Anda di halaman 1dari 62

KASUS

Sindroma
Nefrotik
Pembimbing:
dr. Bertha Soegiarto, Sp.A
Presentan:
Yossico Ria Wibowo 2011061-112
Daniel Edbert 2011-061-114
Audrey
2011-061-115

Identitas Pasien
Nama: An. AG
Usia : 5 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Jl. Muara Karang Timur RT
06/RW 016
Agama: Islam
Suku : Jawa
Berat Badan : 15 kg (P10 menurut CDC)
Tinggi Badan : 103 cm (P10-25 menurut
CDC)

BMI : 14,14

(P10-25 menurut CDC)

Identitas Orang Tua


AYAH

IBU

Nama

Tn. O

Ny. N

Usia

41 tahun

34 tahun

Agama

Islam

Islam

Pekerjaan

Buruh

Ibu rumah tangga

Anamnesis
Dilakukan secara alloanamnesis dengan ibu
pasien tanggal 6 November 2013
Keluhan utama :
Bengkak pada kedua kelopak mata sejak
1 minggu SMRS
Keluhan tambahan :
Demam, bengkak pada kedua tungkai
bawah,
frekuensi
buang
air
kecil
berkurang dan volumenya lebih sedikit

Perjalanan Penyakit
5 hari SMRS

Riwayat
keluar
cairan
dari
telinga
kiri sejak
1
tahun
yang lalu

9 hari SMRS
- Demam
(+)
- Minum
parasetam
ol, lalu
demam
hilang

Pergi
ke
Puskesmas cek
urine
Dikatakan
menderita sakit
ginjal,
lalu
dirujuk
ke
RS
(tetapi pasien tidak
langsung
ke
RS
karena
masalah
biaya)

7 hari SMRS
- Bengkak hilang
timbul di kedua
kelopak mata
- Demam
kembali

hilang
dengan
parasetamol
- BAK
sedikit

MRS
Demam (-)
Bengkak kedua
kelopak mata
dan tungkai
bawah
Berobat ke Poli
Anak RSAJ
rawat
Membawa hasil
urinalisis dari
Puskesmas urin
agak keruh,
protein ++

3 hari SMRS
- Demam (-)
- Kedua
tungkai
bawah
mulai
bengkak

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat penyakit dengan keluhan serupa disangkal
Riwayat OMSK (keluar cairan dari telinga kiri) sejak
1 tahun yang lalu
Gigi bolong sejak usia 5 tahun
Riwayat penyakit lain disangkal

Riwayat Keluarga
Anak keempat dari empat bersaudara
Tinggal di rumah orang tua, 8 orang penghuni
(termasuk pasien)
Kakak pertama pasien (laki-laki) yang berusia 13
tahun pernah menderita keluhan yang serupa
saat usia 11 tahun dan didiagnosis menderita
penyakit ginjal.
Kakek (dari ibu) yang berusia 68 tahun pernah
menjalani operasi pengangkatan ginjal kiri saat
usia 50 tahun.

Riwayat Persalinan dan


Kelahiran
Riwayat Prenatal
Antenatal care sebanyak 10 kali di bidan
Tidak ada penyulit selama kehamilan
Tidak mengkonsumsi obat-obatan selama hamil
Riwayat Kelahiran
Lahir secara spontan pervaginam di bidan
Usia kehamilan 37-38 minggu
BBL = 3400 gram (P75-90), PBL = 50 cm (P7590),
Setelah lahir, bayi langsung menangis, tidak
kuning

Riwayat Makan
ASI eksklusif 6 bulan dan dilanjutkan
sampai usia 3 tahun
Usia 6 bulan: makanan lunak (bubur susu)
Usia 1 tahun: makanan padat (nasi
lembek/nasi tim, sayur sop, lauk-pauk)
Sekarang: nasi, sayur-sayuran, lauk-pauk
seperti telur dan daging, serta buah-buahan

Riwayat Imunisasi
Status imunisasi dasar tidak lengkap

Keterangan:
BCG (-)
DPT (-)
Polio (-)

Riwayat Tumbuh
Kembang
Status
perkembangan
sesuai usia
menurut Denver II
Pasien dapat :
- Mencontoh
- Mengartikan 7 kata
- Menghitung 5 kubus
- Berdiri 1 kaki 6
detik
- Berjalan tumit ke
jari kaki

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : tampak sakit sedang
Kesadaran : compos mentis
Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 110/80 mmHg (N: 90108/53-71 mmHg)
Nadi : 119x/menit (teratur, kuat, penuh)
(N: 65-110x/menit)
Laju napas : 24x /menit (N: 20-24x/menit)
Suhu aksila : 37C

Pemeriksaan Fisik
Berat badan
: 15 kg (N=18 kg)
(p10)
Tinggi badan
: 103 cm (N=108 cm)
(p10-25)
Weight for Age : 83,3% (CDC 2000)
Height for Age : 95,4% (CDC 2000)
Weight for Height : 93,75% (N = 16 kg) (CDC
2000)
Kesimpulan
Status gizi baik menurut CDC
Status pertumbuhan baik menurut CDC

Pemeriksaan Fisik
Kepala :
Normosefali, deformitas (-), UUB sudah tertutup
Mata :
Edema palpebra +/+, konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/ Telinga :
Meatus akustikus eksternus +/+, membran timpani +/-, sekret
-/+
Hidung :
Deviasi septum -, sekret -/ Tenggorokan :
Faring tidak hiperemis, tonsil T1/T1
Mulut :
Mukosa oral basah, karies dentis pada P1 kanan bawah, PI
kiri atas dan bawah
Leher :
Trakea teraba di tengah, pembesaran KGB (-), massa (-)

Pemeriksaan Fisik
Thoraks
Paru :
Inspeksi : Gerakan pernapasan telihat simetris
Palpasi : Gerakan pernapasan teraba simetris
Perkusi : Sonor pada kedua lapangan paru
Auskultasi : Suara napas bronkovesikular +/+,
ronki -/-, wheezing -/ Jantung :
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS IV linea
midklavikularis sinistra
Perkusi : Kesan kardiomegali Auskultasi : Bunyi jantung 1 dan 2 reguler,
murmur -, gallop -

Pemeriksaan Fisik
Abdomen :
Inspeksi : tampak cembung
Palpasi : supel, hepar dan lien tidak teraba,
nyeri tekan (-), tes undulasi (-)
Perkusi : timpani di seluruh kuadran, shifting
dullness (-)
Auskultasi : bising usus 4-5x/menit
Punggung:
Inspeksi : Gerakan pernapasan terlihat simetris
Palpasi : Gerakan pernapasan teraba simetris
Perkusi : Sonor pada kedua lapangan paru
Auskultasi : Suara napas bronkovesikular +/+,

Pemeriksaan Fisik
Ekstremitas: akral hangat, CRT<2
detik, pitting edema +/+ pada
ekstremitas bawah
Kulit : turgor kulit baik
Alat kelamin : labia mayora menutupi
labia minora, edema -/-

Resume
Anamnesis
Edema palpebra bilateral sejak 7 hari SMRS
Demam 9 hari dan 7 hari SMRS hilang dengan
obat penurun panas
Oligouria sejak 7 hari SMRS
Edema pretibial sejak 3 hari SMRS
Urinalisis awal dari Puskesmas urin agak keruh,
protein ++
Riwayat OMSK sejak 1 tahun SMRS terakhir
keluar sekret 3 hari SMRS
Riwayat karies dentis sejak 8 bulan SMRS
Riwayat penyakit dengan gejala serupa pada

Resume
Pemeriksaan Fisik

Hipertensi (TD: 110/80 mmHg), (N:


119x/m (TKP), RR: 24x/m, S: 37
Mata: edema palpebra +/+
Mulut: karies dentis pada P1
kanan bawah, PI kiri atas dan
bawah
Telinga: membran timpani +/-,
sekret -/+
Ekstremitas: pitting edema +/+
pada ekstremitas bawah

Diagnosis Banding
Sindrom nefrotik (paling banyak
pada anak: minimal change disease
dan
focal
segmental
glomerulosclerosis)

Sindrom nefritik (paling banyak


pada anak: post Streptococcal
glomerulonephritis)

Analisis Diagnosis - Anamnesis


Sindrom
Nefrotik

Sindrom
Nefritik

Kasus

BAK darah

-/+

BAK keruh

-/+

Riwayat infeksi
(ISPA/OMSK)

-/+

Oliguria

-/+

+ (?)

Gejala
Edema

Urinalisis Puskesmas
Urin keruh

Proteinuria

+++

+/++

++

Hematuria

-/mikrohematur + (mikro/gross)
ia

Analisis Diagnosis PF

Gejala
Hipertensi
Edema
generalisat
a
Efusi
pleura
Asites

Sindrom
Nefrotik
-/+
+

Sindrom
Nefritik
+
+

Kasu
s
+
+

-/+

-/+

-/+

-/+

Analisis Diagnosis
Ditemukan gejala khas dari anamnesis:
edema palpebra dan pretibia bilateral
Terdapat riwayat OMSK dan karies
dentis yang dapat menjadi fokus infeksi
sebagai pencetus
Pemeriksaan fisik menunjukkan:
Hipertensi
Edema palpebra dan pretibia bilateral
Perforasi membran timpani AS OMSK AS

Karies dentis pada P1 kanan bawah,


PI kiri atas dan bawah

Analisis Diagnosis
Kedua DD belum dapat disingkirkan
karena gejala yang serupa
Belum memenuhi kriteria diagnosis
dibutuhkan hasil laboratorium lebih
lanjut
Diagnosis sementara : sindroma
nefritik riwayat OMSK dan
karies,
hipertensi,
proteinuria
hanya ++

Tatalaksana Awal
Rawat dalam bangsal
Pasang stopper
Diet rendah garam 1 gr/hari, RDA 1090 kkal
terdiri dari protein 14 gr, lemak 18 gr,
karbohidrat 217 gr, kolesterol maks 300
mg/hari
Pantau ketat urine output
Pantau tanda-tanda vital (terutama tekanan
darah) tiap 4 jam
Periksa laboratorium: darah lengkap, urine
lengkap,
ureum/kreatinin,
protein
total,
albumin, globulin, elektrolit, profil lipid , fungsi
hati

Pemeriksaan Laboratorium
6 November 2013
Darah
- LED: 100 (<15)
- Protein total: 3,2 (6-8,3)
- Albumin: 1,47 (4-5,3)

Urinalisis
- Eritrosit: 8-10 (0-1/LPB)
- Protein: + (-)
- pH: 7 (asam)
- Darah samar: ++ (-)

7 November 2013
Darah
- Leukosit: 16.500 (6.000-15.000)
- Hitung jenis: PMN 87 (45-70)
- LED: 98 (<15)

Profil lipid
- Kolesterol total: 579 (0-200)
- Trigliserida: 180 (0-150)
- LDL kolesterol direk: 510 (100130)

ASTO kuantitatif negatif (N


= negatif)

Analisis Diagnosis
lab)

Hipoalbuminemia
Hematuria
Proteinuria +/++
Hiperkolesterolemia
ASTO (-)

(pemeriksaan

Working Diagnosis
Berdasarkan anamnesis dan PF serta
pemeriksaan penunjang yang telah
dilakukan
maka
dapat
ditegakkan
working diagnosis dari kasus ini adalah:

Sindrom nefrotik

Follow-up
7 Nov (HR 2, 8 Nov (HR 3,
HS 9, HD 1) HS 10, HBD
1)
S:
S:
- Demam 1 - Demam
periode
(-),
(38.9C pk - Bengkak
18.00)
kedua
- Bengkak
kelopak
kedua
mata (+)
kelopak
- Bengkak
mata (-)
kedua
- Bengkak
tungkai
kedua
bawah (+/
tungkai
+)
bawah (-)

9 Nov (HR
4, HS 11,
HBD 2)
S:
- Bengkak
kedua
kelopak
mata (-)
- Bengkak
kedua
tungkai
bawah (+/
+)

10 Nov (HR
5, HS 12,
HBD 3)
S:
- Bengkak di
mata +/+
minimal
- Bengkak
kedua
tungkai +/
+

11 Nov (HR
6, HS 13,
HBD 4)
S:
- Bengkak di
mata -/- Bengkak
kedua
tungkai -/-

7 Nov (HR 2,
HS 9, HD 1)
O:
- KU: sakit
sedang
- Kesadaran:
CM
- TD = 110/80
mmHg
- HR =
116x/menit
- RR =
24x/menit
- T = 37C
- B = -307
- UO = 1,5
cc/kg/jam
- Lingkar perut
= 47, 45,
46.5 cm
- Mata =
edema
palpebra -/- Abdomen =
shifting
dullness -

8 Nov (HR 3,
HS 10, HBD 1 )
O:
- TD= 100/50
mmHg
- HR =
112x/menit
- RR =
28x/menit
- T = 36,3C
- B = -537,5
- UO = 1,36
cc/kg/jam
- Lingkar perut
= 47, 45,
46.5 cm
- Mata =
edema
palpebra +/+
- Ekstremitas
= pitting
edema
tungkai
bawah +/+

9 Nov (HR 4,
HS 11, HBD 2 )
O:
- TD= 110/70
mmHg
- HR =
100x/menit
- RR =
20x/menit
- T = 36,5C
- B = -227,5
- UO = 0,35
cc/kg/jam
- Lingkar
perut = 46,
47, 48 cm
- Mata =
edema
palpebra +/
+
- Abdomen =
shifting
dullness (+)
- Ekstremitas
= pitting
edema

10 Nov (HR 5,
HS 12, HBD 3 )
O:
- TD = 100/60
mmHg
- HR =
80x/menit
- RR =
32x/menit
- T = 36,6C
- B = -617
- UO = 2,34
cc/kg
- Lingkar perut
= 44,45,44
cm
- Mata =
edema
palpebra +/+
minimal
- Abdomen =
shifting
dullness (+)
- Ekstremitas
= pitting
edema

11 Nov (HR 6,
HS 13, HBD 4 )
O:
- TD = 100/60
mmHg
- HR =
80x/menit
- RR =
24x/menit
- T = 36,6C
- B = -338
- UO = 1,6
cc/kg
- Lingkar perut
= 44,45,44
cm
- Mata =
edema
palpebra -/- Abdomen =
shifting
dullness - Ekstremitas
= pitting
edema
tungkai

7 Nov (HR 2, HS 9,
HD 1)
A:
Anak perempuan
usia 5 tahun, BB 15
kg, TB 103 cm, HR
2, HS 11, HD 1
dengan:
Suspek sindrom
nefrotik DD/
post
Streptococcal
glomerulonephr
itis
OMSK AS
Status gizi baik
menurut CDC
Status
pertumbuhan
baik menurut
CDC
Status
perkembangan
sesuai usia
menurut Denver
II
Status imunisasi

8 Nov (HR 3,
HS 10, HBD 1 )
A:
Anak perempuan
usia 5 tahun, BB
14,5 kg, TB 103
cm, HR 4, HS 13,
HBD 2

9 Nov (HR 4,
HS 11, HBD 2 )
A:
Anak perempuan
usia 5 tahun, BB
14 kg, TB 103
cm, HR 4, HS 13,
HBD 2 dengan:
Sindrom
nefrotik

10 Nov (HR 5,
HS 12, HBD 3 )
A:
Anak perempuan
usia 5 tahun, BB
13,5 kg, TB 103
cm, HR 5, HS 14,
HBD 3

11 Nov (HR 6,
HS 13, HBD 4 )
A:
Anak perempuan
usia 5 tahun, BB
13,5 kg, TB 103
cm, HR 6, HS 15,
HBD 4

7 Nov (HR 2, HS
9, HD 1)
P:
- Rawat
dalam
bangsal
- Diet terlampir
- Amoxicillin
clavulanat
syr
250mg/5ml
diberikan 3x5 ml
(50 mg/kg/hari)
- Paracetamol pulv
200 mg tiap 4
jam jika demam
>37.7C
(13
mg/kg/dosis)
- Pantau
intake
cairan
oral
berdasarkan IWL
+ urine output
- Pantau TD/2 jam,
UO
dan
balance/12 jam
- Timbang BB dan
ukur
lingkar
perut setiap hari
- Cek ASTO dan
urinalisis ulang

8 Nov (HR 3, HS 9 Nov (HR 4, HS 10 Nov (HR


10, HBD 1 )
11, HBD 2 )
5, HS 12,
HBD 3 )
P:
P:
P: idem
- Tarivid eardrop - Prednison
40
2x4 gtt AS
mg/hari
diberikan 3x1
- Pantau intake
cairan
oral
pulv
(15mgberdasarkan
15mg-10mg)
IWL + UO tiap
(2,67 mg/kg /
8 jam
24 jam)
TD/4 - Furosemid
- Pantau
jam, UO dan
2x15 mg IV (2
balance/8 jam
mg/kg/24 jam)
- Ranitidine 3x15
mg
IV
(3,2
mg/kg/24 jam)

11 Nov (HR 6, HS
13, HBD 4 )
P:
Pasien boleh
pulang, dengan
obat pulang:
- Amoxicillin
clavulanat
syr
250mg/5ml
diberikan 3x5 ml
(55,5 mg/kg/hari)
H5D12 diberikan
sampai hari ke-10
- Tarivid
eardrop
2x4 gtt AS (H4D6)
- Prednison
40
mg/hari pc (1515-10)
(2,96
mg/kg/24
jam
H4D6
- Ranitidin 3x15 mg
IV (3,3 mg/kg/24
jam)
- Furosemid 2x15
mg
PO
(2,3

Analisis Gizi / Diet


Anak perempuan, usia 5 tahun, BB 15
kg, TB 103 cm
Energi
= 135,3 - (30.8 x age) + (PA x 26,7 x
weight) + (903 x height) + 20
=135,3 (30,8 x 5) + (1 x 26,7 x 15) +
(903 x 1,03) + 20
= 135,3 154 + 150 + 962,02 + 20
= 1113,32 kkal = 1113 kkal

Analisis Gizi / Diet


Protein = 0,95 x 15 kg = 14,25 gr/hari
= 14 gr/hari (57 kkal)
Lemak = 15% x 1113 kkal = 166,95 kkal
= 18,55 gr/hari = 19 gr/hari
Karbohidrat = 1113 kkal 57 kkal
166,95 kkal = 889,05 kkal = 222,26
gr/hari = 222 gr/hari
Garam 1 gr/hari
Kolesterol < 300 mg

Analisis Gizi / Diet


Diet rendah garam 1 gr/hari, RDA
100% 1113 kkal terdiri dari
protein 14 gr, lemak 19 gr,
karbohidrat 222 gr, kolesterol
maks 300 mg/hari

TINJAUAN
P
USTAKA
Sindrom Nefrotik

Definisi
Suatu manifestasi penyakit glomerular
yang
ditandai
dengan
proteinuria
nephrotic range dan trias temuan klinis
yang berhubungan dengan kehilangan
protein
urin
dalam
jumlah
besar:
hipoalbuminemia,
edema,
dan
hiperlipidemia

Epidemiologi
Sindroma nefrotik anak:dewasa
=15:1
Insiden:
2-3/100,000 anak pertahun
>> steroid-sensitive minimal change
disease.

Etiologi
Kongenital
Primer/idiopatik (90%)
minimal change disease (85%)
focal segmental glomerulosclerosis (10%)
mesangial proliferation (5%)
Sekunder, mengikuti penyakit sistemik (10%)
Lupus eritematosus sistemik (LES)
Purpura Henoch Schonlein
Nefropati membranosa
Glomerulonefritis membranoproliferatif

Patofisiologi
Kelainan pada
ginjal

Glikoprotein dalam
dinding kapiler
glomerulus hilang

volume
intravaskuler

Proteinuri
a
Hipoalbuminu
ria
tekanan onkotik
plasma

perfusi ginjal

Hipertensi
Aktivasi sistem RAA

Transudasi cairan dari


intravaskuler ke
interstisial

Edema

reabsorpsi air
ADH

Manifestasi klinis
Edema palpebra atau pretibia
Berat asites, efusi pleura, edema
genitalia.
Terkadang:
oliguria dan gejala infeksi
nafsu makan berkurang
diare
sakit perut suspek peritonitis atau hipovolemia

Diagnosis
Keadaan klinis yang ditandai dengan gejala:
1. Proteinuria masif
- >40 mg/m2 LPB/jam atau
- >50 mg/kg/hari atau
- rasio protein/kreatinin pada urin sewaktu > 2
mg/mg atau dipstik 3+
2. Hipoalbuminemia < 2,5 g/dL
3. Edema
4. Dapat disertai hiperkolesterolemia > 200
mg/dL

Pemeriksaan Penunjang
1. Protein urin kuantitatif urin 24 jam atau
rasio protein/kreatinin pada urin pertama pagi
hari.
2. Pemeriksaan darah
Darah lengkap (Hb, leukosit, hitung jenis,
trombosit, Ht, LED)
Albumin dan kolesterol serum
Ureum, kreatinin serta klirens kreatinin
Kadar komplemen C3
Curiga SLE komplemen C4, ANA, anti ds-DNA

Pengobatan
Kortikosteroid
Prednison atau prednisolon
A. TERAPI INISIAL
Prednison 60 mg/m2 LPB/hari atau 2
mg/kgbb/hari (max 80 mg/hari) dalam dosis
terbagi
Prednison dosis penuh (full dose) inisial selama 4
minggu
Remisi dilanjutkan dengan 4 minggu kedua
dengan dosis 40 mg/m2 LPB (2/3 dosis awal)
atau 1,5 mg/kgbb/hari, secara alternating
(selang sehari), 1 x sehari setelah makan pagi
Turunkan dosis sebanyak 5-10 mg/m setiap
minggu selama 4 minggu lalu stop

B. PENGOBATAN SINDROM NEFROTIK RELAPS


Prednison dosis penuh sampai remisi (maksimal 4
minggu) dosis alternating selama 4 minggu.
Remisi dengan proteinuria ++, tanpa edema
Cari pemicu terapi
Ada infeksi antibiotik 5-7 hari
Penicillin V diberikan saat proteinuria, hentikan saat remisi

Remisi dengan proteinuria ++, edema


Diagnosis ditegakkan
Terapi dimulai

C.
PENGOBATAN
SINDROMA
NEFROTIK RELAPS SERING ATAU
DEPENDEN STEROID
Terdapat 4 pilihan pengobatan:
1.
2.
3.
4.

Pemberian steroid jangka panjang


Pemberian levamisol
Pengobatan dengan sitostatik
Pengobatan dengan siklosporin,
mikofenolat mofetil

Dicari
fokus
infeksi
tuberkulosis, infeksi di gigi,

atau

seperti
radang

E. PENGOBATAN SINDR NEFROTIK RESISTEN STEROID

1. Siklofosfamid (CPA)
Jika mengalami remisi dengan pemberian CPA lalu
relaps prednison
Bila setelah steroid dosis penuh tidak terjadi remisi
atau menjadi dependen steroid kembali siklosporin

2. Siklosporin (CyA)
Pada sindr nefrotik resisten steroid remisi total 20%
ES hipertensi, hiperkalemia, hipertrikosis, hipertrofi
gingiva,
dan
juga
bersifat
nefrotoksik
(lesi
tubulointerstisial)

Perlu pemantauan terhadap:


Kadar
CyA
dalam
darah:
nanogram/mL
Kadar kreatinin darah berkala
Biopsi ginjal setiap 2 tahun

150-250

3. Metilprednisolon pulse
Dengan metilprednisolon pulse 82 minggu +
prednison oral dan siklofosfamid / klorambusil 8-12
minggu.
Metilprednisolon 30 mg/kgbb (maks 1000 mg)
dilarutkan dalam 50-100 mL glukosa 5%, diberikan
dalam 2-4 jam

Terapi Farmakologis Lain


1. ANTI HIPERTENSI
. Tujuan : untuk mengurangi proteinuria
. ACEI efek renoprotektor
. Golongan 1. ACEI
kaptopril 0.3 mg/kgbb diberikan 3 x
sehari
enalapril 0.5 mg/kgbb/hari dibagi 2
dosis
lisinopril 0,1 mg/kgbb dosis tunggal
. Golongan 2. ARB
losartan 0,75 mg/kgbb dosis tunggal

Terapi Farmakologis Lain


2. Ranitidine 2mg/kg 2 dd 1 selama
terapi steroid
3. Albumin
Indikasi :
Hipovolemia
Edema
Selulitis
Peritonitis primer
Efusi pleura

Komplikasi
1. Hipovolemia
Infus NaCl fisiologis cepat 15-20 mL/kgbb dalam
20-30 menit, diikuti 1 g/kg 20% albumin (5ml/kg)
selama 4 - 6 jam
Furosemide IV 2mg/kg di tengah transfusi
dapat diulang pada akhir pemberian albumin
Syok 10ml/kg 4.5% albumin
Bila hipovolemia teratasi, pasien tetap oliguria
furosemid 1-2 mg/kgbb IV
2. Hiperlipidemia
. Diet rendah lemak
. Inhibitor HMgCoA reduktase (statin)

Komplikasi
3.

Infeksi
Selulitis dan peritonitis primer (biasanya kuman Gram
negatif dan Streptococcus pneumoniae)
Penisilin parenteral dikombinasi dengan sefalosporin 3rd
gen (sefotaksim atau seftriakson) selama 10-14 hari.
Pneumonia dan ISPA
Hindari kontak dengan pasien varisela

4. Hipokalsemia
Penyebab:
Steroid jangka panjang (> 3 bulan) osteoporosis dan
osteopenia
Kebocoran metabolit vitamin D2
Terapi: kalsium 250-500 mg/hari, vitamin D (125-250 IU)

Indikasi Biopsi Ginjal


1. Pada presentasi awal
a. Awitan sindrom nefrotik pada usia <1 tahun
atau lebih dari 16 tahun
b. Terdapat hematuria nyata, hematuria
mikroskopik persisten, atau kadar komplemen
C3 serum yang rendah, hipertensi menetap.
c. Penurunan fungsi ginjal yang tidak disebabkan
oleh hipovolemia
d. Tersangka sindrom nefrotik sekundere.
2. Setelah pengobatan inisial
a. SN resisten steroid
b. Sebelum memulai terapi siklosporin

Indikasi Merujuk Kepada Ahli


Nefrologi Anak
1. Awitan sindrom nefrotik pada usia di bawah 1
tahun, riwayat penyakit sindrom nefrotik di
dalam keluarga
2. Sindrom nefrotik dengan hipertensi, hematuria
nyata persisten, penurunan fungsi ginjal,
atau disertai gejala ekstrarenal, seperti artritis,
serositis, atau lesi di kulit
3. Sindrom nefrotik dengan komplikasi edema
refrakter, trombosis, infeksi berat, toksik
steroid
4. Sindrom nefrotik resisten steroid
5. Sering relaps atau dependen steroid

Prognosis
Pada pengobatan kortikosteroid inisial
94% SNKM (sindrom nefrotik kelainan minimal)
remisi total (responsif)
80-85% GSFS (glomerulosklerosis fokal segmental)
tidak responsif (resisten steroid)
Prognosis selama pengamatan 20 tahun
4-5% SNKM menjadi gagal ginjal terminal, 25%
focal segmental glomerulosclerosis menjadi
gagal ginjal terminal dalam 5 tahun, lainnya
disertai penurunan fungsi ginjal
Acuan --> respons pengobatan steroid >
gambaran patologi anatomi