Anda di halaman 1dari 4

Keratitis Varicella

Infeksi Varicella Zoster Virus (VZV) dapat terjadi dalam dua bentuk yaitu : primer berupa cacar
air atau varicella dan sekunder berupa herpes zoster. Pada infeksi primer jarang terjadi
manifestasi pada mata, namun sering terjadi pada infeksi sekunder berupa herpes zoster
oftalmika. Lesi varicella umumnya terdapat pada palpebra dan tepian palpebra berupa ruam
ruam cacar, sedangkan keratitis (dengan cirri khas lesi stroma perifer dengan vaskularisasi)
jarang terjadi. Yang lebih jarang lagi adalah keratitis disciformis yang terjadi dengan atau tanpa
pseudodendritis. Terdapat juga laporan mengenai kejadian beberapa kasus keratitis disciformis
dengan uveitis dengan durasi yang berbeda.
Berbeda dengan varicella dengan manifestasi klionis yang jarang ebrupa lesi jinak pada
kornea, herpes zoster oftalmik sering diikuti dengan keratouveitis yang derajat keparahannya
bervariasi sesuai dengan status immunologi dari pasien. Meskipun keratouveitis pada anak-anak
biasanya tidak berat tapi pada orang dewasa penyakit ini bisa berbahaya dan menyebabkan
kebutaan. Pada herpes zoster oftalmika, kompolikasi di kornea dapat muncul jika terdapat ruam
herpes pada daerah yang dipersarafi oleh nervus nasocilliary.
Berbeda dengan keratitis pada infeksi sekunder dari VZV yang biasanya hanya terjadi
pada epitel, maka keratitis pada infeksi primer VZV dapat mengenai stroma dan uvea bagian
anterior pada saat terjadinya varicella. Lesi epitel tersebut berbentuk bintik bintik yang amorfus
kecuali pada pseudodenrite yang terjadi kadang-kadang sehingga secara samar akan menyerupai
dendrit pada herpes zoster. Kekeruhan kornea berasal dari edema dan infiltrasi selular yang
ringan dan diawali pada daerah subepitel. Keadaan ini dapat menjadi penyakit stroma yang
dalam dan diikuti dengan nekrosis serta vaskularisasi. Terkadang dapat timbul keratitis

disciformis yang menyerupai keratitis disciformis pada herpes zoster oftalmik. Hilangnya sensasi
kornea dengan resiko keratitis neurotrofik merupakan keadaan yang sering terjadi dan terdapat
selama beberapa bulan setelah lesi kornea sembuh. Uveitis juga dapat terjadi selama beberapa
minggu atau beberapa bulan

yang akan sembuh seiring berjalannya waktu. Skleritis

(keratoskleritis) dapat menjadi hal yang serius pada infeksi VZV di mata.
Obat antiviral intravena dan oral dapat digunakan, dan telah memberikan hasil yang
baik untuk terapi

herpes zoster oftalmika, khususnya pada

orang-orang dengan

immunokompromise. Penggunaan antiviral topikal tidak begitu penting. Antiviral yang biasa
digunakan adalah acyclovir, valacyclovir dan famciclovir . Dosis acyclovir oral adalah 800mg
setiap kali pemberian yang diberikan 5 kali sehari selama 10-14 hari. Dosis valacyclovir oral
adalah 1gr setiap kali pemberian diberikan 3 kali sehari selama 7-10 hari. Sedangkan dosis
famciclovir adalah 500mg setiap kali minum diberikan 3 kali sehari selama 7-10 hari. Terapi
sebaiknya dimulai dalam rentang waktu 72 jam setelah ruam muncul. Kortikosteroid topikal
dibutuhkan jika terjadi keratitis berat, uveitis dan glaucoma sekunder. Sedangkan penggunaan
kortikosteroid sistemik masih controversial, dimana saat ini hanya mungkin digunakan untuk
mengobati post herpetic neuralgia. Meskipun infeksi VZV merupakan penyakit self-limiting
namun pemberian dapat dianjurkan pemberian analgetik. Selain itu hal yang perlu diwapadai
adalah pasien dengan lesi cacar pada wajah dan kulit kepala, dimana pasien tersebut harus
melakukan kontrol ulang pada beberapa bulan setelah varicella sebab kejadian keratitis dapat
terjadi belakangan atau tertunda.

Keratitis Acanthamoeba
Acanthamoeba adalah protozoa yang hidup bebas, terdapat pada air tercemar yang mengandung
bakteri dan bahan-bahan organic. Infeksi achantamoeba pada kornea sering dihubungkan dengan
pemakaian lensa kontak, termasuk didalamnya adalah lensa silicone hydrogen ataupun
penggunaan lensa kontak yang lebih kaku (gas-permaeble) untuk pengkoreksian gangguan
refraksi dimana sebagian kasus dihubungkan dengan ketidakmampuan cairan lensa untuk
melindungi lensa dari protozoa tersebut. Selain itu keratitis acanthamoeba juga bisa terjadi pada
mereka yang tidak menggunakan lensa kontak, yaitu pada mereka yang terkena air maupun tanah
yang terkontaminasi protozoa ini.
Tanda awal dari infeksi acanthamoeba adalah nyeri yang berat dan tidak sesuai dengan
temuan klinis, hiperemis dan fotopobia. Kemudian gejala klinis yang khas adalah adanya ulkus
kornea yang terjadi secara lambat, cincin stroma dan infiltrat perineural tapi pasien juga dapat
mengalami perubahan pada epitel kornea saja.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil kultur, yang dilakukan pada media khusus yaitu
media agar dengan E.Coli yang banyak sebagai pelapisnya .Sementara itu pengambilan bahan
yang lebih baik dapat dilakukan melalui biopsi kornea daripada kerokan kornea karena
kemungkinan diperlukan pemeriksaan histopatologi terhadap bentuk amoeba apakah trofozoid
atau kista. Cairan yang berasal dari wadah lensa kontak juga harus dikultur sebab terkadang
bentuk dari amoeba dapat diidentifikasi pada cairan lensa. Selain itu kini terdapat teknik
diagnosis yang lebih baru

yaitu impression cytology dan confocal microscopy.

Diagnosis banding dari keratitis acanthamoeba adalah keratitis herpes zoster, dimana
keratitis herpes zoster merupakan diagnosis banding yang paling membingungkan. Diagnosis

banding lainnya adalah keratitis jamur, keratitis mikrobakterial, dan infeksi nocardia pada
kornea.
Debridemen pada epitel berguna pada awal penyakit ini. Kemudian terapi dengan obatobatan biasa dimulai dengan obat topikal, seperti propamidine isethionate (larutan 1%) atau
polyhexamethylene biguanide (larutabn 0,01%-0,02%)

maupun tetes mata neomisin forte.

Spesies Acanthamoeba dapat memiliki sensitifitas yang bervariasi terhadap obat tertentu namun
dapat juga menjadi resisten. Terapi dapat terhambat oleh kemampuan organisme ini membentuk
kista di dalam stroma kornea sehingga memerlukan waktu terapi yang lebih lama. Kortikosteroid
tidak dianjurkan pada terapi keratitis acanthamoeba kecuali pada infeksi yang berat.
Keratoplasty mungkin diperlukan jika penyakit menjadi sangat berat
mengembalikan

atau untuk

penglihatan setelah sembuh dengan adanya jaringan parut. Selain itu

transplantasi amniotic membrane mungkin berguna pada defek epitel kornea yang persisten,
namun jika protozoa ini mencapai sclera maka penatalaksanaan baik dengan obat maupun
pembedahan tidak akan berguna.