Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Dalam keadaan normal kornea adalah transparan. Transparansi tersebut
disebabkan oleh tidak adanya pembuluh darah, jaringan kornea yang
strukturnya seragam, serta berfungsinya mekanisme pompa oleh endotel.
Gangguan transparansi kornea pada dasarnya disebabkan oleh gangguan
pada ketiga hal tersebut, yaitu:
1. Tumbuhnya vaskularisasi ke dalam jaringan kornea
2. Gangguan integritas struktur jaringan kornea: kelainan congenital dan
herediter, infeksi, ulkus dan komplikasinya
3. Disfungsi endotel edema kornea
I.2. Anatomi dan Fisiologi

Mata terbagi menjadi tiga bagian, yaitu:


1. Rongga orbita
Rongga orbita merupakan suatu rongga yang dibatasi dinding tulang
dan berbentuk seperti piramida bersisi empat dengan puncak menuju arah
foramen optic. Di bagian belakang dari rongga orbita terdapat tiga lubang,
yaitu:
a.
Foramen optic
: saraf optic, arteri oftalmik, saraf simpatik
b.
Fisura orbita superior : vena oftalmik, saraf-saraf untuk otot-otot
mata (N.III, N.IV, N.VI), cabang pertama saraf trigeminal (N.V-1)

c.

Fisura orbita inferior : N.V-2, saraf maksila serta arteri infraorbita


yang merupakan sensorik untuk daerah kelopak mata bawah, pipi,
bibir atas dan gigi bagian atas.

2. Bola mata
a.
Dinding bola mata
1) Sclera
Sclera merupakan jaringan ikat kolagen, kenyal dan
tebalnya 1 mm. Di bagian belakang bola mata terdapat lamina
kribrosa, yaitu tempat dimana saraf optic menembus sclera.
Bagian luar sclera berwarna putih dan halus dilapisi oleh kapsul
Tenon sedangkan bagian depan oleh konjungtiva. Batas kornea
dan sclera dinamakan limbus.
2) Kornea

Kornea merupakan jaringan jernih dan bening di bagian


anterior mata, berperan sangat penting dalam kemampuan
refraktif mata. Kornea mempunyai ketebalan antara 0,6 - 1 mm
yang terdiri atas 5 lapisan, yaitu:

Epitel
- Epitel merupakan lapisan terluar kornea dan tersusun
-

atas epitel gepeng berlapis tanpa lapisan tanduk


Bagian terbesar ujung saraf kornea berakhir pada
lapisan ini apabila terdapat gangguan pada epitel
gangguan sensibilitas kornea (rasa sakit atau

mengganjal)
Apabila terjadi kerusakan, regenerasi dapat terjadi
dalam beberapa hari, tanpa jaringan parut

Membrane Bowman
- Membrane tipis yang homogeny, terdiri atas susunan
-

serat kolagen kuat mempertahankan bentuk kornea


Apabila timbul kerusakan jaringan parut

Stroma
- Merupakan lapisan yang paling tebal dan terdiri atas
jaringan kolagen yang tersusun dalam lamel-lamel.
-

Diantara serat-serat kolagen ini terdapat matriks


Stroma bersifat higroskopis menarik air dari bilik
mata depan. Kadar air di dalam stroma 70%, relative
tetap dan diatur oleh fungsi pompa sel endotel dan

penguapan oleh epitel


Serat dalam stroma demikian teratur memberikan
gambaran kornea yang transparan atau jernih

Membrane Descemet
- Merupakan suatu lapisan tipis yang bersifat kenyal,
-

kuat, tidak berstruktur dan bening


Lapisan ini berfungsi sebagai pelindung/barrier infeksi
dan masuknya pembuluh darah

b.

Endotel
- Terdiri atas satu lapis sel yang merupakan jaringan
-

terpenting untuk mempertahankan kejernihan kornea


Merupakan sel yang mengatur cairan di dalam stroma

kornea
Tidak mempunyai daya regenerasi

Isi bola mata


1) Lensa
Lensa merupakan badan yang bening, bikonveks dengan
ketebalan 5 mm dan d 9 mm pada orang dewasa. Lensa
mempunya kapsul yang bening dan pada ekuator (pertemuan
permukaan posterior dan anterior) difiksasi oleh Zonnula Zinnii
pada badan siliar. Fungsi lensa adalah untuk membiaskan
cahaya, sehingga difokuskan pada retina. Peningkatan kekuatan
pembiasan lensa disebut akomodasi.
Lensa terbagi menjadi 2 bagian, yaitu:
Korteks (tepi)
Nukleus (inti)
: nucleus lebih keras dibandingkan
korteks. Seiring bertambahnya usia, nucleus makin
membesar sedangkan korteks menipis, sehingga akhirnya
seluruh lensa mempunyai konsistensi nucleus.
2) Uvea
Uvea merupakan lapisan dinding kedua bola mata setelah
sclera dan tenon. Uvea merupakan jaringan lunak, terdiri atas 3
bagian, yaitu:
Iris
- Membrane yang berwarna, berbentuk sirkular dan
-

ditengahnya terdapat lubang yang dinamakan pupil


Fungsi : mengatur banyak sedikitnya cahaya yang
masuk

Iris berpangkal pada badan siliar (pemisah antara bilik

mata depan dan belakang)


Permukaan depannya berwarna bervariasi dan

mempunyai lekukan-lekukan kecil (kripti)


Terdiri atas dua otot, yaitu otot polos (melingkari
pupil/sfingter pupil) dan otot radial (tegak lurus

pupil/dilatators pupil)
Pembuluh darah di sekeliling pupil disebut sirkulus
minor sedangkan yang berada di dekat badan siliar

disebut sirkulus mayor


Persarafan berasal dari saraf cranial III yang bercabang
menjadi saraf nasosiliar yang bersifat simpatik
(midriasis) dan parasimpatik (miosis)

Badan siliar
Badan siliar dimulai dari pangkal iris sampai koroid,
terdiri atas 2 bagian, yaitu:
- Otot-otot siliar :berfungsi untuk akomodasi. Ketika
otot-otot berkontraksi menarik prosesus siliar serta
koroid ke depan dan ke dalam, mengendorkan Zonula
-

Zinnii lensa lebih cembung


Prosesus siliar : berfungsi untuk memproduksi
cairan mata (aqueous humour)

Koroid
Koroid merupakan membrane yang berwarna
cokelat tua, terletak diantara sclera dan retina. Koroid kaya
pembuluh darah dan terutama berfungsi untuk memberi
nutrisi pada retina bagian luar.

3) Badan kaca
Badan kaca mengisi sebagian besar bola mata di belakang
lensa, tidak berwarna, bening dan konsistensinya lunak. Struktur
ini tidak mempunyai pembuluh darah dan menerima nutrisinya
dari jaringan sekitarnya (koroid, badan siliar dan retina).
Terdiri dari 2 bagian, yaitu:
Membrane hialoid : lapisan tipis bagian luar

Saluran hialoid

: saluran yang berjalan dari

papil saraf optic kapsul belakang lensa


4) Retina
Retina merupakan suatu membrane tipis dan bening,
terdiri atas penyebaran serabut-serabut saraf optic, letaknya
antara badan kaca dan koroid. Bagian anterior berakhir pada ora
serata.
Di bagian retina yang letaknya sesuai dengan sumbu
penglihatan terdapat makula lutea (bintik kuning) d 1-2 mm
yang berperan penting untuk tajam penglihatan. Di tengah
makula lutea terdapat refleks fovea.
Retina mempunyai ketebalan sekitar 1 mm yang terdiri
atas 10 lapisan dari dalam ke luar, yaitu:
Membrane limitan dalam
Lapisan serabut saraf: terdapat cabang-cabang utama

pembuluh darah retina


Lapisan sel ganglion : merupakan lapisan sel saraf

bercabang
Lapisan pleksiform dalam
Lapisan nucleus dalam

nucleus sel-sel bipolar


Lapisan pleksiform luar
Lapisan nucleus luar : terdiri atas nuclei sel-sel visual atau

sel kerucut dan batang


Membrane limitan luar
Lapisan batang dan kerucut : merupakan lapisan

: terbentuk dari badan dan

penangkap sinar.
Lapisan epitel pigmen
Sel batang > sel kerucut, kecuali di daerah makula (sel

kerucut > sel batang). Daerah papil saraf optic terutama terdiri
atas serabut saraf optic dan tidak mempunyai daya penglihatan
(bintik buta).
3. Adneksa
a. Kelopak mata
Kelopak mata berfungsi sebagai pelindung dari trauma fisik
atau kimia, membantu pemerataan air mata, menyingkirkan debu

dengan kedipan mata, serta dapat membuka diri untuk memberi jalan
masuk cahaya.
Dari luar ke dalam, kelopak mata terdiri atas kulit-jaringan
longgar-jaringan otot tarsus-fasia-konjungtiva.
Konjungtiva menduduki tempat yang khusus, karena meluas
dan melapisi bola mata bagian luar, terdiri atas 3 bagian, yaitu:
1) Konjungtiva palpebra : lapisan terdalam kelopak mata atas
2) Konjungtiva bulbi
: melapisi bola mata bagian
luar
3) Forniks konjungtiva

: peralihan konjungtiva

palpebra ke konjungtiva bulbar


b. Sistem lakrimal
Terdiri atas 2 bagian, yaitu:
1) Sekresi (kelenjar air mata), terletak di daerah supero-lateral
rongga orbita
2) Ekskresi (pungtum lakrimal, kanalikuli lakrimal, sakus
lakrimal, duktus nasolakrimal)
I.3. Ulkus Kornea
I.3.1. Definisi
Ulkus (tukak) kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan
kornea sampai lapisan stroma akibat kematian jaringan kornea.
Ulkus kornea adalah infiltrasi disertai hilangnya sebagian jaringan
kornea.
I.3.2. Etiopatogenesis
Terjadinya ulkus kornea biasanya didahului oleh adanya faktor
pencetus yaitu rusaknya sistem barier epitel kornea yang dapat disebabkan
oleh:
1.

Kelainan pada bulu mata (trikiasis) dan sistem air mata (insufisiensi

2.

air mata, sumbatan saluran lakrimal mata kering)


Faktor eksternal : luka pada kornea (erosion kornea) karena trauma,

3.

pemakaian lensa kontak, luka bakar pada wajah


Kelainan kelainan kornea
: edema kornea kronik, exposurekeratitis, keratitis karena defisiensi vitamin A, keratitis superfisialis
virus
7

4.
5.

Kelainan kelainan sistemik: malnutrisi, imunosupresi, alergi


Obat-obatan
: kortikosteroid, golongan imunosupresif, IDU
(Idoxyuridin), dsb.
Ulkus kornea dapat disebabkan oleh organisme yang memproduksi

toksin nekrosis dan pembentukan pus di jaringan kornea.


1.

Bakteri
Pada ulkus kornea yang disebabkan jamur dan bakteri akan
menyebabkan defek epitel yang dikelilingi leukosit
polimorfonuklear.

Spesies

Ulkus Streptokok
- S. pneumonia
- S. Viridans (>>)
- S. Pyogenes (<<)
- S. Faecalis

Ulkus Stafilokokus
- S. Aureus (>>
berat), dapat dalam
bentuk ulkus kornea
sentral, marginal,
atau ulkus alergi
(toksik)
- S. Epidermidis
(biasanya bila ada
faktor pencetus
sepeti infeksi herpes
simpleks, pemakaian
jangka lama lensa
kontak)

Ulkus Pseudomonas
- Bakteri
Pseudomonas bersifat
aerob obligat,
menghasilkan
eksotoksin yang
menghambat sintesis
protein jaringan
kornea cepat hancur
dan mengalami
kerusakan
- biasanya terdapat
dalam kosmetika,
cairan lensa kontak

- ulkus yang menjalar


dari arah tepi tengah
kornea (serpinginous)
- berwarna kuning
keabu-abuan
berbentuk cakram
dengan tepi yang
menggaung
- eksotoksin S.
pneumonia ulkus
cepat menjalar ke
dalam dan
menyebabkan
perforasi kornea

Gambaran
ulkus

Sefazolin, Basitrasin
tetes, injeksi
subkonjungtiva dan
IV

Terapi

2.

- S. Saprofitikus
- berwarna putih
kekuningan disertai
infiltrate berbatas
tegas tepat dibawah
defek epitel
- apabila pengobatan
tidak adekuat
abses kornea disertai
edema stroma dan
infiltrasi leukosit
- hipopion seringkali
indolen yaitu reaksi
radangnya minimal

- biasanya dimulai
dengan ulkus kecil di
bagian sentral kornea
dengan infiltrate
berwarna keabu-abuan
disertai edema epitel
dan stroma
- mengeluarkan
discharge kental
berwarna kuning
kehijauan
- ulkus kecil ini cepat
melebar dan
mendalam serta
menimbulkan
perforasi kornea
Gentamisin,
tobramisin,
karbenisilin secara
lokal, subkonjungtiva
serta IV

Jamur
Faktor predisposisi
Ulkus kornea karena jamur banyak ditemukan yang
mungkin disebabkan oleh:
a. Penggunaan antibiotika berlebihan dalam waktu yang lama
b. Pemakaian kortikosteroid jangka panjang
c. Faktor ekologi berupa iklim tropis

Etiologi
a. Fusarium dan sefalosporium

: terdapat di tanah, udara,

sampah organic. Keduanya dapat menyebabkan infeksi pada


manusia melalui infeksi kulit, kuku, saluran kemih. Keduanya
menginfeksi kornea setelah suatu trauma yang disertai lecet
epitel yang mengindikasikan bahwa jamur terinokulasi di
kornea oleh benda yang melukai kornea.
b. Organism oportunistik seperti aspergilus dan kandida

Pada ulkus kornea yang disebabkan jamur dan bakteri akan


menyebabkan defek epitel yang dikelilingi leukosit

3.

polimorfonuklear
Pengobatan : anti jamur

Virus

10

Ulkus kornea oleh herpes simpleks cukup sering dijumpai.


Bentuk khas dendrite dapat diikuti oleh vesikel-vesikel kecil di
lapisan epitel apabila pecah ulkus. Apabila infeksi disebabkan
oleh virus, akan terlihat reaksi hipersensitivitas disekitarnya.
Manifestasi klinis dan pengobatan sama dengan keratitis herpes
simpleks.

11

4.

Protozoa Achantamoeba

Infeksi ini berkaitan dengan kebiasaan kebersihan lensa kontak


yang buruk (penggunaan air yang tidak steril),
berenang/berendam dengan menggunakan lensa kontak

peradangan yang serius


Lensa kontak secara langsung bersentuhan dengan mata dan
memicu gangguan mata melalui trauma, mengganggu
kelembaban kornea dan konjungtiva, penurunan oksigenasi
kornea, stimulasi respon alergi dan inflamasi, serta infeksi

Patofisiologi
Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui
cahaya, dalam perjalanan pembentukan bayangan di retina, karena jernih,
sebab susunan sel dan seratnya tertentu dan tidak ada pembuluh darah.
Biasan cahaya terutama terjadi di permukaan anterior dari kornea.
Perubahan dalam bentuk dan kejernihan kornea, segera mengganggu
pembentukan bayangan yang baik di retina. Oleh karenanya kelainan

12

sekecil apapun di kornea, dapat menimbulkan gangguan penglihatan yang


hebat terutama bila letaknya di daerah pupil.
Karena kornea avaskuler, maka pertahanan pada waktu peradangan
tidak segera datang, seperti pada jaringan lain yang mengandung banyak
vaskularisasi. Maka badan kornea, wandering cell dan sel-sel lain yang
terdapat dalam stroma kornea, segera bekerja sebagai makrofag, baru
kemudian disusul dengan dilatasi pembuluh darah yang terdapat dilimbus
dan tampak sebagai injeksi perikornea. Sesudahnya baru terjadi infiltrasi
dari sel-sel mononuclear, sel plasma, leukosit polimorfonuklear (PMN),
yang mengakibatkan timbulnya infiltrat, yang tampak sebagai bercak
berwarna kelabu, keruh dengan batas-batas tak jelas dan permukaan tidak
licin, kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbullah ulkus kornea.
Kornea mempunyai banyak serabut saraf maka kebanyakan lesi pada
kornea baik superfisial maupun profunda dapat menimbulkan rasa sakit
dan fotofobia. Rasa sakit juga diperberat dengan adanaya gesekan palpebra
(terutama palbebra superior) pada kornea dan menetap sampai sembuh.
Kontraksi bersifat progresif, regresi iris, yang meradang dapat
menimbulkan fotofobia, sedangkan iritasi yang terjadi pada ujung saraf
kornea merupakan fenomena reflek yang berhubungan dengan timbulnya
dilatasi pada pembuluh iris.
Penyakit ini bersifat progresif, regresif atau membentuk jaringan
parut. Infiltrat sel leukosit dan limfosit dapat dilihat pada proses progresif.
Ulkus ini menyebar kedua arah yaitu melebar dan mendalam. Jika ulkus
yang timbul kecil dan superficial maka akan lebih cepat sembuh dan
daerah infiltrasi ini menjadi bersih kembali, tetapi jika lesi sampai ke
membran Bowman dan sebagian stroma maka akan terbentuk jaringan ikat
baru yang akan menyebabkan terjadinya sikatrik.

I.3.3. Epidemiologi

13

Ulkus kornea dapat menyerang semua usia, terutama yang memiliki


faktor resiko seperti trauma okuler, pengguna lensa kontak, mata kering,
alergi berat, immunosupresi, dan infeksi umum.

I.3.4. Klasifikasi
Ulkus Kornea Sentral
- Ulkus infeksi akibat kerusakan pada
epitel
- Lesi terletak sentral, jauh dari
limbus vaskuler

Ulkus Kornea Perifer


(Marginal)
- Peradangan kornea bagian
perifer yang dapat berbentuk
bulat atau rectangular
(segiempat), dapat 1 atau > dan
terdapat daerah yang sehat
antara ulkus dengan limbus
- Peradangan kornea bagian
perifer berbentuk khas,
biasanya terdapat daerah jernih
antara limbus kornea dengan
tempat kelainannya

Definisi

- 50% ditemukan bersamaan


dengan konjungtivitis atau
blefaritis oleh Stafilokokus

Etiologi

Bakteri, virus, jamur


Faktor predisposisi:
- Erosi pada kornea
- Keratitis
- Pemakaian
kortikosteroid/imunosupresif
- Pasien diabetes mellitus

14

Diduga dasar kelainannya


adalah reaksi hipersensitivitas
terhadap eksotoksin
Stafilokokus
- Alergi
- Infeksi
- Penyakit kolagen vaskuler

- Hipopion (biasanya tidak selalu


menyertai ulkus). Hipopion
adalah penggumpalan sel-sel
radang yang tampak sebagai
lapisan pucat di bagian bawah
kamera anterior, khas untuk ulkus
kornea bakteri dan jamur

Manifestasi

klinis

Terapi

Autoimun
Bentuknya dapat berupa
fokal, multifocal atau difus
yang disertai masuknya PD
kedalamnya
Infiltrate dan ulkus marginal
mulai berupa infiltrate
linear/lonjong, terpisah dari
limbus oleh interval bening
Ulkus epitel atau
subepitelial
Penglihatan menurun
disertai perasaan sangat
nyeri, lakrimasi dan
fotofobia.
Blefarospasme, injeksi
konjungtiva, infiltrate atau
ulkus yang sejajar dengan
limbus
Kortikosteroid topical
Antibiotika
Disentisisasi dengan toksoid
stafilokokus

I.3.5. Manifestasi Klinis


Ulkus kornea akan memberikan gejala mata merah, sakit mata ringanberat, fotofobia, penglihatan menurun, kadang kotor. Ulkus kornea akan
memberikan kekeruhan berwarna putih pada kornea dengan defek epitel . Iris
sukar dilihat karena keruhnya kornea akibat edema dan infiltrasi sel radang
pada kornea.
Gejala yang dapat menyertai berupa penipisan kornea, lipatan
Descemet, reaksi jaringan uvea (akibat gangguan vaskularisasi iris) berupa
hipopion, hifema, dan sinekia posterior.

Kokus Gram +, S. aureus, S. pneumonia

: gambaran ulkus terbatas,

bulat atau lonjong, putih abu-abu. Daerah kornea yang tidak terkena akan
tetap jernih

15

Pseudomonas : ulkus terlihat cepat melebar, perlekatan bahan purulen

kuning hijau pada permukaan ulkus


Jamur : infiltrate abu-abu dikelilingi infiltrate halus di sekitarnya
(fenomena satelit)

I.3.6. Diagnosis
Diagnosis ulkus kornea ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
a. Anamnesis
Terdapat gejala subjektif yang dikeluhkan pasien seperti mata nyeri,
kemerahan, penglihatan kabur, silau apabila melihat cahaya, kelopak mata
terasa berat. Yang harus ditanyakan seperti riwayat trauma, pemakaian
lensa kontak, adanya penyakit autoimun, dan penggunaan kortikosteroid
jangka panjang.
b. Pemeriksaan fisik
Penurunan visus pada mata yang mengalami infeksi karena adanya
defek pada kornea sehingga menghalangi refraksi cahaya yang

masuk
Slit lamp

: seringkali iris dan pupil sulit dinilai karena adanya

kekeruhan pada kornea. Hiperemis didapatkan oleh karena adanya


injeksi konjungtiva ataupun perikornea.

c. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Tes Fluoresein : pada ulkus kornea, didapatkan hilangnya sebagian
permukaan kornea. Untuk melihat adanya daerah defek pada
kornea (warna hijau menunjukkan daerah defek pada kornea
sedangkan warna biru menunjukkan daerah yang intak).

16

Pewarnaan Gram dan KOH

: untuk menentukan mikroorganisme

penyebab. Sediaan hapus memakai larutan KOH (infeksi jamur)


Kultur : kadangkala dibutuhkan untuk mengisolasi organism

kausatif
Pemeriksaan agar darah (Sabouraud, trigikolat, agar coklat)

I.3.7. Diagnosis Banding


1.
2.
3.
4.

konjungtivitis
Keratitis/ulkus kornea
Iritis akut
Glaucoma akut

I.3.8. Pengobatan
Pengobatan umumnya adalah dengan sikloplegik, antibiotic topical
yang sesuai dan subkonjungtiva, dan pasien dirawat apabila mengancam
perforasi, dan perlunya obat sistemik. Pengobatan bertujuan untuk mematikan
bakteri dengan antibiotic, dan mengurangi reaksi radang dengan steroid.
Secara umum ulkus diobati sebagai berikut:
1.

tidak boleh dibebat, karena akan menaikkan suhu sehingga akan

2.
3.
4.

berfungsi sebagai incubator


secret yang terbentuk dibersihkan 4x1
debridement sangat membantu penyembuhan
antibiotika yang sesuai kausa, biasanya diberikan lokal kecuali keadaan
berat
Pengobatan dihentikan apabila sudah terjadi epitelisasi dan mata terlihat

tenang, kecuali bila penyebabnya pseudomonas yang memerlukan


pengobatan ditambah 1-2 minggu.
Diperlukan pembedahan (keratoplasti) apabila tidak sembuh dengan
pengobatan atau terjadinya jaringan parut yang mengganggu penglihatan.

17

BAB II
LAPORAN KASUS
OD ulkus kornea sentralis ec. Infeksi jamur
II.1

II. 2

Identitas Pasien
Nama

: Tn. R

Umur

: 40 tahun

Jenis Klamin

: laki-laki

Agama

: Islam

Alamat

: Ngisrep 5/3 Jambu, Kabupaten Semarang

Pekerjaan

: Buruh

Anamnesa
Keluhan utama

: mata kanan buram

Riwayat Penyakit sekarang : Buram dialami sejak 3 minggu SMRS.


Buram dirasakan semakin lama semakin memburuk. Awalnya, pasien
sedang mengendarai motor dan matanya terkena batu kecil. Saat itu mata
pasien hanya terlihat merah, kemudian hanya membilasnya dengan air
keran dan tidak menjalani pengobatan. Sejak saat itu penglihatan pasien
mulai buram. Nyeri (+), mata merah (+), mata silau (+) , nerocos (+),
berbelek (-).
Riwayat penyakit dahulu

: DM (-), HT (-), penggunaan kacamata (-)

Riwayat penyakit keluarga : DM (-), HT (-)


Riwayat alergi

: (-)

Riwayat trauma

: (-)

Riwayat sosial ekonomi dan pribadi


II.3

: penggunaan lensa kontak (-)

Pemeriksaan Fisik
Status generalis
Keadaan umum
: Baik
Kesadaran
: Compos Mentis
Tanda Vital
- Tekanan darah : 130/80 mmHg
- Nadi
: 86 x/menit

18

Respirasi rate
: 16 x/menit
Suhu
: 36,5C

Status oftalmologi
Pemeriksaan
Visus

OD

OS

1/300

6/6

Normal (palpasi)
Edema (-), spasme (+)
Injeksi konjungtiva (+)
Injeksi siliar (+)
Ulkus sentral ukuran 4x1,5

17,5 mmHg
Tenang
Tenang

Gerakan bola mata

Tekanan intraocular
Palpebra
Konjungtiva
Kornea

mm, > 2/3 stroma, infiltrate

Bilik mata depan

(+), keruh
Hipopion
Bulat, sentral, refleks cahaya

Dalam
Bulat, sentral, refleks cahaya

baik
Samar jernih

baik
Jernih

Iris dan pupil


Lensa
II. 4

Diferensial Diagnosis
Ulkus kornea bakteri
Ulkus kornea virus

II.5

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan mikrobiologi
- KOH : hifa (+)
- Gram : tidak terdeteksi

II.6

Diagnosis Kerja
OD ulkus kornea ac. Jamur

II.7

Jernih

Terapi
Natacyn ED setiap jam
Itraconazole 1 x 200 mg
Kemicetin EO 3 x OD
Cenfresh ED 6 x OD
Cendo Atropin 1% 3 x OD

19

II. 8

Prognosis

Quo ad vitam
Quo ad fungtionam
Quo ad sanationam
II.9

OD

OS

Ad bonam
Dubia ad bonam
Dubia ad bonam

Ad bonam
Dubia ad bonam
Dubia ad bonam

Komplikasi
Perforasi kornea
Sikatriks kornea
Kebutaan parsial/komplit

II.10 Edukasi
Patuh obat, dan control sesuai waktu yang ditentukan (1 minggu
kemudian)

20

BAB III
ANALISA KASUS
Analisa kasus berdasarkan SOAP
III.1

S ( Subjektif)
Pasien bernama Tn. R mengeluhkan penglihatan buram semenjak 3
minggu yang lalu. Buram dirasakan semakin lama semakin memburuk.
Awalnya, pasien sedang mengendarai motor dan matanya terkena batu
kecil. Saat itu mata pasien hanya terlihat merah, kemudian hanya
membilasnya dengan air keran dan tidak menjalani pengobatan. Sejak saat
itu penglihatan pasien mulai buram. Nyeri (+), mata merah (+), mata silau
(+) , nerocos (+), berbelek. Pasein tidak memiliki riwayat DM, HT, atau
penyakit infeksi sebelumnya serta tidak memiliki riwayat alergi dan
riwayat terjadinya trauma sebelumnya, penggunaan lensa kontak (-).

III.2

O (Objektif)
Berdasarkan pemeriksaan fisik yang dilakukan terhadap Tn.R ditemukan
hasil keadaan umum baik, kesadaran compos mentis tanda vital berupa
tekanan darah 130/80 mmHg. Status oftalmologi OS : dbn dan OD :
-

VOD : 1/300
Kornea : Ulkus sentral ukuran 4x1,5 mm, > 2/3 stroma, infiltrate

(+), keruh
COA : Hipopion

Pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan dengan KOH ditemukan hifa


(+).
III.3

A (Assesment)
Berdasarkan gejala klinis dan temuan klinis berupa penglihatan yang
buram, penurunan tajam penglihatan sampai 1/300, hipopion pada bilik
mata depan, ulkus pada kornea, serta pemeriksaan KOH dengan hifa (+)
yang ditemukan pada Tn.R , dapat ditegakkan diagnosis yaitu OD ulkus
kornea ec. Jamur

21

III.4

P (Planning)
Medika mentosa
Topikal

Cendotropin (Atropin) 1% ed. 3 kali 1 tetes sehari pada mata kanan


Merupakan obat atropin mendilatasikan pupil yang membantu
menghilangkan nyeri akibat spasme siliar, dan mencegah terjadinya
sinekia posterior dengan memisahkannya dari kapsul anterior

lensa.
Natacyn (Natamycin) 5% ed. setiap jam pada mata kanan
Merupakan obat antifungal dengan mekanisme kerja melalui
pengikatan molekul sterol dari membrane sel jamur. Efektif
terhadap jamur termasuk Candida, Aspergilus, Cephalosporium,

dan Fusarium.
Kemicetin (Chloramphenicol) 2% eo. 3 kali pada mata kanan
Merupakan obat antibiotic berspektrum luas yang bersifat
bakteriostatik, mekanisme kerjanya dengan menghambat sintesis

protein bakteri.
Cenfresh (Carboxymethil cellulose sodium 5 mg) 5 ml ed. 6 kali 1
tetes pada mata kanan
Tetes mata ini diindikasikan untuk mengurangi iritasi pada mata
kering, melindungi mata terhadap iritasi lebih lanjut, mengurangi
rasa tidak nyaman karena iritasi mata ringan.

Oral

Itraconazole 1 x 200 mg
Merupakan preparat antimikotik oral dengan mekanisme kerja
menghambat sitokrom p-450 dependen dari sistem enzim jamur
yang mensintesis ergosterol yang merupakan komponen vital
membrane sel jamur.

Daftar Pustaka
1. Gerhard K.Lang, M.D. 2000. A Short Textbook Ophthalmology.
2. T. Schlote, J. Rochrbach. 2006. Pocket Atlas of Ophthalmology.
3. Arthur Lim Siew Ming, Ian J. Constable. Color Atlas of Ophthalmology
Third Edition.
4. Ilyas, Sidharta. 2010. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Sagung Seto.

22

5. Paul Riordan-Eva dan John P.Whitcer. (2009). Vaughan & Asburys


General Ophtalmology 17th Edition. Alih Bahasa: Brahm U. Pendit /
Editor Bahasa Indonesia: Diana Susanto. Jakarta : EGC
6. Prof. dr. H. Sidarta Ilyas, SpM. (2008). Ilmu Penyakit Mata Edisi ketiga,
Cetakan kelima. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
7. James Bruce, Chris Chew, dan Anthony Bron. (2006). Lecture Notes
Oftalmologi, Edisi Sembilan. Jakarta : Erlangga
8. http://dailymed.nlm.nih.gov/dailymed/lookup.cfm?setid=d262661c-860d482e-aa8d-3cf1f252b32a
9. http://en.wikipedia.org/wiki/Chloramphenicol#Mechanism_of_action
10. http://pharmacyapotek.blogspot.com/2009/11/griseofulvin-ketokonazolitrakonazol.html

23