Anda di halaman 1dari 11

Beneficence

No
.
1

Beneficence
Mengutamakan altruisme
(menolong tanpa pamrih, rela
bekorban untuk kepentingan
orang lain).

Ada/Tidak

Ada

Menjamin nilai pokok harkat dan


martabat manusia.

Ada

Memandang pasien/keluarga dan


sesuatu tak sejauh menguntung
dokter

Ada

Mengusahakan agar
kebaikan/manfaatnya lebih
banyak dibandingkan dengan
keburukannya.

Ada

Analisa pada kasus


Pada kasus pertama,
Dokter Christian rela
mengorbankan waktu
istirahatnya untuk
membantu pasien.
Pada kasus ke-3, dr.
Christian memberikan
kesempatan kepada
pasien untuk
menentukan keputusan
akhirnya, juga pada
kasus ke-4 dr. Christian
menyanggupi
permintaan pasien untuk
menjaga rahasia
penyakitnya.
dr. Christian memasang
tarif yang relatif murah
dengan pelayanan yang
baik.
Kemudian pada kasus ke4 dr. Christian tetap
memberikan tarif yang
sesuai (tidak dilipat
gandakan) walaupun
keadaan status ekonomi
pasien tergolong kaya
Pada kasus pertama,
Dokter Christian
memasang infus pada
pasien sebelum dibawa
ke RS karena keadaan
pasien yang terus
menurun.
Pada kasus ke-5, setelah
memeriksa pasien dr.
Christian langsung
merujukkan pasien di RS
untuk menjalani
pemeriksaan lanjut yang

Paternalisme, bertanggung
jawab/kasih sayang.

Ada

6
7

Menjamin kehidupan baik


minimal manusia.
Pembatasan Goal-Based

Tidak

Ada

Maksimalisasi pemuasan
kebahagiaan/preferensi pasien.

Ada

ketat. Ini menunjukkan


dokter ingin si pasien
mendapat pemeriksaan
lebih lanjut agar penyakit
pasien bias di diagnosa
lebih lanjut agar
pengobatan lebih cepat
dilakukan.
Pada kasus ke-2, dr.
Christian dengan penuh
rasa empati menasehati
Mamat pasiennya agar
tidak mengulangi
perbuatannya untuk
mencoba bunuh diri.
Pada kasus ke-5, dr.
Christian menunjukkan
tanggung jawabnya
dengan melakukan
pemeriksaan lebih lanjut
pada pasien di RS
tempat ia bekerja.
Pada kasus ke-5, dr.
Christian melakukan
pemeriksaan kepada
pasien dengan tidak
berlebihan tapi hanya
sesuai dengan
kebutuhan pasien.
Pada kasus ke-5, setelah
memeriksa pasien dr.
Christian langsung
merujukkan pasien di RS
untuk menjalani
pemeriksaan lanjut yang
ketat. Ini menunjukkan
dokter ingin si pasien
mendapat pemeriksaan
lebih lanjut agar penyakit
pasien bias di diagnosa
lebih lanjut agar
pengobatan lebih cepat

Minimalisasi akibat buruk.

Ada

10

Kewajiban menolong pasien


gawat darurat.
Ada

11

Menghargai hak-hak pasien


secara keseluruhan.

Ada

dilakukan.
Pada kasus pertama,
Dokter Christian
memasang infus pada
pasien sebelum dibawa
ke RS karena keadaan
pasien yang terus
menurun.
Pada kasus ke-4, dr.
Christian mengusulkan
agar istri dari pasien
harus juga mendapatkan
pelayanan kesehatan
juga tanpa
membeberkan kasus,
Dokter Christian
meminta dinas terkait
untuk mengobati dan
memberikan penyuluhan
bagi PSK agar
penyebaran PHS dapat
terhindari.
Pada kasus ke-5, dr.
Christian dengan segera
menolong pasien yang
sudah sekarat atau
berada dalam keadaan
darurat walaupun ia
belum mendapat
persetujuan dari pasien.
Pada kasus ke-3, dr.
Christian memberikan
kesempatan pada pasien
untuk mengambil
keputusan apakah ia
akan dioperasi atau
tidak.
Pada kasus ke-5, dr.
Christian menghargai
keputusan pasien untuk
tidak melakukan operasi
walaupun sebenarnya
sang pasien memang
harus dioperasi.

12

Tidak menarik honorarium diluar


kepantasan.
Ada

13
14

15
16

Maksimalisasi kepuasan tertinggi


pasien secara keseluruhan.
Mengembangkan profesi secara
terus-menerus.

Memberikan obat berkhasiat


namun murah.
Menerapkan Golden Rule
Principle

Pada kasus ke-4, dr.


Christian tetap
memberikan tarif yang
sama walaupun
pasiennya tergolong
kaya.

Tidak

Ada

dr. Christian sebagai


spesialis bedah juga
dapat menangani kasuskasus diluar bidang
ahlinya.

Tidak

Ada

Dalam scenario 24
hours dapat dilihat
secara keseluruhan
bahwa Dokter Christian
menerapkan Golden Rule
Principle, dimana ia
memberikan pelayanan
yang terbaik kepada
setiap pasiennya
sebagaimana ia seperti
ingin diperlakukan.

Non-Maleficence
Tidak Merugikan (NonMaleficience)
Menolong pasien
Emergency
kondisi untuk
menggambarkan kriteria
ini adalah :

Ada/Tid
ak

Analisa pada Kasus

a. Pasien dalam keadaan


amat berbahaya(darurat)
b. Dokter sanggup
mencegah bahaya atau
kehilangan tersebut
c. Tindakan kedokteran tadi
terbukti efektif
d. Manfaat bagi pasien >
kerugian dokter (hanya
mengalami risiko minimal)
mengobati pasien yang
luka.
a. tidak membunuh pasien
(tidak melakukan
euthanasia)
b. Tidak menghina/caci
maki memanfaatkan
pasien
tidak memandang pasien
hanya sebgai objek
tidak mengobati secara
tidak proposional
mencegah pasien dari
bahaya
menghindari
misrepresentasi dari pasien
tidak membahayakan
kehidupan pasien karena
kelalaian
memberikan semangat
hidup
melindungi pasien dari
serangan
tidak melakukan white
collar crime dalam bidang
kesehatan/kerumah sakitan
yang merugikan pihak
pasien/ keluarganya

Ada

Paragraf 2 kalimat 1, paragraf 4


kalimat 1, paragraf 7 kalimat 1

Ada

Paragraf 2 kalimat 5, paragraf 4


kalimat 6

Ada

Paragraf 2 kalimat 4

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ada

Paragraf 2 kalimat 4, paragraf 4


kalimat 3 dan 5, paragaraf 5 kalimat
3

Tidak
Tidak
Ada
Ada

Paragraf 4 kalimat 7 (kalimat


terakhir)
Paragraf 2 kalimat 4, paragraf 4
kalimat 6, paragraf 6 kalimat 4

Tidak

Justice
JUSTICE

ADA/TID

ANALISIS PADA

AK

Memberlakukan
segala
secara universal.

sesuatu Ada

KASUS
Dokter melayani setiap
pasien dengan cekatan
sesuai dengan nomor
antrean.

Mengambil porsi terakhir dari proses


membagi yang telah ia lakukan.

Ada

Dokter melayani pasien


dengan baik walaupun
sebenarnya
dokter
tersebut sudah dalam
waktu istirahatnya.

Memberi kesempatan yang sama


terhadap pribadi dalam posisi yang
sama.

Ada

Dokter melayani setiap


pasien dengan cekatan
sesuai dengan nomor
antrean.

Menghargai
hak
sehat
pasien
(affordability, equality, accessibility,
availability, quality).

Ada

Dokter melayani pasien


dengan
standarisasi
keterjangkauan,
kesetaraan,
aksesibilitas,
ketersediaan
dan
kualitas yang terbaik.

Menjaga kelompok yang rentan (yang


paling dirugikan)

Ada

Dokter
tidak
hanya
melakukan pengobatan
terhadap pasien yang
menderita
Penyakit
Hubungan
Seks,
melainkan
pasangan
dari
sang
pasien
dimana tergolong ke
dalam
orang
yang
rentan atau yang paling
dirugikan.

Tidak membedakan pelayanan pasien


atas dasar SARA, status sosial, dll.

Ada

Dokter melayani pasien


dengan
standarisasi
keterjangkauan,
kesetaraan,
aksesibilitas,

Menghargai hak hukum pasien.


Menghargai hak orang lain.

ketersediaan
dan
kualitas yang terbaik
tanpa
memandang
status sosial maupun
keadaan
ekonomi
pasien.
Tidak melakukan penyalahgunaan.

Ada

Dokter
memberikan
pengobatan
dengan
bayaran/tarif
yang
sesuai (tidak dilipat
gandakan).

Memberikan kontribusi yang relatif


sama dengan kebutuhan pasien.

Ada

Dokter
memberikan
pelayanan atas kondisi
pasien
yang
sesuai
dengan
apa
yang
dibutuhkan pasien.

Meminta partisipasi
dengan kemampuan.

sesuai

Tidak
Ada

Kewajiban mendistribusi keuntungan


dan kerugian (biaya, beban, sanksi)
secara adil.

Tidak
Ada

Mengembalikan hak kepada pemiliknya


pada saat yang tepat dan kompeten.

Ada

Dokter menuruti apa


yang
menjadi
hak
pasien
atas
kerahasiaan
penyakit
pasien
dan
dokter
meminta
persetujuan
kepada
pasien
atas
tindakan medis yang
akan dilakukannya.

Tidak memberi beban berat secara


tidak merata tanpa alasan sah/tepat.

Tidak
Ada

Menghormati hak populasi yang samasama


rentan
penyakit/gangguan
kesehatan.

Ada

Dokter
tidak
hanya
melakukan pengobatan
terhadap pasien yang
menderita
Penyakit
Hubungan
Seks,
melainkan
pasangan
dari
sang
pasien
dimana tergolong ke

pasien

dalam
orang
yang
rentan atau yang paling
dirugikan.
Bijak dalam makro alokasi.

Tidak
Ada

Autonomy
Autonomy (self
determination)
Menghargai hak
menentukan nasib
sendiri, menghargai
martabat pasien

Ada/ Tidak

Analisa pada kasus

Tidak menghargai

Tidak mengintervensi
pasien dalam membuat
keputusan (dalam
kondisi elektif)
Berterus terang

Ya

Menghargai pirvasi

Ya

Menjaga rahasia pasien

Ya

Menghargai rasionalitas
pasien

Ya

Pada kasus Tuan


Kumabal saat Dokter
menolak keputusan
Kumabal dan
mengoperasinya tanpa
persetujuan saat tidak
sadar
Dokter tidak
mengintervensi semua
pasiennya dalam
membuat keputusan
Dokter berterus terang
menjelaskan semua
penyakit yang dialami
pasien
Dokter tidak
membeberkan rahasia
Tuan Baduit, sesuai
kontrak yang telah
dibuat
Dokter tidak
memberitahu penyakit
Tuan Baduit pada
istrinya meskipun
istrinya juga ikut dalam
proses pengobatan
Dokter mengetahui
Mamat adalah pasien
tidak mampu secara

Ya

Melaksanakan Informed
Consent

Ya

Membiarkan pasien
dewasa dan kompoten
dalam mengambil
keputusan sendiri

Ya

Tidak mengintervensi
atau menghalangi
otonomi pasien

Ya

Mencegah pihak lain


mengintervensi pasien
dalam membuat
keputusan, termasuk
keluarga sendiri
Sabar menunggu
keputusan yang akan
diambil pasien pada
kasus non emergensi

Tidak berbohong ke
pasien meskipun demi
kebaikan pasien

Ya

Menjaga hubungan
kontrak

Ya

Ya

finansial, maka dokter


langsung menangani
bebat pada Mamat
Dokter melaksanakan
Informed Consent pada
Tuan Kumabal meskipun
pada akhirnya dokter
mengoperasi Kumabal
tanpa persetujuan
Tuan Baduit sudah sadar
akan penyakitnya
sebelum diobati dokter,
maka dengan dewasa ia
membuat kontrak
dengan dokter untuk
menjaga rahasianya
Dokter tidak
mengintervensi Tuan
Pikir dalam membuat
keputusannya
Tidak ada intervensi
pihak ketiga dalam
semua kasus

Kasus 3 dan 4 , dokter


membiarkan pasiennya
mengambill keputusan
dalam kondisi non
emergensi
Dokter tidak berbohong
menerangkan semua
penyakit yang dialami
seluruh pasiennya
Dokter mentaati
kontraknya dengan Tuan
Baduit, yaitu tidak
memberitahu orang lain
penyakit yang
dialaminya

Primafacie
A. Pada kasus ini mengalami mengalami primaface yaitu dari KDB
Beneficience ke KDB Non- Meleficience hal ini dapat di lihat pada
tindakan awal dokter yang hanya akan melayani permintaan
tetangganya untuk melihat pasien yang muntah dan berak darah
walaupun di tengah malam,namun setelah melihatnya melihat situasi
dan kondisi pasien saat itu dokter langsung mengambil tindakan untuk
mencegah hal-hal yang lebih buruk yaitu dengan memasang infuse
(IVFD) pada pasien sebelum pasien di bawa ke rumah sakit karena
mengingat jarak rumah sakit cukup jauh.
B. Pada kasus ini mengalami mengalami primaface yaitu dari KDB Justice
ke KDB Non- Meleficience hal ini dapat di lihat pada kegiatan awal

dokter yang melayani pasiennya sesuai nomor antrian pasien.Namun


tiba-tiba ada sekelompok orang yang datang membopong seorang
pemuda yang bernama mamat yang sudah dalam keadaan sekarat
dengan luka yang cukup besar yang tidak berhenti mengeluarkan
darah.Walaupun sebenarnya belum tiba giliran mamat untuk
dilayani,namun dokter segera menangani mamat dengan cekatan
dengan membebat luka mamat untuk menghentikan pendarahan dan
langsung memasang infuse (IVDF) secara cepat.
C. Pada kasus ini mengalami mengalami primaface yaitu dari KDB
Autonom ke KDB Non- Meleficience hal ini dapat di lihat pada kasus
tuan kumabal yang mengalami tabrak lari yang mengelu nyeri
perut,setelah di periksa,dokter menganjurkan untuk masuk rumah
sakit untuk pengawasan lebih lanjut.pada sore harinya setelah melalui
berbagai pemeriksaan dokter menyimpulkan bahwa pasien mengalami
pendarahan.Walaupun sudah dijelaskan pendarahan yang dialaminya
dapat menyebabkan kematian namun tuan kumabal tidak mau di
oprasi mungkin karena takut untuk di operasi.Namun beberapa jam
kemudian HB makin menurun,kesadaran pasien pun menurun,pasien
jatuh dalam keadaan tidak sadar dan harus dilakukan
operasi.Persetujuan tindakan medic dari keluarga pun tidak ada
karena tidak ada seorang pun menunggu pasien d rumah sakit.Namun
dokter pun tetap melakukan operasi tanpa persetujuan pasien maupun
keluarga,demi keselamatan pasien.