Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
I.1. Refraksi
Refraksi mata merupakan perubahan jalannya cahaya melalui media
refraksi mata ketika mata dalam keadaan istirahat (tanpa akomodasi).
Akomodasi merupakan kemampuan mata untuk meningkatkan daya
pembiasannya.
Sistem refraksi menghasilkan bayangan kecil terbalik di retina.
Rangsangan tersebut diterima oleh sel batang dan kerucut di retina kemudian
diteruskan melalui saraf optic (N. II) ke oksipitalis yang kemudian tampak
sebagai bayangan tegak.

Alat-alat refraksi mata terdiri dari:

Kornea
- lapisan jernih/transparan yang terletak di bagian anterior mata,
-

tempat lewatnya berkas-berkas cahaya


berperan sangat penting dalam kemampuan refraktif mata

aqueous humour

cairan encer jernih yang terletak di rongga anterior antara kornea

dan lensa
dibentuk dengan kecepatan 5 ml/hari oleh jaringan kapiler di dalam
korpus siliaris (turunan khusus lapisan koroid di anterior)

mengalir ke dalam kanalis Schlemm masuk ke darah


mengandung zat-zat gizi untuk kornea dan lensa, karena keduanya
tidak memiliki pasokan darah, apabila ada pembuluh darah akan
mengganggu lewatnya cahaya ke fotoreseptor

lensa
- badan yang bening/jernih yang memungkinkan cahaya lewat dari
kornea ke retina, bikonveks, melekat pada otot-otot siliaris melalui
-

ligamentum suspensorium
menghasilkan kemampuan refraktif yang bervariasi selama
akomodasi

vitreous humor
- zat semicair mirip gel yang terletak di belakang lensa
- mempertahankan bentuk bola mata yang sferis (bulat)
Keseluruhan sistim refraksi mata ini membentuk lensa yang cembung

dengan fokus 23 mm, sehingga pada keadaan istirahat (tanpa akomodasi) mata
emetrop, sinar yang sejajar akan dibiaskan tepat di fovea sentralis retina. Fovea
sentralis merupakan posterior principal fokus dari sistem refraksi mata,
letaknya 23 mm di belakang kornea, tepat di bagian dalam makula lutea.
Pembiasan terbesar terdapat pada permukaan anterior kornea, ditambah dengan
permukaan anterior dan posterior lensa.
Cahaya adalah suatu bentuk radiasi gelombang elektromagnetik.
Gelombang cahaya mengalami divergensi (menyebar) ke semua arah dari
setiap titik sumber cahaya. Gerakan ke depan suatu gelombang cahaya dalam
arah tertentu disebut berkas cahaya. Berkas-berkas cahaya divergen yang
mencapai mata harus dibelokkan ke arah dalam untuk difokuskan kembali ke
sebuah titik peka cahaya di retina.

Pembelokan suatu berkas cahaya (refraksi) terjadi ketika berkas


berpindah dari satu medium dengan kepadatan (densitas) tertentu ke densitas
lain yang berbeda. Dua faktor yang berperan dalam derajat refraksi, yaitu:
1.
densitas komparatif antara dua media (semakin besar perbedaan densitas
2.

semakin besar derajat pembelokan)


sudut jatuhnya berkas cahaya di medium kedua (semakin besar sudut
semakin besar pembiasan)
Pada permukaan yang melengkung seperti lensa, semakin besar

kelengkungan, semakin besar derajat pembiasan dan semakin kuat lensa. Suatu
lensa dengan permukaan konveks (cembung) menyebabkan konvergensi atau
penyatuan berkas-berkas cahaya, yaitu persayaratan untuk membawa suatu
bayangan ke titik fokus.
Permukaan kornea (struktur pertama yang dilalui cahaya) yang
melengkung berperan paling besar dalam kemampuan refraktif total mata
karena perbedaan densitas pertemuan udara-kornea jauh lebih besar daripada
perbedaan densitas antara lensa dan cairan yang mengelilinginya.
Struktur-struktur refraksi pada mata harus membawa bayangan cahaya
terfokus di retina. Apabila suatu bayangan sudah terfokus sebelum atau
sesudah retina, maka bayangan tersebut akan tampak kabur.

Berkas dari sumber cahaya yang terletak lebih dari 6 meter (20 kaki)
dianggap sejajar saat mencapai mata. Sedangkan berkas dari sumber cahaya
dekat masih berdivergensi ketika mencapai mata, oleh karena itu diperlukan
akomodasi agar bayangan jatuh tepat di retina.

Akomodasi merupakan kemampuan menyesuaikan kekuatan lensa


sehingga baik sumber cahaya dekat maupun jauh dapat difokuskan di retina.
4

Akomodasi adalah kemampuan lensa untuk mencembung yang terjadi akibat


kontraksi otot siliar yang terletak pada badan siliar. Akibat akomodasi, daya
bias lensa bertambah sehingga titik-titik yang letaknya lebih dekat pada mata
dibias jatuh pada retina.
Kekuatan lensa bergantung pada bentuknya yang diatur otot siliaris. Otot
siliaris adalah bagian dari korpus siliaris (spesialisasi koroid di bagian
anterior). Korpus siliaris mempunyai dua komponen utama, yaitu otot siliaris
dan jaringan kapiler sebagai penghasil aqueous humor. Otot siliaris adalah otot
polos melingkar yang melekat ke lensa melalui ligamentum suspensorium.

Ketika otot siliaris melemas ligamentum suspensorium tegang dan


menarik lensa lensa berbentuk gepeng kekuatan refraksi minimal

Ketika otot siliaris berkontraksi, garis tengah otot berkurang


ligamentum suspensorium mengendur tarikan lensa berkurang
lensa berbentuk lebih sferis (bulat) karena elastisitas inherennya.
Semakin besar kelengkungan lensa (karena semakin bulat) semakin
besar kekuatannya berkas-berkas cahaya lebih dibelokkan.
Pada mata normal, otot siliaris melemas dan lensa mendatar untuk

penglihatan jauh, tetapi otot siliaris berkontraksi agar lensa menjadi lebih
cembung dan lebih kuat untuk penglihatan dekat. Otot siliaris dikontrol oleh
sistem saraf otonom. Serat-serat saraf simpatis menginduksi relaksasi otot
siliaris untuk penglihatan jauh, sementara sistem saraf parasimpatis
menyebabkan kontraksi otot untuk penglihatan dekat.
Seumur hidup, hanya sel-sel di tepi luar lensa yang diganti. Sel-sel di
bagian tengah lensa merupakan sel tertua dan terletak paling jauh dari aqueous
humor, sumber nutrisi bagi lensa. Seiring dengan pertambahan usia, sel-sel di
bagian tengah yang tidak dapat diganti ini mati dan menjadi kaku. Dengan
berkurangnya kelenturan, lensa tidak mampu lagi berbentuk sferis yang
diperlukan untuk akomodasi pada penglihatan dekat. Penurunan kemampuan
akomodasi yang berkaitan dengan usia disebut presbiopia. Presbiopia
mengenai sebagian besar orang pada usia pertengahan (usia 45 sampai 50

tahun), sehingga memerlukan lensa korektif untuk penglihatan dekat


(membaca).
Pada mata normal, sumber cahaya jauh difokuskan di retina tanpa
akomodasi, sementara kekuatan lensa ditingkatkan oleh akomodasi pada
penglihatan dekat. Pada hiperopia, bola mata mungkin terlalu pendek atau
lensa terlalu lemah. Benda-benda jauh terfokus di retina hanya dengan
akomodasi, sementara benda-benda dekat difokuskan di belakang retina,
walaupun mata mengadakan akomodasi, sehingga tampak kabur. Dengan
demikian, individu dengan hiperopik memiliki penglihatan jauh yang lebih
baik daripada penglihatan dekat, suatu kedaaan yang dapat dikoreksi dengan
lensa konveks. Penglihatan seperti ini cenderung memburuk seiring
pertambahan usia, karena hilangnya kemampuan akomodasi akibat munculnya
presbiopia.
I.2. Kelainan Refraksi
Hasil pembiasan sinar pada mata ditentukan oleh media penglihatan
(kornea, aqueous humor, lensa dan vitreous humor) dan panjang bola mata.
Pada orang normal, susunan pembiasan oleh media penglihatan dan
panjangnya bola mata seimbang sehingga bayangan benda dibiaskan tepat di
daerah makula lutea. Beberapa titik dalam bidang refraksi, yaitu:

Pungtum Remotum : titik terjauh dimana seseorang masih dapat melihat


dengan jelas, titik ini merupakan titik dalam ruang yang berhubungan
dengan retina atau foveola bila mata istirahat. Titik terjauh tanpa

akomodasi dibias jatuh pada retina.


Pungtum Proksimum
: titik terdekat dimana seseorang masih dapat
melihat dengan jelas. Titik terdekat dengan akomodasi maksimum dibias
jatuh pada retina.

1) Emetropia

Berasal dari kata Yunani emetros (ukuran normal); opsis


(penglihatan). Emetropia adalah mata dengan refraksi/pembiasan cahaya
normal, dimana sinar jauh difokuskan sempurna di daerah makula lutea
tanpa akomodasi sehingga tajam penglihatannya adalah maksimum. Visus
atau tajam penglihatan orang dengan emetropia adalah 6/6.
Keseimbangan pembiasan sebagian besar ditentukan oleh dataran
depan, kelengkungan kornea, dan panjangnya bola mata. Kornea
mempunyai daya pembiasan sinar terkuat. Lensa berperan membiaskan
sinar terutama pada saat melakukan akomodasi atau bila melihat benda yang
dekat.
2) Ametropia
Panjang bola mata seseorang dapat berbeda-beda. Apabila terdapat
kelainan pembiasan sinar oleh kornea (mendatar, mencembung) atau adanya
perubahan panjang bola mata (lebih panjang/pendek) maka sinar normal
tidak dapat terfokus pada makula, yang disebut ametropia.
Dalam bahasa Yunani, ametros berarti tidak seimbang; ops berarti
mata. Ametropia adalah keadaan pembiasan mata dengan panjang bola mata
yang tidak seimbang. Dapat disebabkan oleh kelainan kekuatan pembiasan
sinar media penglihatan atau kelainan bentuk bola mata.
Ametropia merupakan keadaan dimana sinar sejajar dari jarak tak
terhingga tanpa akomodasi memberikan fokus bayangan tidak tepat di
retina.
Beberapa bentuk ametropia, yaitu:
a. Ametropia aksial

Ametropia yang disebabkan sumbu optic bola mata lebih


panjang atau pendek sehingga bayangan benda difokuskan di depan
atau belakang retina.
Ametropia refraktif
Ametropia yang disebabkan kelainan sistem pembiasan sinar di

b.

dalam mata. Apabila daya bias kuat maka bayangan benda terletak di
depan retina (miopia) atau bila daya bias kurang maka bayangan
benda akan terletak di belakang retina (hipermetropia refraktif).
Bentuk-bentuk kelainan ametropia, yaitu myopia, hipermetropia, dan
astigmatisme.
1.
Hipermetropia
Definisi
Hipermetropia merupakan gangguan kekuatan pembiasan mata,
dimana sinar sejajar jauh tidak cukup dibiaskan sehingga titik
fokusnya terletak di belakang retina/makula lutea. Sinar yang berjalan
sejajar dengan sumbu mata tanpa akomodasi dibias di belakang retina.
Keadaan dimana dalam keadaan tanpa akomodasi, semua sinar
sejajar dari jarak tak terhingga, dibiaskan di belakang retina
sedangkan sinar divergen dari jarak dekat, dibiaskan lebih jauh lagi di
belakang retina. Dengan akomodasi, titik pembiasan tersebut dapat
digeser ke depan, sehingga jatuhnya tepat di retina. Dengan demikian,
untuk mendapatkan tajam penglihatan yang baik, penderita
hipermetropia, harus selalu berakomodasi, baik untuk penglihatan
jauh, terlebih untuk penglihatan dekat.

Etiologi
Hipermetropia aksial

Hipermetropia refraktif

Definisi

(sumbu)
kelainan refraksi akibat bola

(pembiasan)
Aksis normal, tetapi daya

mata pendek atau sumbu

biasnya berkurang

anteroposterior (kornearetina) yang pendek


Congenital
- Mikroftalmi

Kornea
- Lengkung kornea <
normal, aplanatio

Klasifikasi

corneae
Lensa
- Sklerosis ( 40 thn)
- Afakia
Aqueous humor
- Pengobatan yang hebat

Akuisita
- Retinitis sentralis
- Ablation retina

pada DM kadar gula


dalam aqueous humor
berkurang daya
biasnya berkurang

Jenis
Gambaran umum
- Hipermetropia yang dapat
dikoreksi dengan
kacamata positif
maksimal
- Hipermetropia absolute +
Hipermetropia
manifes

fakultatif
- Didapatkan tanpa

Klasifikasi
Hipermetropia absolute
- Hipermetropia yang tidak
dapat diatasi dengan
akomodasi,
memerlukan kacamata
positif untuk melihat
jauh

siklopegik
Hipermetropia fakultatif
- Hipermetropia yang
masih dapat diatasi
dengan akomodasi

atau kacamata positif


Hipermetropia - Derajat hipermetrop setelah akomodasi
total

dilenyapkan/relaksasi mm siliaris
- Pemeriksaan dengan pemberian siklopegia

10

- Hasilnya > H. manifest


- Selisih antara H. total dengan H. manifest
Hipermetropia
laten

menunjukkan kekuatan tonus mm.siliaris


- Banyak terjadi pada usia muda, karena daya
akomodasinya masih kuat yang memungkinkan
terjadinya akomodasi terus menerus

Manifestasi klinis
- Penglihatan dekat dan jauh kabur
- Kadang terasa juling atau melihat ganda
- Astenopia akomodatif : Mata lelah, pusing, sakit kepala karena
terus menerus harus berakomodasi untuk melihat atau
memfokuskan bayangan yang terletak di belakang makula lutea
agar mencapai titik fokus di makula lutea. Biasanya timbul
setelah melakukan pekerjaan dekat seperti menulis, membaca,
-

menjahit, dsb.
Akibat terus-menerus berakomodasi, maka bola mata bersamasama melakukan konvergensi dan memungkinkan posisi kedua

mata dalam keadaan strabismus konvergen (esotropia)


Apabila terdapat perbedaan derajat hipermetropia, maka
mungkin salah satu mata tidak dipergunakan, sehingga tajam
penglihatannya makin lama makin berkurang (ambliopia). Mata
ambliopia sering menggulir ke arah temporal (strabismus

divergen/eksotropia)
Gejala obyektif
a.Akomodasi terus-menerus hipertrofi otot siliaris
disertai terdorongnya iris ke depan bilik mata depan
menjadi dangkal
b.
Trias akomodasi

: akomodasi, miosis,

konvergensi. Pasien dengan hipermetrop, karena selalu


berakomodasi pupilnya menjadi miosis. Kadangkadang, hipermetrop pada anak-anak disertai spasme dari
akomodasi yang dapat menyebabkan miop. Fundus okuli,
akibat akomodasi, menjadi hiperemis serta terdapat
hyperemia papil N.II, seolah meradang, yang disebut
pseudo papilitis atau pseudoneuritis.
11

Penatalaksanaan
Pengobatan hipermetropia adalah diberikan koreksi dengan
lensa sferis positif (S+) yang memberikan tajam penglihatan
normal/maksimal. Sebaiknya diberikan kacamata sferis positif
terkuat/terbesar (S+B) agar tanpa akomodasi dapat melihat dengan
penglihatan terbaik. Misalnya, apabila pasien dengan +3.0 atau +3.25
memberikan tajam penglihatan 6/6, maka diberikan kacamata +3.25.
Hal ini untuk memberikan istirahat pada mata. Lensa S+B adalah
derajat hipermetropia manifest.

Apabila otot-otot akomodasi dilumpuhkan dengan siklopegik,


maka dibutuhkan lensa yang lebih besar (S+Bb) agar didapatkan tajam
penglihatan terbaik (derajat hipermetropia total).
Sebagai contoh, pasien dengan visus 5/10:

Koreksi kacamata S(+) 0.50 5/7.5


S(+) 1.00 5/5 (hipermetropia manifest absolut)
S(+) 1.25 5/5
S(+) 1.50 5/5
S(+) 1.75 5/7.5 (fokus terletak didepan retina
penglihatan kabur)

12

Yang diambil sebagai koreksi S(+) 1.50 yang terbesar memberikan


visus yang sebaik-baiknya. (S+B)/M koreksi hipermetropia
manifest dengan lensa S(+) terbesar (B) memberikan visus

maksimal (M)
S(+) 1.25 visus 5/5, tetapi dengan akomodasi agar fokusnya
jatuh tepat di retina. Hipermetropia manifest fakultatif masih

bisa diatasi dengan akomodasi


Diagnosis
- Pemeriksaan bertujuan mengetahui derajat lensa positif yang
diperlukan untuk memperbaiki tajam penglihatan sehingga
tajam penglihatan menjadi normal/tercapai tajam penglihatan
-

yang terbaik
Dasar
: pada hipermetropia, sinar sejajar tanpa akomodasi
fokusnya terletak di belakang retina, sehingga apabila diberikan

lensa positif akan menggeser bayangan ke depan tepat di retina.


Pemeriksaan visus dengan Snellen chart, trial lens dan trial
frame

Penyulit
- Strabismus konvergen (esotropia) terjadi akibat akomodasi
-

disertai konvergensi terus menerus


Glaucoma sekunder terjadi akibat hipertrofi otot siliar pada
badan siliar yang akan mempersempit sudut bilik mata. Apabila
disertai adanya faktor pencetus seperti membaca terlalu lama,
tetes midriatika, serangan glaucoma akut dapat terjadi.

3) Presbiopia
Presbiopia merupakan keadaan berkurangnya daya akomodasi pada
usia lanjut (>40 tahun). Dengan bertambahnya usia, maka akan berkurang
pula daya akomodasi akibat berkurangnya elastisitas lensa sehingga lensa
sukar mencembung. Pungtum proksimum (titik terdekat yang dapat dilihat
dengan akomodasi maksimal telah begitu jauh), sehingga pekerjaan dekat
yang halus sukar dilakukan, akibat berkurangnya akomodasi. Pada keadaan
ini, sinar divergen yang datang dari jarak dekat, dibias di belakang retina.
Keadaan ini merupakan keadaan fisiologis yang terjadi pada setiap
mata, karena terdapat pengerasan (tidak kenyal lagi) sedikit demi sedikit

13

pada lensa, dimulai dari nucleus sehingga lensa sukar untuk menambah daya
biasnya daya akomodasinya berkurang.

Etiologi
- Kelemahan otot akomodasi
- Lensa mata tidak kenyal/berkurang elastisitasnya akibat sklerosis
lensa

Manifestasi klinis
- Keluhan timbul pada penglihatan dekat
- Keluhan setelah membaca: mata lelah, berair dan sering terasa
pedas
Diperlukan penerangan yang lebih kuat untuk dapat bekerja. Segala

pekerjaan dekat seperti membaca, menjahit, dsb., dapat dikerjakan


apabila jaraknya lebih dijauhkan. Apabila dibiarkan tanpa koreksi,
akan menimbulkan tanda astenopia (mata sakit, lekas lelah,
lakrimasi), tanda-tanda ini memburuk pada penerangan yang
kurang/malam hari.

Diagnosis
- Pemeriksaan bertujuan mengukur derajat berkurangnya
-

kemampuan seseorang berakomodasi akibat bertambahnya usia


Dasar : presbiopia terjadi akibat kurang lenturnya lensa disertai
melemahnya kontraksi badan siliar. Pada presbiopia pungtum

proksimum terletak makin jauh di depan mata.


Pemeriksaan visus dengan Snellen chart, trial lens dan trial frame,
serta tes Jaeger.

Penatalaksanaan
Penderita presbiopia, harus dikoreksi dulu penglihatan jauhnya,
kemudian diberikan kacamata adisi yang sesuai dengan usianya, untuk
kedua mata dengan kekuatan yang sama.
Kacamata atau adisi diperlukan untuk membaca dekat dengan
kekuatan tertentu, berikut ini adalah tabel yang dipakai untuk orang
Indonesia:
Ukuran

Usia

(Dioptri)

(tahun)
14

+ 1.0
+ 1.5
+ 2.0
+ 2.5
+ 3.0

40
45
50
55
60

Pada keadaan pungtum Proksimum >35 cm (jarak baca), maka


diperlukan bantuan adisi S+. Karena jarak baca biasanya 33 cm, maka
adisi + 3.0 dioptri adalah lensa positif terkuat yang dapat diberikan
pada seseorang. Pada keadaan ini mata tidak melakukan akomodasi,
karena benda yang dibaca terletak pada titik api lensa + 3.0 dioptri
sehingga sinar yang keluar akan sejajar.
Sebagai contoh:
- Visus OD 5/20 S-1.00 5/5
- Visus OS 5/30 S-1.50 5/5
- Pasien dengan usia 50 tahun, ditambahkan kacamata baca ODS
-

add +2.00
Distansia pupil

: jarak antara pupil OD dan pupil OS 61

mm (jarak dekat), 64 mm (jarak jauh = jarak dekat + 3 mm)


Resep kacamata bifokus
OD S-1.00 add +2.00
OS S-1.50 add +2.00
DP 64/61 mm

15

BAB II
LAPORAN KASUS
Hypermetropia Presbiopia
II.1

Identitas Pasien

II. 2

Nama

: Ny. LS

Umur

: 47 tahun

Jenis Klamin

: perempuan

Agama

: Islam

Alamat

: Ngancar RT Bawen

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Anamnesa
Keluhan utama

: pusing apabila melihat jauh dan dekat

Riwayat Penyakit sekarang : pasien mengeluh pusing apabila melihat


jauh ataupun dekat, kadang sampai
mengeluarkan air mata
Riwayat penyakit dahulu

: DM (-), HT (-), penggunaan kacamata


bifocal (+) sejak 2 tahun yang lalu dengan
ukuran:
OD S(+) 1.75 add 1.75
OS S(+) 1.75 add 1.75

II.3

Pemeriksaan Fisik

Status generalis
Keadaan umum
Kesadaran
Tanda Vital

: Baik
: Compos Mentis
: tidak dilakukan

Status oftalmologi
Pemeriksaan

OD
5/60

Visus

16

OS
6/60

Koreksi

6/6 dengan S(+) 2.00 add


(+) 1.75

6/6 dengan S(+) 2.25 add


(+) 1.75

Hiperemis (-)
Edema (-)
Ptosis (-)
Hiperemi (-)
Injeksi
Konjungtiva (-)
Injeksi siliar (-)
Sekret (-)
Bulat (-)
Kejernihan (+)
Mengkilat (+)
Edema (-)
Presipitat (-)
Sikatrik (-)
Jernih kedalaman
normal
Hipopion (-)
Hifema (-)
Edema (-)
Sinekia (-)
Normal

Hiperemis (-)
Edema (-)
Ptosis (-)
Hiperemi (-)
Injeksi
Konjungtiva (-)
Injeksi siliar (-)
Sekret (-)
Bulat (-)
Kejernihan (+)
Mengkilat (+)
Edema (-)
Presipitat (-)
Sikatrik (-)
Jernih kedalaman
normal
Hipopion (-)
Hifema (-)
Edema (-)
Sinekia (-)
Normal

Jernih

Jernih

Gerakan bola mata

Palpebra

Konjungtiva

Kornea

Camera Oculi Anterior

Iris
Pupil
DP : 64/62 mm
Lensa
II. 4. Diferensial Diagnosis
Myopia
Hipermetropia
Astigmatisme
Presbiopia
II.5. Diagnosis Kerja
Hypermetropia Presbiopia

17

II.6. Terapi

Resep kacamata bifocal


Cendo Lyteers 3x1 ODS
Eyevit 1x1

II.7. Prognosis
Ad bonam
II.9. Komplikasi
Strabismus konvergen (esotropia)
Glaucoma sekunder
II.10. Edukasi

Kacamata harus selalu dipakai apabila berjalan dan membaca


Penerangan haruslah cukup apabila membaca, hindari penerangan yang
kurang
Membaca dalam posisi tegak dan dalam jarak baca normal
Istirahatkan mata apabila sudah terlalu lama membaca
Konsumsi makanan yang mengandung banyak vitamin A, C

18

BAB III
ANALISA KASUS
Analisa kasus berdasarkan SOAP
III.1

S ( Subjektif)
Pasien bernama Ny.LS datang ke poliklinik RSUD Ambarawa dengan
keluhan pusing apabila melihat dekat maupun jauh, kadang sampai keluar
air mata. Pasien tidak memiliki riwayat DM, HT, pasien menggunakan
kacamata bifocal sejak dua tahun yang lalu.

III.2

O (Objektif)
Berdasarkan pemeriksaan fisik yang dilakukan terhadap Ny. LS ditemukan
hasil keadaan umum baik, kesadaran compos mentis.
Pemeriksaan visus dengan koreksi menghasilkan visus 6/6 dengan
menggunakan lensa:
OD S(+) 2.00
Add (+) 1.75
OS S(+) 2.25

III.3

A (Assesment)
Berdasarkan gejala klinis dan temuan klinis berupa pusing apabila melihat
jauh ataupun dekat, penurunan tajam penglihatan yang dapat dikoreksi
dengan lensa sferis positif serta adisi sehingga didapatkan tajam
penglihatan maksimal, dapat ditegakkan diagnosis yaitu Hypermetropia
Presbiopia.

19

III.4

P (Planning)
Resep kacamata bifocal

OD S(+) 2.00
Add (+) 1.75
OS S(+) 2.25
Medika mentosa
1. Cendo Lyteers 15 ml 3x1 ODS
Komposisi
- Ion Natrium dan Kalium dengan Benzalkonium Cl
Indikasi
- Sebagai emolien/pelembut dan pengganti air mata untuk

pemakai lensa kontak


- Lubrikan/pelicin untuk air mata buatan
- Pengganti air mata pada kekurangan air mata
Dosis
: 3x1 tetes pada mata kanan dan kiri

2. Eyevit 1x1 tablet


Komposisi
- Ekstrak kering bilberry 80 mg
- Retinol 1600 iu
- -carotene 5 mg
- Vitamin E 40 mg
- Lutein 250 mcg
- Zaexanthin 60 mcg
- Selenium 15 mcg
- Zn 5 mg
Indikasi : suplemen nutrisi untuk mata
Dosis
: 1 tablet/hari sesudah makan

20

Daftar Pustaka
1. Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi 2.
Jakarta: EGC.
2. Ilyas, Sidharta. 2010. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Sagung Seto.
3. Wijana, Nana. 1989. Ilmu Penyakit Mata.
4. Ilyas, Sidharta. 1993. Dasar Teknik Pemeriksaan Dalam Ilmu Penyakit
5.
6.
7.
8.
9.

Mata. Jakarta: FKUI.


www.repository.usu.ac.id
www.thesis.binus.ac.id
www.eprints.undip.ac.id
http://www.apotikantar.com/eyevit_plus_tablet
http://apotik.berkahanugrah.net/produk-726-cendo-lyteers-minidose.html

21