Anda di halaman 1dari 11

Kesultanan Cirebon

Disusun oleh : Agiv Shafira Nuralya


Dairoh
Fariz I. Nugraha
Lika Poernamasari
Marhatun
Trivona T. Dewi

Jalan Soekarno Hatta, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Jawa


Barat 45216, Indonesia

1 | Page

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan
Hinayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya
yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk
maupun pedoman bagi pembaca dalam mengetahui tentang materi Kesultanan Cirebon.
Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para
pembaca, sehingga kita dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat
lebih baik.
Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang.
Oleh kerena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat
membangun untuk kesempurnaan makalah ini

Indramayu,

Februari 2015

Penyusun

2 | Page

DAFTAR ISI

Pendahuluan.........................................................................................................2
Latar Belakang.....................................................................................................2
Rumusan Masalah.................................................................................................2
Tujuan Pembahasan..............................................................................................2
Pembahasan...........................................................................................................3
2.1 Awal Terjadinya Persengketaan di Kerajaan Cireb ........................................3
2.2 Dampak Kedatangan VOC Pada Kerajaan Cirebon.............4
2.3 Hasil ajaran Islam dari Perkembangan Kerajaan Cirebon yang terkenal..5
Penutup..................................................................................................................7
Simpulan................................................................................................................7
Daftar Pustaka........................................................................................................8

3 | Page

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kerajaan Cirebon adalah salah satu Kerajaan Islam yang berdiri ditanah Jawa selain
Kerajaan Demak, Kerajaan Pajang, Kerajaan Pajajaran dan lain sebagainya. Dalam
proses perkembangannya, Kerajaan Cireon terkenal dengan Kerajaan yang
mengalami perkembangan yang begitu pesat terutama dibidang perdagangan dan
penyebaran agama yakni islam.
Dalam bidang perdagangan, Kerajaan Cirebon memiliki letak yang strategis
sehingga dalam proses perdagangan yakni pelayaran begitu maju dengan sistem
pelayarannya. Sedangkan dalam proses penyebaran agama islam mengalami
puncak keemasan yakni pada masa Syarif Hidayatullah yang biasa dikenal dengan
Sunan Gunungjati, salah seorang wali sanga.(Marwati & Nugroho, 2008:59)
Namun disamping masa keemasan Kerajaan Cirebon tersebut, sekitar pada akhir
abad ke-17 Kerajaan Cirebon mengalami kemunduran. Salah satu faktor
disebabkannya kemunduran dari Kerajaan Cirebon yakni kedatangan bangsa Eropa
terutama Belanda dengan persatuan dagangnya VOC yang ingin menguasai dan
memonopoli perdagangan di Kerajaan Cirebon. Karena pada proses
perdagangannya, Kerajaan Cirebon terkenal dengan ekspor padinya.
Kedatangan VOC yang dianggap sebagai ancaman ini tidak serta merta diterima
oleh Kerajaan Cirebon. Sehingga tertulis dari beberapa babad tanah jawi, Kerajaan
Cirebon melakukan beberapa Perjanjian dengan pihak Belanda yakni VOC.
Disisi lain, Kerajaan Cirebon kian mengalami kemunduran saat kepemerintahan kian
terpecah karena kekosongan kekuasaan. Terjadinya kekosongan kekuasaan inilah
yang menyebabkan pihak lain yakni dari Kerajaan Banten dengan rajanya, Raja
Agung Tirtayasa mengangkat dua orang pangeran yang telah berhasil ia
selamatkan. Yaitu Pangeran Mertawijaya sebagai Sultan Kasepuhan & Pangeran
Kertawijaya sebagai Sultan Kanoman,sedangkan Pangeran Wangsakerta yang telah
bekerja keras selama 10 tahun lebih hanya diberi jabatan kecil, taktik pecah belah
ini dilakukan untuk mencegah agar Cirebon tidak beraliansi lagi dengan Mataram.
Meskipun mengalami beberapa faktor yang menyeabkan perpecahan, namun
Kerajaan Cirebon juga meninggalkan beberapa ajaran agama Islam yang terkenal
yakni ajaran Tasawuf dan naskah-naskah kuno.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalahnya, yakni antara lain :
1. Bagaimana awal dari terjadinya Persengketaan di Kerajaan Cirebon?
2. Bagaimana dampak kedatangan VOC pada Kerajaan Cirebon?
3. Bagaimana Bagaimana hasil akhir dari Perkembangan Kerajaan Cirebon yang
terkenal?
1.3 Tujuan
Adapun tujuannya, yakni antara lain :
4 | Page

1. Untuk mendiskripsikan bagaimana awal dari terjadinya Persengketaan di


Kerajaan Cirebon.
2. Untuk mendiskripsikan bagaimana dampak kedatangan VOC pada Kerajaan
Cirebon.
3. Untuk mendiskripsikan bagaimana hasil akhir dari Perkembangan Kerajaan
Cirebon yang terkenal.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Awal Terjadinya Persengketaan di Kerajaan Cirebon
Dalam proses persengketaan di Kerjaan Cirebon yang berakhir dengan adanya
perpecahan, terjadi dalam dua proses. Yakni Perpecahan I dan Perpecahan II.
Perpecahan I mulai terjadi yakni sekitar tahun 1677.
Perpecahan kian dapat dilihat yakni seelah Panembahan Ratu II meninggal pada
tahun 1650, sehingga kekuasaannya di Cirebon kemudian digantikan oleh anaknya
dengan gelar Panembahan Girilaya. Kesultanan Cirebon terpecah setelah
sepeninggal Panembahan Girilaya dengan kekuasaan antara 1650 - 1652. Karena
setelah itu, Kesultanan Cirebon dibagi dan erpecah sesuai dengan keinginannya
sendiri.
Ini merupakan babak baru bagi keraton Cirebon, dimana kesultanan terpecah
menjadi tiga dan masing-masing berkuasa dan menurunkan para sultan berikutnya.
Dengan demikian, para penguasa Kesultanan Cirebon berikutnya adalah:
" Sultan Keraton Kasepuhan, Pangeran Martawijaya, dengan gelar Sultan Sepuh Abil
Makarimi Muhammad Syamsudin (1677-1703)
" Sultan Kanoman, Pangeran Kartawijaya, dengan gelar Sultan Anom Abil Makarimi
Muhammad Badrudin (1677-1723)
" Pangeran Wangsakerta, sebagai Panembahan Cirebon dengan gelar Pangeran
Abdul Kamil Muhammad Nasarudin atau Panembahan Tohpati (1677-1713).
Perubahan gelar dari Panembahan menjadi Sultan bagi dua putra tertua Pangeran
Girilaya ini dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa, karena keduanya dilantik menjadi
Sultan Cirebon di ibukota Banten. Sebagai sultan, mereka mempunyai wilayah
kekuasaan penuh, rakyat, dan keraton masing-masing. Pangeran Wangsakerta tidak
diangkat menjadi sultan melainkan hanya Panembahan. Ia tidak memiliki wilayah
kekuasaan atau keraton sendiri, akan tetapi berdiri sebagai kaprabonan (paguron),
yaitu tempat belajar para intelektual keraton.
Dalam tradisi kesultanan di Cirebon, suksesi kekuasaan sejak tahun 1677
berlangsung sesuai dengan tradisi keraton, di mana seorang sultan akan
menurunkan takhtanya kepada anak laki-laki tertua dari permaisurinya. Jika tidak
ada, akan dicari cucu atau cicitnya. Jika terpaksa, maka orang lain yang dapat
memangku jabatan itu sebagai pejabat sementara.
Awal dari terpecahnya ketiga kesultanan ini seperti yang telah disebutkan
sebelumnya diatas, bahwa pertama terjadi sebuah kekosongan kekuasaan. Setelah
meninggalnya Panembahan Girilaya, Pangeran Wangsakertalah yang bertanggung
5 | Page

jawab atas kekuasan kerajaan selanjutnya. Ditanah Jawa sendiri terdapat dua
kekuatan yang begitu kuat, yakni dari Mataram dan Banten.
Panembahan Girilaya dan Sultan Ageng merupakan keturunan yang sama yitu dari
Pajajaran, sedangkan Panembahan Girilaya sendiri pula adalah menantu dari
Mataram. Inilah yang kian menghimpit keadaan Cirebon diantara kedua kerajaan
tersebut. Tidak hanya kondisi yang terhimpit dari kedua kekuasaan dua kerajaan
yang begitu kuat, namun kedua kerajaan itu pula mulai merasa curiga dan berpikir
buruk dengan Cirebon.
Kesultanan Banten mencurigai Panembahan Girilaya yang lebih mendekatkan diri
kepada pihak Mataram, sedangkan dari pihak Mataram sendiri mencurigai Kerajaan
Cirebon tidak sungguh-sungguh mendekatkan diri, karena dilain pihak pula
Panembahan Girilya dengan Raja Kerajaan Banten merupakan sama-sama dari
keturunan Kerajaan Pajajaran.
Mananggapi hal tersebut dari kekosongan kekuasaan, Pangeran Wangsakerta
meminta bantuan dan pertolongan ke Kesultana Banten, yakni Sultan Ageng
Tirtayasa yang mana beliau melihat adanya peluang untuk memperbaiki hubungan
diplomatik Cirebon dengan Banten. Tujuan akhir dari taktik Sultan Ageng Tirtayasa
ini ialah agar Cirebon tidak berhubungan lagi dengan Mataram.
Antara Cirebon dan Banten sendiri pada awalnya memiliki hubungan yang begitu
baik. Banten begitu memuliakan raja-raja Cirebon dan bahkan menganggap
Cirebon sebagai orang suci. Ini karena Cirebon lebih dahulu menerima ajaran Islam.
Cirebon pulalah sebagai awal dari menyebar agama Islam di Pajajaran.
Perpecahan I yang telah terjadi diawal tersebut lantas berlanjut hingga Perpecahan
II. Terjadinya Perpecahan ini yaitu karena adanya gejolak diantara kedua
Panembahan yakni Panembahan Sepuh dan Panembahan Kanoman.
Perpecahan yang terjadi pada Panembahan Kasepuhan sendiri disebabkan oleh
adanya perebutan kekuasaan diantara kedua anaknya sepeninggal Panembahan
Kasepuhan pada tahun 1679. Terjadi sengketa perebutan kekuasaan inilah yang
menjadi hal pertama kedudukan VOC semakin kokoh. Karena VOC selalu
memanfaatkan segala macam keadaan pada Kesultan tersebut. Setelah itulah
Cirebon telah terikat perjanjian dengan VOC yaitu Perjanjian Kertasura 1705.
Didalamnya disebutkan bahwa Cirebon telah ada dalam pengawasan langsung VOC.
Selanjutnya Perpecahan yang terjadi yaitu pada Panembahan Kanoman. Pada
awalnya siasat para sultan dalam menangani Perpecahan I dalam Kesultanan
Kanoman berjalan lancar, sampai pada masa pemerintahan Sultan Anom IV (17981803), dimana terjadi perpecahan karena salah seorang putranya, yaitu Pangeran
Raja Kanoman, ingin memisahkan diri membangun kesultanan sendiri dengan nama
Kesultanan Kacirebonan.
Sebelum adanya perpecahan yang pada kekuasaan Sultan Anom IV, Sultan Anom
sendiri meminta bantuan kepada VOC supaya mendapat dukungan dari bidang
politik atau sebagainya. VOC lantas menyetujui untuk meberi bantuan dan
dukungan kepada Sultan Anom IV yang menginginkan pemisahan diri dari
Kesultanan Kanoman di Cirebon.
Kehendak Pangeran Raja Kanoman didukung oleh pemerintah Kolonial Belanda,
6 | Page

dengan keluarnya besluit (Bahasa Belanda: surat keputusan) Gubernur-Jendral


Hindia Belanda yang mengangkat Pangeran Raja Kanoman menjadi Sultan Carbon
Kacirebonan tahun 1807 dengan pembatasan bahwa putra dan para penggantinya
tidak berhak atas gelar sultan, cukup dengan gelar pangeran.
Sejak itu di Kesultanan Cirebon bertambah satu penguasa lagi, yaitu Kesultanan
Kacirebonan, pecahan dari Kesultanan Kanoman. Sementara tahta Sultan Kanoman
V jatuh pada putra Sultan Anom IV yang lain bernama Sultan Anom Abusoleh
Imamuddin (1803-1811).
2.2 Dampak Kedatangan VOC Pada Kerajaan Cirebon.
Kedatangan Belanda di Nusantara memang telah lama, namun kedatangan VOC
inilah yang juga sebagai faktor lain runtuhnya Kerajaan Cirebon. Sesudah kejadian
Perpecahan I dan Perpecahan II didalam pemerintahan Kerajaan tersebut,
pemerintah Kolonial Belanda pun semakin dalam ikut campur dalam mengatur
Cirebon, sehingga semakin surutlah peranan dari keraton-keraton Kesultanan
Cirebon di wilayah-wilayah kekuasaannya.
Adanya VOC yang kian getol menginginkan menaklukkan Cirebon memang telah
lama diincar, namun usaha awalnya ketika masa Syarif Hidayatullah hingga
Panembahan Ratu II tidak berhasil. Barulah setelah sepeninggal Panembahan Ratu
II, Cirebon kian dilanda krisi politik dan pemerintah. Kedudukannya yang juga
semakin terancam dari Mataram - Banten juga dari VOC.
Hubungan Cirebon dan VOC pada awalnya memang awalnya terjadi sebagai rekan
dalam hal perdagangan dan melakukan perjanjian-perjanjian dalam meningkatkan
usaha dagang antara keduanya. Namun VOC rupanya mengingkan lebih dari
Cirebon, dan ingin menguasai Cirebon seluruhnya.
Pada perpecahan di kesultanan Kasepuhan, pihak VOC memang tidaklah ikut
campur. Namun barulah pada Kasultanan Kanoman, VOC mulai menerapkan politik
Devide Et Impire nya. Hasilnya, Kesultanan Kanoman yang diduduki oleh Sultan
Anom IV ingin memisahkan diri dengan Kesultanan baru bernama Kecirebonan.
Hasilnya, Cirebon yang awalnya terdapat dua kesultanan yaitu Kesultanan
Kasepuhan dan Kesultanan Kanoman berubah menjadi tiga kesultanan ditambah
dengan Kecirebonan tersebut.
VOC banyak memanfaatkan keadaan ini untuk menguasai perdagangan dan
pelayaran juga untuk memonopoli kegiatan perdagangan di Kerajaan Cirebon.
Sehingga terjadi pula beberapa perjanjian-perjanjian antara pihak Kerajaan Cirebon
dengan VOC. Diantaranya yakni Perjanjian 7 Januari 1681 dan Perjanjian 8
September 1688. Yang hasil dari keduanya tersebut yaitu ekonomi-perdagangan
kian dikuasai dan dimonopoli VOC, juga pada ekspor komoditas seperti lada, beras,
kayu, gula yang telah jauh ketangan Belanda.
Hasil dari perpecahan Kesulanan tersebut berujung hingga Kesultanan menjadi
empat, yakni kesultanan Kasepuhan, Kesultanan Kanoman, Kesultanan kecirebonan
dan Keprabonan pada tahun 1700. Saat itulah VOC semakin mudah dalam hal
menguasai perdagangan dan memonopolinya pula. Hasil perdagangan tersebut
seperti dari hasil pertanian dan lada.
7 | Page

Tahun 1800, ketika VOC bubar dan memulai pemerintahan baru Gubernur Jendral
Daendels ditetapkan langkah strategis yakni dnegan dikeluarkannya Reglement op
het beheer van de Cheribonsche Landen pada 2 februari 1809. Isinya yaitu bahwa
semua sultan-sultan yang ada di Cirebon yang sednag berkuasa dicabut masa
kekuasaanya, dan merkea semua dijadikan pegawai koloni Belanda. Karena menjadi
pegawai, tentu para sultan-sultan tersebut digaji dan diberi penghidupan dari pihak
Belanda.
Puncaknya terjadi pada tahun-tahun 1906 dan 1926, dimana kekuasaan
pemerintahan Kesultanan Cirebon secara resmi dihapuskan dengan disahkannya
Gemeente Cheirebon (Kota Cirebon), yang mencakup luas 1.100 Hektar, dengan
penduduk sekitar 20.000 jiwa (Stlb. 1906 No. 122 dan Stlb. 1926 No. 370). Tahun
1942, Kota Cirebon kembali diperluas menjadi 2.450 hektar.
Pada masa kemerdekaan, wilayah Kesultanan Cirebon menjadi bagian yang tidak
terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Secara umum, wilayah
Kesultanan Cirebon tercakup dalam Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon, yang
secara administratif masing-masing dipimpin oleh pejabat pemerintah Indonesia
yaitu walikota dan bupati.
Hasil dari peninggalan Kesultana-kesultanan tersebut tidak lantas diruntuhka,
namun masih berdiri. Bangunan peninggalannya seperti keraton Kasepuhan dan
Kanoman, Masjid dsb. Tempat-tempat tersebut meskipun sudah tidak dipakai
sebagai temoat pemerintahan dan administrasi seperti pada masa Kesultanan dulu,
namun masih digunakan sampai saat ini untuk tempat aktifitas beribadah dan
tempat adat.
2.3 Hasil ajaran Islam dari Perkembangan Kerajaan Cirebon yang terkenal.
Kerajaan Cirebon memang adalah salah satu Kerajaan dengan Kesultanan Islam
yang cukup lama pula, yakni awal mula islamisasi terjadi kira-kira pada tahun 14701475 M. Yang dalam perkembangannya, banyak menyebarkan agama Islam
ditunjang oleh adanya tokoh Syarif Hidayatullah atau dikenal dengan Sunan
Gunungjati yang merupakan salah satu dari Wali Sanga yang menyebarkan ajaran
agama Islam di Jawa pada periode tahun antara 1479-1568.
Awal dari kedatangan Syarif Hidayatullah untuk memerintah Cirebon adalah karena
pada saat itu sebelumnya di Cirebon sendiri telah banyak terdapat pondok
pesantren. Salah seorang pendirinya yaitu bernama Syekh Abdullah Iman. Beliau
adalah sebagai kepala desa Kebon Pesisir yang nantinya dikenal dengan Cirebon.
Sepeninggal Syekh Abdullah Iman, Syarif Hidayatullah diembankan tugas tersebut.
Syarif Hidayatullah yang sebagai kepala pemerintahan, tentu mendapat kedudukan
lainnya. Selain itu juga, Syarif Hidayatullah pula adalah menjadi salah seorang wali
dari Walisongo yang diberikan tugas dalam Islamisasi di tataran Sunda.
Berdasarkan Babad Cirebon, Sunan Gunung Jati merupakan penganut Ahlu alSunnah wal-Jama'ah dari Mazhab Syafi'i. Pernikahan Syarifah Mudha'im, ibu Syarif
Hidayatullah, dengan Maulana Hud di Mekkah, di mana Syekh Abdullah Iman yang
menjadi walinya, juga memakai cara-cara Mazhab Syafi'i.
Dalam babad-babad mengenai Syarif Hidayatullah juga disebutkan bahwa ia juga
8 | Page

sebelum kepergiannya ke Jawa, ia telah mendalamai ilmu mengenai akidah, syariah,


tasawuf bahkan dengan tarekatnya.
Inilah yang kian menjadikan Cirebon menjadi salah satu pusat keagamaan ditanah
Jawa. Didukung pula dengan penyebarannya yang keberbagai daerah. Beberapa
dari ajaran yang begitu terkenal adalah Tasawuf, yakni ilmu untuk mengetahui
bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan
batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi. Beberapa Tasawuf dari Tarekat
yang dianutnya antara lain Tarekat Kubrawiyah.
Tarekat Kubrawiyah ialah tarekat yang dihubungkan dengan nama Najamuddin alKubra yang dalam Babad Cirebon dan Hikayat Hasanuddinselalu disebut-sebut. Ia
juga belajar Tarekat Syattariyah, Qadiriyah, dan Naqsyabandiyah.
Tarekat Syattariyah berkembang di Cirebon mungkin diajarkan oleh Syekh Abdul
Muhyi yang pernah berguru kepada Syekh Kuala atau Abdu al-Rauf al-Singkili di
Aceh. Di Cirebon, selain Tarekat Syattariyah juga terdapat Tarekat Qadiriyah,
Naqsyabandiyah, dan Syadziliyah. Karena tarekat dianggap sebagai sumber
kekuatan spiritual sekaligus melegitimasi dan mengukuhkan posisi raja
Di daerah Cirebon dan Garut (Jawa Barat) juga terkenal ajaran Tarekat Tijaniyah
yang mula-mula dicetuskan Ahmad al-Tijani (1757-1815). Tetapi di daerah lainnya di
Nusantara, tarekat ini mendapat tantangan dari tarekat-tarekat lainnya
Selain adanya ilmu ajaran tasawuf ada juga hasil dari penyebaran keagamaan dari
Kerajaan Cirebon yakni naskah-naskah kuno yang antara lain seperti : Babad
Tjerbon, Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari, dan Pepakem Tjerbon.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Terjadinya keruntuhan pada Kerajaan Cirebon salah satu faktornya adalah terjadinya
perpecahan kekuasaan, yaitu dari ketiga sultan yang memerintah. Ini karena
adanya campur tangan dari Kesultanan Banten yang serta merta ingin mengambil
keuntungan sehingga melakukan taktik yang tujuannya untuk memperbaiki
hubungan diplomatik antara Kesulatan Banten dengan Kesultanan Cirebon.
Kerajaan Cirebon yang terbagi atas dua itu pula masih terbagi lagi yakni menjadi
Kesultanan Kecirebonan. Yang pada perpecahan ini pula mulai adanya
keikutcampuran dari pihak Belanda. Meski antara Cirebon dan VOC pada awalnya
melakukan kerja sama dan beberapa perjanjian dalam urusan dagang, namun
ternyata VOC lebih menginginkan memonopoli perdagangan di Cirebon.
Perjanjian yang dilakukan Cirebon dengan VOC pada akhirnya menyebabkan
keikutsertaan VOC dalam mencampuri urusan politik di Cirebon. Sehingga fakor
runtuhnya Kerajaan Cirebon juga dari pihak Belanda, dimana VOC ingin menguasai
9 | Page

dan memonopoli perdagangan Kerajaan Cirebon.


Hasil akhir dari keikutcampuran VOC ini memuncak hingga dari beberapa Perjanjian
antara pihak Belanda dengan Kerajaan Cirebon yaitu ekonomi-perdagangan
dikuasai Belanda dan beberapa ekspor komoditanya pun juga telah jatuh ketangan
Belanda.
3.2 Saran
Dari keseluruhan penulisan makalah yang dibuat penulis ini, tentunya memiliki
banyak kekurangan maupun kesalahan yang dibuat penulis sendiri baik secara
langsung maupun tidak langsung. Itulah mengapa penulis mengharapkan kepada
semua pembaca untuk memberi kritik maupun saran yang membangunnya agar
nantinya lebih baik untuk makalah berikutnya.

10 | P a g e

DAFTAR RUJUKAN
Daliman. 2012. Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia.
Jakarta : Ombak
Muljana, Slamet. 2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya NegaraNegara Islam di Nusantara. Yogyakarta : LKis Yogyakarta.
Poesponegoro & Notosusanto. 2008. Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta : Balai
Pustaka
Media Elektrik - Internet
http://id.wikipedia.org/wiki/Sufisme
http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Cirebon
http://miftah19.wordpress.com/2011/02/18/kesultanan-cirebon-tinjauan-historis-dankultural/
Skripsi-Tesis
Laely Wijaya. Masjid Merah Panjunan Cirebon (Kajian Histori - Arkeologia).
Yogyakarta : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2008.

11 | P a g e