Anda di halaman 1dari 3

Ruang admin seakan menjadi kamar kosan Yuki

Dalam beberapa hari ini, di Forum Lenteng, saya memilih meja Andang di
ruang administrasi (ruang admin) sebagai tempat bekerja (menulis).
Pasalnya, saya sering lupa waktu jika berhadapan dengan layar komputer.
Tahu-tahu, hari sudah malam saja. Saya memilih menginap di Forum
Lenteng ketimbang pulang ke kosan jika sudah larut malam. Berhubung
cerita Otty tentang Gesya yang melihat hantu perempuan di ruang tengah
selalu terngiang-ngiang di telinga saya, dan memicu pikiran-pikiran yang
menyeramkan, saya jadi takut juga. Bekerja di ruang admin, setidaknya,
membuat pikiran tolol itu buyar, karena ada Yuki sebagai teman ngobrol.
Ruang admin ini awalnya digunakan oleh tiga orang: Yuki, Andang dan
Jayu. Meja dengan komputer berlayar besar yang berada di dekat pintu,
digunakan oleh Yuki. Meja yang berada di sudut ruangan, tepat di bawah
AC, digunakan oleh Jayu. Akan tetapi, Jayu memilih berhenti menjadi
pengurus harian di Forum Lenteng. Belakangan, meja itu lebih sering
digunakan oleh Bodas, anaknya Otty. Sementara itu, meja Andang
sekarang saya sedang menulis di meja iniberada di sebelah lemari, di
dekat jendela. Sejak Bulan Januari, saya perhatikan, Andang sering
bekerja di studio radio akumassa. Atas seizin Andang, saya bisa
memanfaatkan meja kosong ini sebagai tempat kerja.
Di Forum Lenteng, yang paling sering menginap adalah Yuki, Gesya dan
saya. Ugeng dan Akbar menginap sesekali. Yuki bahkan menginap hampir
tiap hari, dan menjadikan ruang admin ini sebagai kamarnya di malam
hari. Dia bahkan menyiapkan kasur yang selalu digulung dan diletakkan di
bawah meja kerjanya pada waktu jam kerja. Beberapa teman di Forum
Lenteng ada yang mengeluh karena ruangan ini sudah seperti menjadi
kamar kosan si Yuki, dan juga berantakan.
Saya juga terbiasa dengan kamar berantakan. Kosan saya bahkan lebih
berantakan lagi. Dibandingkan dengan meja besar di ruangan tengah
Forum Lenteng, untuk saat ini ruangan admin terasa lebih nyaman
bukan karena ada AC, tetapi karena lebih tenang saja. Saya tidak terlalu
terganggu dengan suasana kamar yang berantakan. Nyaman-nyaman
saja rasanya jika harus menulis di ruangan seperti itu.
Dari pagi hingga siang, sekitar pukul dua atau tiga, Forum Lenteng sepi.
Hanya ada saya dan Yuki. Gesya biasanya berangkat ke kampus, dan
kembali pulang ke Forum Lenteng setelah beberapa haritidak tahu ia
tidur di mana dalam beberapa hari itu. Kalaupun Andang dan Diki datang
di siang hari, mereka mengurus kerjaannya masing-masing: Andang
melanjutkan deadline desain (web, poster, katalog, dsb.) di studio
akumassa, sedangkan Diki mengurus data dan arsip di ruangannya di
lantai atas. Jadi, Forum Lenteng tetap sepi pada jam-jam itu. Keramaian
baru akan terasa pada saat menjelang malam. Terutama saat keluarga
Rancajale datang.

Otty biasanya menggunakan meja di teras yang berada di area belakang


rumah Forum Lenteng sebagai tempat menulis atau melukis, sedangkan
Hafiz, suaminya, bekerja di ruang tengah. Dan kalau sudah sore itu, Bodas
datang ke ruangan admin ini dan mulai bermain dengan gadget-nya di
meja bekas milik Jayu. Biasanya, ini patokan saya untuk rehat sejenak.
Bodas selalu antusias dan serius dengan mainannya: Youtube, game, dan
handphone. Diihat-lihat, dia selalu tertarik dengan visual-visual kekerasan
dan juga suara berisikkadang dia mendekatkan telinganya ke
loudspeaker, yang menurut Otty, itu karena dia sedang mempelajari bunyi
dari sumber suara itu. Keasyikan Bodas ini kadang mengganggu karena
dia suka memasang loudspeaker dengan volume yang sangat keras. Saya
sesekali mengganggunya bermain. Kalau sudah begitu, biasanya Bodas
mengadu, Ambuuuuu! memanggil Otty, ibunya.
Forum Lenteng kembali sepi kira-kira pukul sepuluh atau sebelas malam.
Andang, Diki, keluarga Rancajale, Ugeng, Akbar dan pasukan penyiar
radio akumassaselalu pulang ke rumah atau kosan masing-masing.
Kalau saya kehabisan ongkos untuk pulang ke Depok, tinggallah saya dan
Yuki berdua saja di Forum Lenteng jika Gesya tidak ada. Seperti yang
sudah saya sebutkan di awal tulisan, karena terpengaruh cerita Otty,
Forum Lenteng terasa agak menyeramkan pada malam hari. Oleh karena
itu, duduk melanjutkan kerja di ruang admin adalah pilihan yang paling
tepat.
Ruang admin seakan menjadi kamar kosan Yuki. Ini wajar di lingkungan
kerja komunitas: letak barang selalu berantakan. Beberapa kali sebagian
orang di Forum Lenteng sepakat untuk merapikan markas, tetapi tidak
pernah terealisasi. Paling-paling, hanya satu dua orang saja yang
berinisiatif membersihkan sebagian area markas, seperti dapur, ruang
tengah atau perpustakaan dan studio. Kemarin, saya dan Yuki sepakat
akan merapikan ruang admin ini pada Hari Minggu di minggu ini. Tak
tahulah apakah rencana itu akan berjalan atau tidak. Beberapa menit
yang lalu, Ageung mengatakan kemungkinan besar ia akan main ke kosan
saya di Hari Minggu itu. Tentu saja saya memilih bertemu Ageung jika ia
jadi datang ke Depok karena kami jarang sekali bertemu.
Yuki adalah orang yang gila film. Pengalaman menonton filmnya bahkan
melebihi anggota Forum Lenteng yang lain. Walaupun tidak dari sudut
pandang teoritis, pengetahuan Yuki tentang film bisa dikatakan sangat
brilian. Dia tahu banyak film yang bahkan Hafiz, Ugeng dan Otty tidak
tahu. Dia sekarang memiliki posisi sebagai Direktur Festival di Program
ARKIPEL Forum Lenteng. Yuki sangat representatif sebagai sosok direktur
festival film karena wawasan yang ia dapatkan dari hobi menonton film.
Kalau sudah larut, saya sering bertanya kepada Yuki tentang referensi film
yang saya tidak tahu. Dia juga punya banyak koleksi film yang ia
dapatkan dari aktivitas unduh-mengunduh di internet. Entah bagaimana
caranya, dia selalu saja mendapatkan materi film yang dia inginkan. Dan
yang lebih hebatnya lagisetidaknya ini menurut sayadi sela-sela
pekerjaannya yang begitu banyak (jauh lebih banyak dibandingkan

anggota Forum Lenteng lainnya), dia masih bisa menyempatkan waktu


untuk menonton film-film koleksinya. Dia mengaku sering menonton film
saat menjelang tidur. Tapi, saya belum pernah melihat aktivitasnya itu,
bahkan ketika saya sering tidur di ruang admin ini dalam seminggu
terakhir.
Yuki, pada akhirnya, memang memperlakukan ruang admin sebagai
kamar kosan. Jika ada orang lain yang keberatan, saya secara pribadi
tidak terganggu. Sebab, Yuki orang yang sangat menyenangkan dan salah
satu teman diskusi yang paling baik mengenai film. Saya justru berpikir
untuk memulai proyek Curatorial Post ini dengan mengangkat narasi Yuki
dan film-filmnya sebagai tema untuk kuratorial pertama. Mulai dari Det
sjunde inseglet karya Bergman hingga ke beberapa trivia-trivia di sekitar
film dan sturadara yang tidak pernah saya ketahui. Tulisan-tulisan di
dalam kuratorial ini berangkat dari obrolan saya dengannya di ruang
admin, yang sudah seakan menjadi kamar kosan Yuki.
Jakarta, 5 Februari, 2015
Manshur Zikri