitas fisik, dan stress psikososial. Hampir di setiap negara, hipertensi
menduduki peringkat pertama sebagai penyakit yang paling sering dijumpai.
Di seluruh dunia, sekitar 972 juta orang mengidap hipertensi dengan
perbandingan 26,6% pria dan 26,1% wanita (USU Digital Library). Menurut
estimasi World Health Organisation (WHO), angka ini kemungkinan akan
meningkat menjadi 29,2% di tahun 2025. Dari 972 juta pengidap hipertensi,
333 juta berada di negara maju dan 639 sisanya berada di negara sedang
berkembang, temasuk Indonesia.
Prevalensi Hipertensi di Indonesia juga tergolong tinggi cukup tinggi
(IPB, 2009). Selain itu, akibat yang ditimbulkannya menjadi masalah
kesehatan masyarakat. Berdasarkan hasil survei kesehatan rumah

tangga

(SKRT, 2001) di kalangan penduduk umur 25 tahun ke atas menunjukkkan


bahwa 27% laki-laki dan 29% wanita menderita hipertensi. WHO mencatat
bahwa di Indonesia, angka penderita hipertensi mencapai 32 persen pada 2008
dengan kisaran usia di atas 25 tahun. Jumlah penderita pria mencapai 42,7
persen, sedangkan 39,2 persen adalah wanita (IPB, 2009).
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan, sebagian
besar kasus hipertensi di masyarakat belum terdiagnosis. Hal ini terlihat dari
hasil pengukuran tekanan darah pada usia 18 tahun ke atas ditemukan
prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 31,7%, dimana hanya 7,2%
penduduk yang sudah mengetahui memiliki hipertensi dan hanya 0,4% kasus
yang minum obat hipertensi (Aris, 2006). Data ini menunjukkan, sebesar 76%
kasus hipertensi di masyarakat belum terdiagnosis atau 76% masyarakat
belum mengetahui bahwa mereka menderita hipertensi (Putri, 2012).
Masyarakat pada umumnya, masih belum peduli terhadap tekanan
darahnya. Penderitanya pun tidak menyadari bahwa dirinya mengidap

hipertensi. Berdasarkan penelitian, warga Indonesia, yang rutin memeriksakan


tekanan darahnya hanya seperempat dari penderita hipertensi. Sisanya, kurang
mempedulikannya. Padahal hipertensi dapat dikatakan sebagai pembunuh
diam-diam (the silent killer). Hipertensi umumnya terjadi tanpa gejala
(asimptomasis). Sebagian orang tidak merasakan apapun, walaupun tekan
darah telah jauh di atas normal. Hal ini dapat berlangsung bertahuntahun,
sampai akhirnya penderita (yang tidak merasakan keluhan) berada dalam
kondisi darurat, dan bahkan terkena penyakit jantung, stroke atau rusak
ginjalnya. Komplikasi ini yang kemudian banyak berujung pada kematian,
sehingga yang tercatat sebagai penyebab kematian adalah komplikasinya
(Askes, 2012).
Cara yang paling tepat dilakukan untuk mendeteksi hipertensi adalah
dengan mengecek tekanan darah secara berkala. Screening hipertensi
merupakan salah satu cara mendeteksi secara dini apakah seseorang menderita
hipertensi sehingga dapat dilakukan tindakan preventif sedini mungkin.
Dengan melakukan deteksi hipertensi lebih dini, maka penyakit yang
disebabkan oleh hipertensi dapat di cegah. Tekanan darah tergolong cukup
tinggi dan membahayakan adalah jika batas atas (tekanan sistolik) berkisar
antara 140-159 atau lebih dan batas bawah (tekanan diastolik) berkisar antara
90-99 atau lebih. Namun pedoman ini juga perlu disesuaikan dengan kondisi
tubuh setiap orang (Askes, 2012).
Kompleks Bumi Tamalanrea Permai merupakan salah satu perumahan
di Kota Makassar yang sebagian besar penghuninya adalah karyawan, baik itu
karyawan swasta maupun pegawai negeri sipil dan pelajar/mahasiswa. Di
samping itu, BTP merupakan salah satu kompleks perumahan yang di
dalamnya terdapat berbagai macam warung makan cepat saji, pedagang
gorengan, yang sebagian besar harganya terjangkau masyarakat. Kondisi
tersebut memungkinkan penghuni perumahan lebih banyak mengkonsumsi
makanan yang diperdagangkan di sekitarnya. Sementara diketahui bahwa junk
food mengandung banyak lemak, dan sebagian lemak akan terakumulasi
dalam tubuh kita, dan akhirnya akan bertambah berat dan bisa menjadi
obesitas. Tingginya tingkat lemak dan natrium dalam makanan siap saji juga
2

dapat menyebabkan tekanan darah tinggi atau hipertensi (Marisa). Keadaan


tersebut diperparah dengan kurangnya waktu sebagian besar penghuni
perumahan untuk berolahraga karena tuntutan pekerjaan dan aktivitas seharisehari (pelajar/mahasiswa, pedagang, dll) yang menyita banyak waktu.
Dengan demikian, kami memiliki asumsi bahwa penghuni Kompleks
Bumi Tamalanrea Permai cenderung memiliki faktor risiko kejadian
hipertensi. Oleh karena itu, screening hipertensi ini dilakukan untuk melihat
penghuni perumahan yang berisiko dan benar-benar menderita hipertensi serta
faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi tersebut.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka rumusan
masalah yaitu :
1. Bagaimana gambaran kejadian penyakit hipertensi pada penghuni
Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Makassar Tahun 2014?
2. Bagaimana sensistivitas pada screening hipertensi terhadap penghuni
Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Makassar Tahun 2014?
3. Bagaimana spesivisitas pada screening hipertensi terhadap penghuni
Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Makassar Tahun 2014?
4. Bagaimana nilai kecermatan positif (positive accuracy) pada screening
hipertensi terhadap penghuni Kompleks Bumi Tamalanrea Permai
Makassar Tahun 2014?
5. Bagaimana nilai kecermatan negatif (negative accuracy) pada screening
hipertensi terhadap penghuni Kompleks Bumi Tamalanrea Permai
Makassar Tahun 2014?
6. Bagaimana False Positive Rate pada screening hipertensi terhadap
penghuni Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Makassar Tahun 2014?
7. Bagaimana False Negative Rate pada screening hipertensi terhadap
penghuni Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Makassar Tahun 2014?
8. Bagaimana proporsi Negatif Semu pada screening hipertensi terhadap
penghuni Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Makassar Tahun 2014?
9. Bagaimana proporsi Positif Semu pada screening hipertensi terhadap
penghuni Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Makassar Tahun 2014?
C. Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan, maka tujuan


penulisan yaitu:
1. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan gambaran kejadian penyakit hipertensi dan
mengukur derajat penyaringan (yield) hipertensi pada penghuni Kompleks
Bumi Tamalanrea Permai Makassar Tahun 2014.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk melihat gambaran kejadian penyakit hipertensi pada penghuni
Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Makassar Tahun 2014.
b. Untuk mengetahui sensistivitas pada screening hipertensi terhadap
penghuni Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Makassar Tahun 2014.
c. Untuk mengetahui spesivisitas pada screening hipertensi terhadap
penghuni Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Makassar Tahun 2014.
d. Untuk mengetahui nilai kecermatan positif (positive accuracy) pada
screening hipertensi terhadap penghuni Kompleks Bumi Tamalanrea
Permai Makassar Tahun 2014.
e. Untuk mengetahui nilai kecermatan negatif (negative accuracy) pada
screening hipertensi terhadap penghuni Kompleks Bumi Tamalanrea
Permai Makassar Tahun 2014.
f. Untuk mengetahui False Positive Rate pada screening hipertensi
terhadap penghuni Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Makassar
Tahun 2014.
g. Untuk mengetahui False Negative Rate pada screening hipertensi
terhadap penghuni Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Makassar
Tahun 2014.
h. Untuk mengetahui proporsi Negatif Semu pada screening hipertensi
terhadap penghuni Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Makassar
Tahun 2014.
i. Untuk mengetahui proporsi Positif Semu pada screening hipertensi
terhadap penghuni Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Makassar
Tahun 2014.
D. Manfaat Penulisan
1. Sebagai proses pembelajaran pada mata kuliah Aplikasi Epidemiologi
untuk menambah wawasan pengetahuan dan keterampilan tentang
screening hipertensi.
4

2. Sebagai bahan informasi dan pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan


screening hipertensi yang dilaksanakan pada penghuni Kompleks Bumi
Tamalanrea Permai Makassar
3. Sebagai partisipasi dalam

mengaktualisasi

pemberdayaan

dan

pengembangan masyarakat di bidang kesehatan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Mengenai Hipertensi
1. Definisi Hipertensi
Hipertensi atau tekanan darah tinggi, adalah meningkatnya tekanan
darah atau kekuatan menekan darah pada dinding rongga di mana darah itu
berada. Tekanan Darah Tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan
tekanan darah di dalam arteri (Hiper artinya Berlebihan, Tensi artinya
tekanan/tegangan). Jadi dapat disimpulkan bahwa hipertensi adalah
gangguan sistem peredaran darah yang menyebabkan kenaikan tekanan
darah diatas nilai normal (Reskiaddin, 2012).
Hipertensi menurut Joint National Commitee on Detection,
Evaluation and Treatment of High Blood Pressure (JNC), yaitu tekanan
yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg dan diklasifikasikan sesuai derajat
5

keparahannya, mempunyai rentang dari tekanan darah (TD) normal, tinggi,


sampai hipertensi maligna. Tekanan darah dalam kehidupan seseorang
bervariasi secara alami. Bayi dan anak-anak secara normal memiliki
tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada dewasa. Tekanan darah
juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat
melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah
dalam satu hari juga berbeda, paling tinggi di waktu pagi hari dan paling
rendah pada saat tidur malam hari (Reskiaddin, 2012).
Hipertensi dapat dikelompokkan dalam dua kategori besar, yaitu
hipertensi esensial (primer) dan hipertensi sekunder. Hipertensi esensial
(primer) merupakan tipe yang hampir sering terjadi, yaitu sebesar 95%
dari kasus terjadinya hipertensi. Hipertensi esensial (primer) dikaitkan
dengan kombinasi faktor gaya hidup seperti kurang bergerak (inaktivitas)
dan pola makan. Sedangkan hipertensi sekunder berkisar 5% dari kasus
hipertensi. Hipertensi sekunder disebabkan oleh kondisi medis lain
(misalnya penyakit jantung) atau reaksi terhadap obat-obatan tertentu
(Aisyah, 2012).
2. Klasifikasi Hipertensi
WHO mengklasifikasikan hipertensi berdasarkan ada tidaknya
kelainan pada organ tubuh lain, yaitu sebagai berikut:
a. Hipertensi tanpa kelainan pada organ tubuh lain
b. Hipertensi dengan pembesaran jantung
c. Hipertensi dengan kelainan pada organ lain di samping jantung
(Reskiaddin, 2012).
Adapun klasifikasi hipertensi berdasarkan tingginya tekanan darah
tampak pada Tabel 1 (WHO) dan Tabel 2 (JNC VII), yaitu sebagai berikut
(Asiyah, 2012) :
Tabel 2.1
Klasifikasi Hipertensi Berdasarkan Standar WHO
Klasifikasi
Optimal

Sistolik
<120 mmHg

Distolik
<80 mmHg

Normal

<130 mmHg

<85 mmHg

Tingkat I (hipertensi ringan)

140-159 mmHg

90-99 mmHg

Sub group: Perbatasan

140-149 mmHg

90-94 mmHg

Tingkat 2 (Hipertensi Sedang)

160-179 mmHg

100-109 mmHg

Tingkat 3 (Hipertensi Berat)

>180 mmHg

>110 mmHg

Hipertensi Sistol terisolasi

>140 mmHg

<90 mmHg

140-149 mmHg

<90 mmHg

Sub group: Perbatasan


Sumber: WHO

Tabel 2.2
Klasifikasi Tekanan Darah Pada Orang Dewasa Menurut JNC VII
Kategori
Normal
Pre-hipertensi
Stadium 1
Stadium 2

Tekanan Darah
Sistolok
< 120 mmHg
120-139 mmHg
140-159 mmHg
160 mmHg

Tekanan Darah
Diastolik
< 80 mmHg
80-89 mmHg
90-99 mmHg
100 mmHg

Sumber: JNC VII

3. Patofisiologi Hipertensi
Hipertensi dikatakan sebagai suatu penyakit apabila terjadi
peningkatan tekanan darah sistolik dan/atau diastolik yang melebihi batas
normal. Batas yang tepat dari kelainan ini tidak pasti. Nilai yang dapat dan
diterima berbeda sesuai usia dan jenis kelamin (sistolik 140-160 mmHg;
diastolik 90-95 mmHg). Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan
relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor, pada medula di
otak. Dari pusat vasomotor ini bermula pada sistem saraf simpatis, yang
berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medula
spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat

vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah


melalui sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis.
Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang
akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana
dengan dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh
darah.

Berbagai

mempengaruhi

faktor
respons

seperti

kecemasan

pembuluh

darah

dan

ketakutan

terhadap

dapat

rangsangan

vasokonstriktor. Individu dengan hipertensi sangat sensitif terhadap


norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut
bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang
pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi. Kelenjar adrenal juga
terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla
adrenal mensekresi epineprin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks
adrenal mensekresi kortisol dan streroid lainnya, yang dapat memperkuat
respons

vasokonstriksi

pembuluh

darah.

Vasokonstriksi

yang

mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal, menyebabkan pelepasan


renin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian
diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstrikstriktor kuat. Yang pada
gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. hormon ini
menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan
peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor tersebut cenderung
mencetuskan keadaan hipertensi.
Perubahan struktur dan fungsional pada sistem perifer bertanggung
jawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut.
Perubahan tersebut meliputi arterosklerosis, hilangnya elastisistas jaringan
ikat, dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada
gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh
darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya
dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume
sekuncup), mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan
tahanan parifer.

4. Gejala Hipertensi
Berikut ini merupakan gejala-gejala hipertensi, antara lain :
a. Sakit pada bagian belakang kepala
b. Leher terasa kaku
c. Kelelahan
d. Mual
e. Sesak napas
f. Gelisah
g. Muntah
h. Mudah tersinggung
i. Susah tidur
Keluhan tersebut tidak selalu akan dialami oleh seorang penderita
hipertensi. Sering juga seseorang dengan keluhan sakit belakang kepala,
mudah tersinggung dan sukar tidur, ketika diukur tekanan darahnya
menunjukkan angka tekanan darah yang normal. Satu-satunya cara untuk
mengetahui ada tidaknya hipertensi hanya dengan mengukur tekanan
darah.
5. Faktor Risiko Hipertensi
Secara umum, faktor

risiko

terjadinya

teridentifikasi antara lain :


a. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi
1) Keturunan
Dari hasil penelitian diungkapkan

hipertensi

bahwa

jika

yang

seseorang

mempunyai orang tua atau salah satunya menderita hipertensi


maka orang tersebut mempunyai risiko lebih besar untuk terkena
hipertensi daripada orang yang kedua orang tuanya normal (tidak
menderita hipertensi). Adanya riwayat keluarga terhadap hipertensi
dan penyakit jantung secara signifikan akan meningkatkan risiko
terjadinya hipertensi pada perempuan dibawah 65 tahun dan lakilaki dibawah 55 tahun.
2) Jenis kelamin
Jenis kelamin mempunyai pengaruh penting dalam regulasi
tekanan

darah.

Sejumlah

fakta

menyatakan

hormon

seks

mempengaruhi sistem renin angiotensin. Secara umum tekanan


darah pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Pada

perempuan risiko hipertensi akan meningkat setelah masa


menopause yang mununjukkan adanya pengaruh hormon.
3) Umur
Beberapa penelitian yang dilakukan, ternyata terbukti bahwa
semakin tinggi umur seseorang maka semakin tinggi tekanan
darahnya. Hal ini disebabkan elastisitas dinding pembuluh darah
semakin menurun dengan bertambahnya umur. Sebagian besar
hipertensi terjadi pada umur lebih dari 65 tahun. Sebelum umur 55
tahun tekanan darah pada laki-laki lebih tinggi daripada
perempuan. Setelah umur 65 tekanan darah pada perempuan lebih
tinggi daripada laki-laki. Dengan demikian, risiko hipertensi
bertambah dengan semakin bertambahnya umur.
b. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi
1) Merokok
Merokok dapat meningkatkan beban kerja jantung dan menaikkan
tekanan darah. Menurut penelitian, diungkapkan bahwa merokok
dapat meningkatkan tekanan darah. Nikotin yang terdapat dalam
rokok sangat membahayakan kesehatan, karena nikotin dapat
meningkatkan penggumpalan darah dalam pembuluh darah dan
dapat menyebabkan pengapuran pada dinding pembuluh darah.
Nikotin bersifat toksik terhadap jaringan saraf yang menyebabkan
peningkatan tekanan darah baik sistolik maupun diastolik, denyut
jantung bertambah, kontraksi otot jantung seperti dipaksa,
pemakaian O2 bertambah, aliran darah pada koroner meningkat dan
vasokontriksi pada pembuluh darah perifer.
2) Obesitas
Kelebihan lemak tubuh, khususnya lemak abdominal erat
kaitannya dengan hipertensi. Tingginya peningkatan tekanan darah
tergantung pada besarnya penambahan berat badan. Peningkatan
risiko semakin bertambah parahnya hipertensi terjadi pada
penambahan berat badan tingkat sedang. Tetapi tidak semua
obesitas dapat terkena hipertensi. Tergantung pada masing-masing
10

individu. Peningkatan tekanan darah di atas nilai optimal yaitu >


120/80 mmHg akan meningkatkan risiko terjadinya penyakit
kardiovaskuler. Penurunan berat badan efektif untuk menurunkan
hipertensi, Penurunan berat badan sekitar 5 kg dapat menurunkan
tekanan darah secara signifikan.
3) Stres
Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalaui saraf
simpatis yang dapat meningkatkan tekanan darah secara intermiten.
Apabila stres berlangsung lama dapat mengakibatkan peninggian
tekanan darah yang menetap. Pada binatang percobaan dibuktikan
bahwa pajanan terhadap stres menyebabkan binatang tersebut
menjadi hipertensi.
4) Aktifitas Fisik
Orang dengan tekanan darah yang tinggi dan kurang aktifitas, besar
kemungkinan aktifitas fisik efektif menurunkan tekanan darah.
Aktifitas fisik membantu dengan mengontrol berat badan. Aerobik
yang cukup seperti 30-45 menit berjalan cepat setiap hari
membantu menurunkan tekanan darah secara langsung. Olahraga
secara teratur dapat menurunkan tekanan darah pada semua
kelompok, baik hipertensi maupun normotensi.
5) Asupan
a) Asupan Natrium
Natrium adalah kation utama dalam cairan extraseluler
konsentrasi serum normal adalah 136 sampai 145 mEg/L,
Natrium berfungsi menjaga keseimbangan cairan dalam
kompartemen tersebut dan keseimbangan asam basa tubuh
serta berperan dalam transfusi saraf dan kontraksi otot.
Perpindahan

air

diantara

cairan

ekstraseluler

dan

intraseluler ditentukan oleh kekuatan osmotik. Osmosis adalah


perpindahan air menembus membran semipermiabel ke arah

11

yang mempunyai konsentrasi partikel tak berdifusinya lebih


tinggi. Natrium klorida pada cairan ekstraseluler dan kalium
dengan zat-zat organik pada cairan intraseluler, adalah zat-zat
terlarut yang tidak dapat menembus dan sangat berperan dalam
menentukan konsentrasi air pada kedua sisi membran.
Hampir seluruh natrium yang dikonsumsi (3-7 gram sehari)
diabsorpsi terutama di usus halus. Mekanisme penngaturan
keseimbangan

volume

pertama-tama

tergantung

pada

perubahan volume sirkulasi efektif. Volume sirkulasi efektif


adalah bagian dari volume cairan ekstraseluler pada ruang
vaskular yang melakukan perfusi aktif pada jaringan. Pada
orang sehat volume cairan ekstraseluler umumnya berubahubah sesuai dengan sirkulasi efektifnya dan berbanding secara
proporsional dengan natrium tubuh total. Natrium diabsorpsi
secara aktif setelah itu dibawa oleh aliran darah ke ginjal,
disini natrium disaring dan dikembalikan ke aliran darah dalam
jumlah yang cukup untuk mempertahankan taraf natrium
dalam darah. Kelebihan natrium yang jumlahnya mencapai 9099% dari yang dikonsumsi, dikeluarkan melalui urin.
Pengeluaran urin ini diatur oleh hormon aldosteron yng
dikeluarkan kelenjar adrenal bila kadar Na darah menurun.
Aldosteron merangsang ginjal untuk mengasorpsi Na kembali.
Jumlah Na dalam urin tinggi bila konsumsi tinggi dan rendah
bila konsumsi rendah.
Garam dapat memperburuk hipertensi pada orang secara
genetik sensitif terhadap natrium, misalnya seperti: orang
Afrika-Amerika, lansia, dan orang hipertensi atau diabetes.
Asosiasi jantung Amerika menganjurkan setiap orang untuk
membatasi asupan garam tidak lebih dari 6 gram per hari. Pada
populasi dengan asupan natrium lebih dari 6 gram per hari,

12

tekanan darahnya meningkat lebih cepat dengan meningkatnya


umur, serta kejadian hipertensi lebih sering ditemukan.
Hubungan antara retriksi garam dan pencegahan hipertensi
masih belum jelas. Namun berdasarkan studi epidemiologi
diketahui terjadi kenaikan tekanan darah ketika asupan garam
ditambah.
b) Asupan Kalium
Kalium merupakan ion utama dalam cairan intraseluler, cara
kerja kalium adalah kebalikan dari Na. konsumsi kalium yang
banyak akan meningkatkan konsentrasinya di dalam cairan
intraseluler, sehingga cenderung menarik cairan dari bagian
ekstraseluler dan menurunkan tekanan darah.
Sekresi kalium pada nefron ginjal dikendalikan oleh
aldosteron. Peningkatan sekresi aldosteron menyebabkan
reabsorbsi natrium dan air juga ekskresi kalium. Sebaliknya
penurunan sekresi aldosteron menyebabkan ekskresi natrium
dan air juga penyimpanan kalium. Rangsangan utama bagi
sekresi aldosteron adalah penurunan volume sirkulasi efektif
atau

penurunan

kalium

serum.

Ekskresi

kalium

juga

dipengaruhi oleh keadaan asam basa dan kecepatan aliran di


tubulus distal.
Penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa asupan rendah
kalium akan mengakibatkan peningkatan tekanan darah dan
renal vascular remodeling yang mengindikasikan terjadinya
resistansi pembuluh darah pada ginjal. Pada populasi dengan
asupan tinggi kalium tekanan darah dan prevalensi hipertensi
lebih rendah dibanding dengan populasi yang mengkonsumsi
rendah kalium.
c) Asupan Magnesium
Magnesium merupakan inhibitor yang kuat terhadap
kontraksi vaskuler otot halus dan diduga berperan sebagai

13

vasodilator dalam regulasi tekanan darah. The Joint National


Committee

on

Prevention,

Detection,

Evaluation

and

Treatment of High Blood Presure (JNC) melaporkan bahwa


terdapat hubungan timbal balik antara magnesium dan tekanan
darah.
Sebagian besar penelitian klinis menyebutkan, suplementasi
magnesium tidak efektif untuk mengubah tekanan darah. Hal
ini dimungkinkan karena adanya efek pengganggu dari obat
anti hipertensi. Meskipun demikian, suplementasi magnesium
direkomendasikan untuk mencegah kejadian hipertensi.
6. Komplikasi Hipertensi
Kondisi hipertensi yang berkepanjangan sangat berpotensi
menyebabkan gangguan pembuluh darah di seluruh organ tubuh. Secara
umum kondisi darah tinggi tidak bisa diprediksi secara dini akan
menyerang organ bagian mana, tergantung organ mana yang terlebih
dahulu merespon tekanan yang abnormal. Angka kematian yang tinggi
pada penderita darah tinggi terutama disebabkan oleh gangguan jantung.
a. Organ Jantung
Kompensasi jantung terhadap kerja yang keras akibat hipertensi
berupa

penebalan

pada

otot

jantung

kiri. Kondisi ini akan

memperkecil rongga jantung untuk memompa, sehingga jantung akan


semakin membutuhkan energi yang besar. Kondisi ini disertai dengan
adanya gangguan pembuluh darah jantung sendiri (koroner) akan
menimbulkan kekurangan oksigen dari otot jantung dan berakibat rasa
nyeri. Apabila kondisi dibiarkan terus menerus akan menyebabkan
kegagalan jantung untukmemompa dan menimbulkan kematian.
b. Sistem Saraf
Gangguan dari sistem saraf terjadipada sistem retina (mata bagian
dalam) dan sistem saraf pusat (otak). Didalam retina terdapat
pembuluh-pembuluh darah tipis yang akan menjadi lebar saat terjadi
hipertensi, dan memungkinkan terjadinya pecah pembuluh darah yang
akan menyebabkan gangguan pada organ pengelihatan.
c. Sistem Ginjal

14

Hipertensi yang berkepanjangan akan menyebabkan kerusakan dari


pembuluh darah pada organ ginjal, sehingga fungsi ginjal sebagai
pembuang zat-zat

racun bagi tubuh tidak berfungsi dengan baik.

Akibat dari gagalnya sistem ginjal akan terjadi penumpukan zat yang
berbahaya bagi tubuh yang dapat merusak organ tubuh lain terutama
otak.
7. Pencegahan Hipertensi
Pencegahan hipertensi

harus

dilakukan

untuk

mengurangi

terjadinya komplikasi yang tidak diinginkan. Pencegahan hipertensi dapat


dilakukan sebelum, selama, ataupun sesudah terjadi insiden hipertensi.
a. Pencegahan Hipertensi secara Premordial
Pencegahan hipertensi secara premordial yaitu upaya
pencegahan munculnya faktor predisposisi terhadap hipertensi dimana
belum tampak adanya faktor yang menjadi risiko. Upaya ini
dimaksudkan dengan memberikan kondisi pada masyarakat yang
memungkinkan pencegahan terjadinya hipertensi mendapat dukungan
dasar dari kebiasaan, gaya hidup dan faktor lainnya, misalnya
menciptakan kondisi sehingga masyarakat merasa bahwa rokok itu
suatu kebiasaan yang kurang baik dan masyarakat mampu bersikap
positif terhadap bukan perokok, merubah pola konsumsi masyarakat
yang sering mengonsumsi makanan cepat saji.
b. Pencegahan Hipertensi secara Primer
Pencegahan hipertensi secara primer dilakukan dengan
pencegahan terhadap faktor risiko yang tampak pada individu atau
masyarakat. Sasaran pada orang sehat yang berisiko tinggi dengan
usaha peningkatan derajat kesehatan, yakni meningkatkan peranan
kesehatan perorangan dan masyarakat secara optimal dan menghindari
faktor risiko timbulnya hipertensi.
Pencegahan primer penyebab hipertensi adalah sebagai berikut:
1) Mengurangi/menghindari setiap perilaku yang memperbesar risiko,
yaitu menurunkan berat badan bagi yang kelebihan berat badan dan
kegemukan,

menghindari

meminum

minuman

beralkohol,

mengurangi/membatasi asupan natrium/garam, berhenti merokok

15

bagi

perokok,

mengurangi/menghindari

makanan

yang

mengandung makanan yang berlemak dan kolesterol tinggi.


2) Peningkatan ketahanan fisik dan perbaikan status gizi, yaitu
melakukan olahraga secara teratur dan terkontrol seperti senam
aerobik, jalan kaki, berlari, naik sepeda, berenang, dan lain-lain,
diet rendah lemak dan memperbanyak mengonsumsi buah-buahan
dan sayuran, mengendalikan stres dan emosi.
c. Pencegahan Hipertensi secara Sekunder
Sasaran utama adalah pada mereka terkena penyakit hipertensi
melalui diagnosis dini serta pengobatan yang tepat dengan tujuan
mencegah proses penyakit lebih lanjut dan timbulnya komplikasi.
Pencegahan bagi mereka yang terancam dan menderita hipertensi
adalah sebagai berikut:
1) Pemeriksaan berkala
a) Pemeriksaan/pengukuran tekanan darah secara berkala oleh
dokter secara teratur merupakan cara untuk mengetahui apakah
kita menderita hipertensi atau tidak.
b) Mengendalikan tensi secara teratur agar tetap stabil dengan
atau tanpa obat-obatan anti hipertensi.
2) Pengobatan/perawatan
a) Pengobatan yang segera sangat penting dilakukan sehingga
penyakit hipertensi dapat segera dikendalikan.
b) Menjaga
agar
tidak
terjadi
komplikasi

akibat

hiperkolesterolemia, diabetes melitus dan lain-lain.


c) Menurunkan tekanan darah ke tingkat yang wajar sehingga
kualitas hidup penderita tidak menurun.
d) Memulihkan kerusakan organ dengan obat antihipertensi, baik
tungggal maupun majemuk.
e) Memperkecil efek samping pengobatan.
f) Menghindari faktor risiko penyebab hipertensi seperti yang
disebutkan di atas.
g) Mengobati penyakit penyerta seperti diabetes melitus, kelainan
pada

ginjal,

hipertiroid,

dan

sebagainya

yang

dapat

memperberat kerusakan organ.


d. Pencegahan Hipertensi secara Tersier

16

Tujuan utama adalah mencegah proses penyakit lebih lanjut


dan mencegah cacat/kelumpuhan dan kematian karena penyakit
hipertensi. Pencegahan tersier penyakit hipertensi adalah sebagai
berikut :
1) Menurunkan tekanan darah ke tingkat yang normal sehingga
kualitas hidup penderita tidak menurun.
2) Mencegah memberatnya tekanan darah tinggi sehingga tidak
menimbulkan

kerusakan

pada

jaringan

organ

otak

yang

mengakibatkan stroke dan kelumpuhan anggota badan.


3) Memulihkan kerusakan organ dengan obat antihipertensi.
B. Tinjauan Umum Tentang Screening
1. Definisi Screening
Penyaringan atau screening adalah upaya mendeteksi/mencari
penderita

dengan

penyakit

tertentu

dalam

masyarakat

dengan

melaksanakan pemisahan berdasarkan gejala yang ada atau pemeriksaan


laboratorium untuk memisahkan yang sehat dan yang kemungkinan sakit,
selanjutnya diproses melalui diagnosis dan pengobatan.
2. Tujuan Screening
Berikut ini merupakan tujuan dari screening, yaitu:
a. Mengetahui diagnosis sedini mungkin agar cepat terapinya.
b. Mencegah meluasnya penyakit.
c. Mendidik masyarakat melakukan general check up.
d. Memberi gambaran kepada tenaga kesehatan tentang suatu penyakit
(waspada mulai dini).
e. Memperoleh data epidemiologis, untuk peneliti dan klinisi.
3. Bentuk Pelaksanaan Screening
Beberapa bentuk pelaksanaan screening adalah sebagai berikut :
a. Mass screening adalah screening secara massal pada masyarakat
tertentu
b. Selective screening adalah screening secara selektif berdasarkan
kriteria tertentu, contoh pemeriksaan kanker paru pada perokok;
pemeriksaan kanker serviks pada wanita yang sudah menikah.
c. Single disease screening adalah screening yang dilakukan untuk satu
jenis penyakit.
d. Multiphasic screening adalah screening yang dilakukan untuk lebih
dari satu jenis penyakit contoh pemeriksaan IMS; penyakit sesak nafas.

17

Adapun prinsip pelaksanaan screening adalah:


Tahap I : pemeriksaan secara cepat terhadap kelompok penduduk yang
tampaknya sehat tetapi mungkin menderita penyakit yaitu orang-orang
yang high risk jika (+) dilakukan:
Tahap II : pemeriksaan diagnostic yang lebih spesifik. Bila hasil (+)
dinyatakan tidak sakit dan bila hasil (-) dinyatakan sakit dan harus diobati.
Kelompok Individu yang tampak sehat

Tes

Hasil tes (-)

Hasil tes (+)

Pemeriksaan Diagnostik

Hasil tes (+)

Hasil Tes (-)

Pengobatan

Gambar 1. Prinsip pelaksanaan screening


4. Kriteria Program Screening
Beberapa kriteria program screening, yaitu:
a. Penyakit yang dipilih merupakan masalah kesehatan prioritas.
b. Tersedia obat potensial untuk terapinya.
c. Tersedia fasilitas dan biaya untuk diagnosis dan terapi.
d. Penyakit lama dan dapat dideteksi dengan test khusus.
e. Screeningnya memenuhi syarat sensitivitas dan spesivisitas.
f. Teknik dan cara screening harus dapat diterima oleh masyarakat.
g. Sifat perjalanan penyakit dapat diketahui dengan pasti.
h. Ada SOP tentang penyakit tersebut.
i. Biaya screening harus seimbang (lebih rendah) dengan risiko biaya
bila tanpa screening.

18

j. Penemuan kasus terus menerus.


5. Contoh Screening
Berikut ini merupakan beberapa contoh screening, yaitu:
a. Mammografi untuk mendeteksi ca mammae.
b. Pap smear untuk mendeteksi ca cervix.
c. Pemeriksaan Tekanan darah untuk mendeteksi hipertensi.
d. Pemeriksaan reduksi untuk mendeteksi deabetes mellitus.
e. Pemeriksaan urine untuk mendeteksi kehamilan.
f. Pemeriksaan EKG untuk mendeteksi Penyakit Jantung Koroner.
6. Bentuk Screening
Berikut ini merupakan bentuk dari screening, yaitu:
a. Screening Seri adalah screening yang dilakukan 2 kali penyaringan dan
hasilnya dinyatakan positif jika hasil kedua penyaringan tersebut
positif. Bentuk screening seri akan menghasilkan positif palsu rendah,
dan negatif palsu meningkat.
b. Screening paralel adalah screening yang dilakukan 2 kali penyaringan
dan hasilnya dinyatakan positif jika hasil salah satu hasil penyaringan
adalah positif. Bentuk screening paralel akan menghasilkan positif
palsu meningkat dan negatif palsu lebih rendah.
7. Kriteria Evaluasi Hasil Screening
Tabel 2.3
Tabulasi Silang Hasil Screening dan Status Penyakit
Status Penyakit

Hasil
Screening

Ada

Tidak Ada

Positif

a+b

Negatif

c+d

Jumlah

a+c

b+d

a+b+c+d

Jumlah

Kriteria evaluasi dapat dilihat dari validitas, reliabilitas, dan derajat


penyaringan (Yield).
a. Validitas
Validitas adalah kemampuan dari test penyaringan untuk
memisahkan mereka yang benar sakit terhadap yang sehat. Validitas
berguna karena biaya screening lebih murah daripada test diagnostik.
Beberapa komponen validitas adalah sebagai berikut:
19

1) Sensitivitas

adalah

kemampuan

dari

test

secara

benar

menempatkan mereka yang positif betul-betul sakit.


Rumus S = a/(a+c)
2) Spesivisitas adalah kemampuan dari test secara

benar

menempatkan mereka yang negatif betul-betul tidak sakit.


Rumus f = d/(b+d)
Sensitivitas dan spesivisitas untuk penilaian hasil screening,
mempunyai kelemahan, yaitu:
1) Tidak semua hasil pemeriksaan dapat dinyatakan dengan tegas
Ya dan Tidak.
2) Perhitungan sensitivitas dan spesivisitas dilakukan setelah penyakit
diketahui atau didiagnosis, sedang tujuan screening adalah untuk
mendeteksi penyakit yang belum tampak dan bukan untuk menguji
kemampuan alat tes yang digunakan.
Untuk

mengatasi

kelemahan

tersebut,

maka

dilakukan

perhitungan perkiraan nilai kecermatan dengan maksud untuk


menafsirkan banyaknya orang yang benar menderita dari semua hasil
tes yang positif.
1) Nilai kecermatan positif yaitu proporsi jumlah yang sakit terhadap
semua hasil tes (+)
Rumus Y = a/(a+b)
2) Nilai kecermatan negativf yaitu proporsi jumlah yang tidak sakit
terhadap semua hasil tes (-)
Rumus Z = d/(c+d)
Selain nilai kecermatan, dapat dihitung pula komplemennya
yaitu:

20

1) False Positive Rate : jumlah hasil tes (+) semu dibagi dengan
jumlah seluruh hasil tes (+).
Rumus = b/(a+b) atau 1-Y
2) False Negatif Rate yaitu jumlah hasil tes (-) semu dibagi dengan
jumlah seluruh hasil tes (-)
Rumus = c/(c+d) atau 1-Z
b.

Reliabilitas
Reliabilitas adalah kemampuan suatu test memberikan hasil yang
sama/konsisten bila test diterapkan lebih dari satu kali pada sasaran
yang sama dan kondisi yang sama. Ada 2 (dua) faktor yg
mempengaruhi;
1) Variasi cara screening: stabilitas alat; fluktuasi keadaan (demam).
2) Kesalahan/perbedaan pengamat: pengamat beda/ pengamat sama
dengan hasil beda.
Adapun upaya untuk meningkatkan reliabilitas yaitu :
1)
2)
3)
4)
5)

c.

Pembakuan/standarisasi cara screening


Peningkatan ketrampilan pengamat
Pengamatan yang cermat pada setiap nilai pengamatan
Menggunakan dua atau lebih pengamatan untuk setiap pengamatan
Memperbesar klasifikasi kategori yang ada, terutama bila kondisi
penyakit juga bervariasi/ bertingkat.
Derajat Screening (Yied)

Yied adalah kemungkinan menjaring mereka yang sakit tanpa gejala melalui
screening sehingga dapat ditegakan diagnosis pasti serta pengobatan dini. Adapun
faktor yg mempengaruhi derajat screening yaitu derajat sensitivitas tes, prevalensi
penyakit, frekuensi penyaringan, dan konsep sehat masyarakat sehari-hari.

21

BAB III
METODE KEGIATAN
A. Rancangan Screening
Rancangan yang digunakan dalam screening ini adalah rancangan
survey dengan pendekatan deskriptif untuk mengetahui karakteristik penderita
hipertensi.
B. Instrumen
Instrumen yang dalam screening ini digunakan adalah wawancara
kuesioner

dan alat ukur hipertensi berupa

Sphygmomanometer

dan

Stetoskope.
C. Lokasi dan waktu
Kegiatan ini dilakukan pada hari Sabtu tanggal 31 Mei 2014 di
Kompleks Bumi Tamalanrea Permai, Makassar.
D. Sasaran Screening
Sasaran screening adalah warga Kompleks Bumi Tamalanrea Permai,
Makassar. Jumlah responden sebanyak 51 orang yang dipilih secara acak.
E. Cara Pelaksanaan
Kegiatan screening ini dilakukan dengan door to door ke rumah warga
untuk mendapatkan responden. Apabila warga setuju untuk menjadi
responden, maka kegiatan screening mulai dilakukan dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
a.Responden dipersilahkan duduk
b.

Responden diberikan penjelasan mengenai maksud dan tujuan


pelaksanaan screening

c.Dilakukan

pengukuran

tekanan

darah

dengan

menggunakan

Sphygmomanometer dan Stetoskope untuk mengetahui tekanan darah sistol


dan diastol
d.

Setiap kali dilakukan pengukuran tekanan darah hasilnya di catat dan


diisikan dalam format yang telah disiapkan

22

e.Responden di wawancarai untuk memperoleh informasi mengenai status


kesehatan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan kejadian peningkatan
tekanan darah
f. Responden diberikan konseling sesuai permasalahan yang ditemui
F. Pengolahan dan Penyajian Data
Data hasil screening ini diolah dengan menggunakan komputer
program SPSS versi 16 dan disajikan dalam bentuk tabel yang disertai dengan
penjelasan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

23

A. Hasil
1. Karakteristik Responden
a. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Distribusi responden kegiatan screening berdasarkan jenis
kelamin dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.1
Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai
Tahun 2014
Jumlah

Jenis Kelamin

n
%
Laki-laki
27
52,9
Perempuan
24
47,1
Total
51
100
Sumber: Data Primer, 2014
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden
kegiatan screening hipertensi di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai
Makassar berjenis kelamin laki-laki yaitu 27 orang (52,9%).
b. Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Umur
Distribusi responden kegiatan screening berdasarkan kelompok
umur dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.2
Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Umur
di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai
Tahun 2014
Kelompok
Umur (tahun)
21-30
31-40
41-50

Jumlah
n
21
12
7

%
41,2
23,5
13,7

24

51-60
10
19,6
61-70
1
2,0
Total
51
100
Sumber: Data Primer, 2014
Tabel 4.2 menunjukkan bahwa jumlah responden terbanyak pada
kegiatan screening hipertensi di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai
Makassar berada pada kelompok umur 21-30 tahun sebanyak 21 orang
(41,2%) sedangkan yang paling sedikit adalah kelompok umur 61-70
tahun sebanyak 1 orang (2%).
c. Distribusi Responden Berdasarkan Status Pernikahan
Distribusi responden kegiatan screening berdasarkan status
pernikahan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3
Distribusi Responden Berdasarkan Status Pernikahan
di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai
Tahun 2014
Jumlah
Status
n
%
Pernikahan
Menikah
31
60,8
Belum menikah
17
33,3
Janda/Duda
3
5,9
Total
51
100
Sumber: Data Primer, 2014
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa sebagian besar responden
kegiatan screening hipertensi di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai
Makassar telah menikah yaitu sebanyak 31 orang (60,8%) sedangkan
yang paling sedikit berstatus janda/duda sebanyak 3 orang (5,9%).
d. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Distribusi responden kegiatan screening berdasarkan tingkat
pendidikan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.4
Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai
Tahun 2014
Tingkat
Pendidikan
SD
SMA

Jumlah
n
1
21

%
2,0
41,2
25

Akademi
6
11,8
S1
19
37,3
S2
4
7,8
Total
51
100
Sumber: Data Primer, 2014
Tabel 4.4 menunjukkan bahwa berdasarkan tingkat pendidikan,
sebagian besar responden memiliki pendidikan terakhir SMA yaitu
sebanyak 21 orang (41,2%) sedangkan yang paling sedikit adalah
lulusan SD sebanyak 1 orang (2%).
e. Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan
Distribusi responden kegiatan screening berdasarkan pekerjaan
dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.5
Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan
di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai
Tahun 2014
Jumlah

Pekerjaan

n
%
PNS
9
17,6
Swasta
4
7,8
Wiraswasta
13
25,5
Pedagang
4
7,8
IRT
8
15,7
Lainnya
13
25,5
Total
51
100
Sumber: Data Primer, 2014
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa sebagian besar responden bekerja
sebagai wiraswasta yaitu sebanyak 13 orang (25,5%) sedangkan
yang paling sedikit adalah pegawai swasta dan pedagang yaitu masingmasing sebanyak 4 orang (7,8%).
2. Distribusi Frekuensi Hasil Pelaksanaan Screening
a. Distribusi Responden Berdasarkan Gejala Hipertensi
Distribusi responden kegiatan screening berdasarkan gejala
hipertensi dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.6
Distribusi Responden Berdasarkan Gejala Hipertensi
di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai
Tahun 2014
Gejala Hipertensi

Ya

Tidak

Jumlah

26

n
21
30
12
36

%
41,2
58,5
23,5
70,6

n
30
21
39
15

%
58,8
41,2
76,5
29,4

n
51
51
51
51

%
100
100
100
100

Sakit Bagian Tengkuk


Sakit Kepala
Pandangan Kabur
Pusing
Ayunan Langkah Tidak
10 19,6 41 80,4 51 100
Teratur
Sumber: Data Primer, 2014
Tabel 4.6 menunjukkan bahwa sebagian besar responden
merasakan sakit kepala dan pusing yaitu masing-masing sebesar 30
orang (58,5%) dan 36 orang (70,6%) sedangkan untuk sakit di bagian
tengkuk, pandangan kabur, dan ayunan langkah tidak teratur sebagian
besar responden tidak merasakannya yaitu masing-masing sebanyak
30 orang (58,8%), 39 orang (76,5%), dan 41 orang (80,4%).
b. Distribusi Responden yang Diduga Hipertensi Berdasarkan Gejala
yang Dialami
Distribusi responden yang diduga hipertensi berdasarkan gejala
yang dialami dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.7
Distribusi Responden yang Diduga Hipertensi Berdasarkan Gejala
Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai
Tahun 2014
Jumlah
Diduga
n
Hipertensi
Ya
18
Tidak
33
Total
51
Sumber: Data Primer, 2014
Tabel 4.7 menunjukkan bahwa berdasarkan

%
35,5
64,7
100
hasil wawancara

yang dilakukan terhadap 51 responden, yang diduga menderita


hipertensi

sebanyak 18 orang (35,5%) dan yang diduga tidak

menderita hipertensi sebanyak 33 orang (64,7%).


c. Distribusi Responden Berdasarkan Konsumsi Makanan
Distribusi responden kegiatan screening berdasarkan konsumsi
makanan dapat dilihat pada tabel berikut:

27

Tabel 4.8
Distribusi Responden Berdasarkan Konsumsi Makanan
Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai
Tahun 2014
Konsumsi Makanan

Ya
n
25
44
36

%
49,0
86,3
70,6

Menyukai makanan asin


Menyukai gorengan
Konsumsi Lemak Jenuh
Sumber: Data Primer, 2014
Tabel 4.8 menunjukkan bahwa

Tidak
n
%
26 51,0
7
13,7
15 29,4

Jumlah
n
%
51 100
51 100
51 100

sebagian besar responden

menyukai gorengan dan makanan dengan lemak jenuh yaitu masingmasing sebesar 44 orang (86,3%) dan 36 orang (70,6%) sedangkan
untuk makanan asin sebagian besar responden
yaitu

tidak menyukainya

sebanyak 26 orang (51%).

d. Distribusi Responden Berdasarkan Aktivitas Fisik


Distribusi responden kegiatan screening berdasarkan aktivitas
fisik dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.9
Distribusi Responden Berdasarkan Aktivitas Fisik
Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai
Tahun 2014
Aktivitas Fisik

Ya
n
9
10
37

%
17,6
19,6
72,5

Tidak
n
%
42 82,4
41 80,4
14 27,5

Jumlah
n
%
51 100
51 100
51 100

Aktivitas Berat
Aktivitas Sedang
Aktivitas Ringan
Sumber: Data Primer, 2014
Tabel 4.9 menunjukkan bahwa sebagian besar responden hanya
melakukan aktivitas ringan yaitu masing-masing sebesar 37 orang
(72,5%) sedangkan untuk aktivitas berat dan sedang sebagian besar
responden

tidak melakukannya yaitu masing-masing sebanyak 42

orang (82,4%) dan 41 orang (80,4%).


e. Distribusi Responden Berdasarkan Riwayat Keluarga

28

Distribusi responden yang diduga hipertensi berdasarkan riwayat


keluarga dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.10
Distribusi Responden yang Diduga Hipertensi Riwayat Keluarga
Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai
Tahun 2014
Jumlah

Riwayat
Keluarga

n
%
Ya
18
35,5
Tidak
33
64,7
Total
51
100
Sumber: Data Primer, 2014
Tabel 4.10 menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak
memiliki riwayat keluarga yaitu 33 orang (64,7%).
f. Distribusi Responden Berdasarkan Status Hipertensi
Distribusi responden berdasarkan hasil pemeriksaan tekanan
darah dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.11
Distribusi Responden Berdasarkan Status Hipertensi
Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai
Tahun 2014
Jumlah
Status
n
Hipertensi
Hipertensi
28
Normal
23
Total
51
Sumber: Data Primer, 2014
Tabel 4.11 menunjukkan bahwa berdasarkan

%
54,9
45,1
100
hasil pemeriksaan

tekanan darah, sebagian besar responden menderita hipertensi yaitu


sebanyak 28 orang (54,9%).
3. Tabulasi Silang
a. Hasil Pemeriksaan Tekanan

Darah

Berdasarkan

Karakteristik

Responden
Hasil pemeriksaan tekanan darah berdasarkan karakteristik
responden dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.12
Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Jenis Kelamin

29

Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai


Tahun 2014

Hasil Pemeriksaan

Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
n
%
n
%
14 50,0
14
50,0
13 56,5
10
43,5
27 52,9
24
47,1

Jumlah
n
28
23
51

Hipertensi
Normal
Jumlah
Sumber: Data Primer, 2014
Tabel 4.12 menunjukkan bahwa jumlah responden

%
100
100
100
laki-laki

yang menderita hipertensi sama dengan jumlah responden perempuan


yang menderita hipertensi yaitu masing-masing 14 orang (50%).
Tabel 4.13
Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Kelompok Umur
Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai
Tahun 2014
Hasil
Pemeriksaa
n
Hipertensi

Kelompok Umur (tahun)


21-30
31-40
41-50
51-60
n
%
n
% N %
n
%
10 35, 6 21, 3 10, 9 32,
7
4
7
1
Normal
11 47, 6 26, 4 17, 1 4,3
8
1
4
Jumlah
21 41, 1 23, 7 13, 1 19,
2
2
5
7
0
6
Sumber: Data Primer, 2014
Tabel 4.13 menunjukkan bahwa umur 21-30 tahun

Jumlah

61-70
n %
0 0

n
%
28 100

23 100

4,
3
2,
0

51 100

cenderung

mengalami hipertensi yaitu sebanyak 10 orang (35,7%%) dibanding


dengan kelompok umur lainnya.
Tabel 4.14
Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Status Pernikahan
Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai
Tahun 2014
Hasil
Pemeriksaa
n
Hipertensi

Status Pernikahan
Belum
Duda/Jand
Menikah
Menikah
a
n
%
n
%
n
%
19 67,9
6
21,4
3
10,7

Jumlah
n
28

%
100
30

Normal
12 52,2 11 47,8
0
0
23
100
Jumlah
31 60,8 17 33,3
3
5,9
51
100
Sumber: Data Primer, 2014
Tabel 4.14 menunjukkan bahwa responden yang telah menikah
cenderung mengalami hipertensi yaitu sebanyak 19 orang (67,9%)
dibanding dengan responden yang belum menikah dan janda/duda.

Tabel 4.15
Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai
Tahun 2014
Tingkat Pendidikan
Jumlah
Akademi
SD
SMA
S1
S2
k
n % n
%
n
%
n
% n %
n %
Hipertensi
1 3, 1 42, 2
7,1
1 35, 3 10, 2 100
6
2
9
0
7
7
8
Normal
0 0
9 39, 4 17,4 9 39, 1 4,3 2 100
1
1
3
Jumlah
1 2, 2 41, 6 11,8 1 37, 4 7,8 5 100
0
1
2
9
3
1
Sumber: Data Primer, 2014
Tabel 4.15 menunjukkan bahwa berdasarkan tingkat pendidikan,
Hasil
Pemeriksaa
n

sebagian besar responden yang menderita hipertensi adalah yang


memiliki pendidikan terakhir SMA yaitu 12 orang (42,9%) sedangkan
yang terkecil adalah responden yang memiliki pendidikan terakhir SD
sebanyak 1 orang (3,6%).
Tabel 4.16
Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Pekerjaan
Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai
Tahun 2014
Hasil
Pemeriksaan

PNS

Swasta

Pekerjaan
Wiras
Dagang
wasta

Jumlah
IRT

Lainnya

31

Hipertensi
Normal
Jumlah

n
7
2
9

%
25,0
8,7
17,6

n
2
2
4

Sumber: Data Primer, 2014


Tabel 4.16

%
7,1
8,7
7,8

n
5
8
13

%
17,9
34,8
25,5

n
2
2
4

%
7,1
8,7
7,8

n
7
1
8

%
25,0
4,3
15,7

menunjukkan bahwa berdasarkan

n
5
8
13

%
17,9
34,8
25,5

n
28
23
51

pekerjaan,

sebagian besar responden yang menderita hipertensi adalah PNS dan


IRT yaitu masing-masing 7 orang (25%) sedangkan yang terkecil
adalah responden yang bekerja sebagai pegawai swasta dan pedagang
yaitu masing-masing sebanyak 2 orang (7,1%).
b. Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Gejala Hipertensi
Hasil pemeriksaan tekanan darah berdasarkan gejala hipertensi
dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.17
Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan
Kondisi Sakit Bagian Tengkuk Di Kompleks
Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014

Hasil Pemeriksaan

Sakit Bagian Tengkuk


Ya
Tidak
n
%
n
%
15 53,6
13
46,4
6
26,1
17
73,9
21 41,2
30
58,8

Jumlah
n
28
23
51

%
100
100
100

Hipertensi
Normal
Jumlah
Sumber: Data Primer, 2014
Tabel 4.17 menunjukkan bahwa bahwa responden yang sering
mengalami sakit di bagian tengkuk lebih banyak menderita hipertensi
yaitu sebanyak 15 orang (53,6%). Sedangkan responden yang tidak
mengalami sakit bagian tengkuk lebih sedikit menderita hipertensi
yaitu sebanyak 13 orang (46,4%).
Tabel 4.18
Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan
Kondisi Sakit Kepala Di Kompleks Bumi
Tamalanrea Permai Tahun 2014

Hasil Pemeriksaan
Hipertensi

Sakit Kepala
Ya
Tidak
n
%
n
%
21 75,0
7
25,0

Jumlah
n
28

%
100

32

%
100
100
100

Normal
10 43,5
13
56,5 23 100
Jumlah
31 60,8
20
39,2 51 100
Sumber: Data Primer, 2014
Tabel 4.18 menunjukkan bahwa bahwa responden yang sering
mengalami sakit kepala lebih banyak menderita hipertensi yaitu
sebanyak 21 orang (75%). Sedangkan responden yang tidak
mengalami sakit kepala

lebih sedikit menderita hipertensi yaitu

sebanyak 7 orang (25%).


Tabel 4.19
Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan
Kondisi Pandangan Kabur Di Kompleks Bumi
Tamalanrea Permai Tahun 2014

Hasil Pemeriksaan
n
10
2
12

Pandangan Kabur
Ya
Tidak
%
n
%
35,7
18
64,3
8,7
21
91,3
23,5
39
76,5

Jumlah
n
28
23
51

%
100
100
100

Hipertensi
Normal
Jumlah
Sumber: Data Primer, 2014
Tabel 4.19 menunjukkan bahwa responden yang sering
mengalami pandangan kabur lebih sedikit menderita hipertensi yaitu
sebanyak 10 orang (35,7%). Sedangkan responden yang tidak
mengalami pandangan kabur lebih banyak menderita hipertensi yaitu
sebanyak 18 orang (64,3%).
Tabel 4.20
Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan
Kondisi Kepala Pusing Di Kompleks Bumi
Tamalanrea Permai Tahun 2014
Pusing
Ya

Hasil Pemeriksaan
Hipertensi
Normal
Jumlah
Sumber: Data Primer, 2014

n
20
16
36

%
71,4
69,6
70,6

Tidak
n
8
7
15

%
28,6
30,4
29,4

Jumlah
n
28
23
51

%
100
100
100

33

Tabel 4.20 menunjukkan bahwa responden yang sering


mengalami pusing lebih banyak menderita hipertensi yaitu sebanyak
20 orang (71,4%). Sedangkan
pusing lebih sedikit

responden yang tidak mengalami

menderita hipertensi yaitu sebanyak 8 orang

(28,6%).
Tabel 4.21
Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Kondisi Ayunan
Langkah Tidak Teratur Di Kompleks Bumi
Tamalanrea Permai Tahun 2014
Ayunan Langkah Tidak
Teratur
Ya
Tidak
n
%
n
%
7
25,0
21
75,0
3
13,0
20
87,0
10 19,6
41
80,4

Hasil Pemeriksaan

Jumlah
n
28
23
51

%
100
100
100

Hipertensi
Normal
Jumlah
Sumber: Data Primer, 2014
Tabel 4.21 menunjukkan bahwa responden yang ayunan
langkahnya tidak teratur

lebih sedikit

menderita hipertensi yaitu

sebanyak 7 orang (25%). Sedangkan responden yang tidak mengalami


kondisi lebih banyak

menderita hipertensi yaitu sebanyak 21 orang

(75%).
c. Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Konsumsi Makanan
Hasil pemeriksaan tekanan darah berdasarkan konsumsi makanan
bisa dilihat dari tabel berikut.
Tabel 4.22
Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Konsumsi Makanan
Asin Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014

Hasil Pemeriksaan
Hipertensi
Normal
Jumlah
Sumber: Data Primer, 2014

Konsumsi Makanan Asin


Ya
Tidak
n
%
n
%
19 67,9
9
32,1
6
26,1
17
73,9
25 49,0
26
51,0

Jumlah
n
28
23
51

%
100
100
100

34

Tabel 4.22

menunjukkan bahwa responden yang menyukai

makanan asin lebih banyak

menderita hipertensi yaitu sebanyak 19

orang (67,9%). Sedangkan responden yang tidak menyukai makanan


asin

lebih sedikit menderita hipertensi yaitu sebanyak 9 orang

(32,1%).
Tabel 4.23
Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Konsumsi Gorengan
Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014

Hasil Pemeriksaan

Konsumsi Gorengan
Ya
Tidak
n
%
n
%
26 92,9
2
7,1
18 78,3
5
21,7
44 86,3
7
13,7

Jumlah
n
28
23
51

%
100
100
100

Hipertensi
Normal
Jumlah
Sumber: Data Primer, 2014
Tabel 4.23 menunjukkan bahwa responden yang menyukai
gorengan lebih banyak menderita hipertensi yaitu sebanyak 26 orang
(92,9%). Sedangkan responden yang tidak menyukai gorengan lebih
sedikit menderita hipertensi yaitu sebanyak 2 orang (7,1%).
Tabel 4.24
Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Konsumsi Lemak
Jenuh Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014

Hasil Pemeriksaan

Konsumsi Lemak Jenuh


Ya
Tidak
n
%
n
%
18 64,3
10
35,7
18 78,3
5
21,7
36 70,6
15
29,4

Hipertensi
Normal
Jumlah
Sumber: Data Primer, 2014
Tabel 4.24 menunjukkan

bahwa

responden

Jumlah
n
28
23
51
yang

%
100
100
100
suka

mengonsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh lebih banyak


menderita hipertensi yaitu sebanyak 18 orang (64,3%). Sedangkan
responden yang tidak suka mengonsumsi makanan yang mengandung
lemak jenuh lebih sedikit

menderita hipertensi yaitu sebanyak 10

orang (35,7%).

35

d. Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Aktivitas Fisik


Hasil pemeriksaan tekanan darah berdasarkan aktivitas fisik
dapat dilihat padatabel berikut.
Tabel 4.25
Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Aktivitas Fisik Berat
Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014

Hasil Pemeriksaan

Aktivitas Fisik Berat


Ya
Tidak
n
%
n
%
4
14,3
24
85,7
5
21,7
18
78,3
9
17,6
42
82,4

Jumlah
n
28
23
51

%
100
100
100

Hipertensi
Normal
Jumlah
Sumber: Data Primer, 2014
Tabel 4.25 menunjukkan bahwa responden yang suka melakukan
aktivitas fisik berat lebih sedikit menderita hipertensi yaitu sebanyak
4 orang (14,3%). Sedangkan responden yang tidak suka melakukan
aktivitas fisik berat lebih banyak menderita hipertensi yaitu sebanyak
24 orang (85,7%).
Tabel 4.26
Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Aktivitas Fisik Sedang
Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014

Hasil Pemeriksaan

Aktivitas Fisik Sedang


Ya
Tidak
n
%
n
%
6
21,4
22
78,6
4
17,4
19
82,6
10 19,6
41
80,4

Jumlah
n
28
23
51

%
100
100
100

Hipertensi
Normal
Jumlah
Sumber: Data Primer, 2014
Tabel 4.26 menunjukkan bahwa responden yang suka melakukan
aktivitas fisik sedang

lebih sedikit

menderita hipertensi yaitu

sebanyak 6 orang (21,4%). Sedangkan responden yang tidak suka


melakukan aktivitas fisik sedang lebih banyak

menderita hipertensi

yaitu sebanyak 22 orang (78,6%).


Tabel 4.27
36

Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Aktivitas Fisik Ringan


Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014
Aktivitas Fisik Ringan
Ya
Tidak
n
%
n
%
17 60,7
11
39,3
20 87,0
3
13,0
37 72,5
14
27,5

Hasil Pemeriksaan

Jumlah
n
28
23
51

%
100
100
100

Hipertensi
Normal
Jumlah
Sumber: Data Primer, 2014
Tabel 4.27 menunjukkan bahwa responden yang suka melakukan
aktivitas fisik ringan

lebih banyak

menderita hipertensi yaitu

sebanyak 17 orang (60,7%). Sedangkan responden yang tidak suka


melakukan aktivitas fisik ringan lebih sedikit

menderita hipertensi

yaitu sebanyak 11 orang (39,3%).


e. Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Riwayat Keluarga
Hasil pemeriksaan tekanan darah berdasarkan riwayat keluarga
dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.28
Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah Berdasarkan Riwayat Keluarga
Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014

Hasil Pemeriksaan
n
17
12
29

Hipertensi
Normal
Jumlah
Sumber: Data Primer, 2014
Tabel 4.28 menunjukkan

Riwayat Keluarga
Ya
Tidak
%
n
%
60,7
11
39,3
52,2
11
47,8
56,9
22
43,1

Jumlah
n
28
23
51

%
100
100
100

bahwa responden yang memiliki

riwayat keluarga hipertensi lebih banyak menderita hipertensi yaitu


sebanyak 17 orang (60,7%). Sedangkan responden yang tidak memiliki
riwayat keluarga hipertensi lebih sedikit

menderita hipertensi yaitu

sebanyak 11 orang (39,3%).


f. Hasil Kegiatan Screening Hipertensi
Berdasarkan hasil kegiatan screening hipertensi yang dilakukan
di Bumi Tamalanrea Permai Makassar melalui pengukuran tekanan
darah dan wawancara responden, diperoleh hasil sebagai berikut.
37

Tabel 4.29
Distribusi Hasil Kegiatan Screening Hipertensi
Di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai Tahun 2014

Hasil Pemeriksaan
Hipertensi
Normal
Jumlah
Sumber: Data Primer, 2014

Diduga Hipertensi
Berdasarkan Gejala
Ya
Tidak
n
%
n
%
12 42,9
16
57,1
6
26,1
17
73,9
18 35,3
33
64,7

Jumlah
n
28
23
51

%
100
100
100

Hasil Screening pada Tabel 18 adalah sebagai berikut:


1) Sensitivitas (S) :a/a+c x 100 = 12/18 x 100 = 66,67%
2) Spesivisitas (f):d/b+d x 100 = 17/33 x 100 = 51,52 %
3) Nilai Kecermatan (+) : a/a+b x 100 = 12/28 x 100 = 42,86%
4) Nilai kecermatan (-) : d/c+d x 100 = 17/23 x 100 = 73,91%
5) False Positif Rate : b/a+b x 100 = 16/28 x 100 = 57,14%
6) False Negatif Rate : c/c+d x 100 = 6/23 x 100 = 26,09%
7) Proporsi Negatif Semu: c/a+ c x 100 = 6/18 x 100 =33,33%
8) Proporsi Positif Semu : b/b+ d x 100 = 16/33 x 100 =48,49%
B. Pembahasan

DAFTAR PUSTAKA

38

Anonim.

____.

Bab

Pendahuluan,

Hipertensi.

Online.

(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21480/5/Chapter%20I.pdf).
Diakses pada tanggal 2 Juni 2014.
Anonim. ____. Bab II Tinjauan Pustaka. http://repository.usu.ac.id/bitstream/.
Diakses pada tanggal 2 Juni 2014.
Aris Sugiharto, dkk. 2006. Faktor-Faktor Risiko Hipertensi Grade II
Masyarakat

(Studi

Kasus

di

Kabupaten

Karanganyar).

Pada
Online.

(http://eprints.undip.ac.id/5265/1/Aris_Sugiharto.pdf). Diakses pada tanggal


2 Juni 2014.
Asiyah,

Nur.

2012.

Makalah

Hipertensi.

Online.

Diakses

pada

http://nuurasiyah.blogspot.com/ tanggal 2 Juni 2014.


Devita. 2011. Screening. http://dephchan.blogspot.com/. Diakses tanggal 2 Juni
2014.
Institut Pertanian Bogor (IPB). 2009. Pendahuluan Hipertensi. Online.
(http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/5470/Bab
%20I_2009snu2.pdf). Diakses pada tanggal 2 Juni 2014.
Kemenkes

RI.

2012.

Masalah

Hipertensi

di

Indonesia.

Online.

(http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/1909-masalahhipertensi-di-indonesia.html). Diakses pada tanggal 2 Juni 2014.


Marisa,

______.

Bahaya

Makanan

Siap

Saji

terhadap

Kesehatan.

http://djajananmariska.wordpress.com/. Diakses tanggal 2 Juni 2014.


PT. Askes (Persero). 2012. Info Askes: Hipertensi The Silent Killer Laksana
Teroris. Buletin Bulanan PT. Askes (Persero) Edisi Mei 2012. Online.
(http://www.ptaskes.com/uploads/bulletin/FA_BIA_MEI_2012.pdf).
Diakses pada tanggal 2 Juni 2014.
Putri, Gustia Martha. 2012. 76 % Masyarakat Indonesia Tak Tahu idap
Hipertensi. http://health.okezone.com/. Diakses tanggal 2 Juni 2014.
39

Reskiaddin,

Laode.

2012.

Makalah

Hipertensi.

Online.

Diakses

pada

http://kesmas-ode.blogspot.com/ tanggal 2 Juni 2014.


Setyawan, Aditya. 2009. Screening.
http://adityasetyawan.files.wordpress.com/. Diakses tanggal 2 Juni 2014.

40

Lampiran 1
KUESIONER SCREENING HIPERTENSI DI KOMPLEKS BUMI TAMALANREA
PERMAI KOTA MAKASSAR TAHUN 2014
I. DATA KARAKTERISTIK (DK)
DK1

Nomor urut Responden

DK2

Nama responden

DK3

Umur ............................... tahun

DK4

Jenis kelamin

DK5

Status perkawinan 1. Kawin 2. Belum kawin

DK6

Pendidikan responden 1. SD
5. S1
6. S2
7. S3

DK7

Pekerjaan responden 1. PNS 2. Swasta


3. Wiraswasta
4. Dagang
5. Nelayan 6. Bertani 7. Ibu RT 8. Lainnya

1. Laki-laki

2. Perempuan

2. SMP

3. Duda/Janda

3.SMA

4. Akademik

II. TEKANAN DARAH (TD)


TD1

Lakukan pengukuran tekanan darah

Sistolik
Diastolik

III. GEJALA HIPERTENSI (GH)


GH1

Apakah anda sering merasakan sakit pada bagian tengkuk ?

1. Ya
2. Tidak

GH2

Apakah anda sering merasakan sakit kepala ?

1. Ya
2. Tidak

GH3

Apakah anda sering mengalami pandangan menjadi kabur (berkunang


kunang) ?

1. Ya
2. Tidak

GH4

Apakah anda sering mengalami pusing ?

1. Ya
2. Tidak

GH5

Apakah anda sering mengalami ayunan langkah yang tidak teratur?

1. Ya
2. Tidak

IV. KEBIASAAN MAKAN (KM)


KM1

Apakah anda cenderung menyukai makanan yang asin?

KM2

Frekuensi mengonsumsi makanan yang asin

KM3

Apakah anda mempunyai kebiasaan mengonsumsi makanan


gorengan ?

KM4

Frekuensi mengonsumsi makanan gorengan

KM5

Apakah anda mempunyai kebiasaan makan/minum mengandung


lemak jenuh seperti daging, jeroan (daging/jeroan dari binatang kaki
4), ayam, telur, susu murni, fullcream, dll)

1. Ya
2. Tidak KM3
..kali/hari
..kali/mgg
..kali/bln
1. Ya
2. Tidak KM5
..kali/hari
..kali/mgg
..kali/bln
1. Ya
2. Tidak AF1

KM6

Frekuensi mengonsumsi makanan/minuman yang mengandung lemak


jenuh

..kali/hari
..kali/mgg
..kali/bln

V. AKTIFITAS FISIK (AF)


AF1

Apakah anda biasa melakukan aktifitas fisik berat, yang dilakukan


terus menerus paling sedikit selama 10 menit setiap kali
melakukannya ?

1. Ya
2. Tidak AF4

AF2

Biasanya berapa hari dalam seminggu, anda melakukan aktifitas berat


tersebut?

..hari

AF3

Biasanya pada hari anda melakukan aktifitas fisik berat, berapa total
waktu yang digunakan untuk melakukan seluruh kegiatan tersebut ?

jam
menit

AF4

Apakah anda biasa melakukan aktivitas fisik sedang, yang dilakukan


terus menerus paling sedikit selama 10 menit setiap kali
melakukannya ?

1. Ya
2. Tidak AF7

AF5

Biasanya berapa hari dalam seminggu, anda melakukan aktifitas fisik


sedang tersebut?

..hari

AF6

Biasanya pada hari anda melakukan aktifitas fisik sedang, berapa total
waktu yang digunakan untuk melakukan seluruh kegiatan tersebut ?

jam
menit

AF7

Apakah anda biasa melakukan aktivitas fisik ringan, yang dilakukan


terus menerus paling sedikit selama 10 menit setiap kali
melakukannya ?

1. Ya
2. Tidak RK1

AF8

Biasanya berapa hari dalam seminggu, anda melakukan aktifitas fisik


ringan tersebut?

..hari

AF9

Biasanya pada hari anda melakukan aktifitas fisik ringan, berapa total
waktu yang digunakan untuk melakukan seluruh kegiatan tersebut ?

jam
menit

VI. RIWAYAT KELUARGA (RK)


RK1

Apakah anda mempunyai keluarga yang menderita hipertensi ?

1. Ya
2. Tidak STOP

RK2

Siapa keluarga anda yang menderita hipertensi ?


Isikan :
1. Ya
2. Tidak

a. Ibu kandung
b. Ayah kandung
c. Nenek kandung
d. Kakek kandung
e. Saudara kandung
f. Lainnya

Lampiran 2
Output Hasil Screening Hipertensi di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai
Tahun 2014
1. Karakteristik Responden

Jenis Kelamin
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Laki - Laki

27

52.9

52.9

52.9

Perempuan

24

47.1

47.1

100.0

Total

51

100.0

100.0

KELOMPOK UMUR
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

21-30 tahun

21

41.2

41.2

41.2

31-40 tahun

12

23.5

23.5

64.7

41-50 tahun

13.7

13.7

78.4

51-60 tahun

10

19.6

19.6

98.0

61-70 tahun

2.0

2.0

100.0

51

100.0

100.0

Total

Status Perkawinan
Frequency
VKawin
a
Belum Kawin
l
Janda/Duda
i
dTotal

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

31

60.8

60.8

60.8

17

33.3

33.3

94.1

5.9

5.9

100.0

51

100.0

100.0

Pendidikan
Cumulative
Frequency
Valid

SD

Percent

Valid Percent

Percent

2.0

2.0

2.0

21

41.2

41.2

43.1

11.8

11.8

54.9

S1

19

37.3

37.3

92.2

S2

7.8

7.8

100.0

51

100.0

100.0

SMA
Akdemik

Total

Pekerjaan
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

PNS

17.6

17.6

17.6

Swasta

7.8

7.8

25.5

13

25.5

25.5

51.0

Dagang

7.8

7.8

58.8

Ibu RT

15.7

15.7

74.5

Lainnya

13

25.5

25.5

100.0

Total

51

100.0

100.0

Wiraswasta

2. Distribusi Frekuensi Hasil Screening Hipertensi


a. Distribusi Frekuensi Hasil Screening Hipertensi Berdasarkan Gejala
Sakit bagian tengkuk
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Ya

21

41.2

41.2

41.2

Tidak

30

58.8

58.8

100.0

Total

51

100.0

100.0

Sakit kepala
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Ya

31

60.8

60.8

60.8

Tidak

20

39.2

39.2

100.0

Total

51

100.0

100.0

Pandangan kabur
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Ya

12

23.5

23.5

23.5

Tidak

39

76.5

76.5

100.0

Total

51

100.0

100.0

Pusing
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Ya

36

70.6

70.6

70.6

Tidak

15

29.4

29.4

100.0

Total

51

100.0

100.0

Ayunan langkah tidak teratur


Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Ya

10

19.6

19.6

19.6

Tidak

41

80.4

80.4

100.0

Total

51

100.0

100.0

RESPONDEN YANG DIDUGA HIPERTENSI BERDASARKAN GEJALA


Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Tidak

33

64.7

64.7

64.7

Ya

18

35.3

35.3

100.0

Total

51

100.0

100.0

b. Distribusi Frekuensi Hasil Screening Hipertensi Berdasarkan Konsumsi


Makanan

Menyukai makanan yang asin


Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Ya

25

49.0

49.0

49.0

Tidak

26

51.0

51.0

100.0

Total

51

100.0

100.0

Mengonsumsi makanan gorengan


Cumulative
Frequency
Valid

Ya

Percent

Valid Percent

Percent

44

86.3

86.3

86.3

Tidak

13.7

13.7

100.0

Total

51

100.0

100.0

Kebiasaan konsumsi makanan lemak jenuh


Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Ya

36

70.6

70.6

70.6

Tidak

15

29.4

29.4

100.0

Total

51

100.0

100.0

c. Distribusi Frekuensi Hasil Screening Hipertensi Berdasarkan Aktivitas


Fisik
Aktivitas fisik berat
Cumulative
Frequency
Valid

Ya

Percent

Valid Percent

Percent

17.6

17.6

17.6

Tidak

42

82.4

82.4

100.0

Total

51

100.0

100.0

Aktivitas fisik sedang


Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Ya

10

19.6

19.6

19.6

Tidak

41

80.4

80.4

100.0

Total

51

100.0

100.0

Aktivitas fisik ringan


Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Ya

37

72.5

72.5

72.5

Tidak

14

27.5

27.5

100.0

Total

51

100.0

100.0

d. Distribusi Frekuensi Hasil Screening Hipertensi Berdasarkan Riwayat


Keluarga
Riwayat keluarga
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Ya

29

56.9

56.9

56.9

Tidak

22

43.1

43.1

100.0

Total

51

100.0

100.0

e. Distribusi Frekuensi Hasil Pengukuran Tekanan Darah Responden


Hipertensi
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Normal

23

45.1

45.1

45.1

Hipertensi

28

54.9

54.9

100.0

Total

51

100.0

100.0

3. Tabulasi Silang
Hipertensi * Jenis Kelamin Crosstabulation
Jenis Kelamin
Laki - Laki
Hipertensi

Normal

Count
% within Hipertensi

Hipertensi

Total

10

23

56.5%

43.5%

100.0%

14

14

28

50.0%

50.0%

100.0%

27

24

51

52.9%

47.1%

100.0%

Count
% within Hipertensi

Total

13

Count
% within Hipertensi

Perempuan

Hipertensi * KELOMPOK UMUR Crosstabulation


KELOMPOK UMUR

Total

21-30 31-40 41-50 51-60 61-70


Hiperte Normal Count
nsi

% within
Hipertensi
Hiperte Count
nsi

% within
Hipertensi

Total

Count
% within
Hipertensi

11

47.8% 26.1% 17.4%

4.3%

10

35.7% 21.4% 10.7% 32.1%


21

12

10

41.2% 23.5% 13.7% 19.6%

23

4.3% 100.0%
0

28

.0% 100.0%
1

51

2.0% 100.0%

Hipertensi * Status Perkawinan Crosstabulation


Status Perkawinan
Kawin
Hipertensi

Normal

Count
% within Hipertensi

Hipertensi

Count
% within Hipertensi

Total

Count
% within Hipertensi

Belum Kawin

Janda/Duda

Total

12

11

23

52.2%

47.8%

.0%

100.0%

19

28

67.9%

21.4%

10.7%

100.0%

31

17

51

60.8%

33.3%

5.9%

100.0%

S2

Total

Hipertensi * Pendidikan Crosstabulation


Pendidikan
SD
Hipertensi

Normal

Count
% within Hipertensi

Hipertensi

Count
% within Hipertensi

Total

Count
% within Hipertensi

SMA

Akdemik

S1

23

.0%

39.1%

17.4%

39.1%

4.3%

100.0%

12

10

28

3.6%

42.9%

7.1%

35.7%

10.7%

100.0%

21

19

51

2.0%

41.2%

11.8%

37.3%

7.8%

100.0%

Hipertensi * Pekerjaan Crosstabulation


Pekerjaan
PNS
Hipertensi Normal

Count
% within Hipertensi

Total

8.7%

8.7%

34.8%

8.7%

4.3%

25.0%

7.1%

17.9%

7.1%

25.0%

13

17.6%

7.8%

25.5%

7.8%

15.7%

Count
% within Hipertensi

Wiraswasta Dagang Ibu RT

Hipertensi Count
% within Hipertensi

Swasta

Total

Hipertensi * Sakit bagian tengkuk Crosstabulation


Sakit bagian tengkuk
Ya
Hipertensi

Tidak

Total

Normal

Count
6
17
23
Hipertensi * Sakit kepala Crosstabulation
% within Hipertensi
26.1%
73.9%
100.0%
Sakit kepala
Total
Hipertensi
Count
15
13
28
Ya
Tidak
% within Hipertensi
53.6%
46.4%
100.0%
Hipertensi
Normal
Count
10
13
23
Total
Count
21
30
51
% within Hipertensi
43.5%
56.5%
100.0%
% within Hipertensi
41.2%
58.8%
100.0%
Hipertensi
Count
21
7
28
% within Hipertensi
Total

Count
% within Hipertensi

75.0%

25.0%

100.0%

31

20

51

60.8%

39.2%

100.0%

Lainnya
8

23

34.8% 100.0%
5

28

17.9% 100.0%
13

51

25.5% 100.0%

Hipertensi * Pandangan kabur Crosstabulation


Pandangan kabur
Ya
Hipertensi

Normal

Count

21

23

8.7%

91.3%

100.0%

10

18

28

35.7%

64.3%

100.0%

12

39

51

23.5%

76.5%

100.0%

Count
% within Hipertensi

Total

Count
% within Hipertensi

Total

% within Hipertensi
Hipertensi

Tidak

Hipertensi * Pusing Crosstabulation


Pusing
Ya
Hipertensi

Normal

Count
% within Hipertensi

Hipertensi

Total

23

69.6%

30.4%

100.0%

20

28

71.4%

28.6%

100.0%

36

15

51

70.6%

29.4%

100.0%

Count
% within Hipertensi

Total

16

Count
% within Hipertensi

Tidak

Hipertensi * Ayunana langkah tidak teratur Crosstabulation


Ayunana langkah tdk teratur
Ya
Hipertensi

Normal

Count
% within Hipertensi

Hipertensi

Count
% within Hipertensi

Total

Count
% within Hipertensi

Tidak

Total

20

23

13.0%

87.0%

100.0%

21

28

25.0%

75.0%

100.0%

10

41

51

19.6%

80.4%

100.0%

Hipertensi * Menyukai makanan yang asin Crosstabulation


Menyukai makanan yg asin
Ya
Hipertensi

Normal

Count
% within Hipertensi

Hipertensi

17

23

26.1%

73.9%

100.0%

19

28

67.9%

32.1%

100.0%

25

26

51

49.0%

51.0%

100.0%

Count
% within Hipertensi

Total

Count
% within Hipertensi

Total

Tidak

Hipertensi * Mengonsumsi makanan gorengan Crosstabulation


Mengonsumsi makanan gorengan
Ya
Hipertensi

Normal

Count
% within Hipertensi

Hipertensi

Count
% within Hipertensi

Total

Count
% within Hipertensi

Tidak

Total

18

23

78.3%

21.7%

100.0%

26

28

92.9%

7.1%

100.0%

44

51

86.3%

13.7%

100.0%

Hipertensi * Kebiasaan konsumsi makanan lemak jenuh Crosstabulation


Kebiasaan konsumsi makanan
lemak jenuh
Ya
Hipertensi

Normal

Count
% within Hipertensi

Hipertensi

23

78.3%

21.7%

100.0%

18

10

28

64.3%

35.7%

100.0%

36

15

51

70.6%

29.4%

100.0%

Count
% within Hipertensi

Total

18

Count
% within Hipertensi

Total

Tidak

Hipertensi * Aktivitas fisik berat Crosstabulation


Aktivitas fisik berat
Ya
Hipertensi

Normal

Count
% within Hipertensi

Hipertensi

Total

18

23

21.7%

78.3%

100.0%

24

28

14.3%

85.7%

100.0%

42

51

17.6%

82.4%

100.0%

Count
% within Hipertensi

Total

Count
% within Hipertensi

Tidak

Hipertensi * Aktivitas fisik sedang Crosstabulation


Aktivitas fisik sedang
Ya
Hipertensi

Normal

Count
% within Hipertensi

Hipertensi

Count
% within Hipertensi

Total

Count
% within Hipertensi

Tidak

Total

19

23

17.4%

82.6%

100.0%

22

28

21.4%

78.6%

100.0%

10

41

51

19.6%

80.4%

100.0%

Hipertensi * Aktivitas fisik ringan Crosstabulation


Aktivitas fisik ringan
Ya
Hipertensi

Normal

Count
% within Hipertensi

Hipertensi

Total

23

87.0%

13.0%

100.0%

17

11

28

60.7%

39.3%

100.0%

37

14

51

72.5%

27.5%

100.0%

Count
% within Hipertensi

Total

20

Count
% within Hipertensi

Tidak

Hipertensi * Riwayat keluarga Crosstabulation


Riwayat keluarga
Ya
Hipertensi

Normal

Count
% within Hipertensi

Hipertensi

Count
% within Hipertensi

Total

Count
% within Hipertensi

Tidak

Total

12

11

23

52.2%

47.8%

100.0%

17

11

28

60.7%

39.3%

100.0%

29

22

51

56.9%

43.1%

100.0%

Hipertensi * RESPONDEN YANG DIDUGA HIPERTENSI Crosstabulation


RESPONDEN YANG DIDUGA
HIPERTENSI
Tidak
Hipertensi

Normal

Count
% within Hipertensi

Hipertensi

Count
% within Hipertensi

Total

Count
% within Hipertensi

Ya

Total

17

23

73.9%

26.1%

100.0%

16

12

28

57.1%

42.9%

100.0%

33

18

51

64.7%

35.3%

100.0%

Lampiran 3
Dokumentasi Screening Hipertensi di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai
Tahun 2014
Pengukuran Tekanan Darah

Wawancara Responden